P. 1
Langit Biru Sebirunya Langit

Langit Biru Sebirunya Langit

|Views: 232|Likes:
Dipublikasikan oleh cecilli

More info:

Published by: cecilli on Mar 11, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/23/2012

pdf

text

original

LANGIT BIRU SEBIRUNYA LANGIT

Rabu, 15 Oktober 2008
Drama Diponegoro
Mengais Semangat Kebangsaan Diponegoro Di Tengah Bangsa Miskin Nilai

Orasi Budaya pembacaan Puisi Pembacaan Novel Diponegoro Oleh : Tri Astoto Kodarie Muh. Syukur Salman Agus Kuswardoyo, dkk

PT PLN (Persero) Cabang Parepare

PEMENTASAN NUKILAN NOVEL DIPONEGORO KARYA REMY SYLADO

Mengais Semangat Kebangsaan Diponegoro Di Tengah Bangsa Miskin Nilai

Creatif Team Mengais Semangat Kebangsaan Diponegoro Di Tengah Bangsa Miskin Nilai

PLN Cabang Parepare

Cetakan Pertama Edisi Spesial, Agustus 2008

Penyunting : Agus Kuswardoyo Koordinator : Saifudin Pemeriksa Skrip : Indira Untari LO : Mustari, Maskur M. Natsir Pengumpul bahan : Desi, Herni Perancang dan ilustrasi sampul : Indira Untari Foto Sampul : Sumber Internet Tukang photo: Askari, Dian

Didistribusikan oleh PLN Cabang Parepare Jl. Veteran No. 2 Parepare Sulawesi Selatan Telp. 0421 – 25444 Fax 0421 - 21697 Website : www.plnpare.plnsulselra.co.id

Buku ini dipersembahkan untuk Bangsa Indonesia yang dianugerahi beribu Pahlawan sebagai suri teladan, PT PLN (Persero), seluruh pegawai dan karyawan PLN Cabang Parepare Serta masyarakat pencinta sejarah & budaya

PENGANTAR Pada hari sabtu, tanggal 12 Juli 2008, bertempat di Komplek Makam Pahlawan Nasional Diponegoro, Makassar, dilangsungkan acara ziarah yang dirangkaikan dengan acara seni budaya untuk memberikan apresiasi dan penghormatan kepada pahlawan besar, Pangeran Diponegoro. Acara tersebut merupakan rangkaian hari kebangkitan nasional sekaligus memperingati awal pecahnya Perang Diponegoro (Java Oorlog = Perang Jawa) yang dimulai dengan pengepungan Belanda di Tegalrejo, Jogjakarta, tanggal 20 Juli 1825, 183 tahun yang lalu. Perang Diponegoro merupakah perang besar yang membuat Belanda mengalami kebangkrutan tidak saja keuangan, namun juga mental. Kelicikan, kesewenangan, angkara, ketamakan, pembodohan, kesombo-ngan, pelecehan hak dan martabat bangsa, hasutan, kekalahan diplomasi, oportunisme, kepentingan pribadi bertemu dengan frame moral, kebajikan, kebersahajaan, penderitaan, ketakberdayaan, kemiskinan, keterhinaan bangsa, ketakberdayaan penguasa, idealisme, keteguhan prinsip, perjuangan martabat dan pembebasan. Rasanya kondisi di atas menjadi relevan kembali kini. Acara tersebut terlaksana atas kerjasama PLN Cabang Parepare dengan keluarga Pangeran Diponegoro, Mappamacca (Masyarakat Parepare Gemar Membaca), KKJ Parepare yang berasal dari berbagai macam profesi, pegawai negeri, guru, polisi, tentara, wiraswasta, wartawan dan budayawan. Acara yang mengusung tema : Mengais Semangat Kebangsaan Diponegoro Di Tengah Bangsa Miskin Nilai dimaksudkan untuk membangkitkan kembali semangat nasionalisme, menggali kembali nilai-nilai moral, cinta tanah air dan bangsa yang

merupakan modal yang sangat diperlukan untuk membantu memecahkan permasalahan bangsa, khususnya permasalahan ketenagalistrikan di Indonesia. Ada hubungan garis yang tegas dan jelas antara Nasionalisme kebangsaan dengan permasalahan kelistrikan. Acara ini diilhami oleh terbitnya novel karya Remy Sylado yang berjudul Diponegoro : Menggagas Ratu Adil (Buku 1) dan Menuju Sosok Khalifah (buku 2). Parepare, 12 Juli 2008

Agus Kuswardoyo

DIPONEGORO Chairil Anwar Di masa pembangunan ini Tuan hidup kembali Dan bara kagum menjadi api Di depan sekali tuan menanti Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali. Pedang di kanan, keris di kiri Berselempang semangat yang tak bisa mati. MAJU Ini barisan tak bergenderang-berpalu Kepercayaan tanda menyerbu. Sekali berarti Sudah itu mati. MAJU Bagimu Negeri Menyediakan api Punah di atas menghamba Binasa di atas ditindas Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai Jika hidup harus merasai Maju Serbu Serang

Terjang (Februari 1943) Budaya, Th III, No. 8 Agustus 1954

PEMAIN Agus Kuswardoyo Rina Wijayanti Indira Untari Suwanto Simon Sunarwan Gawon Karawitan KKJ Peziarah PUISI Sulhasmi Syahran Rusmiati Lamma

Naskah Asli Script Pementasan Sutradara Co Sutradara Penata Musik Ilustrasi Musik Event Organizer Penata artistik Sound System Dokumentasi Publikasi

Konsumsi Transportasi Remy Sylado Agus Kuswardoyo Agus Kuswardoyo Mustari Amin Kawula Muda Karawitan KKJ Indira Untari Indira Untari Askari Jufriadi Dharma, Dian Yamin Loleh Iin Herman, Arief, Nurdin

