Anda di halaman 1dari 19

Seadasdadasdfsdf

Gangguan Sistem Perkembangan


Seks Sekunder
Blok 10 Semester3 Tahun Ajaran 2015
Ryan Calvin
102011305/C1 - Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universtas Kristen Krida Wacana
Ryan.cavlin82@yahoo.co.id - Jalan Arjuna Utara Nomor 6, Jakarta 11510

PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Organ reproduksi membentuk apa yang dikenal sebagai traktus genitalis yang
berkembang setelah traktus urinarius. Kelamin laki-laki maupun perempuan sejak
lahir sudah dapat dikenal, sel produksi berkembang di sebelah depan ginjal yang
tumbuh sebagai koloni-koloni sel kemudian membentuk kelenjar reproduksi.
Perkembangan sifat terjadi pada umur 10-14 tahun. Perubahan penting terjadi
pada usia remaja ketika jiwa dan raganya menjadi matang.
Dalam pubertas anak tumbuh dengan cepat dan mendapatkan bentuk tubuh
yang khas dengan jenisnya. Dengan pubertas ini wanita masuk dalam masa
reproduktif, artinya masa mendapat keturunan yang berlangsung kira-kira 30
tahun. Pada laki-laki dewasa pubertas dimulai dengan perubahan suara lebih berat,
pembesaran genitalia eksterna, tampilnya bulu di atas tubuh dan muka dan
tumbuhnya jakun. Pada pria pubertas sering terjadi ereksi akibat rangsangan
seksual dan menghasilkan sperma sehingga terjadi mimpi basah sebagai akibat
dari mimpi erotik. Hal itu mendorong hubungan seksual yang bertujuan untuk
melanjutkan keturunan.

II. Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang terdapat dalam skenario 5 adalah sbb :
1

Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun sudah tumbuh kumis dan jambang.
III. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai bahan pembelajaran dan untuk
mengetahui apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi terganggunya sistem
perkembangan seks sekunder pada skenario 5 serta contoh penerapannya dalam
suatu kasus dan cara menanggulanginya.
IV. Hipotesis
Seorang anak laki-laki umur 8 tahun tumbuh kumis dan jambang disebabkan
oleh gangguan sitem perkembangan seks sekunder.
V. Manfaat
Mengkaji faktor-faktor penyebab terganggunya sistem perkembangan
seks sekunder serta penerapannya dalam studi kasus atau realitas yang terjadi
di masyarakat sehingga mendapat pemahaman lebih mendalam sehingga
nantinya dapat mengamalkan ilmu tersebut sesuai dengan ketentuan yang
seharusnya. Selain itu sebagai sarana berlatih karena dapat memposisikan diri
di dalam kasus tersebut untuk melatih diri sendiri ketika terlibat dalam
kejadian yang sesungguhnya.

ISI PEMBAHASAN
Skenario 5:
Seorang anak laki-laki umur 8 tahun, merasa risih karena sudah tumbuh kumis dan jambang.
Kemudian ia mengadu kepada ibunya, dan oleh ibunya dikonsultasikan ke dokter.
Saya akan membahasnya dalam metode seven jump.
Langkah-langkah dalam Problem Based Learning:
I.

Langkah 1
Identifikasi istilah yang tidak diketahui
TIDAK ADA

II.

Langkah 2
Rumusan Masalah
No.
1.

III.

Masalah
Seorang anak laki-laki berusia 8 tahun sudah tumbuh kumis dan jambang.

Langkah 3
Analisis Masalah
GAMBARAN MIND MAPPING

Anak laki-laki umur 8


tahun sudah tumbuh
kumis dan jambang

Organ yang

Makrosk
opis

Mekanisme

Mikrosko
pis

Prim

Sekun

Keterangan Mind Map :


I.

