Anda di halaman 1dari 41

PANDUAN PRAKTIKUM

RANGKAIAN LISTRIK DASAR

Penyusun:

Ir. Syahril Ardi, MT

POLITEKNIK MANUFAKTUR ASTRA


Jl. Gaya Motor Raya 8 Sunter II Jakarta Utara 14330
Telepon: 6519555, Fax: 6519821, email: sekretariat@polman.astra.ac.id
DAFTAR ISI

No. Judul Percobaan Hal

1. Rangkaian Seri – Paralel Resistor I-1 s/d I-6

2. Multimeter II - 1 s/d II - 8

3. Kode Warna Resistor III - 1 s/d III - 4

4. Rangkaian Pembagi Tegangan IV - 1 s/d IV - 4

5. Hukum Kirchhoff V-1 s/d V-3

6. Oscilloscope VI - 1 s/d VI - 3

7. Pengamatan Terhadap Gelombang Sinus VII - 1 s/d VII - 4

8. Pengukuran Daya AC VIII - 1 s/d VIII - 4

9. Perbaikan Faktor Daya IX - 1 s/d IX - 3


Percobaan 1
RANGKAIAN SERI – PARALEL RESISTOR

1. Durasi
3 jam

2. Tujuan
 Mempelajari berbagai fungsi multimeter analog, khususnya sebagai ohm-meter.
 Mengitung rangkaian pengganti suatu rangkaian listrik dan mengukur rangkaian
penggantinya.
 Membandingkan hasil-hasil perhitungan dan pengukuran rangkaian pengganti (Rp),
serta menghitung kesalahan (error) di antara keduanya.

3. Landasan Teori
3.1 Rangkaian Seri
Dua elemen dikatakan seri, jika dan hanya jika:
 Ujung terminal dari dua elemen tersebut terhubung dalam satu simpul.
 Ujung elemen yang lain tidak terhubung dalam satu simpul (terpisah).

Jika kita memiliki rangkaian seri dari n buah resistor seperti gambar di bawah, maka
kita dapat mengganti resistor-resistor ini dengan satu resistor tunggal atau tahanan
pengganti, di mana:

R1 R2 Rn
R ek

Rek = R1 + R2 + …+ Rn

3.2 Rangkaian Paralel


Dua elemen dikatakan paralel, jika dan hanya jika:
 Ujung dari dua elemen terhubung dalam satu simpul.
 Ujung-ujung elemen yang lain terhubung dalam satu simpul yang lain pula.

Jika kita mempunyai rangkaian paralel dari n resistor, seperti ditunjukkan pada gambar
di bawah, maka kita dapat mengganti resistor ini dengan satu tahanan tunggal:

R1 R2 Rn R ek

1 1 1 1
   ... 
Rek R1 R2 Rn

4. Prosedur Percobaan
4.1 Peralatan dan komponen yang digunakan
1. Multimeter Analog
2. Berbagai macam Resistor
3. Kabel, saklar SPDT, jumper.

4.2 Rangkaian percobaan

R1 R2 R1 R2

R3

Gambar 1.1 Gambar 1.2

R1 R2 R1 R2 R3
Gambar 1.3 Gambar 1.4

R1 R2 R3 R4

Gambar 1.5

R1 R3

R2 R3 R1 R2 R4

Gambar 1.6 Gambar 1.7

R2
R1

R1
R2 R3

R3

Gambar 1.8 Gambar 1.9

R2
R1
R1 R4 R7

R3 R6

R2 R5 R8

Gambar 1.10 Gambar 1.11

R1 R4 R6

R3

R2 R5 R7

Gambar 1.12

a
1

c
2

Gambar 1.13 Gambar 1.14 Gambar 1.15

4.3 Prosedur Percobaan


a. Rangkaian Seri
 Hitunglah rangkaian Pengganti (Rp) untuk Gambar 1.1 dan 1.2 dengan
menggunakan rumus Rangkaian Pengganti: Rs = R1 + R2 + …
 Ukurlah Rangkaian Pengganti (Rp) kedua rangkaian tersebut dengan
memfungsikan multimeter analog sebagai ohm-meter.
 Bandingkan harga Rp dari hasil perhitungan (Rp1) dan harga Rp hasil pengukuran
(Rp2). Hitunglah kesalahannya (error).

R p2 Rp1
error  x100%
Rp1

b. Rangkaian Paralel (Gambar 1.3, 1.4, 1.5)


Lakukan seperti pada rangkaian seri.

c. Rangkaian Seri-Paralel (Gambar 1.6; 1.7; 1.8; 1.9; 1.10; 1.11; 1.12)
Lakukan seperti pada rangkaian seri.

d. Potensiometer
 Untuk gambar 1.13, ukurlah rangkaian penggantinya (Rp)
 Untuk Gambar 1.14, ukurlah Rab, Rac, Rbc.
 Tuliskan hubungan antara Rab, Rac, dan Rbc.
 Untuk Gambar 1.15, ukurlah Rp antara titik 1 dan 2.