Susunan Acara

Pengantar dari pemrakarsa Pengantar dari Tuan Rumah Lantunan Surah Yassin dan Doa Penyerahan Lukisan Diponegoro Penyerahan Novel Diponegoro Sejarah Singkat Diponegoro Orasi Budaya Puisi Mengais Semangat Kebangsaan Pementasan Novel Babak I Puisi Pementasan Novel Babak II Puisi Pementasan Novel Babak III Puisi Pementasan Novel Babak IV Doa Penutup Agus Kuswardoyo Sholeh Seluruh Peserta Manajer PLN Cabang parepare Manajer PLN Cabang parepare Tri Astoto Kodarie M. Syukur Salman Agus Kuswardoyo Para Pemain Sulhasni Para Pemain Syahran Para Pemain Rosmiati Lamma Para Pemain Ust. Amir

Mengais Semangat Kebangsaan Diponegoro Di Tengah Bangsa Miskin Nilai Oleh Agus Kuswardoyo Dewasa ini bangsa kita menjadi bangsa yang rapuh Miskin nilai-nilai

Bangsa yang terhina, Tak berdaya, terkoyak, bangsa yang riuh tak bermakna, bangsa yang besar saja blegernya namun teramat kecil jiwanya, bangsa yang kehilangan kepercayaan dirinya, bangsa yang tidak jelas mau kemana! Bermanis muka pada rentenir asing yang berbalut senyum ramah, Gayanya menolong, mengasihi, membelai leher-leher kita Kita dielus, terbuai, tertidur, bermimpi di negeri setan yang indah, melayang dan kemudian dia mencekik Yang tidak kuat menjadi rakyat yang mati Yang hidup, yang memerintah, yang oportunis membungkuk takzim, Kepala menyentuh tanah. Tuan menang Negeriku untuk tuan isinya Sisakan sebagian untukku, karena aku tak mau rugi, karena aku sang oportunis sejati Tak usah Tuan khawatirkan rakyatku Mereka kuat jiwanya Karena mereka tahan menderita Mereka mati karena memang sudah waktunya Pangeran....kami rindu Pangeran.... Kami rindu spiritualismemu, patriotismemu, Kami rindu kebangsaanmu, welas asihmu, Kami rindu keteguhanmu, pembelaanmu, Herucokromu, kami rindu khalifatulahmu. Pangeran..... Pangeran di mana? Berserak di antara 230 juta orang, Yang mana....??? Di mana...??? BABAK I DALAM PENGASUHAN RATU AGENG SANG RATU AGENG Hamengku Buwono I, Sang Kakek Buyut Ontowiryo mengamanahkan pendidikan untuk Ontowiryo kepada permaisurinya, Sang Ratu Ageng di Puri Tegalrejo.

Dialog pada saat usia 11 tahun. (Diiringi tembang Ilir-ilir sampai satu babak )

Ilir ilir, ilir ilir, tandure wus sumilirTak ijo royo royo, tak sengguh temanten anyarCah angon, cah angon, penekna blimbing kuwiLunyu lunyu penekna, kanggo basuh dodot iraDodot ira, dodot ira, kumitir bedah ing pinggirDondomana, jlumatana, kanggo seba mengko soreMumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalanganeYa suraka, surak hiya (Selama dialog babak I , tetap ditembangkan lagu ilir-ilir, dengan suara yang lebih lembut)

Berkata Ratu Ageng, permaisuri HB I, Eyang Buyut Ontowiryo, “Ya, Belanda Setan. Sekarang ini pemerintahan Sultan HB II sudah sangat rawan. Belanda makin seenaknya, seenak udel, sesuai seleranya mengatur-atur pemerintahan Ngayogyakarto Hadiningrat. Penyelenggara negara, raja dan mentri hanya dibikin oleh Belanda sebagai pong-pongan. Itu nyaris padan dengan ungkapan Sunan Kalijogo dalam Lir-ilir. ‘dododiro kumintir bedhah ing pinggir” ”Kalau begitu nenek harus mengingatkan lagi”, kata Ontowiryo. ”Sudah aku bilang, putraku itu tidak lagi menghiraukan kata-kata ibunya.” ”Kalau begitu, di-rem, Nek.” ”Di-rem berarti perang, cucuku.” “Kenapa tidak?” kata Ontowiryo dengan nada yang tegar sembari mengingat pula katakata Sunan Kalijogo dalam nyanyian ilir-ilir itu. “Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane.”

“Memang betul,” kata Ratu Ageng, suka cita, namun juga digondeli bayang-bayang prihatin dalam pikirannya. “Tapi belum ada sorang Herucokro yang sanggup memimpin bangsa kita untuk menghalau, mengusir dan mengenyahkan Belanda dari Bumi Pertiwi.” Sekonyong, bagai cair soda yang menyodok sumbat di botol, Ontowiryo dengan rasa percaya diri yang tak terduga, “Aku ingin jadi Herucokro itu, Nek.” Ratu Ageng terkesiap, terharu, terhibur, memandangnya dengan hati berpengharapan. Katanya, “Oh? Insya Allah.” Kata Ontowiryo, “Demi Restu Nenek.”

“Aku ingin-maka aku berdoa- Ontowiryo yang menyikat semua : baik penjual bangsa maupun yang pembeli bangsa. Yaitu bangsa kita sendiri yang karena perbuatannya harus dikata biadab dan bangsa dari luar yang karena perlakuan setannya haruslah dibilang tidak beradab,” kata ratu Ageng.

