Anda di halaman 1dari 15

Tugas individu

Penyuluhan peternakan

PENGENALAN PENYAKIT MASTITIS PADA


TERNAK SAPI PERAH

Nama

: muhammad idham yahya

Nim

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PETERNAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2014

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat allah Swt. Karena atas segalah rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan tgugas yang berjudul Pengenalan
penyakit mastitis pada ternak sapi perah ini dengan sebaik-baiknya.
Dan tak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua Orang Tua yang
selalu memberikan dukungan dan doanya dan kepada teman-teman yang telah terlibat membantu
dalam penulisan tugas ini.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat beberapa kesalahan dalam penulisan maupun
dalam penyusunannya, maka dari itu penulis berharap para pembaca memberikan saran dan
kritikannya terhadap makalah ini, sehingga dapat diperbaiki penulisan dan penyusuanannya
dikemudian hari. Terima Kasih.
Wassalam.
Makassar, Oktober 2014

Penulis,

BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Sapi perah merupakan salah satu ternak penghasil susu yang cukup tinggi, untuk
mendapatkan produk susu yang tinggi perlu diperhatikan manajemen pemeliharaan dari sapi
perah. Salah satu paktor yang sangat mempengaruhi keberhasilan usaha beternak Sapi perah
yaitu paktor kebersihan, terutama kebersihan lingkungan baik itu kebersihan kandang maupun
kebersihan ternak itu sendiri. Lingkungan yang tidak bersih dan kotor dapat mengganggu
aktivitas ternak dan juga dapat menimbulkan bibit penyakit terutama pada saat pemerahan susu
pada Sapi perah. Salah satu penyakit yang dapat menyerang sapi perah adalah penyakit mastitis.
Mastitis adalah penyakit dari ambing yang disebabkan oleh peradangan kelenjar susu.
Mastitis didefinisikan sebagai radang jaringan interna kelenjar ambing. Istilah mastitis berasal
dari kata mastos yang artinya kelenjar ambing dan itis untuk inflamasi. Radang ambing
hampir selalu merupakan radang infeksi yang berlangsung secara akut, subakut maupun kronik.
Mastitis ditandai dengan kenaikan sel didalam air susu, perubahan fisik, maupun susunan air
susu, dan disertai atau tanpa disertai dengan perubahan patologis atas kelenjarnya sendiri.
Radang ambing merupakan penyakit yang banyak sekali menimbulkan kerugian pada peternakan
sapi perah. Kerugian tersebut disebabkan oleh penurunan produksi air susu, ongkos perawatan
dan pengobatan, air susu yang harus dibuang karena tidak memenuhi persyaratan dan kenaikan
biaya penggantian sapi untuk kelangsungan produksi.
Sapi betina yang menderita radang ambing, meskipun telah disembuhkan akan dipelihara
lebih pendek jangka waktunya dibandingkan dengan sapi betina yang tidak terkena radang
ambing. Di negara berkembang banyak sapi-sapi yang melahirkan, tetapi tidak dapat mencukupi

kolostrum untuk pedetnya yang disebabkan karena menderita radang ambing atau mastitis.
Diperkirakan 50% sapi betina menderita radang yang mengenai rata-rata 2 perempatan ambing.

Maksud dan tujuan


Maksud dan tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui penyebab dan pencegahan dari
radang ambing (mastitis) serta memberikan informasi bagi para peternak tentang penyakit
mastitis.

BAB II

PEMBAHASAN
1. Penyebab radang ambing/mastitis
Faktor utama penyebab radang ambing atau mastitis adalah streptococcus cocci dan
Staphylococcus cocci. Penularan bakteri ini adalah masuk melalui putting dan kemudian
berkembang biak di dalam kelenjar susu. Hal ini terjadi karena putting yang habis di perah
terbuka, kemudian kontak dengan lantai atau tangan pemerah yang terkontaminasi bakteri (AAK,
1994).
Proses mastitis hampir selalu dimulai dengan masuknya mikroorganisme ke dalam kelenjar
melalui lubang puting (sphincter puting). Sphincter puting berfungsi untuk menahan infeksi
kuman. Pada dasarnya, kelenjar mammae sudah dilengkapi perangkat pertahanan, sehingga air
susu tetap steril. Perangkat pertahanan yang dimiliki oleh kelenjar mammae, antara lain :
perangkat pertahanan mekanis, seluler dan perangkat pertahanan yang tidak tersifat (non
spesifik). Berbagai jenis bakteri yang telah diketahui sebagai agen penyebab penyakit mastitis,
antara lain : Streptococcus agalactiae, Str. Disgalactiae, Str. Uberis, Str.zooepidemicus,
Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Enterobacter aerogenees dan Pseudomonas aeroginosa
(Akoso, 1996).
Disamping faktor faktor mikroorganisme yang meliputi berbagai jenis, jumlah. faktor ternak
dan lingkungannya juga menentukan mudah tidaknya terjadi radang ambing dalam suatu
peternakan. Faktor predisposisi radang ambing dilihat dari segi ternak,