5. Hasil Percobaan

No. Rp1 Rp2 Error (%)


Rangkaian 1.1
Rangkaian 1.2
Rangkaian 1.3
Rangkaian 1.4
Rangkaian 1.5
Rangkaian 1.6
Rangkaian 1.7
Rangkaian 1.8
Rangkaian 1.9
Rangkaian 1.10
Rangkaian 1.11
Rangkaian 1.12
6. Tugas
Hitunglah rangkaian Pengganti (Rp) untuk rangkaian-rangkaian berikut:
a.

1k

8k 1k

7k

b.

1k 2k

6k 4k 2k

4k

c.

1k

4k

4k

1k
Percobaan 2
MULTIMETER

1. Durasi
3 jam
2. Tujuan

 Mempelajari berbagai fungsi dan sifat multimeter


 Mempelajari berbagai penggunaan multimeter dan keterbatasan kemampuannya

3. Landasan Teori
Pada dasarnya multimeter ini merupakan gabungan dari alat ukur arus searah,
tegangan searah, resistansi, tegangan bolak balik dan kadang – kadang arus bolak
balik.
Spesifikasi teknik yang perlu diperhatikan dari alat ini adalah:
a. Batas ukur dan skala pada setiap besaran yang diukur.
Dalam memilih batas ukur tegangan atau arus perlu diperhatikan faktor keamanan
dan ketelitian. Mulailah dari skala yang cukup besar untuk keamanan alat,
kemudian turunkanlah batas ukur sedikit demi sedikit. Ketelitian akan paling baik
bila jarum menunjuk pada daerah dekat dengan skala maksimum.

b. Sensitivitas
Pada pengukuran tegangan searah maupun bolak-balik, perlu diperhatikan
sensitivitas meter yang dinyatakan dalam ohm per volt (/V). Resistansi dalam
voltmeter (ohm) = batas ukur x sensitivitas.
Sensitivitas meter sebagai pengukur tegangan bolak-balik lebih rendah daripada
sentivitas sebagai pengukur tegangan searah.

c. Ketelitian yang dinyatakan dalam %

d. Daerah frekuensi yang mampu diukur pada pengukuran tegangan bolak-balik.


Perlu diperhatikan pula bahwa harga efektif (rms) tegangan bolak-balik umumnya
dikalibrasi dengan gelombang sinusoida murni, jadi multimeter akan membaca
harga yang salah jika kita mengukur tegangan bolak-balik bukan sinusoida murni.

e. Baterai yang diperlukan.

4. Percobaan
4.1 Peralatan dan komponen yang digunakan:
1. Multimeter.
2. DC Power Supply.
3. Resistor 0,5 Watt : 22 , 150  (2bh), 1.5 k (3bh), 10 k, 33 K, 220 k,
1.5 M (2bh).
4. FG = Function Generator

4.2 Rangkaian Percobaan

R1 a
R1

I
+ R2
+ R2
V V
V -
- b
- +
mA

(a) (b)

R1

R2
FG V V

(c)

Gambar 2.1.Rangkaian Percobaan


4.3 Prosedur Percobaan

Catatlah spesifikasi teknik multimeter yang akan


dipergunakan pada Tabel 2.1.

Mengukur arus searah.

2 1. Buatlah rangkaian seperti Gambar 2.1.a, dengan V = 6 Volt dan R1 =


R2 = 150 .

2 2. Untuk harga-harga tersebut, hitunglah I pada waktu meter tidak


terpasang.

2 3. Sekarang ukurlah arus I tersebut dengan multimeter. Gunakanlah 2


macam batas ukur, misalnya 250 mA dan 25 mA. Adakah perbedaan
hasil pembacaan meter pada kedua keadaan tersebut ? .

2 4. Ulangilah langkah percobaan 2.1 sampai 2.3 untuk :


a. V = 6 volt, R1 = R2 = 1.5 K
b. V = 6 volt, R1 = R2 = 1.5 M

2 5. Catatlah semua hasil perhitungan dan pengukuran arus I pada


Tabel 2.2.

3. Mengukur tegangan searah

3.1. Buatlah rangkaian seperti Gambar 2.1.b dengan V = 6 volt dan R1 =


R2 = 150 
3.2. Untuk harga-harga tersebut hitunglah tegangan Vab pada waktu meter
tidak terpasang.
3.3. Kemudian ukurlah tegangan Vab dengan multimeter. Perhatikan
polaritas meter, batas ukur manakah yang kita pilih ? Berapakah
resistansi dalam meter kita pada keadaan ini ? Adakah pengaruh
resistansi dalam meter terhadap hasil pengukuran ?
3.4. Ulangilah langkah 3.1. sampai 3.3 untuk :
a. V = 6 volt dan R1 = R2 = 1.5 K
b. V = 6 volt dan R1 = R2 = 1.5 M

3.5. Catatlah semua hasil perhitungan dan pengukuran tersebut pada Tabel
2.3.

4. Mengukur Resistansi

Tentukan resistansi lima buah resistor yang tersedia, kemudian ukurlah resistansi
semua resistor tersebut dengan ohmmeter. Catatlah semua hasil pembacaan dan
pengukuran tersebut pada Tabel 2.4.

