Anda di halaman 1dari 29

Konsepsi 7 Basic Quality Tools dan 7 New Quality Tools dalam Metode 7

Langkah
Oleh Hendra Poerwanto
www.hendrakualitas.web.id
Terimakasih telah bersedia menuliskan alamat web ini sebagai sumber bacaan/
referensi

Alat atau Tools adalah salah satu kekuatan dalam manajemen kualitas. Alat membantu
kita bekerja lebih efisien dan efektif, tergantung dari apa yang bisa dibantu dengan alat
tersebut. Kita membutuhkan informasi yang lebih terstruktur dan mudah dipahami dari
sebuah koleksi data. Untuk keperluan tersebut diperlukan alat yang dapat membantu kita
mengolah data. Dalam konteks Manajemen Kualitas, alat yang dapat digunakan untuk
membantu mewujudkan kualitas dikenal dengan nama Seven Basic Tools of Quality, dan
Seven New Tools of Quality yang masing-masing dilengkapi dengan Seven Steps
Methodology atau bila digabung dikenal dengan nama 7 basic tools dan 7 new tools dalam
metodologi 7 langkah.
Tujuh alat manajemen kualitas muncul terinspirasi oleh 7 senjata terkenal dari Benkei.
Benkei adalah adalah seorang prajurit Jepang dan biarawan (shei). Dia digambarkan
sebagai seorang prajurit yang memiliki kemampuan tinggi dalam mengunakan 7 jenis senjata
dan loyal. 7 basic tools dan 7 new tools dalam metodologi 7 langkah adalah alat-alat bantu
yang bermanfaat untuk memetakan lingkup persoalan, menyusun data dalam diagramdiagram agar lebih mudah untuk dipahami, menelusuri berbagai kemungkinan penyebab
persoalan dan memperjelas kenyataan atau fenomena yang otentik dalam suatu persoalan.
New 7 tools atau dikenal juga dengan 7 management tools mulai diperkenalkan sekitar
tahun 1970-an. Tujuan awalnya adalah untuk mengembangkan teknik-teknik pengendalian
kualitas dengan menggunakan pendekatan desain. New 7 tools ini dikembangkan untuk dapat
mengorganisasikan data-data verbal secara terstruktur. Berbeda dengan basic 7 tools yang
digunakan untuk mengorganisasikan data numerik. Penggunaan new 7 tools ini tidak
bertentangan dengan basic 7 tools, melainkan saling mendukung.

Seven Basic Tools of Quality terdiri dari beberapa jenis alat yang lebih bersifat
eksploratif kuantitatif. Alat-alat tersebut yakni:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Check Sheet*/ Check List/ Tally Chart


Histogram,
Scatter Diagram,
Pareto Diagram,
Strattification Diagram dengan alternative flowchart atau runchart
Fish Bone Diagram*,
Control Chart/ Grafik

Sedang Seven New Management Tools of Quality merupakan seperangkat alat kualitas
yang baru dan lebih bersifat eksploratif kualitatif. Ketujuh alat manajemen kualitas yang
masuk kelompok ini antara lain:
a. Interrelationship Diagram,
b. Affinity Diagram,
c. Tree Diagram,
d. Matrix Diagram,
e. Matrix Data Analysis*,
f. Arrow Diagram ,
g. PDPC (Process Decision Program Chart
Selanjutnya Methodology of Seven Steps terdiri dari:
1.
2.
3.
4.

Menentukan Pokok Masalah


Memahami Situasi dan Menentukan Target/ Sasaran/ Tujuan
Menyusun Rencana Aktvitas
Menganalisa Faktor-Faktor dengan tahapan Investigasi Penyebab dan Efek,
Investigasi Kondisi saat ini dan masa lalu, Percobaan Stratifikasi, Melihat perubahan
dengan berjalannya waktu, Melihat Keterkaitan

5.
6.
7.

Menyusun dan Mengimplementasikan Aktivitas perbaikan


fMemastikan efektivitas dan efisiensi
Melakukan Standardisasi dan Pola Kontrol

Illustrasi dibawah untuk melihat bagaimana dua kelompok basic dan new seven tools
membantu dalam proses 7 langkah perbaikan kualitas.
Dengan demikian, aplikasi 7 basic tools dan 7 new tools dalam metodologi 7 langkah,
dimana setiap langkah membutuhkan analisa-analisa yang bisa dibantu oleh tools-tools ini.
Perbedaan keduanya adalah jika 7 basic tools lebih ke eksplorasi kuantitatif (statistik)
sedangkan 7 new tools lebih ke eksplorasi kualitatif.
Aplikasi alat-alat bantu tersebut di atas, tidak hanya terbatas dalam lingkup QMS (Quality
Management System) saja. Karena, kalau saja para pakar yang menekuni disiplin ilmu
lainnya, seperti misalnya : ahli politik, ahli ekonomi, ahli pemasaran dan lain sebagainya,
berkenan untuk mempelajari secara massif penggunaan alat-alat bantu ini dan memahaminya
secara baik, mereka dapat memanfaatkannya untuk melengkapi keilmuan dan kemampuan
analisisnya.
Sebagai contoh, bila Anda adalah seorang politikus yang sedang menghadapi
perpecahan anggota organisasinya, atau sedang menghadapi krisis kepercayaan dari para
konstituen, dan bila Anda menguasai dengan baik " 7 basic tools dan 7 new tools dalam
metodologi 7 langkah", maka dalam menghadapi persoalan ini, Anda akan berusaha
mengumpulkan data dengan metode survey dan menggunakan alat bantu Checksheet,
kemudian "raw data" yang diperoleh dianalisa kembali melalui alat bantu lainnya, misalnya
dengan Pareto diagram, untuk mengetahui prioritas persoalan, kemudian dengan Fishbone
diagram ditelusuri faktor-faktor penyebab yang berpeluang dominan sebagai akar persoalan,
untuk kemudian dibuatkan solusinya. Demikianlah sebuah persoalan politik sekalipun dapat
ditelusuri, dianalisa dan dibuat kesimpulan serta keputusannya melalui penggunaan alat bantu
kendali mutu (7 basic tools dan 7 new tools dalam metodologi 7 langkah).
Kemampuan 7 basic tools dan 7 new tools dalam metodologi 7 langkah yang dahsyat
dalam mengemukakan fakta/fenomena inilah yang menyebabkan para pakar dalam setiap
proses kegiatan mutu sangat tergantung pada alat-alat bantu ini. Meskipun demikian,
keberhasilan dalam menggunakan 7 basic tools dan 7 new tools dalam metodologi 7 langkah
sangat dipengaruhi oleh seberapa massif pengetahuan si pengguna akan alat bantu yang
dipakainya. Semakin baik pengetahuan yang dimiliki, akan semakin tepat dalam memilih alat
bantu yang akan digunakan.
Itulah sebabnya, ada 2 hal pokok yang perlu menjadi pedoman, sebelum menggunakan 7
basic tools dan 7 new tools dalam metodologi 7 langkah, yaitu : efisien (tepat) dan efektif
(benar). Efisien, maksudnya adalah ketepatan dalam memilih alat bantu yang sesuai dengan
karakteristik persoalan yang akan dibahas. Efektif, artinya bahwa penggunaan alat bantu
tersebut dilakukan dengan "benar", sehingg persoalan menjadi lebih jelas, mudah dimengerti
dan memberikan peluang untuk diperbaiki.
Pengelompokkan 7 alat pertama dapat dikatakan brillian, karena mempermudah proses
analisa dengan tetap mengacu kepada prinsip manajemen kualitas yaitu berbicara dengan
fakta. 7 basic tools merupakan koleksi alat-alat statistik yang berbasis matematika, tetapi

