Anda di halaman 1dari 9

BAB I

Pendahuluan

Latar Belakang
Perjalanan proses pembangunan tak selamanya mampu meberikan hasil sesuai
dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat di pedesaan. Pembangunan yang dilakukan
di masyarakat desa akan menimbulkan dampak social dan budaya bagi masyarakat.
Pendapat ini pada berlandaskan pada asumsi pembangunan itu adalah proses perubahan
(sosial dan budaya). Selain itu masyarakat pedesaan tidak dapat dilepaskan dari unsure-
unsur pokok pembangunan itu sendiri, seperti teknologi dan birokrasi.

Tekhnologi dan birokrasi merupakan perangkat canggih pembangunan namun


dilain sisi perangkat tersebut berhadapan dengan masyarakat pedesaan yang masih
tradisional dengan segala kekhasannya. Apalagi jika unsur-unsur pokok tersebut langsung
diterapkan tanpa mempertimbangkan aspek sosial, budaya, agama dan lain-lain, maka
jangan harap pembangunan akan berhasil. Pihak birokrasi akan sangat memerlukan usaha
yang sangat ekstra jika pola kebijakan yang dikeluarkan tidak tepat sasaran dan tidak
berlandaskan pada kebutuhan masyarakat khususnya di pedesaan.

Indonesia merupakan Negara yang kaya dengan sumberdaya alamnya dan


sebagian besar dimanfaatkan sebagai lahan agrarian. Tak salah jika kemudian kurang
lebih enampuluh persen penduduknya berkecimpung di dunia pertanian dan umumnya
berada di pedesaan. Dengan demikian, masyarakat desa yang agraris menjadi sasaran
utama introduksi tekhnologi segala kepentingan, kemajuan pertanian sangat melibatkan
unsur-unsur poko tersebut. Oleh sebab itu, masyarakat agrarislah yang pertama menderita
perubahan sosial.

Meski catatan perjalanan pembangunan pertanian di Indonesia telah banyak diulas


oleh para peneliti. Salah satunya hasil penelitian Frans Hüsken yang dilaksanan pada
tahun 1974. Penelitian yang mengulas tentang perubahan sosial di masyarakat pedesaan
Jawa sebagai akibat kebijakan pembangunan pertanian yang diambil oleh pemerintah.
Penelitian ini dilakukan di Desa Gondosari, Kawedanan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa
Tengah. Kekhususan dan keunikan dari penelitian ini terletak pada isinya yang tidak saja
merekam pengalaman perubahan sosial (revolusi) tersebut, namun juga menggali studi
dalam perspektif sejarah yang lebih jauh ke belakang. Penelitian ini berhasil mengungkap
fenomena perubahan politik, sosial dan ekonomi melintasi tiga zaman, yaitu penjajahan
Belanda, Jepang hingga masa pemerintahan orde lama dan orde baru. Husken
menggambarkan terjadinya perubahan di tingkat komunitas pedesaan Jawa sebagai akibat
masuknya teknologi melalui era imperialisme gula dan berlanjut hingga revolusi hijau.
Namun tetap perlu diperhatikan bahwa setiap masyarakat mempunyai “ego”nya dalam
segala bidang termasuk aspek tekhnologi dan kebijakan birokrasi. Perubahan yang
diharapkan dengan mengintroduksi tekhnologi seharusnya sesuai dengan apa yang
menjadi ego masyarakat tersebut, sehingga pola perubahan dapat diterima oleh
masyarakat. Karena setiap kebijakan dan introduksi tekhnologi yang diberikan pada
masyarakat agraris di pedaesaan akan memberikan dampak perubahan sosial yang multi
dimensional.
Pelaksanaan kebijakan teknologi pertanian mempunyai jalinan yang sangat kuat
dengan aspek-aspek lainnya. Jika kita perincikan dimensi-dimensi perubahan tersebut,
maka akan terlihat sangat nyata terjadi perubahan dalam struktur, kultur dan
interaksional. Perubahan sosial dalam tiga dimensi ini, kalau dibiarkan terus akan
merusak tatanan sosial masyarakat desa. Maka dari itu sangat dibutuhkan kajian yang
sangat mendalam untuk mencegah dampak negatif dari kebijakan birokrasi dan asupan
teknologi yang mengiringinya terhadap masyarakat dan aparat yang menjalaninya.