(ilir-ilir ditembangkan dengan lebih keras, mengakhiri babak I)

Puisi Dibacakan oleh Sulhasni, S.Pd. DOA Karya : Chairil Anwar Tuhanku Dalam termangu Aku masih menyebut nama-MU Biar susah sungguh Mengingat Kau penuh seluruh

Caya-Mu panas suci Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi Tuhanku Aku hilang bentuk Remuk Tuhanku Aku mengembara di negeri asing Tuhanku Di pintu-Mu aku mengetuk Aku tidak bisa berpaling (dari ’Kerikil Tajam”)

BABAK II MASA PENDEWASAAN BATIN

Di usia 23 tahun ketika Ontowiryo mulai mendalami spiritualisme. Dalam tahun-tahun ini 1808, ketika Gubernur Jendral Albertus Henricus Wiese mengakhiri jabatannya dan diganti dengan Herman Willem Daendels, Ontowiryo semakin tekun dan khusuk mendalami hal-hal yang berhubungan dengan kerohanian dan kebatinan. Kerohanian berhubungan dengan pemahaman adab Islam dan kebatinan berhubungan dengan pemahaman budaya jawa. Dia rasa dengan dua kekayaan jiwa ini tujuan menjadi insan kamil akan lebih beralasan. Dia berkhalwat di pegunungan kidul. Harapan Sang Nenek Buyut, Ratu Ageng : “Jika nenek diberi umur panjang dan insya Allah, satu-satunya yang ingin Nenek lihat hanyalah tampilmu sebagai Herucokro yang amirulmukminin”. ”Tapi dalam setiap waktu ada waktunya masing-masing. Umurku baru akan menginjak seperempat abad. Padahal, aku rasa-begitu yang aku lihat dalam mata yang terpejam di setiap tapaku- usia yang paling tepat untuk menjadi Amirulmukminin sekaligus panotogomo yang kalifatullah di tanah jawa ini adalah angka 40.” ”Pada tahun itu barangkali nenek sudah kembali ke tanah.” ”Kalaupun nenek sudah tiada, roh dan jiwa nenek akan terus hidup dalam suksmaku”.

Ratu ageng terharu. Menetes cairan asin di kelopak matanya, meleleh di kulit wajahnya berkerut tua kearifan.

Dialog Nasionalisme : Perbincangan terjadi di Tegalrejo, menceritakan penentangan Ontowiryo terhadap sikap Belanda yang melarang penguburan salah satu penduduk desa yang dibunuh Belanda. Inilah ucapan dan sikap Ontowiryo yang disampaikan kepada Ibnu Jarot, adiknya yang kelak menjadi Hamengku Buwono IV. ”Aku kira, cinta yang perlu ditanamkan saat ini, dimasa centang perenang di mana orangorang hanya tertarik hal-hal rohani : berkhalwat, bertirakat, bersuluk. Padahal sementara itu penjajahan Belanda makin merajalela memperlakukan martabat kita seperti tiada, seperti niskala, seperti angin.” ”Perlawananku kepada Belanda setan, itu semua berlandas pada cinta tanah air, negara dan bangsa. Selanjutnya cinta seperti ini kita sebut pertanggungjawaban insani kepada ilahi, Sang Hyang Widhi, Allah taala. Kenapa kita harus bertanggung jawab, sebab Tuhan memberi kita tanah air kita ini. Lhah sekarang tanah air kita diinjak-injak oleh Belanda, lalu bangsa kita ditindas, diperlakukan tidak manusiawi, sewenang-wenang. Tentu saja kita harus punya hati untuk membela bangsa kita. Pembelaan terhadap dua sisi ini : tanah air dan bangsa, adalah tanggungjawab kita kepada Sang Hyang Widhi, khalikul alam, Allah swt.” 1812 M: GELAR PANGERAN DIPONEGORO Kata Sultan Raja kepada putranya, ”Kalau kamu diminta memilih nama yang ingin kamu sandang, nama apa yang kira-kira yang paling kamu sukai?” “Aku suka pada nama moyangku, putra Pangeran Sungkawa” “Nama yang mana?” ”Pangeran Diponegoro”

“Pangeran Diponegoro? Ya, ya...Pangeran Diponegoro. Itu nama pilihanmu yang bagus. Seratus tahun lalu, bersama-sama Jayapuspita dinobatkan sebagai Panembahan Senopati, memerintah di timur Gunung Lawu, Madiun.” “Jadi kamu ingin memakai nama Pangeran Diponegoro?” “Kalau ayah membolehkan.” “Kenapa tidak. Itu hakmu. Itu pilihanmu. Dan nama leluhurmu. Kamu harus bangga padanya.” Pangeran Diponegoro menolak kedudukan sebagai Putra Mahkota Tembang Macapat Pangkur Ngrenas, laras pelog pathet lima Mingkar mingkuring angkara akarana karenan mardi siwisinawung resmining kidung sinuba sinukartamrih kretarta pakarti ning ngelmu luhung kang tumrap nèng tanah Jawaagama ageming aji Nggugu karsane priyangganora nganggo peparah lamun anglinglumuhing aran baliluuger guru alemannanging janma ingkang wus waspadeng semusinamun ing samudanasesadhoning adu manis

“Putraku, aku bermaksud melaksanakan kewajibanku. Ini bagian dari nazarku. Aku bermaksud memberimu kedudukan sebagai Adipati” “Terima kasih ayah” “Aku akan umumkan besok. Sekarang juga dipersiapkan semuanya.” “Tapi, ayah...” “Kenapa? Apa besok terlalu lama? Kamu ingin sekarang saja aku maklumkan?” “Bukan itu maksudku, Ayah. Aku rasa harkat yang ayahanda berikan untukku itu terlalu tinggi. Bukan aku yang layak menjadi Adipati, melainkan adikku Ibnu Jarot. Betapa sering manusia terjajah oleh keinginan menjadi tinggi, tapi tidak ada ketertiban dalam hati sehingga di saat ia ditinggikan ia dibebani rasa tidak percaya yang membuatnya merasa rendah diri. Aku sudah lama menyimpan mimpi dan menawan ikhtiar untuk hadir sebagai khalifatullah di bumi Ibu Pertiwi, dan aku harap fiil ini diberkati Tuhan, Sang Hyang