masih mudah untuk diajarkan, sehingga 7 alat kualitas bisa diimplementasikan ke bidang
non-engineering dan diajarkan tanpa harus membutuhkan tingkat pendidikan tinggi.
Pengelompokkan 7 alat kedua (7 New Tools) timbul karena adanya kebutuhan untuk
memecahkan permasalahan kualitatif pada tingkatan manajemen. Apa permasalahan
kualitatif? Misalnya,

Ketidaksamaan cara pandang yang berujung kepada perdebatan yang berlebihan,


(affinity diagram)
Perlunya alat bantu untuk mengelompokkan permasalahan atau solusi, (affinity
diagram)
bagaimana caranya mengetahui resiko pelaksanaan? (PDPC)
bagaimana kita tahu ada pekerjaan yang paralel dan ada pekerjaan yang genting
sehingga tidak boleh mundur? (arrow diagram)
Apakah permasalahan ini berdiri sendiri atau berhubungan yang lain? kok coba
disolusikan selalu berulang kembali timbul masalah yang sama? (interrelationship
diagraph dan matrix diagram)

Check Sheet/ Check List/ Tally Chart


Oleh Hendra Poerwanto
www.hendrakualitas.web.id
Terima kasih telah bersedia menuliskan alamat web ini sebagai sumber bacaan/
referensi

Check Sheet/ Check List/ Tally Chart adalah suatu alat sederhana yang digunakan untuk
mencatat dan mengklasifikasi data yang telah diamati. Check Sheet/ Check List/ Tally Chart
merupakan suatu daftar yang mengandung atau mencakup factor-faktor yang ingin diselidiki.
Check Sheet/ Check List/ Tally Chart merupakan daftar yang berisi unsure-unsur yang
mungkin terdapat dalam situasi atau tingkah laku atau kegiatan individu yang diamati.
Dari pengertian di atas disimpulkan bahwa Check Sheet/ Check List/ Tally Chart
merupakan salah satu metoda. Untuk memperoleh data yang berbentuk daftar yang berisi
pernyataan dan pertanyaan yang ingin diselidiki dengan memberi tanda cek Alat ini berupa
lembar pencatatan data secara mudah dan sederhana, sehingga menghindari kesalahankesalahan yang mungkin terjadi, dalam pengumpulan data tersebut.
Umumnya Check Sheet/ Check List/ Tally Chart berisi pertanyaan-pertanyaan yang
dibuat sedemikian rupa, sehingga pencatat cukup memberikan tanda kolom yang telah
tersedia, dan memberikan keterangan seperlunya. Ada beberapa jenis Check Sheet/ Check
List/ Tally Chart yang biasa digunakan, yaitu:
a.
Check Sheet/ Check List/ Tally Chart untuk distribusi proses produksi
Data-data yang dikumpulkan adalah ukuran, berat dan diameter yang dihasilkan dari suatu
proses. Namun hal ini dilakukan terhadap populasi hasil proses, sehingga membutuhkan
waktu dan biaya yang besar. Untuk itu sering dilakukan random dalam pengambilan
sampelnya.

b.
Check Sheet/ Check List/ Tally Chart untuk Defective Item
Check Sheet/ Check List/ Tally Chart ini digunakan untuk mencatat data tentang jumlah
defect (cacat), prosentase defect. Dan bila diperlukan, dapat digunakan untuk setiap macam
Cause Defective.
c.
Check Sheet/ Check List/ Tally Chart untuk Defective Location
Check Sheet/ Check List/ Tally Chart ini digunakan untuk mencatat lokasi defect yang
terjadi, pencatatan lokasi defect ini biasanya dilakukan dengan membuat gambar dari produk
yang dibuat dan tanda-tanda tertentu diberikan pada lokasi defect.
d.
Check Sheet/ Check List/ Tally Chart untuk Defective Cause
Check Sheet/ Check List/ Tally Chart ini digunakan untuk meneliti faktor-faktor penyebab
defect untuk masalah-masalah yang lebih komplek, lebih baik digunakan analisa yang lebih
mendalam tentang sebab-sebab dan akibat-akibat dengan menggunakan Scatter Diagram.
Fungsi Check Sheet/ Check List/ Tally Chart
Check Sheet/ Check List/ Tally Chart memiliki fungsi diantaranya sebagai berikut:
1.

Sebagai inventori (alat pencatat hasil observasi yang dipergunakan seseorang dalam
mengamati diri sendiri/pengguna daftar cek selain sebagai obsever juga observe).
2. Sebagai alat pencatat hasil obsevasi (pengguna daftar cek hanya sebagai observer)
Lebih jauh terkait fungsi Check Sheet/ Check List/ Tally Chart yaitu dalam hal:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pemeriksaan distribusi proses produksi.