Makroskopis

Gambar 1. Alat reproduksi pria


Sumber: http://biologimediacentre.com/sistem-reproduksi-2-reproduksipada-manusia/

Organ reproduksi pria tidak terpisah dari saluran uretra dan sejajar dengan
kelamin luar. Organ reproduksi pria terdiri dari kelenjar (terdiri dari : testis, vesika
seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar bulbo uretralis), duktus atau saluran
(epididimis, duktus seminalis, uretra) dan bangun penyambung (skrotum, fenikulus
spermatikus,dan penis).
Genitalia Internal
1. Ductus deferens
Duktus pada saluran reproduksi laki-laki membawa sperma matur dari testis
ke bagian eksterior tubuh. Dalam testis, sperma bergerak ke lumen tubulus
seminiferus, kemudian menuju tubulus recti (tubulus lurus). Dari tubulus rekti,
sperma kemudian menuju jaring-jaring kanal rete testis yang bersambungan dengan
10-15 duktus eferen yang muncul dari bagian atas testis. Ada 3 duktus yang terdapat
pada saluran reproduksi laki-laki yaitu duktus epididimis, deferens, dan ejakulatorius.1
Duktus epididimis adalah tuba terlilit yang panjangnya 6 meter yang terletak
di sisi posterior testis. Bagian ini menerima sperma dari duktus eferen. Epididimis
menyimpan sperma dan mampu mempertahankannya sampai enam minggu. Selama
enam minggu tersebut, sperma akan menjadi motil, matur sempurna, dan mampu
melakukan fertilisasi. Selama eksitasi seksual, lapisan otot polos dalam dinding
epididimal berkontraksi untuk mendorong sperma ke dalam duktus deferens.1

Duktus deferens adalah kelanjutan epididimis. Duktus ini adalah tuba lurus
yang terletak dalam corda spermatik yang juga mengandung pembuluh darah dan
pembuluh limfatik, saraf SSO, m.cremaster, dan jaringan ikat. Masing-masing duktus
deferens meninggalkan scrotum, menanjak menuju dinding abdomen canalis inguinal.
Duktus ini mengalir di balik vesica urinaria bagian bawah untuk bergabung dengan
duktus ejakulatorius.
Duktus ejakulatorius pada kedua sisi terbentuk dari pertemuan pembesaran
(ampulla) di bagian ujung duktus deferens dan duktus dari vesicula seminalis. Setiap
duktus ejakulatorius panjangnya mencapai sekitar 2cm dan menembus kelenjar
prostat untuk bergabung dengan uretra yanng berasal dari vesica urinaria.1

Gambar 2. Duktus pada reproduksi laki-laki


Sumber : http://v-class.gunadarma.ac.id/file.php/1/testis.jpg

2. Vesicula seminalis dan Glandula prostat


Sepasang vesicula seminalis adalah kantong terkonvolusi (berkelok-kelok)
yang bermuara ke dalam duktus ejakulatorius. Sekretnya adalah cairan kental dan
basa yang kaya akan fruktosa, berfungsi untuk memberi nutrisi dan melindungi
sperma. Setengah lebih sekresi vesicula seminalis adalah semen (cairan sperma yang
meninggalkan tubuh).1
Kelenjar prostat menyelubungi uretra saat keluar dari vesica urinaria. Sekresi
prostat bermuara ke dalam uretra pars prostaticus setelah melalui 15-30 duktus
prostatik. Prostat mengeluarkan cairan basa menyerupai susu yang menetralisir
asiditas vagina selama senggama dan meningkatkan motilitas sperma yang akan
optimum pada pH 6,0-6,5. Kelenjar prostat membesar saat remaja dan mencapai
5

ukuran optimalnya pada laki-laki yang berusia 20-an. Pada banyak laki-laki
ukurannya terus bertambah seiring pertambahan usia. Saat berusia 70 tahun, dua
pertiga dari semua laki-laki mengalami pembesaran prostat yang mengganggu
perkemihan.1
Sepasang kelenjar bulbouretral (Cowper) adalah kelenjar kecil yang ukuran
dan bentuknya menyerupai kacang polong. Kelenjar ini mensekresi cairan basa yang
mengandung mukus ke dalam uretra penis untuk melumasi dan melindungi serta
ditambahkan pada semen.1
Genital Externa
1. Penis
Penis terdiri dari 3 bagian akar, badan, dan glans penis yang membesar banyak
mengandung ujung-ujung saraf sensorik. Organ ini berfungsi untuk tempat keluar
urine dan semen serta sebagai organ kopulasi. Kulit penis tipis dan tidak berambut
kecuali di dekat akar organ. Preputium (kulup) adalah lipatan sirkular kulit longgar
yang merentang menutupi glans penis kecuali jika diangkat melalui sirkumsisi.
Korona adalah ujung proximal glans penis.1
Badan penis dibentuk dari tiga massa jaringan erektil silindris; dua korpus
cavernosum dan satu corpus spongiosum ventral di sekitar uretra. Jaringan erektil
adalah jaring-jaring ruang darah ireguler (venosa sinusoid) yang diperdarahi oleh
arteriol aferen dan kapiler didrainase oleh venula dan dikelilingi jaringan ikat rapat
yang disebut tunika albuginea. Korpus cavernosum dikelilingi oleh jaringan ikat rapat
yang disebut tunika albuginea.1

