Anda di halaman 1dari 120

PENGEMBANGAN EKOWISATA ALAM

DI TAMAN WISATA ALAM KAWAH KAMOJANG


KABUPATEN BANDUNG

FRIEDMAN CARLYO MANALU

PROGRAM KEAHLIAN EKOWISATA


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013

PERNYATAAN MENGENAI LAPORAN


TUGAS AKHIR DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa Laporan Tugas Akhir (TA) saya dengan judul
Pengembangan Ekowisata Alam di Taman Wisata Alam (TWA) Kawah
Kamojang, Kabupaten Bandung adalah benar-benar karya saya sendiri dengan
arahan komisi pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah
pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal
dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir
laporan ini.

Bogor, Juli 2013


Friedman Carlyo Manalu
NIM: J3B110026

ABSTRAK
FRIEDMAN CARLYO MANALU. J3B110026. 2013. Pengembangan
Ekowisata Alam di Taman Wisata Alam Kawah Kamojang Kabupaten Bandung.
Dibimbing oleh SYARIF INDRA SURYA PURNAMA.
Kegiatan Tugas Akhir (TA) telah dilakukan di Taman Wisata Alam (TWA)
Kawah kamojang pada bulan Febuari sampai Mei 2013. Pengumpulan data
sumberdaya wisata dilakukan melalui observasi, kuisioner, studi literatur dan
komunikasi langsung bersama pengelola serta masyarakat sekitar Taman Wisata
Alam Kawah Kamojang. Potensi sumberdaya wisata yang terdapat di Taman
Wisata Alam Kawah Kamojang adalah sumberdaya ekowisata berupa kawah,
panorama alam, sumber air panas, ekosistem hutan. Seluruh sumberdaya wisata
yang terdapat di Taman Wisata Alam Kawah Kamojang dapat dijadikan sebagai
atraksi wisata yang menarik bagi wisatawan. Program ekowisata alam yang akan
dirancang untuk wisatawan memiliki konsep wisata pendidikan alam, wisata
pendidikan lingkungan dan wisata kesehatan, meliputi program ekowisata harian
Jemari Kamojang (Jelajah Alam Rimba Kamojang) dan RELASI (Rekreasi
Lanjut Usia Sehat dan Berenergi), serta program ekowisata bermalam, yaitu
CloWin (Closed with Nature).
Kata Kunci: Taman Wisata Alam Kawah Kamojang, Potensi Sumberdaya Wisata,
Program Ekowisata, Lanjut Usia

ABSTRACT
FRIEDMAN CARLYO MANALU. J3B110026. 2013. Development of Nature
Ecotourism in Natural Park Kamojang Crater at Bandung District. Under
Direction by SYARIF INDRA SURYA PURNAMA.
Final task activities has been done in the Natural Park Kamojang Crater in
February to May 2013. Data was collected through observation tourist resources,
questionnaires, literature and direct communication with managers and the public
about the Nature Park Crater Kamojang. Tourist resource potential contained in
the Natural Park Kamojang crater is a crater ecotourism resources, scenery, hot
springs, forest ecosystems. The entire tourist resources contained in the Natural
Park Crater Kamojang can serve as an attractive tourist attraction for tourists.
Natural ecotourism program designed for tourists have the concept of nature
education tourism, environmental education tourism and health tourism, includes
daily ecotourism program are "Jemari Kamojang" (Kamojang Forest Adventure)
and "RELASI" (Old People Recreation Healthy and Energized), as well as
overnight ecotourism program is "CloWin" (Closed with Nature).
Keywords: Nature Park Kamojang Crater, Resource Potential Tourism,
Ecotourism Program, Old People

RINGKASAN

FRIEDMAN CARLYO MANALU. J3B110026. 2013. Pengembangan


Ekowisata Alam di Taman Wisata Alam Kawah Kamojang Kabupaten Bandung.
Dibimbing oleh SYARIF INDRA SURYA PURNAMA.
Berdasarkan Peta Lokasi Kawasan skala 1:25.000 dan Perum Perhutani
(1997), Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Kamojang terletak hampir di tengahtengah Cagar Alam (CA) Kawah Kamojang. Secara geografis, TWA Kawah
Kamojang berada pada koordinat 1073135-1075350Bujur Timur (BT) dan
070012-070657Lintang Selatan (LS). Secara administrasi pemerintahan,
TWA Kawah Kamojang terletak didua wilayah pemerintahan, yaitu Desa
Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung dan Desa Randukurung,
Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. Secara administrasi
pengelolaan, TWA Kawah Kamojang termasuk dalam wilayah kerja Seksi KSDA
Garut, Balai Besar KSDA Jawa Barat.
Kegiatan Tugas Akhir telah dilakukan di TWA Kawah Kamojang pada
bulan Febuari sampai Mei 2013. Pengumpulan data sumberdaya wisata dilakukan
melalui observasi, kuisioner, studi literatur dan komunikasi langsung bersama
pengelola serta masyarakat sekitar TWA Kawah Kamojang. Potensi sumberdaya
wisata yang terdapat di TWA Kawah Kamojang ialah sumberdaya ekowisata
berupa kawah, panorama alam, sumber air panas, ekosistem hutan. Seluruh
sumberdaya wisata yang terdapat di TWA Kawah Kamojang dapat dijadikan
sebagai aktrasi wisata yang menarik bagi wisatawan.
TWA Kawah Kamojang adalah salah satu Kawasan Pelestarian Alam
(KPA) yang di dalamnya memiliki beberapa sumberdaya wisata unggulan, yaitu
berupa kawah dan gejala-gejala alam lainnya yang diakibatkan oleh aktifitas
panas bumi. Beberapa sumberdaya wisata tersebut menjadi obyek wisata yang
diminati oleh para wisatawan yang datang ke kawasan tersebut. Selain dari itu,
TWA Kawah Kamojang memiliki kondisi bentangan alam yang masih alami,
dimana lokasinya berada di antara CA Kamojang dan Gunung Guntur yang
menjadikan kawasan tersebut memiliki sumberdaya wisata yang berpotensi untuk
dikembangkan.
Namun hingga saat ini, kegiatan wisata di TWA Kawah Kamojang belum
dilakukan secara terpadu dan mempunyai suatu program wisata yang mampu
mengarahkan para wisatawan yang datang dalam melakukan kegiatan wisata.
Oleh karena itu, pengembangan kegiatan wisata di TWA Kawah Kamojang adalah
sebagai salah satu upaya untuk memperkenalkan kepada berbagai pihak mengenai
potensi sumberdaya alam berupa gejala alam yang terdapat di kawasan tersebut
melalui kegiatan ekowisata alam. Tahapan pengembangan kegiatan ekowisata
alam tersebut diawali dengan melakukan identifikasi berbagai potensi sumberdaya
wisata yang ada dan kemudian dikemas dalam suatu rancangan program
ekowisata alam di TWA tersebut.

TWA Kawah Kamojang memiliki potensi wisata yang menarik bagi


pengunjung baik flora, fauna, gejala maupun bentang alamnya. Dengan adanya
berbagai potensi wisata tersebut, maka akan dirancanglah beberapa kegiatan
ekowisata alam yang dapat menarik minat wisatawan untuk datang ke kawasan
tersebut. Wisatawan dapat memilih kegiatan ekowisata alam yang diinginkan
menurut keinginannya. Program ekowisata alam yang akan dirancang untuk
wisatawan meliputi program ekowisata harian Jemari Kamojang (Jelajah Alam
Rimba Kamojang) dan RELASI (Rekreasi Lanjut Usia Sehat dan Berenergi),
serta program ekowisata bermalam, yaitu CloWin(Closed with Nature).
Kata kunci: Taman Wisata Alam Kawah Kamojang, Pengembangan Ekowisata
Alam, Program Ekowisata Alam, Lanjut Usia

PENGEMBANGAN EKOWISATA ALAM


DI TAMAN WISATA ALAM KAWAH KAMOJANG
KABUPATEN BANDUNG

FRIEDMAN CARLYO MANALU

Laporan Tugas Akhir


sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Ahli Madya
pada Program Diploma Keahlian Ekowisata

PROGRAM KEAHLIAN EKOWISATA


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013

Dosen Penguji Ujian Tugas Akhir


Helianthi Dewi, SHut, MSi

Judul Tugas Akhir

Nama
NIM

:
:

Pengembangan Ekowisata Alam


di Taman Wisata Alam Kawah Kamojang,
Kabupaten Bandung
Friedman Carlyo Manalu
J3B110026

Disetujui oleh

Syarif Indra Surya Purnama, SHut, MSi


Pembimbing

Diketahui oleh

Prof Dr Ir M. Zairin Junior, MSc


Direktur

Tanggal Lulus:

Helianthi Dewi, SHut, MSi


Koordinator Program Keahlian

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun Laporan Kegiatan
Tugas Akhir dengan judul Pengembangan Ekowisata Alam di Taman Wisata
Alam Kawah Kamojang, Kabupaten Bandung. Laporan Kegiatan Tugas akhir
ini merupakan tahap akhir setelah pelaksanaan kegiatan Tugas Akhir.
Tugas Akhir adalah salah satu syarat lulus bagi mahasiswa tingkat akhir di
Program Diploma untuk memperoleh gelar Ahli Madya. Pelaksanaan kegiatan
Tugas Akhir (TA) dilaksanakan setelah pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan
(PKL). Lama waktu pelaksanaan TA adalah selama 30 hari di TWA Kawah
Kamojang.
Pelaksanaan Tugas Akhir dilakukan dengan cara berusaha mengidentifikasi
potensi-potensi alam yang terdapat di TWA Kawah Kamojang. Hasil identifikasi
tersebut selanjutnya dirancang menjadi kegiatan ekowisata pada TWA Kawah
Kamojang. Semoga Laporan Tugas Akhir ini dapat menjadi bahan acuan dan
pertimbangan bagi pengelola Taman Wisata Alam Kawah Kamojang, Balai Besar
Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, serta berbagai pihak yang
berkepentingan untuk merencanakan ekowisata di TWA Kawah Kamojang
sehingga menjadi destinasi ekowisata yang berkembang.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Laporan kegiatan ini masih
terdapat kekurangan. Penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak
yang telah membaca laporan kegiatan ini sebagai bahan pengetahuan bagi penulis
agar dapat meningkatkan kemampuan penulis dalam menyusun laporan kegiatan
dimasa yang akan datang.

Bogor, Juli 2013


Friedman Carlyo Manalu

87

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan berkat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan Tugas Akhir (TA) ini dengan baik. Ucapan terima kasih disampaikan
kepada Helianthi Dewi, SHut, MSi selaku Koordinator Program Keahlian
Ekowisata, Program Diploma, Institut Pertanian Bogor, serta kepada Syarif Indra
Surya Purnama, SHut, MSi selaku pembimbing yang telah memberikan arahan,
kritik, saran dan motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan TA.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh dosen Program Keahlian
Ekowisata yang telah memberikan banyak pengalaman dan pembelajaran, serta
ilmu yang bermanfaat bagi penulis. Ucapan terima kasih tidak lupa disampaikan
kepada seluruh asisten Program Keahlian Ekowisata yang telah memberikan
arahan, dukungan dan semangat, serta membantu dalam penulisan laporan TA.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Kepala Balai Besar Konservasi
Sumberdaya Alam (BBKSDA) Jawa Barat yang telah memberikan rekomendasi
kepada penulis untuk melaksanakan kegiatan PKL dan TA di TWA Kawah
Kamojang, Kepala Seksi Konservasi Sumberdaya Alam (KSDA) Garut yang telah
memberikan izin kepada penulis untuk melaksanakan kegiatan PKL dan TA di
TWA Kawah Kamojang, serta Bapak Oca Mulyana beserta keluarga selaku
Petugas Pajak Negara Bukan Pangan (PNBP) yang telah memberikan izin dan
membimbing, serta memberikan fasilitas dan akomodasi kepada penulis dalam
melaksanakan kegiatan PKL dan TA di TWA Kawah Kamojang. Ucapan terima
kasih tidak lupa disampaikan kepada Bapak Benny, Bapak Hendi dan Bapak
Adang beserta Mitra KSDA diTWA Kawah Kamojang lainnya, serta Bapak
Kisman, Bapak Asep, Bapak Dodon, Bapak Walim, Bapak Teja dan Bapak Saijo
beserta keluarga besar Polisi Hutan (POLHUT) Resort Kamojang lainnya yang
telah meluangkan waktu untuk mendampingi dan berdiskusi, serta memberikan
ilmu dan informasi kepada penulis selama melaksanakan TA di TWA Kawah
Kamojang.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada rekan-rekan tim PKL-TA Garut
dan Tasikmalaya, yaitu Adam Rakhadifa, Denny Sofyan, Afrodita Indayana,
Mukhlis Julianda Situmorang, Dida Nugraha, M. Nurahim dan Nita Fonitasari
yang telah bersama-sama membagi suka dan duka selama berada di lapangan.
Ucapan terima kasih tidak lupa disampaikan kepada rekan-rekan Ekowisata 47
yang telah memberikan arti kekompakan, suka dan duka, serta semangat kepada
penulis, rekan-rekan Ekowisata 46, 48 dan 49, Keluarga Mahasiswa Batak
Diploma (KMBD) IPB, keluarga besar Forum Mahasiswa Kristen (FMK) IPB,
keluarga besar Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) cabang Bogor,
serta rekan-rekan terbaik di Bogor atas motivasi, kepedulian, rasa kekeluargaan,
solidaritas dan canda tawa yang telah mewarnai hari-hari penulis selama kuliah di
Program Keahlian Ekowisata, Program Diploma, Institut Pertanian Bogor.

Ucapan terima kasih secara khusus disampaikan kepada paman penulis,


yaitu keluarga Bapak Bismar Tua Purba dan Bapak Laman Purba di Garut yang
telah memberikan bantuan dan doa sehingga penulis dapat menyelesaikan TA.
Ucapan terima kasih secara istimewa disampaikan kepada orang tua penulis, yaitu
Ayahanda Saladin Manalu, Ibunda Marisi Nurhayati Purba, Abang Doklas
Khurmi Manalu, Adik Yunita Triyanti Manalu dan Adik Dirfan Haniel Manalu
yang telah memberikan semangat, doa, dukungan dan motivasi yang tidak pernah
putus sehingga penulis diberikan kemudahan dalam melaksanakan dan
menyelesaikan, serta menyusun laporan TA. Ucapan terima kasih juga
disampaikan kepada keluarga besar Op. Doklas Manalu dan Op. Gilbert Purba
yang dengan senang hati memberi dukungan dan doa kepada penulis.
Ucapan terima kasih tidak lupa disampaikan kepada semua pihak yang
turut membantu penulis dalam pelaksanaan dan penyelesaian, serta penyusunan
laporan TA yang tidak dapat dituliskan satu-persatu. Semoga Tuhan Yang Maha
Esa senantiasa memberikan segala berkat dan suka-citanya terhadap kita semua,
Amin.

Bogor, Juli 2013


Friedman Carlyo Manalu

89

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
1.3 Manfaat
1.4 Kerangka Pemikiran
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Taman Wisata Alam
2.2 Ekowisata
2.3 Wisata Alam
2.4 Wisatawan
2.5 Presepsi
2.6 Motivasi
2.7 Penawaran dan Permintaan Wisata
2.8 Sumberdaya Wisata
2.9 Potensi, Daya Tarik dan Aktrasi Wisata
2.10 Pengembangan
2.11 Program Wisata
2.12 Fasilitas, Sarana dan Prasarana
2.13 Desain
3. KONDISI UMUM
3.1 Kondisi Fisik
3.1.1 Letak dan Luas
3.1.1 Geologi, Tanah dan Topografi
3.1.1 Iklim dan Curah Hujan
3.1.1 Hidrologi
3.2 Kondisi Biotik
3.2.1 Keanekaragaman Flora
3.2.2 Keanekaragaman Fauna
3.3 Kondisi Sosial Masyarakat
3.3.1 Demografi
3.3.2 Mata Pencaharian
3.3.3 Pendidikan
3.3.4 Agama dan Adat Istiadat
3.4 Sejarah dan Status Kepemilikan
3.5 Pengelolaan
3.5.1 Pembagian Wilayah Kelola
3.5.1 Pembagian Kerja Pengelola
3.6 Potensi Kegiatan Wisata
3.7 Aksesibilitas
4. METODE PRAKTEK
4.1 Waktu dan Lokasi
4.2 Alat dan Bahan
4.3 Tahapan Kegiatan

i
v
vi
viii
1
1
1
2
3
4
4
4
5
5
6
6
7
7
7
8
9
9
10
13
13
13
14
15
15
16
16
16
16
16
16
17
17
18
18
18
20
21
22
23
23
23
24

4.4 Pengumpulan Data


4.4.1 Studi literatur
4.4.2 Wawancara
4.4.3 Observasi
4.5 Data yang dikumpulkan
4.5.1 Pengelolaan Wisata
4.6 Analisa Data
4.7.1 Deskirptif Kualitatif
4.7.2 Deskriptif Kuantitatif
4.7 Sintetis Data
4.8 Metode Pembuatan Output Media Promosi
5. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Potensi Sumberdaya Ekowisata Alam
5.1.1 Letak dan Sebaran
5.1.2 Sumberdaya Wisata Alam
5.1.3 Sumberdaya Wisata non Alam
5.1.4 Penilaian Potensi Sumberdaya Alam
5.2 Karakteristik, Presepsi dan Kesiapan Pengelola
5.2.1 Karakteristik Pengelola
5.2.2 Presepsi Pengelola Terhadap Obyek Wisata
5.2.3 Presepsi Pengelola Terhadap Kegiatan.Wisata
5.2.4 Kesiapan Pengelola Terhadap Pengembangan Ekowisata
Alam
5.3 Karakteristik, Presepsi dan Kesiapan Masyarakat
5.3.1 Karakteristik Masyarakat
5.3.2 Presepsi Masyarakat Terhadap Dampak yang
Ditimbulkan
5.3.3 Presepsi Masyarakat Terhadap Obyek Wisata
5.3.4 Presepsi Masyarakat Terhadap Kegiatan Wisata
5.3.5 Kesiapan Masyarakat Terhadap Pengembangan
Ekowisata Alam
5.4 Karakteristik, Motivasi, dan Presepsi Pengunjung
5.4.1 Karakteristik Pengunjung
5.4.2 Motivasi Pengunjung
5.4.3 Presepsi Pengunjung Terhadap Sarana dan Prasarana
5.4.4 Presepsi Pengunjung Terhadap Obyek Wisata
5.4.5 Presepsi Pengunjung Terhadap Kegiatan Wisata
5.4.6 Presepsi Pengunjung Terhadap Lama Waktu Program
5.5 Rancangan Pengembangan Ekowisata
5.5.1 Pengembangan Kondisi Ekologis
5.5.2 Pengembangan Sumberdaya Manusia
5.5.3 Rancangan Pengembangan Sumberdaya
Ekowisata Alam
5.5.4 Rancangan Pengembangan Kegiatan
Ekowisata Alam
5.5.5 Rancangan Pengembangan Konsep
Ekowisata Alam
5.5.6 Rancangan Pengembangan Konsep
Ekowisata Alam
5.5.6 Optimalisasi dan Peluang Program Terhadap
Pengembangan Ekowisata Alam
5.5.7 Rancangan Media Promosi

24
24
24
25
26
26
28
28
29
29
29
31
31
31
32
42
44
45
45
46
47
47
48
48
49
51
51
52
53
53
54
55
55
56
57
57
57
58
59
67
69
70
78
78

91

6. KESIMPULAN DAN SARAN


6.1 Kesimpulan
6.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

80
80
81
82

DAFTAR TABEL

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Halaman
Jumlah dan Kepadatan Masyarakat Sekitar
Mata Pencaharian Penduduk Sekitar
Tingkat Pendidikan Masyarakat Sekitar
Kondisi Agama Masyarakat Sekitar
Tata Waktu Pelaksanaan
Alat dan Bahan
Data yang Dikumpulkan
Jenis-Jenis Mamalia di TWA Kawah Kamojang
Jenis-Jenis Burung di TWA Kawah Kamojang
Jenis-Jenis Reptil di TWA Kawah Kamojang
Jenis-Jenis Amfibi di TWA Kawah Kamojang
Jenis-Jenis Pohon yang Tumbuh di TWA Kawah Kamojang
Jenis-Jenis Tumbuhan Bawah di TWA Kawah Kamojang
Jenis-Jenis Epifit di TWA Kawah Kamojang
Jenis-Jenis Liana di TWA Kawah Kamojang
Jenis-Jenis Tumbuhan Obat di TWA Kawah Kamojang
Kawah-Kawah di TWA Kawah Kamojang
Hasil Penilaian Potensi Sumberdaya Ekowisata
Rancangan Pengembangan Kegiatan Ekowisata Alam
Intenerary Program Jemari Kamojang
Intenerary Program RELASI
Intenerary Program CloWin

16
17
17
18
19
19
20
32
33
34
35
36
37
37
38
38
40
45
68
72
74
76

93

DAFTAR GAMBAR

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

Halaman
Kerangka Pemikiran Tugas Akhir
Peta Situasi Kawasan TWA Kawah Kamojang
Lapisan Tanah di TWA Kawah Kamojang
(a) Kubangan Belerang, (b) Sumber Mata Air Panas,
(c) Sumber Mata Air Tawar
Zona Pembagian Wilayah Kelola di TWA Kawah Kamojang
Sistem Kerja Pengelolaan Wisata di TWA Kawah Kamojang
Peta Aksesibilitas menuju TWA Kawah Kamojang
Tahapan Kegiatan Tugas Akhir
Titik-titik Lokasi Pengamatan
(a) Sunrise, (b) Pemandangan Alam TWA Kawah Kamojang
Sebaran Potensi Sumberdaya Ekowisata
Burung Sepah Gunung
(a) Pohon Akasia, (b) Pohon Ki Besi
(a) Salira, (b) Teklan, (c) Babadotan, (d) Atanan,
(e) Harendong, (f) Kirinyuh
Sumber Mata Air Panas
(a) Menara Pembuangan, (b) Pipa-Pipa Gas,
(c) Kondisi Pipa-Pipa Gas Di Jalanan
Pemandangan Areal Perkemahan Kamojang
(a) Kondisi Kamar Penginapan Wisata,
(b) Kondisi Ruang Utama Penginapan Wisata,
(c) Kondisi Penginapan Wisata Dari Luar
Karakteristik Pengelola
Presepsi Pengelola Terhadap Obyek Wisata
Presepsi Pengelola Terhadap Kegiatan Wisata
Kesiapan Pengelola Terhadap Pengembangan Ekowisata Alam
Karakteristik Masyarakat
Presepsi Mayarakat Terhadap Dampak Sosial Budaya
Masyarakat Terhadap Dampak Ekonomi
Presepsi Masyarakat Terhadap Dampak Lingkungan
Presepsi Masyarakat Terhadap Obyek Wisata
Presepsi Masyarakat Terhadap Kegiatan Wisata
Presepsi Masyarakat Terhadap Pengembangan Ekowisata Alam
Karakteristik Pengunjung di TWA Kawah Kamojang
Motivasi Pengunjung di TWA Kawah Kamojang
Presepsi Pengunjung Terhadap Sarana dan Prasarana
Presepsi Pengunjung Terhadap Obyek Wisata
Presepsi Pengunjung Terhadap Kegiatan Wisata
Presepsi Pengunjung Terhadap Lama Ekowisata Alam
Rancangan Pengembangan Area Trekking Hutan di TWA Kawah
Kamojang
Letak Sebaran Potensi Sumberdaya Potensi Tumbuhan Obat
Letak Sebaran Kawah-Kawah di TWA Kawah Kamojang
Sumberdaya Air Panas di TWA Kawah Kamojang
Rancangan Pengembangan Sumberdaya Air Panas
di TWA Kawah Kamojang

3
13
14
15
19
21
22
24
26
31
31
34
35
39
41
42
43
44

46
46
47
47
48
49
49
50
51
51
52
53
54
55
56
56
57
59
60
61
62
63

41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53

Rancangan Papan Interpretasi Benda Peninggalan sejarah


Letak Sebaran Sumberdaya Peninggalan Sejarah di TWA Kawah
Kamojang
Peta Prospek Lapangan Geothermal Kamojang
Rancangan Pengembangan Area Perkemahan
di TWA Kawah Kamojang
Penginapan Wisata di TWA Kawah Kamojang
tampak depan
Bagan Alur Program Jemari Kamojang
Sketsa Alur Kegiatan Jemari Kamojang
Bagan Alur Program RELASI
Sketsa Alur Kegiatan RELASI
Bagan Alur Program CloWin
Sketsa Alur Kegiatan CloWin
Rancangan Desain Cover Booklet
Rancangan Desain isi Booklet

64
64
65
66
67
71
71
73
73
75
76
79
79

DAFTAR LAMPIRAN

No
1
2

Halaman
Titik Koordinat Kawah-Kawah di TWA Kawah Kamojang
Jarak dan Perhitungan Waktu Wisata

86
86

95

3
4
5
6
7
8
9
10

Kuisioner Presepsi dan Kesiapan Pengelola


Karakteristik Pengelola di Taman Wisata Alam Kawah Kamojang
Karakteristik Masyarakat di TWA Kawah Kamojang
Karakteristik Pengunjung di TWA Kawah Kamojang
Hasil Penilaian Potensi Sumberdaya Ekowisata (Kawah)
Rekapitulasi Kuisioner Presepsi dan Kesiapan Masyarakat
Rekapitulasi Kuisioner Presepsi dan Kesiapan Masyarakat
Daftar Kehadiran dan Jurnal Harian TA

87
88
88
89
90
91
94
96

1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Potensi sumberdaya alam sebagai sumberdaya wisata perlu dikelola secara
terpadu dan dimanfaatkan secara lestari melalui kegiatan ekowisata. Kegiatan
ekowisata di daerah tujuan wisata diharapkan dapat memberikan manfaat terhadap
kelestarian sumberdaya alam dan budaya setempat, meningkatkan perekonomian
masyarakat di sekitarnya dan meningkatkan kesadaran lingkungan bagi semua
pihak. Pengembangan kegiatan ekowisata menggunakan konsep wisata alam
merupakan alternatif kegiatan wisata dengan memperkenalkan berbagai potensi
sumberdaya alam. Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Kamojang adalah salah
satu Kawasan Pelestarian Alam (KPA) yang di dalamnya memiliki beberapa
sumberdaya wisata unggulan, yaitu berupa kawah dan gejala-gejala alam lainnya
yang diakibatkan oleh aktifitas panas bumi. Beberapa sumberdaya wisata tersebut
menjadi obyek wisata yang diminati oleh para pengunjung yang datang ke
kawasan tersebut. Selain dari itu, TWA Kawah Kamojang memiliki kondisi
bentangan alam yang masih alami menjadikan kawasan tersebut memiliki
sumberdaya wisata yang berpotensi untuk dikembangkan.
Namun hingga saat ini, kegiatan wisata di TWA Kawah Kamojang belum
dilakukan secara terpadu dan mempunyai suatu program wisata yang mampu
mengarahkan para pengunjung yang datang dalam melakukan kegiatan wisata.
Oleh karena itu, pengembangan kegiatan wisata di TWA Kawah Kamojang adalah
sebagai salah satu upaya untuk memperkenalkan kepada berbagai pihak, terutama
pengunjung mengenai potensi sumberdaya alam melalui kegiatan ekowisata alam.
Tahapan pengembangan kegiatan ekowisata alam diawali dengan melakukan
identifikasi berbagai potensi sumberdaya wisata yang ada dan kemudian dikemas
dalam suatu rancangan program ekowisata alam di TWA tersebut.
1.2 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan TA ini adalah:
1. Menginventarisasi dan mengidentifikasi obyek, khususnya yang menjadi
daya tarik wisata di TWA Kawah Kamojang;
2. Menginventarisasi dan mengidentifikasi kegiatan wisata dan fasilitas
pendukung yang ada di TWA Kawah Kamojang;
3. Mempelajari karakteristik, motivasi, persepsi dan preferensi pengunjung
yang datang untuk melakukan kegiatan wisata di TWA Kawah Kamojang;
4. Mempelajari karakteristik dan pola kehidupan, serta keterlibatan dan
kesiapan masyarakat setempat dalam kegiatan wisata di TWA Kawah
Kamojang;
5. Mempelajari rencana pengelolaan kegiatan wisata di TWA Kawah Kamojang;
6. Menyusun rancangan pengembangan program ekowisata alam di TWA
Kawah Kamojang;
7. Merancang desain promosi untuk mendukung program ekowisata alam di
TWA Kawah Kamojang.

97

1.3 Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari kegiatan TA ini adalah:
1. Memberikan alternatif rancangan pengembangan program ekowisata di
TWA Kawah Kamojang;
2. Memberikan informasi mengenai potensi sumberdaya wisata di TWA
Kawah Kamojang untuk penelitian atau pengembangan lebih lanjut.
1.4 Kerangka Pemikiran
Variabel essensial yang dikaji untuk rancangan pengembangan program
ekowisata terdiri dari sumberdaya fisik dan biotik, serta pengunjung, masyarakat
dan rencana pengelolaan. Parameter pada setiap variabel essensial, dikumpulkan
melalui studi literatur, observasi dan wawancara.
Opsi-opsi rancangan
pengembangan program ekowisata dipilih berdasarkan penilaian parameter dari
indikator keunikan, keindahan, kelangkaan, seasonalitas, sensitivitas, aksesibilitas
dan fungsi sosial (Avenzora, 2008). Keluaran yang dihasilkan adalah berupa opsiopsi rancangan desain promosi program ekowisata.

Kondisi Aktual
Bagaimana mengembangkan Ekowisata di TWA Kawah Kamojang

Sumberdaya Wisata:
Fisik:
Biotik:
- Bentang Alam - Flora
- Gejala Alam
- Fauna
- Situs Sejarah
-Situs Budaya

Pengunjung:
- Karakteristik
- Motivasi
- Persepsi
- Preferensi

Masyarakat:
- Karakteristik
- Pola Kehidupan
- Persepsi
- Keterlibatan
- Kesiapan

Pengelolaan Wisata:
- Tujuan Pengelolaan
- Kegiatan Wisata dan Fasilitas
- Permasalahan dan Solusi
- Persepsi dan Harapan
- Rencana Pengembangan

Inventarisasi dan Identifikasi

- Laporan
- Jurnal

Studi Literatur
- Buku
- Dokumen lain

Observasi:
- Metode Jelajah
- Metode Arah Pandang
- Metode Perhitungan Waktu

Wawancara:
- Panduan Wawancara
- Penyebaran Kuisioner
- (closed ended - random sampling)

Potensi Sumberdaya Wisata

Penilaian Potensi Sumberdaya Wisata (Avenzora, 2008):


1. Keunikan
5. Seasonalitas
2. Kelangkaan
6. Sensitivitas
3. Keindahan
7. Fungsi Sosial
4. Aksesibilitas

Beberapa KonsepPengembanganEkowisata

Rancangan Program Ekowisata Terpilih

Promosi

Media Promosi

Gambar 1 Kerangka Pemikiran Tugas Akhir

99

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Taman Wisata Alam


Pengertian Taman Wisata Alam (TWA) berdasarkan Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia (PP) Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam
dan Kawasan Pelestarian Alam, dalam pasal 1 dijelaskan bahwa yang dimaksud
dengan Taman Wisata Alam adalah Kawasan Pelestarian Alam dengan tujuan
utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata dan rekreasi alam.
Pengertian Kawasan Alam itu sendiri adalah kawasan dengan ciri khas tertentu,
baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem
penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa,
serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pada
pasal 33 dalam PP RI Nomor 68 Tahun 1998 tersebut dijelaskan pula bahwa suatu
kawasan ditetapkan sebagai kawasan Taman Wisata Alam, apabila telah
memenuhi kriteria sebagai berikut:
Mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa atau ekosistem gejala
alam serta formasi geologi yang menarik;
Mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelestarian fungsi potensi dan
daya tarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi alam;
Kondisi lingkungan sekitar mendukung upaya pengembangan pariwisata
alam.
2.2 Ekowisata
(UNESCO Office Jakarta, 2009) Ekowisata selalu mengacu pada bentuk
kegiatan wisata yang mendukung pelestarian. Ekowisata semakin berkembang
tidak hanya sebagai konsep tapi juga sebagai produk wisata (misalnya: paket
wisata). Akhir-akhir ini, paket wisata dengan konsep eko atauhijau menjadi
trend di pasar wisata. Konsep kembali ke alam cenderung dipilih oleh sebagian
besar konsumen yang mulai peduli akan langkah pelestarian dan keinginan untuk
berpartipasi pada daerah tujuan wisata yang dikunjunginya. Akomodasi, atraksi
wisata maupun produk wisata lainya yang menawarkan konsep kembali ke alam
semakin diminati oleh pasar. Tahun 2002 adalah tahun dimana dicanangkannnya
Tahun Ekowisata dan Pegunungan di Indonesia. Dari berbagai workshop dan
diskusi yang diselenggarakan pada tahun tersebut di berbagai daerah di Indonesia
baik oleh pemerintah pusat maupun daerah, dirumuskan lima prinsip dasar
pengembangan ekowisata di Indonesia, yaitu:
Pelestarian;
Pendidikan;
Pariwisata;
Perekonomian;
Partisipasi masyarakat setempat.