Widhi, Allah swt, karena aku terpanggil memberi pertanggungjawaban hidup ini kepadaNya. Dengan bermimpi di jalan ini, aku rasa sedang membawa langkahku ke pengertianpengertian asasi tentang hidup yang patut, yang layak, yang samadyanya : tidak terlalu tinggi tiak juga terlalu rendah. Atau dalam pesan rasulullah : Makan ketika lapar, berhenti makan sebelum kenyang. “Oh....” seru sang ayah yang Sultan Raja. “Aku heran, ternyata ada putraku dari darah dagingku sebagai raja yang kini berkuasa, bisa-bisanya menolak kedudukan dari kepatutan kodratnya yang sebenarnya, yang demikian mesti diterimanya sebagai takdir ilahi untuk dijadikan Adipati.” Antara Ibu Kandung dan Ibu Pertiwi Percakapan dengan Sang Ibu, Raden Ajeng Mangkarawati “Kenapa kamu tolak keputusan ayahmu itu, nak? Sungguh aku tidak mengerti. Bukankah ini berarti juga mengangkat harkat ibumu yang selir?” Masalahnya, aku merasa terpanggil untuk menjadi Herucokro yang panatagama dan yang khalifatullah di Bumi Pertiwi ini.” “Kamu terlalu memberi perhatian pada anganan” “Ini bukan anganan, Bunda. Ini cita-cita” “Apa tidak ada dari cita-citamu yang terpanggil untuk sekedar memberi perhatian pada harkat ibumu yang selir ini?” “Tidak ada selir atau permaisuri bagi seorang anak kepada ibunya. Atas nama cinta, hormat dan tanggung jawab, aku sujud di hadapan ibu.” “kalau benar cintamu pada ibumu, ibu kandungmu, terimalah kedudukan yang diberikan ayahmu itu” “Kedudukan hanya peristiwa di dalam waktu, di mana seseorang berpamrih memberi kesenangan kepada orang yang memberinya kedudukan tanpa tanggung jawab untuk mencintainya. Padahal dalam cita-citaku, aku ingin hadir dalam cintaku untuk menjadi seorang yang bertanggung jawab bukan kepada raja yang layak aku hormati, melainkan kepada Tuhan yang wajib aku sembahi, dengan mendengar suara-suara rakyat yang menderita di atas bumi Ibu pertiwi. Suara rakyat adalah suara surgawi. Aku rindu berada di tengah-tengahnya. Aku harap Bunda mengerti”

“Lantas mana cintamu yang besar terhadap ibumu, ibu kandungmu ini?” “Cintaku pada ibuku, ibu kandung, tidak pernah luntur di semua musim. Tapi, bukan lantaran cintaku pada ibu kandung tidak besar sehingga aku menolak kata-kata ayahku, melainkan lantaran cintaku pada ibu pertiwi tidak kecil sehingga aku menerima kata-kata nuraniku” “Aku terharu. Tapi aku sedih” “Lebih sedih lagi kalau ibu kandung melihat ibu pertiwi telah diinjak-injak oleh Belanda dan tidak ada putra bangsa yang terpanggil untuk melawan itu.” Terbasah-basah mata ibunya, Raden Ajeng Mangkarawati, menyadari betapa pelik pikirannya yang mapan mesti bersuai-suai dengan pikiran putranya yang bergerak melangkahi zaman.

Puisi Dibacakan oleh Rosmiaty Lamma, S.Pd. TELAH GUGUR SEBUAH NAMA Karya Bur Rasuanto Telah beberapa nama Telah gugur Atas nama kita semua Warga berhati damai yang bertahun Telah diperhamba Atas nama jiwa-jiwa agung Yang namanya terpahat di hati kita Serta atas nama sejarah dan kemanusiaan Yang dengan paksa telah dibengkokkan Telah gugur beberapa nama Tekah gugur Dan semua yang mengerti Akan makna keadilan dan harga diri Mengenakan lencana belasungkawa Bersama doa di tepi jalan Melepas pawai duka ke pemakaman Atau serta dalam barisan Dan berbagai simpati tak terucapkan

Telah gugur beberapa nama Telah gugur Atas kehilangan kita semua, atas duka kita semua Atas simpati demi simpati yang tak terkirakan ini Apakah lagi yang lebih berharga Dari segala upacara dan pernyataan Selain nanti pada ziarah yang pertama Dan sekalian karangan bunga ini Telah luluh menghitami pusara Kita pun kembali dengan berita sederhana Bahwa perjuangan telah dimenangkan Oleh warga jelata Yang bertahun telah dihinakan Oleh semua Untuk siapa nama-nama ini Telah rela rebah ke bumi

BABAK III ASMARADAHANA Pertemuan dengan Ratnaningsih Dalam sebuah Acara di Istana Ngayogjokarto Hadiningrat. Pangeran Diponegoro menatap Ratnaningsih. Sesuai namanya, Ratnaningsih memang ayu, berkulit langsat, bertubuh singset, berpenampilan luwes, sempurna sebagai perempuan sekaligus sebagai wanita. (Ditembangkan Bowo Yen ing tawang ono lintang) Yen ing tawang ono lintang Cah ayu aku ngenteni Marang mego ing angkoso Sun takon warto nireki Janji-janiku eling Sumedhot rasaning tyas ingsun Nimas ingsun prasojo Sineksenan bumi langit Rasning tyas ngenteni padang rembulan Pangeran Diponegoro menatap Ratnaningsih dengan cara yang istimewa. Terpesona.

