Anda di halaman 1dari 19

IDENTITAS PASIEN

Nama
Usia
Agama
Pekerjaan
Alamat
Suku

:
:
:
:
:
:

Tn. H
63 tahun
Islam
Pensiunan
Pulo Gadung
Sunda

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan aloanamnesis.
Keluhan utama : lemah badan mendadak sebelah kanan sejak dini hari di hari ini.
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pukul 03.00 wib pasien bangun tidur dan pergi ke kamar mandi, kemudian mendadak
pasien merasa lemah badan sebelah kanan, bicara menjadi rero, dan pasien tampak
mengantuk terus-menerus dan tidak sadarkan diri.
Sebelumnya pasien mengeluhkan nyeri kepala dan pusing, mata berair, pasien
tersedak saat diberi minum, dan muntah (+).
Sebelumnya pasien tidak ada riwayat trauma, nyeri kepala terus menerus (-), keluhan
demam tidak ada, tidak ada riwayat kejang sebelumnya. Pasien memiliki riwayat
Stroke sekitar 1 tahun yang lalu. Riwayat Hipertensi sudah diderita sejak lama,
namun tidak kontrol teratur.
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat Hipertensi (+) namun tidak kontrol rutin, Riwayat Stroke (+) 1 tahun yang
lalu. Riwayat Diabetes Melitus tidak pasti.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada riwayat hipertensi dalam keluarga, begitu juga dengan DM. Tidak ada yang
menderita gejala yang sama sebelumnya.

Riwayat Pengobatan
Pasien tidak berobat rutin untuk hipertensinya. Pengobatan stroke 1 tahun yang lalu
pun tidak tuntas.
Riwayat Psikososial
Pasien seorang pensiunan melakukan kegiatan-kegiatan ringan saja di rumah.
Pemeriksaan di IGD
Anamnesis:
Os tiba-tiba tidak bisa menggerakkan kaki dan tangan kanannya, terjadi saat pasien
bangun tidur.
Pemeriksaan Fisik:
Kesadaran: Compos mentis.
TD: 150/90 mmHg, RR 20 kali/mnt, P 80 kali/mnt, Suhu 36,30C.
Parese N.VII kanan sentral, parese N.XII kanan sentral.

STATUS GENERALIS (Pemeriksaan di Bangsal)


Keadaan umum:
Pasien tampak sakit sedang.
Kesadaran

Compos Mentis
TTV:

TD

Pulse : 64 kali/menit (regular)

RR

: 180/90 mmHg

: 28 kali/ menit (reguler)

: 36,1 C

Mata : konjungtiva anemis (-), sclera ikterik(-).


Leher : pembesaran KGB (-), JVP normal
Pulmo : dada simetris kanan kiri, vesikuler, wh -/-, rho -/Cor : BJ I, II murni reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen : cekung, supel, BU (+) Normal, NT (-), Hepar dan Lien tidak tampak
membesar, Ballotement (-/-).
Ekstremitas atas dan bawah : otot tampak kaku, edema (-), akral hangat, sianosis (-).
PEMERIKSAAN NEUROLOGIS

Kesadaran

R. Meningeal

: somnolen, kontak (+).

- Kaku Kuduk

: (-)

- Lasegue sign

: tidak terbatas

- Kernig sign

: tidak terbatas

- Brudzinski I

: (-)

- Brudzinski II

: (-)

- Brudzinski III

: (-)

Saraf otak :
Pupil bulat, isokor, ODS 2 mm, reflex cahaya +/+, gerak bola mata baik ke
segala arah, parese N.VII kanan sentral. Parese N.XII kanan sentral.

Motorik:

2 5
0 5

Sensorik

: tidak dapat dinilai.

Vegetatif

: baik

Fungsi luhur : baik

R.fisiologis : BTR +/+


Brachioradialis +/+
KPR +/+
APR +/+

Reflex patologis D/S


Babinski -/ Chaddock -/ Oppenheim -/-

Pemeriksaan Penunjang:

Hasil Pemerikasaan Laboratorium


Pemeriksaan
13 April 2014
WBC
RBC
HGB
PLT
GDS
14 April 2014
GDP
Ureum
Kreatinin
Kolesterol total
HDL

