Anda di halaman 1dari 5

Pergeseran Paradigma Neoliberal

Asep Mulyana

PENATAAN Ekonomi Nasional yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia selama


ini, tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh paradigma ekonomi mainstream dan
hegemonik yang mendasari pembangunan di negara-negara bangsa di dunia.
Sulit untuk membantah bahwa paradigma ekonomi neoliberal yang diinjeksi oleh
lembaga-lembaga keuangan internasional, utamanya Bank Dunia dan IMF, telah
menjadi landas pijak tata kelola ekonomi yang dijalankan pemerintah Indonesia
selama puluhan tahun.
Sejauh ini, konsep dan kebijakan neoliberalisme telah menjadi kosakata publik yang
kontroversial. Neoliberalisme sendiri sebetulnya tidak berwajah tunggal. Dalam
sejarahnya, neoliberalisme telah mengalami tiga kali pergeseran secara
paradigmatik.
Saad-Filho (2010) mencatat tiga kelompok pandangan utama dalam neoliberalisme,
yaitu paradigma Neoliberal pra-Konsensus Washington, Neoliberal Konsensus
Washington, dan Neoliberal Paska-Konsensus Washington (PKW).

Tulisan berikut hendak menguraikan tentang tiga pergeseran paradigma ekonomi


neoliberal tersebut, sebuah paradigma ekonomi hegemonik yang telah menjadi
landasan berpikir dan praktik dalam tata kelola ekonomi dan sosial negara-negara
bangsa di dunia.

Generasi I: Neoliberal Pra-Konsensus Washington


Pandangan Neoliberal Pra-Konsesus Washington ditandai oleh dominasi gagasan
modernisasi dan teori pembangunan. Gagasan ini meyakini bahwa ketimpangan di
tingkat global disebabkan oleh mengakarnya kemiskinan di belahan dunia Selatan.
Menurut gagasan ini, masalah kemiskinan dan keterbelakangan di Dunia Ketiga
dapat diatasi jika negara-negara di Dunia Ketiga melakukan transisi melalui
modernisasi ke tipe ideal kapitalisme maju dengan lima tahapan yang dipopulerkan
oleh Rostow (1960). Para pendukung pandangan ini percaya bahwa kemiskinan di
Dunia Ketiga disebabkan oleh buruknya modal (mesin, infrastruktur, dan uang).
Pembangunan sebagai proses transformasi sistematismelalui modernisasi,
industrialisasi, dan akumulasi modal dan konsumsi domestikdiyakini mampu
menyelesaikan masalah kemiskinan dan keterbelakangan di Dunia Ketiga.
Pembangunan dan industrialisasi sebagai salah satu tahap modernisasi dijalankan
dengan melembagakan kebijakan ekonomi di bawah koordinasi negara atas proyekproyek investasi berskala besartermasuk kepemilikan publik atas sektor-sektor
kunciuntuk membangun infrastruktur ekonomi yang penting bagi industrialisasi
yang dipimpin oleh sektor swasta. Pendekatan big push ini diasumsikan akan
mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang cepat yang merangsang penciptaan
kesempatan kerja, stabilitas makroekonomi, dan keseimbangan pembayaran
berkelanjutan, yang pada gilirannya akan mampu menghapus kemiskinan melalui
tetesan ke bawah (trickle down effect). (Saad-Filho 2000).
Pandangan ini banyak menuai kritik setelah didapati kenyataan bahwa pertumbuhan
ekonomi tidak menghasilkan kesetaraan dalam ekonomi global dan gagal
menghapus kemiskinan dan ketimpangan domestik. Paradigma ini justru melahirkan
rejim-rejim pembangunan yang otoriter secara politik. Paradigma pembangunan ini
dilembagakan dalam proses pembangunan di negara-negara berkembang, tidak
terkecuali Indonesia pada era Soeharto (Masoed 1989). Pendekatan kaum
moneterian kemudian mengoreksi pandangan ini dengan memberikan tekanan pada
deregulasi dan privatisasi untuk membatasi pencari rente, korupsi, dan menekan
kebijakan distribusi (Saad-Filho 2000).

