Anda di halaman 1dari 13

Tanggal

Praktikum
Praktikum 3.1

Selasa, 25 Maret 2014


TEKNIK SAMPLING

PRELAB
1. Bagaimana cara pengambilan sampel sayuran seperti bayam, sawi yang akan
dianalisis total E.coli? Jelaskan tahapannya!

Metode 1
1. Siapkan wadah Erlenmeyer yang aseptis
2. Pisau yang digunakan diaseptis terlebih dahulu dengan disemprotkan alcohol dan
dibakar dengan bunsen
3. Siapkan Sayuran bayam, sawi yang telah ditimbang seberat 5 gram , lalu dipotong potong
4. Masukkan potongan sayuran ke dalam 45 ml pepton
Metode 2
1. Siapkan wadah Erlenmeyer yang aseptis
2. Pisau yang digunakan diaseptis terlebih dahulu dengan disemprotkan alcohol dan
dibakar dengan bunsen
3. Sayuran sawi, bayam dipotong (secara aseptis) dengan luas 5x5 cm
4. Siapkan cotton wool swab yang dicelupkan dalam larutan pengencer pepton
5. Permukaan sayuran di swab/oles dengan menggunakan cotton wool swab sebanyak 3
kali (Dwidjoseputro, 2005).
2. Jelaskan peranan teknik sampling dalam pengujian mikrobiologi? Jelaskan!

Teknik sampling dipergunakan untuk memperoleh efisiensi dan efektivitas


dalam
pelaksanaan
pemeriksaan,
agar
hasil
pemeriksaannya
dapat
dipertanggungjawabkan dari segi mutu pelaksanaan tugas pemeriksaan. Sasaran dari
sampling adalah untuk mengambil sampel tanpa mengkontaminasinya dan untuk
membawanya ke laboratorium dengan perubahan yang minimum dalam status
mikrobialnya (Jaya, 2008).
3. Jelaskan perbedaan tahapan pengambilan sampel cair dan padat untuk
pengujian mikrobiologi? Jelaskan tahapannya !

a) Sampel Cair
Sampel cair sebelum diambil sampel harus diaduk (dihomogenkan)
Sampel diambil sebanyak 100-500 ml
Tempatkan pada botol steril
Bawa ke laboratorium
b) Sampel Padat
Gunakan pisau/sendok/alat lain untuk memudahkan pengambilan.
Makanan berupa daging, ikan, dan makanan serupa pengambilan dilakukan
dilakukan pada permukaan maupun bagian dalam
Amati beberapa bagian dari tempat yang berbeda kira kira 100 gram
Tulis tanggal pengambilan, nama sampel dan lokasi
Bawa ke laboratorium (Waluyo, 2008).

Paraf Asisten

Nama:

DIAGRAM ALIR

1. Pengambilan Sampel Padat

Digunakan alat dan bahan


Diambil sampel pada permukaan maupun bagian dalam
Diamati bagian tempat berbeda kira-kira 100 g
Dimasukkan dalam tempat yang telah tersedia secara aseptik dan tutup rapat
Ditulis tanggal pengambilan, nama sampel dan lokasi
Dibawa ke laboraturium
2. Pengambilan Sampel Cair
Jenis sampel cair (susu,sirup,es krim)
Sampel diambil sebanyak 100-500
Ditempatkan pada botol steril
Dibawa ke
laboraturium
3. Pengambilan Sampel Permukaan
Surface slices
Dicuci dan dibilas
Diusap (swab)
Cotton-wool swab
Ditempel, terus ke media
Impression plates

Impression plates

Diaduk dan
dihomogenkan

4. Pengambilan Sampel Anaerob


Makanan seperti daging bagian dalam tidak boleh dipaparkan
Dimasukkan sampel pada kantung anaerob
Diambil sampel menggunakan wool swab dan kemudian ditempatkan pada botol
Sebelum digunakan wool swab dibasahi
dengan media
5. Transportasi dan penyimpanann sampel
Sampel dipelihara hingga dilakukan tes laboraturium
Dibekukan makanan dan disimpan dalam frezeer menggunakan CO2
Jenis makanan yang tidak dibekukan disimpan
dalam refrigerator (jangan melebihi 3 hari)
6. Penanganan sampel di laboraturium
Diriwayat sampling dan transportasi
serta penyimpanan harus dicatat
Diberi label
(tanggal penerimaan,nama,jenis dan asal sampel)
Diperiksa sampel sesuai
prosedur mikrobiologi