Menurut Sari N (2008) ekowisata mempunyai pengertian suatu perjalanan


wisata daerah yang masih alami, dimana ekowisata selalu menjaga kualitas,
keutuhan dan kelestarian alam serta budaya dengan menjamin keberpihakan
kepada masyarakat. Sejalan dengan munculnya kecenderungan masyarakat untuk
kembali ke alam, maka potensi ekowisata di kawasan hutan dengan daya tariknya
yang tinggi merupakan potensi yang bernilai jual tinggi sebagai obyek ekowisata
sehingga pariwisata alam dikawasan hutan layak untuk dikembangkan.
2.3 Wisata Alam
Obyek wisata alam untuk umum didefinisikan oleh Ko (2001: 50) sebagai
obyek wisata yang diminati oleh hampir semua pengunjung biasa dan dapat
dikunjungi oleh banyak orang dalam satuan waktu tertentu misalnya 1. 000 orang
dalam 1 hari atau 1. 000 orang dalam 1 jam tanpa menimbulkan dampak negatif
yang berarti pada obyek wisata itu sendiri. Jadi tergantung dari daya dukung
obyek wisata alam tersebut. Semakin besar daya dukungnya, semakin banyak
pengunjung yang dapat mengunjunginya dalan satuan waktu tertentu.
Obyek wisata alam minat-khusus merupakan profil peminat berpetualang
dan melakukan eksplorasi ke lokasi-lokasi jauh, terpencil dan belum dikenal atau
jarang didatangi manusia atau obyek-obyek wisata yang sulit dicapai ini
mengandung resiko. Bahkan ada yang berbahaya, maka semakin besar resikonya
akan semakin menarik untuk dikunjungi. Obyek wisata alam minat-khusus tidak
menyukai adanya pengunjung dalam jumlah banyak (Ko, 2001: 53).
2.4 Pengunjung
Undang-Undang Republik Indonesia No.
10 Tahun 2009 tentang
Kepariwisataan mendefinisikan pengunjung sebagai orang yang melakukan
kegiatan wisata. Menurut Damanik dan Weber (2006: 19) memaparkan bahwa
pengunjung menjadi faktor penentu dalam penciptaan produk dan jasa wisata.
Hal tersebut dipengaruhi oleh adanya motif, minat, ekspektasi, karakteristik sosial,
ekonomi dan budaya. Pengunjung didefinisikan oleh Suwantoro (2004:4) adalah
seseorang atau kelompok orang yang melakukan suatu perjalanan wisata disebut
dengan pengunjung (tourist), jika lama tinggalnya sekurang-kurangnya 24 jam di
daerah atau negara yang dikunjungi.
IUOTO (The International Union of Official Travel Organization) dalam
Suwantoro (2004: 4) menggunakan batasan mengenai pengunjung secara umum
yaitu bahwa pengunjung adalah setiap orang yang datang ke suatu negara atau
tempat tinggal lain dan biasanya dengan maksud apapun kecuali untuk melakukan
pekerjaan yang menerima upah.

101

2.5 Persepsi
Persepsi menurut Mulyana (2007:180) adalah inti komunikasi, sedangkan
unsur penafsiran (interpretasi) adalah inti persepsi, yang identik dengan
penyandian-balik (decoding) dalam proses komunikasi. Kenneth K. Sereno dan
Edward M. Bodaken, juga Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson dalam Mulyana
(2007:181) menyebutkan bahwa persepsi terdiri dari tiga aktivitas, yaitu: seleksi,
organisasi dan interpretasi. Maksud dari seleksi sebenarnya mencakup sensasi dan
atensi sedangkan organisasi melekat pada interpretasi, yang dapat didefinisikan
sebagai meletakkan sesuatu rangsangan bersama rangsangan lainnya sehingga
menjadi suatu keseluruhan yang bermakna. Persepsi didefinisikan oleh Robbins
(1996: 124) yaitu sebagai suatu proses yang mana individu-individu menafsirkan
kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan mereka. Faktorfaktor persepsi menurut Robbins (1996: 124-126) terbagi tiga, yaitu:
a. Pelaku Persepsi
Bila seorang individu memandang pada suatu target dan mencoba
menafsirkan apa yang dilihatnya, penafsiran itu syarat dipengaruhi oleh
karakteristik-karakteristik pribadi dari pelaku persepsi individual itu.
Diantara karakteristik pribadi yang lebih relevan yang mempengaruhi
persepsi adalah sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu
dan penghargaan (ekspektasi).
b. Target
Karakteristik dalam target yang akan diamati dapat mempengaruhi apa yang
dipersepsikan.
c. Situasi
Konteks penting yang mana kita melihat obyek-obyek atau peristiwaperistiwa, unsur-unsur dalam lingkaran sekitar mempengaruhi persepsipersepsi kita.
2.6 Motivasi
Motivasi merupakan hal yang sangat mendasar dalam studi tentang
pengunjung dan pariwisata. Motivasi merupakan faktor pemicu dalam perjalanan
wisata, walaupun sering kali tidak disadari oleh pengunjung. Mc Intosh (1977)
dan Murphy (1985) dalam Pitana dan Gayatri (2005: 58) menyatakan bahwa pada
dasarnya seseorang melakukan perjalanan dimotivasi oleh beberapa hal. Terdapat
empat kelompok besar seseorang termotivasi untuk melakukan perjalanan, yaitu
motivasi yang bersifat fisik, motivasi budaya, motivasi sosial dan motivasi karena
fantasi. Secara intrinsik motivasi terbentuk karena adanya keinginan dan
kebutuhan dari manusia itu sendiri, sesuai teori hirarki kebutuhan Maslow. Secara
ekstrinsik seseorang melakukan perjalanan dipengaruhi oleh faktor eksternal
seperti norma sosial, pengaruh dan tekanan keluarga serta situasi kerja yang
kemudian berkembang menjadi kebutuhan psikologis.
Mengacu kepada
Krippendorf (1997) dalam Pitana dan Gayatri (2005: 61) bahwa motivasi seorang
pengunjung melakukan perjalanan sangat bervariasi dan tidak selalu bersifat
tunggal melainkan kombinasi dari berbagai motivasi.

2.7 Penawaran dan Permintaan Wisata


Penawaran wisata adalah sesuatu yang ditawarkan kepada pengunjung
berupa produk dan jasa (Damanik dan Weber 2006). Menurut Feyer dalam
Damanik dan Weber (2006) produk wisata adalah semua produk yang
diperuntukkan bagi atau dikonsumsi oleh seseorang selama melakukan kegiatan
wisata, sedangkan jasa wisata adalah layanan yang diterima pengunjung ketika
mereka memanfaatkan produk tersebut. Permintaan wisata adalah sesuatu yang
diminta. Unsur-unsur dalam permintaan wisata adalah pengunjung dan penduduk
lokal yang menggunakan sumberdaya wisata (Damanik dan Weber 2006).
2.8 Sumberdaya Wisata
Sumberdaya wisata adalah suatu satuan mengenai bentang alam tertentu
dengan komponen atau bentang alam tertentu memenuhi dan menarik minat untuk
berkunjungserta menampung orang untuk melakukan kegiatan wisata. Bagianbagian bentang alam tersebut secara konseptual terbagi menjadi komponen sosial,
ekonomi dan lingkungan dari bentang alam tersebut(Avenzora,2008: 54). Dalam
konteks pariwisata, sumberdaya diartikan sebagai segala sesuatu yang mempunyai
potensi untuk dikembangkan guna mendukung pariwisata, baik secara langsung
maupun secara tidak langsung. Elemen dari sumberdaya antara lain adalah air,
pepohonan, udara, hamparan, pegunungan, pantai, bentang alam dan sebagainya
(Pitana IG, 2009: 68-69).
2.9 Potensi, Daya Tarik dan Atraksi Wisata
Potensi wisata adalah segala hal dalam keadaan baik yang nyata dan dapat
diraba maupun yang tidak teraba, yang diatur dan disediakan sedemikian rupa
sehingga dapat bermanfaat dan diwujudkan sebagai kemampuan. Faktor dan unsur
pendukung diperlukan untuk pengembangan kepariwisataan, baik itu berupa
suasana, kejadian, benda maupun jasa-jasa.
Daya tarik wisata diartikan sebagai segala sesuatu yang menarik untuk
dilihat atau disaksikan oleh pengunjung. Sesuatu dapat dikatakan sebagai obyek
wisata apabila obyek tersebut memiliki karakter atau sifat yang monumental.
Keberadaan obyek tersebut maksudnya memiliki periode waktu yang relatif lama
dan umumnya diketahui oleh banyak orang. Atraksi wisata merupakan sesuatu
yang disuguhkan kepada pengunjung yang dipersiapkan dalam suatu pertunjukan.
Atraksi wisata biasanya berwujud peristiwa, kejadian baik yang terjadi secara
periodik ataupun sekali saja, baik yang bersifat tradisional ataupun yang telah
dikembangkan dalam kehidupan masyarakat modern. Kesemuanya itu menjadi
daya tarik yang positif kepada para pengunjung untuk mengunjungi dan
menyaksikan serta dapat dinikmati, sehingga memberikan kepuasan maksimal
bagi para pengunjung yang telah tergerak hatinya untuk mengunjunginya (Pitana
& Gayatri, 2005: 19-21).

103

2.10 Pengembangan
Pengembangan diinterpretasikan oleh Sammeng (2001: 261) sebagai proses
perubahan kearah yang positif. Kata pengembangan dapat dikaitkan dengan dua
hal yakni proses dan tingkat perkembangan sesuatu. Berkaitan dengan hal ini
maka Pearce dalam Sammeng (2001: 261) mengaitkan pengembangan dengan
istilah pertumbuhan ekonomi, modernisasi, pemerataan keadilan, transformasi
sosio-ekonomi dan pengorganisasian kembali tata ruang. Pengembangan
pariwisatamempunyai dampak positif maupun dampak negatif, sehingga
diperlukan perencanaan untuk menekan sekecil mungkin dampak negatif yang
ditimbulkan. Spillane dalam (Demartoto, 2008:26-27) menjelaskan mengenai
dampak positif dan negatif dari pengembangan pariwisata. Dampak positif, yang
diambil dari pengembangan pariwisata meliputi:
Penciptaan lapangan kerja, dimana pada umumnya pariwisata merupakan
industri padat karya dimana tenaga kerja tidak dapat digantikan dengan
modal atau peralatan;
Sebagai sumber devisa asing;
Pariwisata dan distribusi pembangunan spiritual, disini pariwisata secara
wajar cenderung mendistribusikan pembangunan dari pusat industri kearah
wilayah desa yangbelum berkembang, bahkan pariwisata disadari dapat
menjadi dasar pembangunan regional. Struktur perekonomian regional
sangat penting untuk menyesuaikan dan menentukan dampak ekonomis dari
pariwisata.
Dampak negatif yang ditimbulkan dengan adanya pengembangan pariwisata
meliputi:
Banyak kasus kebocoran sangat luas dan besar, khususnya apabila proyekproyek pariwisata berskala besar dan diluar kapasitas perekonomian, seperti
barang-barang impor, biaya promosi keluar negeri, tambahan pengeluaran
untuk warga negara sebagai akibat dari penerimaan dan percontohan dari
pariwisata dan lainnya;
Polarisasi spasial dari industri pariwisata dimana perusahaan besar
mempunyai kemampuan untuk menerima sumberdaya modal yang besar
dari kelompok besar perbankan atau lembaga keuangan lain. Sedangkan
perusahaan kecil harus tergantungdari pinjaman atau subsidi dari pemerintah
dan tabungan pribadi. Hal ini menjadi hambatan dimana terjadi konflik
spasial antara perusahaan kecil dan perusahaan besar;
Sifat dari pekerjaan dalam industri pariwisata cenderung menerima gaji
yang rendah, menjadi pekerjaan musiman dan tidak terdapat serikat buruh;
Dampak industri pariwisata terhadap alokasi sumberdaya ekonomi industri
ini dapat menaikkan harga tanah dimana kenaikan harga tanah dapat
menimbulkan kesulitan bagi penghuni daerah tersebut yang tidak bekerja
disektor pariwisata yang ingin membangun rumah atau mendirikan bisnis
disini;
Dampak terhadap lingkungan dapat berupa polusi air atau polusi udara,
kekurangan air, keramaian lalu lintas dan kerusakan dari pemandangan alam
yang tradisional.

Berdasarkan hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa pengembangan


merupakan suatu cara merubah atau merenovasi sesuatu yang hasilnya akan
berbeda dengan tampak awal sesuatu yang dirubah tersebut. Pengembangan
dilakukan dengan tujuan untuk menekan atau merubah kesan negatif dan
memunculkan kesan positif dari yang dikembangkan tersebut. Pembangunan
menurut Soekanto (2006: 358) merupakan suatu proses perubahan disegala bidang
kehidupan yang dilakukan secara sengaja berdasarkan suatu rencana tertentu.
Proses pembangunan terutama bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakat, baik secara spiritual maupun material.
2.11 Program Wisata
Program menurut Alikodra (2010: 42) merupakan suatu rangkaian kegiatan
yang saling berhubungan untuk mencapai suatu hasil. Menurut Basuni dan
Kosmaryandi (2007) dalam Avenzora (2008: 68-70) menjelaskan beberapa
prinsip dalam pengembangan program ekowisata yaitu membangun interaksi
dengan alam dan lingkungan, tidak diarahkan padawisata massal, memberikan
tantangan secara fisik maupun mental, adaptif dengan kondisi lingkungan
setempat dan menempatkan pengalaman lebih penting daripada kenyamanan.
Ittinerary adalah sebuah dokumen yang dapat dipakai untuk mengilustrasikan dan
memuat hal ikhwal tentang penyelenggaraan wisata sejak pemberangkatan, di
tempat tujuan, hinggga kembali ke tempat asal. Ittinerary ini meliputi waktu
penyelenggaraan, tempat obyek kunjungan dan tempat makan serta aktivitas yang
dilakukan(Suyitno, 2001:30).
Penyusunan program wisata memiliki manfaat baik bagi pengelola wisata
seperti sebagai media dalam mempromosikan wisata, sebagai pedoman dalam
penyelenggaraan wisata, sebagai salah satusarana evaluasi penyelenggaraan
wisata serta sebagai media dalam memberikan gambaran kondisi wisata pada
calon pengunjung. Selain memberikan manfaat bagi pihak pengelola, penyusunan
program wisata juga memberikan manfaat bagi pengunjung seperti sebagai media
untuk memberikan gambaran tentang produk yang dibeli (Suyitno, 2001:70).
2.12 Fasilitas, Sarana dan Prasarana
(I Wayan Nurjana, 2012) dalam jurnalnya yang berjudul sosial dan
humaniora menyatakan bahwa memenuhi kebutuhan pengunjung sarana dan
prasarana yang merupakan tourist supply sangat perlu dipersiapkan. prasarana
(Infrastructure) adalah semua fasilitas yang memungkinkan proses kepariwisataan
dapat berjalan dengan lancar sedemikian rupa, sehingga memudahkan pengunjung
untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam pengertian ini yang termasuk prasarana
adalah:
Prasarana umum (general infrastucture), yaitu prasarana yang menyangkut
kebutuhan umum bagi kelancaran perekonomian, seperti: airbersih, listrik,
jalan raya, telekomunikasi dan sebagainya;
Kebutuhan masyarakat banyak (basic need of civilized life), yaitu prasaran
yang menyangkut kebutuhan masyarakat banyak, seperti: rumah sakit,
apotik, bank, pompa bensin dan sebagainya.

105

Sarana kepariwisataan dapat dibagi menjadi tiga macam, dimana satu dan
yang lainya ialah saling melengkapi. Ketiga sarana kepariwisataan yang dimaksud
dijelaskan dibawah ini. Sarana pertama adalah saran pokok kepariwisataan (main
tourism superstucture) perusahaan-perusahaan yang hidup dan kehidupanya
sangat tergantung pada lalu lintas pengunjung, fungsinya adalah menyediakan
fasilitas pokok yang dapat memberikan bagi kedatangan pengunjung. Disebutkan
bahwa terdapat istilah receptive tourist plan, yaitu perusahaan yang
mempersiapkan perjalanan dan penyelengaraan tour, sightseeing bagi pengunjung,
seperti: travel agent, tour operator, tourist transportation, dan sebagainya.
Sedangkan residential tourist plant merupakan perusahaan-perusahaan yang
memberikan pelayanan untuk menginap, menyediakan makanan dan minuman di
daerah tujuan seperti hotel, motel, bar, restoran, dan sebagainya. Sarana yang
kedua adalah sarana pelengkap kepariwisataan (supplementing tourism
superstructure), yaitu fasilitas-fasilitas yang dapat melengkapi sarana pokok,
sehingga dapat membuat pengunjung tinggal lebih lama ditempat yag
dikunjunginya, seperti fasilitas untuk berolahraga. Harus ada sesuatu yang dapat
dilakukan (something to do) ditempat yang dikunjunginya, sehingga ada perintang
yang tidak membuat pengunjung cepat bosan ditempat tersebut.
Saran yang ketiga adalah sarana penujang kepariwisataan (supporting
tourism superstructure) yaitu fasilitas yang diperlukan pengunjung (business
tourist), yang berfungsi tidak hanya melengkapi sarana pelengkap, tetapi juga
fungsinya yang lebih pentiang adalah agar pengunjung lebih banyak
membelanjakan uangnya ditempat yang dikunjunginya, seperti souvenir, bioskop,
night club dan sebagainya.
2.13 Desain
Desain grafis adalah suatu bentuk komunikasi visual yang menggunakan
gambar/image dan teks dan elemen abstraksi lainnya berupa simbol-simbol
tertentu yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Unsur yang
terdapat dalam desain grafis sendiri merupakan sebuah seni yang memiliki unsur
kemampuan kognitif dan kemampuan visual dimana berbagai elemen seperti
ilustrasi, fotografi, manipulasi gambar dan tata letak (layout) menjadi elemen
pembentuk dalam proses penciptaan sebuah karya desain. Pada dasarnya
penciptaan sebuah karya desain terbentuk dari beberapa elemen dasar. Berikut
beberapa elemen dasar desain diantaranya yaitu:
Garis, merupakan pembentukan dari beberapa titik yang dihubungkan.
Garis dalam grafis dapat diaplikasikan dalam bentuk horizontal, vertikal,
zig-zag, kurva, diagonal, dan lain sebagainya. Garis dalam desain dapat
difungsikan sebagai penunjuk arah dan pembagi bentuk atau ruang;
Bentuk, elemen yang diperoleh dengan menggabungkan beberapa garis.
Bentuk dalam desain dapat berupa kotak, segitiga, lingkaran atau bentuk
lainnya. Bentuk dalam grafis dapat dikombinasikan untuk membuat
gambaran bentuk yang lebih kompleks;
Warna, dalam grafis dapat diartikan sebagai pantulan tertentu dari cahaya
yang dipengaruhi oleh pigmen yang terdapat dipermukaan objek. Setiap
warna dapat memberikan kesan dan identitas tertentu sesuai dengan kondisi
sosial pengamatnya;

Tekstur, adalah rasa dan bentuk kualitas dari sebuah permukaan berdasarkan
hasil pengamatan, penglihatan dan sentuhan terhadap permukaan. Tekstur
dapat terkesan kasar dan dapat juga terlihat halus;
Ruang, merupakan area yang disediakan untuk menempatkan bentuk.
Ruang dalam desain bergantung pada gambaran atau bentuk desain yang
akan dibuat. Ruang dibagi menjadi dua, yaitu ruang positif yang terisi
dengan bentuk atau gambar dan ruang negatif sebagai latar belakang.
Masing-masing elemen desain baik itu garis, bentuk, warna, tekstur dan
ruang di atas tentu harus saling bekerja sama untuk membentuk kombinasi desain
yang baik. Hasil dari kombinasi elemen desain dapat diwujudkan dalam bentuk
karya yang baik dengan mengacu pada prinsip-prinsip desain. Keseimbangan atau
Balance, memberikan perasaan stabil pada sebuah karya grafis. Keseimbangan
gaya desain tidak hanya berfokus pada satu elemen tertentu saja, namun juga
bagaimana kombinasi ini dapat memberikan kesan yang seimbang dalam desain.
Keseimbangan dalam desain dibagi menjadi tiga bentuk pola, yaitu:
Semetri,dimana terjadi keseimbangan dalam bentuk gambar atau elemen
lainnya. Contohnya adalah gambaran bentuk wajah manusia yang secara
keseluruhan dapat dikatakan seimbang karena kombinasi bentuk dan letak
mata kiri-kanan, serta letak hidung dan mulut;
Radial Balance,merupakan desain yang memiliki titik pusat tertentu secara
radial yang dapat memberikan kesan seimbang pada bentuk di sekelilingnya;
Asimetri, merupakan pola yang menciptakan kesan keseimbangan yang
sama pada antar bentuk, walaupun pada bagian objek tidak terlihat sama.
Pola ini umumnya membutuhkan kreativitas yang lebih sulit karena
dibutuhkan spontanitas dan eksperimen terhadap elemen-elemen desain.
Irama merupakan pengulangan bentuk secara beraturan terhadap suatu objek
melalui pola tertentu yang mudah dikenali dan diingat. Pola pergerakan suatu
objek dengan objek lainnya bertujuan untuk mengurangi kesan bosan terhadap
sebuah bentuk. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengciptakan
sebuah irama pada bentuk desain, yaitu:
Melakukan pengulangan terhadap warna, bentuk, tektur dan garis;
Memberikan variasi terhadap ukuran benda, bentuk atau garis secara
berurutan;
Menciptakan gradasi pada ukuran objek, bentuk dan warna.
Proporsi merupakan gambaran perbandingan antara objek kecil terhadap
keseluruhan. Umumnya metode perbandingan golden section lebih populer
digunakan. Proporsi ini menggunakan bilangan perbandingan, yaitu 1:1, 618.
Perbandingan ini didasarkan pada perbandingan anatomi dalam tubuh manusia.
Dalam seni grafis sendiri, kualitas desain sangat ditentukan oleh proporsi
perbandingan suatu objek dengan keseluruhan objek. Contoh, perbandingan
proporsi dalam desain dibuat berdasarkan perbandingan antara:
Tinggi, lebar dan kedalaman suatu elemen dengan yang lain;
Ukuran suatu daerah dengan daerah lainnya;
Ukuran suatu elemen dengan ukuran elemen lainnya.

107

Penekanan adalah suatu cara untuk memberikan suatu tekanan pada objek
tertentu, sehingga terlihat lebih fokus dibanding objek lainnya. Seperti apapun
penggunaan penekanan ini diharapkan tidak mengurangi unsur keindahan elemen
lainnya. Penekanan terhadap sebuah karya dapat menggunakan elemen warna,
bentuk dan elemen lainnya. Ada beberapa cara untuk melakukan penekanan
terhadap sebuah karya desain, yaitu:
Menggunakan warna yang kontras pada elemen tertentu;
Menggunakan garis atau bentuk yang berbeda atau yang tidak biasa;
Buatlah sebuah bentuk yang sangat besar atau sangat kecil;
Gunakan latar belakang polos, sehingga objek gambar terlihat dominan.
Kesatuan adalah ciri desain yang baik. Ini adalah hasil akhir dalam suatu
komposisi ketika semua elemen desain bekerja secara harmonis bersama-sama
memberikan penampilan yang memuaskan (Sibero, 2010: 9-23).

3 KONDISI UMUM

3.1 Kondisi Fisik


3.1.1 Letak dan Luas
Berdasarkan peta lokasi kawasan skala 1:25. 000 dan Perum Perhutani
(1997), Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Kamojang terletak hampir di tengahtengah Cagar Alam (CA) Kawah Kamojang dengan luas 481 hektar secara
keseluruhannya. Secara geografis, TWA Kawah Kamojang berada pada koordinat
1073135-1075350Bujur Timur (BT) dan 070012-070657Lintang
Selatan (LS). Secara administrasi pemerintahan, TWA Kawah Kamojang terletak
didua wilayah pemerintahan, yaitu Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten
Bandung dan Desa Randukurung, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut,
Provinsi Jawa Barat. Secara administrasi pengelolaan, TWA Kawah Kamojang
termasuk dalam wilayah kerja Seksi Konservasi Sumberdaya Alam (KSDA)
Garut, Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Jawa Barat.
Berdasarkan Peta Provinsi Jawa Barat skala 1:1.000.000 dan BKSDA Jawa Barat
II (2003), batas-batas kawasan TWA Kawah Kamojang adalah:
Batas sebelah utara dengan Kecamatan Paseh dan Ibun, Kabupaten Bandung;
Batas sebelah barat dengan Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung;
Batas sebelah timur dengan Kecamatan Leles dan Tarogong, Kabupaten Garut;
Batas sebelah selatan dengan Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut.

Gambar 2 Peta Situasi Kawasan TWA Kawah Kamojang


(Sumber: Data Primer 2013)

109

TWA Kawah kamojang merupakan salah satu dari dua TWA yang berada di
CA Kamojang. Dalam pengembangan wisata, TWA Kawah Kamojang tentu
sangat strategis karena berada tepat di antara Kabupaten Bandung disebelah utara
dan Kabupaten Garut di sebelah selatan, dimana sebagian besar TWA Kawah
Kamojang berada dibawah adminstratif wilayah Kabupaten Bandung, tepatnya
Kecamatan Ibun.
3.1.2 Geologi, Tanah dan Topografi
Berdasarkan Peta Geologi dan Peta Tanah skala 1:25.000, serta Perum
Perhutani (1997), formasi geologi TWA Kawah Kamojang seluruhnya terdiri dari
batuan kuarter hasil gunung berapi yang tidak teruraikan dengan jenis tanah
seluruhnya terdiri dari jenis tanah andosol yang berasal dari bahan batuan induk,
basis dan intermedia dengan fisiografi gunung berapi.
Berdasarkan Peta Topografi skala 1:25.000 dan Perum Perhutani (1997),
TWA Kawah Kamojang berada pada ketinggian tempat 1. 400-1. 800 mdpl
dengan kondisi topografi sebagian besar berbukit dengan lereng terjal. Pada
beberapa tempat terdapat areal dengan topografi datar, landai sampai
bergelombang. Daerah dengan topografi datar terletak di blok Pangkalan yang
merupakan area pemukiman dan pusat pengelolaan TWA Kawah Kamojang.

Gambar 3 Lapisan Tanah di TWA Kawah Kamojang


(Sumber: Data Primer 2013)

Lapisan tanah di TWA Kawah Kamojang terbagi kedalam tiga lapisan,


yaitu lapisan tanah liat, tanah gembur dan tanah humus (Gambar 3). Lapisan tanah
liat merupakan lapisan tanah terdasar dengan ketebalan lebih dari 2 m diatas
batuan. Lapisan tanah gembur merupakan lapisan tanah kedua dengan ketebalan
1,5 m, merupakan lapisan yang membuat daya serap air menjadi sangat tinggi
sehingga tidak ada aliran air yang terdapat dipermukaan tanah. Lapisan tanah
humus merupakan lapisan tanah teratas dengan ketebalan 40 cm, merupakan
lapisan yang ditumbuhi oleh tumbuhan, baik jenis pohon maupun non-pohon.
Lapisan humus hanya terdapat di bagian selatan, barat dan timur dari TWA
Kawah Kamojang.

3.1.3 Iklim dan Curah Hujan


Berdasarkan klasifikasi menurut Schimdt dan Ferguson, iklim di TWA
Kawah Kamojang termasuk ke dalam tipe D dengan curah hujan rata-rata sebesar
2. 400 mm per-tahun atau rata-rata curah hujan harian sebesar 213 mm per-hari.
Musim hujan berlangsung antara bulan September-Maret dan musim kemarau
berlangsung antara bulan April-Agustus.
Temperatur udara sepanjang tahun cukup rendah, yaitu sebesar 8,4-24,9C
dan temperatur udara rata-rata sebesar 16,7C dengan kelembaban udara rata-rata
tahunan relatif tinggi, yaitu sebesar 87% (BMG, 2004 dalam BKSDA Jawa Barat
dan IPB, 2005). Kawasan TWA Kawah Kamojang pada musim penghujan
seringkali diselimuti kabut tebal dengan radius jarak pandang 5 m. Namun pada
musim kemarau sering terlihat rumput-rumput kering yang terbakar oleh terik
matahari.
3.1.4 Hidrologi
TWA Kawah Kamojang memiliki potensi hidrologi berupa air tawar.
Potensi air tawar sangat melimpah karena TWA Kawah Kamojang merupakan
daerah yang berada di pegunungan sehingga seluruh batas wilayahnya dikelilingi
oleh beberapa sumber mata air. Keberadaan sumber air tawar pada seluruh bagian
TWA Kawah Kamojang dibuktikan dengan adanya berbagai tumbuhan kelompok
pepohonan dengan ukuran besar dan rapat. Keberadaan pepohonan tersebut
mampu menyimpan dan menjaga kondisi air tawar dengan baik. Selain itu, air
tawar juga bersumber dari resapan air hujan yang meresap dan tersimpan di dalam
tanah.
Dibeberapa titik di TWA Kawah Kamojang terdapat beberapa sumber air
panas dan lumpur panas yang berasal dari aktivitas kawah yang disebabkan oleh
kegiatan panas bumi. Kondisi air panas di TWA Kawah Kamojang banyak
mengandung zat-zat belerang yang digunakan sebagai sumber air dibeberapa
fasilitas wisata, seperti toilet dan kamar rendam.
Secara hidrologis, TWA Kawah Kamojang terletak di daerah aliran sungai (DAS)
besar di Jawa Barat (BKSDA Jawa Barat dan IPB, 2005), yaitu:
di sebelah utara dan barat termasuk ke dalam DAS Citarum;
di sebelah selatan termasuk ke dalam DAS Cimanuk.
Masing-masing hulu DAS tersebut terletak di CA Kamojang dan membentuk subDAS, diantaranya adalah sub-DAS Cikaro, Ciharus dan Ciwelirang.

(a)

(b)

(c)

Gambar 4 (a) Kubangan Belerang, (b) Sumber Mata Air Panas,


(c) Sumber Mata Air Tawar

111

3.2 Kondisi Biotik


3.2.1 Keanekaragaman Flora
Ekosistem hutan di TWA Kawah Kamojang termasuk ke dalam formasi
hutan hujan tropika pegunungan dan hutan campuran dengan tipe vegetasi hutan
alam dan hutan tanaman. Jenis flora yang terdapat pada vegetasi hutan alam
diantaranya adalah pasang (Quercus javanica), jamuju (Podocarpus imbricatus),
kihujan (Engelhardtia spicata), kitebe (Sloanea sigun), kitambaga (Eugenia
cumini), kiara (Ficus glabela), kibeureum (Viburnum sambucium), cangkuang
(Pandunas sp. ) dan paku-pakuan (Dyplazzium sp. ) (BKSDA Jawa Barat II,
2003). Sedangkan jenis flora yang terdapat pada vegetasi hutan tanaman
didominasi oleh rasamala (Altingia excelsa) dan pinus (Pinus merkusii) (Perum
Perhutani, 1997).
3.2.2 Keanekaragaman Fauna
Jenis fauna yang terdapat di TWA Kawah Kamojang diantaranya adalah
macan tutul (Panthera pardus), musang (Paradoxurus hermaproditus),
trenggiling (Manis javanica), surili (Presbitis comata), lutung (Trachypithecus
auratus) dan kutilang (Pycnonotus aurigaster) (BKSDA Jawa Barat II, 2003).
3.3 Kondisi Sosial Ekonomi Budaya Masyarakat
3.3.1 Demografi
Masyarakat yang bermukim di sekitar TWA Kawah Kamojang pada
umumnya bersuku Sunda dengan jumlah penduduk 145. 907 jiwa (BPS
Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut). Bahasa yang digunakan untuk
komunikasi sehari-hari pada umumnya menggunakan bahasa Sunda dan Nasional.
Tabel 1 Jumlah dan Kepadatan Masyarakat Sekitar
No

Kecamatan

Luas Wilayah
Jumlah Penduduk
(km2)
(jiwa)
1 Ibun
66,3027
78. 682
2 Samarang
5,9710
67. 225
Jumlah
72,2737
145. 907
(Sumber : BPS Kabupaten Bandung 2012, BPS Kabupaten Garut 2011)

Kepadatan Penduduk
(jiwa/km2)
546
1. 125
1. 671

Berdasarkan Tabel 9, Kecamatan Samarang memiliki kepadatan penduduk


yang lebih tinggi dibandingkan dengan Kecamatan Ibun. Pertumbuhan penduduk
yang terjadi di Kecamatan Samarang disebabkan oleh relatif besarnya pendatang
karena kecamatan tersebut lebih berpotensi untuk berbagai mata pencaharian.
3.3.2 Mata Pencaharian
Sebagian besar mata pencaharian masyarakat di sekitar TWA Kawah
Kamojang adalah sebagai petani, buruh tani, buruh swasta, pedagang dan Pegawai
Negeri Sipil(PNS), dimana bertani merupakan mata pencaharian utama. Di Desa
Laksana, banyak masyarakat yang bekerja sebagai buruh musiman karena adanya
PT Pertamina Area Geothermal Kamojang dan PT Indonesia Power yang
merekrut tenaga kerja dari masyarakat sekitar dengan sistem kontrak, seperti
sebagai pembersih mesin, supir dan tenaga pemboran panas bumi.

