Anda di halaman 1dari 17

Laporan Akhir Hematologi

POIKILOSITOSIS DAN ANIOSITOSIS

OLEH:
Mahasiswa Jurusan Analis Kesehatan 2012

Disampaikan kepada :
Dosen Mata Kuliah Praktikum Hematologi

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR


DIII JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2014

POIKILOSITOSIS DAN ANIOSITOSIS


Hari/Tanggal :
Tempat

I.

: Laboratorium Hematologi Jurusan Analis Kesehatan

TUJUAN
A. Tujuan Instruksional Umum
Mahasiswa mampu

memahami

teknik

serta

cara

melakukan

pemeriksaan pada sediaan apusan darah tepi.


B. Tujuan Instruksional Khusus
Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan pada sediaan apusan darah

tepi.
Mahasiswa mengetahui bentuk-bentuk sel darah merah yang abnormal

(Poikolositosis).
Mahasiswa mengetahui ukuran-ukuran sel darah merah yang abnormal
(Anisositosis).

II.

METODE
Metode yang digunakan dalam praktikum pengamatan sediaan apusan
darah tepi Poikilositosis dan Anisositosis ini adalah Indirect Preparat.

III.

PRINSIP
Sediaan apusan darah diletakkan diatas meja preparat dan diamati dengan
mikroskop binokuler pembesaran 100x dengan penambahan oil imersi.
Pengamatan dilakukan pada counting area.

IV.

DASAR TEORI
A. Eritrosit
Eritrosit merupakan bagian utama dari sel-sel darah. Dalam setiap 1 mm 3
darah terdapat sekitar 5 juta eritrosit atau sekitar 99%, oleh karena itu setiap pada
sediaan darah yang paling banyak menonjol adalah sel-sel tersebut. Dalam
keadaan normal, eritrosit manusia berbentuk bikonkaf dengan diameter sekitar 7
-8 m, tebal 2.6 m dan tebal tengah 0.8 m dan tanpa memiliki inti
(Widayati, dkk, 2010). Tiap-tiap sel darah merah mengandung 200 juta molekul
hemoglobin. Hemoglobin (Hb) merupakan suatu protein yang mengandung
senyawa besi hemin. Hemoglobin mempunyai fungsi mengikat oksigen di paruparu dan mengedarkan ke seluruh jaringan tubuh. Jadi, dapat dikatakan bahwa di

paruparu terjadi reaksi antara hemoglobin dengan oksigen. Kandungan


hemoglobin inilah yang membuat darah berwarna merah (Widayati, dkk, 2010).
B. Struktur Eritrosit
Komposisi molekuler eritrosit menunjukan bahwa lebih dari separuhnya
terdiri dari air (60%) dan sisanya berbentuk substansi padat. Secara keseluruhan
isi eritrosit merupakan substansi koloidal yang homogen, sehingga sel ini bersifat
elastis dan lunak. Eritrosit mengandung protein yang sangat penting bagi
fungsinya yaitu globin yang dikonjugasikan dengan pigmen hem membentuk
hemoglobin untuk mengikat oksigen yang akan diedarkan keseluruh bagian
tubuh. Seperti halnya sel-sel yang lain, eritrositpun dibatasi oleh membran plasma
yang bersifat semipermeable dan berfungsi untuk mencegah agar koloid yang
dikandungnya tetap didalam (Iqbal, 2012).
Dari pengamatan eritrosit banyak hal yang harus diperhatikan untuk
mengungkapkan berbagai kondisi kesehatan tubuh. Misalnya tentang bentuk,
ukuran, warna dan tingkat kedewasaan eritrosit dapat berbeda dari normal.
Eritrosit normal mempunyai bentuk bikonkaf, seperti cakram dengan garis tengah
7,5 uM dan tidak berinti. Warna eritrosit kekuning-kuningan dan dapat berwarna
merah karena dalam sitoplasmanya terdapat pigmen warna merah berupa
hemoglobin (Widayati, dkk, 2010).
Jika dalam sediaan apus darah terdapat berbagai bentuk yang abnormal
dinamakan poikilosit, sedangkan sel-selnya cukup banyak maka keadaan tersebut
dinamakan poikilositosis. Eritrosit yang berukuran kurang dari normalnya
dinamakan mikrosit dan yang berukuran lebih dari normalnya dinamakan
makrosit (Widayati, dkk, 2010).
Warna eritrosit tidak merata seluruh bagian, melainkan bagian tengah
yang lebih pucat, karena bagian tengah lebih tipis daripada bagian pinggirnya.
Pada keadaan normal bagian tengah tidak melebihi 1/3 dari diameternya sehingga
selnya dinamakan eritrosit normokhromatik. Apabila bagian tengah yang pucat
melebar disertai bagian pinggir yang kurang terwarna maka eritrosit tersebut
dinamakan eritrosit hipokromatik. Sebaliknya apabila bagian tengah yang
memucat menyempit selnya dimanakan eritrosit hiperkhromatik (Iqbal, 2012).
A. Pembentukan Eritrosit
Eritrosit dibentuk dalam sumsum merah tulang pipih, misalnya di tulang
dada, tulang selangka, dan di dalam ruas-ruas tulang belakang. Pembentukannya
terjadi selama tujuh hari. Pada awalnya eritrosit mempunyai inti, kemudian inti

