Anda di halaman 1dari 11

PAPER ILMU LINGKUNGAN

PERMASALAHAN LINGKUNGAN SUNGAI GAJAH WONG DAN PENGELOAAN


SAMPAH DI DESA SUKUNAN

Disusun Oleh :
Nur Rohmah Widayati
13304241040
Pendidikan Biologi I

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Pada era modern ini banyak sekali bentuk usaha- usaha pelestarian lingkungan entah
yang dilakukan secara individu maupun kelompok entah itu bertujuan hanya sekedar untuk
memelihara lingkungan agar layak dan nyaman ditinggali ataupu yang bertujuan untuk
mencapai suatu keuntungan materi dari pengelolaan lingkungan dan pemanfaatannya. Upaya
ini dilakukan dengan cara pembangunan berkelanjutan yang mengacu kepada kesepakatan
bahwa upaya- upaya pembangunan untuk memenuhi kebutuhan dan kelangsungan hidup
masa kini yang dilakukan tanpa harus mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi
yang akan datang dengan tetap mewasdai agar tidak mengganggu dan melampaui ekosistem
yang menunjang kehidupan.
Hal ini tentunya merupakan suatu hal yang positif mengingat sekarang ini banyak
tangan- tangan yang tidak bertanggung jawab melakukan upaya kerusakan alam yang
berimbas pada lingkungan juga pastinya dan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan
sehingga sumber daya alam itupun akan habis jika tidak dilestarikan.

BAB II
ISI
Ilmu lingkungan merupakan ilmu yang mempelajari tentang lingkungan hidup,
perpaduan dari konsep dan asas berbagai ilmu. Ilmu lingkungan bertujuan untuk mempelajari
dan memecahkan masalah menyangkut hubungan makhluk hidup dan lingkungan. Selain itu
di dalam ilmu lingkungan juga membahas hubungan antara aspek ekonomi, sosial- budaya,
kebijakan dari lingkungan tersebut. Terdapat beberapa azas ilmu lingkungan, misalnya yaitu:
Azas 1
Semua energi memasuki sebuah organisme, populasi atau ekosistem dapat dianggap

sebagai energi yang tersimpan atau terlepaskan. Energi dapat diubah dari satu bentuk
ke bentuk lain, tetapi tidak dapat hilang, dihancurkan atau diciptakan. (Hk.
Termodinamika I, sistem input-output energi)
Azas 2

Tidak ada sistem perubahan energi yang betul-betul efisien.

Hukum termodinamika kedua.


Semua sistem biologi kurang efisien (hanya sebagian energi dipindahkan dan

digunakan oleh organisme, populasi, ekosistem lain). Kecenderungan umum, energi


berdegradasi ke dalam bentuk panas yang tidak balik dan berradiasi ke angkasa.
Azas 3

Materi, energi, ruang, waktu dan keanekaragaman, semuanya masuk sumber alam.

Sumber alam: segala sesuatu yang diperlukan oleh organisme hidup, populasi,
ekosistem yang pengadaannya hingga ke tingkat yg optimum, akan meningkatkan
perubahan energi

Azas 4

Untuk semua kategori sumber alam, kalau pengadaannya sudah mencapai optimum
maka pengaruh kenaikannya sering menurun dengan penambahan sumber alam itu
sampai suatu tingkat maksimum. Melampaui batas maksimum merupakan usaha yang
sia-sia.

Azas 5
3

Ada dua jenis sumber alam, yaitu seumber alam yang pengadaannya dapat
merangsang penggunaan seterusnya, dan yang tidak mempunyai daya rangsang
penggunaan lebih lanjut. Misal: masyarakat tradisional vs modern.
Sungai Gajah Wong adalah salah satu sungai yang membelah kota Yogyakarta. Bagian

