Anda di halaman 1dari 31

Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu

negara

sebagai

upaya

mewujudkan

kedaulatan

rakyat

(kekuasaan

warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara


tersebut.
Isitilah demokrasi berasal dari Yunani Kuno yang diutarakan di Athena
kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut biasanya dianggap sebagai
contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum
demokrasi modern. Namun, arti dari istilah ini telah berubah sejalan
dengan waktu, dan definisi modern telah berevolusi sejak abad ke-18,
bersamaan dengan perkembangan sistem demokrasi di banyak negara.
Kata demokrasi berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti
rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat
diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai
pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk

rakyat. Konsep

demokrasi menjadi sebuah kata kunci tersendiri dalam bidang ilmu politik.
Hal ini menjadi wajar, sebab demokrasi saat ini disebut-sebut sebagai
indikator perkembangan politik suatu negara.
Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica yang membagi
ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif)
untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas
(independen) dan berada dalam peringkat yg sejajar satu sama lain.
Kesejajaran dan independensi ketiga jenis lembaga negara ini diperlukan
agar ketiga lembaga negara ini bisa saling mengawasi dan saling
mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances.
Ketiga jenis lembaga-lembaga negara tersebut adalah lembaga-lembaga
pemerintah

yang

memiliki

kewenangan

untuk

mewujudkan

dan

melaksanakan kewenangan eksekutif, lembaga-lembaga pengadilan yang


berwenang menyelenggarakan kekuasaan judikatif dan lembaga-lembaga
perwakilan rakyat (DPR, untuk Indonesia) yang memiliki kewenangan
menjalankan kekuasaan legislatif. Di bawah sistem ini, keputusan legislatif
dibuat oleh masyarakat atau oleh wakil yang wajib bekerja dan bertindak
sesuai aspirasi masyarakat yang diwakilinya (konstituen) dan yang

memilihnya melalui proses pemilihan umum legislatif, selain sesuai


hukum dan peraturan.
Selain pemilihan umum legislatif, banyak keputusan atau hasil-hasil
penting, misalnya pemilihan presiden suatu negara, diperoleh melalui
pemilihan umum. Pemilihan umum tidak wajib atau tidak mesti diikuti oleh
seluruh warganegara, namun oleh sebagian warga yang berhak dan
secara sukarela mengikuti pemilihan umum. Sebagai tambahan, tidak
semua warga negara berhak untuk memilih (mempunyai hak pilih).
Kedaulatan rakyat yang dimaksud di sini bukan dalam arti hanya
kedaulatan memilih presiden atau anggota-anggota parlemen secara
langsung, tetapi dalam arti yang lebih luas. Suatu pemilihan presiden atau
anggota-anggota parlemen secara langsung tidak menjamin negara
tersebut sebagai negara demokrasi sebab kedaulatan rakyat memilih
sendiri secara langsung presiden hanyalah sedikit dari sekian banyak
kedaulatan rakyat. Walapun perannya dalam sistem demokrasi tidak
besar, suatu pemilihan umum sering dijuluki pesta demokrasi. Ini adalah
akibat cara berpikir lama dari sebagian masyarakat yang masih terlalu
tinggi meletakkan tokoh idola, bukan sistem pemerintahan yang bagus,
sebagai tokoh impian ratu adil. Padahal sebaik apa pun seorang pemimpin
negara, masa hidupnya akan jauh lebih pendek daripada masa hidup
suatu sistem yang sudah teruji mampu membangun negara. Banyak
negara demokrasi hanya memberikan hak pilih kepada warga yang telah
melewati umur tertentu, misalnya umur 18 tahun, dan yang tak memliki
catatan kriminal (misal, narapidana atau bekas narapidana).
Demokrasi menempati posisi vital dalam kaitannya pembagian kekuasaan
dalam suatu negara (umumnya berdasarkan konsep dan prinsip trias
politica) dengan kekuasaan negara yang diperoleh dari rakyat juga harus
digunakan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Prinsip semacam
trias politica ini menjadi sangat penting untuk diperhitungkan ketika faktafakta sejarah mencatat kekuasaan pemerintah (eksekutif) yang begitu
besar ternyata tidak mampu untuk membentuk masyarakat yang adil dan
beradab, bahkan kekuasaan absolut pemerintah seringkali menimbulkan
pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia.

Demikian pula kekuasaan berlebihan di lembaga negara yang lain,


misalnya kekuasaan berlebihan dari lembaga legislatif menentukan
sendiri anggaran untuk gaji dan tunjangan anggota-anggotanya tanpa
mempedulikan aspirasi rakyat, tidak akan membawa kebaikan untuk
rakyat. Intinya, setiap lembaga negara bukan saja harus akuntabel
(accountable), tetapi harus ada mekanisme formal yang mewujudkan
akuntabilitas dari setiap lembaga negara dan mekanisme ini mampu
secara operasional (bukan hanya secara teori) membatasi kekuasaan
lembaga negara tersebut.
Ciri-Ciri Pemerintahan yang Demokrasi
Istilah demokrasi diperkenalkan kali pertama oleh Aristoteles sebagai
suatu

bentuk

pemerintahan,

yaitu

suatu

pemerintahan

yang

menggariskan bahwa kekuasaan berada di tangan banyak orang (rakyat).


Dalam

perkembangannya,

demokrasi

menjadi

suatu

tatanan

yang

diterima dan dipakai oleh hampir seluruh negara di dunia. Ciri-ciri suatu
pemerintahan demokrasi adalah sebagai berikut
1. Adanya keterlibatan warga negara (rakyat) dalam pengambilan
keputusan

politik,

baik

langsung

maupun

tidak

langsung

(perwakilan).
2. Adanya persamaan hak bagi seluruh warga negara dalam segala
bidang.
3. Adanya kebebasan dan kemerdekaan bagi seluruh warga negara.
4. Adanya pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat yang duduk di
lembaga perwakilan rakyat.
Teori dan Konsep Demokrasi
Menurut

Torres

demokrasi

dapat

dilihat

dari

dua

aspek

yaitu

pertama, Formal democratif dan yang kedua,substance democracy yaitu


menunjuk pada bagaimana proses demokrasi itu dilakukan ( Winataputra,
2006)
System presidensial : system ini menekankan penting nya pemilihan
presiden secara langsung dari rakyat. Dalam system ini kekuasaan
eksekutif ( kekuasaan menjalankan pemerintah) sepenuh nya berada
ditangan presiden.

System parlementer : system ini menerapkan model hubungan yang


menyatu antara kekuasaan eksekutif dan legislative. Kepala eksekutif
(head of government) adalah berada ditanga seseorang perdana mentri.
1. Demokrasi Perwakilan Liberal
Prinsip demokrasi ini didasarkan pada suatu filsafat kenegaraan bahwa
manuisa adalah sebagai makhluk individu yang bebas. Oleh karena itu
dalam

system

demokrasi

ini

kebebasan

individu

sebagai

dasar

fundamental dalam pelaksanaan demokrasi


Menurut Held (2004:10), bahwa demokrasi perwakilan liberal merupakan
suatu pembaharuan kelembagaan pokok untuk mengatasi problema
keseimbangan antara kekuasaan memaksa dan kebebasab. Namun
demikian perlu disadari bahwa dalam prinsip demokrasi ini apapun yang
dikembangkan melalui kelembagaan serta jaminan atas kebebasan
individu dalam hidup bernegara.
2. Demokrasi satu partai dan komunisme
Demokrasi satu partai ini lazim nya dilaksankan dinegara Negara
komunitas seperti , rusia, china, Vietnam, dan lain nya. Kebebasan formal
berdasarkan demokrasi liberal akan menghasilkan kesenjangan kelas yang
semakin

lebar

dalam

masyarakat,

dan

akhirnya

kapitalislah

yang

emnguasai Negara.
Dalam hubungan ini Marx mengembangkan pemikiran system demokrasi
commune

structure(struktur

persekutuan

).

Memnurut

system

demokrasi ini masyarakat tersusun atas komunitas komunitas yang


terkecil. Oleh karena itu menurut komunis, Negara post kapitalis tidak
akan melahirkan kemiripan apapun dengan suatu rezim liberal, yakni
rezim perlementer. Semua perwakilan atau agen Negara akan dimasukkan
kedalam lingkungan seperangkat institusi institusi tunggal yang
bertanggung jawab secara langsung.
Menurut pandangan kaum Marxis-Leninis, system demokrasi delegatif
harus dilengkapi, pada prinsipnya dengan suatu system yang terpisah
tetapi sama pada tingkat partai komunis.
Prinsip-Prinsip Demokrasi

Setiap prinsip demokrasi dan prasyarat dari berdirinya negara demokrasi


telah terakomodasi dalam suatu konstitusi Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

Prinsip-prinsip

demokrasi,

dapat

ditinjau

dari

pendapat

Almadudi yang kemudian dikenal dengan soko guru demokrasi.


