Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh manusia yang membungkus otot-otot
dan organ-organ dalam. Kulit merupakan jalinan jaringan pembuluh darah, saraf
dan kelenjar yang tidak berujung, semuanya mempunyai potensi terserang
penyakit. Kulit pun menjadi asesoris bagi seseorang di mana keutuhan dan
kehalusan kulit menambah rasa percaya diri seseorang dalam penampilan
maupun pergaulan.
Salah satu jaringan yang berada di bawah lapisan kulit adalah jaringan
mesodermal di mana jaringan ini merupakan jaringan lemak. Pada jaringan ini
dapat pula tumbuh kelainan berupa tumor yang di antaranya dikenal dengan
nama Lipoma. Lipoma termasuk salah satu tumor jinak yang terdiri dari sel-sel
lemak yang matur. Pertumbuhan lipoma pada jaringan subcutis leher, bahu,
punggung dan bokong. Walaupun seseorang menjadi kurus tetapi lipoma yang
tumbuh akan terus membesar dengan karakteristik berwarna kuning, bersimpai,
permukaannya berlobul-lobul dan mudah untuk dikeluarkan. Bila lipoma tumbuh
pada jaringan daerah retroperitoneal, perianal dan tidak segera diangkat maka
akan menjadi Liposarcoma yakni tumor ganas yang

tumbuhnya cepat dan

infiltrat.
Karena kasus lipoma termasuk dalam pertumbuhan jaringan abnormal
dan digolongkan sebagai tumor jinak yang sering dijumpai, maka tetaplah perlu
bahwa seorang tenaga kesehatan masyarakat dan perawat profesional segera
membantu penderita lipoma dengan eksterpasi sehingga tidak terjadi kelanjutan
1

yang merugikan seperti tumor ganas. Penanganan yang segera menunjukkan pula
keprofesionalan dalam asuhan keperawatan bagi masyarakat untuk sehat optimal.

B.

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk memperdalam anatomi fisiologi penyakit yang merupakan dasar
pengkajian dan intervensi keperawatan.
2. Memperoleh pengalaman nyata dalam merawat pasien yang menderita
lipoma serta memberikan asuhan keperawatan yang tepat sesuai dengan
konsep-konsep yang diperoleh dari perkuliahan dan literatur.

C.

Metode Penulisan
Penulisan makalah ini penulis menggunakan metode deskriptif berdasarkan
pengamatan langsung pada pasien lipoma yang meliputi: pengkajian, diagnosa,
implementasi dan evaluasi serta studi kepustakaan.

D.

Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini diawali dengan BAB I

Pendahuluan yang

berisi tentang: Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Metode Penulisan dan


Sistematika Penulisan. BAB II Tinjauan Teoretis yang terdiri dari: Konsep
Dasar dan Konsep Asuhan Keperawatan. Dalam konsep dasar medik berisi
tentang definisi, anatomi fisiologi, etiologi, patofisiologi, tanda dan gejala, tes
diagnostik, terapi dan komplikasi. Pada konsep dasar asuhan keperawatan
dibahas mengenai pengkajian, diagnosa keperawatan dan rencana keperawatan.
BAB III Pengamatan kasus, BAB IV Pembahasan Kasus, BAB V
Kesimpulan dan diakhiri dengan Daftar Pustaka.
2

BAB II
TINJAUAN TEORETIS

A. Konsep Dasar
1. Definisi
Lipoma adalah tumor jinak yang mengandung atau terdiri dari jaringan lemak.
(Sumber: Patologi. Bagian Patologi, Anatomi FKUI 1990)

2. Anatomi Fisiologi
Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh manusia, membungkus otot-otot
dan organ-organ dalam. Kulit merupakan jalinan jaringan pembuluh darah,
saraf dan kelenjar yang tidak berujung, semuanya memiliki potensi untuk
terserang penyakit.

a. Fungsi Kulit
Kulit melindungi tubuh dari trauma dan

merupakan benteng

pertahanan terhadap bakteri, virus dan jamur. Kehilangan panas dan


penyimpanan panas diatur melalui vasodilatasi pembuluh darah kulit atau
sekresi kelenjar keringat. Setelah kehilangan seluruh kulit, maka cairan
tubuh yang penting akan menguap dan elektrolit-elektrolit akan hilang
dalam beberapa jam seperti pada luka bakar. Kulit juga merupakan tempat
sensasi raba, tekan, suhu, nyeri dan nikmat, berkat jalinan ujung-ujung
saraf yang saling berpautan.