Tabel 2 Mata Pencaharian Penduduk Sekitar


No

Mata Pencaharian

Kecamatan Ibun
(jiwa)
1 Petani
3. 283
2 Buruh Tani
1. 264
3 Buruh Swasta
3. 894
4 Pegawai Negeri Sipil
241
5 Pengrajin
146
6 Pedagang
1. 363
7 Peternak
128
8 Montir
34
9 Dokter
10 Guru Swasta
15
11 Penjahit
16
12 Supir
53
13 TNI/POLRI
6
14 Pertukangan
73
(Sumber: BPS Kabupaten Bandung 2004, BPS Kabupaten Garut 2004)

Kecamatan Samarang
(jiwa)
4. 117
1. 682
42
586
31
2. 439
2
7
2
6
9
42
237
-

3.3.3 Pendidikan
Lulusan Sekolah Dasar (SD) atau pendidikan sederajatnya merupakan
lulusan yang paling dominan dalam masyarakat di sekitar TWA Kawah
Kamojang, baik di Kecamatan Ibun sebesar 70,3% maupun di Kecamatan
Samarang sebesar 61,15%. Hal ini disebabkan belum adanya sekolah lanjutan
yang memadai didalam kecamatan tersebut, serta tingkat pendapatan masyarakat
yang belum mencukupi untuk jenjang pendidikan lanjutan yang berada di luar
kecamatan.
Tabel 3 Tingkat Pendidikan Masyarakat Sekitar
No

Tingkat Pendidikan

Kecamatan Ibun
(unit)
1 SD/ MI
61
2 SMP/ MTs
6
3 SMA/ MA
4
(Sumber: BPS Kabupaten Bandung 2012, BPS Kabupaten Garut 2011)

Kecamatan Samarang
(unit)
35
4
3

Berdasarkan Tabel 11, Kecamatan Ibun memiliki kondisi fasilitas


pendidikan yang lebih baik, yaitu telah memiliki 64 unit bangunan SD, 6 unit
bangunan SMP dan 4 unit bangunan SMA dibandingkan dengan Kecamatan
Samarang yang hanya memiliki 35 unit bangunan SD, 4 unit bangunan SMP dan 3
unit bangunan SMA.
3.3.4 Agama dan Adat Istiadat
Adat istiadat masyarakat di sekitar TWA Kawah Kamojang pada umumnya
sama dengan masyarakat Suku Sunda lainnya di Jawa Barat. Di Kamojang, tidak
ada kesenian, upacara adat dan kerajinan yang khas. Hubungan antara masyarakat
desa pada umumnya sangat erat.
Hal ini ditunjukkan masih hidupnya
kelembagaan gotong-royong, terutama dalam pekerjaan kerja bakti dalam
pembangunan sarana ibadah (Mesjid dan Langgar), membangun rumah penduduk,
kantor desa, membuat saluran air dan jalan desa. Pola hidup sehari-hari
masyarakat juga masih kuat dipengaruhi oleh norma agama Islam.

113

Tabel 4 Kondisi Agama Masyarakat Sekitar


Jumlah Pemeluk Agama (jiwa)
Kecamatan Ibun
Kecamatan Samarang
1 Islam
78. 682
67. 120
2 Protestan
47
73
3 Katolik
10
32
4 Budha
5 Hindu
(Sumber: BPS Kabupaten Bandung 2012, BPS Kabupaten Garut 2011)
No

Agama

3.4 Sejarah dan Status Kepemilikan


Pada tahun 1928, seorang pemburu warga asli Indonesia menemukan
kembali kawasan Kamojang ini dan memilih untuk menetap hingga berpuluhpuluh tahun secara turun-temurun. Pada tahun 1983, kawasan Kamojang resmi
dikelola oleh Perum Perhutani dan dijadikan sebagai tempat wisata, dimana
kawah-kawah aktif di kawasan ini di pantau secara rutin oleh PT Pertamina Area
Geothermal Kamojang (Perum Perhutani, 1994).
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 170/Kpts/Um/3/1979 tanggal
13 Maret 1979, kelompok hutan Kamojang ditunjuk sebagai Cagar Alam (CA)
seluas 7.500 ha dan Taman Wisata Alam (TWA) seluas 500 ha. Berdasarkan hasil
penataan batas tahun 1982 dalam Berita Acara Tata Batas (BATB) tanggal
7 Agustus 1982 dan Keputusan Menteri Kehutanan No. 110/Kpts-I/1990 tanggal
14 Maret 1990, luas CA dan TWA Kawah Kamojang adalah 8.286 ha, terdiri dari
luas CA adalah 7.805 ha dan luas TWA adalah 481 ha. Berdasarkan Keputusan
Menteri Kehutanan No. 433/KPTS-II/1994 tanggal 5 Agustus 1994, menetapkan
lahan kompensasi seluas 12,196 ha menjadi bagian dari CA, sehingga luas CA
Kawah Kamojang menjadi 7. 817,96 ha.
Pengelolaan TWA Kawah Kamojang diberikan kepada BBKSDA yang
dibentuk berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No. P. 02/Menhut-II/2007
tanggal 1 Februari 2007. Izin pengusahaan wisata alam di TWA Kawah
Kamojang sebelumnya diberikan kepada Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan
Banten (KPH Bandung Selatan) berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan
No. 284/Kpts-II/1990 tanggal 4 Juni 1990. Namun pada tahun 2011, pengelolaan
TWA diambil alih kembali oleh pihak BBKSDA Jawa Barat (Seksi KSDA
Wilayah Garut).
3.5 Pengelolaan
3.5.1 Pembagian Wilayah Kelola
TWA Kawah Kamojang merupakan kawasan wisata yang terdapat di
Kabupaten Bandung yang memiliki fungsi dan peranan sebagai tempat untuk
berekreasi dan berkemah, serta untuk kepentingan konservasi. Keberadaan TWA
Kawah Kamojang digunakan sebagai tempat dengan tujuan konservasi sekaligus
tempat untuk berwisata ini memiliki beberapa kebijakan dan peraturan dalam hal
pengelolaan kawasan. Adapun pembagian zona wilayah kelola di TWA Kawah
Kamojang terdiri dari zona wisata, zona geothermal, zona hutan dan zona hutan
tanaman.

Gambar 5 Zona Pembagian Wilayah Kelola di TWA Kawah Kamojang


(Sumber: Data Primer 2013)

Ruang gerak pengunjung merupakan luasan dari obyek atau lokasi yang
dapat dimanfaatkan untuk kegiatan wisata beserta pemenuhan sarana dan
prasarananya. Ruang gerak pengunjung di TWA Kawah Kamojang seluas 25 ha,
dan sisanya merupakan ruang hutan biasa yang masih belum dimanfaatkan untuk
kegiatan wisata. Pada gambar 5, zona hijau merupakan kawasan hutan TWA
Kawah Kamojang yang masih belum dikelola, sedangkan zona berwarna hijau
muda merupakan zona wisata yang dimanfaatkan oleh pengunjung sehari-hari.
Adanya pembagian zona hutan biasa dan zona wisata dikarenakan sumberdaya
wisata yang menonjol di TWA Kawah Kamojang berada di zona wisata, seperti
Kawah dan keberadaan sumberdaya air panas.
Berdasarkan Keputusan Bersama Menteri Pertambangan dan Energi dengan
Menteri Kehutanan No. 969. K/08/MPE/1989 dan No. 492/Kpts-II/1989 tentang
Pedoman Pengaturan Pelaksanaan Usaha Pertambangan dan Energi dalam
Kawasan Hutan, menyatakan bahwa dalam TWA dengan fungsi khusus,
mengingat fungsi, sifat dan keberadaannya tidak dapat dilakukan untuk kegiatan
usaha pertambangan.
Penetapan TWA Kawah Kamojang dilakukan pada tanggal 14 Maret 1990,
sedangkan pelaksanaan kegiatan pemboran panas bumi telah dilakukan sebelum
dilakukan penetapan kawasan sebagai TWA pada tahun 1926, maka kegiatan
pemboran panas bumi di TWA Kawah Kamojang boleh dilakukan. Perizinan atas
pinjam pakai lahan TWA Kawah Kamojang oleh PT Pertamina Area Geothermal
Kamojang terdiri dari:

115

1. Surat Persetujuan Menteri Kehutanan No. 341/Menhut-VII/1996 tanggal 15


Maret 1996 perihal persetujuan kegiatan pengembangan lapangan panas
bumi kapasitas 80 mega watt (MW) di TWA Kawah Kamojang Jawa Barat,
seluas 12 ha;
2. Surat Perjanjian Pinjam Pakai dengan Kompensasi antara Departemen
Kehutanan dan PT Pertamina Geothermal Kamojang No. 45/KWL-6/1997
tanggal 30 Januari 1997 untuk pengembangan Area Geothermal Kamojang
kapasitas 80 mega watt (MW).
Ketentuan pinjam pakai tersebut di atas berdasarkan Persetujuan Menteri
Kehutanan No. 341/Menhut-VII/1996 tanggal 15 Maret 1996, PT Pertamina Area
Geothermal Kamojang berkewajiban memenuhi kewajiban-kewajibannya, yaitu:
1. Membayar biaya proses pinjam pakai;
2. Menyerahkan lahan pengganti (kompensasi) dan membayar biaya proses
penyerahan lahan pengganti;
3. Membayar biaya reboisasi lahan pengganti;
4. Menjaga dan mengamankan kawasan hutan;
5. Melakukan reboisasi areal hutan pada dan di sekitar lokasi pinjam pakai;
6. Membantu saran dan fasilitas pengamanan kawasan hutan;
7. Membantu membangun sarana dan prasarana wilayah;
8. Memajukan dan memperdayakan masyarakat melalui program Community
Development (CD) dan Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK).
Sejalan dengan kebijaksanaan pemerintah dalam upaya peningkatan sumber
devisa negara dari sektor non migas, maka dalam rangka pemanfaatan potensi
TWA Kawah Kamojang secara optimal dan lestari, Departemen Kehutanan
berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1990 memberikan
kepercayaan kepada Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten (KPH
Bandung Selatan) untuk mengembangkan lokasi tersebut. Perum Perhutani Unit
III Jawa Barat dan Banten (KPH Bandung Selatan) mengambil langkah-langkah
kebijaksanaan operasional dan pengembangan TWA Kawah Kamojang, yaitu
berupa pembangunan pengembangan hutan tanaman. Hutan tanaman di kawasan
TWA Kawah Kamojang seluas 10,5 Ha. Jenis hutan tanaman ini didominasi oleh
jenis rasamala (Altingia excelsa) yang ditanam tahun1942 dan hutan tanaman
pinus (Pinus merkusii) yang ditanam tahun 1969 (Perum Perhutani, 2004).
3.5.2 Pembagian Kerja Pengelola
Berhasilnya konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup di TWA
Kawah Kamojang, erat kaitannya dengan pencapaian tiga sasaran konservasi
BBKSDA, yaitu :
1. Menjamin terpeliharanya proses ekologi yang menunjang sistem pendukung
kehidupan bagi kelangsungan pembangunan dan kesejahteraan manusia;
2. Menjamin terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan tipe-tipe
ekosistem, sehingga mampu menunjang pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi untuk pemenuhan kebutuhan manusia sebagai pengguna
sumberdaya alam bagi kesejahteraan;
3. Mengendalikan cara-cara pemanfaatan sumberdaya alam sehingga terjamin
kelestariannya.

Pembagian tugas kerja di TWA Kawah Kamojang ditentukan oleh


BBKSDA Jawa Barat. Pengelolaan TWA Kawah Kamojang dikelola secara
langsung oleh kantor seksi KSDA yang bekerjasama dengan Kepala Resort
Kamojang yang membawahi fungsional POLHUT. Sedangkan pengelolaan wisata
dikelola oleh petugas Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang bertugas
untuk memungut karcis, pengelolaan kebersihan dan perawatan, serta keamanan
pengunjung. Petugas PNBP juga merekrut beberapa pegawai (mitra) yang
dipekerjakan untuk membantu dalam kegiatan pengelolaan TWA Kawah
Kamojang. Berikut pembagian tugas kerja di TWA Kawah Kamojang:
Petugas
PNBP
Bpk. Oca Mulyana

Petugas
Loket
Bpk. Beny
Bpk. Kuyut

Petugas
Parkir
Karang Taruna
Kamojang

Petugas
Toilet
Kamar Rendam
Bpk. Adang

Petugas
Kebersihan
Keamanan
Bpk. Hendi

Gambar 6 Sistem Kerja Pengelolaan Wisata di TWA Kawah Kamojang


Mitra yang dipekerjakan sebagai pegawai di TWA Kawah kamojang, pada
dasarnya adalah sukarelawan ataupun voulenteer penggiat lingkungan yang
bersedia bersama-sama membangun dan mengelola kegiatan wisata di TWA
Kawah Kamojang. Mitra-mitra yang bekerja dikawasan tersebut pada dasarnya
memiliki fungsi kerja yang sama mulai dari kegiatan tiketing, kebersihan, dan
keamanan, sebagian dari mitra juga memiliki sertifikasi beberapa pelatihan guide,
satuan tugas (SATGAS) kebakaran hutan dan outbond.
3.6 Potensi dan Kegiatan Wisata
Berdasarkan kondisi fisik alam, potensi obyek wisata di Kabupaten
Bandung cenderung berupa dataran tinggi(perbukitan dan pegunungan), hutan dan
sungai dengan atraksi utama berupa kawah, mata air pegunungan, telaga dan
sungai. TWA Kawah Kamojang adalah salah satu dari tempat tujuan wisata alam
yang cukup dikenal dikalangan pengunjung nusantara maupun mancanegara.
TWA Kawah Kamojang memiliki keindahan alam, udara yang sejuk dan
nyaman, serta potensi flora dan fauna yang memiliki daya tarik tersendiri. Selain
itu, terdapat komplek kawah sebanyak +21 kawah yang masih aktif mengeluarkan
panas bumi dan dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik, serta terdapat
sumber air panas yang merupakan obyek menarik bagi para pengunjung. Kawahkawah tersebut diantaranya adalah kawah Stik Gas (mengeluarkan gas dari lubang
tanah), kawah Leutak (kondisinya seperti rawa), kawah Kereta Api (mengeluarkan
gas seperti suara kereta api), kawah Sakarat, kawah Manuk, kawah Berecek,
kawah Sorekat, kawah Pojok, kawah Hujan, kawah Racun, kawah Cibuliran,
kawah Pecut, kawah Jinah, kawah Cikahuripan, kawah Nirwana, kawah Bereum,
kawah Kamojang dan kawah lainnya.

117

TWA Kawah Kamojang memiliki obyek dan daya tarik yang dapat
digunakan untuk berbagai kegiatan rekreasi dan wisata, yaitu meliputi terapi uap
dan berendam air panas, menikmati keindahan panorama alam, berkemah, wisata
pendidikan/ilmiah (pengamatan flora, fauna dan gejala alam), kegiatan fotografi,
outbond, lintas alam dan mendaki gunung. Terapi uap dan air panas merupakan
salah satu kegiatan yang paling sering dilakukan oleh para pengunjung yang
berkunjung. Adapun jenis terapi uap dan air panas yang terdapat di TWA Kawah
Kamojang diantaranya adalah:
Terapi berendam menggunakan air panas untuk penyembuhan penyakit kulit;
Terapi pijat menggunakan gelembung dan semburan air panas;
Terapi uap menggunakan semburan uap air panas yang keluar dari celah
bebatuan;
Luluran menggunakan lumpur disekitar kawah.
Selain itu, beberapa diantara kawah-kawah tersebut dimanfaatkan sebagai
Pembangkit ListrikTenaga Panas Bumi (PLTP) yang dikelola oleh PT Pertamina
Area Geothermal Kamojang. Aktivitas pekerja, pipa gas dan bentuk pabrik juga
menjadi salah satu daya tarik wisata yang dapat dinikmati di TWA tersebut.
3.7 Aksesibilitas
TWA Kawah Kamojang dapat ditempuh dari arah Kota Bandung dan Kabupaten
Garut dengan rute sebagai berikut:
Bandung - Dayeuh Kolot Ciparay Majalaya Paseh Ibun TWA
Kawah Kamojang dengan jarak tempuh 43 km dan waktu tempuh 2,5
jam, serta kondisi jalan beraspal;
Bandung - Tarogong - Garut - Samarang - TWA Kawah Kamojang dengan jarak
tempuh 65 km dan waktu tempuh 3 jam, serta kondisi jalan beraspal.

Gambar 7 Peta Aksesibilitas menuju TWA Kawah Kamojang

4 METODE

4.1 Waktu dan Lokasi


Kegiatan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan selama 3 bulan (90 hari), dimulai
pada bulan Februari sampai dengan bulan Mei 2013. Lokasi kegiatan TA
dilaksanakan di Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Kamojang. Tata waktu
pelaksanaan TA dapat dilihat pada Tabel 13.
Tabel 5 Tata Waktu Pelaksanaan
Kegiatan

Nop
Des
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Penyusunan
X X X X X X X X
Proposal
StudiLiteratur
X X X X
Pengumpulan
X X X X X X X X X X
Data
Pengolahan,
Analisis
X X X X X
Sintesis Data
RevisiData
X X X X
Penyusunan
X X X X X X
Laporan

4.2 Alat dan Bahan


Alat dan bahan merupakan media yang digunakan untuk membantu dalam
dari kegiatan TA, dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 6 Alat dan Bahan yang Digunakan
Alat
Peta Lokasi
GPS
Compass
Kamera Digital
Stop Watch
Binokuler
Tape Recorder
Field Guide
Ozy Exporer
ArcView
Microsoft Excel
Photoshop CS3
Bahan
Kuisioner
Panduan Wawancara
Tallysheet
Jurnal Harian

Kegunaan
mengetahui situasi untuk orientasi lokasi
merekamposisikoordinat geografis obyek
mengetahui arah mata angin (utara, timur, selatan dan barat)
merekam gambar/ foto obyek
mengukur waktu tempuh menuju/ antar obyek yang dituju
memperbesar obyek yang jauh sehingga mudah diidentifikasi
merekam suara responden yang diwawancarai
panduan identifikasi fauna yang ditemukan di lapangan
memindahkan data posisi koordinat geografis obyek dari GPS ke komputer
mengolah dan analisis data posisi koordinat geografis obyek dan peta
mentabulasi dan perhitungan data hasil penyebaran kuisioner
mengolah gambar/foto obyek dan merancang desain promosi
Kegunaan
memandu wawancara dengan responden (pengunjung dan masyarakat
setempat) secara tidak langsung dengan mengisi pilihan yang telah
ditentukan
memandu wawancara dengan responden (pengelola dan masyarakat
setempat) secara langsung sehingga menjadi lebih jelas dan terarah
mencatat dan mentabulasi data hasil observasi di lapangan
mencatat kegiatan harian dan mingguan selama TA

119

4.3 Tahapan Kegiatan


Tahapan kegiatan TA terdiri dari 6 langkah, yaitu tahap persiapan,
inventarisasi dan identifikasi, analisis, sintesis, rancangan dan pengembangan,
seperti pada Gambar 8.
Tahapan
I. PERSIAPAN

II.

INVENTARISASI
IDENTIFIKASI

Kegiatan
Studi Literatur

Hasil
Proposal Penelitian

Studi Literatur
Observasi
Wawancara/Kuisioner

Data sumberdaya wisata


Data pengunjung
Data masyarakat
Data pengelolaan wisata

Deskriptif Kualitatif
Deskriptif Kuantitatif

Tabel dan kategori skor

Mencari hubungan
antar variabel esensial

Tema, tata ruang


dan jalur kegiatan wisata

Penentuan opsi-opsi
rancangan kegiatan
wisata

Rancangan kegiatan
wisata
yang akan
dikembangkan

Rancangan kegiatan
wisata
menjadi program
ekowisata

Program Ekowisata
beserta Desain Promosi

III.

ANALISIS

IV.

SINTESIS

V.

RANCANGAN

VI.

PENGEMBANGAN

Gambar 8 Tahapan Kegiatan Tugas Akhir


4.4 Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan 3 cara, yaitu studi literatur, wawancara
dan observasi.
4.4.1 Studi Literatur
Studi literatur adalah kegiatan pengumpulan data dengan melakukan
penelaahan berbagai pustaka, baik berupa laporan, jurnal, buku maupun dokumen
lainnya, sebagai bahan referensi. Kegiatan ini juga dilakukan untuk mengetahui
informasi awal terkait data yang akan dikumpulkan di lapangan.
4.4.2 Wawancara
Wawancara adalah kegiatan pengumpulan data yang dilakukan dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada narasumber atau responden. Kegiatan
ini dilakukan dengan 2 metode, yaitu metode wawancara secara langsung dan
tidak langsung(Stewart L, Tubbs dan Moss S, 2000: 40).

1. Wawancara Langsung, merupakan kegiatan wawancarayang dilakukan


dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan menggunakan panduan
wawancara kepada narasumber, yaitu pengelola dan masyarakat setempat.
2. Wawancara Tidak Langsung, merupakan kegiatan wawancara yang
dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan menggunakan
kuisioner yang harus diisi oleh responden, yaitu pengunjung.
Pengumpulan data menggunakan kuisioner dilakukan dengan cara, sebagai
berikut:
Jumlah responden yang diambil sebanyak 30 orang yang dianggap telah
mewakili populasi yang ada. Cara ini dilakukan karena tidak diketahuinya
jumlah pengunjung yang datang pada setiap tahun atau periode (Machfoedz
etal, 2004);
Penyebaran kuisioner dilakukan dengan menggunakan teknikpengambilan
contoh secara acak (random sampling), yaitu memilih responden secara
acak dengan menggunakan koin. Jika koin yang keluar bergambar kepala
maka pengunjung tersebut akan menjadi responden, sedangkan jika koin
yang keluar bergambar buntut maka pengunjung tersebut tidak menjadi
responden (Notoatmodjo, 2005);
Jenis pertanyaan dalam kuisioner adalah pertanyaan tertutup (close ended),
yaitu pertanyaan-pertanyaan secara tertulis dimana terdapat pilihan jawaban
pada setiap pertanyaan tersebut sehingga responden hanya memilih jawaban
yang tersedia (Sugiyono, 2008: 91).
4.4.3 Observasi
Observasi adalah kegiatan pengumpulan data dengan melakukan
pengamatan secara langsung untuk mengetahui keberadaan lokasi dan kondisi
potensi sumberdaya wisata yang ada di lapangan. Kegiatan ini dilakukan dengan
tiga metode, yaitu metode jelajah, arah pandang dan perhitungan waktu.
1. Jelajah, merupakan kegiatan observasi dengan melakukan penjelajahan
terhadap setiap potensi sumberdaya wisata yang ada. Potensi sumberdaya
wisata yang diamati diperoleh dari hasil studi literatur dan wawancara
langsung dengan pengelola dan masyarakat setempat. Data yang
dikumpulkan dan dicatat ke dalam tallysheet berupa posisi koordinat
geografis, gambar/foto, kondisi fisik dan di sekitar potensi sumberdayawisata,
serta jalur, jarak dan waktu tempuh menuju potensi sumberdaya wisata
(Sulistiyono N, 2007).
2. Arah Pandang, merupakan kegiatan observasi dengan melakukan
pengamatan keberadaan potensi sumberdaya wisata di titik-titik lokasi
pengamatan yang telah ditentukan dengan arah pandang selebar radius 200
m ke arah utara, timur, selatan dan barat dalam durasi waktu tertentu (setiap
1 jam). Data yang dikumpulkan dan dicatat ke dalam tallysheet berupa
posisi koordinat geografis titik-titik lokasi pengamatan, gambar/foto potensi
sumberdaya wisata yang terlihat dan kondisi di sekitar titik-titik lokasi
pengamatan (Nazir M, 1988).

121

3. Perhitungan Waktu, merupakan kegiatan observasi dengan melakukan


pengukuran waktu tempuh menuju atau antar potensi sumberdaya wisata
atau titik lokasi pengamatan. Data yang dikumpulkan dan dicatat ke dalam
tallysheet berupa jalur, jarak dan waktu tempuh menuju atau antar potensi
sumberdaya wisata atau titik lokasi pengamatan (Nazir M, 1988).
arah pandang 200 m

jalur, jarak, waktu tempuh

titik pengamatan

Gambar 9 Titik-titik Lokasi Pengamatan


4.5 Datayang Dikumpulkan
Data yang dikumpulkandalam kegiatan TA, meliputi data potensi
sumberdaya wisata, pengunjung, masyarakat dan pengelolaan.
4.5.1 Pengelolaan Wisata
Data rencana pengelolaan yang dikumpulkan, meliputi tujuan pengelolaan
kawasan, kegiatan wisata yang ada dan fasilitas pendukung yang tersedia saat ini,
permasalahan yang dihadapi dan solusi yang dilakukan, persepsi dan harapan
terhadap rancangan kegiatan wisata, serta rencana pengembangan kegiatan wisata.
Data yang dikumpulkan, serta sumber data dan metode pengumpulan data yang
digunakan dalam kegiatan TA dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 7 Data yang Dikumpulkan
Data
Obyek
Wisata

Pengelolaan

Masyarakat

Pengunjung

Isi Data
Kondisi fisik kawasan alami/buatan
- visual bentang dan gejala alam
- bentuk dan penyebaran situs sejarah dan budaya
Keanekaragaman flora
- vegetasi, jenis, penyebaran
Keanekaragaman fauna
- jenis, habitat, penyebaran
Tujuan pengelolaan kawasan
Kegiatan wisata dan fasilitas pendukung yang tersedia
Persepsi dan harapan dari rancangan kegiatan wisata
Rencana pengembangan kegiatan wisata
Karakteristik dan pola kehidupan masyarakat setempat
Persepsi masyarakat setempat dari kegiatan wisata
Keterlibatan dan kesiapan masyarakat setempat
terhadapkegiatan wisata
Karakteristik pengunjung
Motivasi pengunjung melakukan kegiatan
dilokasi wisata
Persepsi pengunjung terhadap kegiatan
dan sumberdaya wisata
Preferensi pengunjung terhadap kegiatan
dan sumberdaya wisata

Sumber
Pengelola
Masyarakat
Responden
Lapangan

Metode
Studi
literatur
Kuisioner
Observasi

Pengelola
Lapangan

Studi
literatur
Wawancara
Observasi
Studi
literatur
Wawancara
Observasi
Studi
literatur
Kuisioner

Pengelola
Masyarakat

Pengelola
Responden

1. Obyek Wisata
Data terkait obyek wisata yang dikumpulkan, meliputi obyek alam, sejarah
dan budaya, sebagai berikut:
Obyekalam, berupa bentang dan gejala alam. Data terkait bentang alam dan
gejala alam, meliputi jenis, nama dan daya tarik obyek, lokasidankondisi
obyek, peran obyek bagi lingkungan dan masyarakat, serta keterangan lain,
seperti ketinggian, warna, arah dan waktu;
Obyeksejarah dan budaya, berupa sistem religi dan kepercayaan, sistem
kemasyarakatan dan organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi,
sistem mata-pencaharian atau ekonomi, sistem pengetahuan, serta bahasa
dan kesenian, kuliner khas, serta situs-situs sejarah dan budaya, sebagai
berikut:
a. Data terkait sistem religi dan kepercayaan masyarakat, meliputi jenis
agama, komunitas agama, lokasi dan daya tarik;
b. Data terkait sistem kemasyarakatan dan organisasi sosial masyarakat,
meliputi usia, jenis kelamin dan nama perkumpulan;
c. Data terkait sistem peralatan hidup dan teknologi masyarakat, meliputi
jenis alat, bahan alat dan fungsi;
d. Data terkait sistem mata-pencaharian hidup atau ekonomi masyarakat,
meliputi waktu, lokasi, alat yang digunakan dan pendapatan;
e. Data terkait sistem pengetahuan masyarakat, meliputi jenis pengetahuan
yang telah dipahami, usia atau lama pengetahuan tersebut diturunkan dan
lokasi;
f. Data terkait bahasa masyarakat, meliputi jenis bahasa, intonasi dan jenis
kosa kata;
g. Data terkait kesenian masyarakat, meliputi jenis kesenian, waktu, lokasi
dan jenis alat yang digunakan;
h. Data terkait kuliner khas masyarakat, meliputi jenis makanan khas yang
disajikan, bahan-bahandan cara pembuatannya, serta asal lokasi makanan
khas tersebut;
i. Data terkait situs-situs sejarah dan budaya masyarakat, meliputi jenis dan
nama situs, lokasi dan kondisi situs, peran situs bagi lingkungan dan
masyarakat.
2. Pengelola
Data terkait pengelola yang dikumpulkan, meliputi persepsi, kesiapan dan
harapan pengelola dalam pengembangan kegiatan wisata, sebagai berikut:
Persepsi pengelola merupakan penilaian pengelola terhadap daya tarik
potensi sumberdaya dan kegiatan wisata yang dapat dikembangkan, serta
fasilitas pendukung dan pelayanan yang perlu disediakan;
Kesiapan pengelola merupakan penilaian terhadap tingkat kesiapan
pengelola dalam pengelolaan wisata, dilihat dari keberadaan kegiatan wisata,
ketersediaan fasilitas pendukung dan pelayanan, keamanan dan keselamatan
pengunjung, permasalahan yang dihadapi dan solusi yang dilakukan, serta
rencana strategis ke depan;
Harapanpengelola merupakan keinginan pengelola terhadap rancangan
kegiatan wisata yang akan dikembangkan.

123

3. Masyarakat
Data terkait masyarakat yang dikumpulkan, meliputi karakteristikdanpola
kehidupan, serta persepsi, keterlibatan dan kesiapan masyarakat setempat terhadap
keberadaan kegiatan wisata, sebagai berikut:
Karakteristik dan pola kehidupan masyarakat merupakan gambaran umum
mengenai masyarakat setempat, yaitu dilihat dari jenis kelamin, kelas umur,
tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, tingkat pendapatan, status danasal
daerah, serta kondisi ekonomi, sosial dan budaya;
Persepsi masyarakat merupakan penilaian atau tingkat kepuasan masyarakat
setempat terhadap manfaat dan aktifitas yang dapat dilakukan, serta dampak
dari keberadaan kegiatan wisata;
Keterlibatan dan kesiapan masyarakat merupakan penilaian atau tingkat
keterlibatan dan kesiapan masyarakat setempat, serta dampak secara
ekonomi, sosial dan budaya yang ditimbulkan dari keberadaan kegiatan
wisata.
4. Pengunjung
Data terkait pengunjung yang dikumpulkan, meliputi karakteristik, motivasi,
persepsi dan preferensi pengunjung terhadap potensi sumberdaya dan kegiatan
wisata, sebagai berikut:
Karakteristik pengunjung merupakan gambaran umum mengenai
pengunjung yang melakukan kegiatan di lokasi wisata, yaitu dilihat dari
jenis kelamin, kelas umur, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, tingkat
pendapatan, status dan asal daerah;
Motivasi pengunjung merupakan alasan pengunjung untuk melakukan
kegiatan di lokasi wisata, yaitu dilihat dari tujuan, jenis, aktivitas, tempat,
waktu dan jumlah kunjungan, serta sumber informasi dan alasan
ketertarikan;
Persepsi pengunjung merupakan penilaian atau tingkat kepuasan
pengunjung terhadap potensi sumberdaya dan kegiatan wisata, serta fasilitas
dan pelayanan yang tersedia;
Preferensi pengunjung merupakan kecenderungan dari kesukaan atau
pilihan pengunjung terhadap daya tarik potensi sumberdaya dan kegiatan
wisata yang diinginkan.
4.6 Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan 2 cara, yaitu secara deskriptif kualitatif dan
kuantitatif.
4.6.1 Deskriptif Kualitatif
Analisis deskriptif kualitatif dilakukan dengan cara menjelaskan data yang
diperoleh dari hasil observasi dan wawancara sebagaimana adanya pada kondisi
aktual tanpa membuat kesimpulan. Data tersebut dikelompokkan sesuai dengan
kriteria dari masing-masing variabel essensial yang diamati. Hasil analisis
tersebut disajikan dalam bentuk tabel atau grafik,sehingga informasi yang akan
disampaikan menjadi lebih mudah untuk dipahami.

