Anda di halaman 1dari 7

Gypsum Bonded

Bahan tanam gypsum bonded tersedia dalam bentuk bubuk yang dicampur dengan
air dan terdiri dari campuran silika (SiO2) dan kalsium sulfat hemihidrat bersamasama dengan komponen lainnya termasuk bubuk grafit atau bubuk tembaga dan
berbagai modifiers untuk mengontrol setting time. Silika adalah bahan tahan api yang
cukup tahan terhadap suhu tinggi selama pengecoran. Tersedia dalam tiga bentuk
allotropik, yaitu kuarsa, kristobalit dan tridimit (Mc Cabe 2008, page 47).
Silika ditambahkan untuk menyediakan komponen refrakter selama pemanasan
serta mengatur ekspansi termal dari gypsum bonded. Selama pemanasan, diharapkan
gipsum dapat memuai secara termal baik sebagian maupun secara total untuk
mengompensasi penyusutan logam campur emas saat dilakukan casting. Ketika
kuarsa, tridimit, atau kristobalit dipanaskan, perubahan dalam bentuk kristal terjadi
pada saat transisi suhu dari bentuk tertentu dari silika. Selain silika, sejumlah
modifying agent tertentu, bahan pewarna, dan reducing agent, seperti karbon dan
tembaga bubuk juga terdapat pada bubuk gipsum. Adanya reducing agent tersebut
bertujuan untuk membentuk suasana yang tidak dapat dioksidasi di dalam mould saat
casting alloy emas (Annusavice 2003, page 297-298).
Campuran silika dan gypsum hemihidrat akan menghasilkan ekspansi pengerasan
yang lebih besar daripada produk gypsum murni. Karena partikel silika akan
menghalangi pembentukan anyaman kristal dan menguncian antar kristal, sehingga
meningkatkan ekspansi. Menurut spesifikasi ADA no. 2 untuk bahan tanam tipe 1,
ekspansi maksimal gypsum di udara adalah 0,6% . ekspansi yang banyak ditemui
sekarang biasanya hanya 0,4% karena adanya bahan tambahan seperti akselerator dan
retader (Anusavice 2003, page 300).
American National Standards Institute / American Dental Association (ANSI /
ADA) Keterangan No. 2 tentang bahan tanam tuang untuk dental gold alloys meliputi
tiga jenis bahan tanam, yaitu:
Tipe 1: Tipe thermal expansion, untuk casting inlays dan crowns.
Tipe 2: Tipe hygroscopic expansion, untuk casting inlays dan crowns.
Tipe 3: Untuk casting complete dan partial denture base.
Bahan tanam gypsum bonded terurai di atas suhu 1200 C dengan interaksi
silika dengan kalsium sulfat untuk membebaskan gas belerang trioksida.
CaSO4 + SiO2 CaSiO3 + SO3

Hal ini tidak hanya menyebabkan melemahnya bahan tanam tetapi akan
mengarah pada penggabungan porositas pada casting. Dengan demikian, material
gypsum bonded umumnya dibatasi untuk menggunakan dengan alloy yang baik di
bawah suhu 1200 C. Ini meliputi sebagian besar gold alloy dan beberapa dari lower
melting, base metal alloys. Mayoritas dari base alloys, bagaimanapun, memiliki
temperatur casting yang tinggi dan membutuhkan penggunaan silica-bonded atau
phosphate-bonded material. Reaksi lain yang mungkin terjadi pada pemanasan
gypsum bonded adalah antara kalsium sulfat dan karbon:
CaSO4 + 4C CAS + 4CO
Karbon ini dapat berasal dari residu yang tersisa setelah buang malam dari
pola malam atau mungkin hadir sebagai grafit dalam investment. Reaksi lebih lanjut
dapat terjadi pembebasan sulfur dioksida:
3CaSO4 + CAS 4CaO + 4SO2
Reaksi ini terjadi di atas 700 C dan efek mereka dapat diminimalkan dengan
heat soaking pada investment cetakan pada temperatur casting untuk memungkinkan
reaksi akan selesai sebelum pengecoran dimulai. Adanya oksalat dalam beberapa
investasi mengurangi efek dari dekomposisi gypsum dengan membebaskan
karbondioksida pada suhu tinggi. (Mc Cabe 2008, page50).