b. Struktur kulit
Secara mikroskopis, kulit terdiri dari tiga lapisan: epidermis, dermis
3

dan lemak subkutan. Epidermis bagian terluar kulit dibagi menjadi dua
lapisan utama yaitu lapisan sel-sel tidak berinti yang bertanduk (stratum
Korneum atau lapisan induk), dan lapisan dalam yaitu stratum malfigi;
stratum malfigi ini merupakan asal sel-sel permukaan bertanduk setelah
mengalami proses diferensiasi. Stratum malfigi dibagi menjadi: lapisan
basal (stratum germinativum), stratum spinosum, dan stratum granolosum.
Stratum granolosum terletak tepat di bawah stratum korneum. Stratum
granosum mempunyai fungsi penting dalam pembentukan protein dan
ikatan-ikatan kimia stratum korneum.
Lapisan basal sebagian besar terdiri dari sel-sel epidermis yang tidak
berdiferensiasi dan terus-menerus mengalami mitosis, memperbarui
epidermis. Kalau sel ini mengalami mitosis, salah satu sel anak akan tetap
berada di lapisan basal untuk kemudian membelah lagi, sedangkan sel yang
lain bermigrasi ke atas menuju stratum spinosum.
Sel epidermis utama yang berdiferensiasi adalah keratinosit,
membentuk keratin, suatu protein fibrosa. Pada waktu keratinosit
meninggalkan lapisan malfigi dan bergerak ke atas, maka sel-sel ini akan
mengalami perubahan bentuk, orientasi, struktur sitoplasmik dan
komposisi. Proses ini mengakibatkan transformasi dari sel yang hidup,
aktif mensintesis, menjadi sel-sel yang mati dan bertanduk dari stratum
kormeum, suatu proses yang dinamakan keratinisasi. Keratinosit dari
lapisan sel basal bentuknya silindris. sel-sel ini menjadi polihedral pada
waktu berada dalam stratum spinosum menjadi semakin pipih dalam
lapisan granular dan menjadi lamelar pada stratum korneum. Unsur-unsur
sitoplasma juga mengalami perubahan yang penting, demikian pula
nukleus dan membran sel. Keratinosit mensintesis tonofilamen tersusun
4

dalam berkas yang mengelilingi inti sel. Dalam stratum spinosum sintesis
terus

berlangsung

dan

berkas

tonofilamen

ini

menjadi

lebih

kompleks membentuk suatu jalinan yang meluas sampai sitoplasma.


Dengan pergeseran ke stratum granolosum maka granula-granula
keratohialin mulai terbungkus padat. Susunan kimia keratohialin belum
diketahui secara memuaskan dan peran akhirnya dalam proses keratinisasi
juga belum jelas. Agaknya keratohialin ini jelas berperanan dalam
membentuk gambaran amorf padat elektron dari matriks sel-sel bertanduk.
Seperti dijelaskan di atas, agaknya selama proses diferensiasi, keratinosit
melewati fase sintetik di mana terbentuk tonofilamen, keratohialin, badan
lamelar dan unsur-unsur sel lainnya. Akhirnya sel-sel ini akan melalui fase
transisi, di mana komponen-komponen sitoplasma mengalami disosiasi dan
degradasi. Unsur sel sisanya membentuk suatu kompleks amorf, fibrosa
yang dikelilingi oleh membran impermeabel yang diperkuat yaitu sel-sel
induk. Proses migrasi sel epidermis yang telah terprogram ini memakan
waktu sekitar 28 hari.
Sel utama kedua pada lapisan basal adalah melanosit. Perbandingan
sel-sel basal terhadap melanosit adalah: 10 : 1 di dalam melanosit disintesis
granula-granula pigmen yang disebut melanin. Melalui tonjolan-tonjolan
dendritik yang panjang. Melanosin tersebut dipindahkan ke keratinosit.
Setiap melanosit saling berhubungan melalui tonjolan-tonjolan ini dan
sekitar 36 keratinosit membentuk apa yang disebut sebagai unit melanin
epidermis. Melanosum dihidrolisis oleh enzim dengan kecepatan yang
berbeda-beda. Jumlah melanin dalam keratinosit menentukan warna dari
kulit. Melanin melindungi kulit dari pengaruh-pengaruh matahari yang
merugikan. Sebaliknya sinar matahari meningkatkan pembentukan
5