Hasil
12.1
5.29
11.9
157
126
112
54.8
1.2
119
38.0

SGOT
SGPT
Asam urat
Trigliserida

40
26
7.9
84

RESUME
Pukul 03.00 wib pasien bangun tidur dan pergi ke kamar mandi, kemudian
mendadak pasien merasa lemah badan sebelah kanan, bicara menjadi rero, dan pasien
tampak mengantuk terus-menerus dan tidak sadarkan diri.
Sebelumnya pasien mengeluhkan nyeri kepala dan pusing, mata berair, pasien
tersedak saat diberi minum, dan muntah (+).
Sebelumnya pasien tidak ada riwayat trauma, nyeri kepala terus menerus (-), keluhan
demam tidak ada, tidak ada riwayat kejang sebelumnya. Pasien memiliki riwayat
Stroke sekitar 1 tahun yang lalu. Riwayat Hipertensi sudah diderita sejak lama,
namun tidak kontrol teratur.
Tidak ada riwayat hipertensi dalam keluarga, begitu juga dengan DM. Tidak ada yang
menderita gejala yang sama sebelumnya. Pasien tidak berobat rutin untuk
hipertensinya. Pengobatan stroke 1 tahun yang lalu pun tidak tuntas.

Keadaan umum:
Pasien tampak sakit sedang.
TTV:

TD

Pulse : 64 kali/menit (regular)

RR

: 28 kali/ menit (reguler)

: 36,1 C

: 180/90 mmHg

Pemeriksaan fisik umum: tidak ada kelainan.


Pemeriksaan Neurologis

Kesadaran

R. Meningeal

: somnolen, kontak (+)

- Kaku Kuduk

: (-)

Saraf otak :
Pupil bulat, isokor, ODS 2 mm, reflex cahaya +/+, gerak bola mata baik ke
segala arah, parese N.VII kanan sentral. Parese N.XII kanan sentral.

Motorik:

Sensorik

: tidak dapat dinilai.

Vegetatif

: baik

Fungsi luhur : baik

R.fisiologis : BTR +/+

2 5
0 5

Brachioradialis +/+
KPR +/+
APR +/+

Reflex patologis D/S


Babinski -/ Chaddock -/ Oppenheim -/-

DIAGNOSIS KERJA

Stroke e.c Perdarahan Intra Serebral Sistem Karotis kiri factor risiko hipertensi.
DIAGNOSIS BANDING
Stroke e.c Infark Serebri Sistem Karotis kiri factor risiko hipertensi.
PENGOBATAN DI IGD :
Infus A2 20 tetes/ menit
Piracetam 3x1 gr
Citicolin 2x 500 mg
Follow up
13 April 2014
TD : 120/80 mmHg

Kesadaran: somnolen, kontak negatif.

Keluhan : nyeri kepala, lemas anggota gerak sebelah kanan.


SO : Pupil bulat, isokor, ODS 2 mm, reflex cahaya +/+, gerak bola mata
baik ke segala arah, parese N.VII kanan sentral. N.XII sulit dinilai.

Motorik: sulit dinilai

Sensorik: sulit dinilai

RF : BTR (+/+), KPR (+/+), APR (+/+)

RP : babinski (-/-), chaddok (-/-)

14 April 2014
TD : 110/70 mmHg

Kesadaran: somnolen, kontak negatif.

Keluhan : nyeri kepala, lemas anggota gerak sebelah kanan.


SO : Pupil bulat, isokor, ODS 5 mm, reflex cahaya -/-. gerak bola mata
sulit dinilai, parese N.VII kanan sentral. N.XII sulit dinilai.

Motorik: sulit dinilai

Sensorik: sulit dinilai

RF : BTR (+/+), KPR (+/+), APR (+/+)

RP : babinski (-/-), chaddok (-/-)

PERMASALAHAN
-

Bagaimana dasar diagnosa pada penderita ini?

Definisi stroke :
Gangguan fungsional otak fokal atau global yang terjadi secara mendadak, yang
disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak (baik tersumbatnya aliran darah
maupun pecahnya pembuluh darah) dan lebih dari 24 jam, dan mempunyai pola
gejala yang berhubungan dengan waktu.
Pada pasien ini
-

Terdapat defisit neurologis fokal :


Motorik : kelemahan pada satu sisi

(hemiparese kanan)

Motorik :
2 5
0 5
Parese N.VII & XII kanan sentral.
Sensorik : hemihipestesi kanan
-

Terdapat defisit neurologis global, yaitu berupa penurunan kesadaran.