Ditatap dengan cara itu membuat Ratnaningsih kikuk, lantas menundukkan kepala. “Namamu Ratnaningsih” tanya Pangeran Diponegoro agak tersendat. “Ya,” jawab Ratnaningsih agak kagok. “Oh,” Pangeran Diponegoro tertular kagok. Sekonyong terasa ada sesuatu yang terjadi di lubuk hatinya, suatu kembara pengalaman batin yang misterius, yang belum pernah dirasakannya sampai sepanjang usianya yang sekarang. Seakan ada aliran listrik yang menyetrum relung-relung sukmanya, membuatnya merinding di dalam mimpi yang permai dan kesenangan yang lebih cepat kunjung di atas ketentuan garis nasib. Ada gemetar tapi bukan gentar. Agaknya getaran mirip setrum yang menggaung dalam dirinya. Ratu Ageng datang. Pangeran Diponegoro merasa rikuh. Ratnaningsih merasa canggung. Mereka saling lirik. Keduanya gabis. Ini memang kejadian yang tak diduga. ------Gerangan cintalah yang mebuat orang merasa rindu untuk bertemu sehingga waktu terasa berputar terlalu lama dan setelah bertemu untuk memadukannya terasa pula waktu berjalan cepat. Pangeran Diponegoro melamun Ratnaningsih melamun. “oh..aku merasa menjadi akar bunga yang disirami air” “Dan aku merasa menjadi bunga yang dibaluti embun” “Biar aku petik bunga itu” “Bunga itu siap ditaruh dalam jambangan” “Lalu aku nyanyikan tembang lewat bibirku” “Lalu aku dengarkan tembang itu lewat hatiku” “Selamanya” “Jika layu?”

“Yang layu bunganya, tapi namanya tetap melati” “Seandanya namanya bukan melati?” “Diganti nama apapun atas melati, harumnya tetap lestari dalam ingatan” Tembang asmorondono didendangkan mengiringi puisi. Asmorondono Gegaraning wong akramiDudu bandha dudu rupaAmung ati pawitanéLuput pisan kena pisanLamun gampang luwih gampangLamun angèl, angèl kalangkungTan kena tinumbas arta Aja turu soré kakiAna Déwa nganglang jagadNyangking bokor kencananéIsine donga tetulakSandhang kelawan panganYaiku bagéyanipunwong welek sabar narima PUISI (Dibaca diiringi Tembang Asmorondono) Di musim kemarau yang pohonnya kering semua Aku basah oleh rinduku Yang serwa padamu Di musim hujan yang daun-daun hijau semua Aku berbunga oleh rinduku Yang serwa padamu Mulutku di setiap musim bakal melafal Cintaku padamu Takkan tamat pada waktu... (Tembang Asmorondono dinyanyikan lirih, lembut)

Pagi-pagi, setelah matahari menerangi ufuk Pangeran Diponegoro mengambil kudanya menuju ke timur menuju desa Mojo. Dan sebelum ke sana, dia pergi dulu ke tempat sang jantung hati : Bendara Raden Ayu Ratnaningsih. Ratnaningsih yang sudah rapi di pagi itu mendengar kaki-kaki kuda, lantas membuka pintu, keluar. Hatinya gedebag-gedebug melihat Pangeran Diponegoro gagah di atas kudanya. (Tembang berhenti) Ratnaningsih menyongsong lelaki gagah itu.

”Aku tahu Kanda akan datang sepagi ini.” ”Aku tak bisa tidur, dinda.” ”Aku juga” ”Cinta mengalahkan kantuk.” ”Betapa kuatnya cinta itu.” ”Ya, dinda. Cinta membuat percaya diriku menjadi kuat. Cinta yang kuat bahkan mengalahkan maut yang pasti.” ”Jangan bicara maut, kanda, aku takut.” ”Maut memang menakutkan, tapi bukankah maut merupakan kembaran hidup? Dalam takutku, aku punya iman, dan iman melahirkan pengharapan atas hidup di seberang ajal.” ”Jika ajal tiba-tiba menjemputku?” “Ajal hanya berkuasa terhadap tubuh, tidak terhadap roh. Cinta akan berlanjut dalam roh.” ”Kalau roh pun mati?” ”Roh tetap dalam hidup dalam kerahmanan dan kerahiman Sang Hyang Widhi.” ”Masalahnya, kita masih punya tubuh, kanda.” ”Dari tubuh kita berlatih mengenal roh cinta itu, dinda.” “kalau tubuh tidak menyediakan tempat kepada roh itu?” “Tubuh memiliki banyak pintu untuk dimasuki.” “Jika semua pintu tertutup?” “Aku dobrak pintu-pintu itu.” ”Jika pintu itu tidak terdobrak?” ”Tubuh memiliki banyak jendela, dinda.” ”Bukankah memasuki lewat jendela melanggar kelaziman?” ”Di dalam keadaan darurat, kelaziman harus menyesuaikan diri terhadap suasana.”

”Lantas, kalau semua jendela pun terkunci rapat?” ”Aku bongkar rumahnya.” ”Dan kalau rumahnya tidak terbongkar?” ”Tidak ada rumah yang dibangun oleh tangan, yang tidak bisa dibongkar dengan tangan.” ”Tapi bukankah cinta tidak dibangun dengan tangan, melainkan dalam roh?” ”Cinta yang langgeng dalam roh, betapa pun mesti diawali oleh kecenderungankecenderungan tubuh, Dinda. Ketika aku jatuh cinta padamu di pandangan pertama, adalah naluri tubuhku yang menghampiri tubuhmu.” ”Benarkah?” ”Apa Kanda tidak kuatir pada hari esok?” ”Bukan hanya hari esok, hari lampau pun berjalan dengan kekuatirannya masingmasing.” ”Kalau takdir hari esok membuatku tua dan tidak menarik?” ”Aku bersumpah, demi cinta yang disemai oleh nurani dan bibit naluri, rohku berada dalam semua waktu.” ”Oh, Tuhan, jangan bersumpah dengan nama waktu, sebab waktu berubah-ubah dan dalamnya ada namanya yang berbeda-beda.” ”Cinta sejati tidak pernah menyerah pada nama-nama waktu yang ada: pagi-siang-soremalam. Besok, lusa, tulat, tubin.” Ratnaningsih merasa hidup tanpa sekat waktu. Hatinya berbunga-bunga kuncup melati. Pangeran diponegoro menatapnya. Dialah kumbang yang kunjung di pagi ancang. (tembang ilii-ilir 2 kali, mengakhiri Babak III) ________ Puisi Dibacakan oleh Syahran Parepare Aku (Malu) Padamu, Tuan Karya : Syahran Pare