melanosum dan melanin. Orang kulit hitam mempunyai jumlah melanosit


yang sama dan orang kulit putih mempunyai melanosum yang kecil dan
lebih mudah dihancurkan.
Dermis terletak tepat di bawah epidermis dan terdiri dari serabutserabut kolagen, elastin dan retikulin yang tertanam dalam suatu substansi
dasar. Matriks kulit mengandung pembuluh-pembuluh darah dan saraf
yang menyokong dan memberi nutrisi pada epidermis yang sedang
tumbuh. Di sekitar pembuluh darah yang kecil terdapat limphosit, histiosit,
sel mast dan leukosit yang melindungi tubuh dari infeksi dan invasi bendabenda asing. Serabut-serabut kolagen khusus menambatkan sel-sel basal
epidermis pada dermis. Adneksa dermis adalah rambut kuku dan kelenjarkelenjar ekrin (keringat) sebasea dan apokrin.
Di bawah dermis terdapat lapisan kulit ketiga: lemak subkutan.
Lapisan ini merupakan bantalan untuk kulit, isolasi untuk mempertahankan
suhu tubuh dan mempertahankan suhu tubuh dan tempat penyimpanan
energi. Dari sudut kosmetik, lemak subkutan ini mempengaruhidarya tarik
seksual pada kedua jenis kelamin.
Kelenjar keringat terdapat pada hampir seluruh kulit, kecuali pada
telinga dan bibir. Kelenjar-kelenjar ini membentuk suatu larutan hipotonik
yang jernih, encer dan mengandung banyak urea dan laktat. Kelenjar
keringat juga membantu mempertahankan suhu tubuh.
Kelenjar sebasea merupakan struktur lobular yang terdiri dari sel-sel
yang berisi lemak. Substansi berminyak disebut serbum disalurkan menuju
saluran sentral dan dikeluarkan melalui saluran-saluran pilosebasea,
folikel-folikel rambut, kelenjar sebasea banyak pada wajah, dada,

punggung dan bagian proksimal lengan. Aktivitasnya terutama diatur oleh


hormon-hormon androgenik.

3. Etiologi
-

tidak diketahui dengan pasti,

bahan kimia,

lingkungan,

genetik,

imunologi, virus.

4. Patofisiologi
Sel tumor adalah sel tubuh yang mengalami transparmasi dan tumbuh secara
autonom lepas dari kendali pertumbuhan sel normal sehingga sel ini berbeda
dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya. Pada umumnya tumor mulai
tumbuh dari satu sel di suatu tempat (unisentrik) atau dari beberapa sentral
(multilokuler) pada waktu yang sama. Selama pertumbuhan tumor masih
terbatas pada organ dasarnya maka tumor disebut masih dalam fase lokal.
Tetapi kalau sudah terjadi infiltrasi ke organ sekitarnya, maka tumor telah
mencapai fase lokal infasif atau lokal infiltratif. Penyebaran lokal ini disebut
penyebaran perkontinuitatum, karena masih berhubungan dengan sel induknya.
Sel tumor ini bertambah terus tanpa batas, sehingga tumor makin lama makin
besar dan mendesak jaringan sekitarnya sehingga dapat menyumbat saluran
tubuh dan menimbulkan obstruksi. Bila tumor ini ganas dapat menyebar ke
bagian tubuh lain dan umumnya fatal bila dibiarkan karena merusak organ
yang bersangkutan dan menyebabkan kematian.

5. Tanda dan Gejala


-

rasa gatal, rasa terbakar, geli.

Kehilangan rasa pada bagian yang terkena,

Kulit kering, bersisik kemerahan,

Nyeri

Ditemukan masa tumor,

Palpasi teraba benjolan,

Mual, muntah;

Menurunnya nafsu makan;

Berat badan turun.

6. Tes Diagnostik
-

roentgen;

pielogram intravena;

pielogram retrogret;

aurtrografi;

histologik;

histopatologik.

