Anda di halaman 1dari 12

APENDISITIS

Abstrak
Apendisitis merupakan peradangan yang terjadi pada apendiks vermiformis, dan merupakan
penyebab abdomen akut yang paling sering. Apendiks disebut juga umbai cacing. Istilah usus
buntu yang selama ini dikenal dan digunakan di masyarakat kurang tepat, karena yang
merupakan usus buntu sebenarnya adalah sekum. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti
apa fungsi apendiks sebenarnya. Namun demikian, organ ini sering sekali menimbulkan
masalah kesehatan. Selain itu, nyeri abdomen yang dirasakan memberikan kemungkinan
diagnosis yang beragam sehingga penegakan diagnosis sangat penting pada kasus tersebut.
Pasien pada kasus ini didiagnosis apendisitis kronis eksaserbasi akut dan dilakukan apendiktomi
sebagai penanganan.
Keyword: apendisitis, diagnosis
History
Seorang pasien laki-laki, 29 tahun, datang ke Poli Bedah RSUD Wirosabandengan keluhan
utama rasa tidak enak pada ulu hati dan menjalar ke perut kanan bawah yang bersifat terus
menerus sejak 3 hari yang lalu. Pasien juga mengeluh demam dan tidak nafsu makan, tidak ada
keluhan mual muntah. Gangguan seperti ini sudah pernah dikeluhkan pasien 3 minggu yang
lalu. Pada pemeriksaan fisik keadaan umum pasien sedang dengan tanda vital hipertermia.
Pemeriksaan lokal pada abdomen ditemukan nyeri tekan titik Mc. Burney dan adanya tanda
rovsing. Sedangkan pada pemeriksaan rectal tocher ditemukan nyeri pada jam 9 dan 11.
Pemeriksaan penunjang laboratorium darah rutin ditemukan leukositosis.
Diagnosis
Apendisitis kronik eksaserbasi akut
Terapi
Pasien dirawatinapkan dan dilakukan apendiktomi pada pasien sebagai penanganan. Ditemukan
apendik yang telah mengalami peradangan, hiperemis, udem, namun belum mengalami
perforasi.
Diskusi
Nyeri abdomen yang dijadikan sebagai keluhan utama pada pasien ini masih memberikan
banyak kemungkinan diagnosis karena nyeri dapat berasal baik dari organ dalam abdomen
(nyeri viseral) maupun dari lapisan dinding abdomennya (nyeri somatik). Nyeri akut abdomen
yang timbul bisa tiba-tiba atau sudah berlangsung lama. Namun, penentuan lokasi dari nyeri
abdomen mampu membantu dokter untuk mengarahkan lokasi pada organ yang menyebabkan
nyeri tersebut, walaupun nyeri yang dirasakan mungkin akibat dari penjalaran organ lain. Salah
satu lokasi nyeri abdomen yang paling sering terjadi yaitu pada titik Mc Burney. Nyeri pada titik
ini mengarah pada infeksi di apendiks (apendisitis).
Untuk menegakkan diagnosis apendisitis tersebut, diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang jika perlu. Lebih jelasnya akan diuraikan dibawah ini.
Anamnesis
Gejala awal yang khas, yang merupakan gejala klasik apendisitis adalah nyeri samar (nyeri
tumpul) di daerah epigastrium di sekitar umbilikus atau periumbilikus. Keluhan ini biasanya
disertai dengan rasa mual muntah, dan pada umumnya nafsu makan menurun. Kemudian
dalam beberapa jam, nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah, ke titik Mc Burney. Di titik ini