Resistor yang diukur adalah :


R1 = 220  ± 10 %
R2 = 1.5 K ± 10 %
R3 = 10 K ± 10 %
R4 = 33 K ± 10 %
R5 = 220 K  ± 10 %

5. Mengukur tegangan bolak-balik

5.1. Buatlah rangkaian seperti Gambar 2.1.c. FG adalah Function Generator


dengan frekuensi yang dapat diubah-ubah, sedangkan tegangan generator
harus dibuat tetap sebesar 6 V efektif. Mula-mula pasanglah R1 = R2 = 150 .
5.2. Dengan harga R1 dan R2 tersebut, aturlah frekuensi FG tersebut berturut-turut
seperti Tabel 2.5. Pada setiap frekuensi tersebut ukurlah tegangan Vab
dengan multimeter.
5.3. Ubahlah harga R1 dan R2 menjadi 1.5 K dan kemudian 1.5 M Untuk setiap
keadaan ini, ulangilah pengukuran Vab seperti pada langkah 5.2. Catat semua
hasil ini pada Tabel 2.5.
5. Hasil Percobaan

Tabel 2.1.
Batas ukur tegangan searah (DC)
Sensitivitas DC ( / V)
Batas ukur tegangan bolak-balik (AC)
Sensitivitas AC ( / V)
Batas ukur resistansi
Daerah frekuensi ( Hz )

Tabel 2.2
R1 = R2 ( ) Hasil Hasil pengukuran I
Pengukuran I Batas ukur I
150 250 mA
25 mA
1,5 K 25 mA
2,5 mA
1,5 M 2,5 mA
50 A

Tabel 2.3
R1 = R2 () Vab hasil Vab hasil pengukuran
Perhitungan (Volt) Vab (volt) Batas ukur Rm ()
150
1,5 K
1,5 M
Tabel 2.4
Resistansi ( ) Batas ukur Resistansi hasil pengukuran ( )
R1
R2
R3
R4
R5

Tabel 2.5
Frekuensi Vab hasil Vab Hasil pengukuran
(Hz) perhitungan R1 = R2 = R1 = R2 = R1 = R2 =
(Volt) 150  1,5 K 1,5 M
50
100
1 K
10 K
50 K
100 K

6. Pertanyaan dan Tugas

1. Suatu multimeter mempunyai sensitivitas 20 K/DC. Berapakah resistansi


multimeter tersebut pada batas ukur 12 V DC ?

2. Kita ingin mengukur resistor dengan kode warna coklat-hitam-jingga-perak.


Angka pada pertengahan skala ohmmeter adalah 15. Batas ukur manakah yang
sebaiknya kita pilih ?
( Rx1 ; Rx100 ; Rx1K ; Rx10K )

3. Berapakah kemampuan frekuensi yang dapat diukur dengan voltmeter ac kita ?


Apakah frekuensi 100 KHz dan 150 kHz terletak didaerah frekuensi yang dapat
kita ukur ?
Untuk soal no.4 sampai 8, lihat pembacaan multimeter pada suatu pengukuran
dalam Gambar 2.2.

4. Kita mengukur arus searah dengan batas ukur 3 mA. Arus yang diukur adalah:
a. 1.4 mA. c. 4.8 mA.
b. 2.4 mA. d. 24 mA.

5. Kita mdngukur tegangan serah dengan batas ukur 12 volt. Tegangan yang diukur
adalah :
a. 4.6 volt c. 10.8 volt
b. 4.8 volt d. 11.2 volt

6. Bila kita mengukur arus dc dengan batas ukur 300 mA, maka dengan penunjukan
jarum pada gambar tersebut berarti arus yang diukur adalah:
a. 24 mA. c. 108 mA.
b. 48 mA. d. 240 mA.

7. Kita mengukur tegangan searah dengan batas ukur 3 volt. Diketahui pula
sensitivitas multimeter yang digunakan adalah 20 K/V DC; 8 K/V AC. Resistansi
dalam voltmeter pada batas ukur tersebut adalah:
a. 3 K. c. 24 K.
b. 20 K. d. 60 K.

