Anda di halaman 1dari 6

PRINSIP ASPEK LEGAL

ASKEP PADA PASIEN DENGAN MASALAH PSIKOSOSIAL


Oleh: MOH. ARIP, S.Kp., M.Kes.
PENDAHULUAN
Praktik asuhan keperawatan jiwa dipengaruhi oleh hokum, terutama yang mengatur
hak pasien dan kualitas asuhan. Banyaknya hokum yang berbeda dari satu Negara
bagian dengan Negara bagian lain dan perawat harus mengetahui aspek legal yang
diberlakukan di Negara bagiannya, karena pengetahuan tentang hokum meningkatkan
kebebasan baik bagi perawat sendiri maupun bagi pasien.
Klien yang dirawat di rumah sakit umum dengan masalah fisik juga mengalami
masalah psikososial seperti berdiam diri, tidak ingin bertemu dengan orang lain,
merasa kecewa, putus asa, malu dan tidak berguna disertai keragu-raguan dan percaya
diri yang kurang. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada

klien seperti

laboratorium, CT scan dan tindakan seperti suntikan, infuse, observasi rutin sering
membuat klien merasa sebagai objek. Keluarga juga sering merasa khawatir dan
ketidakpastian keadaan klien ditambah dengan kurangnya waktu petugas kesehatan
seperti dokter dan perawat untuk membicarakan keadaan klien terutama pada ruangan
gawat darurat, tim kesehatan focus pada penyelamatan klien dengan segera. Klien dan
keluarga kurang diberi informasi yang dapat mengakibatkan perasaan sedih, ansietas,
takut marah, frustrasi dan tidak berdaya karena informasi yang kurang jelas disertai
ketidakpastian.
Dengan melakukan asuhan keperawatan pada konsep diri klien yang diintegrasikan
secara komprehensif, diharapkan klien dan keluarga sesegera mungkin dapat berperan
serta sehingga self care /perawatan diri dan family support (dukungan keluarga) dapat
terwujud.
Keadaan klien dan keluarga ini dapat diatasi dengan cara meningkatkan kualitas
pelayanan keperawatan. Salah satu aspek yang dapat dilakukan adalah asuhan
keperawatan psikososial.

PERAWATAN INAP PASIEN


Proses rawat inap dapat menimbulkan trauma atau dukungan, tergantung pada
institusi, sikap keluarga dan teman, respons staf, dan jenis penerimaan/masuk rumah.
Sakit. Tabel dibawah ini menyajikan karakteristik yang membedakan tiga jenis
penerimaan masuk rumah sakit jiwa: masuk informal, masuk dengan suka rela, dan
masuk dengan paksaan.
Masuk dengan Paksaan (Komitmen)
Teori legal untuk penahanan dengan paksa yaitu dengan kekuasaan polisi negara
bagian, perlindungan terhadap masyarakat atau parens patriae, kewajiban negara
untuk melindungi warga

negara yang tidak mampu melindungi dirinya sendiri.

Elemen prosedur tertentu dari proses komitmen merupakan hal yang umum. Tindakan
diawali dengan petisi oleh keluarga, teman atau petugas masyarakat, dokter, atau
warga lain yang berminat yang menyatakan bahwa orang tersebut mengalami
gangguan jiwa dan memerlukan pengobatan. Pemeriksaan status mental pasien
kemudian dilakukan oleh satu atau dua dokter.
Kemudian diputuskan apakah pasien harus dirawat inap atau tidak, dan tentunya
pembuat keputusan menetapkan sifat kmitmen dan siapa yang persisnya membuat
keputusan ini akan menentukan sifat dari komitmen. Sertifikasi medis menjelaskan
bahwa sejumlah dokter telah ditunjuk untuk membuat keputusan. Pengadilan atau
sidang komitmen diputuskan oleh hakim atau juri dalam suatu persidangan resmi.
Pasien boleh mempunyai pengacara legal untuk menyiapkan persidangan. Komitmen
administratif ditentukan oleh pengadilan khusus dari petugas sidang.
Jika individu ditetapkan sebagai (1) berbahaya bagi dirinya sendiri atau bagi orang
lain, (2) menderita sakit jiwa dan memerlukan perawatan, dan/atau (3) tidak mampu
memenuhi kebutuhan dasarnya seperti makan dan tempat tinggal, maka ia dirawat
inap.
Pemulangan
Pasien berusia dewasa yang masuk secara sukarela dapat mengusulkan untuk keluar
dri rumah sakit dengan kemauannya sendiri. Kebanyakan negara bagian meminta
pasien untuk memberikan pemberitahuan tertulis tentang keinginannya untuk
dipulangkan. Bagi pasien yang pulang paksa tanpa mengindahkan saran medis,
kebanyakan rumah sakit mengharuskan mereka untuk menandatangani formulir yang

menyatakan hal tersebut. Apabila pasien yang masuk rumah sakit dengan suka rela
kemudian melarikan diri, ia hanya dapat dibawa kembali ke rumah sakit jika pasien
dengan sukarela menyetujuinya. Jika ia menolak untuk kembali ke rumah sakit, ia
harus dipulangkan atau prosedur komitmen paksaan harus dilakukan. Pasien paksaan
telah kehilangan haknya untuk meninggalkan rumah sakit ketika mereka
menginginkannya. Jika pasien ini melarikan diri dari rumah sakit, staf mempunyai
kewajiban legal untuk melaporkan kepada polisi dan pengadilan.
TABEL: KARAKTERISTIK DARI KETIGA JENIS CARA MASUK KE
RUMAH SAKIT JIWA
Masuk Informal

