Anda di halaman 1dari 14

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Determinasi Buah Pir (Pyrus communis L.)


Determinasi tanaman dilakukan di Laboratorium Ekologi dan
Biosistematika Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Diponegoro
Semarang. Determinasi terhadap tanaman yang akan diteliti ini dilakukan
untuk mendapatkan kebenaran identitas dari tanaman yang akan diteliti. Hasil
determinasi tanaman adalah sebagai berikut :
Klasifikasi :
Kingdom
: Plantae
Sub kingdom
: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Superdivisi
: Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi
: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Class
: Magnoliopsida-Dicotyledone
Ordo
: Rosales
Famili
: Rosaceae
Genus
: Pyrus
Spesies
: Pyrus communis L.
Nama lokal
: Pir

Kunci Determinasi :
1b, 2b, 3b, 4b, 12b, 13b, 14b, 17b, 18b, 19b, 20b, 21b, 22b, 23b, 24b, 25b,
26b, 27b, 799b, 800b, 801b, 802a, 803b, 804b, 805c, 806b, 807b, 809b, 810b,
811a, 812b, 815b, 816b, 818b, 820b, 821b, 822a, 823c, 825b, 826b, 829b,
830b, 831a, .................. Famili 104. Rosaceae ........... 1b, 2b, 3b, 13b,
15b ............... Genus 3 : Pyrus ............ Spesies 1 : Pyrus communis L.
Berdasarkan hasil determinasi diperoleh kepastian bahwa tanaman yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Pyrus communis L. Hasil determinasi
dapat dilihat pada lampiran 1.
B. Pembuatan Perasan Buah Pir (Pyrus communis L.)

28

29

Bahan baku buah pir diperoleh dari daerah Ungaran, Kabupaten


Semarang. Buah pir yang masih segar diambil dan dicuci sampai bersih
dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran. Buah pir ditimbang
sebanyak 100 gram kemudian dipotong kecil-kecil, kemudian dimasukan
kedalam juicer untuk memperoleh sari dari buah pir tersebut. Buah pir yang
sudah dijuicer kemudian diambil sarinya dan dimasukan kedalam beker glass.
Didapatkan perasan dengan konsentrasi 100% v/v dengan volume murni 70
ml. Pemilihan penggunaan juicer dalam metode perasan ini karena selain
menghasilkan sari yang lebih banyak juga penggunaannya lebih mudah,
praktis dan tidak memerlukan pemanasan maupun alat bantu khusus dalam
pembuatannya. Kekurangan dari metode perasan adalah bahan tidak tahan
dengan penyimpanan yang lama.
C. Uji Identifikasi Flavonoid
Identifikasi flavonol dengan metode fitokimia dilakukan untuk
membuktikan adanya senyawa flavonoid yang terdapat dalam buah pir (Pyrus
communis L.).
1. Sebanyak 1 ml sampel ditambahkan 3 tetes NaOH 0,1 N. Hasil identifikasi
menunjukkan warna kuning setelah penambahan NaOH 0,1 N. Sesuai
dengan literatur, adanya warna kuning kecoklatan menunjukkan bahwa
buah pir mempunyai kandungan flavonoid (Harborne, 1987) lampiran 3.

Flavonoid

kuning kecoklatan

30

Gambar 4.1. Reaksi Kimia Flavonoid dengan NaOH


2. Sebanyak 1 ml sampel ditambahkan 3 tetes H 2SO4 pekat. Hasil identifikasi
menunjukkan warna jingga setelah penambahan H2SO4 pekat. Sesuai
dengan literatur yang ada, adanya warna kuning menunjukkan bahwa buah
pir mengandung flavonoid (Harborne, 1987) lampiran 3.