Menurutnya, prinsip-prinsip demokrasi adalah:
1. Kedaulatan rakyat;
2. Pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah;
3. Kekuasaan mayoritas;
4. Hak-hak minoritas;
5. Jaminan hak asasi manusia;
6. Pemilihan yang bebas dan jujur;
7. Persamaan di depan hukum;
8. Proses hukum yang wajar;
9. Pembatasan pemerintah secara konstitusional;
10.

Pluralisme sosial, ekonomi, dan politik;

11.

Nilai-nilai tolerensi, pragmatisme, kerja sama, dan mufakat.

Asas Pokok Demokrasi


Gagasan pokok atau gagasan dasar suatu pemerintahan demokrasi
adalah pengakuan hakikat manusia, yaitu pada dasarnya manusia
mempunyai kemampuan yang sama dalam hubungan sosial. Berdasarkan
gagasan dasar tersebut terdapat 2 (dua) asas pokok demokrasi, yaitu:
1. Pengakuan

partisipasi

rakyat

dalam

pemerintahan,

misalnya

pemilihan wakil-wakil rakyat untuk lembaga perwakilan rakyat


secara langsung, umum, bebas, dan rahasia serta jurdil; dan
2. Pengakuan

hakikat

dan

martabat

manusia,

misalnya

adanya

tindakan pemerintah untuk melindungi hak-hak asasi manusia demi


kepentingan bersama.
Demokrasi di Indonesia
Sepanjang masa kemerdekaannya, bangsa Indonesia telah mencoba
menerapkan
dijalankan

bermacam-macam

suatu

praktik

demokrasi.

demokrasi

yang

Hingga

tahun

1959,

cenderung

pada

sistem

Demokrasi Liberal, sebagaimana berlaku di negara-negara Barat yang


bersifat individualistik. Pada tahun 1959-1966 diterapkan Demokrasi

Terpimpin, yang dalam praktiknya cenderung otoriter. Mulai tahun 1966


hingga berakhirnya masa Orde Baru pada tahun 1998 diterapkan
Demokrasi

Pancasila.

Model

ini

pun

tidak

mendorong

tumbuhnya

partisipasi rakyat. Berbagai macam demokrasi yang diterapkan di


Indonesia itu pada umumnya belum sejalan dengan prinsip-prinsip
demokrasi,

karena

mengekspresikan

tidak

tersedianya

kebebasan

warga

ruang

negara.

yang

cukup

Berdasar

untuk

pengalaman

sejarah, tidak sedikit penguasa yang cenderung bertindak otoriter,


diktaktor, membatasi partisipasi rakyat dan lain-lain. Mengapa demikian?
Ya, sebab penguasa itu sering merasa terganggu kekusaannya akibat
partisipasi rakyat terhadap pemerintahan. Partisipasiitu dapat berupa
usul, saran, kritik, protes, unjuk rasa atau penggunaan kebebasan
menyatakan pendapat lainnya. Sesudah bergulirnya reformasi pada tahun
1998, kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat, kebebasan
memilih, kebebasan berpolitik dan lain-lain semakin bebas.
Freedom

House

pada

Tahun

2006

memasukkan

negara

RepublikIndonesiasebagai negara demokrasi terbesar ketiga setelah


Amerika danIndia. Puja-puji atas demokrasi terus mengalir dari berbagai
kalangan,

lembaga-lembaga

prosedural

demokrasi

terus

kita

sempurnakan dan dibangun. lembaga legislatif dari system satu kamar


(unicameral) dirubah menjadi system dua kamar (bekameral). System
yang sentralistik diganti menjadi desentralistik seiring dikuatkannya
otonomi daerah.
Namun langkah di atas belum sepenuhnya menjadi pijakan bersama
dalam membangun kehidupan berwarganegara yang civilized. Fenomena
politik yang menyeruak sekarang ini belakangan mengarah pada arus
balik yang cenderung mempertanyakan

kembali demokrasi dibanding

dengan otoriter untuk mensejahterakan rakyat. Demokrasi sekarang ini


dianggap

oleh

sebagian

menjengkelkan.

Cara

yang

ditempuh

memusingkan, hasil yang diraih jarang memuaskan.


Penerapan Demokrasi dinilai sebagian kalangan tidak

memberikan

kesejahteraan tetapi justru melahirkan pertikaian dan pemiskinan. Rakyat


yang seharusnya diposisikan sebagai penguasa tertinggi, ironisnya selalu

dipinggirkan. Keadaan itulah yang menjadikan demokrasi gampang


mendatangkan banyak kekecewaan. Kondisi buruk diperparah elite politik
dan aparat penegak hukum yang menunjukkan aksi-aksi blunder. Banyak
perilaku wakil rakyat yang tidak mencerminkan aspirasi pemilihnya,
bahkan

opini

publik

sengaja

disingkirkan

guna

mencapai

aneka

kepentingan sesaat. Banyak kasus-kasus yang amat mencederai perasaan


rakyat sehingga mudah ditampilkan dan mengundang kegeraman.
Kondisi itu dikuatkan dengan pernyataan mantan Wapres Jusuf Kalla yang
mengatakan bahwa demokrasi cuma cara, alat atau proses, dan bukan
tujuan. Demokrasi boleh di nomorduakan di bawah tujuan utama
peningkatan dan pencapaian kesejahteraan rakyat. Apakah ini kejenuhan
dan kemuakan terhadap demokrasi? Jika elit Politik diselimuti gejala
ketidakpercayaan terhadap demokrasi bagaimana dengan rakyat yang
terlanjur percaya pada janji-janji mereka?
Di tengah eforia kebebasan, kepentingan sempit sangat mungkin menjadi
penumpang gelap. Atas nama kebebasan setiap kepentingan mendapat
tempat aktualisasi tanpa peduli hak asasi orang lain. Aturan main
diabaikan untuk mencapai puncak kekuasaan yang mereka pahami
sebagai

realitas

yang

inheren

dalam

politik.
Pengertian Pendidikan Demokrasi
Pendidikan demokrasi diartikan sebagai upaya sistematis yang dilakukan
Negara dan masyarakat untuk memfasilitasi individu warga negaranya
agar memahami, meghayati, megamall kan dan mengembangkan konsep,
prinsip dan nilai demokrasi sesuai dengan status dan peran nya dalam
masyarakat ( winataputra, 2006 : 12)
Demokrasi memang tidak diwarisi , tetapi ditangkap dan dicerna melalui
proses belajar oleh karena itu untuk memahaminya diperlukan suatu
proses pendidikan demokrasi.

Pendidikan demokrasi dalam nerbagai

konteks, dalam hal ini untuk pendidikan formal ( disekolah dan perguruan
tinggi), non formal ( pendidikan diluar sekolah dan informal ( pergaulan
dirumah dan masyarakat kulturaluntuk membangun cita cita, nilai,

konsep, prinsip, sikap, dan keterampilan demokrasi dalam berbagai


konteks(Winaputra,2006:19)
System pemerintahan demokrasi demokrasi sebanyak cita cita kan oleh
berbagai Negara. Namun upaya untuk menuju kehidupan demokrasi yang
ideal tidak lah mudah. Proses mengimplementasikan demokrasi inilah
sebagai system politik dalam kehidupan bernegara. Demokrasi bertujuan
menghasilkan demokrasi yang mengaju pada cirri cirri sebagai berikut :
a. Proses

yang

tak

pernah

selesai,

dalam

arti

bertahap,

berkesinambungan terus menerus.


b. Bersifat evolusioner dalam arto dilakukan secara berlahan.
c. Perubahan bersifat damai dalam arti tanpa kekerasan ( anarkis)
d. Berjalan melalui cara musyawarah; dalam arti pebedaan yang ada
siselesaikan dengan cara musyawarah.
Jadi, budaya demokrasi dimasyarakat akan terbentuk bialmana nilai nilai
demokrasi itu sudah berkembang luas, merata, dihayati dan dijalankan
sebagai sikap dan prilaku hidup pada hakikat nya budaya demokrasi akan
mengembangkan nilai nilai demokrasi
Implementasi Pendidikan Demokrasi
Pembahasan tentang peranan Negara dan masyarakat tidak dapat
dilepaskan dari telaah tentang demokrasi dan hal ini karena dua alasan
yaitu:
a. Hamper semua Negara di dunia ini telah menjadikan demokrasi sebagai
asasnya yang fundamental sebagai telah ditunjukkan oleh studi UNESCO
pada awal 1950-an yang mengumpulkan lebihd ari 100 sarjana barat dan
timur, sementaa Negara-negara demokrasi itu pemberian peranan kepada
Negara dan masyarakat hidup dalam porsi yang berbeda-beda.
b. Demokrasi sebagai asas kenegaraan secara esensial telah memberikan
arah bagi peranan masyarakat untuk menyelenggarakan Negara sebagai
organisasi tertinggi tetapi ternyata berjalan dalam jalur yang berbedabeda.
Dalam