Manipulasi
Setting ekspansi higroskopis akan terjadi ketika bahan tanam tuang mulai
dicampurkan ke air, yaitu ketika fase initial setting. Metode ini dikenal sebagai
metode water immersion hygroscopic expansion technique dan dapat menghasilkan 5
kali ekspansi normal. Metode lainnya adalah metode water added technique, yaitu
dengan meningkatkan volume air pada permukaan atas dari bahan tanam tuang yang
telah dimasukkan dalam casting ring. Tujuannya adalah untuk mengontrol ekspansi
(McCabe and Walls 2008, page 48).
Beberapa percaya bahwa jika air ditambahkan selama proses setting
menyebabkan hidrasi pada kalsium sulfat, sehingga menyebabkan ekspansi bahan

tanam, sedangkan yang lain berpendapat bahwa air yang ditambahkan dapat memaksa
gel gypsum untuk membengkak. Penambahan air atau cairan lain memberikan
penambahan volume ke kristal gypsum yang dapat tumbuh. Sehingga membuat setting
dan ekspansi higroskopis lebih efektif (Craig and Powers 2002, page410).
Secara umum, bahan tanam yang tepat untuk pengecoran gold alloy adalah
yang mengandung 65% sampai 75% kuarsa atau kristobalit, atau campuran keduanya,
dalam berbagai proporsi, 25% sampai 35% dari kalsium sulfat hemihydrate, dan
sekitar 2% sampai 3% chemical modifiers. Setiap bentuk polimorfik silika - kuarsa,
tridimit, dan kristobalit akan berekspansi bila dipanaskan, tetapi presentasenya
berbeda satu sama lain. Perubahan ekspansi jika dibandingkan dengan kurva suhu
menunjukkan bahwa kristobalit dan kuarsa masing-masing ada dalam dua bentuk
polimorfik, salah satu lebih stabil pada suhu tinggi dan yang lain pada suhu yang lebih
rendah. Bentuk yang lebih stabil pada suhu kamar disebut -form, dan bentuk yang
lebih stabil pada suhu yang lebih tinggi disebut -form (Craig and Powers 2002, page
408).
Bentuk -hemihidrat dari gypsum secara umum merupakan pengikat untuk
bahan tanam yang digunakan pada pengecoran logam campur yang mengandung emas
dengan kisaran titik cair di bawah 10000C (18000F). Jika bahan ini dipanaskan ke
temperatur yang diperlukan maka akan menyusut sesuai dengan bentuknya dan jika
bahan dipanaskan cukup tinggi untuk dilakukan pengecoran yang tuntas, akan
menyusut cukup besar dan seringkali patah (Anusavice 2004, page 297).
Bahan tanam akan berekspansi ketika pertama kali dipanaskan dari
suhu kamar sekitar 105oC, kemudian perlahan-lahan berkontraksi atau tetap tidak
berubah sampai sekitar 200oC, dan menunjukkan berbagai tingkat ekspansi,
tergantung pada komposisi silika dari bahan tanam, antara 200 oC dan 700oC. Di atas
105oC, kalsium sulfat dihidrat dikonversi ke kalsium sulfat anhidrat. Pengeringan dari
dihidrat dan perubahan fase kalsium sulfat anhidrit menyebabkan kontraksi (Craig and
Powers 2002, page 409).
Faktor penting untuk bahan tanam tuang sebelum proses casting adalah
panjang dan diameter sprue serta jarak dari mould cavity dari dasar mould, karena
berpengaruh terhadap kualitas hasil casting. Untuk casting yang lebih besar dapat
menggunakan 2 atau lebih sprue agar alloy cair dapat menjangkau semua bagian dari
mould cavity sebelum penyolderan (McCabe and Walls 2008, page 80-81).