Tuan, izinkan kuketuk sunyimu dengan cinta Terima aku dengan senyum bijakmu Tuan, aku bertandang ke sini bukan tanpa niat Ah, aku datang dengan sengaja Aku datang Untuk meyakinkan diri Bahwa makam Tuan Masih Layak ditaburi minyak kesturi Masih teramat layak Tuan, izinkan kuketuk sepimu dengan cinta Dengarkan, Tuan Dengarkan geliat gelisah Dari aku yang terlalu sibuk mengurus kehangatan Terlalu sibuk memetik bintang gemintang Dan nyaris tak tersisa waktu untuk menjengukmu Tuan, maka izinkan saja Aku tumpahkan setumpuk resah Yang terlanjur mengkristal di ruang-ruang peradaban Membeku sebab terlalu lama meradang pada jiwa Sesungguhnya aku malu bicara padamu, Tuan Ketika aku hangat di pelukan Mc Donald Dan itu membuatku lupa padamu Ketika aku hangat di pelukan Bill Gates Dan itu membuatku lupa padamu Ketika aku hangat di pelukan KFC Dan itu membuatku lupa padamu Ketika aku menyembah egoisku Dan itu membuatku asing padamu Andai kau bangun hari ini, Tuan Sungguh aku malu menatap aura wajahmu Alasannya sederhana : Tetesan keringat keikhlasan Yang Tuan tumpahkan untuk harga diri bangsamu Belum mampu kutangkap maknanya Sampai saat ini Maafkan aku, Tuan Yang lupa bahwa sesungguhnya Tuan tak pernah mati

Tuan tak pernah mati

Syahran in Action BABAK IV TAHUN PERLAWANAN Diiringi tembang Dandhanggulo Yogyanira kang para prajurit,lamun bisa sira anuladha,duk ing uni caritane,andelira sang prabu,Sasrabahu ing Maespati,aran patih Suwanda,lelabuhanipun,kang ginelung tri prakara,guna kaya purun ingkang den antepi,nuhoni trah utama ”Sekarang inilah waktunya yang sudah saya tunggu selama ini. Selama ini saya sudah berjanji pada Ratu Ageng dan bersumpah kepada nurani sebagai wilayah ilahi, bahwa kalau tiba waktunya, dan waktunya itu adalah tahun ini, saya siap memimpin perang melawan penjajahan Belanda.” Di usia 4o tahun ini jangan harap Belanda bisa bermain-main api lagi dengan kita. Sebab kita akan rebut api mereka dan kita bakar mereka, mengirim mereka ke neraka. Di usia 4o tahun ini saya percaya dapat bertindak sesuai isyarat yang empat : Shidiq, amanah, tabligh dan fathonah.” Dengan dukungan saudara-saudara saya siap maju, terus maju, pantang mundur, tidak mengenal kamus mundur. Tidak boleh ada sejengkal pun tanah air kita yang boleh diambil dan dikuasai Belanda. Mari kita perang di jalan Allah. Fi sabilillah!”

Catatan Kaki : Herucokro : sosok ideal yang tangguh, sakti, sanggup memerdekakan bangsa dari kelaliman penjajahan, kemudian memimpin bangsa ini dan membawanya ke cita-cita sebuah tatanan pemerintahan yang adil makmur gemah ripah loh jinawi. Pangeran Diponegoro (sumber http://heritageofjava.com/log/?p=6) Sebelas November 1785, keluarga kraton Ngayogyakarta Hadiningrat berbahagia. Hamengku Buwono III (HB-III), hari itu, mempunyai anak pertama yang dinamai Ontowiryo. Konon Hamengkubuwono I (HB-I) sangat tertarik pada cicitnya itu. Ia, katanya, akan melebihi kebesarannya. Ia akan memusnahkan Belanda. Ontowiryo dibesarkan di Tegalrejo dalam asuhan Ratu Ageng, istri HB-I. Di sana ia belajar mengaji Quran dan nilai-nilai Islam. Tegalrejo juga memungkinkannya untuk lebih dekat dengan rakyat. Spiritualitasnya makin terasah dengan kesukaannya berkhalwat atau menyepi di bukit-bukit dan gua sekitarnya. Hal demikian membuat Ontowiryo semakin tak menikmati bila berada di kraton yang mewah, dan bahkan sering mengadakan acara-acara model Barat. Termasuk dengan pesta mabuknya. Kabarnya, Ontowiryo hanya “sowan” ayahnya dua kali dalam setahun. Yakni saat Idul Fitri dan ‘Gerebeg Maulid”. Ontowiryo kemudian bergelar Pangeran Diponegoro. Ia tumbuh sebagai seorang yang sangat disegani. Ayahnya hendak memilihnya sebagai putra mahkota. Ia menolak. Ia tak dapat menikmati tinggal di istana. Ia malah menyarankan ayahnya agar memilih Djarot, adiknya, sebagai putra mahkota. Ia hanya akan mendampingi Djarot kelak. Pada 1814, Hamengku Buwono III meninggal. Pangeran Djarot, yang baru berusia 13 tahun, diangkat menjadi Hamengku Buwono IV. Praktis kendali kekuasaan dikuasai Patih Danurejo IV -seorang pro Belanda dan bahkan bergaya hidup Belanda. Perlahan kehidupan kraton makin menjauhi suasana yang diharapkan Diponegoro. Apalagi setelah adiknya, Hamengku Buwono IV meninggal pada 1822. Atas inisiatif Danurejo pula, Pangeran Menol yang baru berusia 3 tahun dinobatkan menjadi raja. Makin berkuasalah Danurejo. Saran-saran Diponegoro tak digubris. Danurejo dan Residen Yogya A.H. Smissaert malah berencana membuat jalan raya melewati tanah Diponegoro di Tegalrejo. Tanpa pemberitahuan, mereka mematok-matok tanah tersebut. Para pengikut Diponegoro mencabutinya. Diponegoro minta Belanda untuk mengubah rencananya tersebut. Juga untuk memecat Patih Danurejo. Namun, pada 20 Juli 1825, pasukan Belanda dan Danurejo IV mengepung Tegalrejo. Diponegoro telah mengungsikan warga setempat ke bukit-bukit Selarong. Di sana, ia juga mengorganisasikan pasukan. Pertempuran pun pecah. Upaya damai dicoba dirintis. Belanda dan Danurejo mengutus Pangeran Mangkubumi -keluarga kraton yang masih dihormati Diponegoro. Namun, setelah berdialog, Mangkubumi justru memutuskan bergabung dengan Diponegoro. Gubernur Jenderal van der Capellen memperkuat pasukannya di Yogya. Namun 200 orang tentara itu, termasuk komandannya Kapten Kumsius, tewas di Logorok, Utara Yogya, atas terjangan pasukan Diponegoro di bawah komando Mulyosentiko. Dalam pertikaian ini, dua kraton Surakarta -Paku Buwono dan Mangkunegoro- berpihak pada Belanda. Pasukan pimpinan Tumenggung Surorejo dapat menghancurkan pasukan

