Anda di halaman 1dari 12

Materi LK-1: Sejarah Perjuangan HMI

Diposkan oleh Hanafi Mohan on Selasa, 15 Desember 2009


Label: Latihan Kader

A. PENGANTAR ILMU SEJARAH


1. Pengertian
Sejarah adalah suatu kebetulan terjadi di masa yang telah lalu dan benar-benar terjadi,
dan kebetulan pula dicatat, biasanya kebenaran sejarah didukung bukti-bukti yang
membenarkan peristiwa itu benar-benar terjadi. Menurut kamus besar bahasa
Indonesia, ilmu sejarah adalah suatu pengetahuan atau uraian mengenai peristiwaperistiwa dan kejadian-kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau. Dari
pengertian atau definisi di atas maka dapatlah dibedakan antara sejarah dan ilmu
sejarah: sejarah adalah kejadian atau peristiwanya, sedangkan ilmu sejarah adalah
ilmu yang mempelajari kejadian atau peristiwa tersebut.
2. Manfaat dan Kegunaan Mempelajari Ilmu Sejarah
Manfaat dan kegunaan yang dapat diambil dari kejadian yang telah lampau adalah:
pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat itu, dan dengan
mempelajari maka dapat diambil hikmah/pelajaran dari peristiwa tersebut. Pada
peristiwa yang terjadi dapat dianalisis kelebihan dan kekurangan yang ada dari
peristiwa itu, dan pengetahuan tersebut dapat meningkatkan kehati-hatian dalam
mengambil keputusan pada masa saat ini dengan mempertimbangkan prinsip nilai
yang terjadi di masa lalu, karena pada dasarnya peristiwa masa lalu linear dengan
masa saat ini dan yang akan datang.
B. MISI KELAHIRAN ISLAM

1. Masyarakat Arab Pra Islam


Masyarakat Arab pra Islam atau yang lebih dikenal dengan masyarakat jahiliyah
hidup dalam keterbelakangan, baik pengetahuan, sosial budaya, maupun peradaban.
Masyarakat Arab pra Islam tidak mengenal tulis dan baca. Kalaupun ada yang dapat
menulis dan membaca, maka itu hanya sebagian kecil saja. Sungguh pun begitu,
pemahaman atau kebanggaan akan sastra demikian tingginya pada masyarakat Arab
ketika itu. Jadi dapat disimpulkan bahwa masyarakat Arab pada masa itu hidup dalam
kebodohan.
Posisi wanita pada saat itu tidak dihargai, mereka hanya dipandang sebagai benda
bergerak yang menyenangkan, bahkan wanita dianggap sebagai beban dan sumber
bencana, implikasinya adalah ada anggapan jika memiliki anak wanita akan
mengakibatkan kemiskinan. Dampak dari pandangan itu, maka tak heran jika mereka
sering mengubur bayi wanita hidup-hidup (kalau sekarang, belum lahir sudah
dibunuh). Selain itu masyarakat Arab pra Islam hidup dalam perpecahan klan
(keluarga besar), karena mereka lebih menonjolkan ego kesukuan atau kabilah, ini
menyebabkan masyarakat Arab sering berperang antar kabilah dan tidak memiliki
rasa kebangsaan yang menyebabkan bangsa Arab menjadi lemah dan terpecah-pecah.
2. Periode Kenabian Muhammad
# Fase Makkah
Muhammad lahir di Makkah pada masa keadaam masyarakat yang buruk sekali.
Muhammad lahir pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun Gajah, bertepatan dengan
tanggal 20 April 571 M. Muhammad putra tunggal dari pasangan Abdullah dan
Aminah. Sejak kecil Muhammad memiliki sifat yang terpuji, sehingga kemudian ia
dijuluki al-amin atau orang yang dapat dipercaya. Pada usia yang ke-25
Muhammad menikah dengan seorang janda kaya yang bernama Khadijah. Dalam
masa pernikahannya ini Muhammad sering melakukan perenungan/kontemplasi di
luar kota Makkah, tepatnya di sebuah gua yang bernama Hira, beliau selalu
memikirkan keadaan masyarakatnya yang demikian rusak.
Pada saat Muhammad mendekati usia 40 tahun, beliau makin sering stress
memikirkan bangsanya, sehingga pelariannya dengan menyepi di gua Hira semakin
sering kuantitasnya. Suatu malam di bulan Ramadhan tepatnya tanggal 17 Ramadhan
yang bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610, Datanglah suatu penampakan yang
ternyata adalah malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu pertama (Al-Alaq : 1 5),
dan ini pertanda bahwa Muhammad telah dilantik menjadi rasul dan nabi walaupun
tanpa berita acara.