7. Terapi
-

operasi;

radiasi;

kemotherapi;

radiologi;

8. Komplikasi
-

kanker

B. Konsep Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
-

Riwayat anggota keluarga yang terkena tumor;

Terpapar sinar radiasi atau bahan kimia;

b. Pola nutrisi metabolik


-

kebiasaan makan makanan yang mengandung zat kimia atau bahan


pengawet dan makanan yang berlemak tinggi;

riwayat minum alkohol;

mual, muntah;

berkeringat banyak;

suhu tinggi;

kerusakan atau kemerahan kulit;

adanya benjolan pada kulit;

hipopigmentasi, hiperpigmentasi;

nafsu makan menurun;

berat badan turun.

c. Pola eliminasi
-

menurunnya jumlah urine output;

anuri saat fase akut;

diuresis;
9

penurunan peristaltik khususn.

d. Pola aktivitas dan latihan


-

riwayat pekerjaan;

obesitas;

sesak napas.

e. Pola persepsi sensori dan kognitif


-

mati rasa, kaku, gatal-gatal;

perubahan reflektendon;

keluhan nyeri;

perubahan orientasi, sikap dan tingkah laku.

f. Pola persepsi dan konsep diri


-

Kecemasan;

penampilan diri;

gangguan terhadap perkerjaan atau keuangan.

g. Pola mekanisme coping dan toleransi terhadap stres


-

sikap menghadapi penyakit;

penerimaan terhadap diagnosis.

2. Diagnosa Perawatan.
a. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan adanya lukas
eksterpasi.
b. Nyeri yang berhubungan dengan luka operasi.
10

c. Gangguan gambaran diri yang berhubungan dengan penampilan kulit yang


jelek.
d. Kurang pengetahuan tantang pengetahuan tentang perawatan kulit yang
berhubungan dengan kurang informasi.

3. Perencanaan
a. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan adanya luka
eksterpasi
HYD:

Kulit utuh.

Tidak infeksi.

Rencana Tindakan.
1) Kaji keadaan luka (kering, bawah, kemerahan).
Rasional: Luka yang basah dan kemerahan menunjukkan adanya
infeksi.
2) Rawat luka dengan teknik steril.
Rasional: Perawatan secara steril mengurangi kontaminasi dan
meminimalkan risiko infeksi.
3) Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk kulit.
Rasional: Garukan menimbulkan pelebaran luka.
4) Anjurkan pasien untuk menjaga tubuh dengan cara mandi dua kali
sehari.
Rasional: Melancarkan sirkulasi.
5) Observasi suhu.

11

Rasional: Suhu meningkat tanda infeksi.


6) Beri terapi antibiotik sesuai pesanan medik.
Rasional: Antibiotik untuk mematikan kuman penyebab infeksi.

b. Nyeri yang berhubungan dengan luka operasi.


HYD:

Pasien bebas dari rasa nyeri.

Pasien tampak rileks, bisa tidur dan istirahat.

Rencana tindakan:
1) Kaji karakteristik nyeri (lokasi, lama, intensitas).
Rasional: Data membantu menentukan tindakan terhadap nyeri.
2) Observasi tanda-tanda vital.
Rasional: Nyeri hebat ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan
nadi.
3) Jelaskan penyebab rasa nyeri.
Rasional: Untuk mengurangi kecemasan.
4) Ciptakan lingkungan yang aman.
Rasional: Meningkatkan relaksasi.
5) Ajarkan latihan napas dalam
Rasional: Menurunkan tegangan otot.
6) Beri terapi analgetik sesuai pesanan medik.
Rasional: Analgetik menghilangkan nyeri.

c. Gangguan gambaran diri sehubungan dengan penampilan kulit yang jelek.

12

HYD:

Menerima perubahan tubuh dan mengintegrasikannya ke dalam self


konsep sehingga dapat mempertahankan body image yang positif.

Mengekspresikan penerimaan tentang perubahan body image.

Rencana tindakan:
1) Kaji perasaan dan persepsi pasien tentang penampilan kulit yang jelek.
Rasional: Memvalidasi persepsi diri dan mengambil tindakan untuk
mengatasi krisis.
2) Melibatkan pasien dalam perawatan.
Rasional: Membantu pasien untuk tidak bergantung.
3) Berikan informasi yang dapat dipercaya dan perkuat informasi yang
telah diberikan.
Rasional: Untuk meningkatkan self image.
4) Haragai kpemecahan masalah yang konstruktif untuk meningkatkan
penampilan.
Rasional: Meningkatkan penekanan pada perilaku adaptif
5) Membantu pasien dalam menguatkan keterampilan koping dan ikut
terlibat dalam tindakan untuk memenuhi tujuan.
Rasional: Penguatan respon koping untuk menghindari masalah atau
stresor dan meningkatakan harga diri.

13

d.

