Anda di halaman 1dari 60

1

SAMPAH JANGAN DIBAKAR


BANYAK MUDHORATNYA
Diabstraksikan oleh
Prof Dr Ir Soemarno MS
Bahan kajian MK Filsafat Lingkungan PDKLP PPSUB 2011

Pembakaran sampah di lahan pekarangan rumah setiap hari masih


menjadi kebiasaan masyarakat, dan hal ini dianggap merupakan hal yang
wajar-wajar saja. Apabila naik pesawat udara dari Jakarta menuju ke
daerah lain, ketika pesawat mau naik atau mau mendarat, dapat dilihat
banyak sekali halaman rumah penduduk membakar sampahnya. Dapat
dibayangkan berapa banyak polusi udara yang ditimbulkan setiap harinya
dari hasil pembakaran sampah ini. Dalam jangka waktu yang pendek,
kelihatannya cara ini lebih praktis dan lebih mengirit ketimbang harus
menjalankan proses daur ulang yang panjang. Dalam jangka waktu yang
panjang, cara cara seperti ini sebenarnya lebih merugikan individu yang
bersangkutan, komunitas, dan masyarakat secara keseluruhan. Polusi yang
kelihatannya sedikit ini, lama kelamaan menjadi bukit. Polusi ini perlahan
lahan akan membuat sebagian orang yang seharusnya hidup sehat
menjadi sakit, antara lain sakit gangguan pernafasan (astma, paru paru
dll.). Orang tersebut yang seharusnya dapat bekerja 8 jam per hari tanpa
sakit sepanjang tahun, hanya dapat bekerja kurang dari 8 jam per hari dan
sakit beberapa hari per tahunnya. Orang tersebut dirugikan karena
kehilangan upah hariannya ditambah harus keluar biaya untuk merawat
kesehatannya. Disamping itu, masih ada lagi kerugian lainnya bagi
individu yang sakit itu. Dia kehilangan kenikmatannya dimana dia
seharusnya bisa menikmati hari liburnya (misalnya Sabtu dan Minggu)
bersama anak dan isterinya, karena sakit, harus diam di rumah.
Kehilangan kenikmatan sejenis ini, kalau kita mau, masih bisa
digambarkan dalam bentuk uang. Secara keseluruhan negara juga
dirugikan karena mempunyai rakyat yang sebagian tidak bisa kerja efisien
karena sakit. Ditambah lagi negara harus mengeluarkan biaya tambahan
untuk mengurus dan mengobati rakyat yang sakit gangguan pernafasan.

PENGERTIAN SAMPAH
Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah
berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan didefinisikan oleh manusia
menurut derajat keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sebenarnya
tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan
setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung. Akan tetapi karena
dalam kehidupan manusia didefinisikan konsep lingkungan maka Sampah
dapat dibagi menurut jenis-jenisnya.
Sampah merupakan suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari
sumber hasil aktifitas manusia maupun alam yang belum memiliki nilai
ekonomis. Berdasarkan sumbernya
1. Sampah alam
2. Sampah manusia

3.
4.
5.
6.

Sampah
Sampah
Sampah
Sampah

konsumsi
nuklir
industri
pertambangan

Sumber-sumber sampah

1. Rumah Tangga

2. Pertanian

3. Perkantoran

4. Perusahaan

5. Rumah Sakit

6. Pasar dll.
Secara garis besar, sampah juga dapat dibedakan menjadi
tiga jenis yaitu :
1. Sampah Anorganik/kering
Contoh : logam, besi, kaleng, plastik, karet, botol, dll yang tidak
dapat mengalami pembususkan secara alami.
2. Sampah organik/basah
Contoh : Sampah dapur, sampah restoran, sisa sayuran, rempahrempah atau sisa buah dll yang dapat mengalami pembusukan
secara alami.
3. Sampah berbahaya
contoh : Baterei, botol racun nyamuk, jarum suntik bekas dll
Berdasarkan sifatnya, sampah dapat kelompokkan nejadi
Sampah organik - dapat diurai (degradable), dan Sampah anorganik - tidak terurai
(undegradable)

Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa


makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat
diolah lebih lanjut menjadi kompos; 2. Sampah Anorganik, yaitu sampah
yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus
makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu,
dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau
sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk laiannya. Beberapa
sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus
makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik
kertas koran, HVS, maupun karton;
Berdasarkan bentuknya, sampah merupakan bahan padat atau
cair yang tidak dipergunakan lagi dan dibuang. Menurut bentuknya
sampah dapat dibagi sebagai Sampah Padat dan Sampah cair.
Sampah padat adalah segala bahan buangan selain kotoran
manusia, urine dan sampah cair. Dapat berupa sampah rumah tangga:
sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas dan lain-lain. Menurut
bahannya sampah ini dikelompokkan menjadi sampah organik dan

sampah anorganik. Sampah organik Merupakan sampah yang berasal dari


barang yang mengandung bahan-bahan organik, seperti sisa-sisa sayuran,
hewan, kertas, potongan-potongan kayu dari peralatan rumah tangga,
potongan-potongan ranting, rumput pada waktu pembersihan kebun dan
sebagainya.
Berdasarkan kemampuan diurai oleh alam (biodegradability), maka dapat dibagi
lagi menjadi:
1. Biodegradable: yaitu sampah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh
proses biologi baik aerob atau anaerob, seperti: sampah dapur, sisa-sisa
hewan, sampah pertanian dan perkebunan.
2. Non-biodegradable: yaitu sampah yang tidak bisa diuraikan oleh proses
biologi. Dapat dibagi lagi menjadi:
o Recyclable: sampah yang dapat diolah dan digunakan kembali
karena memiliki nilai secara ekonomi seperti plastik, kertas, pakaian
dan lain-lain.
o Non-recyclable: sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak
dapat diolah atau diubah kembali seperti tetra packs, carbon paper,
thermo coal dan lain-lain.
Sampah cair merupakan bahan cairan yang telah digunakan dan tidak diperlukan
kembali dan dibuang ke tempat pembuangan sampah.
Limbah hitam: sampah cair yang dihasilkan dari toilet. Sampah ini
mengandung patogen yang berbahaya.
Limbah rumah tangga: sampah cair yang dihasilkan dari dapur, kamar
mandi dan tempat cucian. Sampah ini mungkin mengandung patogen.

Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas.
Ketika dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas,
sampah dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan
polusi. Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang
dari aktivitas industri (dikenal juga dengan sebutan limbah), misalnya
pertambangan, manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua produk industri
akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang
kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi.
Sampah alam
Sampah yang diproduksi di kehidupan liar diintegrasikan melalui proses daur
ulang alami, seperti halnya daun-daun kering di hutan yang terurai menjadi
tanah. Di luar kehidupan liar, sampah-sampah ini dapat menjadi masalah,
misalnya daun-daun kering di lingkungan pemukiman.
Sampah manusia
Sampah manusia (Inggris: human waste) adalah istilah yang biasa digunakan
terhadap hasil-hasil pencernaan manusia, seperti feses dan urin. Sampah
manusia dapat menjadi bahaya serius bagi kesehatan karena dapat
digunakan sebagai vektor (sarana perkembangan) penyakit yang disebabkan
virus dan bakteri. Salah satu perkembangan utama pada dialektika manusia
adalah pengurangan penularan penyakit melalui sampah manusia dengan
cara hidup yang higienis dan sanitasi. Termasuk didalamnya adalah
perkembangan teori penyaluran pipa (plumbing). Sampah manusia dapat
dikurangi dan dipakai ulang misalnya melalui sistem urinoir tanpa air.
Sampah Konsumsi
Sampah konsumsi merupakan sampah yang dihasilkan oleh (manusia)
pengguna barang, dengan kata lain adalah sampah-sampah yang dibuang ke
tempat sampah. Ini adalah sampah yang umum dipikirkan manusia.
Meskipun demikian, jumlah sampah kategori ini pun masih jauh lebih kecil

4
dibandingkan sampah-sampah yang dihasilkan dari proses pertambangan
dan industri.
Limbah radioaktif
Sampah nuklir merupakan hasil dari fusi nuklir dan fisi nuklir yang
menghasilkan uranium dan thorium yang sangat berbahaya bagi lingkungan
hidupdan juga manusia. Oleh karena itu sampah nuklir disimpan ditempattempat yang tidak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas tempattempat yang dituju biasanya bekas tambang garam atau dasar laut (walau
jarang namun kadang masih dilakukan).

Permasalahan Sampah
Secara umum pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat
kesehatan lingkungan akan dapat mengakibatkan :
1. Tempat berkembang dan sarang dari serangga dan tikus
2. Menjadi sumber polusi dan pencemaran tanah, air dan udara
3. Menjadi sumber dan tempat hidup kuman-kuman yang
membahayakan kesehatan.
Tempat Pembuangan sampah

(Sumber: http://drkurnia.wordpress.com/2010/10/05/tempat-sampah-warna-warni/)

Pengelolaan sampah
Pengelolaan sampah merupakan kegiatan pengumpulan ,
pengangkutan , pemrosesan , pendaur-ulangan , atau pembuangan dari
material sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yg
dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi
dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan
sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam .
Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat , cair , gas , atau radioaktif
dengan metoda dan keahlian khusus untuk masing masing jenis zat.
Praktek pengelolaan sampah berbeda beda antara Negara maju dan
negara berkembang , berbeda juga antara daerah perkotaan dengan

daerah pedesaan , berbeda juga antara daerah perumahan dengan daerah


industri. Pengelolaan sampah yg tidak berbahaya dari pemukiman dan
institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab
pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan
industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah.
Metode pengelolaan sampah berbeda beda tergantung banyak hal ,
diantaranya tipe zat sampah , tanah yg digunakan untuk mengolah dan
ketersediaan area. Terdapat beberapa konsep tentang pengelolaan
sampah yang berbeda dalam penggunaannya, antara negara-negara atau
daerah. Beberapa yang paling umum, banyak-konsep yang digunakan
adalah:

Hirarki Sampah - hirarki limbah merujuk kepada " 3 M " mengurangi


sampah, menggunakan kembali sampah dan daur ulang, yang
mengklasifikasikan strategi pengelolaan sampah sesuai dengan keinginan
dari segi minimalisasi sampah. Hirarki limbah yang tetap menjadi dasar
dari sebagian besar strategi minimalisasi sampah. Tujuan limbah hirarki
adalah untuk mengambil keuntungan maksimum dari produk-produk
praktis dan untuk menghasilkan jumlah minimum limbah.
Perpanjangan tanggungjawab penghasil sampah / Extended Producer
Responsibility (EPR).(EPR) adalah suatu strategi yang dirancang untuk
mempromosikan integrasi semua biaya yang berkaitan dengan produkproduk mereka di seluruh siklus hidup (termasuk akhir-of-pembuangan
biaya hidup) ke dalam pasar harga produk. Tanggung jawab produser
diperpanjang dimaksudkan untuk menentukan akuntabilitas atas seluruh
Lifecycle produk dan kemasan diperkenalkan ke pasar. Ini berarti
perusahaan yang manufaktur, impor dan / atau menjual produk diminta
untuk bertanggung jawab atas produk mereka berguna setelah kehidupan
serta selama manufaktur.
prinsip pengotor membayar - prinsip pengotor membayar adalah prinsip di
mana pihak pencemar membayar dampak akibatnya ke lingkungan.
Sehubungan dengan pengelolaan limbah, ini umumnya merujuk kepada
penghasil sampah untuk membayar sesuai dari pembuangan

Diagram hirarkhi sampah (Sumber:


http://id.wikipedia.org/wiki/Pengelolaan_sampah)

Model Pengelolaan Sampah berbasis Masyarakat

Sampah di Kota Yogyakarta menjadi masalah yang belum bisa diatasi


sepenuhnya oleh pemerintah daerah. Pemda sebenarnya menyadari
masalah ini, tetapi belum menemukan solusi jangka panjang yang tepat.
Penelitian perihal Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat di Kota
Yogyakarta ini bertujuan untuk (1) memperoleh gambaran tentang
pengelolaan
sampah
rumah
tangga
berbasis
masyarakat,
(2)
menginventarisasi problematika dalam sistem pengelolaan sampah rumah
tangga ini, (3) memberikan rekomendasi untuk menyempurnakan sistem
pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat.
Beberapa kesimpulan penelitian ini adaklah: Pertama, pilot project
pengelolaan sampah rumah tangga berbasis masyarakat di Gondolayu Lor,
Kota Yogyakarta berjalan secara baik dengan prinsip 3R (reduce, reuse,
recycle) dan berhasil mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPSS
hingga 70%. Ke dua, model pengelolaan sampah rumah tangga berbasis
masyarakat dengan prinsip 3R merupakan solusi paradigmatik. Ketiga,
problematika utama dalam pelaksanaan model ini adalah bagaimana
mengubah paradigma membuang sampah jadi memanfaatkan sampah.
Problematika lain yang teridentifikasi ialah (1) pemerintah daerah belum
memberikan apresiasi terhadap masyarakat yang telah melakukan
pemilahan sampah; (2) tidak ada mekanisme dan person yang memantau
dan mengevaluasi kegiatan; (3) penerapan kebijakan pengelolaan sampah
berbasis masyarakat dengan prinsip 3R tidak diikuti penyediaan sarana dan
prasarana penunjang; (4) pemilahan sampah di rumah tangga kurang
tuntas; (5) tidak ada kaderisasi untuk mencari pengurus baru yang memiliki
kapabilitas dan integritas.
Ada enam hal yang dapat direkomendasikan.
Pertama, pemerintah,
pengurus RT/RW, dan pengelola mendidik masyarakat secara terencana dan
terukur tentang pengelolaan sampah yang benar. Ke dua, pemerintah
mengatur dan memberikan insentif dan disinsentif untuk memotivasi
masyarakat. Ke tiga, pemerintah, pengurus RT/RW, dan pengelola membuat
mekanisme dan menentukan orang untuk memantau dan mengevaluasi
pengelolaan
sampah
berbasis
masyarakat.
Keempat,
pemerintah
menyediakan sarana dan prasarana pengelolaan sampah dengan model ini.
Kelima, pengelola dan pengurus RT/RW mencari strategi kaderisasi
pengelola. Keenam, model pengelolaan sampah rumah tangga berbasis
masyarakat layak dikembangkan jadi model pengelolaan sampah rumah
tangga di perkotaan
(Sumber: PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA BERBASIS MASYARAKAT
(Studi Kasus di Kota Yogyakarta). Tesis. F A I Z A H. 2008. PROGRAM MAGISTER
ILMU LINGKUNGAN, PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG.)

Pemusnahan sampah
Beberapa cara pemusnahan sampah yang dapat dilakukan secara
sederhana sebagai berikut :
1. Penumpukan.
Dengan metode ini, sebenarnya sampah tidak dimusnahkan secara
langsung, namun dibiarkan membusuk menjadi bahan organik. Metode
penumpukan bersifat murah, sederhana, tetapi menimbulkan resiko
karena berjnagkitnya penyakit menular, menyebabkan pencemaran,
terutama bau, kotoran dan sumber penyakit dana badan-badan air.

7
2. Pengkomposan.
Cara pengkomposan meerupakan cara sederhana dan dapat
menghasilkan pupuk yang mempunyai nilai ekonomi.
3. Pembakaran.
Metode ini dapat dilakuakn hanya untuk sampah yang dapat dibakar
habis. Harus diusahakan jauh dari pemukiman untuk menhindari
pencemarn asap, bau dan kebakaran.
4. Sanitary Landfill.
Metode ini hampir sama dengan pemupukan, tetapi cekungan yang
telah penuh terisi sampah ditutupi tanah, namun cara ini memerlukan
areal khusus yang sangat luas.
a. Sampah basah : Kompos dan makanan ternak
b. Sampah kering : Dipakai kembali dan daur ulang
c. Sampah kertas : Daur Ulang
5. Botol Bekas wadah kecap, saos, sirup, creamer dll baik yang putih
bening maupun yang berwarna terutama gelas atau kaca yang tebal.
6. Kertas, terutama kertas bekas di kantor, koran, majalah, kardus
kecualai kertas yang berlapis minyak.
7. Aluminium bekas wadah minuman ringan, bekas kemasan kue dll.
8. Besi bekas rangka meja, besi rangka beton dll
9. Plastik bekas wadah shampoo, air mineral, jerigen, ember dll
10. Sampah basah dapat diolah menjadi kompos.

Tempat pembuangan akhir (TPA) atau tempat pembuangan sampah (TPS)


ialah tempat untuk menimbun sampah dan merupakan bentuk tertua
perlakuan sampah. TPA dapat berbentuk tempat pembuangan dalam (di
mana pembuang sampah membawa sampah di tempat produksi) begitupun
tempat yang digunakan oleh produsen. Dahulu, TPA merupakan cara paling
umum untuk limbah buangan terorganisir dan tetap begitu di sejumlah
tempat di dunia. Sejumlah dampak negatif dapat ditimbulkan dari
keberadaan TPA. Dampak tersebut bisa beragam: musibah fatal (misalnya
burung bangkai yang terkubur di bawah timbunan sampah); kerusakan
infrastruktur (misalnya kerusakan ke akses jalan oleh kendaraan berat);
pencemaran lingkungan setempat (seperti pencemaran air tanah oleh
kebocoran dan pencemaran tanah sisa selama pemakaian TPA, begitupun
setelah penutupan TPA); pelepasan gas metana yang disebabkan oleh
pembusukan sampah organik (metana adalah gas rumah kaca yang berkalikali lebih potensial daripada karbon dioksida, dan dapat membahayakan
penduduk suatu tempat); melindungi pembawa penyakit seperti tikus dan
lalat, khususnya dari TPA yang dioperasikan secara salah, yang umum di
Dunia Ketiga; jejas pada margasatwa; dan gangguan sederhana (mis., debu,
bau busuk, kutu, atau polusi suara).

Pemanfaatan Sampah
Daur ulang
Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat
yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan , pemrosesan,
pendistribusian dan pembuatan produk/material bekas pakai.

Manfaat pengelolaan sampah


1.
2.
3.
4.
5.

Menghemat sumber daya alam


Mengehemat Energi
Menguranagi uang belanja
Menghemat lahan TPA
Lingkungan asri (bersih,sehat,nyaman)

Contoh Nilai ekonomis dari bahan daur ulang sampah


NO JENIS BARANG LAPAK

HARGA/KG

Gelas Aqua

1600

Kaleng Oli

1500

Ember biasa

1100

Keras (kaset, yakult, botol kecap)

150

Ember hitam (anti pecah)

800

Botol Aqua

700

Putian (botol bayclin, infus)

Kardus

500

Kertas Putih

700

10

Majalah

350

11

Koran

500

12

Duplek (kardus tipis)

150

13

Semen

400

14

Besi Beton

700

15

Besi super

450

16

Besi pipa

250

17

Tembaga super

1600

8000

18

Tembaga bakar

7000

19

Aluminium tebal

6000

20

Aluminium tipis

4000

21

Botol air besar

400

22

Botol bir kecil, sprite, fanta

200

Sumber koperasi pemulung 2003

Sumber : panduan ibu pada http://www.jala-sampah.or.id/


Membakar Sampah
Mengapa kita masih senang membakar sampah? Budaya membakar
ini sudah ada sejak dahulu dan masih terus berlanjut sampai
sekarang. Mengapa membakar sampah itu berbahaya?
Biasanya orang membakar sampah sembarangan saja, sehingga
suplai oksigen untuk menghasilkan CO2 hanya ada pada permukaan
tumpukan sampah yang dibakar. Sementara bagian dalam dari tumpukan
sampah
kekurangan
oksigen,
sehingga
akan
menghasilkan
karbonmonoksida
(CO).
Satu
ton
sampah,
akan
berpotensi
menghasilkan sekitar 30 kg CO. Asap karbon monoksida mampu
membunuh orang karena bila terhirup karena menggangu fungsi kerja
hemoglobin yang semestinya mengangkut dan mengedarkan oksigen ke
seluruh tubuh. Tubuh akan kekurangan O2 dan dapat menimbulkan
kematian.