4.6.2 Deskriptif Kuantitatif


Analisis deskriptif kuantitatif dilakukan dengan cara menginterpretasikan
data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara berdasarkan kriteria dan
nilai skor. Data tersebut dikelompokkan sesuai dengan kategori skor yang
ditentukan berdasarkan standar yang terdapat pada masing-masing indikator
variabel essensial yang diamati sesuai Skala Likert, yaitu 1=rendah, 2=sedang
dan 3=tinggi. Hasil analisis tersebut disajikan dalam bentuk tabel atau
grafik,sehingga informasi yang disampaikan menjadi lebih mudah untuk
dipahami.
Analisis data potensi sumberdaya wisata dilihat berdasarkan penilaian
indikator keunikan, kelangkaan, keindahan, seasonalitas, sensitivitas, fungsi sosial
dan aksesibilitas (Avenzora R, 2008). Analisis data pengunjung dilihat
berdasarkan penilaian indikator karakteritik, motivasi, persepsi dan preferensi
pengunjung. Analisis data masyarakat dilihat berdasarkan penilaian indikator
karakteristik dan pola kehidupan, persepsi, serta keterlibatan dan kesiapan
masyarakat setempat. Analisis data rencana pengelolaan dilihat berdasarkan
penilaian indikator tujuan pengelolaan kawasan, kegiatan wisata yang ada dan
fasilitas pendukung yang tersedia, permasalahan yang dihadapi dan solusi yang
dilakukan, serta persepsi dan harapan terhadap rancangan dan rencana
pengembangan kegiatan wisata.
4.7 Sintesis Data
Sintesis data merupakan kegiatan mencari hubungan antar variabel
essensial yang dianalisis untuk menentukan opsi-opsi rancangan pengembangan
kegiatan ekowisata. Arahan program ekowisata disesuaikan berdasarkan hasil
analisis dari masing-masing variabel essensial yang diamati, sehingga dapat
dipilih alternatif program ekowisata yang akan dikembangkan.
4.8 Metode Pembuatan Output Media Promosi
Output yang dihasilkan dari pengembangan ekowisata alam di TWA
Kawah Kamojang yaitu berupa booklet. Rancangan output ini dilakukan pada
aplikasi program AdobePhotoshop CS3. Rancangan desain yang akan dibuat
meliputi:
1. Ukuran
Booklet program ekowisata alam ini berukuran 15x42 cm dengan bentuk
persegi panjang. Ketebalan booklet adalah 10-15 halaman (jumlah halaman bisa
berubah sesuai dengan data yang diperoleh).
2. Tulisan
Jenis tulisan yang digunakan adalah jenis-jenis dapat disesuaikan dalam
gaya penulisan formal dan non-formal. Tulisan juga menyesuaikan pada latar
yang digunakan pada booklet tersebut.

125

3. Warna
Warna yang digunakan dalam desain booklet ini didominasi warna-warna
tenang yang mencerminkan kondisi alam TWA Kawah Kamojang.Selain itu,
digunakan warna-warna terang sebagai penyimbang kombinasi.
4. Foto dan Gambar
Foto dan gambar hasil observasi dicantumkan dalam booklet baik asli
ataupun hasil modifikasi Adobe Photoshop. Fungsi dan ukuran foto akan
disesuaikan dengan kebutuhan.
5. Isi dan Materi
Isi booklet berupa cover depan, cover penutup, aksesibilitas, gambar satu
obyek yang khas, potensi wisata, program ekowisata alam dan informasi di TWA
Kawah Kamojang.
6. Elemen Pendukung Lainnya
Elemen pendukung didapatkan dari aplikasi yang ada. Bentuk elemen
tersebut dapat berupa ilustrasi gambar bermakna, hubungan tanda dan simbol.
Penataan elemen-elemen grafik ini dapat membuat perbedaan terhadap dampak
multimedia maupun biayanya sehingga desain dapat terlihat lebih menarik.

5 HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Potensi Sumberdaya Wisata


5.1.1 Letak dan Sebaran
Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Kamojang memiliki potensi
sumberdaya wisata yang tersebar diseluruh kawasan TWA. Namun area yang
diperuntukkan untuk kegiatan wisata dan ruang gerak pengunjung hanya di sekitar
zona wisata seluas 20 ha. Potensi sumberdaya wisata yang berada di area zona
wisata adalah gejala alam berupa kawah dan sumber air panas, bentang alam
berupa hutan dan panorama alam, serta keanekaragaman flora dan fauna beserta
beberapa fasilitas pendukungnya yang masih terbatas.

(a)

(b)

Gambar 10 (a) Sunrise, (b) Pemandangan Alam dari TWA Kawah Kamojang
Adapun letak dan sebaran sumberdaya wisata tersebut dapat dilihat pada
Gambar 10.

Gambar 11 Sebaran Potensi Sumberdaya Wisata


(Sumber Data Primer 2013)

127

5.1.2 Sumberdaya Wisata Alam


TWA Kawah Kamojang memiliki banyak obyek wisata alam, yaitu berupa
keanekaragaman fauna dan flora, tumbuhan obat, serta gejala alam.
A. Keanekaragaman Fauna
a. Mamalia
Beberapa jenis mamalia yang terlihat secara langsung ataupun jejak dan
kotorannya, yaitu surili (Presbytis comata), musang (Paradoxurus hermaproditus)
dan tupai (Tupaia javanica). Primata jenis surili (Presbytis comata) banyak
dijumpai di atas pohon jalur pintu masuk TWA Kawah Kamojang terutama pada
sore hari pada pohon-pohon sekitar gapura masuk TWA Kawah Kamojang dan
sepanjang jalur dari gerbang sampai sebelum pertigaan menuju Sumur KMJ-7.
Populasi surili (Presbytis comata) di lokasi tersebut masih cukup banyak
didukung oleh kondisi habitatnya dengan vegetasi yang masih rapat, ketersediaan
bahan makanan serta minimalnya gangguan dari luar.
Bajing sering ditemukan di pepohonan sepanjang jalur pengamatan. Bajingbajing tersebut sering terlihat sedang beraktivitas di dahan-dahan dan ranting
pohon sambil mencari makan dari buah-buahan, pucuk daun dan berbagai
serangga yang ditemui pada lokasi pengamatan. Mamalia lain yang sering
ditemukan selain bajing adalah tupai, tupai banyak terdapat diarea sepanjang jalur
pengamatan, satwa ini sering terlihat sedang berada di pepohonan. Aktivitas yang
dilakukan tupai-tupai tersebut adalah mencari makanan seperti serangga, bijibijian, dan buah-buah dari berbagai macam pohon. Satwa ini merupakan satwa
yang relatif aktif pada siang hari terutama pada pagi hari dan sore hari sehingga
mudah dijumpai saat melakukan pengamatan. Data pengamatan menunjukan
bahwa sebagian besar satwa mamalia yang banyak terdapat di TWA Kawah
Kamojang ini lebih banyak ditemui pada pagi hari. Aktivitas yang sering
dilakukan adalah mencari makan diantara pepohonan dan ranting-ranting.
Tabel 8 Jenis-jenis Mamalia di TWA Kawah Kamojang
1.

Nama
Lokal
Kucing hutan

2.

Jelarang

3.

Bajing

4.

Bajingtanah

5.

Tupai

6.

Babi hutan

7.

Musang

No

Nama
Ilmiah
Felis
bengalensis
Ratufa
bicolor
Dremomys
everetti
Lariscus
insignis
Tupaia
javanica
Sus scrofa

Paradoxurus
hermaphroditus
8. Kalong
Pteropus
vampyrus
Sumber Data Primer 2013

Famili

IUCN

PP-RI

CITES

Felidae

Vulnerable

No. 8/1999

Appendix 2

Scuiridae

Siudae

Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern
Vulnerable

Appendix 3

Viveridae

Vulnerable

No.
13/1994
No. 8/1999
No. 7/1999

Scuiridae
Scuiridae
Scuiridae

Least
Concern

b. Burung
Salah satu potensi fauna yang dapat dikembangkan untuk kegiatan wisata di
TWA Kawah Kamojang adalah keanekaragaman jenis burung. Jenis burung yang
dominan adalah jenis tekukur biasa (Streptopelia chinensis), kacamata biasa
(Zosterops palpebrosus), walet gunung (Collocalia vulcanorum), walet sapi
(Collocalia esculenta) dan kutilang (Pycnonotus aurigaster). Burung burung
tersebut banyak muncul pada pagi dan sore hari di pohon-pohon sepanjang jalur
wisata. Untuk jenis tekukur biasa (Streptopelia chinensis) lebih banyak terlihat di
tanah sehingga dengan mudah untuk melihatnya.
Tabel 9 Jenis-jenis Burung di TWA Kawah Kamojang
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

12.

Nama
Lokal
Elang
hitam
Alap-alap
asia
Raja
udang biru
Cekakak
jawa
Walet
gunung
Kapinis
rumah
Sepah
hutan
Tekukur
biasa
Srigunting
hitam
Sikatan
bodoh
Burung
madu
gunung
Kutilang

Nama
Ilmiah
Ictinaetus
malayensis
Falco
mollucensis
Alcedo
coerulescens
Halcyon
cyanoventris
Collocalia
vulcanorum
Apus affinis

Famili

IUCN

PP-RI

CITES

Accipitidae

Endangered

No. 8/1999

Appendix 1

Accipitidae

Near
Threatened
Least
Concern
Least
Concern
Near
Threatened
Least
Concern
Vulnerable

No. 7/1999

No. 7/1999

No. 8/1999

No. 7/1999

Least
Concern
Vulnerable

No. 8/1999

Appendix 3

Near
Threatened
Near
Threatened

No. 7/1999

Least
Concern
Least
Concern
Vulnerable

Least
Concern

Alcedinidae
Alcedinidae
Apodidae
Apopidae

Pericrocotus

Campephagidae

Streptopelia
chinensis
Dicrurus
macrocerus
Ficedula
hyperythia
Aethophyga
eximia

Columbidae

Pycnonotus
aurigaster
13. Cinenen
Orthothomus
jawa
sepium
14. Anis
Zoothera
merah
citrina
15. Kacamata Zosterops
biasa
palpebrosus
Sumber Data Primer 2013

Dicruridae
Muscicapidae
Nectariniidae

Pycnonotidae
Sylviidae
Timaliidae
Zosteropidae

Berdasarkan hasil pengamatan burung yang dilakukan maka diketahui


bahwa burung yang paling sering ditemui adalah jenis kacamata biasa (Zosterops
palpebrosus). Burung jenis ini banyak dijumpai saat sedang terbang dan hinggap
di ranting pohon. Jenis burung lainnya yang juga banyak dijumpai adalah burung
sepah hutan (Pericrocrotus) dan tekukur (streptopelia chinensis). Burung jenis ini
banyak ditemukan bergerak diantara ranting dan puncak-puncak pohon.

129

Gambar 12 Burung Sepah Gunung


(Sumber: Dokumentasi Pengelola 2010)

c. Reptil
Reptil merupakan satwa nocturnal, sehingga pengamatan reptil dilakukan
pada malam hari. Reptil merupakan satwa vertebrata yang berdarah dingin dan
memiliki sisik yang menutupi tubuhnya. Jenis reptil yang ditemukan saat
pengamatan herpetofauna yang dilakukan di TWA Kawah Kamojang cukup
beragam, diantaranya adalah ular dan kadal.
Tabel 10 Jenis-jenis Reptil di TWA Kawah Kamojang
Nama
Ilmiah
1.
Phyton
molurus
2.
Draco
volans
3. Kadal
Mabouya
multifasciata
Sumber Data Primer 2013
No

Nama
Lokal
Ular sanca
bodo
Haphap

Famili

IUCN

PP-RI

CITES

Boidae

Vulnerable

No. 8/1999

Appendix 3

Scincidae

Least
Concern
Least
Concern

Scincidae

Hasil pengamatan reptil, didapatkan beberapa reptil seperti, ular, hap-hap


dan kadal, reptil-reptil tersebut sangat susah di temukan di karenakan bentuk
mereka yang sangat sulit di temukan apabila tidak dengan pengamatan secara
khusus. Satwa-satwa ini ditemukan di rumput dan di pohon-pohon dengan
aktifitas sedang diam. Lingkungan seputar TWA Kawah Kamojang ini memang
cocok untuk reptil-reptil yang telah di sebutkan di atas untuk berkembang biak,
selain lingkungan dan suhu yang mendukung, juga faktor makanan reptil yang
banyak di temukan seperti katak dan serangga.
d. Amfibi
Pengamatan amfibi dilakukan pada malam hari, hal ini dilakukan karena
satwa jenis amfibi banyak ditemukan pada malam hari. Amfibi merupakan satwa
dengan kelembaban kulit yang tinggi, tidak tertutupi oleh rambut dan mampu
hidup di air maupun di darat. Amfibi diartikan sebagai satwa yang mempunyai
dua bentuk kehidupan yaitu di darat dan di air. Pada umumnya, amfibi
mempunyai siklus hidup awal di perairan dan siklus hidup kedua adalah di
daratan. Kegiatan pengamatan amfibi dilakukan yang di TWA Kawah Kamojang
menemukan beberapa jenis amfibi, amfibi yang paling dominan yang ditemukan
saat pengamatan adalah kokang gading.

Tabel 11 Jenis-jenis Amfibi di TWA Kawah Kamojang


Nama
Nama
No
Lokal
Ilmiah
1. Kongkang Ranaerythraea
gading
2. Bancet
Occidozyga
hijau/bele
lima
ntuk
3. Katak
Megophrys
bertanduk Montana
4. Kodok
Bufomelanosti
buduk
cus
Sumber Data Primer 2013

Famili

IUCN

PP-RI

CITES

Ranidae

No. 7/1999

Ranidae

Least
Concern
Vulnerable

No. 8/1999

Appendix 3

Megophryidae

Vulnerable

No. 8/1999

Appendix 2

Bufonidae

Least
Concern

Iklim dan suhu di TWA Kawah Kamojang yang sesuai bagi katak-katak dan
satwa amfibi lainnya ini membuat populasi amfibi cukup banyak dan bervariatif.
Jenis-jenis katak yang memiliki status endemik pun masih sangat sering
ditemukan di kawasan ini, kebanyakan amfibi yang ditemukan ialah jenis katak
Rana erythtaea, kebanyakan dari katak tersebut ditemukan di seputar sumber air
dan sedang melakukan aktifitasnya seperti kawin dan berenang.
B. Keanekaragaman Flora
Pepohonan yang berjajar membentuk panorama alam dan tumbuhan bawah
menjadi dominasi yang terlihat jelas dan memuaskan pandangan pengunjung.
Tumbuhan tingkat tinggi seperti puspa (Schima wallichi), kihujan (Engelhardtia
spicata), mara (Macaranga tanarius), kitebe (Sloanea sigun), kibeureum
(Viburnum sambucinum) dan tumbuhan bawah seperti saliara (Lantana camara)
dan teklan (Eupathorium riparium).

(a)

(b)

Gambar 13 (a) Pohon Akasia, (b) Pohon Ki Besi,

131

a. Pohon
Pada umumnya pohon memiliki batang dan cabang yang berkayu, yang
dapat menegakan pohon. Pohon memiliki akar dikotil, yaitu akar tunggal yang
berkayu. Kriteria pohon dewasa, yaitu memiliki tinggi 7 meter dan memiliki
diameter minimal 20 cm, berikut adalah contoh pohon yang terdapat di TWA
Kawah Kamojang (Tabel 13).
Tabel 12 Jenis-jenis Pohon yang Tumbuh di TWA Kawah Kamojang
1.

Nama
Lokal
Cerem

2.

Kibereum

3.

Beleketebe

4.

Talingkup

5.

Mara

6.

Hiur

7.

Saninten

8.

Pasang

9.

Rasamala

10.

Kihujan

11.

Kihuru

12.

Manglid

13.

Hamerang

14.

Kibeunying

15.

Kiara

16.

Kiwalen

17.

Kitambaga

No

Nama
Ilmiah
Macropanax
disperum
Vibranum
sambucinum
Slonea
sigun
Claoxylon
polot
Macaranga
tanarius
Castanopsis
acuminata
Castonopsis
argentea
Quercus
javanica
Altingia
excelsa
Engelhardtia
spicata
Litsea sp.
Magnolia
velutina
Ficus
toxicaria
Ficus
fistulosa
Ficus
glabela
Ficus ribes

Eugenia
cumini
18. Cangkuang Pandanus
furcatus
19. Kihantap
Sterculia
anjing
fortida
20. Puspa
Schima
wallichi
21. Kuray
Trema
orientale
22. Pulus
Laportea
stimulans
Sumber Data Primer 2013

Famili

IUCN

PP-RI

CITES

Arliaceae

Elaeocarpaceae

Vulnerable

Euphorbiaceae

Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern
Vulnerable

No.
7/1999
No.
7/1999
No.
7/1999
No.
7/1999
No.
7/1999
-

Caprifoliaceae

Least
Concern
Vulnerable

No.
7/1999
-

Appendix3

No.
7/1999
-

Appendix3

No.
7/1999
-

No.
7/1999
-

No.
7/1999
No.
7/1999
-

Appendix3

No.
7/1999
-

No.
7/1999

Euphorbiaceae
Fagaceae
Fagaceae
Fagaceae
Hammamelidaceae

Juglandaceae
Lauraceae
Magnoliaceae
Moraceae
Moraceae
Moraceae
Moraceae
Myrtaceae
Pandanaceae
Sterculiaceae
Theaceae
Ulmaceae
Urticaeae

Least
Concern
Vulnerable
Least
Concern
Vulnerable
Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern
Vulnerable
Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern

Appendix3
Appendix3
-

Appendix3
-

b. Tumbuhan Bawah
Populasi tumbuhan bawah di TWA Kawah Kamojang cukup beragam,
beberapa jenis tumbuhan tersebut menjadi populasi mayoritas di TWA Kawah
Kamojang, berikut adalah contoh dari beberapa jenis tumbuhan bawah di TWA
Kawah Kamojang.
Tabel 13 Jenis-Jenis Tumbuhan Bawah di TWA Kawah Kamojang
Nama
Ilmiah
1.
Nicolaia
solaris
2. Tepus
Achasma
megalocheilos
3. Saliara
Lantana
camara
4. Antanan
Centella
asiatica
5. Seureuh
Piper
hutan
aduncum
6. Alangalang
Imperata
cylindrica
7. Teki
Cyperus
rotundus
8. Kirinyuh
Chromolaena
odorata
9. Teklan
Eupathorium
riparium
10. Sintrong
Gynura
crepieoides
11. Babadotan
Ageratum
conyzoides
12. Paku andam Glichenia
linearis
13. Tapak dara
Catharanthus
roseus
Sumber Data Primer 2013
No

Nama
Lokal
Honje

Famili

IUCN

PP-RI

CITES

Zingiberaceae

Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern
Least
Concern

No. 7/1999

Appendix 3

No. 7/1999

Zingiberaceae
Verbenaceae
Umbellirae
Piperaceae
Graminae
Cyperaceae
Asteraceae
Asteraceae
Asteraceae
Asteraceae
Araliaceae
Apocynaceae

c. Epifit
Tumbuhan ini menumpang pada batang pohon sebagai tempat hidupnya.
Epifit tidak mengambil sari-sari makanan yang ditumpanginya, sebaran epifit di
TWA Kawah Kamojang terlihat cukup banyak, namun yang teridentifikasi hanya
ada 2 jenis epifit yang memang tumbuh dominan di TWA Kawah Kamojang.
Tabel 14 Jenis-Jenis Epifit di TWA Kawah Kamojang
Nama
Ilmiah
1.
Asplenium
nidus
2. Anggrek
Dendrobium
merpati
erumenatum
Sumber Data Primer 2013
No

Nama
Lokal
Kadaka

Famili

IUCN

PP RI

CITES

Polypodiceae

Least
Concern
Least
Concern

No. 7/1999

No. 7/1999

Orchidaceae

133

d. Liana
Pertumbuhan liana pada umumnya memerlukan tumbuhan lain agar dapat
hidup dan mendapatkan cahaya matahari. Hal ini membuat pertumbuhan liana di
TWA Kawah Kamojang tidak begitu banyak, dikarenakan didominasi oleh
kawasan hutan dengan kerapatan yang cukup tinggi.
Tabel 15 Jenis-jenis Liana di TWA Kawah Kamojang
No
1.

Nama
Lokal
Canar

Nama
Ilmiah
Smilax sp.

Famili

IUCN

PP-RI

CITES

Smilaceae

Least
Concern

No.
7/1999

Sumber Data Primer 2013

C. Tumbuhan Obat
Tumbuhan obat merupakan salah satu alternatif pengobatan yang banyak
dicari. Beberapa orang memprioritaskan pengobatan yang berasal dari herbal.
TWA Kawah Kamojang memiliki potensi tumbuhan obat yang cukup banyak,
sehingga dapat dimanfaatkan pengunjung untuk diketahui dan dipelajari. Jenisjenis tumbuhan obat di TWA Kawah Kamojang cukup bervariatif. Berikut adalah
jenis-jenis tumbuhan obat yang berada di TWA Kawah Kamojang (Tabel 17).
Tabel 16 Jenis-jenis Tumbuhan Obat di TWA Kawah Kamojang
No

Nama Lokal
(Nama Ilmiah)

Kelompok

Bagian yang
Digunakan

Fungsi
Pengobatan
-

demam/panas
sakit perut
pereda radang usus
mencret

panas dalam
luka bakar
penyubur rambut
panas perut
luka
memar
batuk
penawar racun
diare
dieureticum
mimisan
perut kembung
mencret
pemecah bisul
penguat kandungan
keputihan
pembersih kulit
kelumpuhan
jamu
sakit perut
obat batuk
pembersih darah
ginjal
kencing batu
luka bisul
obat luka

Babadotan
(Ageratum conyzoides)

Terna

- akar

Beunying
(Ficus fistulosa)
Bubuay
(Plectocomia elongate)
Cau kole/Pisang hutan
(Musa Zebrina)

pohon/perdu

- pucuk daun
- buah
- sari batang

Perdu

- buah
- getah

Cangkuang
(Harahas pandanus furcatus)

pohon/perdu

- tunas
- daun

Eurih
(Imperata sp. )
Hanjuang
(Cordyline fruticosa)
Hareureus
(Rubus moluccanus)

Semak

- akar

Perdu
liana

- akar
- pucuk daun
- seluruh bagian

Honje leuweung
(Nikolaiasp. )
Kahitutan
(Antishirsuta rubiaceae)
Kiurat
(Plantago mayor)

semak

- daun

Liana

- batang

terna

- akar
- batang
- daun

Kirinyuh
(Eupatorium palleseum)

Terna

- daun

3
4

7
8

9
10
11

12

Rotan

No

Nama Lokal
(Nama Ilmiah)

Kelompok

Bagian yang
Digunakan

Fungsi
Pengobatan

13

Seureuh leuweung

Terna

- daun

14

Nangsi
(Villebrunea rubescens)
Pakis munding
(Angioptreris evecta)
Poh pohan
(Pilea trinervia)
Salam leuweung
(Eugenia polyantha)
Paku anam
(Gleichenia linearis)
Sulibra
(Cinchona lubra)

Pohon

- getah batang

palempaleman
Terna

- tunas

terna

- diare

Liana

- daun
- kulit batang
- sari batang

Liana

- sari batang

- obat malaria

15
16
17
18
19

- daun

anti bau badan


sakit perut
lebam
susah buang air kecil
penyubur rambut
pemecah bisul
sakit perut

- obat batuk

Sumber Data Primer 2013

(a)

(d)

(b)

(e)

(c)

(f)

Gambar 14 (a) Salira, (b) Teklan,(c) Babadotan,(d) Atanan,


(e) Harendong, (f) Kirinyuh
D. Gejala Alam
a. Kawah
Sumberdaya alam yang menonjol di TWA Kawah Kamojang berupa gejala
alam dengan bentuk kawah. Kawah-kawah tersebut berjumlah 21 kawah, namun
beberapa kawah tersebut kini sudah tidak aktif dan tertutup oleh lapisan tanah.
Keunikan sumberdaya di TWA Kawah Kamojang berupa kawah-kawah yang
terpisah-pisah dimana nama-nama setiap kawah disesuaikan dengan karakteristik,
lokasi dan kejadian yang pernah terjadi pada kawah tersebut.
Variasi kenampakan manifestasi panas bumi di TWA Kawah Kamoajang
terdiri dari beberapa tipe, diantaranya berupa kawah (Kawah Berecek dan Kawah
Manuk), lumpur panas/ mudpool (Kawah Baru dan Kawah Nirwana), semburan
uap (Kawah Kereta Api, Kawah Stick Gas), bau gas belerang (Kawah Kamojang,
Kawah Kawah Saar), fumarol (Kawah Hujan) dan mata air panas (hotspring)
(Kawah Cibuliran).

135

Tabel 17 Kawah-Kawah di TWA Kawah Kamojang


No

1.

Nama Kawah

Deskripsi

Kawah Manuk

kawah terbesar di TWA


Kawah Kamojang;
jenis kawah biasa;
diambil dari kata sunda
manuk yang berarti burung,
karena sering terdengar
suara burung berkicau di
sekitar kawah

2.

Kawah Berecek

3.

Kawah Baru

4.

5.

6.

namakawah diambil dari


suara yang sering
ditimbulkan, suara air yang
keluar seperti bernada
berecek;
memiliki warna hijau,
namun berwarna gelap
apabila tertutup lumpur
diatasnya
kawah yang paling baru
muncul;
panas bumi berupa lumpur
panas muncul dengan
semburan-semburan lumpur
dan uap panas;
memiliki 2 kubangan
lumpur panas seperti air
mendidih

Kawah Kamojang

nama kawah diambil untuk


TWA Kawah Kamojang;
mitos adanya mojang (putri)
yang sering menampakan
diri disekitar kawah;
menyemburkan bau
belerang yang cukup
menyengat

Kawah Kereta Api

timbul akibat bekas pipa


pemboran gas pada zaman
kolonial belanda, pipa
tersebut menyemburkan uap
setinggi 15 m disertai suara
bising seperti uap kereta api
yang melengking

Kawah Stik Gas

mengeluarkan uap panas


dan berbau seperti gas dan
uap panas;
berdekatan dengan kawah
hujan;
dijadikan media mandi uap
oleh pengunjung untuk
terapi dan mandi uap

Dokumentasi

No

7.

8.

10

Nama Kawah

Deskripsi

Kawah Hujan

jenis kawah berupa fumarol


(semburan uap panas) yang
banyak dimanfaatkan
pengunjung untuk
melakukan mandi uap;
sering keluar percikan air
panas yang menyerupai
hujan

Kawah Saar

kubangan lumpur yang


bercampur dengan belerang
membentuk penampakan
seperti pasir putih di tengahtengah rimbunya pohon;
memiliki ukuran kurang
lebih 15x20 m dengan akses
berupa jalan setapak dari
kawah baru

Kawah Cibuliran

nama kawah diambil dari


kata Cibuliran yang berarti
air panas yang mengalir,
terdapat mata air panas yang
keluar dari dasar permukaan
tanah yang nampak seperti
air mendidih yang keluar
dari dalam bumi

Dokumentasi

Sumber Data Primer 2013

b. Sumber Mata Air Panas


Volume sumber mata air di TWA Kawah Kamojang cukup memenuhi
beberapa keperluan kegiatan wisata. Jarak lokasi sumber air ke pusat kegiatan
wisata berjarak >1 km. Air dapat dialirkan ke kamar mandi, WC, tempat wudhu
dan warung-warung dengan mudah melalui pipa. Air untuk keperluan minum
dialirkan dari Sungai Cikaro, sedangkan untuk mandi air panas, WC dan wudhu
dialirkan dari air Kawah Hujan.

Gambar 15 Sumber Mata Air Panas

137

5.1.3 Sumberdaya Wisata Non-Alam


A. Peninggalan Sejarah
TWA Kawah Kamojang pada jaman kolonial Belanda merupakan daerah
pertama yang dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), namun
penggalian untuk mendapatkan panas bumi yang dimaksud tak kunjung datang
sehingga di tinggalkan. Peninggalan-peninggalan bekas pemboran panas bumi
tersebut masih utuh dan terawat dengan baik di TWA Kawah Kamojang, bekas
peninggalan tersebut menjadi suatu peninggalan sejarah yang memiliki nilai-nilai
sejarah, pendidikan geothermal, dan mitos tersendiri yang menjadi salah satu
sumberdaya wisata non-alam yang berpotensi untuk dikembangkan dikawasan
TWA Kawah kamojang. Selain dari peninggalan bekas pemboran panas bumi, di
TWA Kawah Kamojang memiliki mitos, sejarah dan ceritra rakyat, salah satunya
adalah mengenai sejarah tempat perlindungan pejuang indonesia pada jaman
penjajahan, dan mitos tempatnya putri-putri kahyangan berkumpul.
B. Area Geothermal Kamojang
Kawasan TWA Kawah Kamojang diapit oleh dua perusahaan besar milik
negara yaitu PT Pertamina Area Geothermal Kamojang dan PT Indonesia Power,
kedua perusahaan tersebut merupakan perusahaan dibidang pemberdayaan
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Perusahaan tersebut telah
memiliki izin resmi baik dari pemerintah dan kehutanan RI untuk melakukan
kegiatan pemboran sumur uap di ruang lingkup TWA Kawah Kamojang.
Kerjasama terus dilakukan di kedua pihak sebagai dari bagian pengelolaan
bersama, kerjasama tersebut dapat berupa restorasi daerah hutan dan
pemberdayaan fasilitas kependudukan sekitar. Disepanjang jalur menuju pintu
gerbang kawasan TWA Kawah Kamojang akan ditemui kegiatan geothermal dari
beberapa sumur uap yang tepat berada di sisi jalan utama menuju kawasan.
Pengunjung yang datang menuju kawasan TWA Kawah Kamojang akan disuguhi
dengan keberadaan alat-alat dan perlengkapan geothermal. Alat-alat dan
perlengkapan tersebut berupa pipa-pipa baja besar pengantar uap yang terbentang
sepanjang jalan menuju kawasan, alat-alat pemboran dan penampungan uap yang
keluar dari sumur, limbah uap berupa asap tebal yang keluar dari pembuangan
raksasa milik perusahaan.

(a)

(b)

(c)

Gambar 16 (a) Menara Pembuangan, (b) Pipa-pipa Gas,


(c) Kondisi Pipa-pipa Gas di Jalanan

C. Areal Perkemahan
TWA Kawah Kamojang pada zaman pengelolaan oleh Perum Perhutani
Unit III Jawa Barat, memiliki areal perkemahan mandiri yang dikelola bersama
dengan Karang Taruna Kamojang. Areal perkemahan tersebut ditutup dan
difungsikan secara pasif setelah pengelolaan kembali ke BBKSDA Jawa Barat, ini
dimaksudkan untuk mengembalikan tata fungsi lahan dan perlindunganhutan.
Lahan kosong dan datar disekitar kawah dapat dimanfaatkan sebagai areal
perkemahan dengan skala kecil seperti Family camp dan per-regu. Pada saat
musim liburan banyak pengunjung dari kalangan sekolah dan kelompok tertentu
yang berkemah di TWA Kawah Kamojang ini hingga satu atau dua malam.
Area perkemahan di TWA Kawah Kamojang memiliki lokasi lahan untuk
berkemah yang cukup memadai, lahan tersebut memiliki kontur yang datar, dekat
dengan sumber air dan jauh dari binatang buas. Pengunjung yang akan berkemah
di TWA Kawah Kamojang dapat memilih lokasi berkemah yang sesuai dengan
keinginan masing-masing. Biasanya pengunjung memilih berkemah disekitar
parkir karena lebih dekat dengan fasilitas, seperti toilet, Musholla dan kantin.

Gambar 17 Pemandangan Areal Perkemahan Kamojang


D. Penginapan Wisata
Penginapan wisata Kawah Kamojang terletak diantara parkiran dan Kawah
Kamojang, penginapan Kawah Kamojang dibangun dipertengahan tahun 2003 dan
pada awal pembangunan hanya sebagai pendopo kecil untuk pengunjung yang
ingin berteduh dan beristirahat. Berkembangnya kegiatan-kegiatan wisata di TWA
Kawah Kamojang, dibangunlah pendopo tersebut menjadi satu bangunan rumah
dengan 1 ruang tengah, 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi.
Penginapan wisata Kawah Kamojang telah dilengkapi dengan beberapa
fasilitas yang cukup memadai untuk setiap kamarnya, seperti lemari, jam dinding,
spring bed, selimut, bantal, asbak, keset, air panas, closet, rak handuk, gantungan
baju dan tempat sampah. Kondisi TWA Kawah Kamojang yang sejuk dan
panorama indah menambah kenyamanan pengunjung yang ingin menginap di
penginapan wisata kawah kamojang. Penginapan wisata kawah kamojang dikelola
langsung oleh BBKSDA Jawa Barat, posisi penginapan juga strategis karena
berdekatan dengan lahan parkir, jajaran kantin, kamar rendam dan Musholla.

