Anda di halaman 1dari 18

Aku, Losari dan Ujung Pandang

Berjalan selepas petang


Ketika langit Ujung Pandang
Telah ditinggal mentari
Cakrawala menjadi biru tua, ungu kemudian
hitam

Lampu lampu kota mulai dinyalakan


Losari hidup kembali
Gerobak gerobak itu setia menepati janjinya lagi
Berbaris rapi dibibir pantai
Seperti malam malam sebelumnya

Disini sejenak bersama kita lupakan


Kerasnya siang hari, memainkan satu peran
Di roda peradaban, sandiwara dunia

Sayup terdengar percakapan ringan


Paduan tawa, bisikan dua insan terpanah asmara
, dan bujukan ibu pada anak balitanya yang
merengek menunjuk pikulan mainan
Suara suara itu suara kehidupan
Terima kasih, Ujung Pandang
Petang ini telah kuhirup keramahanmu
Kini aku anakmu
Di bangku tembok yang panjang ini
, ingin kuleburkan diri dalam nafasmu

Ujungpandang, 1991

1
Minggu Pagi di Perbukitan Malino

Minggu pagi awal September


Kemarau meranggas di pulau perantauan
Kering seperti sepinya kesendirianku
Kutelusuri liku jalan pegunungan Malino
Biru dan ungu bukit bukit seberang jurang
Mengingatkanku pada kota kelahiran
Danau purba yang kering berpagar gunung
Tangkubanperahu, Burangrang, Wayang dan
Manglayang

Bandung manis kota kenangan


Dipelukanmu kuhabiskan masa kecilku
Berlarian tanpa busana dideras hujan
Bercanda tertawa lepas main cipratan tanpa
beban
Kemudian bergandengan bersandang tas dibahu
Berseragam sekolah dasar
Loncat tinggi dengan untaian karet gelang
Dan membelah kedongdong dipintu kelas

Bandung manis kota kenangan


Di pangkuanmu pula kujejaki usia belasanku
Main mata di malam api unggun
Saling lempar senyum di barisan upacara senin
pagi
Kemudian lari pagi bersama hari minggu di
lapangan lodaya

Hari Minggu 8 September 1991 di perbukitan


Malino

2
Mengingatkanku pada ratusan hari Minggu yang
lain
, yang pernah kualami diperjalanan usiaku
Waktu mengalir seperti derasnya air di sungai
Dan pada masa lalu kita hanya bisa rindu, takan
lagi kembali
Namun kenangan adalah kekayaan
, tersimpan seperti mutiara di dasar bathin

Ujungpandang, 1991

3
Bulan

Bulan penuh tanpa bintang


Saksi bisu jatuh bangun tanah ini
Benteng Somba Opu Makasar jaya
Riak sungai bercermin gelap langit
Terbayangkan ratusan tahun lalu
Hilir mudik perahu bercadik disini
Bermuatan sutra atau
Sekedar buah kelapa
Bulan saksi
Gerak ulah umat manusia
Bahkan bukan di tanah ini saja
Jatuh bangun kerajaan Sulaeman
Atau saat saat Adam menikmati senyuman Hawa
di hari ke empat belas
Sejarah umat manusia
Bulan kuning kemerahan
Betapa indah dan purba

Ujungpandang, September 1992

(Dimuat di HU Fajar , Mingu 20 September 1992)

4
Prasangkaku padamu, Eva

Kelopak matamu, eva


, gambaran tempuhan
Hari hari yang pernah kau jejaki
Karena genangan air dikedalaman tatapanmu
Adalah seperti pelabuhan
Betapa sabarnya karang
Tertempa ombak
Pelautpun singgah menumpahkan kisah
Kadang memang kejujuran tentang garis
tangannya, atau bisa saja bualan
, khayalannya sendiri
, biarlah
Toh kenangan bisa seperti butir pasir
Terbang ditiup angin
Dan kepak elang selalu mengabarkan
,tentang hari esok
Juga tentang Ayat AyatNya
Yang jelas takan berubah
, sampai tanggal yang terakhir