Pasca wahyu di gua Hira, Muhammad s.a.w. mendapat wahyu-wahyu berikutnya


yang memerintahkan kepada Muhammad s.a.w untuk menyampaikan dakwah. Isi
dakwahnya adalah ajakan untuk melakukan perubahan-perubahan yang revolusioner,
perubahan yang dibawa antara lain perubahan akhlak, karena Islam mengajarkan
akhlak yang baik. Perubahan lain adalah nilai persamaan, yang dimaksud adalah
kesetaraan antar umat manusia, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan,
antar ras, bangsa, dan lain sebagainya, di mata Allah yang berbeda adalah ketaqwaan.
Selain itu, ilmu pengetahuan menjadi sesuatu yang penting untuk dilakukan, serta
membangun solidaritas persaudaraan yang berimplikasi pada penguatan nasionalisme
atau keutuhan dalam berbangsa dan beragama.
Pada fase Makkah ajaran yang disampaikan Muhammad s.a.w berkaitan atau
berhubungan pada nilai ketauhidan atau iman, karena pada saat itu jaran Islam baru
tegak kembali, sehingga yang harus dibangun pertama-tama adalah fondasi aqidah
atau iman yang dijadikan landasan fundamental.
Tiap tahun kota Makkah selalu didatangi oleh kabilah-kabilah dari seluruh Arab yang
datang untuk untuk melakukan shoping atau ibadah haji. Muhammad s.a.w
melakukan dakwah terhadap orang-orang tersebut, dan usaha ini tidak sia-sia karena
dari kalangan yang berasal dari daerah-daerah tersebut ada yang menyatakan
keimanannya, di antaranya dari Yastrib. Konsekuensi logis dari gerakan revolusioner
berdampak pada peningkatan konstelasi politik masyarakat Makkah, yang pada
akhirnya memberikan satu pilihan kepada Muhammad s.a.w untuk meninggalkan
Makkah.
Pada hijrah yang kedua, Muhammad s.a.w. menginstruksikan kepada para
pendukungnya untuk meninggalkan kota Makkah menuju Yastrib yang dikemudian
hari dikenal dengan Madinah. Muhammad s.a.w pun pada akhirnya terpaksa harus
meninggalkan Makkah menuju Madinah, maka dimulailah babak baru dalam Islam,
fase Madinah.
# Fase Madinah
Fase Madinah dimulai sejak hijrahnya Muhammad s.a.w dari Makkah ke Madinah,
karena Madinah dianggap baik untuk pembenihan Islam. Kaum muslimin yang
berada di Madinah terbagi menjadi dua kelompok, yaitu Anshar (kaum muslimin tuan
rumah) dan Muhajirin (kaum muslimin pendatang dari Makkah), maka langkah
pertama yang dilakukan adalah mempertalikan hubungan kekeluargaan atau
hubungan persaudaraan antara kaum Anshar dan Muhajirin, karena hanya dengan
persatuanlah, maka umat Islam akan kuat. Selanjutnya dilakukan lobi-lobi politik atau
perjanjian dengan kelompok di luar Islam yang ada di Madinah, karena pada saat itu

