Anda di halaman 1dari 15

Sarlinda Dian Sari (30701201178)

LAPORAN PRAKTIKUM TES WARTEGG


IDENTITAS TESTEE
Nama

: XX

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Usia

: 20 Tahun 8 Bulan

Pendidikan

: Mahasiswa

Status dalam Keluarga

Status Perkawinan

: Belum Menikah

Alamat

Tanggal Tes

Waktu

: 40 menit

Tester

: Sarlinda Dian Sari

NIM

: 30701201178

I.

OBSERVASI SELAMA TES BERLANGSUNG

II.

ANALISA PROFIL
Emotion
Skor Kriteria

: Seclusive
: Ina(7), Atm(6),Sof(0),Sym(4),Asym(2),Part(2), Scri(2),Sche(0),Sha(9)

Skor total yang diperoleh oleh testee pada aspek ini cenderung didominasi oleh skor kriteria
pada aspek emosi secara seclusive. Hal ini ditunjukkan dari skor inanimate subjek yang cukup tinggi
pada aspek ini, yang menunjukkan bahwa testee memiliki gambaran emosional yang lebih peka
terhadap alam semesta daripada mahkluk hidup. Oleh karena itu, testee memiliki sikap emosional yang
tidak easy going atau sukar beradaptasi dan menjalin hubungan sosial dengan orang disekitarnya.
Disamping itu skor shading yang diperoleh dengan cukup tinggi juga mengindikasikan bahwa testee
adalah pribadi yang mudah terbawa dengan perasaan yang dimiliki (sensitive), mudah memiliki
perasaan mencurigai orang lain (sentimentile), serta menunjukkan adanya tendensi kecemasan yang
cukup tinggi (neurotic) dalam hal bertindak sering disertai keragu-raguan dan mengalami konflik
emosional. Cukup tingginya skor atmosphere juga memperkuat indikasi emosional testee sebagai
pribadi yang memiliki karakteristik emosi yang dingin, kaku atau rigid, serta memiliki tendensi
kecemasan yang tinggi dalam bertindak dan mengambil keputusan. Hal ini juga dapat diperkuat oleh
munculnya skor symbolism meskipun rendah namun cukup untuk mengindikasikan bahwa testee
mudah dipengaruhi oleh pemikiran yang semu dan suka berkhayal yang biasanya dilakukan pleh
oramg-orang yang memiliki hambatan dalam menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan lingkungan
sekitarnya.

Interpretasi Kualitative Tes WZT

Sarlinda Dian Sari (30701201178)

Imagination
Skor Kriteria

: Combinative
: Phys(5), Orna(0), Style(9), Organ(8), Symm(2)

Skor total untuk aspek combinative ini ditonjolkan dari skor organisasi yang menunjukkan
bahwa adanya keseimbangan antara apa yang dibayangkan (speculative) dan yang direalisasikan
(practice) oleh testee cukup baik. Kehadiran gaya atau style dalam kelompok ini juga memiliki
makna bahwa individu mampu menampilkan sebuah ekpresi imajinasi yang berasal dari
intelektualitas dan emosionalitas yang dimiliki. Ketidakhadiran ornament pada kelompok ini juga
berarti baik bila testee yang bersangkutan adalah seorang pria yang menunjukkan bahwa testee
memiliki konsep imajinasi yang tidak begitu naif dan realistis (tidak suka memperhatikan hal yang
kurang penting). Adanya unsur detail yang cukup tinggi pada aspek lain meskipun tidak menjadi
bagian pada skoring aspek ini namun cukup untuk mengindikasikan bahwa testee memiliki
imajinasi yang jelas dan terang mengenai hal-hal diluar dirinya.

Intellect
Skor Kriteria

: Practical
: Object (6), Detail (11)

Pada aspek practical secara hampir mendominasi skor total berasal dari unsur detail yang
cukup tinggi dalam komponen ini. Hal ini dapat berarti bahwa testee memiliki segi baik terhadap
intelektual yang juga menandakan bahwa testee cukup peduli akan realitas konkret dan mampu
menghadapinya. Cukup tingginya nilai detail memberi bukti akan adanya persepsi yang tajam,
perhatian yang cermat, dan daya visualisasi yang tentunya sangat baik bagi fungsi otak yang
konstruktif dan terorganisasi. Subjek dapat dinyatakan memiliki pemikiran yang jernih.

Activity
Skor Kriteria

: Controlled
: Emp (8), Con (0), Stra (8), Stro (12), Clo (0), Rep (3), Dupl (0), Car (12)

Dari aspek controlled, Kombinasi garis kuat (strong) dengan Form Level yang sesuai
menunjukkan adanya kepastian dan keyakinan diri testee yang disertai dengan vitalitas (penuh
semangat) hidup yang baik. Hal ini dapat didukung pula dengan cukup tingginya skor straight yang
diperoleh dan menunjukkan bahwa testee memiliki potensi dalam melakukan sesuatu berdasarkan
kehendak, punya kemauan yang tegas, memiliki prinsip hidup yang kuat, dan mampu
menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Meskipun, dari unsur carefulness yang cukup tinggi
menunjukkan bahwa testee juga memiliki kontrol diri yang agak berlebihan, terlalu hati-hati, dan
kompulsif atau ingin serba sempurna sehingga menyebabkan testee dapat bertindak sangat
lamban atau memerlukan waktu yang lama dalam menyelesaikan tugas-tugasnya sebab memiliki
kecemasan atau keragu-raguan yang menyertai dalam proses bertindak dan pengambilan
keputusan.
Kesimpulan
Dari aspek emosional secara umum dapat disimpulkan bahwa subjek adalah pribadi
yang mampu menyesuaikan atau menempatkan diri dengan baik dalam lingkungan sekitarnya

