Anda di halaman 1dari 149

Center for Advanced Sciences

Proceedings
Workshop Nanotechnology
ISSN : 2356-3303

Institut Teknologi Bandung


12 Desember 2013

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr. wb
Workshop bidang nanosains dan nanoteknologi ini diselenggarakan dalam rangkaian
kegiatan pengembangan pusat riset bidang nanoteknologi yang terangkum dalam
agenda kegiatan pengembangan Center for Advances Sciences (CAS) pada Poyek
Pengembangan ITB (III) dengan bantuan dana dari JICA.
Sesuai dengan rencana akademik ITB 2010 2015 serta bantuan dana JICA untuk
pengembangan ITB, yang mana salah satu tujuannya adalah pengembangan
nanoteknologi dalam bentuk kegiatan riset dan akademik. Untuk itu proposal ini
bertujuan memantapkan kerangka penelitian bidang nanoteknologi dalam bentuk
yang lebih terarah dan diharapkan dapat menjadikan tolok ukur dalam pengembangan
nanosains dan nanoteknologi di Indonesia dan khususnya di Institut Teknologi
Bandung.
Perkembangan sains dan teknologi dalam skala berdimensi nano, membawa dampak
perubahan yang besar dalam industri dan kehidupan sehari-hari, kemajuan teknologi
material ini tentunya harus dapat di tangkap dan di implementasikan di Indonesia agar
dapat bersaing dengan produk dari luar negeri. Kekayaan alam dan kekayaan hayati
Indonesia yang banyak ini haruslah dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bangsa
Indonesia seutuhnya. Keberadaan lembaga penelitian menjadi salah satu upaya
peningkatan kualitas produk material berbasis sumberdaya Indonesia ini, Institut
Teknologi Bandung, seyogyanya memainkan peranan penting dalam teknologi ini.
Penelitian dalam bidang Nano science dan nanoteknologi di ITB telah dimulai sejak
sekitar tahun 2000, dan di lakukan secara terpisah-pisah di beberapa fakultas,
misalnya FMIPA, FTI, SF dan SITH. Keterbatasan anggaran dan peralatan
mengakibatkan sulitnya pertumbuhan riset dalam bidang ini, sedangkan upaya untuk
mengintegrasikan riset dalam bentuk kerjasama riset antar fakultas perlu difasilitasi.
Salah satu dalam bentuk kerjasama riset inilah, kegiatan workshop ini diadakan.
Pada workshop ini, akan dipresentasikan hasil-hasil terkini dari beberapa penelitian
yang dilakukan di ITB, khususnya di tahun 2013. Hasil dari sejumlah kerjasama riset
antar fakultas dengan menggunakan dana riset dari JICA juga di presentasikan.
Besar harapan kami melalui workshop ini, kerjasama riset dalam bidang nanosains
dan nanoteknologi akan lebih memacu pertumbuhan riset antar fakultas sehingga
pemanfaatan hasil-hasil riset dapat lebih cepat terasa untuk masyarakat.
Wassalam
Bandung, 12 Desember 2013
Atas nama panitia workshop

COMMITTEE
Workshop Nanotechnology diselenggarakan oleh Center for Advanced Sciences.

STEERING COMMITTEE
Prof. Dr. Bambang Sunendar Purwasasmita, M.Eng
Prof. Dr. Hermawan Dipojono, MSEE. Ph.D
Dr. Sonny Suhandono
Dr. Aditianto Ramelan

ORGANIZING COMMITTEE
Dr. Mohammad Kemal Agusta (Chairman)
Dr. Suprijadi
Dr. Heni Rachmawati
Dr. Ferry Iskandar
Dr. Veinardi Suendo
Dr. Rizkita Rachmi Esyanti
Dr. Brian Yuliarto

DAFTAR ISI
PENELITIAN JICA
1.

Studi Sifat Elektronik pada Bahan Katoda untuk Baterai Litium Ion
(LiFePO4 dan Li2FeSiO4) dengan Menggunakan Metode Density Functional
Theory
Triati Dewi Kencana Wungu, Ganjar Kurniawan, Brian Yuliarto dan Ferry
Iskandar

2.

Studi Efek Material dan Penghambat Etilen terhadapProses Pematangan


Buah untuk Aplikasi Industri
Rizkita Rahmi Esyanti, Fenny M. Dwivany, Brian Yuliarto, Aksarani 'Sa Pratiwi,
Dina Hermawaty, Dian Maghfirah Hala

3.

Curcumin Nanoemulsion for Transdermal Application : Formulation and


Evaluation
Heni Rachmawati, Dewa Ken Budiputra, Sony Suhandono, Kusnandar
Anggadiredja

4.

Simulasi Ab Initio Untuk Aplikasi Bidang Energi dan Teknologi Pangan :


Adsorpsi Etilen (C2H4) di permukaan TiO2 dan hidrazin (N2H4) di
permukaan logam transisi
Mohammad Kemal Agusta, Dea Indriani, Hermawan K. Dipojono

11

PAPER PARTISIPAN
1.

Low-temperature Preparation of Nanoparticles Tetragonal Zirconia


Polycrystal Alumina-Stabilized Zirconia with Sugar as a Masking
Compound
Rifki Septawendar, Suhanda Sutardi, Soesilowati, Bambang Sunendar
Purwasasmita

17

2.

Sintesis dan Karakterisas Alumina Nanofiber Dari Kaolin Melalui


Metode Pengarahan Struktur Fiber Menggunakan Surfaktan
Eneng Maryani, Subagjo, Ahmad Nuruddin, dan Bambang Sunendar

22

3.

Sintesis Nanokomposit Fe3o4/Zeolit Dengan Metode Pemanasan Microwave


dan Pengujian Sifat Katalitiknya Pada Penurunan Viskositas Minyak Berat
Pipit Fitriani, Shanty Merissa, Ferry Iskandar, Rino R. Mukti, Khairurijal, and
Mikrajuddin Abdullah

25

4.

Synthesis and Characterization Several Codoped Ceria for IT-SOFC


Electrolytes
Arie Hardian, Kunjoong Kim, Gyeong Man Choi, and Ismunandar

29

5.

Controlled Release Mikroenkapsulasi Chlorhexidine 2% Pada Penyakit


Periradikuler Yang Disebabkan Infeksi Enterococcus Faecalis
Denny Nurdin, Bambang Sunendar Purwasasmita

39

6.

Studi Biodistribusi Dan Farmakokinetik Nanokarier Plga-Poloxamer


Bertanda Radioisotop Iodium-131 Pada Mencit
Egy Chandra, Diky Mudhakir, Aang Hanafiah Ws

44

7.

Pengaruh Suhu PolimerisasiTerhadap Sifat Transpor dan Struktur


Polianilina Berbentuk Garam Emeraldine
Ferdinand Hidayat, Yenni Lau, Albaaqi Khadafi, Achmad Rochliadi, Veinardi Suendo

53

8.

Pengembangan Sensor Gas Ethyl Methilbutyrate (C7H14O2) Berbasis


Graphene
Faiz Jazuli Nor, Sasfan . A. Wella, Suprijadi

58

9.

Sintesis dan Enkapsulasi Partikel Nanomagnetik Nikel dengan AlginatKitosan dan Senyawa Aktif Mangosteen
Debby Chairubby Lubis, Ahmad Nuruddin, Abdul Halim Daulay, Bambang
Sunendar Purwasasmita

63

10.

Pengaruh Penambahan Tapioka Terhadap Pembentukan Morfologi


Nanowire/Rod Pada Sintesis Superparamagnetic CaAl4Fe8O19
Andi Ramdhan Zaini, Frank Tanuwijaya, Ahmad Nuruddin, Bambang Sunendar

70

11.

Fungsionalisasi Permukaan Oksida dengan Ligan Piridin dalam Pembuatan


Film Tipis Molekul Porfirin Secara Self-Assembly untuk Aplikasi Sel Surya
Phutri Milana, Nurhayati, Haris Setiawan, Tati Ciptati, Veinardi Suendo

74

12.

Sintesis, Karakterisasi, dan Aplikasi Gold Nanoparticles (AuNPs) pada


Penumbuhan Silicon Nanowires (SiNWs)
Asep Rohiman, Buchari, M.Bachri Amran, Endang Juliastuti, Irman Idris

80

13.

Sintesis Kompleks Polianilin/Polianilin Tersulfonasi Sebagai Material


Konduktor Pada Perangkat Optoelektronik Organik
Muhammad Reza, Aldini R. Humaidi, Ferdinand Hidayat, Nona Srikandi, Achmad
Rochliadi, Tati Ciptati, Veinardi Suendo.

90

14.

Preparation of Electrospun Poly (Vinyl Alcohol) Nanofibers for Ultrafast


Release of Protein
Chandra Risdian, Heni Rachmawati, Muhamad Nasir

98

15.

Fotokatalis TiO2 Anatase dengan Pengotor Cr dan Fe: Investigasi DFT+U


pada Pita Energi
Listra Yehezkiel Ginting, Mohammad Kemal Agusta, Hermawan K Dipojono

102

16.

First Principle Calculation untuk Menyelidiki Sifat Elektronik dan Sifat


Magnetik Hydrogenated Germanene
S. A. Wella, M. Syaputra, F. J. Nor, Suprijadi

106

17.

Sintesis dan Karakterisasi Tetra(p-metoksifenil)porfirin Menggunakan


Metode Microwave-assisted Organic Synthesis (MAOS) Sebagai Kandidat
Material Pemeka Cahaya padaAplikasi Dye Sensitized solar Cells
Dewi Noviany, Phutri Milana, Tati Ciptati, Veinardi Suendo

110

18.

Karakterisasi Dinamika Ion pada Membran Penukar Proton secara


Kronopotensiometri Berpulsa
Fajriah, Nungky Aprilia, Bambang Piluharto, Veinardi Suendo

116

19.

Sintesis dan Karakterisasi Tetra (p-dimetilaminofenil) porfirin dengan


Metode Microwave-Assisted Organic Synthesis (MAOS)
Nisrina Rizkia, Phutri Milana, Veinardi Suendo, dan Tati Ciptati

126

20

Studi Teori Fungsional Kerapatan : Interaksi Lithium-Montmorillonite


dengan Poly (Ethylene Oxide) Sebagai Investigasi Awal Konduktivitas Litium
Polimer
Muhammad Naufal Lintangpradipto, Mohammad Kemal Agusta, Hermawan K
Dipojono

132

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Studi Sifat Elektronik pada Bahan Katoda untuk Baterai


Litium Ion (LiFePO4 dan Li2FeSiO4) dengan Menggunakan
Metode Density Functional Theory
Triati Dewi Kencana Wungu1), Ganjar Kurniawan1), Brian Yuliarto2)
dan Ferry Iskandar1)
1)Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Insitut Teknologi Bandung
2)Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung
Email: ferry@fi.itb.ac.id

ABSTRAK
Pada penelitian ini, material berbasis oksida dari logam transisi, yakni
LiFePO4 dan Li2FeSiO4yang dipergunakan sebagai bahan katoda pada
baterai ion lithium, akan dianalisis ditinjau dari sudut pandang skala mikro.
Sifat elektronik dan struktur dari kedua material tersebut akan dibahas dan
diperoleh melalui simulasi pemodelan dengan menggunakan metoda
Density Functional Theory (DFT). Di dalam struktur kristalnya, logam
transisi berperan penting terhadap sifat bahan dan jenis konduksi yang
terjadi. Berdasarkan analisis Density of States (DOS) yang diperoleh, sifat
isolator yang dimiliki oleh LiFePO4 menyebabkan material ini masih harus
dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan
katoda pada baterai. Sebaliknya, Li2FeSiO4jauh lebih baik dibandingkan
LiFePO4 karena konduktifitas elektronnya yang lebih besar.
Kata kunci : DFT, LiFePO4, Li2FeSiO4, baterai ion litium.

PENDAHULUAN
Sejak kebutuhan masyarakat terhadap energi terus bertambah, penelitian
terhadap baterai berbasis litium-pun semangkit terus ditingkatkan. Dimulai
dari penyusunan disain sampai dengan penyusunan bahan baterai tersebut
(elektrolit[1] dan elektroda [2]). Apabila ditinjau dari aspek proses konduksi
elektroniknya maka penelitian terhadap bahan katoda tidak bisa kita
abaikan. Dalam hal ini, disain dan penyusunan bahan katoda berperan
penting terhadap peningkatan kualitas baterai. Telah diketahui bahwa
material LiFePO4 sudah dapat dimanfaatkan sebagai bahan katoda baterai
secara komersial. Strukturnya yang stabil, tahan terhadap suhu tinggi, siklus
hidup yang tinggi (>1000), memiliki kapasitas yang tinggi, dan lain
sebagainya membuat material ini lebih populer dibandingkan dengan

1 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
material konvensional (LiCoO2). Meski demikian, rendahnya konduktivitas
elektronik LiFePO4 menyebabkan proses pelapisan dengan bahan berbasis
karbon dan/atau subsitusi terhadap komposisi atomik LiFePO4 perlu
dilakukan sebagai salah satu cara untuk peningkatan konduktifitas
elektroniknya.Oleh sebab itu, perlu dicari material lain sebagai pengganti
LiFePO4 yang tentu saja lebih aman, efisien, murah, dll. Saat ini, telah
ditemukan bahan berbasis SiO4yang memiliki konduktifitas elektronik lebih
besar dari LiFePO4, yakni Li2FeSiO4. Mengingat pentingnya fungsi dari
kedua bahan tersebut, pada penelitian ini akan akan dilakukan pemodelan
LiFePO4 dan Li2FeSiO4 untuk mengkaji sifat bahan tersebut khususnya
struktur atomic dan sifat elektroniknya serta mekanisme konduksi
elektronik yang terjadi ditinjau dari skala mikro.

METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah simulasi
pemodelan dengan menggunakan metode Density Functional Theory
(DFT). DFT merupakan metode pemodelan berbasis kuantum untuk
penentuan struktur elektronik suatu bahan pada keadaan ground state
melalui fungsional kerapatan elektron (electron density). Dalam perhitungan
ini, energi exchange-correlation diaproksimasi dengan menggunakan GGA
(Generalized Gradient Approximation) Perdew Burke-Ernzerhof (PBE)
untuk mensimulasikan LiFePO4. Sedangkan GGA Perdew-Wang 91
(PW91) untuk mensimulasikan Li2FeSiO4. Perangkat lunak yang digunakan
adalah VASP [3-4](untuk LiFePO4) dan ADF[5] (untuk Li2FeSiO4).
Simulasi perhitungan pada Li2FeSiO4 dilakukan menggunakan slater type
orbital (STO) sebagai fungsi basis yang diimplementasikan ke dalam
program ADF. Khusus untuk kasus LiFePO4, GGA+U digunakan untuk
mengkoreksi band gap; dimana parameter Hubbard-U diset sebesar 4,3 eV
pada orbital 3d - Fe. Brillouin zone diset dengan menggunakan MonkhorstPack k-point grid 5x5x5 untuk bulk LiFePO4. Energi cut-off diset sebesar
520 eV. Kemudian, optimasi akan berhenti sedemikian rupa sehingga gaya
Hellman-Feynman yang bekerja pada sistem kurang dari 0.005 eV/.
Struktur LiFePO4 diperoleh dengan mengacu pada referensi [2].

HASIL DAN PEMBAHASAN


Sifat elektronik suatu bahan dapat kita amati berdasarkan grafik density of
states (DOS). Seperti pada gambar 1, total DOS untuk perhitungan LiFePO4
dengan GGA menunjukkan bahwasifat elektronik LiFePO4 adalah
semikonduktor (gbr. 1a). Hal ini disebabkan adanya stateorbital-orbital 3d Fe untuk spin downyang terletak di daerah energi Fermi. Sedangkan untuk
perhitungan yang melibatkan koreksi U (GGA+U), orbital-orbital3d - Fe

2 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
untuk spin down mengalami pergeseran ke arah energi yang lebih rendah (di
bawah enegi Fermi) sehingga sifat elektronik LiFePO4menjadi isolator (gbr.
1b) dengan energi band gap sebesar 3,8 eV. Hasil GGA+U lebih akurat
karena memberikan hasil yang sesuai dengan data eksperimen[6].
Berdasarkan gbr. 1b dapat kita jelaskan bahwa mekanisme terjadinya
konduksi elektronik pada lithiatedstruktur (LiFePO4)apabila elektronelektron dari spin down orbital 3d - Fe berpindah ke bagian pita konduksi.
Hole yang dihasilkan akibat berpindahnya elektron tersebut tidak
berkontribusi terhadap terjadinyaproses konduksi karena hole terpisah dari
bagian lain pada pita valensi. Oleh sebab itu, pada lithiatedstruktur, elektron
lebih banyak berkontribusi terhadap proses konduksidibandingkan dengan
hole. Dengan kata lain, orbital-orbital 3d-Fe bertindak sebagai donor dan
lithiated struktur berfungsi sebagai semikonduktor tipe-n. Untuk kasus
delithiated struktur (FePO4), hole lebih banyak berkontribusi terhadap
proses konduksi dibandingkan dengan elektron sehingga delithiated struktur
berfungsi sebagai semikonduktor tipe-p.

Untuk sistem Li2FeSiO4, energi band gap yang diperoleh adalah 0,2 eV
(Gbr. 2). Nilai ini mendekati dengan nilai yang dihasilkan oleh perhitungan
lain[7] sehingga Li2FeSiO4 menunjukan sifat semikonduktor. Jumlah atom
ion litium pada stoichiometry Li2FeSiO4 kemungkinan berpengaruh
terhadap sifat elektronik dari material ini.

3 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

KESIMPULAN
Berdasarkan analisis DOS, LiFePO4bersifat isolator dengan band gap
sebesar 3,8 eV. Konduksi pada LiFePO4 maupun FePO4 dapat terjadi
apabila elektron/hole pada orbital 3d-Fe mengalami perpindahan. Untuk
system Li2FeSiO4, sifat listriknya adalah semikonduktor dengan band gap
0,2 eV. Dengan membandingkan sifat elektronik kedua material maka
Li2FeSiO4 jauh lebih baik dibandingkan dengan LiFePO4 apabila
diaplikasikan untuk material katoda pada baterai litium ion.

DAFTAR PUSTAKA
[1] T. D. K. Wungu, M. K. Agusta, A. G. Saputro, H. K. DipojonodanH.
Kasai, J. Phys. Condensed Mater, 2012, 24, 475506.
[2] O. Garcia-Moreno,M. Alvarez-Vega,F. Garcia-Alvarado,J. GarciaJaca,J. M. Gallardo-Amores,M. L. Sanjuan, dan U. Amador, Chem.
Mater., 2001, 13, 1570.
[3] G. Kresse dan J. Hafner, Phys. Rev. B, 1993, 48,13115.
[4] G. Kresse dan J. Furthmuller, Phys. Rev. B 1996, 54,11169.
[5] ADF manual. Dapat diakses di ww.scm.com
[6] K. Zaghib, A. Mauger, J. B. Goodenough, F. Gendron dan C. M.
Julien, Chem. Mater., 2007, 19, 3740.
[7] P. Larsson, R. Ahuja, A. Nyten dan J.O. Thomas, Electrochem.
Commun., 2006, 8, 797.

4 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Studi Efek Material dan Penghambat Etilen terhadap


Proses Pematangan Buah untuk Aplikasi Industri
Study of Materials and Ethylene Blocker on Fruit Ripening
Process for Industrial Application
Dr.Rizkita RE, Dr. Fenny M. Dwivany & Dr. Brian Yuliarto

ABSTRACT
Ripening is a common process in fruit that makes them more edible. In
general, a fruit becomes sweeter, less green, and softer. In climacteric fruit
(such as banana), ripening is noticeable by a rise in respiration at the
beginning of ripening, which then produce precursor for ethylene synthesis
as plant hormone known to involve with ripening and water vapor.
Ripening usually commences in one region of a fruit, spreading to
neighboring regions as ethylene gas diffuses freely from cell to cell and
integrates the ripening process throughout the fruit until it spoil. Therefore,
the objective of this experiment was to develop container and treatment
which could delay ripening process in climacteric fruit such as banana.
KMnO4 is chemical agents which has a strong oxidative property on
ethylene. However, the permanganate solution will be ineffective if exposed
to light and oxygen. Therefore, airtight bamboo container, which could limit
oxygen diffusion were used in this experiment.
Banana fingers, uniform in physiological age shape and size and free of
fungal infection were selected. Banana fruits were then placed inside
woven bamboo semi vacuum container with treatment as stated: Group A.
Control (room condition), Group B. Bamboo container, Group C. Bamboo
and Potassium permanganate sachet (KMnO4) and carbon. Physical and
chemical quality factors were measured periodically after treatment in 7
days. Visual color changes was captured with camera,carbohydrate content
was tested using iodine, Percentage of total soluble solid (TSS) content was
determined with hand refractometer (oBrix), while firmness was tested
qualitatively.Molecular analysis was conducted with semi-quantitative PCR,
subsequently after total cDNA of banana synthesized. Gene expression level
of maturation-related gene such as MaACO was analyzed within usage of
specific primers. As control of normalization of expression level, GAPDH
gene was used.

5 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Based on observations, banana from Group C indicated the delaying effect
of ripening bananas. This is inferred because based on physiological test
performed, group C showed the best condition among other groups. Lack of
potassium permanganate as ethylene blocker accelerates color change in
banana, shown as yellowing pulp and appearance of sugar spots over time.
In addition, conversion of starch occurs slower in group C than in control
group. This supports data that banana in group C undergo delaying of fruit
maturation. From TSS assay, the content of sucrose in fruit pulp-, sucrose
content or TSS content in banana from group C was less than content from
banana control, although not significant, which indicated delay of
maturation. Only banana from group A and C were analyzed further for its
expression level of MaACO gene. According to the PCR result, MaACO
(~240 bp) were successfully amplified in all banana samples implicated that
ripening-related gene was expressed. Relative expression level was
conducted using semi-quantitative analysis (ImageJ). Semi-quantitative
expression on MaACO showed an increase of expression at chamber
condition and its level expression was relatively lower than
control.Therefore, it could be concluded that treatment with KMnO4 as
ethylene blocker and carbon as water vapor absorbent in bamboo container
increase shelf life of products, which eventually offers several advantages to
both producers and consumers.
Keywords : Banana, bamboo container, carbon, delay ripening, ethylene
blocker (KMnO4).

6 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Curcumin Nanoemulsion for Transdermal Application:


Formulation and Evaluation
Heni Rachmawati1*, Dewa Ken Budiputra1, Sony Suhandono2,
Kusnandar Anggadiredja1
1) School of Pharmacy, Bandung Institute of Technology (ITB)
2) School of Life Science and Technology (ITB)
Jl. Ganesha, Bandung 40132, Indonesia
*Corresponding author, email: hrachma@yahoo.com

ABSTRACT
The aim of this work is to develop a curcumin nanoemulsion for
transdermal delivery. The incorporation of curcumin inside a nanoglobul
should improve curcumin stability and permeability. A nanoemulsion was
prepared by the self-nanoemulsification method, using an oil phase of
glyceryl monooleate, cremophor RH-40 and polyethylene glycol 400.
Evaluation of the nanoemulsion included analysis of particle size,
polydispersity index, zeta potential, physical stability, Raman spectrum and
morphology. In addition, the physical performance of the nanoemulsion in
Viscolam AT 100P gel was studied. A modified vertical diffusion cell and
shed snake skin of Phyton reticulatus were used to study the in vitro
permeation of curcumin. A spontaneously formed stable nanoemulsion has
a loading capacity of 350 mg curcumin/10 gram of oil phase. The mean
droplet diameter, polydispersity index and zeta potential of optimized
nanoemulsion were 85.0+1.5 nm, 0.18+0.0, and -5.9+0.3 mV, respectively.
Curcumin in a nanoemulsion was more stable than free curcumin.
Furthermore, nanoemulsification significantly improved the permeation flux
of curcumin from the hydrophilic matrix gel; the release kinetic of curcumin
changed from zero order to a Higuchi release profile. Overall, the developed
nanoemulsion system not only improved curcumin permeability but also
protected the curcumin from chemical degradation.
KEYWORDS: curcumin, self assembly nanoemulsion, transdermal, shed
snake skin, Higuchi release profile

7 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

INTRODUCTION
Transdermal delivery in the form of a gel or patch is an interesting
alternative for topical route to give local or systemic effects. It can improve
patient compliance and also has some benefits for curcumin, such as
avoiding first pass metabolism, decreasing side or unwanted effects, and
enabling constant blood levels over longer periods of time. However,
curcumin exhibits low skin penetration resulting in poor efficacy. Recently,
a stable curcumin gel has been produced using 15% alcohol (to dissolve
curcumin in the gel). Dimethylsulfoxide (DMSO) is also needed to improve
curcumin release from the gel (1). In contrast to common chemical skin
penetration (using enhancers such as organic solvents which are generally
associated with skin irritation, toxicity and sensitization) a solvent free
topical vehicle based on drug entrapment in oil/water emulsion droplets of
submicron particle is more efficacious in terms of percutaneous absorption,
and is possibly devoid of adverse effects. In addition, the uniqueness of the
large internal hydrophobic core of oil/water submicronized emulsion
droplets allows high solubility for water insoluble topically active
ingredients and also improves on carrying water, an excellent softener, to
the skin.
This report describes a more effective and efficient strategy to deliver
curcumin via the transdermal route. This work is not only focused on a
better release of curcumin from a gel matrix, but also on enhancing skin
permeation as well as on the stability of the curcumin to obtain better
bioavailability.

METHODS
A conventional emulsion was prepared using GMO (16% w/v) and
Cremophor RH40 (4% w/v). Curcumin (0,25% w/v) was added under
stirring to GMO and Cremophor RH 40. The mixture was then dispersed in
water under stirring for 30 minutes to form an emulsion. A nanoemulsion of
curcumin formed spontaneously in an oil phase of GMO, cremophor RH40,
and PEG 400 (1:8:1). Various amounts of curcumin (10, 25, 50, 100, 250,
350, 500, and 750 mg) were added to 10 gram of oil phase. Physical
characterization was performed including globule size and distribution,
surface charge, loading capacity, Raman spectroscopy, morphology and in
vitro release. The particle size, polydispersity index, and zeta potential of
nanoemulsion were determined using a particle size and zeta potential
analyzer (DelsaTM Nano, Beckman Coulter, USA). Curcumin nanoemulsion
then was formulated into topical gel and permeation study using skin model
was performed.

8 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
.

RESULTS AND DISCUSSION


Nanoemulsion using our established composition formed spontaneously
after water addition. Self nanoemulsification is only achieved with some
oils, surfactants, and co-surfactants at a certain ratio. Selection of an
appropriate oily phase is very important, as it influences the selection of
other ingredients in oil/water nanoemulsions,. Usually, the oil with the
maximum solubility for the selected drug is chosen as the oily phase for the
formulation of nanoemulsions. This helps to achieve maximum drug
loading (2). Generally, surfactant alone cannot lower the oil-water
interfacial tension sufficiently to yield a nanoemulsion; this necessitates the
addition of an amphiphillic short chain molecule or cosurfactant to lower
the surface tension close to zero. Co-surfactants penetrate into the surfactant
monolayer, providing additional fluidity to the interfacial film and thus
disrupting the liquid crystalline phases which are formed when the
surfactant film is too rigid (14).
Figure 1A shows a transmission electron micrograph of a curcumin
nanoemulsion, indicating monodisperse speric of curcumin nanoemulsion
with size around 50 nm. This nanoemulsion shows a significant
improvement (1.6 fold, P < 0.05) of cumulative curcumin permeated from
nanoemulsion gels compared to gel containing free curcumin (figure 1B).
A

Figure 1. Transmission electron microscopy of curcumin nanoemulsion (A)


and Permeation profiles of curcumin through shed snake skin from gel
containing curcumin nanoemulsion and gel containing curcumin (Mean +
SD, n = 3).

9 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Nitrogen atom (11.75%) was detected by energy dispersive x-ray


spectroscopy in BSA loaded PVA nanofibers, indicating that protein (BSA)
was included in the nanofibers. Spectrogram of BSA loaded PVA
nanofibers produced from FTIR indicated good compatibility between
them. About 77% BSA was released in 30 second, and reached 100% within
2 minutes.
CONCLUSION
Curcumin is widely used as a potent anti-inflammatory herbal drug. Its
activity is similar to the NSAIDs in inflammatory pain management. An
early study pointed out that the hydroxyphenyl unit in curcumin confers
anti-inflammatory activity. Some problems are related to the oral
administration of curcumin and topical application is difficult due to its low
permeability through the skin. Our gel-containing nanoemulsion of
curcumin seems to be promising as a transdermal delivery system for
curcumin. Mixing of GMO:Chremophor RH40:PEG 400 (1:8:1) resulted in
the spontaneous formation of nanoemulsion, and successfully encapsulated
curcumin with better physicochemical stability, prolonged shelf file and
enhanced skin permeability. As transdermal delivery requires this
permeability to provide the required therapeutic dose, encapsulation of
curcumin into nanoemulsion seems to be promising for transdermal delivery
of curcumin.

ACKNOWLEDGEMENT
This work is supported by JICA Project 2013.

REFERENCES
[1]. [1] Sharma S, Parwa S, Jain UK. Development and evaluation of
topical gel of curcumin from different combination of polymers
formulation & evaluation of herbal gel. Int J Pharm Pharm Sci.
2012;4:452-456.
[2]. Date AA, Nagarsenker MS. Parenteral microemulsions: an overview.
Int J Pharm. 2008;355(1-2):19-30.