8. Kita mengukur tegangan searah dengan batas ukur 1.2 volt, sensitivitas multimeter
yang digunakan adalah 20 K/V DC. Pembacaan meter adalah seperti Gambar 4.2.
Arus yang mengalir melalui multimeter adalah:
a. nol. c. 45 A
b. 45 mA. d. tidak dapat diketahui.
100
20
4
120
30
6

Gambar 2.2
Percobaan 3
KODE WARNA RESISTOR

1. Durasi
3 jam

2. Tujuan :
 Mempelajari kode warna resistor
 Berlatih menggunakan multimeter untuk mengukur resistansi.

3. Landasan Teori
Suatu resistor dengan resistansi R ohm dan toleransi 10% berarti resistansi
resistor tersebut terletak antara:
( R- 1/10 R ) dan ( R + 1/10 R )
Tegangan kerja maksimal merupakan tegangan maksimal yang boleh diberikan
pada suatu resistor. Tegangan maksimal ini tidak boleh dilampaui. Daya kerja
maksimal adalah daya disipasi (I2.R) maksimal yang boleh diberikan pada resistor
dalam keadaan bekerja. Daya maksimal inipun tidak boleh dilampaui.

3.1 Resistor Empat Warna


 Cincin 1 dan 2 menyatakan angka pertama dan kedua
 Cincin 3 menyatakan banyaknya angka nol dari resistor
 Cincin 4 menyatakan toleransi resistor

3.2 Resistor Lima Warna


 Cincin 1,2 dan 3 menyatakan angka pertama , kedua, dan ketiga
 Cincin 4 menyatakan banyaknya angka nol dari resistor
 Cincin 5 menyatakan toleransi resistor

Kode warna resistor


1 2 3 4
Toleransi
+ 5% ; + 10 %

1 2 3 4 5

Toleransi
+ 1% ; + 2 %

warna A B C D warna toleransi warna

hitam - - 0 x1 hitam  1 % coklat

coklat 1 1 1 x 10 coklat  2 % merah

merah 2 2 2 x 100 merah  5 % emas

jingga 3 3 3 x1K jingga  10 % perak

kuning 4 4 4 x 10 K kuning  20 % tak berwarna

hijau 5 5 5 x 100 K hijau


biru 6 6 6 x1M biru
ungu 7 7 7 x 0.1 emas
2
Abu 8 8 8 x 0.01 perak

putih 9 9 9

4. Percobaan
4.1 Peralatan dan Komponen yang Digunakan :
1. Multimeter
2. Resistor 10 buah (dengan nilai yang bervariasi).

4.2 Prosedur Percobaan


1. Pelajari petunjuk penggunaan multimeter dengan teliti, terutama bagian Ohmmeter.
Perhatikan macam-macam skala yang ada dan pengatur harga nol.
2. Hubung-singkatkan kedua kawat penghubung dan aturkan pengatur harga nol
sehingga jarum Ohmmeter menunjuk nol. Umumnya langkah ini harus kita lakukan
setiap kali kita mengubah batas ukur ohmmeter.
3. Tentukan resistansi dari 10 buah resistor yang diberikan dengan membaca kode
warnanya. Tentukan pula toleransinya. Tuliskan hal ini pada Tabel 3.1.
4. Ukurlah resistansi masing-masing resistor tersebut dengan ohmmeter. Pilihlah
batas ukur yang memberikan pembacaan pada daerah pertengahan skala. Tulislah
hasil pengukuran ini pada Tabel 3.1.

5. Hasil Percobaan

Tabel 3.1
Keterangan Resistor
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Resistansi dari
kode warna ()
Toleransi dari
kode warna (%)
Resistansi hasil
pengukuran ()

6. Pertanyaan

1. Bandingkan harga resistansi hasil pembacaan kode warna dan hasil pengukuran.
Apakah hasil pengukuran masih dalam batas toleransi resistor tersebut ?
2. Berapakah resistansi minimum dan maksimum dari suatu resistor 0.5 Watt, 100 K,
5%?

3. Gambarkan sketsa skala ohmmeter yang digunakan dalam percobaan ini !


Dimanakah letak angka 1,10, dan 1000 ? Berapakah angka pada pertengahan
skala ?
4. Jika kita ingin mengukur resistansi suatu rangkaian dengan ohmmeter, maka
sumber daya (tegangan) dari rangkaian harus dimatikan. Mengapa demikian ?
Percobaan 4
RANGKAIAN PEMBAGI TEGANGAN

1. Durasi
3 jam

2. Tujuan
 Mempelajari rangkaian pembagi tegangan
 Mempelajari pengaruh pembebanan pada rangkaian pembagi tegangan

3. Landasan Teori

I
I
R1
R1
+
+ A
V
A -
V
- R2
R3
R2

B
B

(a) (b)

Gambar 4.1 Rangkaian Pembagi Tegangan

Perhatikan Gambar 4.1.a, dengan mempergunakan hukum Ohm dan Kichhoff kita
turunkan persamaan sebagai berikut:

V
I (1)
R1  R2
R2
VAB  I.R2  .V
R1  R2
V (2)

R1
1
R2

Resistor R1 dan R2 merupakan rangkaian pembagi tegangan. Kedua persamaan


di atas berlaku jika pada A-B tidak dipasang resistor lain.
Jika pada A-B dipasang suatu beban R3 (resistor atau hambatan dalam suatu
voltmeter) seperti Gambar 4.1.b, maka persamaannya menjadi:

R2.R3
R  R2 // R3 
R2  R3
(3)
V
I
R1  R

R
VAB  I.R  .V
R1  R
V
 (4)
R1
1
R

Karena R selalu lebih kecil dari R2 maka V’AB lebih kecil daripada VAB. Jika R3
jauh lebih besar daripada R2 maka V’AB akan mendekati VAB.