139

(a)

(b)

(c)

Gambar 18 (a) Kondisi Penginapan dari Luar,


(b) Kondisi Ruang Utama Penginapan, (c) Kondisi Kamar Penginapan
5.1.4 Penilaian Potensi Sumberdaya Wisata Alam
Penilaian potensi sumberdaya wisata di TWA Kawah Kamojang mengacu
pada definisi sumberdaya wisata yang dikemukakan oleh Avenzora (2008).
Penilaian potensi sumberdaya wisata dilakukan oleh 3 asesor yang terdiri dari
Kepala Bidang Seksi KSDA wilayah V Garut, Petugas PNBP TWA Kawah
Kamojang dan mitra sebagai masyarakat sekitar.
Penilaian tersebut mengacu kepada indikator penilaian potensi menurut
Avenzora (2008) yang meliputi keunikan, keindahan, kelangkaan, sensitivitas,
seasonality, aksesibilitas dan fungsi sosial. Penilaian potensi sumberdaya wisata
alam di TWA Kawah Kamojang, mengacu kepada sumberdaya yang menonjol/
banyak seperti kawah, kawasan serta ekosistem hutan, tumbuh-tumbuhan obat,
panorama alam disekitar TWA Kawah Kamojang, dan keberadaan sumber air
panas. Sumberdaya yang dinilai berdasarkan hasil wawancara dengan pengelola,
masayarakat dan hasil studi literatur. Hasil kajian untuk nilai keunikan paling
tinggi dari sumberdaya wisata alam yang ada di TWA Kawah Kamojang adalah
Kawah-Kawah dengan nilai rata-rata 5,95 atau mendekati 6,00 yang dikategorikan
unik. Kawah-kawah yang terdapat di TWA Kawah Kamojang dikategorikan unik,
karena Kawah-Kawah tersebut memiliki bentuk dan variasi manifestasi panas
bumi yang berbeda-beda.
Indikator penilaian kelangkaan yang paling tinggi dimiliki oleh Kawah
dengan penilaian 4,76 atau mendekati 5,00 yang dikategorikan agak langka.
Kelangkaan yang dimiliki oleh Kawah-Kawah di TWA Kawah Kamojang
dikarenakan dari bentuk dan letak Kawah yang berdekatan, selain itu kawahkawah tersebut memiliki tipe-tipe yang berbeda yang belum tentu dmiliki oleh
tempat wisata yang lainya, untuk menemukan kawah tidaklah susah karena jarak
yang berdekatan dan mudah utuk ditemukan. Indikator penilaian keindahan yang
paling tinggi dimiliki oleh panorama alam di sekitar TWA Kawah Kamojang,
penilaian tersebut memiliki nilai 4,81 atau mendekati 5. 00 dengan kategori agak
indah. Keindahan untuk pemandangan alam tersebut, dikarenakan pemandangan
alam di TWA Kawah Kamojang memiliki lanskap yang indah dengan disusun
dari berbagai ekosistem yang berada di hutan yang rapat.

Tabel 18 Hasil Penilaian Potensi Sumberdaya Wisata Alam


Obyek Wisata Alam
Sumber
No.
Indikator
Tumbuhan Panorama
Kawah
Mata Air
Hutan
Obat
Alam
Panas
1.
Keunikan
5,95
4,33
4,33
4,33
4,29
2.
Kelangkaan
4,76
4,52
4,19
4,52
4,19
3.
Keindahan
4,48
4,48
4,76
4,38
4,81
4.
Seasonality
4,38
4,29
4,19
4,48
4,29
5.
Sensitivitas
4,29
4,52
4,76
4,19
4,52
6.
Aksesibilitas
4,52
4,48
3,33
4,29
4,19
7.
Fungsi Sosial
4,48
4,52
4,86
4,52
4,33
Rerata
4,94
4,45
4,34
4,38
4,37
Keterangan: Keunikan = 1. Sangat Tidak Unik, 2. Tidak Unik, 3. Agak Tidak Unik, 4. Biasa
Saja, 5. Agak Unik, 6. Unik, 7. Sangat Unik;Kelangkaan = 1. Sangat Tidak Langka, 2. Tidak
Langka, 3. Agak Tidak Langka, 4. Biasa Saja, 5. Agak Langka, 6. Langka, 7. Sangat
Langka;Keindahan = 1. Sangat Tidak Indah, 2. Tidak Indah, 3. Agak Tidak Indah, 4. Biasa
Saja, 5. Agak Indah, 6. Indah, 7. Sangat Indah;Seasonality = 1. Sangat Tidak Musiman, 2. Tidak
Musiman, 3. Agak Tidak Musiman, 4. Biasa Saja, 5. Agak Musiman, 6. Musiman, 7. Sangat
Musiman;Aksesibilitas = 1. Sangat Tidak Terjangkau, 2. Tidak Terjangkau, 3. Agak Tidak
Terjangkau, 4. Biasa Saja, 5. Agak Terjangkau, 6. Terjangkau, 7. Sangat Terjangkau;Sensitivitas
= 1. Sangat Tidak Sensitif, 2. Tidak Sensitif, 3. Agak Tidak Sensitif, 4. Biasa Saja, 5. Agak
Sensitif, 6. Sensitif, 7. Sangat Sensitif;Fungsi Sosial = 1. Sangat Tidak Berfungsi, 2. Tidak
Berfungsi, 3. Agak Tidak Berfungsi, 4. Biasa Saja, 5. Agak Berfungsi, 6. Berfungsi, 7. Sangat
Berfungsi.

Kawasan hutan di TWA Kawah Kamojang memiliki nilai tertinggi pada


kategori sensitivitas dan fungsi sosial, pada indikator penilaian sensivitas,
kawasan hutan memiliki nilai 4,76 atau 5. 00. Hal ini dikarenakan kawasan hutan
di TWA Kawah Kamojang memiliki ekosistem hutan yang masih alami. Fauna
dan flora di hutan TWA Kawah Kamojang merupakan flora dan fauna yang masih
endemik, jadi sangat rawan dan sensitif dimasuki oleh flora dan fauna tertisteral
(Pendatang). Kawasan hutan di TWA Kawah Kamojang memiliki nilai dari
fungsi sosial tertinggi, yakni 4,86 atau 5,00. Hal ini dikarenakan hutan di TWA
Kawah Kamojang dan CA Kamojang menjadi salah satu sumber keberadaan air
bersih yang vital bagi kehidupan masyarakat. Selain itu, kawasan hutan di TWA
Kawah Kamojang menjadi salah satu pusat dari keberadaan dan kelestarian
lingkungan disekitar pemukiman penduduk.
5.2 Karakteristik, Persepsi dan Kesiapan Pengelola
5.2.1 Karakteristik Pengelola
Karakteristik pengelola dikaji dengan menggunakan beberapa indikator,
yaitu meliputi jenis kelamin, usia, status, pernikahan, asal jabatan, pendidikan
terakhir dan pendapatan. Berdasarkan hasil kuisioner kepada tiga pengelola di
TWA Kawah Kamojang dihasilkan bahwa pengelolaan di kawasan TWA Kawah
Kamojang didominasi oleh laki-laki dengan persentase sebesar 100%. Pengelola
menyatakan kegiatan di TWA Kawah Kamojang lebih baik dilakukan laki-laki,
karena berhubungan langsung dengan pengelolaan hutan yang membutuhkan
tenaga, baik di kegiatan karcis ataupun dilapangan. Indikator usia pengelola
dikawasan ini didominasi oleh usia lebih dari 30 tahun karena pengelola yang
bekerja sudah memiliki pengalaman dan waktu kerja cukup lama.

141

Jenis Kelamin

Laki-Laki
Perempuan

Usia

20-30 thn
>30 thn

0%

B. Menikah
Menikah

0%

Status

100%

0%
100%

100%

Asal Daerah

Garut
Luar Garut

Jabatan

Koordinator
Pengelola

33,3%

Pendidikan

SMP
SMA
P. Tinggi

33,3%
33,3%
33,3%

Pendapatan

Rp 1-2 jt
>Rp 2jt

33,3%

100%

0%
67,7%

10

20

30

40

50

60

70

67,7%
80 90

100

Gambar 19 Karakteristik Pengelola di TWA Kawah Kamojang


5.2.2 Persepsi Pengelola terhadap Obyek Wisata
Berdasarkan analisis terhadap hasil penyebaran kuisioner pengelola di TWA
Kawah Kamojang, menunjukan bahwa persepsi pengelola terhadap potensi obyek
wisata yang layak dikembangkan dilokasi tersebut ialah kawah-kawah dan sumber
mata air panas. Obyek tersebut memiliki nilai yang tertinggi dibandingkan potensi
obyek lain yang dimilik TWA Kawah Kamojang. Obyek dengan nilai tertinggi
tersebut memang sangat cocok untuk diadakan pengembangan. Hal ini
dikarenakan obyek-obyek tersebut memiliki potensi yang baik untuk peluang
usaha wisata yang berkelanjutan.
Kawah

Menarik

Sumber Mata Air Panas

Menarik

Bekas Pemboran Belanda

Biasa Saja

Area Geothermal Kamojang

Biasa Saja

Area Perkemahan

Tidak Menarik

Penginapan Wisata

Biasa Saja

Keterangan: 1 = Tidak Menarik, 2 = Biasa Saja, 3 = Menarik

Gambar 20 Persepsi Pengelola terhadap Obyek Wisata


Saat ini, masih sangat minim untuk menarik pengunjung karena kurangnya
atraksi wisata dan fasilitas yang memadai. Apabila dikelola dan dibenahi dengan
baik tentunya akan membuat daya tarik pengunjung yang lebih banyak.

5.2.3 Persepsi Pengelola terhadap Kegiatan Wisata


Kegiatan wisata yang dapat dilakukan di TWA Kawah Kamojang adalah
kegiatan yang akan dikembangkan kedalam program wisata alam. Adapun
kegiatan tersebut telah dinilai oleh pengelola mengani kecocokan dan tidaknya
kegiatan yang akan dikembangkan kedalam kegiatan wisata alam di TWA Kawah
Kamojang. Berdasarkan analisa terhadap hasil dari penyebaran kuisioner
pengelola di TWA Kawah Kamojang, menunjukan bahwa persepsi pengelola
terhadap kegiatan wisata yang akan dikembangkan dilokasi dinilai kebanyakan
setuju secara keseluruhan.
Mandi Uap

Setuju

Berendam Air Panas

Setuju

Wisata Pendidikan Geothermal

Setuju

Menikmati Pemandangan Alam

Setuju

Berkemah

Biasa Saja

Trekking Hutan

Setuju

Outbond

Setuju

Foto Hunting

Setuju

Keterangan: 1 = Tidak Setuju, 2 = Biasa Saja, 3 = Setuju

Gambar 21 Persepsi Pengelola terhadap Kegiatan Wisata


Untuk kegiatan berkemah dinilai biasa saja karena kawasan konservasi
seperti TWA Kawah Kamojang memiliki aturan untuk tidak membuka bumi
perkemahan yang lebih besar. Pengelola menilai bahwa kegiatan wisata tersebut
akan menarik minat pengunjung yang lebih banyak jika dikembangkan.
5.2.4 Kesiapan Pengelola terhadap Pengembangan Ekowisata Alam
Kajian terhadap kesiapan pengelola dilakukan dengan menyebarkan
kuisioner kepada tiga orang pengelola, yang terdiri dari Kepala Seksi KSDA
wilayah V Garut, Petugas PNBP TWA Kawah Kamojang dan mitra. Hal ini
dilakukan karena pengelola merupakan dasar dari pengembangan ekowisata alam
yang akan dilakukan di TWA Kawah Kamojang.
Sumberdaya Manusia

Siap

Sarana dan Prasarana

Siap

Interpretasi

Siap

Promosi

Biasa Saja

Keamanan dan Keselamatan

Siap

Kerjasama dengan Masyarakat

Siap

Menerima Kritik dan Saran

Siap

Keterangan: 1 = Tidak Siap, 2 = Biasa Saja, 3 = Siap

Gambar 22 Kesiapan Pengelola terhadap Pengembangan Ekowisata Alam

143

Kajian yang dilakukan untuk mengetahui kesiapan pengelola diantaranya


mengenai Sumberdaya Manusia (SDM), sarana dan prasarana, kerjasama dengan
masyrakat sekitar dan yang lain sebagainya. Berdasarkan hasil kajian kuisioner
tersebut didapatkan bahwa rata-rata pengelola TWA Kawah Kamojang dinyatakan
siap untuk menyediakan sarana dan prasarana, kerjasama dengan masyarakat,
menerima kritik dan saran, interpretasi seta keselamatan pengunjung dalam
pengembangan ekowisata alam dengan nilai 3 atau siap. Promosi masih dianggap
biasa saja oleh pengelola, ini dikarenakan promosi wisata ialah suatu hal yang
tidak hanya dapat dilakukan oleh pengelola.
5.3 Karakteristik, Persepsi dan Kesiapan Masyarakat
5.3.1 Karakteristik Masyarakat
Masyarakat pada suatu kawasan memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Penyebaran kuisioner dilakukan di permukiman masyarakat di sekitar TWA
Kawah Kamojang dengan jumlah responden 30 orang yang dilakukan secara acak,
maka dapat diketahui karakteristik masyarakat.
70%

Jenis Kelamin

Laki-Laki
Perempuan

Usia

15-30 thn
>30 thn

Status

B. Menikah
Menikah

33,3%

Asal Daerah

Ibun
Samarang
Paseh

43,3%
36,7%

Pendidikan

Pendapatan

30%
46,7%
53,3%
66,7%

20%
23,3%
30%

SD
SMP
SMA

46,7%

Rp1/2-11/2jt
>Rp 11/2 jt

33,3%
0

10

20

30

40

50

66,7%
60 70

80

90

100

Gambar 23 Karakteristik Masyarakat di Sekitar TWA Kawah Kamojang


Berdasarkan jenis kelamin dari masyarakat di sekitar TWA Kawah
Kamojang, didominasi responden laki-laki berjumlah 21 orang dan responden
perempuan berjumlah 9 orang. Masyarakat disekitar TWA Kawah Kamojang
didominasi oleh laki-laki yang berprofesi sebagai petani, wiraswasta, karyawan
dari PT Pertamina Area Geothermal dan PT Indonesia Power.
Berdasarkan karakteristik umur dari masyarakat di sekitar TWA Kawah
Kamojang, didominasi oleh penduduk dengan usia diatas 30 tahun. Masyarakat
sekitar yang telah berumur diatas 30 tahun menggantungkan hidup dari pertanian,
keberadaan PLTP dan lokasi wisata dikawasan Kamojang untuk menghidupi
keluarganya. Bila hari-hari biasa, masyarakat sekitar lebih memilih berladang.

Berdasarkan status pernikahan, masyarakat di sekitar TWA Kawah


Kamojang didominasi oleh masyarakat yang telah menikah. Ditunjukan dari hasil
kajian kuisioner terdapat 20 orang dengan status telah menikah.
Masyarakat disekitar TWA Kawah kamojang didominasi dari daerah
Kecamatan Ibun dengan jumlah 13 orang. Selain itu, untuk yang berasal dari
Kecamatan Samarang berjumlah 11 orang dan Kecamatan Paseh sebesar 6 orang.
Masyarakat Kecamatan ibun mendominasi dikarenakan letak dan keberadaan
TWA Kawah Kamojang berada di wilayah administratif Kecamatan Ibun.
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat dan
taraf kehidupan sosial masyarakat, rata-rata masyarakat di sekitaran TWA Kawah
Kamojang berpendidikan terakhir ditingkat SMP dan SMA. Menurut wawancara
dengan kepala dusun di Kecamatan Ibun, kebanyakan masyarakat di sekitar TWA
Kawah Kamojang memiliki keadaan ekonomi yang rendah, hal ini dibuktikan juga
dengan rata-rata pendapatan dari kajian kuisioner yang disebar kepada masyarakat
rata-rata dibawah Rp 500. 000-1. 500. 000 per-bulan.
5.3.2 Persepsi Masyarakat terhadap Dampak yang Ditimbulkan
Pengembangan program wisata alam disuatu kawasan wisata, tentunya akan
menimbulkan beberapa dampak bagi kehidupan sosial masyarakat, baik dampak
positif maupun berupa dampak yang negatif. Dampak dari keberadaan kegiatan
wisata akan dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar kawasan wisata, apalagi
dengan pengembangan kegiatan wisata alam sudah berjalan dengan baik nantinya.
Dampak yang akan dihadapi oleh masyarakat sekitar kawasan TWA Kawah
Kamojang berupa dampak dari segi ekonomi, lingkungan dan sosial budaya.
Dampak sosial budaya yang terjadi terhadap pengembangan wisata alam tidak
akan selalu menimbulkan dampak yang positif, masyarakat juga akan dihadapkan
dengan tatanan masyarakat luar yang berwisata berupa dampak sosial yang
negatif. Berdasarkan hasil penyebaran kuisioner masyarakat disekitar TWA
Kawah Kamojang, kebanyakan dari masyarakat menyatakan setuju dengan
pengembangan kegiatan wisata alam di TWA Kawah Kamojang. Dampak dari
pengembangan wisata alam akan menimbulkan peningkatan taraf hidup serta
status sosial masyarakat, masyarakat akan lebih dikenal seiring berjalanya
pengembangan wisata alam di TWA Kawah Kamojang. Hal negatif seperti
lunturnya budaya lokal dan meningkatnya angka kriminalitas dinilai setuju oleh
masyarakat sekitar, ini dikarenakan masyarakat menganggap bahwa kebudayaan
mereka merupakan kebudayaan yang kental dan rawan untuk dipengaruhi oleh
kebudayaan luar.
Lingkungan Masyarakat Menjadi Dikenal Banyak Orang

Setuju

Meningkatnya Status Sosial Masyarakat

Setuju

Lunturnya Nilai Budaya Masyarakat

Setuju

Meningkatnya Angka Kriminalitas

Setuju

Keterangan: 1 = Tidak Setuju, 2 = Biasa Saja, 3 = Setuju

Gambar 24 Persepsi Mayarakat terhadap Dampak Sosial Budaya

145

Dampak ekonomi yang terjadi terhadap pengembangan program wisata


alam di TWA Kawah Kamojang, masyarakat menilai akan memberikan dampak
yang positif. Berdasarkan hasil penyebaran kuisioner, masyarakat setuju dengan
adanya pengembangan kegiatan wisata alam, hal tersebut dikarenakan dengan
adanya pengembangan wisata alam yang dilakukan. Dampak ekonomi akan
dirasakan oleh masyarakat secara langsung, adapun dampak ekonomi tersebut
berupa bertambahnya penghasilan masyarakat dan terbukanya beberapa peluang
usaha yang baru. Masyarakat sekitar beranggapan dengan meningkatnya
perkembangan wisata di TWA Kawah Kamojang meningkatnya ekonomi
masyarakat lokal adalah hal yang biasa saja begitu juga dengan terbukanya
lapangan usaha kerja yang baru, terlebih lagu usaha dibidang pemeberdayaan
kegiatan wisata di TWA Kawah Kamojang.
Menambah Penghasilan Masyarakat

Setuju

Membuka Lapangan Pekerjaan Baru

Biasa Saja

Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Lokal

Biasa Saja

Tidak Terjadi Kebocoran Ekonomi

Setuju

Keterangan: 1 = Tidak Setuju, 2 = Biasa Saja, 3 = Setuju

Gambar 25 Masyarakat terhadap Dampak Ekonomi


Dampak lingkungan yang terjadi terhadap pengembangan wisata alam yang
akan dikembangkan di TWA Kawah Kamojang, akan menimbulkan pengaruh
besar terhadap kegiatan wisata yang berkelanjutan. Dari hasil kajian kuisioner
masyarakat menilai bahwa dengan adanya pengembangan kegiatan wisata alam di
TWA Kawah Kamojang akan terjaminya pemeliharaan sumberdaya wisata
terlebih lagi dengan keberadaan hutan disekitar tempat kegiatan wisata.
Terpeliharanya Sumberdaya Wisata

Biasa Saja

Terjaganya Ekosistem Hutan

Setuju

Terjaganya Lingkungan Masyarakat

Setuju

Timbulnya Vandalisme

Biasa Saja

Keterangan: 1 = Tidak Setuju, 2 = Biasa Saja, 3 = Setuju

Gambar 26 Persepsi Masyarakat terhadap Dampak Lingkungan


Terjaganya lingkungan masyarakat menjadi salah satu efek yang diharapkan
dengan adanyanya kegiatan pengembangan kegiatan wisata alam, namun tidak
dipungkiri cara berprilaku pengunjung yang datang akan menimbulkan
vandalisme dan kerusakan beberapa komponen sumberdaya alam yang berada di
TWA Kawah Kamojang.
Keadaan lingkungan dikawasan TWA Kawah
Kamojang sampai saat ini masih terawat dan terkendali dengan baik, terlebih lagi
dengan pengembangan kegiatan wisata alam. Masyarakat mengharapkan kegiatan
pengembangan wisata alam akan menambah terjaganya ekosistem hutan, dan
terjaminya keberadaan lingkungan sekitar TWA Kawah Kamojang yang aman dan
memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar TWA Kawah Kamojang.

5.3.3 Persepsi Masyarakat terhadap Obyek Wisata


Indikator potensi obyek wisata yang dinilai oleh masyarakat meliputi
Kawah-Kawah, Sumber Mata Air Panas, Penginapan Wisata, Area Perkemahan
dan bekas pemboran dari zaman kolonial Belanda dan keberadaan Area
Geothermal Kamojang.
Kawah

Menarik

Sumber Mata Air Panas

Menarik

Bekas Pemboran Belanda

Biasa Saja

Area Geothermal Kamojang

Biasa Saja

Area Perkemahan

Menarik

Penginapan Wisata

Biasa Saja

Keterangan: 1 = Tidak Menarik, 2 = Biasa Saja, 3 = Menarik

Gambar 27 Persepsi Masyarakat terhadap Obyek Wisata


Menurut penilaian masyarakat terhadap obyek wisata seperti Kawah,
Sumber Mata Air Panas dan Area Perkemahan dinilai baik. Masyarakat lebih
mengenal TWA Kawah Kamojang dengan potensi Kawah, Sumber Mata Air
Panas dan Area Perkemahan. Area perkemahan dinyatakan layak dan masih bisa
dibuka lagi seperti pengelola sebelumnya. Penilaian masyarakat akan keberadaan
obyek wisata seperti Penginapan Wisata dan Area Geothermal Kamojang masih
dinilai biasa saja karena belum adanya pengembangan untuk memanfaatkan obyek
tersebut.
5.3.4 Persepsi Masyarakat terhadap Kegiatan Wisata
Potensi sumberdaya wisata yang ada tersebut diantaranya keberadaan
Kawah-Kawah dan ekosistem hutan yang menjadi suatu daya tarik sendiri bagi
masyarakat sekitar TWA Kawah Kamojang. Potensi kekayaan alam berupa
sumber mata air panas yang akan membuat pengunjung merasa lengkap untuk
datang berkunjung di TWA Kawah Kamojang.
Mandi Uap

Setuju

Berendam Air Panas

Setuju

Wisata Pendidikan Geothermal

Biasa Saja

Menikmati Pemandangan Alam

Setuju

Berkemah
Trekking Hutan

Biasa Saja

Outbond

Setuju

Foto Hunting

Setuju

Keterangan: 1 = Tidak Setuju, 2 = Biasa Saja, 3 = Setuju

Gambar 28 Persepsi Masyarakat terhadap Kegiatan Wisata

147

Masing-masing potensi dari sumberdaya wisata yang dimiliki oleh TWA


Kawah Kamojang mendukung untuk keberadaan kegiatan wisata alam yang
kreatif, edukatif, dan informatif. Berdasarkan analisis terhadap hasil penyebaran
kuisisoner masyarakat disekitar TWA Kawah Kamojang, menunjukan bahwa
masyarakat telah menilai kegiatan wisata yang akan dikembangkan di TWA
Kawah Kamojang adalah baik. Untuk kegiatan seperti trekking hutan dan
pendidikan geothermal masih dinilai biasa saja. Kegiatan mandi uap, berendam
air panas, berkemah, outbond dan foto hunting harus dikemas lebih kreatif guna
pengembangan kegiatan wisata yang lebih baik.
5.3.5 Kesiapan Masyarakat terhadap Pengembangan Ekowisata Alam
Masyarakat adalah salah satu komponen utama dari pengembangan kegiatan
ekowisata alam di TWA Kawah Kamojang, maka dari itu kesiapan masyarakat
merupakan langkah atau tahapan awal yang dapat membantu terlaksananya
kegiatan pengembangan ekowisata alam. Berdasarkan hasil kajian kuisioner
masyarakat yang dilakukan terhadap 30 responden masyarakat di sekitar TWA
Kawah Kamojang, dapat dikatakan bahwa tingkat kesiapan masyarakat dapat
dikategorikan kedalm 3 tingkatan, yakni siap, biasa saja dan tidak siap.
Berdasarkan analisis terhadap hasil penyebaran kuisioner yang dilakukan di
TWA Kawah Kamojang, menunjukan bahwa kesiapan masyarakat terhadap
adanya pengembangan ekowisata alam dinilai siap. Adapun pilihan kesiapan
masyarakat adalah seperti pemandu, transportasi, penginapan dan pekerja.
Kesiapan untuk menyediakan rumah makan, membuat cinderamata dan berjualan
masih dianggap biasa saja oleh masyarakat sekitar TWA Kawah Kamojang.
Pekerja

Siap

Pemandu

Siap

Transportasi

Siap

Penginapan

Siap

Rumah Makan

Biasa Saja

Berjualan

Biasa Saja

Membuat Cinderamata

Biasa Saja

Keterangan: 1 = Tidak Siap, 2 = Biasa Saja, 3 = Siap

Gambar 29 Kesiapan Masyarakat terhadap Pengembangan Ekowisata Alam


Upaya masyarakat untuk meningkatkan pengembangan ekowisata alam di
TWA Kawah Kamojang terbilang cukup baik, namun harus dikembangkan lagi
untuk mendukung pengembangan tersebut. Pengembangan masyarakat dapat
dilakukan dengan beberapa cara berdasarkan kerjasama dengan pihak pengelola.
Kegiatan tersebut dapat berupa pelatihan keterampilan, kewirausahaan dan
pelatihan pelayanan wisata yang nantinya dapat dikembangkan oleh masyarakat
untuk menyokong kegiatan pengembangan kegiatan ekowisata alam di TWA
Kawah Kamojang.

5.4 Karakteristik, Motivasi dan Persepsi Pengunjung


5.4.1 Karakteristik Pengunjung
Pengunjung merupakan indikator yang paling penting dalam suatu kegiatan
wisata. Semakin banyaknya pengunjung yang datang, maka membuktikan bahwa
obyek wisata tersebut sangat diminati dan memiliki daya tarik tersendiri.
Karakteristik pengunjung di TWA Kawah Kamojang berdasarkan jenis kelamin,
usia, asal daerah, status pernikahan, pendidikan dan pendapatan menjadi beberapa
faktor pertimbangan yang akan mempengaruhi keputusan seseorang untuk
melakukan kegiatan wisata.
Jenis Kelamin

Laki-Laki
Perempuan

Usia

<15 thn
15-25 thn
25-50 thn
>50 thn

Status

B. Menikah
Menikah

Asal Daerah

Garut
Bandung
Tasikmalaya
Cianjur
Cirebon
Indramayu
Jabodetabek

Pendidikan

Pendapatan

SD
SMP
SMA
P. Tinggi

66%
34%
4%
48%
12%
36%
48%
52%
34%
26%
6%
4%
4%
4%
22%
0%

20%
46%
34%
28%
22%

Rp <1 jt
Rp 1-2 jt
>Rp 2jt

10

20

30

40

50%
50 60

70

80

90

100

Gambar 30 Karakteristik Pengunjung di TWA Kawah Kamojang


Berdasarkan data yang didapatkan menunjukan bahwa jenis kelamin
pengunjung yang datang ke TWA Kawah Kamojang didominasi oleh pengunjung
laki-laki dengan persentase sebesar 66% sedangkan dengan pengunjung berjenis
kelamin perempuan berjumlah 34%. Keinginan pengunjung laki-laki terhadap
kegiatan wisata alam di obyek-obyek wisata yang ada di TWA Kawah Kamojang
lebih tinggi dibandingkan dengan pengunjung perempuan.
Karakteristik pengunjung berdasarkan usia didominasi oleh pengunjung
dengan usia antara 15-25 tahun dengan persentase sebesar 48%. Pengunjung
dengan karakteristik usia diatas 50 tahun juga cukup mendominasi kunjungan di
TWA Kawah Kamojang. Biasanya para lanjut usia yang datang adalah untuk
keperluan berobat, seperti mandi uap dan berendam air panas.

149

Karakteristik pengunjung berdasarkan status didominasi oleh pengunjung


yang berstatus sudah menikah dengan persentase sebesar 54%. Pengunjung
dengan status sudah menikah biasanya berlibur dan menikmati waktu refreshing
bersama keluarga, lain hal dengan pengunjung yang berstatus belum menikah,
selain didominasi oleh kalangan pelajar dan mahasiswa. Banyak dari pengunjung
yang belum menikah adalah sebesar 46% (Gambar 30).
Kebanyakan pengunjung yang datang ke TWA Kawah Kamojang mayoritas
adalah dari daerah Garut dan Bandung. Adapun persentasenya adalah 34% asal
Garut, dan 26 % untuk asal daerah Bandung. Banyak juga pengunjung yang
berasal dari Jabodetabek, pengunjung dari daerah tersebut berjumlah sekitar 20%.
Animo masyarakat luar daerah Garut dan Bandung masih tinggi untuk melakukan
kegiatan wisata di TWA Kawah kamojang.
Pengunjung yang datang ke TWA Kawah Kamojang didominasi oleh
pengunjung berstatus sebagai pelajar, yaitu SMP, SMA dan Mahasiswa yang
meluangkan waktunya untuk mandi uap, berendam air panas atau sekedar
menikmati pemandangan alam. Hal ini dibuktikan dengan jumlah persentase latar
pendidikan yang cukup tinggi untuk SMA dan Perguruan Tinggi. Pengunjung
yang berpendidikan tentunya akan lebih mudah untuk diajak dalam kerjasama
pengembangan wisata alam, mereka akan lebih peka dengan adanya peraturan
pengunjung dan perawatan lingkungan.
Adapun persentase untuk latar
pendidikan pengunjung adalah 20% untuk SMP, 46% untuk SMA dan 36% untuk
Perguruan Tinggi.
Pendapatan pengunjung adalah hal yang berpengaruh dalam kegiatan wisata
pada suatu daerah tujuan wisata, rata-rata pengunjung yang datang berwisata
adalah diatas Rp 1. 000. 000,-. Hal ini menunjukan bahwa taraf hidup dan
ekonomi pengunjung yang datang berwisata ke TWA Kawah kamojang masih
tinggi dan mampu untuk melakukan kegiatan wisata dengan pilihan paket
program wisata alam.
5.4.2 Motivasi Pengunjung
Identifikasi mengenai motivasi pengunjung dilakukan dengan mengkaji dari
penyebaran kuisisoner yang dibagikan kepada 50 responden yang melakukan
kunjungan wisata ke TWA Kawah Kamojang. Faktor datangnya pengunjung
untuk datang kekawasan wisata ini adalah suatu motivasi untuk melakukan
kegiatan di kawasan tersebut.
Mandi Uap

Puas

Berendam Air Panas

Puas

Menikmati Pemandangan Alam

Puas

Mencari Udara Sejuk

Biasa Saja

Berkemah

Biasa Saja

Trekking

Biasa Saja

Pendidikan

Biasa Saja

Keterangan: 1 = Tidak Puas, 2 = BiasaSaja, 3 = Puas

Gambar 31 Motivasi Pengunjung di TWA Kawah Kamojang

Berdasarkan hasil analisis berdasarkan penyebaran kepada 50 responden


yang terkait dengan motivasi pengunjung di TWA Kawah Kamojang, menyatakan
bahwa pengunjung yang datang untuk melakukan kegiatan wisata berupa
menikmati pemandangan alam, mencari udara sejuk, mandi uap, berendam air
panas, berkemah, trekking hutan dan pendidikan. Hasil penyebaran kuisioner
menyatakan bahwa pengunjung puas dengan melakukan kegiatan seperti
pemandangan alam, mandi uap dan berendam air panas, namun untuk kegiatan
wisata seperti mencari udara sejuk, berkemah trekking hutan dan pendidikan
pengunjung bahwa kegiatan tersebut adalah suatu kegiatan yang biasa saja.
Dengan penyabaran kuisioner demikian, diketahui bahwa keinginan pengunjung
untuk berwisata adalah cukup besar, pengunjung menggambarkan keinginan yang
lebih untuk melakukan kegiatan wisata di TWA Kawah Kamojang.
5.4.3 Persepsi Pengunjung terhadap Sarana dan Prasarana
Pengelola akan terus menyediakan sarana dan prasarana yang unggul untuk
menjamin kepuasan pengunjung. Semakin baik sarana dan prasarana disuatu
lokasi wisata, maka akan semakin besar untuk menambah jumlah pengunjung
yang datang berkunjung. Sarana dan prasarana wisata yang terdapat di TWA
Kawah Kamojang umumnya sudah cukup lengkap untuk kegiatan wisata alam,
namun masih perlu peningkatan, penambahan dan pengembangan untuk membuat
pengunjung lebih nyaman berwisata. Dari hasil analisa kuisioner yang disebar
kepada 50 responden menyatakan bahwa sarana dan prasarana di TWA Kawah
Kamojang pada umumnya adalah biasa saja. Adapaun sarana dan prasarana yang
dinilai biasa saja adalah shelter, papan interpretasi, toilet, tempat sampah,
penginapan, keamanan dan keselamatan, sedangkan pengunjung merasa puas
dengan keberadaan pos tiket yang baik dan masih terawat.
Pos Tiket

Puas

Shelter

Biasa Saja

Papan Interpretasi

Biasa Saja

Toilet

Biasa Saja

Tempat Sampah

Biasa Saja

Penginapan

Biasa Saja

Keamanan dan Keselamatan

Biasa Saja

Keterangan: 1 = Tidak Puas, 2 = Biasa Saja, 3 = Puas

Gambar 32 Persepsi Pengunjung terhadap Sarana dan Prasarana


5.4.4 Persepsi Pengunjung terhadap Obyek Wisata
Pengetahuan terhadap potensi obyek wisata di TWA Kawah Kamojang
merupakan salah satu aspek yang perlu diketahui oleh pengunjung dalam
melakukan aktivitas wisata disuatu kawasan. Setelah mengetahui potensi obyek
wisata yang terdapat dikawasan ini, tentunya pengunjung akan mendapatkan
informasi baru dengan adanya potensi wisata alam yang terdapat di TWA Kawah
Kamojang, sehingga dengan adanya informasi potensi obyek wisata alam yang
terdapat di TWA Kawah Kamojang.