10 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Simulasi Ab Initio Untuk Aplikasi Bidang Energi dan


Teknologi Pangan : Adsorpsi Etilen (C2H4) di permukaan
TiO2 dan hidrazin (N2H4) di permukaan logam transisi
Mohammad Kemal Agusta(1), Dea Indriani(2), Hermawan K.
Dipojono(1),
(1) KK Teknik Fisika, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi
Bandung
(2) KK Bioteknologi Mikroba, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati,
Institut Teknologi Bandung
Email : kemal@fti.itb.ac.id

ABSTRAK
Adsorpsi molekul di permukaan bahan memainkan peranan penting dalam
teknologi nano, terutama untuk aplikasi teknologi seperti katalisis atau
penyimpanan. Adsorpsi hidrazin dipermukaan logam transisi merupakan
bagian dari mekanisme katalitik pada teknologi fuel-cell, sementara
adsorpsi etilen di TiO2 merupakan kunci dari teknologi pengontrolan
pematangan buah-buahan. Simulasi ab initio berbasis teori fungsional
kerapatan (Density Functional Theory/DFT) dilakukan untuk menyelidiki
mekanisme dari adsorpsi etilen di TiO2 dan hidrazin di logam transisi: Co,
Ni, Cu, Pd dan Pt. Penyelidikan menunjukkan bahwa hidrazin teradsorpsi
secara kemisorpsi sementara etilen secara fisisorpsi. Pemodelan terhadap
interaksi orbital hidrazin dengan pita-d dari permukaan logam
menghasilkan formula yang dapat memprediksi kecenderungan perilaku
hidrazin di logam transisi. Adsorpsi etilen di TiO2 relatif lemah dengan
kecenderungan interaksi difasilitasi oleh gaya Van der Waals.
Kata kunci : hidrazin, etilen, titanium oksida, teori fungsional kerapatan,
ab initio

PENDAHULUAN
Perkembangan dari nanoteknologi membawa dampak besar pada bidangbidang yang penting bagi umat manusia, seperti energy dan pangan.
Nanoteknologi memungkinkan rekayasa pada skala atomik terhadap
berbagai jenis bahan, menngendalikan sifat fisis dan kimiawinya, untuk
diterapkan untuk berbagai aplikasi. Fenomena yang mendasari
nanoteknologi adalah interaksi antara molekul dengan permukaan bahan.

11 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Fenomena inilah yang mendasari cara kerja teknologi seperti katalisis,
penyimpanan gas, dan sensor.
Dalam makalah yang akan dipresentasikan ini, akan didiskusikan fenomena
adsorpsi dari etilen (C2H4) di permukaan TiO2 dan hidrazin (N2H4) di
permukaan berbagai logam transisi. Masing-masing menemukan
relevansinya pada bidang energi dan pangan.
Reaksi adsorpsi etilen di permukaan TiO2 memainkan peranan penting
dalam teknologi pengontrolan pematangan buah-buahan karena TiO2
diyakini dapat menangkap etilen dan memfasilitasi penguraiannya melalui
reaksi fotokatalitik [1,2]. Etilen diketahui sebagai gas yang memicu
pematangan pada buah-buahan. Adsorpsi hidrazin di berbagai permukaan
logam transisi merupakan fenomena penting yang mendasari kerja dari
katalis pada permukaan anoda dari direct hydrazine fuel cell [3]. Fuel-cell
jenis ini dikenal sebagai fuel-cell jenis alkali yang mana pengoperasiannya
tidak membutuhkan logam mahal seperti platinum.
Rekayasa nanoteknologi pada bahan-bahan oksida maupun logam, diyakini
dapat meningkatkan performa katalitik dari bahan tersebut. Namun,
rekayasa tersebut harus dipandu oleh pengetahuan deskripsi mekanisme dari
fenomena katalitik (dimana adsorpsi adalah bagiannya) tersebut di tingkat
atomik. Pemahaman mendetail terhadap adsorpsi molekul di permukaan
bahan hanya dapat diperoleh dari deskripsi mekanisme di skala atomik.
Dalam konteks inilah simulasi ab initio memainkan peranan penting karena
simulasi ini dapat memberikan pemahaman rinci dari interaksi molekul
dengan permukaan bahan. Simulasi ini juga memiliki akurasi tinggi krn
sesuai dengan namanya, ab initio, simulasi ini hanya didasarkan pada
hukum-hukum fundamental mekanika kuantum serta pada prinsipnya tidak
membutuhkan parameter-parameter artifisial.
Dalam makalah ini, akan disampaikan analisa hasil kalkulasi ab initio
terhadap sistem adsorpsi etilen di TiO2 dan hidrazin di berbagai logam
transisi. Mekanisme dari adsorpsi, serta pengaruhnya terhadap reaktifitas
serta relevansinya dalam desain dan perancangan material katalis akan
disampaikan.

METODOLOGI PENELITIAN
Kalkulasi ab initio dilakukan dengan menggunakan metode Teori
Fungsional Kerapatan (Density Functional Theory) [4,5]. Basis set yang
digunakan adalah gelombang bidang (Plane Wave) yang cocok untuk
merepresentasikan kristal periodik. Ekspansi basis set dibatasi pada energi
cut-off 400 eV untuk sistem adsorpsi hidrazin dan 520 eV untuk adsorpsi
etilen. Fungsional untuk suku Exchange-correlation dinyatakan

12 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
menggunakan fungsional Generalized Gradient Approximation (GGA) dari
Perdew-Burke-Ernzerhoff (PBE) [6,7] . Integrasi di Brillouin Zone
dilakukan pada grid 4x4 dan 6x6. Ion atom dinyatakan dengan metode
Projector Augmented Wave (PAW).
Permukaan logam transisi dimodelkan dengan lempengan empat sampai
lima lapisan, sementara permuakaan TiO2 dimodelkan dengan lempengan
terdiri dari 4 lapisan. Periodisitas sistem direpresentasikan dengan super-sel
ukuran 2x2 dan 3x3, yang merepresentasikan coverage 0.25 dan 0.11 ML
utk adsorpsi hidrazin dan 2x2 untuk adsorpsi etilen.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Energi adsorpsi dari hidrazin dipermukaan logam transisi: Co(0001),
Ni(111), Cu(111), Pd(111) dan Pt(111) [8-10]pada coverage 0.25 ML dan
0.11 MLditampilkan pada grafik di gambar 1. Energi adsorpsi dihitung
untuk struktur adsorpsi pada tiga konformasi hidrazin (anti, cis dan gauche).
Terlihat bahwa adsorpsi paling stabil diberikan oleh konformasi anti,
dengan energy adsorpsi terkuat pada Pt(111) dan terlemah pada Cu(111).
Mekanisme dari adsorpsi hidrazin di permukaan logam-logam ini mencakup
transfer muatan dari HOMO (highest occupied molecular orbital) yang
memberikan ikatan kovalen (bonding dan anti-bonding) dan HOMO-1
dengan karakteristik ikatan dative [8]. Mekanisme ini diilustrasikan di
gambar.2. Mekanisme ini selain menjelaskan pembentukan ikatan kimia
antara hidrazin dan logam, juga dapat menjelaskan kecenderungan/trend
kekuatan ikatan . Ini dapat dilakukan dengan mengkorelasikan posisi dari
anti-bonding state dengan posisi pusat pita-d dari permukaan logam. Posisi
pita-d mengikuti suatu pola tertentu pada tabel periodik sehingga model ini
dapat juga menjadi panduan dalam melakukan perancangan bahan katalis
untuk hidrazin. Model dinyatakan dengan formula berikut [10]:

= 2 1
+

+ 1+

dan
adalah energi dari HOMO dan LUMO,
dimana
dan

dan
adalah
adalah kopling antara HOMO, LUMO dan pita-d,
pengisian level Fermi dan posisi energi pusat pita-d,
dan
adalah
overlap orbital HOMO, LUMO dengan pita-d.

13 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3
Akurasi dari model dapat dilihat pada Gambar 3 dimana trend kekuatan
adsorpsi hidrazin dapat diramalkan dengan baik oleh model ini.
Adsorpsi etilen pada TiO2 berperilaku lebih kompleks daripada adsorpsi
hidrazin di permukaan logam. Hal ini disebabkan oleh karakteristik bahan
oksida yang memiliki stoikiometri lebih rumit dibanding logam, sehinggal
adsorpsi bergantung pada banyak parameter. Ini menjadikan perumusan
model/formula seperti pada kasus hidrazin di permukaan logam, sulit untuk
dilakukan pada kasus adsorpsi di permukaan TiO2. Selain itu oksida seperti
TiO2 tergolong pada sistem dengan korelasi elektron kuat, yang mana suku
exchange-correlation-nya belum dapat secara akurat dideskripsikan dengan

14 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
GGA-PBE. Gambar 4 menunjukkan struktur stabil dari adsorpsi etilen di
permukaan TiO2 anatase (001). Etilen memilih untuk teradsorpsi di situs
Ti5c dengan konfigurasi ikatan C-C sejajar dengan permukaan. Terlihat
bahwa ikatan antara etilen dan atom Ti cukup lemah, tercermin dari jarak
C-Ti sekitar 2.83 . Hasil analisa menunjukkan bahwa mekanisme adsorpsi
etilen didominasi oleh interaksi fisisorpsi, artinya tidak terbentuk ikatan
kimia antara TiO2 dan etilen, interaksi antara keduanya difasilitasi oleh
ikatan van der waals yang relatif lemah jika dibandingkan dengan
kemisorpsi seperti pada hidrazin dimana terdapat ikatan kimia yang kuat.
Hal ini ditegaskan dengan hasil yang menunjukkan bahwa struktur etilen
tidak termodifikasi oleh adsorpsi, hal ini berbeda dengan kasus hidrazin
dimana ikatan kimia yang terbentuk juga ikut memodifikasi struktur
hidrazin yang teradsorpsi. Interaksi fisisorpsi juga berarti tidak ada
pencampuran antara orbital pada etilen dengan struktur pita pada TiO2, hal
ini jelas tidak menguntungkan dari segi kemampuan fotokatalitik. Untuk itu
diperlukan kajian lebih lanjut dengan arahan untuk menghasilkan ikatan
kimia antara etilen dan TiO2, ini dapat dilakukan dengan memberikan
vakansi atau ketidakmurnian/pengotor pada TiO2.

Gambar 4

15 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

KESIMPULAN
1.

2.

3.

Hidrazin teradsorpsi secara kemisorpsi pada logam transisi (Co,


Ni, Cu,Pd dan Pt). Adsorpsi terkuat ada pada permukaan Pt(111)
dan terlemah pada Cu(111). Hidrazin teradsorpsi pada konformasi
anti.
Mekanisme adsorpsi hidrazin terdiri dari transfer muatan antara
HOMO dan pita-d untuk membentuk ikatan kovalen, serta ikatan
dative dari HOMO-1. Mekanisme ini dapat digunakan untuk
memodelkan reaktifitas hidrazin diatas permukaan logam, yang
dapat diterapkan dalam perancangan bahan katalis.
Etilen teradsorpsi secara fisisorpsi pada situs Ti5c. Ikatan yang
terbentuk lemah dengan dominasi gaya van der waals. Struktur
etilen tidak termodifkasi dengan adsorpsi. Diperlukan kajian lebih
jauh untuk memperoleh kemisorpsi dari etilen di TiO2 agar
fotokatalisis dapat terfasilitasi dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
[1] M. Hussain, S. Bensaid, F. Geobaldo, G. Saracco, N. Russo, Ind.
Eng. Chem. Res. 50 (2011) 2536-2543.
[2] D-R. Park, J. Zhang, K. Ikeue, H. Yamashita, M. Anpo, 185 (1999)
114-119.
[3] K. Asazawa, T. Sakamoto, S. Yamaguchi, K. Yamada, H. Fujikawa,
H. Tanaka, K. Oguro, J. Electrochem. Soc. 156, (2009) B509-B512.
[4] P. Hohenberg, W. Kohn, Phys. Rev. 136 (1964) B864.
[5] W. Kohn, L. J. Sham, Phys. Rev. 140 (1965) A1133.
[6] J. P. Perdew, K. Burke, M.,Ernzerhof, Phys. Rev. Lett. 77 (1996)
3865.
[7] J. P. Perdew, K. Burke, M.,Ernzerhof, Phys. Rev. Lett. 78 (1997)
1396.
[8] M. K. Agusta, H. Kasai, Surf. Sci. 606 (2012) 766-771.
[9] M. K. Agusta, W. A. Dio, M. David, H. Nakanishi, H. Kasai, Surf.
Sci. 605 (2011), 1347-1353.
[10] M. K. Agusta, H. Kasai, J. Phys. Soc. Jpn. 81 (2012) 124705.

16 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Low-temperature Preparation of Nanoparticles Tetragonal


Zirconia Polycrystal Alumina-Stabilized Zirconia with
Sugar as a Masking Compound
Rifki Septawendar1,2, Suhanda Sutardi1, Soesilowati1 and Bambang
Sunendar Purwasasmita2
1
Department of Advanced Ceramics, Glass, and Enamel, Center for
Ceramics, Ministry of Industry of Indonesia,
Akhmad Yani 392, Bandung 40272, West Java, Indonesia
2
Laboratory of Advanced Material Processing, Engineering Physics
Department, Institute of Technology Bandung,
Ganesa 10, Bandung, West Java, Indonesia
ABSTRACT
Nanoparticles alumina-stabilized zirconia (ASZ) were synthesized from
zirconium salt of ZrOCl28H2O and approximately 30 wt % alumina
stabilizer with amonia as a catalyst and sugar as a masking compound at a
room temperature. In the preparation process of nanoparticles ASZ, the
calcination was conducted at temperatures of 500-800C. The calcined
powder was analyzed and characterized with X-ray diffraction (XRD),
transmission electron microscopy (TEM), and scanning electron microscopy
(SEM) studies. Crystallization of the as-synthesized ASZ in the temperature
range of 500-800C produced the tetragonal phase of ZrO2-30 wt % Al2O3
solid solution at the low temperature of 500C. A further phase
transformation of the ASZ maintained the tetragonal ZrO2-30 wt % Al2O3
solid solutions at 600C. Besides, the addition of sugar by weight ratio of
1:6 to the total weight precursors produced nanoparticles ASZ less than 20
nm in size at that temperature. Nanometer grain sizes of the tetragonal
ZrO2-30 wt % Al2O3 solid solutions were stable at 800C. The results
indicate that the method represents an effective methodology for the
preparation of nanoparticles alumina-stabilized zirconia at a lower
temperature.
Key words: Nanoparticles, alumina stabilized zirconia, sugar, masking
compound, calcination temperature

17 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

INTRODUCTION
Stabilized zirconia is one of the interesting ceramic materials due to their
excellent properties including high fracture strength (~1500MPa) and high
toughness (~13MPa m1/2) [1, 2]. It has been widely used in many
applications, such as solid oxide fuel cells (SOFC), oxygen sensors,
refractory materials, capacitors, catalyst substrates, and as abrasives [2, 3, 4,
5]. The tetragonal zirconia polycrystal (TZP), a type of stabilized zirconia
materilas, has received special attention since it has the possibility of
obtaining a nanograined bulk ceramic with a controllable microstructure
and improved mechanical properties [1]. Alumina is particularly added into
zirconia to stabilize the high temperature zirconia polymorphs to lower
temperature [6]. The early studies explain that alumina is soluble to a
limited degree in zirconia, and can stabilize the tetragonal polymorph to
lower temperature than for pure zirconia [7, 8]. However, other studies
report substantially higher solubility of alumina in zirconia up to 40 wt% at
temperatures in the range of 800 1100C [6, 9,10,11].
The present paper describes the preparation of nanoparticles aluminastabilized zirconia (ASZ) from zirconium salt, ZrOCl28H2O and
approximately 30 weight % Al2O3 stabilizer with ammonia as a catalyst and
sugar as a masking compound; and calcined at the elevation temperatures
from 500C to 800C.
EXPERIMENTS
About 30 grams of ZrOCl2.8H2O was dissolved in 150 ml of distilled water
to give a Zr4+ aqueous solution. Whereas 20 grams of Al2(SO4)318H2O
were weighed and dissolved in distilled water to give a Al3+ aqueous
solution. The aluminum salt weighed might produce approximately 30
weight % Al2O3 of zirconia. The pH of both aqueous solutions were
adjusted by adding 25% ammonia solution drop wise under vigorous
stirring, producing Zr(OH)4 and Al(OH)3 sols, until the final pH both
solutions recorded was 10 and 4, respectively. Both of Zr(OH)4 and
Al(OH)3 sols were mixed under constant stirring at approximately 800 rpm,
until the final pH was 9. An appropriate amount of sugar solution was added
slowly to the mixture such that the metal salts to sugar weight ratio was
maintained at 6:1; and stirred constantly at approximately 800 rpm. The
mixture was constantly stirred and slowly heated until a concentrated
yellowish brown gel was formed at 100C. The gel was then dried in an
oven at 200C and swollen to produce light black charcoal precursors. The
precursors were successfully calcined at 500-800C in an Heraus electric

18 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
furnace to give very fine powders. All calcined powders were characterized
by a PAN analytical X-ray instrument and a JEM-1400 120 kV TEM.
RESULTS AND DISCUSSION
X-Ray analysis on the zirconia phase transformation of ASZ
Figure 1 shows XRD patterns of ASZ samples calcined 5 hrs at different
temperatures of 500C, 600C, 700C, and 800C.
According to Figure 1, since sugar was used as a masking compound in a
water medium, the precursors of alumina-stabilized zirconia which
catalyzed with ammonia was found to transform and crystallize at the lower
temperature of 500C, with the broadening main peak of the t-ZrO2 at
diffraction angles 2 of 30.394, corresponding to the (1 1 1) crystal plane
of the t-ZrO2 structure (PDF2. 140534). By increasing temperature from
500C to 600C, the t-ZrO2 peaks increased significantly at diffraction
angles 2 of 30.394 (2-CuK), corresponding to the (1 1 1) and (1 0 1)
crystal planes of the t-ZrO2 structures, as refering to PDF2. 140534, 791771
and 800965 (see in Figure 1). At the higher temperatures of 700 and
800C, the t-ZrO2 was the only phases present in the sample of ASZ
whereas no other zirconia phases have been identified at these temperatures.
Therefore, according to the X-ray diffraction analysis, it is suggested that
alumina is in solid solution in the the tetragonal phase of zirconia.

Figure 1, XRD paterns of an as-heated sample at elevated calcining temperatures on


the formation of ASZ.

19 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Morphology and microstructure of the ASZ

Figure 2: TEM bright field images and an ED result of the nanoparticles ASZ
calcined at 600C for 5 hours

Nanoparticles with their large surface areas often agglomerate to form


lumps to minimize the total surface area or interfacial energy of the system.
An appreciable formation of agglomerate was observed in the
microstructure of nanoparticles ASZ after thermal treatment at 600C, as
shown by TEM bright field images in Figure 2. The agglomeration refers to
adhesion of the particles to each other because of van der Waals forces of
attraction, which is significantly higher in nanoparticles [12]. Nevertheless,
the sizes of ZrO2 powders are found to be less than 20 nm at the calcination
temperature of 600C. Besides, the electron diffraction (ED) patterns of the
ASZ sample is indexed to the tetragonal zirconia phase with the crystal
plane orientations of (101), (002), (102), (112) and (103). This ED result
corroborates the XRD result for the ASZ sample, showing the formation of
the t-ZrO2 phase in the sample.
CONCLUSIONS
Nanoparticles ASZ were prepared from zirconium salt and approximately
30 wt % alumina stabilizer with amonia as a catalyst and sugar as a masking
compound at the temperatures of 500-800C. Crystallization of the assynthesized ASZ produced the tetragonal phase of ZrO2-30 wt % Al2O3
solid solution at the low temperature of 500C. A further phase
transformation of the ASZ produced the tetragonal ZrO2-30 wt % Al2O3
solid solutions less than 20 nm in size at 600C. The results indicate that the
method represents an effective methodology for the preparation of
nanoparticles alumina-stabilized zirconia at a lower temperature.

20 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

REFERENCES
1. Vasylkiv O, Sakka Y, and Skorokhod VV, Low-Temperature Processing
and Mechanical Properties of Zirconia and ZirconiaAlumina
Nanoceramics, J. Am. Ceram. Soc., 2003; 86(2): 299304.
2. Patil KC, Hedge MS, Rattan T, Aruna ST, Chemistry of Nanocrystalline
Oxide Materials, Combustion Synthesis, Properties and Applications,
New Jersey: World Scientific. 2005.
3. Li Z, Lee WE, and Zhang S, Low-Temperature Synthesis of CaZrO3
Powder From Molten Salts, J. Am. Ceram. Soc., 2007; 90(2): 364368.
4. Muccillo R, Buissa Netto RC, and Muccillo ENS, Synthesis and
Characterization of Calcia Fully Stabilized Zirconia Solid Electrolytes,
Matter. Lett., 2001; 49: 197-201.
5. Costa GCC and Muccillo R, Synthesis of Scandia-Stabilized Zirconia
Nanoparticles By The Polyacrylamide Technique, Solid State Ionics,
2008; 179: 12191222.
6. Stough MA and Hellmann JR Jr., Solid Solubility and Precipitation In A
Single-Crystal AluminaZirconia System, J. Am. Ceram. Soc., 2002;
85(12): 28952902.
7. Loudjani MK and Corts R, Study of the local environment around
zirconium ions in polycrystalline -alumina in relation with kinetics of
grain growth and solute drag, J. Eur. Ceram. Soc., 2000; 20(10): 1483
1491.
8. Jerebtsov DA, Mikhailov GG, and Sverdina SV, Phase Diagram of The
System: Al2O3ZrO2, Ceram. Int. 2000; 26(8): 821823.
9. Gandhi AS, Jayaram V, and Chokshi AH, Dense Amorphous Zirconia
Alumina By Low-Temperature Consolidation of Spray-Pyrolyzed
Powders. J. Am. Ceram. Soc., 1999; 82(10): 26132618.
10. Srdi VV, Winterer M, and Hahn H. Sintering Behavior of
Nanocrystalline Zirconia Doped With Alumina Prepared By Chemical
Vapor Synthesis, J. Am. Ceram. Soc., 2000; 83(8): 18531860.
11. Garcia RHL, Ussui V, De Lima NB, Muccillo ENS, and Lazar DRR,
Physical Properties of Alumina / Yttria-Stabilized Zirconia Composites
with Improved Microstructure, Journal of Alloys and Compounds,
2009; 486: 747753.
12. Santos V, Zeni M, Bergmann CP, and Hohemberger JM, Correlation
Between Thermal Treatment and Tetragonal / Monoclinic
Nanostructured Zirconia Powder Obtained By SolGel Process, Rev.
Adv. Mater. Sci., 2008; 17]: 62-70.

21 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Sintesis dan Karakterisasi Alumina Nanofiber dari


Kaolin Melalui Metode Pengarahan Struktur Fiber
Menggunakan Surfaktan
Eneng Maryani, Subagjo, Ahmad Nuruddin, dan Bambang Sunendar
ABSTRAK
Gamma alumina telah berhasil diekstraksi dari kaolin dengan cara
amorfisasi kaolin secara termal dilanjutkan dengan leaching oleh asam
klorida. Larutan ion aluminium yang dihasilkan dimurnikan terlebih dahulu
dari ion Fe3+dengan cara mereduksinya menjadi ion Fe2+sebelum ion
Al3+diendapkan pada pH 5,5. Pembentukan partikel -alumina nano fiber
dilakukan dengan cara pengarahan struktur fiber oleh surfaktan PEG dengan
perlakuan aging oleh ultrasonic pada kondisi sintesis optimum yaitu suhu 80
o
C selama 2 jam, pH 9, dan penambahan PEG 6000/Al = 0,133. Partikel
yang dihasilkan berdiameter sekitar 25 - 40 nm, panjang beberapa
micrometer dengan luas permukaan 323,7 m2/g, volume pori total 1,92
cm3/g dan diameter pori rata-rata 23,7 nm.
PENDAHULUAN
Gamma alumina merupakan material yang sangat penting untuk
diaplikasikan sebagai katalis atau penyangga katalis pada berbagai proses
seperti pemurnianminyakbumi, reaksi Claus danpengendaliemisi otomotif.1
Hal ini dikarenakan gabungan karakteristiknya yaitu memiliki luas
permukaan yang besar dan active sites pada permukaannya. 1Pada
aplikasinya di industri, -alumina masih menghadapi kendala-kendala, di
antaranya: metoda sintesis konvensional biasanya hanya dapat memperoleh
luas permukaan< 250 m2/g dan volume pori<0,50 cm3/g. 1Peningkatan
kualitasalumina dapat dilakukan dengan membentuk fiber. 2Penelitian
sintesisalumina fiber yang telah dilakukan menggunakan prekursor
sintesis. 2,3Pada penelitian ini dilakukan sintesisalumina nano fiber dari
bahan alam kaolin local dengan metode pengarahans truktur fiber oleh
surfaktan PEG.
METODOLOGI

22 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Bahan baku yang digunakan adalah Kaolin Belitung dengan kandungan
senyawa kimia (% berat): Al2O336,66; SiO247,60; Fe2O3 0,30; CaO 0,52;
MgO 0,65; TiO2 0,21; Na2O 0,42; K2O 0,32; dan hilang pijar 13,32. Kaolin
diamorfisasi secara termal menjadi metakaolin. Ion Al3+diekstrak dari
metakaolin melalui pemanasan pada suhu 90 oCs elama 7 jam. Pemurnian
ion Al3+ dilakukan dengan cara mereduksi Fe3+ menjadi Fe2+ sebelum ion
Al3+ diendapkan pada pH ~5,5. Endapan ditambah polietil englikol (PEG)
6000 dengan komposisi PEG/Al = 0,133dan disuspensikan kedalam larutan
ammonium bikarbonat kemudian diultrasonik oleh alat pencuci ultrasonic
pada suhu 80 oC.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Alumina yang dihasilkan memiliki fasa Kristal alumina sesuai dengan
pola alumina pada JCPDS no. 00-010-0425 dengan tiga puncak refleksi
utama yaitu pada 2 = 37,2 0,1 (refleksi 311), 2 = 45,6 1 (400) dan
2 = 66,9 1 (440). 4Gamma alumina tersebut memiliki kadar Al2O397,9
6%, sudah memenuhi spesifikasi produk komersial dari Sasol dan Show
Denko.

Gambar 1 Morfologi-alumina
Dari Gambar 1 diperoleh morfologi alumina dengan partikel berbentuk
nano fiber berdiameter ~25-40 nm dan panjang beberapa mikrometer. Hal
ini terjadi karena adanya pengarahan pertumbuhan partikel alumina yang
memanjang oleh PEG sebagai template.

23 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Surfaktan PEG mengarahkan struktur alumina nanofiber melalui
pembentukan ikatan hydrogen antara gugus polieter pada molekul PEG
dengan gugus hidroksil pada precursor AlOOH sehingga pertumbuhannya
memanjang di sepanjang permukaan PEG.
Gamma alumina yang dihasilkan memiliki luas permukaan 323,7 m2/g, Vpori
total 1,92 cm3/g dan dpori rata-rata 23,7 nm.
KESIMPULAN
Gamma alumina nanofiber berdiameter ~25-40 nm, panjang beberapa
mikrometer, luas permukaan 323,7 m2/g, Vpori total 1,92 cm3/g dan dpori ratarata 23,7 nm telah disintesis dari kaolin dengan metode pengarahan struktur
fiber oleh PEG melalui aging dengan ultrasonik.
DAFTAR PUSTAKA
1

Zhang, Z. dan Pinnavaia, T.J. (2002) : Mesostructured Al2O3 with a


Lathlike Framework Morphology, J. Am. Chem. Soc., 124, 12294-12301
2

Martnez, A., Prieto, G., dan Rolln, J. (2009) : Nanofibrous Al2O3 as


Support for Co-based Fischer-Tropsch Catalysts: Pondering the Relevance
of Diffusional and Dispersion Effects on Catalytic Performance, Journal of
Catalysis, 263, 292-305
3

Zhu, Z., Liu, H., Sun, H., dan Yang, D. (2009) : Surfactant Assisted
Hydrothermal and Thermal Decomposition Synthesis of Alumina
Microfiber with Mesoporous Structure, Chemical Engineering Journal, 155,
925-930
4

Rozita, Y., Brydson, R., dan Scott, A.J. (2010) : An Investigation of


Commercial Gamma-Al2O3 Nanoparticles, Journal of Physics: Conference
Series, 241, 1-4.

