Anda di halaman 1dari 21

A.

ANATOMI FISIOLOGI MUSKULOSKELETAL


Sistem skeletal dibagi kedalam dua bagian besar yaitu Axial
skeleton yang terdiri dari tulang kepala, vertebra, sternum dan tulang
iga. Pembagian berikutnya adalah appendicular skeleton yang terdiri
dari ekstremitas atas dan ekstremitas bawah.

Berdasarkan jenisnya tulang dapat dibedakan menjadi tulang


panjang, tulang pendek, tulang pipih, tulang tidak beraturan, tulang
sesamoid, tulang tambahan. Termasuk tulang aksesoris diantaranya
adalah sutura dan tulang pipih ditengkorak.

Tubuh manusia terdiri dari sekitar 62% air, tetapi jaringan


tulang hanya memiliki sekitar 20% air sehingga tulang menjadi kuat
dan lebih keras dari jaringan lain. Tulang menjadi lebih kaku dan keras
dari jaringan lain karena tersusun atas garam kalsium fosfat dan
kalsium karbonat dan juga mengandung krystal hydroxyapatite. Saat

tubuh membutuhkan kalsium fosfat yang disimpan dalam tulang,


kristal hydroxyapatite akan mengalami ionisasi dan mengeluarkan
sejumlah zat yang dibutuhkan tersebut. Proses tersebut dikenal
dengan istilah dekalsifikasi.
Struktur jaringan tulang dibagi menjadi 2, yaitu
1. Jaringan tulang berongga ( Spongy) / Cancellous
Struktur tulang berongga memungkinkan untuk tumpuan yang
lebih besar terhadap beban berat. Bagian yang sangat mencolok
pada bagian tulang berongga ini adalah trabeculae (duri tipis dari
jaringan tulang yang dikelilingi oleh tulang matriks yang jeras
karena adanya deposit garam kalsium).
2. Jaringan tulang padat
Tulang padat sangat keras. Tulang

memiliki

silinder

yang

terkalsifikasi yang disebut osteon atau sistem haversian. Silinder


terdiri dari lapisan konsentris atau lamella. Dibagian tengan tulang
terdapat central canal (Haversian canals) yang mengandung
persyarafan, pembuluh limfe dan pembuluh darah. Central canals
biasanya memiliki cabang yangdisebut perforating canals yang
menghubungkan dengan periosteum dan dengan endosteum.
Tidak seperti central canal, perforating canals tidak ditutupi oleh
lamella. Lamella mengandung lacuna yaitu rongga kecil tempat
sel tulang atau osteosit. Menyebar seperti jeruji dari lacuna
disebut dengan canaliculi yang merupakan saluran dari nutrisi dan
zat-zat buangan dengan cara difusi kedalam dan keluar pembuluh
darah dari central canal.

Tulang terdiri atas 5 jenis sel, yaitu :


1. Sel osteogenik : Banyak ditemukan pada bagian tulang paling
dalam dari periosteum dan sumsum tulang. Memiliki kemampuan
untuk berubah bentuk menjadi osteoblast atau osteoclast selama
terjadi stress dan proses penyembuhan
2. Osteoblast : Mensintesa dan mensekresi substansi dasar yang
tidak bermineral yang disebut dengan osteoid. Saat kalsium
terdeposit dalam substansi ini maka akan menjadi lebih keras dan
terkalsifikasi. Peran utama dari osteoblast sebagai pompa sel
untuk menggerakan kalsium keluar dan masuk sel. Banyak
ditemukan pada bagian yang terus tumbuh termasuk periosteum.
3. Osteosit : Merupakan sel utama pada tulang yang sedang tumbuh.
Mengisi lapisan setiap lakuna dalam matriks. Osteosit berasal dari
osteoblast yang mampu mensekresi jaringan tulang sekitar.
Memiliki

peran

dalam

keseimbangan

dengan

mengatur

pengeluaran kalsium dari tulang kedalam darah. Osteosit juga


berperan dalam mempertahankan matriks dalam keadaan dtabil
dan sehat dengan mensekresi enzim dan mempertahankan
kandungan mineral didalamnya.
4. Osteoclas : Sel besar banyak inti dan biasanya ditemukan ketika
tulang mengalami resorbsi.
5. Sel pembatas tulang: Ditemukan pada permukaan tulang orang
dewasa. Fungsinya menyediakan sel osteogenik yang dapat
berubah dan berdiferensiasi menjadi osteoblas . Juga berperan
sebagai ion barrier untuk pengaturan keseimbangan mineral

terutama kalsium dan fosfat sehingga kandungannya dalam


matriks tetap stabil.
Sistem musculoskeletal adalah penunjang bentuk tubuh dan
peran dalam pergerakan. Sistem terdiri dari tulang sendi, rangka,
tendon,

ligament,

bursa,

dan

jaringan-jaringan

khusus

yang

menghubungkan struktur tersebut (Price dan Wilson, 2006).