Pemeriksaan item cacat.
Pemeriksaan lokasi cacat.
Pemeriksaan penyebab cacat.
Pemeriksaan konfirmasi pemeriksaan.
Lain-lain.

Tujuan Check Sheet/ Check List/ Tally Chart


Tujuan penggunaan Check Sheet/ Check List/ Tally Chart adalah :
1.

Memudahkan proses pengumpulan data terutama untuk mengetahui bagaimana


sesuatu masalah sering terjadi.
2. Memilah data ke dalam kategori yang berbeda seperti penyebab-penyebab, masalahmasalah dan lain-lain.
3. Menyusun data secara otomatis, sehingga data itu dapat dipergunakan dengan mudah.
4. Memisahkan antara opini dan fakta.
Manfaat Check Sheet/ Check List/ Tally Chart
Check Sheet/ Check List/ Tally Chart mempunyai kegunaan yang cukup banyak di
dalam pengumpulan data, sehingga data yang dikumpulkan akan sangat mudah digunakan
dan diolah lebih lanjut. Oleh karena itu, Check Sheet/ Check List/ Tally Chart sering
digunakan di dalam pengendalian kualitas.
Dalam konteks pengendalian kualitas, Check Sheet/ Check List/ Tally Chart terutama
digunakan untuk mempermudah proses pengumpulan data dan dalam bentuk yang dapat

dengan mudah digunakan dan dianalisis secara otomatis.Untuk mendapatkan faktor-faktor


yang relevan dengan masalah yang sedang menjadi pusat perhatian. Faktor-faktor yang
diperoleh ini dapat terperinci menurut keperluan yaitu sesuai dengan persiapan dan rencana
yang telah dibuat sebelum daftar cek disiapkan.
Karakteristik Check Sheet/ Check List/ Tally Chart
Ciri-ciri Check Sheet/ Check List/ Tally Chart yang baik
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan terlebih dahulu


Direncanakan secara sistematis
Berupa format yang praktis dan baik
Hasil pengecekan diolah sesuai dengan tujuan
Dapat diperiksa validitas, reabilitas, dan ketelitian
Bersifat kuantitatif

Macam/ Jenis Check Sheet/ Check List/ Tally Chart


Ada berbagai jenis Check Sheet/ Check List/ Tally Chart yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

Check Sheet/ Check List/ Tally Chart perorangan


Check Sheet/ Check List/ Tally Chart kelompok
Check Sheet/ Check List/ Tally Chart dalam skala penilaian
Check Sheet/ Check List/ Tally Chart dalam angket
Check Sheet/ Check List/ Tally Chart masalah

Struktur Check Sheet/ Check List/ Tally Chart


Berikut struktur Check Sheet/ Check List/ Tally Chart:
1.
2.
3.

Judul Check Sheet/ Check List/ Tally Chart


Identitas pengisi
Petunjuk yang berisi penjelasan dan maksud Check Sheet/ Check List/ Tally Chart
Pedoman/petunjuk pengisian
4. Butir-butir/item Check Sheet/ Check List/ Tally Chart
Menyusun Check Sheet/ Check List/ Tally Chart
Ada lima langkah dalam Penyusunan Check Sheet/ Check List/ Tally Chart. Kelima
langkah tersebut yakni:

Langkah 1 : Memperjelas sasaran pengukuran Anda


Langkah 2 : Mengidentifikasi apa yang Anda ukur
Langkah 3 : Menentukan waktu atau tempat yang akan diukur
Langkah 4 : Mengumpulkan data
Langkah 5 : Menjumlahkan data

Contoh Aplikasi: Tahapan Penyusunan Check Sheet/ Check List/ Tally Chart
Berikut contoh implementasi penyusunan Check Sheet/ Check List/ Tally Chart.
Langkah 1
Memperjelas sasaran pengukuran dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut:

Apa masalahnya?
Mengapa data harus dikumpulkan?

Siapa yang akan menggunakan informasi yang dikumpulkan dan informasi


yang sebenarnya mereka inginkan?
Siapa yang mengumpulkan data?

Langkah 2
Mengidentifikasikan apa yang akan diukur, misalnya

Judul : Keluhan pelanggan bulan juni


Kategori : Pengiriman terlambat, pengemudi yang kasar, penagihan yang tidak
sesuai, dll.

Langkah 3
Menentukan Waktu Atau Tempat Yang Akan Diukur

Informasi berdasarkan waktu dan / tempat.

Langkah 4
Mengumpulkan Data

Catat setiap peristiwa langsung pada lembar periksa.


Dilarang menunda mencatat informasi hingga akhir hari atau hingga
beristirahat, dikhawatirkan lupa.

Langkah 5
Menjumlahkan Data

Menjumlahkan semua kejadian (misalnya, berapa banyak terlambat mengirim


minggu ini, berapa banyak penagihan yang tidak sesuai, dll)

Stratification Diagram
Oleh Hendra Poerwanto
www.hendrakualitas.web.id
Terima kasih telah bersedia menuliskan alamat web ini sebagai sumber bacaan/
referensi
Stratifikasi adalah menguraikan atau mengklasifikasikan persoalan menjadi kelompok
atau golongan yang lebih kecil atau menjadi unsur-unsur dari persoalan yang mempunyai
karakteristik sama.
Kegunaannya adalah untuk melihat masalah dan mempersempit ruang lingkup masalah,
sehingga dapat ditinjau dari satu segi saja, misalnya dari segi penyebab, waktu, lokasi bahan
baku, orang dan sebagainya.
Dasar pengelompokkan stratifikasi sangat tergantung pada tujuan pengelompokkan,

sehingga dasar pengelompokkan dapat berbeda-beda tergantung kepada permasalahannya.


Alternatif dari Stratifikasi adalah Flow Chart dan Run Chart.
Di dalam pengendalian kualitas stratifikasi terutama ditujukan untuk :
1.
2.
3.
4.

Mencari faktor-faktor penyebab utama kualitas secara mudah.


Membantu pembuatan Scatter diagram.
Mempermudah pengambilan kesimpulan di dalam penggunaan peta kontrol.
Mempelajari secara menyeluruh masalah yang dihadapi.