4. Percobaan
4.1 Peralatan dan Komponen yang Digunakan
1. DC Power Supply
2. Multimeter Digital
3. Resistor; 1 k (2 buah), 2 k (2 buah), 10 k (2 buah).
4. Potensiometer: 5 k

4.2 Rangkaian Percoban


I

R1
+
+ V
A - A
6V Rp
-
R2

(a) (b)

R1

Rp A
+
6V
-

R2

(c)
Gambar 4.2 Rangkaian Percobaan

4.3 Prosedur Percobaan

1. Buatlah rangkaian seperti Gambar 4.2.a dengan R1 = R2 = 1 k, kemudian


hitunglah VAB. Ulangi percobaan ini untuk harga-harga R1 dan R2 seperti Tabel 4.1.
2. Buatlah rangkaian menurut Gambar 4.2.b dengan Rp = 5 k, putarlah
potensiometer searah jarum jam sambil mengamati tegangan VAB. Sekarang,
putarlah potensiometer tersebut berlawanan arah jarum jam dan amati tegangan
VAB. Catatlah harga VAB pada kedudukan paling kiri dan paling kanan.
3. Buatlah rangkaian seperti Gambar 4.2.c dengan V = 6 volt, Rp = 5 k dan R1 = R2 =
1 k. Hitunglah harga VAB minimum dan maksimum, kemudian ukurlah harga VAB
minimum dan maksimum. Dengan harga V dan Rp tetap, hitung dan ukurlah VAB
minimum dan maksimum untuk harga-harga R1 dan R2 seperti Tabel 4.2.

5. Hasil Percobaan

Tabel 4.1
Harga R1 dan R2 VAB perhitungan (volt) VAB pengukuran (volt)
R1 = R2 = 1 k
R1 = 1 k
R2 = 2 k
R1 = R2 = 10 k

Tabel 4.2
Harga R1 dan R2 VAB perhitungan (volt) VAB pengukuran (volt)
VAB min VAB maks VAB min VAB maks
R1 = R2 = 1 k
R1 = R2 = 2 k
R1 = 1 k
R2 = 2 k
R1 = R2 = 10 k

6. Pertanyan
1. Kesimpulan apakah yang anda peroleh dari data pada Tabel 4.1 dan 4.2 ?
2. Dari hasil percobaan 2, apa fungsi rangkaian pada Gambar 4.2.b ?
Percobaan 5
HUKUM KIRCHHOFF

1. Durasi
3 jam

2. Tujuan
 Memahami Hukum Kirchhoff secara praktis, meyakinkan kebenarannya dengan
melakukan suatu pengukuran, dan membandingkan hasilnya dengan rumus
idealnya.

3. Landasan Teori
Kirchhoff menemukan dua hukum tentang arus dan tegangan dalam suatu
rangkaian, yaitu :
3.1 Hukum Arus
Jumlah aljabar dari semua arus yang menuju atau meninggalkan titik percabangan
(node) harus sama dengan nol.

n
 Ii  0
i 1

3.2 Hukum Tegangan


Jumlah aljabar dari semua tegangan sekeliling satu jalur tertutup dari suatu rangkaian
harus sama dengan nol.

n
Vi  0
i 1

4. Percobaan
4.1 Peralatan dan Komponen yang Digunakan
1. E = DC Power Supply
2. Ao = A1 = A2 = DC Ammeter
3. Vo = V1 =V2 = DC Voltmeter
4. R1 = resistor (1 k)
5. R2 = resistor (2 k)
6. R3 = resistor (3 k)

4.2 Rangkaian Percobaan

V1 V3

R3
A1 A3
R1
A2

V0 R2
V2
E

Gambar 5.1. Rangkaian Percobaan Hukum Kirchhoff

4.3 Prosedur Percobaan


1. Atur sumber tegangan E sehingga menunjukkan 1 (V), jaga supaya penunjukan
Ammeter tidak menyimpang melebihi skala (bila menyimpang pindahkan ke
range yang lebih besar).
2. Ukur arus I1, I2, dan I3 dengan menggunakan Ammeter.
3. Ulangi percobaan yang sama seperti prosedur no.1 dan no.2 dengan
mengubah tegangan E dari 2 sampai 5 (V) dengan step 1 (V).
4. Buatlah tabel seperti di bawah ini untuk menyusun data.