PEMBAHASAN
1. Sebutkan beberapa jenis teknik sampling! Jelaskan
peranannya!

pula masing-masing

Ada dua macam teknik pengambilan sampel yaitu:


a). Random Sampling
Adalah teknik pengambilan sampel dimana semua individu dalam populasi baik secara
sendiri-sendiri atau bersama-sama diberi kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai
anggota sampel.
Cara pengambilan sampel dengan random ada tiga cara:
1). Cara undian adalah pengambilan sampel dengan cara memberikan kesempatan kepada
setiap individu untuk menjadi anggota sampel.
2). Cara ordinal adalah cara pengambilan sampel dengan cara kelipatan dari sampel
sebelumnya, misalkan kelipatan dua, kelipatan tiga, dan seterusnya.
3). Cara randomisasi adalah pengambilan sampling melalui tabel bilangan random.
b). Non Random Sampel
Adalah cara pengambilan sampel yang tidak semua anggota sampel diberi kesempatan
untuk dipilih sebagai anggota sampel. Cara pengambilan sampel dengan non random
sanpel ada tujuh cara yaitu:
1) Proportional sampling adalah pengambilan sampel yang memperhatikan pertimbangan
unsur-unsur atau kategori dalam populasi penelitian.
2) Stratified sampling adalah cara pengambilan sampel dari populasi yang terdiri dari
strata yang mempunyai susunan bertingkat.
3) Proporsive sampling adalah cara pengambilan sampel dengan menetapkan ciri yang
sesuai dengan tujuan.
4) Quota sampling adalah ruang dan tempat belajar baik yang tersedia dirumah maupun
dikampus.
5) Double sampling atau sampling kembar sering digunakan dalam research dan penelitian
yang menggunakan angket lewat usaha menampung mereka dan mengembalikan dalam
angket.
6) Area probability sampling adalah cara pengambilan sampel yang menunjukkan cara
tertentu atau bagian sampel yang memiliki ciri-ciri populasi.
7) Cluster sampling adalah cara pengambilan sampel yang berdasarkan pada cluster-cluster
tertentu.
8) Combinet adalah gabungan antara beberapa sampling dalam teknik random sampling
dan teknik non random sampling di atas sehingga menyiapkan tampilan komunikasi.
(Sugiyono,2003).

2. Apa saja faktor yang harus diperhatikan ketika melakukan teknik sampling untuk
pengujian mikrobiologi ? Jelaskan!

Hal yang harus diperhatikan ketika melakukan teknik sampling:

Metode dan alat yang digunakan

Siapa yang melakukan sampling

Jumlah sampel yang diambil

Bagaimana pembagiannya

Jenis wadah yang digunakkan

Kondisi penyimpanan

Selang waktu pengambilan sampel

Masalah khusus untuk setiap jenis sampel (Wibowo,2007).

3. Mengapa pengambilan sampel untuk uji mikrobiologi dilakukan dengan aseptis?

Karena salah satu teknik dasar dalam analisa mikrobiologi adalah teknik transfer
aseptis (suatu metode atau teknik di dalam memindahkan atau mentransfer kultur
bakteria dari satu tempat ke tempat lain secara aseptis agar tidak terjadi kontaminasi
oleh mikroba lain ke dalam kultur). Teknik ini sangat esensial dan kunci keberhasilan
prosedur mikrobial yang harus diketahui oleh seorang yang hendak melakukan analisis
mikrobiologi. Pengambilan sampel harus dilakukan secara statistik agar tidak bias, jadi
secara acak (random sampling). Selain itu, digunakan teknik aseptis selama
pengambilan sampel agar tidak terjadi pencemaran. Alat-alat yang digunakan harus
steril. Bahan makanan cair diambil dengan pipet steril, makanan padat menggunakan
pisau, garpu, sendok atau penjepit yang steril (Suriawiria, 2005).