Contoh Stratification Diagram

Contoh Stratification Diagram dalam Bentuk Tabel

Histogram: Pengertian, Manfaat, Pembuatan dan Contoh Histogram


Oleh Hendra Poerwanto
www.hendrakualitas.web.id
Terima kasih telah bersedia menuliskan alamat web ini sebagai sumber bacaan/
referensi
Pada bidang statistik, histogram adalah tampilan grafis dari tabulasi frekuensi yang
digambarkan dengan grafis batangan sebagai manifestasi data binning.
Tiap tampilan batang menunjukkan proporsi frekuensi pada masing-masing deret kategori
yang berdampingan dengan interval yang tidak tumpang tindih.
Kata histogram berasal dari bahasa Yunani: histos, dan gramma. Pertama kali digunakan

oleh Karl Pearson pada tahun 1895 untuk memetakan distribusi frekuensi dengan luasan area
grafis batangan menunjukkan proporsi banyak frekuensi yang terjadi pada tiap kategori dan
merupakan salah satu dari 7 basic tools of quality control yaitu Pareto chart, check sheet,
control chart, cause-and-effect diagram, flowchart, dan scatter diagram.
Histogram adalah perangkat grafis yang menunjukkan distribusi, sebaran, dan bentuk
pola data dari proses. Jika data yang terkumpul menunjukkan bahwa proses tersebut stabil
dan dapat diprediksi, kemudian histogram dapat pula digunakan untuk menunjukkan
kemampuan batasan proses. Dikenal juga sebagai grafik distribusi frekuensi, salah satu jenis
grafik batang yang digunakan untuk menganalisa mutu dari sekelompok data (hasil produksi),
dengan menampilkan nilai tengah sebagai standar mutu produk dan distribusi atau
penyebaran datanya. Meski sekelompok data memiliki standar mutu yang sama, tetapi bila
penyebaran data semakin melebar ke kiri atau ke kanan, maka dapat dikatakan bahwa mutu
hasil produksi pada kelompok tersebut kurang bermutu, sebaliknya, semakin sempit sebaran
data pada kiri dan kanan nilai tengah, maka hasil produksi dapat dikatakan lebih bermutu,
karena mendekati spesifikasi yang telah ditetapkan.
Dari berbagai penjelasan tentang histogram, diperoleh beberapa catatan terkait
histogram, yakni:

Merupakan penyajian data frekuensi yang diubah menjadi diagram batang


Histogram menjelaskan variasi proses, namun belum mengurutkan rangking dari
variasi terbesar sampai dengan yang terkecil.
Histogram juga menunjukkan kemampuan proses, dan apabila memungkinka
histogram dapat menunjukkan hubungan dengan spesifikasi proses dan angka-angka
nominal, misalnya rata-rata.
Dalam histogram, garis vertikal menunjukkan banyaknya observasi tiap-tiap kelas.
Untuk menggambarkan histogram dipakai sumbu mendatar yang menyatakan batasbatas kelas interval dan sumbu tegak yang menyatakan fekuensi absolute atau
frekuensi relatif.

Agar Histogram memberikan gambaran yang akurat tentang kondisi hasil produksi,
perlu dilakukan pengolahan data yang akurat terlebih dulu, dimulai dari pengumpulan data,
tidak kurang dari 50 sampel, yaitu jumlah yang dianggap dapat memenuhi populasi yang
akan diamati. Pengolahan data pada Histogram menjadi sangat penting, terutama dalam
menentukan besaran nilai tengah (standar) dan seberapa banyak kelas-kelas data yang akan
menggambarkan penyebaran data yang tercipta.
Histogram menjelaskan variasi proses, namun belum mengurutkan rangking dari variasi
terbesar sampai dengan yang terkecil. Histogram juga menunjukkan kemampuan proses, dan
apabila memungkinkan, histogram dapat menunjukkan hubungan dengan spesifikasi proses
dan angka angka nominal, misalnya rata rata. Dalam histogram, garis vertikal menunjukkan
banyaknya observasi tiap tiap kelas. Melalui gambar Histogram yang ditampilkan, akan dapat
diprediksi hal-hal sebagai berikut:
1. Bila bentuk Histogram pada sisi kiri dan kanan dari kelas yang tertinggi berbentuk
simetri, maka dapat diprediksi bahwa proses berjalan konsisten, artinya seluruh
faktor-faktor dalam proses memenuhi syarat-syarat yang ditentukan.

2. Bila Histogram berbentuk sisir, kemungkinan yang terjadi adalah ketidaktepatan


dalam pengukuran atau pembulatan nilai data, sehingga berpengaruh pada penetapan
batas-batas kelas.
3. Bila sebaran data melampaui batas-batas spesifikasi, maka dapat dikatakan bahwa ada
bagian dari hasil produk yang tidak memenuhi spesifikasi mutu. Tetapi sebaliknya,
bila sebaran data ternyata berada di dalam batas-batas spesifikasi, maka hasil produk
sudah memenuhi spesifikasi mutu yang ditetapkan. Secara umum, histogram biasa
digunakan untuk memantau pengembangan produk baru, penggunaan alat atau
teknologi produksi yang baru, memprediksi kondisi pengendalian proses, hasil
penjualan, manajemen lingkungan dan lain sebagainya.
Langkah Pembuatan Histogram
Langkah-langkah menyusun histogram sebagai berikut:
1. Menentukan batas-batas observasi (rentang).
Rentang (r) = data tertinggi - data terkecil.
2. Menghitung banyaknya kelas atau sel-sel.
Banyak kelas (b) = 1 + 3,3 log n
3. Menentukan lebar/panjang kelas.
Panjang kelas (p) = Rentang : banyak kelas
4. Menentukan ujung kelas.
Ujung kelas pertama biasanya diambil dari terkecil. Kelas berikutnya dihitung dengan cara
menjumlahkan ujung bawah kelas dengan panjang kelas 1.
5. Menghitung nilai frekuensi histogram masing-masing kelas.
6. Menggambarkan diagram batangnya
Aplikasi Histogram
Aplikasi histogram diagram sangat tepat digunakan jika menginginkan hal-hal berikut ini:
a. Menetapkan stabilitas proses
b. Mendapatkan performance sekarang atau variasi proses
c. Menguji dan mengevaluasi perbaikan proses untuk peningkatan
d. Mengembangkan pengukuran dan memonitor peningkatan proses
Contoh Aplikasi Histogram

