Anda di halaman 1dari 13

Nyeri Kepala (Sefalgia)

SKENARIO
Seorang perempuan berusia 40 tahun dibawa ke RS dengan keluhan utama sakit kepala
kronis yang dialami sejak 6 bulan sebelumnya. Nyeri kepala terasa diseluruh kepala semakin
lama semakin berat. Sakit kepala terutama timbul pagi hari, terkadang disertai muntah tanpa
didahului mual. Sakit kepala dirasakan memberat saat pasien mengedan, buang air besar dan
batuk.

KLARIFIKASI KATA KUNCI

Nyeri kepala

KLARIFIKASI KATA SULIT

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Seorang perempuan berusia 40 tahun


Dialami sejak 6 bulan
Terutama timbul pagi hari
Terkadang disertai muntah memberat saat pasien mengedan, buang air besar dan batuk
Disertai muntah tanpa didahului mual
Sakit epala kronis
Nyeri kepala semakin lama semakin memberat

PERTANYAAN-PERTANYAAN PENTING
Jelaskan definisi nyeri?
Jelaskan definisi nyeri kepala?
Jelaskan struktur anatomi kepala dan fisiologi nyeri kepala?
Jelaskan epidemiologi nyeri kepala?
Klasifikasi nyeri kepala?
Jelaskan bagaimana patomekanisme dan nyeri kepala?
Jelaskan gambaran klinis dari nyeri kepala?

8. Jelaskan pemeriksaan penunjang apa yang digunakan untuk menegakkan diagnosis nyeri kepala?
9. Jelaskan penatalaksanaan nyeri kepala?
10. Jelaskan prognosis nyeri kepala?

JAWABAN PERTANYAAN

1. DEFENISI NYERI
Nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang sedang
terjadi atau telah terjadi atau yang digambarkan dengan kerusakan jaringan.
Rasa sakit (nyeri) merupakan keluhan yang sering didapatkan dalam klinik, walaupun
istilah sakit ini tampaknya sulit didefinisikan. Persepsi tiap orang akan berbeda beda, karena
keluhan ini berasal dari pengalaman subjektif seseorang yang sulit dilakukan pengukurannya.
Reaksi dan sikap individu terhadap stimulasi yang identik yang menyebabkan sakit akan berbeda
pula. Oleh karena itu, dokter pemeriksa diharapkan pada tugas untuk mendapatkan informasi
yang selengkap mungkin dari pasien dan juga harus dapat membayangkan bagaimana pasien
bereaksi terhadap rasa sakitnya itu.
Ada banyak rasa sakit yang dijumpai pada pasien salah satunya adalah sakit kepala. Sakit kepala
adalah rasa sakit atau tidak nyaman antara orbita dengan kepala yang berasal dari struktur
sensitif terhadap rasa sakit ( sumber : Neurology and neurosurgery illustrated Kenneth).
2. DEFENISI NYERI KEPALA
Nyeri kepala adalah perasaan sakit atau nyeri, termasuk rasa tidak nyaman yang
mnyerang daerah tengkorak (kepala) mulai dari kening kearah atas dan belakang kepala. dan
daerah wajah.
nyeri kepala / sefalgia : keluhan subyektif
- sukar dibuat definisi yang tepat
- hampir semua orang pernah mengalaminya
- dikeluhkan pasien sebagai kepala berat ; kepala mau pecah; pusing;
- dapat timbul bila ada kelainan dalam : otak, tengkorak,
struktur2 luar tengkorak
- dapat pula akibat penyakit : influenza, sinus paranasalis, dll, sefalgia akan hilang setelah
penyebabnya diobati.
- yang menjadi problem : bila sefalgia mrp keluhan tunggal
3. ANATOMI DAN FISIOLOGY NYERI KEPALA DAN LEHER YANG TERKAIT NYERI
Anatomi
Sebelum membahas anatomi sakit kepala, akan membahas anatomi otak secara garis besar terlebih
dahulu. Walaupun merupakan keseluruhan fungsi, otak disusun menjadi beberapa daerah yang
berbeda. Bagian bagian otak dapat secara bebas dikelompokkan ke dalam berbagai cara
berdasarkan perbedaan anatomis, spesialisasi fungsional, dan perkembangan evolusi.