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Mengapa teknologi dapat berpengaruh terhadap perubahan sosial di pedesaan?
2. Mengapa kebijakan birokrasi dapat berpengaruh secara multidimensional terhadap
kondisi sosial masyarakat pedesaan?
3. Mengapa kebijakan birokrasi dapat gagal dalam pembangunan masyarakat pedesaan?

Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengaruh teknologi terhadap perubahan sosial di pedesaan?
2. Untuk mengetahui pengaruh secara multidimensional terhadap kondisi
sosial masyarakat pedesaan yang diakibatkan oleh kebijakan birokrasi
3. Untuk mengetahui kegagalan kebijakan birokrasi dalam pembangunan masyarakat
pedesaan.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

II. 1. Teori Perubahan Sosial


Pengelompokkan teori perubahan sosial telah dilakukan oleh Strasser dan
Randall. Perubahan sosial dapat dilihat dari empat teori, yaitu teori kemunculan diktator
dan demokrasi, teori perilaku kolektif, teori inkonsistensi status dan analisis organisasi
sebagai subsistem sosial.

II.1.1. Teori Diktator


Teori yang disampaikan oleh Barrington Moore ini berusaha menjelaskan
pentingnya faktor struktural dibalik sejarah perubahan yang terjadi pada negara-negara
maju. Negara-negara maju yang dianalisis oleh Moore adalah negara yang telah berhasil
melakukan transformasi dari negara berbasis pertanian menuju negara industri modern.
Secara garis besar proses transformasi pada negara-negara maju ini melalui tiga pola,
yaitu demokrasi, fasisme dan komunisme.

Demokrasi merupakan suatu bentuk tatanan politik yang dihasilkan oleh revolusi
oleh kaum borjuis. Pembangunan ekonomi pada negara dengan tatanan politik demokrasi
hanya dilakukan oleh kaum borjuis yang terdiri dari kelas atas dan kaum tuan tanah.
Masyarakat petani atau kelas bawah hanya dipandang sebagai kelompok pendukung saja,
bahkan seringkali kelompok bawah ini menjadi korban dari pembangunan ekonomi yang
dilakukan oleh negara tersebut. Terdapat pula gejala penhancuran kelompok masyarakat
bawah melalui revolusi atau perang sipil. Negara yang mengambil jalan demokrasi dalam
proses transformasinya adalah Inggris, Perancis dan Amerika Serikat.

Berbeda halnya demokrasi, fasisme dapat berjalan melalui revolusi konserfatif


yang dilakukan oleh elit konservatif dan kelas menengah. Koalisi antara kedua kelas ini
yang memimpin masyarakat kelas bawah baik di perkotaan maupun perdesaan. Negara
yang memilih jalan fasisme menganggap demokrasi atau revolusi oleh kelompok borjuis
sebagai gerakan yang rapuh dan mudah dikalahkan. Jepang dan Jerman merupakan
contoh dari negara yang mengambil jalan fasisme.

Komunisme lahir melalui revolusi kaun proletar sebagai akibat ketidakpuasan atas
usaha eksploitatif yang dilakukan oleh kaum feodal dan borjuis. Perjuangan kelas yang
digambarkan oleh Marx merupakan suatu bentuk perkembangan yang akan berakhir pada
kemenangan kelas proletar yang selanjutnya akan mwujudkan masyarakat tanpa kelas.
Perkembangan masyarakat oleh Marx digambarkan sebagai bentuk linear yang mengacu
kepada hubungan moda produksi. Berawal dari bentuk masyarakat primitif (primitive
communism) kemudian berakhir pada masyarakat modern tanpa kelas (scientific
communism). Tahap yang harus dilewati antara lain, tahap masyarakat feodal dan tahap
masyarakat borjuis. Marx menggambarkan bahwa dunia masih pada tahap masyarakat
borjuis sehingga untuk mencapai tahap “kesempurnaan” perkembangan perlu dilakukan
revolusi oleh kaum proletar. Revolusi ini akan mampu merebut semua faktor produksi
dan pada akhirnya mampu menumbangkan kaum borjuis sehingga akan terwujud
masyarakat tanpa kelas. Negara yang menggunakan komunisme dalam proses
transformasinya adalah Cina dan Rusia.