nyeri terasa lebih tajam dan jelas letaknya, sehingga merupakan nyeri somatik setempat.
Namun terkadang, tidak dirasakan adanya nyeri di daerah epigastrium, tetapi terdapat
konstipasi sehingga penderita merasa memerlukan obat pencahar. Tindakan ini dianggap
berbahaya karena bisa mempermudah terjadinya perforasi. Terkadang apendisitis juga disertai
dengan demam derajat rendah sekitar 37,5 -38,5 derajat celcius.
Selain gejala klasik, ada beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagai akibat dari apendisitis.
Timbulnya gejala ini bergantung pada letak apendiks ketika meradang. Berikut gejala yang
timbul tersebut.
1. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang sekum (terlindung oleh
sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada
tanda
rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah perut kanan atau
nyeri timbul pada saat melakukan gerakan seperti berjalan, bernapas dalam, batuk, dan
mengedan. Nyeri ini timbul karena adanya kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari
dorsal.
2. Bila apendiks terletak di rongga pelvis
Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada rektum, akan timbul gejala dan
rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga peristalsis meningkat, pengosongan rektum akan
menjadi lebih cepat dan berulang-ulang (diare).
Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung kemih, dapat terjadi peningkatan
frekuensi kemih, karena rangsangannya dindingnya.
Gejala apendisitis terkadang tidak jelas dan tidak khas, sehingga sulit dilakukan diagnosis, dan
akibatnya apendisitis tidak ditangani tepat pada waktunya, sehingga biasanya baru diketahui
setelah terjadi perforasi. Berikut beberapa keadaan dimana gejala apendisitis tidak jelas dan
tidak khas.
1. Pada anak-anak gejala awalnya sering hanya menangis dan tidak mau makan. Seringkali anak
tidak bisa menjelaskan rasa nyerinya. Dan beberapa jam kemudian akan terjadi muntahmuntah dan anak menjadi lemah dan letargik. Karena ketidakjelasan gejala ini, sering
apendisitis diketahui setelah perforasi. Begitupun pada bayi, 80-90 % apendisitis baru diketahui
setelah terjadi perforasi.
2. Pada orang tua berusia lanjut gejala sering samar-samar saja dan tidak khas, sehingga lebih
dari separuh penderita baru dapat didiagnosis setelah terjadi perforasi.
3. Pada wanita gejala apendisitis sering dikacaukan dengan adanya gangguan yang gejalanya
serupa dengan apendisitis, yaitu mulai dari alat genital (proses ovulasi, menstruasi), radang
panggul, atau penyakit kandungan lainnya. Pada wanita hamil dengan usia kehamilan trimester,
gejala apendisitis berupa nyeri perut, mual, dan muntah, dikacaukan dengan gejala serupa
yang biasa timbul pada kehamilan usia ini. Sedangkan pada kehamilan lanjut, sekum dan
apendiks terdorong ke kraniolateral, sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah
tetapi lebih ke regio lumbal kanan.

Pemeriksaan Fisik
1. Inspeksi
Kadang sudah terlihat waktu penderita berjalan sambil bungkuk dan memegang perut.
Penderita tampak kesakitan. Pada inspeksi perut tidak ditemukan gambaran spesifik. Kembung
sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa
dilihat pada massa atau abses appendiculer
2. Palpasi
Dengan palpasi di daerah titik Mc. Burney didapatkan tanda-tanda peritonitis lokal yaitu:
Nyeri tekan di Mc. Burney.

o
o

Nyeri lepas.
Defans muscular lokal. Defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum

parietal. Pada appendix letak retroperitoneal, defans muscular mungkin tidak ada, yang ada
nyeri pinggang .
Tanda-tanda khas yang didapatkan pada palpasi appendicitis yaitu:
Nyeri tekan (+) Mc.Burney

Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran kanan bawah atau titik Mc Burney dan ini
merupakan tanda kunci diagnosis
Nyeri lepas (+)

Rebound tenderness (nyeri lepas tekan ) adalah rasa nyeri yang hebat (dapat dengan melihat
mimik wajah) di abdomen kanan bawah saat tekanan secara tiba-tiba dilepaskan setelah
sebelumnya dilakukan penekanan yang perlahan dan dalam di titik Mc Burney.
Defens musculer (+)

Defence muscular adalah nyeri tekan seluruh lapangan abdomen yang menunjukkan adanya
rangsangan peritoneum parietale.
Rovsing sign (+)
Rovsing sign adalah nyeri abdomen di kuadran kanan bawah, apabila kita melakukan
penekanan pada abdomen bagian kiri bawah, hal ini diakibatkan oleh adanya tekanan yang

merangsang peristaltik dan udara usus, sehingga menggerakan peritoneum sekitar appendix
yang meradang sehingga nyeri dijalarkan karena iritasi peritoneal pada sisi yang berlawanan
(somatik pain)
Psoas sign (+)