lenyap dan hemoglobin terbentuk. Setelah hemoglobin terbentuk, eritrosit dilepas


dari tempat pembentukannya dan masuk ke dalam sirkulasi darah
Eritrosit dalam tubuh dapat berkurang karena luka sehingga mengeluarkan
banyak darah atau karena penyakit, seperti malaria dan demam berdarah.
Keadaan seperti ini dapat mengganggu pembentukan eritrosit. Eritrosit (sel darah
merah) dihasilkan pertama kali di dalam kantong kuning telah saat embrio pada
minggu-minggu pertama. Proses pembentukan eritrosit disebut eritropoisis.
Setelah beberapa bulan kemudian, eritrosit terbentuk di dalam hati, limfa, dan
kelenjar sumsum tulang. Produksi eritrosit ini dirangsang oleh hormon
eritropoietin. Setelah dewasa eritrosit dibentuk di sumsum tulang membranosa.
Semakin bertambah usia seseorang, maka produktivitas sumsum tulang semakin
turun.
Sel pembentuk eritrosit adalah hemositoblas yaitu sel batang myeloid
yang terdapat di sumsum tulang. Sel ini akan membentuk berbagai jenis leukosit,
eritrosit, megakariosit (pembentuk keping darah). Rata-rata umur sel darah merah
kurang lebih 120 hari. Sel-sel darah merah menjadi rusak dan dihancurkan dalam
sistem retikulum endotelium terutama dalam limfa dan hati.
Globin dan hemoglobin dipecah menjadi asam amino untuk digunakan
sebagai protein dalam jaringan-jaringan dan zat besi dalam hem dari hemoglobin
dikeluarkan untuk dibuang dalam pembentukan sel darah merah lagi. Sisa hem
dari hemoglobin diubah menjadi bilirubin (warna kuning empedu) dan biliverdin,
yaitu yang berwarna kehijau-hijauan yang dapat dilihat pada perubahan warna
hemoglobin yang rusak pada luka memar.
Masa hidup eritrosit hanya sekitar 120 hari atau 4 bulan, kemudian
dirombak di dalam hati dan limpa. Sebagian hemoglobin diubah menjadi bilirubin
dan biliverdin, yaitu pigmen biru yang memberi warna empedu. Zat besi hasil
penguraian hemoglobin dikirim ke hati dan limpa, selanjutnya digunakan untuk
membentuk eritrosit baru. Kira-kira setiap hari ada 200.000 eritrosit yang
dibentuk dan dirombak. Jumlah ini kurang dari 1% dari jumlah eritrosit secara
keseluruhan (Iqbal, 2012).