hubungannya

dengan

implementasi

ke

dalam

system

pemerintahan, demokrasi juga melahirkan system yang bermacammacam seperti:

a. Sistem presidensial yang menyejajarkan antara parlemen dan presiden


dengan member dua kedudukan kepada presiden yakni sebagai kepala
Negara dan kepala pemerintahan.
b. Sistem Parlementer yang meletakkan pemerintahan dipimpin oleh
perdana menteri yang hanya berkedudukan sebagai pemerintahan dan
bukan kepala Negara sebab kepala Negara bias diduduki oleh raja atau
presiden yang hanya sebagai symbol kedaulatan dan persatuan.
c. Sistem referendum yang meletakkan pemerintah sebagai bagian dari
parlemen. Di beberapa Negara ada yang menggunakan system campuran
antara presidensial dengan parlementer, yang antara lain dapat dilihat
dari system ketatanegaraan di Prancis atau Indonesia berdasar UUD 1945
Demokrasi Indonesia, Dulu, Kini dan Nanti
2 Tahun lagi Indonesia akan kembali melangsungkan pesta demokrasi ke 3
nya dalam alam reformasi, banyak pengamat berharap di pesta 5 tahunan
kali ini, akan terjadi perubahan besar, karena nyatanya momentum
reformasi 14 tahun silam adalah sebuah manifestasi kegerahan akan
rezim yang didasari semangat pembaharuan, namun hingga menginjak
usia 12 tahun, reformasi masih saja berkutat pada masalah-masalah
klasik rezim orba yang hanya berubah bentuk.
Berkaca pada sejarah, umur Negara kita dalam konstelasi global memang
belum terlalu matang, namun dalam urusan demokrasi, kita dapat
dikatakan sudah cukup banyak memakan asam garam. Mari sedikit
menelisik perjalan panjang sejarah demokrasi kita.
1. Periode 1945-1959 (Masa Demokrasi Parlementer)
Pasca proklamasi kemerdekaan, kita memulai demokrasi dengan sistem
Demokrasi parlementer pada fase demokrasi ini, peran parlementer serta
partai-partai sangat menonjol. Di satu sisi partai-partai ini memang
berfungsi sebagai wadah dalam pencerdasan dan aspirasi politik, namun
disisi lain, munculnya partai-partai dengan kepentingan dan ideologi yang
berbeda secara tidak langsung menciptakan sekat-sekat antar sesama

anak bangsa. Akibatnya, persatuan yang digalang selama perjuangan


melawan musuh bersama menjadi kendor dan tidak dapat dibina menjadi
kekuatan konstruktif sesudah kemerdekaan.

2.periode 1959-1965 (Masa Demokrasi Terpimpin)


kekuasaan cenderung korup dan kekuasaan absolut pasti korup.
Adagium

itu

adalah

gambaran

dari

demokrasi

paca

demokrasi

parlementer, pada fase ini, Soekarno mendeklarasikan dirinya sebagai


presiden seumur hidup, dan saat itu pula Dwi tunggal runtuh, karena Bung
Hatta memilih mundur dari jabatan wakil presiden karena menilai konsep
yang dibawa Soekarno sudah jauh menyimpang dari cita-cita rakyat. Salah
satu kelemahan dari sistem demokrasi terpemimpin ini adalah tidak
adanya proses check and balance. Karena peran presiden sangat
dominan sementara partai politik praktis menjadi kurang berfungsi..

3.periode 1966-1998 (Masa Demokrasi Pancasila Era Orde Baru)


Demokrasi

pancasila

merupakan

demokrasi

konstitusional

yang

menonjolkan system presidensial. Landasan formal periode ini adalah


pancasila, UUD 1945 dan Tap MPRS/MPR dalam rangka untuk meluruskan
kembali penyelewengan terhadap UUD 1945 yang terjadi di masa
Demokrasi Terpimpin, dalam perkembangannya, peran presiden semakin
dominant terhadap lembaga-lembaga Negara yang lain. Melihat praktek
demokrasi pada masa ini, nama pancasila hanya digunakan sebagai
legitimasi

politik

penguasa

saat

itu

sebab

kenyataannya

yang

dilaksanakan tidaka sesuai dengan nilai-nilai pancasila.


4. periode 1999- sekarang (Masa Demokrasi Pancasila Era Reformasi)
32 tahun dalam kungkungan rezim, akhirnya pada 21 Mei 1998, rakyat
Indonesia dengan dipimpin oleh mahasiswa, melakukan sebuah gebrakan

perubahan, memaksa Soeharto dan kroni-kroni nya turun dari tampuk


kekuasaan. Setelah rezim berhasil diruntuhkan, peranan partai politik
kembali menonjol sehingga demokrasi dapat berkembang. Pada fase-fase
awal periode ini, posisi pemerintah masih belum stabil, sehingga
beberapa kali terjadi pergantian pemerintahan dalam waktu yang singkat.
Era ini ditandai dengan kembali di impelemntasi kannya UUD pasal 28,
yaitu kebebasan berpendapat, pers kembali tumbuh subur.

Demokrasi masa kini Indonesia


Akhir-akhir

ini

kita

dikejutkan

oleh

berbagai

isu-isu

korupsi

yang

menghinggapi para petinggi partai, hingga terkadang terpikirkan apakah


sistem demokrasi saat ini adalah yang terbaik ?
Saat ini dapat dikatakan kita sedang memasuki tahap transisi reformasi,
artinya kita masih mencoba-coba dan memilah-milah segala kondisi yang
terbaik bagi keberjalan bangsa ini.
Perkebangan

yang

ada

setelah

fase

awal-awal

demokrasi

sudah

menunjukkan perbaikkan-perbaikkan, sistem check and balance pada


fase ini sudah cukup baik, karena fungsi lembaga hukum yang sudah
semakin meningkat. Fase ini juga ditandai dengan tumbuh suburnya
Lembaga Swadaya Masyarakat. Ujung tombak pengelola pemerintahan
masih saja di dominasi oleh tokoh-tokoh lama.

Demokrasi Masa depan Indonesia (pemilu 2014)


Salah satu diri khas demokrasi adalah adanya Pemilihan Umum, karena
pada momentum ini terjadi proses pergantian kekuasaan, dan pada
proses pemilihan umum inilah biasanya perubahan-perubahan itu terjadi.
Paska

reformasi,

Indonesia

telah

beberapa

kali

melakukan

proses

pemilihan umum, 2004 dapat dikatakan sebagai sebuah garis start dalam

kita mengimplementasikan proses demokrasi yang sesungguhnya, Karena


pada periode inilah rakyat dalam memilih presiden dan wakil presidennya
secara langsung, dengan Presiden Susilo Bambang Yudhono dengan
kendaran politik nya (Demokrat) yang masih tergolong baru, dapat
mengalahkan sosok Megawati yang masih saja mengandalkan ketokohan
Soekrano.
5 tahun kemudian kita kembali melangsungkan pesta demokrasi ini,
dengan segala perbaikkan dan penyempurnaan meskipun belum semua
masalah terselesaikan- pesta demokrasi ini memunculkan wajah-wajah
lama dengan kendaraan politik baru, Wiranto dengan Hanura, Prabowo
dengan Gerinda. Sebagai partai baru kedua partai ini dapat dikatakan
cukup sukses mengikuti proses pemilu ini, karena jumlah suara yang
cukup signifikan. Namun, nyatanya posisi Demokrat sebagai partai
penguasa masih belum tergantikan, SBY kembali terpilih sebagai presiden
untuk kali kedua.
3 tahun sudah pemilu 2009 lewat, menginjak tahun 2012 ini, artinya
pemilu 2014 tinggal 2 tahun lagi. Banyak kalangan menaruh harapan
besar

pada

mencalonkan

pemilu
dirinya

2014
lagi,

nanti,
mereka

selain

karena

menilai

SBY

pemilu

tidak

dapat

sebelumnya

merupakan masa transisi dalam keberjalanan bangsa kita, karena


pemegang kekuasaan yang ada adalah residu zaman Orde Baru.
Harapannya tahun 2014 nanti waktu untuk tokoh-tokoh muda unjuk gigi,
rakyat membutuhkan sebuah pemikir baru dengan ide-ide segarnya.
Belum lagi berkaca pada beberapa prestasi Indonesia tahun-tahun
terkahir. World Bank (Bank Dunia) dalam laporan tahunan 2011 nya
mengatakan Indonesia, Brasil, India, China dan beberapa Negara lainnya
akan menjadi penopang ekonomi dunia pada tahun 2045. Tahun 2011 lalu
pun kita kembali mendaptkan sebuah predikat Negara tempat investasi.
Selain itu, ditengah badai krisis di tahun 2008 kita masih bisa
mempertahankan pertumbuhan ekonomi kita di atas 5% dengan GDP
sebesar USD3000.