Psoas sign terjadi karena adanya rangsangan muskulus psoas oleh peradangan yang terjadi
pada apendiks
Ada 2 cara memeriksa :
1. Aktif : Pasien telentang, tungkai kanan lurus ditahan pemeriksa, pasien memfleksikan
articulatio coxae kanan maka akan terjadi nyeri perut kanan bawah.
2. Pasif : Pasien miring kekiri, paha kanan dihiperekstensikan pemeriksa, nyeri perut kanan
bawah
Obturator Sign (+)
Obturator sign adalah rasa nyeri yang terjadi bila panggul dan lutut difleksikan kemudian
dirotasikan kearah dalam dan luar (endorotasi articulatio coxae) secara pasif, hal tersebut
menunjukkan peradangan apendiks terletak pada daerah hipogastrium
3. Auskultasi
Peristaltik usus sering normal. Peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis
generalisata akibat appendicitis perforata

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium

- Pemeriksaan darah : akan didapatkan leukositosis pada kebanyakan kasus appendisitis akut
terutama pada kasus dengan komplikasi. Pada appendicular infiltrat, LED akan meningkat
- Pemeriksaan urin : untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam urin.
Pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi
saluran kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama dengan
appendicitis
Pemeriksaan Colok Dubur

Akan didapatkan nyeri kuadran kanan pada jam 9-12. Pada appendicitis pelvika akan
didapatkan nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur.
Abdominal X-Ray

Digunakan untuk melihat adanya fecalith sebagai penyebab appendicitis.


Pemeriksaan ini dilakukan terutama pada anak-anak
USG

Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG, terutama pada
wanita, juga bila dicurigai adanya abses. Dengan USG dapat dipakai untuk menyingkirkan
diagnosis banding seperti kehamilan ektopik, adnecitis dan sebagainya
Barium enema

Yaitu suatu pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium ke colon melalui anus.
Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari appendicitis pada jaringan
sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan diagnosis banding.
CT-Scan

Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendicitis. Selain itu juga dapat menunjukkan
komplikasi dari appendicitis seperti bila terjadi abses.
Laparoscopi
Yaitu suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang dimasukkan dalam
abdomen, appendix dapat divisualisasikan secara langsung.Tehnik ini dilakukan di bawah
pengaruh anestesi umum. Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan peradangan pada
appendix maka pada saat itu juga dapat langsung dilakukan pengangkatan appendix
Kesimpulan
Diagnosis apendisitis dapat ditegakkan melalui tiga hal yaitu anamnesis, pemeriksaan fisik,
serta pemeriksaan penunjang jika diperlukan. Penegakan diagnosis yang tepat pada apendisitis
dapat mengurangi komplikasi yang terjadi serta mengurangi tingkat morbiditas dan mortalitas.
http://medicalandpucblicinfo.blogspot.co.id/2011/12/penegakan-diagnosis-padaapendisitis.html
ASMA
GAMBARAN KLINIS ASMA PADA ANAK
Dengan mengetahui gambaran klinis pada anak, maka dapat dilihat luas permasalahan
dan seberapa jauh perlu dikerjakan upaya untuk mencegah serangan asma.

(1)

Asma episodik jarang


biasanya terdapat pada anak umur 3-6 tahun. Serangan umumnya dicetuskan oleh infeksi
saluran napas bagian atas. Banyaknya serangan 3-4 kali dalam satu tahun. Lamanya serangan
paling lama beberapa hari saja dan jarang merupakan serangan yang berat. Gejala-gejala yang
timbul lebih menonjol pada malam hari. Mengi (wheezing) dapat berlangsung sekitar 3-4 hari.
Sedangkan batuk-batuknya dapat berlangsung 10-14 hari. Tumbuh kembang anak biasanya
baik. Di luar serangan tidak ditemukan kelainan. Waktu remisi berminggu-minggu sampai
berbulan-bulan. Golongan ini merupakan 70-75% dari populasi asma anak.