Range = maxm min = 19m 9 (19 9 = 10)


Banyaknya Kelas = 50/7} 7,8 ~ 10
Kelas Interval = R/K = 10/7 = 13/7} 1.5
~1
Batas Bawah Kelas = 9 1.5/2 = 8.25
~ 8.5
Batas Atas Kelas = 8.25 dst untuk setiap kelas. ~ 9.5

Contoh Bentuk-Bentuk Histogram


Contoh 1 Histogram

Contoh 2 Histogram

Contoh 3 Histogram

Contoh 4 Histogram

Contoh 5 Histogram

Pengertian Dan Konsep Pareto Diagram


Oleh Hendra Poerwanto
www.hendrakualitas.web.id
Terima kasih telah bersedia menuliskan alamat web ini sebagai sumber bacaan/
referensi

Diagram Pareto dikembangkan oleh Vilfredo Frederigo Samoso pada akhir abad ke-19
merupakan pendekatan logic dari tahap awal pada proses perbaikan suatu situasi yang
digambarkan dalam bentuk histogram yang dikenal sebagai konsep vital few and the trivial
many untuk mendapatkan menyebab utamanya. Diagram Pareto telah digunakan secara luas
dalam kegiatan kendali mutu untuk menangani kerangka proyek; proses program; kombinasi
pelatihan, proyek dan proses, sehingga sangat membantu dan memberikan kemudahan bagi
para pekerja dalam meningkatkan mutu pekerjaan.
Diagram Pareto merupakan metode standar dalam pengendalian mutu untuk
mendapatkan hasil maksimal atau memilih masalah-masalah utama dan lagi pula dianggap
sebagai suatu pendekatan sederhana yang dapat dipahami oleh pekerja tidak terlalu terdidik,
serta sebagai perangkat pemecahan dalam bidang yang cukup kompleks. Diagram Pareto
merupakan suatu gambar yang mengurutkan klasifikasi data dari kiri ke kanan menurut
urutan ranking tertinggi hingga terendah. Hal ini dapat membantu menemukan permasalahan
yang terpenting untuk segera diselesaikan (ranking tertinggi) sampai dengan yang tidak harus
segera diselesaikan (ranking terendah). Selain itu, Diagram Pareto juga dapat digunakan
untuk membandingkan kondisi proses, misalnya ketidaksesuaian proses, sebelum dan
setelah diambil tindakan perbaikan terhadap proses

Diagram Pareto dibuat berdasarkan data statistik dan prinsip bahwa 20% penyebab
bertanggungjawab terhadap 80% masalah yang muncul atau sebaliknya. Kedua aksioma
tersebut menegaskan bahwa lebih mudah mengurangi bagian lajur yang terletak di bagian kiri
diagram Pareto daripada mencoba untuk menghilangkan secara sistematik lajur yang terletak
di sebelah kanan diagram. Hal ini dapat diartikan bahwa diagram Pareto dapat menghasilkan
sedikit sebab penting untuk meningkatkan mutu produk atau jasa. Keberhasilan penggunaan
diagram Pareto sangat ditentukan oleh partisipasi personel terhadap situasi yang diamati,
dampak keuangan yang terlihat pada proses perbaikan situasi dan penetapan tujuan secara
tepat. Faktor lain yang perlu dihindari adalah jangan membuat persoalan terlalu kompleks
dan juga jangan terlalu mencari penyederhanaan pemecahan.
Tahapan penggunaan dari Diagram Pareto adalah mencari fakta dari data ciri gugus
kendali mutu yang diukur, menentukan penyebab masalah dari tahapan sebelumnya dan
mengelompokkan sesuai dengan periodenya, membentuk histogram evaluasi dari kondisi
awal permasalahan yang ditemui, melakukan rencana dan pelaksanaan perbaikan dari
evaluasi awal permasalahan yang ditemui, melakukan standarisasi dari hasil perbaikan yang
telah ditetapkan dan menentukan tema selanjutnya.
Prinsip Pareto juga dikenal sebagai aturan 80/20 dengan melakukan 20% dari pekerjaan
bisa menghasilkan 80% manfaat dari pekerjaan itu. Aturan 80/20 dapat diterapkan pada
hampir semua hal, seperti:
* 80% dari keluhan pelanggan timbul 20% dari produk atau jasa.
* 80% dari keterlambatan jadwal timbul 20% dari kemungkinan penyebab penundaan.
* 20% dari produk atau account untuk layanan, 80% dari keuntungan Anda.
* 20% dari-tenaga penjualan menghasilkan 80% dari pendapatan perusahaan Anda.
* 20% dari cacat sistem penyebab 80% masalah nya.
Prinsip Pareto untuk seorang manajer proyek adalah mengingatkan untuk fokus pada 20%
hal-hal yang materi, tetapi tidak mengabaikan 80% masalah. Berikut Hukum Pareto dalam
bentuk visual:

Umumnya Diagram Pareto merupakan diagram batang tempat batang tersebut diurutkan
mulai dari yang terbanyak sampai terkecil. Diagram Pareto memiliki banyak aplikasi dalam
bisnis dan pekerjaan. Demikian halnya Diagram Pareto dapat diaplikasikan dalam kontrol
kualitas. Ini adalah dasar bagi diagram Pareto, dan salah satu alat utama yang digunakan
dalam pengendalian kualitas total dan Six Sigma.Satu persatu masalah di breakdown
berdasarkan kategori masing masing. item Diagram Pareto yaitu :

Apa (what). Apa saja yang menjadi penyebab masalah tersebut?