Keluhan terjadi secara tiba-tiba, yaitu setelah pasien kembali dari kamar
mandi pada dini hari tersebut.

Keluhan ini terjadi >24 jam mulai dari kejadian sampai follow-up terakhir.

Diagnosis

Berdasarkan klinis anamnesis & pemeriksaan neurologis

Sistem skoring untuk membedakan jenis stroke


Algritma stroke Gajah Mada 3 tanda : penurunan kesadaran, nyeri
berat, dan
Skor stroke Allen
Skor stroke Sirriraj

CT-scan (gold standar) untuk membedakan infark dgn perdarahan.

MRI lebih sensitif mdeteksi infark sereberi dini dan infark batang otak.

Skor stroke Siriraj

Rumus :
(2,5 x derajat kesadaran) + (2 x vomitus) + (2 x nyeri kepala) + (0,1 x tek.
Diastolik) (3 x petanda ateroma) 12.

Hasil
Skor > 1 : perdarahan supratentorial
Skor < 1 infark serebri

Keterangan
Derajat kesadaran

Komposmentis = 0

Somnolen = 1

Sopor/koma = 2

Vomitus

Ada = 1

Tidak ada = 0

Nyeri kepala

Ada = 1

Tidak ada = 0

Ateroma (diabetes, angina, peny. Pembuluh darah)

Ada = 1

Tidak ada = 0

Pada pasien ini:

Kesadaran somnolen=1, Vomitus ada=1, Nyeri kepala ada=1, ateroma tidak ada=0,
menjadi:
Rumus Skor stroke Siriraj:
(2,5 x 1) + (2 x 1) + (2 x 1) + (0,1 x 90) (3 x 0) 12 = 3.5
Berarti masuk ke dalam kriteria Stroke Perdarahan.
Berdasarkan lokasi lesi vaskuler
1) Sistem karotis
a.Motorik

: hemiparese kontralateral, disartria

b.Sensorik

: hemihipestesi kontralateral, parestesia

c.Gangguan visual

: hemianopsia homonim kontralateral, amaurosis fugaks

d.Gangguan fungsi luhur : afasia, agnosia

2) Sistem vertebrobasiler
a.Motorik

: hemiparese alternans, disartria

b.Sensorik

: hemihipestesi alternans, parestesia

c.Gangguan lain : gangguan keseimbangan, vertigo, diplopia


Pada pasien ini
Pada pasien ini lokasi lesi vaskuler kemungkinan sistem karotis kiri
- Hemiparese kanan, hemihipestesi kanan
Faktor resiko
Faktor risiko stroke dibagi atas faktor risiko yang dapat dimodifikasi (modifiable)
dan yang tidak dapat dimodifikasi (nonmodifiable).
-

Faktor risiko stroke yang dapat dimodifikasi diantaranya adalah hipertensi,


penyakit jantung (fibrilasi atrium), diabetes melitus, merokok, konsumsi
alkohol, hiperlipidemia, kurang aktifitas, dan stenosis arteri karotis.

10

Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi antara lain usia, jenis kelamin,
ras/suku, dan faktor genetik.2,4

Pada pasien ini


Pada pasien ini faktor resiko yang dapat dimodifikasi, yaitu Hipertensi dengan TD
140/80 mmHg.

TINJAUAN PUSTAKA
Stroke ialah bencana atau gangguan peredaran darah di otak. Dalam bahasa inggris
dinamai juga sebagai Cerebro-vascular Accident. Kata stroke berarti pukulan (to
strike). Dari kata ini dapat disimpulkan bahwa timbulnya stroke ialah mendadak. Kata
lain untuk penyakit stroke ini ialah brain attack, yaitu serangan otak.
Definisi Stroke menurut WHO : Gangguan fungsional otak fokal atau global yang
terjadi secara mendadak , yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak (baik

11

tersumbatnya aliran darah mauoun pecahnya pembuluh darah)dan lebih dari 24 jam.
Dan mempunyai pola gejala yang berhubungan dengan waktu.