Kurang pengetahuan tentang penyakit kulit yang berhubungan dengan


kurang informasi
HYD:

Dapat mengungkapkan proses penyakit.

Mengenali tanda dan gejala serta faktor penyebab penyakit.

Poasien dapat berpartisipasi dalam perawatan.

Rencana Tindakan:
1) Kaji pengetahuan klien/ tanyakan proses penyakit dan harapan klien.
Rasional: Mengetahui tingkat pengetahuan pasien dan memilih cara
komunikasi yang tepat.
2) Jelaskan faktor penyebab, tanda dan gejala penyakit dengan bahasa yang
mudah dipahami.
Rasional: Penjelasan meningkatkan pengetahuan klien.
3) Beri penyuluhan tentang pentingnya perawatan kulit yang baik.
Rasional: Perawatan yang baik mengurangi risiko terjadinya penyakit
kulit.
4) Libatkan keluarga dalam rencana pengobatan
Rasional: Peran serta pasien dan keluarga membantu pelaksanaan terapi.
5) Beri penjelasan pasien untuk mengidentifikasi perubahan-perubahan
kulit.
Rasional: Mendeteksi secara dini dan tindakan penanganan yang cepat.
6) Jelaskan prosedur pengobatan dan perubahan gaya hidup.
Rasional: Membantu pasien merasakan, mengontrol melalui apa yang
terjadi dengan dirinya.

14

BAB III
PENGAMATAN KASUS

Nama klien: Tn. I. D. , umur 24 tahun, beragama Katolik, suku Jawa, anak keempat
dari lima bersaudara. Klien ada riwayat penyakit ashma dalam keluarga, pernah
dirawat selama 10 hari karena sakit thypoit. Pasien mengatakan: Sejak lima tahun
yang lalu ada benjolan kecil di paha kiri, tetapi tidak terasa sakit atau nyeri. Sejak
empat bulan yang lalu benjolan yang sudah sebesar telur ayam ini terasa nyeri, tetapi
tidak sampai mengganggu aktivitas harian sehingga masih bisa tetap kuliah dan olah
raga basket. Nyeri yang dirasakan hilang timbul, bertambah nyeri bila berjalan jauh.
Tanggal 9 Agustus yang lalu nyeri bertambah hebat sehingga tidak mampu
melakukan olah raga. Akhirnya berobat ke klinik dan dianjurkan untuk operasi dan
tanggal 11 Agustus 1999 masuk ke RS. Sint Carolus melalui UGD, dengan keluhan
utama benjolan di paha kiri terasa sakit.
Saat pengkajian pasien post operasi hari pertama tampak sakit ringan,
berbaring di tempat tidur, ekspresi wajah rileks, tampak perban elastis di paha kiri.
Observasi: tensi 110/70 mmhg, nadi 72x/menit, suhu 36 C, peristaltik usus 6x/menit;
mengeluh agak pusing, dan masih nyeri pada luka operasi.

15

Hasil Laboratorium
Tanggal 12 Agustus 1999
Darah rutin:

Hemoglobin

: 14,9 (12.0 - 18.0 g/dl).

Hemotokrit

: 44 ( 37 - 52 %)

Leukosit

: 8.500 (4.800 10.800)

Trombosit

: 235.000 (350.000/uL)

Hemostasis rutin:

masa protrombin

: PT 13.6 (120 180 detik).

APTT

: 34.2 ( 30.0 40.0 detik).

16

BAB IV
PEMBAHASAN KASUS

Setelah melaksanakan praktik langsung di lapangan pada pasien penderita


lipoma, bila dibandingkan dengan teori yang diperoleh dari berbagai literatur yang
ada, maka ada beberapa kesamaan maupun perbedaan baik pada pengkajian, diagnosa
keperawatan, juga pada tanda dan gejala. Pada pengkajian yang didapatkan pada teori
dikatakan: ada riwayat tumor pada keluarga, obat-obat yang dikonsumsi secara rutin,
terbakar sinar atau radiasi, mengkonsumsi makanan yang mengandung zat kimia atau
bahan pengawet, riwayat minum alkohol. Sedangkan pada tuan I.D. tidak ditemukan
hal-hal tersebut di atas. Ini bisa terjadi karena lipoma merupakan tumor jinak yang
tumbuh pada jaringan lemak di bawah kulit, karena terjadi keabnormalan sel. Pada
diagnosa keperawatan ditemukan kesamaan antara teori dan kasus di bangsal yaitu
nyeri. Namun nyeri yang diderita pasien karena luka post operasi. Sedangkan
kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan adanya luka eksterpasi tidak
terjadi karena pasien post operasi hari pertama dan tidak ada tanda-tanda kerusakan
integritas kulit seperti kemerahan di sekitar lokasi operasi. Kemudian gangguan
gambaran diri dan kurang pengetahuan tentang perawatan kulit yang berhubungan
dengan kurang pengetahuan tidak ditemukan karena pasien tidak ada masalah pada
kulit dan pasien tidak merasa malu dengan benjolan yang ada di pahanya.
Pada tanda dan gejala ditemukan kesamaan, yaitu nyeri dan pada palpasi
terhadap benjolan dan masa tumor tidak ditemukan riwayat muntah, penurunan berat
badan dan tidak nafsu makan karena lipoma yang diderita pasien berada di jaringan
lemak di bawah kulit bukan di ruangan retroperitoneal, pada submucosa lambung dan
usus.