Tulang tersusun dari tiga jenis sel antara lain : osteoblast,


osteosit

dan

osteoklas.

Osteoblas

membangun

tulang

dengan

membentuk kolagen tipe 1 dan proteoglikan sebagai matriks tulang


dan jaringan osteoid melalui suatu proses yang disebut osifikasi.
Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblas akan
mengekskresikan sejumlah besar fosfatase alkali yang berperan
penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks
tulang, sebagian fosfatase alkali memasuki aliran darah dengan
demikian kadar fosfatase alkali dalam darah dapat menjadi indikator
yang baik dalam pembentukan tulang setelah mengalami fraktur atau
metastasis kanker ke tulang.
Osteosit merupakan sel-sel tulang dewasa yang bertindak
sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang
padat. Osteoklas adalah sel-sel berinti banyak yang memungkinkan
matriks tulang dan mineral dapat diabsorpsi. Osteoklas berperan
dalam pengikisan tulang. Sel sel ini menghasilkan enzim enzim
proteolitik yang memecahkan matriks dan beberapa asam yang
melarutkan mineral tulang, sehingga kalsium dan fosfat terlepas ke
dalam aliran darah.
Secara umum fungsi tulang menurut Price dan Wilson (2006) antara
lain:
1. Sebagai kerangka tubuh

Tulang sebagai kerangka yang menyokong dan memberi bentuk


tubuh.
2. Proteksi
Sistem muskuloskeletal melindungi organ-organ penting, misalnya
otak dilindungi oleh tulang tulang tengkorak, jantung dan paru
paru terdapat pada rongga dada (cavum thorax) yang dibentuk
oleh tulang-tulang iga.
3. Ambulasi dan Mobilisasi
Tulang dan otot memungkinkan terjadinya pergerakan tubuh dan
perpindahan tempat, tulang memberikan suatu sistem pengungkit
yang digerakan oleh otot-otot yang melekat pada tulang tersebut ;
sebagai suatu sistem pengungkit yang digerakan oleh kerja otototot yang melekat padanya.
4. Deposit Mineral
Sebagai reservoir kalsium, fosfor,natrium,dan elemen- elemen lain.
Tulang mengandung 99% kalsium dan 90% fosfor tubuh.
5. Hemopoesis
Tulang berperan dalam bentuk sel darah pada red marrow. Untuk
menghasilkan sel- sel darah merah dan putih dan trombosit dalam
sumsum merah tulang tertentu.
B. DEFINISI
Osteomielitis

adalah

infeksi

tulang

yang

lebih

sulit

disembuhkan dari pada infeksi jaringan lunak. Beberapa alasan


kenapa

infeksi

tulang

ini

sulit

disembuhkan

adalah

karena

terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi,


tingginya

tekanan

jaringan

dan

pembentukan

involukrum

(pembentukan tulang baru di sekeliling jaringan tulang mati).


Osteomielitis
mempengaruhi

dapat
kualitas

menjadi
hidup

masalah
atau

ekstremitas. (Brunner, suddarth. 2001).


C. ETIOLOGI

kronis

mengakibatkan

yang

akan

kehilangan

Penyebab utama osteomeilitis adalah bakteri sthepilococcus


aureus 70-80%, proteus, pseudomonas, escerehia coli. penyebab lain
adalah virus dan jamur. Klien yang beresiko tinggi mengalami
osteomielitis adalah klien yang nutrisinya tidak bagus, lanjut usia,
kegemukan dan penderita diabetes.
Penyebab berdasarkan perjalanan penyakitnya dibagi menjadi :
1.

Osteomielitis Primer, yaitu kuman mencapai tulang secara


langsung melalui luka atau trauma.

2.