Sumber: http://bandarsampah.blogdetik.com/index.php/archives/83

10

Sumber: http://bandarsampah.blogdetik.com/index.php/archives/83

Sampah
yang bercampur plastik jika terbakar asapnya
menghasilkan senyawa kimia Dioksin, senyawa zat yang biasanya
digunakan sebagai racun tumbuhan (herbisida). Selain itu, mungkin pula
dihasilkan fosgen yang pernah dipakai sebagai racun pembunuh pada
Perang Dunia I. Aa sekibat 75 bahan racun yang ada dalam hasil
pembakaran sampah yang mengandung klor. Asap dari pembakaran
sampah mengandung benzopirena, ditengarai sebagai biang keladi
penyebab kanker dan hidrokarbon berbahaya senyawa penyebab iritasi
seperti asam cuka.
Membakar kayu juga berbahaya karena akan
menghasilkan senyawa yang mengakibatkan kanker. Sementara milamin
dapat menghasilkan formaldehida bila dibakar dengan suplai oksigen
banyak, atau menghasilkan HCN (bila suplai oksigen kurang).

Sumber: http://bandarsampah.blogdetik.com/index.php/archives/83#more-83

11

Membakar sampah dapat merusak tanah.


Membakar sampah, terutama sampah anorganik sangat berbahaya
bagi kesehatan lingkungan dan kesehatan manusia. Dioksin yang
merupakan salah satu dari sedikit bahan kimia yang telah secara intensif
diteliti oleh banyak peneliti di seluruh dunia, dipastikan dapat
menimbulkan penyakit kanker dan penyakit lain yang bersifat degeneratif.
Bahaya dioksin seringkali disejajarkan dengan bahaya DDT, yang sekarang
telah dilarang di seluruh dunia. Substansi abu hasil pembakaran sampah
anorganik seperti plastik dapat mengandung logam berat yang tidak
terurai meski telah dibakar.
Apakah membakar sampah juga dapat berbahaya bagi tanah?
Membakar sampah, terutama sampah anorganik seperti plastik,
alumunium, logam, batu baterai kertas sangat berbahaya bagi
lingkungan, termasuk tanah.
Plastik dibuat dari bahan sintetis yang biasanya menggunakan
minyak bumi sebagai bahan dasar. Tak hanya menggunakan minyak bumi,
saat proses produksi plastik, ada bahan-bahan tambahan yang umumnya
merupakan logam berat seperti kadmium, timbal dan nikel, atau bahan
beracun lain seperti khlor (Cl). Pada saat bahan plastik telah habis masa
pakainya, dibuang di tempat sampah dan dengan rela hati membakarnya,
telah dilepaskan sejumlah senyawa toksik ke dalam tanah dan udara.
Seluruh racun dari plastik (dan bahan-bahan logam lainnya) akan terlepas
pada saat terbakar, dan menyebabkan berbagai jenis logam berat dan
bahan kimia berbahaya tersebut terlepas ke tanah.
Pencemaran tanah
Keberadaan bahan-bahan toksik tersebut dapat mempengaruhi
kesuburan tanah, daya simpan tanah terhadap unsur hara dan unsurunsur lainnya pembentuk kualitas tanah. Berbagai bahan toksik dan logam
kimia yang ada dalam tanah tersebut akan tersimpan dalam kurun waktu
yang lama. Tidak hanya tersimpan dalam tanah namun juga ke dalam
tanaman, binatang yang memakan tanaman dan tubuh manusia.
Pembakaran sampah organik
Bolehkah sampah organik dibakar sembarangan, mengingat sampai
sekarang masih banyak anggota masyarakat kita yang membakar sampah
organik. Dalam setiap proses pembakaran sampah, akan dihasilkan gas
karbondioksida (CO2) dan karbonmonoksida (CO). Satu ton sampah, akan
berpotensi menghasilkan sekitar 30 kg CO yang akan mengganggu fungsi
kerja hemoglobin yang bertugas mengangkut dan mengedarkan oksigen
ke seluruh tubuh. Kedua gas tersebut tetap akan keluar meski benda yang
dibakar adalah ranting tanaman, daun-daunan, atau material organik
lainnya.

12

Reaksi Kimia Pembakaran


Pembakaran adalah suatu runutan reaksi kimia antara suatu bahan
bakar dan suatu oksidan, disertai dengan produksi panas yang
kadang disertai cahaya dalam bentuk pendar atau api.
Dalam ilmu kimia, persamaan reaksi atau persamaan kimia
merupakan representasi simbolis dari reaksi kimia. Rumus kimia pereaksi
ditulis pada ruas kiri (di sebelah kiri) persamaan dan rumus kimia produk
dituliskan pada ruas kanan. Koefisien yang ditulis di sebelah kiri rumus
kimia sebauh zat adalah koefisien stoikiometri, yang menggambarkan
jumlah zat tersebut yang terlibat dalam reaksi relatif terhadap zat yang
lain. Persamaan reaksi yang pertama kali dibuat oleh ahli iatrokimia Jean
Beguin pada 1615.

Representasi grafis dari persamaan reaksi pembakaran metana


Dalam sebuah persamaan reaksi, pereaksi dan produk-reaksi
dihubungkan melalui simbol yang berbeda-beda. Simbol digunakan
untuk reaksi searah, untuk reaksi dua arah, dan untuk reaksi
kesetimbangan. Misalnya, persamaan reaksi pembakaran metana (suatu
gas pada gas alam) oleh oksigen dituliskan sebagai berikut
CH4 + 2 O2 CO2 + 2 H2O
Seringkali pada suatu persamaan reaksi, wujud zat yang bereaksi
dituliskan dalam singkatan di sebelah kanan rumus kimia zat tersebut.
Huruf s melambangkan padatan, l melambangkan cairan, g
melambangkan gas, dan aq melambangkan larutan dalam air. Misalnya,
reaksi padatan kalium (K) dengan air (2H2O) menghasilkan larutan kalium
hidroksida (KOH) dan gas hidrogen (H2), dituliskan sebagai berikut:
2K (s) + 2H2O (l) 2KOH (aq) + H2 (g)

13

Selain itu, di paling kanan dari sebuah persamaan reaksi kadangkadang juga terdapat suatu besaran atau konstanta, misalnya perubahan
entalpi atau konstanta kesetimbangan. Misalnya proses Haber (reaksi
sintesis amonia) dengan perubahan entalpi (H) dituliskan sebagai berikut
N2(g) + 3H2(g) 2NH3(g) H = -92.4 kJ/mol.
Suatu persamaan reaski disebut setara jika jumlah suatu unsur
pada ruas kiri persamaan sama dengan jumlah unsur tersebut pada ruas
kanan; dan dalam reaksi ionik, jumlah total muatan harus setara juga.
Dalam suatu reaksi pembakaran lengkap, suatu senyawa bereaksi dengan
zat pengoksidasi, dan produknya adalah senyawa dari tiap elemen dalam
bahan bakar dengan zat pengoksidasi. Contoh:

Contoh yang lebih sederhana dapat diamati pada pembakaran


hidrogen dan oksigen, yang merupakan reaksi umum yang digunakan
dalam mesin roket, yang hanya menghasilkan uap air.

Pada mayoritas penggunaan pembakaran sehari-hari, oksidan


oksigen (O2) diperoleh dari udara ambien dan gas resultan (gas cerobong,
flue gas) dari pembakaran akan mengandung nitrogen:

Seperti dapat dilihat, jika udara adalah sumber oksigen, nitrogen


meliputi bagian yang sangat besar dari gas cerobong yang dihasilkan.
Pada kenyataannya, proses pembakaran tidak pernah sempurna.
Dalam gas cerobong dari pembakaran karbon (seperti dalam pembakaran
batubara) atau senyawa karbon (seperti dalam pembakaran hidrokarbon,
kayu, dll) akan ditemukan baik karbon yang tak terbakar maupun senyawa
karbon (CO dan lainnya). Jika udara digunakan sebagai oksidan, beberapa
nitrogen akan teroksidasi menjadi berbagai jenis nitrogen oksida (NOx)
yang kebanyakan berbahaya.
Combustion or burning is the sequence of exothermic chemical
reactions between a fuel and an oxidant accompanied by the production of
heat and conversion of chemical species. The release of heat can result in
the production of light in the form of either glowing or a flame. Fuels of
interest often include organic compounds (especially hydrocarbons) in the
gas, liquid or solid phase.

14
In a complete combustion reaction, a compound reacts with an oxidizing
element, such as oxygen or fluorine, and the products are compounds of
each element in the fuel with the oxidizing element. For example:
CH4 + 2 O2 CO2 + 2 H2O + energy
CH2S + 6 F2 CF4 + 2 HF + SF6[discuss]
A simple example can be seen in the combustion of hydrogen and oxygen,
which is a commonly used reaction in rocket engines:
2 H2 + O2 2 H2O(g) + heat
The result is water vapor. Complete combustion is almost impossible to
achieve. In reality, as actual combustion reactions come to equilibrium, a
wide variety of major and minor species will be present such as carbon
monoxide and pure carbon (soot or ash). Additionally, any combustion in
atmospheric air, which is 78% nitrogen, will also create several forms of
nitrogen oxides.
In complete combustion, the reactant burns in oxygen, producing a limited
number of products. When a hydrocarbon burns in oxygen, the reaction will
only yield carbon dioxide and water. When elements are burned, the
products are primarily the most common oxides. Carbon will yield carbon
dioxide, nitrogen will yield nitrogen dioxide, sulfur will yield sulfur dioxide,
iron will yield iron(III) oxide.
Combustion is not necessarily favorable to the maximum degree of
oxidation and it can be temperature-dependent. For example, sulfur
trioxide is not produced quantitatively in combustion of sulfur. Nitrogen
oxides start to form above 2,800 F (1,540 C) and more nitrogen oxides
are produced at higher temperatures. Below this temperature, molecular
nitrogen (N2) is favored. It is also a function of oxygen excess.
In most industrial applications and in fires, air is the source of oxygen (O2).
In air, each mole of oxygen is mixed with approximately 3.76 mole of
nitrogen. Nitrogen does not take part in combustion, but at high
temperatures, some nitrogen will be converted to NOx, usually between 1%
and 0.002% (2 ppm). Furthermore, when there is any incomplete
combustion, some of carbon is converted to carbon monoxide. A more
complete set of equations for combustion of methane in air is therefore:
CH4 + 2 O2 CO2 + 2 H2O
2 CH4 + 3 O2 2 CO + 4 H2O
N2 + O2 2 NO
N2 + 2 O2 2 NO2
Pembentukan NOx
NOx emissions do not form in significant amounts until flame temperatures
reach 2800 F. Once that threshold is passed, however, any further rise in
temperature causes a rapid increase in the rate of NOx formation (A). NOx
production is highest (B) at fuel-to-air combustion ratios of 57% O2 (2545%
excess air). Lower excess air levels starve the reaction for oxygen, and higher

15
excess air levels drive down the flame temperature, slowing the rate of
reaction.
NOx reduction is the area of most concern today. Thermally produced NOx is
the largest contributor to these types of emissions. Thermal NOx is produced
during the combustion process when nitrogen and oxygen are present at
elevated temperatures. The two elements combine to form NO or NO 2. NOx is
generated by many combustion processes other than boiler operation. It
combines with other pollutants in the atmosphere and creates O 3, a substance
known as ground level ozone.

Sumber: http://www.alentecinc.com/papers/NOx/The%20formation%20of%20NOx_files/The
%20formation%20of%20NOx.htm

NOx in boiler burners can be reduced with either pre-combustion or postcombustion technology. Post-combustion technology allows NOx to form, then
breaks it down in the exhaust gases (a process called catalytic reduction). This
method is normally confined to larger, utility-size equipment.
Pre-combustion method prevents NOx from forming in the first place. Precombustion NOx reduction is accomplished by either staging the combustion
process or recirculating flue gases into the combustion process (FGR).
FGR is accomplished by forcing the flue gases with a separate fan back into
the combustion zone (forced FGR), or by drawing the flue gases through the
combustion air fan (induced FGR). Both methods reduce the bulk flame
temperature in the furnace to inhibit the chemical reaction between the
nitrogen and oxygen. FGR systems reduce NOx emissions without reducing
efficiency. NOx values can drop to less than 20 ppm corrected to 3% O 2 when
burning natural gas. Uncontrolled NOx readings are generally in the area of
80-120 ppm.
Incomplete combustion will only occur when there is not enough oxygen to
allow the fuel to react completely to produce carbon dioxide and water. It
also happens when the combustion is quenched by a heat sink such as a
solid surface or flame trap.

16
For most fuels, such as diesel oil, coal or wood, pyrolysis occurs before
combustion. In incomplete combustion, products of pyrolysis remain
unburnt and contaminate the smoke with noxious particulate matter and
gases. Partially oxidized compounds are also a concern; partial oxidation of
ethanol can produce harmful acetaldehyde, and carbon can produce toxic
carbon monoxide. The quality of combustion can be improved by design of
combustion devices, such as burners and internal combustion engines.
Further improvements are achievable by catalytic after-burning devices
(such as catalytic converters) or by the simple partial return of the exhaust
gases into the combustion process. Such devices are required by
environmental legislation for cars in most countries, and may be necessary
in large combustion devices, such as thermal power plants, to reach legal
emission standards.

17

PROSES PEMBAKARAN
Dalam pembakaran proses yang terjadi adalah oksidasi dengan
reaksi sebagai berikut:
Karbon + oksigen = Karbon dioksida + panas
Hidrogen + oksigen = Uap air + panas
Sulfur + oksigen = Sulfur dioksida + panas
Pembakaran di atas dikatakan sempurna bila campuran bahan
bakar dan oksigen (dari udara) mempunyai perbandingan yang tepat,
hingga tidak diperoleh sisa. Bila oksigen terlalu banyak, dikatakan
campuran lean (kurus). Pembakaran ini menghasilkan api oksidasi.
Sebaliknya, bila bahan bakarnya terlalu banyak (atau tidak cukup
oksigen), dikatakan campuran rich (kaya). Pembakaran ini menghasilkan
api reduksi. Api reduksi ditandai oleh lidah api panjang, kadang-kadang
sampai terlihat berasap. Keadaan ini juga disebut pembakaran tidak
sempurna.
Seperti diketahui, oksigen untuk pembakaran diperoleh dari udara
yang terdiri dari 20% O2 dan 80% N2. Sebagai contoh, bila diperlukan 1 lb
O2, berarti memerlukan 4.32 lb udara atau setiap cuft O2 perlu 4.78 cuft
udara. Gas N2 yang mengisi 80% dari udara, tidak ikut dalam reaksi
pembakaran, malahan menghisap panas dari hasil reaksi pembakaran.
Untuk menentukan jumlah O2 yang tepat pada setiap pembakaran,
merupakan hal yang tidak mudah. Pada umumnya dipakai kelebihan
udara. Keuntungannya tidak terjadi pemborosan bahan bakar. Kerugiannya
mengurangi panas hasil pembakaran. Untuk ini dijaga ada kelebihan
udara, tetapi tidak terlalu banyak (antara 5-15%).
Dalam pembakaran, ada pengertian udara primer yaitu udara yang
dicampurkan dengan bahan bakar di dalam burner (sebelum pembakaran)
dan udara sekunder yaitu udara yang dimasukkan dalam ruang
pembakaran setelah burner, melalui ruang sekitar ujung burner atau
melalui tempat lain pada dinding dapur.
Perbandingan Udara-Bahan Bakar
Untuk memperoleh reaksi pembakaran yang baik diperlukan:
1. Perbandingan tertentu antara bahan bakar dengan udara.
2. Pencampuran yang baik antara bahan bakar dengan udara.
3. Permulaan dan kelangsungan penyalaan campuran.
Campuran yang baik adalah yang homogen dan tiap partikel bahan
bakar harus kontak langsung dengan partikel udara. Pada umumnya
bahan bakar telah berubah menjadi uap (combustible vapor) sebelum
terbakar. Untuk mempercepat terjadinya combustible vapor diperlukan
proses pengabutan.
Butiran-butiran kabut tersebut luas permukaannya menjadi sangat
besar, hingga mempercepat penguapan. Untuk bahan bakar padat,

18

tentunya tidak dapat dilakukan pengabutan. Untuk mendekati bentuk


kabut tersebut diperlukan pemecahan/penghalusan butirannya dalam
pulverizer dan sprayer.
Pada awal proses pembakaran, diperlukan nyala api atau loncatan
api listrik setelah sebagian kecil bahan bakar mulai terbakar, maka
sebagian panas pembakaran digunakan untuk menaikkan suhu bahan
bakar sampai suatu saat suhu bahan bakar cukup tinggi untuk terbakar
sendiri. Bila kondisi ini sudah dicapai, bantuan nyala api sudah tidak
diperlukan lagi.
Susunan Emisi Gas Asap
Apabila pembakaran berlangsung sempurna, maka susunan gas
asap hanya terdiri dari: CO2, H2O, SO2, N2 dari udara dan O2 kelebihan.
Pembakaran tidak sempurna, maka disamping gas-gas tersebut di atas,
terjadi pula gas CO serta sisa bahan bakar yang tidak terbakar. Besarnya
kadar gas CO2 dalam gas asap merupakan indikator sempurna atau tidak
sempurnanya pembakaran.
Neraca Bahan dan Neraca Kalor
Berat massa bahan yang masuk ruang pembakaran = berat massa
bahan yang keluar.

(a + b) = (c +d +e)
a = berat bahan bakar kering + air (kelembaban).
b = berat udara + uap air yang terkandung dalam udara.
Air dalam d dan e = (air yang terkandung dalam bahan bakar) +
(air dari kelembaban udara) + (air yang terbentuk dari reaksi
pembakaran).