telah ada kelompok lain yang tinggal di sana, antara lain Yahudi.
Di Madinah lah Muhammad s.a.w. melakukan pembinaan masyarakat Islam.
Pembinaan masyarakat ini tidak hanya di bidang aqidah, tetapi juga menyangkut
masalah politik, ekonomi, dan sosial budaya. Di Madinah, perkembangan ajaran
Islam maju dengan pesat. Pada fase ini ajaran lebih ditekankan pada hukum
kemasyarakatan atau lebih kepada muamallah.
Dengan semakin besarnya kaum muslimin, dianggap merupakan ancaman bagi
kelompok lain, maka semakin benci pula orang-orang Quraisy kepada Muhammad
s.a.w. dan para pendukungnya. Konstelasi kebencian makin meningkat sehingga
mengakibatkan timbulnya peperangan, antara lain Badr, Uhud, Ahzab, Khandaq, dan
beberapa perang lainnya. Pada prinsipnya bagi kaum muslimin peperangan ini adalah
upaya defensif dan dalam rangka menegakkan kalimah tauhid.
Muhammad s.a.w. mangkat dan dimakamkan di Madinah di usia 63 tahun, pada
tanggal 12 Rabiul Awal 11 H, bertepatan dengan tanggal 8 Juni 632.
C. LATAR BELAKANG BERDIRINYA HMI
1. Kondisi Islam di Dunia
Kondisi umat Islam dunia pada saat menjelang kelahiran HMI dapat dikatakan
ketinggalan dibandingkan masyarakat Eropa dengan Reinasance-nya. Ini dapat dilihat
dari penguasaan teknologi maupun pengetahuan, bahkan sebagain besar umat Islam
berada di bawah ketiak penindasan nekolim barat yang notabene dimotori oleh
kelompok Kristen. Umat Islam hanya terpaku, terlena oleh kejayaan masa lampau
atau pada zaman keemasan Islam.
Umat Islam pada umumnya tidak memahami ajaran Islam secara komprehensif,
sehingga mereka hanya berkutat seputar ubudiyah atau ritual semata tanpa memahami
bahwa ajaran Islam adalah ajaran paripurna yang tidak hanya mengajarkan hubungan
manusia dengan Tuhan, namun lebih jauh daripada itu menderivasikan hubungan
transenden ke dalam seluruh aspek kehidupan.
Berangkat dari pemahaman ajaran Islam yang kurang, umat berada dalam
keterbelakangan dan fenomena ini terjadi dapat dikatakan di seluruh dunia. Hal
tersebut mengakibatkan terpuruknya umat Islam yang dijanjikan Allah untuk
dipusakai alam semesta. Lebih ironis lagi ketika umat terbagi menjadi berbagai
golongan yang hanya berangkat dari masalah khilafiyah, yang bedampak pada
melemahnya kekuatan Islam.