Osteomielitis Sekunder, yaitu kuman mencapai tulang melalui


aliran darah yang disebabkan infeksi lain.

D. MANIFESTASI KLINIS
1. Fase akut
Biasanya terjadi pada anak-anak. Fase sejak infeksi sampai 1015 hari. Makin panas tinggi, menggigil, malaise umum, nyeri
tulang dekat sendi, tidak dapat menggerakan anggota tubuh,
dan leukosit meningkat.

2. Fase kronik
Rasa sakit tidak begitu berat, anggota yang terkena merah dan
bengkak dengan pus yang selalu mengalir keluar dari sinus
atau

mengalami

periode

berulang

nyeri,

inflamasi,

dan

pengeluaran pus. Infeksi derajat rendah dapat terjadi pada


jaringan parut akibat kurangnya asupan darah. Leukosit sedikit
meningkat kdanag tidak meningkat.
E. KLASIFIKASI
I.

Menurut kejadian, osteomielitis terbagi 2, yaitu:


1. Osteomielitis Primer, yaitu kuman-kuman secara langsung
mencapai tulang melalui luka.

2. Osteomielitis Sekunder, yaitu Kuman-kuman yang berasal


dari

suatu

mencapai

fokus
tulang

primer

melalui

(misalnya

aliran

infeksi

darah

saluran

untuk
nafas,

genitourinaria furunkel).
II. Menurut perlangsungannya dibedakan menjadi:
1. Osteomielitis Akut
Tanda-tanda dari osteomielitis akut:
- Demam (>380C)
- Eritema
- Tendersess
- Nyeri yang dirasakan konstan
- Bengkak pada area infeksi
- Peningkatan nilai leukosit
- LED normat atau meningkat
2. Osteomielitis Kronis
Tanda-tanda dari osteomielitis kronis:
- Ulserasi pada kulit
- Nyeri terlokalisasi
- Adanya pus/nanah
- Nilai leukosit normal atau sedikit meningkat
III. Menurut penyebabnya dibedakan menjadi:
1. Eksgenous adalah kuman penyebab infeksi yang berasal
dari luar masuk ke dalam tubuh. Contoh nya adalah fraktur
terbuka.
2. Endogenous adalah kuman penyebab infeksi yang dibawa
oleh aliran darah atau disebut hematogen yang berasal
dari sumber infeksi yang jauh atau infeksi pada organ lain.
3. Contiguous adalah infeksi tulang terjadi karena disebabkan
adanya infeksi kulit pada jaringan terdekat.
IV. Tahapan/Fase
1. Inflamasi
Pada fase inflamasi ditandai dengan kongesti vaskular dan
peningkatan tekanan intraoseus. Trombosis intravaskular
mengakibatkan adanya obstruksi aliran darah.
2. Supurasi
Pembentukan pus dalam 2-3 hari pada subperiosteum.
3. Sekuestrum

Adanya peningkatan tekanan, obstruksi vaskular, dan


pembentukan trombus pada periosteum dan endosteum,
menyebabkan nekrosos tulang sekitar 7 hari.
4. Involuktrum
Pembentukan formasi tulang baru pada
periosteum.
5. Resolusi atau progresi menuju komplikasi
Pencegahan
komplikasi
osteomielitis

permukaan

dengan

cara

penatalaksanaan antibiotik yang rasional dan terapi bedah


yang efektif pada fase awal penyakit.

F. FAKTOR RESIKO
1. nutrisi dan higinitas buruk
2. imunitas dan virulensi kuman
3. lansia
4. kegemukan
5. DM
6. Tuberculosis
7. Adanya luka terbuka
8. Artritis rheumatoid
9. Mendapatkan terami kortikosteroid jangka panjang
10. Pernah menjalani pembedahan sendi
11. Menjalani pembedahan ortopedi lama
12. Mengalami infeksi luka yang mengeluarkan pus
13. Mengalami infeksi insisi marginal/dehisensi luka
G. KOMPLIKASI
1. Abses Tulang

