Anda di halaman 1dari 3

BASEL

Basel dapat digunakan sebagai pertimbangan serangkaian kebijakan bank sentral


dari seluruh dunia. Sebelum masuk ke pembahasan basel terlebih dahulu kita
mengetahui arti pentingnya modal untuk bank. Bank merupakan suatu penghubung
uang dengan orang, yang dapat diartikan bank sebagai penyalur uang nasabah dan
uang tersebut dapat digunakan oleh nasabah lain. Bank pun perannya sangat penting
untuk masyarakat dalam menyimpan, menyalurkan dana dan menginvestasikan
dana masyarakat, untuk itu bank harus memiliki reputasi yang tinggi dalam sisi
modal untuk bank itu sendiri. Pentingnya peran bank dalam melaksanakan fungsinya
dengan baik dan benar maka harus diatur dengan baik dan benar. Hal tersebut
dilakukan agar kepercayaan nasabah terhadap aktivitas perbankan tidak berkurang.
Salah satu upaya yang dilakukan agar tetap mendapat kepercayaan dari nasabahnya,
maka harus diperhatikan dalam hal modal bank tersebut, agar tidak terjadi kerugian
di waktu yang akan datang. Pada tahun 1988,dikenal istilah the 1988 accord (basel 1)
Komite Basel (BCBS) di Basel , Swiss. BCBS dapat digunakan sebagai persyaratan
minimum Bank dalam hal modal. Sistem ini dibuat sebagai penerapan kerangka
pengukuran risiko kredit dengan memberikan syarat 8% untuk standard modal
minimum. Dan pada tahun 1992 ditegakkan oleh hukum dalam Kelompok Sepuluh
Group of Ten (G-10). Basel I sekarang luas sehingga dipandang sebagai ketinggalan
zaman. Dunia telah berubah sebagai konglomerat keuangan (kaya dalam hal
keuangan), inovasi keuangan dan manajemen risiko yang telah dikembangkan,
sehingga dikembangkan konsep permodalan baru untuk menyempurnakan
permodalan bank yang ada pada tahu tersebut yang lebih komprehensif, yang dikenal
sebagai Basel II. Sedangkan dalam proses pelaksanaan oleh beberapa negara dan
untuk yang terbaru dalam menanggapi krisis keuangan digambarkan sebagai Basel
III.
Basel I, yaitu tahun 1988 Basel Accord digunakan sebagai serangkaian kebijakan
bank dan difokuskan pada risiko kredit. Aset bank diklasifikasikan dan
dikelompokkan dalam lima kategori menurut risiko kredit, membawa bobot risiko
nol (untuk negara misalnya rumah hutang negara ), sepuluh, dua puluh, lima puluh,
dan sampai seratus persen (kategori ini, sebagai contoh, sebagian besar hutang
perusahaan). Bank dengan kehadiran internasional wajib memiliki modal sebesar 8%
dari aktiva tertimbang menurut risiko. Penciptaan credit default swap setelah Exxon
Valdez insiden membantu bank bank besar, risiko nilai pinjaman dan