Gambar 1: eritrosit normal


B. Anisositosis
Pada keadaan normalnya, eritrosit mempunyai bentuk bikonkaf, seperti
cakram dengan garis tengah 7,5 uM dan tidak berinti. Secara klinis, kelainan
eritrosit dapat diamati dalam pemeriksaan laboratorium. Dalam sediaan apus,
eritrosit normal berukuran sama dengan inti limposit kecil dengan area ditengah
berwarna pucat. Kelainan morfologi eritrosit berupa kelainan ukuran (size),
bentuk (shape), warna (staining characteristics) dan benda-benda inklusi (Zakaria,
2012).
Anisositosis adalah suatu keadaan dimana ukuran diameter eritrosit yang
terdapat di dalam suatu sediaan apus berbeda-beda (bervariasi). Anisositosis tidak
menunjukkan suatu kelainan hematologik yang spesifik. Keadaan ini ditandai
dengan adanya eritrosit dengan ukuran yang tidak sama besar dalam sediaan apus
darah tepi. Anisositosis jelas terlihat pada anemia mikrositik yang ada bersamaan
dengan anemia makrositik seperti pada anemia gizi (Arjatmo Tjokronegoro dan
Hendra Utama, 1996).

Kelainan eritrosit berdasarkan ukurannya dapat dibedakan menjadi:


Makrosit
Ukuran eritrosit yang lebih dari 8,2 Nm. MCV lebih dari normal dan

MCH biasanya tidak berubah. Terjadi karena pematangan inti eritrosit


terganggu, dijumpai pada defisiensi vitamin B atau asam folat. Penyebab
lainnya

adalah

karena

rangsangan

eritropoietin

yang

berakibat

meningkatkatnya sintesa hemoglobin dan meningkatkan pelepasan retikulosit


kedalam sirkulasi darah. Sel ini didapatkan pada anemia megaloblastik,
penyakit hati menahun berupa thin macrocytes dan pada keadaan dengan
retikulositosis, seperti anemia hemolitik atau anemia paska pendarahan
(Anonim, 2011).

Gambar 2: eritrosit makrositer

Mikrosit
Ukuran eritrosit yang kurang dari 6,2 Nm, biasa disertai dengan warna

pucat (hipokromia). Pada pemeriksaan sel darah lengkap didapatkan MCV


yang rendah.

Terjadinya karena menurunnya sintesa hemoglobin yang

disebabkan defisiensi besi, defeksintesa globulin, atau kelainan mitokondria


yang mempengaruhi unsure hem dalam molekul hemoglobin. Sel ini
didapatkan pada anemia hemolitik, anemia megaloblastik, dan pada anemia
defisiensi besi (Anonim, 2011).

C. Gambar
Pengertian
Poikilositosis
3: ukuran
eritrosit normal

Gambar 4: eritrosit mikrositer


kira-kira sama dengan ukuran inti
limfosit
matur (normositik).
1.
Poikilositosis
adalah keadaan
dimana populasi eritrosit tampil dengan
limfosit
bentuk yang bervariasi. Biasanya polkilositosis biasanya bersamaan dengan
anisositosis. meningkatnya poikilositosis sering menunjukkan adanya kelainan
eritropoiesis yang disebabkan oleh defek sumsum tulang atau kelainan destruksi
eritrosit

dimana

biasanya

dapat

terjadi

pada

penderita

anemia

megaloblastik,leukemia, mielosklerosis, anemia hemolitik dll. Dalam situasi

normal, suatu poikilosit merupakan penuaan eritrosit yang sejalan dengan


kekuatannya.sebagian kecil dari membrannya terkelupas.
C. Jenis Jenis Poikilositosis
Kelainan eritrosit berupa bentuk-bentuk sel darah merah,yaitu :

Akantosit
Akantosit adalah eritrosit
yang pada dindingnya mempunyai
tonjolan tonjolan yang berbentuk duri (runcing). Terdapat duri-duri di
permukaan membrane yang ukurannya bervariasi , tidak merata dengan
jumlah 5-10 buah dan menyebabkan sensitif terhadap pengaruh dari dalam
maupun luar sel. Terjadi pada sirosis hati yang disertai anemia hemolitik,
hemangioma hati, hepatitis pada neonatal.

Gambar 5. Secara mikroskopis akantosit


Sperositosit
Sel ini adalah eritrosit yang tidak lagi berbentuk bikonkaf tetapi

bentuknya bulat (sferik) dengan diameter kurang dari 6 um.