Flavonoid
kuning
Gambar 4.2. Reaksi Kimia Flavonol dengan H2SO4
D. Hasil Uji Diuretik
Penelitian ini menggunakan tikus putih karena beberapa anatomi tikus
mempunyai kesamaan dengan anatomi manusia dan penanganannya tidak
terlalu sulit dibanding dengan hewan uji lain. Tikus putih yang dipilih
berkelamin jantan karena tidak dipengaruhi ovulasi dan hormonal seperti
pada tikus betina, kondisi biologis tikus putih jantan relatif lebih stabil dari
pada tikus betina.
Untuk memperkecil variabilitas biologis antar hewan uji maka hewan
uji tersebut harus mempunyai keseragaman dalam berat badan sehingga
dipilih tikus dengan rata-rata berat badannya 180-200 gram umur 2-3 bulan,
dipelihara dengan diberi makan dan minum. Tikus dibagi menjadi 5
kelompok yang terdiri dari masing-masing 5 ekor yang dihitung berdasarkan
perhitungan menggunakan rumus federer. Pada percobaan ini terdapat 5
kelompok perlakuan yaitu kelompok kontrol negatif CMC Na 1 %, satu
kelompok kontrol positif (furosemid) dosis 0,5068 mg/200 g, dan tiga

31

kelompok perlakuan (perasan buah pir (Pyrus communis L. dosis 2,5 g/kg
BB, 5 g/ kg BB dan 7,5 g/kg BB).
Hewan uji diadaptasikan di laboratorium selama 7 hari dengan
pemberian pakan pellet dan minum air. Hal ini dilakukan untuk menghindari
stres pada saat perlakuan. Sebelum hewan uji mengalami perlakuan hewan uji
dipuasakan selama 18 jam namun tetap diberi minum. Tujuan dipuasakan
agar kondisi hewan uji sama dan mengurangi pengaruh makanan yang
dikonsumsi terhadap absorbsi sampel yang diberikan.
Pada penelitian ini digunakan 2 kelompok kontrol, yaitu kontrol
positif dan kontrol negatif. Kontrol negatif menggunakan CMC-Na 1% dan
kontrol positif (furosemid dosis 0,5068 mg/200 g) karena furosemid
mempunyai mekanisme kerja yang sama dengan perasan buah pir (Pyrus
communis L.) yang mengandung flavonoid, sehingga kontrol positif bisa
digunakan sebagai pembanding terhadap efek diuretik pada perasan buah pir
(Pyrus communis L.) yang diteliti. Kontrol negatif sebagai kelompok kontrol
tanpa perlakuan sehingga perubahan pada variabel tergantung. Sedangkan
persan buah pir (Pyrus communis L.) dengan berbagai variasi dosis bertingkat
(2,5 g/kg BB, 5 g/kg BB dan 7,5 g/kg BB) untuk mengetahui pada kadar
berapa perasan buah pir (Pyrus communis L.) yang memberikan efek diuretik
yang sebanding dengan furosemid dosis 0,5068 mg/200 g.
Hasil pengukuran volume urin tiap waktu pengamatan tercantum pada
tabel 4.1.
Tabel 4.1. Volume Urin Kumulatif Hewan Uji Pada Jam Ke 1, 2, 3, 6, 9, 12,
24 dan Volume Urin Kumulatif 24 Jam
Kelompok

Volume urin tiap jam ke-(ml) Mean SD

32

12

24

Urin
kum
24jam

Kontrol negatif
Kontrol positif
Perasan dosis
2,5 g/kg BB
Perasan dosis
5 g/kg BB
Perasan dosis
7,5 g/kg BB

0,76 0,74 0,86 0,8


0,13 0,09 0,11 0,16
1,62 1,8 1,9 2,56
0,08 0,07 0,12 0,11
0,7 0,88 0,98 1,62
0,16 0,15 0,13 0,24
0,94 1,26 1,52 2,38
0,11 0,11 0,15 0,08
1,52 1,7 1,82 2,54
0,13 0,21 0,19 0,11