2. Kondisi Islam di Indonesia


Tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di dunia saat itu, umat Islam berada
dalam cengkeraman nekolim barat. Penjajah memperlakukan umat Islam sebagai
masyarakat kelas bawah dan diperlakukan tidak adil, serta hanya menguntungkan
kelompok mereka sendiri atau rakyat yang sudah seideologi dengan mereka.
Umat Islam Indonesia hanya mementingkan kehidupan akhirat (katanya sich), dengan
penonjolan simbolisasi Isalam dalam ubudiyah, sebagai upaya kompensasi atas
ketidakberdayaan untuk melawan nekolim, sehingga pemahaman umat tidak secara
benar dan kaffah. Bahkan ada sebagian ulama yang menyatakan bahwa pintu ijtihad
telah ditutup, hal ini menyebabkan umat hidup dalam suasana taqlid dan jumud.
Selain itu, umat Islam Indonesia berada dalam perpecahan berbagai macam
aliran/firqah dan masing-masing golongan melakukan truth claim. Hal ini
menyebabkan umat Islam Indonesia tidak kuat akibat kurang persatuan di kalangan
umat Islam di Indonesia.
3. Kondisi Perguruan Tinggi dan Mahasiswa Islam
Perguruan tinggi adalah tempat untuk menuntut ilmu yang akan menghasilkan para
pemimpin untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Selain itu, perguruan
tinggi adalah motor penggerak perubahan, dan perubahan tersebut diharapkan menuju
sesuatu yang lebih baik. Begitu pentingnya perguruan tinggi, maka banyak golongan
yang ingin menguasainya demi untuk kepentingan golongan tersebut.
Sejalan dengan perguruan tinggi dan dunia kemahasiswaan yang strategis tersebut,
ada beberapa faktor dominan yang menguasai dan mewarnai perguruan tinggi dan
dunia kemahasiswaan, antara lain sistem yang diterapkan khususnya di perguruan
tinggi adalah sistem pendidikan barat yang mengarah pada sekularisme dan dapat
menyebabkan dangkalnya agama atau aqidah dalam kehidupan. Selain itu, adanya
organisasi kemahasiswaan yang berhaluan komunis dan ini menyebabkan aspirasi
Islam dan umat Islam kurang terakomodir.
Faktor-faktor di atas adalah ancaman yang serius, karena menyebabkan masalah
dalam hidup dan kehidupan, serta keberadaan Islam dan umat Islam. Mahasiswa
Islam kurang memiliki ruang gerak karena berada dalam sistem yang sekuler dan
tidak sesuai dengan ajaran Islam, dan harus menghadapi tantangan dari mahasiswa
komunis yang sangat bertentangan dengan fitrah manusia dan bertentangan pula
dengan ajaran Islam. Jelas sudah bahwa mahasiswa Islam sangat sulit untuk bergerak
memperjuangkan aspirasi umat Islam.

4. Saat Berdirinya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)


HMI lahir pada saat umat Islam Indonesia berada dalam kondisi yang
memprihatinkan, yaitu terjadinya kesenjangan dan kejumudan pengetahuan,
pemahaman, dan penghayatan ajaran Islam, sehingga tidak tercermin dalam
kehidupan nyata.
Pada saat HMI berdiri, sudah ada organisasi kemahasiswaan, yaitu Perserikatan
Mahasiswa Yogyakarta (PMY), namun PMY didominasi oleh partai sosialis yang
berpaham komunis. Akibat didominasi oleh partai sosialis maka PMY tidak
independen untuk memperjuangkan aspirasi mahasiswa, maka banyak mahasiswa
yang tidak sepakat dan tidak bisa membiarkan mahasiswa terlibat dalam polarisasi
politik. Sebagai realisasi dari keinginan tersebut maka di Yogyakarta pada tanggal 14
Rabiul Awal 1366 H, bertepatan dengan tanggal 5 Pebruari 1947 didirikanlah sebuah
organisasi kemahasiswaan, yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai
organisasi independen dan sebagai anak umat dan anak bangsa.
D. GAGASAN DAN VISI PENDIRI HMI
1. Sosok Lafran Pane
Berdasarkan penelusuran dan penelitian sejarah, maka Kongres XI HMI tahun 1974
di Bogor menetapkan Lafran Pane sebagai pemrakarsa berdirinya HMI, dan disebut
sebagai pendiri HMI.
Lafran Pane adalah anak keenam dari Sutan Pangurabaan Pane, lahir di Padang
Sidempuan, 5 Pebruari 1922, pendidikan Lafran Pane tidak berjalan normal dan
lurus. Lafran Pane mengalami perubahan kejiwaan yang radikal sehingga
mendorong dirinya untuk mencari hakikat hidup sebenarnya. Desember 1945 Lafran
Pane pindah ke Yogyakarta, karena Sekolah Tinggi Islam (STI) tempat ia menimba
ilmu pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Pendidikan agama Islam yang lebih intensif
ia peroleh dari dosen-dosen STI, mengubur masa lampau yang kelam.
Bagi Lafran Pane, Islam merupakan satu-satunya pedoman hidup yang sempurna,
karena Islam menjadikan manusia sejahtera dan selamat di dunia dan akhirat. Pada
tahun 1948, Lafran Pane pindah studi ke Akademi Ilmu Politik (AIP). Saat Balai
Perguruan Tinggi Gadjah Mada dan fakultas kedokteran di Klaten, serta AIP
Yogyakarta dinegerikan pada tanggal 19 Desember 1949 menjadi Universitas Gadjah
Mada (UGM), secara otomatis Lafran Pane termasuk mahasiswa pertama UGM.
Setelah bergabung menjadi UGM, AIP berubah menjadi Fakultas Hukum Ekonomi