Generasi II: Neoliberal Konsensus Washington


Pandangan Neoliberal Konsensus Washington muncul pada 1980-an dan akhir
1990-an. Pandangan ini melekat pada ideologi neoliberal universal dengan

komitmen absolut pada pasar bebas dan membayangkan bahwa negara merupakan
sumber korupsi dan inefisiensi. Hal ini setidaknya tampak dalam birokrasi yang
berwatak pencari rente. Menurut Saad-Filho (2010), KW mengandung empat unsur,
yaitu:
1. Hegemoni teori neoklasik modern yang mengandaikan pasar sebagai efisien
dan negara sebagai tidak efisien. Pasar, dan bukan negara, yang
seharusnya berperan dalam pembangunan ekonomi, pertumbuhan industri,
penciptaan kesempatan kerja, dan penyetaraan kompetisi internasional.
Mobilitas modal dan globalisasi dipandang bagus bagi ekonomi dunia dan
semua individu. Investasi asing dilihat sebagai instrumen untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi yang dapat dilakukan dengan dukungan kebijakan
domestik. Teori ini memprioritaskan kebijakan moneter di atas kebijakan fiskal
dan tingkat bunga. Teori ini percaya tingkat bunga yang benar dapat
mewujudkan keseimbangan pembayaran, inflasi yang rendah, level
keberlanjutan konsumsi dan investasi, meningkatkan alokasi sumber daya,
dan tingkat pertumbuhan tinggi dan panjang.
2. Kebijakan ekonomi neoklasik. KW memandang bahwa suatu negara akan
tetap miskin karena konsep yang salah tentang intervensi negara, korupsi,
inefisiensi, dan insentif ekonomi. Negara miskin akan mengejar ketinggalan
dan mengambil bentuk ideal seperti negara maju jika negara tersebut
memprioritaskan pengetatan anggaran, privatisasi, penghapusan intervensi
negara dalam harga, fleksibilitas pasar buruh dan perdagangan, keuangan,
dan liberalisasi modal.
3. Intervensi negara dalam bentuk penyediaan lembaga dan fungsi yang
bertujuan untuk menjamin kebebasan dan kemurnian pasar. Intervensi negara
diperbolehkan sepanjang dilakukan dalam konteks promosi sistematik pada
kapitalisme global. Tidak mengherankan jika kebijakan KW sering
diasosiasikan dengan otoritarianisme meski dalam retorikanya mendukung
demokrasi politik. Ilustrasi tentang Chili dan Indonesia di bawah Orde Baru
mengonfirmasi proposisi ini.
4. Standar ortodoksi dalam ekonomi pembangunan dan penguatan kebijakan
yang dipaksakan kepada negara-negara miskin yang menghadapi krisis
keseimbangan pembayaran, anggaran, dan keuangan.
Di samping empat elemen itu, deregulasi dan privatisasi menjadi dua kata kunci
penataan kemurnian pasar. Neoliberalisme di bawah KW juga merupakan label yang
merujuk pada proyek politik khusus (Thatcherisme dan Reaganomics) dan dipakai
secara lebih luas dalam gagasan rasionalisme ekonomi, moneterisme,
neokonservatisme, manajerialisme, dan kontraktualisme (Wendy Larner 2000).
Pandangan KW mengundang kritik sebagai berikut: 1. Pada semua kasus ditemukan
bahwa negara telah melanggar semua prinsip KW melalui perencanaan jangka
panjang, proteksionisme, keuangan langsung, dan penyimpangan lainnya dari pasar
bebas; 2. Di bawah koordinasi KW, kemiskinan makin meruyak akibat proses
penyesuaian struktural dan stabilisasi, terutama terjadi di Amerika Latin pasca-

Program Penyesuaian Struktural ala IMF; 3. Kebijakan ekonomi KW melahirkan


resistensi dari komunitas politik mayoritas karena menjadikan politik domestik
menjadi tidak ramah terhadap politik demokratik.