Interpretasi Kualitative Tes WZT

Sarlinda Dian Sari (30701201178)

serta memiliki dorongan untuk berpartisipasi dalam suatu situasi tertentu. Akan tetapi, subjek
memiliki ekspresi emosional yang belum matang atau belum dapat dikontrol oleh subjek dengan
baik, sehingga terkadang subjek masih mengalami keraguan untuk memilih ekspresi emosional
mana yang harus ditunjukkan oleh subjek dalam bertindak atau mengambil keputusan. Hal ini
disebabkan karena subjek yang bersangkutan cenderung memiliki tingkat kecemasan yang tinggi.
Subjek memiliki daya imajinasi yang kurang tinggi atau kurang kreatif ketika dihadapkan
pada sebuah permasalahan. Hal ini disebabkan oleh orientasi kreativitas subjek tidak diiringi oleh
minat yang luas yang disertai dengan vitalitas subjek yang lemah. Sehingga dapat dikatakan
bahwa ekspresi imajinasi maupun kreativitas subjek cenderung dipengaruhi oleh inspirasi seketika
dan bukan berasal dari hasil minat atau kepribadian subjek yang sebenarnya atau tidak terbangun
dari dalam diri subjek yang bersangkutan.
Dari aspek intelektual, secara umum menunjukkan bahwa individu memiliki potensi
intelektual yang cukup baik. Hal ini ditandai oleh realitas berpikir dan persepsi subjek yang cukup
tajam, kecermatan perhatian, serta daya visualisasi subjek yang cukup baik dan terorganisasi.
Maka dapat disimpulkan bahwa subjek memiliki kapasitas intektual dan rasionalitas yang cukup
potensial, namun dalam beberapa hal subjek belum dapat memanfaatkan potensi tersebut secara
optimal, misalnya dalam mengatasi kesulitan atau hambatan yang dihadapi sehingga adakalanya
subjek masih mengalami kesukaran dan cenderung memilih untuk menghindar dari permasalahan
yang dihadapi.
Disamping itu, subjek adalah tipikal pribadi yang melakukan aktivitas dengan sungguhsungguh disertai dengan kepastian dan keyakinan diri yang cukup tinggi dan cenderung impulsive.
Adakalanya subjek yang bersangkutan memiliki kontrol diri yang berlebihan, ambisi yang tinggi
namun tidak memiliki arah dan tujuan yang jelas. Sehingga subjek dapat melakukan suatu
tindakan yang bersifat agresif serta tidak jarang pula subjek mengalami kecemasan yang tinggi
sebelum memutuskan suatu hal atau bertindak.
III.

NON SCORE CRITERIA


Secara umum testee tidak merespon secara keseluruhan stimulus-stimulus yang ada dalam
setiap kotak. Terdapat 3 buah stimulus yang sama sekali tidak tersentuh oleh testee, yang
mengindikasikan adanya pengabaian testee terhadap stimulus-stimulus tersebut (reject). Hal ini
tentunya dapat berarti buruk atau tidak baik terkait dalam diagnosis kepribadian yang dimiliki oleh
testee yang bersangkutan,yang dapat mengindikasikan adanya dugaan yang mengarah ke patologis
(neurotic) juga bisa diperkuat oleh adanya kondisi tersebut.
Beberapa hal lain yang juga tidak diskoring namun memiliki makna yang penting dalam
menginterpretasikan kepribadian testee adalah sebagai berikut :
Reinforcement
Dalam aspek ini dinyatakan bahwa kualitas coretan yang dibuat testee cenderung rendah
sehingga menunjukkan bahwa testee memiliki sikap yang fleksibel dan spontanitas dalam
bertindak.
Discontinuity
Dalam mengeksekusi stimulus yang diberikan, testee cenderung menampakkan teknik
discontinuity secara dominan, sehingga mengindikasikan bahwa subjek memiliki spontanitas

Interpretasi Kualitative Tes WZT

Sarlinda Dian Sari (30701201178)