Otak terdiri dari (1) batang otak terdiri atas otak tengah, pons, dan medulla, (2) serebelum, (3) otak
depan (forebrain) yang terdiri atas diensefalon dan serebrum. Diensefalon terdiri dari hipotalamus
dan talamus. Serebrum terdiri dari nukleus basal dan korteks serebrum.
Masing masing bagian otak memiliki fungsi tersendiri. Batang otakberfungsi sebagai
berikut: (1) asal dari sebagian besar saraf kranialis perifer, (2) pusat pengaturan
kardiovaskuler, respirasi dan pencernaan, (3) pengaturan refleks otot yang terlibat
dalam keseimbangan dan postur, (4) penerimaaan dan integrasi semua masukan sinaps
dari korda spinalis; keadaan terjaga dan pengaktifan korteks serebrum, (5) pusat tidur.
Serebellum berfungsi untuk

memelihara keseimbangan, peningkatan

tonus

otot,

koordinasi dan perencanaan aktivitas otot volunter yangterlatih.

a.

hipotalamus
Hipotalamus berfungsi sebagai berikut: (1) mengatur banyak fungsihomeostatik,
misalnya kontrol suhu, rasa haus, pengeluaran urin, dan asupan makanan, (2)
penghubung penting antara sistem saraf dan endokrin, (3) sangat terlibat dalam emosi
dan pola perilaku dasar. Talamus berfungsi sebagai stasiun pemancar untuk semua
masukan sinaps, kesadaran kasar terhadap sensasi, beberapa tingkat kesadaran,
berperan dalam kontrol motorik.

b.

Nukleus basal

Nukleus basal berfungsi untuk inhibisi tonus otot, koordinasi gerakan yanglambat dan
menetap, penekanan pola pola gerakan yang tidak berguna.
c.

Korteks serebrum
Korteks serebrum berfungsi untuk persepsi sensorik, kontrol gerakan volunter, bahasa,
sifat pribadi,

proses

mental

canggih

misalnya

berpikir,

mengingat,

membuat

keputusan, kreativitas dan kesadaran diri.


Korteks serebrum dapat dibagi menjadi 4 lobus yaitu lobus frontalis, lobus,parietalis,
lobus temporalis, dan lobus oksipitalis. Masing masing lobus ini memiliki fungsi yang
berbeda beda.

Struktur peka nyeri pada extra Dan intra cranium


* Struktur peka nyeri extra cranium :
kulit kepala, periosteum,
arteri2 (a. frontalis, a.temporalis, a.occipitalis);
saraf2 (n.frontalis, n.temporalis, n.occipitalis mayor / minor)
otot2 (m.frontalis, m.temporalis, m.occipitalis)
* Struktur peka nyeri intracranium :
duramater (spjg a.meningeal, sekitar sinus venosus, basis cranii, dan tentorium serebelli)
leptomenings sekitar arteri besar di basis cranii
bag. Prox atau basal arteri, vena, saraf, tertentu (V, VII, IX, Nn. Spinales)
Struktur yang tidak peka terhadap nyeri :
tulang kepala, parenchym otak, ependym ventrikel, plexus choroideus, sebagian besar duramater
dan piamater yang meliputi konveksitas otak.
Nyeri kepala dipengaruhi oleh nukleus trigeminoservikalis yang merupakan nosiseptif yang
penting untuk kepala, tenggorokan dan leher bagian atas. Semua aferen nosiseptif dari saraf
trigeminus, fasial, glosofaringeus, vagus, dan saraf dari C1 3 beramifikasi pada grey matter
area ini. Nukleus trigeminoservikalis terdiri dari tiga bagian yaitu pars oralis yang berhubungan
dengan transmisi sensasi taktil diskriminatif dari regio orofasial, pars interpolaris yang

berhubungan dengan transmisi sensasi taktil diskriminatif seperti sakit gigi, pars kaudalis yang
berhubungan dengan transmisi nosiseptif dan suhu.
Terdapat over lapping dari proses ramifikasi pada nukleus ini seperti aferendari C2
selain beramifikasi ke C2, juga beramifikasi ke C1 dan C3. Selain itu, aferen C3 juga
akan beramifikasi ke C1 dan C2. Hal ini lah yang menyebabkan terjadinya nyeri alih dari
pada kepala dan leher bagian atas.
Nyeri alih biasanya terdapat pada oksipital dan regio fronto orbital darikepala dan yang
jarang adalah daerah yang dipersarafi oleh nervus maksiliaris dan mandibularis. Ini
disebabkan oleh aferen saraf tersebut tidak atau hanya sedikit yang meluas ke arah
kaudal. Lain halnya dengansaraf oftalmikus dari trigeminus. Aferen saraf ini meluas ke
pars kaudal.