Kapan (when).Kapan masalah tersebut paling sering muncul
Di mana (where).Dimana masalah tersebut paling sering muncul?
Siapa (who).Siapa orang atau kelompok yang mengalami paling banyak masalah?
Mengapa (why). Mengapa masalah tersebut banyak terjadi?
Bagaimana (how).Bagaimana masalah tersebut bisa terjadi?
Berapa biayanya (how much).
Masalah mana yang biayanya paling besar? / atau berapa besar biasa yang sudah
ditimbulkan?
Langkah Membuat Diagram Pareto
Ada delapan tahap yang tercakup dalam pembuatan diagram Pareto, seperti :
a) Kumpulkanlah sebanyak mungkin data yang menunjukkan sifat dan frekuensi peristiwa
tersebut.
b) tentukan kategori yang akan digunakan untuk menganilisa data tersebut.
c) alokasikan frekuensi peristiwa menjadi kategori yang berbeda.
d) hitunglah frekuensi tersebut ke dalam prosentase.
e) buatlah diagram batang.
f) kemudian urutkanlah diagram batang tersebut mulai dari yang terbanyak.
g) ceklah dampak pareto dalam diagram batang tersebut.
h) apabila dampak pareto jelas, ambil tindakan pada item / fakto yang paling umum.

Di atas adalah contoh sederhana dari sebuah diagram pareto dengan menggunakan
sampel data frekuensi relatif dari penyebab kesalahan di situs web. Ini memungkinkan kita
untuk melihat 20% dari kasus yang menyebabkan 80% dari masalah dan di mana upaya kita
harus difokuskan untuk mencapai peningkatan terbesar.
Penyusunan Diagram Pareto dapat juga menggunakan enam langkah berikut ini:
1. Menentukan metode atau arti dari pengklasifikasian data, misalnya berdasarkan
masalah, penyebab jenis ketidaksesuaian, dan sebagainya.
2. Menentukan satuan yang digunakan untuk membuat urutan karakteristik karakteristik
tersebut, misalnya rupiah, frekuensi, unit, dan sebagainya.
3. Mengumpulkan data sesuai dengan interval waktu yang telah ditentukan.
4. Merangkum data dan membuat rangking kategori data tersebut dari yaang terbesar
hingga yang terkecil.
5. Menghitung frekuensi kumulatif atau persentase kumulatif yang digunakan.
6. Menggambar diagram batang, menunjukkan tingkat kepentingan relatif masingmasing masalah. Mengidentifikasi beberapa hal yang penting untuk mendapat
perhatian. Dibawah ini contoh Diagram Pareto

Pareto chart sangat tepat digunakan jika menginginkan hal-hal berikut ini:
1. Menentukan prioritas karena keterbatasan sumberdaya
2. Menggunakan kearifan tim secara kolektif
3. Menghasilkan consensus atau keputusan akhir
4. Menempatkan keputusan pada data kuantitatif
Bentuk-Bentuk Diagram Pareto
Berikut diberikan beberapa contoh bentuk aplikasi Diagram Pareto
Contoh 1 Diagram PAreto

Contoh 2 DIagram Pareto

Contoh 3 Diagram Pareto

Contoh 4 Diagram Pareto

Contoh 5 Diagram Pareto

Scatter Diagram
Oleh Hendra Poerwanto
www.hendrakualitas.web.id
Terima kasih telah bersedia menuliskan alamat web ini sebagai sumber bacaan/
referensi

Scatter diagram adalah gambaran yang menunjukkan kemungkinan hubungan (korelasi)


antara pasangan dua macam variabel dan menunjukkan keeratan hubungan antara dua
variabel tersebut yang sering diwujudkan sebagai koefisien korelasi. Scatter diagram juga
dapat digunakan untuk mengecek apakah suatu variabel dapat digunakan untuk mengganti
variabel yang lain.
Dikatakan juga bahwa Scatter diagram menunjukan hubungan antara dua variabel.
Scatter diagram sering digunakan sebagai analisis tindak lanjut untuk menentukan apakah
penyebab yang ada benar-benar memberikan dampak kepada karakteristik kualitas. Pada
contoh terlihat scatter diagram yang menggambarkan plot pengeluaran untuk iklan dengan
penjualan perusahaan yang mengindikasikan hubungan kuat positif diantara dua variabel.
Jika pengeluaran untuk iklan meningkat, penjualan cenderung meningkat.

Pada umumnya, bila kita berbicara tentang hubungan antara dua macam data, kita
sesungguhnya membicarakan tentang :
1. Hubungan penyebab dan akibatnya.
2. Hubungan antara satu penyebab dengan penyebab lainnya.
3. Hubungan antara satu penyebab dengan dua penyebab.
Jika kita menggambarkan pada sumbu vertikal akibatnya dan pada sumbu horisontal
penyebabnya, maka kita akan mendapatkan sebuah peta yang disebut dengan scatter diagram.

Cara untuk membuat scatter diagram adalah sebagai berikut :


1. Kumpulkan pasangan data (x,y) yang akan dipelajari hubungannya serta susunlah data
itu dalam tabel. Diperlukan untuk mempunyai paling sedikit 30 pasangan data.
2. Tentukan nilai-nilai maksimum dan minimum untuk kedua variabel x dan y. Buatlah
skala pada sumbu horizontal dan vertikal dengan ukuran yang sesuai agar diagram
akan menjadi lebih mudah untuk dibaca. Apabila kedua variabel yang akan dipelajari
itu adalah karakteristik kualitas dan faktor yang mempengaruhinya, gunakan sumbu
horizontal, x, untuk faktor yang mempengaruhi karakteristik kualitas dan sumbu
vertikal, y, untuk karakteristik kualitas.
3. Tebarkan (plot) data pada selembar kertas. Apabila dijumpai data bernilai sama dari
pengamatan yang berbeda, gambarkan titik-titik itu seperti lingkaran konsentris (.),
atau plot titik kedua yang bernilai sama itu disekitar titik pertama.
4. Berikan informasi secukupnya agar orang lain dapat memahami diagram tebar itu.
Informasi yang biasa diberikan adalah :

Interval waktu
Banyaknya pasangan data (n).
Judul dan unit pengukuran dari setiap variabel pada garis
horizontal dan vertikal.
Judul dari grafik itu.
Apabila dipandang perlu dapat mencantumkan nama dari orang
yang membuat diagram tebar itu.