(2)

Asma episodik sering


pada golongan ini, serangan pertama terjadi pada umur sebelum 3 tahun. Pada permulaan,
serangan berhubungan dengan infeksi saluran napas akut. Pada umur 5-6 tahun dapat terjadi
serangan tanpa infeksi yang jelas. Biasanya orang tua menghubungkannya dengan perubahan

udara, adanya alergen, aktivitas fisik, dan stres. Banyak kasus yang tidak jelas pencetusnya.
Banyaknya serangan 3-4 kali dalam satu tahun dan tiap kali serangan beberapa hari sampai
beberapa minggu. Frekuensi serangan paling tinggi pada umur 8-13 tahun. Pada golongan
lanjut kadang-kadang sukar dibedakan dengan golongan asma kronik atau persisten. Umumnya
gejala paling jelek terjadi pada malam hari dengan batuk dan mengi yang dapat mengganggu
tidur.
(3)

Asma kronik atau persisten


pada 25% anak golongan ini serangan pertama terjadi sebelum anak berumur 6 bulan, 75%
sebelum anak berumur 3 tahun. 50% anak terdapat mengi yang lama pada 2 tahun pertama
dan 50% sisanya serangan episodik. Pada umur 5-6 tahun akan lebih jelas terjadinya obstruksi
saluran napas yang persisten dan hampir selalu terdapat mengi setiap hari. Pada malam hari
sering terganggu oleh batuk dan mengi. Aktivitas fisik sering menyebabkan mengi. Dari waktu
ke waktu terjadi serangan fisik yang berat dan sering memerlukan perawatan rumah sakit.
Terdapat juga golongan yang jarang mengalami serangan berat, hanya sesak sedikit dan mengi
sepanjang waktu. Setelah mendapat penanganan yang tepat biasanya baru disadari bahwa ada
perbedaan dibandingkan sebelum mendapatkan penanganan. Anak dan orang tua baru
menyadari mengenai asma pada anak serta permasalahannya. Obstruksi jalan napas mencapai
puncaknya pada umur 8-14 tahun, setelah biasanya terjadi perubahan.
DIAGNOSIS
Anamnesis
Anamnesis pada penyakit asma diawali dari identitas anak. . Dalam hal ini yang dimaksud
antara lain usia, jenis kelamin, berat badan, serta tinggi badan. Hal ini penting diketahui karena
derajat penyakit dan serangan asma terkait dengan karakteristik fisik anak.
Setelah didapatkan data identitas anak maka anamnesis dilanjutkan dengan pemeriksaan
keluhan utama anak.
Keluhan utama ketika datang ke dokter :
Wheezing ( ketika serangan ) dan / atau batuk kronik berulang ( BKB ). Untuk memudahkan
asma dengan manifestasi klinik khas batuk, sesak dan wheezing disebut sebagai asma klasik
dan yang manifestasi terutama BKB dissebut asma non klasik.
BKB dapat merupakan manifestasi awal dari perjalanan asma anak. Pada penyelidikan jangka
panjang anak dengan BKB ternyata mempunyai resiko 4 kali lebih banyak untuk menjadi asma.
Keluhan lainnya keluhan berupa sesak nafas, sakit pada dada atau kecenderungan sulit
melakukan aktifitas seperti anak normal.
Untuk anak 6 thn pemeriksaan Faal Paru sebaliknya dilakukan Pemeriksaan Faal Paru yang
sederhana dengan spirometer, pemeriksaan ini mendukung diagnosis asma anak melalui 3 cara,
yaitu :
1.

Variabilitas (Perbedaan nilai PFR dalam 1 hari) pada PFR > 15 %

2.

Reversibilitas (Perbedaan nilai PFR setelah pemberian bronkodilator) pada PFR >15%

3.

Penurunan > 20 % volume ekspirasi paksa pada detik pertama setelah provokasi

bronkus dengan metakolin atau histamine


Uji tuberkulin perlu dilakukan pada kelompok yang di duga asma maupun yang tidak .