Saraf trigeminus terdiri dari 3 yaitu V1, V2, dan V3. V1 , oftalmikus, menginervasi daerah orbita
dan mata, sinus frontalis, duramater dari fossa kranial dan falx cerebri serta pembuluh darah
yang berhubungan dengan bagian duramater ini.
V2, maksilaris, menginervasi daerah hidung, sinus paranasal, gigi bagian atas, dan duramater
bagian fossa kranial medial. V3, mandibularis, menginervasi daerah duramater bagian fossa
cranial medial, rahang bawah dan gigi, telinga, sendi temporomandibular dan otot menguyah
(lihat gambar 3).
Selain saraf trigeminus terdapat saraf kranial VII, IX, X yang innervasi meatus auditorius
eksterna dan membran timfani. Saraf kranial IX menginnervasi rongga telinga tengah, selain itu
saraf kranial IX dan X innervasi faring dan laring.
Servikalis yang terlibat dalam sakit kepala adalah C1, C2, dan C3. Ramus dorsalis dari C1
menginnervasi otot suboccipital triangle - obliquus superior, obliquus inferiorda n rectus capitis
posterior majorda n minor. Ramus dorsalis dari C2 memiliki cabang lateral yang masuk ke otot
leher superfisial posterior, longis simus capitisda n splenius sedangkan cabang besarnya bagian
medial menjadi greater occipital nerve. Saraf ini mengelilingi pinggiran bagian bawah dari
obliquus inferior, dan balik ke bagian atas serta ke bagian belakang melalui semispinalis capitis,
yang mana saraf ini di suplai dan masuk ke kulit kepala melalui lengkungan yang dikelilingi oleh
superior nuchal line dan the aponeurosis of trapezius. Melalui oksiput, saraf ini akan bergabung
dengan saraf lesser occipital yang mana merupakan cabang dari pleksus servikalis dan mencapai
kulit kepala melalui pinggiran posterior dari sternokleidomastoid. Ramus dorsalis dari C3
memberi cabang lateral ke\
longissimus capitisda n splenius. Ramus ini membentuk 2
cabang medial. Cabang superfisial medial adalah nervus oksipitalis ketiga yang mengelilingi
sendi C2-3 zygapophysial bagian lateral dan posterior
Daerah sensitif terhadap nyeri kepala dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu intrakranial
dan ekstrakranial. Intrakranial yaitu sinus venosus, vena korteks serebrum, arteri basal,
duramater bagian anterior, dan fossa tengah serta fossa posterior. Ektrakranial yaitu
pembuluh darah dan otot dari kulit kepala, bagian dari orbita, membran mukosa dari
rongga nasal dan paranasal, telinga tengah dan luar, gigi, dan gusi. Sedangkan daerah
yang tidak sensitif terhadap nyeri adalah parenkim otak, ventrikular ependima, dan
pleksus koroideus.