Pembacaan scatter diagram yang benar harus mengarah kepada tindakan yang
tepat. Untuk mempelajari kemampuan membaca yang benar dapat diuraikan secara umum
seperti dibawah ini :

Keterangan :

Pertambahan dalam y tergantung pada pertambahan dalam x. Bila x dikendalikan, y


terkendali pula.
Bila x bertambah, y akan bertambah beberapa, tetapi y seolaholah mempunyai
penyebab selain dari x.
Tidak terdapat korelasi.
Pertambahan dalam x menyebabkan kecenderungan untuk penurunan y.
Pertambahan dalam x akan menyebabkan penurunan Y. Oleh sebab itu, apabila x
dikendalikan maka y terkendali pula.
#

Pengertian, Konsep dan Manfaat Diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and
Effect (Sebab dan Akibat)/ Ishikawa
Oleh Hendra Poerwanto

www.hendrakualitas.web.id
Terima kasih telah bersedia menuliskan alamat web ini sebagai sumber bacaan/
referensi

Konsep Diagram Fishbone


Ada banyak metode untuk mengetahui akar penyebab dari masalah yang muncul diperusahaan. Metode
metode tersebut antara lain :

1. Brainstorming
2. Bertanya Mengapa beberapakali (WHY WHY)
3. Diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan Akibat)/ Ishikawa
Pada kesempatan ini yang dibicarakan adalah poin yang ke 3 Diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and
Effect (Sebab dan Akibat)/ Ishikawa
Diagram tulang ikan atau fishbone diagram adalah salah satu metode / tool di dalam meningkatkan
kualitas. Sering juga diagram ini disebut dengan diagram Sebab-Akibat atau cause effect diagram. Penemunya
adalah seorang ilmuwan jepang pada tahun 60-an. Bernama Dr. Kaoru Ishikawa, ilmuwan kelahiran 1915 di
Tikyo Jepang yang juga alumni teknik kimia Universitas Tokyo. Sehingga sering juga disebut dengan diagram
ishikawa. Metode tersebut awalnya lebih banyak digunakan untuk manajemen kualitas. Yang menggunakan data
verbal (non-numerical) atau data kualitatif. Dr. Ishikawa juga ditengarai sebagai orang pertama yang
memperkenalkan 7 alat atau metode pengendalian kualitas (7 tools). Yakni fishbone diagram, control chart, run
chart, histogram, scatter diagram, pareto chart, dan flowchart.
Dikatakan Diagram Fishbone (Tulang Ikan) karena memang berbentuk mirip dengan tulang ikan yang
moncong kepalanya menghadap ke kanan. Diagram ini akan menunjukkan sebuah dampak atau akibat dari
sebuah permasalahan, dengan berbagai penyebabnya. Efek atau akibat dituliskan sebagai moncong kepala.
Sedangkan tulang ikan diisi oleh sebab-sebab sesuai dengan pendekatan permasalahannya. Dikatakan diagram
Cause and Effect (Sebab dan Akibat) karena diagram tersebut menunjukkan hubungan antara sebab dan akibat.
Berkaitan dengan pengendalian proses statistikal, diagram sebab-akibat dipergunakan untuk untuk menunjukkan
faktor-faktor penyebab (sebab) dan karakteristik kualitas (akibat) yang disebabkan oleh faktor-faktor penyebab
itu.
Diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan Akibat)/ Ishikawa telah menciptakan ide
cemerlang yang dapat membantu dan memampukan setiap orang atau organisasi/perusahaan dalam
menyelesaikan masalah dengan tuntas sampai ke akarnya. Kebiasaan untuk mengumpulkan beberapa orang
yang mempunyai pengalaman dan keahlian memadai menyangkut problem yang dihadapi oleh perusahaan
Semua anggota tim memberikan pandangan dan pendapat dalam mengidentifikasi semua pertimbangan

mengapa masalah tersebut terjadi. Kebersamaan sangat diperlukan di sini, juga kebebasan memberikan pendapat
dan pandangan setiap individu. Jadi sebenarnya dengan adanya diagram ini sangatlah bermanfaat bagi
perusahaan, tidak hanya dapat menyelesaikan masalah sampai akarnya namun bisa mengasah kemampuan
berpendapat bagi orang orang yang masuk dalam tim identifikasi masalah perusahaan yang dalam mencari
sebab masalah menggunakan diagram tulang ikan.
Manfaat Diagram
Fungsi dasar diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan Akibat)/ Ishikawa adalah
untuk mengidentifikasi dan mengorganisasi penyebab-penyebab yang mungkin timbul dari suatu efek spesifik
dan kemudian memisahkan akar penyebabnya . Sering dijumpai orang mengatakan penyebab yang mungkin
dan dalam kebanyakan kasus harus menguji apakah penyebab untuk hipotesa adalah nyata, dan apakah
memperbesar atau menguranginya akan memberikan hasil yang diinginkan.
Dengan adanya diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan Akibat)/ Ishikawa ini
sebenarnya memberi banyak sekali keuntungan bagi dunia bisnis. Selain memecahkan masalah kualitas yang
menjadi perhatian penting perusahaan. Masalah masalah klasik lainnya juga terselesaikan. Masalah masalah
klasik yang ada di industri manufaktur khusunya antara lain adalah :
a) keterlambatan proses produksi
b) tingkat defect (cacat) produk yang tinggi
c) mesin produksi yang sering mengalami trouble
d) output lini produksi yang tidak stabil yang berakibat kacaunya plan produksi
e) produktivitas yang tidak mencapai target
f) complain pelanggan yang terus berulang
Pada dasarnya diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan Akibat)/ Ishikawa dapat
dipergunakan untuk kebutuhan-kebutuhan berikut :
a) Membantu mengidentifikasi akar penyebab dari suatu masalah
b) Membantu membangkitkan ide-ide untuk solusi suatu masalah
c) Membantu dalam penyelidikan atau pencarian fakta lebih lanjut
d) Mengidentifikasi tindakan (bagaimana) untuk menciptakan hasil yang diinginkan
e) Membahas issue secara lengkap dan rapi
f) Menghasilkan pemikiran baru
Jadi ditemukannya diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan Akibat)/ Ishikawa ini
memberikan kemudahan dan menjadi bagian penting bagi penyelesaian masalah yang mucul bagi perusahaan.
Penerapan diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan Akibat)/ Ishikawa ini dapat
menolong kita untuk dapat menemukan akar penyebab terjadinya masalah khususnya di industri manufaktur
dimana prosesnya terkenal dengan banyaknya ragam variabel yang berpotensi menyebabkan munculnya
permasalahan. Apabila masalah dan penyebab sudah diketahui secara pasti, maka tindakan dan langkah
perbaikan akan lebih mudah dilakukan. Dengan diagram ini, semuanya menjadi lebih jelas dan memungkinkan
kita untuk dapat melihat semua kemungkinan penyebab dan mencari akar permasalahan sebenarnya.
Apabila ingin menggunakan Diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan Akibat)/
Ishikawa, kita terlebih dahulu harus melihat, di departemen, divisi dan jenis usaha apa diagram ini digunakan.
Perbedaan departemen, divisi dan jenis usaha juga akan mempengaruhi sebab sebab yang berpengaruh
signifikan terhadap masalah yang mempengaruhi kualitas yang nantinya akan digunakan.