Jika ditahun 2011 lalu survey IndoBarometer menunjukkan masyarakat


menyatakan kondisi di saat Orde baru lebih baik daripada kondisi saat ini,
maka saya berani mengatakan mereka semua salah, meraka hanya
berpikir dalam satu persfektif saja, sudah banyak sekali perubahan dan
kemajuan yang telah kita toreh semenjak menginjakkan kaki di alam
reformasi, meskipun sama-sama kita sadari segalanya belum sempurna,
dana masih membutuhkan perbaikkan di segala sisi secara parallel. Dan
sudah seharusnya menyongsong pemilu 2014 nanti, kita harus terus
menanamkan optimism akan perubahan Indonesia. Kita pun sama-sama
berharap, 2014 adalah waktunya tokoh-tokoh muda maju, sudah saatnya
Indonesia dipimpin oleh tokoh-tokoh dengan ide-ide segar. Biarkan tokohtokoh lama menepi dan cukup focus pada tugasnya sebagai Negarawan.
Praktik Demokrasi di Indonesia
Secara sederhana, demokrasi sering diartikan dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat. Maka aktualisasi demokrasi di dalam suatu
negara tidak lain tidak bukan adalah kedaulatan rakyat. Oleh sebab itu,
demokrasi seharusnya menjadi semangat dari terbentuknya suatu negara
yang menginginkan keadilan dan kemakmuran bagi rakyat.
Menurut penulis, keadilan dan kemakmuran rakyat diukur dari
sejauh mana hak asasi manusia (HAM) ditegakkan. HAM merupakan hak
dasar setiap insan yang harus dihargai. Walaupun Undang-Undang Dasar
dan peraturan lainnya sudah mengatur dan menjamin hak seseorang,
namun apakah hak asasi manusia sudah ditegakkan dengan benar masih
sulit untuk dijawab. Maka kita perlu mengkaji bagaimana penegakkan
HAM di negara kita yang berasaskan demokrasi ini. Dan hal inilah yang
menjadi latar belakang saya untuk menulis artikel ini.
Demokrasi sering digadang-gadang sebagai penghubung antara
pemerintah dengan rakyat. Memang benar, demokrasi merupakan satusatunya konsep pemikiran yang berkembang pesat saat ini, sebagai wujud
penyuaraan aspirasi rakyat secara langsung terhadap pemerintah atau
jajaran pemerintahan tinggi negara. Dalam era reformasi sekarang, kita
punya hak mengkritik pemerintah, baik melalui aksi demonstrasi (damai

bukan anarki), melalui tulisan, diskusi maupun jejak pendapat. Hal ini
merupakan bentuk kemajuan kongkret yang diterapkan pada sistem
pemerintahan Indonesia.
Namun,

demokrasi

justru

menjadi

sebuah

boomerang

yang

pelaksanaannya sangat kontradiktif. Secara hukum rakyat memiliki hak


mutlak

untuk

mengaspirasikan

segala

bentuk

ketidakadilan

yang

mengancam kesejahteraan mereka, selama aspirasi tersebut tidak


melewati

batas

demokrasi

yang

diberlakukan

bagi

seluruh

rakyat

Indonesia, tanpa memandang ras, suku, agama, serta kedudukan dan


kepentingan golongan. Namun apa yang terjadi? Banyak ketidakadilan
yang malah dirasakan oleh masyarakat.
Demokrasi

yang

tidak

bersifat

adil

terhadap

rakyat

telah

berlangsung lama di tengah bangsa kita. Beberapa kekerasan dan


perlakuan semena-mena oleh oknum aparat penegak hukum pada
penyelesaian konflik pelanggaran HAM merupakan bukti yang nyata. Arti
demokrasi yang selama ini dipahami sebagai berpihak kepada rakyat
mulai berubah maknanya menjadi istilah demo-keras-i. Demokrasi
sudah berubah bahasa dan pengertian menjadi mengerasi atau berlaku
bengis dan kejam. Sentuhan kekerasan oknum aparat penegak hukum itu
sudah terjadi berulangkali, namun lembaga seolah tak pernah bercermin
dan belajar.
Sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, beberapa
oknum polisi selaku aparat penegak hukum sepertinya semakin tak punya
batas dalam menggunakan kekuasaannya. Melalui demokrasi, seharusnya
rakyat memperoleh hidup yang selayaknya seperti jaminan kemakmuran
dan rasa aman, yang tertera dalam UUD 1945. Sekarang ini jaminan itu
sulit dicapai apalagi didukung oleh fakta perlakuan kekerasan oknum
aparat penegak hukum pada kasus PT. Freeport, Mesuji, dan Bima.
Setelah penulis mempelajari berbagai konflik di tanah air, konflikkonflik yang terjadi dalam kurun waktu beberapa pekan terakhir
merupakan konflik berdarah antara polisi dengan masyarakat kita sendiri.
Tindak kekerasan yang dilakukan oleh oknum kepolisian terhadap
masyarakat sipil ini telah menunjukkan bagaimana wajah polisi Republik

Indonesia saat ini. Bagaimana oknum polisi sebagai lembaga keamanan


negara yang katanya pelindung, pengayom, dan pelayan rakyat itu justru
seolah-olah menganggap masyarakat yang tanpa senjata, dan tanpa
kekuatan sebagai musuh yang patut di-door, dengan bedil atau senapan
besar, senjata dan adu jotos.
Akibatnya pelanggaran HAM pun banyak terjadi. Dalam konflik PT.
Freeport dengan warga Papua, 2 orang masyarakat tewas dengan bukti
adanya penembakan. Kejadian ini justru setelah terlaksananya kongres
antara warga dengan pihak kepolisian. Sedangkan kasus Mesuji telah
menelan korban 9 orang dengan bukti adanya penembakan dan
pemakaian benda tajam. Sementara itu, konflik Bima pun kejadiannya
hampir serupa, bahwa secara terang-terangan oknum polisi melakukan
tindak

kekerasan

terhadap

masyarakat

dengan

tembakan

dan

penganiayaan terhadap para pendemo, hingga 2 orang tewas tertembak


dan puluhan lain dalam kondisi kritis. Lalu yang menjadi pertanyaannya,
pantaskah seorang pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat
berlaku sedemikian bengis?
Biasanya konflik dipicu oleh aksi demonstrasi yang dilakukan warga.
Fakta

membuktikan

alasan

utama

bagi

sekelompok

orang

untuk

mengadakan aksi massa atau demo dipicu oleh kegelisahan bersama


akan sejumlah harapan yang tidak sesuai dengan realitas, penyimpanganpenyimpangan yang merajalela baik dalam sisi keadilan, kesejahteraan,
HAM, dan kekuasaan. Justru melalui demokrasi harusnya kita sama-sama
membenahi bangsa ini ke arah yang lebih baik, tidak malah berpihak
kepada kesalahan dan memusuhi rakyat. Rakyat hanya meminta kembali
hak-haknya kepada pemerintah. Paling tidak dengan aksi itu, pemerintah
tergerak hatinya untuk memberikan sedikit perhatian terhadap kondisi
rakyatnya.
Latar belakang mengapa kebanyakan rakyat berdemonstrasi adalah
seperti yang terjadi di Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat.
Masyarakat Bima melakukan orasi atau seperti aksi mogok atau
pemblokadean

karena

ketidakadilan

yang

mereka

rasakan

yang

menjadikan posisi mereka terpinggirkan sejak beroperasinya perusahaan


pertambangan di Bima.
Namun tampaknya, pemerintah kurang mencermati apa yang
menjadi

kebutuhan

masyarakat

sejak

disetujuinya

SK

pembukaan

tambang di Bima, seolah-olah pemerintah hanya terfokus pada investasi


yang dihasilkan, sedang kondisi masyarakat adalah nomor kesekian.
Sama halnya dengan kasus PT. Freeport dan Mesuji, pemerintah pun tetap
melakukan kekeliruan yang sama. Maka dengan kondisi demikianlah
mengapa Soekarno sejak dulu anti-kapitalisme. Menurut beliau mereka
adalah lintah darat yang awalnya bicara manis dan pada akhirnya
kekayaan alam bangsa kita lambat laun semakin disedotnya. Lalu yang
dirugikan siapa? Tampaknya pemerintah perlu mengkaji lebih dalam akar
permasalahan terjadinya berbagai konflik tersebut.
Lalu polisi sebagai bagian yang seharusnya ada di pihak rakyat
sepertinya perlu untuk membenahi diri, belajar untuk bisa menjadi
sahabat

karib,

dan

memahami

posisi

rakyat

yang

memilih

jalan

demonstrasi sebagai bentuk aspirasi terhadap kondisi yang semakin


membelit ekonomi mereka. Polisi seharusnya menjadi pihak yang netral
dan cermat dalam mengambil sikap, apakah penting melakukan tindakan
represif, ataukah polisi hanya menegakkan wibawa/kekuasaan, bukan
hukum. Polisi jangan mau dibutakan oleh kebutuhan finansial yang
diperoleh dari pihak yang seharusnya bertanggungjawab atas persoalan
yang terjadi.
Sebagai warga negara Indonesia yang berbahasa satu, bertanah air
satu, dan bertumpah darah satu, seharusnya kita bekerjasama dalam
upaya