yang tinggi namun tidak terintegrasi sepenuhnya dalam melakukan suatu tindakan atau
cenderung tidak optimal dalam hal mengekspresikan vitalitas yang dimiliki.
Parts
Munculnya karakteristik parts yang paling mudah untuk diamati dari diri testee adalah dengan
mengamati beberapa gambar yang dibentuk oleh testee (dalam stimulus 8 dan 3), yang
menyatakan bahwa testee memiliki integrasi kepribadian yang buruk atau kurang baik.
Isolasi
Munculnya kriteria isolasi yang sangat tinggi dalam respon testee terhadap stimulus yang
diberikan, makin memperkuat dugaan bahwa testee memiliki sikap yang dingin atau tidak
peka terhadap lingkungan sekitar sehingga berpotensi untuk memiliki hambatan dalam
membentuk pribadi yang utuh atau terintegrasi secara memadai.
Variety
Respon testee yang cukup variatif pada beberapa respon stimulus menunjukkan bahwa
subjek memiliki interes (minat) yang kuat. Namun karena ada indikasi lain dimana testee tidak
merespon 3 stimulus bisa jadi mengurangi dugaan tersebut, kemungkinan testee hanya
memiliki interest (minat) yang kuat pada hal-hal yang tertentu saja atau interest yang dimiliki
cenderung terbatas.
Clearness
Melihat kualitas garis-garis yang dibuat oleh testee secara jelas menunjukkan bahwa testee
adalah orang yang tidak bisa menggambar. Namun, mampu menunjukkan adanya persepsi
dan perhatian testee yang cukup tajam dan cermat terhadap sesuatu hal.
Popularity
Rendahnya skor popularity dan cukup tingginya skor originalitas memberikan dugaan bahwa
testee bisa jadi adalah pribadi yang kreatif dalam berfikir, yang merupakan salah satu aspek
positif yang dimiliki oleh testee tersebut, namun adanya beberapa indikasi patologis lainnya
dalam respon testee terhadap beberapa stimulus juga mampu melemahkan dugaan tersebut.
Consistency
Dapat dinyatakan bahwa consistency testee dalam hal tekanan (strong) yang digunakan
dalam teknik menggambar menunjukkan bahwa testee memiliki semangat yang cukup tinggi
terhadap hal-hal yang sesuai dengan interes atau kepribadiannya.
Kesimpulan
Pada aspek non score criteria dapat disimpulkan bahwa testee memiliki sikap yang
fleksibel dan spontanitas dalam bertindak namun tidak terintegrasi dengan baik atau cenderung
tidak optimal sesuai dengan vitalitas yang dimiliki oleh testee. Testee hanya memiliki interest
(minat) yang kuat pada hal-hal yang tertentu saja atau interest yang dimiliki cenderung terbatas.
Testee adalah orang yang tidak bisa menggambar. Namun, mampu menunjukkan adanya persepsi
dan perhatian yang cukup tajam dan cermat terhadap sesuatu hal. Meskipun demikian, testee
memiliki sikap yang dingin atau tidak peka terhadap lingkungan sekitar sehingga berpotensi untuk

Interpretasi Kualitative Tes WZT

Sarlinda Dian Sari (30701201178)

memiliki hambatan dalam membentuk pribadi yang utuh atau terintegrasi secara memadai dalam
membangun hubungan sosial.

IV.

ABSENT CRITERIA
Beberapa kriteria yang tidak muncul pada gambar atau respon subjek terhadap stimulus serta
tidak dijumpai dalam skoring adalah sebagai berikut :
Casualness
Tidak ditemukannya unsur ini pada hasil respon testee menunjukkan bahwa testee memiliki
sikap yang memperhitungkan ketelitian, berhati-hati, dan mampu mengontrol vitalitas yang
dimiliki saat harus mengekspresikan sikapnya.
Soft
Tidak ditemukannya unsur ini pada hasil respon testee juga menununjukkan bahwa testee
memiliki vitalitas yang cukup tinggi, serta indikasi penyesuaian diri yang sukar atau kurangnya
hubungan sosial yang dilakukan testee bukan disebabkan oleh perasaan rendah diri, depresi
ataupun penarikan diri testee dari lingkungan sekitarnya.
Schematism
Ketidakmunculan unsur ini pada respon testee juga menunjukkan hal yang positif yakni testee
mampu memiliki sikap yang menghargai orang lain, mencintai perdamaian, serta bersikap
sewajarnya dalam bergaul (tidak eksentrik).
Ornament
Ketidakmunculan unsur ini dapat dianggap sebagai sesuatu yang wajar atau berarti baik bagi
subjek atau testee yang berjenis kelamin pria, sebab hal ini menunjukkan bahwa testee
cenderung menggambar dengan menunjukkan ketergugahan emosi testee yang bersifat
maskulin serta adanya kematangan emosional atau intelektualitas yang cukup tinggi.
Constrict
Tidak ditemukannya unsur ini pada hasil respon testee juga menunjukkan hal yang positif
dimana testee bukanlah pribadi yang suka menarik diri, tegang atau kurang komunikatif yang
bisa menjadi penghambat testee dalam menjalin hubungan dengan lingkungan sekitarnya.
Closure
Tidak ditemukannya unsur ini pada hasil respon testee menginterpretasikan bahwa testee
cukup memiliki keterbukaan diri dalam menjalin hubungan dengan orang-orang disekitarnya
serta tidak begitu kaku dalam bergaul. Ketiadaan aspek closure juga berarti baik bagi testee
yang bersangkutan karena menandakan bahwa testee tidak memiliki indikasi ketiadaan rasa
aman atau kehilangan inner self lewat kontak dengan dunia luar, meskipun testee
membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat berbaur dengan lingkungannya.
Duplicate
Tidak ditemukannya unsur ini pada hasil respon testee mengindikasikan bahwa testee
memiliki potensi berpikir yang kreatif serta menunjukkan fungsi intelektual yang cukup tinggi.

Interpretasi Kualitative Tes WZT

Sarlinda Dian Sari (30701201178)

Kesimpulan
Berdasarkan aspek absent criteria menunjukkan bahwa testee cenderung menggambar
dengan menunjukkan ketergugahan emosi yang bersifat maskulinitas serta memiliki potensi
berpikir yang kreatif dan menunjukkan fungsi intelektual yang cukup tinggi. Testee tidak memiliki
indikasi ketiadaan rasa aman atau kehilangan inner self lewat kontak dengan dunia luar. Sehingga
pemicu testee menjadi pribadi yang kurang mampu beradaptasi atau bersikap dingin dengan
lingkungan pada interpretasi sebelumnya mungkin saja disebabkan oleh aspek yang lain yakni
kepribadian testee yang cenderung belum terintegrasi secara sempurna dan tingkat emosionalitas
yang belum matang dalam diri testee, jadi bukan semata-mata karena adanya lingkungan yang
mengancam eksistensial testee tersebut.