19

PENCEMARAN AKIBAT PEMBAKARAN


Pada proses pembakaran bahan bakar konvensional (bukan bahan
bakar nuklir), tak dapat dihindari kemungkinan terjadinya pencemaran,
baik oleh komponenkomponen dalam gas asap yang bersifat racun bagi
kesehatan serta mengganggu kenyamanan manusia, maupun oleh radiasi
kalor.
The incineration of municipal waste involves the generation of climaterelevant emissions. These are mainly emissions of CO2 (carbon dioxide) as
well as N2O (nitrous oxide), NOx ( oxides of nitrogen) NH3 (ammonia) and
organic C, measured as total carbon. CH4 (methane) is not generated in
waste incineration during normal operation. It only arises in particular,
exceptional, cases and to a small extent (from waste remaining in the
waste bunker), so that in quantitative terms CH4 is not to be regarded as
climate-relevant. CO2 constitutes the chief climate-relevant emission of
waste incineration and is considerably higher, by not less than 102, than
the other emissions. (www.ipcc-nggip.iges.or.jp/.../5_3_Waste_Inci...)Equation 1 calculates the emissions from waste incineration plants:
EQUATION 1: Emissions i [Mg ] = emission concentration i [Mg 10-9/m3]
exhaust gas volume (dry) [m3/Mg waste]
amount of incinerated waste [Mg waste]
Where:
Emission i in [Mg emission]
i CO2, N2O, CH4, NOx, CO, TOC, NH3
Emission concentration i [Mg 10-9/ m3] of the climate-relevant emission
i CO2, N2O, CH4, NOx, CO, TOC, NH3
Exhaust gas volume (dry) [m3/Mg waste] of the incineration plant
amount of incinerated waste [Mg waste] of a country per year

Equation 2 calculates the emissions in CO2-equivalent:


EQUATION 2 :
Emissions in CO2-equivalent i [Mg CO2] = Emission i [Mg emission]
GWP [Mg CO2/Mg emission]
Where:
Emissions in CO2-equivalent i [Mg CO2]
Emission i [Mg emission] of Formula (1)
i CO2, N2O, CH4, NOx, CO, TOC, NH3
Global warming potential GWP in [Mg CO2/Mg emission]

20

Carbon Dioxide CO2


(www.ipcc-nggip.iges.or.jp/.../5_3_Waste_Inci...)The incineration of 1 Mg of municipal waste in MSW incinerators is
associated with the production/release of about 0.7 to 1.2 Mg of carbon dioxide
CO2. Although this carbon dioxide is directly released into the atmosphere and
thus makes a real contribution to the greenhouse effect, only the climate-relevant
CO2 emissions from fossil sources are considered for the purposes of a global
analysis. Since the municipal waste incinerated is a heterogeneous mixture of
wastes, in terms of sources of CO2 a distinction is drawn between carbon of
biogenic and carbon of fossil origin. In the literature, the proportion of CO2
assumed to be of fossil origin (e.g. plastics) and consequently to be considered as
climate-relevant, is given as 33 to 50 percent.
Assuming that carbon dioxide emissions from MSW incineration average 1
Mg per Mg of waste, then of these CO2 emissions 0.33 (0.50) Mg are of fossil and
0.67 (0.50) Mg are of biogenic origin. In subsequent calculations, the proportion of
climate-relevant CO2 is figured out as an average value of 0.415 Mg of CO2 per
Mg of waste. The measured CO2 output content of the exhaust gas (dry) in MSW
incineration plants is round about 10 Vol. percent multiply with 5,500 m3 exhaust
gas volume (dry) per Mg waste multiply with 1.9768 kg/ m3 density of CO2 result
in 1087 kg CO2 per Mg waste. The content of C in CO2 is round about 27.3
percent resulting in 297 kg C per Mg waste. Another way to develop the estimate
of climate-relevant CO2 emission from the input, was to estimate the amount of
non-biogenic carbon in the waste. Usually, three waste categories contain nonbiogenic carbon: plastics, textiles, and a combined category for rubber and
leather (U.S. EPA 1997).But it is a problem to determine the real content of carbon
in the heterogeneous MSW, because it is variable from day to day. The waste's
carbon content of German MSW is generally in the range of 28 - 40 wt percent
(averages, related to dry matter) or 280 - 400 kg C per Mg waste.
Calculation example (Germany MSW incinerated 14 106 Mg waste/ year):
Equation 1:

Total Emission CO2 = 0.415 Mg CO2 /Mg waste 14 106 Mg waste/ year

Total Emission CO2 = 5.81 106 Mg/year


Equation 2:
Total emission CO2 = 5.81 106 Mg CO2 /year
For the incineration of sewage sludge in fluidized-bed plants, an emission
of 1 Mg of CO2 per Mg of incinerated sludge (dry matter) is assumed.

Khusus pencemaran oleh bahan-bahan hasil pembakaran, meliputi


5 macam bahan pencemar utama yaitu:
1. Partikulat, yaitu padatan atau cairan yang sangat kecil,
tersuspensi dalam gas asap. Partikulat ini terlepas ke atmosfer, dan efek
yang ditimbulkan berupa:
- terganggunya penglihatan oleh kabut partikulat,
- menyebabkan bronkhitis, emphysema dan kanker.
Partikulat (asap atau jelaga)

21
Partikulat merupakan polutan udara yang paling jelas terlihat dan paling berbahaya,
dapat dihasilkan dari cerobong pabrik berupa asap hitam tebal. Macam-macam partikel,
yaitu :
a. Aerosol: partikel yang terhambur dan melayang di udara
b. Fog (kabut): aerosol yang berupa butiran-butiran air dan berada di udara
c. Smoke (asap): aerosol yang berupa campuran antara butir padat dan cair dan
melayang berhamburan di udara
d. Dust (debu): aerosol yang berupa butiran padat dan melayang-layang di udara
Smoke (ASAP) is a collection of airborne solid and liquid particulates and
gases emitted when a material undergoes combustion or pyrolysis,
together with the quantity of air that is entrained or otherwise mixed into
the mass. It is commonly an unwanted by-product of fires (including
stoves, candles, oil lamps, and fireplaces), but may also be used for pest
control (cf. fumigation), communication (smoke signals), defensive and
offensive capabilities in the military (smoke-screen), cooking (smoked
salmon), or smoking (tobacco, marijuana, etc.). Smoke is used in rituals,
when incense, sage, or resin is burned to produce a smell for spiritual
purposes. Smoke is sometimes used as a flavoring agent, and preservative
for various foodstuffs. Smoke is also a component of internal combustion
engine exhaust gas, particularly diesel exhaust.
Smoke inhalation is the primary cause of death in victims of indoor fires.
The smoke kills by a combination of thermal damage, poisoning and
pulmonary irritation caused by carbon monoxide, hydrogen cyanide and
other combustion products. Smoke particles are an aerosol (or mist) of
solid particles and liquid droplets that are close to the ideal range of sizes
for Mie scattering of visible light. This effect has been likened to threedimensional textured privacy glass a smoke cloud does not obstruct an
image, but thoroughly scrambles it. (http://en.wikipedia.org/wiki/Smoke).
Smoke particulates have three modes of particle size distribution:
nuclei mode, with geometric mean radius between 2.520 nm, likely
forming by condensation of carbon moieties.
accumulation mode, ranging between 75250 nm and formed by
coagulation of nuclei mode particles
coarse mode, with particles in micrometer range
Most of the smoke material is primarily in coarse particles. Those undergo
rapid dry precipitation, and the smoke damage in more distant areas
outside of the room where the fire occurs is therefore primarily mediated
by the smaller particles.

Partikulat debu melayang (Suspended Particulate Matter/SPM)


merupakan campuran yang sangat rumit dari berbagai senyawa organic
dan anorganik yang terbesar di udara dengan diameter yang sangat kecil,
mulai dari < 1 mikron sampai dengan maksimal 500 mikron. Partikulat
debu tersebut akan berada di udara dalam waktu yang relatif lama dalam
keadaan melayang-layang di udara dan masuk kedalam tubuh manusia
melalui saluran pernafasan. Selain dapat berpengaruh negatif terhadap
kesehatan, partikel debu juga dapat mengganggu daya tembus pandang
mata dan juga mengadakan berbagai reaksi kimia di udara. Partikel debu
SPM pada umumnya mengandung berbagai senyawa kimia yang berbeda,

22

dengan berbagai ukuran dan bentuk yang berbada pula, tergantung dari
mana sumber emisinya. Karena komposisi partikulat debu udara yang
rumit, dan pentingnya ukuran partikulat dalam menentukan pajanan,
banyak istilah yang digunakan untuk menyatakan partikulat debu di
udara. Beberapa istilah digunakan dengan mengacu pada metode
pengambilan sampel udara seperti: Suspended Particulate Matter (SPM),
Total Suspended Particulate (TSP), black smoke.
2. Gas belerang oksida, atau SOx, yaitu SO2 dan SO3.
Biasanya gas SO3 terbentuk dalam dapur karena oksidasi SO2
menjadi SO3. Akibat yang ditimbulkan oleh gas-gas ini ialah:
- Apabila terjadi kontak dengan air akan terbentuk asam belerang
(H2SO4) yang bersifat korosif terhadap logam dan merusak
instalasi dapur.
- Gas SO2 dan SO3 membentuk kabut di atmosfer, mengakibatkan
terjadinya hujan asam yang membahayakan kehidupan tumbuhtumbuhan.
- Menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan.
Sulfur dioxide (also sulphur dioxide) is the chemical compound with
the formula SO2. It is released by volcanoes and in various industrial
processes. Since coal and petroleum often contain sulfur compounds, their
combustion generates sulfur dioxide unless the sulfur compounds are
removed before burning the fuel. Further oxidation of SO 2, usually in the
presence of a catalyst such as NO2, forms H2SO4, and thus acid rain. Sulfur
dioxide emissions are also a precursor to particulates in the atmosphere.
Both of these impacts are cause for concern over the environmental
impact of these fuels.
SO2 is a bent molecule with C2v symmetry point group. In terms of electroncounting formalism, the sulfur atom has an oxidation state of +4 and a
formal charge of 0. It is surrounded by 5 electron pairs and can be
described as a hypervalent molecule. From the perspective of molecular
orbital theory, most of these valence electrons are engaged in SO
bonding.

Three resonance structures of sulfur dioxide


Although sulfur and oxygen both have six valence electrons, the molecular
bonds in SO2 are not the same as those in ozone. The SO bonds are
shorter in SO2 (143.1 pm) than in sulfur monoxide, SO (148.1 pm), whereas
the OO bonds are longer in ozone (127.8 pm) than in dioxygen, O2
(120.7 pm). The mean bond energy is greater in SO 2 (548 kJ/mol) than in
SO (524 kJ/mol), whereas it is less in O 3 (297 kJ/mol) than in O2
(490 kJ/mol). These pieces of evidence lead chemists to conclude that the
SO bonds in sulfur dioxide have a bond order of at least 2, unlike the OO

23
bonds
in
ozone,
which
have
a
bond
order
of
1.5.
(http://en.wikipedia.org/wiki/Sulfur_dioxide).
Sulfur dioxide is the product of the burning of sulfur or of burning materials
that contain sulfur:
S8 + 8 O2 8 SO2
Sulfur dioxide is typically produced in significant amounts by the burning of
common sulfur-rich materials including wool, hair, rubber, and foam rubber
such as are found in mattresses, couch cushions, seat cushions, and carpet
pads, and vehicle tires. Ferrous metals such as steel exposed to sulfur
dioxide combustion fumes are rapidly oxidized and sulfidated. In house
fires, this sometimes produces apparently molten steel comprising iron
oxides and iron sulfide. The most common example of this phenomenon is
apparently melted steel bedsprings that are found by fire investigators.
The burning foam rubber in the mattress produces sulfur dioxide which
reacts with the hot metal, further heating it until the oxide/sulfide melts,
giving the appearance of melted bed springs.

3. Gas nitrogen oksida, terbentuk apabila pembakaran dilakukan


dalam udara, pada suhu yang cukup tinggi. Hal ini terjadi karena gas
nitrogen N2 dan gas oksigen O2 bereaksi membentuk NO dan NO2. Efek
yang ditimbulkan oleh gas ini ialah:
- dapat merusak kehidupan tanaman dan binatang,
- mengganggu kesehatan manusia karena menimbulkan iritasi
pada saluran pernafasan,
- bersifat korosif pada logam,
- menimbulkan hujan asam oleh terbentuknya asam nitrat di
atmosfer,
- apabila bereaksi dengan uap atau gas dari senyawa organik
dengan bantuan sinar matahari dapat menimbulkan kabut
fotokimia.
Nitrous Oxide N2O
As well as the above nitrogen oxide compounds NO and NO2, nitrous oxide
N2O is of relevance from a climate perspective. Emission levels of 1 to 12
mg/m3 have been determined in individual measurements at MSW
incineration plants, with an average of 1 - 2 mg/m3. From hazardous waste
incineration plants the emission levels of 30 to 32 mg/m3 have been
determined in individual measurements.
NO2 emission levels (individual measurements) are markedly higher in the
incineration of sewage sludge in fluidized-bed plants. An average of 100
mg N2O/m3 was used for the calculations presented here.
Nitrogen Oxides NOx
In the incineration of municipal waste in MSW incinerators nitrogen oxides
NOx (NO, NO2) arise, which are formed essentially from the nitrogen
contained in the waste, from the combustion process itself and from
spontaneous reaction (so-called prompt NOx). As a rule, nitrogen oxide
concentrations in waste gas are measured continuously at these plants. If

24
no measures were performed at MSW incinerators for nitrogen removal,
the emissions would be between 350 and 400 mg/m3. An emission level of
200 mg/m3 can safely be attained if selective waste gas treatment
measures are carried out (SNCR, SCR). Plants reflecting BAT (best available
techniques) attain emission levels in the range of 100 to 150 mg NOx/m3
when using SNCR technology and <70 mg NOx/m3 when using SCR
technology.
Hazardous waste incineration plants reflecting BAT attain emission levels in
the range of 40 to 50 mg NOx/m3 when using SCR technology.

What are nitrogen oxides?

Nitrogen oxides are a group of gases that are composed of nitrogen and
oxygen. Two of the most common nitrogen oxides are nitric oxide and
nitrogen dioxide. The chemical formula for nitric oxide is NO; for nitrogen
dioxide, it is NO2. Nitrous oxide, N2O, is a greenhouse gas that contributes
to climate change. Nitric oxide is a gas with a sharp, sweet smell; it is
colorless to brown at room temperature. Nitrogen dioxide is a colorless to
brown liquid at room temperature, with a strong, harsh odor. It becomes a
reddish-brown gas at temperatures above 70 degrees F. Nitrogen oxides
are released into the air from motor vehicle exhaust, or the burning of coal,
oil, and natural gas, especially from electric power plants. They are also
released during industrial processes such as welding, electroplating,
engraving, and dynamite blasting. Nitrogen oxides, when combined with
volatile organic compounds, form ground-level ozone, or smog. They are
also produced by cigarette smoking.
Nitric oxide is used to bleach rayon and produce nitric acid. Nitrogen
dioxide is used to produce rocket fuels, explosives, and other chemicals.
Nitrogen dioxide is sometimes used to bleach flour.
How might I be exposed to nitrogen oxides?
Nitrogen oxides are common pollutants found in most of the air in the
United States. You can be exposed to nitrogen oxides outdoors by
breathing air that contains it, especially if you live near a coal-burning
electric power plant or areas with heavy motor vehicle traffic. You can be
exposed to higher levels if air pollution and smog levels are high.
You can be exposed at home if you burn wood, or use a kerosene
heater or gas stove.
You can be exposed at home or at work, indoors or outdoors, through
smoking cigarettes or breathing second-hand cigarette smoke.
You can be exposed at work if you work in a facility that produces
nitric acid, explosives such as dynamite and TNT, or welded metals.
How can nitrogen oxides affect my health?
Exposure to high industrial levels of nitric oxide and nitrogen dioxide can
cause death. It can cause collapse, rapid burning and swelling of tissues in
the throat and upper respiratory tract, difficult breathing, throat spasms,
and fluid build-up in the lungs. It can interfere with the blood's ability to
carry oxygen through the body, causing headache, fatigue, dizziness, and
a blue color to the skin and lips.
Industrial exposure to nitrogen dioxide may cause genetic mutations,
damage a developing fetus, and decrease fertility in women. Repeated
exposure to high levels of nitrogen dioxide may lead to permanent lung
damage. Industrial exposure to nitric oxide can cause unconsciousness,

25
vomiting, mental confusion, and damage to the teeth. Industrial skin or
eye contact with high concentrations of nitrogen oxide gases or nitrogen
dioxide liquid can cause serious burns.
Long-term exposure to nitrogen oxides in smog can trigger serious
respiratory problems, including damage to lung tissue and reduction in
lung function. Exposure to low levels of nitrogen oxides in smog can irritate
the eyes, nose, throat, and lungs. It can cause coughing, shortness of
breath, fatigue, and nausea.

4. Gas Ammonia NH3


In MSW combustion, emissions of ammonia NH3 arise in particular from
the use of ammonia (and also ammonia water) as an additive in waste gas
treatment measures for nitrogen removal (SNCR, SCR). As a rule,
emissions (determined in individual measurements) are in the range of 110 mg/m3; the average is assumed to be 4 mg NH3/m3.

5. Gas karbon monoksida yang terbentuk apabila pembakaran


tidak sempurna. Efek yang ditimbulkan oleh gas CO bagi kesehatan
manusia ialah:
- Apabila gas tersebut terhisap melalui pernafasan, gas CO bereaksi
dengan haemoglobin dalam darah, sehingga menghambat
transfer oksigen yang membahayakan kehidupan manusia.

During the incineration of municipal waste in Municipal Solid Waste


incinerators carbon monoxide is formed as the product of incomplete
combustion. CO is an indicator substance for the combustion process and
an important quality criterion for the level of combustion of the gases. As a
rule, CO is measured continuously in the plants. Average CO emissions, as
daily means, are below 50 mg/ m3. Plants reflecting BAT (Best Available
Techniques) have daily means in the range of <10 mg/ m3.

5. Gas-gas senyawa organik.


Non-Methane Volatile Organic Compounds ( NMVOCs)
Organic compounds (organic C) in the waste gas of MSW incineration
plants are measured continuously as sum parameter Total Carbon. This
parameter constitutes an indicator of the level of combustion achieved in
an incineration process. The emissions are subject to a limit of 10 mg/ m3,
but BAT plants attain, as a rule, emission levels of 1 mg/ m3.

Akibat yang ditimbulkan oleh adanya gas ini adalah:


Dalam atmosfer dengan gas NOx membentuk oksidant, berupa
kabut. Kabut oksidant ini menimbulkan iritasi pada mata, hidung dan
tenggorokan.
Membakar senyawa berbahan dasar chlorine, seperti plastik PVC,
menghasilkan senyawa dioxin yang paling berbahaya. Chlorine terdapat
dalam berbagai jenis plastik, sehingga saat plastik ini dibakar, maka
chlorine dilepas dan dengan cepat bereaksi dengan senyawa lain dan
membentuk dioxin. Senyawa terebut sangat tahan lama, dan tidak mudah
terurai di alam.

26

Saat terlepas ke udara, dioxin dapat menempuh jarak yang cukup


jauh. Di air, dioxin dapat menumpuk pada tanah sungai, sehingga
menempuh perjalanan lebih jauh ke hilir atau masuk ke tubuh ikan.
Kebanyakan paparan dioxin yang kita alami terjadi melalui makanan.
Sementara, dioxin yang terlepas ke atmosfer menumpuk pada tanaman
yang kemudian akan dimakan oleh hewan. Pada makhluk yang berada di
bagian akhir rantai makanan menerima resiko penumpukan dioxin lebih
tinggi. Karnivora, seperti manusia mengakumulasi jumlah dioxin tertinggi.
Faktanya, 95% dioxin yang dikonsumsi manusia berasal dari lemak
hewani. Dalam penelitian, kadar satu per sejuta gram dapat membunuh
kelinci percobaan. Hewan itu mati akibat wasting syndrome dalam dua
sampai enam minggu.
Beberapa jenis senyawa dioxin, dapat menyebabkan kematian
meski pada konsentrasi yang sangat rendah. Kerusakan sistem imun pada
manusia, juga dapat terjadi, terutama pada anak-anak. Efek seketika yang
terjadi akibat paparan dalam jumlah banyak, misalnya chlorance, yaitu
penyakit kulit yang parah dengan lesi menyerupai akne yang terjadi
terutama pada wajah dan tubuh bagian atas, serta ruam kulit lainnya,
perubahan warna kulit, rambut tubuh yang berlebihan, dan kerusakan
pada organ-organ tubuh lain, seperti hati, ginjal dan saluran pencernaan.
Masalah kesehatan terbesar adalah bahwa dioxin dapat menyebabkan
kanker pada orang dewasa.
Secara global, pembakaran sampah adalah sumber dioxin terbesar
yang menyebabkan kontaminasi lingkungan. Di Amerika Serikat, Eropa
dan Australia, hukum yang baru dan tindakan langsung dari masyarakat
telah menghasilkan penurunan tajam tingkat dioxin di lingkungan
sehingga memberikan peningkatan keamanan dan kesehatan untuk
semua orang. Sayangnya, banyak masalah besar dioxin masih terjadi di
negara-negara lain, mungkin juga di Indonesia.