melindungi

segala

hal

yang

mengancam

keamanan

dan

pertahanan bangsa, yang bisa saja berasal dari luar. Kita dituntut untuk
setia menegakkan keadilan, berpihak pada yang benar, dan berjuang
bersama demi menciptakan kehidupan yang aman, tenteram, dan damai.
Karena hal inilah yang menjadi buah perjuangan Soekarno dan kawankawan bagi bangsa Indonesia. Rakyat adalah objek sekaligus subjek dari
sebuah bangsa, rakyat adalah kekayaan bangsa, dan rakyat seharusnya
diberi perlindungan yang wajar dan adil sebagai manusia yang sejatinya

memiliki hak asasi. Semoga pemerintah dan segala jajaran yang bertugas
semakin belajar dari banyak permasalahan yang ada. Semoga aparat
penegak hukum benar-benar melindungi, mengayomi, dan melayani
rakyat, berbenah diri agar tragedi Mesuji, PT. Freeport, dan Bima tidak
terulang lagi di kemudian hari. Semoga Pancasila dan UUD 1945 masih
tetap menjadi pilar bangsa yang masih berlaku bagi seluruh rakyat
Indonesia. Demi hak asasi manusia dan demi rakyat Indonesia semoga
tidak ada lagi praktik demo-keras-i.
PELAKSANAAN DEMOKRASI DARI ORDE BARU SAMPAI SAAT INI
Pelaksanaan demokrasi di indonesia sendiri sebenarnya telah ada
empat kali perubahan dimulai dari orde baru hingga masa reformasi yang
ada sekarang ini.
Lalu jika ditilik dari masa orde lama hingga sampai saat ini yaitu
masa reformasi, telah banyak sekali penyimpangan penyimpangan yang
dilakukan oleh pemimpin negara. Tapi tentu saja ada yang memang
sangat dibutuhkan atau memang tidak diperlukan.
Lebih dari itu ada dalam masa beberapa pelaksanaan demokrasi
diindonesia juga diwarnai dengan adanya pemberontakan,

pengaruh

suatu partai tertentu yang sangat kuat hingga banyak partai yang ada
diindonesia ini. Juga ada yang diwarnai dengan KKN. Dan yang perlu
diperhatikan juga bahwa berubahnya sistem demokrasi diindonesia ini
telah diikuti pula dengan berubahnya

sistim pemerintahan yang ada

diindonesia mulai dari presidensil dan parlementerpun pernah dirasakan


negri ini. Hingga akhirnya kembali ke sistim pemerintahan presidensil
Pelaksanaan demokrasi diindonesia ini sendiri di bagi menjadi
beberapa periode, dimulai dari masa orde lama (1945 -1950) yaitu yang
ditandai dengan awal mulanya indonesia merdeka dan juga negara
indonesia

sendiri

masih

terus

berjuang

membenahi

sistem

ketatanegaraannya dan bertahan dari serangan sekutu yang masih coba


coba untuk menjajah indonesia. Tapi pada saat itu indonesia sudah mulai
mengenal dan menganut sistem demokrasi tapi tetap kekuasaan penuh

masih ada ditangan presiden sebagai kepala negara dan pemerintahan,


itu terbukti dengan Untuk menghindari kesan bahwa negara Indonesia
adalah negara yang absolut pemerintah mengeluarkan :
1. Maklumat Wakil Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945, KNIP berubah
menjadi lembaga legislatif.
2. Maklumat Pemerintah tanggal 3 Nopember 1945 tentang Pembentukan
Partai Politik.
3. Maklumat Pemerintah tanggal 14 Nopember 1945 tentang perubahan
sistem pemerintahan presidensil menjadi parlementer
Hal hal inilah pemerintah indonesia dulu yang telah mulai dengan sistem
demokrasi dengan di tandai mulai dibentuknya partai politik.
Kemudian

pada

masa

ini

juga

terjadi

perubahan

sistem

pemerintahan dari presidensil ke pada parlementer (1950 1959).


Pada

masa

sistem

parlementer

ini,

pelaksanaan

demokrasi

diindonesia semakin bebas, terbukti dengan banyaknya organisasi partai


politik yang berkembang pada masa ini hingga akhirnya sistem ini pun
tidak bertahan lama hingga kembali berubah ke masa demokrasi
terpimpin.
Masa demokrasi terpimpin yang berlaku mulai dari 1959 - 1966
ditandai dengan keluarnya dekrit presiden yang salah satu isinya kembali
kepada UUD 45. Di masa ini pelaksanaan demokrasipun ikut berubah
juga, yang pada saat masa parlementer, demokrasi menjadi hal yang
sangat terbuka, tapi pada masa ini demokrasi menjadi hal yang terbatas.
Ditandainya dengan adanya keterbatasan pers, dominasi oleh presiden
dan terbatasnya peran partai politik serta dimasa ini pula terjadi
pemberontakan yang disebut G30SPKI.d dan hal inilah yang menjadi akhir
dari masa pelaksanaan demokrasi pada masa orde lama pimpinan Bpk.
Sukarno.
Setelah masa orde lama usai maka lahirlah masa ordebaru (1966
1998). Masa ini dimulai ketika berhasilnya pemberontakan G30SPKI
ditumpas oleh Jendral Suharto. Yang kemudian menjadi presiden yang
berikutnya. Pada masa ini pelaksanaan demokrasi diindonesia itu murni
dan konsekuen menurut pancasila dan UUD 45 tapi pelaksanaan

demokrasi pada masa ini pada awalnya berjalan mulus dan memberi
harapan baru pada rakyat serta berhasil menyelenggarakan Pemilihan
Umum tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Namun seiring
berjalannya waktu pelaksanaan demokrasi pada masa ini di anggap
gagal karena beberapa hal yaitu:
1.

Rotasi kekuasaan eksekutif hampir dikatakan tidak ada

2.

Rekrutmen politik yang tertutup

3.

Pemilu yang jauh dari semangat demokratis

4.

Pengakuan HAM yang terbatas

5.

Tumbuhnya KKN yang merajalela


Hingga akhirnya runtuhnya masa demokrasi orde baru ini pada tahun
1998 yang disebabkan oleh:

1.

Hancurnya ekonomi nasional ( krisis ekonomi )

2.

Terjadinya krisis politik

3.

TNI juga tidak bersedia menjadi alat kekuasaan orba

4.

Gelombang demonstrasi yang menghebat menuntut Presiden Soeharto


untuk turun jadi Presiden

5.

Pelaksanaan demokrasi pada masa Reformasi 1998 s/d sekarang.


Setelah itu adalah masa reformasi, masa inilah yang berlaku hingga
sampasi saat ini. Pada masa reformasi ini, pelaksanaan demokrasi yang
dikembangkan pada masa reformasi pada dasarnya adalah demokrasi
dengan

mendasarkan

dengan penyempurnaan

pada

Pancasila

pelaksanaannya

dan

dan

UUD

perbaikan

1945,

peraturan-

peraturan yang tidakdemokratis, dengan meningkatkan peran lembagalembaga

tinggi

dan

tertinggi

negara dengan

menegaskan

fungsi,

wewenang dan tanggung jawab yang mengacu pada prinsip pemisahan


kekuasaan

dan

tata

hubungan

yang

jelas

antara

lembaga-

lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif.


Demokrasi Indonesia saat ini telah dimulai dengan terbentuknya DPR
MPR hasil Pemilu 1999 yang telah memilih presiden dan wakil presiden
serta terbentuknya lembaga-lembaga tinggi yang lain. Selain itu juga
lebih ditekankan pada:

1. Penegakkan kedaulatan rakyat dengan memberdayakan pengawasan


sebagai lembaga negara, lembaga politik, dan kemasyarakatan.
2. Pembagian secara tegas wewenang antara badan legislatif, eksekutif, dan
yudikatif.
3. Penghormatan kepada keberadaan asas, ciri aspirasi, dan program parpol
yang multipartai.
C. Kesimpulan
Jadi Pelaksanaan demokrasi di Indonesia selama kurun waktu 60
tahun terakhir telah banyak mengalami perubahan yang mencakup
berbagai hal, yaitu sebagai berikut :
1. Periode 1945-1949 dengan UUD 1945 seharusnya berlaku demokrasi
Pancasila namun dalam penerapan berlaku demokrasi liberal
2. Periode 1949-1950 dengan konstitusi RIS berlaku demokrasi liberal.
3. Periode 1950-1959 dengan UUDS 1950 berlaku demokrasi liberal dengan
multipartai.
4. Periode 1959-1965 dengan UUD 1945 seharus berlaku demokrasi
Pancasila, namun yang diterapkan demokrasi terpimpin (cebderung
otoriter).
5.

Periode 1966-1998 dengan UUD 1945 berlaku demokrasi Pancasila


(cenderung otoriter).