2. Scrotum (dan Testis)


Scrotum adalah kantong longgar yang tersusun dari kulit, fasia, dan otot polos
yang membungkus dan menopang testis diluar tubuh pada suhu optimum untuk
produksi spermatozoa. Dua kantong skrotal, setiap skrotal berisi satu testil tunggal
dipisahkan oleh septum internal. Otot dartos adalah lapisan serabut dalam fasia dasar
yang berkontraksi untuk membentuk kerutan pada kulit scrotal sebagai respons
terhadap udara dingin atau eksitasi seksual.1
6

Testis adalah organ lunak, berbentuk oval, dengan panjang 4-5cm. Testis
memiliki beberapa lapis yaitu tunika albuginea, seminiferus. Tunika albuginea adalah
kapsul jaringan ikat yang membungkus testis dan merentang ke arah dalam untuk
membaginya menjadi sekitar 250 lobulus. Tubulus seminiferus merupakan tempat
berlangsungnya spermatogenesis, terlilit dalam lobulus. Epitelium germinal khusus
yang melapisi tubulus seminiferus mengandung sel-sel batang (spermatogonia) yang
kemudian menjadi sperma; sel-sel sertoli yang menopang dan memberi nutrisi sperma
yang sedang berkembang; dan sel-sel intertsisial (Leydig), yang memiliki fungsi
endokrin.1
Sel sertoli menyebar dari epitelium sampai lumen tubulus. Fungsinya antara lain:

Menyokong dan memberi nutrisi spermatozoa,.


Mensekresi inhibitor duktus Mullerian, yaitu sejenis glukoprotein yang
diproduksi selama perkembangan embrionik pada saluran reproduksi laki-

laki.
Mensekresi protein pengikat androgen untuk merespons FSH yang dilepas
kelenjar hipofisis anterior yang dimana proteinnya mengikat testoteron dan
membantu mempertahankan tingkat konsentrasi tinggi cairan dalam tubulus

seminiferus; testoteron menstimulasi spermatogenesis.


Mensekresi inhibin, suatu protein yang mengeluarkan efek umpan balik

negatif terhadap sekresi FSH oleh kelenjar hipofisis anterior.


Mensekresi antigen H-Y, yaitu protein permukaan membran sel yang penting
untuk menginduksi proses diferensiasi testis.1
Sel

interstisial

(Leydig)

mensekresi

androgen

(testoteron

dan

dihidrotestoteron) yang menghilang enam bulan setelah lahir dan muncul kembali saat
awitan pubertas karena pengaruh hormon gonadotropin dari kelenjar hipofisis.1

II.