Angka kejadian stroke


Di negara industri penyakit stroke umumnya merupakan penyebab kematian nomor
tiga pada kelompok usia lanjut, setelah penyakit jantung dan kanker.
Namun, stroke paling banyak menyebabkan orang cacat pada kelompok usia di atas
45 tahun. Banyak penderitanya yang menjadi cacat, menjadi invalid, tidak mampu
lagi mencari nafkah seperti sediakala, menjadi tergantung kepada orang lain, dan
tidak jarang menjadi beban bagi keluarganya. Beban ini dapat berupa beban tenaga,
beban perasaan dan beban ekonomi.
Stroke dapat terjadi pada setiap usia, dari bayi baru lahir sampai pada usia sangat
lanjut. Namun, angka kejadian stroke meningkat dengan bertambahnya usia. Makin
tinggi usia, makin banyak kemungkinannya untuk mendapatkan stroke.
Secara pukul rata dapat dikatakan bahwa angka kejadian (insiden) stroke adalah 200
per 100.000 penduduk. Dalam satu tahun, diantara 100.000 penduduk, maka 200
orang akan mendapat stroke
Bila dipilah menurut usia maka angka ini menjadi sebagai berikut : pada kelompok
usia 35 - 44 tahun, insidennya ialah 0,2 per seribu (). Pada kelompok usia 45 - 54
tahun, 0,7 , kelompok usia 55 - 64 tahun, 1,8 , 65 - 74 tahun 2,7 , 75 - 84
tahun 10,8 dan 85 tahunke atas 13,9 .

12

Ditaksir bahwa 1000 orang yang berusia 55 - 64 tahun, dalamsatu tahun 1,8 orang
atau kira-kira 2 orang mendapat stroke.
Sirkulasi Darah pada Sistem Saraf Pusat
Sirkulasi darah pada sistem saraf terbagi atas sirkulasi pada otak dan medula
spinalis. Dalam keadaan fisiologik jumlah darah yang dikirim ke otak sebagai blood
flow cerebral adalah 20% cardiac out put atau 1100-1200 cc/menit untuk seluruh
jaringan otak yang berat normalnya 2% dari berat badan orang dewasa. Untuk
mendukung tercukupinya suplai oksigen, otak mendapat sirkulasi yang didukung oleh
pembuluh darah besar.
Suplai Darah Otak
1. Arteri Carotis Interna kanan dan kiri
Arteri communicans posterior
Arteri ini menghubungkan arteri carotis interna dengan arteri cerebri posterior
Arteri choroidea anterior, yang nantinya membentuk plexus choroideus di
dalam ventriculus lateralis
Arteri cerebri anterior
Bagian ke frontal disebelah atas nervus opticus diantara belahan otak kiri dan
kanan. Ia kemudian akan menuju facies medialis lobus frontalis cortex cerebri.
Daerah yang diperdarahi arteri ini adalah:
a) facies medialis lobus frontalis cortex cerebro.
b) facies medialis lobus parietalis.
c) facies convexa lobus frontalis cortex cerebri.
d) facies convexa lobus parietalis cortex cerebri.
e) Arteri cerebri media
Arteri cerebri media
Berjalan lateral melalui fossa sylvii dan kemudian bercabang-cabang untuk
selanjutnya menuju daerah insula reili. Daerah yang disuplai darah oleh arteri
ini adalah Facies convexa lobus frontalis cortex cerebri mulai dari fissura
lateralis sampai kira-kira sulcus frontalis superior, facies convexa lobus

13

parielatis cortex cerebri mulai dari fissura lateralis sampai kira-kira sulcus
temporalis media dan facies lobus temporalis cortex cerebri pada ujung frontal.
2. Arteri Vertebralis kanan dan kiri
Arteri vertebralis dipercabangkan oleh arteri sub clavia. Arteri ini berjalan ke
kranial melalui foramen transversus vertebrae ke enam sampai pertama kemudian
membelok ke lateral masuk ke dalam foramen transversus magnum menuju cavum
cranii. Arteri ini kemudian berjalan ventral dari medula oblongata dorsal dari olivus,
caudal dari tepi caudal pons varolii.
Arteri vertabralis kanan dan kiri akan bersatu menjadi arteri basilaris yang
kemudian berjalan frontal untuk akhirnya bercabang menjadi dua yaitu arteri cerebri
posterior kanan dan kiri. Daerah yang diperdarahi oleh arteri cerebri posterior ini
adalah facies convexa lobus temporalis cortex cerebri mulai dari tepi bawah sampai
setinggi sulcus temporalis media, facies convexa parietooccipitalis, facies medialis
lobus occipitalis cortex cerebri dan lobus temporalis cortex cerebri.
Anastomosis antara arteri-arteri cerebri berfungsi utnuk menjaga agar aliran
darah ke jaringan otak tetap terjaga secara continue. Sistem carotis yang berasal dari
arteri carotis interna dengan sistem vertebrobasilaris yang berasal dari arteri
vertebralis, dihubungkan oleh circulus arteriosus willisi membentuk Circle of willis
yang terdapat pada bagian dasar otak. Selain itu terdapat anastomosis lain yaitu antara
arteri cerebri media dengan arteri cerebri anterior, arteri cerebri media dengan arteri
cerebri posterior.
Klasifikasi stroke
Dikenal bermacam-macam klasifikasi stroke. Semuanya berdasarkan atas gambaran
klinik, patologi anatomi, sistem pembuluh darah dan stadiumnya.
Dasar klasifikasi yang berbeda beda ini perlu, sebab setiap jenis stroke mempunyai
cara pengobatan, preventif dan prognosa yang berbeda, walaupun patogenesisnya
serupa.
I.