hulu berada di lereng merapi Kabupaten Sleman, sedangkan bagian hilir berada di Kabupaten
Bantul. Sungai Gajah Wong merupakan ekosisten aquatik yang keberadaannya sangat
dipengaruhi oleh aktivitas atau kegiatan di sekitarnya atau di daerah aliran sungai (DAS).
Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta, peruntukkan
Sungai Gajah Wong dimasukkan dalam golongan B, yaitu sebagai sumber air minum dengan
diolah terlebih dahulu.
DAS Gajahwong selain sebagai sumber air untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga,
industri, dan irigasi pertanian juga diperuntukkan sebagai air baku untuk diolah sebagai air
minum. Ketersediaan air pada DAS Gajahwong mengalami defisit pada beberapa daerah
layanan akibat kemarau panjang yang menyebabkan debit mengalami penurunan. Hal
tersebut terjadi karena semakin minim dan tidak optimalnya daerah tangkapan air. Kebutuhan
air yang mendominasi penggunaan air permukaan di sungai tersebut.
Daerah aliran sungai sebagai suatu ekosistem mempunyai beberapa aspek fungsi dan
manfaat, baik fungsi ekologis, sosial, dan produksi yang dalam konteks lingkungan hidup
sangat perlu diperhatikan. Terutama bagi masyarakat yang hidup, tinggal dan bermukim di
daerah sekitar aliran sungai yang selalu memanfaatkan potensi sumberdaya air sebagai
sumber utama kebutuhan hidupnya.
DAS Gajahwong adalah kebutuhan air irigasi dan penggunaan untuk kebutuhan industri
banyak menggunakan air dari saluran irigasi yang mengakibatkan berkurangnya kapasitas air
yang masuk pada petak sawah. Berbagai aktivitas penggunaan lahan di wilayah DAS
Gajahwong seperti halnya pemukiman penduduk yang mayoritas dijadikan tempat kost untuk
kalangan mahasiswa, sebagian besar adalah mahasiswa yang kuliah di UIN Sunan Kalijaga.
alasan mereka memilih kost disana karena dekat dengan kampus dan harganya terjangkau,
selain itu karena akan terasa sejuk apabila kita bertempat tinggal dekat dengan sungai.
Namun itu dapat kita peroleh apabila kita berada didekat sungai yang bersih dan terawat.
Pertanian, dan industri diperkirakan telah mempengaruhi kualitas air.
Sekarang ini kondisi fisik sungai Gajah Wong sudah tidak terlalu baik, hal ini dpat
dilihat dari warna air yang sedikit keruh dan putih, banyak sampah yang menumpuk pada
daerah aliran sungai (DAS), kondisi airnya- pun sedikit berminyak. Warna air yang menjadi

sedikit abu- putih mengindikasikan bahwa air telah mengandung berbagia zat yang berasal
dari limbah rumah tangga maupun pabrik yang berada bantaran sungai Gajah wong itu
sendiri. Air sungainya pun sedkit berbau. Selain karena sebab diatas, kerusakan ekosistem
Sungai Gajah Wong juga disebabkan areal sawah yang posisinya di bagian atas dari DAS,
pemupukan, penggunaan pestisida dan herbisida pada pertanian yang ikut terlindi oleh air dan
terbawa ke aliran sungai akan menyebabkan lama- kelamaan kualitas air menurun. Perubahan
tata guna lahan juga akan mempengaruhi dan memberikan dampak terhadap kondisi kualitas
air sungai terutama aktivitas domestik yang memberikan masukan konsentrasi BOD terbesar
ke badan sungai.
Banyaknya sampah yang menumpuk pada DAS Gajah Wong ini mengakibatkan
kedalaman sungai menjadi berkurang karena terjadi sedimentasi di dasar sungai dan lebar
sungai- pun menjadi berkurang. Pada dasarnya sungai Gajah Wong merupakan sumber
kehidupan bagi warga- warga disekitar bantaran sungai, dan sebagai irigasi sawah- sawah
yang ada di sekitar daerah aliran sungai. Dekatnya permukiman warga dengan DAS juga
menimbulkan lebar sungai menjadi lebih sempit, dan sungai tidak dapat menampung air lebih
banyak ketika hujan besar datang, hal ini terlihat dari sampah- sampah yang tersangkut pada
batang-batang pohon yang berada di sebelah atas DAS ini memperlihatkan jika banjir datang
maka volume air akan meluap hingga ketinggian melibihi DAS Gajah Wong itu sendiri.