bantuan Mangkunegoro. Di Magelang, pasukan Haji Usman, Haji Abdul Kadir mengalahkan tentara Belanda dan Tumenggung Danuningrat. Danuningrat tewas di pertempuran itu. Di Menoreh, Diponegoro sendiri memimpin pertempuran yang menewaskan banyak tentara Belanda dan Bupati Ario Sumodilogo. Markas Prambanan diduduki. Meriam-meriam Belanda berhasil dirampas. Di daerah Bojonegoro-Pati-Rembang, pihak Belanda ditaklukkan pasukan rakyat Sukowati pimpinan Kartodirjo. Pertahanan Belanda di Madiun dihancurkan pasukan Pangeran Serang dan Pangeran Syukur. Belanda kemudian mendatangkan pasukan Jenderal van Geen yang terkenal kejam di Sulawesi Selatan. Dalam pertempuran di Dekso, Sentot Alibasyah menewaskan hampir semua pasukan itu. Van Geen, Kolonel Cochius serta Pangeran Murdoningrat dan Pangeran Panular lolos. Murdoningrat dan Panular kembali menyerang Diponegoro. Kali ini bersama Letnan Habert. Di Lengkong, mereka bentrok. Habert tewas di tangan Diponegoro sendiri. Pasukan Surakarta yang sepakat melawan Diponegoro dihancurkan di Delanggu. Benteng Gowok yang dipimpin Kolonel Le Baron, jatuh dalam serbuan 15-16 Oktober 1826. Diponegoro tertembak di kaki dan dada dalam pertempuran itu. Pasukan Sentot Alibasyah yang tinggal selangkah merebut kraton Surakarta dimintanya mundur. Tujuan perang, kata Diponegoro, adalah melawan Belanda dan bukan bertempur sesama warga. Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya. Pemberontakan Paderi di Sumatera Barat, untuk sementara dibiarkan. Sekitar 200 benteng telah dibangun untuk mengurangi mobilitas pasukan Diponegoro. Perlahan langkah tersebut membawa hasil. Dua orang panglima penting Diponegoro tertangkap. Kyai Mojo tertangkap di Klaten pada 5 Nopember 1828. Sentot Alibasyah, dalam posisi terkepung, menyerah di Yogya Selatan pada 24 Oktober 1829. Arrest of Diponegoro by General de Kock on 28 March 1830, collection of Rijksmuseum Amsterdam. Diponegoro lalu menyetujui tawaran damai Belanda. Tanggal 28 Maret 1830, Diponegoro disertai lima orang lainnya (Raden Mas Jonet, Diponegoro Anom, Raden Basah Martonegoro, Raden Mas Roub dan Kyai Badaruddin) datang ke kantor Residen Kedu di Magelang untuk berunding dengan Jenderal De Kock. Mereka disambut dengan upacara militer Belanda. Dalam perundingan itu, Diponegoro menuntut agar mendapat “kebebasan untuk mendirikan negara sendiri yang merdeka bersendikan agama Islam.” De Kock melaksanakan tipu muslihatnya. Sesaat setelah perundingan itu, Diponegoro dan pengikutnya dibawa ke Semarang dan terus ke Betawi. Pada 3 Mei 1830, ia diasingkan ke Manado, dan kemudian dipindahkan lagi ke Ujungpandang (tahun 1834) sampai meninggal. Di tahanannya, di Benteng Ujungpandang, Diponegoro menulis “Babad Diponegoro” sebanyak 4 jilid dengan tebal 1357 halaman. Pergolakan rakyat pimpinan Diponegoro telah menewaskan 80 ribu pasukan di pihak Belanda -baik warga Jawa maupun Belanda dan telah menguras keuangan kolonial. Hal demikian mendorong Belanda untuk memaksakan program tanam paksa yang melahirkan banyak pemberontakan baru dari kalangan ulama. Di Jawa, para pengikut Diponegoro seperti Pangeran Ario Renggo terus melancarkan perlawanan meskipun secara terbatas. DALAM CERITA RINGKAS PANGERAN DIPONEGORO (11 Nov1785 - 8 Jan1855). Panglima tertinggi dalam Perang Diponegoro (1825-1830) yang dalam buku-buku sejarah