2. Abses Vetebral
3. Sepsis / Syok Sepsis
4. Lepasnya inplant protestik
5. Selulitis
6. GangguanPertumbuahan karena kerusakan tulang
H. PENCEGAHAN
1. Beritahukan tentang penyakit osteomyelitis ini secara lengkap
meliputi penyebabnya, cara penyembuhannya dan lain-lain.
2. Ajarkan dan beritahu kan kepada pasien dan keluarga mengenai
tanda-tanda terjadinya penyebaran infeksi .Jika terjadi segera
laporkan kepada pihak medis
3. Ajarkan kepada pasien dan keluarga carape rawatan luka yang
steril kepada pasien terutama ketika pasien sudah kembali
kerumah.
4. Ajarkan dan beritahukan tentang penggunaan antibiotic secara
benar dan harus di konsumsi sesuai resep karenahal ini menjadi
salah

satu

factor

penting

dalam

proses

penyembuhan

osteomyelitis.
5. Berikan pengetahuan mengenai terjadinya kekambuhan pada
penyakit osteomyelitis serta penangan yang harus dilakukan
bila terjadi kekambuhan kembali adalah segera laporkan
kepihak medis tidak kepada dukun tulang.
6. Penanganan infeksi lokal dapat menurunkan angka penyebaran
hematogen
7. Penanganan infeksi jaringan lunak dapat mengontrol erosi
tulang
8. Lingkungan operasi dan teknik operasi dapat menurunkan
insiden osteomielitis
9. Pemberian antibiotik profilaksis pada pasien pembedahan
10. Teknik perawatan luka pascaoperasi aseptik

I.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Sinar-X, pada awalnya menunjukan pembengkakan jaringan
lunak. Sekitar 2 minggu terdapat daerah dekalsifikasi ireguler,
nekrosis tulang, pengangkatan periosteum, dan pembentukan
tulang baru.
2. MRI
3. Pemeriksaan darah memperlihatkan peningkatan leukosit ,
peningkatan

laju

endap

darah

dan

protein

reaktif.

Pemeriksaan MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) untuk


mengetahui rata-rata banyaknya Hb pada eritrosit, normalnya
26-34 pg. MCV (Mean Corpuscular Volume) untuk menghitung
rata-rata volum eritrosit, normalnya 80-100 fL. MCHC (Mean
Corpuscular Hemoglobin consentration), normalya 32-36 g/dL.
4. Kultur darah dan abses digunakan untuk menentukan jenis
antibiotik yang sesuai
5. Pemeriksaan foto polos didapatkan adanya sekuestrum.

J.

PENATALAKSANAAN
1. Intervensi non-operatif
a. Imobilisasi
Untunk mengurangi nyeri dan menghindari fraktur.
b. Rendam salin hangat
Dilakukan selama 20 menit beberapa kali sehari, untuk
meningkatkan Aliran darah.
c. Antibiotika
Mengontrol dan menghentikan proses infeksi. Pada stadium
akut diberikan antibiotik spektrum luas, dimulai dengan

memberikan

antibiotik

secara

intravena.

Kemudian

dilakukan kultur darah untuk mengetahui jenis antibiotik


yang

sesuai

dengan

terkontroldapat

terapi.

diberikan

per

Jika
oral.

infeksi
Antibiotik

dapat
harus

diberikan minimal 4 minggu (idealnya 6 minggu) unyuk


mencapai tingkat kesembuhan yang memadai.Alternatifnya
dengan

menggunakan

antibiotic

beads

untuk

lebih

memfokuskan antibiotic di area infeksi (local).


d. Irigasi
Lakukan irigasi dengan larutan salin fisiologi steril 7-8 hari
pada jaringan purulen dan jaringan nekrotik diangkat.
Terapi antibiotik dilanjutkan.
2. Intervensi Operatif
Indikasi dilakukan tindakan operatif atau pembedahan:
1. Adanya abses
2. Rasa sakit yang hebat
3. Adanya sequester
4. Bila

dicurigai

adanya

perubahan

kearah

keganasan

jaringan

sequestra.

(karsinoma epidermoid)

Tindakan operatif yang lazim dilakukan:


a. Sequestrektomi
Pembedahan

untuk

mengangkat

Sequestra Dibuang melalui debridement pada tulang yang


mengalami infeksi sehingga terjadi revaskularisasi pada
jaringan tulang.
b. Bone graft
Terdapat tiga fase yang dilakukan:
1. Mengeksisi tulang yang mengalami nekrotik.