Fisiology nyeri kepala

Nyeri (sakit) merupakan mekanisme protektif yang dapat terjadi setiap saat bila ada jaringan
manapun yang mengalami kerusakan, dan melalui nyeri inilah, seorang individu akan bereaksi
dengan cara menjauhi stimulus nyeri tersebut.
Rasa nyeri dimulai dengan adanya perangsangan pada reseptor nyeri oleh stimulus nyeri.
Stimulus nyeri dapat dibagi tiga yaitu mekanik, termal, dan kimia. Mekanik, spasme otot
merupakan penyebab nyeri yang umum karena dapat mengakibatkan terhentinya aliran darah ke
jaringan ( iskemia jaringan), meningkatkan metabolisme di jaringan dan juga perangsangan
langsung ke reseptor nyeri sensitif mekanik.
Termal, rasa nyeri yang ditimbulkan oleh suhu yang tinggi tidak berkorelasi dengan jumlah
kerusakan yang telah terjadi melainkan berkorelasi dengan kecepatan kerusakan jaringan yang
timbul. Hal ini juga berlaku untuk penyebab nyeri lainnya yang bukan termal seperti infeksi,
iskemia jaringan, memar jaringan, dll. Pada suhu 45 C, jaringan jaringan dalam tubuh akan
mengalami kerusakan yang didapati pada sebagian besar populasi.
Kimia, ada beberapa zat kimia yang dapat merangsang nyeri seperti bradikinin, serotonin,
histamin, ion kalium, asam, asetilkolin, dan enzim proteolitik. Dua zat lainnya yang
diidentifikasi adalah prostaglandin dan substansi P yang bekerja dengan meningkatkan
sensitivitas dari free nerve endings. Prostaglandin dan substansi P tidak langsung merangsang
nyeri tersebut. Dari berbagai zat yang telah dikemukakan, bradikinin telah dikenal sebagai
penyebab utama yang menimbulkan nyeri yang hebat dibandingkan dengan zat lain. Kadar ion
kalium yang meningkat dan enzim proteolitik lokal yang meningkat sebanding dengan intensitas
nyeri yang sirasakan karena kedua zat ini dapat mengakibatkan membran plasma lebih
permeabel terhadap ion. Iskemia jaringan juga termasuk stimulus kimia karena pada keadaan
iskemia terdapat penumpukan asam laktat, bradikinin, dan enzim proteolitik.
Semua jenis reseptor nyeri pada manusia merupakan free nerve endings. Reseptor nyeri banyak
tersebar pada lapisan superfisial kulit dan juga pada jaringan internal tertentu, seperti periosteum,
dinding arteri, permukaan sendi, falx, dan tentorium. Kebanyakan jaringan internal lainnya
hanya diinervasi oleh free nerve endings yang letaknya berjauhan sehingga nyeri pada organ
internal umumnya timbul akibat penjumlahan perangsangan berbagai nerve endings dan
dirasakan sebagaisl ow chronic- aching type pain.
Nyeri dapat dibagi atas dua yaitu fast pain dan slow pain. Fast pain, nyeri akut, merupakan nyeri
yang dirasakan dalam waktu 0,1 s setelah stimulus diberikan. Nyeri ini disebabkan oleh adanya
stimulus mekanik dan termal. Signal nyeri ini ditransmisikan dari saraf perifer menuju korda
spinalis melalui serat A dengan kecepatan mencapai 6 30 m/s. Neurotransmitter yang
mungkin digunakan adalah glutamat yang juga merupakan neurotransmitter eksitatorik yang
banyak digunakan pada CNS. Glutamat umumnya hanya memiliki durasi kerja selama beberapa
milliseconds.
Slow pain, nyeri kronik, merupakan nyeri yang dirasakan dalam wkatu lebih dari 1 detik setelah
stimulus diberikan. Nyeri ini dapat disebabkan oleh adanya stimulus mekanik, kimia dan termal
tetapi stimulus yang paling sering adalah stimulus kimia. Signal nyeri ini ditransmisikan dari

