Anda di halaman 1dari 3

FENTANYL

Fentanyl merupakan opioid sintesis yang memiliki kekuatan 75 sampai dengan 125 kali lebih poten
dari morfin. Fentanyl berikatan dengan reseptor yang terdapat di sistem saraf pusat dan jaringan lain.
Farmakokinetik

Absorbsi fentanyl cytrat secara transmukosa (Fentanyl "lolipop") adalah efektif untuk menghasilkan
efek analgesia dan sedasi dan memberikan onset analgesia dan sedasi yang cepat ( 10 menit ) pada. anak - anak
(15 - 20 mikrogram /kg) dan dewasa (200 - 800 mikrogram /kg).
Fentanyl memiliki berat molekul rendah dan kelarutan lemak yang tinggi juga memungkinkan absorbsi
transdermal (Fentanyl patch). Jumlah fentanyl yang dilepaskan tergantung pada permukaan dari daerah patch
tetapi juga bisa tergantung kondisi lokal dari kulitnya (aliran darah). Keuntungan dari penyimpanan obat di
lapisan atas kulit menghambat absorbsi sistemik pada beberapa jam pertama. Konsentrasi serum dari fentanyl
mendatar dalam 14 - 24 jam, setelah pemberian (lebih lambat pada orang tua) dan akan konstan hingga 72 jam.
Absorbsi selanjutnya dari simpanan di kulit akan menyebabkan turunnya level plasma yang memanjang setelah
pengambilan patch. Tingginya kejadian mual dan perubahan tekanan darah membatasi pemakaian patch pada
post operasi.
Distribusi
Fentanyl mempunyai onset yang cepat dan durasi yang pendek. Waktu paruh distribusi dari fentanyl
adalah cepat (5- 20 menit ). Fentanyl merupakan fentanyl yang larut dalam lemak dapat tertahan dalam paru paru dan selanjutnya secara difus beredar kembali ke dalam sirkulasi sistemik.
Biotransformasi
Fentanyl mempunyai fraksi non ion yang sangat rendah, memiliki ikatan protein yang kuat, serta
merupakan fentanyl yang memiliki kelarutan yang tinggi dalam lemak. Fentanyl mengalami biotransformasi di
hepar. Karena ratio ektraksi hepatiknya yang tinggi menyebabkan kliren nya tergantung pada aliran darah hepatik.
Ekskresi
Puncak fentanyl plasma muncul hingga 4 jam setelah pemberian intravena dan dapat dijelaskan karena
resirkulasi enterohepatik atau mobilisasi sequesterse obat.
Efek Pada Sistem Organ
a. Cardiovascular
Pemberian dosis tinggi dari fentanyl dikaitkan dengan bradikardi yang dimediasi oleh nervus vagus.
Meskipun demikian tekanan arteri dapat turun akibat bradikardi, vena dilatasi dan penurunan reflek simpatis,
terkadang membutuhkan vasopresor (ephedrin) untuk mengantisipasi hal tersebut.
b. Respirasi
Fentanyl dapat menekan ventilasi, khususnya respirasi rate. PaC0 2 meningkat dan terhadap C0 2
responnya akan menurun, menghasilkan kurve C0 2 yang bergesar ke kanan dan turun. Efek ini dimediasi
melalui pusat respirasi di batang otak. Apneu threshold ( PaC0 2 tertinggi dimana seorang pasien tetap apneu )
ditingkatkan dan hypoxia drive menurun. Perbedaan jenis kelamin membedakan pula efeknya, dimana pada
wanita depresi respirasi lebih besar.
Fentanyl dapat menyebabkan kekakuan dinding dada yang mengganggu ventilasi. Kontraksi otot sentral
lebih sering terjadi setelah pemberian obat intravena dengan dosis besar dan dapat diobati secara efektif
dengan pemberian pelumpuh otot. Fentanyl juga dapat menumpulkan respon bronkhokonstriksi saat stimulasi
jalan nafas, seperti selama dilakukan intubasi.
c. Cerebral
Fentanyl dapat menurunkan konsumsi oksigen cerebral, aliran darah otak dan tekanan intracranial. Efek
ini diperkirakan mempertahankan normokarbia dengan ventilasi buatan. Dosis tinggi fentanyl jarang
menimbulkan kejang.
d. Gastrointestinal

Fentanyl memperlambat pengosongan lambung dengan mengurangi peristaltik. Kolik biliar dapat
muncul pada fentanyl karena kontraksi dari sprincter oddi. Spasme empedu menyerupai kolik pada batu
empedu, hal ini dapat dihilangkan dengan pemberian antagonis fentanyl naloxon. Pasien yang menerima
terapi fentanyl jangka panjang (nyeri kanker) biasanya toleran dengan sebagian besar efek samping, kecuali
konstipasi karena penurunan peristaltik usus.
e. Endokrin
Respon stres pada operasi dapat diukur dari sekresi hormon termasuk katekolamin, hormon diuretik dan
kortisol. Blok dapat melepaskan hormon lebih banyak daripada obat volatil anestesi. Pasien dengan jantung
iskemia diuntungkan dengan melemahnya respon stress.
lnteraksi Obat
Kombinasi fentanyl dan monoamine oxidase inhibitor mungkin mengakibatkan henti nafas, hipertensi
atau hipotensi, koma dan hyperpirexia. Penyebab interaksi yang dramatis ini belum dipahami. Barbiturate,
benzodiazepine dan obat depresi sistem saraf pusat lainnya jika diberikan bersamaan dengan fentanyl bisa
mempunyai efek sinergis terhadap kardiovaskuler, respirasi dan sedasi.

Dosis
Dosis intraoperatif anesthesia adalah 2-150 g/kgBB yang diberikan secara intravena. Sedangkan untuk
penggunaan sebagai analgetik digunakan dosis 0,5-1,5 g/kgBB secara intravena.
Efek Samping
Efek dari pemberian fentanyl dapat menyebabkan terjadinya depresi dari ventilasi, bradikardi, terjadinya
kejang dengan pemberian secara cepat pada dosis yang besar, menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intfra
cranial, peningkatan cerebral blood flow, terjadinya rigiditas otot dan myoclonus.