Daerah Aliran Sungai (DAS) Gajahwong merupakan salah satu dari sembilan sungai
yang telah mengalami penurunan kualitas, karena terkontaminasi oleh limbah. DAS Gajah
Wong merupakan salah satu sungai yang melewati provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,
mempunyai daerah pengaliran sungai dengan daerah tangkapan seluassekitar 38,2 km2 dan
panjang sungai tidak lebih dari 20 km.
Yang menarik dari upaya pemulihan kondisi sungai Gajah Wong adalah dengan
dilakukannya pemungutan sampah dari sungai gajah wong, yaitu sampah- sampah yang
masih dapat digunakan kembali, dan sampah yang dapat didaur ulang kembali. Meski telah
5

dilakukan usaha- usaha memulihkan sungai Gajah Wong dari pencemaran yang terjadi, tetap
saja tidak akan berjalan dengan baik dan menghasilkan sesuatu yang berarti jika masyarkat
sendiri tidak mau untuk mengubah kebiasaan mereka untuk tidak membuang sampah di
sungai, karena bagaimanapun juga sungai tersebut merupakan sumber kehidupan bagi
berbagai makhluk hidup begitu pula dengan masyarkat itu sendiri.
Selain itu diperlukan pula campur tangan dari pemerintah dalam penentuan kebijakankebijakan mengenai upaya pencemaran sungai, misalnya dengan menerapkan kebijakan
tetang pabrik- pabrik yang ada di sekitar daerah aliran sungai tidak boleh membuang limbah
hasil produksi pabrik mereka ke sungai. Pabrik- pabrik tersebut hendaknya memiliki
mekanisme pengolahan limbah tersendiri agar limbah tersebut dapat dimanfaatkan lagi dan
tidak mencemari lingkungan.
Dari pemanfaatan limbah kembali manjadi bahan yang dapat digunakan tentunya akan
memperbesar pemasukan yang diperoleh bagi masyarakat sendiri, dan tentunya lebih ramah
lingkungan, serta lebih baik bagi kesehatan. Seprti yang kita tahu bahwa air sangat dekat
dengan kita baik itu yang berasal dari sungai maupun sumur, terkadang ketika air sungai
mengalami pencemaran yang tinggi maka sumur- sumur yang ada di sekitar sungai itupun
ikut mengalami pencemaran pula. Padahal kehidupan kita sangat bergantung pada air, baik
untuk minum maupun keperluan MCK (Mandi, Cuci, Kencing). Jika air yang kita gunakan
telah tercemar zat- zat berbahaya, maka akan berefek pula pada kesehatan kita, karena zatzat berbahaya dapat mengendap dalam tubuh organisme yang kita makan (berasal dari air)
dan termakan oleh kita, maka zat- zat tersebut-pun akan masuk ke tubuh kita.
Pertumbuhan penduduk sangat mempengaruhi kuantitas dan kualitas produksi sampah
individu maupun sampah rumah tangga, pada kenyataannya produksi tidak lagi dibatasi oleh
waktu, tempat dan situasi karena hal ini disebabkan oleh perilaku manusia yang membuang
sampah. Sebagai akibat dari menumpuknya pada daerah/lokasi itu sendiri namun
pengaruhnya ada yang positif dan ada yang negatif.
Masalah sampah merupakan masalah yang hingga kini masih sukar ditanggulangi
dengan baik. Hal ini sejalan dengan kebiasaan atau tingkah laku dari masyarakat itu sendiri
yang kurang berpartisipasi dalam memelihara lingkungannya, sehingga membuang sampah
dimana saja tanpa memikirkan akibat dari kelakuannya tersebut. Perlu diketahui bahwa
tanggungjawab mengenai masalah sampah bukan hanya dari pemerintah melainkan
masyarakat juga diharapkan turun tangan dalam memerangi sampah, karena akibat dari
sampah dapat mencemari tanah, air dan udara. Untuk itu lingkungan harus dijaga
kebersihannya agar tidak mengancam kesehatan.