151

Kawah

Menarik

Sumber Mata Air Panas

Menarik

Bekas Pemboran Belanda

Biasa Saja

Area Geothermal Kamojang

Menarik

Area Perkemahan

Biasa Saja

Penginapan Wisata

Biasa Saja

Keterangan: 1 = Tidak Menarik, 2 = Biasa Saja, 3 = Menarik

Gambar 33 Persepsi Pengunjung terhadap Obyek Wisata


Potensi obyek wisata yang terdapat di TWA Kawah Kamojang adalah
kawah, sumber mata air panas, penginapan wisata, bekas pemboran Belanda dan
area geothermal Kamojang. Berdasarkan hasil kuisioner yang disebarkan kepada
50 responden menunjukkan bahwa bekas pemboran Belanda, area perkemahan
dan penginapan wisata dinilai biasa saja. Potensi obyek wisata yang dinilai
menarik adalah kawah, sumber mata air panas dan area geothermal Kamojang.
5.4.5 Persepsi Pengunjung terhadap Kegiatan Wisata
TWA Kawah Kamojang memiliki potensi sumberdaya wisata yang cukup
menarik untuk dikunjungi. Potensi sumberdaya wisata yang terdapat pada TWA
tersebut dapat dipadukan menjadi suatu kegiatan wisata alam yang menarik
berlandaskan nilai konservasi dan pendidikan bagi pengunjung. Dengan
pengembangan kegiatan wisata maka pengunjung akan mendapat kemudahan
dalam melakukan kegiatan wisata karena program wisata memiliki suatu bentuk
paket yang dapat dinikmati oleh pengunjung.
Mandi Uap

Setuju

Berendam Air Panas

Setuju

Wisata Pendidikan Geothermal

Biasa Saja

Menikmati Pemandangan Alam

Setuju

Berkemah

Setuju

Trekking Hutan

Setuju

Outbond

Setuju

Foto Hunting

Biasa Saja

Keterangan: 1 = Tidak Setuju, 2 = Biasa Saja, 3 = Setuju

Gambar 34 Persepsi Pengunjung terhadap Kegiatan Wisata


Berdasarkan hasil penyebaran kuisioner kepada 50 responden di TWA
Kawah Kamojang menunjukkan bahwa pengunjung menilai kegiatan wisata yang
akan dikembangkan di TWA Kawah Kamojang adalah menarik. Namun kegiatan
berkemah dan foto hunting masih dinilai biasa saja. Pengunjung menilai kegiatan
wisata di TWA Kawah Kamojang masih monoton sehingga diperlukan kegiatan
wisata yang lebih menarik untuk dikembangkan.

5.4.6 Persepsi Pengunjung terhadap Lama Waktu Ekowisata Alam


Pengunjung dapat menentukan lama waktu dari kegiatan wisata yang akan
dilakukan disuatu kawasan wisata dengan menyesuaikan waktu yang dimiliki oleh
tiap-tiap pengunjung. Lama waktu kegiatan dalam program wisata alam ini dapat
berjalan efektif apabila waktu yang ditetapkan sesuai dengan aktivitas yang akan
dilakukan pada program wisata alam.
1 Hari

Efektif

2 Hari 1 Malam

Efektif

3 Hari 2 Malam

Biasa Saja

Keterangan: 1 = Tidak Efektif, 2 = Biasa Saja, 3 = Efektif

Gambar 35Persepsi Pengunjung terhadap Lama Waktu Ekowisata Alam


Berdasarkan analisis terhadap penyebaran kuisiosner kepada 50 responden
dari kalangan pengunjung di TWA Kawah Kamojang, menunjukan bahwa
pengunjung memilih waktu yang akan dilakukan dalam program wisata alam di
TWA Kawah Kamojang seperti kegiatan 1 hari dan 2 hari 1 malam. Waktu
kegiatan tersebut dianggap efektif untuk dilakukan pengembangan wisata alam.
Namun pada kegiatan bermalam 3 hari 2 malam pengunjung menunjukkan hasil
penilaian biasa saja. Hal ini dikarenakan masih belum layak dan terhambat akan
sarana dan prasarana yang dimiliki oleh pengelola.
5.5 Rancangan Pengembangan Ekowisata Alam
5.5.1 Pengembangan Kondisi Ekologis
Pengembangan kondisi ekologis tujuannya untuk menjaga dan melindungi
sumberdaya alam di TWA Kawah Kamojang dari gangguan. Dalam suatu sistem
terbuka kondisi alamiah, keseimbangan tidak saja dipengaruhi secara internal oleh
hubungan timbal balik populasi alamiah, tetapi juga secara eksternal oleh
perubahan dalam lingkungan, seperti kegiatan manusia.
Secara ringkas, pengelolaan ekosistem alami terdiri dari perlindungan
terhadap pengaruh eksternal kegiatan manusia, misalnya menjaga keutuhan
lanskap dan perlindungan terhadap pengaruh internal kegiatan manusia seperti
rekreasi. Meminimalkan gangguan dan tekanan dari pengunjung maupun
masyarakat terhadap kawasan TWA Kawah Kamojang, salah satu upaya yang
perlu dikembangkan adalah kegiatan perlindungan dan pengamanan yang
dilakukan secara preventif dan kuratif.
a. Pengamanan Preventif
Keterbatasan personil lapangan dimaksimalkan dengan melakukan kegiatan
atau tindakan yang dapat menumbuhkan kesadaran dan peran serta masyarakat
dalam pengamanan kawasan TWA Kawah Kamojang. Kegiatan yang dilakukan
bisa berupa kegiatan pendidikan konservasi kepada pengunjung dan masyarakat.
Tindakan dan kegiatan pengamanan preventif yang dilakukan antara lain:
Patroli yang dilakukan dengan intensitas yang lebih sering dan kontinyu.
Patroli dilakukan bekerjasama dengan masyarakat yang dipercaya dalam
memberi informasi penebangan liar, perburuan satwa dan perambahan.

153

Penyuluhan dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran dan peran serta


masyarakat sehingga terlibat dalam pengamanan kawasan TWA Kawah
Kamojang.
Materi penyuluhan lebih diarahkan kepada pentingnya
keberadaan TWA Kawah Kamojang bagi kehidupan dan pemasyarakatan
hukum kehutanan dan lingkungan hidup.
Pemasangan papan-papan himbauan atau ajakan menjaga kelestarian TWA
Kawah Kamojang pada tempat-tempat yang strategis. Papan pengumuman
yang selama ini berisi larangan perlu ditinggalkan dan digantikan dengan
ajakan sehingga dapat menghargai dan menempatkan pengunjung serta
masyarakat pada kedudukan yang lebih penting dalam kegiatan pelestarian
kawasan TWA Kawah Kamojang.
b. Pengamanan Kuratif
Pengamanan kuratif dapat dilakukan melalui penegakan hukum. Segala
macam tindakan yang melawan hukum dan berakibat rusaknya fungsi kawasan
TWA Kawah Kamojang perlu diproses dan diambil tindakan tegas walaupun
pelakuknya dari petugas BKSDA Jawa Barat.
5.5.2 Pengembangan Sumberdaya Manusia
Peningkatan sumberdaya pengelola erat kaitannya dengan pelayanan
pengunjung. Penambahan jumlah pengelola hendaknya dari latar belakang
pendidikan kepariwisataan terutama wisata alam dan geologi. Sedangkan
pengadaan pelatihan sangat dibutuhkan bagi petugas yang masih belum mengerti
tentang kepariwisataan geologi dan teknologi pemanfaatan panas bumi untuk
pembangkit listrik. Kegiatan kursus-kursus bahasa asing pun perlu dilakukan
mengingat pengunjung yang datang ada juga berasal dari mancanegara. Kualitas
petugas yang baik menjadikan pelayanan pengunjung akan lebih bermutu.
Pelatihan petugas hendaknya dilakukan secara periodik, serta adanya evaluasi
daripimpinan. Pengelola wisata kebanyakan tidak menaruh perhatian dan
menyediakan dana untuk mendidik personil pengelola obyek wisata dan pemandu
wisatanya. Pembagian kerja yang jelas juga diperlukan untuk menghindari
overlapping pekerjaan. Seperti halnya sekarang ini di lapangan, sebenarnya sudah
dilakukan pembagian tugas, yaitu terdiri dari penjaga tiket masuk, penjaga tiket
pemandian air panas, penjaga keamanan dan kebersihan kawasan. Tetapi kadangkadang petugas saling menggantikan tugasnya karena keterbatasan personil.
Keberadaan pihak kedua di TWA Kawah Kamojang, yaitu Kelompok
Pencinta Wisata Karang Taruna Kamojang yang berasal dari masyarakat dengan
tingkat pendidikan yang masih rendah. Mereka membutuhkan perhatian dari
BBKSDA Jawa Barat, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung,
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, PT Pertamina Area
Geothermal Kamojang dan PT Indonesia Power. Pelatihan singkat perlu
diperlukan untuk mengoptimalkan kegiatan wisata. Pelatihan-pelatihan yang
dimaksud seperti pelatihan identifikasi flora dan fauna, pengetahuan tentang
proses terjadinya gejala alam kawah, teknologi pemanfaatan panas bumi untuk
pembangkit listrik, teknik interpretasi dan kursus bahasa asing.

5.5.3 Rancangan Pengembangan Sumberdaya Ekowisata Alam


a. Hutan TWA Kawah Kamojang
TWA Kawah Kamojang merupakan kawasan konservasi dengan ekosistem
pegunungan yang banyak memiliki kekayaan flora, fauna dan fenomena alam
yang unik. Pengelolaan kawasan ini oleh BBKSDA Jawa Barat, Bidang KSDA
Wilayah III Ciamis, Seksi Wilayah V Garut. Saat ini pengelolaan tersebut masih
terbatas pada pengamanan kawasan dari berbagai pengguna/ tekanan yang
diakibatkan oleh aktifitas masyarakat sekitar hutan.
TWA Kawah Kamojang memiliki tipe ekosistem hutan hujan dataran tinggi,
dengan jenis-jenis pohon dominan, yaitu saninten (Castanopsis argentea),
rasamala (Altingia excelsa), kiputri (Podocarpus nerifolius), pasang (Quercus
lineata), puspa (Schima walichii), kondang (Ficus variegata) dan tunggeureuk
(Castanopsis tunggurut). Sedangkan satwa liar yang terdapat di dalam kawasan
TWA tersebut diantaranya macan tutul (Panthera pardus), bajing (Callosciurus
notatus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), owa (Hylobathes moloch),
lutung (Trachypitechus auratus), surili (Presbytis comata), elang ruyuk (Spilornis
cheela), tulung tumpuk (Megalaima javanensis) dan ular sanca (Phyton reticulatus).

Gambar 36 Rancangan Pengembangan Area Trekking Hutan


di TWA Kawah Kamojang
Pengembangan area treeking hutan dapat dilakukan dengan pembenahan
kembali trek yang sudah ada menjadi lebih baik lagi. Pengembangan trek yang
baik juga dapat disertai dengan penambahan fasilitas-fasilitas seperti papan
penunjuk arah, papan interpretasi dan bentuk keamanan lain yang menunjang
kegiatan treeking di TWA Kawah Kamojang. Selain itu, pemberdayaan
masyarakat sebagai pemandu yang berkualitas, dapat dilakukan dengan
mengadakan pelatihan interpretasi dan Bahasa Inggris untuk meningkatkan teknik
komunikasi kepada pengunjung yang menggunakan jasa pemanduan.

155

b. Tumbuhan Obat
Pengembangan kegiatan wisata yang memanfaatkan jenis-jenis tumbuhan
obat di TWA Kawah Kamojang, adalah sebagai langkah awal untuk menjadi
bahan kajian lebih lanjut khususnya tumbuhan obat yang berada di dalam kawasan
TWA Kawah Kamojang. Kegiatan ini dibuat untuk mengetahui potensi yang ada
di dalam kawasan dan untuk menginventarisir potensi serta manfaat dan
kegunaannya, selain itu adalah sebagai peningkatan dan kesadaran masyarakat
akan pentingnya pemanfaatan tumbuhan obat dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan wisata berbasis tumbuhan obat di TWA Kawah Kamojang dapat
dimanfaatkan secara efektif apabila di dukung dengan pengadaan program yang
memasukan tumbuhan obat sebagai salah satu jenis kegiatannya, untuk itu
penjagaan dan pemanfaatan berkelanjutan tumbuhan obat dianggap penting untuk
menjaga kestabilan lingkungan di TWA Kawah Kamojang.

Gambar 37 Sebaran Tumbuhan Obat


di TWA Kawah Kamojang
Pengembangan area tumbuhan obat dapat dilakukan dengan pembenahan
kembali area tumbuhan obat menjadi labih khusus dan terfokus. Pengembangan
area tumbuhan obat yang baik juga dapat disertai dengan penambahan fasilitasfasilitas seperti papan interpretasi dan bentuk lain yang menunjang kegiatan
interpretasi tumbuhan obat di TWA Kawah Kamojang. Selain itu pemberdayaan
masyarakat sebagai pemandu yang berkualitas, dapat dilakukan dengan
mengadakan pelatihan interpretasi dan Bahasa Inggris untuk meningkatkan teknik
komunikasi kepada pengunjung yang menggunakan jasa pemanduan.

c. Kawah-Kawah di TWA Kawah Kamojang


TWA Kawah Kamojang memiliki potensi berupa keunikan gejala alam,
keunikan tersebut diakibatkan manifestasi panas bumi yang membentuk kawah
dengan berbagai tipe. Tipe-tipe kawah yang berada di TWA Kawah Kamojang
ialah seperti fumarol atau yang lebih dikenal dengan kadar uap yang mengandung
tekanan air yang tinggi, manifestasi seperti demikian dapat ditemui di beberapa
Kawah, salah satunya adalah kawah hujan. Tipe Kawah Kawah adalah tipe
mudpool atau lumpur panas, Kawah-Kawah di TWA Kawah kamojang yang
bertipe demikian adalah Kawah Baru dan Kawah Saar. Pengunjung akan melihat
jelas bagaimana lumpur dan belerang mendidih disebuah kubangan besar.
Beberapa manifestasi lain yang berada di TWA Kawah kamojang adalah berupa
semburan gas tinggi, mata air panas dan kawah biasa yang membentuk kolam
raksasa berwarna hijau keputihan.
Tipe lainya adalah berupa semburan gas tinggi berasal dari dalam bumi
yang menyeburkan asap tebal. Potensi dari manifestasi panas bumi yang
bervariasi di TWA Kawah kamojang dapat dikembangkan sebagai kegiatan
ekowisata alam seperti mandi uap, fotografi, serta wisata kesehatan alam.
Kegiatan mandi uap ialah berupa penyegaran tubuh dengan membiarkin diri
diselimuti asap beruap air tinggi ,namun kegiatan tersebut hanya dinikmati oleh
kalangan tertentu seperti lansia, dan pengunjung dengan tujuan berobat. Mandi
uap dengan suasana hutan (Thermal Spa) sangat berpotensi dikembangkan
menjadi kegiatan kewanitaan, kegiatan ini dapat menjadi suatu perawatan tubuh
wanita yang menginginkan kelangsingan dengan media spa dari uap air yang
disemburkan di Kawah Hujan. Kadar air yang terkandung dari semburan uap
Kawah Hujan, memiliki fungsi pemeliharaan dan perawatan kulit tubuh, beberapa
fungsi yang lainya adalah menyembuhkan beberapa penyakit seperti reumatik,
kadas, kurap, serta cacar air.

Gambar 38 Sebaran Kawah-kawah


di TWA Kawah Kamojang

157

Kegiatan melihat bentuk dari variasi manifestasi panas bumi di TWA


Kawah Kamojang dapat dijadikan salah satu media pendidikan geothermal bagi
pengunjung. Kegiatan ini dapat berupa pengenalan tipe-tipe manifestasi panas
bumi dan pembentukannya. Pendidikan geothermal adalah suatu kegiatan yang
belum ada di TWA Kawah Kamojang, kegiatan tersebut sangat prospektif
dikembangkan dan dikenalkan kepada kaum pelajar ataupun pengunjung lain yang
ingin mempelajari hal tersebut. Fotografi adalah salah satu bentuk kegiatan yang
belum dikembangkan di TWA Kawah Kamojang, fotografi merupakan kegiatan
yang cocok untuk dikembangkan, dengan keunikan yang dimiliki oleh beberapa
kawah di TWA Kamojang.
Durasi waktu yang dimanfaatkan dalam kegiatan fotografi dilakukan selama
2 hingga 3 jam, dengan mengelilingi lokasi kawah dan berhenti di beberapa titik
dengan view yang terbaik, sasaran dalam kegiatan fotografi adalah beberapa
kalangan seperti remaja, dewasa, fotografer, dan kegiatan foto prewedding.
d. Sumber Mata Air Panas
Variasi manifestasi panas bumi merupakan keunikan dari suatu gejala
alamdi TWA Kawah Kamojang, variasi tersebut membuktikan kekayaan alam
kamojang. Salah satu dari variasi manifestasi yang lainya adalah keberadaan
sumberdaya ekowisata berupa mata air panas. Mata air panas di TWA Kawah
Kamojang berasal dari beberapa sumber. Sumber mata air tersebut berasal dari
Kawah Hujan, Kawah Cibuliran dan Kawah Bereum yang berada di perbatasan
TWA Kawah Kamojang dengan CA Kamojang. Air panas tersebut dimanfaatkan
sebagai media wisata dengan aktifitas utama berupa pemandian air panas yang
berbentuk kamar rendam dan bilas.

Gambar 39 Sumber Mata Air Panas di TWA Kawah Kamojang


Fenomena alam berupa sumber air panas di TWA Kawah Kamojang,
merupakan pemandian dengan mata air yang mengeluarkan air panas alami.
Hingga saat ini pengelola wisata masih memanfaatan sumber air panas alami
tersebut sebagai kamar pemandian. Padahal, sumber air panas ini mempunyai
potensi lain yang dapat dikembangkan. Adanya fasilitas baru, diharapkan dapat
mengalihkan pengunjung dari tempat pemandian umum. Kegiatan berendam air
panas merupakan kegiatan yang sudah ada di TWA Kawah Kamojang, namun
kegiatan ini masih perlu dikembangkan mengingat potensi air panas yang cukup
besar.
Selain itu, pengembangan Potensi sumber air panas di TWA Kawah
Kamojang ini juga diharapkan dapat memaksimalkan dan mendongkrak potensi

serta mengenalkannya kepada khalayak yang lebih luas serta meningkatkan nilai
kompetitif sumber air panas yang terdapat pada kawasan Kamojang. TWA Kawah
Kamojang membutuhkan suatu fasilitas wisata relaksasi berupa kolam pemandian
air panas sebagai salah satu usaha pengoptimalan potensi kepariwisataan. Hal
tersebut mampu mempertahankan dan meningkatkan jumlah pengunjung dimasa
yang akan datang, serta diharapkan menjadi satu icon baru bagi kawasan wisata
air panas TWA Kawah Kamojang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut
diperlukan pengembangan kolam pemandian air panas di TWA Kawah kamojang,
sebagai fasilitas pelengkap wisata.

Gambar 40 Rancangan Pengembangan Sumber Mata Air Panas


di TWA Kawah Kamojang
e. Peninggalan Sejarah
Barang-barang yang mengandung nilai sejarah sangat menarik untuk
dijadikan bahan interpretasi bagi pengunjung yang menginginkan informasi.
Pengunjung akan merasa berada dizaman barang tersebut berada, apabila
informasi yang disampaikan adalah data yang tepat dan lengkap. Kekurangan
pemanfaatan sumberdaya tersebut masih belum dikembangankan oleh pengelola,
maka dari itu untuk menunjang dan memanfaatkan keberadaan barang-barang
bersejarah tersebut diperlukan pemaparan informasi baik berupa papan
interpretasi, booklet ataupun pemaparan dari seorang interpreter.

159

Gambar 41 Rancangan Papan Interpretasi Peninggalan Sejarah


Barang-barang peninggalan sejarah di TWA Kawah Kamojang tersebar
dibeberapa daerah di kawasan tersebut. Kondisi dari beberapa barang-barang
peninggalan sejarah tersebut masih cukup layak untuk dikembangkan dalam
kegiatan wisata. Titik-titik lokasi penyebaran peninggalan sejarah tersebut tidak
begitu jauh sehingga dapat dijangkau oleh seluruh pengunjung TWA Kawah
Kamojang. Barang-barang yang menjadi peninggalan sejarah tersebut adalah
berupa pipa-pipa dan sumur-sumur pemboran pada zaman kolonial Belanda yang
sudah tidak aktif dan tidak berfungsi, namun dari konstrukutur barang tersebut
memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri bagi pengunjung yang akan melihat
peninggalan sejarah tersebut.

Gambar 42 Sebaran Peninggalan Sejarah


di TWA Kawah Kamojang

f. Area Geothermal Kamojang


Eksplorasi terpadu yang dilakukan sejak tahun 1964 menunjukkan lapangan
Kamojang adalah lapangan sistem uap kering dengan potensi 300 MWe.
Lapangan panas bumi Kamojang berada dalam wilayah Kabupaten Bandung,
Jawa Barat. Lapangan ini berjarak 17 km Barat laut Garut atau 42 km Tenggara
Bandung, dan berada pada ketinggian 1640 - 1750 m diatas permukaan laut.
Secara
geografis,
lapangan
Kamojang
terletak
pada
posisi
107037,5 107 048 BT dan 7 05,5 - 7016,5 LS. Sebagai lapangan panas bumi
pertama di Indonesia, lapangan Kamojang berpotensi 300 MWe. Melalui
24 sumur produksi, dewasa ini telah dihasilkan energi listrik 140 MWe dan akan
dikembangkan hingga 200 Mwe.

Gambar 43 Peta Prospek Lapangan Geothermal Kamojang


(Sumber PLTP Pertamina Area Geothermal Kamojang)

Pengembangan kegiatan yang memanfaatkan aktivitas pemboran di sekitar


TWA Kawah Kamojang dapat dilaksanakan dengan baik. Apabila kegiatan
tersebut dimasukkan kedalam program kegiatan wisata yang menunjang di TWA
Kawah Kamojang, maka kegiatan yang dapat dilakukan adalah interpretasi segala
jenis komponen pemboran gas di TWA Kawah Kamojang, seperti pengenalan dan
pemberian informasi mengenai alat-alat dan hasil dari pemboran tersebut.
g. Area Perkemahan
Perkemahan di TWA Kawah Kamojang merupakan suatu kegiatan yang
masih sangat diminati oleh banyak pengunjung dari beberapa kalangan. Kegiatan
berkemah dapat dilaksanakan dengan baik dengan menambah beberapa fasilitas
dan area perkemahan yang tertata sedemikian rupa. Penambahan fasilitas seperti
arena outbond akan membuat kegiatan berkemah semakin lengkap, karena selain
didukung oleh lingkungan, juga dengan keberadaan sumberdaya wisata lainnya.

161

Gambar 44 Rancangan Pengembangan Area Perkemahan


di TWA Kawah Kamojang
Kegiatan camping dapat dikembangkan secara baik di TWA Kawah
Kamojang. Pengembangan kegiatan dilakukan melihat potensi lahan yang tersedia
dapat dimaksimalkan secara baik. Pengembangan kegiatan ini dapat dilakukan
dengan penyediaan site yang telah tersusun rapih dan ditunjang dengan pengadaan
tenda yang siap untuk dipasang, kegiatan camping menjadi lebih efektif karena
dekat dengan fasilitas umum yang mendukung. Ketertarikan pengunjung dalam
melakukan kegiatan camping dapat dilihat apabila kegiatan tersebut ditunjang
dengan penyediaan peralatan pendukung untuk camping. Sasaran dari kegiatan di
TWA Kawah Kamojang dapat menjangkau seluruh kalangan baik pengunjung
anak-anak hingga dewasa.
Pengembangan area perkemahan di TWA Kawah Kamojang harus didasari
dengan penataan lahan dan keterkaitan akan nilai konservatif lingkungan sekitar.
Kegiatan berkemah di TWA Kawah Kamojang dapat menjadi suatu kegiatan yang
baik apabila di dukung dengan daya dukung lain seperti pengelolaan, pengaadaan
sarana dan prasarana, juga penambahan fasilitas yang akan mendukung kegiatan
berkemah di TWA Kawah Kamojang.
h. Penginapan Wisata Kawah Kamojang
Penginapan wisata di TWA Kawah Kamojang berfungsi sebagai tempat
peristirahatan dan berkumpul, juga sebagai tempat untuk menikmati kekhasan
udara dan pemandangan pegunungan di sekitar TWA Kawah kamojang. Fasilitas
di TWA Kawah Kamojang dapat dikembangkan lebih baik lagi, dengan
pengadaan, penambahan, dan perawatan fasilitas yang membuat pengunjung
nyaman untuk beristirahat di Penginapan Wisata TWA Kawah Kamojang.
Penginapan wisata di TWA Kawah Kamojang juga dapat dimanfaatkan sebagai
audiotorium bagi pengunjung yang ingin mendapatkan informasi seputar TWA
Kawah Kamojang melalui penayangan video dan pemaparan pengelola.

Gambar 45 Penginapan Wisata di TWA Kawah Kamojang tampak depan


5.5.4 Rancangan Pengembangan Kegiatan Ekowisata Alam
TWA Kawah Kamojang memiliki potensi wisata yang menarik bagi
pengunjung baik flora, fauna dan gejala maupun bentang alamnya. Dengan
adanya berbagai potensi wisata tersebut, maka akan dirancanglah beberapa
kegiatan ekowisata alam yang dapat menarik minat pengunjung untuk datang ke
kawasan tersebut. Pengunjung dapat memilih kegiatan ekowisata alam yang di
inginkan menurut keinginannya.
Tabel 19 Rancangan Pengembangan Kegiatan Ekowisata Alam
No
1.

Kegiatan
Mandi Uap

Lokasi
Kawah Hujan

2.

Berendam Air
Panas

Kamar Rendam
Kolam Renang

3.

Menikmati
Pemandangan Alam

Seputar Kawasan
TWA Kawah
Kamojang

4.

Berkemah

Area Perkemahan

5.

Trekking Hutan

Sepanjang Jalur
Setapak Hutan

6.

Fotografi

Seputar Kawasan
TWA Kawah
Kamojang

Deskripsi Kegiatan
menikmati terapi thermal spa dari
fumarol yang ditimbulkan di kawah
hujan, dengan pemandangan alam yang
indah dan udara yang sejuk.
menikmati khasiat thermal spa dari hot
spring yang mengandung belerang, dapat
dengan privasi di kamar rendam ataupun
di kolam renang terbuka.
menikmati panorama alam dan keunikan
manifestasi panas bumi di TWA Kawah
Kamojang, bentangan hutan yang terlihat
dipadu dengan udara yang sejuk dan
menenangkan.
. bermalam di TWA Kawah Kamojang
dengan zona camping yang telah
disedikan, suasana alami hutan dengan
dilengkapi udara yang sejuk.
trekking hutan adalah bentuk kegiatan
lintas alam dengan cara menelusuri area
hutan TWA Kawah Kamojang dengan
fokus interpretasi di sepanjang jalur.
menikmati spot-spot pemandangan dan
keunikan gejala alam di TWA Kawah
Kamojang, dengan mengabadikan dalam
bentuk gambar dengan kesan kawasan
hutan.

163

a. Mandi Uap
Kegiatan ekowisata seperti mandi uap merupakan suatu kegiatan yang
jarang ditemui diperkembangan kegiatan-kegiatan ekowisata yang lainnya.
Kegiatan thermal spa seperti ini sangat bermanfaat bagi pengunjung, terutama
bagi pengunjung yang menginginkan kegiatan wisata kesehatan.
Kegiatan ekowisata mandi uap dapat ditemui di TWA Kawah Kamojang,
salah satu obyek yang menyediakan kegiatan mandi uap adalah obyek wisata
Kawah Hujan. Kawah Hujan memiliki keunikan variasi dari manifestasi panas
bumi berupa fumarol atau salah satu bentuk dari keluarnya uap bumi yang
mengandung kandungan air tinggi dan mengandung zat-zat belerang yang cukup
untuk memulihkan kondisi tubuh manusia.
Kegiatan mandi uap di TWA Kawah Kamojang dapat di kembangkan
menjadi salah satu daya tarik utama di lokasi tersebut. Dengan peningkatan
bentuk fasilitas dan interpretasi dari obyek tersebut akan membuat pengunjung
lebih faham dan terarah dalam melakukan kegiatan wisata. Fasilitas yang dapat
dibangun untuk menujang kegiatan mandi uap di TWA Kawah Kamojang adalah
dengan diadakanya ruang khusus untuk pengunjung yang ingin menfaatkan variasi
manifestasi panas bumi tersebut. Interpretasi merupakan hal yang terpenting
untuk membuat kegiatan mandi uap lebih baik, interpretasi di obyek wisata
Kawah Hujan dapat berupa papan interpretasi yang mengisikan keteranganketerangan seperti informasi jenis dari variasi manifestasi panas bumi, sejarah dan
manfaat dari adanya uap yang digunakan di kegiatan wisata mandi uap tersebut.
b. Berendam Air Panas
Kegiatan ekowisata yang memanfaatkan keberadaan sumberdaya mata air
panas masih menjadi primadona di beberapa tempat wisata, sumber mata air panas
di beberapa tempat wisata biasanya dijadikan salah satu obyek wisata dalam
bentuk hotspring atau pemandian air panas seperti kolam-kolam renang dan
kamar-kamar rendam. TWA Kawah Kamojang memiliki beberapa sumber mata
air panas, sumber mata air panas tersebut dimanfaatkan sebagai sumber mata air
yang disalurkan ke toilet dan kamar-kamar rendam.
Pada saat ini pemanfaatan keberadaan sumber mata air panas masih belum
dikembangkan begitu baik, ini dikarenakan keberadaan kolam penampungan dan
fasilitas lain yang menfaatkan sumber mata air panas masih belum ada di TWA
Kawah Kamojang. Pengembangan kegiatan ekowisata dengan memanfaatkan
sumber mata air panas dapat dilakukan dengan melalui keigiatan thermal spa yang
dilakukan dengan berendam di kamar-kamar rendam ataupun dengan diadakanya
fasilitas berupa klolam-kolam renang yang dapat membuat pengunjung berenang
ataupun berendam dengan pemandangan alam yang terbuka.
c. Menikmati Pemandangan Alam
Kegiatan wisata dilingkungan alami tentunya tidak lepas dari kondisi alam
yang membuat pengunjung merasa nyaman. Kondisi tersebut dimanfaatkan
pengunjung untuk menikmati pemandangan dan mendapatkan sensasi dari
kualitas alam yang tersedia. TWA Kawah Kamojang memiliki kondisi alam yang
tidak kalah dibandingkan dengan kawasan wisata lainnya.

