Anda di halaman 1dari 21

Stasiun Kereta Tasikmalaya

Stasiun kereta seperti prasasti


barisan rel besi, bisu tetapi tahu,
betapa kita telah tumbuh
(dulu mungkin kita telah berjumpa disini,
walau tidak saling tahu)

seperti biasa hari ini, kereta terlambat lagi


tapi kali ini justru aku senang
kita bisa berbincang lebih panjang

Peluit menjerit, kereta datang


demi masa depan aku rela melambai tangan

perlahan kereta jalan, kutatap terus wajahmu


yang hilang dibalik jendela
jangan nodai hari ini dengan air mata
kita tidak berpisah kasih,
tetapi ikhtiar membangun kebahagiaan
masa depan

Stasiun kereta seperti prasasti


kelak kita akan berangkat dari atau
datang di stasiun ini lagi
bersama anak-anak kita

1
Rumah

Ombak, marilah berbincang tentang


bagaimana bertahan ribuan abad
sabar dalam kegelisahan
dan kabarkanlah padaku ihwal
kedisiplinan matahari menepati janji
kesabaran batu menahan rindu
atau betapa tenangnya bintang semedi,
dalam jauh mereka sendiri

(menjelang malam sepasang burung melintas


terbang, mungkin pulang ke sarangnya)

(dimuat di HU Fajar 22 Nopember 1992)

2
”Pengakuanku pada Ima, istriku”

Sajak apalagi yang bisa kutulis buatmu, Ima jika


jiwa ragamu sendiri bagiku adalah sebuah puisi
kebeningan embun di bola matamu
keteduhan telaga pada tatapannya
(kesadaranmu akan rayuan ini juga sebuah puisi)

Sajak apalagi yang bisa kutulis buatmu, Ima jika


perjodohanku denganmu bagiku adalah sebuah
puisi
Sepasang belibis berenang bercengkrama di deras
hujan
(nuansa peristiwa serupa, pernah kita nikmati
bersama, Ima)

Sajak apalagi yang bisa kutulis buatmu, Ima


jika darah dagingku yang kau kandung bagiku,
lebih dari sekedar sebuah puisi
betapa ia tumbuh beriring selaksa do’a
betapa kudamba ia hadir bersama Rahmat
dan harapan akan segala yang terbaik
(dengan khusyu aku berdo’a untuk kalian berdua)

Sajak apalagi yang bisa kutulis buatmu, Ima


Jika kenanganku bersamamu adalah kumpulan
puisi

3
”Renungan Dari Pantai Losari untuk Sultan
Hassanuddin”

Sultan, aku duduk dibawah patungmu didepan


benteng yang pernah kau serbu
berabad jarak terentang antara kita
kini aku warga republik yang pernah kau rintis
dengan hunus badikmu

Sultan, jejak derap kudamu kini telah tertutup


jalan ber hot mix
Kota telah terpeta
Hamparan kemajuan yang kami banggakan

Sultan, semangat keterusterangan menghapus


keraguanku mengirim kabar bahwa dipantai ini
darah perjuangan telah bercampur debu
penyesalan pelabuhan ternyata telah sama dengan
pelabuhan kota kota dunia

Sultan,
aku, ’cucu’ mu bertanya
apakah sejak di jamanmu
”Panti Pijat’ telah ada ?

4
Sajak Hari Ulang Tahun

Pagi tadi, hari lahirku dikabarkan gerimis


angin menggugurkan daun satu persatu
seperti hari hariku yang dirampas putaran bumi

Namun selalu ada pucuk dikirim embun


menandai harapan
dan bagai guguran daun
kenangan akan menjadi pupuk
memekarkan kuncup bunga
begitu cinta menumbuhkan jiwaku

Siang ini, aku semakin rindu pada keletihan


sebab keringat selalu menjadi bukti kehadiran
kerbau mencumbu lumpur
serdadu mabuk mesiu

Malam nanti,
tak akan kusesali perginya matahari

5
Rimba Teka Teki

Sejak Adam beranak cucu dendam beranak cucu


perang digilir dimuka bumi
(Suez, Vietnam, Bosnia, Irak, Afghanistan,
menjadi judul berita media)
Penyiar mengabarkan rebutan pengaruh dan
kekuasaan
Penyair menyiarkan rindu keadilan

Sejak langit memayungi waktu hati dan akal terus


berpacu peradaban menjulang dirajut akal budi
dendam mengulangnya lagi dari awal

Petani membeli pupuk memanen padi atau


gandum
Prajurit menjual gandum membeli peluru
Penyiar fasih menggilir kata kata
Penyair mengunyah kertas dan penanya
(menyesali kebisuan kata kata)

6
Sajak Untuk Calon Anakku

Anakku,
dari asmaraku kau dikandung ibumu
delapan minggu lagi kutunggu kehadiranmu
lalu kita akan bersama mengarungi giliran musim
akan kuperkenalkan kau pada bulan
seperti dulu ayahku, kakekmu mengajariku
tentang sendu gerimis pagi
dan hangat cahaya api

