Anda di halaman 1dari 9

BAB II : PEMBAHASAN

KONSERVASI MASSA
Hukum kekekalan Massa
Hukum kekekalan massa atau dikenal juga sebagai hukum LomonosovLavoisier adalah suatu hukum yang menyatakan massa dari suatu sistem
tertutup akan konstan meskipun terjadi berbagai macam proses di dalam sistem
tersebut(dalam sistem tertutup Massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah
sama (tetap/konstan) ). Pernyataan yang umum digunakan untuk menyatakan
hukum kekekalan massa adalah massa dapat berubah bentuk tetapi tidak dapat
diciptakan atau dimusnahkan. Untuk suatu proses kimiawi di dalam suatu
sistem tertutup, massa dari reaktan harus sama dengan massa produk.
Hukum kekekalan massa digunakan secara luas dalam bidang-bidang
seperti kimia, teknik kimia, mekanika, dan dinamika fluida. Berdasarkan
ilmu relativitas spesial, kekekalan massa adalah pernyataan dari kekekalan
energi. Massa partikel yang tetap dalam suatu sistem ekuivalen dengan
energi momentum pusatnya. Pada beberapa peristiwa radiasi, dikatakan bahwa
terlihat adanya perubahan massa menjadi energi. Hal ini terjadi ketika suatu
benda berubah menjadi energi kinetik/energi potensial dan sebaliknya. Karena
massa
dan
energi
berhubungan,
dalam
suatu
sistem
yang
mendapat/mengeluarkan energi, massa dalam jumlah yang sangat sedikit akan
tercipta/hilang dari sistem. Namun, dalam hampir seluruh peristiwa yang
melibatkan perubahan energi, hukum kekekalan massa dapat digunakan karena
massa yang berubah sangatlah sedikit.

Sejarah Hukum Kekekalan Massa


Hukum kekekalan massa diformulasikan oleh Antoine Lavoisier pada
tahun 1789. Oleh karena hasilnya ini, ia sering disebut sebagai bapak kimia
modern. Sebelumnya, Mikhail Lomonosov (1748) juga telah mengajukan ide
yang serupa dan telah membuktikannya dalam eksperimen. Sebelumnya,
kekekalan massa sulit dimengerti karena adanya gaya buoyan atmosfer bumi.
Setelah gaya ini dapat dimengerti, hukum kekekalan massa menjadi kunci
penting dalam mengubah alkemi menjadi kimia modern. Ketika ilmuwan
memahami bahwa senyawa tidak pernah hilang ketika diukur, mereka mulai
melakukan studi kuantitatif transformasi senyawa. Studi ini membawa kepada

ide bahwa semua proses dan transformasi kimia berlangsung dalam jumlah
massa tiap elemen tetap.
Hukum kekekalan massa disebut juga sebagai prinsip kontinuitas (Principle of
Continuity). Prinsip tersebut menyatakan bahwa laju perubahan massa fluida
yang terdapat dalam ruang yang ditinjau pada selang waktu dt harus sama
dengan perbedaan antara laju massa yang masuk (influx) dan laju massa yang
keluar (efflux) ke dan dari elemen fluida yang ditinjau. Prinsip kontinuitas
menyatakan kekekalan massa dalam ruang berisi fluida yang ditinjau.
Hubungan kekontinuitasan diperoleh dari pertimbangan bahwa perubahan
massa fluida di dalam suatu volume elemen fluida (dx dy dz) selama waktu dt
sama dengan perbedaan antara laju massa yang masuk (influx) dan keluar
(efflux), ked an dari, elemen fluida yang sedang ditinjau dalam selang waktu
yang sama (dt).
Aliran fluida pada sebuah pipa yang mempunyai diameter berbeda, seperti
tampak pada gambar di bawah.

Gambar ini menujukan aliran fluida dari kiri ke kanan (fluida mengalir dari pipa
yang diameternya besar menuju diameter yang kecil). Garis putus-putus
merupakan garis arus.
Keterangan gambar : A1 = luas penampang bagian pipa yang berdiameter besar,
A2 = luas penampang bagian pipa yang berdiameter kecil, v1 = laju aliran fluida
pada bagian pipa yang berdiameter besar, v2 = laju aliran fluida pada bagian
pipa yang berdiameter kecil, L = jarak tempuh fluida.

Pada aliran tunak, kecepatan aliran partikel fluida di suatu titik sama dengan
kecepatan aliran partikel fluida lain yang melewati titik itu. Aliran fluida juga
tidak saling berpotongan (garis arusnya sejajar). Karenanya massa fluida yang
masuk ke salah satu ujung pipa harus sama dengan massa fluida yang keluar di
ujung lainnya. Jika fluida memiliki massa tertentu masuk pada pipa yang
diameternya besar,

Persamaan Kontiunitas
Gerak fluida didalam suatu tabung aliran haruslah sejajar dengan dinding
tabung. Meskipun besar kecepatan fluida dapat berbeda dari suatu titik ke titik
lain didalam tabung. Pada gambar II-4 menunjukkan tabung aliran untuk
membuktikan persamaan kontinuitas.