Langkah Analisis Fish Bone (Diagram Tulang Ikan/ Diagram Ishikawa)


Langkah- Langkah melakukan Fishbone Analysis
a) Menyiapkan sesi analisa tulang ikan .
b) Mengidentifikasi akibat atau masalah.
c) Mengidentifikasi berbagai kategori sebab utama.
d) Menemukan sebab-sebab potensial dengan cara sumbang saran.
e) Mengkaji kembali setiap kategori sebab utama
f) Mencapai kesepakatan atas sebab-sebab yang paling mungkin
Kelebihan/ Kekurangan Fish Bone Diagram

Kelebihan Fishbone diagram adalah dapat menjabarkan setiap masalah yang terjadi dan
setiap orang yang terlibat di dalamnya dapat menyumbangkan saran yang mungkin menjadi
penyebab masalah tersebut. Sedang Kekurangan Fishbone diagram adalah opinion based on
tool dan di design membatasi kemampuan tim / pengguna secara visual dalam menjabarkan
masalah yang mengunakan metode level why yang dalam, kecuali bila kertas yang
digunakan benar benar besar untuk menyesuaikan dengan kebutuhan tersebut. Serta
biasanya voting digunakan untuk memilih penyebab yang paling mungkin yang terdaftar
pada diagram tersebut.

Contoh Bentuk Dasar Diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab
dan Akibat)/ Ishikawa
Oleh Hendra Poerwanto

www.hendrakualitas.web.id
Terima kasih telah bersedia menuliskan alamat web ini sebagai sumber bacaan/
referensi

Ada banyak bentuk dasar Diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan
Akibat)/ Ishikawa yang dapat diadikan acuan. Berikut ini diberikan beberapa contoh yang
sekiranya dapat memberikan inspirasi dalam penerapan dan pengembangan lebih jauh yang
disesuaikan situasi dan kondisi yang ada. Ada yang penggambaran Cause ditulis di tulang
ikan sebelah kiri dan Effect di kepala ikan, namun ada pula yang sebaliknya.
Contoh 1 Bentuk Dasar Diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan
Akibat)/ Ishikawa

Contoh 2 Bentuk Dasar Diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan
Akibat)/ Ishikawa

Contoh 3 Bentuk Dasar Diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan
Akibat)/ Ishikawa

Contoh 4 Bentuk Dasar Diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan
Akibat)/ Ishikawa

Contoh 5 Bentuk Dasar Diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan
Akibat)/ Ishikawa

Contoh 6 Bentuk Dasar Diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan
Akibat)/ Ishikawa

Contoh 7 Bentuk Dasar Diagram Fishbone (Tulang Ikan)/ Cause and Effect (Sebab dan
Akibat)/ Ishikawa

Control Chart
Hendra Poerwanto
www.hendrakualitas.web.id
Terima kasih telah bersedia menuliskan alamat web ini sebagai sumber bacaan/
referensi

Control Chart merupakan grafik dengan mencantumkan batas maksimum dan batas
minimum yang merupakan batas daerah pengendalian (Grant, Eugene, Leavenworth, R.S.,
Pengendalian Kualitas Statis). Control Chart ialah suatu Quality Tool yang dapat digunakan
untuk mendeteksi apakah sebuah proses tersebut dalam kondisi terkontrol secara statistik
(statistically stable) ataukah tidak. Proses yang tidak dalam kondisi terkontrol secara statistik
akan menunjukan suatu variasi yang berlebih sebanding dengan perubahan waktu.
Tujuan Control Chart
Tujuan menggambarkan Control Chart adalah untuk menetapkan apakah setiap titik
pada grafik normal atau tidak normal dan dapat mengetahui perubahan dalam proses dari
mana data dikumpulkan, sehingga setiap titik pada grafik harus mengindikasikan dengan
cepat dari proses mana data diambil.
Membuat Control Chart
Sebuah Control Chart terdiri dari garis pusat (Central Line), sepasang batas kendali
masing-masing diletakkan di atas (Upper Control Limit) dan di bawah (Lower Control Limit)
dan nilai karakteristik. Bila semua nilai digambarkan didalam batas kendali tanpa
kecenderungan khusus, maka proses dipandang sebagai keadaan terkendali. Sedangkan bila

mereka jatuh di luar batas kendali atau menunjukkan bentuk lain, maka proses ditetapkan
berada di luar kendali.

Control Chart membedakan antara Common Cause dan Special Cause. Common Cause
ialah Penyebab yang agak susah untuk bisa dihilangkan (Natural variation) sedang Special
Cause ialah Penyebab yang masih mungkin bisa dihilangkan, misalnya : Kesalahan Operator,
materialnya retak dan kotor, Operator masih baru, tidak ada Standard Operasional Procedure

untuk menjalankan suatu mesin produksi, dll.


Manfaat Control Chart
Berikut manfaat Control; Chart
1. Mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi selama satu periode produksi.
2. Memberikan informasi proses secara kronologis, yakni menunjukkan bagaimana
pengaruh berbagai faktor, misalnya : material, manusia, metode, dll. terhadap proses
produksi.
3. Mengidentifikasi gejala penyimpangan suatu proses yakni dengan memperhatikan
pola atas pergerakan titik-titik sehingga dapat dihindari Over Control yaitu
pengontrolan terlalu ketat sehingga dapat menurunkan efisiensi maupun Under
Control yaitu pengontrolan terlalu longgar sehingga dapat menurunkan mutu.
#