PEMBAKARAN SAMPAH RUMAHTANGGA


Sampah rumah tangga yang dibakar di udara terbuka
Sebuah keluarga didaerah yang jauh dari kota besar di Amerika (daerah rural) yang
beranggotakan empat orang membakar sampah rumah tangga mereka didalam
drum dipekarangan belakang rumah mereka. Asap pembakaran sampah ini (catat:
dari satu rumah tangga) menghasilkan racun udara dioksin dan furan yang sama
banyaknya dengan racun udara yang dikeluarkan oleh mesin pembakar sampah
rumah tangga (biasa disebut Municipal Waste Combustor, atau MWC, atau
incinerator) yang sanggup melayani puluhan ribu rumah tangga. Ini adalah praktek
biasa sehari hari yang dilakukan oleh masyarakat Amerika didaerah rural. Laporan
dari U.S. Environmental Protection Agency (US-EPA) dan Departemen Kesehatan
Negara Bagian New York mengatakan bahwa pembakaran sampah rumah tangga
didalam pekarangan adalah salah satu sumber polusi yang paling parah di
Amerika.

27

Dari hasil penelititan yang intensif dalam beberapa tahun terakhir


ini dikatakan bahwa pembakaran sampah rumah tangga pada kondisi
pembakaran dan suhu yang rendah dapat menimbulkan gas racun dioksin
dan furan, demikian dikatakan oleh Paul Lemieux, Ph.D., salah seorang
peneliti dari National Risk Management Research Laboratory, US-EPA.
Pengukuran emisi dari pembakaran sampah rumah tangga didalam
sebuah drum berukuran 200 liter telah dilakukan di Carolina Utara
ditempat percobaan fasilitas pembakaran dari EPA. Sampah yang dibakar
adalah sampah yang biasanya dibakar oleh sebuah rumah tangga yang
terdiri dari surat kabar bekas, buku, majalah, surat, karton, karton susu,
sampah makanan, beberapa jenis plastik, kaleng dan botol. Oli gemuk,
minyak bekas, ban bekas, dan bahan cat atau bahan rumah tangga yang
bersifat bahan berbahaya dan beracun (B3) tidak diikut sertakan didalam
percobaan tersebut.
Sesudah itu, hasil pembakaran percobaan ini dibandingkan dengan
hasil pembakaran dari alat pembakaran rumah tangga yang terkendali
(MWC/incinerator) yang menghasilkan dioksin yang lebih kecil daripada
yang ditetapkan oleh EPA. Ternyata hasil pembakaran rumah tangga ini
menghasilkan senyawa polychlorinated seperti dioksin didalam jumlah
yang sangat jauh lebih besar daripada hasil pembakaran alat MWC yang
sanggup melayani puluhan ribu sampah rumah tangga.
Di banyak daerah di Amerika Serikat, pembakaran sampah di udara
terbuka sudah dilarang. Daerah yang masih diperbolehkan membakar
sampah diudara terbuka adalah daerah pedesaan rural. Racun udara
dioksin dengan jelas memperlihatkan efek kesehatan terhadap binatang
percobaan seperti pada gangguan fungsi daya tahan tubuh, kanker,
perubahan hormon, dan pertumbuhan yang abnormal.
Membakar Sampah, Membahayakan Diri dan Lingkungan Kita

Salah satu kebiasaan masyarakat dalam menangani sampah adalah


dengan membakarnya. Di lokasi pemukiman, biasanya sampah yang tidak
terangkut dibakar di sudut-sudut pekarangan entah itu pada pagi atau
malam hari. Pembakaran sampah sebenarnya membahayakan kesehatan
orang-orang yang berada di sekitarnya. Bahaya tersebut biasanya
diitimbulkan oleh adanya emisi gas dan partikel debu. Gas-gas berbahaya
yang ditimbulkan oleh pembakaran sampah antara lain adalah gas karbon
monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), sulfur dioksida (SO2), Dioxin dan
Furan.

28

Sumber: http://sriwahyono.blogspot.com/2010_06_01_archive.html

Dioksin dan Furan, dan dampaknya terhadap kesehatan.


Dioksin adalah istilah yang lazim dipakai untuk salah satu keluarga
bahan kimia beracun yang struktur kimianya mirip dan mekanisme
kerjanya sama. Keluarga bahan kimia beracun ini termasuk (a) Tujuh
Polychlorinated Dibenzo Dioxins (PCDD); (b) Duabelas Polychlorinated
Dibenzo Furans (PCDF); dan (c) Duabelas Polychlorinated Biphenyls (PCB).
PCDD dan PCDF bukanlah produk kimia yang dikomersilkan, tetapi produk
sampingan yang secara tidak sengaja terjadi didalam banyak proses
pembakaran dan beberapa proses industri kimia. PCB dengan sengaja
diproduksi secara komersil dalam jumlah besar sampai produksi tersebut
dilarang ditahun 1977. Di Amerika Serikat, tingkat dioksin sudah menurun
terus sejak awal tahun 1970-an sebagai akibat dari aksi aksi pembersihan
serta peraturan dari negara bagian dan pusat. Meskipun begitu, tingkat
dioksin yang ada sekarang masih harus tetap menjadi perhatian.
Dioksin bersifat ada terus menerus (persistent) dan terakumulasi
secara biologi (bioaccumulated), dan tersebar didalam lingkungan dalam
konsentrasi yang rendah. Tingkat konsentrasinya rendah, sampai parts per
trillion (satu per 10 pangkat 12), terakumulasi sepanjang kehidupan dan
ada terus bertahun tahun, walaupun tidak ada penambahan lagi kedalam
lingkungan. Hal ini bisa meningkatkan risiko terkena kanker dan efek
lainnya terhadap binatang dan manusia.
Dioksin termasuk kedalam kelas bahan yang bersifat carcinogen
(yang menyebabkan kanker). Efek samping dioksin terhadap binatang
adalah perubahan sistim hormon, perubahan pertumbuhan janin,
menurunkan kapasitas reproduksi, dan penekanan terhadap sistim
kekebalan tubuh. Efek samping dioksin terhadap manusia adalah
perubahan kode keturunan (marker) dari tingkat pertumbuhan awal dari
hormon. Pada dosis yang lebih besar bisa mengakibatkan sakit kulit yang
serius
yang
disebut
`chloracne.'
Dioksin dapat terdeteksi di udara, tanah, lapisan sedimen dan makanan.
Dioksin ditranspor terutama melalui udara dan terkumpul dipermukaan

29

tanah, bangunan, jalanan, kaki lima, air dan daun daunan. Kebanyakan
dioksin berasal dari produksi sampingan dari suatu pembakaran.
Dioksin banyak dikeluarkan oleh sumber sumber sbb.:
Tempat pembakaran sampah perumahan (MWC, incinerator)
Pembakaran sampah rumah tangga dipekarangan/udara terbuka
Pemakaian kayu bakar untuk masak
Kebakaran hutan
Tempat pembakaran bekas alat alat kedokteran
Peleburan tembaga tahap kedua
Tempat pengeringan semen di pabrik semen (cement kiln)
Pembangkit listrik tenaga batubara
Pemutihan (dengan bahan khlor) bubur kayu dipabrik
pembuatan kertas.
Biasanya manusia terpapar dioksin dari makanan dimakan,
khususnya dari lemak binatang seperti daging sapi, babi, unggas, ikan,
susu, dan produk susu. Disamping dioksin dan furan, pembakaran sampah
di udara terbuka juga menimbulkan kabut asap yang tebal yang
mengandung bahan lainnya seperti partikel debu halus yang disebut
particulate matter (PM) serta bahan bahan racun lainnya. Particulate
Matter ini berukuran 10 mikron, biasanya disebut PM10. Alat saring
pernafasan kita tidak sanggup menyaring PM10 ini, sehingga PM10 ini bisa
masuk ke dalam paru paru dan mengakibatkan gangguan pernafasan
(astma dan paru paru, dlsb.)
Masalah Kita Bersama
Kita masih banyak melihat pembakaran sampah dipekarangan
rumah rumah tangga setiap hari, dan ini kelihatannya merupakan hal yang
biasa. Apabila kita terbang dengan pesawat udara dari Jakarta kedaerah
lain, ketika pesawat mau naik atau mau mendarat, kita melihat banyak
sekali halaman halaman rumah penduduk membakar sampah mereka.
Bisa kita bayangkan berapa banyak polusi udara yang ditimbulkan setiap
harinya dari hasil pembakaran sampah ini.
Dalam jangka waktu yang pendek, kelihatannya cara cara ini lebih praktis
dan lebih mengirit ketimbang harus menjalankan proses daur ulang yang
panjang.
Dalam jangka waktu yang panjang, cara cara seperti ini
sebenarnya lebih merugikan individu yang bersangkutan, komunitas, dan
negara secara keseluruhan. Polusi yang kelihatannya sedikit ini, lama lama
menjadi bukit. Polusi ini perlahan lahan akan membuat sebagian orang
yang seharusnya hidup sehat menjadi sakit, antara lain sakit gangguan
pernafasan (astma, paru paru dll.). Orang orang tersebut yang seharusnya
bisa bekerja 8 jam per hari tanpa sakit sepanjang tahun, bisa bekerja
kurang dari 8 jam per hari dan sakit beberapa hari per tahunnya. Orang
tersebut dirugikan karena kehilangan upah hariannya ditambah harus
keluar biaya membayar mantri/dokter dan membeli obat. Disamping itu,
masih ada lagi kerugian lainnya bagi individu yang sakit itu. Dia kehilangan
kenikmatannya dimana dia seharusnya bisa menikmati hari liburnya
(misalnya Sabtu dan Minggu) bersama anak dan isterinya, karena sakit,
harus diam dirumah. Kehilangan kenikmatan sejenis ini, kalau kita mau,

30
masih bisa digambarkan dalam bentuk uang. Secara keseluruhan negara
juga dirugikan karena mempunyai rakyat yang sebagian tidak bisa kerja
efisien karena sakit. Ditambah lagi negara harus mengeluarkan biaya
tambahan untuk mengurus dan mengobati rakyat yang sakit gangguan
pernafasan. Belum lagi dihitung biaya pengobatan bagi yang menderita
kanker paru.

Apabila dilihat secara kasarnya (tanpa perhitungan ekonomi yang


detail), lebih banyak ruginya ketimbang untungnya. Sekedar sebagai
informasi tambahan, penyakit paru-paru adalah penyakit penyebab
kematian nomor 3 di Amerika Serikat dengan total penduduk sekitar 280
juta jiwa, dan setiap tahun ada sekitar 335.000 orang meninggal karena
sakit paru paru dan ada sekitar 30 juta orang yang menderita sakit paru
paru kronis. Biaya untuk menanggulangi penyakit pneumonia, influenza,
kondisi pernapasan akut, dan asthma adalah 34.2 milyar dollar
pertahunnya, atau 324.900 milyar rupiah dengan nilai tukar
US$1.00=Rp.9500.00. Angka didalam rupiah ini mungkin tidak 100 prosen
tepat, tetapi paling tidak cukup mendekati, karena banyak obat obatan
dan alat alat pengobatan yang diproduksi masih mengandung banyak
komponen impor yang dinilai didalam dollar. Disamping itu jumlah
penderita penyakit yang sama di Indonesia kemungkinan besar jumlahnya
lebih besar dari jumlah penderita penyakit yang sama di Amerika Serikat.

INCINERATION
Incineration is a waste treatment process that involves the combustion of
organic substances contained in waste materials.[1] Incineration and other
high temperature waste treatment systems are described as "thermal
treatment". Incineration of waste materials converts the waste into ash,
flue gas, and heat. The ash is mostly formed by the inorganic constituents
of the waste, and may take the form of solid lumps or particulates carried
by the flue gas. The flue gases must be cleaned of gaseous and particulate
pollutants before they are dispersed into the atmosphere. In some cases,
the heat generated by incineration can be used to generate electric power.
Incineration with energy recovery is one of several waste-to-energy (WtE)
technologies such as gasification, Plasma arc gasification, pyrolysis and
anaerobic digestion. Incineration may also be implemented without energy
and materials recovery.
In several countries, there are still concerns from experts and local
communities about the environmental impact of incinerators (see
arguments against incineration). In some countries, incinerators built just a
few decades ago often did not include a materials separation to remove
hazardous, bulky or recyclable materials before combustion. These
facilities tended to risk the health of the plant workers and the local
environment due to inadequate levels of gas cleaning and combustion
process control. Most of these facilities did not generate electricity.
Incinerators reduce the solid mass of the original waste by 8085% and the
volume (already compressed somewhat in garbage trucks) by 95-96 %,

31
depending on composition and degree of recovery of materials such as
metals from the ash for recycling. [2] This means that while incineration
does not completely replace landfilling, it significantly reduces the
necessary volume for disposal. Garbage trucks often reduce the volume of
waste in a built-in compressor before delivery to the incinerator.
Alternatively, at landfills, the volume of the uncompressed garbage can be
reduced by approximately 70%[citation needed] by using a stationary steel
compressor, albeit with a significant energy cost. In many countries,
simpler waste compaction is a common practice for compaction at landfills.
Incineration has particularly strong benefits for the treatment of certain
waste types in niche areas such as clinical wastes and certain hazardous
wastes where pathogens and toxins can be destroyed by high
temperatures. Examples include chemical multi-product plants with
diverse toxic or very toxic wastewater streams, which cannot be routed to
a conventional wastewater treatment plant.

Insinerasi memiliki sejumlah output seperti abu dan emisi ke


atmosfer berupa gas sisa hasil pembakaran. Sebelum melewati fasilitas
pembersihan gas, gas-gas tersebut mungkin mengandung partikulat,
logam berat, dioksin, furan, sulfur dioksida, dan asam hidroklorat. Dalam
sebuah penelitian tahun 1994, Delaware Solid Waste Authority
menemukan bahwa untuk sejumlah energi yang sama yang dihasilkan,
insinerator menghasilkan hidrokarbon, [[SO2]], HCl, CO, dan [[NOx]] lebih
sedikit dibandingkan pembangkit listrik dengan bahan bakar batu bara,
namun lebih banyak dari pada pembangkit listrik dengan bahan bakar gas
alam.
Dioksin dan furan adalah jenis emisi hasil pembakaran insinerator
yang berisiko terhadap kesehatan. Insinerator tua tidak memiliki sistem
yang bisa membersihkan dioksin. Umumnya, pemecahan dioksin
membutuhkan temperatur tinggi untuk memicu pemecahan termal
terhadap ikatan molekular. Pembakaran plastik yang tidak mencapai
temperatur yang diperlukan akan melepaskan dioksin dalam jumlah
signifikan ke udara.
Insinerator modern didesain untuk mencapai pembakaran dengan
suhu tinggi. Biasanya dilengkapi dengan pembakar yang memakai bahan
bakar minyak. Temperatur yang dibutuhkan adalah 850 oC dalam waktu
setidaknya dua detik guna memecah dioksin.
Emisi gas lainnya adalah [[CO 2]] sebagai hasil dari proses
pembakaran sempurna. Pada temperatur ruang dan tekanan atmosfer,
satu ton sampah padat dapat menghasilkan 1 ton gas CO 2. Jika sampah
dibuang ke lahan pembuangan, satu ton sampah padat dapat
menghasilkan 62 meter kubik metana karena dekomposisi anaerobik.
Metana sejumlah ini memiliki efek rumah kaca dua kali lebih berbahaya
dari pada 1 ton CO2.
Bahan beracun lainnya yang keluar dari gas yang dihasilkan dari
sisa pembuangan diantaranya sulfur dioksida, asam hidroklorat, logam
berat, dan partikel halus. Uap yang terkandung dalam gas menciptakan

32

bagian yang dapat terlihat dari gas yang umumnya transparan sehingga
menyebabkan polusi dapat terlihat.
Pembersihan gas sisa pembakaran yang dapat berpotensi menjadi
polutan dilakukan melalui berbagai proses. Partikulat dikumpulkan dengan
filtrasi partikel yang pada umumnya berupa electrostatic precipitator
dan/atau baghouse filter. Yang terakhir umumnya sangat efisien untuk
mengumpulkan partikel halus. Dalam penelitian oleh kementrian
lingkungan hidup Denmark di tahun 2006, rata-rata emisi partikulat per
energi yang dihasilkan oleh sampah yang dibakar berada di bawah 2,02
gram per Giga Joule.
Pembersih gas asam digunakan untuk menghilangkan asam
hidroklorat, asam nitrat, asam hidrofluorat, merkuri, timbal, dan logam
berat lainnya. Sulfur dioksida dapat dihilangkan dengan desulfurisasi
menggunakan cairan limestone yang diinjeksikan ke gas sisa hasil
pembakaran sebelum menuju ke filtrasi partikel.
Gas NOx adalah gas lainnya yang harus direduksi dengan katalis
amonia di konverter katalitik atau dengan reaksi bertemperatur tinggi
dengan amonia. Logam berat diadsorpsi dengan bubuk karbon aktif yang
lalu dikumpulkan di filtrasi partikel.
Insinerasi juga memproduksi abu ringan yang dapat bercampur
dengan udara di atmosfer dan abu padat, sama seperti ketika batu bara
dibakar. Total abu yang dirpoduksi berkisar antara 4-10% volume dan 1520% massa sampah sebelum dibakar. Abu ringan berkontribusi lebih pada
potensi gangguan kesehatan karena dapat berbaur pada udara dan
berisiko terhirup paru-paru. Berbeda dengan abu padat, abu ringan
mengandung konsentrasi logam berat (timbal, kadmium, tembaga, dan
seng) lebih banyak dari pada abu padat namun lebih sedikit kandungan
dioksin dan furan. Abu padat jarang mengandung logam berat dan tidak
dikategorikan sebagai sampah berbahaya sehingga aman untuk dibuang
ke lahan pembuangan sampah. Namun perlu diperhatikan agar
pembuangan abu padat tidak mengganggu keadaan air tanah karena abu
padat dapat terserap ke dalam tanah.
Polusi lainnya adalah bau, namun bau dan debu telah ditangani
dengan baik pada fasilitas insinerasi terbaru. Sampah diterima dan
disimpan dalam ruangan bertekanan udara rendah dengan aliran udara
menuju ke dalam ruang pembakaran sehingga sangat kecil kemungkinan
bau akan lepas menuju atmosfer dan menimbulkan ketidaknyamanan
pada lingkungan sekitar.
Even with the most modern equipment and control devices, incinerators
pollute the air, soil and water. Trash burners, whether they use gasification,
plasma arc, waste-to-energy, or any other thermal process, emit huge
amounts of toxic pollution including carbon monoxide, cadmium, sulfur
dioxide, mercury, hydrochloric acid, nitrogen oxides, lead, dioxins and
furans. On the back of this fact sheet is information about some of these
toxic air pollutants and their negative health impacts.
(Sumber: http://www.bredl.org/pdf2/Montenay-TV_factsheet.pdf)