meliputi : bentuk

ambing, misalnya ambing yang sangat menggantung, atau ambing dengan lubang puting terlalu
lebar. Factor umur juga akan mempengaruhi mudah tidaknya seekor sapi terkena radang ambing
atau mastitis. Semakin tua umur sapi, apalagi induk dengan produksi air susu tinggi, semakin

melar spincter pada putingnya, karena spincter berfungsi dalam menahan infeksi kuman, maka
kemungkinan terinfeksi pada sapi tua juga semakin besar (Subronto, 2003).
Faktor lingkungan dan pengelolaan ternak yang banyak mempengaruhi terjadinya mastitis,
meliputi pakan, perkandangan, banyaknya sapi dalam satu kandang, sanitasi kandang, dan cara
pemerahan susu. Pakan yang mengandung estrogen, misalnya bangsa clover, dan jagung ataupun
konsentrat yang berjamur, telah terbukti memudahkan terjadinya radang. Kandang yang
berukuran sempit menyebabkan sapi-sapi didalamnya berdesakan, apabila ada salah satu yang
menderita, maka penularan ke sapi lain akan mudah. Lantai kandang yang licin yang
menyebabkan sapi malas bangun ataupun lantai yang kemiringannya kurang, hingga
menyebabkan air mudah tergenang juga akan mempermudah kemungkinan kontak antara bakteri
dan ambing sehat (Subronto, 2003).

2. Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit mastitis


Mastitis berjangkit pada sapi dengan dua bentuk yaitu :
1.

Mastitis Klinis, yang dapat terdeteksi karena terlihat secara kasat mata.

2.

Mastitis Sub Klinis, yang sulit terdeteksi karena sapi perah terlihat sehat, ambing normal,

dan susu tidak menggumpal serta warna tidak berubah.


Di Indonesia, data penyakit mastitis klinis hanya sedikit diketahui, sedangkan mastitis
subklinis justru belum diketahui secara pasti, namun dikatakan subklinis apabila gejala-gejala
klinis radang tidak ditemukan pada waktu pemeriksaan atas ambing. Hal ini sangat berbahaya,
karena susu yang dihasilkan akan mengandung jumlah bakteri yang sangat banyak. Akibatnya,
susu tidak dapat dijual dan peternak akan menderita kerugian yang sangat besar. Penyebab
Mastitis subklinis adalah Streptococcus agalactiae dan Staphylococcus aureus (Anonim, 2013).

Secara klinis proses radang ambing atau mastitis dapat berlangsung akut, subakut dan kronik.
Proses yang berlangsung secara akut tanda-tanda adanya radang yang berupa kebengkakan, bila
diraba terasa panas, nafsu makan menurun dan bulu tampak kasar, serta air susu jadi pecah
bercampur dengan endapan jonjot fibrin, reruntuhan sel maupun gumpalan protein. Konsistensi
air susu jadi lebih encer dan warnanya juga agak kebiruan atau putih pucat. Tanda-tanda lain
yang ditemukan pada keadaan akut antara lain: anoreksia, kelesuan, dan hewan mengalami
toksemia. Proses yang berlangsung secara subakut ditandai dengan gejala yang mirip dengan
akut,hanya saja lebih ringan. Sapi masih mau makan dan suhu tubuh biasanya masih dalam batas
normal (Subronto, 2003).
Mastitis yang kronis dapat diketahui dengan gejala-gejala sebagai berikut:
1.

Lebih sering menyerang pada sapi-sapi yang sudah tua.

2.

Dari luar tidak menunjukkan gejala-gejala bahwa hewan terserang suatu penyakit.

3.