Mikroskopis

Gambar 2. Mikriskopis Testis


Sumber: http://fluktuantes.files.wordpress.com/2013/08/testis_40x.jpg

1. Testis
Bagian mediastinum testis terdapat cabang yang membagi testis
menjadi 250 lobulus disebut septula testis, karena letaknya diantara lobulus
disebut jaringan interlobularis.dalam lobulus terdapat jaringan penyambung yang
disebut jaringan intertubularis (antara tubulus). Dalam lobulus terdapat 1-4
tubulus contortus (berkelok). Tubulus contourtus menuju mediastinum testis lurus
disebut tubulus rectus testis dalam mediastinum terdapat saluran yang saling
berhubungan disebut rete testis sebanyak 10-20 (15) ductus eferen.
2. Tubulus seminiferus
Tubulus seminiferus merupakan tubulus kontortus yang membentuk
jala-jala yang berujung buntu dan pada ujung lain menjadi saluran lurus dengan
lumen menyempit dan dibatasi oleh epitel selapis kubus berflagela satu. Bentuk
lurus ini dinamakan tubulus rektus. Bagian ini pendek yang bermuara pada
saluran-saluran yang beranastomosis yang dinamakan rete testis. Tubulus
seminiferus terdiri dari epitel germinativum, lamina basalis, dan tunika jaringan
ikat fibrosa. Epitelnya terdiri dari 2 jenis sel yaitu sel Sertoli dan sel-sel
spermatogenik yang tersusun atas 4-8 lapisan. Urutan sel-sel dari lapisan yang
paling dasar hingga mendekati lumen adalah spermatogonium, spermatosit primer,
spermatosit sekunder, spermatid, dan spermatozoa.
Sel Sertoli merupakan sel-sel piramidal panjang yang saling bertautan
dengan sel-sel spermatogenik. Dasar sel Sertoli melekat pada lamina basalis,
sedang ujung apikalnya menjorok kedalam lumen tubulus seminiferus. Akibat
8

adanya sel-sel spermatogenik di sisi lateral dan di sisi basalnya, maka bentuk sel
Sertoli menjadi tidak teratur. Sel-sel Sertoli mempunyai 3 fungsi utama yaitu
pelindung, penyokong, dan pengatur nutrisi sel-sel spermatogenik yang sedang
berkembang; fagositosis, yaitu membuanng kelebihan sitoplasma spermatid dalam
proses spermiogenesis (perubahan spermatid menjadi spermatozoa); dan sekresi,
yaitu sel-sel Sertoli mensekresi sekret untuk transpor spermatozoa.2

Gambar 3. Tubulus seminiferus3


Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/0f/Testicle-histologyboar-2.jpg

3. Tubulus rektus
Tubulus rektus merupakan bagian akhir dari tubulus seminiferus yang
merupakan saluran pendek yang lurus dengan lumen sempit. Saluran ini dilapisi
oleh sel epitel kubus dengan satu flagel. Tubulus rektus bermuara pada rete testis
yang merupakan saluran-saluran yang saling beranstomosis.2
4. Rete testis
Rete testis terdapat pada bagian mediastinum testis. Rete testis dilapisi
oleh epitel kubus. Dari rete testis keluar 10-20 vas eferens.2

5. Ductus eferens

Gambar 4. Duktus Eferens


Sumber :
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/0f/Testicle-histologyboar-2.jpg

Vas eferens terletak dalam jaringan ikat epididimis. Vas eferens dilapisi
oleh epitel kubus dan berganti menjadi epitel columnar bersilia setelah mendekati
epididimis. Dibawah lapisan epitel terdapat lamina propria dengan jaringan ikat
padat dan otot polos.2
6. Epididimis

Gambar 5. Duktus Epididimis


Sumber :
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/0f/Testicle-histologyboar-2.jpg

Epididimis merupakan satu saluran panjang yang sangat berkelokkelok dengan panjang sekitar 4-6cm. Saluran yang panjang ini dengan jaringan
ikat membentuk corpus dan caudal epididimis. Caput epididimis berisi vas
eferens. Epididimis dilapisi oleh epitel berlapis semicolumnar dengan sel-sel
columnar yang sangat panajng dengan stereosilia yang panjang dan sel basal yang
10

kecil. Lamina proprianya tipis dengan jaringan ikat dan otot polos. Segerombol
spermatozoa dapat terlihat dalam lumen epididimis.2

7. Vas deferens

Gambar 6. Duktus Deferens


Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/0f/Testiclehistology-boar-2.jpg