Daerah ideal untuk penempatan sprue adalah daerah model malam dengan
ketebalan terbesar. Hal ini bertujuan untuk menghindari perubahan bentuk dari daerah
malam yang tipis selama perlekatan sprue pada model dan memungkinkan aliran yang
lancar dari logam cair. Sprue harus diarahkan menjauh dari bagian-bagian model
malam yang tipis atau kecil, karena logam cair dapat mengabrasi atau mematahkan
bahan tanam di daerah ini dan mengakibatkan kegagalan pengecoran (Annusavice
2004, page 420).
Hal yang dilakukan berikutnya adalah penanaman model malam. Namun
sebelumnya dilakukan pelekatan sprue terlebih dahulu pada model malam. Tujuan
pembuatan sprue adalah untuk menyediakan saluran melalui mana logam cair akan
mengalir ke cetakan yang ada dalam cincin cor setelah model malamnya dibuang.
Panjang sprue tergantung pada panjangnya cincin cor. Jika tangkai sprue terlalu
pendek, maka model malam akan terlalu jauh dari ujung luar cincin sehingga gas-gas
tidak dapat dialirkan secara memadai untuk memungkinkan logam cair mengisi
seluruh ruang cincin. Jika gas ini tidak dapat dikeluarkan secara menyeluruh, akan
terjadi porositas (Annusavice, 2003). Malam sprue yang telah dipotong secukupnya,
kemudian sprue tersebut dilekatkan pada model malam. Ujung lain malam sprue
diletakkan pada crucible former dengan posisi tegak. Ketinggian model malam diukur
dengan jalan memasukkan bumbung tuang pada crucible former, jarak antara tepi
bumbung tuang dengan tepi atas model malam tidak boleh kurang dari 6 mm. Jika
kurang dari 6 mm maka tidak terdapat ketebalan yang cukup dari bahan tanam untuk
menjaga logam cair menembus keluar. Tetapi jika jaraknya lebih dari 6 mm maka
logam cair akan memadat sebelum udara yang terjebak dapat keluar, sehingga didapat
hasil casting yang tidak sempurna atau model malam yang fraktur (Obrien 2002,
page 244-245).
Malam yang dimasukkan cetakan dalam pembuatan model malam tidak boleh
terlalu panas karena hal tersebut dapat menyebabkan hasil akhir cetakan tidak
sempurna. Malam juga akan teroksidasi ketika dipanaskan dan pada pemanasan yang
lama beberapa molekul malam akan menguap. Selain itu malam terlalu panas
memiliki sifat flow yang terlau besar sehingga ketika dilakukan pengepresan
mengakibatkan permukaan model malam tidak tercetak sempurna (Anusavice 2004,
page 296). Tujuan dari penanaman model malam dengan menggunakan sprue:

Untuk membentuk sebuah mount pada model malam dan memperbaiki pola
sehingga cetakan dapat terbentuk.

Untuk membuat saluran keluarnya malam saat proses pembuangan malam.

Untuk membentuk saluran logam cair selama proses pengecoran (casting).

Untuk mengimbangi penyusutan logam selama proses pemadatan.


Diameter sprue harus sesuai dengan daerah paling tebal pada model malam.

Hal ini harus dilakukan, karena bila sprue terlalu besar akan mengakibatkan
perubahan bentuk dan jika terlalu kecil, daerah tempat menempel sprue akan
memadat terlebih dahulu sebelum tertuang penuh. Hal ini juga untuk memudahkan
mengalirnya logam dan mengisi rongga yang kosong. Selain itu, jarak antara sprue
dan bumbung tuang juga harus diperhatikan. Jarak antara sprue dengan bumbung
tuang maksimal 7mm. Jika jarak lebih dari 7mm, otomatis pasak lebih pendek
sehingga ketika logam masuk akan pecah. Namun jika kurang dari 7mm udara tidak
akan bisa keluar dan tekanan logam tidak sempurna sehingga mengakibatkan udara
terjebak yang akan menyebabkan gaseous porosity (Annusavice, 2003).
Sprue harus selalu dilekatkan pada bagian tertebal dari model malam, karena
logam cair dapat mengabrasi atau mematahkan bahan tanam di daerah ini sehingga
menyebabkan kegagalan pengecoran. Juga tidak boleh ditempatkan tegak lurus pada
permukaan yang datar dan lebar. Turbulensi dari logam cair saat memasuki model
malam menyebabkan porositas, hal tersebut disebabkan oleh adanya gas yang
terperangkap dan perlekatan sprue pada sudut yang tidak tepat. Semua perlekatan,
baik itu perlekatan antara sprue dan model malam ataupun perlekatan antara sprue
dan crucible former harus dihaluskan dan dirapikan untuk menghilangkan ujung dan
sudut yang tajam yang dapat menganggu (OBrien 2002, page 243).
Setelah sprue ditempelkan, malam diolesi dengan wetting agent, dibiarkan
beberapa saat lalu dibilas dengan air dan dikeringkan. Wetting agent yang digunakan
adalah air sabun. Tujuan menggunakan air sabun sebagai wetting agent adalah untuk
membersihkan malam dari kotoran, debu dan minyak, selain itu berfungsi untuk
mengurangi tegangan permukaan pada model malam sehingga mempermudah
pembasahan bahan tanam tuang, dan juga berfungsi sebagai perlekatan sempurna
pada bagian model yang kecil dan tipis.
Penggunaan parafin perlu diperhatikan dalam pembuatan model malam bentuk
mahkota selubung. Bila parafin yang digunakan terlalu sedikit maka dapat