Terjadi pembengkakan pada ambing dan jika diperah, air susunya akan menggumpal

(AAK, 1994).
Proses yang berlangsung pada subakut atau kronik dapat menjadi akut dalam waktu yang
tidak terlalu lama. Proses berlangsung kronik bila infeksi dalam suatu ambing berlangsung lama,
dari suatu periode laktasi ke periode berikutnya. Gejala umum adanya radang akut pada ambing
akan jelas terlihat, karena akan sangat terlihat lemah bahkan tidak sanggup berdiri, ambruk, dan
dapat mati dalam beberapa hari (Subronto, 2003).
3. Pencegahan dan penanggulangan penyakit mastitis
Pencegahan penyakit mastitis terutama ditujukan pada kebersihan kandang, kebersihan sapi,
serta pengelolaan peternakannya. Kandang yang selalu bersih setidaknya mengurangi
kemungkinan adanya pencemaran ambing oleh bakteri. Kulit sapi merupakan tempat sementara

bagi mikroorganisme. Bakteri streptococcus dan staphylococcus selalu dapat diisolasi dari kulit
sapi yang klinis nampak normal. Memandikan sapi mempunyai pengaruh pencucian mikrobia
secara langsung. Termasuk pada pengelolaan peternakan adalah jumlah sapi dalam satu kandang.
Semakin pendek jarak antara sapi, kemungkinan penularan juga semakin besar. Pedet yang biasa
menyusu langsung dari putting induknya dapat bertindak sebagai perantara dalam penularan
radang dari perempatan yang sakit ke yang sehat, juga pada betina yang bukan induknya
sehingga betina yang sehat dapat tertular. Seyogyanya, pedet segera disapih semuda mungkin
dan diberi minum dengan botol ataupun ember (Subronto, 2003).
Pemerahan susu dengan tangan ataupun mesin juga mampu menularkan kuman dari satu sapi
ke sapi lain. Pencegahannya tangan pemerah harus dicuci setiap kali akan memulai memerah dan
pindah dari satu sapi ke sapi berikutnya (Subronto, 2003). Penting untuk diperhatikan juga yaitu
desinfeksi, dengan cara dipping terhadap putting susu setelah pemerahan. Pengalaman dalam
praktek dipping dengan alkohol 70% untuk beberapa menit telah mengurangi infeksi ambing
dengan drastis. Obat-obat yang biasa dipakai meliputi chlorhexidine 0.5%, kaporit 4%, dan
lodophore 0.5-1%, untuk mencegah kontaminasi obat atas air susu, hendaknya ambing dicuci
dengan air bersih sebelum pemerahan (Jasper, 1980).
Pencegahan lain yang perlu diperhatikan adalah pendidikan terhadap peternak akan prinsipprinsip pencegahan penyakit, kontrol air susu yang diedarkan serta tindakan ikutan bila jumlah
sel yang ditemukan terlalu tinggi. Disamping itu, hindarkan kemmungkinan adanya hal-hal yang
menyebabkan luka pada ambing atau puting susu baik melalui cara pemerahan maupun adanya
lantai kandang yang dapat menyebabkan luka (AAK, 1994). Sapi yang menderita mastitis harus
dipisahkan dari sapi yang sehat, dan setiap kali jadwal dilakukannya pemerahan harus sampai
apuh, tidak ada air susu yang tertinggal dalam putting (AAK, 1995).

4. Pengobatan penyakit mastitis


Lay dan Hastowo (2000) menyatakan bahwa sebelum menjalankan pengobatan sebaiknya
dilakukan uji sensitifitas. Resistensi Staphylococcus aureus terhadap penicillin disebabkan oleh
adanya - laktamase yang akan menguraikan cincin - laktam yang ditemukan pada kelompok
penicillin. Pengobatan mastitis sebaiknya menggunakan : Lincomycin, Erytromycin dan
Chloramphenicol.
Disinfeksi puting dengan alkohol dan infusi antibiotik intra mamaria bisa mengatasi mastitis.
Injeksi kombinasi penicillin, dihydrostreptomycin, dexamethasone dan antihistamin dianjurkan
juga. Antibiotik

akan menekan pertumbuhan bakteri

penyebab mastitis,

sedangkan

dexamethasone dan antihistamin akan menurunkan peradangan (Swartz, 2006).