TWA tersebut memiliki pemandangan alam yang indah dan dipadukan


dengan udara yang sejuk, sehingga sangat cocok untuk dijadikan salah satu tempat
untuk bersantai dan berekreasi. Selain itu, TWA Kawah Kamojang memiliki
keunikan tersendiri dari beberapa tempat wisata lainya, adanya beberapa kawah
yang menyeburkan asap yang cukup tebal ke udara, ini menjadikan pemandangan
alam di kawasan tersebut lebih memiliki ciri khas tersendiri.
d. Berkemah
Kegiatan ekowisata berkemah di TWA Kawah Kamojang pada dewasa ini
mengalami perubahan yang signifikan. Kegiatan berkemah di TWA Kawah
Kamojang dapat dilaksankan dengan kondisi lokasi yang tidak berbentuk bumi
perkemahan yang luas atau bertipe fixed camp. Dalam perkembangannya kini
pengunjung yang berkinginan untuk melakukan kegiatan berkemah masih dapat
dilakukan dengan tipe perkemahan seperti semi permanent camp dan temporary
camp. Pengembangan kegiatan berkemah di TWA Kawah Kamojang dapat
dilaksanakan dengan baik, selain karena didukung dengan kondisi alami di TWA
Kawah Kamojang juga dengan kondisi sarana dan prasarana yang cukup memadai
untuk menopang kegiatan berkemah.
e. Trekking Hutan
Kegiatan ini memungkinkan untuk dikembangkan mengingat pengunjung
yang didomonasi oleh kaum remaja dan orang dewasa. Kondisi alam yang cukup
menantang untuk kegiatan trekking hutan, merupakan pilihan kegiatan yang
sesuai dilakukan pengunjung usia remaja dan dewasa.
f. Fotografi
Kawasan-kawasan alam yang unik dan memiliki ciri khas tersendiri
tentunya masih diminati oleh beberapa kalangan pecinta fotografi, dengan kondisi
alam yang dimiliki oleh TWA Kawah Kamojang tentunya sangat layak untuk
dijadikan obyek-obyek dalam kegiatan fotografi, keunikan sumberdaya alam dan
keindahan panoramanya masih dapat memikat beberapa kalangan pengunjung
untuk berfoto. Kegiatan-kegiatan berfotografi di TWA Kawah Kamojang dapat
dilakukan oleh pengunjung ataupun bagi masyarakat yang datang sengaja untuk
berfoto prewedding. Pengembangan fasilitas yang menunjang kegiatan fotografi
adalah dengan disediakannya menara pandang dan spot khusus untuk
memudahkan para fotografi untuk mengambil gambar.
5. 5. 5 Rancangan Pengembangan Konsep Ekowisata Alam
A. Wisata Pendidikan Alam
Kegiatan wisata pendidikan yang langsung dilakukan di area hutan masih
sangat minim dan belum berkembang dengan pesat, maka dari itu kegiatan wisata
pendidikan alam di TWA Kawah Kamojang dinilai perlu untuk dikembangkan.
Potensi dari keberadaan sumberdaya wisata di TWA Kawah Kamojang sangat
beragam, seperti flora, fauna dan gejala alam yang berupa manifestasi panas bumi.
Selain itu, keberadaan peninggalan sejarah berupa pipa-pipa dan sumur bekas
pemboran panas bumi dari zaman kolonial Belanda dapat dimanfaatkan untuk
kegiatan wisata pendidikan.

165

Kegiatan ini difokuskan untuk menambah wawasan pengunjung tentang


sejarah pemanfaatan panas bumi sebagai pembangkit listrik. Sasaran pengunjung
adalah kelompok pelajar dengan usia 15-25 tahun.
B. Wisata Pendidikan Lingkungan
Kegiatan wisata pendidikan lingkungan merupakan kegiatan yang yang
lebih difokuskan kearah pemeliharaan dan pemanfaatan lingkungan hidup. Potensi
dari keberadaan kegiatan wisata di TWA Kawah Kamojang sebagai sarana
pendidikan lingkungan cukup banyak, seperti mengenalkan kegiatan persemaian
dan penanaman pohon, pengenalan keanekaragaman hayati dan pengumpulan
sampah di kawasan hutan. Kegiatan ini difokuskan untuk menambah wawasan
pengunjung tentang pelestarian lingkungan sebagai upaya konservasi dikawasan
tersebut. Sasaran pengunjung adalah kelompok pelajar dengan usia 15-25 tahun.
C. Wisata Kesehatan
Kegiatan-kegiatan wisata kesehatan dibeberapa daerah contohnya adalah
seperti kegiatan wisata berendam air panas dan pemanfaatan tumbuhan obat.
Wisata kesehatan dapat dikembangkan di TWA Kawah Kamojang karena di
lokasi ini memiliki potensi gejala alam berupa kawah yang mengandung belerang
dan sumber air panas.
Pengunjung dengan tujuan pengobatan dapat diarahkan dalam program
pengobatan seperti mandi uap di Kawah Hujan dan berendam air panas dengan
pemijatan alternatif. Kawasan hutan di TWA Kawah Kamojang memiliki
sumberdaya alam berupa tumbuhan obat hutan yang dapat dimanfaatkan juga
untuk menyokong kegiatan wisata kesehatan di TWA Kawah Kamojang.
Pengenalan tumbuhan obat dapat diupayakan dengan kegiatan interpretasi
tumbuhan obat dan pengolahan tumbuhan obat.
Sasaran pengunjung dengan motivasi wisata kesehatan adalah kelompok
lanjut usia (lansia), ini dibuktikan dengan sering adanya aktifitas lansia yang
datang berkunjung untuk menikmati khasiat refleksi dari mandi uap dan kamar
rendam air panas. Kelompok usia remaja dan dewasa juga masih sering terlihat
untuk menikmati aktifitas tersebut, biasanya kelompok remaja datang dengan
tujuan untuk refreshing dan menikmati kondisi alam Kamojang.
5.5.6 Rancangan Pengembangan Program Ekowisata Alam
A. Program Ekowisata Sehari
1. Program JEMARI Kamojang (Jelajah Alam Rimba Kamojang)
Program Jemari Kamojang merupakan program wisata yang ditujukan
untuk pengunjung yang ingin menikmati keindahan dan keunikan alam rimba di
TWA Kawah Kamojang. Konsep yang digunakan dalam program tersebut adalah
dengan menggunakan konsep wisata pendidikan alam. Fokus kegiatan dalam
program tersebut mengacu kepada pengenalan akan hutan berikut tipe dan
ekosistemnya, juga dengan pengenalan mengenai tata cara hidup mandiri di
kawasan hutan (survival). Keberadaan gejala alam berupa geothermal juga tidak
luput dalam pengembangan kegiatan di program ekowisata Jemari Kamojang.

Jumlah peserta dikegiatan tersebut dibuat berdasarkan pertimbangan dari


keberadaan daya tampung, sumberdaya pekerja dan manajemen resiko kegiatan.
Jumlah peserta di program Jemari Kamojang adalah 5-10 orang, ini dikarenakan
daya tampung trek dan bentuk kegiatan yang akan dilakukan pada program
tersebut.
Program Jemari Kamojang merupakan kegiatan dialam terbuka yang
dilakukan dengan waktu satu hari saja, diperuntukan bagi remaja-remaja dan
dewasa yang memungkinkan untuk melakukan kegiatan trekking yang
memerlukan fisik dan stamina yang kuat. Program ini akan menempuh jalan yang
cukup curam dan menantang kurang lebih 2 kilometer jarak yang akan ditempuh.
Peralatan yang harus dipersiapkan oleh peserta pada program Jemari Kamojang
adalah baju ganti, bekal makanan dan minuman, serta perlengkapan lain yang
dibutuhkan oleh peserta.
1

Berkumpul
di Lapangan
Desa Pangkalan

Hiking Jalur Hutan


Interpretasi
Sumur Panas Bumi

5
Pemberian Souvenir
Penutupan

3
Trekking Hutan

4
Rekreasi Mandi Uap
dan Air Panas

Obyek Sejarah
Sumur Bekas
Pemboran

Gambar 46 Bagan Alur Program Jemari Kamojang

Gambar 47 Sketsa Alur Kegiatan Jemari Kamojang

167

Tabel 20 Itenerary Program Jemari Kamojang


Konsep
Program
Tujuan
Jarak / Waktu
Durasi
Sasaran
Jumlah Peserta
Durasi
08. 00 WIB

08. 00 09. 00
WIB

09. 00-11. 00 WIB

11. 00-12. 00 WIB


12. 00-13. 00 WIB
13. 00-16. 00 WIB
16. 00 WIB
s/d Selesai

Ekowisata Pendidikan Alam


Ekowisata Sehari
Menikmati sumberdaya wisata alam serta memberikan pengetahuan
mengenai obyek-obyek yang terdapat di TWA Kawah Kamojang
3,5 km / 210 menit
8jam Efektif
Remaja
5-10 Orang
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Berkumpul
Perkenalan
di Lapangan
Ice breaking
Desa Pangkalan
Deskripsi singkat mengenai kegiatan
Pemaparan mengenai safety procedure
Hiking Menuju
Peserta diperbolehkan mengambil foto
Kawasan Hutan
obyekmenarik selama perjalanan menuju
loket
Menikmati dan mendapatkan pengetahuan
mengenai geothermal
Trekking Hutan
Penjelasan memasuki kawasan
Peserta melanjutkan perjalanan di hutan
Peserta mendapatkan pengetahuan mengenai
flora, fauna dan panas bumi
Pengenalan survival
Kawasan Sejarah
Peserta mendapatkan pengetahuan mengenai
Bekas Pemboran
sejarah pemboran zaman Belanda
Istirahat
Peserta diperkenankan untuk membuka bekal
makanan dan minuman
Rekreasi Mandi Uap
Peserta diperkenankan untuk menikmati
dan Air Panas
kegiatan wisata mandi uap dan air panas
Pemberian Souvenir
Peserta diberikan souvenir berupa syal dan
dan Penutupan
pin
Penutupan

Peserta yang akan mengikuti program Jemari Kamojang, pertama-pertama


berkumpul di lapangan Desa Pangkalan sambil melaksanakan kegiatan perkenalan
dan ice breaking. Peserta akan diberi pengarahan dan pengenalan singkat
mengenai kawasan dan kegiatan, sebelum berangkat peserta akan dijamu oleh
panitia dengan memberikan welcome drink. Panitia akan memperkenalkan diri
terlebih dahulu untuk mengakrabkan peserta satu sama lain, serta memberikan
arahan mengenai safety procedure. Peserta mendapatkan pengetahuan mengenai
pembangkit tenaga listrik dari energi panas bumi oleh pemandu. Peserta diajak
menuju kawasan hutan untuk melakukan kegiatan trekking hutan. Peserta akan
diperkenalkan dengan berbagai macam flora dan fauna hutan, dengan beroleh
informasi dari interpretasi pemandu. Peserta juga akan mendapatkan praktik
langsung mengenai tata cara bertahan hidup dikawasan hutan, seperti membangun
bivak, mencari makanan di hutan dan cara berlindung dari satwa. Selanjutnya
peserta berkumpul kembali di area perkemahan untuk istirahat dan menikmati
makanan dan minuman yang telah disediakan, serta diperkenankan untuk
melakukan kegiatan rekreasi mandi uap dan air panas. Setelah semua rangkaian
kegiatan berakhir peserta diperkenankan untuk bersiap-siap pulang dan persiapan
evaluasi. Peserta berhak mendapatkan syal dan pin sebagai tanda telah melakukan
program ekowisata alam Jemari Kamojang.

2. Program RELASI (Rekreasi Lanjut Usia Sehat dan Berenergi)


Program Relasi merupakan program wisata yang ditujukan untuk
pengunjung yang ingin menikmati khasiat dari refleksi mandi uap dan berendam
air panas. Konsep yang digunakan dalam program tersebut adalah dengan
menggunakan konsep wisata kesehatan. Fokus kegiatan dalam program tersebut
mengacu terhadap refleksi dan relaksasi melalui kegiatan mandi uap dan
berendam air panas. Kegiatan interpretasi dan pengolahan tumbuhan obat juga
diberikan dalam kegiatan ini. Lanjut usia dipilih dalam kegiatan tersebut, ini
berdasarkan hasil dari sebaran kuisioner yang menyebutkan kelompok lansia
sebagai pengunjung terbanyak kedua di TWA Kawah kamojang.
Jumlah peserta dibuat berdasarkan pertimbangan dari keberadaan daya
tampung, sumberdaya pekerja dan manajemen resiko kegiatan. Jumlah peserta di
program Relasi maksimal 8 orang, ini dikarenakan karakteristik lansia yang
terbilang cukup sensitif juga dengan bentuk kegiatan yang akan dilakukan pada
program tersebut adalah program dengan bentuk kegiatan yang ringan. Program
Relasi merupakan kegiatan dialam terbuka yang dilakukan dengan waktu satu
hari saja. Pada program Relasi kegiatan dibuat dengan kegiatan-kegiatan ringan
namun tetap menjalin kebersamaan antara peserta yang berusia lanjut. Peralatan
yang harus dipersiapkan oleh peserta pada program Relasi adalah baju ganti,
bekal minuman, serta perlengkapan lain yang dibutuhkan oleh peserta.
1

2
Berkumpul di TWA
Kawah Kamojang

3
Pengolahan
Tumbuhan Obat

Jalan-jalanSehat

4
Penutupan

Rekreasi Mandi
Uap dan Air Panas

Gambar 48 Bagan Alur Program Relasi

Gambar 49 Sketsa Alur Kegiatan Relasi

169

Tabel 21 Intenerary Program Relasi


Konsep
Program
Tujuan
Jarak / Waktu
Durasi
Sasaran
Jumlah Peserta
Durasi
09. 00 WIB

09. 00-10. 00 WIB

10. 00-11. 00 WIB


11. 00-13. 00 WIB

13. 00 WIB
s/d selesai

Ekowisata Kesehatan
Ekowisata Sehari
Menikmati sumberdaya wisata alam serta memberikan pengetahuan
mengenai informasi kesehatan di TWA Kawah Kamojang
400 m / 40 menit
6 Jam Efektif
Lanjut Usia
Maksimal 8 Orang
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Berkumpul di TWA
Welcome drink
Kawah Kamojang
Perkenalan
Deskripsi singkat mengenai kegiatan
Jalan-jalan Sehat
Peserta mendapatkan pengetahuan mengenai
bekas pemboran di zaman belanda, flora,
fauna, manifestasi panas bumi
Peserta mendapatkan interpretasi mengenai
pemanfaatan tumbuhan obat
Pengolahan
Peserta ditunjukan cara-cara mengolah
Tumbuhan Obat
tumbuhan obat
Rekreasi Mandi Uap
Peserta diperkenankan untuk menikmati
dan Air Panas
kegiatan wisata mandi uap dan air panas.
Peserta yang memilih kegiatan mandi uap
diberi pengarahan pemanfaatan pernapasan di
aktivitas mandi uap
Istirahat dan
Peserta diperkenankan untuk membuka bekal
Penutupan
makanan dan minuman
Peserta dikumpulkan kembali untuk evaluasi

Peserta yang akan mengikuti program Relasi, berkumpul TWA Kawah


Kamojang sambil melaksanakan kegiatan perkenalan dan ice breaking. Peserta
akan diberi pengarahan dan pengenalan singkat mengenai kawasan dan kegiatan,
sebelum berangkat peserta akan dijamu oleh panitia dengan memberikan welcome
drink. Panitia pelaksana akan memperkenalkan diri terlebih dahulu untuk
mengakrabkan peserta satu dan yang lainya serta memberikan arahan mengenai
safety procedure.
Kegiatan pada program Relasi dimulai dengan jalan-jalan mengelilingi
kawasan TWA Kawah Kamojang. Peserta juga akan mendapatkan pengetahuan
informasi mengenai jenis dan pemanfaatan tumbuhan obat dari pemandu yang
mendampingi. Peserta diperkenankan bertanya dan mengabadikan moment dalam
bentuk kegiatan fotografi. Selanjutnya peserta diajak menuju tempat pengolahan
tumbuhan obat. Peserta diperkenankan untuk melakukan kegiatan rekreasi mandi
uap dan pemandian air panas. Setelah semua rangkaian kegiatan berakhir peserta
diperkenankan untuk pulang.

B. Program Ekowisata Menginap


1. Program CLOWIN (Closed with Nature)
Program Clowin dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan istilah dekat
dengan alam. Kegiatan ini menitikberatkan pada kegiatan wisata pendidikan
lingkungan yang berlangsung selama dua hari satu malam. Fokus kegiatan dalam
program tersebut mengacu kepada pengenalan akan keanekaragaman hayati dan
ekosistem, juga dengan pengenalan mengenai hidup mandiri di lingkungan yang
terbuka (camping).
Kegiatan-kegiatan lingkungan seperti persemaian, penanaman pohon dan
kebersihan hutan tidak akan luput dari kegiatan pada program tersebut. Program
Clowin diperuntukan bagi remaja dan orang dewasa yang memiliki fisik dan
stamina yang kuat, ini disebapkan pada program Clowin peserta disuguhkan oleh
beberapa aktifitas yang seru dan cukup menguras tenaga. Jumlah peserta
dikegiatan tersebut dibuat berdasarkan pertimbangan dari keberadaan daya
tampung jalur trekking, daya tampung area perkemahan, daya tampung MCK,
sumberdaya pekerja dan manajemen resiko kegiatan. Jumlah peserta di program
Clowin adalah 10-20 orang, ini dikarenakan penyesuaian akan daya tampung
dan manajemen resiko dari kegiatan bermalam pada program Clowin. Alat
tambahan yang boleh dibawa oleh peserta adalah kamera dan teropong, kamera
diperlukan oleh peserta karena untuk mengambil obyek-obyek menarik seperti
satwa, tumbuhan, kawah-kawah, sumur-sumur peninggalan belanda dan
pemandangan alam. Peserta yang mengikuti program ini akan didampingi oleh
pemandu lokal yang ahli dan mengerti akan seluruh obyek-obyek wisata.

Berkumpul
di TWA Kawah
Kamojang

3
Mendirikan Tenda

Ice Breaking

4
Rekreasi Mandi
Uap dan Air Panas

Aktivitas
CampingApi Unggun

Trekking Hutan
Hari Pertama

8
Persemaian dan
Penanaman Pohon

7
Outbond

Evaluasi dan
Penutupan
Hari Kedua

Gambar 50 Bagan Alur Program Clowin

171

Gambar 51 Sketsa Alur Kegiatan CloWin


Tabel 22 Intenerary Program Clowin
Konsep
Program
Tujuan
Jarak / Waktu
Durasi
Sasaran
Jumlah Peserta
Durasi
Hari Pertama
07. 00 WIB

Ekowisata Pendidikan Lingkungan


Ekowisata Bermalam
Mengenal alam lebih dekat, serta melatih kemandirian dan kekompakan
5 km / 300 menit
2 Hari 1 Malam
Remaja dan Dewasa
10-20 Orang
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan

07. 00-08. 00
WIB

Mendirikan Tenda

08. 00-09. 00
WIB

Ice Breaking
dan Pemberian Materi
Survival

09. 00-12. 00
WIB

Trekking Hutan

Berkumpul di TWA
Kawah Kamojang

Welcome drink
Perkenalan
Deskripsi singkat mengenai kegiatan
Pemaparan mengenai safety procedure
Peserta diberikan penjelasan mengenai cara
mendirikan tenda
Peserta mendirikan tenda sesuai anggota
kelompoknya masing-masing
Peserta melakukan game kecil untuk
menjalin kebersamaan
Peserta diberi materi pengenalan cara
bertahan hidup (survival)
Peserta melakukan perjalanan mengelilingi
area hutan
Peserta diperkenalkan dengan flora dan
fauna melalui interpretasi
Peserta diperkenalkan teknik survival
Peserta diperkenankan mengambil foto
selama kegiatan

Durasi
12. 00-13. 00
WIB

Kegiatan
Istirahat

13. 00-15. 00
WIB
15. 00 WIB s/d
Malam Hari

Lomba Ketangkasan
Survival
Rekreasi Mandi Uap dan
Pemandian Air Panas

Malam Hari
Hingga Pagi Hari

Aktivitas Camping dan


Api Unggun

Hari Kedua
07. 00-09. 00 WIB

Olahraga

09. 00-10. 00 WIB

Persemaian dan
penanaman Pohon

10. 00-12. 00 WIB

Outbond

12. 00 WIB

Evaluasi dan
Penutupan

Deskripsi Kegiatan
Peserta kembali menuju area perkemahan
diperkenankan untuk makan dan minum
yang telah disediakan
Peserta mengikuti lomba
Peserta diperkenankan untuk menikmati
kegiatan wisata mandi uap dan pemandian
air panas di kawasan TWA Kawah
Kamojang
Peserta diperkenankan untuk acara bebas
Peserta diperkenankan untuk melakukan
aktivitas kebersamaan seperti roll play dan
game kebersamaan.
Peserta mengikuti acara api unggun
Peserta diperkenankan untuk istirahat
Peserta sarapan sebelum memulai acara
Kegiatan olahraga pagi
Peserta belajar tentang pembibitan
Peserta mendapatkan bibit tanaman, untuk
penanaman bersama
Peserta diberikan pengarahan mengenai
kegiatan outbond
Peserta melakukan permainan outbond
Pemberian souvenir berupa syal dan pin
Pulang

Kegiatan program Clowin diawali dengan peserta berkumpul di TWA


Kawah Kamojang untuk berkenalan dengan panitia dan peserta lain. Peserta akan
diberi pengarahan dan pengenalan singkat mengenai kawasan dan kegiatan.
Sebelum berangkat, peserta akan dijamu oleh panitia dengan memberikan
welcome drink. Panitia pelaksana akan memperkenalkan diri terlebih dahulu
untuk mengakrabkan peserta satu dan yang lainya serta memberikan arahan
mengenai safety procedure. Panitia akan membagi peserta ke beberapa kelompok
untuk selanjutnya mendirikan tenda berdasarkan kelompok yang telah dibagi.
Peserta akan melakukan beberapa game ringan untuk meningkatkan kebersamaan
diantara sesama peserta program Clowin, selanjutnya peserta akan mendapatkan
beberapa materi berupa upaya dan tata cara bertahan hidup dikawasan hutan
secara berdiskusi langsung.
Peserta diajak menuju kawasan hutan kegiatan trekking hutan. Peserta akan
diperkenalkan dengan berbagai macam flora dan fauna hutan dengan beroleh
informasi dari interpretasi pemandu. Peserta akan mendapatkan praktik langsung
mengenai tata cara bertahan hidup dikawasan hutan seperti membangun bivak,
mencari makanan di hutan dan cara berlindung dari satwa buas. Peserta
diperkenankan bertanya dan mengabadikan moment dalam bentuk kegiatan
fotografi. Selanjutnya peserta akan berkumpul kembali di area perkemahan untuk
istirahat dan menikmati makanan dan minuman yang telah disediakan, selanjutnya
peserta diperkenankan untuk melakukan kegiatan rekreasi mandi uap dan
pemandian air panas.

173

Hari kedua peserta akan melakukan kegiatan olahraga dipagi hari, setelah
itu sarapan dan persiapan untuk kegiatan persemaian dan penanaman pohon.
Peserta akan diajak untuk membuat persemaiaan dan tata cara penanaman pohon
yang baik. Kegiatan outbond dibentuk dalam bentuk kelompok, untuk menjalin
kebersamaan yang lebih lagi antar peserta. Peserta akan melakukan kegiatan
evaluasi berupa flash back kegiatan dan mengambil makna dari setiap kegiatan
yang telah dilaksanakan, peserta akan melakukan kegiatan terakhir berupa
penanaman pohon sebagai wujud kepeduliaan terhadap lingkungan. Peserta
berhak mendapatkan syal dan pin sebagai tanda telah melakukan program
ekowisata alam Clowin
5.5.7 Optimalisasi dan Peluang Pengembangan Ekowisata Alam
Berdasarkan proses pengerjaan Tugas Akhir di TWA Kawah Kamojang,
didapatkan beberapa informasi mengenai bentuk dan kegiatan wisata yang selama
ini telah berjalan di kawasan tersebut. Pengoptimalisasian program-program
ekowisata yang dirancang, merupakan hasil dari kajian dari beberapa indikasi
yang mempengaruhi kegiatan wisata seperti kuisioner, wawancara, penilaian
potensi dan perbandingan dengan bentuk kegiatan wisata di tempat lain.
Kerjasama dalam penawaran paket wisata di TWA Kawah Kamojang, telah
dilakukan oleh pengelola dengan beberapa event orginaizer, namun bentuk
kegiatan masih berupa kegiatan wisata konvensional dan belum dikembangkan
dengan baik. Maka dari itu program-program yang dirancang dapat diselaraskan
dengan demand dari pengunjung dan difasilitasi oleh pengelola. Berdasarkan hasil
wawancara kepada beberapa event orginaizer yang datang ke TWA Kawah
Kamojang, menyatakan setuju untuk melakukan kerjasama pelaksanaan program
ekowisata alam bersama pengelola.
5.5.8 Rancangan Media Promosi
Booklet yang dirancang dalam mempromosikan TWA Kawah Kamojang
Berjudul tentang Program Ekowisata Alam di TWA Kawah Kamojang. Kertas
yang digunakan adalah kertas artpaper dengan ukuran 15 cm x 42 cm. untuk tipe
huruf yang digunakan dalam booklet yaitu tekton pro dan papyrus dengan ukuran
12. Booklet didominasai oleh warna hitam, hijau, dan cokelat. Booklet tersebut
terdiri dari 16 lembar yang berisi tentang potensi-potensi wisata yang terdapat di
TWA Kawah Kamojang yang didominasi oleh foto-foto dan beberapa penjelasan.
Promosi dengan menggunakan booklet dapat memudahkan pemasaran dari
paket ataupun program ekowisata yang ada di TWA Kawah Kamojang. Promosi
dapat dilakukan dengan memberikan booklet ke sekolah-sekolah ataupun
komunitas-komunitas lingkungan dan pecinta alam, untuk menarik kelompok
pelajar berekreasi dengan mendapatkan edukasi di TWA Kawah Kamojang.
Program RELASI yang dikhususkan untuk sasaran lansia, juga dapat di
promosikan ke Panti Jompo ataupun komunitas sosial yang nantinya mampu
mengajak para lansia untuk berwisata di TWA Kawah Kamojang.

Gambar 52 Rancangan Desain Cover Booklet

Gambar 53 Rancangan Desain Isi Booklet

175

6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
1.

TWA Kawah Kamojang memiliki potensi dan sumberdaya wisata yang


potensial untuk dikembangkan kedalam kegiatan ekowisata alam. Keindahan
alam yang terkait dengan keadaan hutan dan sumberdaya wisata yang
diakibatkan aktivitas panas bumi merupakan ciri khas potensi ekowisata di
TWA Kawah Kamojang. Potensi sumberdaya ekowisata alam yang terdapat
di TWA Kawah Kamojang terdiri dari kawah, panorama alam, sumber air
panas, flora, fauna dan peninggalan sejarah. Potensi sumberdaya ekowisata
tersebut dapat dijadikan sebagai obyek dan daya tarik wisata dalam
pengembangan program ekowisata alam yang akan dikembangkan.

2.

Fasilitas dan aksesibilitas di TWA Kawah Kamojang memiliki kondisi cukup


baik dan sangat cocok untuk dikembangakan dalam kegiatan pengembangan
ekowisata alam, namun beberapa fasilitas tidak berfungsi dengan baik
dikarenakan kurangnya pengawasan dari pihak pengelola. Aksesibilitas
menuju kawasan wisata terlihat sangat baik dengan kondisi jalan aspal yang
mulus, namun kurangnya tanda petunjuk jalan menuju TWA Kawah
Kamojang menjadikan aktivitas wisata sedikit terhambat.

3.

Karakteristik pengunjung di TWA Kawah Kamojang berdasarkan jenis


kelamin didominasi oleh laki-laki. Usia pengunjung yang mendominasi
adalah 15-25 tahun dengan jumlah 48%, sedangkan karakteristik umur diatas
50 tahun (lanjut usia) berjumlah 36%. Berdasarkan status pernikahan
didominasi oleh pengunjung yang berstatus sudah menikah, rata-rata
pengunjung yang datang di TWA Kawah Kamojang berpendidikan SMA dan
Perguruan Tinggi. Kebanyakan pengunjung yang datang berasal dari daerah
Garut dan Bandung. Pengunjung TWA Kawah Kamojang pada umumnya
setuju dengan berbagai pengembangan kegiatan wisata seperti thermal spa,
kolam air panas, trekking hutan, wisata pengobatan dan wisata pendidikan
geothermal.

4.

Karakteristik umur dari masyarakat setempat TWA Kawah Kamojang


didominasi oleh penduduk dengan usia diatas 30 tahun, didominasi oleh
kaum laki-laki dengan status sudah menikah, serta berprofesi sebagai
petani,wiraswasta, karyawan dari PT Pertamina Area Geothermal dan PT
Indonesia Power.Kesiapan masyarakat terhadap adanya pengembangan
ekowisata alam dinilai siap, demga pilihan kesiapan seperti pemandu,
penyedia transportasi, penginapan dan pekerja.

5.

Pengelola TWA Kawah Kamojang dinyatakan siap untuk menyediakan


sarana dan prasarana, kerjasama dengan masyarakat, menerima kritik dan
saran, interpretasi seta keselamatan pengunjung dalam pengembangan
ekowisata alam dengan nilai 3 atau siap.

6.

Konsep dalam pengembangan kegiatan ekowisata alam di TWA Kawah


Kamojang adalah wisata pendidikan alam, wisata pendidikan lingkungan dan
wisata kesehatan. Program wisata dibuat berdasarkan pada karakteristik,
motivasi, dan persepsi pengunjung, sehingga menghasilkan program wisata
harian Jemari Kamojang (Jelajah Alam Rimba Kamojang) dan RELASI
(Rekreasi Lanjut Usia Sehat dan Berenergi), serta program wisata bermalam
CloWin (Closed with Nature).

7.

Booklet yang dirancang berjudul Program Ekowisata Taman Wisata Alam


Kawah Kamojang, dengan ukuran 15x42 cm dan kertas yang digunakan
adalah art paper. Diisi oleh banyak display desain dan foto, yang menyatakan
potensi, kegiatan dan program wisata yang dikembangkan.
6.2 Saran

1.

Pengelola dapat memberikan respon positif terhadap pengembangan


ekowisata alam yang telah dirancang.

2.

Perlunya penambahan sumber daya manusia yang terampil dan berkualitas,


agar kegiatan ekowisata alam yang berlangsung di masing-masing obyek
dapat berjalan dengan optimal.

3.

Potensi wisata di TWA Kawah Kamojang cukup tinggi, oleh karena itu perlu
diberikan sosialisasi yang intensif kepada masyarakat sehingga masyarakat
melindungi potensi tersebut dan menyadari bahwa wisata dapat menjadi
alternatif untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

4.

TWA Kawah Kamojang perlu diberikan penambahan prasarana, sarana, dan


fasilitas penunjang kegiatan wisata dengan pertimbangan daya dukung fisik,
ekologi dan edukasi bagi pengunjung.

5.

Pengelola melakukan pengembangan wisata dengan konsep ekowisata untuk


menjaga kelestarian kawasan dan keutuhan ekosistem, serta meningkatkan
perekonomian masyarakat.

6.

Perlunya pelatihan-pelatihan kewirausahaan, keterampilan dan pelayanan


wisata untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat setempat, sehingga
masyarakat dapat siap dan mampu untuk menjalankan pengembangan
ekowisata alam di TWA Kawah Kamojang.

177

DAFTAR PUSTAKA

Alikodra HS. 1994. Dampak Rekreasi di Taman Nasional Gunung Gede


Pangrango terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Informal
Masyarakat Desa Sekitarnya [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana,
Institut Pertanian Bogor.
Alikodra

HS. 2010. Teknik Pengelolaan Satwa Liar dalam rangka


Mempertahankan Keanekaragaman Hayati Indonesia. Bogor: IPB
Press.