2. Memasang tulang grafts.


3. Menutup kulit tulang/pencangkokan.
Tulang yang sering diambil oleh dokter adalah tulang ileum
posterior dari klien sendiri. Tulang diletakan pada tempat
yang telah dibuat dan dilakukan balutan.
c. Bone segment transfer
Pada umumnya transfer tulang dilakukan pada gangguan
skeletal yang meluas, umumnya tempat donor difibula atau
iliaka.
d. Amputasi
Tindakan/prosedur membuang sebagian dari satu atau
beberapa anggota tubuh.
Tindakan ini dilakukan sebagai jalan terakhir jika tindakan
operatif tidak dapat menyelamatkan penderita. Tindakan
ini dilakukan sedistal mungkin, untuk panjang punting
tungkai bawah 12-18 cm dari sendi lutut.
Indikasi dilakukan amputasi:
1. Dead
Bagian tubuh yang mati, akibat penyakit pembuluh
darah perifer, trauma parah, luka bakar, dan forse bite.
2. Dangerouse
Penyakit yang tergolong berbahaya, seperti tumor
ganas, sepsis yang potensial lethal dan crush injury.
Pada crush injury pelepasan torniquet ayau penekanan
lain akan berakibat pada kegagalan ginjal.
3. Damn Nulsance
Keadaan dimana mempertahankan anggota

gerak

dapat lebih buruk dari pada tidak mempunyai anggota


gerak. Hal ini dapat disebabkan oleh nyeri hebat,
malformasi berat, sepsis berulag, atau kehilangan
fungsi yang berat.

K. ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
a. Identitas pasien : nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama,

dan lain-lain
b. Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan sekarang: kaji adanya riwayat trauma
fraktur

terbuka,

riwayat

operasi

serta

tidak

adekuat

pengobatan
Riwayat penyakit dahulu: kaji adanya infeksi tulang, riwayat
DM.
c. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum: tingkat kesadaran pasien, rasa nyeri serta
tanda-tanda vital pasien
Sistem pernapasan
Sistem kardivaskular
Sistem musculoskeletal
Sistem perkemihan
Pola nutrisi dan metabolisme
ANALISA DATA
No.

DATA

DS :
Pasien mengeluh nyeri
saat
digerakkan
DO:
a. keluar pus pada luka
fraktur terbuka

DS : Pasien mengeluh nyeri


saat digerakkan.
DO :
a.

ETIOLOGI

MASALAH

Inflamasi

Respon dari
mediator kimia

Mengenai reseptor
nyeri

Impuls ke otak

Persepsi nyeri
Pelepasan mediator
kimia

Peningkatanpermeab
ilitaskapiler

Shift cairandari intra


selkeintertisial

edema

Menekanpembuluhd
arah

Penurunanvaskularis

Nyeri

Gangguan
mobilitas
fisik

No.

DATA

DS: DO: keluarnya pus dari luka


sebagai
hasil inflamasi.
Hasil
pemeriksaan
mikrobiologi pada pus
positif kuman klebsiella
pneumonia

4.

DS : pasien selalu
mengatakan jangan
sampai kakinya di
amputasi
DO: lukasulitsembuh, hasil
antibiotic
resisten : hamper semua
antibiotic
kecuali
meronem :
suspectible
DS:
DO: luka sulit sembuh
setelah 2 minggu. Hasil
pemerikasaan
antibiotic;
Kuman
resisten
semua
antibiotic kecuali meronem.
Direncanakan debridement
danpemberian
antibiotic
bead.

ETIOLOGI
asi

Metabolism anaerob

Pembentukanasamla
ktat

Nyeriototdansendi

Gangguan mobilitas
fisik
Inflamasi

Pelepasan mediator
kimia

prostaglandin

Interlukin 1

Hipotalamus

Meningkatkan set
point

hipertermi
osteomyelitis

Resistenantibiotik

Infeksisulitsembuh

Resikoamputasi

ansietas

MASALAH

Hipertermi

Ansietas

Resikopeny
ebaraninfe
ksi

L. Rencana Keperawatan
1. Nyeri b/d adanya proses inflamasi ditandai dengan :
DO
: Keluar pus pada luka fraktur terbuka
DS
: Pasien mengeluh nyeri
Tujuan : Pasien mengatakan nyeri berkurang atau hilang
dengan menunjukkan tindakan santai, dan menunjukkan
penggunaan keterampilan relaksasi.
Intervensi