Berdasarkan patologi anatomi dan penyebabnya

14

II.

III.

1. Stroke iskemik
a. Transient Ischemic Attack (TIA)
b. Thrombosis serebri
c. Embolia serebri
2. Stroke hemoragik
a. Perdarahan intra serebral
b. Perdarahan subarachnoid
Berdasarkan stadium / pertimbangan waktu
a. T I A
b. Stroke in - evolution
c. Completed stroke
Berdasarkan sistem pembuluh darah
1. Sistem carotis
2. Sistem vertebra-basilar

Stroke mempunyai tanda klinik spesifik, tergantung daerah otak yang mengalami
iskemia atau infark. Serangan pada beberapa arteri akan memberikan kombinasi
gejala yang lebih banyak pula.
Mekanisme terjadinya stroke hemoragik
Timbulnya infark serebral regional dapat juga disebabkan oleh pecahnya arteri
serebral. Daerah distal dari tempat dinding arteri pecah, tidak lagi kebagian darah
sehingga wilayah tersebut menjadi iskemik dan kemudian menjadi infark yang
tersiram daerah ekstravasal hasil perdarahan. Daerah infark itu tidak berfungsi lagi
sehingga menimbulkan deficit neurologic, yang biasanya berupa hemiparalisis. Dan
daerah ekstravasal yang tertimbun intraserebral merupakan hematoma yang cepat
menimbulkan kompresi pada seluruh isi tengkorak berikut bagian rostral batang otak.
Keadaan demikian menimbulkan koma dengan tanda-tanda neurologi yang sesuai
dengan kompresi akut terhadap batang otak secara restrokaudal, yang terjadi dari
gangguan pupil, pernapasan, tekanan darah sistemik dan nadi. Apa yang dilukiskan di
atas ialah gambaran hemoragia intraserebral yang di dalam klinik dikenal sebagai
apopleksia serebri atau hemorrhagic stroke.

15

Arteri yang sering pecah ialah arteria lentikulostriata di wilayah kapsula interna.
Dinding arteri yang pecah selalu menunjukkan tanda-tanda, bahwa disitu terdapat
aneurisma kecil-kecil yang dikenal sebagai aneurisma Charcot Bouchard. Aneurisma
tersebut timbul pada orang-orang dengan hipertensi kronik, sebagai hasil proses
degenerative pada otot dan unsur elastic dinding arteri. Karena perubahan
degenerative itu ditambah dengan beban yang tekanan darah yang tinggi, maka
timbulah beberapa pengelembungan kecil setempat yang dinamakan aneurisma
Charcot Bouchard. Karena sebab-sebab yang belum jelas, aneurismata tersebut
kadang berkembang terutama pada rami perforantes arteria serebri media, yaitu
arteria lentikulostriata. Pada lonjakan tekanan darah sistemik, sewaktu orang marah,
menegluarkan tenaga banyak, dan sebagainya aneurisma kecil itu bisa pecah. Pada
saat itu juga orangnya jatuh pingsan, nafasnya mendengkur dalam sekali dan
memperlihatkan tanda-tanda hemiplegia. Oleh karena itu stress yang menjadi factor
presipitasi, maka haemoragic stroke disebut juga stress stroke.
Komplikasi Stroke
Komplikasi pada penderita stroke selama menjalani perawatan di RS, pasien stroke
dapat mengalami komplikasi akibat penyakitnya. Komplikasi yang umum terjadi
adalah bengkak otak (edema) yang terjadi pada 24 jam sampai 48 jam pertama setelah
stroke.
Berbagai komplikasi lain yang dapat terjadi adalah sebagai berikut:

16

- Kejang. Kejang pada fase awal lebih sering terjadi pada stroke perdarahan. Kejadian
kejang umumnya memperberat defisit neurologik
- Nyeri kepala: walaupun hebat, umumnya tidak menetap. Penatalaksanaan
membutuhkan analgetik dan kadang antiemetik
- Hiccup: penyebabnya adalah kontraksi otot-otot diafragma. Sering terjadi pada
stroke batang otak, bila menetap cari
penyebab lain seperti uremia dan iritasi diafragma.
- Selain itu harus diwaspadai adanya:
- Transformasi hemoragik dari infark
- Hidrosefalus obstruktif
- Peninggian tekanan darah. Sering terjadi pada awal kejadian dan turun beberapa hari
kemudian.
- Demam dan infeksi. Demam berhubungan dengan prognosa yang tidak baik. Bila
ada infeksi umumnya adalah infeksi paru dan traktus urinarius.
- Emboli pulmonal. Sering bersifat letal namun dapat tanpa gejala. Selain itu, pasien
menderita juga trombosis vena dalam (DVT).
- Abnormalitas jantung. Disfungsi jantung dapat menjadi penyebab, timbul bersama
atau akibat stroke. Sepertiga sampai setengah penderita stroke menderita komplikasi
gangguan ritme jantung.
- Gangguan fungsi menelan, aspirasi dan pneumonia. Dengan fluoroskopi ditemukan
64% penderita stroke menderita gangguan fungsi menelan. Penyebab terjadi
pneumonia kemungkinan tumpang tindih dengan keadaan lain seperti imobilitas,
hipersekresi dll.
- Kelainan metabolik dan nutrisi. Keadaan undernutrisi yang berlarut-larut terutama
terjadi pada pasien umur lanjut. Keadaan malnutrisi dapat menjadi penyebab
menurunnya fungsi neurologis, disfungsi kardiak dan gastrointestinal dan
abnormalitas metabolisme tulang.
- Infeksi traktus urinarius dan inkontinensia. Akibat pemasangan kateter dauer, atau
gangguan fungsi kandung kencing atau sfingter uretra eksternum akibat stroke.

17

- Perdarahan gastrointestinal. Umumnya terjadi pada 3% kasus stroke. Dapat


merupakan komplikasi pemberian kortikosteroid pada pasien stroke. Dianjurkan
untuk memberikan antagonis H2 pada pasien stroke ini.
- Dehidrasi. Penyebabnya dapat gangguan menelan, imobilitas, gangguan komunikasi
dll.
- Hiponatremi. Mungkin karena kehilangan garam yang berlebihan.
- Hiperglikemia. Pada 50% penderita tidak berhubungan dengan adanya diabetes
melitus sebelumnya. Umumnya berhubungan dengan prognosa yang tidak baik.
- Hipoglikemia. Dapat karena kurangnya intake makanan dan obat-obatan.

Prognosis
Sekitar 50% penderita yang mengalami kesembuhan dan kembali
menjalankan fungsi normalnya.
Penderita lainnya mengalami kelumpuhan fisik dan mental dan tidak mampu
bergerak, berbicara atau makan secara normal.
Sekitar 20% penderita meninggal di rumah sakit.
Yang berbahaya adalah stroke yang disertai dengan penurunan kesadaran dan
gangguan pernafasan atau gangguan fungsi jantung.
Kelainan neurologis yang menetap setelah 6 bulan cenderung akan terus
menetap, meskipun beberapa mengalami perbaikan.
PENATALAKSANAAN

Langkah yang pertama dan paling awal adalah ABC (Airway, Breathing, dan
Circulation). Masalah dengan jalan nafas (Airway) pada pasien PIS, lebih sering
timbul dan mungkin membutuhkan intubasi dan ventilasi. Jika peningkatan TIK
dicurigai atau pasien menunjukkan gejala-gejala herniasi (koma, dilatasi, pupil
unilateral, third nerve palsy), hiperventilasi (PaCO2 30 mmHg) harus dipastikan
hingga terapi definitive dapat dilakukan. Pada pasien kecurigaan herniasi, harus
mendapatkan terapi Mannitol (1 gr/IV bolus). Posisikan pasien dengan elevasi
300.

Mengatasi perdarahan

18

Vit K dan plasma beku


Protamin
Asam traneksamat

19