33

Argumen negatif insinerasi


1. Abu ringan menjadi kekhawatiran penduduk lokal karena
mengandung logam berat dan efeknya yang amat berbahaya
bagi kesehatan.
2. Masih terdapat kekhawatiran mengenai emisi dioksin dan furan
terutama dari insinerator tua.
3. Insinerator mengemisikan logam berat seperti vanadium,
mangan, krom, nikel, arsenik, merkuri, timbal, dan kadmium.
4. Terdapat alternatif teknologi selain insinerator, yaitu Mechanical
Biological Treatment / Anaerobic Digestion (MBT/AD), Mechanical
Heat Treatment (MHT), Autoclaving, atau kombinasi dari
semuanya.
5. Memprioritaskan pengurangan sampah, penggunaan kembali,
dan daur ulang harus diprioritaskan sesuai dengan tujuan
hierarki sampah ketimbang insinerasi yang seolah memberikan
lampu hijau bagi pembuangan sampah.
6. Di beberapa negara, desain bangunan insinerator sangat buruk
dan merusak keindahan kota.
The incineration of municipal waste involves the generation of
climate-relevant emissions. These are mainly emissions of CO2 (carbon
dioxide) as well as N2O (nitrous oxide), NOx ( oxides of nitrogen) NH3
(ammonia) and organic C, measured as total carbon. CH4 (methane) is
not generated in waste incineration during normal operation. It

only arises in particular, exceptional, cases and to a small extent


(from waste remaining in the waste bunker), so that in
quantitative terms CH4 is not to be regarded as climaterelevant. CO2 constitutes the chief climate-relevant emission of
waste incineration and is considerably higher, by not less than 102,
than the other emissions.
The incineration of 1 Mg of municipal waste in MSW incinerators is
associated with the production/release of about 0.7 to 1.2 Mg of carbon
dioxide (CO2 output). The proportion of carbon of biogenic origin is
usually in the range of 33 to 50 percent. The climate-relevant CO2
emissions from waste incineration are determined by the proportion
of waste whose carbon compounds are assumed to be of fossil origin.
The allocation to fossil or biogenic carbon has a crucial influence on the
calculated amounts of climate-relevant CO2 emissions.
An energy transformation efficiency equal to or greater than about 25
percent results in an allowable average substituted net energy
potential that renders the emission of waste incineration plants
(calculated as CO2 equivalents) climate-neutral due to the emission
credits from the power plant mix
(Sumber
:
http://webcache.googleusercontent.com/search?
q=cache:3we4BFZGqzIJ:
www.ipcc-nggip.iges.or.jp/public/gp/bgp/
5_3_Waste_Incineration.pdf+incineration+wastes&hl=id&gl=id

34
PENETUAN FAKTOR EMISI HC, CO, DAN CO2 PADA PEMBAKARAN
SAMPAH RUMAH TANGGA (Sumber: WATI, LIA AGUSTINA;
MERDEKA, 30/11/2009)

Kualitas udara perkotaan saat ini semakin menurun seiring dengan


bertambahnya laju pertumbuhan ekonomi dan tingginya tingkat
urbanisasi. Hal ini diperparah dengan adanya budaya membakar sampah
pada masyarakat sebagai akibat kurang memadainya pelayanan dinas
kebersihan kota. Padahal pembakaran di udara terbuka akan
menghasilkan gas-gas berbahaya yang memiliki faktor emisi berbeda beda. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menghitung faktor
emisi HC, CO, CO2 pada pembakaran sampah rumah tangga dengan
variasi komposisi dan penggunaan bahan bakar. Variasi yang digunakan
dalam penelitian ini adalah komposisi dan kadar air dari sampah yang
diambil dari tiga lokasi, serta variasi bahan bakar. Emisi diukur dengan
Auto Emission Analyzer. Faktor emisi CO terbesar didapat dari pembakaran
sampah lokasi II dengan kadar air 22% dan bahan bakar bensin yaitu
552,73 g/0,5 kg sampah. Faktor emisi CO2 terbesar didapat dari
pembakaran sampah lokasi I dengan kadar air 34% tanpa bahan bakar
yaitu sebesar 6008,40 g/0,5 kg sampah. Faktor emisi HC terbesar didapat
dari pembakaran sampah lokasi I dengan kadar air 20% dan bahan bakar
minyak tanah yaitu 10,35 g/0,5 kg sampah.
Evaluation of Emissions from the Open Burning of Household
Waste. (Paul M. Lemieux, 1997. Barrels Volume 1. Technical Report
& Volume 2. Appendices A-G. Report No. EPA-600/R-97-134a.)
The researchers found very high emissions of volatile organic compounds
(particularly benzene), poly aromatic hydrocarbons, chlorinated benzenes and
dioxins and furans, simply by burning household trash in a burn barrel. Surprisingly,
they found more dioxins and furans emerging from trash from households which
had pursued aggressive recycling! (See # 1 below.) For each of these pollutant
categories they worked out how many burn barrels (burning 3 to 1 I pounds of
household waste) was equivalent to the emissions from a "modern, well-controlled"
200 ton-per-day trash incinerator. Their calculations are startling and summarized
in the table below (see table 4-2, page 64 of the report):

Number of household burn barrels to equal pollution from a full-scale 200


tpd municipal solid waste incinerator facility.
Avid
Recycler Non-Recycler
PCDD (dioxins)
4.15
1.55
PCDF (furans)
1.03
11.65
CBs (chlorobenzenes)
140.00
100.00
PAHs
83.80
9.31
VOCs
0.07
0.01
However, we should point out that their reference trash incinerator was the
2,000 tpd facility in Hartford, CT, scaled down to 200 tpd. Choosing this facility,
which gave some of the lowest emissions recorded in the U.S., somewhat distorts
the picture. Tom Webster and Paul Connett recently tabulated the dioxin emissions
for all the U.S. incinerators measured, and calculated the total annual emissions
on a yearly basis from 1985 to 1995.

35

Converting the 1993 dioxin emission figures for N.Y. state incinerators they
got the following burn barrel equivalent (using the non-recycler burn barrel
emissions in this report):
Grams of dioxin
Albany
Babylon
Dutchess County
Hempstead
Hudson Falls
Huntington
Islip
Long Beach
Niagara Falls
Oneida County
Oswego County
Peekskill

Burn Barrel
Tons-per-day
TEQ/year Equivalent
750
7.60
4091
750
0.02
11
400
0.13
68
2505
0.07
37
432
0.40
214
750
0.18
95
510
0.03
16
200
46
2455
2200
96.0
50,000
200
2.5
1318
200
1.9
1000
2250
10.0
5455

Some caveats are in order here. Many of these dioxin emissions are based
upon very limited test data, particularly the newer plants where the emissions
were obtained from the tests made prior to the plant's receiving their operating
permit. Such measurements are made when the plant is brand new and when its
being operated under ideal conditions. These test results probably don't represent
the emissions under routine conditions, and certainly not under upset conditions.
There is also the question of whether the trash stream used during the emission
testing was representative of their day-to-day operations (i.e., many MSW
incinerators accept medical waste, outdated pharmaceuticals, industrial and
hazardous wastes, etc.).
Furthermore, we suspect that burn barrels do not have the same potential
to add to the long distance transport of dioxins, and hence add to the cumulative
impact on the foodchains, as in the case with incinerators with tall stacks.
(However, it is mainly the rural areas where the majority of householders burn
their own trash. St. Lawrence County in NY State, where we live, is generally
ranked as the number 1 or 2 dairy producing county in the state. The
overwhelming majority of residents who live in the towns have burn barrels, which
are more often than not placed nearer the pasture than the house. Also, dairy
farms have more and more plastic wastes that are generally burned on-site.) In
our view, it is clear that burn barrels are capable of putting out high dioxin
emissions into the local environment and we support the call for a nationwide ban
on the burning of household trash in burn barrels. We hope the U.S. EPA has the
courage to push this through. Meanwhile, the NY DEC and the NY DOH, cosponsors of this report, could set a good national example by banning burn barrels
in NY state.
This report further underlines the fact that we will not get rid of the dioxin
menace, simply by putting better air pollution control devices on incinerators. The
situation is particularly alarming in developing countries where enormous
amounts of trash are burned at the side of the road and in tires set at landfills. In
our view, the only realistic way of solving this dioxin problem is to get chlorinated
products out of commerce, and chlorine out of the chemical industry. The best

36
place to start is with a ban on PVC. As long as this horrendous plastic (over 50%
chlorine by weight, and stuffed with health threatening additives) enters the
market place, dioxins will continue to enter our food, our bodies, and our babies.
This study evaluated two separate waste streams: that of an avid recycler,
who removes most of the recyclable content from the waste stream prior
to combustion; and that of a non-recycler, who combusts the entire stream
of household waste... From estimates of waste generated each day by New
York households for the avid recycler and non-recycler scenarios, emissions
per day of PCDDs/PCDFs are significantly higher for the avid recycler... This
phenomenon is likely due to several factors, including the higher mass
fraction of PVC in the avid recycler's waste...".

Table 1. Composition of household waste prepared by EPA (based on


a characterization of household waste prepared by the NY State
DEC).
Kertas-kertas
Newspaper; books ;and office paper
Magazines and junk mail
Corrugated cardboard and kraft paper
Paperboard, milk cartons, and drink boxes
PLASTIC RESIN
(all types may contain trace plasticizers: e.g.
cadmium)
PET # 1 (bottle bill)
HDPE: # 2, LDPE # 4 and Polypropylene # 5
PVC: # 3
Polystyrene: # 6
MIXED # 7
FOOD WASTE
TEXTILE/LEATHER
WOOD (treated/untreated)
GLASS/CERAMICS
Bottles/jars (bottle bill)
Ceramics (broken plates and cups)
METAL- FERROUS
Iron - cans
NON-FERROUS
Aluminum - cans (bottle bill); foil;other
Other non- iron (wire; copper pipe; batteries)
PERCENT TOTAL
TOTAL WEIGHT GENERATED PER HOUSEHOLD
FOR DISPOSAL IN BURN BARRELS

Non-Recycler
(%)
32.8
11.1
7.6
10.3

Avid Recycler
(%)
3.3
61.9

0.6
6.6
0.2
0.1
0.1
5.7
3.7
1.1

10.4
4.5
0.3
0.3
3.7

9.7
0.4

6.9

7.3

4.0

1.7
1.1
100.0
4.9 kg/day

1.0
3.7
100.0
1.5 kg/day

Apa saja hasil pembakaran senyawa organic?


Unruk senyawa hidrokarbon sederhana (hanya mengandung C dan
H) hasil pembakarannya adalah carbon dioxide (CO2) dan uap air (H2O).

37

DAMPAK PEMBAKARAN SAMPAH


Pembakaran sampah di udara terbuka dapat berdampak negatif
terhadap kesehatan, karena gas-gas racun (dioksin dan furan) yang
diproduksi dari pembakaran sampah tersebut.
Pembakaran sampah merupakan kegiatan yang mempunyai
peranan besar dalam pencemaran udara. Proses pembakaran sampah
walaupun skalanya kecil sangat berperan dalam menambah jumlah zat
pencemar di udara terutama debu dan hidrokarbon. Hal penting yang
perlu diperhitungkan dalam emisi pencemaran udara oleh sampah adalah
emisi particulat akibat proses pembakaran, sedangkan emisi dari proses
dekomposisi yang perlu diperhatikan adalah emisi HC dalam bentuk gas
methane. Zat atau gas polutan ini, tidak hanya berbahaya bagi lingkungan
tetapi juga berbahaya langsung terhadap manusia. Polutan yang
dihasilkan akibat pembakaran sampah dapat menyebabkan gangguan
kesehatan, pemicu kanker (karsinogenik).
Pembakaran 1 ton sampah akan menghasilkan sekitar 30 kg gas
CO, gas tersebut jika dihirup akan berikatan sangat kuat dengan
haemoglobin darah sehingga dapat menyebabkan tubuh orang yang
menghirup akan kekurangan O2 dan menimbulkan kematian. Pembakaran
sampah organik juga akan menghasilkan gas methane. Membakar
potongan kayu akan menghasilkan senyawa formaldehyde yang
mengakibatkan kanker. Sampah organik yang masih agak basah seperti
daun, ranting, batang, sisa sayuran atau buah jika dibakar tidak akan
semua terbakar dan akan menghasilkan partikel-partikel padat yang dapat
beterbangan. Satu ton sampah organik akan menghasilkan 9 kg partikel
padat yang mengandung senyawa hidrokarbon berbahaya.
Pembungkus kabel , kulit, pipa pralon jika dibakar akan
menghasilkan gas HCl yang bersifat korosif, dan nilon, busa yang terdapat
dalam matras, sofa dan karpet berbusa jika dibakar akan menghasilkan
gas berbahaya. Jika pembakaran dilakukan pada suhu lebih dari 600 oC
akan menghasilkan HCN. Sebaliknya jika dilakukan pada suhu kurang dari
500oC akan dihasilkan isosianat yang juga sangat berbahaya.
Hasil-hasil penelitian mutakhir menyatakan bahwa pem-bakaran
sampah rumah tangga pada kondisi pembakaran dan suhu yang rendah
dapat menimbulkan gas racun dioksin. Dioksin merupakan bahan kimia
beracun yang bersifat ada terus menerus, terakumulasi secara biologi dan
tersebar di dalam lingkungan dalam konsentrasi yang rendah, juga
termasuk bahan yang bersifat carcinogen yang bisa meningkatkan resiko
terkena kanker terhadap manusia. Efek samping dioksin terhadap manusia
adalah perubahan system hormone, perubahan pertumbuhan janin,
menurunkan kapasitas reproduksi, penekanan terhadap system kekebalan
tubuh, dan perubahan ditingkat pertumbuhan awal dari hormone, serta
pada dosis yang lebih besar bisa mengakibatkan sakit kulit yang serius.
Dioksin mempunyai struktur kimia yang sangat stabil dan bersifat
lipofilik yaitu tidak mudah larut dalam air tetapi mudah larut dalam lemak.
Karena kestabilan strukturnya ini, maka dioksin sangat berbahaya, sebab
tidak mudah rusak atau terurai dan dioksin dapat berada di dalam tanah

38

dan terakumulasi sampai 10-12 tahun. Dioksin bersifat mudah larut dalam
lemak sehingga dapat terakumulasi dalam pangan yang relative tinggi
kadar lemaknya, antara lain dalam daging baik daging sapi maupun
unggas, susu dan berbagai bahan makanan hasil olahan susu, telur dan
bahkan ikan. Senyawa dioksin yang terbuang ke dalam saluran air akan
terbawa ke sungai dan akhirnya ke laut, terus menumpuk karena sukar
terurai, lalu masuk ke dalam tubuh hewan air termasuk ikan, dan terus
menumpuk pada tubuh hewan tersebut sampai akhirnya dimakan oleh
manusia. Ini merupakan salah satu rantai cara masuknya dioksin ke dalam
tubuh manusia disamping melalui udara.
Disamping dioksin, pembakaran sampah di dalam udara terbuka
juga menimbulkan kabut asap yang tebal yang mengandung bahan
lainnya seperti partikel debu yang kecil-kecil yang biasa disebut
particulate matter (PM) berukuran 10 mikron, biasa disebut PM10. Alat
saring pernafasan kita tidak sanggup menyaring PM10 ini, sehingga bisa
masuk kedalam paru-paru kita dan bisa mengakibatkan sakit gangguan
pernafasan (asma dan radang paru-paru), infeksi saluran pernafasan akut
(ISPA), radang selaput lender mata, alergi, iritasi mata dll.
Dioksin dan Furan, dan dampaknya terhadap kesehatan.
Dioksin bersifat ada terus menerus (persistent) dan terakumulasi
secara biologi (bioaccumulated), dan tersebar didalam lingkungan
dalam konsentrasi yang rendah. Tingkat konsentrasinya rendah,
sampai parts per trillion (satu per 10 pangkat 12), terakumulasi
sepanjang kehidupan dan ada terus bertahun tahun, walaupun tidak
ada penambahan lagi kedalam lingkungan. Hal ini bisa
meningkatkan risiko terkena kanker dan efek lainnya terhadap
binatang dan manusia.
Dioksin termasuk kedalam kelas bahan yang bersifat carcinogen
(yang menyebabkan kanker). Efek samping dioksin terhadap binatang
adalah perubahan sistim hormon, perubahan pertumbuhan janin,
menurunkan kapasitas reproduksi, dan penekanan terhadap sistim
kekebalan tubuh. Efek samping dioksin terhadap manusia adalah
perubahan kode keturunan (marker) dari tingkat pertumbuhan awal dari
hormon. Pada dosis yang lebih besar bisa mengakibatkan sakit kulit yang
serius yang disebut `chloracne.'
Dioksin dapat terdeteksi di udara, tanah, lapisan sedimen dan
makanan. Dioksin ditranspor terutama melalui udara dan terkumpul
dipermukaan tanah, bangunan, jalanan, kaki lima, air dan daun daunan.
Kebanyakan dioksin berasal dari produksi sampingan dari suatu
pembakaran.
Dioksin banyak dikeluarkan oleh sumber sumber sbb.:
Tempat pembakaran sampah perumahan (MWC, incinerator)
Pembakaran sampah rumah tangga dipekarangan/udara terbuka
Pemakaian kayu bakar untuk masak

39

Kebakaran hutan
Tempat pembakaran bekas alat alat kedokteran
Peleburan tembaga tahap kedua
Tempat pengeringan semen di pabrik semen (cement kiln)
Pembangkit listrik tenaga batubara
Pemutihan (dengan bahan khlor) bubur kayu dipabrik pembuatan
kertas .

Biasanya manusia ter-expose (terkena) dengan dioksin dari


makanan yang kita makan khususnya dari lemak binatang yang
berhubungan dengan daging sapi, babi, unggas, ikan, susu, dan produk
produk susu. Disamping dioksin dan furan, pembakaran sampah didalam
udara terbuka juga menimbulkan kabut asap yang tebal yang
mengandung bahan bahan lainnya seperti partikel debu yang kecil kecil
yang biasa disebut particulate matter (PM) serta bahan bahan racun
lainnya. Particulate Matter ini bisa berukuran 10 mikron (kira kira sama
dengan rambut kita yang dibelah tujuh), biasa disebut PM10. Alat saring
pernafasan kita tidak sanggup menyaring PM10 ini, sehingga PM10 ini bisa
masuk kedalam paru paru kita dan bisa mengakibatkan sakit gangguan
pernafasan (astma dan paru paru, dlsb.)
Effects on Humans
It has been claimed that humans are far less susceptible to the
effects of dioxin than other animals. Debate on this point, especially
in the USA, has tended to distract from real assessment of the
reasons for the apparent differences.
The effects of dioxins on human populations can not be examined
using the same methods as animal experiments, for reasons that will
be discussed. This absence of proof has led to assertions that
"dioxins never killed anyone"; "dioxins cause only a skin rash in
human beings". Humans are especially variable genetically, and
therefore their sensitivity is likely to vary considerably.
Sumber: http://www.gascape.org/index%20/
Dioxins.html)

Health%20effects%20of%20

Dampak pembakaran sampah : Masalah Umat Manusia


Kita masih banyak melihat pembakaran sampah dipekarangan
rumah rumah tangga setiap hari, dan ini kelihatannya merupakan hal yang
biasa. Apabila kita terbang dengan pesawat udara dari Jakarta kedaerah
lain, ketika pesawat mau naik atau mau mendarat, kita melihat banyak
sekali halaman halaman rumah penduduk membakar sampah mereka.
Bisa kita bayangkan berapa banyak polusi udara yang ditimbulkan setiap
harinya dari hasil pembakaran sampah ini.
Didalam jangka waktu yang pendek, kelihatannya cara cara ini lebih
praktis dan lebih mengirit ketimbang harus menjalankan proses daur
ulang yang panjang. Didalam jangka waktu yang panjang, cara cara
seperti ini sebenarnya lebih merugikan individu yang bersangkutan,

40

komunitas, dan negara secara keseluruhan. Polusi yang kelihatannya


sedikit ini, lama lama menjadi bukit. Polusi ini perlahan lahan akan
membuat sebagian orang yang seharusnya hidup sehat menjadi sakit,
antara lain sakit gangguan pernafasan (astma, paru paru dll.). Orang
orang tersebut yang seharusnya bisa bekerja 8 jam per hari tanpa sakit
sepanjang tahun, bisa bekerja kurang dari 8 jam per hari dan sakit
beberapa hari per tahunnya. Orang tersebut dirugikan karena kehilangan
upah hariannya ditambah harus keluar biaya membayar mantri/dokter dan
membeli obat. Disamping itu, masih ada lagi kerugian lainnya bagi
individu yang sakit itu. Dia kehilangan kenikmatannya dimana dia
seharusnya bisa menikmati hari liburnya (misalnya Sabtu dan Minggu)
bersama anak dan isterinya, karena sakit, harus diam dirumah. Kehilangan
kenikmatan sejenis ini, kalau kita mau, masih bisa digambarkan dalam
bentuk uang. Secara keseluruhan negara juga dirugikan karena
mempunyai rakyat yang sebagian tidak bisa kerja efisien karena sakit.
Ditambah lagi negara harus mengeluarkan biaya tambahan untuk
mengurus dan mengobati rakyat yang sakit gangguan pernafasan. Belum
lagi dihitung biaya pengobatan untuk rakyat yang menderita kanker paru
paru.