saraf perifer menuju korda spinalis melalui serat C dengan kecepatan mencapai 0,5 2 m/s.
Neurotramitter yang mungkin digunakan adalah substansi P.
Meskipun semua reseptor nyeri adalah free nerve endings, jalur yang
ditempuh dapat dibagi menjadi duapat hway yaitufast-sharp pain pathway dansl owchronic pain pathway. Setelah mencapai korda spinalis melalui dorsal spinalis, serat nyeri ini
akan berakhir pada relay neuron pada kornu dorsalis dan selanjutnya akan dibagi menjadi dua
traktus yang selanjutnya akan menuju ke otak. Traktus itu adalah neospinotalamikus untukfast
pain dan paleospinotalamikus untuk slow pain.
Traktus neospinotalamikus untukfast pain, pada traktus ini, serat A yang mentransmisikan
nyeri akibat stimulus mekanik maupun termal akan berakhir pada lamina I (lamina marginalis)
dari kornu dorsalis dan mengeksitasis econd - or der neurons dari traktus spinotalamikus. Neuron
ini memiliki serabut saraf panjang yang menyilang menuju otak melalui kolumn anterolateral.
Serat dari neospinotalamikus akan berakhir pada: (1) area retikular dari batang otak (sebagian
kecil), (2) nukleus talamus bagian posterior (sebagian kecil), (3) kompleks ventrobasal (sebagian
besar). Traktus lemniskus medial bagian kolumn dorsalis untuk sensasi taktil juga berakhir pada
daerah ventrobasal. Adanya sensori taktil dan nyeri yang diterima akan memungkinkan otak
untuk menyadari lokasi tepat dimana rangsangan tersebut diberikan.
Traktus paleospinotalamikus untuk slow pain, traktus ini selain mentransmisikan sinyal dai serat
C, traktus ini juga mentransmisikan sedikit sinyal dari serat A. Pada traktus ini , saraf perifer
akan hampir seluruhnya nerakhir pada lamina II dan III yang apabila keduanya digabungkan,
sering disebut dengan substansia gelatinosa. Kebanyakan sinyal kemudian akan melalui sebuah
atau beberapa neuron pendek yang menghubungkannya dengan area lamina V lalu kemudian
kebanyakan serabut saraf ini akan bergabung dengan serabut saraf darif ast- sharp pain pathway.
Setelah itu, neuron terakhir yang panjang akan menghubungkan sinyal ini ke otak pada jaras
anterolateral.
Ujung dari traktus paleospinotalamikus kebanyakan berakhir pada batang otak dan hanya
sepersepuluh ataupun seperempat sinyal yang akan langsung diteruskan ke talamus. Kebanyakan
sinyal akan berakhir pada salah satu tiga area yaitu : (1) nukleus retikularis dari medulla, pons,
dan mesensefalon, (2) area tektum dari mesensefalon, (3) regio abu abu dari peraquaductus
yang mengelilingi aquaductus Silvii. Ketiga bagian ini penting untuk rasa tidak nyaman dari tipe
nyeri. Dari area batang otak ini, multipel serat pendek neuron akan meneruskan sinyal ke arah
atas melalui intralaminar dan nukleus ventrolateral dari talamus dan ke area tertentu dari
hipotalamus dan bagian basal otak.
1. EPIDEMIOLOGI NYERI KEPALA
Populasi penelitian adalah sampel acak dari 1.000 pria dan wanita berusia 25-64. Tingkat
partisipasi 76%. prevalensi dari berbagai bentuk sakit kepala yang dinilai dan penelitian
menyediakan data deskriptif tentang simtomatologi, menyebabkan faktor, dampak dari hormon
wanita, penggunaan pelayanan medis dan konsekuensi kerja dari gangguan sakit kepala dan
menjelaskan berbagai faktor yang terkait dengan gangguan. Hanya separuh dari migraineurs dan
seperenam dari subyek dengan sakit kepala tipe tegang berkonsultasi praktisi umum mereka
karena sakit kepala dan bahkan kurang berkonsultasi dengan seorang spesialis. Angka ini