Vas deferens merupakan saluran lurus yang keluar dari caudal


epididimis. Saluran ini berdinding tebal terdiri dari lapisan mukosa yang tipis dan
lapisan muskularis yang tebal dan dikelilingi oleh lapisan adventisia. Lapisan
epitelnya merupakan epitel berlapis semicolumnar dengan stereosilia. Sel
columnarnya lebih pendek dibandingkan sel columnar epididimis. Lapisan ototnya
terdiri dari lapisan otot polos yang tipis dengan susunan longitudinal di bagian
dalam, luar, dan tengahnya merupakan lapisan otot yang tebal dengan susunan
sirkuler. Lapisan mukosanya pada vas deferens awal membentuk vili-vili
sederhana, tetapi pada bagian ampula, vas deferens melebar, dan terdapat vili-vili
yang membentuk kripta-kripta itu merupakan kelenjar yang menghasilkan sekret
penting untuk kehidupan spermatozoa. Pada bagian akhir ampulla, saluran ini
bersatu dengan kelenjar vesicula seminalis dan selanjutnya salurannya mengecil
dan masuk kedalam prostat dan bermuara pada uretra. Bagian yang masuk prostat
dinamakan duktus ejakulatorius dengan lapisan mukosa sama dengan ampulla
tetapi tanpa lapisan otot.2

8. Penis

11

Gambar 7. Penis
Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/0f/Testiclehistology-boar-2.jpg

Penis terdiri atas 3 massa dilindris dari jaringan erektil, uretra dan diluarnya
diliputi dengan kulit (terdiri dari epidermis dan dermis). Jaringan erektil meliputi
sepasang corpus cavernosum dan spongiosum yang didalamnya terdapat uretra.
Dibagian luar corpus dikelilingi oleh jaringan ikat padat yaitu tunika albuginea.
Diluar tunika albuginea terdapat jaringan ikat longgar dan didalam corpus terdapat
banyak trabekula. Ditengah corpus cavernosum terdapat arteri.2
9. Vesicula Seminalis

Gambar 8. Vesikula Seminalis


Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/0f/Testiclehistology-boar-2.jpg

Vesicula seminalis terdiri dari 2 saluran yang sangat berkelok-kelok


dengan panjang 15cm. Lapisan mukosa dilapisi oleh epitel berlapis semu silindris.
Lapisan epitelnya membentuk kripta-kripta yang saling beranastomosis. Epitel
terdiri dari sel-sel basal dan lapisan sel kubus atau silindris pendek yang kaya
dengan granula sekret. Lamina proprianya kaya dengan serabut elastin dan
dikelilingi oleh lapisan otot polos yang tipis. Pada lapisan ototnya terdapat

12

serabut-serabut saraf dan ganglia simpatis. Sekresi yang tertimbun dalam kelenjar
dikeluarkan waktu ejakulasi oleh kontraksi otot polos.2
10. Glandula Prostat

Gambar 9. Glandula Prostat


Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/0f/Testiclehistology-boar-2.jpg

Prostat merupakan kumpulan 30-50 kelenjar tubulo-alveolar bercabang


yang saluran keluarnya bermuara pada uretra pars prostatika. Prostat
menghasilkan cairan prostat yang disimpan dan dikeluarkan pada waktu ejakulasi.
Prostat dikelilingi oleh capsula fibroelastin yang kayak akan otot polos. Kelenjar
prostat dibagi menjadi 3 struktur yaitu kelenjar mukosa, submukosa, dan utama.
Kelenjar-kelenjar ini bermuara pada uretra pars prostatica.2

11. Glandula Bulbouretralis

Gambar 10. Glandula Bulbouretralis


Sumber : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/0f/Testiclehistology-boar-2.jpg

Kelenjar bulbouretralis merupakan bentukan seperti kacang polong


yang terletak dibelakang uretra pars membranosa dan bermuara kedalam uretra
tersebut. Kelenjarnya merupakan kelenjar tubuloalveolar. Kelenjar dikelilingi
13

oleh jaringan ikat dan otot lurik. Unit sekresinya bervariasi struktur dan ukuran.
Kebanyakkan merupakan alveoli dan yang lain merupakan tubuler. Sekresinya
terutama adalah mucus. Sel-sel sekretorik berbentuk kubus atau silindris pendek.
Kelenjar littrei terletak dibawah lamina propria dan diatas trabecula. Kelenjar ini
III.

dilapisi oleh sel-sel epitel berlapis silindris atau berlapis semua silindris.2
Hormon
Hormon kelamin laki-laki dan perempuan juga dihasilkan oleh gonad dan
berfungsi di seluruh proses reproduksi. Sekresi steroid bertanggung jawab untuk
perkembangan prenatal organ reproduksi. Sekresi steroid bertanggung jawab
untuk perkembangan dan mempertahankan karakteristik seks sekunder (perubahan
fisik yang terjadi saat pubertas), dan untuk aktivitas neuroendokrin hipotalamus.
Pada laki-laki hormon yang berperan adalah androgen (terutama testoteron)
adalah hormon kelamin primer laki-laki.1

IV.