4. Apa perbedaan teknik sampling metode swab dan metode adhesive surface?
Jelaskan!

1. Metode Apus (Swab)


Metode Apus ini dilakukan dengan mengapus / mengusap alat yang kontak dengan
produk. Alat yang digunakan adalah Cotton swab. Prosedur Metode Apus untuk kimia
residu :
1. Cotton swab direndam air dan disimpan dalam tabung tertutup
2. Teknik swab dilakukan dengan meletakkan frame standard berukuran 5x 5cm
pada lokasi sampling masing-masing peralatan, kemudan di swab.
3. Letakkan cotton swab ke dalam tabung reaksi, tutup dan diberi nomor sampel
4. Dianalisis kimia residunya

Kelebihan Metode Apus :


Digunakan untuk bahan yang kering
Dapat digunakan untuk perlatan kompleks yang ada komponen listrik
Kekurangan Metode Apus :
o Hasil yang diperoleh dapat bervariasi karena tempat pengambilan sampel yang
relatif kecil dan terdapat perbedaan tekanan saat swab.
o Pelarut yang digunakan dapat mempengaruhi residu
o Jika dilakukan ektraksi saat preparasi sampel, maka proses ekstraksi ini dapat
mempengaruhi recovery (Firmansyah ,2012).
2. Metode adhesive surface
Metode ini dilakukan dengan merekatkan swab pada bagian permukaan sampel yang
telah dicuci dan dibilas.
Kelebihan:
1. Cepat
2. Mudah
Kelemahan:
Hanya dapat mendeteksi mikroorganisme yang terdapat pada permukaan sampel
(Roberts and Greenwood, 2003).
5. Jelaskan teknik sampling untuk mendeteksi mikroorganisme pada produk es
krim dan nugget ikan? Jelaskan tipe mikroorganisme yang dapat tumbuh pada
produk tersebut!

a) Sampel Cair (es krim)


Sampel cair sebelum diambil sampel harus diaduk (dihomogenkan)
Sampel diambil sebanyak 100-500 ml
Tempatkan pada botol steril
Bawa ke laboratorium
Mikroorganisme yang dapat tumbuh : listeria monicytogens, staphylococcus aureus,
bacillus, salmonella, shigella, streptococcus, pseudomonas, camphylobacter,
brucella sp dan bakteri koliform
b) Sampel Padat (nugget ikan)
Gunakan pisau/sendok/alat lain untuk memudahkan pengambilan.
Makanan berupa daging, ikan, dan makanan serupa pengambilan dilakukan
dilakukan pada permukaan maupun bagian dalam
Amati beberapa bagian dari tempat yang berbeda kira kira 100 gram
Tulis tanggal pengambilan, nama sampel dan lokasi
Bawa ke laboratorium
Mikroorganisme yang dapat tumbuh: eschericia coli, salmonella, dan shigella
(Waluyo, 2008).

6. Apa saja yang harus diperhatikan ketika melakukan sampling untuk bahan yang
mengandung mikroba anerobik? Jelaskan!

Hal-hal yang harus diperhatikan adalah makanan seperti daging bagian dalam tidak

boleh dipaparkan oksigen dan masukkan sampel pada kantong anaeron. Lalu gunakan
wool swab untuk pengambilan sampel dan letakkan pada botol secara aseptis. Sebelum
digunakan, wool swab dibasahi dengan media terlebih dahulu (Roberts and Greenwood,
2003).

7. Bagaimana teknik dan prosedur sampling yang dilakukan jika saudara ingin
mengisolasi bakteri termofilik dari lumpur lapindo di Sidoarjo?