mencerminkan konsultasi pemilihan kasus yang mungkin bias studi pada populasi klinik. Studi
ini mendukung gagasan bahwa migrain dan sakit kepala ketegangan-tipe entitas klinis terpisah
dan bahwa migrain tanpa aura dan migrain dengan aura yang berbeda subforms migrain.
Migraine dan sakit kepala ketegangan-tipe seks dan gangguan tergantung usia dengan jumlah
lebih besar wanita dan prevalensi rendah pada kelompok umur yang lebih tua.
Terkonsentrasikannya perempuan dapat dijelaskan oleh faktor-faktor klinis yang terkait dengan
hormon wanita. Tidak ada bukti jelas adanya hubungan antara variabel sosiodemografi dan
migrain atau sakit kepala tipe tegang. Ketegangan-jenis sakit kepala terkait dengan serangkaian
variabel psikososial sementara migrain tidak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa migrain
terutama kelainan konstitusional dan sakit kepala ketegangan-jenis fenomena yang lebih
kompleks yang dipengaruhi oleh beberapa faktor psikososial. Keterbatasan data cross-sectional
menunjukkan faktor risiko dengan pasti cukup tertekan. studi longitudinal tindak lanjut adalah
tantangan yang paling penting dalam penelitian epidemiologi sakit kepala masa depan.
2. KLASIFIKASI NYERI KEPALA
Sakit kepala dapat diklasifikasikan menjadi sakit kepala primer, sakit kepala sekunder,
dan neuralgia kranial, nyeri fasial serta sakit kepala lainnya. Sakit kepala primer dapat dibagi
menjadimi gr ai ne, tension type headache,cluster headache dengan sefalgia trigeminal /
autonomik, dan sakit kepala primer lainnya. Sakit kepala sekunder dapat dibagi menjadi sakit
kepala yang disebabkan oleh karena trauma pada kepala dan leher, sakit kepala akibat kelainan
vaskular kranial dan servikal, sakit kepala yang bukan disebabkan kelainan vaskular intrakranial,
sakit kepala akibat adanya zat atau withdrawal, sakit kepala akibat infeksi, sakit kepala akibat
gangguan homeostasis, sakit kepala atau nyeri pada wajah akibat kelainan kranium, leher,
telinga, hidung, dinud, gigi, mulut atau struktur lain di kepala dan wajah, sakit kepala akibat
kelainan psikiatri
KLASSIFIKASI
:
The Internatinal Headache Society (1988)
1. nyeri kepala tegang episodik
a. berhubungan dengan gangguan otot
perikranial
b. tak berhubungan dengan gangguan
otot perikranial
2. nyeri kepala tegang otot kronis
a. berhubungan dengan gangguan otot
perikranial
b. tak berhubungan dengan gangguan
otot perikranial
3. nyeri kepala tegang otot yang tidak terklassifikasikan
Klasifikasi
the internatinal headache society (2004)
1. infrequent episodic tension type headache (ietth)

2.

minimal terdapat 10 episode serangan dalam <1 hari /bulan (<12 hari tahun)
nyeri kepala berakhir dalam 30 menit - 7 hari
bilateral, menekan, mengikat, tidak berdenyut
sifat nyeri ringan sampai sedang
tdak ada mual / muntah
mungkin ada fonofobia / fotofobia
tidak ada hubungan dengan penyakit nk lain
1.1 ietth associated with pericranial tenderness
episode sesuai ietth
disertai nyeri tekan yg bertambah daerah perikranial pada palpasi manual
1.2 ietth not associated with pericranial tenderness
episode sesuai ietth
tanpai nyeri tekan yg bertambah daerah perikranial pada palpasi manual
probable tension type headache (ptth)
memenuhi kriteria tth akan tetapi kurang satu kriteria untuk tth bercampur dengan salah satu
kriteria probable migren
2.1 probable inrequent episodic tension t.headache
episode memenuhi kriteria etth akan tetapi kurang satu kriteria saja dari point 1.1 dan tidak
memenuhi kriteria migrentanpa aura, dan tidak ada hubungan nk lain
2.2 probable frequent episodic tension t.headache
episode memenuhi kriteria etth akan tetapi kurang satu kriteria saja dari point 1.2 dan tidak
memenuhi kriteria migrentanpa aura, dan tidak ada hubungan nk lain
2.3 probable inrequent episodic tension t.headache
nk berlangsung > 15 hr/bulan selama >3 (atau >180 hr/th)
nk berlangsung selama sekian jam atau kontinyu
bilateral, rasa menekan, mengikat,
intensitas ringan sampai sedang
tidak ada mual / muntah yang berat
mungkin ada fotofobia / fonofobia
tdk ada hub.nya n lain minimal 2 bln terakhir