Masuk dengan
Sukarela

Masuk dengan Paksaan

Masuk

Permintaan lisan oleh


pasien

Pendaftaran tertulis oleh


pasien

Pendaftaran tidak diperoleh


dari pasien

Pemulangan

Dicetuskan oleh pasien

Dicetuskan oleh pasien

Dicetuskan oleh pengadilan


atau rumah sakit tetapi bukan
oleh pasien

Status hak warga


negara

Dicapai kembali secara


penuh oleh pasien

Dicapai kembali secara penuh


oleh pasien

Pasien mungkin tidak bisa


mencapai, sebagian, atau
semua, tergantung hukum dr
negara bagian

Pembenaran

Sukarela mencari
bantuan

Sukarela mencari bantuan

Sakit jiwa dan stu atau lebih


yang berikut ini:
1.
membahayakan diri
sendiri atau orang lain
2.
membutuhkan
perawatan
3.
tidak mampu untuk
memenuhi kebutuhan
dasarnya sendiri

KOMITMEN PASIEN BEROBAT JALAN


Komitmen pasien berobat jalan adalah suatu proses di mana pengadilan dapat
memerintahkan pasien utnuk menjalankan serangkaian tindakan berobat jalan sesuai
permintaan dokter

mereka. Ini merupakan salah satu alternatif untuk menekan

masalah tunawisma tetapi individu yang sakit mental namun tidak membahayakan
yang membutuhkan perawatan psikiatri dan stabilisasi di dalam komunitas. Mungkin
akan

sangat

bermanfaat

untuk

menugaskan

pasien

yang

menghentikan

pengobatannya segera setelah dipulangkan dengan cepat mengalami kemunduran dan


akhirnya membutuhkan dirawat inap.
HAK-HAK PASIEN JIWA
1. Hak untuk berkomunikasi dengan orang-orang di luar rumah sakit melalui
surat menyurat, telepon, dan kunjungan pribadi
2. hak untuk menyimpan pakaian dan barang pribadi bersama pasien di rumah
sakit, kecuali benda yang berbahaya
3. hak terhadap kebebasan beragama
4. hak mendapatkan pekerjaan jika memungkinkan
5. hak untuk mengelola dan membuang miliknya
6. hak untuk menjalankan keinginannya
7. hak untuk menjalin hubungan kontrak
8. hak untuk berbelanja
9. hak terhadap pendidikan
10. hak terhadap habeas corpus
11. hak untuk pemeriksaan psikiatri yang mandiri
12. hak terhadap status pelayanan sipil
13. hak mendapatkan lisensi keistimewaan, atau ijin yang diberikan berdasarkan
hukum seperti lisensi profesional atau ijin mengemudi
14. hak untuk menuntut atau dituntut
15. hak untuk menikah dan bercerai
16. hak untuk tidak menjadi subyek terhadap pengekangan mekanik yang tidak
diperlukan
17. hak terhadap peninjauan status secara berkala
18. hak terhadap perwakilan legal
19. hak terhadap keleluasaan pribadi
20. hak terhadap informed consenta
21. hak untuk pengobatan
22. hak untuk menolak tindakan
23. hak untuk tindakan dalam tatanan yang paling tidak mengikat

Tiga area advokasi berikut ini akan membantu untuk memaksimalkan pemenuhan
hak pasien:
1. untuk mendidik staf kesehatan mental dan mengimplementasikan kebijakan
dan prosedur yang mengakui dan melindungi hak-hak pasien
2. untuk menetapkan suatu prosedur tambahan sehingga memungkinkan untuk
mempercepat penyelesaian masalah, pertanyaan, atau ketidaksepakatan yang
terjadi berdasarkan hak legal
3. untuk memberikan kemudahan pelayanan legal ketika terjadi pengingkaran
terhadap hak pasien
PERAN LEGAL PERAWAT
Perawat psikiatri mempunyai hak dan tanggung jawab membantu 3 peran legal:
perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan, perawat sebagai pegawai, dan perawat
sebagai warga negara. Perawat mungkin mengalami konflik antara ketiga hak dan
tanggung jawabnya. Penilaian keperawatan profesional memerlukan pemeriksaan
yang teliti dalam konteks asuhan keperawatan, konsekuensi yang mungkin terjadi
akibat tindakan seseorang, dan alternatif yang mungkin dilakukan.
Malpraktik
Malpraktik melibatkan kegagalan seseorang profesional untuk memberikan jenis
asuhan yang diberikan oleh anggota dari prosesi seseorang di dalam komunitas,
mengakibatkan sesuatu yang membahayakan. Kebanyakan pengaduan malpraktik
diarsipkan dalam kesalahan karena kelalaian. Kesalahan merupakan suatu kesalahan
sipil di mana pihak yang dirugikan mempunyai hak untuk mendapatkan kompensasi.
Dibawah hukum kesalahan karena kelalaian, penggugat harus membuktikan:
1. ada kewajiban legal untuk melakukan asuhan
2. perawat melakukan tugasnya dengan kelalaian
3. terdapat kerusakan yang dialami oleh pasien sebagai akibat
4. kerusakan bersifat substansial

RUJUKAN
Stuart G, Sundeen S. 1995. Principles and practice of psychiatric nursing, ed 5. St
Louis. Mosby
Stuart G, Sundeen S. 1998.Buku Saku Keperawatan Jiwa, ed 3. EGC. Jakarta
Trudeu M. 1993. Informed Consent: the patienss right to decide. J Psychosoc Nurs
Ment Health Serv 31;9