Bagaimana mengatasi masalah ini?


Masalah lingkungan sebenarnya bukanlah masalah yang kompleks
kalau kita mau memperhatikannya semenjak dini. Kalau kita ambil contoh
sebuah rumah tangga, masalah lingkungan ini mirip seperti bagaimana
kita merawat rumah tangga kita, lantai disapu dan di pel, yang pakai
karpet lantainya di vakum. Pakaian sehari hari dicuci, mandi tiap pagi dan
sore, sikat gigi. Air ledeng kalau tidak perlu dipakai dimatikan, lampu
listrik kalau tidak dipakai dimatikan. Semua ini kita biasa lakukan dirumah,
dan kalau kita lakukan setiap hari, lama lama menjadi kebiasaan yang
baik. Coba bayangkan kalau kita tidak menjalankan kebiasaan baik ini,
setelah satu tahun, bagaimana keadaan rumah kita, bagaimana dengan
kesehatan kita? Berapa biaya yang kita harus keluarkan untuk
memperbaiki rumah yang rusak dan badan yang sakit? Sekali lagi, ini
hanya sekedar contoh, kami percaya bahwa para pembaca yang budiman
sudah pasti sudah menjalankan ini semua. Sekarang bagaimana dengan
sebuah negara yang terdiri dari kumpulan rumah tangga kita ini. Tentunya
persoalan tidak sesederhana seperti sebuah rumah tangga.
Didalam tulisan ini ada beberapa usulan (yang mungkin sebahagian
sudah dilaksanakan). Untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas
lingkungan kita ada beberapa jalan yang perlu kita jalankan semua secara
simultan.
Jalan jalan tersebut yaitu melalui:
1. Jalur Pendidikan
2. Perundang undangan
3. Pelaksanaan Undang Undang

41

4. Teknologi
1. Jalur Pendidikan
Pendidikan dapat dilakukan didalam jalur informal (didalam rumah
tangga dan tempat tempat ibadah) dan jalur formal melalui sistim sekolah
yang dimulai dari Taman Kanak Kanak sampai dengan Universitas. Melalui
penjelasan penjelasan yang diberikan oleh Kantor Kantor Lingkungan
kepada komunitas setempat. Misalnya penjelasan mengenai akibat dari
gas beracun seperti dioksin, furan, PM10, dll. kepada kesehatan manusia
terutama sakit pernapasan. Berapa besar biaya yang dikeluarkan
pemerintah untuk merawat rakyat yang sakit pernapasan, dan berapa
besar sebuah rumah tangga harus mengeluarkan biaya untuk mengobati
sakit pernapasan. Semenjak kecil anak anak diajarkan dirumahnya
maupun disekolah untuk cinta lingkungan dan sadar lingkungan, melalui
peragaan, film film, dan yang terutama ialah orang tua memberikan
contoh yang baik kepada anak anak didalam rumah tangganya masing
masing.
2. Perundang-undangan
Kelihatannya kita sudah mempunyai undang undang yang cukup
lumayan lengkap. Misalnya Undang Undang Republik Indonesia Nomor 4
Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan
Hidup, Bab III, Pasal 7, Ayat 1 mengatakan "Setiap orang yang
menjalankan suatu bidang usaha wajib memelihara kelestarian
kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk
menunjang pembangunan yang berkesinambungan." Yang dimaksudkan
dengan `bidang usaha' disini tidak harus selalu orang yang menjalankan
usaha industri, sebuah rumah tanggapun bisa dimasukkan kedalam
kategori sebuah usaha rumah tangga. Karena ada orang tua dan anak
anak, usaha rumah tangga adalah usaha untuk menghidupkan rumah
tangga, membesarkan, mendidik, menyekolahkan anak anak dlsb. Untuk
ini semua diperlukan energi, dan hasil pembakaran energi menghasilkan
polusi.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan
Lingkungan Hidup Nomor KEP-02/MENKLH/I/1988 Tanggal 19 Januari 1988,
kita juga sudah mempunyai batasan Baku Mutu Udara Ambien dan Baku
Mutu Udara Emisi. Didalam hal ini baku mutu udara emisi tidak harus
selalu diterapkan kepada industri saja, bisa juga diterapkan kepada
industri rumah tangga. Apabila sebuah rumah tangga memproduksi polusi
dalam jumlah yang kelihatan kecil padahal cukup berarti, maka untuk
ribuan rumah tangga akan menimbulkan polusi yang cukup berarti bagi
lingkungan rumah tangga tersebut.
REGULASI PERSAMPAHAN
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang
Pengelolaan Sampah diundangkan Bulan Mei 2008. UU ini mengatur secara
detail mengenai pengelolaan sampah dan tugas, kewajiban dan kewenangan
pemerintah, pemerintah daerah, swasta dan masyarakat.

42

Tugas, kewajiban, kewenanganan Pemerintah dan Pemda


UU RI Nomor 18 Tahun 2008 menguraikan tugas Pemerintah dan Pemerintah
Daerah (Pasal 6), sebagai berikut:
a. menumbuh-kembangkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat
dalam pengelolaan sampah;
b. melakukan penelitian, pengembangan teknologi pengurangan, dan
penanganan sampah;
c. memfasilitasi,
mengembangkan,
dan
melaksanakan
upaya
pengurangan, penanganan, dan pemanfaatan sampah;
d. melaksanakan pengelolaan sampah dan memfasilitasi penyediaan
prasarana dan sarana pengelolaan sampah;
e. mendorong dan memfasilitasi pengembangan manfaat hasil
pengolahan sampah;
f. memfasilitasi penerapan teknologi spesifik lokal yang berkembang
pada masyarakat setempat untuk mengurangi dan menangani
sampah; dan
g. melakukan koordinasi antarlembaga pemerintah, masyarakat, dan
dunia usaha agar terdapat keterpaduan dalam pengelolaan sampah.
Wewenang Pemerintah Kabupaten/Kota (Pasal 9) adalah :
a. Dalam
menyelenggarakan
pengelolaan
sampah,
pemerintahan
kabupaten/kota mempunyai kewenangan:
(1) menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah
berdasarkan kebijakan nasional dan provinsi;
(2) menyelenggarakan pengelolaan sampah skala kabupaten/kota
sesuai dengan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang
ditetapkan oleh Pemerintah;
(3) melakukan pembinaan dan pengawasan kinerja pengelolaan
sampah yang dilaksanakan oleh pihak lain;
(4) menetapkan lokasi tempat penampungan sementara, tempat
pengolahan sampah terpadu, dan / atau tempat pemrosesan akhir
sampah;
(5) melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala setiap 6
(enam) bulan selama 20 (dua puluh) tahun terhadap tempat
pemrosesan akhir sampah dengan sistem pembuangan terbuka
yang telah ditutup; dan
(6) menyusun dan menyelenggarakan sistem tanggap darurat
pengelolaan sampah sesuai dengan kewenangannya.
b. Penetapan lokasi tempat pengolahan sampah terpadu dan tempat
pemrosesan akhir sampah merupakan bagian dari rencana tata ruang
wilayah kabupaten/kota sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
c. Ketentuan lebih lanjut mengenai pedoman penyusunan sistem tanggap
darurat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f diatur dengan
peraturan menteri.
Pasal 12 UU RI Nomor 18 Tahun 2008 mengatur mengenai kewajiban
Pemerintah Daerah dan masyarakat berkaitan dengan pengelolaan sampah
rumah tangga, adalah sebagai berikut:
a. Setiap orang dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah
sejenis sampah rumah tangga wajib mengurangi dan menangani
sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan.
b. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pelaksanaan kewajiban
pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah

43
rumah tangga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
peraturan daerah.

Pengelolaan Sampah Rumah Tangga


Pasal 19 UU RI Nomor 18 Tahun 2008 mengatur pengelolaan sampah rumah
tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. Pengelolaan sampah
rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga terdiri atas
pengurangan sampah dan penanganan sampah.
Dalam hal pengurangan sampah, disebutkan dalam Pasal 20 sebagai berikut :
a. Pengurangan sampah yang dimaksud dalam Pasal 19 huruf a meliputi
kegiatan: (1) pembatasan timbulan sampah; (2) pendauran ulang
sampah; dan/atau (3) pemanfaatan kembali sampah.
b. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melakukan kegiatan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sebagai berikut: (1) menetapkan
target pengurangan sampah secara bertahap dalam jangka waktu
tertentu; (2) memfasilitasi penerapan teknologi yang ramah
lingkungan; (3) memfasilitasi penerapan label produk yang ramah
lingkungan; (4) memfasilitasi kegiatan mengguna ulang dan mendaur
ulang; (5) memfasilitasi pemasaran produk- produk daur ulang.
c. Pelaku usaha dalam melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) menggunakan bahan produksi yang menimbulkan
sampah sesedikit mungkin, dapat diguna ulang, dapat didaur ulang,
dan/atau mudah diurai oleh proses alam.
d. Masyarakat dalam melakukan kegiatan pengurangan sampah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menggunakan bahan yang dapat
diguna ulang, didaur ulang, dan/atau mudah diurai oleh proses alam.
e. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengurangan sampah sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur dengan
PP.
UU RI Nomor 18 Tahun 2008 juga telah mengatur mengenai reward and
punishment (hadiah dan hukuman) berupa pemberian insentif dan disintensif
sebagaimana diatur dalam pasal Pasal 21 :
a. Pemerintah memberikan: (1) insentif kepada setiap orang yang
melakukan pengurangan sampah; dan (2) isinsentif kepada setiap
orang yang tidak melakukan pengurangan sampah.
b. Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis, bentuk, dan tata cara
pemberian insentif dan disinsentif sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diatur dengan peraturan pemerintah.
Dalam Pasal 22 UU tersebut juga diatur mengenai mengenai penanganan
sampah, yang meliputi :
a. pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah
sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah;
b. pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah
dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat
pengolahan sampah terpadu;
c. pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau
dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat
pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir;
d. pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan
jumlah sampah; dan/atau
e. pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah
dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan
secara aman.

44

3. Teknologi
Dengan menggunakan teknologi yang tepat, masalah degradasi
kualitas lingkungan yang kita hadapi dapat diselesaikan dengan lebih baik.
Tungku masak yang banyak dipakai oleh rumah tangga rumah tangga bisa
di desain supaya polusinya lebih kecil dan panasnya lebih efisien (tidak
terbuang percuma) dan bahan bakarnya dibuat dari coal bricket.
Salah satu cara penanganan sampah domestik secara efisien
adalah dengan membakarnya menggunakan insinerator. Alat
pembakar sampah ini adalah insinerator yang telah disempurnakan
untuk mengatasi kelemahan-kelemahan insinerator sampah
domestik yang telah ada. Insinerator ini dapat beroperasi secara
stabil pada suhu 750-900C dengan proses pembakaran sampah
terdiri atas tiga tahapan, yaitu proses penguapan air, proses
gasifikasi, dan proses pembakaran sampah menjadi abu dengan
efisiensi pembakaran mencapai 99.97% sehingga emisi gas
buangnya
memenuhi
standar
baku
mutu
lingkungan.
(http://www.bic.web.id/in/lain-lain/344-pembakaran-sampah-ramahlingkungan.html).
Boleh percaya boleh tidak, permasalahan sampah di berbagai
tempat, diperkirakan akan semakin mudah teratasi dengan inovasi tungku
pembakar sampah buatan Salikun. Permasalahan sampah di beberapa
perumahan, dengan kepadatan penduduk yang mencapai ribuan, menjadi
semakin mudah ditangani dengan tungku pembakar sampah ini. Padahal,
apabila melihat kondisi sebelumnya, karena belum adanya solusi untuk
pemusnahan sampah yang efisien, sampah terpaksa dibiarkan hingga
menumpuk selama bertahun-tahun. Namun setelah dilakukan penerapan
teknologi pemusnah sampah, tumpukan sampah yang menggunung
musnah oleh tungku yang hanya berukuran sekitar 180 x 180 Cm. Karena
efisiensi dan efektifitas pembakaran yang dilakukan dalam tungku,
timbunan sampah yang selama bertahun-tahun bisa dengan mudah
diatasi. Berlanjut dengan pemusnahan sampah harian yang tentu saja
lebih mudah dilakukan.

45

Tungku pembakar sampah Salikun (http://teknologitpa.blogspot.com/)

Pemusnahan sampah harian, dengan mudah dilakukan dalam waktu


sekejap saja. Bayangkan saja sejak proses awalnya. Sampah yang
dimasukkan dalam tempat sampah, selanjutnya diambil petugas
pemungut sampah dan dilanjutkan ke tempat pembuangan akhir.
Ditempat inilah sampah selanjutnya dibakar habis di dalam tungku Salikun
yang melakukan proses pembakaran tiada henti setiap harinya.Sebelum
dilakukan proses pembakaran, biasanya petugas pemungut memilahmilah sampah. Beberapa sampah yang dinilai masih bisa dimanfaatkan
biasanya diambil kembali. Sementara sisanya, langsung dimasukkan
dalam tungku pembakar sampah. Didalam tungku yang telah berproses
setiap hari, sampah dengan mudah dihancurkan dengan cara dibakar
tanpa menggunakan bahan bakar. Panas tungku yang tetap stabil, dengan
mudah memusnahkan sampah hingga melebur menjadi abu.
Di sisi lain, karena suhu yang tetap terjaga selama berproses,
membuat tungku Salikun dengan mudah melumatkan berbagai jenis
sampah. Tak peduli sampah basah maupun busuk, sampah anorganik, dan
masih banyak jenis lainnya. Menurut Salikun sendiri, sampah keras seperti
botol baik plastik maupun kaca, dengan cepat meleleh. " Bahkan kaleng
sekalipun bisa hancur dengan cepat di dalam tungku. Dengan kata lain,
tungku Salikun adalah solusi untuk mengatasi permasalahan sampah dan
menjadikan
lingkungan
semakin
bersih
dan
bebas
sampah
(http://teknologitpa.blogspot.com/).

46

INCINERATOR RAMAH LINGKUNGAN


Deskripsi
Limbah domestik dan sampah rumahtangga biasanya dibuang di Tempat
Pembuangan Akhir (TPA), dengan teknik landfill terbuka sehingga
memerlukan lahan yang luas serta dampak sosial maupun lingkungan
yang kurang baik, antara lain: bau tak sedap, gas buang hasil
pembakaran, pencemaran alur tanah. Incinerator dimaksud dibawah ini
telah dirancang dengan teknologi yang tepat dan ramah lingkungan.
Dengan dua ruang bakar, wet scrubber dan unit pengolahan air limbah,
semua jenis sampah dapat dibakar tanpa menimbulkan pencemaran
udara dan tanah.
Keunggulan Teknologi
Dengan incinerator ini, jenis sampah tidak perlu dipilah, abu hasil
pembakaran dapat dimanfaatkan sebagai pengisi bahan bangunan,
penggembur tanah, atau dibuang ke landfill, gas-gas Nox, SOx, dll yang
timbul dinetralisir dan ditangkap oleh wet scrubber, sehingga gas hasil
pembakaran yang keluar cerobong memiliki kadar di bawah ambang batas
yang diizinkan oleh pemerintah. dan pemusnahan limbahnya dapat
mencapai hingga 90%. Bahan bakar yang digunakan dapat berupa solar,
minyak
tanah,
minyak
berat,
limbah
minyak
dari
industri.
Tingkat Kesiapan Teknologi
Incinerator ini telah diuji coba dengan berbagai jenis sampah dengan
tingkat kebasahan (kandungan air) mencapai 80%. Dari hasil validasi
tersebut tingkat kesiapan teknologi sudah sampai pada level 6 - 8.
Aplikasi dan Manfaat
Dengan keunggulan teknologi tersebut, incinerator ini sangat membantu
pemerintah dalam mengatasi masalah sampah baik tingkat rumah tangga
maupun nasional.
Target Pengguna
Industri-industri manufaktur dan pemerintah
Kontak : Dr. Ir. Hendro Wicaksono, MSc.Eng / I.G.A Uttariyani, ST
BTMP-BPPT, Komplek Puspiptek Gd. 230 Serpong, Tangerang 15314.
Telp.
(021)
7560539
;
Fax.
(021)
7560538
;
Email:
hendro_w@yahoo.com, hendro@btmp-bppt.net

47

Pembakaran Sampah Meracuni Masyarakat Kita


(Sumber: Dr. Michael Ricos, BSc. Hons, PhD.)