Pada sediaan apus sel ini tampak tidak memiliki akromia sentral dan warna
lebih atau sangat gelap dari warna normalnya,disebut mikrosperofit hiper
kromik. Kelainan bentuk sel ini terjadi karena terganggunya fungsi
membran sel. Terdapat pada sferositosis herediter, anemia iso dan autoimmunohemolitik.

Gambar 6. Secara mikroskopis sperosi

Stomatosit
Keadaan eritrosit pada bagian tengah sel mengalami pemucatan dan

tidak berbentuk lingkaran tapi memanjang seperti celah bibir mulut.

Ditemukan pada stomatositosis herediter, penyakit keganasan, anemia


hemolitik, thalasemia, dan keracunan timah. Distribusi dalam darah tepi <
5% dari eritrosit normal.

Gambar 7. Secara mikroskopis stomatosit


Eliptocytes/ovalosit
Mempunyai bentuk yang sangat bervariasi yaitu oval, pensil, dan

cerutu dengan konsentrasi Hb tidak hipokromik tapi berkumpul di kedua


kutub sel. Ciri khas dari sel ini adalah bentuk silinder dan tengahnya pucat.
Ditemukan pada Elliptositosis herediter ( lebih dari 95 % eritrosit berbentuk
elliptosit ), anemia defisiensi besi, B12, asam folat, sickle cell anemia,
thalasemia, hemolitik desease.

atau

Gambar 8. Secara mikroskopis ovalosit


Tear drop
Teardrop cell adalah eritrosit yang bentuknya seperti tetesan air mata
kelihatan

seperti

buah

"pear",

dapat

dijumpai

pada

thalasemia,mielofibrosis,dll. Memiliki ukuran lebih kecil dari eritrosit


normal, hipokromik karena distorsi fragmen eritrosit.

Gambar 9. Secara mikroskopis tear drop


Burr cells/Echinocyte
Burr cells adalah eritrosit yang kelihatan dengan dinding "bergerigi"

karena

adanya

tonjolan-tonjolan

sitoplasma

dan

tersebar

merata

dipermukaan sel. Sel dengan tonjolan duri ( 10 30 buah ) karena pecahnya


membran sel. Ditemukan pada anemia hemolitik, hepatitis, chirchosis
hepatis, Pyruvate kinase deficiency, Ca gaster, Bleeding peptic ulcer, dan
penyakit ginjal menahun.

Gambar 10. Secara mikroskopis burr cells


Sickle cells.
Sickle cell" adalah eritrosit yang bentuknya seperti bulan sabit atau

clurit.sel ini dapat dijumpai pada "sickle cell disease",atau hemoglobinopati


lainnya Ditemukan pada penyakit homozygote Hb S, penyakit Hb SC,
penyakit Hb S thalasemia sindrom, penyakit Hb I.

Gambar 11. Secara mikroskopis sicle cells

Target cell

Keadaan dimana eritrosit dengan permukaan luas, bundar, tengahnya


menonjol sehingga tampak lebih gelap dikelilingi daerah pucat, tepi sel
terjadi penumpukan dan warna Hb seperti topi Meksiko. Dapat ditemukan
pada thalasemia, penyakit hati, lecithin cholesterol acyl transferase
defisiensi.

Gambar 12. Secara mikroskopis target cells

V.

ALAT DAN BAHAN


A. Alat :
Mikroskop
B. Bahan :
Preparat
Oil Imersi
Tissue Lensa

VI.

CARA KERJA
a. Alat dan bahan disiapkan.
b. Preparat apus darah diletakkan pada meja mikroskop.
c. Lensa objektif diputar ke perbesaran 10x untuk mencari counting area.
d. Preparat ditetesi oil imersi.
e. Lensa objektif diputar ke 100x.
f. Kondensor dinaikkan, iris diafragma diputar ke 100.
g. Diamati dan dicatat hasil yang didapatkan.

VII.