Pengaturan hormonal
Hormon tertikular. Androgen utama yang diproduksi testis adalah testosteron.
Testis juga mensekresi sedikit androstenedion, yaitu prekursor untuk estrogen
pada laki-laki, dan dihidro-testosteron (DHT) yang penting untuk pertumbuhan
prenatal dan diferensiasi genitalia laki-laki.1
Efek testosteron dikelompokkan menjadi lima kategori yaitu efek pada sistem
reproduksi sebelum lahir, efek pada jaringan spesifik seks setelah lahir, efek
terkait reproduksi lainnya, efek pada karakteristik seks sekunder, dan efek

V.

terhadap nonreproduksi.4
Efek pada sistem reproduksi sebelum lahir
Sebelum lahir, sekresi testosteron oleh testis janin menyebabkan maskulinisasi
saluran reproduksi dan genitalia eksternal serta mendorong turunnya testis ke
dalam scrotum. Setelah lahir, sekresi testosteron berhenti, dan testis serta sistem
reproduksi lainnya tetap kecil dan nonfungsional sampai pubertas.4
\

VI.

Efek pada jaringan spesifik seks setelah lahir


Pubertas adalah periode kebangkitan dan pematangan sistem reproduksi yang
semula nonfungsional, serta memuncak pada kematangan seksual dan kemampuan
bereproduksi. Masa ini biasanya dimulai sekitar usia 10-14 tahun; secara rerata,
pubertas dimulai sekitar dua tahun lebih awal pada wanita daripada pria. Pubertas,
yang biasanya berlangsung tiga sampai lima tahun mencakup rangkaian kompleks
proses-proses endokrin, fisik, dan perilaku. Masa remaja adalah konsep yang lebih

14

luas yang merujuk kepada keseluruhan periode transisi antara anak dan dewasa,
bukan sekedar pematangan seks.4
Pada pubertas, sel-sel Leydig mulai mengeluarkan testosteron kembali.
Testosteron berperan dalam pertumbuhan dan pematangan keseluruhan sistem
reproduksi pria. Dibawah pengaruh lonjakan sekresi testosteron selama pubertas,
testis membesar dan mulai menghasilkan sperma untuk pertama kalinya, kelenjar
seks tambahan membesar dan menjadi sekretorik, sementara penis dan scrotum
membesar.4
Sekresi testosteron terus-menerus adalah hal esensial bagi spermatogenesisi
dan pemeliharaan saluran reproduksi pria selama masa dewasa. Sekresi testosteron
dan spermatogenesis, sekali dimulai saat pubertas, akan berlanjut seumur hidup.
Namun, efisiensi testis secara bertahap turun setelah usia 45-50 tahun meskipun
pria pada usia70-an dan sesudahnya dapat terus menikmati kehidupan seks aktif,
dan sebagian bahkan menjadi ayah pada usia setua ini. Penurunan gradual kadar
testosteron dalam darah dan produksi sperma tidak disebabkan oleh penurunan
stimulasi testis tetapi mungkin karena perubahan degeneratif yang berkaitan
dengan penuaan yang terjadi di pembuluh-pembuluh darah testis. Penurunan
bertahap ini sering disebut menopause pria atau andropause, meskipun proses ini
tidak secara spesifik terprogram seperti halnya menopause wanita. Istilah
penurunan androgen pada pria adalah androgen deficiency in aging males
VII.