V.

HUBUNGAN ANTAR STIMULUS


Stimulus 1 dan 8
Berdasarkan hubungan antar stimulus 1 dan 8 menunjukkan bahwa testee kurang mampu dalam
menyesuaikan diri atau menempatkan diri, susah untuk memusatkan konsentrasi, dan memiliki
masalah dalam hal membentuk hubungan sosial. Testee cenderung sukar untuk melakukan relasi atau
hubungan yang hangat dengan orang-orang disekitarnya serta membutuhkan waktu yang cukup lama
untuk beradaptasi didalam lingkungannya.
Stimulus 2 dan 7
Berdasarkan hubungan antar stimulus 2 dan 7 menunjukkan bahwa testee memiliki keseimbangan
dalam mengendalikan perasaan, dimana testee cenderung mampu mengontrol perasaan dalam
mengekspresikan perilakunya untuk menciptakan hubungan dengan lingkungan sekitar. Akan tetapi
dalam hal kehidupan perasaan sikap testee tersebut membuat testee menjadi kurang asertif dalam
mengemukakan apa yang dirasakan, sehingga testee mudah mengalami rasa tertekan (frustrasi berat)
bahkan membuat testee merasa asing dalam lingkungan sekitarnya.

Stimulus 3 dan 5

Berdasarkan hubungan antar stimulus 3 dan 5 menunjukkan bahwa testee mempunyai keinginan
untuk berprestasi yang tinggi, mendapat pengakuan atas kemampuan diri yang dimiliki, serta memiliki
tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Akan tetapi, meskipun demikian testee memiliki masalah dalam hal
mengoptimalkan kemampuan dan merealisasikan keinginan yang dimiliki kedalam bentuk tindakan
yang jelas dan efektif, dimana testee seringkali menemukan kesukaran atau memilki hambatan dalam
hal mengambil keputusan dan menentukan sikap.

Stimulus 4 dan 6

Berdasarkan hubungan antar stimulus 4 dan 6 menunjukkan bahwa testee memiliki sikap
penolakan dalam menghadapi masalah atau kesukaan, hal ini dapat disertai dengan keragu-raguan
testee apabila dihadapkan pada pilihan untuk memutuskan solusi permasalahan yang akan diambil,
bahkan testee akan cenderung menghindari masalah yang dihadapi apabila berada pada kondisi
tersebut. Meskipun demikian testee memiliki potensi kecerdasan yang cukup rasional serta analisa

Interpretasi Kualitative Tes WZT

Sarlinda Dian Sari (30701201178)

berpikir yang baik, akan tetapi potensi ini justru membuat testee cenderung sukar untuk menghadapi
masalah karena terlalu banyak kondisi dan resiko yang dirasionalisasikan oleh testee terlebih dahulu.
Kesimpulan
Berdasarkan hubungan antar stimulus menunjukkan bahwa testee kurang mampu dalam
menyesuaikan diri atau menempatkan diri, susah untuk memusatkan konsentrasi, dan memiliki
masalah dalam hal membentuk hubungan sosial. Testee cenderung mampu mengontrol perasaan
dalam mengekspresikan perilakunya untuk menciptakan hubungan dengan lingkungan sekitar. Akan
tetapi dalam hal kehidupan perasaan sikap testee tersebut membuat testee menjadi kurang asertif
dalam mengemukakan apa yang dirasakan, sehingga testee mudah mengalami rasa tertekan (frustrasi
berat) bahkan membuat testee merasa asing dalam lingkungan sekitarnya.
Testee mempunyai keinginan untuk berprestasi yang tinggi, mendapat pengakuan atas
kemampuan diri yang dimiliki, serta memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Akan tetapi, meskipun
demikian testee memiliki masalah dalam hal mengoptimalkan kemampuan dan merealisasikan
keinginan yang dimiliki kedalam bentuk tindakan yang jelas dan efektif, dimana testee seringkali
menemukan kesukaran atau memilki hambatan dalam hal mengambil keputusan dan menentukan
sikap. Meskipun demikian testee memiliki potensi kecerdasan yang cukup rasional serta analisa
berpikir yang baik, akan tetapi potensi ini justru membuat testee cenderung sukar untuk menghadapi
masalah karena terlalu banyak kondisi dan resiko yang dirasionalisasikan oleh testee terlebih dahulu.
VI.

STIMULUS DRAWING RELATION


SDR TUNGGAL

STIMULUS 1 (Penyesuaian Diri)


Stimulus ini di tanggapi oleh subjek dengan tetap menjadikan stimulus di tengah
(sentralis) namun tidak menunjukkan adanya ketergugahan emosi subjek dalam merespon
ditunjukkan dengan hasil respon bersifat mekanik dan statis. Stimulus tidak dijadikan sebagai
pusat perhatian dalam menggambar sehingga terkesan subjek mengalami insesibilitas terhadap
stimulus yang diberikan. Hal ini menunjukkan sikap subjek yang nampak kurang sensitif dalam
menghadapi lingkungannya, walaupun subjek sebenarnya memiliki modal kepercayaan diri serta
semangat diri yang cukup baik terlihat dari kualitas garis (strong dan straight) yang digunakan
dalam merespon stimulus tersebut. Duplikasi stimulus serta organisasi yang dimunculkan oleh
subjek dalam merespon stimulus ini menunjukkan bahwa subjek sebenarnya berusaha memahami
dan merasionalkan stimulus yang dihadapi dan menunjukkan potensi intelektual yang cukup baik
pula meskipun secara emosional atau afektifitas subjek sama sekali tidak menunjukkan adanya
integrasi penyesuaian atau adaptasi yang baik.