II.1.2. Teori Perilaku Kolektif


Teori perilaku kolektif mencoba menjelaskan tentang kemunculan aksi sosial.
Aksi sosial merupakan sebuah gejala aksi bersama yang ditujukan untuk merubah norma
dan nilai dalam jangka waktu yang panjang. Pada sistem sosial seringkali dijumpai
ketegangan baik dari dalam sistem atau luar sistem. Ketegangan ini dapat berwujud
konflik status sebagai hasil dari diferensiasi struktur sosial yang ada. Teori ini melihat
ketegangan sebagai variabel antara yang menghubungkan antara hubungan antar individu
seperti peran dan struktur organisasi dengan perubahan sosial.
erubahan pola hubungan antar individu menyebabkan adanya ketegangan sosial
yang dapat berupa kompetisi atau konflik bahkan konflik terbuka atau kekerasan.
Kompetisi atau konflik inilah yang mengakibatkan adanya perubahan melalui aksi sosial
bersama untuk merubah norma dan nilai.

II.1.3. Teori Inkonsistensi Status


Stratifikasi sosial pada masyarakat pra-industrial belum terlalu terlihat dengan jelas
dibandingkan pada masyarakat modern. Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya derajat
perbedaan yang timbul oleh adanya pembagian kerja dan kompleksitas organisasi. Status
sosial masih terbatas pada bentuk ascribed status, yaitu suatu bentuk status yang
diperoleh sejak dia lahir. Mobilitas sosial sangat terbatas dan cenderung tidak ada. Krisis
status mulai muncul seiring perubahan moda produksi agraris menuju moda produksi
kapitalis yang ditandai dengan pembagian kerja dan kemunculan organisasi kompleks.

Perubahan moda produksi menimbulkan maslaah yang pelik berupa kemunculan


status-status sosial yang baru dengan segala keterbukaan dalam stratifikasinya.
Pembangunan ekonomi seiring perkembangan kapitalis membuat adanya pembagian
status berdasarkan pendidikan, pendapatan, pekerjaan dan lain sebagainya. Hal inilah
yang menimbulkan inkonsistensi status pada individu.

II.1.4. Analisis organisasi sebagai subsistem sosial


Alasan kemunculan teori ini adalah anggapan bahwa organisasi terutama birokrasi
dan organisasi tingkat lanjut yang kompleks dipandang sebagai hasil transformasi sosial
yang muncul pada masyarakat modern. Pada sisi lain, organisasi meningkatkan hambatan
antara sistem sosial dan sistem interaksi.

II.2. Perubahan Multidimensional


Seperti yang telah dibahasakan sebelumnya, perubahan yang terjadi akibat
kebijakan dan asupan teknologi dapat meranah pada perubahan multidimensional di
tengah masyarakat. Perubahan tersebut berupa :

II.2.1. Dimensi Kultural


Perubahan dalam dimensi kultural mengacu kepada perubahan kebudayaan dalam
masyarakat, seperti adanya penemuan (discovery) dalam berpikir (ilmu pengetahuan),
pembaruan hasil (invention) teknologi, kontak dengan kebudayaan lain yang
menyebabkan terjadinya difusi dan peminjaman kebudayaan. Kesemuaannya itu
meningkatkan adanya integrasi unsur-unsur baru kedalam kebudayaan. Bentuk- bentuk
sosial lainnya, dimana bentuknya tidak berubah dan tetap dalam kerangka kerjanya.