memungkinkan bank untuk menurunkan risiko mereka sendiri untuk mengurangi


beban berat pembatasan ini.
Sejak tahun 1988, kerangka kerja ini telah diperkenalkan secara progresif di negaranegara anggota G-10, saat ini terdiri dari 13 negara, Kerajaan dan Amerika Serikat .
Sebagian besar negara lainnya, saat ini berjumlah lebih dari 100, juga telah diadopsi.
Basel II merupakan perkembangan yang lebih komprehesif dalam hukum dan
ketentuan perbankannya yaitu penyempurnaan dari Basel I, yang diterbitkan oleh
Komite Basel. Basel II ini diterbitkan pada bulan juni 2004 yang bertujuan untuk
menciptakan sebuah standard internasional untuk mengontrol beberapa kebutuhan
modal bank bank dalam menyisihkan modal tersebut untuk menjaga jeis keuangan
dan risiko yang akan dialami dalam pengoperasian modal bank.
Pendukung Basel II percaya bahwa standar internasional seperti ini dapat membantu
melindungi sistem keuangan internasional terhadap masalah yang mungkin timbul
sewaktu waktu runtuhnya bank-bank utama atau serangkaian bank. Dalam Basel II
ini lebih fokus untuk menjaga konsistensi peraturan yang cukup sehingga hal ini
tidak menjadi sumber ketidaksetaraan antara bank bank internasional dari jenis
masalah yang mungkin akan timbul dikemudian hari dan berupaya dengan
menyiapkan persyaratan manajemen risiko dan modal yang ketat yang dirancang
untuk meyakinkan bahwa suatu bank memiliki cadangan modal yang cukup untuk
risiko yang dihadapinya karena praktik pemberian kredit dan investasi yang
dilakukannya. Secara umum, aturan-aturan ini menegaskan bahwa semakin besar
risiko yang dihadapi bank, semakin besar pula jumlah modal yang dibutuhkan bank
untuk menjaga likuiditas dan solvabilitas bank tersebut serta stabilitas ekonomi.
Secara politis, sulit untuk menerapkan peraturan Basel II dilingkungan peraturan
sebelum 2008 dan menimbulkan kemajuan yang lambat sampai krisis perbankan
yang terjadi yang disebabkan sebagian besar oleh credit swap, hipotek keamanan
yang berbasis pasar dan derivatif.
Basel II mengusung konsep tiga pilar yaitu persyaratan modal minimum, tinjauan
pengawasan, serta pengungkapan informasi. Pada Basel I sebelumnya hanya
memperhatikan sebagian dari masing-masing pilar ini. Basel I hanya
memperhitungkan risiko kredit secara sederhana, mempertimbangkan sedikit risiko
pasar, serta sama sekali tidak menangani risiko operasional.
Pilar pertama berkaitan dengan pemeliharaan persyaratan modal (regulatory capital)
yang diperhitungkan untuk tiga komponen utama risiko yang dihadapi bank: risiko

kredit, risiko pasar, serta risiko operasional. Jenis risiko lain tidak dianggap layak
diperhitungkan pada tahap ini.
Risiko kredit dapat dihitung dengan tiga cara yang berbeda berdasarkan tingkat
kerumitannya, yaitu pendekatan standar (standardized approach), Foundation IRB
(internal rating-based), dan Advanced IRB. Risiko operasional dihitung dengan tiga
pendekatan yaitu pendekatan dasar (basic indicator approach, BIA), pendekatan
standar (standardized approach, STA), serta advanced measurement approach
(AMA). Sedangkan pendekatan yang biasanya dipilih untuk perhitungan risiko pasar
adalah pendekatan VaR (value at risk).
Pilar kedua menangani tanggapan pengawasan terhadap pilar pertama yang
memberikan tindak lanjut bagi pengawas. Pilar ini juga memberikan suatu kerangka
kerja untuk menangani semua risiko lain yang mungkin dihadapi bank. Seperti risiko
sistemik, risiko pensiun, risiko konsentrasi, risiko strategik, risiko reputasi, risiko
likuiditas, serta risiko hukum, yang digabungkan menjadi risiko residu.
Pilar ketiga memperbesar pengungkapan yang harus dilakukan bank. Hal ini
dirancang untuk memberikan gambaran yang lebih baik bagi pasar mengenai posisi
risiko menyeluruh bank dan untuk memberikan kesempatan bagi pihak terkait dari
bank untuk memberikan harga dan menangani risiko tersebut dengan sepantasnya.
Jadi Basel II bertujuan meningkatkan keamanan dan kesehatan sistem keuangan
dengan menitikberatkan pada perhitungan permodalan yang berbasis risiko,
supervisory review process, dan market discipline. Framework Basel II disusun
berdasarkan forward-looking approach yang memungkinkan untuk dilakukan
penyempurnaan dan penyesuaian dari waktu ke waktu. Hal ini untuk memastikan
bahwa framework Basel II dapat mengikuti perubahan yang terjadi di pasar maupun
perkembangan-perkembangan dalam manajemen risiko.