24 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Sintesis Nanokomposit Fe3o4/Zeolit dengan Metode


Pemanasan Microwave dan Pengujian Sifat Katalitiknya
Pada Penurunan Viskositas Minyak Berat
Pipit Fitriani1, Shanty Merissa1, Ferry Iskandar1,*, Rino R. Mukti2,
Khairurijal1, and Mikrajuddin Abdullah1
1
Program Studi Fisika, FMIPA, Institut Teknologi Bandung
2
Program Studi Kimia, FMIPA, Institut Teknologi Bandung
Email: ferry@fi.itb.ac.id

ABSTRAK
Nanokomposit Fe3O4/Zeolit sebagai katalis untuk menurunkan viskositas
minyak berat pada reaksi aqutermolisis telah berhasil disintesis dengan
metode pemanasan microwave. Zeolit yang digunakan merupakan zeolit
alam tipe heulandite yang telah dilakukan milling selama 8 jam aktivasi
termal pada temperatur 300 oC selama 3 jam. Pada penelitian ini pengaruh
waktu pemanasan microwave dan variasi komposisi zeolit pada komposit
diinvestigasi. Nanokomposit Fe3O4/Zeolit kemudian dilakukan karakterisasi
untuk meninjau struktur kristal, morfologi partikel, dan luas permukaannya
menggunakan XRD, SEM, dan BET. Selanjutnya dilakukan uji sifat
katalitik pada minyak berat dalam autoclave yang berlangsung selama 6 jam
dengan temperatur 200 oC. Hasil menunjukkan nanokomposit Fe3O4/Zeolit
dengan rasio 1:4 menjadi katalis yang paling baik dalam menurunkan
viskositas minyak berat hingga 92%.
Kata kunci : minyak berat, zeolit, katalis, aquatermolisis
PENDAHULUAN
Populasi masyarakat yang semakin meningkat menyebabkan kebutuhan
terhadap sumber energi minyak bumi juga meningkat. Dari persediaan
minyak bumi yang masih tersisa, minyak berat dan bitumen menjadi bagian
yang cukup dominan yaitu 70% dari setiap 1 triliun barel minyak bumi [1].
Oleh karena itu, saat ini minyak berat dilihat sebagai sumber energi masa
depan karena diperkirakan masih memiliki total cadangan sebanyak 6,3
trilliun barel [2]. Namun viskositas yang tinggi membuat pemanfaatan
minyak berat menjadi terbatas. Salah satu cara untuk mereduksi viskositas
minyak berat yaitu reaksi aquatermolisis [3]. Saat proses aquatermolisis
diyakini tidak hanya menurunkan viskositas minyak berat namun juga
memperbaiki kualitas dari minyak berat tersebut.

25 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Beberapa penelitian menunjukkan reaksi aquatermolisis dengan
menggunakan katalis ternyata dapat menurunkan viskositas lebih baik [3-6].
Material yang digunakan sebagai katalis tersebut sebagian besar merupakan
logam transisi dan senyawa oksidanya. Besi menjadi kandidat katalis yang
baik karena unsurnya cukup melimpah di bumi dan proses sintesis besi
oksida sebagai katalis relatif aman karena besi sendiri merupakan unsur
yang aman.
Penggunaan mineral pada reaksi aquatermolisis juga dapat menurunkan
viskositas minyak berat lebih efektif [3]. Zeolit dikenal sebagai salah satu
mineral yang memiliki sifat katalitik yang baik [7]. Dengan
menggabungkan besi oksida dan zeolit alam sebagai suatu komposit
diharapkan dapat meningkatkan sifat katalitik keduanya. Oleh karena itu,
tujuan dari penelitian ini adalah mensintesis nanokomposit Fe3O4/zeolit
dengan metode pemanasan microwave diharapkan menjadi katalis yang
mudah dibuat dan memiliki sifat yang baik sehingga dapat menurunkan
viskositas minyak berat lebih signifikan.
METODOLOGI PENELITIAN
FeCl3.6H2O, FeSO4.7H2O, zeolit dilarutkan dalam 50 ml aqua dan distirring
di magnetic stirrer pada temperatur ruang 1200 rpm. 10 ml Larutan PEG
20000 ditambahkan ke dalam larutan awal tersebut. NH4OH 10% juga
diteteskan perlahan hingga campuran berwarna hitam dan mencapai pH 10.
Campuran dipanaskan dalam microwave 600 W. Hasil endapan dicuci
sebanyak tiga kali dengan aqua dm dan satu kali dengan alkohol.
Selanjutnya dikeringkan pada T=100oC.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil XRD pada Gambar 1 menunjukkan kesesuain struktur kristal dengan
Fe3O4 JCPDS file no. 75-0033 dan pola yang terbentuk sesuai dengan
struktur FCC pada Fe3O4[8]. Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa
waktu pemanasan microwave akan menghasilkan ukuran kristal yang
semakin besar. Dengan menggunakan metode Scherer diperoleh ukuran
kristal nanokomposit Fe3O4/zeolit 50% yaitu 24.3 nm dan 27.2 nm untuk
waktu pemanasan microwave 7 dan 9 menit, sedangkan kristal Fe3O4/zeolit
50% belum terbentuk saat pemanasan microwave masih 5 menit.

26 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Gambar 1. Hasil karakterisasi XRD nanokomposit Fe3O4/Zeolit 50% untuk


variasi waktu pemanasan microwave (a) 5 menit, (b) 7 menit, dan (c) 9
menit.
Selanjutnya nanokomposit Fe3O4/zeolit 50% dengan waktu pemanasan
microwave 7 menit dilakukan karakterisasi SEM seperti pada Gambar 2 dan
terlihat nanokomposit Fe3O4/zeolit 50% memiliki morfologi yang tidak
bulat homogen dan terjadi aglomerasi.

Gambar 2. Hasil karakterisasi SEM nanokomposit Fe3O4/Zeolit 50%


dengan waktu pemanasan microwave 7 menit.
Parameter lainnya yang diperlukan untuk aplikasi katalis adalah luas
permukaan spesifik yang diperoleh melalui karakterisasi BET. Luas
permukaan spesifik yang dimiliki oleh nanokomposit Fe3O4/zeolit 50%,
yaitu 165 m2/g. Hasil pengujian sifat katalitik pada minyak berat

27 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
ditunjukkan pada Tabel 1. Hasil uji katalis menunjukkan zeolit pada
komposit memberikan pengaruh yang baik sebagai hidrogen donor dan
rasio zeolite terbesar dapat menurunkan viskositas minyak berat paling
tinggi yaitu hingga 92 %.
Tabel 1. Hasil uji katalis pada reaksi aquatermolisis
Reaksi
Penurunan
viskositas (%)
Minyak Berat (MB)
0
MB + Air
40
MB + Air + Zeolite
82
MB + Air + Fe3O4
84
MB + Air + Fe3O4:Zeolite 1:1
87
88
MB + Air + Fe3O4:Zeolite 1:2
MB + Air + Fe3O4:Zeolite 1:3
89
MB + Air + Fe3O4:Zeolite 1:4
92
KESIMPULAN
Nanokomposit Fe3O4/zeolite sebagai katalis telah berhasil disintesis dengan
menggunakan metode pemanasan microwave. Peningkatan waktu pemansan
microwave menghasilkan ukuran Kristal yang terbentuk semakin besar.
Selanjutnya hasil uji katalis menunjukkan bahwa komposisi zeolite dengan
rasio 1:4 memiliki sifat katalis yang paling baik karena dapat menurunkan
viskositas minyak berat hingga 92%
DAFTAR PUSTAKA
[1]Li Zhu, J., Qi, J.Wei.,. (2007). Application of nanonickel catalyst in the
viscosityreduction of Liaohe extra-heavy oil by aquathermolysis. Journal of Fuel
Chemistry and Technology, 176-180.
[2]Ortiz-Moreno Hugo. (2012). Heavy Oil upgrading at moderate pressure using
dispersed catalyst: Effects of temperatur, pressure, and catalytic properties. Fuel,
186-192.
[3]Maity Ancheyta. J., Marroquin, G.S.K.,. (2010). Catalytic Aquathermolysis Used
for Viscosity Reduction of Heavy Crude Ools: A Review. Energy and Fuels.
[4]Nugraha Noorlalily, P., Abdullah, M., Khairurrijal, Iskandar, F.M.I.,. (2013).
Synthesis of NixFe3-xO4 nanoparticles by microwave-assisted coprecipitation and
their application on viscosity reduction . Material Science Forum, 204-208.
[5] Wang Chen, Y., He, J., Li, P., Yang, C.Y. (2012). Mechanism of catalytic
aquathermolysis: Influences on heavy oil by two types of efficient catalytic ions:
Fe3+ and Mo6+. Energy and Fuels, 1502-1510.
[6]Chen Wang, Y., Lu, J., Wu, C.Y.,. (2009). The viscosity reduction of nanokegging-K3PMo12O40 in catalytic aquathermolysis of heavy oli. Fuel, 1426-1423.

28 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
[7]Vermeiren dan Gilson, J.VW. (2009). Impact of Zeolites on the Petroleum and
Photochemical
Industry.
Journal
of
Top
Catalyst,
1131-1161.

29 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Synthesis and Characterization Several Codoped Ceria for


IT-SOFC Electrolytes
Arie Hardian1, Kunjoong Kim2, Gyeong Man Choi2, and Ismunandar1*
1

Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences,


ITB, 14151 Ganesa 10, Bandung, Indonesia, 2Dept. Materials and Sciences
Engineering, Pohang University of Science and Technology, Pohang, South
Korea.
*E-mai : ismu@chem.itb.ac.id Tel:(022)-2502103, Fax : (022)-2504154

ABSTRACT
Doped ceria is believed as the promising candidate for IT-SOFC electrolyte
but still have a drawback such stability in low oxygen partial pressure. The
purposes of this research were to synthesize and characterize several
codoped ceria Ce1-x-yGdxMyO2-, M = Er, Dy, or Nd and 0.0 x,y 0.1.
Solid state method was used because its simple and suitable for pilot scale.
For the same total dopant concentration, the correlation between average of
cation radii and the lattice constant followed the Vegards rule. The
activation energies of codoped ceria were lower than 1 eV and most of
codoped ceria showed higher conductivities than 10-2 S.cm-1 at intermediate
temperature range.
Keywords : IT-SOFC, solid electrolyte, cerium oxide, codoped

INTRODUCTION
Energy crisis and global warming which was caused by combustion of
fossil fuel invite much attention to the researcher to find alternative energy
for reduce the consumption of fossil fuel. Fuel cells are the promising
technology for alternative energy because of their high efficiency and
environmentally-friendly. There are six types of fuel cells which have been
developing until now, but only two types generally stand out as the
promising candidate, they are polymer electrolyte membrane fuel cells
(PEMFC) and solid oxide fuel cells (SOFC). PEMFC operate in low
temperature (< 100 C) and these types are suitable for portable devices.
SOFC operate at high temperature (8001000 C) and suitable for heat and
power generator at homes, office buildings, hospitals, and other stationary
applications. The high operational temperature of SOFC make them more

30 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
efficient then PEMFC, but has a consequences such as high cost of
operation and rapid aging caused by unexpected reaction between
components at high temperature. Lowering the operational temperature of
SOFC into 500-800 C (intermediate temperature) range will give
significant impact to the fabrication cost by allowing the use of cheap
materials in interconnects such as stainless steel and heat exchangers. In the
operation side, lowering the temperature will also lead to an increase the
durability of SOFC systems by reducing problems related to thermal cycling
and unexpected reaction in the cell. This attempt face a number of materials
problems which associated to the electrolyte resistance and electrode
polarization. Electrolyte and electrodes materials which have high
conductivity and high electrocatalytic rate in intermediate temperature are
needed for developing Intermediate Temperature-Solid Oxide Fuel Cell (ITSOFC) [1].
Doped ceria is believed as the promising candidate for IT-SOFC electrolyte
because of their high conductivity in intermediate temperature compared to
the commercial electrolyte, yttria stabilized zirconia (YSZ). The
conductivity of doped ceria depends on the characteristics of the dopants
element and their concentrations [2]. Rare earth oxide are usually used as
the dopant for ceria due to their similarity of their ionic radii to cerium. The
lower mismatch ionic radii between the dopant and the host Ce4+, will
afford a lower activation energy and higher conductivity. Doped ceria is
easily reduced from Ce4+ to Ce3+ in low oxygen partial pressure and become
the p type conductor that could decrease the performance of the cell [1].
Codoped strategy has shown that the resulted phases have better properties
than single doped phase in their conductivity and stability in a reduction
environment [3]. Codoped strategy might suppress the ordering of oxygen
vacancy that leads to the decrease of activation energy and the increase of
conductivity [4]. On the other hand, codoped strategy might suppress the
electronic conductivity and extend the electrolyte domain [5]. Gadolinium
or samarium doped ceria have been reported has the highest conductivity
[1]. Many researcher believed that Gd3+ doped ceria should be has higher
conductivity than Sm3+ doped ceria, because its ionic radii is closer to Ce4+
than Sm3+ [3]. To increase the ionic conductivity properties of gadolinium
doped ceria (GDC), the second dopant was used. We have chosen Er3+,
Dy3+, and Nd3+ as the second dopant for GDC because Er3+ has smaller
mismatch ionic radii to Ce4+ than Gd3+, Dy3+ has low association vacancydefect enthalpy comparable to Gd3+ and Sm3+ [6], and Nd3+ has the lowest
activation energy of ion oxide transport among the single rare earth doped
ceria [7]. The purposes of this research were to synthesize and characterize

31 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
several codoped ceria Ce1-x-yGdxMyO2- where M = Er, Dy, or Nd and 0.0
x,y 0.1.

32 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
EXPERIMENTAL
Solid state method had been chosed to synthesize the samples since their
simplisicty and will suitable for industries scale. CeO2 (99.9%, Aldrich),
Gd2O3 (99.9%, Aldrich), Er2O3 (99.9%, Aldrich), Dy2O3 (99.9%, Aldrich),
and Nd2O3 (99.9%, Aldrich) were used for the preparation of all samples.
CeO2, Gd2O3, and the second dopant oxide were mixed in stoichiometric
proportions to obtain Ce1-x-yGdxMyO2- where M = Er, Dy, or Nd as the
second dopant and 0.0 x,y 0.1. The mixture was then grounded and
homogenized by agate mortar. The homogenized mixture was calcined at
1000 C for 12 h and reground by agate mortar. The calcined powder was
then pressed using hydraulic press in 15 mm circular disk shaped pellets.
The thickness and the diameter of pellets were measured using micrometer
and caliper, respectively. The pellets were sintered at 1500 C for 5 h then
1600 C for 2 h in air atmosphere with heating rate 3 C.min-1 and cooling
rate 5 C.min-1. The thickness and the diameter of sintered pellets were
measured for calculating percentage of shrinkage of each pellet.
Archimedes method was used for measuring the density of pellets. The
pellets were then grounded for structure analysis. XRD PANanalytical was
used to characterize the crystal structure of the obtained oxides. The pellets
were coated by gold for morphology characterization using SEM JEOL.
The SEM image was then anaylized using ImageJ free software with
PoreAnalysisSEM plug-in as a support plug-in to get porosity and crystallite
size data. The principle of this analysis is the contrast of image color. This
software could separate the dark area and the light area with controlling the
contrast of image. The dark area equal to the porosity and the light area
equal to the grain. The porosity was calculated by divide the dark area with
a whole area and multiple by 100%. Crystallite size was calculated using
the similar software. At least ten random crystallite size (their diagonal)
were measured and was then calculated the average. For electrical
characterization, both sides of pellets were brushed with Pt paste on 8 mm
diameter circular area. Two circular Pt mesh was attached on the brushed
area with the same size. The Pt | electrolyte | Pt cells were then sintered at
900 C for 2 h with heating rate 3 C.min-1 and cooling rate 5 C.min-1.
Solarton 1260 instruments was used to measure the resistance of the cells in
the range temperature 250 700 C with heating rate 3 C and in the range
frequency 0.1 Hz-10 MHz. The Nyquist plot data which was obtained from
conductivity measurement was then anaylized using Z-view software.

33 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
RESULTS & DISCUSSION
The color of obtained codoped ceria are dominated by the color of second
dopant. The Gd-Er codoped ceria has pale ruby color, the Gd-Dy codoped
ceria has pale yellow color, and the Gd-Nd has light blue color.
3.1 XRD results
The result of XRD showed that all obtained codoped ceria have a fluorite
structure as can be seen by the similarity of the XRD patterns to that of
undoped CeO2 and There were no impurities observed.Shifting of peaks
position are also observed, the peak of among codoped ceria shifted to the
left or smaller 2 which is mean that the lattice parameter became larger
than pure ceria. . The XRD patterns of codoped ceria and undoped ceria are
shown on Figure 1.
Le Baile refinement was used to refine the XRD data of codoped ceria. As
expected lattice parameters of codoped ceria are larger than those for
undoped ceria, because the Gd3+ dopant and the second dopants have larger
ionic radii size than Ce4+. For the same vacancies or total dopants
concentration, the lattice parameters linearly depend on the size of ionic
radii of dopant. the Vegards rule are followed for the same vacancies or the
total dopants concentrations . The correlation between average cation radii
and the lattice parameter are also shown on Figure 2.

34 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Figure1. XRD patterns of undoped ceria (a) and codoped ceria: (b)
Ce0.9Gd0.05Er0.05O1.95; (c) Ce0.85Gd0.05Er0.1O1.925; (d) Ce0.85Gd0.1Er0.05O1.925;
(e) Ce0.8Gd0.1Er0.1O1.9; (f) Ce0.9Gd0.05Dy0.05O1.95; (g) Ce0.85Gd0.05Dy0.1O1.925;
(h) Ce0.85Gd0.1Dy0.05O1.925; (i) Ce0.8Gd0.1Dy0.1O1.9; (j) Ce0.9Gd0.05Nd0.05O1.95;
(k) Ce0.85Gd0.05Nd0.1O1.925; (l) Ce0.85Gd0.1Nd0.05O1.925; and (m)
Ce0.8Gd0.1Nd0.1O1.9.
3.2 SEM and EDS results
The morphology of pellets obtained by SEM showed the microstructure of
pelletsand from the micrograph approximate the porosity of pellets can also
be determined. The SEM image of all codoped ceria pellets are shownon
Figure 3. Crystallite size associated to the grain and grain boundary
conductivity. Generally, grain conductivity is higher than grain boundary
conductivity; it means the ion transport in grain is faster than in grain
boundary. The pellet which has big crystallite size will have good grain
conductivity and lead to the high total conductivity.

35 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Figure 2. Correlation between cation radii mean and lattice parameter.


Sample data (), reference data (), and linearity of sample data ().
References data was taken from: (a) Ce0,9Gd0,1O1,95, [8]; (b) Ce0,9Y0,1O1,95,
[9]; (c) Ce0,9Tb0,1O1,95, [10]; (d) Ce0,85Gd0,15-xSmxO2-, [4]; (e)
Ce0,85M0,15O1,925, M=Y, Sm, Gd, [11]; (f) Ce0,85Gd0,15-xYxO1,925 dan
Ce0,85Gd0,15-xYxO1,925, [12]; (g) Ce0,8Sm0,1Dy0,1O1,85, [13]; dan (h)
Ce0,8Ca0,1M0,1O1,85, M=Gd dan Sm, [14].

36 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

37 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Figure3. SEM image: (a) Ce0.9Gd0.05Er0.05O1.95; (b) Ce0.85Gd0.05Er0.1O1.925; (c)
Ce0.85Gd0.1Er0.05O1.925; (d) Ce0.8Gd0.1Er0.1O1.95; (e) Ce0.9Gd0.05Dy0.05O1.95; (f)
Ce0.85Gd0.05Dy0.1O1.925; (g) Ce0.85Gd0.1Dy0.05O1.925; (h) Ce0.8Gd0.1Dy0.1O1.95;
(i)
Ce0.9Gd0.05Nd0.05O1.95;
(j)
Ce0.85Gd0.05Nd0.1O1.925;
(k)
Ce0.85Gd0.1Nd0.05O1.925; (l) Ce0.8Gd0.1Nd0.1O1.95.
3.4 EIS results
The conductivity of codoped ceria was in the range of those for IT-SOFC
electrolyte ,because their values were higher than 10-3 S.cm-1 and the
activation energy was lower than 1 eV at intermediate temperature. Our
results were still lower than GDC20 [16]. This may be caused by different
starting materials and preparation method. Ce0.85Gd0.05Nd0.1O1.925 has
highest conductivity, 0.0105 S.cm-1 and Ce0.85Gd0.05Dy0.1O1.925 has the
lowest activation energy, 0.73 eV. The conductivity at 700 C, activation
energy, and pre-exponential factors of codoped ceria are listed in Table 6.
The Arrhenius plots (log Vs 1000/T) for all codoped ceria are shown on
Figure 5. Arrhenius plot of codoped ceria.

Figure 5. Arrhenius plot total conductivity of codoped ceria.


Ce0.85Gd0.05Nd0.1O1.925 which has the highest conductivity has the lowest
relative density; it means that the conductivity of Ce0.85Gd0.05Nd0.1O1.925
should be higher if the relative density is increased. Pre-exponential term
(o) of Ce0.85Gd0.05Nd0.1O1.925 is higher than that for Ce0.85Gd0.05Dy0.1O1.925.

38 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
These two factors will result in higher conductivity of
Ce0.85Gd0.05Nd0.1O1.925 than the conductivity of Ce0.85Gd0.05Dy0.1O1.925 at
higher temperature.
Table 1. Total conductivity at 700 C, activation
exponential term of codoped ceria
Codoped ceria
700 C Ea
(S.cm-1)
(eV)
Ce0.9Gd0.05Er0.05O1.95
0.0056
0.87
Ce0.85Gd0.05Er0.1O1.925
0.0129
0.91
Ce0.85Gd0.1Er0.05O1.925
0.0172
0.86
Ce0.8Gd0.1Er0.1O1.9
0.0124
0.86
Ce0.9Gd0.05Dy0.05O1.95
0.0098
0.88
0.0170
0.73
Ce0.85Gd0.05Dy0.1O1.925
Ce0.85Gd0.1Dy0.05O1.925
0.0167
0.83
Ce0.8Gd0.1Dy0.1O1.9
0.0163
0.89
Ce0.9Gd0.05Nd0.05O1.95
0.0112
0.85
Ce0.85Gd0.05Nd0.1O1.925
0.0267
0.80
Ce0.85Gd0.1Nd0.05O1.925
0.0250
0.79
Ce0.8Gd0.1Nd0.1O1.9
0.0200
0.81

energy, and prelogo


(S.cm-1)
2.197
2.870
2.773
2.617
2.564
2.093
2.576
2.901
2.471
2.659
2.521
2.559

Another similar phenomenon observed for all obtained codoped ceria was
that there are two obvious slopes in the Arrhenius plot, i.e. those at low
temperature (< 450 C) and high temperature ( 450 C). The slopes at
lower temperature correlate to the sum of association (defect-vacancy)
enthalpy and migration enthalpy, Figure 6.
CONCLUSION
Twelve codoped ceria have successfully synthesized via solid state method.
The color second dopant powder dominated the color of codoped ceria. The
parameter lattice of codoped ceria in the same total dopant concentration
(vacancy concentration) obeyed the Vegards rule. The lower of sintering
temperature made less than of half codoped ceria have high porosity. The
average of crystallite size of codoped ceria were in the range 211 m. The
density of codoped ceria are less than 95%. Modification on sintering is
needed to increase the density of these codoped ceria. Most of the
conductivites of codoped ceria are higher than 10-2 S.cm-1 at intermediate
temperature (700 C) which is potential to be used as IT-SOFC electrolyte.
ACKNOWLEDGEMENT

39 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Thanks to I-MHERE ITB and Desentralisasi DIKTI 2013 for funding this
research.
REFERENCES
[1] A. J. Jacobson, J. Chem. Mater., 22, (2010), 660674.
[2] H. Inaba and H. Tagawa, Solid State Ionics, 83 (1996) 1-16.
[3] J. W. Fergus, R. Hui, X. Li, D.P. Wilkinson, and J. Zhang, (2009), CRC
Press, London.
[4] F. Y. Wang, S. Chen, and S. Cheng, Electrochem. Commun., 6, (2004),
743-746.
[5] D. L. Maricle, T. E. Swarr, and S. Karavolis, Solid State Ionics, 52
(1992) 173.
[6] V. Butler, C.R.A. Callow, B.E.F. Fender, J.H. Harding, Solid State
Ionics, 8 (1983) 109113.
[7] J. Faber, G. Geoffroy, A. Roux, P. Ablard, Appl. Phys., A 49 (1989)
225.
[8] L. D. Jadhav, S. H. Pawar, and M. G. Chourashiya, Bull. Mater. Sci.,
30, 2, (2007), 97100.
[9] M. Dudek and J. Molenda, J. Mater. Sci.-Poland, 24, (2006) 1.
[10] P. Shuk, M. Greenblatt, and M. Croft, Chem. Mater., 11, (1999), 473479.
[11] M. Dudek, M. Mroz, L. Zych, and E. Z. Ciesla, J. Mater. Sci-Poland,
26, (2008) 2.
[12] X. Guan, H. Zhou, Z. Liu, Y. Wang, and J. Zhang, J. Alloy. Compd.,
464, 1-2, (2008), 310-316.
[13] Y. Zheng, M. Zhou, L. Ge, S. Li, H. Chen, and L. Guo, J.Alloy.
Compd., 509, (2011), 1244-1248.
[14] P. S. Devi and S. Banerjee, Ionics, 14, (2008), 73-78.
[15] X. Hao, Y. Liu, Z. Wang, J. Qiao, and K. Sun, J. Power Sources, 210,
(2012), 86 91.
[16] Y. Lee, J. H. Joo, and G. M. Choi, Solid State Ionics, 181, (2010),
17021706.
[17] I. E. L. Stephen and J. A. Kilner, Solid State Ionics, 177, (2006), 669
676.

40 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Controlled Release Mikroenkapsulasi Chlorhexidine 2%


Pada Penyakit Periradikuler
yang Disebabkan Infeksi Enterococcus Faecalis
Denny Nurdin1 Bambang Sunendar Purwasasmita2
1

) Bagian Konsevasi Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Unpad


) Lab. Proses material Teknik Fisika Fakultas Teknologi Industri ITB
1. kang_denny@yahoo.co.id 2. purwa@tf.itb.ac.id

ABSTRAK
Enterococcus faecalis merupakan bakteri penyebab utama persistensi
infeksi saluran akar yang memiliki kemampuan menginvasi tubuli dentin
sehingga menyebabkan sulitnya penetrasi obat saluran akar untuk
mengeliminasinya. Tubulus dentin berukuran sangat kecil antara 1-3m.
Mikroenkapsulasi obat saluran akar dengan ukuran kurang dari 1m
diharapkan menjadi jalan keluar untuk mengatasi masalah ini. Pada
penelitian ini digunakan sodium silikat sebagai prekursor dan
chlorohexidine 2% sebagai obat saluran akar yang dienkapsulasi. Metode
yang digunakan adalah sol gel dengan proses stober. Tujuan penelitian ini
mendapatkan mikrokapsul chlorhexidine 2% yang berukuran kurang dari 1
m dan mengetahui efektifitas dari mikrokapsul yang dihasilkan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa mikrokapsul yg dihasilkan berukuran
kurang dari 1m dan pada pengujian bakteri memperlihatkan bahwa
mikroenkapsulasi chlorhexidine 2% lebih efektif dibandingkan
chlorhexidine2% tanpa enkapsulasi.
Kata kunci : controlled release, mikroenkapsulasi
PENDAHULUAN
Enterococcus faecalis memiliki kemampuan untuk menginvasi tubulus
dentin, yang berukuran sangat kecil antara 1-3m. Bakteri ini bertanggung
jawab terhadap 80-90% infeksi saluran akar.[1] Chlorhexidine (CHX) 2%
telah direkomendasikan sebagai obat saluran akar. Bahan ini dapat
menyebabkan perubahan keseimbangan tekanan osmosis pada sel bakteri

41 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
dan menyebabkan isi sitoplasma dari sel bakteri mengendap yang pada
akhirnya terjadi kematian sel.[2],[3]
Terdapat persyaratan yang harus dimiliki oleh obat saluran akar, salah
satunya adalah obat saluran akar harus tetap stabil dalam larutan dan tetap
aktif meskipun terdapat darah, serum dan derivat protein jaringan.[4]
Berdasarkan hal tersebut diperlukan upaya untuk melindungi obat saluran
akar dari pengaruh lingkungannya. Mikroenkapsulasi merupakan usaha
untuk melindungi obat dari pengaruh lingkungannya dan berfungsi untuk
mengatur pelepasan obat melalui mekanisme controlled release.
METODOLOGI PENELITIAN
Pembuatan mikrokapsul CHX 2% yang berukuran kurang dari 1m.
Metode yang digunakan adalah sol gel melalui proses Stober.
Sodium silikat 0,5 M digunakan sebagai prekursor. Sebagai pelarut
digunakan ethanol sebanyak 150 ml. Ditambahkan Aquabidest 15 ml dan
ammonia (25%) 3 ml. Selanjutnya ditambahkan 9 ml sodium silikat.
Dilakukan emulsifikasi menggunakan ultra turrax selama 10 menit.
Ditambahkan kitosan 1% sebanyak 0,7% dari volume larutan.
Homogenisasi menggunakan ultrasonic homogenizer selama 15 menit.
Dikeringkan hingga didapat partikel silika kering. Partikel silika tersebut
kemudian disalut menggunakan sodium alginat. Proses entrapment CHX
2% dilakukan dengan cara merendam partikel silika-sodium alginat dalam
larutan CHX 2% selama 24 jam dalam kondisi vacuum. Setelah kering
dilakukan karakterisasi SEM, FTIR, dan UV-Vis spektrofotometri
Pengujian Bakteriologis dilakukan untuk membandingkan efektifitas antara
CHX 2% yang dienkapsulasi dan CHX 2 % yang tidak dienkapsulasi.
Bahan yang digunakan adalah E faecalis ATCC 29212.
Enam belas gigi insisivus yang telah diekstraksi disterilkan. Dilakukan
preparasi kavitas dan preparasi kemomekanis saluran akar pada setiap gigi.
Setiap gigi dimounting pada pot sampel yang berisi MHB, dibagi ke dalam
4 kelompok, sehingga setiap kelompok berisi 4 gigi. Pada setiap gigi
dimasukkan 10l suspensi bakteri dengan konsentrasi 106 CFU/ml
kemudian ditutup dengan tumpatan sementara. Hari ke-2, pada kelompok 1
dan 3 diaplikasikan CHX 2% yang dienkapsulasi ke dalam saluran akar
sedangkan pada kelompok 2 dan 4 diaplikasikan CHX 2% yang tidak
dienkapsulasi dengan menggunakan paper point. Pada hari ke-6 (hari ke-4
pengobatan), MHB dari setiap pot sampel kelompok 1 dan 2 diambil
sebanyak 10 l, kemudian diinokulasikan pada agar darah dengan cara
menggores. Hari ke-7 dilakukan penghitungan jumlah koloni E faecalis dari
masing-masing sediaan agar darah pada kelompok 1 dan 2. Pada hari ke-9
(hari ke-7 pengobatan), MHB dari setiap pot sampel kelompok 3 dan 4

42 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
diambil sebanyak 10 l, kemudian diinokulasikan pada agar darah dengan
cara menggores. Hari ke-10 dilakukan penghitungan jumlah koloni E
faecalis dari masing-masing sediaan agar darah pada kelompok 3 dan 4.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 1. Hasil SEM

727.16
958.62

553.57

796.60

1379.10

1492.90
1635.64

60

1535.34

2939.52

75

1415.75

90
%T

3425.58

466.77

45

30

1093.64

15

0
4500
Dn

4000

3500

3000

2500

2000

1750

1500

1250

1000

750

500
1/cm

konsentrasi

Gambar 2. Hasil FTIR


0,66
0,65
0,64
0,63
0,62
0,61
0,60
0 1000200030004000500060007000
Waktu/detik

43 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Gambar 3. Hasil UV-Vis Spektrofotometri

Tabel 1. Hasil Uji Bakteri

1
2
3
4

Populasi awal
E faecalis
usia 24 jam
1,80 x 108
5,55 x 108
6,25 x 108
2,19 x 108

1,90 x 10
2,99 x 108
6,43 x 108
2,30 x 108

8,00 x 10
1,81 x 104
7,00 x 104
2,15 x 104

II

1
2
3
4

3,60 x 108
1,06 x 108
1,27 x 108
1,16 x 108

2,90 x 108
1,33 x 108
1,31 x 108
1,60 x 108

2,99 x 107
3,03 x 107
1,48 x 108
1,71 x 107

III

1
2
3
4

5,53 x 108
5,25 x 108
1,88 x 108
3,28 x 108

5,53 x 108
5,25 x 108
3,09 x 108
4,18 x 108

2,00 x 103
1,39 x 103
1,28 x 104
1,96 x 103

IV

1
2
3
4

5,28 x 108
1,26 x 108
1,34 x 108
1,53 x 108

5,40 x 108
1,55 x 108
1,01 x 108
2,41 x 108

9,00 x 107
3,80 x 107
2,33 x 108
2,10 x 107

Kel.