PATOMEKANISME NYERI KEPALA


Nociseptor yang diterima reseptor2 di kulit, pembuluh darah, visera, muskulusskeletal,dan
lain-lain, jalannya sebagai berikut : reseptor syaraf tepi medulla spinalis thalamuskorteks.
Dari sini baru ada reaksi emosi psikis- motorik tanpa ada modulasi, sedangkan dalam
perjalanan hanya kesan sensorik.
Batasan sekarang : nyeri adalah pengalaman subjektif, sangat pribadi dipengaruhi oleh
pendidikan, budaya, makna situasi dan kognitif ( menurut Bonica,Melzack).
Ada beberapa teori mengenai mekanisme nyeri kepala :
- Teori Melzack & Wall (1985) : Teori gerbang nyeri bahwa : Nyeri diteruskan dari
perifer melalui saraf kecil A delta dan C rasa raba, mekanik dan termal melalui A delta A beta
dan C ( serabut besar, kecepatan hantar serabut besar lebih tinggi dari serabut kecil ).
Disubstamtia Gelatinosa (SG) ada sel-sel gerbang yang dapat bekerja menutup dan membuka sel
T (targaet). Serabut besar aktif merangsang sel gerbang di SG, sel gerbang aktif dan sel T
tertutup, maka nyeri tidak dirasa. Serabut kecil aktif, sel SG tidak aktif, dan sel T terbuka maka
nyeri dirasa. Bila dirangsang bersama-sama, misal antara rasa raba, mekanik,vibrasi,dll dengan
rangsang nyeri maka nyeri tidak dirasa (seperti pada teknik tens, DCS, koyo-koyo, dll.)
Didapatkan kontrol desenden ke medulla spinalis dari pusat2 supra spinal (emosi,pikiran, dll).

- Konsep II: Central Biasing mekanism


Diduga ada daerah batang otak jadi CBM yang menyebarkan impuls nyeri keberbagai tempat
diotak dan dapat menimbulkan inhibisi ke medulla spinalis. Ternyata formatioreticularis periacuaductus dan peri-ventriculer kaya akan reseptor2 morpin dan serotonin.
- Konsep III ; Pembangkit pola
Bila nyeri khronik telah membuat pola (gambar diotak), yang dapat dicetuskan oleh input
sensorik lain.
GAMBARAN KLINIS

Nyeri kepala berdenyut yang bersifat unilateral tetapi dapat bilateral atau ganti sisi
Serangan nyeri kepala yang timbul secara tiba tiba dan biasanya unilateral
Lamanya serangan antara 4 24 jam atau bisa lebih
Intensitas nyeri sedang berat
Gejala penyerta : mual, muntah, wajah pucat, tinitus.
Nyeri dirasakan sebagai nyeri kepala yang berdenyut-denyut, menusuk-nusuk, dan rasa kepala mau pecah
Anoreksia mual, muntah, takut cahaya, atau kelainan otonom lainnya

PEMERIKSAAN UNTUK NYERI KEPALA


- Pemeriksaan fisik :
Dilakukan lengkap : pemeriksaan umum, internus dan neurologik. Pemeriksaan lokal kepala,
nyeri tekan didaerah kepala, gerakan kepala ke segala arah, palpasi arteri temporalis,spasme otot
peri-cranial dan tengkuk, bruit orbital dan temporal.
- Pemeriksaan Penunjang :
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu mendiagnosa nyeri kepala seperti
:
1. Foto Rongten kepela
2. EEG
3. CT-SCAN
4. Arteriografi, Brain Scan Nuklir
5. Pemeriksaan laboratorium(Tidak rutin atas indikasi)
6. Pemeriksaaan psikologi (jarang dilakukan).
9. PENATALAKSANAAN NYERI KEPALA
1. pengobatan proses dasar atau kelainan fisiologik spesifik (kausa etiologi,patogenesa), missal
antibiotik untuk infeksi, spasmolitik untuk kolik, ergot untuk migren, dll termasuk pembedahan
bila diperlukan.
2 pengobatan psikologik/psikiatrik dan atau psikotropik yang bertujuan untuk : menolong
penderita untuk menyesuaikan diri dengan stress akibat nyeri, dan mengobati faktor2 [sikologik
yang mnyebabkan atau mengkambuhkan nyeri..
3 terapi medikamentosa berupa analgetik untuk pengobatan simptomatik nyeri,
apabila
pengobatan spesifik tidak ada atau kurang memadai
4 terapi2 dengan metoda fisik yang sifatnya simptomatik apabila pengobatan 1,2, dan 3 kurang
memadai atau dianggap gagal..