Sosial Politik, dan Lafran Pane menjadi sarjana pertama dalam ilmu politik dari
fakultas tersebut pada tanggal 26 Januari 1953.
2. Gagasan Pembaharuan Pemikiran Keislaman
Untuk melakukan pembaharuan dalam Islam, maka pengetahuan, pemahaman,
penghayatan, dan pengamalan umat Islam akan agamanya harus ditingkatkan,
sehingga dapat mengetahui dan memahami ajaran Islam secara benar dan utuh.
Kebenaran Islam memiliki jaminan kesempurnaannya sebagai peraturan untuk
kehidupan yang dapat menghantarkan manusia kepada kebahagian dunia dan akhirat.
Tugas suci umat Islam adalah mengajak umat manusia kepada kebenaran Illahi dan
kewajiban umat Islam adalah menciptakan masyarakat adil makmur material dan
spiritual. Dengan adanya gagasan pembaharuan pemikiran keislaman, diharapkan
kesenjangan dan kejumudan pengetahuan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan
ajaran Islam dapat diminimalisir, bahkan kalau bisa dihilangkan, hal ini dilakukan
dan dilaksanakan sesuai dengan ajaran Islam. Kebekuan pemikiran umat Islam telah
membawa pada arti agama yang kaku dan sempit, tidak lebih dari agama yang hanya
melakukan peribadatan. Al-Quran hanya dijadikan sebatas bahan bacaan, Islam tidak
ditempatkan sebagai agama universal. Gagasan pembaharuan pemikiran Islam ini pun
hendaknya dapat menyadarkan umat Islam yang terlena dengan kebesaran dan
kejayaan masa lalu.
3. Gagasan dan Visi Perjuangan Sosial Budaya
Ciri utama masyarakat Indonesia adalah kemajemukan sosial budaya, kemajemukan
tersebut merupakan sumber kekayaan bangsa yang tidak ternilai, tetapi keberagaman
yang tidak terorganisir akan mengakibatkan perpecahan dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Tujuan awal saat HMI berdiri juga tidak terlepas pada gagasan dan visi perjuangan
sosial budaya, yaitu :
1) Mempertahankan negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat
Indonesia
2) Menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam
Dari tujuan tersebut jelaslah bahwa HMI ingin agar kehidupan sosial budaya yang
ada menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia guna mempertahankan
kemerdekaan yang baru diraih. Untuk menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam
pun harus dipelajari kondisi sosial budaya gara tidak terjadi benturan kultur.