Generasi III: Neoliberal Pasca-Konsensus Washington (PKW)


Pandangan Neoliberal PKW dikembangkan dari teori ekonomi institusional baru
yang dipopulerkan oleh Stiglitzseorang mantan pejabat teras Bank Dunia. PKW
menggeser fokus analisis dari penekanan neoklasik pada kompetisi dan pasar
menuju setting kelembagaan aktivitas ekonomi, signifikansi ketidaksempurnaan
pasar, dan dampak potensial perbedaan atau perubahan dalam lembaga. Inti proses
kebijakan berada dalam pergeseran hubungan sosial, distribusi hak milik, jaminan
sosial, dan pengurangan kemiskinan. Paradigma ini bertujuan memperluas pasar
dalam kehidupan sosial, namun mengabaikan isu hubungan kekuasaan di dalam
pasar. PKW membangun sebuah pendekatan manajerial-teknokratik ke dalam politik
yang berdampak pada depolitisasi konflik dan perjuangan kelas dalam
pembangunan (Carroll 2007).
Di sini tampak ada pergeseran paradigma dari paradigma Neoliberal KW ke
paradigma Neoliberal PKW. Paradigma pertama menekankan pada bentuk baru tata
kelola ekonomi politik yang didasarkan pada premis ortodoks tentang perluasan
hubungan pasar dan preferensi negara minimal (Wendy Larner 2000). Sementara
penghampiran kedua menekankan pada proyek yang memperluas disiplin pasar ke
dalam kehidupan sosial dengan mengusung kebijakan berdimensi sosial, utamanya
pengurangan kemiskinan dan ketimpangan, dalam tata kelola pemerintahan (Carroll
2000, Jayasuriya 2006).
Perbedaan paradigma kebijakan itu tidak berarti Neoliberal PKW dan Neoliberal KW
saling bertentangan satu sama lain.
Neoliberal PKW justru berposisi sebagai pelengkap yang menyempurnakan
proposisi Neoliberal KW tentang penyesuaian struktural. Neoliberal PKW memberi
perhatian pada pembuatan kebijakan yang membuat pasar bekerja dengan baik.
Stiglitz menekankan pentingnya elemen, seperti regulasi, kompetisi, dan
transparansisesuatu yang absen dalam Neoliberal KW.
Paradigma ini menekankan langkah terbaik untuk memperluas pasar liberal dan
meraih efisiensi pasar liberal dengan pengaturan kapitalisme dan peran negara yang
lebih aktif dalam kebijakan ekonomi berdimensi sosial.
Kebijakan pro-poor dan pelibatan warga (miskin) dalam perencanaan penganggaran
pembangunan merupakan bentuk-bentuk kebijakan yang didorong kuat oleh para
penganut paradigma neoliberal PKW.
***

Penulis adalah Peneliti yang menekuni topik tentang HAM, Demokrasi, dan
Pembangunan
Artikel ini sebelumnya telah dimuat di blog Asep Mulyana. Dimuat ulang di sini
untuk tujuan Pendidikan.

Kepustakaan:
Carroll, T. 2007. The Politics of The World Banks Socio-Institutional Neoliberalism.
Murdoch University
Jayasuriya, K. 2006. Statecraft, Welfare, and the Politics of Inclusion. New York:
Palgrave Macmillan. Critical Asian Studies 36 (4).
Larner, W. 2000. Neoliberalism: Policy, Ideology, Govermentality. Studies in
Political Economy 63
Roberts, K. 1995. Neoliberalisme and the Transformation of Populism in Latin
America: the Peruvian case. World Politics 48 (1): 82116
Rostow, WW. 1960. The Stages of Economic Growth: A Non-Communist Manifesto.
Cambridge: Cambridge University Press.
Saad-Filho. 2010. Growth, Poverty and Inequality: From Washington Consensus to
Inclusive Growth DESA Working Paper No. 100. ST/ESA/2010/DWP/100
Stiglitz. J. 2004. The Post Washington Consensus Consensus. Initiative for Policy
Dialogue. Columbia University.
Weyland, K. 1996. Neopopulism and Neoliberalism in Latin America: Unexpected
Affinities. Studies in Comparative International Development 32 (3): 331.
Weyland, K. 2003. Neopopulism and Neoliberalism in Latin America: how much
affinity? Third World Quarterly. Vol 24 No 6 pp 10951115.