No

T0

T4

T7
4

Berdasarkan hasil pemeriksaan SEM mikrokapsul yang terbentuk sudah


berukuran kurang dari 1m. Hasil FTIR, puncak yang terbentuk pada
frekuensi 1535.34 cm-1 menggambarkan gugus fungsi C = C aromatik,
sehingga dapat dipastikan telah terbentuk mikrokapsul silika-kitosan-alginat
yang berikatan dengan CHX 2%. Pada pemeriksaan UV-Vis sampel yang
diujikan telah berhasil mengeluarkan CHX 2% dengan lama pelepasan
mencapai kurang lebih 6000 detik. Kadar keasaman menjadi faktor utama
keluarnya zat aktif. Setelah pengeluaran selama 6000 detik CHX cenderung
stabil. Kestabilan disebabkan sudah tidak ada lagi CHX yang keluar dari
mikrokapsul akibat CHX yang habis atau kondisi lingkungan yang sudah
tidak menunjang keluarnya zat aktif. Waktu pengeluaran CHX yang
mencapai 6000 detik dapat menunjukkan bahwa mikrokapsul yang
dihasilkan telah memberikan efisiensi yang cukup baik. Berdasarkan hasil
uji bakteri, penurunan jumlah koloni E faecalis yang diberikan mikrokapsul

44 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
sodium alginat CHX 2% lebih efektif dalam membunuh bakteri terutama
pada hari ke-4, dimana jumlah koloni E faecalis pada hari ke-4 kurang lebih
setengah dari populasi awal. Hal ini berbeda dengan pemberian CHX 2%
tanpa enkapsulasi tampak bahwa penurunan jumlah koloni tidak begitu
banyak terjadi.
KESIMPULAN
Mikrokapsul chlorhexidine 2% dapat berukuran kurang dari 1m sehingga
memungkinkan untuk masuk dan berfungsi dalam tubuli dentin.
Chlorhexidine 2% mampu release dari dalam mikrokapsul dan memiliki
kemampuan membunuh Enterococcus faecalis lebih baik dibandingkan
dengan chlorhexidine 2% tanpa enkapsulasi.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Fisher K, Phillips C The Ecology, Epidemiology and Virulence of
Enterococcus. Microbiology. 2009; 155: 17491757.
[2] Lennet BJ, Komorowski R, Huang J, Grad H, Lawrence HP, Friedman
S. Antimicrobial Substantivity of Bovine Root Dentin Exposed to
Different Chlorhexidine Delivery Vehicles. J Endod. 2000; 26(11):
652-655.
[3] Ryan S. Chlorhexidine as a Canal Irrigant: A Review. Compendium of
Continuing Education in Dentistry.
[4] Grossman LI, Oliet S, Del Rio CE. Endodontic Practice 11th.
Philadelphia: Pensiylvania, USA. 1995.

45 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Studi Biodistribusi dan Farmakokinetik Nanokarier


PLGA-Poloxamer Bertanda Radioisotop Iodium-131
Pada Mencit
Egy Chandraa, Diky Mudhakira, *, Aang Hanafiah Ws.b
a

Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung, Bandung


b
Badan Tenaga Nuklir Nasional, Bandung
email*: mudhakir@fa.itb.ac.id

ABSTRAK
Pengembangan sistem nanokarier berbasis polimerik nanopartikel dengan
tujuan penghantaran senyawa hidrofob ke dalam darah dalam waktu yang
lama menjadi suatu tantangan tersendiri. Adanya sistem retikuloendotelial
yang dapat mengenali sistem nanokarier tersebut membuat keberadaannya
di dalam darah cepat menghilang sehingga penghantaran menjadi tidak
efektif. Nanopartikel PLGA dapat dikenali oleh opsonin yang kemudian
dapat berakibat pada fagositosis oleh sel-sel makrofag. Untuk menghindari
hal tersebut, digunakan poloxamer yang merupakan polimer hidrofil
ampifilik dari blok ko-polimer PEO-PPO-PEO yang dapat digunakan untuk
melindungi permukaan nanopartikel PLGA tersebut. Penelitian ini bertujuan
untuk menguji biodistribusi dan farmakokinetik dari formula nanopartikel
PLGA-poloxamer yang telah dikembangkan sebelumnya untuk melihat
profil distribusinya di dalam tubuh terutama dalam darah dan organ
retikuloendotelial, seperti hati dan limpa. Sebelum pengujian, dilakukan
penandaan terhadap poloxamer termodifikasi dengan iodium-131
menggunakan metode kloramin T. Pembuatan nanopartikel PLGA
dilakukan dengan metode emulsifikasi-difusi menggunakan poloxamer yang
berhasil ditandai dan memenuhi syarat kemurnian radiokimia. Kemudian
nanopartikel PLGA-poloxamer dikarakterisasi dengan menggunakan
Photon Correlation Spectroscopy untuk ukuran partikel dan indeks
polidispersitas dan Electrophoretic Light Scattering untuk potensial zeta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa poloxamer berhasil ditandai dengan
iodium-131 menggunakan metode kloramin T dengan persen penandaan
berkisar 45% dan kemurnian radiokimia diatas 90%. Nanopartikel PLGA
yang dibentuk dengan kandungan poloxamer 2% (NP 2%) mempunyai
rentang ukuran partikel berkisar antara 100-150 nm dengan indeks
polidispersitas 0,3 dan potensial zeta kurang dari -20 mV. Untuk

46 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
nanopartikel PLGA yang dibentuk dengan kandungan poloxamer 3% (NP
3%) memiliki indeks polidispersitas dan potensial zeta yang relatif sama
dengan NP 2%, namun rentang ukuran partikel berkisar antara 180-250 nm.
Dalam studi farmakokinetik, NP 2% dan 3% tidak menunjukkan profil long
circulating. NP 3% memiliki perbedaan parameter farmakokinetik relatif
dibandingkan dengan NP 2% dan polimer poloxamer. Dalam studi
biodistribusi, baik pada NP 2% dan 3%, terdistribusi rendah di dalam hati
dan limpa. Akumulasi nanopartikel PLGA di dalam organ otot skelet dalam
waktu hingga 48 jam, berpotensi sebagai kandidat nanokarier dalam terapi
bertarget otot skelet (targeted drug delivery in skeletal muscle).
Kata kunci: Nanopartikel, sistem retikuloendotelial, metode emulsifikasidifusi, metode kloramin T, biodistribusi

PENDAHULUAN
Perkembangan sistem nanoteknologi menjadi suatu strategi baru dalam
penghantaran obat khususnya untuk penghantaran obat secara intraselular.
Sistem penghantaran obat berbasis nanoteknologi memiliki kemampuan
untuk mengenkapsulasi berbagai obat, seperti molekul-molekul kecil (baik
hidrofil maupun hidrofob), protein dan peptida, dan asam nukleat (DNA
maupun RNA). Dengan mengenkapsulasi molekul-molekul tersebut dalam
sistem nanokarier, kelarutan dan stabilitas dapat diperbaiki, serta
memperbaiki profil farmakokinetik molekul tersebut [1].
Penggunaan polimer makromolekul bersifat biodegradabel dalam sistem
nanoteknologi (nanopartikel berbasis polimer) sudah banyak dikembangkan
dalam penghantaran obat, salah satu contohnya adalah polimer PLGA
(poly(lactide-co-glycolide) [2]. Namun di dalam tubuh, dengan adanya selsel fagosit membuat pengobatan melalui sistem nanopartikel menjadi tidak
efektif dikarenakan nanopartikel akan segera diopsonisasi dan difagositosis.
Untuk menghindari opsonisasi dan fagositosis dari nanopartikel PLGA,
maka pada permukaan nanopartikel PLGA dapat dimodifikasi dengan
molekul polimer hidrofilik, seperti poloxamer. Dalam pembentukan
nanopartikel PLGA, poloxamer (diatas KMK) akan membentuk sistem
misel yang dapat menyelimuti permukaan PLGA dimana gugus hidrofil
PEO akan terorientasi pada lingkungan luar sedangkan gugus hidrofob PPO
akan berinteraksi dengan molekul PLGA. Dengan adanya poloxamer
diharapkan nanopartikel PLGA akan terdistribusi lama di dalam darah [3].
Distribusi nanopartikel dalam tubuh dapat dipelajari dengan menggunakan
teknik penandaan radionuklida dimana nanopartikel ditandai dengan

47 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
senyawa radioaktif. Untuk tujuan studi biodistribusi dan farmakokinetik
nanopartikel yang diharapkan terdistribusi lama di darah, radionuklida
seperti 99mTc tidaklah cocok digunakan, hal ini dikarenakan kelemahan dari
radionuklida 99mTc tersebut, yakni waktu paruhnya yang hanya 6 jam dan
terjadinya pembentukan kompleks dengan senyawa yang ditandai. Salah
satu contoh radionuklida lainnya adalah 131I (pemancar ( 600 keV) dan
( 364 keV)) dimana radionuklida ini cocok digunakan untuk studi
biodistribusi dan farmakokinetik dari nanopartikel yang diharapkan
terdistribusi lama di dalam tubuh. Hal ini dikarenakan waktu paruh dari 131I
yang relatif lebih lama dibandingkan 99mTc, yakni 8 hari [4].
Penelitian ini difokuskan untuk menguji biodistribusi dan farmakokinetik
nanokarier PLGA-poloxamer. Uji biodistribusi dilakukan untuk melihat
distribusi nanokarier tersebut di dalam organ tubuh dalam periode tertentu
sedangkan uji farmakokinetik digunakan untuk melihat profil keberadaan
nanokarier dalam darah pada periode tertentu. Sebelum dilakukan uji
biodistribusi dan farmakokinetik nanopartikel PLGA-poloxamer, dilakukan.

METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian yang dilakukan meliputi aktivasi polimer poloxamer, kemudian
dilanjutkan dengan penandaan poloxamer yang telah diaktivasi dengan
Na131I. Tahap selanjutnya adalah pembuatan sediaan nanopartikel PLGApoloxamer dengan metode emulsifikasi-difusi dan nanopartikel tersebut
dikarakterisasi secara fisik. Pada tahap akhir dilakukan uji biodistribusi dan
farmakokinetik terhadap nanopartikel yang telah dibuat dan memenuhi
syarat kemurnian radiokimia.
Pada tahap awal, dilakukan aktivasi polimer poloxamer dengan
menggunakan reagen 4-NPC (4-Nitrophenyl Chloroformate) dan
dilanjutkan dengan reagen hidrazin hidrat 80%. Polimer poloxamer yang
teraktivasi kemudian ditandai oleh Na131I dengan menggunakan metode
kloramin T di dalam fase kloroform. Efisiensi penandaan diukur dengan
membandingkan aktivitas radioaktif dalam fase kloroform terhadap fase
total (air+kloroform). Kemurnian radiokimia ditentukan dengan
menggunakan metode kromatografi lapis tipis (silika gel).
Poloxamer bertanda yang telah dibuat dan memenuhi syarat kemurnian
radiokimia kemudian digunakan dalam pembuatan nanopartikel PLGApoloxamer dengan menggunakan metode emulsifikasi-difusi. Karakterisasi
fisik nanopartikel yang meliputi pengukuran ukuran partikel dan indeks
polidispersitas dilakukan dengan menggunakan nanopartikel PLGA dengan
poloxamer yang ditandai oleh 127I (iodium stabil). Karakter fisik
nanopartikel ditentukan dengan menggunakan Photon Correlation

48 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Spectroscopy (ukuran partikel dan indeks polidispersitas) dan
Electrophoretic
Light
Scattering
(potensial
zeta).

49 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Pada tahap akhir, dilakukan studi biodistribusi dan farmakokinetik terhadap


nanopartikel PLGA-poloxamer selama rentang waktu 48 jam. Studi
biodistribusi dilakukan dengan menginjeksikan sediaan nanopartikel
bertanda ke dalam tubuh hewan mencit. Distribusi nanopartikel di dalam
tubuh mencit (organ otot, tulang, lambung, hati, limpa, ginjal, jantung, paruparu, tiroid, otak, dan kandung kemih) kemudian diamati selama 48 jam.
Persen penimbunan nanopartikel setiap organ ditentukan untuk melihat
biodistribusi nanopartikel. Kemudian untuk studi farmakokinetik
nanopartikel, dilakukan dengan mengambil sampel darah dari mencit yang
sebelumnya telah diinjeksikan sediaan nanopartikel dari waktu ke waktu
hingga 48 jam. Kinetika nanopartikel di dalam darah ditentukan dengan
mengukur aktivitas radioaktif di dalam darah mencit secara langsung.
Dalam studi bioditribusi dan farmakokinetik, aktivitas radioaktif pada
berbagai organ dan sampel darah ditentukan dengan menggunakan alat
pengukur cacahan radioaktif SCA (Single Channel Analyzer).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Dalam penandaan poloxamer dilakukan melalui 2 tahap reaksi sebelum
pada akhirnya dapat ditandai dengan 131I [5]. Pada tahap pertama dilakukan
penggantian gugus hidroksil (-OH) pada ujung rantai blok PEO dengan
menggunakan reagen 4-NPC. Dari reaksi ini didapat rendemen hasil reaksi
sebesar 84,54 2,58% (n=3). Kemudian tahap reaksi dilanjutkan dengan
mengganti gugus nitrofenil dengan gugus hidrazin pada rantai blok PEO
dengan menggunakan reagen hidrazin hidrat 80%. Rendemen hasil reaksi
yang didapat sebesar 36,6 2,6% (n=3). Kemudian tahap selanjutnya
adalah tahap penandaan produk reaksi tahap 2 dengan Na131I. Penandaan
dilakukan dengan menggunakan metode kloramin T. Nilai persen
penandaan dan kemurnian radiokimia dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Nilai persen penandaan dan kemurnian radiokimia
Karakteristik 131INilai
POLOX
Persen Penandaan
48,75 8,24%
Kemurnian Radiokimia
92,34 1,53%
*Nilai = rata-rata SD; n=9
Poloxamer yang telah ditandai dengan 131I selanjutnya digunakan untuk
membuat nanopartikel PLGA-poloxamer. Dalam membuat nanopartikel,
digunakan teknik emulsifikasi-difusi yang telah diorientasi pada penelitian

50 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
sebelumnya [4]. Karakter fisik dari nanopartikel PLGA-poloxamer dapat
dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Karakter fisik nanopartikel PLGA
Ukuran
Indeks
Partikel (nm) Polidispersitas
128,98
0,35 0,02**
14,77**
213,27
0,33 0,02***
30,53***
*Nilai = rata-rata SD, n=6
** Karakteristik NP 2%
*** Karakteristik NP 3%

Potensial
Zeta (mV)
-24,64
9,67**
-27,68
2,56***

Dalam studi farmakokinetik, terdapat beberapa perbedaan parameter


farmakokinetik diantara nanopartikel dengan polimer poloxamer 0,5%.
Nilai parameter AUC dari NP 2% dan NP 3% berbeda signifikan dengan
polimer poloxamer (p<0,05). Kemudian untuk parameter klirens (Cl) dan
volume distribusi saat eliminasi (Vd()) terdapat perbedaan diantara kedua
nanopartikel dan juga dengan polimer poloxamer (p<0,05). Nanopartikel
memiliki waktu paruh eliminasi (t()) lebih panjang dibandingkan dengan
polimer poloxamer dan nanopartikel memiliki volume distribusi (Vp) yang
lebih kecil dibandingkan dengan polimer poloxamer walaupun
perbedaannya tidak signifikan (p>0,05). Data perbandingan parameter
farmakokinetik diantara nanopartikel dan polimer poloxamer tersaji pada
tabel 3.
Dalam studi biodistribusi, ingin dilihat penyebaran nanopartikel PLGA-131IPOLOX di dalam organ tubuh dari waktu ke waktu selama 48 jam. Dalam
studi ini dilakukan metode perfusi jantung, dimana organ jantung sesaat
mencit dikorbankan, diperfusi dengan cairan NaCl fisiologis. Hal ini
ditujukan untuk meminimalisasi kontaminan darah yang masih terkandung
pada pembuluh darah perifer yang berada pada setiap organ. Darah sebagai
cairan tubuh pembawa berbagai materi untuk disebarkan ke organ tubuh
melalui pembuluh perifer, memungkinkan masih mengandung nanopartikel
sehingga pada saat pencacahan aktivitas organ, tidak dibersihkannya organ
dari sisa darah yang berada dalam pembuluh perifer akan membuat hasil
cacahan menjadi tidak presisi.

51 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Tabel 3. Perbandingan parameter farmakokinetik nanopartikel dengan
polimer poloxamer dalam mencit.
Polimer
Poloxamer
12,66 2,60
1.09 0,37
0,29 0,14
0,44 0,16
0,17 0,01
63,64 4,91
943,00 109,36
206,14 82,97
52,38 5,60

Parameter
Farmakokinetik*
(t1/2) (jam)
(t1/2) (jam)
k (/jam)
k12 (/jam)
k21 (/jam)
AUC (%.jam/mL)**
Vd() (mL/kg)***
Vp (mL/kg)
Cl (mL/jam/kg)***

NP 2%

NP 3%

19,70 2,04
0,92 0,71
0,14 0,05
0,78 0,69
0,27 0,14
133,04 5,04
698,01 68,77
186,33 63,56
24,56 0,20

22,66 6,37
1,99 0,82
0,07 0,03
0,18 0,11
0,17 0,02
181,91 56,76
451,79 126,67
197,05 6,10
14,62 6,39

*) Nilai = rata-rata SD, n=3


**) Nilai berbeda signifikan (p<0,05) antara NP 2 & 3% dengan polimer
poloxamer
***) Nilai berbeda signifikan (p<0,05) diantara NP 2 & 3% dan dengan
polimer poloxamer.

25
Radioaktifitas
(% ID/bobot organ)

20
15
10
5
0

Organ tubuh

52 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

20
15
10

Otak

Tiroid

Paru-paru

Jantung

Ginjal

Limpa

Hati

Tulang

Lambung

Kandung

5
Otot

Radioaktifitas
(% ID/bobot organ)

25

Organ tubuh
20
15
10
5
0

Otot
Tulang
Lambung
Hati
Limpa
Ginjal
Jantung
Paru-paru
Tiroid
Otak
Kandung

Radioaktifitas
(% ID/bobot organ)

25

Organ tubuh

Gambar 1. Profil biodistribusi polimer poloxamer (A), NP 2% (B), dan NP


3% (C) dalam mencit. Biodistribusi 5 menit ( ), 30 menit ( ), 1 jam ( ),
3 jam ( ), 24 jam ( ), 48 jam ( ).
Secara umum, NP 2%, NP 3%, dan polimer poloxamer memiliki profil
biodistribusi yang mirip, dimana nanopartikel dan polimer poloxamer
terdistribusi pada organ otot, tulang, lambung, ginjal, dan hati dibandingkan
pada organ limpa, jantung, paru-paru, otak, dan kandung kemih (gambar 1).
Pengamatan biodistribusi nanopartikel di dalam hati dan limpa digunakan
untuk melihat efektifitas sistem nanopartikel dalam mengelabuhi organ
retikuloendotelial tersebut. Secara umum, baik NP 2% dan 3% terdistribusi
rendah di dalam hati (<5% ID) dan limpa (<1% ID) (gambar 1). Hal ini
menunjukkan bahwa dengan adanya polimer hidrofil poloxamer yang

53 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Radioaktivitas otot (%
ID/bobot organ)

teradsorpsi pada permukaan nanopartikel PLGA membuat nanopartikel


PLGA relatif tidak terakumulasi banyak di dalam organ retikuloendotelial
di dalam tubuh. Secara keseluruhan, profil distribusi NP 2% dan 3% di
dalam hati dan limpa tidak berbeda secara signifikan (p>0,05).
25
20
15
10
5
0
0

5 10 15 20 25 30 35 40 45 50
Waktu (jam)

Gambar 2. Profil biodistribusi polimer poloxamer (


NP 3% (
) dalam jaringan otot skelet pada mencit.

), NP 2% (

),

Kemudian pada gambar 2, terlihat bahwa akumulasi polimer poloxamer


berlangsung cepat pada jam-jam awal, berbeda halnya dengan nanopartikel
baik NP 2% maupun NP 3% yang terakumulasi secara lambat pada jaringan
otot skelet. Terbukti bahwa akumulasi nanopartikel (NP 2% dan 3%) relatif
lebih banyak pada jam ke-24 dan jam ke-48, khususnya untuk NP 3% yang
akumulasinya relatif lebih besar dibandingkan dengan NP 2% dan polimer
poloxamer. Mekanisme pasti dari uptake oleh jaringan otot skelet masih
belum diketahui dengan benar. Pendekatan yang dapat dijelaskan adalah
ketika nanopartikel yang meninggalkan peredaran darah telah berada di
dalam organ limpa dan hati, nanopartikel yang masih berada di dalam darah
kemudian dapat masuk ke dalam rongga ekstravaskular dari otot melalui
celah sel-sel endoteliumnya [6].

54 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

KESIMPULAN
Dalam studi farmakokinetik, NP 2% dan 3% tidak menunjukkan profil long
circulating. NP 3% memiliki nilai AUC lebih besar dibandingkan NP 2%
(p>0,05) dan polimer poloxamer (p<0,05). NP 3% memiliki nilai klirens
lebih kecil dibandingkan dengan NP 2% dan polimer poloxamer (p<0,05).
Dalam studi biodistribusi, polimer poloxamer, NP 2%, dan NP 3% memiliki
profil biodistribusi yang mirip, dimana nanopartikel dan polimer poloxamer
terdistribusi pada organ otot, tulang, lambung, ginjal, dan hati dibandingkan
dalam organ limpa, jantung, paru-paru, otak, dan kandung kemih. Secara
umum, baik untuk NP 2% dan 3% terdistribusi rendah di dalam hati (<5%
ID) dan limpa (<1% ID) relatif dibandingkan dengan polimer poloxamer
(p<0,05). Akumulasi nanopartikel PLGA di dalam organ otot skelet dalam
waktu hingga 48 jam, berpotensi sebagai kandidat nanokarier dalam terapi
bertarget otot skelet (targeted drug delivery in skeletal muscle).

DAFTAR PUSTAKA
[1] Langer, R., Drug Delivery and Targeting, Nature, 1998; 392(6679): 5
10.
[2] Lammers, T., Subr, V., Ulbrich, K., Hennink, W. E., Storm, G.,
Kiessling, F., Polymeric Nanomedicines for Image-guided Drug
Delivery and Tumor Targeted Combination Therapy, Nano Today,
2010; 5:197212.
[3] Owens, D.E., Peppas, N.A., Opsonization, Biodistribution, and
Pharmacokinetics of Polymeric Nanoparticles, Intenational Journal of
Pharmaceutics, 2006; 307: 93-102.
[3] Saha, G.B., Fundamentals of Nuclear Pharmacy, 5th Edition, SpringerVerlag, New York, Inc., 2004: 92-96.
[4] Chandra, E., Formulasi dan Karakterisasi Sediaan Nanokarier
Artemisinin Menggunakan Kombinasi Polimer PLGA dan Poloxamer,
Skripsi Program Sarjana, Institut Teknologi Bandung, 2012: 27-31.
[5] Li, J.T., Carlsson, J., Lin, J.N., dan Caldwell, K.D., Chemical
Modification of Surface Active Poly(ethylene oxide)-Poly(propylene
oxide) Triblock Copolymer. Bioconjugate Chem., 1996; 7: 592-599.
[6] Park, Y.J., Nah, S.H., Lee, J.Y., Jeong, J.M., Chung, J.K., Lee, M.C.,
Yang, V.C., dan Lee, S.J., Surface-modified Poly(lactide-co-glycolide)
Nanospheres for Targeted Bone Imaging with Enhanced Labeling and
Delivery of Radioisotope, J. Biomed Mater Res., 2003; 67A: 751-760.

55 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Pengaruh Suhu Polimerisasi Terhadap Sifat Transpor dan


Struktur Polianilina Berbentuk Garam Emeraldine
Ferdinand Hidayat1, Yenni Lau1, Albaaqi Khadafi1, Achmad
Rochliadi1, Veinardi Suendo1,2
1

Kelompok Keahlian Kimia Fisik Anorganik, Jurusan Kimia, Fakultas


Matermatika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jalan Ganesha 10, Bandung 40132, Indonesia
2

National Centre for Nanotechnology, Jalan Ganesha 10, Bandung 40132,


Indonesia
Email : ferdinand.hiu@gmail.com;
vsuendo@chem.itb.ac.id/Veinardi.Suendo@polytechnique.edu

ABSTRAK
Polianilina (PANI) merupakan polimer konduktif yang telah banyak
dipelajari karena memiliki konduktivitas relatif tinggi, kestabilan termal dan
lingkungan yang baik, mudah disintesis, bahan baku yang murah,
mekanisme doping yang unik, serta aplikatif. PANI disintesis dengan
metode oksidasi kimia anilin oleh ammonium peroksidisulfat (APS) sebagai
oksidator. Pengaruh variasi temperatur polimerisasi (dari -15 hingga 25C)
terhadap kristalinitas, konduktivitas elektrik, struktur molekul dan
morfologi PANI telah diteliti. Hasil penelitian menunjukkan adanya
korelasi yang jelas antara temperatur reaksi terhadap kristalinitas dan
konduktivitas polianilina yang semakin menurun seiring peningkatan
temperatur. Struktur kristal PANI yang dianalisis menggunakan referensi
sistem kristal monoklinikmemperlihatkan struktur kristal yang kristalin.
Konduktivitas maksimum diperoleh pada sintesis PANI temperatur paling
rendah (-15 oC).Hasil karakterisasi morfologi PANI dengan Scanning
Electron Microscopy (SEM) mengkonfirmasi bahwa PANI pada temperatur
rendah memiliki struktur agregat nanogranular dan nanoserat.
Kata Kunci : Polianilina, PANI, XRD, Konduktivitas, SEM

56 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

PENDAHULUAN
Polianilina (PANI) merupakan keluarga polimer konduktif yang memiliki
sifat konduktivitas relatif tinggi, kestabilan termal dan lingkungan yang
baik, mudah disintesis, bahan baku yang murah, mekanisme doping yang
unik, serta aplikatif. Kestabilan dari PANI ditunjukkan dengan
ketahanannya terhadap berbagai oksidator seperti oksigen dan peroksida
serta kelembaban1. PANIdilaporkan memiliki potensi untuk dikembangkan
sebagai kandidat material aktif untuk sel surya2. Akan tetapi sintesis PANI
dengan konduktivitas yang tinggi menjadi masalah serius karena PANI
dapat menyerap lebih banyak panjang gelombnag sinar tampak dan
memiliki kondisi reaksi yang variatif.Oleh karena itu perlu dilakukan
modifikasi struktur pada PANI.
Struktur PANI termodifikasi dapat digunakan untuk meningkatkan transpor
elektron pada PANI. Modifikasi struktur dapat dilakukan dengan
mendispersikan rantai PANI hingga membentuk nanopartikel PANI3,4.
Partikel berukuran kecildan terdistribusi dengan derajat interkoneksi yang
melibatkan perkolasi akan meningkatkan konduktivitas polimer. Penurunan
temperatur reaksi atau polimerisasi pada sistem homogen cenderung
menghasilkan polimer dengan strkutur teratur yang dapat meningkatkan
konduktivitas elektronik. Sampai sekarang belum dilakukanstudimengenai
pengaruh temperatur sintesis PANI secara seksama.
Pada penelitian ini, berfokus pada pengaruh temperatur polimerisasi rendah
(dari -15 hingga 25C) terhadap kristalinitas, konduktivitas elektrik, struktur
molekul dan morfologi PANI. Dengan memvariasikan temperatur
polimerisasi, trend kristalinitas dan konduktivitas dapat dievaluasi. Reaksi
oksidasi anilin merupakan reaksi eksoterm. Dengan variasi temperatur
dibawah 273 K diharapkan PANI yang terbentuk semakin teratur. Dengan
demikian, kita dapat melihat kecenderungan pembentukan PANI yang
menghasilkan sifat-sifat yang diinginkan.
Karakterisasi dilakukan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD),
Electrochemical Impedance Spectroscopy (EIS), dan Scanning Electron
Microscopy (SEM).