Masyarakat muslim Indonesia yang hanya memahami ajaran Islam sebatas ritual
harus diubah pemahamannya dan keadaan sosial budaya yang telah mengakar ini
tidak dapat diubah serta merta, tetapi melalui proses panjang dan bertahap.
4. Komitmen Keislaman dan Kebangsaan sebagai Dasar Perjuangan HMI
Dari awal terbentuknya HMI telah ada komitmen keumatan dan kebangsaan yang
bersatu secara integral sebagai dasar perjuangan HMI yang dirumuskan dalam tujuan
HMI yaitu :
1) Mempertahankan negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat
Indonesia yang didalamnya terkandung wawasan atau pemikiran kebangsaan atau keIndonesiaan
2) Menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam yang didalamnya terkandung
pemikiran ke-Islaman
Komitmen tersebut menjadi dasar perjuangan HMI di dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara. Sebagai organisasi kader, wujud nyata perjuangan HMI dalam
komitmen keumatan dan kebangsaan adalah melakukan proses perkaderan yang ingin
menciptakan kader berkualitas insan cita yang mampu menjadi pemimpin yang
amanah untuk membawa bangsa Indonesia mencapai asanya.
Komitmen keislaman dan kebangsaan sebagai dasar perjuangan masih melekat dalam
gerakan HMI. Kedua komitmen ini secara jelas tersurat dalam rumusan tujuan HMI
(hasil Kongres IX HMI di Malang tahun 1969) sampai sekarang, Terbinanya insan
akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas
terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Namun kedua
komitmen itu tidak dilakukan secara institusional, melainkan dampak dari proses
pembentukan kader yang dilakukan oleh HMI.
E. DINAMIKA SEJARAH PERJUANGAN HMI DALAM SEJARAH
PERJUANGAN BANGSA
1. HMI dalam Fase Perjuangan Fisik
HMI ikut berjuang dalam perjuangan fisik ketika terjadi pemberontakan PKI di
Madiun pada tahun 1948. Pemberontakan tersebut bertujuan mengambil alih
kekuasaan pemerintahan yang sah dan ingin mendirikan Soviet Republik Indonesia.
Menghadapi hal tersebut, HMI menggalang seluruh kekuatan mahasiswa dengan
membentuk Corps Mahasiswa. Selama waktu krisis tersebut anggota HMI terpaksa
meninggalkan bangku kuliah untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik
Indonesia dari pengkhianatan PKI, selain itu HMI pun terlibat dalam perjuangan fisik

menghadapi agresi militer Belanda.


Sebagai anak umat dan anak bangsa, HMI selalu ikut dalam perjuangan fisik demi
mempertahankan negara Republik Indonesia. Dalam mempertahakan NKRI, anggotaanggota HMI mengganti pena dengan memanggul senjata, HMI merasa ikut
bertanggung jawab dalam mempertahankan kedaulatan NKRI. HMI berkeyakinan
bahwa dalam masyarakat yang berdaulat dan merdeka akan tercipta keadilan dan
kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu HMI selalu berusaha untuk memperthankan dan
mempersatukan bangsa.
2. HMI dalam Fase Pertumbuhan dan Konsolidasi Bangsa
Saat HMI baru saja berdiri, terjadi pemberontakan PKI di Madiun yang merupakan
ancaman terhadap kedaulatan bangsa, umat Islam, dan HMI sendiri. Kekuatan PKI ini
makin memuncak pada era 60-an, PKI menjadi salah satu kekuatan sosial politik
besar di Indonesia. Posisi HMI saat itu adalah menentang ajaran komunis dan
mengajak semua pihak yang ada untuk menentang komunis. Persoalan komunis
bukan hanya persoalan bangsa dan negara, tetapi juga persoalan HMI, akibat sikap
HMI tersebut maka PKI menempatkan HMI sebagai salah satu musuh utama yang
harus diberangus. HMI menggalang konsolidasi dengan semua pihak yang non
komunis, karena komunis bertentangan dengan dasar negara, yaitu Pancasila. Selain
itu PKI selalu berusaha untuk merebut pemerintahan dan kekuasaan yang sah.
Untuk menghadapi pemilu 1955, HMI mengadakan Konferensi Akbar di Kaliurang
Yogyakarta paa tanggal 9 11 April 1955, keputusan yang diambil adalah :
1) Menyerukan kepada khalayak ramai untuk memilih partai-partai Islam dalam
pemilu yang akan datang
2) Menyerukan kepada partai-partai Islam supaya mengurangi
keruncingankeruncingan, tidak saling menyerang
3) Kepada warga dan anggota HMI supaya :
(a) Wajib aktif dalam pemilu
(b) Wajib aktif memilih salah satu partai Islam
(c) Mempunyai hak dan kebebasan untuk membantu dan memilih partai Islam yang
disenangi
Dalam menghadapi sidang pleno Majelis Konstituante, PB HMI mengirimkan seruan
kepada seluruh anggota fraksi partai-partai Islam di konstituante agar dapat memikul
amanah umat Islam di Indonesia.
Ketika Demokrasi Terpimpin berjalan, HMI mendapat tekanan kuat, karena ada
tuduhan bahwa HMI kontra revolusi, dan lain-lain. Oleh karena itu HMI menggelar
Musyawarah Nasional Ekonomi HMI se-Indonesia di Jakarta pada tahun 1962. Ada