Rasional

1. Kaji Skala nyeri, lokasi dan


karakteristik luka fraktur
2. Pertahankan imobilasasi bagian
yang sakit dengan tirah baring,
gips, bebat dan atau traksi
3. Tinggikan posisi
yang terkena.

ekstremitas

4. Lakukan dan awasi


gerak pasif/aktif.

latihan

5. Lakukan
tindakan
untuk
meningkatkan
kenyamanan
(masase, perubahan posisi).
6. Ajarkan penggunaan teknik
manajemen
nyeri
(latihan
napas dalam, imajinasi visual,
aktivitas dipersional).
7. Kolaborasi pemberian analgetik
sesuai indikasi.
8. Evaluasi keluhan nyeri (skala,
petunjuk
verbal
dan
non
verval, perubahan tanda-tanda
vital)

Perubahan
lokasi/
karakter/
intensitas
nyeri
dapat
mengindikasikan
terjadinya
komplikasi
atau
perbaikan
kembalinya fungsi saraf.
Pergerakan di daerah fraktur dapat
menyebabkan
rasa
nyeri
meningkat
dan
komplikasi
malformasi.
Peningkatan aliran balik vena
dapat mengurangi edema/nyeri.
Mempertahankan kekuatan otot
dan
meningkatkan sirkulasi vaskuler.
Meningkatkan sirkulasi umum,
menurunakan area tekanan lokal
dan
kelelahan otot.
Mengalihkan perhatian terhadap
nyeri,
meningkatkan kontrol terhadap
nyeri
yang mungkin berlangsung lama.
Peningkatan relaksasi dan rasa
kontrol terhadap nyeri dapat
menurunkan
ketergantungan
farmakologis.
Menurunkan
nyeri
melalui
mekanisme
penghambatan rangsang nyeri baik
secara sentral maupun perifer.

Menilai
pasien.

perkembangan

masalah

2. Gangguan mobilitas fisik b/dadanya edema . Ditandai dengan :


DO
:
DS
: capasien mengeluh nyeri saat digerakkan
Tujuan : Pasien dapat meningkatkan/mempertahankan
mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin
dapat

mempertahankan

meningkatkan

kekuatan/fungsi

posisi
yang

fungsional
sakit

dan

mengkompensasi bagian tubuh menunjukkan tekhnik


yang memampukan melakukan aktivitas
Intervensi

Rasional

1. Pertahankan
pelaksanaan
aktivitas rekreasi terapeutik
(radio,
koran,
kunjungan
teman/keluarga)
sesuai
keadaan pasien.

Memfokuskan
perhatian,
meningkatakan
rasa
control
diri/harga diri, membantu
menurunkan isolasi sosial.

2. Bantu latihan rentang gerak


pasif aktif pada ekstremitas
yang sakit maupun yang sehat
sesuai keadaan pasien.

Meningkatkan
sirkulasi
darah
muskulo skeletal, mempertahankan
tonus otot, mempertahakan gerak
sendi, mencegah kontraktur/atrof
dan mencegah reabsorbsi kalsium
karena imobilisasi.

3. Berikan papan penyangga kaki,


gulungan
trokanter/tangan
sesuai indikasi.
Mempertahankan posis fungsional
ekstremitas.
4. Bantu dan dorong perawatan
diri (kebersihan/eliminasi)
sesuai keadaan pasien.
Meningkatkan kemandirian pasien
dalam perawatan diri sesuai kondisi
5. Ubah posisi secara periodic keterbatasan pasien.
sesuai keadaan pasien.
Menurunkan insiden komplikasi kulit
6. Dorong/pertahankan
asupan dan
pernapasan
(dekubitus,
cairan 2000-3000 ml/hari.
atelektasis, penumonia)
7. Berikan diet TKTP.

Mempertahankan hidrasi adekuat,


men-cegah komplikasi urinarius dan
konstipasi.

8. Kolaborasi
pelaksanaan Kalori dan protein yang cukup
fisioterapi sesuai indikasi.
diperlukan
untuk
proses
penyembuhan dan mempertahankan
fungsi fsiologis tubuh.
9. Evaluasi kemampuan mobilisasi
pasien dan program imobilisasi. Kerjasama dengan fsioterapis perlu
untuk menyusun program aktivitas
fsik secara individual.
Menilai
pasien.

perkembangan

masalah

3. Hipertermi b/d adanya proses inflamasi. Ditandai dengan :


DO
: keluarnya pus dari luka
DS
:
Tujuan

: Pasien mencapai penyembuhan luka sesuai waktu,

dan demam.