Perubahan sosialdan perubahan kebudayaan sulit dipisahkan. Tetepi secara


teoritis dapatlah dikatakan bahwa perubahan sosial mengacu kepada perubahan dalam
struktur sosial dan hubungan sosial, sedangkan perubahan kebudayaan mengacu kepada
perubahan pola-pola perilaku, termasuk teknologi dan dimensi dari ilmu, material dan
nonmaterial.

II.2.2. Dimensi Struktural


Dimensi struktural mengacu kepada perubahan-perubahan dalam bentuk
structural masyarakat, menyangkut perubahan dalam peranan, munculnya peranan baru,
perubahan dalam struktural kelas sosial dan perubahan lembaga sosial.

Secara sederhana perubahan struktural dijelaskan sebagai berubahnya bentuk


lama diganti dengan bentuk-bentuk baru yang secara tidak langsung dapat menimbulkan
difusi kebudayaan. Bentuk umum dan bentuk baru dapat diganti dan dimodivikasi secara
terus-menerus.
II.2.3. Dimensi Interaksional
Perubahan sosial menurut dimensi interaksional mengacu pada adanya peubahan
pola hubungan sosial di dalam masyarakat. Modifikasi dan perubahan dalam struktur
daripada komponen-komponen masyarakat bersamaan dengan pergeseran dari
kebudayaan yang membawa perubahan dalam relasi sosial. Hal seperti frekuensi, jarak
sosial, peralatan, keteraturan dan peranan undang-undang, merupakan skema pengaturan
dari dimensi spesifik dari perubahan relasi sosial. Artinya, perubahan sosial dalam
banyak hal dapat dianalisis dari proses interaksi sosial.

BAB III
ISI

Teknologi dan Perubahan Sosial di Pedesaan


Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial di pedesaan,
misalnya datangnya kolonialis dengan berbagai cirri kebudayaan yang dibawanya, pola
pendidikan, sistem ekonomi, politik pemerintahan dan banyak hal yang tak mungkin
dipisahkan dari faktor-faktor individual yang yang berpengaruh dengan secara tanpa
disadari mampu mempengaruhi individu lainnya. Faktor yang penting dalam kaitannya
dengan pembicaraan ini adalah teknologi, yang sanfat nyata berkaitan dengan perubahan
sosial di pedesaan. Hal ini terjadi karena pada pasca nasional ini, selalu dijadikansasaran
utama pembangunan.

Pada masa pembangunan ini, baik itu setelah Indonesia merdeka maupun orde
baru, desa secara teus menerusmengalami perubahan sosial. Masyarakat desa menerima
dan menggunakan hasilpenemuan atau peniruan teknologi khususnyadi bidang pertanian,
yang merupakan orientasi utama pembangunan di Indonesia. Penerimaan terhadap
teknologi baik itu dipaksakan ataupun inisiatif agen-agen perubah, tidak terelakkan lagi
akan mempengaruhi perilaku sosial (social behavior) dalam skala atau derajat yang besar.
Lebih dari itu, introduksi teknologi yang tidak tepat mempunyai implikasi terhadap
perubahan sosial, yang kemudian akan diikuti dan diketahui akibatnya. Contohnya, ketika
teknologi berupa traktor atau mesin penggilingan padi awal gerakan revolusi hijau sekitar
tahun60-an masuk ke desa, banyak buruh tanidi pedesaan jadi pengangguran akibat
tenaganya tergantikan oleh mesin-mesin traktor.