beberapa pertanyaan yang diajukan kepada HMI saat itu menyangkut sikap yang
diambil HMI, yaitu: (1) Apakah HMI mendukung Manipol/Usdek atau tidak? (2)
HMI setuju Pancasila atau tidak? Dan (3) HMI setuju sosialisme Indonesia atau
tidak?
Munas memberikan jawaban sebagai berikut :
1) Ya, HMI mendukung Manipol/Usdek sebagai haluan negara yang ditetapkan oleh
MPRS
2) Ya, HMI setuju Pancasila yang merupakan rancangan kesatuan dengan Piagam
Jakarta
3) Ya, HMI setuju sosialisme Indonesia, yaitu masyarakat adil makmur yang diridhoi
Tuhan Yang Maha Esa
Dengan melakukan pendekatan-pendekatan itu maka HMI dapat terselamatkan, isu
dan tuduhan yang dilancarkan terhadap HMI tidak berhasil untuk mengubur HMI
dalam percaturan sejarah.
3. HMI dalam Transisi Orde Lama dan Orde Baru
Tahun 1965, HMI mengalami tantangan yang berat, HMI terancam dibubarkan, dan
lagi-lagi HMI lulus dalam ujian sejarah sehingga HMI dapat mempertahankan
eksistensinya hingga saat ini (entah esok hari, entah lusa nanti, entah). HMI
adalah salah satu komponen bangsa yang menentang faham dan ajaran komunis,
sedangkan PKI saat itu merupakan kekuatan sosial politik yang besar di negara
Republik Indonesia.
PKI berkeinginan untuk membubarkan HMI karena merupakan salah satu musuh
utamanya, usaha untuk membubarkan HMI dilakukan PKI dengan gencar (Kalau
tidak mampu membubarkan HMI, lebih baik pakai sarung saja), apalagi menjelang
Gestapu atau Gestok (istilah Pemimpin Besar Revolusi Soekarno).
Masalah pembubaran HMI bukan hanya menjadi masalah internal, tapi lebih jauh
daripada itu, hal tersebut merupakan masalah umat Islam dan bangsa Indonesia pada
umumnya.
Puncak dari usaha PKI untuk merebut kekuasaan dan kedaulatan Negara Republik
Indonesia adalah dengan melakukan pemberontakan Gerakan 30 Sepetember/PKI
tahun 1965. Pemberontakan tersebut dimulai melalui cara penculikan terhadap para
perwira tinggi TNI-AD (kecuali Pangkostrad yang merupakan jabatan strategis,
why ?), dan menghabisi para perwira itu.
Menyikapi hal ini, HMI mengutuk Gestapu dan menyatakan bahwa gerakan tersebut