Intervensi

Rasional

1. Kaji penyebab hipertermi

Hipertermi merupakan salah satu


gejala/kompensasi tubuh terhadap
adanya infeksi baik secara lokal
maupun secara sistemik. hal ini perlu
diketahui
sebagai
dasar
dalam
rencana intervensi.

2. Observasi Suhu Tubuh


Proses
peningkatan
menandakan
terjadinya
inflamasi

3. Beri kompres hangat


4. Kolaborasi dalam
obat antipiretik

suhu
proses

Kompres air hangat mempercepat


pemberian proses vasodilatasi pembuluh darah
Obat antipiretik bekerja sebagai
pengatur kembali pusat pengatur
panas

4. Ansietas

b/d

krisis

situasi,

adanya

ancaman

terhadap

gambaran diri dan adanya ancaman kematian


DO
: Luka sulit sembuh, hasil antibiotik resisten
DS
: pasien mengatakan jangan sampai kakinya

di

amputasi
Tujuan : Pasien akan menunjukkan kecemasan yang berkurang
atau hilang

Intervensi

Rasional

1. Diskusikan tentang keamanan


tindakan

Menenangkan
dan
menurunkan
ansietas karena ketidaktahuan dan
atau takut menjadi kesepian

2. Dorong
pasien
mengekspresikan
atau masalah.

dalam
ketakutan

3. Dorong
pasien
dalam
menggunakan
menajemen
stress
4. Berikan penjelasan mengenai
mamfaat
diamputasi
dan
bahaya jika diamputasi

Memberikan dukungan emosi yang


dapat membantu pasien melalui
penilaian
awal,
juga
selama
pemulihan
Membantu memfokuskan kembali
perhatian, emningkatkan relaksasi
dan dapat meingkatkan kemampuan
koping
Pengetahuan
akan
menurunkan
tingkat kecemasan karena pasien
merasa lebih paham

5. Resiko penyebaran infeksi b/d adanya luka fraktur terbuka


DS
:
DO
: luka sulit sembuh
Tujuan : Pasien akan menunjukkan kecemasan yang berkurang
atau hilang
Intervensi

Rasional

1. Lakukan perawatan traksi dan


perawatan luka sesuai protocol

Mencegah infeksi sekunder dan


mempercepat penyembuhan luka.

2. Kolaborasi
pemberian
antibiotika dan toksoid tetanus
sesuai indikasi.

Antibiotika
spektrum
luas
atau
spesifk dapat digunakan secara
proflaksis,
mencegah
atau
mengatasi infeksi. Toksoid tetanus
untuk mencegah infeksi tetanus.

3. Analisa
hasil
pemeriksaan
laboratorium
(Hitung
darah
lengkap,
LED,
Kultur
dan
sensitivitas luka/serum/tulang)

4. Observasi tanda-tanda vital dan


tanda-tanda peradangan lokal
pada luka.

Leukositosis biasanya terjadi pada


proses
infeksi,
anemia
dan
peningkatan LED dapat terjadi pada
osteomielitis.
Kultur
untuk
mengidentifkasi
organisme
penyebab infeksi.
Mengevaluasi
masalah pasien

perkembangan

M. PATOFISIOLOGI

Daftar Pustaka

1. Price, A.S., Wilson M.L., 2006. Patofisiologi Konsep Klinis


Proses-Proses Penyakit. Alih Bahasa: dr. Brahm U. Jakarta :
EGC.
2. Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah. Jakarta: ECG
3. Noor

helmi,

Zairin.2012.Buku

Ajar

Gangguan

Muskuloskeletal.Jakarta : Salemba Medika


4. Haryani, ani. dkk. 2009. Anatomi Fisiologi Manusia. Bandung:
CV. Cakra askep klien gangguan musculoskeletal
5. Dr.dr.zairin

Noor

Helmi.

2012.buku

ajar

gangguan

musculoskeletal
6. heryati,suratun.2008. askep klien gangguan muskuloskeletal.
Jakarta: EGC;
7. Noor Helmi, Zairin. 2012. Buku Ajar Ganguan Muskuloskeletal.
Jakarta : Salemba Medika.
8. Noor Hemi, Zairin. 2014. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal.
Jakarta: Salemba Medika