1,56
0,24
2,42
0,13
1,86
0,26
2,26
0,15
2,3
0,1

1,36
0,24
2,06
0,27
1,78
0,23
1,84
0,11
1,86
0,19

1,9
0,27
2,72
0,49
2,24
0,11
2,46
0,15
2,66
0,23

7,98
0,92
15,3
0,23
10,1
0,57
12,7
0,35
14,4
0,49

Dari tabel diatas dapat dilihat jumlah urin yang dikeluarkan oleh
hewan uji setelah perlakuan. Pengukuran volume urin dilakukan pada jam ke1, 2, 3, 6, 9, 12 dan 24. Peningkatan volume urin kumulatif pada kelompok
hewan uji dapat dilihat bahwa kontrol positif menempati posisi teratas yaitu
sebesar 15,3 ml dan iikuti dengan perasan buah pir dosis 7,5 g/kg BB dengan
volume urin kumulatif 14,4 ml. Sedangkan pada kontrol negatif menempati
posisi terendah yaitu 7,98 ml dan diikuti dengan perasan buah pir dosis 2,5
g/kg BB dengan volume urin kumulatif sebesar 10,1 ml dan perasan buah pir
dosis 5 g/kg BB dengan volume urin kumulatif sebesar 12,7 ml. Dilihat dari
hasil jumlah volume urin rata-rata setiap kelompok kontrol positif dan
perasan buah pir pada setiap dosis memberikan efek diuretik yang lebih besar
dibandingkan dengan kontrol negatif.
Setelah dilakukan pengamatan terhadap volume urin, kemudian
dilakukan pembuatan kurva untuk melihat nilai AUC (Area Under the Curve)
yang menunjukkan kenaikan volume urin hewan uji pada setiap perlakuan.
Kurva dapat dilihat pada gambar 4.3.

33

3
kontrol negatif (CMC-Na 1%)
2.5
kontrol positif (furosemid dosis 0,5068 mg/200 g BB)
2
P I (perasan buah pir 2,5 g/kg BB)
Volume Urin Kumulatif (ml) 1.5
P II (perasan buah pir 1
5 g/kg BB)
0.5
P III (perasan buah pir 7,5 g/kg BB)
0

Waktu Pengamatan (jam)

Gambar 4.3. Grafik Batang Volume Urin Hewan Uji Pada Jam Ke
1, 2, 3, 6, 9, 12 Dan 24
Dilihat grafik diatas dapat dilihat peningkatan volume urin pada
hewan uji pada masing-masing perlakuan kontrol positif (furosemid dosis
0,5068 mg/200 gram BB) dengan perasan buah pir dosis 7,5 g/kg BB yang
hampir sama, ini dapat dikatakan antara pemberian perasan buah pir dosis 7,5
g/kg BB dengan furosemid memiliki efek yang hampir sama dengan
furosemid. Untuk perasaan buah pir dosis dosis 2,5 g/kg dan dosis 5 g/kg
rata-rata peningkatannya lebih rendah dari furosemid.
Selanjutnya dilakukan perhitungan AUC (AreaUnder the Curve).
Hasil perhitungan AUC dapat dilihat pada tabel 4.2 dan tersaji pada lampiran
9.
Tabel 4.2. Rata-Rata AUC Urin Tiap Waktu Pengamatan Pada
Masing-Masing Kelompok Perlakuan

34

Kelompok
perlakuan

AUC Volume Urin Tiap Waktu Pengamatan (ml) Mean SD


AUC AUC AUC AUC AUC AUC AUC
AUC

Kontrol
negatif
Kontrol positif
Perasan dosis
2,5 g/kg BB
Perasan dosis
5 g/kg BB
Perasan dosis
7,5 g/kg BB

12

24

kum 24 jam

0,38
0,08

0,65
0,23

0,8
0,09

2,49
0,36

3,54
0,59

4,38
0,71

31,8
4,65

0,8
0,03
035
0,08

1,75
0,07
0,67
0,36

1,85
0,07
0,98
0,14

6,69
0,31
3,9
0,44

7,47
0,34
5,22
0,73

6,72
0,37
5,45
0,59

047
0,05

1,1
0,15

1,39
0,12

5,85
0,3

6,45
0,59

6,45
0,59

19,56

2,93
30,0
1,27
24,12

1,77
25,2
1,34

0,76
0,07

1,41
0,39

1,76
0,19

7,08
0,31

7,26
0,08

6,30
0,21

26,64

2,15

54,16
2,73
40,65
2,41
47,72
1,73
51,27
2,03

Dari perasan buah pir (Pyrus communis L.) berkhasiat sebagai


diuretik diketahui dengan membandingkan AUC (Area Under the Curve)
volume urin tiap jam atau tiap waktu pengamatan. AUC digunakan untuk
menentukan besarnya volume urin yang dihasilkan, semakin besar
AUCnya berarti semakin besar volume urin yang dihasilkan. Dari hasil ini
dapat diketahui apakah perasan buah pir mempunyai kemampuan diuretik
atau tidak.
Setelah data diperoleh dan dicari luas daerah dibawah kurva (Area
Under the Curve). Selanjutnya data AUC kumulatif tersebut dianalisa
dengan statistik parametrik atau non parametrik yang didasarkan pada
normalitas dan homogenitas. Untuk mengetahui hasil normalitas data
dapat diketahui dengan menggunakan Uji Shapiro Wilk, data dapat dilihat