Pemeriksaan fisik
Hasil yang didapat tergantung stadium serangan, lamanya serangan dan jenis
asmanya. Pada asma yang ringan dan sedang tidak ditemukan kelainan fisik di luar serangan.
Pada inspeksi terlihat pernapasan sukar dan cepat, disertai batuk-batuk paroksismal, kadangkadang terdapat suara wheezing (mengi), ekspirium memanjang, pada inspirasi terlihat retraksi
daerah supraklavikular, suprasternal, epigastrium, dan sela iga. Pada asma kronik terlihat
bentuk toraks emfisematus, bongkok ke depan, sela iga melebar, diameter anteroposterior
toraks bertambah. Pada perkusi terdengar suara hipersonor di seluruh toraks, terutama bagian
bawah posterior. Daerah pekak jantung dan hati mengecil.
Pada auskultasi mula-mula bunyi napas kasar/mengeras, tapi pada stadium lanjut
suara napas melemah atau hampir tidak terdengar karena aliran udara sangat lemah. Dalam
keadaan normal, fase ekspirasi - dari fase inspirasi, pada waktu serangan fase ekspirasi
memanjang. Terdengar ronki kering dan ronki basah serta suara lendir bila banyak sekresi
bronkus.
Tinggi dan berat badan perlu diperhatikan dan bila mungkin juga hubungannya dengan
tinggi badan kedua orang tua. Asma sendiri merupakan penyakit yang dapat menghambat
perkembangan anak. Gangguan pertumbuhan biasanya terdapat pada asma yang sangat berat.
Anak perlu diukur tinggi dan berat badannya pada tiap kali kunjungan, karena perbaikan akibat
pengobatan sering dapat dinilai dari perbaikan pertumbuhannya. Bentuk toraks perlu
diperhatikan untuk melihat adanya dada burung atau sulkus Harisson sebagai tanda obstruksi
jalan napas yang lama. Tanda ini hanya ditemukan pada asma berat dan menahun dengan
pengelolaan asma yang tidak adekuat sebelumnya.
Pemeriksaan lanjutan
(1)

Uji faal paru


pemeriksaan ini sangat berguna untuk menilai asma meliputi diagnosis dan pengelolaannya. Uji
faal paru dikerjakan untuk menentukan derajat obstruksi, menilai nilai provokasi bronkus,
menilai nilai pengobatan, dan mengikuti perjalanan penyakit. Uji faal paru tidak selalu mudah
dilaksanakan, terutama pada anak di bawah 5-6 tahun. Sebaiknya tiap anak dengan asma di uji
faal pada tiap kunjungan. Peak flow meter adalah yang paling sederhana, sedangkan dengan
spirometer memberikan data yang lebih lengkap

1.

Spirometri : Untuk mengukur kecepatan aliran udara dan volume paru selama FEV1 dan
digunakan sebagai gold standar dalam mengukur aliran udara pada penyakit asma.

Pemeriksaan faal paru yang penting pada asma adalah PEFR, PEV1, PVC, FEV1/FVC.

Volume kapasitas paksa (FVC), aliran puncak ekspirasi (PEFR) dan rasio FEV1/FVC
berkurang > 15% dari nilai normalnya

Perpanjangan waktu ekspirasi paksa biasanya ditemukan, walaupun PEFR dan FEV1/FVC
hanya berkurang sedikit

Inflasi berlebihan yang biasanya terlihat secara klinis akan terlihat dengan meningginya isi
total paru (TLC), isi kapasitas residu fungsionaldan isi residu
Di luar serangan, faal paru tersebut umumnya akan kembali normal kecuali pada asma
serangan, faal paru tersebut umumnya, akan kembali normal kecuali pada asma yang berat.

2.

Uji provokasi bronkus dilakukan bila diagnosis diragukan. Tujuannya untuk menunjukkan
adanya hiperreaktivitas bronkus, yang dapat dilakukan dengan : (1)histamin, (2)methacholin,
(3)beban lari, (4)udara dingin, (5)uap angin, (6)alergi. Yang sering dilakukan adalah cara 1, 2,
3. hiperreaktivitas positif bila PEFR, FEV1 turun > 15% dari nilai sebelum uji provokasi dan
setelah diberi bronkodilator nilai normal akan tercapai lagi. Bila PEFR dan FEV1 sudah rendah
dan diberi bronkodilator naik >15%yang berarti hiperreaktivitas positif dan uji provokasi tidak
perlu.

(2)

Foto rontgen toraks


pemeriksaan ini perlu dilakukan dan pada foto akan tampak corakan paru yang meningkat.
Hiperinflasi terdapat pada serangan akut dan pada asma kronik. Atelektasis juga sering
ditemukan. Setiap anak penderita asma yang berkunjung pertama kalinya perlu dibuat foto
rontgen parunya. Foto ini dibuat terutama untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit
lain. Foto perlu diulang bila ada indikasi, misalnya dugaan adanya pneumonia atau
pneumotoraks. Rontgen foto sinus paranasalis perlu juga bila asmanya sulit terkontrol.