STIMULUS 2 (Penyesuaian Perasaan)


Kualitas organik dan dinamis stimulus ini ditanggapi secara baik dan hampir sempurna
oleh subjek, yang menandakan adanya kepekaan, keluwesan, kewaspadaan (carefulness), dan

Interpretasi Kualitative Tes WZT

Sarlinda Dian Sari (30701201178)

aktivitas yang berkaitan dengan kehidupan.Posisi stimulus yang berada dalam segi empat juga
dimanfaatkan dengan sangat baik sehingga membuktikan adanya kemampuan organisasional
yang cukup tinggi. Kualitas penggunaan perpaduan garis yang kuat menunjukkan bahwa subjek
benar-benar tergugah emosinya dalam merespon stimulus. Sifat stimulus yang diharapkan yakni
respon berupa sesuatu yang bersifat organic, bergerak, dan lepas mampu diwujudkan oleh subjek
melalui integrasi detail respon yang sangat baik berupa gambar seorang manusia yang nampak
sedang berolahraga sambil memegang barbell serta pakaian olahraga, sepatu, dan style yang
sangat menunjang tingginya kualitas physignomi gambar tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa
subjek sebenarnya memiliki potensi keseimbangan perasaan untuk membangun hubungan
dengan lingkungan yang terkendali.

STIMULUS 3 (Dorongan untuk Maju/Ambisi)


Kualitas mekanik-konstruktif berupa kelurusan, keteguhan dan peningkatan prgresif
dalam stimulus ini ditanggapi oleh subjek dengan baik yang menandakan dimilikinya kemampuan
teknik konstruktif subjek yang cukup baik. Karakteristik atau kesan mengarah ke-atas (orientasi)
pada stimulus ini cukup baik ditonjolkan oleh subjek disertai dengan tambahan style yang dibentuk
oleh subjek berupa tangga dengan pegangan yang bergaya klasik coba untuk ditampilkan oleh
subjek sebagai pemanis objek yang dibentuk menunjukkan subjek tergugah emosinya saat
menanggapi stimulus tersebut. Kualitas garis perpaduan yang kompleks (straight, strong, dan
curved) menunjukkan ketegasan sikap subjek, kewaspadaan yang tinggi, serta fleksibilitas subjek
dalam penyesuaian diri terhadap ambisi cukup baik. Meskipun demikian, adanya respon subjek
yang mengarah ke sifat expanded memberi dugaan bahwa subjek memiliki ambisi yang cukup
tinggi namun tidak bertujuan atau tidak terintegrasi dengan baik dan terkesan mengambang,
sehingga membuat individu terkadang bingung dengan kehidupan yang dijalani.

STIMULUS 4 (Mengatasi Kesukaran)


Stimulus ini tidak dapat diinterpretasikan lebih dalam, karena subjek tidak memberikan
tanggapan atau respon apapun terkait dengan stimulus yang dihadapi. Hal ini cukup
mengindikasikan subjek mengalami hambatan yang butuh perhatian lebih lanjut lagi pada aspek
mengatasi kesukaran. Tidak adanya respon terhadap stimulus dapat berarti buruk dan
diindikasikan sebagai bagian dari kategori diagnosis yang bersifat patologis.

STIMULUS 5 (Cara Bertindak)


Stimulus ini tidak dapat diinterpretasikan lebih dalam, karena subjek tidak memberikan
tanggapan atau respon apapun terkait dengan stimulus yang dihadapi. Hal ini cukup
mengindikasikan subjek mengalami hambatan yang butuh perhatian lebih lanjut lagi pada aspek
cara bertindak. Namun, jika dikaitkan dengan respon subjek pada stimulus 3 yang memiliki
kecenderungan sifat expanded yang menandakan ketidakmampuan subjek dalam mengolah
ambisi yang dimiliki, dapat berhubungan atau menghasilkan kesimpulan yang mendukung dengan
respon subjek yang mereject stimulus 5 ini. Tidak adanya respon terhadap stimulus dapat berarti
buruk dan diindikasikan sebagai bagian dari kategori diagnosis yang bersifat patologis.

STIMULUS 6 (Kecerdasan/Analisa Berpikir)

Interpretasi Kualitative Tes WZT

Sarlinda Dian Sari (30701201178)

Stimulus ini berhasil direspon oleh subjek dengan cukup baik. Melalui respon terhadap
stimulus ke dalam bentuk mekanis menunjukkan bahwa subjek mampu menonjolkan sifat stimulus
tersebut secara baik dan menunjukkan adanya afinitas subjek terhadap stimulus tersebut. Subjek
nampak mengelola stimulus yang ada dengan perencanaan dan penyelesaian yang cukup baik.
Kualitas perpaduan garis yang kuat, dengan teknikal abstraksi yang cukup tinggi menunjukkan
intelektualitas subjek yang cukup baik dalam mengelola stimulus yang ada menjadi objek yang
sedemikian rupa untuk menjaga organisasional objek yang dibentuk. Hal ini didukung pula oleh
sifat stimulus yaitu berkaitan dengan aspek kecerdasan yang mampu diintegrasikan dengan cukup
baik oleh objek yang bersangkutan.