35

pada tabel 4.3. dibawah ini. Uji Shapiro Wilk digunakan karena sampelnya
kurang dari 50.
Tabel 4.3. Uji Normalitas Shapiro Wilk
Kelompok
Kontrol negatif
Kontrol positif
Perasan dosis 2,5 g/kg
BB
Perasan dosis 5 g/kg BB
Perasan dosis 7,5 g/kg
BB

Sig.
0,934
0,828
0,225

Keterangan
Normal
Normal
Normal

0,003
0,729

Tidak normal
Normal

Berdasarkan uji normalitas didapatkan nilai signifikansinya (P>0,05)


volume urin sesudah perlakuan pada kelompok kontrol negatif (CMC-Na
1%), kontrol positif (furosemid dosis 0,5068 mg/200 gram BB), perasan
buah pir (Pyrus communis L.) dosis 2,5 g/kg BB dan dosis 7,5 g/kg BB
hasil uji normalitas tersebut diperoleh bahwa data tersebut terdistribusi
normal, artinya penyebaran data merata. Sedangkan pada perasan buah pir
(Pyrus communis L.) dosis 5 g/kg BB dengan nilai signifikansinya 0,003
menunjukkan data tidak terdistribusi normal.
Kemudian dilanjutkan dengan uji levenes test (untuk mengetahui
homogenitas data). Data dapat dilihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4. Uji Homogenitas Varian
Variabel
Urin kumulatif

Levene Statistic
1,610

Df1
4

Df2
20

Sig.
0,211

36

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa hasil uji homogenitas varian


menggunakan levenes test dan didapatkan nilai signifikansin (P>0,05), ini
menunjukkan bahwa data diperoleh dari varian yang sama (homogen).
Data yang diperoleh memiliki distribusi tidak normal dan varian yang
homogen, maka dianalisa dengan statistik non parametrik menggunakan
Kruskal wallis test dari analisa diperoleh nilai signifikansi 0,000 P<0,05
menunjukkan adanya perbedaan perlakuan antar kelompok. Untuk
mengetahui perbedaan antar kelompok dilanjutkan dengan Uji Mann
Whitney. Hasil Uji Mann Whitney dapat dilihat pada tabel 4.5.
Tabel 4.5. Hasil Mann-Whitney Efek Diuretik Perasan Buah Pir (Pyrus
communis L.) Pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar

Keterangan

Kelompok
Perlakuan
K(-) vs K(+)
K(-) vs P1
K(-) vs P2
K(-) vs P3
K(+) vs P1
K(+) vs P2
K(+) vs P3

Sig
0,009
0,009
0,009
0,009
0,009
0,016
0,117

P1 vs P2
P1 vs P3
P2 vs P3

0,009
0,009
0,028

AUCkum
Keterangan
Berbeda bermakna
Berbeda bermakna
Berbeda bermakna
Berbeda bermakna
Berbeda bermakna
Berbeda bermakna
Berbeda tidak
bermakna
Berbeda bermakna
Berbeda bermakna
Berbeda bermakna

Kontrol (-) : Diberi CMC-Na 1% secara peroral.


Kontrol (+) : Diberi furosemid dosis 0,5068 mg/200 g BB secara peroral.
P1
: Diberi suspensi perasan buah pir (Pyrus communis L.) dosis
2,5 g/kg BB secara peroral.
P2
: Diberi suspensi perasan buah pir (Pyrus communis L.) dosis 5
g/kg BB secara peroral.