(3)

Pemeriksaan darah, eosinofil, dan uji tuberkulin


pemeriksaan eosinofil dalam darah, sekret hidung dan dahak dapat menunjang diagnosis asma.
Eosinofil dapat ditemukan pada darah tepi, sekret hidung dan sputum. Dalam sputum
ditemukan kristal Charcot-Leyden dan spiral Curshman. Bila ada infeksi mungkin akan
didapatkan pula leukositosis polimorfonukleus. Uji tuberkulin penting bukan saja karena di
Indonesia masih banyak tuberkulosis, tetapi juga karena kalau ada tuberkulosis dan tidak
diobati, asmanyapun mungkin sukar dikontrol.

(4)

uji kulit alergi dan imunologi


Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara goresan atau tusuk. Pemeriksaan IgE dapat
memperkuat diagnosis dan pengelolaannya, tetapi bila tidak ditemukan kelainannya diagnosis
asma belum dapat disingkirkan.
Sumber : http://ketobapadah.blogspot.co.id/2011/05/asma-gambaran-klinis-diagnosisdan.html
FRAKTUR

Pemeriksaan pasien yang dicurigai terdapat fraktur dimulai dari riwayat penyakit, termasuk
penyebab cedera, adanya cedera lain, cedera sebelumnya di regio yang terkena, riwayat penyakit
dahulu, dan alergi. Pemeriksaan awal termasuk menilai status neurovaskuler, mengamati adanya
robekan kulit, dan menilai adanya cedera jaringan lunak. Palpasi pada daerah dengan lembut
memungkinkan pemeriksa menunjuk tempat fraktur dan menggunakan radiografi dengan lebih baik.
Fraktur dapat terjadi pada dua tempat, atau sendi yang berdekatan dapat mengalami cedera, sehingga
penting untuk melakukan palpasi seluruh tulang dan sendi diatas dan dibawah fraktur.
Pemahaman pola cedera yang berhubungan dengan penyebab umum cedera juga dapat mengarahkan
pemeriksaan. Misalnya, cedera inversi pada pergelangan kaki dapat menyebabkan fraktur maleoli,
metatarsal V proksimal, atau tulang tarsal navicular. Apabila pasien mengalami cedera, sebaiknya

dilakukan palpasi semua tulang yang mempunyai kemungkinan fraktur.


Pemeriksaan sendi dapat dibagi menjadi 6 langkah berbeda:
1. Inspeksi
2. Palpasi
3. Pemeriksaan gerakan (movement)
4. Pemeriksaan khusus
5. Pemeriksaan radiologi
6. Merencanakan pemeriksaan lebih lanjut
Langkah 1: Inspeksi
Perhatikan sendi dengan baik, terutama pada poin berikut ini:
1. Apakah terdapat swelling? Jika ada, apakah difus atau terlokalisir? Jika swelling yang terjadi
difus, apakah bengkak tersebut hanya terbatas pada sendi atau meluas? Adanya pembengkakan
yang terbatas pada sendi menunjukkan adanya distensi sendi dengan: (a) kelebihan cairan
sinovial (efusi) misalnya, karena trauma atau proses inflamasi non-piogenik (misalnya RA atau
OA); (b) darah (hemarthrosis), misalnya dari cedera yang baru saja terjadi atau defek koagulasi
darah; atau (c) pus (pyarthrosis) misalnya dari infeksi piogenik akut. Pembengkakan yang meluas
dari sendi dapat terjadi dengan infeksi mayor pada tungkai, tumor, dan gangguan pada sistem
drainase limfatik dan vena. Jika ada bengkak lokal, perhatikan posisi bengkak tersebut dan
hubungannya dengan struktur anatomi yang berhubungan, karena hal ini dapat menunjukkan
kemungkinan penyebab atau identitas.
2. Apakah terdapat bruising (memar)? Hal ini dapat menunjukkan adanya kemungkinan trauma,
dengan titik gravitasi atau penyebarannya.
3. Apakah terdapat discolorization, atau edema? Hal ini dapat terjadi sebagai respon lokal
terhadap trauma atau infeksi.
4. Apakah terdapat muscle wasting? Hal ini biasanya terjadi sebagaai hasil dari otot yang
terkena yang tidak digunakan, karena nyeri atau ketidakmampuan gerak, atau karena gangguan
persarafan pada otot yang terkena.
5. Apakah terdapat gangguan pada bentuk, postur, atau apakah ada bukti pemendekan? Terdapat
banyak kemungkinan penyebab dari abnormalitas (termasuk abnormalitas kongenital, riwayat
trauma, gangguan mineralisasi tulang, dan penyakit sendi destruktif); adanya hal-hal tersebut
harus diperhatikan, dan digali lagi secara lebih detail dalam pemeriksaan.