mengakibatkan sulit lepasnya cetakan dari kuningan. Akan tetapi jika terlalu
berlebihan dalam pemberian parafin dapat menghalangi adaptasi terhadap die.
Mencelupkan gypsum die atau sprue dalam gliserin atau jenis minyak yang
berbeda tidak meningkatkan kekerasan permukaan melainkan membuat permukaan
halus, sehingga pisau malam atau alat lainnya tidak bisa memotong stone karena
permukaan yang licin (Craig and Powers 2002, page 402).
Hasil Analisis
Untuk pembuatan model malam secara tidak langsung dengan cara
pengepresan menggunakan die, dibutuhkan bahan separator agar malam tidak melekat
pada die. Bahan separator atau pelumas sebaiknya yang mengandung bahan
pembasah. Separator diulaskan secukupnya saja, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu
sedikit. Jika terlalu sedikit maka kemungkinan malam akan melekat pada die, tetapi
jika terlalu banyak akan menghalangi adaptasi intim terhadap die (Anusavice 2003,
page 291).
Panjang dan diameter sprue harus disesuaikan dengan model malam. Diameter
sprue kira-kira sama dengan bagian model malam yang paling tebal. Jika model
malam kecil atau tipis, maka diameter sprue juga akan tipis karena disesuaikan
dengan ketebalan model malam, begitu pula sebaliknya. Tetapi diameter sprue yang
terlalu kecil akan menyebabkan daerah tersebut memadat terlebih dahulu sebelum
mengisi mould dengan baik. Untuk mengatasi hal ini, perlu ditambahkan reservoir
pada sprue (Anusavice 2003, page 320).
Sprue direkatkan pada penampang yang paling luas, karena aliran logam cair
akan lebih baik mengalir dari bagian yang tebal ke bagian yang lebih tipis. Panjang
sprue juga disesuaikan dengan tinggi tabung serta model malam. Jarak antara model
malam dengan bagian atas tabung kurang lebih 6mm. sprue juga tidak terlalu panjang
untuk mengalirkan logam cair kedalam mould (Anusavice 2003, page 322).
Malam inlay atau malam biru bila dipanaskan terlalu lama, maka malam dapat
menguap, dan jika malam dipanaskan diatas suhu cairnya, maka malam akan
teroksidasi. Dan akan terdapat endapan karet serta warna malam menjadi lebih gelap.
Jika malam dipanaskan melebihi suhu cairnya, kontraksi termal akan meningkat, serta
akan terjadi ketidakstabilan dimensi atau perubahan dimensi (Anusavice 2003, page
291).

Annusavice KJ. 2004. Philips Science of Dental Material. 10Th ed. W.B. Sauders Company.
Philadelphia. Pennysylvania.
Craig RG and Powers JM. 2002. Restorative Dental Materials. 11th ed. Mosby Inc.
Mc Cabe JF and Walls AWG. 2008. Applied Dental Materials. 9th ed. Blackwall Publishing
Ltd.
OBrien WJ. 2002. Dental materials and Their Selection . 3rd ed. Quintessence Publishing
Co, Inc.