37

P3

: Diberi suspensi perasan buah pir (Pyrus communis L.) dosis


7,5 g/kg BB secara peroral.
Dari tabel diatas dapat dilihat nilai signifikan dari AUC kumulatif dari

hewan uji pada masin-masing perlakuan. Nilai AUC kumulatif dari hewan uji
dapat digunakan untuk melihat efek diuretik pada jam ke 1-24. Hasil Uji
Mann Whitney yang diperoleh menunjukkan bahwa kontrol negatif (CMC-Na
1%) berbeda bermakna dengan semua perlakuan dengan nilai signifikan
P<0,05. Kontrol positif (furosemid dosis 0,5068 mg/200 gram BB) berbeda
bermakna dengan kontrol negatif (CMC-Na 1%), perlakuan I dan II dengan
nilai signifikan P<0,05. Kontrol positif (furosemid dosis 0,5068 mg/200 gram
BB) tidak berbeda bermakna dengan perlakuan III dengan nilai signifikan
0,117 0,05. Hal ini menunjukan berarti kontrol positif (furosemid dosis
0,5068 mg/200 gram BB) dan perlakuan III memiliki kemampuan
meningkatkan volume urin yang sebanding. Sedangkan perlakuan lainnya
menunjukan nilai signifikan P<0,05. Hal ni berarti pada perlakuan lain
menunjukan kemampuan diuretik, akan tetapi tidak sebanding dengan kontrol
positif (furosemid dosis 0,5068 mg/200 gram BB). Selanjutnya dilakukan
perhitungan presentase daya diuretik. Hasil perhitungan presentase dapat
dilihat pada tabel 4.3.

Tabel 4.6. Persentase Daya Diuretika


Kelompok perlakuan
Kontrol positif
Perasan dosis 2,5 g/kg BB

Mean SD Persentase Daya Diuretika


(%)

70,318,59
27,837,56

38

Perasan dosis 5 g/kg BB


Perasan dosis 7,5 g/kg BB

50,065,45
61,226,39

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat nilai rata-rata persentase daya


diuretika perasan buah pir (Pyrus communis L.) dosis 7,5 g/kg BB sebesar
61,22% hampir sama dengan nilai persentase daya diuretika kontrol positif
(furosemid dosis 0,5068 g/200 g BB) sebesar 70,31 % dibandingkan perasan
buah pir (Pyrus communis L.) dosis 2,5 g/kg BB sebesar 27,83% dan dosis 5
g/kg BB sebesar 50,06 %, hal ini menunjukkan bahwa perasan buah pir
(Pyrus communis L.) dosis 7,5 g/kg BB memiliki efek yang hampir sama
dengan kontrol positif (furosemid dosis 0,5068 mg/200 gram BB) dalam
meningkatkan volume urin. Perhitungan presentase diuretik dapat dilihat pada
lampiran 9. Untuk mengetahui hasil normalitas data dapat diketahui dengan
menggunakan Uji Shapiro Wilk, data dapat dilihat pada tabel 4.7. dibawah ini.
Uji Shapiro Wilk digunakan karena sampelnya kurang dari 50.

Tabel 4.7. Uji Normalitas Shapiro Wilk


Kelompok
Kontrol positif
Perasan dosis 2,5 g/kg BB
Perasan dosis 5 g/kg BB
Perasan dosis 7,5 g/kg BB

Sig.
0,825
0,225
0,003
0,729

Keterangan
Normal
Normal
Tidak normal
Normal

39

Berdasarkan uji normalitas didapatkan nilai signifikansinya (P>0,05)


volume urin sesudah perlakuan pada kelompok kontrol negatif (CMC-Na
1%), kontrol positif (furosemid dosis 0,5068 mg/200 gram BB), perasan
buah pir (Pyrus communis L.) dosis 2,5 g/kg BB dan dosis 7,5 g/kg BB
hasil uji normalitas tersebut diperoleh bahwa data tersebut terdistribusi
normal, artinya penyebaran data merata. Sedangkan pada perasan buah pir
(Pyrus communis L.) dosis 5 g/kg BB dengan nilai signifikansinya 0,003
menunjukkan data tidak terdistribusi normal.
Data yang diperoleh memiliki distribusi tidak normal dan varian yang
homogen, maka dianalisa dengan statistik non parametrik menggunakan
Kruskal wallis test dari analisa diperoleh nilai signifikansi 0,001 P<0,05
menunjukkan adanya perbedaan perlakuan antar kelompok. Untuk
mengetahui perbedaan antar kelompok dilanjutkan dengan Uji Mann
Whitney. Hasil Uji Mann Whitney dapat dilihat pada tabel 4.8.