karangan penulis Belanda disebut Java Oorlog (= Perang Jawa). Nama kecilnya Ontowiryo, putra sulung Sultan Hamengku Buwono III. Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan berdiri di pihak rakyat sehingga ia lebih suka tinggal di Tegalrejo daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap keraton dimulai sejak kepemimpinan HB V (1822) dimana Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi HB V yang berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-hari dipegang oleh Patih Danurejo bersama Residen Belanda. Cara perwalian itu tidak disetujui Diponegoro. Dalam perkembangan selanjutnya Belanda berusaha menangkap Diponegoro dan meletus Perang Diponegoro pada tanggal 20 Juli 1825. 28 Maret 1830 P. Diponegoro menemui Jenderal De Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro. Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan dibuang ke Ungaran, kemudian ke Semarang, dan langsung ke Jakarta. 8 April 1830 sampai di Jakarta dan ditawan di Stadhuis. 3 Mei 1830 diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam. 1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan. 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di kampung.

ALBUM

Agus dan Sholeh dalam pengantar acara Penyerahan Lukisan Agus Kuswardoyo, sholeh Diponegoro dan Zainudin Kyai Demak Tri Astoto Kodarie, menyampaikan sejarah ringkas Diponegoro Melantunkan Doa Sulhasmi Berpuisi M. Syukur Salman dalam Orasi Budaya

Dalam Nukilan Novel Syahran Sedang berpuisi Simon mendendangkan tembang Dalam Nukilan Novel Peserta menyimak dengan khusuk Indira Untari dalam nukilan novel Menembangkan macapat mengiringi babak demi babak Makam Pangeran Diponegoro dan GRA. Ratnaningsih Menanamkan semangat kebangsaan bagi tua dan muda Novel pangeran Diponegoro Ziarah di Makam Pangeran Diponegoro dan GRA. Ratnaningsih

AKTOR, AKTRIS DAN KRU Sholeh Agus Kuswardoyo Tri Astoto Kodarie M. Syukur Salman Mustari Rina Wijayanti Indira Untari Askari Sulhasni Rusmiati Lamma Syahran Saifudin Amin Suwanto Simon Sunarwan Gawon Maskur Herman Arif Para Sesepuh Penembang GLOSARIUM Sultan Swargi : Sebutan untuk Sultan HB I Nama aslinya adalah Raden Mas Sujana yang setelah dewasa bergelar Pangeran Mangkubumi. Ia merupakan putra Amangkurat IV raja Kasunanan Kartasura yang lahir dari selir bernama Mas Ayu Tejawati pada tanggal 6 Agustus 1717. Hamengkubuwana I meninggal dunia tanggal 24 Maret 1792. Kedudukannya sebagai raja Yogyakarta digantikan putranya yang bergelar Hamengkubuwana II. Hamengkubuwana I adalah peletak dasar-dasar Kesultanan Yogyakarta. Ia dianggap sebagai raja terbesar dari keluarga Mataram sejak Sultan Agung. Yogyakarta memang negeri baru namun kebesarannya waktu itu telah berhasil mengungguli Surakarta. Angkatan perangnya bahkan lebih besar daripada jumlah tentara VOC di Jawa. Hamengkubuwana I tidak hanya seorang raja bijaksana yang ahli dalam strategi berperang, namun juga seorang pecinta keindahan. Karya arsitekturnya yang monumental adalah Taman Sari Keraton Yogyakarta. Meskipun permusuhannya dengan Belanda berakhir damai namun bukan berarti ia berhenti membenci bangsa asing tersebut. Hamengkubuwana I pernah menolak tegas keinginan Belanda untuk mendirikan sebuah benteng di lingkungan keraton Yogyakarta. Ia juga berusaha keras menghalangi pihak VOC untuk ikut campur dalam urusan pemerintahannya. Pihak Belanda sendiri mengakui bahwa perang melawan pemberontakan Pangeran Mangkubumi adalah perang terberat yang pernah dihadapi VOC di Jawa (sejak 1619 - 1799).

Ratu Ageng : Permaisuri HB I, Nenek Buyut sekaligus sebagai pengasuh dan pembimbing Pangeran Diponegoro Sultan Sepuh : Sebutan untuk Sultan HB II, dalam babak ini tidak dikisahkan Sultan Raja : Sebutan untuk HB III, ayah Pangeran Diponegoro Ontowiryo : Nama kecil Pangeran Diponegoro Puri Tegalrejo : Puri tempat tinggal Ratu Ageng dimana Pangeran Diponegoro dibesarkan, di kemudian hari diwariskan kepada Pangeran Diponegoro. Herucokro Ibnu Jarot : Adik Pangeran Diponegoro, yang kelak menjadi Sultan HB IV Gubernur Jendral Albertus Henricus Wiese Herman Willem Daendels, Raden Ajeng Mangkarawati : Ibu kandung Pangeran Diponegoro, selir Sultan HB III. Diposkan oleh KOESWARDOYO AGE di 21:01 1 komentar:

Muh. Syukur Salman mengatakan... Sip.. Deh Jempol untuk Pak Agus Ingat2 kita di Parepare Thanks. Wassalam 30 Desember 2008 02:07 Poskan Komentar Posting Lama Halaman Muka Langgan: Poskan Komentar (Atom)

aku

Arsip Blog

▼ 2008 (1) o ▼ Oktober (1)  Drama Diponegoro ► 2007 (1) o ► Oktober (1)  Tentang Aku

Mengenai Saya
Agus Kuswardoyo Sapardi karanganyar kelahiranku, di kaki gunung lawu Lihat profil lengkapku

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->