Tabel 5.1. Hasil Percobaan


No. E Vo [V] V1 [V] V2 [V] V3 [V] I1 [mA] I2 [mA] I3 [mA]
1 1V
2 2V
3 3V
4 4V
5 5V
5. Pengujian Hasil Percobaan
Untuk menguji hasil percobaan, buatlah tabel seperti di bawah ini:

Tabel 5.2. Pengujian untuk hukum tegangan


No. Vo V1 [V] V2 [V] V3 [V] V1[V] V2[V] Err1[%] Err2[%]
[V]
1
2
3
4
5

Di mana V1 = Vo - V2 -V1


V2 = V3 - V2

dan Err1 adalah angka kesalahan dalam %


Err1 = [ V1/V1] x 100%
Err2 = [ V2/V2 ] x 100%

Tabel 5.3. Pengujian untuk hukum arus


No. I1 [ mA ] I2 [ mA ] I3 [ mA ] I1 [ mA ] Err [ % ]
1
2
3
4
5

Di mana I1 = I2 + I3 - I1
Err = [ I1 / I1 ] x 100%
6. Tugas
Tuliskan persamaan arus I1, I2, dan I3 untuk rangkaian pada Gambar 5.1, lalu
bandingkan dengan harga yang diperoleh melalui percobaan !
Percobaan 6
OSCILLOSCOPE

1. Durasi
3 jam

2. Tujuan
 Mempelajari fungsi dan sifat oscilloscope
 Mempelajari penggunaan oscilloscope pada pengukuran: tegangan searah,
tegangan bolak-balik, dan frekuensi.

3. Landasan Teori
Osiloskop merupakan alat ukur di mana bentuk gelombang sinyal listrik yang
diukur, akan tergambar pada layar tabung sinar katoda. Diagram bloknya digambar
sebagai berikut:

input Y
Penguat Y
Y X

CRT

X
Y

Rangkaian G enerator
Penguat X
Trigger Tim e Base

external trigger
input X

Gambar 6.1 Diagram Blok Osiloskop

Osiloskop dapat digunakan untuk:


 Mengukur tegangan searah dan tegangan bolak-balik
 Mengukur beda fase, dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu: dengan osiloskop dual
trace dan dengan metode lissajous.
 Mengukur frekuensi
 Mengukur faktor penguatan
 Mengamati karakteristik komponen kutub dua

4. Percobaan
4.1 Peralatan dan Komponen yang Digunakan
1. FG = Function Generator
2. Power Supply DC
3. OSC = Oscilloscope
4. V = Electronic Voltmeter

4.2 Prosedur percobaan


4.2.1 Mengukur Tegangan Searah
 Atur tegangan output dari sumber Power Supply DC sebesar 2 V, 4 V, dan 8 V
(diukur dengan multimeter).
 Kemudian ukur besar tegangan ini dengan osiloskop.
 Catat posisi V/div & gambar keluaran osiloskop.

4.2.2 Mengukur Tegangan Bolak-balik


 Atur Function Generator pada frekuensi 1 kHz gelombang sinus, dengan tegangan
sebesar 2 V rms, 4 V rms dan 8 V rms (diukur dengan multimeter).
 Kemudian ukur besar tegangan ini dengan osiloskop.
 Catat posisi V/div & gambar keluaran osiloskop.

4.2.3 Mengukur Frekuensi


 Atur Function Generator pada frekuensi 100 Hz, 500 H, 1 kHz, dan 5 kHz
gelombang sinus.
 Kemudian ukur besar frekuensi ini dengan osiloskop.
 Catat posisi Time/div & gambar keluaran osiloskop.

5. Hasil Percobaan
5.1 Mengukur Tegangan Searah (2 V, 4 V, 8 V)
 Posisi V/div : ……………….
 Gambar :
5.2 Mengukur Tegangan Bolak-balik (2 V rms, 4 V rms dan 8 V rms)
 Posisi V/div : ……………….
 Gambar :

5.3 Mengukur Frekuensi (100 Hz, 500 H, 1 kHz, dan 5 kHz)


 Posisi Time/div : ……………….
 Gambar :
Percobaan 7
PENGAMATAN TERHADAP GELOMBANG SINUS

1. Durasi
3 jam

2. Tujuan
 Memahami fenomena utama di dalam arus AC melalui pengamatan bentuk
gelombang dan pergeseran fase pada arus AC melalui Oscilloscope.

3. Landasan Teori
Jika harga sesaat berubah secara sinusoidal terhadap waktu maka dikenal
dengan gelombang sinus. Tegangan sinus dapat dinyatakan sebagai berikut :
v(t) = Em sin t
Tegangan pada suatu hambatan akan sefase dengan arus yang melalui
hambatan tersebut, sedangkan tegangan pada induktor atau kapasitor masing-masing
akan mendahului atau ketinggalan dari arusnya sebesar  /2 [rad].
Cara mengukur pergeseran (beda fase) ada 2 macam, yaitu: Dual Trace dan
Lissajous. Cara dual trace, yaitu dengan melihat selisih gelombang keluaran chanel 1 &
chanel dari oscilloscope. Cara lissajous, yaitu dengan memutar bagian time/div
oscilloscope pada posisi paling kanan sehingga akan dihasilkan bentuk lingkaran/elips.
Gambar-gambar lissajous ini kemudian dibandingkan dengan gambar standar beda
fase.