Tabel 4.5. Hasil Mann-Whitney Efek Diuretik Perasan Buah Pir (Pyrus
communis L.) Pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar
Kelompok Perlakuan
P1 vs P2
P1 vs P3
P2 vs P3
K(+) vs P1
K(+) vs P2
K(+) vs P3
Keterangan :

Sig.
0,009
0,009
0,028
0,009
0,016
0,117

Keterangan
Berbeda bermakna
Berbeda bermakna
Berbeda bermakna
Berbeda bermakna
Berbeda bermakna
Berbeda tidak bermakna

40

Kontrol (-) : Diberi CMC-Na 1% secara peroral.


Kontrol (+) : Diberi furosemid dosis 0,5068 mg/200 g BB secara peroral.
P1
: Diberi suspensi perasan buah pir (Pyrus communis L.) dosis
2,5 g/kg BB secara peroral.
P2
: Diberi suspensi perasan buah pir (Pyrus communis L.) dosis 5
g/kg BB secara peroral.
P3
: Diberi suspensi perasan buah pir (Pyrus communis L.) dosis
7,5 g/kg BB secara peroral.
Hasil Uji Mann Whitney yang diperoleh menunjukkan kontrol positif
(furosemid dosis 0,5068 mg/200 gram BB) berbeda bermakna dengan
perlakuan I dan II dengan nilai signifikan P<0,05. Kontrol positif (furosemid
dosis 0,5068 mg/200 gram BB) berbeda tidak bermakna dengan perlakuan III
dengan nilai signifikan 0,117 0,05. Hal ini menunjukan berarti kontrol
positif (furosemid dosis 0,5068 mg/200 gram BB) dan perlakuan III memiliki
presentase daya diuretik yang sebanding. Sedangkan perlakuan lainnya
menunjukan nilai signifikan P<0,05. Hal ni berarti pada perlakuan lain
menunjukkan presentase daya diuretik tidak sebanding dengan kontrol positif
(furosemid dosis 0,5068 mg/200 gram BB).
Berdasarkan hasil Uji Mann Whitney diatas menunjukan bahwa AUC
kumulaif dan presentase daya diuretik pada kelompok kontrol positif
(furosemid dosis 0,5068 mg/200 gram BB) mempunyai peningkatan yang
paling besar dalam menimbulkan efek diuretik dilihat dari volume urin
kumulatif 24 jam. Diantara ketiga kelompok perlakuan perasan buah pir
(Pyrus communis L.) nilai AUC kumulatif dan presentase daya diuretik
terendah pada dosis 2,5 g/kg BB dan dikuti perasan buah pir dosis 5 g/kg BB.
Sedangkan pada perasan buah pir dosis 7,5 g/kg BB memiliki nilai AUC

41

kumulatif dan presentase daya diuretik paling tingggi diantara kelompok


perasan buah pir yang lain.
Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa perasan buah pir (Pyrus
communis L.) menunjukkan bahwa semua kelompok perlakuan memiliki efek
diuretik, tetapi kelompok perasan buah pir (Pyrus communis L.) dosis 7,5
g/kg BB memiliki efek diuretik yang sebanding dengan furosemid dosis
0,5068 mg/200 gram BB
Hal ini disebabkan karena perasan buah pir (Pyrus communis L.)
mengandung senyawa kimia flavonoid dengan mekanisme kerja yang sama
dengan kontrol positif (furosemid dosis 0,5068 mg/200 g BB) dengan cara
menghambat reabsorbsi Na+, K+ dan Cl- sehingga menyebabkan retensi Na+,
K+ dan Cl- dan air dalam tubuli sehingga terjadi diuresis. Diuretik adalah zatzat yang dapat memperbanyak pengeluaran kemih (diuresis) melalui kerja
langsung terhadap ginjal (Tjay dan Rahardja, 2002).
Furosemid merupakan diuretika yang kuat, aktifitasnya 8-10 kali dari
diuretika tiazid. Awal kerja obat terjadi dalam 0,5-1 jam setelah pemberian
oral dengan massa kerja 6-8 jam. Absorbsi furosemid diusus hanya lebih
kurang 50% t 30-60 menit, ekskresinya melalui kemih secara utuh , pada
dosis tinggi juga lewat empedu (Tjay dan Rahardja, 2002).