Anakku, sebab asmaraku pada ibumu


kau akan lahir delapan pekan depan
lalu diatas putaran bumi
kita akan bersama mengitari matahari
akan kuajari kau tentang Cinta
karena Cinta sanggup mengalunkan topan
meriakkan gelora ombak
mengarahkan jernih aliran sungai
dari hulu di puncak gunung
sampai ke muara, bersatu dengan biru laut

Anakku,
Pencarian akan menjadi milikmu
seperti telah diwariskan padaku dan semua
leluhur kita, dulu

Anakku,
suara tangis pertamamu
akan mengikat aku dan ibumu
untuk bersama mengasuhmu

7
selebihnya, kita percayakan pada Rahim Bumi
Hening

Tibalah malam hari


dengan hening aku berunding
setelah dua belas jam hati dibakar mentari
pergulatan siang hari
peranku takdir penghuni bumi

disinar bintang pertama


keringlah butir keringatku yang terakhir
satu torehan telah kupahatkan
pada prasasti pengembaraanku

dengan hening aku berunding


ihwal mimpi malam ini
dan sandiwara siang tadi

esok hari,
perjalanan harus kuteruskan
kisah purba,
warisan pusakaku takdir penghuni bumi
dengan hening aku berunding sampai tuntas
pulang memikul prasastiku
diujung Hening

8
Sajak Ragu

Hati perempuan tetap misteri untukku


meski telah kumiliki kau, Ima
kau pentaskan kelembutan, pengertian
dan sesekali kau marah juga

telah ribuan kali kupandangi cakrawala malam


rimba bintang, belantara rahasia
tak jelas batasnya,
yang pasti hanya indahnya
telah kurenungkan tentang hati dan pikiranmu,
dimensi tak terjangkau seluas cakrawala dan
terus akan bergerak seiring detak waktu
sampai kapan kau mampu setia ?

9
Sajak Harap

Kisah merpati telah jadi lambang purba bahwa di


bumi cinta abadi itu ada,
keagungan kesetiaan

Lalu kudengar tentang Dewi Ratih


tentang Siti Aisyah
bahkan aku yakin kau tahu lebih banyak lagi
tentang istri-istri utama, Ima
harap kau tahu, Ima
aku tak akan minta kau menjadi mereka aku
hanya ingin kau menjadi ’istriku’ Ima
itu saja

10
Sajak buka puasa

Baru saja aku buka puasa


hari pertama Ramadhan ke tiga puluh satu
sendiri saja di meja makan
kuteguk teh manis, sebatang rokok
dan pisang agak kesat
selepas shalat baru aku makan
sendiri saja
kubayangkan kau dan anakku
sekian ribu mil di sebrang lautan
kesendirian ini, biasa saja
karena selalu kau ulangi kalimat hiburan
”sebentar lagi kita bersama”

11
Sajak toko kaset

Aku tidak taraweh di masjid malam ini


akan kutulis surat untuk anakku
yang belum lagi bisa membaca
biar saja, biar disimpan di hati ibunya
sia-sia aku melupakan bayangan perempuan itu,
istri yang kunikahi sepuluh bulan yang lalu
sebulan sudah tak kuhirup wangi nafasnya
kuhibur diri tenggelam di toko kaset
putaran lagu lagu puisi
sentimental diri tak sembuh sembuh, biar saja
hujan menjebakku
puluhan syair menyeretku pada kenangan lama,
cita-cita masa remaja dan impian-impian yang
belum lagi kuraih
dalam hujan aku pulang
dalam kuyup tubuh menggigil
biar saja
bayangan perempuan itu menyergap lagi
rindu tak henti henti

12
Sajak Takut

Kupandangi tumpukan bajumu di lemari


sekian bulan kau tinggalkan
kuusap satu satu kuciumi lama lama
perkawinan kita belum lagi seumur jagung
ujian perpisahan karena tugas
nikmatnya ternyata seperti kebersamaan
dimabukkan harapan
kesendirian dan penantian
ketegaan nasib
dan aku harus percaya
bahwa kau pun mengenangku
gagang telepon dan deringnya
jadi bagai oasis padang pasir
sampai kapan?
aku takut terbiasa sendiri
dan asing pada siapa-siapa
aku tak mau jadi pengembara
tak tergantung pada
siapa-siapa

13
Sajak Kesadaran

Kupandangi senyummu dibingkai kaca


aku tahu tak ada fotoku di dindingmu, biar saja
mungkin berbeda cara kita mengenang
adakah tangis anakku mengikatmu ?
Telah kusadari dalam dingin malam ini
dari sekian ratus hari perkawinan kita
belum lagi sepertiganya kita bersama
malam memang dingin,
adakah ini bukan masalah, bagimu ?
selalu aku !
jangan tuduhkan kecengengan padaku,
disini aku sendiri
tak ada siapa siapa
hanya ada kewajiban bahwa
pagi hari aku harus mandi,
memakai seragam yang itu itu juga
lima hari seminggu
kemudian kebingungan di hari libur
untuk membunuh waktu
hanya itu, kewajiban
putaran nasib