6. Periode 1998 sampai sekarang dengan UUD 1945 berlaku demokrasi


Pancasila (cenderung ada perubahan menuju demokratisasi).
Sejarah Demokrasi di Indonesia
Sejak Indonesia merdeka dan berdaulat sebagai sebuah negara pada
tanggal 17 Agustus 1945, para Pendiri Negara Indonesia (the Founding
Fathers) melalui UUD 1945 (yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945)
telah menetapkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menganut
paham atau ajaran demokrasi, dimana kedaulatan (kekuasaan tertinggi)
berada ditangan Rakyat dan dilaksanakan sepenuhnya oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR). Dengan demikian berarti juga NKRI
tergolong sebagai negara yang menganut paham Demokrasi Perwakilan
(Representative Democracy).

Penetapan paham demokrasi sebagai tataan pengaturan hubungan antara


rakyat disatu pihak dengan negara dilain pihak oleh Para Pendiri Negara
Indonesia yang duduk di BPUPKI tersebut, kiranya tidak bisa dilepaskan
dari

kenyataan

bahwa

sebagian

terbesarnya

pernah

mengecap

pendidikan Barat, baik mengikutinya secara langsung di negara-negara


Eropa

Barat

(khususnya

Belanda),

maupun

mengikutinya

melalui

pendidikan lanjutan atas dan pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh


pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia sejak beberapa dasawarsa
sebelumnya, sehingga telah cukup akrab dengan ajaran demokrasi yang
berkembang

di

negara-negara

Eropa

Barat

dan

Amerika

Serikat.

Tambahan lagi suasana pada saat itu (Agustus 1945) negara-negara


penganut ajaran demokrasi telah keluar sebagai pemenang Perang DuniaII.
Didalam praktek kehidupan kenegaraan sejak masa awal kemerdekaan
hingga saat ini, ternyata paham demokrasi perwakilan yang dijalankan di
Indonesia terdiri dari beberapa model demokrasi perwakilan yang saling
berbeda satu dengan lainnya.
Sejalan dengan diberlakukannya UUD Sementara 1950 (UUDS 1950)
Indonesia mempraktekkan model Demokrasi Parlemeter Murni (atau
dinamakan juga Demokrasi Liberal), yang diwarnai dengan cerita sedih
yang panjang tentang instabilitas pemerintahan (eksekutif = Kabinet) dan
nyaris berujung pada konflik ideologi di Konstituante pada bulan Juni-Juli
1959.
Guna mengatasi konflik yang berpotensi mencerai-beraikan NKRI tersebut,
maka pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Ir.Soekarno mengeluarkan Dekrit
Presiden yang memberlakukan kembali UUD 1945, dan sejak itu pula
diterapkan model Demokrasi Terpimpin yang diklaim sesuai dengan
ideologi Negara Pancasila dan paham Integralistik yang mengajarkan
tentang kesatuan antara rakyat dan negara.
Namun belum berlangsung lama, yaitu hanya sekitar 6 s/d 8 tahun
dilaksanakan-nya Demokrasi Terpimpin, kehidupan kenegaraan kembali
terancam akibat konflik politik dan ideologi yang berujung pada peristiwa

G.30.S/PKI pada tanggal 30 September 1965, dan turunnya Ir. Soekarno


dari jabatan Presiden RI pada tanggal 11 Maret 1968.
Presiden Soeharto yang menggantikan Ir. Soekarno sebagai Presiden ke-2
RI dan menerapkan model Demokrasi yang berbeda lagi, yaitu dinamakan
Demokrasi Pancasila (Orba), untuk menegaskan klaim bahwasanya model
demokrasi inilah yang sesungguhnya sesuai dengan ideologi negara
Pancasila.
Demokrasi

Pancasila

(Orba)

berhasil

bertahan

relatif

cukup

lama

dibandingkan dengan model-model demokrasi lainnya yang pernah


diterapkan sebelumnya, yaitu sekitar 30 tahun, tetapi akhirnyapun ditutup
dengan cerita sedih dengan lengsernya Jenderal Soeharto dari jabatan
Presiden pada tanggal 23 Mei 1998, dan meninggalkan kehidupan
kenegaraan yang tidak stabil dan krisis disegala aspeknya.
Sejak runtuhnya Orde Baru yang bersamaan waktunya dengan lengsernya
Presiden Soeharto, maka NKRI memasuki suasana kehidupan kenegaraan
yang baru, sebagai hasil dari kebijakan reformasi yang dijalankan
terhadap hampir semua aspek kehidupan masyarakat dan negara yang
berlaku sebelumnya. Kebijakan reformasi ini berpuncak dengan di
amandemennya UUD 1945 (bagian Batangtubuhnya) karena dianggap
sebagai sumber utama kegagalan tataan kehidupan kenegaraan di era
Orde Baru.
Amandemen UUD 1945, terutama yang berkaitan dengan kelembagaan
negara,

khususnya

laginya

perubahan

terhadap

aspek

pembagian

kekuasaan dan aspek sifat hubungan antar lembaga-lembaga negaranya,


dengan sendirinya mengakibatkan terjadinya perubahan terhadap model
demokrasi yang dilaksanakan dibandingkan dengan model Demokrasi
Pancasila di era Orde Baru.
2.2. Perkembangan Demokrasi di Indonesia
Perkembangan demokrasi di Indonesia dapat dilihat dari Pelaksanaan
Demokrasi yang pernah ada di Indonesia. Pelaksanaan demokrasi di
indonesia dapat dibagi menjadi beberapa periodesasi antara lain :
1. Pelaksanaan demokrasi pada masa revolusi ( 1945 1950 ).

Tahun 1945 1950, Indonesia masih berjuang menghadapi Belanda yang


ingin kembali ke Indonesia. Pada saat itu pelaksanaan demokrasi belum
berjalan dengan baik. Hal itu disebabkan oleh masih adanya revolusi fisik.
Pada awal kemerdekaan masih terdapat sentralisasi kekuasaan hal itu
terlihat Pasal 4 Aturan Peralihan UUD 1945 yang berbnyi sebelum MPR,
DPR dan DPA dibentuk menurut UUD ini segala kekuasaan dijalankan oleh
Presiden denan dibantu oleh KNIP. Untuk menghindari kesan bahwa
negara Indonesia adalah negara yang absolut pemerintah mengeluarkan :

Maklumat Wakil Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945, KNIP


berubah menjadi lembaga legislatif.

Maklumat

Pemerintah

tanggal

Nopember

1945

tentang

14

Nopember

1945

tentang

Pembentukan Partai Politik.

Maklumat

Pemerintah

tanggal

perubahan sistem pemerintahn presidensil menjadi parlementer


2. Pelaksanaan demokrasi pada masa Orde Lama
a. Masa Demokrasi Liberal (1950 1959)
Masa demokrasi liberal yang parlementer presiden sebagai lambang atau
berkedudukan sebagai Kepala Negara bukan sebagai kepala eksekutif.
Masa demokrasi ini peranan parlemen, akuntabilitas politik sangat tinggi
dan berkembangnya partai-partai politik.
Namun

demikian

praktek

demokrasi

pada

masa

ini

dinilai

gagal

disebabkan :

Dominannya partai politik

Landasan sosial ekonomi yang masih lemah

Tidak mampunya konstituante bersidang untuk mengganti UUDS


1950

Atas dasar kegagalan itu maka Presiden mengeluarkan Dekrit Presiden 5


Juli 1959 :

Bubarkan konstituante

Kembali ke UUD 1945 tidak berlaku UUD S 1950

Pembentukan MPRS dan DPAS

b. Masa Demokrasi Terpimpin (1959 1966)

Pengertian demokrasi terpimpin menurut Tap MPRS No. VII/MPRS/1965


adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan yang berintikan musyawarah untuk mufakat
secara gotong royong diantara semua kekuatan nasional yang progresif
revolusioner dengan berporoskan nasakom dengan ciri:
1. Dominasi Presiden
2. Terbatasnya peran partai politik
3. Berkembangnya pengaruh PKI
Penyimpangan masa demokrasi terpimpin antara lain:
1. Mengaburnya sistem kepartaian, pemimpin partai banyak yang
dipenjarakan
2. Peranan

Parlemen

lembah

bahkan

akhirnya

dibubarkan

oleh

presiden dan presiden membentuk DPRGR


3. Jaminan HAM lemah
4. Terjadi sentralisasi kekuasaan
5. Terbatasnya peranan pers
6. Kebijakan politik luar negeri sudah memihak ke RRC (Blok Timur)
Akhirnya terjadi peristiwa pemberontakan G 30 September 1965 oleh PKI
yang menjadi tanda akhir dari pemerintahan Orde Lama.
3. Pelaksanaan demokrasi Orde Baru (1966 1998)
Dinamakan juga demokrasi pancasila. Pelaksanaan demokrasi orde baru
ditandai dengan keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966, Orde Baru
bertekad akan melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan
konsekwen.