Berbeda dengan permasalahan sungai Gajah Wong yang penuh dengan sampah pada
DASnya dan belum ada tindakan yang berarti (belum membuahkan hasil) Desa wisata
Sukunan sedikit lebih berpikir kreatif dengan mengubah paradigma sampah yang menjijikan
sebagai sumber pendapatan ekonomi yang baru serta dapat memperbaiki kualitas lingkungan
tempat tinggal mereka.
Seperti yang dilakukan oleh warga desa wisata Sukunan, Gamping, Sleman, Yogyakarta
yang secara mandiri mengelola sampah rumah tangga mereka yang diawali dengan rasa
keprihatinan warganya sendiri dengan samapah- sampah yang menumpuk di daerah sekitar
rumah mereaka dan disungai, karean dulunya desa ini merupakan Tempat Pembuanagan
Sampah (TPS) dengan cara memisahkan sampah plastik, sampah logam dan sampah kertas.
Selain itu disetiap rumah warga terdapat biopori yang berguna untuk menyimpan air
ketika hujan tiba, sehingga kandungan air tanah tetap terjaga, hal ini juga dapat digunakan
untuk dimanfaatkan sebagai tempat sampah- sampah rumah tangga berupa daun atau sampah
organik lainnya. Desa ini juga telah memiliki IPAL yang dapat membantu sistem irigasi dari
pertanian yang ada di desa tersebut, karena sebagian besar warga desa ini berprofesi sebagai
petani dan buruh.
Saat ini desa Sukunan telah menjadi tujuan wisata lingkungan. Para pengunjung di
kampung Sukunan dapat belajar mengenai system pengolahan sampah yang diterapkan di
kampung ini. Dengan kesadaran warga kampung ini yang telah membiasakan diri dalam
mengolah sampah maka tidak heran jika para pengunjung akan melihat pemandangan desa
yang asri dengan rindangnya pepohonan dan hamparan sawahnya yang masih luas.
Kampung ini menawarkan beragam paket wisata berupa pelatihan yang berbasis
lingkungan yang penuh dengan edukasi dan rekreasi. Kegiatan tersebut antara lain
pengolahan sampah mandiri, pembuatan kerajinan dari limbah plastic, pembuatan kerajinan
dari kain perca, pembuatan kompos dan juga atraksi yang tak kalah menarik yakni kegiatan
khas pedesaan yakni membajak sawah, menanam benih padi bahkan memanen padi serta
anggon bebek. Kegiatan ini sangat cocok bagi semua lapisan umur baik dari TK hingga
perguruan tinggi bahkan masyarakat umum yang ingin mengembangkan kosep melestarikan
lingkungan sekitar.
Konsep desa ramah lingkungan ini dibuat dengan melibatkan masyarakat dimana warga
dilarang berbelanja dengan menggukan kantong plastik (warga membawa tas sendiri), warga
perempuan tidak diperkenakan menggunakan pembalut sekali pakai, dan aturan lainnya. Yang
menarik dari untuk dipelajari dari desa ini adalah warga memanfaatkan sampah dengan
sebaik mungkin untuk keperluan mereka yang tentunya memiliki nilai ekonomis yang cukup
tinggi. Setelah sampah- sampah yang dikumpulakan warga (telah dipilah) dan dimasukkan
7

kedalam karung-karung yang dibedakan berdasarkan jenis sampahnya. Setelah karungkarung sampah yang berada di setiap rumah penuh, warga bisa mengumpulkannya ke dalam
3 drum besar yang telah disediakan di beberapa sudut desa. Dalam waktu yang telah
ditentukan, drum-drum disetor ke TPS (Tempat Pembuangan Sampah) yang sudah dibangun
di desa Sukunan. Jika jumlah sampah kira-kira sudah mencapai 1 truk, sampah dijual ke
pengepul.
Selain itu sampah- sampah yang tidak laku dijual dibuat kerajinan tangan oleh
kelompok ibu- ibu PKK seperti dibuat tas, dompet, bros dengan berbagai model sehingga
laku dijual. Harga kerajinan dari sampah plastik ini beragam, sesuai ukuran, bahan, dan
kerumitannya. Hasil dari penjualan ini 70% untuk pengrajin, 5% untuk kas paguyuban, dan
sisanya untuk mengganti bahan penunjang.
Desa ini juga memiliki sistem biogas yang diperoleh dari sampah organik di bank
sampah yang ada di desa tersebut. Hal lain yang menarik untuk disorot dalam pengolahan
sampah Sukunan adalah adanya tabungan sampah. Dalam program ini, setiap warga
diharuskan memisahkan sampah organik rumah tangga mereka dan memasukkannya dalam
bak pengomposan yang ada di setiap dasawisma. Kelompok dasawisma akan mengolah
sendiri pengomposan tersebut. Komposter sebagai alat pembuatan kompos dibuat sendiri oleh
warga, bahkan pada perjalanannya desa Sukunan bisa memproduksi komposter untuk dijual.
Hasil panen kompos akan dibeli oleh paguyuban dan hasil penjualan disimpan dalam bentuk
rekening yang bisa diambil setiap akhir tahun. Tujuan warga untuk menjadikan desanya
sebagai desa yang sehat dan asri dapat terpenuhi, bahkan kreatifitas yang tercipta dari
kerajinan sampah, penjualan kompos, penjualan komposter, dan hal lain dapat menghasilkan
keuntungan yang pada akhirnya akan kembali lagi ke masyarakat. Semua itu dilakukan
dengan tetap mempunyai komitmen tinggi untuk menjaga lingkungan.
Kesuksesan Desa Sukunan dalam mejadi desa yang ramah lingkungan tak terlepas dari
kesadaran masyarakat sendiri untuk hidup lebih baik, dan kerjasama yang baik antar
masyarakat dalam menciptkan lingkungan yang ramah dan layak untuk ditinggali, serta
penentuan kebijakan yang tepat oleh kelompok masyarakat atau pemerintah desa dalam
keseriusan menangani masalah lingkungan khususnya sampah.
Untuk menjaga keberlanjutan pembangunan, satu tempat di Sukunan tidaklah cukup.
Sosialisasi terus dilakukan baik ke desa tetangga, lembaga pemerintahan, bahkan sampai ke
luar pulau. Belum lama ini sosialisasi dilakukan di Nias. Sosialisasi tidak hanya sebatas
sosialisasi, namun pengurus paguyuban menindaklanjuti dengan pengawasan pelaksanaan
program serta meminta bantuan dari pemerintah. Dalam sosialisasi ini tantangan terbesar
yang dihadapi adalah respon dari masyarakat itu sendiri. Faktor pendidikan masyarakat yang
8