1. Preparasi Media Xilan Kasar dari Tongkol Jagung


Tongkol jagung didapatkan dari Pasar Belimbing Malang Jawa Timur dan digiling sampai
lolos saringan 40 mesh. Xilan kasar yang dihasilkan selanjutnya digunakan sebagai media
pengkayaan untuk menginduksi pertumbuhan mikroorganisme dalam sampel lumpur
Lapindo.
2. Proses Pengambilan Sampel Lumpur Lapindo
Sampel diambil secara aseptis dari lumpur panas Lapindo Porong, Sidoarjo Jawa Timur
pada 3 titik yang berbeda. Setiap lokasi pengambilan sampel diukur suhu dan pH
menggunakan termometer dan pH meter. Sampel selanjutnya dibawa menuju ke
laboratorium untuk dilakukan isolasi dan seleksi mikroba.
3. Pengkayaan dan Isolasi Mikroorganisme Termofilik Xilanolitik.
Sampel lumpur Lapindo diperkaya dalam media Luria Bertani (LB) yang ditambahkan
xilan kasar 1%. Sampel diinokulasikan kedalam media dengan perbandingan 1 : 2 dalam
tabung erlemenyer 250 ml dan diinkubasi pada suhu 55C, 120 rpm selama 72 jam. Setelah
dilakukan pengkayaan dilakukan pengenceran hingga 10-5 dan diambil 3 pengenceran
terakhir. Selanjutnya sampel ditumbuhkan media Nakamura yang mengandung 2 g LB, 0,1
g KH2PO4, 0,02 g MgSO4.7H2O dan ditambahkan xilan kasar 0.5 g per 100 ml
menggunakan metode pour plate dan spread plate. Isolat diinkubasi pada suhu 55C
selama 48 jam untuk menyeleksi mikroorganisme termofilik. Setiap isolat yang tumbuh
dilakukan isolasi kembali pada media Nakamura untuk memastikan isolat yang diperoleh
merupakan kultur tunggal.
4. Identifikasi dan Karakterisasi Mikroorganisme Termofilik Xilanolitik
Identifikasi awal dilakukan dengan menumbuhkan isolat pada media Nakamura yang
mengandung beechwood xylan 0.5 % dan mengamati zona bening yang terbentuk. Isolat
terpilih yang mampu menghasilkan zona bening diidentifikasi secara morfologi,
mikroskopis, dan biokimia. Pengamatan morfologi meliputi bentuk, tepian dan warna pada
koloni. Pengamatan mikroskopis yang dilakukan meliputi pewarnaan Gram untuk
mengetahui jenis Gram dan dan pewarnaan endospora untuk mengetahui keberadaan
endospora pada isolat. Uji biokimia sederhana meliputi uji katalase, uji sitrat, uji MR
(Methyl Red), uji VP (Voges-Proskauer), uji indol, dan uji ornithine.
Identifikasi molekuler dilakukan dengan menggunakan metode PCR dan sekuensi gen 16S
rRNA. Proses amplifikasi secara PCR menggunakan primer universal 8F (forward; 5'AGAGTTTGATCCTGGCTCAG-3')
dan
1492R
(reverse;
5'GGTTACCTTGTTACGACTT-3'). Proses ini dilakukan selama 30 siklus, yakni denaturasi
94C selama 30 detik, penempelan 50C selama 30 detik, dan elongasi 72C selama 3
menit. Produk PCR yang diperoleh selanjutnya disekuensing menggunakan DNA
sequencer. Data hasil sekuensing selanjutnya dikomparasi dengan data sekuen yang ada di
GenBank menggunakan program BLAST. Sebanyak 17 rRNA sekuen dari spesies relatif
dari genus Bacillus diambil dan dianalisis tingkat kekerabatannya menggunakan program
CLUSTALW. Selanjutnya dilakukan rekonstruksi pohon filogenetik metode neighbor-

joining plot menggunakan program MEGA5.


5. Produksi Enzim Xilanase Termofilik
solat terpilih diinokulasikan pada media Luria Bertani untuk mengetahui waktu
pertumbuhan optimal. Sebanyak 10 ml kultur cair dimasukkan ke dalam 140 ml media
Nakamura dan diinkubasi pada suhu 55C selama 18 jam. Ekstrak kasar enzim diperoleh
dengan memisahkan supernatan dan pelet kultur pada kecepatan sentrifugasi 10000 rpm
selama 10 menit pada suhu 4C.
6. Pengujian Aktivitas Xilanase
Pengujian aktivitas enzim xilanase dilakukan dengan mengukur kadar gula reduksi dpada
substrat beechwood xylan menggunakan metode Dinitrosaliclyc acid (DNS). Sebanyak 1
ml substrat ditambahkan supernatan 1 ml dan diinkubasikan pada suhu 55C. Setelah 1
jam, ditambahkan 3 ml larutan DNS dan didiamkan 10 menit. Kemudian dididihkan
selama 5 menit dan diukur absorbansinya pada panjang gelombang 540 nm. 1 unit aktivitas
enzim xilanase didefiniskan sebagai jumlah enzim xilanase yang dibutuhkan untuk
melepaskan 1 mol gula reduksi (xilosa) per menit pada kondisi reaksi optimum.
7. Penentuan pH dan Suhu Optimum Enzim Xilanase
Penentuan pH optimum enzim xilanase dilakukan dengan menginkubasi 1 mL supernatan
(ekstrak kasar enzim) dan 1 mL substrat xilan (beechwood xylan 1%) pada rentang pH 5,08,0. Buffer yang digunakan adalah buffer asetat pH 4 dan 5, bufer fosfat pH 6 dan 7, dan
bufer Tris-HCl pH 8 dan 9. Untuk menentukan pH optimal, enzim dan substrat diinkubasi
selama 1 jam pada suhu 55C dan diukur aktivitasnya sesuai dengan pengujian aktivitas
enzim. Penentuan suhu optimum enzim xilanase dilakukan dengan menggunakan prosedur
yang sama selama 1 jam dengan variasi suhu 45C, 50C, 55C, 60C dan 65C (Habibie,
2008).