Ujungpandang , 1992

5
Arah

Kini sampailan lagi aku di ujung hari


Siang telah bergegas dan malam akan
menjumpaiku
Dua belas jam telah tuntas aku jalani
Bantal guling lemari plastik meja kursi dan stereo
set
, kembali jadi kawanku
Menampung pengaduan pengaduanku tentang
hidup
, pencarian tanpa ujung
Dan selalu dada disesakkan
Pertanyaan pertanyaan tanpa jawab
Akukah yang menjadi tamu bagi malam
, ataukah sang malam adalah tamuku
Kemana roh ku saat jasad tertidur
, ke negeri mana ia berkelana
Dalam tidur aku pulang
Oh, betapa banyak yang masih belum kumengerti
Tentang ruang, tentang waktu
Apalagi tentang sesuatu diluar ruang dan waktu
, lepas dari semesta
Tentang sesuatu yang jauh
, dari semua yang terjauh tetapi dekat dari semua
yang terdekat
Tentang yang tak terjangkau indra, bahkan indra
ke enam sekalipun
Tentang arah pulang, negeri asal dari semua asal
, telaga bening tenang dan teduh
, yang sebenarnya diluar batas akal untuk
membayangkannya

6
Segalanya tak berhingga diantara yang tak
berhingga
Ujung dari semua rindu
Rahim dari semua roh

Ujungpandang, 1992

7
Rantau
Terpisahkan sekian ribu mil
, oleh lautan, dengan sanak saudara
, dan kekasih tercinta

Seperti di tanah asal


, disini juga sama
, mentarinya yang itu juga
, dan kiblatku berarah ke Ka’bah juga

Ombak menerpa-nerpa karang


, gemerisik dedaunan terterpa angin
, semua terulang ulang
, sejak jaman purba
, seperti dzikir menyebut asma Sang Khaliq

Tak usah lagi terbelenggu rindu


, karena ini juga tanah Dia
, dan seperti bangau
, akan ada musim kembali

Ujungpandang , 1991

8
Aku dan Ayah di Sulawesi

Di timur negeri ini


Di selatan pulau Sulawesi
Kuukir kenangan bersama ayahku
Diatas perahu motor
Lalu bicara dari hati ke hati
Di Pulau Kahyangan
Di warung terapung lepas pantai Selat Makasar
Kemudian, berhamburlah segala apa
, yang menyesakkan dada
Di Air Terjen Bantimurung
, kutumpahkan segalanya
Ayahku yang perkasa
, sorot mata bercermin sejuta peristiwa
, bijaksana sabar dan sederhana
, pahlawan bagiku
Dan dadaku sejuk kembali
, terima kasih ayah

Ujung Pandang, 1992

9
Hamba Mohon Ampun

Betapa sesak dada ini Ya Robbi


Kerongkongan tersumbat sejuta istigfar
Jantung hamba tertindih semesta
Batas dosa ternyata tak lebih dari sehelai rambut
Betapa pedih kalbu hamba
, mengapa selalu pengulangan dosa yang hamba
sesalkan
Betapa hamba dambakan sejuknya
pengampunanMu
Wahai Maha Pengasih dan Penyayang
Melalui rangkaian huruf ini
, ilmu yang Kau ajarkan
, hamba adukan pada Paduka
, dosa dosa hamba sendiri
, ampunilah Yang Mulia
, ampunilah Hamba
Tunjukkan jalanMu wahai Kekasih
kepangkuanMu hamba ingin kembali

Ujung Pandang, 1992

10
Burung, Usia, dan Manusia

Burung burung terjaga di fajar hari


Bercengkrama berkicau
Menyayikan lagu selamat datang
, pada mentari
, terbang dari pohon ke pohon atau mengitari
dahan dan ranting di satu pohon mencari sekedar
yag bisa menutup lapar
, terbang ke pinggir parit menghisap sedikit yang
bisa melepas haus

Ketika mentari ditengah langit di siang hari


kembali ke parit menciprati tubuh dan kedua
sayap membasuh debu mengusir gerah kemudian
terbang lagi menggilir ranting dahan dan
pohonan kota

Menjelang petang kembali ke sarang sambil


berkicau menyanyikan lagu selamat tinggal untuk
istirahat dibawah naungan langit malam
rembulan dan bintang bintang menunggu mentari
berikutnya
Hari hari lewat begitu sederhana
Ikhlas menjalani hukum siang dan malam

Fahamkah sang burung tentang arti usia


Tidakkah seperti manusia yang
Kadang risau tentang waktu bimbang tentang
usia
Sehingga hari menjadi tidak sederhana

11
Dan keikhlasan yang bersahaja pada pertambahan
usia menjadi cita cita

1992

12
EPISODE

Hari selalu saja baru,


dari sekian ribu kali aku melihat matahari
dari sekian ribu malam aku memandang bulan
tak ada rasanya yang bercerita sama

deru ombak memecah bibir pantai


kicau burung di halaman
dan bunyi mesin kendaraan yang kadang sesekali
terdengar melintas kala kita terjaga tengah malam
, adalah pelengkap
, mengawani hati, membasuh sepi