Keadaan ini menimbulkan perubahan struktur, kultur dan interaksional di


pedesaa. Perubahan dalam suatu aspek akan merembet ke aspek lain. Struktur keluarga
berubah, di mana buruh wanita yang biasa menumbuk padi sebagai penghasilan
tambahan, sekarang hanya tinggal di rumah. Masuknya traktor menyebabkan tenaga kerja
hewan menganggur dan buruh tani kehilangan pekerjaannya. Keadaan demikian
menyebabkan terjadinya urbanisasi, buruhtani dan pemuda tani lari ke kota mencari
pekerjaan. Hal ini kemudian memberikan dampak kepadatan penduduk yang
membeludak di perkotaan, lalu menjadikan perputaran ekonomi semakin besar dan desa
semakin tertinggal. Namun keadaan ini tidak sampai di sini, ketika mereka kembali lagi
ke desa timbul konflik kultur akibat budaya yang terbangun selama berada di kota
terbawa ke desa. Dari contoh sederhana ini dapat dibayangkan betapa akibat perubahan
suatu aspek dapat merembet ke aspek lainnya.

Perubahan Multidimensional di Pedesaan


Proses pembangunan pedesaan di daerah pertanian tidak lain adalah suatu
perubahan sosial. Demikian pula introduksi teknologi ke pedesaan yang bermula dari
kebijakan orde baru membebek pada isu global bernama revolusi hijau menimbulkan
prubahan sosial dalam berbagai dimensi. Masuknya traktor atau mesin penggiling padi ke
pedesaan menyebabkan berkurangnya peranan buruh tani dalam pengelolaan tanah dan
berkurangnya peranan wanita dalam ekonomi keluarga di pedesaan.

Teknologi yang masuk ke desa tersebut banyak dikuasai oleh golongan ekonomi
kelas atas dan menengah di desa. Golongan tersebut dengan pendirinya akan menentukan
pasaran kerja di desa. Keadaan demikian akan menggeser peranan pemilik ternak kerbau
atausapi sebagai sumber tenaga kerja pengolah sawah.

Masuknyan teknologi perangkat usaha ternak sapi perah, menggeser peternak


tradisional yang hanya memiliki satu sampai tiga ekor ternak. Perangkat teknologi
tersebut merubah sistem beternak, dari ekonomi keluarga ke ekonomi komersial, dengan
jumlah ternak yang banyak dan dikuasai oleh golongan ekonomi kuat di desa atau di kota
yang menanamkan modalnya di desa. Perangkat teknologi sapi perah seperti mixer
makanan ternak, cooling unit susu, sistem pengawetan dan lain-lain, memungkinkan
orang untuk menangani jumlah ternak sapi lebih banyak. Hal ini memberikan bukti
bahwa teknologi mengakibatkan meningkatnya ukuran usaha tani di pedesaan.

Belum lagi kebijakan-kebijakan sederhana yang ada di pedesaan. Penunjukan


kepala desa sebagai ketua LKMD misalnya, hal ini mengakibatkan pengaruh Negara akan
semakin dominan yang notabene tidak terlalu paham dengan kondisi sosial masyarakat
desa setempat. Pola pengaruh ini bermula dari penggunaan kekuasaan yang terlalu
berlebih. Dengan dalih pembangunan, para kusir delman tergeser oleh adanya
transportasi angkutan pedesaan. Struktur ekonomi kembali dikuasai oleh orang-orang
tertentu saja. Disini terjadi perubahan peranan LKMD, yang sebelumnya sebagai
akumulasi aspirasi masyarakat berubah menjadi wadah aspirasi penguasa.
Masuknya teknologi ke desa, seperti halnya mekanisasi dalam bidang pertanian,
juga mempengaruhi organisasi dan manajemen usaha tani. Mekanisasi pertanian
menuntut adanya keterampilan baru bagi para pekerja. Tuntutan tersebut, dengan
sendirinya membutuhkan modal yang besar sehingga melibatkan bank dan pemodal
lainnya. Pengadaan modal untuk pengembangan industri atau mekanisasi di desa,
ditunjang oleh kebijaksanaan pemerintah dalam bentuk pemberian pinjaman berupa
kredit. Kebijaksanaan ini meransang timbulnyakeberanian untuk meminjam kredit dalam
jumlah besar, tanpa diimbangi oleh sistem organisasi dan manajemen yang memadai,
sehingga muncul dimana-mana tunggakan kredit, seperti bimas atau industri kecil
menubggak.