17

Masalah keperawatan yang ditemukan selama pengamatan kasus adalah nyeri


sehubungan dengan luka operasi. Tindakan keperawatan yang dilakukan di samping
memberikan terapi medik untuk mengurangi nyeri adalah menganjurkan pasien untuk
mengurangi dan melakukan aktivitas secara bertahap, memberi posisi nyaman, tidur
terlentang, dan bila duduk kaki diluruskan. Di samping nyeri ditemukan juga pusing.
Pusing bisa terjadi karena pengaruh anesthesi umum yang 48 jam pertama post
operasi masih bereaksi. Untuk mengatasinya pasien dianjurkan untuk istirahat baring
dan menjaga lingkungan yang tenang. Pasien juga merasa mual dan mulut terasa pahit
sehingga tidak nafsu makan. Menganjurkan pasien sarapan saat makan yang
dihidangkan masih panas dan diberi air putih hangat untuk mengurangi mual.
Karena keterbatasan waktu dan pasien akan pulang maka semua rencana
keperawatan yang masih perlu diteruskan diberi dalam bentuk penyuluhan mengenai
perlu kontrol sesuai waktu yang ditentukan dokter. Minum dan menghabiskan obat
untuk mempercepat penyembuhan serta cara-cara untuk merawat luka supaya tidak
terjadi infeksi dengan menjelaskan tanda-tanda dini infeksi seperti: kemerahan, gatalgatal, luka tidak kering-kering, ada nanah; Dan menganjurkan untuk kontrol ke
dokter bila ada tanda-tanda infeksi.

18

BAB V
KESIMPULAN

Setelah mempelajari tinjauan teoretis dan melakukan pengamatan langsung di


lapangan, dapat disimpulkan sebagai berikut: Lipoma merupakan tumor jinak yang
mengandung atau terdiri dari jaringan lemak. Tumor ini sering ditemukan pada
jaringan subcutis leher, bahu, punggung dan bokong. Kadang-kadang tumbuh dari
lemak mesenterium, retroperitoneum dan walaupun jarang dapat pula tumbuh pada
submucosa lambung dan usus, biasanya berupa tumor polipoid. Bila lipoma ini
tumbuh pada daerah retroperitoneal dan perirenal sering menjadi liposarcoma: tumor
ganas yang tumbuhnya cepat dan infiltrat. Maka untuk pencegahan dini hal tersebut
di atas bagi tenaga kesehatan terutama perawat profesional untuk memberi
penyuluhan kepada para pasien yang mengalami adanya benjolan untuk periksa dan
perlunya pengangkatan benjolan tersebut untuk menghindari komplikasi lebih lanjut
yaitu tumor ganas yang merupakan penyakit yang bisa mengancam kehidupan setiap
orang.

19

DAFTAR PUSTAKA

Doengues, Marilynne E. dkk., Nursing Care Plans, FA Daus Company, Philadelphia


1989.

FKUI , 1990, Patologi: Bagian Patologi Anatomi.

Luckman and Serensen, S. Medical Surgical Nursing, A pschophysiologic Approach,


Edition 1993.

Price, Anderson Silvia, Patofisiologi, Ed. 4. Alih bahasa: Dr. Peter Anugerah, EGC.,
Jakarta 1995

Suhidajat, Sjasn, Buku Ajar Ilmu Bedah.

Tucker, Susan Martin, Mary, M. Canobio, Patient Care Standards, Ed. 5; Mosby
Year Book Inc. Missouri 1991

20