PROGNOSIS NYERI KEPALA


Prognosis dari sakit kepala bergantung pada jenis sakit kepalanya sedangkanindikasi merujuk
adalahsebagai berikut:
(1) sakit kepala yang tiba tiba dan timbul kekakuan di leher,
(2) sakit kepala dengan demam dan kehilangan kesadaran,
(3) sakit kepala setelah terkena trauma mekanik pada kepala,
(4) sakit kepala disertai sakit pada bagian mata dan telinga,
(5) sakit kepala yang menetap pada pasien yang sebelumnya tidak pernah mengalami serangan,
(6) sakit kepala yang rekuren pada anak.
INFORMASI TAMBAHAN
PATOFISIOLOGI NYERI KEPALA
Struktur-struktur yang peka terhadap nyeri kepala :
A. Jaringan2 yang menutupi tengkorak, scalp( kulit, jaringan kulit areolar,periosteum),otot-otot
kepala, mata, hidung, telinga, gigi geligi dll.
B. Beberapa struktur intra cranial:
a. saraf2 otak(N.cranial),
b. saraf2 spinal: C1,C2 dan C3
c. arteri2 diotak dan duramater
d. vena2 dan sinus2 dipermukaan otak
e. duramater didasar otak
Struktur2 tidak peka terhadap nyeri kepala :
1. Cranium
2. otak (hampir seluruhnya)
3. sebagian besar dura
4. pleksus khoroidalis
5. dinding ependym ventrikel
Diduga hanya mekanisme perifer saja (nyeri perifer) sebagai penyebab nyeri kepala, tetapi
Raskin(1988) menemukan kemungkinan nyeri sentral dapat sebagai penyebab nyeri kepala.
Beberapa mekanisme umum yang tampaknya bertanggung jawab memicu nyeri kepala adalah
sebagai berikut(Lance,2000) :
(1) peregangan atau pergeseran pembuluh darah; intrakranium atau ekstrakranium,
(2) traksi pembuluh darah,
(3) kontraksi otot kepala dan leher ( kerja berlebihan otot),
(3) peregangan periosteum (nyeri lokal),
(4) degenerasi spina servikalis atas disertai kompresi pada akar nervus servikalis (misalnya,
arteritis vertebra servikalis), defisiensi enkefalin (peptida otak mirip- opiat, bahan aktif pada
endorfin).

KESIMPULAN
Nyeri kepala merupakan keluhan yang sering dijumpai dalam praktek sehari-hari;
sekalipun demikian, jarang yang disebabkan oleh kelainan struktural otak.
Bila anamnesis/riwayat penyakitnya sesuai dengan salah satu jenis nyeri kepala, dan
pemeriksaan fisik dan neurologik tidak menemukan kelainan, umumnya tidak diperlukan pemeriksaan tambahan. Pemeriksaan tambahan seperti pemeriksaan
radiologik (foto Rntgen kepala, CT scan), pemeriksaan elektro- fisiologik (EEG, EMG,
potensial cetusan) atau pemeriksaan laboratorium lain dilakukan hanya bila terdapat kecurigaan
ada- nya penyakitlgangguan struktural otak atau penyakit sistemik yang mendasarinya.
Diagnosis umumnya ditegakkan terutama berdasarkan anainnesis;pemeriksaan fisik dan
neurologik dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan yang (mungkin) mendasari keluhan
Tersebut. Keluhan nyeri kepala yang perlu diwaspadai ialah yang
berubah sifatnya dan keluhan sebelumnya, yang progresif, di- sertai dengan gejala (neurologik)
lain dan yang disertai gejala- gejala sistemik. Dalam kaitan ini, perlu selalu diingat bahwa
seseorang yang telah diketahui menderita (salah satu jenis) nyeri kepala selama bertahun-tahun,
suatu saat dapat terkena gangguan lain
yang salah satu gejalanyajuga berupa nyeri kepala; oleh karena itu harus diwaspadai, terutama
pada orang-orang yang meng-alami perubahan sifat nyeri kepalanya danlatau yang disertai
gangguan neurologik.
DAFTAR PUSTAKA
M.mardjono dan P.sidarta.neurologi dasar klinis.
Guyton dan hall.fisiologi kedokteran.
Prof.dr.priguna sidharta,MD.Ph.D.neurologi klinis dalam praktek umum.PT.dian rakyat.20042005.
(kapita selekta kedokteran edisi3, jilid 2 dan kapita selekta neurologi edisi 2).
v