Langkah 2: Palpasi
Beberapa sendi harus diperhatikan hal-hal berikut:
1. Apakah sendi tersebut hangat? Jika demikian, perhatikan apakah peningkatan temperatur
yang terjadi difus ataukah lokal, selalu dipikirkan apakah hal tersebut mungkin dapat disebabkan
oleh pembebatan. Jika peningkatan suhu terjadi secara difus, hal ini biasanya terjadi bila massa
jaringan substansial terlibat, dan biasanya terjadi pada proses inflamasi sendi yang piogenik dan
non-piogenik, dan pada kasus dimana terjadi dilatasi anastomosis di proksimal dari blok arterial.
Jauh dari sendi, adanya infeksi dan tumor perlu dipikirkan. Peningkatan temperatur secara lokal
dapat mengarah kepada proses inflamasi pada struktur yang terkait. Asymmetrical coldness dari
tungkai biasanya terjadi jika ada gangguan sirkulasi tungkai, misalnya dari atherosclerosis.

2. Apakah terdapat nyeri? Jika ada, apakah nyeri tersebut difus atau terlokalisir. Pada nyeri
difus, penyebabnya biasanya sama dengan penyebab peningkatan panas lokal. Jika nyeri
terlokalisir, perlu dicari tempat yang dirasakan paling nyeri dengan sangat teliti, karena hal
ini dapat mengidentifikasi dengan jelas struktur anatomis yang terlibat.
Langkah 3: Movement
Hampir semua kondisi ortopedik berhubungan dengan keterbatasan gerak pada sendi yang terlibat.
Hilangnya gerakan sama sekali yang terjadi pada ablasi bedah pada sendi (artrodesis) atau dapat
terjadi pada proses patologis lain (seperti infeksi) dimana jaringan fibrous atau tulang mengikat
permukaan artikuler bersama-sama (ankylosis fibrous atau tulang): sendi tidak dapat bergerak baik
secara pasif maupun aktif. Sering terjadi keterbatasan ROM dimana sendi tidak dapat kembali ke
posisi netralnya. Pada tipe ini, biasanya sendi tidak dapat diekstensikan secara penuh, hal ini disebut
dengan fixed flexion deformity. Fixed deformities dapat disebabkan, misalnya oleh kontraksi kapsul
sendi, otot dan tendon, atau oleh karena interposisi dari jaringan lunak atau tulang diantara
permukaan artikuler (misalnya meniskus yang robek, bagian yang hilang). Perkiraan ROM sendi
adalah hal yang penting dalam pemeriksaan ortopedik. Untuk mengetahui adanya deviasi dari
normal, sisi yang sehat dapat dibandingkan dengan sisi yang sakit.; jika hal ini tidak memungkinkan
(misalnya jika keduanya sakit) perlu digunakan perkiraan. Keterbatasan ROM pada sebuah sendi
biasanya terjadi karena penyebab mekanis dan merupakan penanda adanya proses patologi. Jika otot
yang mengatur sebuah sendi mengalami paralisis, maka perlu diperiksa ROM pasif; nyeri yang
terkadang muncul atau faktor lain dapat membatasi ROM aktif yang lebih sempit daripada ROM
pasif. Terkadang sendi yang mengalami paralisis parsial maupun total dapat digerakkan dengan
melibatkan gravitasi atau gerakan (trick movement), dan konfirmasi paralisis dapat menentukan
penyebabnya.