Sejak kita belajar bicara


kemudian mengeja huruf demi huruf
merangkai kata menggemgam pensil sampai bisa
menghitung bintang dan mengenal cinta
cerita terus mengalir, berpacu dengan usia

sunyi adalah kawan,


datang dan pergi sepanjang usia
ketika tamat sekolah dan harus berpisah
dengan sahabat sepermainan, guru-guru
bangku kursi dan kenangan

ketika seorang saudara meninggalkan


rumah meneruskan tuntutan cerita
hidupnya

bahkan ketika sepupu sebaya mendahului


menikah

13
selalu saja aku harus menahan air mata
tapi itulah hidup karena pada dasarnya
hidup adalah sendiri

hari selalu saja baru


dari sekian ribu kali aku melihat matahari
dari sekian ribu malam aku melihat bulan
sampai aku menemukan ujung
dari semua rindu muara dari
sungai-sungai kesepianku
berjumpa Sang Pencipta

1992

14
SIMPHONY TEKA-TEKI

Hidup terlalu singkat untuk banyak bertanya


(Mengapa ketika aku lahir, semua wahyu
selesai diturunkan, semua rasul telah
wafat dan selesai menunaikan tugasnya.
Aku sembahyang di rahim ibu, dan yang
pertama kali kudengar adalah suara ayah
melafadzkan adzan)

Hidup terlalu singkat untuk banyak bertanya


(mengapa telah sekian ribu purnama Kau
manjakan aku, betapa sejak kau tiupkan
rohku di rahim ibu, sampai kini, selalu
saja ada hidangan di piringku ketika tiba
waktuku untuk makan.
Selama ini belum pernah rasanya aku
mencangkul membalik tanah,
membendung mengalirkan air, menyemai
benih, menyiangi rumput menyisihkan
hama)

Hidup terlalu singkat untuk bertanya


(tentang sebab asal dan awal terlahirnya
beragam bangsa
Indian, Eskimo dan Negro
Maori, Arab dan India
Cina, Aborigin dan Yahudi
Melayu, Rusia dan entah apa lagi)

Hidup terlalu singkat untuk bertanya

15
(tentang tempat kembali setelah mati,
tentang surga dan neraka
Jika bumi dan tata surya dan semesta,
ruang dan waktu musnah dan selesai
seselesainya
Tentu ada sesuatu setelahnya yang maha
luas tak berbatas dan kekal)

Hidup terlalu singkat untuk banyak bertanya


(karena Engkau satu, maka tentu setelah
mati tempat kembali itu juga satu
Namanya entah apa, bisa beda menurut
sebutan beragam bangsa, tapi ada
Bahkan orang buta, tuli, bisu sejak lahir
pun mengenalnya lewat kalbu dan naluri,
karena tidak pernah mengenal bahasa,
lisan, tulisan atau isyarat)

Hidup terlalu singkat untuk banyak bertanya


(terlalu singkat untuk mengerti semua,
sebelum mati)

Walau kadang hidup terasa terlalu lama untuk


selalu menanggung rindu,
padaMU
Kekasih

1992

16
CITA CITA I

Ketika aku menjadi jenazah


jejak kakiku di bumi terhapus
jejak petugas petugas selanjutnya
khalifah gelombang berikutnya

Aku ingin pulang tersenyum


tuntaslah semua tugas
terampuni sudah dosa dosaku
lunaslah sudah hutang hutangku

Aku tinggalkan tubuh jasadku


roh pulang ke rahimnya
Terlupakan semua penghianatan terhadap diri
terampuni sudah semua jejak kesalahan
penyimpangan dari jalan lurus

Aku kembali pada Yang Maha sebagai


Massa Muhammmad
Aku bergabung dengan Muhammad
Aku pulang dibarisannya

1992

(dimuat di HU Fajar 22 Nopember 1992)

17
Malam Pengantin

Dari pelayaran pelayaran samudra bathin


Telah kuhitung badai badai kegelisahan
nyanyian resah camar dan debur ombak
kugenggam air yang telah jadi garam
arus gelisah kini telah kulabuhkan
pada pantai teduh yang kutemukan
Kusemai benih di tanah tentram pulau ini
Cantik lahan, bening air dan kesuburan bathin
Di pantai ini kegelisahan kulabuhkan
Dalam tenteram kusimak makna Ayat AyatNya
Disini akan kutanam benih,
kusemaikan pohon-pohon
Kerindangan yang kuimpikan

1992

(dimuat di HU Fajar 22 Nopember 1992)

18