Rios adalah seorang peneliti gen,kanker dan kelahiran cacat,di


lembaga Molekul dan ilmu biologi,pusat kanker Nasional dan rumah
sakit
universitas
nasional
Singapore
dan
Universitas
Adelaide,Australia.
Dioxin adalah salah satu zat beracun,zat kimia yang terbentuk dari
hasil pembakaran sampah komersial atau sampah dari perkotaan. Di Bali
dioxin paling banyak di hasilkan dari pertanian atau sampah rumah
tangga yang dibakar. Pembakaran PVC plastic yang mengandung chlorine
akan menghasilkan dan zat dioxin yang paling berbahaya. Zat Chlorine
yang ada dalam plastik sangat bervariasi,jadi kalau plastic dibakar
chlorine akan terlepas ke udara dan dengan cepat menyatu dengan zat
lainnya dan akan menghasilkan dioxin.
Dioxin dapat bertahan lama,mereka tidak mudah hilang atau hancur
di lingkungan,di Amerika dioxin sedang dibahas dari saat pertama kali zat
ini ditemukan sampai saat ini.Walau semua penghasil dioxin bias
dihentikan,dioxin yang sudah di hasilkan dahulu akan tetap ada di
lingkungan kita untuk beberapa tahun ke depan. Karena dioxin tidak bias
mengurai dioxin tertimbun dalam makhluk hidup(di lingkungan atau di
tubuh kita).Ini artinya tubuh kita menyerap dan menyimpan dioxin.Dan
dengan berjalannya waktu ini akan berpengaruh pada kesehatan kita.
Jika terlepas ke udara dioxin dapat bergerak jauh dan jika di air
mereka dapat diam pada endapan air,lalu akan mengalir ke hilir dan
dimakan oleh ikan. Dioxin di atmosfir diserap oleh tanaman dan dimakan
oleh binatang. Dioxin termasuk dalam rantai makanan jadi binatang lebih
banyak mengandung dioxin dari pada tumbuhan yang mereka makan.
Carnivora seperti kita pengandung dioxin terbanyak karena dioksin
terkandung dalam lemak. 95% dari dioxin yang kita konsumsi dating dari
lemak binatang.
Sebagai bagian dari masyarakat kita telah menimbun dioxin dan
dioxin seperti bahan kimia di tubuh kita selama bertahun tahun, dan
sebagaian dari kita hamper penuh akan dioxin, dan hanya butuh sedikit
saja untuk melewati batas kemampuan kita, maka akan terpiculah efek
negative dari kesehatan. Betapapun kecilnya kandungan dioxin dalam
tubuh kita akan mengakibatkan efek kesehatan yang merugikan, jadi
untuk amannya jangan menghasilkan dioxin.
Para Ilmuwan telah membuktikan bahwa zat dioxin dapat
menyebabkan masalah kesehatan. Beberapa jenis dioxin diketahui dapat
mematikan pada tingkatan rendah : sepersejuta dari satu gram bias
membunuh binatang kecil (kelinci), setelah terinfeksi dengan wabah
tersebut binatang bias mati dalam waktu 2 sampai 6 minggu. Sistem
imunisasi (pada manusia) juga bias rusak terutama pada anak-anak. Di
tingkatan tinggi efek yang cepat yang ditimbulkan termasuk wabah
chloracne (jerawat) penyakit kulit yang cukup keras dengan bintik seperti
luka yang terjadi terutama pada wajah dan tubuh bagian atas , pada kulit

48

lainnya, perubahan warna kulit, bulu pada tubuh yang berlebihan, dan
kerusakan organ tubuh lainnya seperti,ginjal dan saluran pencernaan.
Masalah kesehatan terbesar yang dapat disebabkan oleh dioksin
adalah menyebabkan kanker pada orang dewasa. Pekerja yang membakar
sampah terkena dioksin dalam tingkat tinggi di tempat mereka bekerja
selama bertahun tahun mempunyai resiko tinggi terkena kanker.
Tetapi masalahnya kanker yang disebabkan oleh dioksin ini baru
akan muncul setelah 20 tahun.
Dalam hal dioxin terdapat dalam tali plasenta, sekalipun dalam
jumlah yang kecil selama masa kehamilan menyebabkan atau
menimbulkan efek seperti keguguran, kemandulan, dan juga kelahiran
cacat seperti cacat pada anggota tubuh, kerusakan saraf dan perubahan
pada system kekebalan tubuh. Anak dari seorang ibu jepang atau Taiwan
yang mengkonsumsi minyak goring yang telah terkontaminasi oleh zat
dioxin mengalami kerusakan fisik saat lahir dan menunjukan kepintaran
yang memprihatinkan pada saat belajar nanti.Anak-anak itu telah teracuni
sebelum mereka lahir, karena ibu mereka mengkonsumsi miyak goring
yang telah terkontaminasi itu!kalau seorang ibu memakan miyak goreng
yang terkontaminasi seperti itu masih akan ada pengaruh selama 6 tahun
kemudian, anak-anak tersebut akan lebih kecil dari ukuran normal(200250 gr lebih ringan). Kulit dan kuku mereka lebih kotor, gigi dan gusi
mereka tidak normal, banyak dari mereka IQ nya rendah, tumpul dan tidak
acuh, serta memiliki ingatan yang jelek. Mereka juga menunjukan
gampang terinfeksi.
Masalah juga timbul pada pihak ayah di mana terjadi perubahan
pada kondisi sperma dimana jumlah sperma berkurang. Kelahiran cacat
ditemukan pada anan-anak veteran Vietnam, Terutama pada daerah
dimana tentara Amerika menggunakan Agen Orange (salah satu
herbisida) dimana agent orange ini digunakan oleh tentara Amerika
selama masa perang Vietnam. Dioxin menyebabkan kelainan pada otak,
Hati, organ organ genetic dan gangguan saluran kencing termasuk
dinding dindingnya, organ organ kaki , dan organ tangan serta
meningkatnya resiko spina bifida, kanker bawaan, meningkatnya sakit
jantung, dan meningkatnya anak-anak ediot. Menurunnya tingkat
kematian bayi sejaka 1966-1970 berhubungan dengan turunnya tingkat
dioksin. Di Vietnam ada 30 % kematian anak sebelum umur satu tahun di
desa dimana pernah di semprotkan agent orange.
Menghindari makanan yang mengandung partikel dioksin tidaklah
begitu membantu karena sekali dioksin ada pada ekosistem mereka akan
berada dimana-mana. Bagaimanapun, menurunkan kadar lemak dengan
tidak memakan daging akan sangat membantu. Untuk ikan , unggas dan
babi kamu bias mengurangi lemaknya dengan tidak mengkonsumsi
kulitnya itu akan menurunkan resiko terkena dioksin. Sebaiknya kamu
tidak makan ikan dari sungai, pantai, dan danau dimana daerah itu sudah
terkontaminasi . Sejauh ini strategi yang terbaik untuk menghindari
makanan kamu terkontaminasi adalah dengan tidak memproduksi dioksin

49

dan kamu bias melakukan ini dengan tidak membakar sampah rumah
tangga kamu.
Di Amerika, Eropa dan Australia hokum baru telah dikembangkan di
masyarakat untuk mengurangi zat dioksin di lingkungan dan
meningkatnya keamanan untuk semua orang tapi sayangnya masalah
dioksin masih saja ada di negara-negara berkembang seprti Indonesia. Di
dunia pembakaran sampah dan limbah pertanian adalah sumber terbesar
untuk terkontaminasi lingkungan oleh dioksin.
Pemerintah bertanggungjawab atas keselamatan warga /
masyarakatnya.
Cara terbaik untuk memecahkan masalah ini adalah memberikan
pendidikan kepada masyarakat tentang bagaimana agar mereka tidak
memproduksi dioksin.
Beberapa Usulan :
1. Bentuklah kelompok untuk membersihkan dioksin dari daerah
kalian. Buatlah daftar nama untuk orang yang berkepentingan ,
jelaskan masalahnya kepada mereka dan minta dukungan dari
pemerintah setempat seperti kepala desa atau kelian banjar.
2. Ajari kelompok anda tentang dioksin dan pembakaran sampah,
berikan satu copy informasi ini kepada mereka dan jelaskan
kepada mereka apa resikonya dan juga jelaskan bahwa kitalah
yang bertanggungjawab atas adanya dioksin. Katakan pada
mereka berhenti memproduksi dioksin, kita harus berhenti
membakar sampah buanglah sampah di tempat pembuangan
sampah yang telah di sediakan oleh pemerintah, jangan
membuang sampah di sungai dan jangan dibakar.
3. Buatlah pertemuan rutin dan pastikan mereka mengerti dengan
apa yang harus mereka lakukan. Dan masyarakat jangan malu
untuk bertanya. Semuanya harus mengerti bahwa ini
memerlukan komitmen yang besar dan perlu dukungan yang
aktif dari seluruh lapisan masyarakat.
4. Bicarakan pada setiap orang di desa kamu, sebarkan pesan
tentang dioksin.Pastikan semua petani dan pabrik di desa kamu
mengerti, mereka harus tetap menjaga desa agar tetap aman.
5. Buatlah target tanggal dan waktu dimana seluruh masyarakat
harus tahu tentang masalah ini dan apa yang harus dilakukan.
6. Beritahu kepada pecalang banjar kalau mereka melihat orang
yang membakar sampah tolong hentikan mereka dan ingatkan
mereka tentang resikonya terhadap kesehatan mereka.
7. Pemerintah harus kuat dan waspada. Mempunyai program yang
berkelanjutan untuk mencari tahu dimana sumber dari dioksin di
daerahmu, terutama membakar sampah tetapi limbah garmen
dan pestisida yang terbuat dari klorin ikut berperan
meningkatkan jumlah dioksin di daerah anda.
8. Tanyakan GUS untuk informasi lebih lanjut. Kami akan menjawab
pertanyaan anda dan membantu anda untuk menyetop
penyebrangan dioksin di daerah anda.

50

9. Membulatkan tekat. Hal ini adalah pekerjaan besar dan panjang,


harus dimulai dengan langkah-langkah kecil. Ingatlah apa yang
akan kamu menangkan jika kamu dapat mengurangi dioksin.
Mengurangi kanker mengurangi penyakit, mengurangi kelahiran
CACAT, dan orang-orang akan memiliki anak-anak yang sehat.

Bahaya Pembakaran Sampah

Pembakaran yang bersih hanya dapat dilakukan dalam api panas


dan suplai oksigen yang cukup. Padahal, pada pembakaran sampah yang
umum dilakukan yakni sampah dalam tumpukan hanya bagian luar yang
mendapat cukup oksigen untuk menghasilkan CO2. Sementara bagian
dalam, karena kekurangan suplai O2 akan menghasilkan karbonmonoksida
(CO). Satu ton sampah, akan mengahsilkan sekitar 30 kg CO. CO adalah
gas yang mampu membunuh orang secara massal. Bila dihirup, gas ini
akan berikatan sangat kuat dengan hemoglobin darah. Akibanya,
hemoglobin yang semestinya mengangkut dan mengedarkan oksigen ke
seluruh tubuh akan terganggu. Tubuh akan kekurangan O2 dan
menimbulkan kematian.
Masalah lainnya yang melekat pada sampah padat organik adalah
kelembabannya. Sampah basah mengakibatkan partikel-partikel yang tak
terbakar beterbangan juga berakibat terjadi reaksi yang menghasilkan
hidrokarbon berbahaya. Partikel-partikel yang tak terbakar akan terlihat
sebagai awan dalam asap. Dari 1 ton sampah kira-kira dihasilkan 9 kg
artikel padat yang tak terbakar berupa asap cokelat. Sebagian partikel
akan terhisap masuk paru-paru, karena mekanisme penyaringan dalam
hidung kita tak mampu menyaringnya. Hidrokarbon berbahaya, senyawa
penyebab iritasi seperti asam cuka, serta senyawa penyebab kanker
seperti benzopirena, juga mungkin dihasilkan. Suatu studi menyimpulkan,
asap dari pembakaran sampah mengandung benzopirena 350 kali lebih
besar dari asap rokok. Telah kita kenal dengan baik, perokok pasif pun
dapat berisiko kanker gara-gara asap rokok orang-orang di sekitarnya.
Lebih berbahaya kalau Anda menderita asma, infeksi paru-paru, atau
bronkitis kronis. Anak-anak akan lebih menderita lagi, karena mereka
menghirup jumlah udara per satuan berat badannya lebih besar dari pada
orang dewasa dan juga karena perbedaan struktur paru-parunya.
Hal yang lebih parah, apabila sampah organik bercampur dengan
bahan-bahan sintetis. PVC dalam pembungkus kabel, kulit sintetis dan
lantai vinil misalnya, mengandung senyawa berbahaya yang mengandung
klor. Pembakaran bahan tersebut akan menghasilkan gas HCL yang
korosif. Celakanya, pembakaran dengan suhu kurang dari 1.100 derajat
Celcius, pun akan menghasilkan dioksin zat sebagai racun tumbuhan
(herbisida). Selain itu, mungkin pula dihasilkan fosgen, yang dikenal
sebagai racun yang digunakan pada Perang Dunia I. Tercatat 75 racun lain
yang telah dikenal dalam hasil pembakaran sampah yang mengandung
klor.
Bahan sintetis yang mengandung nitrogen akan menghasilkan senyawa
berbahaya lain. Nitrogen terdapat dalam bahan sintetis seperti nilon, dan busa
poliuretan seperti yang terdapat dalam matras, sofa, dan karpet berbusa. Pada

51
pembakaran di atas 600 derajat Celcius, bahan sintetis yang mengandung
nitrogen ini akan menghasilkan HCN, suatu gas sangat beracun. Sebaliknya,
pembakaran sampah basah pada suhu kurang dari 600 derajat Celcius pun akan
dihasilkan isosianat. Senyawa ini terkenal karena menyebabkan kecelakaan
mengenaskan di Bhopal beberapa tahun silam. Membakar potongan kayu dapat
membahayakan, karena akan menghasilkan senyawa yang mengakibatkan
kanker, formaldehida. Sementara, melamin dapat menghasilkan formaldehida bila
dibakar dengan suplai oksigen banyak, atau menghasilkan HCN (bila suplai
oksigen kurang). Untuk mengurangi polusi udara, mungkin kita perlu memilahmilah sampah yang akan dibakar, atau seminimal mungkin membakarnya.
(Sumber: Dr. Ismunandar, Chemistry Departement ITB, Bandung /Intisari).

Sumber: http://polusiudara.wordpress.com/tag/pembakaran-sampah/

Ada beberapa alasan, mengapa kita tidak boleh membakar sampah :


1. Biasanya orang membakar sampah asal-asalan, sehingga suplai oksigen
untuk menghasilkan CO2 hanya ada pada permukaan tumpukan sampah
saja. Sementara itu bagian dalam, karena kekurangan suplai O2 maka
akan menghasilkan karbonmonoksida. Asap karbon monoksida mampu
membunuh orang karena bila terhirup karena menggangu fungsi kerja
hemoglobin yang semestinya mengangkut dan mengedarkan oksigen ke
seluruh tubuh. Tubuh akan kekurangan O2 dan menimbulkan
kematian(CO). Untuk perbandingan ; Satu ton sampah, yang dibakar akan
berpotensi menghasilkan sekitar 30 kg CO.
2. Sampah yang bercampur plastik jika terbakar asapnya menghasilkan
senyawa kimia Dioksin, senyawa zat yang bisa digunakan sebagai racun
tumbuhan (herbisida). Selain itu, mungkin pula dihasilkan fosgen yang
pernah dipakai sebagai racun pembunuh pada Perang Dunia I. Tercatat 75
racun lain yang diketahui ada dalam hasil pembakaran sampah yang
mengandung klor.
3. Asap dari pembakaran sampah mengandung benzopirena 350 kali,
ditengarai sebagai biang keladi penyebab kanker dan hidrokarbon
berbahaya senyawa penyebab iritasi seperti asam cuka
4. Bahkan membakar kayu juga berbahaya karena akan menghasilkan
senyawa yang mengakibatkan kanker. Sementara melamin dapat

52
menghasilkan formaldehida bila dibakar dengan suplai oksigen banyak,
atau menghasilkan HCN (bila suplai oksigen kurang)
(Sumber:
http://ariatypoenya.blogspot.com/2011/07/dampak-membakar-sampahbagi-bumi-kita.html).

Membakar sampah di halaman belakang rumah


(Sumber: http://ariatypoenya.blogspot.com/2011/07/dampak-membakar-sampah-bagi-bumi-kita.html)
Laporan dari U.S. Environmental Protection Agency (US-EPA) dan Departemen
Kesehatan Negara Bagian New York mengatakan bahwa pembakaran sampah
rumah tangga di dalam pekarangan adalah salah satu sumber polusi yang paling
parah di Amerika. Dari hasil penelititan yang intensif dalam beberapa tahun terakhir
ini dikatakan bahwa pembakaran sampah rumah tangga pada kondisi pembakaran
dan suhu yang rendah dapat menimbulkan gas racun dioksin dan furan.

Dioksin adalah istilah yang umum dipakai untuk salah satu keluarga
bahan kimia beracun yang mempunyai struktur kimia yang mirip serta
mekanisma peracunan yang sama. Keluarga bahan kimia beracun ini
termasuk (a) Tujuh Polychlorinated Dibenzo Dioxins (PCDD); (b) Duabelas
Polychlorinated Dibenzo Furans (PCDF); dan (c) Dua belas Polychlorinated
Biphenyls (PCB). PCDD dan PCDF bukanlah produk kimia yang
dikomersilkan, tetapi produk sampingan yang secara tidak sengaja terjadi
di dalam banyak proses pembakaran dan beberapa proses industri kimia.
Dioksin bersifat ada terus-menerus (persistent) dan terakumulasi secara
biologi (bioaccumulated), dan tersebar di dalam lingkungan dalam
konsentrasi yang rendah. Tingkat konsentrasinya rendah, sampai parts per
trillion (satu per 10 pangkat 12), terakumulasi sepanjang kehidupan dan
ada terus-menerus, walaupun tidak ada penambahan lagi ke dalam
lingkungan. Hal ini dapat meningkatkan risiko terkena kanker dan efek
lainnya terhadap binatang dan manusia.

Dioxins: What are they?

Dioxins are a group of more than 200 chemicals with a similar structure
but varying levels of toxicity, including polychlorinated biphenyls (PCBs),

53
polychlorinated dibenzo dioxins (PCDDs), and polychlorinated dibenzo
furans (PCDFs). Dioxins are found just about everywhere - they are
present in the atmosphere, soil, rivers and the food chain. They occur
naturally as a result of incomplete burning of organic materials during
natural events such as volcanoes and forest fires. But they are also
produced during many man-made events which involve combustion such
as waste incineration and in chemical and fertiliser manufacturing plants.
They may, for example, be produced during chlorine-based bleaching
processes in paper mills, or during the manufacture of herbicides. They
are also found in low levels in cigarette smoke and vehicle exhaust fumes.
The introduction of a new chlorine production technique in 1900 meant
that they became more widespread. However, in recent years
manufacturing and environmental controls have reduced the production
of dioxins, and the main source now is the burning of fossil fuels and
incineration processes. But because of their potential toxicity, exposure
even at low levels, remains a concern.
In living organisms, toxic chemicals are often taken up and stored by fat.
This means they can persist in the food chain through a process called
bioaccumulation. They are mainly found in meat and dairy produce, but
are also found in poultry, fish and on unwashed fruit and vegetables:
Fish accumulate dioxins through exposure to water - dioxins are
repelled by the water and attach themselves to the fatty fish.
Unless - as was the case in Belgium - feed becomes contaminated,
animals are usually exposed to dioxins in the air settling on their food.
They accumulate in the fatty tissue of animals, and the longer that
animal lives, the greater the build up.
Dioxins in the air also land on fruit and vegetables, but washing can
get rid of these - they are not absorbed into the plant itself.
(Sumber:
http://www.bbc.co.uk/health/physical_health/conditions/dioxins.shtml

PCB dengan sengaja diproduksi secara komersil dalam jumlah besar


sampai produksi tersebut dilarang di tahun 1977. Di Amerika Serikat,
tingkat dioksin sudah menurun terus sejak awal tahun 1970-an sebagai
akibat dari aksi aksi pembersihan serta peraturan dari negara bagian dan
pusat. Meskipun begitu, tingkat dioksin yang ada sekarang masih harus
tetap menjadi perhatian.
Dioksin bersifat ada terus-menerus (persistent) dan terakumulasi
secara biologi (bioaccumulated), dan tersebar di dalam lingkungan dalam
konsentrasi yang rendah. Tingkat konsentrasinya rendah, sampai parts per
trilyun (satu per 10 pangkat 12), terakumulasi sepanjang kehidupan dan
ada terus bertahun tahun, walaupun tidak ada penambahan lagi ke dalam
lingkungan.
Hal ini bisa meningkatkan risiko terkena kanker dan efek lainnya
terhadap binatang dan manusia. Dioksin termasuk ke dalam kelas bahan
yang bersifat carcinogen (yang menyebabkan kanker). Efek samping
dioksin terhadap binatang adalah perubahan sistem hormon, perubahan
pertumbuhan janin, menurunkan kapasitas reproduksi, dan penekanan
terhadap sistim kekebalan tubuh. Efek samping dioksin terhadap manusia