STIMULUS 7 (Kehidupan Perasaan)


Stimulus ini tidak dapat diinterpretasikan lebih dalam, karena subjek tidak memberikan
tanggapan atau respon apapun terkait dengan stimulus yang dihadapi. Hal ini cukup
mengindikasikan subjek mengalami hambatan yang butuh perhatian lebih lanjut lagi pada aspek
kehidupan perasaan. Jika dikaitkan dengan stimulus 2, hal ini dapat terjadi karena diduga subjek
sebenarnya memiliki kehidupan perasaan yang butuh penekanan atau dorongan-dorongan yang
cukup kuat untuk dapat melakukan penyesuaian perasaan yang sangat baik seperti yang
ditunjukkan pada respon di stimulus 2. Tidak adanya respon terhadap stimulus dapat berarti buruk
dan diindikasikan sebagai bagian dari kategori diagnosis yang bersifat patologis.

STIMULUS 8 (Hubungan Sosial)


Stimulus ini dapat ditanggapi atau direspon oleh subjek dengan menunjukkan adanya
insesibilitas subjek terhadap stimulus yang dihadapi. Subjek merespon stimulus berupa
lengkungan besar dengan hanya menjadikan stimulus sebagai batas antara bagian-bagian dari
objek yang akan dibentuk. Subjek tidak menggunakan stimulus sebagai media untuk membentuk
suatu gambar yang bersifat organis sebagaimana mestinya. Kualitas garis curved yang digunakan
oleh subjek dalam merespon subjek ini secara dominan, mengindikasikan bahwa subjek membuat
gambar secara santai namun tidak menunjang adanya fleksibilitas subjek terhadap stimulus yang
cenderung diabaikan oleh subjek. Hal ini memberi dugaan yang dapat didukung oleh respon
terhadap stimulus 1, dimana subjek mengalami kesukaran terhadap penyesuaian diri dan dapat
berdampak pula pada ketidakmampuan subjek dalam berinteraksi secara maksimal dengan
lingkungan sosialnya. Stimulus yang cenderung diabaikan oleh subjek juga mengindikasikan
adanya sifat patologis dalam kepribadian sosial subjek yang bersangkutan.

Kesimpulan
Berdasarkan paparan hubungan SDR Tunggal dapat disimpulkan bahwa testee memiliki
hambatan dalam proses penyesuaian diri dan adaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Meskipun

Interpretasi Kualitative Tes WZT

Sarlinda Dian Sari (30701201178)

10

penyesuaian perasaan subjek dapat terkontrol dengan baik namun kehidupan perasaan subjek
tidak demikian dan membutuhkan adanya dorongan dari dalam diri subjek yang lebih kuat agar
mampu untuk menjalin hubungan sosial dengan lingkungan disekitarnya.
Subjek memiliki dorongan untuk maju atau ambisi yang cukup tinggi, namun cara subjek
dalam mengelola ambisi yang dimiliki belum jelas arah dan tujuannya sehingga terkadang subjek
masih disertai keragu-raguan dalam bertindak dan dalam mengambil keputusan. Meskipun subjek
memiliki potensi intelektual dan analisa berpikir yang cukup baik, namun hal ini tidak membuat
subjek mudah dalam mengatasi kesukaran yang dihadapi, sebaliknya subjek menunjukkan adanya
tendensi kecemasan yang tinggi dalam bertindak.

SDR KELOMPOK
STIMULUS ORGANIK (1,2,7,8)
Stimulus 2 dan 8 berhasil direspon oleh testee dengan membentuk gambar organic
sesuai dengan sifat stimulus yang diharapkan yaitu testee membentuk gambar yang termasuk
kategori animate. Namun, hanya stimulus 2 yang menunjukkan afinitas testee terhadap stimulus,
sedangkan stimulus 1 dan 8 bersifat insesibilitas serta stimulus 7 tidak direspon oleh testee. Hal ini
menunjukkan bahwa testee memilki kepekaan perasaan serta kemampuan beradaptasi yang baik,
namun disisi lain testee juga memiliki ekspresi emosi yang terhambat dan kurang mampu
mengontrol emosi dan kemampuan beradaptasi yang kurang fleksibel.
STIMULUS MEKANIKAL (3,4,5,6)
Stimulus 3 dan 6 berhasil direspon oleh testee dengan membentuk objek mekanik dan
disertai afinitas testee terhadap stimulus tersebut. Sedangkan stimulus 4 dan 5 tidak direspon oleh
testee (reject). Hal ini menunjukkan bahwa testee memiliki kepribadian yang maskulin, akan tetapi
disisi lain testee memiliki kelemahan yang mudah terpengaruh terhadap hal-hal yang kurang
realistis, memiliki keragu-raguan dalam bertindak dan hambatan dalam mengatasi kesukaran.
STIMULUS SEDERHANA (1,2,4,8)
Hanya stimulus 2 yang direspon oleh testee secara afinitas, sedangkan stimulus 1 dan 8
direspon secara insesibilitas, dan stimulus 4 sama sekali tidak direspon oleh testee. Hal ini
menunjukkan bahwa testee memiliki sikap santai yang alami dan pikiran yang jernih. Akan tetapi
testee juga mengalami ketegangan dan rasa tidak aman dalam kondisi tertentu.
STIMULUS KOMPLEKS (3,5,6,7)
Stimulus 3 dan 6 berhasil direspon oleh testee secara afinitas dan stimulus 5 dan 7 tidak
direspon oleh testee. Hal ini menunjukkan bahwa testee memiliki kemampuan konstruktif dan
organisasional yang cukup baik, kemampuan analisis dan intektual yang cukup tinggi dan
ketajaman perhatian.
STIMULUS LENGKUNG (2, 7, dan 8)