Gambar II-4 : Tabung aliran membuktikan persamaan kontinuitas Pada


gambar II-4, misalkan pada titik P besar kecepatan adalah V1, dan pada titik Q
adalah V2. Kemudian A1 dan A2 adalah luas penampang tabung aliran tegak
lurus pada titik Q. Didalam interval waktu t sebuah elemen fluida mengalir
kira-kira sejauh Vt. Maka massa fluida m1 yang menyeberangi A1 selama
interval waktu t adalah
m = 1 A1 V1 t (2-12)
dengan kata lain massa m1/t adalah kira-kira sama dengan 1A1V1. Kita
harus mengambil t cukup kecil sehingga didalam interval waktu ini baik V
maupun A tidak berubah banyak pada jarak yang dijalani fluida, sehingga dapat
ditulis massa di titik P adalah 1A1V1 massa di titik Q adalah 2A2V2, dimana
1 dan 2 berturut-turut adalah kerapatan fluida di P dan Q. Karena tidak ada
fluida yang berkurang dan bertambah maka massa yang menyeberangi setiap
bagian tabung per satuan waktu haruslah konstan. Maka massa P haruslah sama
dengan massa di Q, sehingga dapatlah ditulis;
1A1V1 = 2A2V2

atau A V = konstan
Persamaan berikut menyatakan hukum kekekalan massa didalam fluida. Jika
fluida yang mengalir tidak termampatkan, dalam arti kerapatan konstan maka
persamaan (2-15) dapat ditulis menjadi :
A1 V1 = A2 V2 (2-15) A V = konstan (2-16)
Persamaan diatas dikenal dengan persamaan kontinuitas.

KONSERVASI ENERGI
Energi dapat mengambil berbagai bentuk, seperti intern (thermal),
pekerjaan, kinetik, potensial, permukaan, elektrostatik, elektromagnetik, dan
energi nuklir. Juga, untuk reaksi nuklir atau kecepatan mendekati kecepatan
cahaya, interkonversi massa dan energi dapat signifikan.Persamaan konservasi
energi untuk sebuah volume atur ketika menjalani suatu proses dapat
diungkapkan seperti :

Jika tidak ada massa yang masuk dan keluar volume atur, maka suku
kedua dan ketiga akan hilang, sehingga persamaan menjadi persamaan untuk
system tertutup.Dalam volume atur seperti juga dalam sistem tertutup, dalam

interaksinya dimungkinkan bekerja lebih dari satu bentuk kerja pada waktu
yang bersamaan. Misalnya : kerja listrik, kerja poros untuk sebuah sistem
compressibel dan lain-lain.Dan untuk sebuah volume atur yang diisolasi maka
heat transfer adalah nol.
Proses aliran steadi total energi dalam sebuah volume atur adalah konstan :

Sehingga perubahan total energi selama proses adalah

Sehingga jumlah energi yang memasuki sebuah volume atur dalam semua
bentuk (panas, kerja, transfer massa) harus sama dengan energi yang keluar
untuk sebuah proses aliran steadi.

untuk sistem aliran tunggal (satu inlet dan satu ) persamaan di atas menjadi :

jika persamaan di atas di bagi dengan m , maka :

Dimana :

A. ENERGI DALAM ( INTERNAL ENERGI )


Perubahan kecil dalam energi internal adalah diferensial yang tepat dan
merupakan fungsi yang unik dari suhu dan tekanan (untuk komposisi
tertentu).
Karena kepadatan bahan tertentu juga unik ditentukan oleh temperature dan
tekanan (misalnya, oleh persamaan keadaan untuk materi), yang energi
internal dapat dinyatakan sebagai fungsi dari setiap dua dari tiga istilah T, P,

( atau v =1/ ) . Oleh karena itu, dapat ditulis:

Dengan menggunakan termodinamika klasik, ini ditemukan setara dengan

Dimana

1. GAS IDEAL
Untuk gas ideal :
=

PM
RT

jadi

( TP ) =P
v

2. GAS NON-IDEAL
Untuk gas non-ideal :
T

( TP ) P
v

3. PADAT DAN CAIR


Untuk padat dan cair, konstan ( atau dv=0 ),jadi :
T2

du=c v dT atau u= c v dT =cv (

T 2 T 1

T1

B. ENTALPI
Entalpi yang dapat dinyatakan sebagai fungsi temperature dan tekanan :

( Th ) dT +( Th ) dP

dh=

Dengan menggunakan identitas termodinamika ini setara dengan :

dh=c P dT + v T

Di sini :

( Th )

cP =

( Tv ) ] dP
P

1. GAS IDEAL
Untuk gas ideal :
T

( Tv ) =v dan c =c + MR
P

2. GAS NON IDEAL


Untuk gas non ideal :
T

( Tv ) v

jadi

h=fn(T , P)

3. PADAT DAN CAIR


1
v
Untuk padat dan cair , v = konstan , jadi T P=0 dan c P c v .

( )

Oleh karena itu :


dh=c P dT +vdP

Atau
T2

P2

h= c P dT +
T1

P1

dP

= c P ( ( T 2+T 1 ) +

P 2+ P1