Awal

Orde

baru

memberi

harapan baru

pada

rakyat

pembangunan disegala bidang melalui Pelita I, II, III, IV, V dan pada masa
orde baru berhasil menyelenggarakan Pemilihan Umum tahun 1971, 1977,
1982, 1987, 1992, dan 1997.
Namun demikian perjalanan demokrasi pada masa orde baru ini dianggap
gagal sebab:
1. Rotasi kekuasaan eksekutif hampir dikatakan tidak ada
2. Rekrutmen politik yang tertutup
3. Pemilu yang jauh dari semangat demokratis
4. Pengakuan HAM yang terbatas

5. Tumbuhnya KKN yang merajalela


Sebab jatuhnya Orde Baru:
1. Hancurnya ekonomi nasional ( krisis ekonomi )
2. Terjadinya krisis politik
3. TNI juga tidak bersedia menjadi alat kekuasaan orba
4. Gelombang

demonstrasi

yang

menghebat

menuntut

Presiden

Soeharto untuk turun jadi Presiden.


4. Pelaksanaan Demokrasi Reformasi {1998 Sekarang).
Berakhirnya masa orde baru ditandai dengan penyerahan kekuasaan dari
Presiden Soeharto ke Wakil Presiden BJ Habibie pada tanggal 21 Mei 1998.
Masa

reformasi

berusaha

membangun

kembali

kehidupan

yang

demokratis antara lain:


1. Keluarnya Ketetapan MPR RI No. X/MPR/1998 tentang pokok-pokok
reformasi
2. Ketetapan No. VII/MPR/1998 tentang pencabutan tap MPR tentang
Referandum
3. Tap MPR RI No. XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan Negara yang
bebas dari KKN
4. Tap MPR RI No. XIII/MPR/1998 tentang pembatasan Masa Jabatan
Presiden dan Wakil Presiden RI
5. Amandemen UUD 1945 sudah sampai amandemen I, II, III, IV
Pada Masa Reformasi berhasil menyelenggarakan pemiluhan umum sudah
dua kali yaitu tahun 1999 dan tahun 2004.
2.3 Pemilihan Umum Sebagai Pelaksanaan Demokrasi
a. Pengertian Pemilihan Umum
Salah

satu

ciri

Negara

demokratis

debawa

rule

of

law

adalah

terselenggaranya kegiatan pemilihan umum yang bebas. Pemilihan umum


merupakan sarana politik untuk mewujudkan kehendak rakyat dalam hal
memilih wakil-wakil mereka di lembaga legislatif serta memilih pemegang
kekuasaan eksekutif baik itu presiden/wakil presiden maupun kepala
daerah.
Pemilihan umumbagi suatu Negara demokrasi berkedudukan sebagai

sarana untuk menyalurkan hak asasi politik rakyat. Prmilihan umum


memiliki arti penting sebagai berikut:
1. Untuk

mendukung

atau

mengubah

personel

dalam

lembaga

legislatif.
2. Membentuk dukungan yang mayoritas rakyat dalam menentukan
pemegang kekuasaan eksekutif untuk jangka tertentu.
3. Rakyat melalui perwakilannya secara berkala dapat mengoreksi
atau mengawasi kekuatan eksekutif.
b. Tujuan Pemilihan Umum
Pada pemerintahan yang demokratis, pemilihan umum merupakan pesta
demokrasi. Secara umum tujuan pemilihan umum antara lain :
1. Melaksanakan kedaulatan rakyat
2. Sebagai perwujudan hak asas politik rakyat
3. Untuk memilih wakil-wakil rakyat yang duduk di lembaga legislatif
serta memilih Presiden dan wakil Presiden.
4. Melaksanakan pergantian personel pemerintahan secara aman,
damai, dan tertib
5. Menjamin kesinambungan pembangunan nasional
Pemilu 1955 merupakan pemilu yang pertama dalam sejarah bangsa
Indonesia. Waktu itu Republik Indonesia berusia 10 tahun. Dapat
dikatakan pemilu merupakan syarat minimal bagi adanya demokrasi.
Secara lebih jelas Juan J. Linz dan Alfred Stepan merumuskan bahwa suatu
transisi demokrasi berhasil dilakukan suatu negara jika
(a) tercapai kesepakatan mengenai prosedur-prosedur politik untuk
menghasilkan pemerintahan yang dipilih
(b) jika suatu pemerintah memegang kekuasaannya atas dasar hasil
pemilu yang bebas
(c) jika pemerintah hasil pemilu tersebut secara de facto memiliki otoritas
untuk menghasilkan kebijakan-kebijakan baru dan
(d) kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang dihasilkan melalui
demokrasi yang baru itu secara de jure tidak berbagi kekuasaan dengan
lembaga-lembaga lain.

Sementara itu dalam perspektif Larry Diamond, konsolidasi demokrasi


mencakup pencapaian tiga agenda besar, yakni :
(a) kinerja atau performance ekonomi dan politik dari rezim demokratis
(b) institusionalisasi politik (penguatan birokrasi, partai politik, parlemen,
pemilu, akuntabilitas horizontal, dan penegakan hukum)
(c) restrukturisasi hubungan sipil-militer yang menjamin adanya kontrol
otoritas sipil atas militer di satu pihak dan terbentuknya civil society yang
otonom di lain pihak.
1. Demokrasi Kerakyatan Pada Masa Revolusi
Periode panjang pergerkan nasional yang didominasi oleh muncuolnya organisasi modern
digantikan periode revolusi nasional. Revolusi yang menjadi alat tercapainya kemerdekaan
merupakan kisah sentral sejarah indonesia. Semua usaha untuk mencari identitas (jati) diri,
semangat persatuan guna menghadapi kekuasaamn kolonial, dan untuk membangun sebuah
tatanan sosial yang adil akhirnya membuahkan hasil dengan diproklamasikannya
kemerdekaan indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Pada masa revolusi 1945 1950 banyak kendala yang dihadapi bangsa indonesia, misalnya
perbedaan-perbedaan antara kekuatan-kekuatan perjuangan bersenjata dengan kekuatan
diplomasi, antara mereka yang mendukung revolusi sosial dan mereka yang menentangnya
dan antara kekuatan islam dalam kekutan sekuler. Di awal revolusi tidak satupun perbedaan
di antara bangsa indonesia yang terpecahkan. Semua permasalahan itu baru dapat
diselesaikan setelah kelompok-kelompok kekuatan itu duduk satu meja untuk memperoleh
satu kata sepakat bahwa tujuan pertama bangsa indonesia adalah kemerdekaan bangsa
indonesia. Pada akhirnya kekuatan-kekuatan perjuangan bersenjata dan kekuatan diplomasi
bersama-sama berhasil mencapai kemerdekaan.
2. Demokratisasi Dalam Demokrasi Parlementer
Setelah indonesi merdeka, kini menghadapi prospek menentukan masa depannya sendiri.
Warisan yang ditinggalkan pemerintahan kolonial berupa kemiskinan, rendahnya tingkat
pendidikan dan tradisi otoriter merupakan merupakan pekerjaan rumah yang harus
diselesaikan para pemiipin nasional indonesia. Pada periode tahun 1950-an muncul kaum
nasionalis perkotaan dari partai sekuler dan partai-partai islam yang memegang kendali
pemerintahan. Ada sesuatu kesepakatan umum bahwa kedua kelompok inilah yang akan
menciptakan kehidupan sebuah negara demokrasi di indonesi.
Undang Undang dasar 1950 menetapkan berlakunya sistem parlementer dimana baedan