Interpretasi Kualitative Tes WZT

Sarlinda Dian Sari (30701201178)

11

Hanya stimulus 2 yang direspon oleh testee secara afinitas sedangkan stimulus 8
direspon insesibilitas dan stimulus 7 tidak direspon oleh testee. Hal ini menunjukkan bahwa testee
memiliki keluwesan dan hubungan dengan kehidupan perasaan yang disertai dengan rasa simpati
yang tinggi terhadap orang lain.
STIMULUS LURUS (3, 5, dan 6)
Stimulus 3 dan 6 direspon oleh testee secara afinitas sedangkan stimulus 5 tidak direspon
oleh testee. Hal ini menunjukkan keteguhan dan kesungguhan testee dalam bertindak meskipun
ada kemungkinan testee bersikap kompulsif dalam bertindak.
STIMULUS LEPAS (1 dan 2)
Stimulus 1 direspon secara insesibilitas sedangkan stimulus 2 direspon secara afinitas.
Hal ini menunjukkan bahwa testee memiliki spontanitas dan keluwesan dalam bertindak serta
mudah menyesuaikan diri pada kondisi atau situasi yang tertentu.
STIMULUS BERORIENTASI (3 dan 5)
Stimulus 3 direspon testee secara afinitas dan stimulus 5 diabaikan atau tidak direspon
oleh testee. Hal ini menunjukkan dorongan vitalitas testee yang kuat, kepercayaan diri serta
kobaran semangat testee yang cukup tinggi.
STIMULUS STATIK (4)
Stimulus 4 tidak direspon oleh testee, sehingga menunjukkan bahwa testee memiliki
hambatan dalam mengatasi kesukaran.
STIMULUS DINAMIK (5)
Stimulus 5 juga tidak direspon oleh testee, yang menunjukkan bahwa testee memiliki
masalah terkait penentuan sikap testee dalam bertindak dan mengambil keputusan. Testee
cenderung menghindari konflik permasalahan atau lari dari masalah yang dihadapi.
STIMULUS BESAR (8)
Stimulus 8 direspon secara insesibilitas oleh testee dan menunjukkan bahwa testee
memiliki penyesuaian yang buruk dalam membangun hubungan sosial dengan lingkungan
sekitarnya.
STIMULUS KECIL (1 dan 7)
Stimulus 1 direspon oleh testee secara insesibilitas dan stimulus 7 tidak direspon oleh
testee. Hal ini menunjukkan bahwa testee sangat mudah menyepelekan hal-hal yang sifatnya kecil
atau kurang nampak, sikap ini mengindikasikan pula bahwa subjek memiliki kepekaan yang sangat
kurang sehingga sukar untuk membangun sebuah kedekatan yang hangat dengan orang lain
ataupun terhadap lawan jenis.
Kesimpulan

Interpretasi Kualitative Tes WZT

Sarlinda Dian Sari (30701201178)

12

Testee memilki kepekaan perasaan serta kemampuan beradaptasi yang baik, namun
disisi lain testee juga memiliki ekspresi emosi yang terhambat dan kurang mampu mengontrol
emosi dan testee memiliki penyesuaian yang buruk dalam membangun hubungan sosial dengan
lingkungan sekitarnya.Testee memiliki kepribadian yang maskulin, akan tetapi disisi lain testee
memiliki kelemahan yang mudah terpengaruh terhadap hal-hal yang kurang realistis, memiliki
keragu-raguan dalam bertindak dan hambatan dalam mengatasi kesukaran, meskipun testee
memiliki kemampuan konstruktif dan organisasional yang cukup baik, kemampuan analisis dan
intektual yang cukup tinggi dan ketajaman perhatian yang cukup baik.
VII.