METODOLOGI PENELITIAN
Anilin dilarutkan kedalam larutan HCl 1 M. Pada saat yang bersamaan,
amonium peroksidisulfat (APS) dilarutkan kedalam aqua dm dan dibiarkan
selama 1 jam (pada temperatur yang diinginkan). Perbandingan mol anilin
dan APS adalah 4:5. Larutan APS ditambahkan tetes demi tetes ke dalam
larutan anilin-HCl dan diaduk konstan. Polimerisasi dilakukan selama 24
jam. PANI yang mengendap dikumpulkan dengan corong Buchner. Lalu

57 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
dilakukan pencucian dengan HCl dan aseton. Serbuk PANI doping HCl
(emeraldine salt) dikeringkan didalam oven vakum.
Pola difraksi sampel dikarakterisasi menggunakan XRD (X-ray diffraction).
Pengujian konduktivitas diuji menggunakan LCR Meter dengan frekuensi
20 kHz 2 MHz. Morfologi sampel dengan konduktivitas tertinggi
dianalisis dengan SEM (Scanning Electron Microscope) menggunakan
mode SEI (secondary electron image) pada 15 kV.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil karakterisasi sampel PANI menggunakan XRD memberikan tiga
puncak difraksi karakteristik untuk ES (Emeraldine Salt), yakni dua puncak
lemah pada daerah 2 = 15 dan 20 serta satu puncak tajam pada 2 = 25
(Gambar 1). Pola difraksi ini menunjukkan adanya daerah kristalin yang
terdispersi dalam medium amorf1. Puncak 20 dan 25 berturut-turut
mengindikasikan derajat kristalinitas berupa periodisitas sejajar dan tegak
lurus terhadap cincin polimer PANI.

Gambar 1. Difraktogram
berbagaitemperatur.

sinar-X

sampelnanorod

PANI

pada

Pola difraksi yang melebar mengindikasikan struktur PANI nanokristal.


Pola difraksi sembilan sampel ES mirip satu sama lain. Hal ini
mengindikasikan bahwa struktur kimia PANI tidak dipengaruhi secara
signifikan oleh perubahan temperatur polimerisasi.Hasil XRD juga
menunjukan puncak-puncak difraksi Bragg yang lebih runcing dengan
menurunnya temperatur polimerisasi.

58 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Gambar 2. Konduktivitas sampel nanorod PANI pada frekuensi


pengukuran 20 kHz sebagai fungsi temperatur polimerisasi.
Konduktivitas berkaitan erat dengan kristalinitas5. Temperatur reaksi rendah
meningkatkan kristalinitas PANI-ES. Hal ini terlihat dari semakin
berkurangnya puncak pada daerahbackground 15 dan 20. Dengan
meningkatnya kristalinitas, konduktivitas pun meningkat. Atau dengan kata
lain, sampel PANI-ES pada temperatur reaksi tinggi berstruktur lebih amorf
dibandingkan dengan sampel pada temperatur rendah. Hal ini dikonfirmasi
dengan hasil pengukuran impedansi (Gambar 2). Hasil pengukuran
konduktivitas menunjukkan hasil yang sesuai dengan yang telah dilaporkan
sebelumnya4 bahwa semakin rendah temperatur reaksi, makin teratur PANIES yang terbentuk, dengan kata lain kristalinitas PANI-ES makin baik
sehingga konduktivitas yang dihasilkan semakin besar.
Morfologi dan struktur mikro sampel PANI-ES dengan konduktivitas
maksimum dikarakterisasi dengan metode Scanning Electron Microscope
(SEM), seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3.

59 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Gambar 3. SEM PANI Perbesaran 30.000 x.
Citra SEM pada Gambar3 mengungkapkan bahwa PANIterdoping HCl
(PANI-ES) memiliki struktur berupa aggregat dari nano partikel yang
diselubungi oleh serat nano. PANI-ES terdiri dari partikel nano berbentuk
granular berukuran 200-500 nm denganpanjang serat 1-2 m dan diameter
50-100 nm. Struktur campuran seperti ini akan memudahkan aliran
konduktivitas dalam skala makroskopik. Hasil ini bersesuaian dengan hasil
analisa XRD bahwa bagian amorf (granular) dan kristalin (serat) dari
jaringan PANI sangatmempengaruhi konduktivitas makroskopik.

KESIMPULAN
Pengaruh temperatur polimerisasi (dari -15 hingga 25C) terhadap
kristalinitas, konduktivitas elektrik, struktur molekul dan morfologi PANI
telah diteliti.Hasil XRD menunjukan puncak-puncak difraksi pada 20 dan
25 Bragg menjadi lebih runcing dengan menurunnya temperatur
polimerisasi.
Pengukuran konduktivitas menunjukkan kenaikan temperatur polimerisasi
menurunkan secara drastic konduktivitas (dari -15 oCke -10 oC.
Karakterisasi morfologi memperlihatkan PANI yang disintesis pada suhu
rendah memiliki struktur berupa aggregat nano partikel terlapisi serat
nanoyang berkaitan erat dengan kemudahan aliran konduktivitas
skalamakro.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. K. Lee, S. Cho, S. H. Park, A. J. Heeger, C.-W. Lee, S.-H. Lee,
Nature.2006 (441): 65.
[2]. H. Bejbouji, L. Vignau, J. L Miane, M. T Dang, E. M Oualim, M.
Harmouchi, A. Mouhsen, Solar Energy Materials & Solar Cells. 2010
(94): 176 181.
[3]. C.-G. Wu, C.-H. Chiang, U. Jeng, J. Phys. Chem. B.2008 (112): 67-72.
[4]. J. Stejskal, I. Sapurina, Pure Appl. Chem. 2005 (77): 8-15.
[5]. J.P. Pouget, M.E Jozefowichz, A.J Eipstein, X. Tang, A.G
Macdiarmid.Macromolecules.1991 (24): 779 - 789.

60 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

PENGEMBANGAN SENSOR GAS ETHYL


-METHILBUTYRATE
(C7H14O2) BERBASIS GRAPHENE
F. J. Nor1, a, S. A. Wella1, b, Suprijadi2, c
1

Departemen Sains Komputasi FMIPA ITB,


Jl. Ganesha 10 Bandung, Indonesia
2
Departemen Fisika FMIPA ITB, Jl. Ganesha 10 Bandung, Indonesia
Email : afaizjazuli@yahoo.co.id, bsasfan@cphys.fi.itb.ac.id,
c
supri@fi.itb.ac.idInstitusi

ABSTRAK
Graphene terdiri dari susunan atom carbon yang menyerupai sarang
lebah yang tethubung melalui ikatan sp2. Penggunaan graphene
sebagai sensor gas telah banyak diteliti karena mempunyai
pergerakan elektron yang cepat pada keadaan temperatur ruangan
serta biaya pembuatan yang rendah. Pada paper ini dijelaskan
perubahan keadaan elektronik dari graphene yang berinteraksi
dengan gas C7H14O2menggunakan metode Density Functional
Theory (DFT). Gas tersebut merupakan gas yang paling banyak
ditemukan saat durian telah matang. Perubahan struktur dari gas
C7H14O2 terjadi karena beriteraksi dengan graphene. Sedangkan DOS
dari graphene sebelum dan sesudah berinteraksi dengan gas tersebut
terjadi perubahan sebesar 1.605472 eV. Sehingga dengan adanya
perubahan dari DOS maka penggunaan graphene sebagai material
sensor tingkat kematangan durian dapat dilakukan.
Kata kunci : Sensor gas, graphene, ethyl -methilbutyrate

61 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

PENDAHULUAN
Sensor gas menggunakan konsep perubahan sifat elektronik dari suuatu
bahan jika berinteraksi dengan gas tertentu. Penggunaan bahan
nanomaterial sebagai sensor telah banyak diteliti untuk memperbaiki sensor
yang telah dibuat dengan bahan semiconductor metal oxide (SMO). Sensor
dengan bahan ini mempunyai sejumlah keunggulan seperti konsumsi daya
yang rendah, mempunyai respons serta waktu pemulihan yang cepat [1].
Grapene (grambar 1) merupakan salah satu material berukuran nano yang
yang banyak diteliti sebagai bahan pembuatan sensor gas. Sensor berbahan
graphene berhasil mendeteksi keberadaan berbagai macam gas seperti NO2,
CO dan uap air [2].
Durian merupakan salah satu buah favorit yang banyak tumbuh di Indonesia
dengan ciri khas yang berbeda-beda pula. Baunya yang sangat khas ternyata
masih belum bisa dijadikan patokan untuk menentukan buah tersebut telah
matang atau belum. Berdasarkan riset yang telah dilakukan ciri-ciri yang
dapat dijadikan acuan bahwa durian telah matang adalah terdapat gas ethyl
-methilbutyrate (C7H14O2) dalam jumlah yang banyak di sekitar buah
tersebut [3s]. Strktur atom dari C7H14O2 dapat dilihat pada gambar 1.
Agar dapat mengetahui keberadaan gas tersebut maka dibutuhkan sensor
yang dapat mendetek-sinya. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahuipotensi penggunaan grapheme sebagai meterialsensor untuk
deteksi gas C7H14O2 menggunakan metode abinitio.

Gambar 1: Struktur atom graphene (a) dan gas C7H14O2 (b)

METODOLOGI PENELITIAN
Perhitungan dilakukan menggunakan metode Density Functional Theory
(DFT). Berbeda dengan metode Hartree-Fock yang menghitung energi
berdasarkan fungsi gelombang
, DFT berhasil menghitung energi
berda-sarkan kerapatan elektron. Perhitungan dilakukan menggunakan
paket simulasi PHASE yang telah berhasil menghitung perubahan struktur
dan sifat elektronik dari CNT(5,5) yang mempunyai cacat [4]. Gas C7H14O2

62 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
diposisikan di atas layer gra-phene dengan posisi secara vertical dengan
jarak 0.5272 sedangkan horizontal sejauh 1.08132 . Agar mendapatkan
posisi atom yang stabil dilaku-kan perhitungan Self Consistence Field
(SCF) dengan syarat konvergen sistem mempunyai energi 1e-8 Hartree dan
besar gaya 1e-3 Hartree/Bohr dengan tingkat akurasi berdasarkan mesh kpoint 1 x 2 x 1 untuk posisi gas secara vertical dan 2 x 1 x 1 untuk posisi
gas horizontal. Pada perhitungan DOS, mesh akurasi ditingkatkan menjadi
10 x 1 x 10 sehingga didapatkan band gap yang lebih teliti.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pergeseran struktur atom terjadi pada saat dilakukan perhitungan SCF.
Namun perubahan secara signifikan dari struktur atom terjadi pada model
gas C7H14O2 diposisikan secara vertical. Salah satu atom C dari graphene
terangkat keatas akibat terbentuknya ikatan dengan atom C yang paling
bawah dari gas. Terangkatnya atom C dari graphene membentuk sudut
dengan atom lain dari graphene. Sudut yang terbentuk paling besar adalah
12.1438 dengan perubahan posisi pada sumbu-y sebesar 0.402209.
Pergeseran posisi atom saat gas diposisikan vertical dapat dilihat pada
gambar 2.

Gambar 2: Struktur atom graphene dan gas C7H14O2 dengan posisi vertical
(a) Posisi Awal;
(b) Posisi stabil; dan (c) Pergeseran posisi atom C pada grapheme
Berbeda dengan gas yang dipasang dengan posisi vertical, saat diposisikan
horizontal gas tertolak sehingga jarak dengan graphene menjadi lebih besar
yaitu 2.4037 . Perubahan posisi ini dapat dilihat pada gambar3. Selain itu
layer graphene juga mengalami perubahan yang semula mempunyai
permukaan datar menjadi terdapat cekungan pada daerah di bawah gas
C7H14O2. Pergeseran posisi paling besar dari atom C pada graphene adalah
0.477417 .
Perhitungan DOS dari model posisi gas vertical telah didapatkan sedangkan
perhitungan utnuk gas pada posisi horizontal belum selesai. Hasil

63 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
perhitungan menunjukkan bawa terjadi perubahan band gap sebelum dan
sesudah graphene berinteraksi dengan gas C7H14O2. Grafik DOS sebelum
dan sesudah berinteraksi dengan gas dapat dilihat pada gambar 4.Pada saat
graphene belum berinteraksi dengan gas diperoleh band gap sebesar
0.326537 eV yangmenunjukkan graphene mempunyaisifat semi konduktor.

Gambar 3: Struktur atom graphene dan gas C7H14O2 dengan posisi


horizontal (a) Posisi awal; (b) Posisi stabil;

64 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Gambar 4: Hasil perhitungan DOS dari graphene dan gas C7H14O2 dengan
posisi vertical (a) Graphene murni; (b) Graphene dan Gas
Setelah berinteraksi dengan gas band gap berubah menjadi lebih besar yaitu
1.932009 eV. Perubahan band gap ini selanjutnya dapat dijadikan acuan
dalam penggunaan graphene sebagai material pembuatan sensor tingkat
kematangan durian.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil perhitungan SCF yang telah dilakukan, gas C7H14O2
dapat beriteraksi dengan layer graphene dan telah didapatkan kondisi yang
stabil. Hasil perhitungan DOS didapatkan pada model dengan posisi gas
vertical dengan perubahan band gap sebesar 1.605427 eV. Berdasarkan
adanya perubahan tersebut, maka penggunaan graphene sebagai material
sensor gas untuk deteksi tingkat kematangan durian dapat dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
[1]N. Ramgir et all. Metal oxide nanowires for chemiresistive gas sensors:
Issues, challenges and prospects. Colloids and Surfaces A: Physicochemical and Engineering Aspects, 439:101116, 2013.
[2] S.V. Morozov et all. Detection of individual gas molecules absorbed on
graphene. Nature Materials, 6:652655, 2007.
[3] P. Schieberle, J. X. Li and M. Steinhaus. Characterization of the major
odor-active compounds in thai durian (durio zibethinus l. monthong) by
aroma
extract
dilution
analysis
and
headspace
gas
chromatographyolfactometry. J. Agric. Food Chem., 60:1125311262,
2012.
[4] Suprijadi and A. Setiadi. Structural sifting and elektronik properties of
stones-wales defect in armchair edge(5,5) carbon nanotube. Advance
Materials Research, 772:380385, 2013.

65 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Sintesis dan Enkapsulasi Partikel Nanomagnetik Nikel


dengan Alginat-Kitosan dan Senyawa Aktif Mangosteen
Debby Chairubby Lubis1, Ahmad Nuruddin1, Abdul Halim Daulay2,
Bambang Sunendar Purwasasmita1
1

Program Studi Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung


Program Studi Ilmu dan Teknik Material Institut Teknologi Bandung

ABSTRAK
New Drugs Delivery System (NDDS) adalah metode baru dalam pengobatan
penyakit kanker. Pada NDDS digunakan partikel nanomagnetik sebagai
pembawa obat yang diarahkan menggunakan medan magnet menuju sel
kanker. Pada penelitian ini dibuat partikel nanomagnetik nikel yang
dienkapsulasi dengan alginat-kitosan dan senyawa aktif mangosteen sebagai
obat kanker. Partikel nanomagnetik nikel disintesis dari NiCl2.6H2O 1 M,
N2H5OH2,5 dan 5 ml, serta KOH 2,5 ml pada temperatur 80 90 oC.
Enkapsulasi partikel nanomagnetik nikel menggunakan alginat-kitosan
dengan rasio volume sebesar 1:1 dan 1:2. Partikel nanomagnetik nikel
terenkapsulasi kemudian di-entrapment dengan senyawa aktif mangosteen
dengan konsentrasi 0,1 mg dalam 1 ml metanol. Hasil karakterisasi
menunjukkan bahwa morfologi partikel nanomagnetik nikel terenkapsulasi
cenderung teraglomerasi, meskipun telah berbentuk bulat dengan ukuran 30
160 nm untuk rasio 1:1. Pengamatan gugus fungsi mengindikasikan
partikel nanomagnetik nikel telah terenkapsulasi oleh alginat-kitosan dan
mangosteen. Terdapatnya senyawa kristal Ni(OH)2 diperkirakan sebagai
penyebab berkurangnya sifat magnetisasi partikel. Namun demikian,
partikel nanomagnetik nikel yang dihasilkan masih bersifat
superparamagnetik dengan magnetisasi saturasi sebesar 7 emu/gram.
Ukuran partikel terkecil yang dihasilkan adalah 206,8 nm.
Kata-kata kunci: enkapsulasi, superparamagnetik, NDDS, dan partikel
nanomagnetik nikel.

66 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

PENDAHULUAN
Drug delivery systems adalah suatu sistem atau mekanisme penghantaran
obat ke dalam tubuh manusia. Contoh drug delivery systems yang banyak
digunakan sejak dulu adalah obat-obatan alami yang berasal dari tumbuhtumbuhan yang dimasukkan ke dalam tubuh dengan cara dimakan ataupun
dihirup. Namun cara ini tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar dari drug
delivery systems yaitu konsistensi dan ketahanan obat di dalam tubuh. Hal
ini kemudian menyebabkan terjadinya perkembangan metode drug delivery
systems, salah satunya menggunakan obat berbentuk pil, sirup, tablet,
kapsul, larutan, ekstrak, dan lainnya.[1]
New Drug Delivery Systems (NDDS) adalah metode terbaru dari drug
delivery systems yang mampu menghantarkan obat ke dalam tubuh manusia
secara akurat dan tidak mengganggu jaringan tubuh yang lain. Kelebihan
dari metode ini adalah penggunaan dosis obat yang tepat, sesuai dengan
kebutuhan dan lebih sedikitnya efek samping dari obat yang digunakan.
Pada metode NDDS, digunakan partikel nanomagnetik sebagai drug carrier
yang akan dimasukkan ke dalam tubuh.[2]
Dalam bidang kedokteran atau medis, NDDS dimanfaatkan sebagai salah
satu metode untuk membantu pengobatan penyakit, salah satunya adalah
kanker. Partikel nanomagnetik baik digunakan karena memiliki sifat kimia
dan fisika seperti perbandingan luas permukaan dengan berat yang lebih
besar daripada partikel lain, nilai quantum properties, dan kemampuan yang
baik dalam mengikat, menyerap, dan membawa senyawa lain.[2] Selain itu,
partikel nanomagnetik juga memiliki sifat kimia yang sangat aktif dan
mudah teroksidasi di udara sehingga menyebabkan nilai momen magnet dan
dispersibility partikel menurun. Untuk mengatasi kekurangan-kekurangan
tersebut, pada penggunaannya partikel nanomagnetik kerap kali
dienkapsulasi dengan senyawa organik dan senyawa non-organik.[3]
Berdasarkan hal tersebut, pada penelitian kali ini dilakukan sintesis partikel
nanomagnetik yang akan dienkapsulasi menggunakan polimer untuk
menjaga sifat kimia dan fisika yang dimilikinya serta ditambahkan dengan
senyawa aktif mangosteen sebagai obat kemoterapi. Hasil sintesis yang
dihasilkan diharapkan dapat digunakan dalam metode NDDS untuk
alternatif terapi kanker.

METODOLOGI PENELITIAN
Pada penelitian ini, NiCl2.6H2O, N2H5OH, dan KOH masing-masing
digunakan sebagai prekursor, agen reduktor, dan agen basa. NiCl2.6H2O
dilarutkan dalam aqua DM dan dipanaskan hingga mencapai temperatur 80
90oC. Larutan ditambahkan dengan N2H5OH dengan volume bervariasi

67 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
yaitu 2,5 dan 5 ml. Larutan ditambahkan lagi dengan KOH sebanyak 2,5 ml.
Setelah terbentuk endapan hitam homogen berbentuk serbuk kemudian
dilakukan proses homogenisasi dan proses vacuum sehingga menghasilkan
serbuk partikel nanomagnetik nikel.Proses enkapsulasi dilakukan dengan
cara menambahkan larutan alginat 0,5% (w/v) dan larutan kitosan 2% (w/v)
pada proses sintesis partikel nanomagnetik nikel. Perbandingan volume
larutan alginat dan larutan kitosan yang digunakan bervariasi yaitu 1:1 dan
1:2. Proses entrapment dilakukan dengan terlebih dahulu melarutkan serbuk
mangosteen dalam metanol dengan konsentrasi 0,01 mg/1 ml metanol.
Selanjutnya partikel nanomagnetik nikel yang sudah dienkapsulasi
dimasukkan ke dalam larutan mangosteen.Partikel nanomagnetik nikel yang
dihasilkan dikarakterisasi dengan metode SEM, FTIR, XRD, VSM, dan
PSA.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Gambar 1.a.menunjukkan bahwa morfologi beberapa partikel
nanomagnetik nikel terenkapsulasi telah berbentuk bulat dan kecenderungan
aglomerasi antar partikel tidak terlalu tinggi. Ukuran partikel yang
dihasilkan sekitar 30-160 nm.
b

Gambar 1.Hasil SEM partikel nanomagnetik nikel terenkapsulasi untuk


perbandingan volume alginate:kitosan(a) 1:1 dan (b) 1:2
Gambar 1.b. menunjukkan bahwa morfologi dari hampir seluruh partikel
nanomagnetik nikel terenkapsulasi telah berbentuk bulat dengan
kecenderungan aglomerasi antar partikel yang tidak terlalu tinggi. Ukuran
partikel yang dihasilkan lebih kecil sekitar 30-120 nm. Sehingga
disimpulkan bahwa penambahan alginat dan kitosan sebagai enkapsulan
partikel nanomagnetik nikel tidak banyak mempengaruhi ukuran partikel
yang dihasilkan. Ukuran yang lebih kecil serta kecenderungan aglomerasi
yang lebih rendah disebabkan volume larutan kitosan yang lebih banyak

68 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
pada perbandingan volume 1:2. Karena sifat kitosan yang mampu mengikat
logam termasuk Ni, maka kondisi tersebut akan memberikan lebih banyak
kemungkinan unsur nitrogen bebas pada kitosan (yang tidak berikatan
dengan alginat) untuk berikatan dengan elektron bebas dari logam nikel.
Hal ini menyebabkan lebih banyak logam yang berikatan dan pori
permukaan yang terbentuk lebih kecil.

Gambar 2. Hasil XRD untuk perbandingan volume alginate:kitosansebesar


1:1 dan 1:2
Gambar 2. menunjukkan bahwa pada partikel nanomagnetik terenkapsulasi
terdapat dua fasa kristalin yaitu Ni dan Ni(OH)2. Munculnya fasa Ni(OH)2
disebabkan karena pereduksian NiCl2.6H2O oleh N2H5OH yang tidak
sempurna akibat temperatur saat reaksi berlangsung yang sulit dikontrol
stabil dan adanya reaksi langsung antara partikel nanomagnetik nikel
dengan udara sehingga menyebabkan nikel teroksidasi.

69 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Gambar 3. Hasil VSM untuk perbandingan volume alginate:kitosan(a) 1:1


dan (b) 1:2
Gambar 3. menunjukkan bahwa partikel nanomagnetik terenkapsulasi
memiliki nilai magnetisasi sebesar 40 dan 25 emu/gr masing-masing
untuk perbandingan volume alginate:kitosansebesar 1:1 dan 1:2. Perbedaan
nilai magnetisasi ini diperkirakan akibat volume larutan kitosan yang lebih
banyak pada perbandingan 1:2 sehingga menyebabkan seluruh elektron
bebas dari nikel diikat oleh nitrogen bebas dari kitosan. Akibatnya tidak ada
elektron nikel yang tidak berpasangan dan tidak ada reaksi magnetisasi yang
mungkin terjadi.
100

80

1280.73

1153.43

669.30

1523.76
1440.83

3373.50

1377.17

2920.23

90

85

821.68

95

767.67

%T

75

1606.70

3635.82

65

60
4500
HA

4000

526.57

1058.92

70

3500

3000

2500

2000

1750

1500

1250

1000

750

70 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

500
1/cm

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Gambar 4. Hasil FTIR setelah prosesentrapment senyawa aktif mangosteen
Berdasarkan pengamatan padaGambar 4.di atas, tampak bahwa partikel
yang dihasilkan mengandung gugus fungsi alginat, kitosan, dan senyawa
aktif mangosteen. Gugus fungsi senyawa aktif mangosteen yang terkandung
adalah gugus fungsi OH, C=C, C-C, -CH3, C-O-C, dan C-O. Sedangkan
gugus fungsi alginat dan kitosan yang terkandung adalah gugus fungsi OH,
C=C, -NH2, C-C, C-O-C, dan C-O.

Gambar 5. Hasil VSM setelah prosesentrapment senyawa aktif mangosteen


Gambar 5. menunjukkan bahwa partikel yang dihasilkan memiliki nilai
magnetisasi sebesar 7 emu/gr. Penurunan nilai magnetisasi yang cukup
tinggi disebabkan partikel nanomagnetik memiliki sifat kimia yang mudah
teroksidasi di udara sehingga dapat menyebabkan nilai magnetisasi
menurun. Pada proses entrapment, digunakan metanol sebagai pelarut dari
serbuk mangosteen. Metanol, seperti yang diketahui, memiliki gugus fungsi
OH, dapat mengoksidasi partikel nanomagnetik nikel.
Hasil PSAsetelah prosesentrapment senyawa aktif mangosteenmenunjukkan
bahwa ukuran partikel terkecil adalah sekitar 206,8 nm. Hasil ini belum
memenuhi kriteria optimal dari NDDS (<100 nm), namun sudah memenuhi
kriteria standar yaitu <500 nm. Hal ini terjadi diperkirakan karena partikel
nanomagnetik nikel teroksidasi dengan pelarut metanol sehingga

71 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
menyebabkan tingkat dispersibility partikel menurun dan aglomerasi antar
partikel meningkat.

KESIMPULAN
Telah berhasil dilakukan sintesis partikel nanomagnetik nikel yang
dienkapsulasi dengan larutan alginat, kitosan, dan senyawa aktif
mangosteen. Partikel nanomagnetik nikel yang dihasilkan memiliki
morfologi berbentuk bulat dan kecenderungan aglomerasi, serta memiliki
dua fasa kristalin yaitu Ni dan Ni(OH)2. Partikel nanomagnetik nikel yang
dihasilkan bersifat superparamagnetik dengan magnetisasi saturasi sebesar
40 emu/gram dan tereduksi menjadi 7 emu/gram setelah terenkapsulasi
alginat, kitosan, dan mangosteen.Partikel nanomagnetik nikel yang
dihasilkan memiliki ukuran terkecil sebesar 206,8 nm dan ukuran ini telah
memenuhi kriteria standar NDDS yaitu <500 nm.

DAFTAR PUSTAKA
[1] P. Donatella, F. Massimo, S. Piyush, and F. Mauro, Drug Delivery
Systems, Encyclopedia of Medical Devices and Instrumentation, Second
Edition, 2006.
[2] H. D. J. Wim and J. A. B. Paul, Drug Delivery and Nanoparticles:
Applications and Hazards, Laboratory for Toxicology, Pathology and
Genetics, National Institute for Public Health and The Environment
(RIVM), The Netherlands, 2008.
[3] An-Hui Lu, E. L. Salabas, and Ferdi Schuth, Magnetic Nanoparticles:
Synthesis, Protection, Functionalization, and Application, Wiley Inter
Science, 2007.