HASIL PENGAMATAN

Stomatosit

Sferosit

Tear Drop

Burr Cells

VIII. PEMBAHASAN
Pada praktikum Hematologi kali ini membahas tentang kelaianan eritrosit
yaitu Anisositosis dan Poikilositosis. Eritrosit merupakan bagian utama dari sel-sel
darah. Pada keadaan normalnya, eritrosit mempunyai bentuk bikonkaf, seperti
cakram dengan diameter 7 -8 m uM dan tidak berinti.
Kelainan eritrosit dapat ditinjau dari 3 aspek , yaitu 3S Size ( ukuran ), Shape (
bentuk) , Stain (pewarnaan). Bila ditinjau dari segi Size (ukuran) maka akan
didapatkan kelainan eritrosit yang dinamakan dengan Anisositosis, bila ditinjau

dari segi Shape (bentuk) kelainan eritrosit berupa Poikilositosis, dan dari segi
Stain (pewarnaan) kelainan yang dinamakan Polikromasia.
Anisositosis adalah suatu keadaan dimana ukuran diameter eritrosit yang
terdapat di dalam suatu sediaan hapusan berbeda-beda (bervariasi). Anisositosis
tidak menunjukkan suatu kelainan hematologik yang spesifik. Keadaan ini
ditandai dengan adanya eritrosit dengan ukuran yang tidak sama besar dalam
sediaan hapusan darah tepi. Sedangkan poikilositosis adalah suatu keadaan
dimana populasi eritrosit tampil dengan bentuk yang bervariasi.
Pengamatan yang akan dilakukan dalam prktikum ini dengan menggunakan
metode indirect preparat (preparat jadi). Sesuai dengan prinsip, pengamatan
kelainan eritrosit dilakukan dengan cara preparat diletakkan di atas meja
mikroskop kemudian dilihat dengan menggunakan lensa obyektif 10 x dan diatur
diafragma (terbuka sedikit) beserta kondensor untuk mencari lapangan pandang,
kemudian lensa obyektif dipindahkan ke lensa 100 x berserta pengaturan
diafragma (terbuka penuh) dan kondensor (naik) dibantu dengan oil imersi unuk
menaikkan indeks bias cahaya sehingga memudahkan dalam pengamatan.
Pengamatan dilakukan di daerah counting area, dimana pada daerah ini ditemukan
eritrosit menyebar secara merata.
Dalam

melakukan

pengamatan

Anisositosis

dilakukan

dengan

membandingkan ukuran eritrosit dengan ukuran limfosit yang telah mature.


Apabila ditemukan sel eritrosit yang ukurannya lebih kecil daripada eritrosit yang
telah mature maka sel eritrosit tersebut Mikrositik, sedangkan bila ditemukan sel
eritrosit yang ukurannya lebih besar dari limfosit yang mature berarti sel eritrosit
tersebut makrositik.
Dalam pengamatan yang telah dilakukan pada preaparat ditemukan limfosit
sebagai pembanding, kemudian kelainan anisositosis yaitu eritrosit mikrositik dan
dengan kelainan hipokromik
1. Limfosit yang mature yang diditemukan dalam pengamatan ini bertujuan
sebagai pembanding ukuran kelainan eritrosit baik mikrositik maupun
makrositik. Limfosit yang ditemukan berwarna ungu dengan inti padat hampir
memenuhi sitoplasma, dan sitoplasma yang terlihat berwarna ungu tipis.

2. Eritosit mikrositik hipokromik, selain ditemukan ukuran eritrosit yang normal,


ditemukan pula sebagian besar eritrosit yang mengalami kelainan ukuran
eritrosit (anisositosis) yaitu mikrositik, dengan ukuran sel yang bulat kecil bila
dibandingkan dengan limfosit mature dan berwarna kelabu. Pada pengamatann
sel eritosit tidak hanya mengalami mengalami kelainan ukuran (mikrositik)
melainkan sel eritrosit juga mengalami hipokromik yaitu bagian terang pada
eritrosit lebih dari 1/3 bagian dari diameter eritosit.
Poikilositosis ialah keadaan dimana populasi eritrosit tampil dengan bentuk
yang bervariasi.

Biasanya

poikilositosis

bersamaan

dengan

anisositosis.