Akibat penggunaan antibiotik pada setiap kasus mastitis, yang mungkin tidak selalu tepat,
maka timbul masalah baru yaitu adanya residu antibiotika dalam susu, alergi, resistensi serta
mempengaruhi pengolahan susu. Mastitis subklinis yang disebabkan oleh bakteri gram positif
juga makin sulit ditangani dengan antibiotik, karena bakteri ini sudah banyak yang resisten
terhadap berbagai jenis antibiotik. Diperlukan upaya pencegahan dengan melakukan blocking
tahap awal terjadinya infeksi bakteri (Wahyuni et al., 2005).
Waktu pengobatan bagi ambing yang radangnya tidak berat, dianjurkan untuk ditunda sampai
sehabis laktasi, dengan pertimbangan agar air susunya tidak terhenti pengedarannya (Subronto,
2003). Untuk sapi-sapi yang tidak sedang laktasi (masa kering) dosis antibiotika tertentu dan cara
penggunaannya adalah sebagai berikut:
1.

Bensatin kloksasilin 500 mg

2.

Prokain penisilin + novobiosin (1 juta unit-500 mg).

3.

Prokain penisilin + dihidrostreptomisin (1 juta unit-1 gram).

4.

Neomisin 500 gram

5.

Prokain penisilin + furaltadon (100.000 unit-500 gr) semua diberikan sekali untuk tiap

perempatan (Blood et al., 1983).


Keuntungan pengobatan dalam masa tidak laktasi yaitu meliputi:
1.

Pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan obat yang lambat daya kerjanya (2-3

minggu), dan cukup hanya sekali saja dalam pemberian. Hal tersebut penting untuk mencegah
masuknya kuman baru dan juga pengobatan atas staphylococcus yang bersifat dekil (sulit untuk
diobati).
2.

Tingkat infeksi dalam 2-3 minggu setelah diperah adalah lebih dari 10 kali daripada masa

lainnya. Hampir 50% infeksi baru terjadi pada masa kering.


3.

Tidak khawatir dengan residu antibiotika dan tidak ada air susu yang terbuang.

4.

Sapi-sapi yang terinfeksi oleh kuman pada saat melahirkan akan menghasilkan air susu

yang kurang, sampai 33-37%, daripada sapi-sapi yang tidak terinfeksi pada saat dikeringkan
maupun pada saat melahirkan. Sapi-sapi yang terinfeksi pada saat melahirkan akan menghasilkan
air susu yang kurang sebesar 11% daripada sapi yang terinfeksinya saat dikeringkan dan tidak
terinfeksi ulang saat melahirkan.
5.

Pengobatan yang dilakukan pada masa kering akan menurunkan biaya pengobatan

(Subronto, 2003).
Mastitis yang akut dapat diberikan pengobatan suntikan prokain penicilin G +
dihidrostreptomycin 2 cc/100 kg berat badan setiap hari. Sulfamethazine 120 mg/kg berat badan
per os melalui mulut, dianjurkan dengan 60 mg/ kg berat badan setiap 12 jam selama 4 hari.

Untuk mastitis kronis dapat diberikan pengobatan yaitu diberikan penicilin mastitis ointment,
chlortetracycline ointment, atau oxytetracycline mastitis ointment (AAK, 1994).

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Mastitis adalah penyakit dari ambing yang disebabkan oleh peradangan kelenjar susu.
2. Penyebab utama radang ambing atau mastitis adalah streptococcus cocci dan
Staphylococcus cocci. Penularan bakteri ini adalah masuk melalui putting dan kemudian
berkembang biak di dalam kelenjar susu.
3. Mastitis yang berjangkit pada sapi ada 2 bentuk yaitu mastitis klinis dan subklinis.
4. Mastitis kronis dapat diketahui gejalanya sebagai berikut: lebih sering menyerang pada
sapi-sapi yang sudah tua, dari luar tidak menunjukkan gejala-gejala bahwa hewan
terserang suatu penyakit, terjadi pembengkakan pada ambing dan jika diperah, air
susunya akan menggumpal.

SINOPSIS

BIODATA PESERTA MATA KULIAH PENYULUHAN

NAMA

NIM

TEMPAT/TGL LAHIR

AGAMA

ALAMAT

NO HP

Makassar,

LEMBAR PERSIAPAN MENYULUH (LPM)

Oktober 2014

Judul

Tujuan

Metode

Media

Alat bantu

Makassar,

Oktober 2014

Hildah Khurniyah
Pokok kegiatan
Pedahuluan

Uraian kegiatan
Pembukaan

waktu
15 menit

penyuluhan
Pengantar

10 menit

materi
Isi/materi

Pengembanga

20 menit

penutup

materi
Tanya jawab
Penutup

15 menit
1 menit

keterangan