54

adalah perubahan kode keturunan (marker) dari tingkat pertumbuhan


awal dari hormon. Pada dosis yang lebih besar bisa mengakibatkan sakit
kulit yang serius yang disebut chloracne.
What are the Dioxin risks?
Environmental campaign groups describe dioxins as among the most
dangerous toxins known. Scientists are working to establish their exact
toxicity, but a draft report from the US Environmental Protection Agency
indicates dioxins are considered a serious threat to public health.
The health risks depend on several factors, including the level of exposure
and the particular form of dioxin. For most people, levels in the general
environment are not high enough to cause an immediate reaction but over
a longer period, potential risks to health include:
Damage to the immune and reproductive system (with lowering of the
sperm count).
An increased incidence of diabetes.
A significant increase in the risk of cancer.
Exposure to high concentrations of especially toxic dioxins can cause an
acne-like condition known as chloracne which mainly affects the face and
upper body, which may last several years after exposure. Chloracne is
difficult to cure and can be disfiguring. Other problems include:
Discolouration of the skin.
Rashes and redness.
Vomiting.
Diarrhoea.
Lung infections.
Damage to the nervous systems.
Most concerns now lie with the potential of dioxins to cause cancer. A peerreviewed study of the population of Seveso (where an explosion in a
chemical manufacturing plant in 1976 liberated large quantities of dioxins
into the environment) found that, in the ten years following the accident
both men and women more likely to have cancer, especially of the blood
and lymph tissue, as well as breast cancer.
In 1997, a World Health Organisation group declared the most toxic dioxin
(2,3,7,8-tetrachlorodibenzo-p-dioxin, or TCDD) a class 1 carcinogen,
meaning it causes cancer in humans.
Also of concern is the effect dioxins can have on unborn children and
infants, as they can be passed through the placenta or carried in breast
milk although the World Health Organisation emphasise that the benefits
of breast feeding far outweigh any risks to the baby and child.
(Sumber:
http://www.bbc.co.uk/health/physical_health/conditions/dioxins.shtml

Dioksin dapat terdeteksi di udara, tanah, lapisan sedimen dan


makanan. Dioksin ditranspor terutama melalui udara dan terkumpul di
permukaan tanah, bangunan, jalanan, kaki lima, air dan daun daunan.
Kebanyakan dioksin berasal dari produksi sampingan dari suatu

55

pembakaran. Dioksin banyak dikeluarkan oleh sumber-sumber sebagai


berikut:
*
*
*
*
*
*
*
*
*

Tempat pembakaran sampah perumahan (MWC, incinerator)


Pembakaran sampah rumah tangga dipekarangan/udara terbuka
Pemakaian kayu bakar untuk masak
Kebakaran hutan
Tempat pembakaran bekas alat alat kedokteran
Peleburan tembaga tahap kedua
Tempat pengeringan semen di pabrik semen (cement kiln)
Pembangkit listrik tenaga batubara
Pemutihan (dengan khlor) bubur kayu dipabrik pembuatan kertas

Manusia dapat terkena dioksin dari makanan yang dimakan


khususnya dari lemak binatang yang berhubungan dengan daging sapi,
babi, unggas, ikan, susu, dan produk produk susu. Di samping dioksin dan
furan, pembakaran sampah didalam udara terbuka juga menimbulkan
kabut asap yang tebal yang mengandung bahan bahan lainnya seperti
partikel debu yang kecil kecil yang biasa disebut particulate matter (PM)
serta bahan bahan racun lainnya. Particulate Matter ini bisa berukuran 10
mikron (kira kira sama dengan rambut kita yang dibelah tujuh), biasa
disebut PM10. Alat saring pernapasan kita tidak sanggup menyaring PM10
ini, sehingga PM10 ini bisa masuk ke dalam paru-paru kita dan bisa
mengakibatkan sakit gangguan pernapasan (astma dan paru paru).
Pembakaran sampah di pekarangan rumah masih banyak dilakukan
setiap hari, dan ini kelihatannya merupakan hal yang biasa. Apabila kita
terbang dengan pesawat udara dari Jakarta ke daerah lain, ketika pesawat
mau naik atau mau mendarat, kita melihat banyak sekali halamanhalaman rumah penduduk membakar sampah mereka. Bisa kita
bayangkan berapa banyak polusi udara yang ditimbulkan setiap harinya
dari hasil pembakaran sampah ini.
Dalam jangka waktu yang pendek, kelihatannya cara-cara ini lebih
praktis dan lebih mengirit ketimbang harus menjalankan proses daur
ulang yang panjang. Di dalam jangka waktu yang panjang, cara-cara
seperti ini sebenarnya lebih merugikan individu yang bersangkutan,
komunitas, dan negara secara keseluruhan. Polusi yang kelihatannya
sedikit ini, lama lama menjadi bukit. Polusi ini perlahan lahan akan
membuat sebagian orang yang seharusnya hidup sehat menjadi sakit,
antara lain sakit gangguan pernapasan (astma dan paru paru). Orangorang tersebut yang seharusnya bisa bekerja 8 jam per hari tanpa sakit
sepanjang tahun, bisa bekerja kurang dari 8 jam per hari dan sakit
beberapa hari per tahunnya.
Kehilangan sejenis ini, kalau kita mau, masih bisa digambarkan
dalam bentuk uang. Secara keseluruhan negara juga dirugikan karena
mempunyai rakyat yang sebagian tidak bisa kerja efisien karena sakit.
Ditambah lagi negara harus mengeluarkan biaya tambahan untuk
mengurus dan mengobati rakyat yang sakit gangguan pernapasan. Belum
lagi dihitung biaya pengobatan untuk rakyat yang menderita kanker paru
paru.

56

Secara sederhana (tanpa perhitungan ekonomi yang detail), lebih


banyak ruginya ketimbang untungnya. Sekadar sebagai informasi
tambahan, penyakit paru-paru adalah penyakit penyebab kematian nomor
tiga di Amerika Serikat dengan total penduduk sekitar 280 juta jiwa, dan
setiap tahun ada sekitar 335.000 orang meninggal karena sakit paru paru
dan ada sekitar 30 juta orang yang menderita sakit paru-paru kronis.

STOP PEMBAKARAN SAMPAH !!!!


Sampah basah mengakibatkan partikel-partikel yang
terbakar
beterbangan juga berakibat terjadi reaksi yang menghasilkan
hidrokarbon berbahaya. Partikel-partikel yang tak terbakar akan
terlihat sebagai awan dalam asap. Dari 1 ton sampah kira-kira
dihasilkan 9 kg artikel padat yang tak terbakar berupa asap cokelat.
Sebagian partikel akan terhisap masuk paru-paru, karena mekanisme
penyaringan dalam hidung kita tak mampu menyaringnya.
Hidrokarbon berbahaya, senyawa penyebab iritasi seperti asam cuka,
serta senyawa penyebab kanker seperti benzopirena, juga mungkin
dihasilkan. Suatu studi menyimpulkan, asap dari pembakaran sampah
mengandung benzopirena 350 kali lebih besar dari asap rokok. Telah
kita kenal dengan baik, perokok pasif pun dapat berisiko kanker garagara asap rokok orang-orang di sekitarnya. Lebih berbahaya kalau
Anda menderita asma, infeksi paru-paru, atau bronkitis kronis. Anakanak akan lebih menderita lagi, karena mereka menghirup jumlah
udara per satuan berat badannya lebih besar dari pada orang dewasa
dan juga karena perbedaan struktur paru-parunya.
Hal yang lebih parah, bila sampah organik bercampur dengan bahanbahan sintetis. PVC dalam pembungkus kabel, kulit sintetis dan lantai
vinil misalnya, mengandung senyawa berbahaya yang mengandung
klor. Pembakaran bahan tersebut akan menghasilkan gas HCL yang
korosif. Celakanya, pembakaran dengan suhu kurang dari 1.100
derajat Celcius, pun akan menghasilkan dioksin zat sebagai racun
tumbuhan (herbisida). Selain itu, mungkin pula dihasilkan fosgen,
yang dikenal sebagai racun yang digunakan pada Perang Dunia I.
Tercatat 75 racun lain yang telah dikenal dalam hasil pembakaran
sampah yang mengandung klor.
Bahan sintetis yang mengandung nitrogen akan menghasilkan
senyawa berbahaya lain. Nitrogen terdapat dalam bahan sintetis
seperti nilon, dan busa poliuretan seperti yang terdapat dalam matras,
sofa, dan karpet berbusa. Pada pembakaran di atas 600oC, bahan
sintetis yang mengandung nitrogen ini akan menghasilkan HCN, suatu
gas sangat beracun. Sebaliknya, pembakaran sampah basah pada
suhu kurang dari 600oC akan dihasilkan isosianat.
A hydrogen cyanide concentration of 300 mg/m3 in air will kill a human
within about 10 minutes. A hydrogen cyanide concentration of 3500 ppm

57
(about 3200 mg/m3) will kill a human in about 1 minute. The toxicity is
caused by the cyanide ion, which halts cellular respiration by inhibiting
an enzyme in mitochondria called cytochrome c oxidase. Hydrogen
cyanide absorbed into a carrier for use as a pesticide (under IG Farben's
brand name Cyclone B, or in German Zyklon B, with the B standing for
Blausure) was employed by Nazi Germany in the mid-20th century in
extermination camps. The same product is currently made in the Czech
Republic under the trademark "Uragan D2." Hydrogen cyanide is also the
agent used in gas chambers employed in judicial execution in some U.S.
states, where it is produced during the execution by the action of sulfuric
acid on an egg-sized mass of potassium cyanide. Hydrogen cyanide is
commonly listed amongst chemical warfare agents known as blood
agents. As a substance listed under Schedule 3 of the Chemical Weapons
Convention as a potential weapon which has large-scale industrial uses,
manufacturing plants in signatory countries which produce more than 30
tonnes per year must be declared to, and can be inspected by, the
Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons. Under the name
prussic acid, HCN has been used as a killing agent in whaling harpoons.
Hydrogen cyanide gas in air is explosive at concentrations over 5.6%,
equivalent to 56000 ppm (http://en.wikipedia.org/wiki/Hydrogen_cyanide).

Hasil penelitian dari Badan Perlindungan Lingkungan Amerika


menyatakan bahwa, asap api terbuka, terutama dari pembakaran
sampah, mengandung substansi penyebab kangker 350 kali lebih
besar daripada asap rokok. Pada kondisi itu, partikel partikel racun
telah diproduksi dan disebarkan ke atmosphere yang lalu kemudian
dihirup secara terus menerus oleh manusia dan binatang dan juga
diendapkan kedalam tanah dan tanaman-tanaman, termasuk sumber
air minum , tanah persawahan dan ladang- lalu kemudian partikel
beracun ini memasuki rantai makanan.
Apa artinya hal ini bagi kehidupan nyata? Apakah hal ini
mempengaruhi kesehatan tubuh kita? Apakah partikel beracun yang
dilepaskan melalui pembakaran sampah dapat menyebabkan
kerusakan paru-paru, system saraf, ginjal dan liver yang mengancam
kehidupan? Racun dari pembakaran sampah dapat menyebabkan
penyakit kronis seperti bronchitis, emphysema dan kanker. Pada orang
dewasa, akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk menunjukan
efek bahaya racun ini, anak anak beresiko lebih besar karena ukurang
tubuh mereka lebih kecil, yang artinya mereka dapat menyerap racun
dengan dosis yang lebih tinggi pada setiap nafas yang mereka hirup.
Semua pembakaran plastik, kayu, berbagai macam kertas, busa
furniture dan lain sebagainya. Pembakaran sampah plastik, terlebih
lagi, sangat membahayakan. Dimulai dari bentuk plastik yang paling
dasar seperti pembungkus makanan, pembungkus kosmetik dan obat,
pada mainan anak anak dan banyak lagi yang bahkan kita tidak
sadari. Plastik-plastik ini, ketika dibakar dapat membebaskan artikel
karbon monoksida, dioksin dan klorin. Semua ini merupakan partikel
beracun yang mempunyai potensi tinggi menyebabkan kanker.
Polutan yang disebabkan dari pembakaran sampah dapat juga

58

dihubungkan dengan penyakit jantung dan gangguan saluran


pernafasan, kerusakan ginjal dan hati, bronchitis, asma, serangan
jantung dan juga kerusakan otak.
Kita mengetahui bahaya dari pembakaran sampah, harus mencari
jalan terbaik untuk menginformasikan kepada publik, jangan dibiarkan
informasi tentang bahaya yang mengancam kesehatan ini mengendap
di kegelapan. Jika anda melihat seseorang yang membakar sampah,
sampaikan informasi ini. Jangan hanya menggerutu dan berlalu.
Sampah yang akan dibakar harus dipilah-pilah untuk mengurangi
dampak polusi udara, atau seminimal mungkin membakarnya.

BAHAN BACAAN
Andrussow, L. 1935. "The catalytic oxydation of ammonia-methanemixtures to hydrogen cyanide". Angewandte Chemie 48: 593595.
doi:10.1002/ange.19350483702.
Aregheore E. M. dan O.O. Agunbiade. 1991. "The toxic effects of cassava
(manihot esculenta grantz) diets on humans: a review.". Vet. Hum.
Toxicol. 33 (3): 274275. PMID 1650055.
Basriyanta, 2007. Memanen Sampah , Kanisius, Yogyakata.
Blum, M.S., dan J. P. Woodring. 1962. "Secretion of Benzaldehyde and
Hydrogen Cyanide by the Millipede Pachydesmus crassicutis
(Wood)".
Science
138
(3539):
512513.
doi:10.1126/science.138.3539.512. PMID 17753947.
Boger, G. I. and A.Sternberg. 2005. "CN and HCN in Dense Interstellar
Clouds".
Astrophysical
Journal
632:
302.
Bibcode
2005ApJ...632..302B. doi:10.1086/432864.
Borman, Gary L., Ragland, Kenneth W., 1998. Combustion Engineering,
McGraw-Hill Book Co., Singapore
Brian T. Newbold. 1999. "Claude Louis Berthollet: A Great Chemist in +he
french
Tradition.".
Canadian
Chemical
News.
http://www.allbusiness.com/north-america/canada/370855-1.html.
Retrieved 2010-03-31.
Departemen Pekerjaan Umum, 2005. Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengelolaan Bidang Persampahan, Departemen Pekerjaan Umum,
Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum, 2006. Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengelolaan Persampahan Di Indonesia. Departemen Pekerjaan
Umum, Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum, 2008. Perencanaan Teknis Pengelolaan
Sampah Terpadu 3R, Departemen Pekerjaan Umun Kota Semarang.
Ernst Gail, Stephen Gos, Rupprecht Kulzer, Jrgen Lorsch, Andreas Rubo,
Manfred Sauer. 2004. "Cyano Compounds, Inorganic". Ullmann's

59

Encyclopedia of Industrial Chemistry. Verlag, Weinheim: Wiley-VCH.


doi:10.1002/14356007.a08+159.pub2.
Gao, Y. and P.M. Solomon. 2004. "HCN Survey of Normal Spiral, Infrared
luminous, and Ultraluminous Galaxies". Astrophysical Journal
Supplements
152:
63.
Bibcode
2004ApJS..152...63G.
doi:10.1086/383003.
Gary R. Maxwell. 2004. Synthetic Nitrogen Products: A Practical Guide to
the Products and Processes, Kluwer Academic Plenum Publishers,
p. 348
Gelbert M, Prihanto D, dan Suprihatin A, 1996. Konsep Pendidikan
Lingkungan Hidup dan Wall Chart . Buku Panduan Pendidikan
Lingkungan Hidup, PPPGT/VEDC, Malang.
Ginting, perdana,2007. Sistem Pengelolaan Lingkungan dan Limbah.
Yrama Widya, Bandung.
Jones, D.A. 1998. "Why are so many food plants cyanogenic?".
Phytochemistry
47
(2):
155162.
doi:10.1016/S00319422(97)00425-1. PMID 9431670.
Li Xiaodong Yan Jianhua Chi Yong Ni Mingjiang Cen Kefa. 2002.
Development of Municipal Solid Waste Incineration Technologies.
Better Air Quality in Asian and Pacific Rim Cities (BAQ 2002). 16 Dec
2002 18 Dec 2002, Hong Kong SAR
Matthews, C. N. 2004. "The HCN World: Establishing Protein-Nucleic
Augucid Life via Hydrogen Cyanide Polymers" Cellular Origin and
Life in Extreme Habitats and Astrobiology (2004), 6 (Origins :
Genesis, Evoluation and Diversity of Life), 121-135.
Ni Made Sunarti, 2003. Upaya Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Untuk
Mewujudkan Kebersihan Lingkungan di Kota Denpasar. Jurnal Ilmu
Lingkungan, Program Studi Ilmu Lingkungan, Program Pasca Sarjana
Universitas Diponegoro, Semarang.
Rahadyan dan Widagdo A.S, 2002. Peningkatan Pengelolaaan
Persampahan Perkotaan Melalui Pengembangan Daur Ulang. Materi
Lokakarya 2 Pengelolaan Persampahan Di Propinsi DKI Jakarta.
Rochim Armando, 2008. Penanganan dan Pengelolaan Sampah. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Schilke, P. and K.M.Menten. 2003. "Detection of a Second, Strong Submillimeter HCN Laser Line toward Carbon Stars". Astrophysical
Journal
583:
446.
Bibcode
2003ApJ...583..446S.
doi:10.1086/345099.
Slamet J,S, 2002. Kesehatan Lingkungan. Gadjah Mada Universty Press,
Yogyakarta.
Standart Nasional Indonesia Nomor SNI-03-3241-1994 tentang Tata Cara
Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah, Badan
Standar Nasional.
Standart Nasional Indonesia Nomor SNI-03-3242-1994 tentang Tata Cara
Pengelolaan Sampah di Permukiman, Badan Standar Nasional
( BSN ).

60

Standart Nasional Indonesia Nomor SNI-19-2454-2002 tentang Tata Cara


Teknik Operasional Pengelolaan Sampah Perkotaan, Badan Standar
Nasional ( BSN ).
Syafrudin,2004. Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat. Prosiding
Diskusi Interaktif Pengelolaan Sampah Terpadu, Program Magister
Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro, Semarang.
Tchobanoglous, G., Teisen H., Eliasen, R, 1977, Integrated Solid Waste
Manajemen, Mc.Graw Hill : Kogakusha, Ltd
Toto Hardianto, Aryadi Suwono, Ari Darmawan Pasek dan Amrul. 2010.
Karakterisasi sifat-sifat pembakaran bahan bakar padat ramah
lingkungan yang berasal dari sampah kota.
Seminar Nasional
Tahunan Teknik Mesin (SNTTM) ke-9 Palembang, 13-15 Oktober
2010
Vetter, J. 2000. "Plant cyanogenic glycosides". Toxicon 38 (1): 1136.
doi:10.1016/S0041-0101(99)00128-2. PMID 10669009.
Webster, T. and Connett, P. (1997), Dioxin Emission Inventories and Trends:
The Importance of Large Point Sources. Presented in part at Dioxin
'96, Amsterdam, August 1996 and submitted for publication to
Chemosphere.
White W. L. B., Arias-Garzon D. I., McMahon J. M., Sayre R. T. (1998).
"Cyanogenesis in Cassava, The Role of Hydroxynitrile Lyase in Root
Cyanide Production". Plant Physiology 116 (4): 12191225.
doi:10.1104/pp.116.4.1219.
PMC 35028.
PMID 9536038.
http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?
tool=pmcentrez&artid=35028.
Wibowo A dan Djajawinata D.T, 2004. Penanganan Sampah Perkotaan
Terpadu. Diakses tanggal 4 Desember 2006 pada halaman
www.kkpi.go.id.
Winarno F.G, Budiman AFS, Silitingo T dan Soewardi B, 1985. Limbah Hasil
Pertanian. Kantor Menteri Muda Urusan Peningkatan Produksi
Pangan, Jakarta.
Wu, J. and N.J.Evans. 2003. "Indications of Inflow Motions in Regions
Forming Massive Stars". Astrophysical Journal 592 (2): L79. Bibcode
2003ApJ...592L..79W.