Dengan terjadinya perubahan structural tersebut, tidak mampu dinafikan bahwa


budaya atau kultur masyarakat pun ikut berubah. Seperti yang telah dijelaskan secara
teoritis perubahan kultur sosial menyangkut segi-segi non material, sebagai akibat
penemuan batau medernisasi. Artinya terjadi integrasi atau konflik unsur baru dengan
unsur lama sampai terjadinya sintesis atau penolakan sama sekali.

Masuknya teknologi atau adanya mekanisasi di desa mengakibatkan banyaknya


pertambahan jumlah penduduk yang menganggur, transformasi yang tidak jelas, dan pola
komunikasi yang sejalan dengan perubahan komunitas di desa.kesemuanya itu
merupakan inovasi, baik itu hasil penemuan dalam berpikir atau peniruan yang dapat
menimbulkan difusi atau integrasi. Peristiwa-peristiwa perubahan kultural meliputi
“cultural lag”, “cultural survival”, “cultural conflict” dan ”cultural shock”.

Hal di atas juga sangat besar pengaruhnya terhadap interaksi, sebab melalui
teknologi aktivitas kerja menjadi lebih sederhana dan serba cepat. Hubungan antara
sesame pekerja menjadi bersifat impersonal, sebab setiap pekerja bekerja menurut
keahliannya masing-masing (spesialis). Hal ini berbeda dengan kegiatan pekerjaan yang
tanpa teknologi, tidak bersifat spesialis dimana setiap orang dapat saling membantu
pekerjaan, tidak dituntut keahlian tertentu.

Teknologi berkaitan dengan pembatasan pekerjaan yang bersifat kerjasama,


sehingga dapat menimbulkan konflik pada komunitas pertanian. Adanya teknologi,
praktek-praktek saling membantu menjadi terhenti dan kerjasama informal menjadi
berkurang. Proses mekanisasi di daerah pertanian menyebabkan hubungan bersifat
kontrak formal. Tenaga kerja berkembang menjadi tenaga kerja formal yang
kemampuandan keahliannya terbatas. Lambat laun di pedesaan akan muncul organisasi
formal tenaga kerja sebagai akibat terspesialisasi dan meningkatnya pembagian kerja. Hal
inilah yang oleh Durkheim dinamakan solidaritas organic (organic solidarity) yang lebih
sering terjadi pada komunitas perkotaan.

Masuknya teknologi ke desa menyebabkan kontak sosial menjadi tersebar melalui


berbagai media dan sangat luas, melauli perdagangan, pendidikan, agama dan
sebagainya. Akibat pola hubungan yang Yng bersifat impersonal, maka ketidak setujuan
atau perbedaan pendapat sulit diselesaikan secara kekluargaan, tetapi harus melalui
proses peradilan. Hal ini tampak dengan adanya kebijaksanaan jaksa masuk desa, dimana
sebelumnya konflik di desa cukup diselesaikan dengan oleh ketua kampong atau sesepuh
desa.

Gagalnya Kebijakan Pemerintah dalam Pembangunan Pedesaan


Proses pembangunan pertanian di Indonesia telah banyak diulas oleh para
peneliti. Frans Hüsken misalnya, pada tahun 1974 ia melakukan penelitian yang
mengulas tentang perubahan sosial di masyarakat pedesaan Jawa sebagai akibat
kebijakan pembangunan pertanian yang diambil oleh pemerintah. Penelitian ini
dilakukan di Desa Gondosari, Kawedanan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Kekhususan dan keunikan dari penelitian ini terletak pada isinya yang tidak saja
merekam pengalaman perubahan sosial (revolusi) tersebut, namun juga menggali studi
dalam perspektif sejarah yang lebih jauh ke belakang. Penelitian ini berhasil mengungkap
fenomena perubahan politik, sosial dan ekonomi melintasi tiga zaman, yaitu penjajahan
Belanda, Jepang hingga masa pemerintahan orde lama dan orde baru. Husken
menggambarkan terjadinya perubahan di tingkat komunitas pedesaan Jawa sebagai akibat
masuknya teknologi melalui era imperialisme gula dan berlanjut hingga revolusi hijau.