eksekutif terdiri dari presiden sebagai kepala negara konstitusional beserta para menteri yang
mempunyai tanggung jawab politik. Setiap kabinet terbentuk berdasarkan koalisi pada satu
atau dua partai besardengan beberapa partai kecil. Koalisi ternyata kurang mantap dan partaipartai koalisi kurang dewasa dalam menghadapi tanggung jawab mengenai permasalahan
pemerintahan. Di lain pihak, partai-partai dalam barisan oposisi tidak mampu berperan sebagi
oposisi kontruktif yang menyusun program-program alternatif, tetapi hanya menonjolkan
segi-segi negatif dari tugas oposisi (Miriam Budiardjo, 70).
Pada umumnya kabinet dalam masa pra pemilu tahun 1955 tidak dapat bertahan lebih lama
dari rata-rata delapan bulan dan hal ini menghambat perkembangan ekonomi dan politik oleh
karena pemerintah tidak mendapat kesempatan dalam untuk melaksanakan programnya.
Pemilu tahun 1955 tidak membawa stabilitas yang diharapkan, malah perpecahan antara
pemerintah pusat dengan pemerintah daerah tidak dapat dihindarkan. Faktor-faktor tersebut
mendorong presiden soekarno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang menentukan
berlakunya kembali UUD 1945. Dengan demikian masa demokrasi berdasarkan sistem
parlementer berakhir.
Mengingat kondisi yang harus di hadapi pemerintah indonesia pada kurun waktu 1950-1959,
maka tidak mengherankan bahwa pelaksanaan demokrasi mengaklami kegagalan karena
dasar untuk dapat membangun demokrasi hampir tidak dapat ditemukan. Mereka yang tahu
politik hanya sekelompok kecil masyarakat perkotaan. Para politisi jakarta, meskipun
mencita-citakan sebuah negara demokrasi. Kebanyakan adalah kaum elite yang menganggap
diri mereka sebagai pengikut suatu budaya kota yang istimewa. Mereka bersikap paternalistik
terhadap orang-orang yang kurang beruntung yakni masyarakat pedesaan. Tanggung jawab
mereka terhadap struktur demokrasi parlementer yang merakyat adalah sangat kecil. Banguan
indah sebuah demokrasi parlementer hampir tidak dapat berdiri dengan kokoh.
3. Demokratisasi Dalam Demokrasi Terpimpin
Di tengah-tengah krisis tahun 1957 dan pengalaman jatuh bangunnya pemerintahan,
mengakibatkan diambilmnya langkah-langkah menuju suatu pemerintahan yang oleh
Soekarno dinamakan Demokrasi Terpimpin. Ini merupakan suatu sistem yang didominasi
oleh kepribadian soekarno yang prakarsa untuk pelaksanaan demokrasi terpimpin diambil
bersama-sama dengan pimpinan ABRI (Hatta, 1966 : 7). Pada masa ini terdapat beberapa
penyimpangan terhadap ketentuan UUD 1945, misalnya partai-partai politik dikebiri dan
pemilu ditiadakan. Kekuatan-kekuatan politik yang ada berusha berpaling kepada pribadi
Soekarno untuk mendapatkan legitimasi, bimbingan atau perlindungan. Pada tahun 1960,
presiden Soekarno membubarkan DPR hasil pemilu 1955 dan menggantikanya dengan

DPRGR, padahal dalam penjelasn UUD 1945 secara ekspilisit ditentukan bahwa presiden
tidak berwenang membubarkan DPR.
Melalui demokrasi terpimpin Soekarno berusaha menjaga keseimbangn politik yang
mherupakan kompromi antara kepentingan-kepentingan yang tidak dapat dirujukan kembali
dan memuaskan semua pihak. Meskipun Soekarno memiliki pandangan tentang masa depan
bangsanya, tetapi ia tidak mampu merumuskan sehingga bisa diterima oleh pimpinan
nasional lainnya. Janji dari demokrasi terpimpin pada akhirnya tidak dapat terealisasi.
Pemberontakan G 30 S/PKI tahun 1965 telah mengakhiri periode demokrasi terpimpin dan
membuka peluang bagi dilaksanakannya demokrasi Pancasila.
4. Demokratisasi Dalam Demokrasi Pancasila
Pada tahun 1966 pemerintahan Soeharto yang lebih dikenal dengan pemerintahan Orde Baru
bangkit sebagai reaksi atas pemerintahan Soekarno. Pada awal pemerintahan orde hampir
seluruh kekuatan demokrasi mendukungnya karena Orde Baru diharapkan melenyapkan
rezim lama. Soeharto kemudian melakukan eksperimen dengan menerapkan demokrasi
Pancasila. Inti demokrasi pancasila adalah menegakkan kembali azas negara hukum
dirasakan oleh segenap warga negara, hak azasi manusia baik dalam aspek kolektif maupun
aspek perseorangan dijamin dan penyalahgunaan kekuasaan dapat dihindarkan secara
institusional. Dalam rangka mencapai hal tersebut, lembaga-lembaga dan tata kerja orde baru
dilepaskan dari ikatan-ikatan pribadi (Miriam, 74).
Sekitar 3 sampai 4 tahun setelah berdirinya Orde Baru menunjukkan gejala-gejala yang
menyimpang dari cita-citanya semula. Kekuatan kekuatan sosial-politik yang bebas dan
benar-benar memperjuangkan demokrasi disingkirkan. Kekuatan politik dijinakkan sehingga
menjadi kekuatan yang tidak lagi mempunyai komitmen sebagai kontrol sosial. Kekuatan
sosial politik yang diikutsertakan dalam pemilu dibatasi. Mereka tidak lebih dari suatu
perhiasan dan mempunyai arti seremonial untuk dipertontonkan kepada dunia internasional
bahwa indonesia telah benar-benar berdemokrasi, padahal yang sebenarnya adalah kekuasaan
yang otoriter. Partai-partai politik dilarang berperan sebagai oposisi maupun kontrol sosial.
Bahakan secara resmi oposisi ditiadakan dengan adanya suatu konsensus nasional.
Pemerintahan Soeharto juga tidak memberikan check and balances sebagai prasyarat dari
sebuah negara demokrasi (sarbini Sunawinata, 1998 ;8).
Pada masa orde baru budaya feodalistik dan paternalistik tumbuh sangat subur. Kedua sikap
ini menganggap pemimpin paling tahu dan paling benar sedangkan rakyat hanya patuh
dengan sang pemimpin. Mental paternalistik mengakibatkan soeharto tidak boleh dikritik.
Para menteri selalu minta petunjuk dan pengarahan dari presiden. Siakp mental seperti ini

telah melahirkan stratifikasi sosial, pelapisan sosial dan pelapisan budaya yang pada akhirnya
memberikan berbagai fasilitas khusus, sedangkan rakyat lapisan bawah tidak mempunyai
peranan sama sekali. Berbagai tekanan yang diterima rakyat dan cita-cita mewujudkan
masyarakat adil dan makmur yang tidak pernah tercapai, mengakibatkan pemerintahan Orde
Baru mengalami krisis kepercayaan dan kahirnya mengalami keruntuhan.
5. Rekonstruksi Demokrasi Dalam Orde Reformasi
Melalui gerakan reformasi, mahasiswa dan rakyat indonesia berjuang menumbangkan rezim
Soeharto. Pemerintahan soeharto digantikan pemerintahan transisi presiden Habibie yang
didukung sepenuhnya oleh TNI. Lembaga-lembaga di luar presiden dan TNI tidak
mempunyai arti apa-apa. Seluruh maslah negara dan bangsa indonesia menjadi tanggung
jawab presiden/TNI. Reformasi menuntut rakyat indonesia untuk mengoreksi pelaksanaan
demokrasi. Karena selama soeharto berkuasa jenis demokrasi yang dipraktekkan adalah
demokrasi semu. Orde Baru juga meninggalkan warisan berupa krisis nasional yang meliputi
krisis ekonomi, sosial dan politik.
Tugas utama pemerintahan Habibie ada dua, yakni pertama bekerja keras agar harga sembilan
pokok (sembako) terbeli oleh rakyat sambil memberantas KKN tanpa pandang bulu. Kedua,
adalah mengembalikan hak-hak rakyat guna memperoleh kembali hak-hak azasinya.
Agaknya pemerintahan Orde Reformasi Habibie mecoba mengoreksi pelaksanaan
demokrasi yang selama inidikebiri oleh pemerintahan Orde baru. Pemerintahan habibie
menyuburkan kembali alam demokrasi di indonesia dengan jalan kebebasan pers (freedom of
press) dan kebebasab berbicara (freedom of speech). Keduanya dapat berfungsi sebagai check
and balances serta memberikan kritik supaya kekuasaan yang dijalankan tidak menyeleweng
terlalu jauh.
Membangun kembali indonesia yang demokratis dapat dilakukan melalui sistem keparataian
yang sehat dan pemilu yang transparan. Sistem pemilu multipartai dan UU politik yang
demokratis menunjukkan kesungguhan pemerintahan Habibie. Asalkan kebebasan demokratis
seperti kebebasan pers, kebebasab berbicara, dan kebebasan mimbar tetap dijalankan maka
munculnya pemerintahan yang KKN dapat dihindari.
Dalam perkembanganya Demokrasi di indonesia setelah rezim Habibie diteruskan oleh
Presiden Abdurahman wahid sampai dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sangat
signifikan sekali dampaknya, dimana aspirasi-aspirasi rakyat dapat bebas diutarakan dan
dihsampaikan ke pemerintahan pusat. Hal ini terbukti dari setiap warga negara bebas
berpendapat dan kebebasan pers dalam mengawal pemerintahan yang terbuka sehingga
menghindarkan pemerintahan dari KKN mungkin dalam prakteknya masih ada praktik-

praktik KKN di kalangan pemerintahan, namun setidaknya rakyat tidak mudah dibohongi lagi
dan pembelajaran politik yang baik dari rakyat indonesia itu sendiri yang membangun
demokrasi menjadi lebih baik. Ada satu hal yang membuat indonesia dianggap negara
demokrasi oleh dunia Internasional walaupun negara ini masih jauh dikatakan lebih baik dari
negara maju lainnya adalah Pemilihan Langsung Presiden maupun Kepala Daerah yang
dilakukan secara langsung.