72 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Pengaruh Penambahan Tapioka Terhadap Pembentukan


Morfologi Nanowire/Rod Pada Sintesis Superparamagnetic
CaAl4Fe8O19
Andi Ramdhan Zaini, Frank Tanuwijaya, Ahmad nuruddin,
Bambang Sunendar
Lab Advanced Proses Material, Teknik Fisika
Institut Teknologi Bandung
Email : purwa@tf.itb.ac.id

ABSTRAK
Pada penelitian ini inovasi yang akan disampaikan adalah penggunaan
nanopartikel magnetic untuk contras agent dan hipertermia pada kanker
tulang. Untuk memenuhi hal tersebut ada syarat yang harus dipenuhi.
Partikel nanomagnetik harus memiliki kompabilitas dengan tulang. Untuk
mendapatkan kompabilitas tersebut maka ditambahkan kalsium dan
alumunium pada nanopartikel magnetik. Didalam perkembangannya
morfologi nanopartikel magnetic menjadi penting karena dapat
menghasilkan momen magnet yang tinggi dan bersifat superparamagnetik.
Dan diharapkan dengan penggunaan partikel tersebut makap enggunaan
MRI menjadi optimal. Superparamagnetik nanowire/rod CaAl4Fe8O19 telah
berhasil disintesis dengan menggunakan metode kopresipitasi dengan
templat tapioka. Penambahan tapioca menghasilkan morfologi berupa
nanowire/rod dan menghasilkan momen magnet sebesar 85 emu/gram.
Kata kunci :CaAl4Fe8O19, nanowire/rod, tapioka, superparamagnetik

PENDAHULUAN
Material magnetic dapat diaplikasikan di bidang biomedik dengan
ditemukan sifat superparamagnetic pada ukuran nano. Sifat super para
magnetic dapat digunakan sebagai terapi kanker tulang yang sebagian besar
merupakan kanker hasi l penyebaran dari organ lain. Kanker penyebaran
lebih bersifat mematikan dibandingkan kanker utama. Sifat super
paramagnetic dapat digunakan pada terapi berupa drug delivery system dan
hipertermia. CaAl4Fe8O19 merupakan salahsatu material bersifat
superparamagnetik yang mempunyai morfologi nanowire dan momen

73 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
magnet sebesar 27.38 emu/gram [1]. Pada penelitian tersebut didapatkan
bahwa momen magnet meningkat seiring dengan terbentuknya morfologi
nanowire/rod [1]. Bentuk nanowire/rod pada suatu material dapat
dihasilkan dengan menggunakan templat. Tapioka merupakan salah satu
templat yang dapat menghasilkan bentuk seperti nanowire/rod [2]. Pada
penelitian ini akan dilakukan sintesis CaAl4Fe8O19 dengan menggunakan
tapioca sebagai template dan diharapkan terbentuknya morfologi
nanowire/rod dan terjadi peningkatan momen magnet.

METODOLOGI PENELITIAN
Larutkan Ca(NO3)3, Al(NO3)3 dan FeCl3 dalam aqua demineralisasi dengan
perbandingan mol sebesar 1:4:8 lalu tambahkan laurankitosan 1% sebagai
coupling agent kedalam larutan. Tambahkan larutan kanji 0.5% pada
larutan sebagai template nanowire/rod. Dan tambahkan NaOH kedalam
larutan hingga pH mencapai 11. Diamkan selama 24 jam. Keringkan
endapan dengan menggunakan vaccum drying hingga menjadi serbuk.
Kalsinasi pada suhu 750o C dengan atmosferinert (gas N2). Lalu
karakterisasi dengan menggunakan XRD, SEM dan VSM.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 1.Pola XRD


Dari gambar 1 terlihat grafik XRD yang menunjukan analisis kualitatif.
Hal ini membuktikan senyawa penyusun partikel nano superparamagnetic
adalah Ca(Al,Fe)12O19, CaAl12O19, Fe2O3, CaFe2O4, dan NaCl. NaCl yang
muncul pada material yang disintesis disebabkan oleh reaksi kimia dari
NaOH yang digunakan sebagai agenko-presipitasi dan Fe(Cl)3 sebagai
prekursor. Dari grafik dapat diamati perbedaan sudut, dan kemudian ukuran
Kristal dari material dapat dihitung menggunakan rumus Scherrer. Dan dari
hasil perhitungan didapat bahwa ukuran kristal yang dimodifikasi sebesar
0.427 nm

74 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Gambar 2.Sintesis tanpa kanji (kiri) [2] dan dengan kanji (kanan)
Dari gambar 2 terlihat bahwa tanpa kanji nanowire terbentuk tetapi masih
belum homogeny dan orientasi pertumbuhan tidak seragam sehingga
terbentuk seperti jarring sedangkan dengan menggunakan kanji nanowire
terbentuk lebih banyak dan mempunyai orientasi yang sama sehingga
berkumpul menjadi bentuk menyerupai jarum kompas.

Gambar 3.Hasil VSM


Orientasi pertumbuhan yang seragam penting untuk sifat magnet, hal ini
terlihat dari gambar 3 hasil VSM dimana momen magnet meningkat dengan
dari 27.38 emu/gram menjadi 85 emu/gram. Dan dari hasil VSM terlihat
bahwa material ini bersifat superparamagnetik.

75 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

KESIMPULAN
Penambahan tapioca menghasikan bentuk nanowire/rod yang lebih
homogeny dan menghasilkan orientasi pertubuhan yang lebih seragam.
Serta meningkatkan momen magnet yang dihasilkan.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Susilawati, Suyatman, B. sunendar. Synthesis of Supermagnetik
Nanowire CaAl4Fe8O19 by Co-precipitation Method for Bone Cancer
Therapy Application. ICBEMA.Serpong. 2012.
[2] Sudip K. Batabya,C. Basu, A.R.Das, G. S. Sanyal, Green Chemical
Synthesis of Silver Nanowires and Microfibers Using Starch, Journal
ofBiobased Materials and Bioenergy, vol.1, pp. 143-147, 2007.

76 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Fungsionalisasi Permukaan Oksida dengan Ligan Piridin


dalam Pembuatan Film Tipis Molekul Porfirin Secara
Self-Assembly untuk Aplikasi Sel Surya
Phutri Milana1*, Nurhayati2, Haris Setiawan2, Tati Ciptati1,
dan Veinardi Suendo2,3
1

Kelompok Keahlian Kimia Organik, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika


dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha No. 10, Bandung 40132, Indonesia
2
Kelompok Keahlian Kimia Anorganik dan Fisik, Jurusan Kimia, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung,
Jl. Ganesha No. 10, Bandung 40132, Indonesia
3
National Center for Nanotechnology,
Jl. Ganesha No. 10, Bandung 40132, Indonesia

Email: phutri.milana@students.itb.ac.id

ABSTRAK
Porfirin merupakan suatu makromolekul organik yang memiliki potensi
sebagai zat pemeka cahaya. Sehingga senyawa ini dapat digunakan pada
aplikasi optoelektonik, sebagai alat organic photovoltaic dan
elektroluminesensi. Namun, deposisi senyawa porfirin pada permukaan
film tipis bukan hal yang mudah karena interaksi yang lemah antara
senyawa porfirin dengan permukaan substrat. Pada penelitian ini,
fungsionalisasi permukaan wafer silikon dilakukan dengan menggunakan
TiCl4 dan isoniazida untuk membentuk substrat aktif. Permukaan substrat
yang aktif dapat terikat kuat dengan senyawa logam porfirin melalui ikatan
kovalen koordinasi. Karakterisasi morfologi permukaan substrat yang
dimodifikasi menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM).
Pengujian deposisi senyawa logam porfirin pada substrat silikon yang
dimodifikasi menggunakan pengukuran fotoluminesensi pada daerah sinar
tampak.
Kata kunci : ellipsometry, porfirin, ligan piridin, aktivasi lapisan oksida,

77 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
PENDAHULUAN
Pengembangan sel surya di Indonesia mengalami kendala berupa
ketidaktersediaannya bahan baku secara lokal yang berakibat pada tingginya
harga per kWh dari listrik yang dihasilkan. Hal ini menyebabkan teknologi
sel surya menjadi kurang menarik untuk dikembangkan sebagai sumber
energi baru dan terbarukan. Salah satu solusi yang dapat dilakukan dalam
memecahkan masalah ini adalah dengan mengembangkan sel surya berjenis
dye-sensitized solar cell (DSSC) atau Grtzel Cell. Sel surya jenis ini hanya
membutuhkan lapisan elektroda transparan, elektroda logam yang reflektif
(back contact), sistem elektrolit, partikel semikonduktor (wide band gap)
dan zat warna organik yang berfungsi sebagai pemeka pada permukaan
partikel semikonduktor. Salah satu permasalah utama dalam pemekaan
partikel semikonduktor adalah proses pembuatan thin film monolayer dari
zat warna pemeka secara adsorpsi kimia pada permukaan partikel. Salah
satu strategi yang banyak dikembangkan adalah dengan membuat suatu
jembatan molekuler yang bersifat spesifik terhadap molekul pemeka
sehingga proses pelapisan dapat berlangsung secara ekonomis melalui
proses self-assembly. Pada penelitian ini, permukaan nanopartikel
semikonduktor akan difungsionalisasi dengan molekul piridin yang
merupakan suatu ligan yang cukup kuat dan spesifik dalam membentuk
ikatan kompleks dengan sistem senyawa kompleks turunan porfirin seperti
layaknya klorofil dan ZnTPP. Terdapat berbagai strategi kimia dalam
menempelkan ligan piridin pada permukaan padatan, diantaranya adalah
melalui pembentukan ikatan etoksi-silan yang dapat diaplikasikan pada
permukaan kaca, silika ataupun substrat silikon yang memiliki lapisan
oksidasi alami (native oxide)[1]. Jika substrat atau partikel logam yang
hendak difungsionalisasi, dapat digunakan strategi melalui pelapisan dengan
logam emas dan dilanjutkan dengan pembentukan ikatan sulfida[2] atau
melalui proses oksidasi parsial yang dilanjutkan dengan proses terminasi
hidroksida (-OH) serta pembentukan ikatan ester[3]. Pada penelitian ini
dipilih strategi yang paling murah dan mudah, yaitu melalui proses
terminasi hidroksida yang diikuti oleh pembentukan ikatan ester. Sebagai
molekul uji dalam tahap imobilisasi akan digunakan zat warna pemeka
berupa ZnTPP (zinc-tetraphenylpophyrin). Proses imobilisasi yang
dilakukan akan berlangsung secara self-assembly dalam pelarut yang sesuai.
Film tipis dan nanopartikel hasil fungsionalisasi dan yang telah dilapisi
molekul porfirin terimobilisasi akan dikarakterisasi dan dianalisa
berdasarkan sifat fisikokimia dan optoelektroniknya.

78 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
METODOLOGI PENELITIAN
Grafting Ti(OH)x pada permukaan wafer silikon
Wafer silikon dibersihkan dengan aseton menggunakan ultrasonic cleaner
bath (Branson 2110), kemudian dicuci dengan etanol dan dilanjutkan
dengan aqua demineralisasi. Wafer silikon dikeringkan dengan gas N2 yang
disemprotkan. Wafer silikon tersebut dimasukkan ke dalam 30 mL
kloroform dengan aliran gas N2 dan kemudian ditambahkan 4 mL TiCl4.
Campuran reaksi direfluks pada suhu 71C selama 2 jam. Wafer silikon
yang telah termodifikasi dibiarkan kering di udara terbuka, selanjutnya
dibersihkan dengan kloroform dan aqua demineralisasi dan kemudian
dikeringkan dengan gas N2.
Esterifikasi isoniazida pada permukaan wafer silikon/Ti(OH)x
Wafer silikon yang termodifikasi dimasukkan ke dalam 30 mL kloroform
dan 0,2 gram (1,4598 mmol) isoniazida. Campuran reaksi direfluks pada
suhu 71C selama 14 jam. Substrat wafer yang terbentuk dibilas kloroform
dan dikeringkan dengan gas N2.
Sintesis senyawa kompleks ZnTPP
0,4 g Zn(OAc)2 dilarutkan ke dalam 40 mL toluena sambil diaduk dengan
stirrer. Kemudian pada campuran reaksi ditambahkan 0,01 gram H2TPP.
Immobilisasi ZnTPP pada substrat yang termodifikasi
Substrat wafer silikon berbagai tipe dimasukkan ke dalam larutan 0,1%
ZnTPP dalam kloroform. Substrat tersebut direndam selama 15 menit,
kemudian dikeringkan di udara terbuka.

79 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
HASIL DAN PEMBAHASAN
(a)

Silicon wafer (100)

(b)

Activation of oxide surfaces

OH

Ti
O

O
OH

Ti

Ti

Silicon wafer (100)/Ti(OH)x

OH

Ti
O

OH
O

O
O

(c)

O
O

Functionalization of oxide surfaces


N

N
Ti

Ti

Ti
O

Ti
O

O
O

O
O

Immobilization of Zn-TPP
-

2+

Zn

2+

Zn

2+

Zn

N
O

Ti
O

Silicon wafer (100)/Ti(OH)x/Isoniazide

N
N

2+

Zn

(d)

Ti
O
O

O
O

O
Ti
O

Ti
O

O
O

O
O

Gambar 1. Skema immobilisasi ZnTPP pada permukaan substrat wafer


silikon yang telah difungsionalisasi piridin (a). Karakterisasi SEM
permukaan wafer silikon (100) (b), permukaan silikon yang teraktifkan
Ti(OH)x (100) (c), setelah difungsionalisasi dengan isoniazida melalui
reaksi esterifikasi pada permukaan yang teraktifkan Ti(OH)x (d).
Hasil karakterisasi SEM pada berbagai permukaan wafer silikon
menunjukkan bahwa wafer silikon tanpa diaktivasi morforlogi
permukaannya rata (Gambar 1b), sedangkan wafer silikon yang diaktivasi
dengan TiCl4 dalam kloroform menunjukkan morfologi seperti benang dan
butiran-butiran TiO2 atau Ti(OH)x (Gambar 1c). Morfologi permukaan
wafer silikon yang telah diesterifikasi dengan isoniazida terlihat bahwa
permukaannya lebih teratur dan rata. Hal ini mengindikasikan adanya
lapisan isoniazida yang terbentuk (Gambar 1d).

80 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

c-Si (100)/ZnTPP
c-Si (100)/Ti(OH)x/ZnTPP

50000

c-Si (100)/Ti(OH)x/isoniazida/ZnTPP

Intensitas Emisi

40000

x1
30000

20000

10000

x5

exc = 405 nm

tacc = 500 ms

1,6

1,8

2,0

2,2

2,4

Energi (eV)

Gambar 2. Spektra fotoluminesensi ZnTPP yang terdeposisi pada berbagai


substrat: wafer silikon (100), wafer silikon yang teraktifkan dengan
Ti(OH)x, dan setelah fungsionalisasi dengan isoniazida melalui reaksi
esterifikasi pada permukaan yang teraktifkan Ti(OH)x.
Spektra fotoluminensensi ZnTPP yang terdeposisi pada berbagai substrat
wafer silikon (Gambar 2) mengindikasikan bahwa immobilisasi ZnTPP
pada permukaan wafer silikon yang difungsionalisasi dengan isoniazida
lebih banyak karena adanya ikatan kovalen koordinasi antara ligan piridin
dan atom pusat ZnTPP seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Puncak
emisi ZnTPP yang terimmobilisasi pada substrat wafer silikon (Gambar 2)
mempunyai karakteristik yang hampir mirip dengan puncak emisi ZnTPP
larutan yang ditunjukkan pada Gambar 3.
2,077ZnTPP dalam pelarut kloroform2,952

4,0

Absorpsi
Emisi

3,5

400

0,4

Absorbans

2,5

1,932

E = 0,169
2.246
2,077

Intensitas fluoresensi (a.u)

3,0

300

500
400

2,0

0,3

1,5

0,2

1,0

0,1

300

200

200
100

100
2,0

2,246

0,5

2,1

2,2

2,3

2,094
0

0,0
2,0

2,5

3,0

Energi (eV)

Gambar 3. Spektra fotoluminesensi ZnTPP dalam kloroform.

81 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
immobilisasi ZnTPP pada substrat wafer silikon yang terfungsionalisasi
isoniazida telah berhasil dilakukan. Hal ini didukung oleh peningkatan
intensitas sinyal fotoluminesensi secara signifikan dibandingkan substrat
wafer silikon tanpa fungsionalisasi. Proses aktivasi dengan Ti(OH)x terbukti
tidak memberikan peningkatan intensitas sinyal fotoluminesensi secara
signifikan. Hal ini disebabkan karena senyawa ZnTPP dapat berikatan
secara kovalen koordinasi dengan ligan piridin yang terikat pada matriks
oksida natif lewat jembatan OTiO.

DAFTAR PUSTAKA
[1] A. Dreas-Wlodarczak, M. Mullneritsch, T. Juffmann, C. Cioffi, M.
Arndt, M. Mayor, Langmuir 26 (2010) 10822.
[2] C. Silien, M. Buck, G. Goretzki, D. Lahaye, N. R. Champness, T.
Weidner, M. Zharnikov, Langmuir 25 (2009) 959.
[3] M. T. Brumbach, A. K. Boal, D. R. Wheeler, Langmuir 25 (2009)
10685.

82 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Sintesis, Karakterisasi, dan Aplikasi Gold Nanoparticles


(AuNPs) pada Penumbuhan Silicon Nanowires (SiNWs)
Asep Rohiman1,3, Buchari1, M.Bachri Amran1,
Endang Juliastuti2, Irman Idris3
1

Kelompok Keilmuan Kimia Analitik, Program Studi Kimia, FMIPA ITB


Kelompok Keilmuan Instrumentasi dan Kontrol, Teknik Fisika, FTI ITB
3
Laboratorium Devais dan Pemrosesan IC,
Pusat Mikroelektronika, ITB
Email : aseprohiman2010@gmail.com, asep.rohiman@students.itb.ac.id

ABSTRAK
Penelitian mengenaigold nanoparticles (AuNPs) akhir-akhir ini semakin
meningkat. Hal ini terjadi karena AuNPs memiliki banyak manfaat dan
aplikasinya pada berbagai bidang, seperti : sensor, kedokteran (drug
delivery), divais elektronik dan sebagainya.Pada penelitian ini Au-NPs telah
berhasil disintesis dengan menggunakan metodeTurkevich. Pada tahap
awal, larutanHAuCl4telah disiapkan dengan cara melarutkankawat
emas(99,99%) ke dalam gelas kimia yang berisi aqua regia. Kemudian,
sejumlah0,17mLlarutan HAuCl41% ditambahkan ke dalam 200 mL
aquabidest lalu dipanaskan sampai mendidih. Selanjutnya, ditambahkan
10mL natrium sitrat sambil diaduk konstan. Perubahan warna terjadi setelah
satu menit dari penambahan sodium sitrat, larutan berubah dari kuning
bening menjadi abu-abu, ungu, danberwarna merah pada produk
akhir.Parameter parameter yang telah diteliti pada sintesis Au-NPs ini
yaitu pengaruh temperatur, pengadukan, dan konsentrasi sodium sitrat
terhadap kesetabilan dan ukuran AuNPs yang terbentuk.Hasil
AuNPsdikarakterisasi menggunakan ScanningElectron Microscope
(SEM).Berdasarkan data SEM, diameter rata rata AuNPs yang dihasilkan
adalah~2027nm. Semakin tinggi temperatur dan proses pengadukan
menghasilkan AuNPs dengan ukuran yang semakin kecil.Temperatur dan
pengadukan optimum secara berurutan diperoleh 150 0C dan 280
rpm.Selanjutnya, AuNPs telah berhasil digunakan sebagai katalis untuk
aplikasi penumbuhan Silicon Nanowires(SiNWs).
Kata kunci :gold nanoparticles,nanowires, serat optik, sensor, SPR

83 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

PENDAHULUAN
Partikel nano logam mulia telah diteliti secara intensif sejak 15 tahun yang
lalu. Sifat fotonik dari partikel nano emas dan perak sangat menarik
perhatian para peneliti di dunia terutama untuk aplikasi material baik dalam
bidang biokimia maupun dalam bidang biomedis. [1]. AuNPs dapat
disintesis baik secara kimia yaitu dengan mereduksi emas dalam bentuk
garamnya, maupun secara fisika pada emas dalam bentuk ruahnya. Au-NPs
mempunyai kelebihan yang menonjol dibandingkan emas dalam bentuk
ruahnya, yaitu mempunyai sifat optik dan elektronik dengan toksisitas yang
rendah.Sifat optoelektronik AuNPs meningkat dari ukuran, bentuk, dan
lingkungan lokalnya. Sifat yang lainnya yaitu memberikan akses langsung
pada sensor,dapat berubah sifat konduktivitas, Surface Plasmon
Resonance(SPR),
dan
karakteristik
redoksnya
ketika
berikatandenganmaterial disekitarnya,[2].
Larutan AuNPs memberikan rentang warna dari merah, coklat, hingga ungu
seiring dengan peningkatan ukuran inti dari 1 nm sampai 100 nm. Pada
umumnya AuNPs memberikan puncak absorpsi plasmon permukaan yang
kuat dari 500 550 nm yang muncul dari osilasi kolektif pada elektron
konduksi sehingga terjadi eksitasi resonan yang menghasilkan foton. Pita
plasmon permukaan tidak muncul pada material dalam bentuk ruahnya.
Teori Mie pada SPR telah dibuktikan dengan hasil eksperimen bahwa SPR
sangat bergantung pada interaksi partikel nano dengan partikel yang
lainnya, dengan pergeseran pita merah (red-shifting) dan pelebaran karena
terjadi coupling antar partikel [2]. Sehingga sangat prospektif untuk
digunakan sebagai material dasar dalam pembuatan sensor baik untuk
biosensor maupun sensor kimia.

84 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Gambar 1. Skema yang merepresentasikan osilasi elektron konduksi
melalui partikel nano dalam medan elektromagnetik ketika
disinari cahaya.[2]
Mengingat begitu banyaknya aplikasi dari AuNPs terutama pada bidang
sensor maka pada penelitian ini dilakukan sintesis dan optimasi kondisi
pembuatan AuNPs serta aplikasinya terhadap penumbuhan SiNWs. Adapun
parameter yang telah diteliti pada sintesis Au-NPs ini yaitu pengaruh
temperatur, laju pengadukan, dan konsentrasi sodium sitrat terhadap
kestabilan dan ukuran AuNPs yang terbentuk.
Selanjutnya produk AuNPs yang diperoleh langsung digunakan sebagai
katalis pada penumbuhan SiNWs menggunakan LPCVD dengan metode
vapor-liquid-solid (VLS).
METODOLOGI PENELITIAN
Bahan dan Peralatan
Bahan yang digunakan adalah trisodium sitrat, HNO3 p.a, HCl p.a, kawat
emas 99,99 %, kloroform, DI H2O, toluene, H2O2, metanol. Alat-alat yang
digunakan adalah gelas kimia, Erlenmeyer, batang pengaduk, spatula,
hotplate+magnetic stirrer yang dilengkapi dengan termostat, serta alat-alat
penunjang lainnya (spektrofotometer UV-vis, SEM, Refraktometer, dan
LPCVD).
Metode
Sintesis gold nanoparticles (Au-NPs)
Larutkan 0,1 gram kawat emas 99,99% dalam 100 ml larutan aqua regia.
Kemudian dipanaskan hingga mendidih sambil diaduk hingga diperoleh
larutan homogen HAuCl4 1 %. Selanjutnya, 0,17 ml HAuCl4 1%
ditambahkan ke dalam DI H2O yang sedang mendidih sambil diaduk pada
280 rpm selama ~5 menit hingga larutan homogen. Kemudian tambahkan
larutan sodium sitrat secara perlahan sehingga terjadi perubahan warna dari
kuning bening, abu-abu, ungu dan merah anggur.[3]
Aplikasi AuNPs pada Penumbuhan Si-Nanowires (SiNWs)
Selanjutnya AuNPs digunakan sebagai katalis untuk menumbuhkan SiNWs.
Sebelumnya dilakukan pendeposisian AuNPs diatas substrat (silicon wafer).
Substrat yang telah dideposisikan AuNPs ditempatkan pada tungku (hot
chamber) LPCVD yang dipanaskan pada suhu eutektik dan dialirkan gas
SiH4.

85 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

HASIL DAN PEMBAHASAN


Sintesis Partikel Nano emas (Au-Nps)
Larutan HAuCl4 1 % diperoleh dengan cara melarutkan sebanyak 0,1 gram
kawat emas 99,99% ke dalam 100 mL larutan aqua regia. Kemudian proses
pemanasan menggunakan hot plate hingga mendidih sambil diaduk,
dilakukan untuk melepaskan gas NOX dan Cl2 sehingga didapatkan larutan
homogen HAuCl4 1 %. Selanjutnya, larutan AuNPs dibuat dengan cara
memipet sebanyak 0,17 mL HAuCl4 1% ke dalam gelas kimia 250 mL
yang sudah terisi DI H2O yang mendidih sambil diaduk pada 280 rpm
selama kurang lebih 5 menit hingga larutan homogen. Kemudian larutan
sodium sitrat ditambahkan secara perlahan sehingga terjadi perubahan
warna dari kuning, bening, abu-abu, ungu, dan merah anggur seperti tampak
pada gambar 2. di bawah ini.Larutan sodium sitrat berfungsi sebagai agen
stabilizer. Pada gambar 2.f. menunjukkan larutan AuNPs yang mengendap
berwarna ungu. Hal ini disebabkan karena kondisi sistem tidak mendukung
proses pembentukan AuNPs dengan sempurna. Seperti jumlah agen
stabilizer yang ditambahkan masih kurang, sehingga terjadi proses
aglomerasi. Sedangkan pada gambar 2.e tampak larutan AuNPs berwarna
merah anggur berhasil disintesis.

86 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Gambar 2. Perubahan warna larutan pada proses sintesis Au NPs.


Berdasarkan hasil karakterisasi menggunakan SEM, temperatur sistem
mempunyai pengaruh yang besar terhadap produk AuNPs yang
dihasilkan.Peningkatan temperatur berbanding terbalik dengan ukuran
diameter dan kestabilan dari AuNPs, seperti tampak sangat jelas pada
gambar 3dan tabel IV.1.1. Semakin tinggi temperatur sistem pada proses
sntesis AuNPs, menghasilkan AuNPs yang mempunyai diameter yang
lebih kecil. Hal ini dapat terjadi karena apabila temperatur meningkat maka
energi kinetik partikel pada sistem juga akan meningkat sehingga AuNPs
akan relatif lebih sulit untuk mengalami proses aglomerasi. Akan tetapi,
AuNPs yang terbentuk menjadi kurang stabil. Sehingga hanya dalam waktu
3 - 5 hari disimpan, sudah membentuk endapan yang berwarna ungu
kebiruan. Oleh karena itu, temperatur optimum sistem agar menghasilkan
AuNPs yang stabil adalah 150 0C.

87 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Gambar 3 Foto SEM yang menunjukkan pengaruh temperatur terhadap


ukuran diameter AuNPs yang terbentuk.(Rohiman, A.,dkk,
2011).
Tabel 1. Pengaruh Kenaikan Temperatur terhadap Kestabilan (Life
Time) AuNPs
Stirring rate (rpm)
Temperatur (oC)
Life Time AuNPs
120
280
< 1 minggu
150
280
>2 bulan
180
280
< 4-5 hari
210
280
< 3-5 hari

Sedangkan apabila dilakukan studi mengenai pengaruh kecepatan


pengadukan pada system ketika proses sintesis AuNPs berlangsung.
Peningkatan kecepatan pengadukan sangat mempengaruhi ukuran diameter
AuNPs yang terbentuk.Semakin tinggi kecepatan pengadukan menghasilkan
AuNPs dengan ukuran diameter yang semakin kecil, dapat dilihat pada
gambar 4.. Hal ini disebabkan karena pada saat kecepatan pengadukan yang
tinggi, AuNPs yang terbentuk akan lebih sulit untuk mengalami proses
aglomerasi. Akan tetapi, berdasarkan data eksperimen kecepatan
pengadukan ternyata tidak mempunyai pengaruh yang sangat signifikan
terhadap kestabilan AuNPs yang terbentuk, seperti tampak dengan sangat
jelas pada tabel 2. Pada kecepatan pengadukan di atas 280 rpm pun AuNPs
yang dihasilkan tetap stabil di atas 2 bulan masih bagus.

88 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Gambar 4. Foto SEM yang menunjukkan pengaruh kecepatan


pengadukan(stirring rate) terhadap ukurandiameter AuNPs
yang terbentuk. (Rohiman, A.,dkk, 2011)
Tabel 2. Pengaruh Kenaikan Temperatur terhadap Kestabilan (Life Time)
AuNPs
Temperatur (oC)
Stirring rate (rpm)
Life Time AuNPs
150
280
>2 bulan
150
380
>2 bulan
150
480
>2 bulan
150
580
>2 bulan

Penambahan jumlah sodium sitrat pada proses sintesis AuNPs


mempengaruhi bentuk dari AuNPs yang dihasilkan. Semakin banyak
sodium sitrat yang ditambahkan maka akan semakin banyak AuCl4- yang
tereduksi menjadi Au(S). Seharusnya ukuran diameter AuNPs menjadi
semakin kecil.Namun, berdasarkan data hasil karakterisasi SEM, diameter
AuNPs malah menjadi semakin besar seiring dengan penambahan sodium
sitrat, seperti tampak pada Gambar 5. Hal ini terjadi kemungkinan karena
kelebihan sodium sitrat berfungsi sebagai stabilizer tidak lagi sebagai agen
pereduksi sehingga akan melindungi AuNPs seperti halnya konsep
pembentukan misel pada sabun (surfaktan) dengan kotoran/noda. Oleh
karena itu, AuNPs yang dihasilkan membentuk kelompok atau unit yang
dilingkupi oleh sitrat sehingga yang teramati pada foto SEM, berdiameter
lebih besar.

89 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Gambar 5. Foto SEM yang menunjukkan pengaruh penambahan massa


sodium sitrat terhadap ukuran diameter AuNPs yang terbentuk.
Aplikasi AuNPs pada Penumbuhan Si-Nanowires (SiNWs)
Metode yang umum digunakan untuk mensintesis nanowire
adalah teknik vapor-liquid-solid (VLS) yang pertama dikembangkan di
tahun 1963. Nanowire ditumbuhkan dengan bantuan katalis diatas substrat
dengan menggunakan gas SiH4 sebagai sumber silikon. Substrat yang telah
dideposisikan nano-partikel emas ditempatkan pada tungku (hot chamber)
yang dipanaskan pada suhu eutektik dan dialirkan gas SiH4. Akibatnya, gas
tersebut akan terurai dan atom-atom silikon akan bercampur pada emas
yang telah mencair. Disaat konsentrasi silikon dalam campuran telah
mencapai titik saturasi, silikon akan beralih menuju fase padat dan
menghasilkan struktur nanowire. Gambar 6. menunjukkan diagram fasa
silikon dan emas serta skema penumbuhan nanowire silikon dengan katalis
nano-partikel emas.