URUTAN MENGGAMBAR DAN WAKTU YANG DIPERLUKAN


URUTAN MENGGAMBAR
Dalam menanggapi stimulus, subjek memberi respon dengan cara tidak berurutan atau secara
acak. Urutan menggambar subjek dimulai dari stimulus 8, kemudian stimulus 3, stimulus 6,
stimulus 2 dan terakhir pada stimulus 1. Berdasarkan hal tersebut, dapat sekilas dilihat bahwa
subjek cenderung memberi respon utama terhadap stimulus 8 yang secara umum jarang/kurang
direspon oleh subjek lainnya dalam dunia nyata. Namun hal ini menunjukkan adanya indikasi lain
atau sisi yang berbeda (unik) pada diri subjek, melihat content yang digambar subjek dalam
menanggapi stimulus tersebut juga sangat tidak sesuai (insesibilitas) dengan respon yang
seharusnya terbentuk apabila subjek merasa stimulus 8 adalah stimulus yang mudah bagi subjek
sehingga menjadi alasan subjek mengutamakan stimulus tersebut ketimbang stimulus yang
lainnya. Disamping itu pula, dari sisi jenis kelamin subjek cenderung tertarik memulai respon pada
stimulus 8 yang bersifat feminine dan bukan maskulin. Namun, melihat adanya tanda (+) pada
stimulus 6 yang berarti bahwa subjek paling menyukai gambar/responnya terhadap stimulus
tersebut, maka bisa menutupi indikasi yang menyatakan subjek kurang peka terhadap perasaan
yang ditunjukkan pada respon sebelumnya. Intinya, berdasarkan urutan respon dalam
menggambar menunjukkan bahwa subjek terlihat mengutamakan suatu stimulus yang menurutnya
mudah namun sebenarnya subjek tidak memiliki perencanaan atau kemampuan yang matang
dalam bertindak atau menanggapi suatu stimulus yang ada, sehingga terlihat subjek tidak mampu
menyelesaikan stimulus dengan sesuai/tidak mampu beradaptasi. Dugaan ini didukung pula oleh
respon terakhir subjek pada stimulus 1 (insesibilitas) yang yang menunjukkan bahwa subjek
memiliki hambatan dalam menyesuaikan atau menempatkan diri dengan dunia sekelilingnya.
WAKTU YANG DIPERLUKAN
Waktu yang digunakan oleh subjek secara keseluruhan adalah 40 menit, dan merupakan durasi
waktu pengerjaan tes yang cukup lama dari batas normal/standar untuk penyajian tes secara
klasikal yaitu maksimal 30 menit. Diharapkan semakin lama waktu pengerjaan yang dibutuhkan
oleh subjek dalam merespon stimulus yang diberikan, maka akan makin banyak kesempatan
subjek dalam mengeksplor stimulus-stimulus yang ada secara keseluruhan. Namun, kenyataannya
subjek tidak mampu menyelesaikan stimulus yang diberikan secara keseluruhan. Subjek sama
sekali tidak memberikan respon pada stimulus 4, 5 dan 7. Hal ini tentunya berindikasi buruk atau
kurang baik terhadap kepribadian subjek yang bersangkutan. Dugaan bahwa subjek terfokus pada
stimulus-stimulus yang lain secara maksimal dapat terlihat dengan jelas dimana respon subjek
pada tiap kotak stimulus nampak sangat terpaku dengan satu objek saja (kecuali stimulus 3) dan
jarang sekali dipadukan dengan objek yang lainnya. Hal ini pula mendukung dugaan sebelumnya

Interpretasi Kualitative Tes WZT

Sarlinda Dian Sari (30701201178)

13

bahwa subjek memang memiliki hambatan dalam penyesuaian/adaptasi yang sangat minim
dengan dunia disekelilingnya atau dugaan adanya keinginan subjek untuk terlihat sempurna
(perfeksionis) dalam bertidak sehingga subjek cenderung mengalami blocking dalam menghadapi
stimulus yang menurutnya mampu ia hadapi.
Kesimpulan
Berdasarkan urutan respon dalam menggambar menunjukkan bahwa subjek terlihat
mengutamakan suatu stimulus yang menurutnya mudah namun sebenarnya subjek tidak memiliki
perencanaan atau kemampuan yang matang dalam bertindak atau menanggapi suatu stimulus
yang ada, sehingga terlihat subjek tidak mampu menyelesaikan stimulus dengan sesuai/tidak
mampu beradaptasi. Dugaan ini didukung pula oleh respon terakhir subjek pada stimulus 1
(insesibilitas) yang yang menunjukkan bahwa subjek memiliki hambatan dalam menyesuaikan atau
menempatkan diri dengan dunia sekelilingnya.
Berdasarkan waktu yang digunakan oleh subjek secara keseluruhan merupakan durasi
waktu pengerjaan tes yang cukup lama dari batas normal/standar untuk penyajian tes secara
klasikal, akan tetapi kenyataannya subjek tidak mampu menyelesaikan stimulus yang diberikan
secara keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa subjek memiliki hambatan dalam penyesuaian
atau adaptasi yang sangat minim dengan dunia disekelilingnya atau dugaan adanya keinginan
subjek untuk terlihat sempurna (perfeksionis) dalam bertidak sehingga subjek cenderung
mengalami blocking dalam menghadapi stimulus yang menurutnya mampu ia hadapi.

VIII.

KESIMPULAN UMUM
Secara garis besar dapat kita simpulkan berdasarkan kontribusi dari masing-masing aspek
diatas dalam menjelaskan dinamika kepribadian testee yang bersangkutan, dimana testee adalah
sosok yang memiliki kepribadian yang mampu untuk beradaptasi dengan baik dalam kondisi maupun
situasi tertentu meskipun dari aspek emosional testee cenderung masih belum matang atau terkontrol
sepenuhnya sehingga kehidupan sosial atau hubungan sosial testee cenderung bersifat dingin dan
kaku. Subjek memiliki hambatan dalam menghadapi masalah serta pengambilan keputusan yang
disertai keragu-raguan, bahkan sejumlah tindakan maupun pengontrolan diri subjek dalam bertindak
yang dapat mengarah ke tindakan yang bersifat impulsive dan disertai dengan tingkat kecemasan yang
tinggi. Namun, hal ini bisa ditutupi atau dikompensasikan dalam bentuk pengoptimalan kemampuan
atau potensi intelektualitas subjek yang cukup tinggi, dimana tingkat kepekaan subjek dalam bentuk
perhatian yang cermat disertai dengan ketajaman visualisasi yang baik akan dapat menjadi modalitas
diri subjek dalam hal imajinasi dan kreativitasnya.

Interpretasi Kualitative Tes WZT

Sarlinda Dian Sari (30701201178)

14

Interpretasi Kualitative Tes WZT

Sarlinda Dian Sari (30701201178)

15

Interpretasi Kualitative Tes WZT

Anda mungkin juga menyukai