Pendapat Marx tentang perubahan moda produksi menghasilkan perubahan pola


interaksi dan struktur sosial tergambar jelas dalam tulisan husken. Masyarakat jawa yang
semula berada pada pertanian subsisten dipaksa untuk berubah menuju pertanian
komersialis. Perubahan komoditas yang diusahakan menjadi salah satu indikator yang
dijelaskan oleh Husken. Imperialisme gula telah merubah komoditas padi menjadi tebu
yang tentu berbeda dalam proses pengusahaannya. Gambaran ini semakin jelas pada
masa orde baru dengan kebijakan revolusi hijaunya.

Gambaran serupa tampak pada tulisan Hefner, Jellinek dan Summers. Kebijakan
pemerintah yang mengacu pada model modernisasi selalu menekankan pada
pembangunan ekonomi yang merubah moda produksi dari pertanian menuju industri.
Pembangunan ekonomi yang berorientasi pada kapitalisme membawa dampak pada
kehidupan di tingkat komunitas.

Ini berarti kebijakan pemerintah tidak selamanya memperhatikan apa yang


sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat di pedesaan. Hanya memaksakan pemerataan
pembangunan tanpa mempertimbangkan dampak sosial yang akan terjadi dibalik
kebijakan tersebut. Meskipun introduksi teknologi dapat menerobos pedesaan, akan tetapi
hal tersebut merubah pola interaksi dari structural dan kultural masyarakat pedesaan.
Sehingga kegagalan kebijakan pemerintah terlihat jelas dengan adanya abcontrol pada
dampak negatif yang menggerayangi kehidupan masyarakat desa.

Untuk perlu pertimbangan yang matang dan pisau analisis yang tajam bagi
pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan pembangunan khususnya pertanian di
pedesaan. Agar tidak merusak tatanan sosial masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

Dari ulasan sederhana tentang pengaruh introduksi teknologi dan kebijakan


pembangunan pertanian terhadap perubahan sosial masyarakat pedesaan di atas, dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut :
a. Teknologi dan birokrasi merupakan dua unsur pokok yang tidak dapat dipisahkan
satu sama lainnya dalam konteks pembangunan di pedesaan
b. Teknologi dan birokrasi telah menimbulkan perubahan sosial dalam tiga dimensi
utama; structural, kultural dan interaksional.
c. Akibat teknologi masuk desa, telah menimbulkan pergeseran struktur kehidupan
masyarakat, struktur ekonomi, lembaga sosial, lembaga pendidikan dan keluarga
d. Revolusi hijau mampu mempolarisasi ekonomi masyarakat tani dengan adanya
asupan teknologi
e. Pembangunan pertanian di pedesaan mestinya menghindari dampak pergeseran
budaya,struktur dan interaksional masyarakat.
f. Hambatan polarisasi sosial sangat ditentukan oleh katup pengaman berupa urbanisasi
secara sirkuler agar dampak negatif yang timbul dapat ditekan jumlahnya.

Saran

Penulis mencoba menawarkan saran sebagai tindak lanjut dari permasalahan yang
ada berupa :
a. Paradigma pembangunan tidaklah mesti berladaskan pada pertumbuhan sektoral,
akan tetapi pemerataan dari segala aspek, mulai dari pendidikan, ekonomi, dan
teknologi agar tidak terjadi ketidak stabilan sosial masyarakat
b. Kebijakan pemerintah dalam pembangunan mestinya berlandaskan pada kebutuhan
masyarakat dan tidak bersifat sentralistik, akan tetapi merata di seluruh pelosok
c. Kemandirian masyarakat tani perlu ditingkatkan dalam menggali potensi mereka,
sehingga pola interaksi tetap berjalan dengan baik dan nilai kerjasama anatar
masyarakat tetap terjaga.