Meningkatnya poikilositosis sering menunjukkan adanya kelainan eritropoiesis


yang disebabkan oleh defek sumsum tulang atau kelainan destruksi eritrosit.
Dalam situasi normal, suatu poikilositosis merupakan penuaan eritrosit yang
sejalan dengan kekuatannya. Sebagian kecil dari membrannya terkelupas. Suatu
sampel dikatakan poikilositosis apabila dalam sediaan apus ditemukan bermacam
macam bentuk eritrosit. Poikilositosis ditemukan pada:
Anemia yang berat disertai regenerasi aktif eritrosit atau hemopoesi

ekstrameduler
Eritropoesis

mielosklerosis,dll)
Dekstruksi eritrosit di dalam pembuluh darah (anemia hemolitik)

abnormal

(anemia

megaloblastik,

leukemia,

Poikilositosis dapat berupa Akantosit yaitu kelainan sel eritrosit dimana sel
eritrosit tidak berbentuk bulat tetapi bergerigi. Sferosit yaitu sel darah merah yang
tidak berbentuk bikonkaf tetapi bulat. Stomatosit yaitu eritrosit yang sentral
akromiknya berbentuk seperti celah bibir. Eliptocyte/ovalosit yaitu sel eritrosit
yang berbentuk oval. Tear drop yakni sel eritrosit yang berbentuk seperti tetesan
air mata. Burr cell yaitu sel darah merah yang bentuknya bergerigi. Sickle cell
yaitu sel eritrosit yang berbentuk seperti bulan sabit. Target cell yaitu sel eritrosit
dengan keadaan dimana eritrosit dengan permukaan luas, bundar, tengahnya
menonjol sehingga tampak lebih gelap dikelilingi daerah pucat, tepi sel terjadi
penumpukan dan warna Hb seperti topi Meksiko. Dan Helmet cell yakni sel
eritrosit yang bentuknya seperti topi.
Dalam praktikum kali ini, terdapat beberapa bentuk kelainan sel eritrosit yang
ditemui dalam preparat seperti:
1. Tear Drop

Tear drop merupakan kelainan bentuk eritrosit dimana bentuk selnya


menyerupai tetesan air mata atau kadang-kadang disebutkan seperti buah pear.
2. Sferosit
Sferosit adalah kelaina bentuk eritrosit yang tidak berbentuk bikokaf tetapi
bulat, ukurannya juga lebih kecil dari eritrosit normal yakni kurang dari 6 nm.
Jika hanya sekilas dilihat sferosit hampir mirip seperti sel eritrosit yang
hiperkrom. Namun jika lebih teliti melihatnya maka akan terlihat berbeda. Jika
hiperkrom masih terdapat sentral pollar yang terang walaupun sedikit karena
masih berbentuk bikonkaf. Tetapi jika pada sferosit sama sekali tidak terlihat
warna gelap karena bentuknya yang tidak bikonkaf.
3. Stomatosit
Stomatosit merupakan kelainan sel eritrosit yang sentral akromiknya tidak
berbentuk bulat tetapi seperti celah bibir.
4. Burrcell
Dalam praktikum kali ini terdapat beberapa kesuliatan dalam membedakan sel
yang mengelami kelainan atau tidak, diantaranya :
1. Membedakan sferosit dengan eritrosit hiperkrom.
2. Membedakan burr cell dengan akantosit. Akantosit dan bur cell sedikit
sulit dibedakan jika tidak teliti dalam memperhatikannya, namun jika
dilihat lebih teiti akan terlihat berbeda dimana akan tosit memiliki tonjolan
yang lebih runcing pada sitoplasmanya, sedangkan pada burr cell
tonjolannya lebih tumpul dan banyak.
3. Selain itu kesulitan dalam praktikum adalah membedakan antara burr cell
dengan sel yang rusak karena kesalahan saat membuat apusan (sel
krenasi). Jika pada bur cell tonjolan-teonjolan yang ada bentuknya sedikit
meruncing seperti duri namun tidak seruncing pada akantosit, namun jika
pada sel krenasi tonjolannya tidak runcing. Jika pada apus darah terdapat
burr sel, pasti akan terdapat sel eritrosit abnormal lainnya dan juga terdapat
sel yang masih normal. Namun jika sel apus darah itu krenasi maka
sebagian besar sel tersebut abnormal (krenasi).
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam mencapai sediian yang baik :
1. Sediaan harus dilakukan dengan cara yang baik dan benar
Dalam pembuatan sediaan darah perlu diperhatikan adalah
tebalnya sediaan. Ketebalan dikatakan memenuhi syarat apabila setiap
lapang pandang sel darah merah tertata rapi (tidak berimpitan).
2. Syarat sediaan kaca