90 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Gambar 6. Diagram fasa silikon emas yang menunjukkan titik eutektik


kedua material. Kemudian pada bagian bawah grafik
ditunjukkan skema penumbuhan nanowire silikon dengan
katalis emas.

Gambar 7. Instrumen LPCVD yang digunakan untuk menumbuhkan


SiNWs.

91 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

(a)

(b)

Gambar 8. Foto SEM SiNWs pada substrat Si <100> . (a) SiNWs dengan
waktu dip-coating selama 3 jam dengan proses penumbuhan
selama 10 menit. (b) SiNWs dengan waktu dip-coating selama
6 jam dengan proses penumbuhan selama 10 menit.

KESIMPULAN
Au-NPs telah berhasil disintesis dengan rentang diameter 13 - 40 nm.
Peningkatan temperatur berbanding terbalik dengan ukuran diameter
AuNPs yang dihasilkan. Semakin tinggi temperatur, maka ukuran diameter
AuNPs yang terbentuk menjadi semakin kecil. Karena energi kinetiknya
menjadi semakin besar sehingga AuNPs sulit untuk mengalami aglomersasi.
Kemudian, untuk parameter kecepatan pengadukan diperoleh bahwa
semakin tinggi kecepatan pengadukan maka ukuran diameter AuNPs yang
terbentuk menjadi semakin kecil karena semakin sulit AuNPs mengalami
aglomerasi. Jumlah sodium sitrat mempengaruhi ukuran diameter Au-NPs
yang terbentuk. Semakin besar massa sodium sitrat yang ditambahkan maka
dihasilkan AuNPs dengan ukuran diameter yang semakin besar.
Selanjutnya, telah berhasil juga menumbuhkan SiNWs sebagai salah satu
aplikasi AuNPs sebagai katalis dengan metode VLS.

92 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

DAFTAR PUSTAKA
[1] Hirsch, L.R. et al. Proc.Natl.Aca.Sci, U.S.A. 2003; 100, 13549-13554
[2] Chang-Cheng You, Sarit S. Agasti, Vincent M. Rotello. Chemical and
Biological Sensing Using Gold Nanoparticles. Nano and Microsensors
for Chemical and Biological Terrorism Surveillance.Edited by Jerey
B.-H. Royal Society of Chemistry 2008; 29 50.
[3] Asep Rohiman, Isa Anshori, Akhmadi Surawijaya, dan Irman Idris.,
(2011)., Study of Colloidal Gold Synthesis using Turkevich Method. 4th
Nanoscience and Nanotechnology Symposium (NNS), Bali.2011.
American Institute of Physics (AIP)Conf. Proc. 1415, 39-42.
[4] N. R. Jana., L. Gearheart, and C. J. Murphy. Chem.Mater. 2001, 13,
2313.
[5] B. Nikoobakht and M. A. El-Sayed. Chem.Mater. 2003, 15, 1957.
[6] E.E. Connor, J. Mwamuka, A. Gole, C. J. Murphy, and M.D. Wyatt.
Small. 2005, 1, 325.
[7] M. Brust., M. Walker., D. Bethell., D. J. Schiffrin., and R. Whyman. J.
Chem. Soc., Chem. Commun. 1994, 801.
[8] G. Schmid, R. Pfeil, R. Boese, F. Bandermann, S. Meyer, G. H .M.
Calis, J. W. A. Van der Velden. Chem. Ber. 1981, 114, 3634.
[9] J. Lyklema, Fundamentals of Interface and Colloid Science, Volume
1, Academic Press, 1993.
[10] J. Turkevich, Gold Bull. 18, 86, 1985.; J. Turkevich, Gold Bull. 18,
125, 1985.
[11] Isaac Ojea-Jimenez, et. al.J. Phys. Chem. C. 114 (4), 1800-1804
(2010).
[12] J. Kimling, M. Maier, B. Okenve, V. Kotaidis, H. Ballot, and A. Plech,
J. Chem. B. 110, 15700-15707 (2006).
[13] J. Turkevich, P. C. Stevenson, and J. Hillier, Discuss.Faraday. Soc 11,
55-75 (1951).

93 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Sintesis Kompleks Polianilin/Polianilin Tersulfonasi


Sebagai Material Konduktor Pada Perangkat
Optoelektronik Organik
Muhammad Rezaa, Aldini R. Humaidia, Ferdinand Hidayata,
Nona Srikandia,
Achmad Rochliadia, Tati Ciptatib, Veinardi Suendoa,c
a

Kelompok Keahlian Kimia Fisik dan Anorganik, Fakultas Matematika


dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung
b
Kelompok Keahlian Organik, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung
c
National Centre for Nanotechnology, Jalan Ganesha 10, Bandung 40132,
Indonesia
email : vsuendo@chem.itb.ac.id/Veinardi.Suendo@polytechnique.edu

ABSTRAK
Polianilin (PANI) merupakan salah satu contoh dari polimer konduktif yang
penggunaannya cukup luas sebagai perangkat optoelektronik organik. Akan
tetapi, PANI sulit untuk diproses lebih lanjut karena tidak dapat larut dalam
pelarut umum (air, metanol,) yang menyebabkan banyaknya penelitian
mengenai modifikasi PANI. Salah satu modifikasi PANI yang menarik
perhatian adalah polianilin tersulfonasi (SPAN), yaitu dengan pemasukan
gugus sulfonat (-SO3-) ke dalam cincin anilin. SPAN memiliki kelarutan
yang tinggi di dalam air dan mampu membentuk kontak ohmik dengan
logam, namun bersifat higroskopis. Pada penelitian ini, dilakukan
penggabungan PANI dan SPAN secara asam-basa sehingga dihasilkan
polimer blend PANI/SPAN berbentuk serbuk berwarna hijau yang larut
dalam beberapa pelarut organik umum serta tidak bersifat higroskopis. Pola
spektrum Infra Merah yang dihasilkan untuk PANI/SPAN tampak seperti
gabungan antara beberapa pola spektrum PANI dan SPAN itu sendiri. Nilai
konduktivitas untuk PANI, SPAN, dan PANI/SPAN pada frekuensi 30 Hz
adalah 0,1757; 0,0010; dan 0,0132 S cm-1. Dapat disimpulkan bahwa
polimer baru dari PANI dan SPAN yang saling berinteraksi dan memiliki
karakteristik berbeda dengan PANI maupun SPAN telah berhasil disintesis.
Kata Kunci: Polimer konduktif, polianilin, polianilin tersulfonasi,
perangkat optoelektronikorganik, polimer blend, konduktivitas

94 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

PENDAHULUAN
Penggunaan polimer konduktif sebagai komponen perangkat optoelektronik
organik semakin marak dikembangkan untuk menggantikan penggunaan
material berbasis logam1. Di dalam Organic Light Emitting Diode (OLED),
misalnya, lapisan konduktif dan lapisan pancaran yang digunakan berupa
senyawa organik dan/atau polimer. Di dalam lapisan konduktif tersebut
terdapat suatu bagian yang dinamakan Hole-Injection Layer (HIL) yang
biasanya menggunakan polimer blend poli(3,4-etilendioksitiofen)polistriensulfonat (PEDOT-PSS) sebagai material penyusunnya karena
transparansinya yang tinggi, fungsi kerja yang terdefinisi baik, kestabilan
termal yang tinggi, serta kemudahannya untuk diproses di dalam larutan2.
Namun PEDOT-PSS memiliki beberapa kekurangan, yaitu harga
monomernya yang cukup mahal, proses sintesisnya yang cukup rumit,
sifatnya yang terlalu asam sehingga dapat menyebabkan etching (goresan)
pada anoda Indium Tin Oxide (ITO)3, kerentanannya terhadap paparan sinar
UV4, dan penggunaan oksidator dalam jumlah berlebih dapat menyebabkan
polimer menjadi bersifat isolator5. Karena itulah, dibutuhkan polimer blend
lain yang dapat dijadikan sebagai alternatif penggunaan PEDOT-PSS
sebagai material HIL.
Polianilin (PANI) merupakan polimer konduktif yang menarik perhatian
banyak peneliti karena rentang konduktivitasnya yang luas, mulai dari
semikonduktor hingga konduktor metalik6. Selain itu, proses sintesisnya
mudah dan murah, memiliki kestabilan termal yang tinggi7, serta telah
terbukti dapat diaplikasikan sebagai material HIL pada Organic
Photovoltaic Cell (OPV) maupun pada OLED8. Kekurangan utama PANI
adalah ia sulit untuk diproses (tidak larut di dalam air maupun pelarut
organik umum) sehingga perlu dilakukan modifikasi PANI dengan
menambahkan gugus fungsi protonik pada rantai utama seperti gugus
sulfonat (SO3-) agar dapat larut di dalam air9. Polianilin tersulfonasi
(SPAN) ini memiliki beberapa sifat berbeda dari PANI, diantaranya adalah
kelarutannya yang tinggi dalam air dan kemampuannya membentuk kontak
ohmik dengan logam10. Akan tetapi, SPAN bersifat higroskopis, memiliki
konduktivitas yang relatif lebih rendah dari PANI, dan tidak dapat larut di
dalam pelarut organik umum seperti metanol dan etanol.
Polimer blend antara PANI dengan polistirensulfonat (PSS) telah dikenal
sebagai PANI-PSS dan telah diujicobakan sebagai material HIL11.
Gabungan tersebut memiliki karakter yang sama dengan PEDOT-PSS, yaitu
larut di dalam air dan memiliki konduktivitas yang cukup baik. Polimer
blend antara PANI dengan SPAN membentuk PANI/SPAN diharapkan

95 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
dapat terbentuk agar menghasilkan alternatif lain yang lebih ekonomis dan
mudah disintesis.

EKSPERIMEN
Sintesis PANI
Emeraldine Salt (PANI ES). Sejumlah anilin dilarutkan dalam larutan HCl
1M. Secara bersamaan disiapkan pula larutan oksidator dengan melarutkan
amonium peroksodisulfat dalam aqua dm. Perbandingan volume kedua
larutan diatas adalah 1:1. Kemudian kedua larutan tersebut dibiarkan selama
satu jam. Proses polimerisasi dimulai dengan menambahkan larutan
oksidator setetes demi setetes ke dalam larutan anilin/HCl pada suhu 0oC (di
dalam waterbath) disertai pengadukan selama 15 menit. Reaksi polimerisasi
dibiarkan berlangsung selama tiga hari dan suhu dijaga tetap pada 0oC.
Setelah reaksi polimerisasi selesai, larutan disaring secara vakum dan dicuci
menggunakan aseton serta HCl. Selanjutnya dikeringkan dalam oven vakum
selama 24 jam sehingga didapatkan padatan PANI ES.
Sintesis SPAN
PANI yang dihasilkan pada tahap sebelumnya digerus hingga diperoleh
serbuk yang halus. Serbuk PANI tersebut kemudian didispersikan dalam
asam klorosulfonat yang dicampurkan dengan kloroform sehingga pada
akhirnya didapatkan SPAN dengan konsentrasi 20 %. Kemudian dispersi ini
diaduk selama tiga hari sebelum diendapkan dalam metanol, yang kemudian
disaring secara vakum dan dikeringkan dalam oven vakum selama 24 jam.
Sintesis pasangan asam basa PANI/SPAN
SPAN yang telah disintesis sebelumnya dilarutkan di dalam aqua DM. Ke
dalamnya ditambahkan anilin dan campuran HCl pekat dengan aqua DM.
Larutan tersebut kemudian disonikasi selama lima menit. Pada saat yang
sama, APS dilarutkan di dalam aqua dm. Kedua larutan tersebut dibiarkan
di dalam lemari es bagian bawah (suhu 8oC) selama satu jam. Kemudian
larutan APS diteteskan ke dalam larutan SPAN-anilin-HCl yang telah
dipindahkan ke dalam botol kaca sambil diaduk selama 15 menit
menggunakan pengaduk magnet pada suhu ruang. Proses polimerisasi
dilakukan pada ruang beku lemari es (suhu polimerisasi 20oC) selama 96
jam. Botol kaca ditutup, polimerisasi dilangsungkan tanpa pengadukan
sama sekali. PANI/SPAN yang telah mencair seluruhnya ditampung di
dalam corong Buchner dan disaring menggunakan pompa vakum.
Pencucian dilakukan dengan menggunakan HCl dan aseton. Serbuk

96 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
PANI/SPAN yang dihasilkan ini dikeringkan di dalam oven vakum selama
24 jam pada suhu ruang.
Sampel kemudian dikarakterisasi gugus fungsinya mengunakan FTIR dan
kondukivitasnya dengan LCR meter (20 Hz 2 MHz).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Spektroskopi Fourier Transform Infra Red (FTIR).
Gambar 1 menunjukkan spektra serapan dari PANI, SPAN, dan
PANI/SPAN yang dihasilkan.

Gambar 1. Spektrum FTIR PANI, SPAN, dan PANI/SPAN


Dari spektrum yang dihasilkan, dapat dilihat bahwa spektrum masingmasing polimer tidak terlalu berbeda. Spektrum PANI/SPAN memiliki
beberapa puncak khas yang dimiliki oleh PANI dan SPAN itu sendiri.
Puncak serapan masing-masing polimer dirangkumkan dalam tabel 1
berikut ini.

Tabel 1. Data Serapan FTIR PANI, SPAN, dan PANI/SPAN


Bilangan Gelombang (cm-1)
PANI

SPAN

PANI/SPAN

Mode Vibrasi

97 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
1576

1577

1576

1482

1497

1494

Bilangan Gelombang (cm-1)


PANI

SPAN

PANI/SPAN

1307

1307

1306

1247
1143

1247
1151

1143

1072

1071

1023

1022

829

830
608

Vibrasi ulur C=C cincin


quinoid (Q)
Vibrasi ulur C=C cincin
benzenoid (B)
Mode Vibrasi
Vibrasi ulur CN pada aromatik
dengan amina sekunder
(d) Vibrasi ulur CN+
Vibrasi ulur N=Q=N, Q=N+B,
BNH+B
(b, c) Vibrasi ulur C (aril)S
(a) Deformasi cincin Q (out of
plane)
Vibrasi ulur CS

Pengukuran konduktivitas.
Karakteristik dari polimer konduktif PANI, SPAN, dan PANI/SPAN dapat
dilihat dari hasil pengukuran konduktivitas menggunakan LCR Meter.
Gambar 2 merupakan grafik aluran konduktivitas ketiga polimer tersebut
terhadap frekuensi. PANI memiliki konduktivitas yang relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan SPAN ataupun PANI/SPAN. Akan tetapi,
kecenderungan konduktivitas yang dimiliki PANI adalah menurun dengan
meningkatnya frekuensi. Karakteristik ini sangat mirip dengan karakteristik
logam sehingga PANI yang disintesis pada penelitian ini bersifat metalik.

98 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Gambar 2. Aluran konduktivitas ketiga polimer terhadap frekuensi

Hasil aluran yang terbentuk pada SPAN adalah konduktivitas akan semakin
meningkat dengan meningkatnya frekuensi yang diberikan terhadap sampel.
Pola ini merupakan suatu ciri dari sifat semikonduktor atau isolator. Jika
dilihat dari nilai konduktivitasnya yang jauh lebih rendah dari PANI, dapat
disimpulkan bahwa memang SPAN tidak memiliki sifat metalik yang
tadinya dimiliki oleh rantai PANI. Penurunan nilai konduktivitas ini dapat
disebabkan oleh keberadaan gugus samping, yaitu gugus sulfonat pada
rantai SPAN. Gugus sulfonat memiliki struktur ruah sehingga untuk
menghindari terjadinya overlap orbital di sepanjang sistem terkonjugasi,
gugus tersebut akan memaksa cincin benzen untuk berputar keluar dari
bidang12.
Sementara itu, PANI/SPAN menunjukkan hasil yang menarik. Aluran
grafik yang dihasilkan seolah-olah merupakan gabungan dari aluran PANI
dan SPAN. Pada frekuensi rendah, konduktivitasnya menurun seperti pada
PANI, namun sebelum menurun terus seiring peningkatan frekuensi, aluran
sedikit meningkat seperti pada SPAN. Hal ini menandakan bahwa
PANI/SPAN yang disintesis pada penelitian ini memiliki karakteristik yang
berbeda dari PANI maupun SPAN dalam konduktivitasnya. PANI/SPAN
yang dihasilkan lebih bersifat metalik karena konduktivitas menurun seiring
peningkatan frekuensi. Gabungan sifat metalik dan semikonduktor yang
terdapat pada PANI/SPAN ini harus diteliti lebih lanjut.
Konduktivitas dari masing-masing polimer konduktif tersebut ditampilkan
pada Tabel 2, yang menyatakan dengan jelas bahwa PANI memiliki
konduktivitas yang lebih tinggi dibandingkan SPAN maupun PANI/SPAN.

99 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Nilai yang ditampilkan merupakan nilai konduktivitas pada frekuensi 30
Hz.
Tabel 2. Konduktivitas PANI, SPAN, dan PANI/SPAN pada frekuensi
30 Hz
Sampel

Konduktivitas (x10-2 S cm-1)

PANI

17,57

SPAN

0,100

PANI/SPAN

1,323

KESIMPULAN
Polimer blend PANI/SPAN yang dihasilkan memiliki sifat gabungan dari
PANI dan SPAN itu sendiri. Keistimewaan dari PANI/SPAN ini adalah
larut dalam air dan beberapa pelarut organik umum serta sifat higroskopik
dari SPAN tidak muncul sama sekali pada PANI/SPAN yang disintesis. Hal
ini pula dibuktikan dari hasil spektrum FTIRPANI/SPAN yang
menunjukkan beberapa perbedaan dari spektrum prekursornya. Hasil
pengukuran konduktivitas menunjukkan sifat PANI yang metalik, SPAN
yang isolator, dan PANI/SPAN yang memiliki sifat gabungan antara PANI
dan SPAN. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa suatu polimer baru
PANI/SPAN yang memiliki karakteristik berbeda dari PANI maupun SPAN
telah berhasil disintesis.

DAFTAR PUSTAKA
[1] De Paoli, M., Gazotti, W. A. (2002), Electrochemistry, Polymers, and
Opto-Electronic Devices: A Combination with a Future, J. Braz. Chem.
Soc. 13(4), 410 424.
[2] Groenendaal, L. B., Jonas, F., Freitag, D., Pielartzik, H., Reynolds, J.
R. (2000), Poly(3,4-ethylenedioxythiphene) and Its Derivatives: Past,
Present, and Future, Adv. Mater. 12(7), 481 494.
[3] De Jong, M. P., van Ijzendoorn, L. J., de Voigt, M. J. A. (2000),
Stability of the Interface Between Indium-Tin-Oxide and Poly (3,4-

100 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
ethylenedioxythiophene)/ Poly (styrenesulfonate) in Polymer LightEmitting Diodes, Appl. Phys. Lett.77, 2255 2258.
[4] Birgerson, J., Denier van der Gon, A. W., Fahlman, M., Salaneck, W.
R. (2002), Modification of PEDOT-PSS by Low Energy Electrons,
Org. Electron. 3(3), 111 118.
[5] Ahonen, H. J., Lukkari, J., Kankare, J. (2000), n- and p-doped poly(3,4ethylenedioxythiophene): Two Electronically Conducting States of the
Polymer, Macromolecules 33(18), 6787 6793.
[6] Lee, K., Cho, S., Park, S. H., Heeger, A. J., Lee, c. W., Lee, S. H.
(2006), Metallic Transport in Polyaniline, Nature 441, 65 68.
[7] Corts, M. T., Sierra, E. V. (2006), Effect of Synthesis Parameters in
Polyaniline: Influence on Yield and Thermal Behavior, Polymer
Bulletin 56, 37 45.
[8] Vignau, L., Miane, J. L., Olinga, T., Wantz, G., Mouhsen, A., Oualim,
E. M., Harmouchi, M. (2010), Influence of the Nature of Polyanilinebased Hole-Injecting Layer on Polymer Light Emitting Diode
Performances, Mater. Sci. Eng. B 166, 185 189.
[9] Yue, J., Epstein, A. J. (1990), Synthesis of Self-Doped Conducting
Polyaniline, J. Am. Chem. Soc. 112, 2800 2801.
[10] Mello, R. M. Q., Hmmelgen, I. A. (2001), Ohmic Contacts Between
Sulfonated Polyaniline and Metals, J. Sol. State Electrochem. 5, 546
549.
[11] Jang, J., Ha, J., Kim, K. (2008), Organic Light-Emitting Diode with
Polyaniline-Poly(Styrene Sulfonate) as a Hole Injection Layer, Thin
Solid Films 516, 3152 3156.
[12] Yue, J., Epstein, A. J., Zhong, Z., Gallagher, P. K., MacDiarmid, A. G.
(1991). Thermal Stabilities of Polyaniline, Synth. Met. 41, 765 768.

101 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Preparation of Electrospun Poly


(Vinyl Alcohol) Nanofibers for Ultrafast Release of Protein
Chandra Risdian1,2*, Heni Rachmawati1, Muhamad Nasir2
1) School of Pharmacy, Bandung Institute of Technology (ITB)
Jl. Ganesha, Bandung 40132, Indonesia
2) Research Center for Chemistry, Indonesian Institute of Sciences (LIPI)
Jl. Cisitu Sangkuriang, Bandung 40135, Indonesia
*Corresponding author, email: chandra.risdian@gmail.com

ABSTRACT
Electrospinning is a process to form fibers by utilizing electrostatic forces.
Fibers produced using this process have diameters from a few micro to
nanometers. In this study, electrospinning was applied to prepare proteinloaded (bovine serum albumin (BSA)) poly(vinyl alcohol) (PVA)
nanofibers. Small amount of non-ionic surfactant (Triton X-100) was added
in order to produce smooth and uniform fibers by decreasing surface tension
of the polymer solution. Various applied voltage determined the diameters
of fibers. Increasing applied voltage from 9 kV/12 cm to 12 kV/12 cm
leading to decrease fiber diameters for about 87.5%. However, the fiber
diameters increased over than 1 m at 15 kV/12 cm. The fiber diameters of
PVA+BSA nanofibers were found 31950 nm whilst the fiber diameters of
PVA nanofibers without BSA were found 29445 nm. In vitro drug release
tests of the nanofibers were conducted in PBS pH 7.4 for 20 minutes. About
77% BSA was released in 30 second, and reached 100% within 2 minutes.
This ultrafast releasing drug capability makes PVA nanofibers as a potential
orally dissolving dosage form in the future.
Keywords: Electrospinning, nanofibers, PVA, protein, ultrafast release.

INTRODUCTION
The next generation of drugs will be dominated with protein dan peptides
[1]. Intraoral administration for protein and peptides has potential
advantages over other available routes. It can avoid protein degradation by
gastrointestinal enzymes, has high patient compliance and excellent
accessibility, and self-placement of a dosage form is possible [2]. Orally

102 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
disintegrating tablets (ODTs) are very promising for the delivery of high
molecular weight protein and peptide because ODTs can be designed to
provide fast onset of action by enhancing pregastric absorption through the
buccal cavity, pharynx and oesophagus [3]. Electrospinning is the process
of using electrostatic forces to form non-woven fibers. The non-woven
fibrous mats or webs are very promising material for orally dissolving
dosage form because they have small fiber diameters, very large surface
area and also high porosity [4,5]. The present study describes the
preparation by electrospinning of protein-loaded nanofibers using
poly(vinyl alcohol) (PVA) as the fiber-forming matrix, aimed for orally
dissolving dosage form. Protein in vitro release profiles were also
investigated. Bovine serum albumin (BSA) was used as a model of protein.

METHODS
Spinning solution 10% (w/v) PVA was prepared by dissolving 2 g PVA in
20 ml water and stirred by magnetic stirrer at 200 rpm and 80oC for 3 hours.
Bovine serum albumin (50 mg) was dissolved in the solution of polymer (10
ml). Triton X-100 1% (w/v) (500 l) was also added to the solution.
Polymer solution (PVA + Triton X-100) without BSA was also prepared.
Electrospinning apparatus (manufactured by LIPI) was used for
electrospinning process. A piece of aluminium foil was used to collect the
ultrafine fibers with a vertical distance of 12 cm from the needle tip. Three
different high voltage supply were applied (9, 12, and 15 kV) to the metallic
needle (22G x 1.5). The collected fibers were observed with optical
microscope (Nikon ECLIPSE E400) with 400X and 1000X magnification.
The surface morphologies of electrospun fibers were assessed using a
JEOL-JSM-6510LV scanning electron microscope. Energy dispersive x-ray
spectroscopy (EDS or EDX) was also conducted in order to characterize the
elemental composition of electrospun fibers. Fourier transformed infrared
spectroscopy (FTIR) was conducted using a Prestige 21 Shimadzu FTIR
spectrometer. Nanofiber mats (10 mg) were placed in 10 ml of phosphate
buffer saline (PBS pH 7.4) in a test tube, which was incubated in a water
bath at 37oC. The BSA content was determined using the UV-Vis
spectrophotometer (Hitachi U-2800) at 278 nm.

RESULTS AND DISCUSSION


The color of poly (vinyl alcohol) nanofibers containing BSA produced by
electrospinning was white. Increasing applied voltage to 15 kV formed fiber
defects with large diameters of fibers. This may be caused by instability
while processing the fibers due to very high voltage. Incorporating BSA

103 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
could increasing diameters of fibers. The fiber diameters of BSA loaded
PVA nanofibers were found 31950 nm, meanwhile the fiber diameters of
PVA nanofibers without BSA were found 29445 nm (Figure 1).

Figure 1. Scanning electron microscopy image of PVA nanofibers (A,C)


and BSA loaded PVA naofibers (B,D) at 10,000x magnitude (A,B) and
20,000x magnitude (C,D).
Nitrogen atom (11.75%) was detected by energy dispersive x-ray
spectroscopy in BSA loaded PVA nanofibers, indicating that protein (BSA)
was included in the nanofibers. Spectrogram of BSA loaded PVA
nanofibers produced from FTIR indicated good compatibility between
them. About 77% BSA was released in 30 second, and reached 100% within
2 minutes.

CONCLUSION
PVA nanofibers containing bovine serum albumin (BSA) have been
successfully prepared by electrospinning process with the fiber diameters of
31950 nm. Incorporation BSA to PVA nanofiber was confirmed from
EDX and FTIR spectra. In 30 second, about 77% BSA was released from
the PVA nanofibers, and reached 100% within 2 minutes. This ultrafast
releasing protein capability makes PVA nanofibers as a potential orally
dissolving dosage form replacing conventional ODT.

ACKNOWLEDGEMENT

104 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
This work is supported by Competitive Grant 2013 from Indonesian
Institute of Sciences (LIPI).
REFERENCES
[1]. Ritika S, Meenu R, Pawan P, Saurabh S. Int Res J Pharm, 2011,
2(11): 21-29.
[2]. Scholz OA, Woff A, Schumacher A, Giannola LI, Campisi G, Ciach
T, Velten T. Drug Discov Today, 2008, 13 (5-6): 247-253.
[3]. Bala R, Khanna S, Pawar PK. J Adv Pharm Technol Res, 2013, 4(3):
151-159.
[4]. Sill TJ, von Recum HA. Biomaterials, 2008, 29: 1989 2006.
[5]. Jia L, Qin X. J Therm Anal Calorim, 2013, 112: 595-605.