8. Jelaskan kelebihan dan kekurangan teknik sampling metode cuci dan metode
bilas!

1. Metode cuci
Kelebihan : menjangkau seluruh bagian sampel
Kelemahan: banyaknya limbah cair akibat banyaknya pengenceran.
2. Metode bilas
Metode
Residu diperoleh dengan cara mengumpulkan pelarut pembilas yang telah
kontak dengan permukaan alat dimana produk diproses. Hasil bilas kemudian
dianalisis untuk kandungan residu dan kandungan mikroba
Perhatian

Tetapkan volume pelarut pembilas

Pelarut pembilas harus kontak dengan permukaan alat selama waktu yang cukup
agar residu dapat larut sempurna

Pelarut pembilas tidak boleh menyebabkan penguraian/degradasi residu

Analisis banding dilakukan terhadap pelarut pembilas kontrol yang belum

digunakan
Kelebihan

Pengambilan contoh dimungkinkan terhadap permukaan yang luas

Keseluruhan lokasi di permukaan dapat dicapai tanpa kesulitan, sehingga


memungkinkan evaluasi dengan tingkat recovery rate tinggi

Variasi hasil analisis akan kecil dibandingkan dengan cara apus


Kekurangan

Tidak

cocok untuk peralatan kompleks bermuatan instrumentasi atau komponen


listrik/elektronika seperti : mesin tablet, FBD, granulator, mesin pengisi serbuk,
tablet, kapsul.

Cocok

untuk tangki, blender, filter housing, sistem sirkulasi air (Lina, 2009).

9. Apakah metode pengemasan dan kondisi penyimpanan mempengaruhi tipe


mikroorganisme bahan pangan yang akan dianalisis? Jelaskan alasan anda!

Ya, metode pengemasan dan kondisi penyimpanan sangat mempengaruhi jenis


mikroorganisme yang tumbuh. Suhu saat penyimpanan sangat berpengaruh,
mikrooganisme dapat bertahan di dalam suatu batas-batas suhu tertentu. Batas-batas itu
ialah suhu minimum dan suhu maksimum, sedang suhu yang paling baik bagi kegiatan
hidup itu disebut suhu optimum. PH juga mempengaruhi perkembangan mikrobia yang
tumbuh, mikroba dapat tumbuh baik pada daerah pH tertentu, misalnya untuk bakteri
pada pH 6,5 7,5; khamir pada pH 4,0 4,5 sedangkan jamur dan aktinomisetes pada
daerah pH yang luas. Setiap mikrobia mempunyai pH minimum, optimum dan
maksimum untuk pertumbuhannya. Metode pengemasan seperti dengan cara di
vacuum akan mengakibatkan bakteri aerob tidak akan tumbuh dan hanya bakteri
anaerob yang dapat bertahan (Suriawiria,2005).

Komponen Penilaian LKP:


Jenis Penilaian

Pre lab

Nilai
Maksim
al
20

Nilai yang
diperoleh

Diagram Alir
Data
Hasil
Pembahasan

Pengamatan

dan

TOTAL

10
70
100

DAFTAR PUSTAKA
Dwidjoseputro. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan: Malang
Jaya, Firman. 2008. Uji BakteriI Eschericia Coli Pada Depo Air Mnum Isi Ulang. Bali
Waluyo L. 2008. Teknik dan Metode Dasar dalam Mikrobiologi. Universitas Muhammadiyah
Malang Press. Malang.
DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN
Firmansyah, Adi. 2012. Validasi Pembersihan. UNS: Solo.
Habibie, dkk. 2008. Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 2 No 4 p.231-238. UB: Malang.
Lina, 2009. Validasi Proses Aseptis. UNHAS: Makassar.
Roberts and Greenwood, L. 2003. Practical Food Microbiology. Blackwell Publishing: London
Sugiyono. 2003. Metode Penelitian Bisnis. Pusat Bahasa Depdiknas: Bandung.
Suriawiria, U. 2005. Mikrobiologi Dasar. Papas Sinar Sinanti: Jakarta.
Wibowo, marlia singgih. 2007. Prinsip Dan Pelaksanaan Pengambilan Sampel (Sampling). ITB:
Bandung.