Pada banyak sendi, penting untuk mencari bukti adanya pergerakan dalam sebuah dataran abnormal.
Untuk melakukan ini, sendi ditekan dalam sebuah dataran, dan gerakan yang berlebih dinilai melalui
inspeksi maupun pemeriksaan radiologi. Permukaan artikuler yang kasar menimbulkan sensasi
parutan (krepitus) ketika sendi digerakkan, hal ini dapat diketahui dari palpasi atau auskultasi. Bunyi
klik yang datang saat sendi bergerak dapat berasal dari jaringan lunak yang bergerak melewati
penonjolan tulang (hampir semua), dari jaringan lunak dalam sendi (misal meniskus yang mengalami
displace) atau dari gangguan pada kontur tulang (misalnya karena iregularitas dari permukaan sendi
akibat fraktur yang melibatkan sendi).
Kekuatan kontraksi otot (dan kekuatan gerak setiap sendi) harus dinilai dengan baik, dan jika
ditemukan penurunan kekuatan otot, dicatat dalam skala Medical Research Council (MRC):
M0 : Tidak ada kontraksi aktif yang dapat dirasakan
M1 : Kontraksi singkat dapat dilihat atau dirasakan dengan palpasi pada otot, namun tidak
cukup untuk menimbulkan gerakan sendi.
M2 : Kontraksi sangat lemah, namun masih dapat bergerak namun tidak dapat melawan
gravitasi.
M3 : Kontraksi masih sangat lemah, namun dapat bergerak melawan gravitasi (misalnya
quadriceps dapat bergerak mengekstensikan lutut pada pasien dengan posisi duduk).
M4 : Kekuatan tidak penuhm namun dapat bergerak melawan gravitasi dan tahanan.
M5 : Kekuatan normal
Kekuatan otot dapat dipengaruhi oleh nyeri, atrofi, penyakit, atau kelainan saraf. Perlu diperhatikan
apakah ada hal-hal tersebut yang mengganggu gerakan ekstremitas.
Langkah 4: Pemeriksaan Khusus
Pada kebanyakan sendi terdapat pemeriksaan khusus untuk memeriksa fungsi sendi secara khusus.
Pemeriksaan tersebut termasuk diantaranya pemeriksaan integritas ligamen sendi, dan untuk
pemeriksaan struktur yang berhubungan dengan sendi (misalnya meniskus pada lutut). Pemeriksaan
lain yang dilakukan secara khusus adalah pemeriksaan neurologis yang sesuai (misalnya
pemeriksaan kelompok otot tertentu dan pemeriksaan jika ada penurunan sensorik). Jika

memungkinkan, hasil MRC dicatat.


S0 : Hilangnya semua sensasi pada area yang dipersarafi oleh nervus yang terkena
S1 : Adanya sensasi nyeri tajam
S2 : Adanya sensasi protektif (sentuhan kulit, nyeri dan panas)
S3 : Adanya sensasi protektif dengan lokalisasi akurat. Sensitivitas (dan hipersensitivitas)
terhadap dingin biasanya muncul.
S3+ : Adanya kemampuan mengenali obyek dan tekstur; terdapat sensitivitas dan
hipersensitivitas terhadap dingin yang masih muncul namun minimal.
S4 : Sensasi normal
Langkah 5: Pemeriksaan Radiografi
Pemeriksaan radiografi biasanya dilakukan dengan proyeksi anteroposterior (AP) dan lateral. Penting
diperhatikan bentuk, ukuran, kontur dari tulang, apakah lebih tebal atau lebih tipis dari normal, lebih
pendek atau lebih panjang daripada biasanya, atau melekuk atau menyudut secara abnormal. Pada
sendi, apakah komponen tulang dalam susunan yang normal, atau terjadi displace atau melekuk.
Langkah 6: Pemeriksaan Lanjutan
Pemeriksaan fisik dan radiologi dapat memunculkan diagnosis banding yang memerlukan
pemeriksaan tambahan untuk menetapkan diagnosis; umumnya digunakan untuk memastikan
diagnosis. Pemeriksaan yang biasanya dilakukan meliputi:
1. Pemeriksaan sedimentasi eritrosit, dan pada kasus tertentu, C-reactive protein.
2. Hitung darah lengkap dengan hitung jenis
3. Estimasi faktor rheumatoid
4. Kalsium, fosfat, dan alkaline fosfatase serum
5. Ureum
6. Foto thoraks