Alisjabana. 2001. Model Peran Serta Masyarakat dan Swasta serta Pemuda dalam
Pengelolaan dan Pembangunan Kota dalam Manajemen Lingkungan
Perkotaan.
Surabaya: Lembaga Penelitian, Institut Teknologi
Surabaya.
Anonim.

2000. Indikator Pemerintah dalam Pembangunan


Berkelanjutan. Jakarta: CV Remaja Karya.

Pariwisata

Avenzora R. 2008. Penilaian Potensi Obyek Wisata: Aspek dan Indikator


Penilaian. Di dalam: Avenzora R, editor. 2008. Ekoturisme: Teori
dan Praktek. Banda Aceh: BRR NAD dan Nias. hlm252-253 dan 256259.
Badrudin B. 2000. Pariwisata Indonesia menuju World Class Tourism.
Jurnal Akuntansi dan Manajemen5(3): 15-18.
Basuni S, Kosmaryandi N. 2008. Pembangunan Ekowisata pada Kawasan Hutan
Konservasi. Di dalam:Avenzora R, editor. 2008. Ekoturisme:
Teori dan Praktek. Banda Aceh: BRR NAD dan Nias.
[BKSDA] Balai Konservasi Sumberdaya Alam Jawa Barat II. 2003. Laporan
Hasil Perpanjangan Pinjam Pakai Kawasan Hutan dengan Kompensasi
antara Departemen Kehutanan dan Pertamina untuk Pengembangan
Area Panas Bumi Kamojang.
Bandung: Balai Konservasi
Sumberdaya Alam Jawa Barat II.
[BKSDA dan IPB] Balai Konservasi Sumberdaya Alam Jawa Barat II dan Institut
Pertanian Bogor. 2005. Rencana Pengelolaan Cagar Alam Kawah
Kamojang tahun 2005-2030 (Buku I: Data dan Informasi). Bandung:
Balai Konservasi Sumberdaya Alam Jawa Barat II.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung. 2012.
Bandung: BPS Kabupaten Bandung.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Garut. 2011.
Garut: BPS Kabupaten Garut.

Kecamatan Ibun.

Kecamatan Samarang.

Damanik J, Weber HF. 2006. Perencanaan Ekowisata dari Teori ke Aplikasi.


Yogyakarta: CV Andi Offset.
[DEPHUT] Departemen Kehutanan Republik Indonesia. 1990. Kamus Kehutanan.
Ed ke-1. Jakarta: Balai Pustaka.

[DEPHUT] Departemen Kehutanan. 1998. Peraturan Pemerintah Republik


Indonesia Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan
Kawasan Pelestarian Alam. Jakarta: Departemen Kehutanan.
[DEPHUT] Departemen Kehutanan. 2007. Buku Informasi 50 Taman Nasional
di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan dan
Konservasi Alam.
Fatimasari T. 2008. Pengembangan Kawasan Hutan Wisata Penggaron,
Kabupaten Semarang sebagai Kawasan Ekowisata [Tugas Akhir].
Semarang: Universitas Diponegoro.
Hakim L. 2004. Dasar-dasar Ekowisata. Malang: Bayumedia.
Hall CM. 2000. Tourism Planning: Policies, Processes and Relationships.
Singapore: Pearson Education Asia.
Kartamihardja ES, et al. 1993. Pengkajian Potensi dan Prospek Pengembangan
Perairan Umum Sumatera Bagian Selatan. Prosiding Temu Karya
Ilmiah Perikanan Perairan Umum. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian, Pusat Penelitian dan Pengembangan
Perikanan, Departemen Pertanian.
KoRKT.

2001. Obyek Wisata Alam Pedoman Identifikasi, Pengembangan,


Pengelolaan, Pemeliharaan dan Pemasarannya. Bogor: Yayasan
Buenea Vista.

Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.


Machfoedz M. 2004. Komunikasi Pemasaran Modern. Yogyakarta: Cakra Ilmu.
Moleong LJ. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Muljadi JA. 2009. Kepariwisataan dan Perjalanan. Jakarta: Rajawali Press.
Mulyana D. 2007. Ilmu Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nazir M. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Notoatmodjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Perum Perhutani.1994. Himpunan Peraturan Perundangan Bidang Kepariwisataan
Perum Perhutani. Jakarta: Perum Perhutani.
Perum Perhutani. 1997. Rencana Karya Lima Tahun Tahap II Pengusahaan
Pariwisata Alam di Taman Wisata Alam Kawah Kamojang Provinsi
Jawa Barat tahun 1997-2001. Bandung: Perum Perhutani Unit III
Jawa Barat dan Banten.
Rahardjo A. 2002. Menaksir Nilai Ekonomi Taman Wisata Tawangmangu:
Aplikasi Individual Travel Cost Method. Jurnal Manusia dan
Lingkungan 9(2): 171-178. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Stewart L, Tubbs, Moss S. 2000. Human Communication Konteks - Konteks
Komunikasi. Mulyana D, editor dan penerjemah. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.

179

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:


Alfabeta.
Sugiarto, Siagian D, Sunaryanto LT, Oetomo DS.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

2001.

Teknik Sampling.

Suhendra. 2006. Hutan Wisata Sungai Dumai. Jurnal Penelitian Sosial Ekonomi
Kehutanan 4 (2): 141-142.
Sulistiyono N. 2007. Pengantar Ekoturisme. Di dalam Affandi O, editor. 2007.
Panduan Praktik Pengenalan dan Pengelolaan Hutan. Medan:
Departemen Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera
Utara.
Sumitro A. 2003. Prinsip-prinsip Pengelolaan Hutan dan Perspektif Ekonomi
Konservasi. Makalah dalam Workshop Konservasi di Hutan Produksi.
Yogyakarta:Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan.
Sumitro A. 2004. Prospek Investasi dan Analisis Finansial Ekonomi Hutan
Tanaman. Palembang: PT Musi Hutan Persada.
Suparmoko. 1997. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Yogyakarta:
BPFE.
Suwantoro G. 2004. Dasar-dasar Pariwisata. Yogyakarta:ANDI.
Suyitno. 2001. Perencanaan Wisata. Yogyakarta:Kanisius.
Tamasya D. 2012. Pesona Kawah Kamojang Garut. http://desnantara-tamasya.
blogspot.com/2012/01/pesona-kawah-kamojang-garut.html
[24 Januari 2013].
Ubaidah R, Ibnu M. 2003. Manajemen Bioregional Jabodetabek: Profil dan
Strategi Pengelolaan Situ, Rawa dan Danau. Bogor: Pusat Penelitian
Biologi, LIPI.
Widada, Mulyati S, Kobayashi H. 2006. Sekilas tentang Konservasi Sumberdaya
Alam Hayati dan Ekosistemnya. Jakarta: Ditjen PHKA dan JICA.
Wrihatnolo RR, Dwidjowijoto RN. 2007. Manajemen Pemberdayaan: Sebuah
Pengantar dan Panduan untuk Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta:
PT Elex Media Komputindo.
Yoeti OA. 2000. Pariwisata Berwawasan Lingkungan Hidup. Jakarta:Partja.
Zain A, Taufik. 2011.
Pengembangan Potensi Wisata Alam Kabupaten
Tulungagung dengan Sistem Informasi Geografis. http://zain-taufik
blogspot. com/2011/10/pengembanganpotensiwisata. html
[5Januari 2012].

LAMPIRAN

181

Lampiran 1 Titik Koordinat Kawah-Kawah di TWA Kawah Kamojang


No.
1.

Nama Kawah
Kawah Manuk

2.

Kawah Berecek

3.

Kawah Kamojang

4.

Kawah Kereta Api

5.

Kawah Stik Gas

6.

Kawah Hujan

7.

Kawah Baru

8.

Kawah Saar

9.

Kawah Cibuliran

10.

Kawah Nirwana

Titik Koordinat (X, Y)


X = 07008.281
Y = 107048.041
X = 07008.323
Y = 107048.064
X = 07008.407
Y = 107048.122
X = 07008.421
Y = 107048.192
X = 07008.402
Y = 107048.212
X = 07008.355
Y = 107048.242
X = 07008.322
Y = 107048.196
X = 07008.221
Y = 107048.166
X = 07008.134
Y = 107048.183
X = 07008.186
Y = 107048.151

Ketinggian (m/dpl)
1.681
1.652
1.655
1.671
1.674
1.703
1.683
1.694
1.684
1.692

Sumber: Data Primer 2013

Lampiran 2 Jarak dan Perhitungan Waktu Wisata


No

Lokasi

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Lap. Desa Pangkalan - TWA Kawah Kamojang


Mengitari Area Hutan TWA Kawah Kamojang
Pintu Gerbang - Lokasi Peninggalan Sejarah
Pintu Gerbang - Kawah Hujan
Pintu Gerbang - Kamar Rendam
Pintu Gerbang - Area Perkemahan
Pintu Gerbang - Parkiran
Pintu Gerbang - Kawah Manuk
Pintu Gerbang - Kawah Berecek
Pintu Gerbang - Kawah Kamojang
Pintu Gerbang - Kawah Kereta Api
Pintu Gerbang - Kawah Baru
Pintu Gerbang - Kawah Nirwana
Pintu Gerbang - Kawah Cibuliran

Jarak Tempuh
1 km
1.7 km
200 m
300 m
50 m
70 m
40 m
20 m
10 m
60 m
170 m
320 m
800 m
1 km

Waktu Tempuh
(berjalan kaki)
30 menit
90 menit
10 menit
15 menit
6 menit
8 menit
4 menit
2 menit
1 menit
6 menit
8 menit
15 menit
25 menit
30 menit

Lampiran 3 Kuisioner Persepsi dan Kesiapan Pengelola


1. Persepsi Pengelola Terhadap Obyek Wisata yang Layak Dikembangkan
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Potensi Obyek Ekowisata


1
2
3
Kawah
3
3
3
Sumber Mata Air Panas
3
2
3
Penginapan Wisata
1
2
2
Area Perkemahan
1
2
1
Bekas Pemboran Belanda
1
2
2
(Material Heritage)
6. Area Geothermal Kamojang
2
1
2
Keterangan: 1 = Tidak Menarik, 2 = Biasa Saja, 3 = Menarik

Rata-Rata
3,0
2,7
1,7
1,3

Persentase (%)
100,0
89,0
55,7
44,3

1,7

55,7

1,7

55,7

2. Persepsi Pengelola Terhadap Kegiatan Wisata yang Akan Dikembangkan


No. Kegiatan Wisata
1
2
1. Mandi Uap
3
3
2. Berendam Air Panas
3
3
3. Berkemah
2
3
4. Menikmati Pemandangan Alam
3
3
5. Wisata Pendidikan Geothermal
2
3
6. Trekking
2
3
7. Outbond
3
3
8. Foto Hunting
3
2
Keterangan: 1 = Tidak Setuju, 2 = Biasa Saja, 3 = Setuju

3
3
3
2
3
3
3
3
3

Rata-Rata
3,0
3,0
2,3
3,0
2,7
2,7
3,0
2,7

Persentase (%)
100,0
100,0
77,7
100,0
89,0
89,0
100,0
89,0

3. Kesiapan Pengelola Terhadap Pengembangan Ekowisata Alam


No. Kesiapan Pengelola
1
2
1. Sumberdaya Manusia
2
3
2. Sarana dan Prasarana
3
2
3. Kerjasama dengan Masyarakat
3
3
4. Menerima Kritik dan Saran
3
3
5. Interpretasi
3
3
6. Promosi
2
2
7. Keamanan dan Keselamatan
3
3
Keterangan: 1 = Tidak Siap, 2 = Biasa Saja, 3 = Siap

3
3
3
3
3
2
3
3

Rata-Rata
2,7
2,7
3,0
3,0
2,7
2,7
3,0

Persentase (%)
89,0
89,0
100,0
100,0
89,0
77,7
100,0

183

Lampiran 4 Karakteristik Pengelola di TWA Kawah Kamojang


No.
1.

Karakteristik Pengelola
Jenis Kelamin
a. Laki-Laki
b. Perempuan
2. Usia
a. 20 30 tahun
b. > 30 tahun
3. Status
a. Belum Menikah
b. Menikah
4. Asal
a. Garut
b. Luar Garut
5. Jabatan
a. Koordinator
b. Pengelola
6. Pendidikan
a. SMP
b. SMA
c. Perguruan Tinggi
7. Pendapatan
a. Rp 1.000.000,00 Rp 2.000.000,00
b. > Rp 2.000.000,00
Sumber Data Pribadi 2013

Responden

Persentase (%)

3,0
-

100,0
-

3,0

100,0

3,0

100,0

3,0
-

100,0
-

1,0
2,0

33,3
66,7

1,0
1,0
1,0

33,3
33,3
33,3

1,0
2,0

33,3
66,7

Lampiran 5 Karakteristik Masyarakat di TWA Kawah Kamojang


No.
1.

Karakteristik Pengelola
Jenis Kelamin
a. Laki-Laki
b. Perempuan
2. Usia
a. 15 30 tahun
b. > 30 tahun
3. Status
a. Belum Menikah
b. Menikah
4. Asal
a. Ibun
b. Samarang
c. Paseh
5. Pendidikan
a. SD
b. SMP
c. SMA
d. Perguruan Tinggi
6. Pendapatan
a. Rp 500.000,00 Rp 1.500.000,00
b. > Rp 1.500.000,00
Sumber Data Pribadi 2013

Responden

Persentase (%)

21,0
9,0

70,0
30,0

14,0
16,0

46,7
53,3

10,0
20,0

33,3
66,7

13,0
11,0
6,0

43,3
36,7
20,0

7,0
10,0
13,0
-

23,3
30,0
46,7
-

16,0
14,0

33,3
66,7

Lampiran 6 Karakteristik Pengunjung di TWA Kawah Kamojang


No.
1.

Karakteristik Pengunjung
Jenis Kelamin
a. Laki-Laki
b. Perempuan
2. Usia
a. < 17 tahun
b. 17 30 tahun
c. > 30 tahun
3. Status
a. Belum Menikah
b. Menikah
4. Asal
a. Garut
b. Bandung
c. Tasikmalaya
d. Cianjur
e. Cirebon
f. Indramayu
g. Jabodetabek
5. Pendidikan
a. SD
b. SMP
c. SMA
d. Perguruan Tinggi
6. Pendapatan
a. < Rp 500.000,00
b. Rp 1.000.000,00 2.000.000,00
c. > Rp 2.000.000,00
Sumber Data Pribadi 2013

Responden

Persentase (%)

33,0
17,0

66,0
34,0

3,0
27,0
20,0

6,0
54,0
40,0

24,0
26,0

48,0
52,0

17,0
13,0
3,0
2,0
2,0
2,0
11,0

34,0
26,0
6,0
4,0
4,0
4,0
22,0

10,0
23,0
17,0

20,0
46,0
34,0

14,0
11,0
25,0

28,0
22,0
50,0

Lampiran 7 Hasil Penilaian Potensi Sumberdaya Ekowisata (Kawah)


Sumberdaya Ekowisata Alam
Kawah
Kawah
Kawah
Kawah
Kawah
Kawah
Kawah
Kawah
Kawah
Kawah
Cibuliran
Manuk
Kereta Kamojang
Berecek
Stik Gas
Hujan
Leutak
Nirwana
Baru
1. Keunikan
3,3
4,3
3,3
4,2
4,3
6,3
3,3
4,1
4,3
4,3
2. Kelangkaan
3,3
4,1
3,3
4,1
4,5
4,1
3,3
4,2
4,5
4,1
3. Keindahan
4,4
4,7
3,3
3,3
4,4
4,2
3,3
4,5
4,4
3,3
4. Seasonality
3,3
4,1
4,4
4,2
4,2
5,2
3,3
4,3
4,7
4,1
5. Sensitivitas
3,3
4,7
4,1
3,3
4,5
4,5
3,3
4,1
3,3
3,3
6. Aksesibilitas
4,5
4,5
4,2
4,1
4,4
4,7
4,3
4,7
4,4
3,3
7. Fungsi Sosial
4,4
4,8
3,3
3,3
4,5
5,9
3,3
4,1
4,1
4,4
Rerata
3,8
4,5
3,7
4,3
3,8
5,2
3.4
4,3
4.0
3,8
Keterangan : Keunikan ; 1. Sangat tidak unik, 2. Tidak unik, 3. Agak tidak unik, 4. Biasa Saja, 5. Agak Unik, 6. Unik, 7. Sangat Unik; Kelangkaan; 1. Sangat tidak
langka, 2. Tidak langka, 3. Agak tidak langka, 4. Biasa Saja, 5. Agak langka, 6. langka, 7. Sangat langka; Keindahan; 1. Sangat tidak indah, 2. Tidak indah, 3. Agak
tidak indah, 4. Biasa Saja, 5. Agak indah, 6. indah, 7. Sangat indah; Seasonality; 1. Sangat tidak musiman, 2. Tidak musiman, 3. Agak tidak musiman, 4. Biasa Saja, 5.
Agak musiman, 6. musiman, 7. Sangat musiman; Aksesibilitas; 1. Sangat tidak terjangkau, 2. Tidak terjangkau, 3. Agak tidak terjangkau, 4. Biasa Saja, 5. Agak
terjangkau, 6. terjangkau, 7. Sangat terjangkau; Sensitivitas; 1. Sangat tidak sensitif, 2. Tidak sensitif, 3. Agak tidak sensitif, 4. Biasa Saja, 5. Agak sensitif, 6. sensitif,
7. Sangat sensitif; Fungsi Sosial; 1. Sangat tidak Berfungsi, 2. Tidak berfungsi, 3. Agak tidak berfungsi, 4. Biasa Saja, 5. Agak berfungsi, 6. berfungsi, 7. Sangat
berfungsi.
No.

Indikator

90

87

Lampiran 8 Rekapitulasi Kuisioner Persepsi dan Kesiapan Masyarakat


1. Persepsi Masyarakat Terhadap Dampak Yang Ditimbulkan Dari Segi Sosial Budaya
Dampak
Sosial Budaya
Lingkungan
masyarakat
menjadi dikenal
banyak orang
Meningkatnya
status sosial
masyarakat
lunturnya nilai
budaya
masyarakat
meningkatnya
angka
kriminalitas

Responden
15
16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

RataRata

Persentase
(%)

2.7

91.1

2.5

84.4

2.6

86.6

2.7

90.0

10

11

12

13

14

Keterangan: 1 = Tidak Setuju, 2 = Biasa Saja, 3 = Setuju

2. Persepsi Masyarakat terhadap Dampak yang Ditimbulkan dari Segi Ekonomi


Dampak
Ekonomi
Menambah
Penghasilan
Masyarakat
Membuka
Lapangan Kerja
Baru
Meningkatnya
Perekonomian
Masyarakat
Lokal
Tidak Terjadi
Kebocoran
Ekonomi

Responden
15
16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

RataRata

Persentase
(%)

2.8

94.4

2.3

77.7

2.2

75.5

2.7

92.2

10

11

12

13

14

Keterangan: 1 = Tidak Setuju, 2 = Biasa Saja, 3 = Setuju

91

3. Persepsi Masyarakat terhadap Dampak yang Ditimbulkan dari Segi Lingkungan


Dampak
Lingkungan
Terpeliharanya
Sumberdaya
Wisata
Terjaganya
Lingkungan
Masyarakat
Timbulnya
Vandalisme
Terjaganya
Ekosistem
Hutan

Responden
15
16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

RataRata

Persentase
(%)

2.2

74.4

2.7

91.1

2.2

75.5

2.7

91.1

10

11

12

13

14

Keterangan: 1 = Tidak Setuju, 2 = Biasa Saja, 3 = Setuju

4. Persepsi Masyarakat terhadap Obyek Ekowisata yang Layak Dikembangkan


Potensi Obyek
Ekowisata
Kawah
Sumber Mata
Air Panas
Penginapan
Wisata
Area
Perkemahan
Bekas
Pemboran
Belanda
(Material
Heritage)
Area
Geothermal
Kamojang

Responden
15
16
3
3

17
3

18
3

19
3

20
3

21
3

22
3

23
3

24
3

25
3

26
3

27
3

28
3

29
3

30
3

RataRata
3.0

Persentase
(%)
100.0

2.9

98.8

2.2

75.5

2.5

83.3

2.4

80.0

2.4

81.1

1
3

2
3

3
3

4
3

5
3

6
3

7
3

8
3

9
3

10
3

11
3

12
3

13
3

14
3

Keterangan: 1 = Tidak Setuju, 2 = Biasa Saja, 3 = Setuju

92

89

5. Persepsi Masyarakat terhadap Kegiatan Wisata yang Perlu Dikembangkan


Kegiatan
Wisata
Mandi Uap
Berendam Air
Panas
Berkemah
Menikmati
Pemandangan
Alam
Wisata
Pendidikan
Geothermal
Trekking
Outbond
Foto Hunting

Responden
15
16
2
3

17
3

18
3

19
3

20
3

21
3

22
3

23
3

24
3

25
3

26
3

27
3

28
3

29
3

30
3

RataRata
2.8

Persentase
(%)
95.5

2.7

91.1

2.6

86.6

2.5

84.4

2.4

80.0

2
2
2

3
3
2

2
2
2

3
3
2

2
3
3

2
3
3

2
2
2

3
3
3

2
3
2

2
3
3

3
3
2

3
3
3

2
2
2

2
3
3

3
3
3

2
2
3

3
3
3

2.4
2.6
2.5

81.1
88.8
83.3

17
3
3
3
2

18
2
2
3
2

19
3
2
3
2

20
3
2
2
2

21
3
2
3
3

22
3
3
2
2

23
3
2
3
3

24
3
2
3
2

25
3
3
3
3

26
3
3
2
2

27
3
3
3
3

28
3
3
3
3

29
3
3
3
3

30
3
3
3
3

RataRata
2.8
2.6
2.6
2.4

Persentase
(%)
93.3
88.8
88.8
81.1

1
3

2
3

3
3

4
3

5
3

6
3

7
3

8
3

9
3

10
2

11
2

12
2

13
3

14
3

2
2
2

2
2
3

3
2
2

3
2
2

3
3
2

2
3
3

3
3
2

2
3
3

2
3
2

2
3
3

2
2
3

3
3
3

3
3
2

Keterangan: 1 = Tidak Setuju, 2 = Biasa Saja, 3 = Setuju

6. Kesiapan Masyarakat Terhadap Pengembangan Ekowisata Alam


Kesiapan
Masyarakat
Pemandu
Transportasi
Penginapan
Rumah Makan
Membuat
Cinderamata
Berjualan
Pekerja

Responden
15
16
2
3
3
3
3
3
2
2

1
3
3
2
2

2
3
3
2
3

3
3
2
3
2

4
3
2
2
2

5
3
2
3
2

6
3
3
3
3

7
3
3
3
2

8
3
3
2
3

9
3
2
2
2

10
2
3
2
3

11
2
3
2
3

12
2
3
3
3

13
2
3
3
2

14
3
3
3
2

2.3

78.8

2
2

2
2

3
2

3
2

3
3

2
3

3
3

2
3

2
3

2
3

2
2

3
3

3
3

2
2

3
3

2
2

3
3

2
3

2
3

2
2

3
3

2
2

3
2

3
3

3
3

2
2

2
3

3
3

2
2

3
3

2.4
2.6

82.2
86.6

Keterangan: 1 = Tidak Siap, 2 = Biasa Saja, 3 = Siap

93

Lampiran 9 Rekapitulasi Kuisioner Motivasi dan Presepsi Pengunjung


1. Motivasi Pengunjung di TWA Kawah Kamojang
Motivasi
Pengunjung
Menikmati
Pemandangan
Alam
Mencari
Udara Sejuk
Mandi Uap
Berend am
Air Panas
Berkemah
Trekking
Pend id ikan

Responde n

RataRata

Persentase
(%)

2.8

95.3

2.4

82.0

2.8

94.6

2.7

91.3

2
2
2

2
2
3

2
2
2

2.3
2.3
2.3

78.0
78.0
77.3

1
0

1
1

1
2

1
3

1
4

1
5

1
6

1
7

1
8

1
9

2
0

2
1

2
2

2
3

2
4

2
5

2
6

2
7

2
8

2
9

3
0

3
1

3
2

3
3

3
4

3
5

3
6

3
7

3
8

3
9

4
0

4
1

4
2

4
3

4
4

4
5

4
6

4
7

4
8

4
9

5
0

2
2
2

2
2
2

2
3
2

2
3
2

2
3
2

3
2
2

2
3
2

3
2
2

3
2
3

2
2
2

2
2
2

2
3
3

2
2
3

3
2
2

2
3
3

3
2
2

3
2
3

2
2
3

2
2
3

2
2
2

2
2
3

3
2
2

2
3
2

3
3
3

2
3
3

2
2
2

3
2
3

3
3
3

3
2
2

2
3
2

2
2
2

2
2
2

2
3
2

2
3
2

2
3
3

3
2
3

2
3
2

3
2
2

3
2
2

2
2
2

2
2
2

2
2
2

2
2
2

3
2
2

2
3
3

3
2
2

3
3
2

Keterangan: 1 = Tidak Puas, 2 = Biasa Saja, 3 = Puas

2. Persepsi Pengunjung terhadap Sarana dan Prasarana


Sarana Dan
Prasarana
Shelter
Pos Tiket
Papan
Interpretasi
Toilet
Tempat
sampah
Penginapan
Keamanan
Dan
Keselamatan

Responden

RataRata

Perse ntase
(%)

2.2
2.8

73.3
93.3

1.9

66.0

2.1

71.3

2.0

66.6

2.1

71.3

2.1

72.6

1
3

1
3

3
2

3
3

3
2

3
2

3
3

2
3

2
3

1
0
2
3

1
1
2
3

1
2
2
3

1
3
2
3

1
4
2
3

1
5
2
3

1
6
2
3

1
7
2
3

1
8
2
3

1
9
2
3

2
0
1
2

2
1
2
2

2
2
2
3

2
3
2
3

2
4
2
3

2
5
2
3

2
6
3
3

2
7
2
3

2
8
3
3

2
9
3
3

3
0
2
3

3
1
2
3

3
2
2
3

3
3
2
2

3
4
2
2

3
5
2
2

3
6
3
3

3
7
3
3

3
8
3
3

3
9
3
2

4
0
1
3

4
1
3
2

4
2
3
3

4
3
1
3

4
4
3
3

4
5
2
3

4
6
1
3

4
7
1
3

4
8
2
3

4
9
3
3

5
0
3
3

Keterangan: 1 = Tidak Puas, 2 = Biasa Saja, 3 = Puas

3. Persepsi Pengunjung terhadap Obyek Ekowisata yang Layak Dikembangkan


Potensi
Obyek
Ekowisata
Kawah
Sumber Mata
Air Panas
Penginapan
Wisata
Area
Perkemahan
Bekas
Pemboran
Belanda
(Material
Heritage)
Area
Geothermal
Kamojang

Responde n

RataRata

Pe rsentase
(%)

2.8

93.3

2.7

92.6

1.9

63.3

2.4

81.3

2.5

86.0

2.3

76.6

1
0
2

1
1
2

1
2
3

1
3
3

1
4
2

1
5
3

1
6
3

1
7
3

1
8
3

1
9
2

2
0
1

2
1
3

2
2
3

2
3
3

2
4
2

2
5
3

2
6
3

2
7
3

2
8
3

2
9
3

3
0
3

3
1
2

3
2
3

3
3
3

3
4
3

3
5
3

3
6
3

3
7
3

3
8
3

3
9
3

4
0
3

4
1
3

4
2
3

4
3
2

4
4
3

4
5
3

4
6
3

4
7
3

4
8
3

4
9
3

5
0
3

Keterangan: 1 = Tidak Baik, 2 = Biasa Saja, 3 = Baik

94

91

4. Persepsi Pengunjung terhadap Kegiatan Wisata yang Perlu Dikembangkan


Responden

Kegiatan
Ekowisata
Mandi Uap
Berend am
Air Panas
Berkemah
Menikmati
Pemandangan
Alam
Wisata
Pend id ikan
Geothermal
Trekking
Outbond
Foto Hunting

RataRata

Pe rsentase
(%)

2.8

94.6

2.8

94.0

2.2

74.6

2.7

92.7

2.7

92.6

3
2
2

3
3
1

2
3
2

2.6
2.5
2.4

88.0
86.0
80.0

1
0
2

1
1
2

1
2
3

1
3
3

1
4
2

1
5
3

1
6
3

1
7
3

1
8
3

1
9
2

2
0
3

2
1
3

2
2
3

2
3
3

2
4
2

2
5
3

2
6
3

2
7
3

2
8
3

2
9
3

3
0
3

3
1
2

3
2
3

3
3
3

3
4
3

3
5
3

3
6
3

3
7
3

3
8
3

3
9
3

4
0
3

4
1
3

4
2
3

4
3
2

4
4
3

4
5
3

4
6
3

4
7
3

4
8
3

4
9
3

5
0
3

2
2
3

2
2
3

2
2
2

2
3
3

3
2
2

3
2
3

3
3
3

2
3
3

3
2
2

3
3
3

3
2
2

2
3
3

2
3
3

3
1
3

3
2
2

2
2
3

2
3
3

3
3
2

3
3
3

3
3
3

3
1
1

3
3
3

3
3
3

3
2
2

3
3
2

3
3
2

3
3
1

3
2
2

3
2
2

3
3
3

2
3
3

3
2
2

3
3
2

3
3
2

3
2
2

3
3
2

2
2
2

2
3
2

2
3
2

3
3
3

2
3
2

3
2
2

2
3
2

2
3
3

3
3
3

2
3
3

3
3
3

Keterangan: 1 = Tidak Menarik, 2 = Biasa Saja, 3 = Menarik

5. Persepsi Pengunjung terhadap Lama Waktu Pelaksanaan Program


Lama
Waktu
1 Hari
2 Hari 1
Malam
3 Hari 2
Malam

RataRata

Perse ntase
(%)

1
0
2

1
1
3

1
2
3

1
3
3

1
4
3

1
5
3

1
6
3

1
7
3

1
8
3

1
9
3

2
0
3

2
1
3

2
2
3

2
3
3

2
4
3

2
5
3

2
6
3

2
7
3

2
8
3

2
9
3

3
0
3

3
1
3

3
2
3

3
3
3

3
4
3

3
5
3

3
6
3

3
7
3

3
8
3

3
9
3

4
0
3

4
1
3

4
2
3

4
3
3

4
4
3

4
5
3

4
6
3

4
7
3

4
8
3

4
9
3

5
0
3

2.9

98.6

2.7

90.0

1.9

66.0

Responde n
1

Keterangan: 1 = Tidak Efektif, 2 = Biasa Saja, 3 = Efektif

95

Lampiran 10 Daftar Kehadiran dan Jurnal Harian TA

RIWAYAT HIDUP

Penulis merupakan anak kedua dari pasangan Saladin Manalu


dan Marisi Nurhayati Purba yang lahir di Bandung pada
tanggal 6 Mei 1992. Pendidikan Taman Kanak-kanak dilalui
di TK Pratiwi I Ciwidey dari tahun 1997-1998. Pendidikan
Sekolah Dasar (SD) dilalui di SD Negeri Ciwidey Kota dari
tahun 1998-2004. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan
ke jenjang berikutnya di SMP Negeri 1 Ciwidey dari tahun
2004 -2007. Tahun 2007 penulis melanjutkan studi di SMA
Negeri 1 Ciwidey dan menyelesaikan pendidikan pada tahun
2010. Penulis pada tahun yang sama diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB)
lewat jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) pada Program Keahlian
Ekowisata. Selama menjalani masa kuliah penulis memperoleh beberapa prestasi,
diantaranya menjadi juara 2 lomba desain poster IPB tingkat universitas pada
tahun 2011 dan dibidang pariwisata menjadi juara 2 lomba desain poster
pariwisata tingkat nasional di Bandung pada tahun 2011, sedangkan pada tahun
2012 menjadi juara 2 lomba pekan ilmiah mahasiswa pariwisata tingkat nasional
di Bali.
Penulis selama menjalani masa perkuliahan di Program Keahlian Ekowisata
mengikuti beberapa praktik, yaitu Praktik Umum Ekowisata (PUE) dilaksanakan
pada Bulan Juli di Kawasan Wisata Cibodas, Kabupaten Cianjur pada Tahun
2011. Praktik lainnya adalah Praktik Pengelolaan Ekowisata (PPE) yang
dilakukan di Wana Wisata Batu Kuda, Perum Perhutani KPH Bandung Utara pada
Tahun 2012. Praktik Kerja Lapang (PKL) dilakukan penulis di Taman Wisata
Alam Kawah Kamojang, Kabupaten Bandung. Kegiatan Tugas Akhir (TA)
dilakukan sebagai syarat kelulusan dengan judul penelitian Pengembangan
Ekowisata Alam di Taman Wisata Alam Kawah Kamojang, Kabupaten
Bandung di bawah bimbingan Syarif Indra Surya Purnama, SHut, MSi.