Kaca sediaan digunakan untuk menempelkan darah yang sering


diambil dari tempat yang jauh, sediaan darah ini kemudian diproses,
diperiksa dan kemudian disimpan atau dicuci kembali, maka penting
sekali penggunaan kaca sediaan yang baik dan bermutu. Syarat untuk kaca
sediaan yang baik adalah :
a. Bening atau jernih.
b. Permukaan licin tidak tergores-gores.
c. Bersih (bebas dari lemak, debu, asam, atau alkalis).
d. Tebal antara 1,1 1,3 mm.
3. Kualitas dari stock giemsa yang digunakan sesuai standar mutu
a. Stock giemsa belum tercemar air.
b. Zat warna masih aktif.
4. Kualitas dari air pengencer giemsa
a. Air pengencer harus jernih dan tidak berbau.
b. Derajat keasaman pengencer hendaknya berada 6,8-7,2 perubahan
pada larutan giemsa berpengaruh pada sel-sel darah.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengamatan sel darah merah secara
mikroskopis:
1. Digunakan mikroskop yang mempunyai kualitas lensa yang baik.
2. Dilakukan dengan posisi preparat yang baik (tidak terbalik).
3. Dipastikan pengamatan dilakukan pada Counting area.
4. Daerah pengamatan cukup cahaya, tidak terlalu terang ataupun terlalu
redup sehingga sel darah merah terlihat jelas.
5. Diamati eritrosit yang dekat dengan leukosit normal.
IX.

KESIMPULAN
Dari praktikum yang dilakukan pada sampel preparat yang diperiksa dapat
disimpulkan bahwa :
1. Pengamatan yang akan dilakukan dalam prktikum ini dengan menggunakan
metode indirect preparat (preparat jadi).

2. Dalam pengamatan yang telah dilakukan pada preaparat ditemukan limfosit


sebagai pembanding, kemudian kelainan anisositosis yaitu eritrosit mikrositik
dan dengan kelainan hipokromik
3. Dalam praktikum kali ini, terdapat beberapa bentuk kelainan sel eritrosit yang
ditemui dalam preparat seperti:

X.

Tear Drop

Sferosit

Stomatosit

Burrcells

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Eritrosit. Online. http://nheniethree.blogspot.com/2011/06/eritrosit-seldarah-merah.html. Diakses tanggal: 13 Mei 2014.


Anonim. 2012. Eritrosit. Online. http://www.psychologymania.com/2012/09/kelainaneritrosit.html. Diakses tanggal: 13 Mei 2014.
Iqbal. 2012. Eritrosit. Online. http://aboutlabkes.wordpress.com/2012/01/30/eritrosit/.
Diakses tanggal: Diakses tanggal: 13 Mei 2014.
Rahayu,

Puji.

2011.

Eriteosit.

http://blog.uad.ac.id/ratnasari/2011/12/06/eritrosit-sel-darah-merah/.

Online.
Diakses

tanggal: Diakses tanggal: 13 Mei 2014.


Widayati, dkk. 2010. Laporan Praktikum Anatomi Fisiologi Manusia Sediaan Apus
Darah. Jakarta: Jurusan Farmasi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
Zakaria.

2012.

Morfologi

Sel

Darah

Merah.

Online.

http://zakariadardin.wordpress.com/2012/01/09/morfologi-sel-darah-merah/.
Diakses tanggal: Diakses tanggal: 13 Mei 2014.

XI. PENGESAHAN
Denpasar, Juni 2014
Praktikan,

Mahasiswa Analis Kesehatan 2012


Pembimbing I

Ketut Adi Santika, A.Md, AK

Pembimbing III

Luh Putu Rinawati, A.Md,AK

Pembimbing II

Rini Rinawati, B.Sc

Pembimbing IV

Kadek Aryadi H., A.Md,AK