dilakukan oleh PKI (pernyataan bahwa G30S/PKI diotaki oleh PKI pertama kali
dilontarkan oleh HMI sumber Agussalim Sitompul), HMI ikut membantu
pemerintah dalam menumpas G30S/PKI dan kerelaan HMI untuk membantu
sepenuhnya ABRI.
Setelah turunnya Soekarno dan naiknya Soeharto sebagai Presiden Republik
Indonesia, HMI bersikap mendukung pemerintahan baru yang ingin menjalankan
Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen (katanya sih gitu waktu naik)
dan HMI ikut dalam usaha-usaha untuk menumpas sisa-sisa PKI serta organisasi
underbouw PKI.
4. HMI dalam Fase Pembangunan dan Modernisasi Bangsa
Berdasarkan tujuan HMI, maka kader HMI harus memiliki kualitas insan cita, yang
karenanya akan tercipta kader yang memiliki intelektual tinggi yang dilandasi oleh
iman serta diabdikan kepada umat dan bangsa. Pengabdian para kader ini akan dapat
dijadikan penopang dalam pembangunan bangsa dan negara Republik Indonesia.
Peran HMI dalam pembangunan bangsa dapat dijabarkan sebagai berikut :
1) Partisipasi dalam pembentukan situasi dan iklim
2) Partisipasi dalam pemberian konsep
3) Partisipasi dalam bentuk pelaksanaan
Dalam menjalani peran tersebut, banyak halangan dan rintangan yang justru
sebenarnya lebih dominan faktor internal, misalnya pergeseran nilai yang berdampak
pada hilangnya ruh perjuangan HMI. Selain itu faktor eksternal memaksa HMI untuk
terbawa pusaran kekuasaan, misal masalah asas tunggal yang mengakibatkan
perpecahan HMI menjadi dua yaitu HMI yang bermarkas di Diponegoro dan HMI
yang menamakan dirinya Majelis Penyelamat Organisasi.
5. HMI dan Fase Pasca Orde Baru
Setelah runtuhnya Orde Baru, dimulailah babak baru perjalanan bangsa yang dikenal
dengan sebutan Reformasi. Namun ternyata sampai saat ini reformasi masih berupa
angan yang belum dapat terealisir, ironisnya kehilangan arah, karena banyak
komponen bangsa yang ingin merasakan sesuatu yang instan, tetapi dengan harapan
berumur panjang.
Peran HMI dalam reformasi banyak dipertanyakan orang, analisa sementara ini
diakibatkan penempatan peran HMI yang salah pada fase pembangunan. Bahkan
gerakan mahasiswa di luar HMI seringkali menempatkan HMI sebagai common

enemy.
Dinamika organisasi di manapun akan selalu mengalami fluktuasi, akankah HMI
tetap bertahan ? [***]
Referensi:
1. Drs. Agus Salim Sitompul, Sejarah Perjuangan HMI (1974-1975), Bina Ilmu
2. DR. Victor I. Tanja, HMI, Sejarah dan Kedudukannya Ditengah Gerakan Muslim
Pembaharu Indonesia, Sinar Harapan, 1982.
3. Prof. DR. Deliar Noer, Partai Islam Di Pentas Nasional, Graffiti Pers, 1984
4. Sulastomo, Hari-hari Yang Panjang, PT. Gunung Agung, 1988
5. Agus-Salim Sitompul, Historiografi HMI, Tintamas, 1995
6. Ramli Yusuf (ed), 50 tahun HMI Mengabdi, LASPI, 1997.
7. Ridwan Saidi, Biografi A. Dahlan Ranuwiharjo, LSPI, 1994.
8. M. Rusli Karim, HMI MPO Dalam Pergulatan Politik di Indonesia, Mizan, 1997
9. Muhammad Kamal Hasan, Modernisasi Indonesia, Respon Cendikiawan Muslim
Masa Orde Baru, LSI 1987.
10. Muhammad Hussein Haikal, Sejarah Hidup Muhammad, LiteraAntarNusa
11. Dr. Badri Yatim, MA, Sejarah Peradaban Islam, I, II, III, Rajawali Pers
12. Thomas W. Arnold, Sejarah Dakwah Islam
13. Moksen ldris Sirfefa et. Al (ed), Mencipta dan Mengabdi, PB HMI, 1997
14. Hasil-hasil Kongres HMI
15. Sejarah Kohati
16. Sharsono, HMI Daiam Lingkaran Politik Ummat Islam, Cl IS, 1997.
17. Prof. DR. Deliar Noer, Gerakan Modern Islam Indonesia (1902-1942), LP3ES,
1980.
18. Literatur lain yang relevan
Tulisan ini berasal dari Buku Panduan Pelaksanaan Basic Training Himpunan
Mahasiswa Islam yang diterbitkan oleh Badan Koordinasi Nasional Lembaga
Pengelola Latihan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Periode 2003 2005

Anda mungkin juga menyukai