masih kurang menjadi penyebab sikap pesimis, penolakan, bahkan perlawanan. Edukasi
secara perlahan terus diberikan untuk menyadarkan masyarakat tentang kepedulian
lingkungan yang dampaknya akan berkelanjutan untuk generasi penerus.
Warga desa Sukunan telah memberikan contoh indah tentang penerapan pembangunan
yang berkelanjutan. Mereka mungkin tidak familiar dan tidak ingin tahu apa itu sustainable
development. Pikiran mereka sederhana saja. Warga ingin melakukan yang terbaik untuk
pembangunan desanya dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan sebagai warisan untuk
generasi penerus.

BAB II
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Ilmu lingkungan adalah ilmu yang mempelajari tentang lingkungan hidup
yang merupakan perpaduan dari konsep dan asas berbagai ilmu.
Sungai Gajah Wong adalah salah satu sungai yang membeah kota Jogja,
pencemaran yang terjadi di Sungai Gajah Wong akibat dari ulah masyarakatnya
sendiri yang membuang limbah rumah tangganya dan limbah pabrik di aliran sungai.
Untuk mengatasi hal tersebut perlu kesadaraan dari masing- masing pihak yang terkait
baik itu masyarakat, pemerintah, dan pemilik pabrik betapa pentingnya peran sungai
bagi kehidupan mereka.
Desa wisata Sukunan merupakan salah satu desa yang menerapkan
pengoalahan sampah secara mandiri. Sistem pengolahan sampah ini dimulai dari
tingkat rumah tangga hingga kelompok dan menghasilkan berbagai macam kerajinan
dan produk dari barang bekas atau sampah khas Sukunan yang bernilai ekonomis.

B.

Saran
Dari pengalaman yang didapat pada saat mengikuti kuliah di Sungai Gajah
Wong dan di Desa Wisata Sukunan, penulis menyarankan kepada pembaca atau
masyarakat pada umunya untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan khususnya
sungai (air) dari berbagai pencemaran. Dengan cara tidak membuang sampah
sembarangan terlebih di aliran sungai karena hal itu akan berakibat panjang dan
minimalkan pemaikan barang- barang yang berpotensi menjadi sampah yang tidak
dapat didaur ulang atau dibuat menjadi kompos. Serta menjaga sumber daya itu secara
bijak dan tidak berlebihan. Selain itu hendaknya kita lebih peduli dengan lingkungan
sekitar kita dari permasalahan klasik mengenai lingkungan.

10

DAFTAR PUSTAKA

Committee on Restoration of Aquatic Ecosystems: Science, Technology, and Public Policy,


Water Science and Technology Board, Commission on Geosciences, Environment, and
Resources, National Research Council. 1992. Restoration of Aquatic Ecosystems.
Washington DC: National Academy Press.
Hafied a. Gany. Perspektif pengelolaan sungai terpadu. Seminar nasional & workshop
pengelolaan sungai di indonesia, yang diselenggarakan oleh center for river basin
organizations and management - crbom, dengan balai sungai, puslitbang sda, di lor-in
hotel, solo, 24-25 november 2010
Jain CK, Bhatia KKS, Seth SM._. Assessment of point and non-point sources of pollution
using a chemical mass balance approach. Hydrological sciencesjournaldes
sciences hydrologiques, 43(3) June. p 379-390

11