14
Sajak Pikiran Negatif

Sering kubayangkan kau jatuh cinta lagi


karena aku tahu lelaki bukan hanya aku
dan hidup kadang bergerak
kearah yang tak terduga
kau menangis atau diam seribu basa
tersayatkah hatimu?
Cintaku kepadamu adalah seluruh hidupku
kau harus tahu itu
sampai kapanpun tak akan pernah kau jumpai
lelaki seperti aku
karena aku hanya satu
aku adalah aku
tidak lebih ataupun kurang
seperti halnya kamu adalah kamu
aku akan terus bergerak
seperti halnya hidup selalu bergerak
begitu juga kau
akankah gerak kita selalu seirama
hanya janji yang mengikat kita
hanya Pencipta yang memisah kita ?

15
Sajak Janji

Kubayangkan kau anak manja


keteduhan lindungan ayah bunda
keramahan tetangga
dan kau terbiasa terhormat
gadis anggun terpandang
kutulis ini bukan untuk menyakitimu
aku hanya berprasangka
bahkan aku merasa beruntung
pinangankulah yang akhirnya kau terima
aku tak mau kau berubah karena aku
kelak, bersamaku
mungkin kau terpaksa mengarungi hari hari sulit
terseret nasibku
karena kita telah bersatu
kuharap jangan sepatah katapun kau menyesal
walau mungkin masih banyak yang sanggup
membawamu ke impian-impian masa kecilmu
impian impian masa remajamu
janjiku hanya usaha
janjiku hanya do’a

16
Sajak Anak

Telah kubuahi rahimmu


dan anak kita hadir sehat selamat
dia mengikat kita
hitam putih nasibnya bergantung
pada ikatan cinta kita
dengan keringat aku akan membesarkannya
dengan cinta kau harus mendewasakannya
tangisnya adalah tuntutan tanggung jawab
sekaligus ikatan cinta kita
di darah-daging dan tulang tubuhnya
bersatu nasib kita
takdir kita

17
Sajak Gugatan

Tak pernah kau sambut aku


didepan pintu
kedatanganku seperti biasa biasa saja
kau memang pandai menyimpan emosi
bahkan kau surati tau telefon aku
bila kau meminta
aku rindu kejutan, dan kau selalu kalah cepat
kau harus tahu, sebagai laki laki
kadang aku berhati perempuan
biar saja, itulah aku
dan aku tidak rendah diri dengan itu
pasti kau punya seribu satu alasan pembelaan
dan aku selalu mengerti
selalu berhenti
mari kita bertengkar karena bertengkar lebih baik
dari saling menyimpan dendam
biar kukenang tangismu ketika saat terakhir
kutinggal kau dan anakku, keluargaku
ditempat mencari nafkah beberapa ribu mil jarak
dari kalian
sampai kita berkumpul
kembali

18
Introspeksi (Rindu An Nahl ) I

Bulan rekah pucat pasi


Matahari redup
musim ingkar janji

Bumi lelah
karena ulah
Kita,
Kau,
Aku?

Rindu An Nahl II

Misi menjadi ambisi


organisasi berbaur
pribadi
aku rindu
organisasi lebah
bisakah
Subhanallah

19
Rumah Sakit Umum Labuang Baji, 1993

Terbaring di bangsal L
jarum infus terselip di pori lenganmu
tabung oksigen dan bubur di baki alumunium
isyarat harapan
detak jam adalah tirai masa lalu dan masa depan
tengah malam riuh lengking erang kucing betina
dikawini jantannya,
dengkur penunggu, cekikikan suster,
aroma obat bercampur bau keringat
termometer terselip di ketiakmu

Terbaring di kamar 10
mendengar gunjingan pelayat
tentang ibu hamil
yang mati malam tadi di kamar 11
lalu hening
Malaikat mana yang akan menyapa
esok pagi ?

20
Harmoni

Semenjak gerimis pertama turun membasuh buni


alam mengajarkan kita untuk selalu berbagi
berabad berjuta hari
mentari selalu menepati janji
sinar tersebar pagi siang dan petang
lalu bulan bintang menerangi gelap malam
musim digilir, tugas dibagi

Ternyata kita sama,


besar kecil adalah kawan,
bahu membahu mengolah waktu

Semenjak hembusan angin pertama


dalam sejarah kejadian
alam mengajarkan kita untuk bekerja sama
lalu, riak dan gelombang
mengantarkan kita
ke pulau harapan

Ternyata kita harus bersaudara


besar kecil adalah pasangan
menyiasati waktu
mengolah kehidupan

(sajak ini dibacakan Ir.Cahyana Ahmadjayadi, Kawitel V


PT. TELKOM JABAR di panggung Hari Bhakti
PARPOSTEL 1993, di Jl Supratman Bandung, 22
September 1993, sekarang ASMEN Informasi dan
Telematika)

21