4. Percobaan
4.1 Peralatan dan Komponen yang Digunakan
6. FG = Function Generator
7. R = Resistor 100 []
8. L = Induktor 0.1 [ mH ]
9. C = Kapasitor 1 [F]
10. OSC = Oscilloscope
11. V = Electronic Voltmeter

4.2 Rangkaian Percobaan


a

i
ch 1
VL L
ch 2

e
H

VR L
R
H
(inv )
b L

(a)
a

i
ch 1
VC C
ch 2

e
H

VR R L
H
(inv )
b L

(b)
a

ch 1
VC C
ch 2

e
H

VR L
R
H
(inv )
b L

Gambar 7.1 Rangkaian Percobaan


4.3 Prosedur percobaan
1. Buatlah rangkaian seperti Gambar 7.1 (a), atur frekuensi Osilasi sebesar 50 KHz
dan naikkan tegangan keluaran sampai 0.5 [V].
2. Atur sweep time range, voltage gain range, dan posisi vertikal dan horisontal
sedemikian hingga bentuk gelombang tegangannya dapat dilihat pada posisi yang
tepat di layar Oscilloscope. Tulisan “ Inv “ pada gambar berarti membalik polaritas
sinyal, sebab tegangan VR ditunjukkan oleh oscilloscope dengan polaritas terbalik.
3. Sket bentuk gelombang di oscilloscope pada kertas grafik.
4. Hitung perbedaan fase antara VR dan VL sebagai berikut :

A
B

  A x180o
B
A dan B dalam jumlah kotak (div).

Perhatian :
Berhati-hatilah, jangan menggunakan kedua terminal (ground) dari ch.1 dan ch.2 untuk
mengukur tegangan secara terpisah sebab keduanya terhubung di dalam.

5. Ukurlah tegangan VR pada hambatan dengan voltmeter elektronik, maka arus I


didapatkan sebagai berikut :
I = VR/R [A]
di mana I dan VR menyatakan harga efektifnya.
6. Aturlah frekuensi osilasi sampai 10 [KHz] dan ulangi percobaan seperti prosedur
no.1 sampai no.5 dengan menggunakan rangkaian yang ditunjukkan pada gambar
1.1 (b).
7. Ubahlah frekuensi osilasi menjadi 8 dan 20 [KHz] dan ulangi percobaan yang sama
seperti prosedur no.1 sampai no.5 dengan menggunakan rangkaian seperti Gambar
1.1 (c)
5. Hasil Percobaan
1. Buatlah tabel seperti di bawah ini untuk menyusun data dan tulislah fase yang
mendahului atau yang tertinggal pada kolom r dan d.

Tabel 1. Hasil-hasil percobaan


e [V] f [KHz] VR [ V ] I [A] r [rad ] d [deg]

R-L
R-C
R-L-C

2. Lampirkan sket gelombang pada laporan dan pikirkanlah apakah fasenya


mendahului atau tertinggal dan berapa besarnya pergeseran fasenya, apakah
sesuai dengan teori atau tidak ?
3. Hitung arus dari masing-masing rangkaian kemudian bandingkan dengan harga
arus yang diperoleh dari percobaan ini !
Percobaan 8
PENGUKURAN DAYA AC

1. Durasi
3 jam

2. Tujuan
 Mempelajari bagaimana cara mengukur daya AC pada suatu rangkaian listrik.

3. Landasan Teori
3.1 Daya AC
Daya AC atau daya aktif yang terpakai pada suatu rangkaian dinyatakan
sebagai berikut :

P = VI cos  [Watt]

Di mana V dan I masing-masing adalah harga efektif dari tegangan dan arus
pada terminal input suatu rangkaian, dan  adalah perbedaan fase antara V dan I.
Cos  disebut dengan faktor daya (power factor).
Kita dapat mendefinisikan daya reaktif dan daya nyata S, sebagai:

Q = VI sin  [var]

S =  P²+Q²

3.2 Metode Pengukuran daya AC


Ada tiga cara yang telah dikembangkan untuk mengukur daya AC, yaitu:
 Metode dengan Wattmeter
 Metode dengan Ammeter
 Metode dengan Voltmeter

Tetapi kita hanya akan menerapkan metode Wattmeter pada percobaan ini.
4. Percobaan
4.1 Peralatan dan Komponen yang Digunakan :
1. Input 220 V, 50 Hz
2. W = Wattmeter 0,5 A, 120/240 V multirange
3. V = AC Voltmeter
4. A1 = A2 = Ammeter
5. L = Lampu 60,25 [W]/220 [V]
6. S0 = S1 = Saklar