(ADAM).4
Efek pada karakteristik seks sekunder
Pembentukan dan pemeliharaan semua karakteristik seks sekunder pada pria
bergantung pada testosteron. Karakteristik pria nonreproduktif yang dipicu oleh
testosteron ini adalah pertumbuhan rambut berpola pria (misalnya, rambut dada
dan janggut dan, pada pria denngan predisposisi genetik, kebotakan; suara berat
akibat membesarnya laring dan menebalnya lipatan pita suara; kulit tebal; dan
konfigurasi tubuh pria (misalnya, bahu lebar serta otot lengan dan tungkai besar)
akibat pengendapan protein. Pria yang dikastrasi sebelum pubertas tidak
mengalami pematangan seksual dan tidak membentuk karakteristik seks

VIII.

sekunder.4
Karakteristik seks sekunder
Karakteristik seks sekunder adalah ciri-ciri eksternal yang tidak secara
langsung berkaitan dengan reproduksi yang membedakan pria dan wanita,
misalnya konfigurasi tubuh dan distribusi rambut. Testosteron pada pria dan
15

estrogen pada wanita yang mengatur pembentukkan dan pemeliharaan berbagai


karakteristik. Meskipun pertumbuhan rambut ketiak dan pubis pada kedua jenis
kelamin didorong oleh androgen-testosteron pada pria dan dehidroepiandrosteron
adrenokorteks pada wanita.4
IX.

Karakter seks sekunder pria


Karakter seks sekunder pria berada dibawah kontrol androgen pria,
terutama testosteron. Karakternya mencakup:

a)
b)
c)

Peningkatan anabolisme protein dan massa otot.


Peningkatan pertumbuhan dan kekuatan tulang.
Pola rambut pada wajah, ketiak, dan pubis khas pria. Di sebagian besar tubuh

d)

rambut tumbuh menebal.


Peningkatan laju metabolisme, mungkin akibat peningkatan anabolisme protein
(penimbunan) dan pembentukan massa protein. Hal ini menyebabkan peningkatan

e)

kebutuhan kalori pada pria, yang dimulai dari masa pubertas.


Proliferasi dan pengaktifan kelenjar sebasea di kulit, yang menghasilkan zat
berminyak yang disebut sebum. Hal ini dapat menyebabkan jerawat, terutama

f)
g)

selama masa remaja.


Suara menjadi berat, akibat hipertrofi laring.
Kebotakan berpola pria yang biasanya berawal dengan munculnya titik berbotal
dipuncak kepala.5

X.

Efek nonreproduktif
Testosteron memiliki beberapa efek penting yang tidak berkaitan
dengan reproduksi. Hormon ini memiliki efek anabolitik (sintesis) protein umum
dan mendorong pertumbuhan tulang, yang berperan menghasilkan fisik lebih
berotot dan lonjakan pertumbuhan masa pubertas. Yang ironis, testosteron tidak
hanya merangsang pertumbuhan tulang tetapi akhirnya mencegah pertumbuhan
lebih lanjut dengan menutup ujung-ujung tulang panjang yang sedang tumbuh
(yaitu osifikasi atau penutupan lempeng epifisis). Testosteron juga merangsang
sekresi minyak oleh kelenjar sebasea. Efek ini paling nyata selama lonjakan
sekresi testosteron masa remaja sehingga pria muda rentan mengalami jerawat.4
Hormon hipofisis dan hipotalamus mengendalikan produksi androgen dan fungsi
testikular. Gonadotropin hipofisis yaitu FSH (Folicle Stimulating Hormone)
memiliki reseptor pada sel tubulus seminiferus dan diperlukan dalam
16