4.2 Rangkaian Percobaan

S0 I

A1

I1
220 V W V

V +

+ A

Gambar 8.1 Rangkaian Percobaan

S0 I

A1 A2

I1 I2
220 V W V
L1 L2

V +

+ A

Gambar 8.2 Rangkaian Lampu Paralel


S0 I

A1
L1
I1
220 V W V
L2

V +

+ A

Gambar 8.3 Rangkaian Lampu Seri

4.3 Prosedur Percobaan


1. Hubungkan elemen-elemen rangkaian sesuai dengan gambar 8.1. Pastikan bahwa
saklar S0 dalam keadaan terbuka. Gunakan lampu 60 W, dan Wattmeter W dengan
range 1 A dan 240 V.
2. Atur Ammeter A1 pada range 1 dan 0.2 A dan Voltmeter V pada range 240 V.
3. Catatlah penunjukan Wattmeter W dan Ammeter A1.
4. On-kan saklar S0, lalu catatlah penunjukan Wattmeter W, Ammeter A1.
5. Gantilah dengan lampu 25 W dan ulangi cara yang sama.
6. Lakukan pula untuk Gambar 8.2 (rangkaian lampu paralel) dan Gambar 8.3
(rangkaian lampu seri). Catatlah data-data: W, V, dan I pada tabel 8.2 dan Tabel 8.3.

Perhatian :
 Jika jarum penunjuk Wattmeter bergerak ke sebelah kiri, tukarlah terminal V dan .

5. Hasil Percobaan
1. Buatlah tabel seperti di bawah ini dari data yang sudah didapat.
Tabel 8.1. Data untuk lampu 60 W dan 25 W
No. V [V] W [W] I1 [A]
1

2. Resistansi lampu berubah tergantung pada arus yang melaluinya, dengan kata lain
mempunyai resistansi nonlinier. Resistansi dapat dihitung dengan :

R = V/I1 []

Setelah menghitung resistansi R untuk harga V dan I1 yang diperoleh, buatlah kurva
tegangan terhadap arus I1 dan resistansi R terhadap I1.

Tabel 8.2. Data untuk Rangkaian Lampu Paralel


No. V [V] W [W] P [W]
1
2

Tabel 8.3. Data untuk Rangkaian Lampu Seri


No. V [V] W [W] P [W]
1
2
Percobaan 9
PERBAIKAN FAKTOR DAYA

1. Durasi
3 jam

2. Tujuan
 Mahasiswa memahami konsep daya listrik dan cara perbaikan faktor daya

3. Landasan Teori
3.1 Faktor daya (cos )

  V

 

 Arus (I) mendahului tegangan (V)  leading (kapasitif)


 Arus (I) tertinggal tegangan (V)  lagging (induktif)

3.2 Perhitungan Daya Listrik


 Daya Total (Apparent Power): V.A

S  Veff .Ieff  P 2  Q 2

 Daya Nyata: Watt

P  Veff .Ieff . cos 


 Daya Semu: Var (Volt ampere reactif)

Q  Veff .Ieff . sin 

 Segi Tiga daya

4. Percobaan
4.1. Peralatan dan Komponen yang Digunakan
1. W = Wattmeter single phase
2. A = Ammeter AC
3. Multimeter
4. Lampu TL

4.2 Rangkaian Percobaan

TL
C
220 V
50 Hz

Kumparan
(Ballast)

Gambar 9.1 Prinsip perbaikan faktor daya pada lampu TL


ballast

220 V
50 Hz

TL starter

Gambar 9.2 Rangkaian Lampu TL

4.3 Prosedur Percobaan


 Rangkailah rangkaian lampu TL seperti pada Gambar 9.2.
 Ukurlah arus sumber (I1), tegangan sumber (V1), tegangan tabung lampu TL (V2),
tegangan kumparan ballast (V3).
 Bandingkan hasil pengukuran dengan hasil perhitungan, hitunglah error-nya.
 Tunjukkan hubungan V1, V2 dan V3.
 Ukur juga tegangan pada starter (V4).

5. Hasil Percobaan

No I1 V1 V2 V3 V4
1
2
DAFTAR PUSTAKA

1. Rangkaian Listrik, Seri Buku Schaum, Joseph A. Edminister, Penerbit Erlangga,

Edisi kedua.

2. Hukum Kirchhhoff, penuntun berencana 07, Siemens, Alois Koller.

3. Instalasi Listrik Arus Kuat 2, P.van.Harten, Penerbit Binacipta, 1995

4. Panduan Teori Rangkaian Listrik, Polman Astra, Syahril Ardi, 2002.

5. Pengukuran dan Alat-alat Ukur Listrik, Soedjana Sapiie & Osamu Nishino, Pradnya

Paramita, cet. 6, 2000.

6. Ketrampilan Teknik Listrik Praktis, John B Robertson, Penerbit Yrama Widya, cet.3,

1995.

7. Teknik pengerjaan Listrik, Daryanto, Penerbit Bumi Aksara, cet.1, 2000.

8. Teknik Listrik Instalasi Penerangan, F Suryatmo, Penerbit Rineka Cipta, 1998.