sprematogenensis dan LH (Luteinizing Hormone) memiliki reseptor pada sel


intertsisial dan menstimulasi produksi serta sekresi testosteron. LH juga disebut
ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone) atau hormon perangsang sel
interstisial pada laki-laki.1
Hipothalamic Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) berinteraksi
dengan testosteron, FSH, LH, dan inhibin dalam mekanisme umpan balik negatif
yang mengatur sintesis dan sekresi testosteron.1
Penurunan konsentrasi testosteron yang bersirkulasi menstimulasi produksi GnRH
hipotalamik yang kemudian menstimulasi sekresi FSH dan LH. FSH menstimulasi
spermatogenesis dalam tubulus seminiferus dan LH menstimulasi sel interstisial
untuk memproduksi testosteron.1
Peningkatan kadar testosteron dalam darah memberikan kendali umpan
balik negatif pada sekresi GnRH dan pada sekresi FSH dan LH hipofisis. Inhibin
disintesis dan disekresi oleh sel Sertoli untuk merespons terhadap sekresi FSH
dimana bekerja melalui umpan balik negatif langsung pada kelenjar hipofisis
untuk menghambat sekresi FSH dan tidak mempengaruhi pelepasan LH.1
Protein pengikat androgen adalah suatu polipeptida yang juga
diproduksi oleh sel Sertoli untuk merespons sekresi FSH. Protein dalam tubulus
seminiferus 10-15 kali lebih besar dibandingkan dengan konsentrasinya dalam
darah. Hal ini kemudian meningkatkan penerimaan sel terhadap efek testosteron
dan berfungsi untuk menunjang spermatogenesis.1
XI.

Aktivitas gonadotropin-releasing hormon


Selama periode prapubertas, aktivitas GnRH terhambat. Proses
pubertas dipicu oleh peningkatan aktivitas GnRH antara usia 8 dan 12 tahun. Pada
awal pubertas, sekresi GnRH hanya berlangsung pada malam hari, menimbulkan
peningkatan nokturnal singkat sekresi LH, dan karenanya sekresi testoteron.
Derajat sekresi GnRH secara bertahap meningkat seiring dengan perkembangan
pubertas hingga tercipta pola sekresi GnRH, FSH, LH, dan testosteron dewasa.
Dibawah pengaruh kadar testosteron yang meningkat selama pubertas, perubahanperubahan fisik yang mencakup karakteristik seks sekunder dan pematangan
reproduksi menjadi jelas.4
Faktor-faktor yang berperan memicu pubertas pada manusia masih
belum diketahui pasti. Teori yang banyak dianut berfokus pada kemungkinan
peran hormon melatonin, yang dikeluarkan oleh kelenjar pineal didalam otak.
Melatonin, yang sekresinya menurun selama pajanan ke cahaya dan meningkat
17

selama pajanan ke keadaaan gelap, memiliki efek antigonadotropik pada banyak


spesies. Sinar yang mengenai mata menghambat jalur-jalur saraf yang merangsang
sekresi melatonin. Sebagian peneliti menyatakan bahwa penurunan dalam laju
keseluruhan sekresi melatonin saat pubertas pada manusia terutama saat malam
hari, ketika puncak-puncak sekresi GnRH pertama kali terjadi adalah pemicu
IV.

dimulainya pubertas.4
Langkah 4
Hipotesis
No.
1.

HIPOTESIS
Seorang anak laki-laki umur 8 tahun tumbuh kumis dan jambang disebabkan
oleh gangguan sitem perkembangan seks sekunder.

V.

Langkah 5
Melakukan sasaran pembelajaran
No.
1.

Sasaran Pembelajaran
Organ yang terkait dalam sistem genitalia pria secara makroskopis dan

mikroskopis
2.
Mempelajari mekanisme pubertas
3.
Mengetahui hormon-hormon yang berperan
keterangan tentang sasaran pembelajaran sudah dijelaskan pada keterangan mind
mapping diatas.

PENUTUP
I.

Kesimpulan
Kumis dan janggut yang tumbuh pada anak lelaki umur 8 tahun tersebut disebabkan
karena aktivitas dari testosteron yang menstimulasi gonadotropin-releasing hormon
untuk menghasilkan hormon FSH dan LH.

18

Daftar Pustaka

1. Sloane E. Sistem reproduksi, kehamilan, dan perkembangan. Dalam: Anatomi dan


fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2011.h.345-351.
2. Fawcett dan Bloom. Sistem reproduksi pria. Dalam: Buku ajar histologi. Edisi ke-13.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2010.h.687-730.
3. Eroschenko VP. Male reproductive system. In: Difiores atlas of histology with fuctional
correlations. 10th edition. Jakarta: EGC; 2011.p.477-502.
4. Sherwood L. Sistem reproduksi. Dalam: Fisiologi manusia. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2012.h.641-694.
5. Corwin JC. Sistem reproduksi. Dalam: Buku saku patofisiologi. Edisi ke-4. Jakarta: EGC;
2010.h.770.

19