105 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Fotokatalis TiO2 Anatase dengan Pengotor


Cr dan Fe: Investigasi DFT+U pada Pita Energi

Listra Yehezkiel Ginting, Mohammad Kemal Agusta, Hermawan K


Dipojono
KK Teknik Fisika, Fakultas Teknologi Industri,Institut Teknologi Bandung
Email : listra.yehezkiel@gmail.com

ABSTRAK
Produksi gas hydrogen secara foto katalisis memiliki potensi yang
besar sebagai sumber energy masa depan yang murah dan ramah
lingkungan. Fotokatalis yang digunakan dalam penelitian ini adalah
TiO2 Anatase. TiO2 Anatase ini kemudian diberi pengotor logam
transisi untuk meningkatkan laju reaksi dan efisiensi. Invetigasi
komputasional dilakukan dengan menggunakan teori fungsional
kerapatan yang diberi tambahan factor koreksi Hubbard U untuk
mengoreksi pita energy TiO2. Keberadaan logam transisi sebagai
pengotor memunculkan tingkat-tingkat energy baru di tengah pita
energy TiO2 yang menghasilkan material dengan karakteristik foto
katalitik yang lebih baik. Salah satu karakteristik tersebut adalah
kemampuan fotokatalis untuk teraktivasi pada spectrum cahaya
tampak yang lebih baik dibandingkan TiO2 murni yang hanya
bekerja pada spectrum cahaya UV. Dari dua alternative logam
transisi yang diuji, TiO2 yang diberi pengotor atom besi
menunjukkan karakteristik fotokatalitik yang lebih baik.
Kata kunci : DFT+U, TiO2 anatase, fotokatalisis, reaksi
pemecahan air, pita energi

PENDAHULUAN

106 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Sebagai penyimpan energi, gas Hidrogen memiliki banyak


kelebihan disbanding dengan bahan bakar fosil. Salah satunya
adalah kapasitas energi per satuan massa, yaitu 122 kJ/g
disbanding dengan bensin 40 kJ/g [1]. Metode untuk
menghasilkan gas Hidrogen bervariasi, tetapi salah satu yang
mendapat perhatian besar adalah fotokatalisis sejak ditemukannya
reaksi pemecahan air menggunakan katalis TiO2 rutile oleh
Fujishima dan Honda[2]. Dengan pita energy selebar 3.0 eV,
fotokatalis TiO2 rutile hanya dapat diaktivasi olehspektrum
ultraviolet (3-5% dari seluruh spectrum cahaya matahari).
Perkembangan foto katalisterk ini menggunakan polimorf TiO2
yang lain, Anatase. Anatase memiliki kemampuan katalisis yang
lebih baik dibanding rutile, tetapi pita energinya lebih lebar (3.2
eV) [3]. Beberapa proposal diajukan untuk mempersempit pita
energy TiO2 agar dapat bekerja di spectrum cahaya tampak (lebih
dari 44% spectrum total cahaya matahari). Di antaranya :
penambahan logam transisi sebagai pengotor [4,5], penambahan
pengotor nonmetal (N)[6], penambahan dye[7], dan
kombinasinya. Tetapi, penyempitan pita energy pada TiO2 juga
menyebabkan peningkatan laju rekombinasi dini yang
menurunkan efisiensi fotokatalis. Untuk mengatasi masalah ini,
strategi yang kami gunakan adalah menambahkan pengotor logam
transisi 3d yang memiliki tingkat energi di sekitar pita energy
TiO2. Penambahan pengotor logam ini diharapkan memunculkan
jebakan elektron yang mampu menahan elektron agar tidak
mengalami rekombinasi dini. Nilai pita energy juga tidak boleh
lebih kecil dari 1.23 eV agar dapat mengoksidasi air menjadi gas
oksigen dan ion hydrogen [3].
Dari berbagai studi teori fungsional kerapatan (DFT) sebelumnya,
didapatkan bahwa pita energy hasil simulasi berada di nilai
sekitar 2.0-2.5 eV [8,9] yang cukup jauh dari nilai pita energy
eksperimental (3.2 eV). Hal ini merupakan kelemahan DFT

107 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

akibat asumsi over-delocalized electrons. Untuk mengatasi


kelemahan ini, parameter Hubbard U kemudian ditambahkan ke
model komputasi untuk atom Ti.
METODOLOGI PENELITIAN
Kalkulasidilakukan dengan menggunakan teorifungsional kerapatan
(DFT) dengan menggunakan generalized gradient approach
menggunakan parameter Hubbard U dan pendekatan Perdew-BurkeErnzernhof untuk memodelkan fungsional exchange-correlation.
Pendekatan-pendekatan ini diimplementasikan di dalam program
Quantum ESPRESSO[10]. Interaksiantarainti ion dan electron didekati
dengan menggunakan pseudopotensial ultrasoft. TiO2 murni dimodelkan
dengan menggunakan 48 atom dalam supercell dengan ukuran 2x2x1
unit anatase. Model terdiri atas 32 atom O dan 16 atom Ti. Pengotor
logam transisi dimodelkan dengan mengganti salah satu atom Titanium
dengan pengotor logam transisi. Struktur elektronik hasil simulasi
kemudian dianalisis untuk mencapai tujuan penelitian ini.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil optimasi DFT+U menunjukkan bahwa nilai pita energi yang
mendekati nilai eksperimental dapat diperoleh dengan menambahkan
nilai parameter Hubbard U sebesar 7.0 eV seperti dapat dilihat pada
table berikut ini.
Variasi
Pita Energi[eV]
Pure GGA
2.13
GGA + U = 1.0 eV
2.23
GGA + U = 2.0 eV
2.35
GGA + U = 3.0 eV
2.49
GGA + U = 4.0 eV
2.64
GGA + U = 5.0 eV
2.82
GGA + U = 6.0 eV
3.01
GGA + U = 7.0 eV
3.19
Tabel2. Nilai pita energidarisistem TiO2murnidenganvariasi
parameter Hubbard U

108 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Lebar pita konduksi juga semakin menyempit, dari 1.51 eV ke 0.99 eV
yang menunjukkan bahwa orbital 3d TiO2 semakin terlokalisasi sesuai
dengan tujuan koreksi menggunakan Hubbard U.
Pada sistem TiO2 yang diberi pengotor Cr, ada satu tingkat energi yang
muncul sekitar 2.0 eV dari pita valensi dan 1.0 eV dari pita konduksi.
Penambahan pengotor Fe mengakibatkan munculnya 2 tingkat energy
baru di tengah pita energi TiO2.Tingkat energy terendah berada pada
0.73 eV dari pita valensi, sedangkan tingkat energy tertinggi berada
sekitar 0.49 eV dari pita konduksi. Kedua tingkat energy ini memiliki
beda energy sekitar 1.55 eV.

KESIMPULAN
Dari dua variasi logam transisi yang digunakan dalam penelitian
ini, penambahan Fe sebagai pengotor untuk sistem TiO2 memiliki
karakteristik fotokatalitik yang sesuai dengan kebutuhan (dapat
mencegah rekombinasi dini) dan memiliki pita energi yang lebih
besar dari 1.23 eV sehingga dapat digunakan untuk reaksi
fotokatalisis dengan efisiensi lebihbaik dibanding TiO2 murni.
DAFTAR PUSTAKA
[1] C.H. Liao, C.W. Huang, J.C.S. Wu, Catalysts 2, (2012) 490-516.
[2] A. Fujishima, K. Honda, Nature 238 (1972) 37-38
[3] K. Hashimoto, H. Irie, A. Fujishima, Japanese Journal of Applied
Physics 44 (2005) 8269-8285
[4] Noor Shahina begum, H.M. Farveez A., K.R. Gunashekar, Bulletin
of Material Science, 31 (2008) 747-751
[5] K.N. Cao, K.N. Van, A.N. Hoai, T.N. Do, M.N. Van, Advances in
Natural Science: Nanoscience and Nanotechnology 2 (2011) 4
[6] D.J. Mowbray, J.I. Martinez, J.M. GarchLastro, K.S. Thygesen,
K.W. Jacobsen, Journal of Physics and Chemistry C 113 (2009) 1230112308
[7] D. Chen, D. Yang, J. Geng, J. Zhu, Z. Jiang, Applied Surface
Science 255 (2008), 2879-2884
[8] G.Shukri, W.A.E. Prabowo, Nugraha, H.K. Dipojono, Proceedings
of International Conference on Physics (2012) 45-48
[9] E. Finazzi, C.D. Valentin, G.Pacchioni, A. Selloni, Journal of
Chemical Physics 129 (2008) 154113, 1-9

109 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
[10] M. Cococcioni, S. de Gironcoli, Physical Review B 71 (2005)
035105
[11] P. Gianozzi, et al. Journal of Physics: Condensed Matter 21 (2009)
39

First Principle Calculation untuk Menyelidiki


Sifat Elektronik dan Sifat Magnetik
Hydrogenated Germanene
S. A. Wellaa, M. Syaputraa, F. J. Nora, Suprijadib
a) Magister Sains Komputasi, FMIPA, Institut Teknologi Bandung
b) Program Studi Fisika, FMIPA, Institut Teknologi Bandung
Email : sasfan@cphys.fi.itb.ac.id

ABSTRAK
Perhitungan ab-initio dengan teori fungsional kerapatan (Density
Functional Theory) telah dilakukan untuk menginvestigasi sifat
elektronik dan sifat magnetic Hydrogenated Germanene. Germanene
merupakan material 2D (seperti Graphene dan Silicene) yang memiliki
struktur menyerupai sarang lebah. Seperti halnya Silicene, Germanene
juga memiliki 3 jenis keadaan stabil, yaitu: planar, low-buckling, dan
high-buckling. Dibandingkan dengan kondisi planar dan high-buckling,
kondisi low-buckling didapati mempunyai kondisi yang paling stabil.
Dari hasil perhitungan, diperoleh juga bahwa sifat elektroniknya
berbeda. Planar dan high-buckling mempunyai sifat metalik, sedangkan
low-buckling bersifat semi-metal. Berdasarkan tingkat kestabilannya,
low-buckling kemudian dipilih untuk diinteraksikan dengan Hidrogen
dalam beberapakonfigurasi. Konfigurasi chairlikeobtuse dan
boatlikeobtuse menjadi konfigurasi yang paling stabil dibandingkan
dengan konfigurasi yang lain. Akan tetapi, hanya konfigurasi
chairlikeobtuse yang memiliki momen magnetik. Selainitu, diperoleh
pula hasil bahwa 100 persen Hydrogenated Germanene (jumlah
Germanium sama dengan jumlah Hidrogen) memiliki energy band gap

110 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
paling kecil dibandingkan 100 persen Hydrogenated Graphene dan 100
persenHydrogenate Silicene.
Kata kunci :density functional theory, high-buckling, hydrogenated
germanene, low-buckling, planar.

PENDAHULUAN
Penemuan Graphene dengan sifat-sifatnya yang unik (kuat, elastis, dan
memiliki konduktivitas tinggi) membawa dampak positif bagi
perkembangan teknologi di dunia. Keunikan inilahyang kemudian
membuka harapan para peneliti untuk menemukan hal yang sama (atau
bahkan lebih) dari material 2D lain dengan struktur yang sama tetapi
elemen dasarnya berbeda. Elemen yang dipilih tentunya merupakan
elemen dengan golongan yang sama dengan Karbon. Keunggulan lain
dari material ini adalah kemampuannya untuk berubah sifat, dari metal
atau semi metal menjadi semikonduktor dan sebaliknya. Potensi inilah
yang coba dimanfaatkan untuk menjadi material tersebut sebagai bahan
dasar sensor. Padapenelitian kali ini, digunakan Germanium sebagai
elemen dasar penyusun material 2D tersebut, untuk kemudian dikaji
mengenai sifat elektronik dan sifat magnetiknya baik dalam keadaan
murni (pristine) ataupun saat diinteraksikan dengan Hidrogen.

METODOLOGI PENELITIAN
Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalahDensity Functional
Theory (DFT). DFT merupakan metode pemodelan berbasis kuantum
untuk penentuan struktur elektronik suatu bahan pada keadaan ground
state melalui fungsional kerapatan elektron (electron density).
Konvergensi dari parameter-parameter seperti k-points, energy cut-off,
dan lattice constant menjadi penting untuk mendapatkan hasil yang
reliable dan juga dalam efisiensi waktu dan computational cost. Tahap
selanjutnya adalah menganalisa strukturg eometri, sifatelektronik, dan
sifat magnetic dari Germanene murni (pristine) yang sudah teroptimasi.

111 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Kestabilan struktur material dapat dilihat berdasarkan energy total
sistem. Sedangkan untuk menentukan sifat elektronik dan sifat magnetic
dari material tersebut maka dapat ditentukan melalui analisa Density of
States (DOS) dan Band Structure. Pada penelitian ini, perhitungan juga
dilakukan dengan dua pendekatan energy exchange, yakni Local Density
Approximation (LDA) dan Generalized Gradient Approximation
(GGA).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Uji konvergensi parameter-parameter perhitungan menjadi langkah
awal penelitian ini. Seperti ditunjukkan pada Tabel 1, hasil uji
konvergensi parameter mendekati nilai parameter-parameter yang
digunakan pada penelitian-penelitian terdahulu [1-5]

Parameter
PL Lattice
LB Lattice
HB Lattice
LB Buckling
HB Buckling

Tabel 1. UjiKonvergensi Parameter


Model
Referensi
GGA
LDA (A)
LDA (A)
(A)
4.000
4.150
4.0341 4.0204
3.940
4.000
3.9702,3
2.850
2.950
0.608
0.690
0.6402,3
2.252
2.311
2.2302

GGA
(A)
4.1261
0.6955
-

Setelah memastikan bahwa parameter yang digunakan sudah reliable,


saatnya menginvestigasi sifat elektronik dan magnetic dari Germanene
murni. Dari hasil analisa DOS dan Band Structure, didapatkan bahwa
pada kondisi planar dan high-buckling, Germanene bersifat metalik,
sedangkan dalam kondisi low-buckling, Germanene bersifat semi
metalik. Untuk sifat magnetiknya, ketiga kondisi tersebut menunjukkan
nilai momenmagnetik yang tidak signifikan.
Dari sifat-sifat yang diperoleh untuk Germanene murni, low-buckling
dipilih menjadi objek utama untuk diinteraksikan dengan Hidrogen
(Hydrogenated Germanene). Dari kelima konfigurasi yang dikaji

112 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
(Gambar 1), konfigurasi chair like obtuse dan boat like obtuse menjadi
konfigurasi yang paling stabil dibandingkan dengan konfigurasi yang
lain.Keduanya menunjukkan perubahan sifat yang unik. Germanene
murni yang semula tidak memiliki momen magnetik, pada saat
dikonfigurasikan seperti chair like obtuse menjadi memiliki momen
magnetik. Sedangkan pada saat dikonfigurasikan seperti boat like
obtuse, Germanene tersebut akan berubah menjadi semikonduktor. Jika
dibandingkan dengan100% Hydrogenated Graphene(4.66 eV [6]) dan
100% Hydrogenate Silicene (1.6 eV [7]), boatlike obtuse Hydrogenated
Germanene (1.279 eV) memiliki energy band gap paling kecil.

Gambar 1. Konfigurasi Hydrogenated Germanene:


a) 50% b) 100%

KESIMPULAN
Sifat elektronik dan magnetic dari Germanene murni dan Hydrogenated
Germanene telah diinvestigasi dengan metoda DFT. Didapatkan bahwa
terjadi perubahan sifat elektronik dan magnetic ketika Germanene
diinteraksikan dengan Hidrogen. Konfigurasi chair like obtuse
merupakan konfigurasi yang harus dibuat untuk memperoleh
Germanene yang memiliki momen magnetik, sedangkan untuk
memperoleh Germanene yang bersifat semikonduktor, interaksi
Germanene dan Hidrogen harus disusun dengan konfigurasi boatlike
obtuse. Dari hasil perbandingan dengan 100% Hydrogenated Silicened
an 100% Hydrogenated Graphene, 100% Hydrogenated Germanene
memiliki energy band gap yang paling kecil, sehingga sensitivitasnya
akan lebih tinggi apabila digunakan sebagai bahan dasar sensor.

113 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

DAFTAR PUSTAKA
[1] S. Lebeguedan O. Eriksson, Physical Review B. 2009; 79: 115409.
[2] S. Cahangirovet al..Physical Review Letter. 2009; 102: 236804.
[3] H. Sahinet al.. Physical Review B. 2009; 80: 155453.
[4] M. Houssaet al..Applied Physics Letters.2010; 96: 82111.
[5] E. Scaliseet al.. Nano Research. 2013; 6: 19-28.
[6] H. Gaoet al. The Journal of Physical Chemistry C. 2011; 115: 32363242.
[7] M. Houssaet al..Applied Physics Letters.2011; 98.

Sintesis dan Karakterisasi Tetra (p-metoksifenil)


porfirin Menggunakan Metode Microwave-assisted
Organic Synthesis (MAOS) Sebagai Kandidat Material
Pemeka Cahaya padaAplikasi Dye Sensitized solar Cells
Dewi Noviany1, Phutri Milana2, Tati Ciptati2, Veinardi Suendo1,3
1

Kelompok Riset Kimia Fisik, Institut Teknologi BandungJl. Ganesha


10, Bandung, Jawa Barat 40132, Indonesia
2
Kelompok Riset Organik, Institut Teknologi BandungJl. Ganesha 10,
Bandung, Jawa Barat 40132, Indonesia
3
National centre of Nanotechnology, Institut Teknologi Bandung Jl.
Ganesha 10, Bandung, Jawa Barat 40132, Indonesia
Email:d.noviany@yahoo.co.id; vsuendo@chem.itb.ac.id

ABSTRAK Senyawa baru tetra (p-metoksifenil) porfirin (TMOPP) yang


merupakan turunan dari senyawa porfirin telah berhasil disintesis dan
dikarakterisasi. Melalui reaksi kondensasi pirol dan p-metoksi benzal dehid
dalam suasana asam menggunakan metode Microwave-assisted Organic
Synthesis (MAOS) bebas pelarut serta fasa pendukung silika gel. Waktu reaksi
senyawa ini pun jauh lebih cepat dibandingkan dengan metode sebelumnya.
Karakterisasi tahap awal digunakan spektroskopi UV-Vis menunjukkan pita
soret pada 422nm dan pita Q pada 515, 556, 593, 650 (nm). Terjadi pergeseran
daerah serapan gelombang elektromagnetik kearah panjang gelombang yang
lebih tinggi dibandingkan Tetra fenil porfirin (TPP). Pergeseran daerah serapan
gelombang elektromanetik ini memungkinkan TMOPP berpotensi untuk
dijadikan sebagai zat pemeka cahaya pada penggunaan dye sensitized solar cell

114 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
(DSSC) atau sel surya berbasis pemeka cahaya dengan efisiensi yang lebih
tinggi dari TPP.
Kata kunci: tetra(p-metoksifenil) porfirin, MAOS, DSSC, UV-Vis.

PENDAHULUAN
Meningkatnya pertumbuhan penduduk global menyebabkan semakin
meningkatnya permintaan akan energi. Selain ketersediaan yang terbatas di
alam, penggunaan sumber energy berbahan bakar fosil telah mengakibatkan
pemanasan global serta pencemaran lingkungan. Hal ini memaksa peneliti
untuk mencari sumber energi yang terbarukan, murah, ramah lingkungan
serta dapat menopang perkembangan. Dye-sensitized solar cells (DSSC)
atau sel surya berbasis pemeka cahaya telah menarik perhatian beberapa
tahun terakhir [2,3]. Semenjak diperkenalkan pada tahun 1991 oleh Grtzel
[2], DSSC muncul sebagai teknologi pengkonversi energy surya yang
inovatif, realistis dan menjanjikan serta memberikan jalur pengembangan
produksi energi yang murah, ramah lingkungan dan terbarukan. Sel surya
berbasis pemeka cahaya merupakan sumber energi yang layak untuk
diperhitungkan. Sebagaimana telah diketahui, sel surya memanfaatkan
energy cahaya matahari dan merubahnya menjadi energil istrik yang dengan
mudah dapat dimanfaatkan. Indonesia sebagai daerah tropis dimana sinar
matahari dengan intensitas tinggi melimpah sepanjang tahun sangat cocok
untuk pengembangan selsurya. Selama ini sel surya berbasis pemeka cahaya
memanfaatkan rhuthenium polipiridil sebagai zat warna yang paling efisien
sebagai pemeka cahaya, efisiensinya mencapai 11% [1], namun beracun dan
kestabilannya rendah. Untuk itu dikembangkanlah zatwarna organic untuk
pemeka cahaya pada selsurya seperti porfirin dan turunannya. Sebagai
senyawa organik, sintesis senyawa porfirin dan turunannya dinilai lebih
murah selain itu sebagai pemeka cahaya pada DSSC memiliki tingkat energi
HOMO dan LUMO yang cocok, pita Soret memiliki penyerapan yang
sangat kuat pada daerah 400-450 nm sama baiknyad engan pita Q pada
daerah 500-700 nm, turunanporfirin ini sangat cocok sebagai pemeka
cahaya pada DSSC dengan perpanjangan kojugasi elektron [1,2]. Salah
satu turunan senyawa porfirin yang dikembangkan yaitu tetra(pmetoksifenil) porfirin (TMOPP), senyawa ini memiliki ikatan rangkap
terkonjugasi yang panjang dan kemampuan memanen cahaya. Sintesis
TMOPP merupakan reaksi kondensasi pirol dengan p-metoksibenzaldehid
menggunakan katalis asam. Semenjak ditemukano leh Fischer sekitar tahun
1920 sintesis porfirin berlangsung pada suhu tinggi, menggunakan senyawa
pengoksidasi beracun untuk merubah porfirinogen menjadi porfirin [4].

115 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Untuk mengatasi masalah ini digunakan metode Microwave-Assisted
Organic Synthesis (MAOS) merupakan metode sintesis yang lebih
menguntungkan dari pada metode konvensional yaitu mengurangi waktu
reaksi, meningkatkan hasil reaksi, dan mengurangi penggunaan pelarut
(green chemistry). Pereaksiakan bereaksi pada fasa pendukung (silika gel)
daniradiasi microwave digunakan sebagai sumber energy panas [4].
Pada penelitian ini yang menjadi perhatian adalah sintesis TMOPP
menggunakan metode MAOS yang akan dimanfaatkan sebagai pemeka
cahaya pada sel surya.

BAHAN DAN METODE


Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pmetoksibenzaldehidp.a (Merck), pirolp.a (Merck), silika gel grade 60
(Merck), etilasetatp.a (Merck), dikrolometanap.a (Merck), n-heksanap.a
(Merck), kloroformp.a (Merck). Pelat KLT yang digunakan adalah pelat
aluminium berlapis silika gel Merck kiesel gel 60 F254 dengan ketebalan
0,25 mm.
Metode
Sintesis TMOPP
Sintesis TMOPP dilakukan dalam suasana asam. Sebanyak 0,43 ml
p-metoksibenzaldehid dimasukkan kedalam mortar lalu ditambahkan
sebanyak 2ml asam asetat glacial sambil diaduk. Selanjutnya sebanyak 0.3
ml pirol ditambahkan kedalam p-metoksibenzaldehid yang telah diasamkan.
Kemudian ditambahkan sebanyak 0.63 g silika gel 60 dan diaduk sampai
homogen. Setelah itu dimasukkan kedalam microwave dengan daya 100%
selama 10 menit.
Pemisahan TMOPP
Setelah disintesis selanjutnya campuran TMOPP dipisahkan dengan cara
ekstraksi. Campuran dilarutkan dalam 15 ml etilasetat lalu disaring
menggunakan kertas saring. Filtrat kemudian dievaporasi sampai terbentuk
endapan. Endapan yang terbentuk dilarutkan dalam 1 ml diklorometana.
Larutan sampel kemudian dikarakterisasi dengan kromatografi lapis tipis
(KLT) dan spektrofotometer UV-Vis. Larutan sampel ditotolkan pada plat
KLT kemudian dielusi dengan eluenn-heksana: etilasetat 7:3. Setelah
karakterisasi tahap awal, senyawa TMOPP dipisahkan dengan
carakromatografikolom, digunakan eluenn-heksana: etilasetat 7:3 diperoleh

116 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
larutan senyawa TMOPP berwarna ungu yang kemudian dievaporasi dan
dilarutkan dengan kloroform sebanyak 2 ml untuk kristalisasi. Karakterisasi
dengan spectrometer NMR.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pengukuran spekroskopi UV-Vis
Masing-masing fraksi yang telah dipisahkan kemudian dikarakterisasi
menggunakan alat spektroskopiUV-Vis. Beberapa fraksi yang berwarna
ungu menghasilkan spectrum UV-Vis sebagai berikut

Gambar 1.SpektrumUV-Visfraksiungu
Spektrum serapan UV-Vis pada Gambar 1 di atas menunjukkan adanya pita
Soret pada 422 nm dan pita Q pada 515, 556, 593, 650 (nm) pada daerah
UV dan sinar tampak dengan kemiripan spektrum serapan fraksi warna
ungu dengan TPP, maka fraksi ini dikumpulkan untuk dikarakterisasi lebih
lanjut.
Pengukuran spekroskopi Raman
Fraksi ungu dikristalkan dan diukur menggunakan spektroskopi Raman
untuk mengetahui vibrasi senyawa tersebut. PadaGambar 2 terlihat adanya
vibrasiasi metris antara karbon alfa dan karbon meta pada bilangan
gelombang 1550.5 cm-1, vibrasi simetris antara karbon alfa dan karbon meta
pada bilangan gelombang 1454 cm-1, vibrasi antara karbon beta dengan
atom hidrogennya pada bilangan gelombang 1330,5 cm-1 vibrasi antara
karbon meta dengan cincin fenil pada bilangan gelombang 1240 cm-1.

117 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Gambar 2.Spektrum Raman Krista lungu


Pengukuran spektroskopi NMR

118 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Pengukuran spekroskopi H-NMR fraksi ungu murni diperoleh spektrum
seperti terlihat pada Gambar 3. Pada pergeseran 8,85 ppm menunjukkan
adanya H-pirol, pada pergeseran 8,1 ppm dan 7,28 ppm menunjukkan
adanya H-fenil, pada pergeseran 4,1 ppm menunjukkan adanya H-metoksi.
Spektrum H-NMR ini telah membuktikan terbentuknya senyawa TMOPP
yang diinginkan.

Gambar 3. Spektrum H-NMR TMOPP


KESIMPULAN
Telah berhasil disintesis senyawa tetra (p-metoksifenil) porfirin melalui
reaksi kondensasi pirol dengan p-metoksibenzaldehid menggunakan metode
MAOS berupa Kristal berwarna ungu. Spektrum UV-Vis yang diperoleh
mengindikasikan bahwa senyawa ini dapat digunakan sebagai senyawa
pemeka cahaya untuk aplikasi DSSC pada rentang daerah sinar tampak.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penelitian ini didukung secara financial oleh Program Riset Desentralisasi
DIKTI 2013, dan Program Riset dan Inovasi ITB 2013.
REFERENCES
[1] Mikroyannidis, J. A., Charalambidis, G., Coutsolelo, A. G., Balraju,
P., Sharma, G. D. 2012. Novel zinc porphyrin with phenylenevinylene
meso-substituents: Synthesis andapplication in dye-sensitized solar
cells. Journal of Power Sources 196:66226628
[2] Panda, M. K., Ladomenou, K., Coutsolelos, A. G. 2012. Porphyrins in
bio-inspired transformations: Light-harvesting to solar cell.
Coordination Chemistry Reviews.256. 2601 2627

119 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
[3] Seo, K. D., Lee, M. J., Song, H. M., Kang, H. S., Kim, H. K. 2012.
Novel D-p-A system based on zinc porphyrin dyes for dye-sensitized
solar cells: Synthesis, electrochemical, and photovoltaic properties.
Dyes and Pigments94.143-149.
[4] Warner, M., G. Succaw, K. Doxsee, J. hutchison. 2002. Microwave
Synthesis of tetraphenylporphyrin. American Chemical society.

120 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Karakterisasi Dinamika Ion pada Membran Penukar


Proton secara Kronopotensiometri Berpulsa
Fajriah1 Nungky Aprilia1 Bambang Piluharto1 Veinardi Suendo1,2*
1

Kelompok Keilmuan Kimia Anorganik dan Fisik, Fakultas Matematika dan


Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha No.10,
Bandung 40132, Indonesia
2
National Center for Nanotechnology, Jl. Ganesha No. 10, Bandung 40132,
Indonesia
Email : vsuendo@chem.itb.ac.id

ABSTRAK
Dalam menghasilkan energi listrik, PEMFC (Proton Exchange Membrane
Fuel Cell) memiliki keterbatasan pada kemampuan membran dalam
menghantarkan proton. Karakter ini dapat diamati dari perubahan nilai
potensial ion terhadap waktu secara real-time, yang tidak dapat dilakukan
pada metode karakterisasi yang ada. Pada penelitian ini,
kronopotensiometri bersinyal pulsa dengan elektroda kerja stainless steel
dan elektroda pembanding Ag/AgCl digunakan untuk mempelajari sifat
transpor ion yang melewati sistem elektrolit | membran | elektrolit. Sifat
transpor ion ini dapat dipelajari dari waktu relaksasi ion yang ditunjukkan
oleh profil peluruhan potensial bergantung waktu. Sistem yang menjadi
fokus penelitian: 1) elektrolit tanpa membran (sebagai sistem blanko) 2)
elektrolit | (PSF-SPSF-TEOS) | elektrolit 3) elektrolit | Nafion | elektrolit.
Pengukuran kronopotensiometri berpulsa menggunakan sinyal dengan
frekuensi rendah (berdasarkan pengukuran impedansi) mengungkapkan
bahwa transpor ion yang melewati membran yang berbeda memberikan
profil keluaran sinyal yang berbeda. Berdasarkan hasil tersebut,
kronopotensiometri dengan sinyal pulsa berdomain waktu menjadi sebuah
metode karakterisasi yang potensial untuk mempelajari dinamika transpor
ion pada membran.
Kata kunci: kronopotensiometri, sinyal berpulsa, EIS, relaksasi ion,
transpor ion

121 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

PENDAHULUAN
Pada proses produksi energi listrik dari sel bahan bakar, PEMFC (Proton
Exchange Membrane Fuel Cell) memiliki densitas energi tertinggi dari
semua jenis sel bahan bakar. Nilai tinggi tersebut terlihat pada waktu
startup yang cepat (< 1 s) sehingga diaplikasikan pada berbagai jenis
kendaraan, sumber energi portable, dan aplikasi energi cadangan (1,2).
Densitas energi tinggi pada PEMFC dapat dihasilkan karena reaksi antara
H2 dan O2 menghasilkan produk buangan berupa H2O. Gas hidrogen
dikonversi oleh katalis Pt menjadi dua proton dan dua elektron. Elektron ini
mengalir melewati sirkuit luar yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber
energi listrik, dan proton mengalir yang melewati membran penukar proton
bereaksi dengan gas oksigen membentuk air. Mekanisme ini menyebabkan
produksi energi dibatasi oleh proses yang melibatkan transpor proton
melewati membran (3).
Untuk menguji dayaguna membran penukar proton, dilakukan karakterisasi
pengukuran sudut kontak, uji water uptake, konduktivitas, dan kapasitas
penukar ion (1,3). Metode karakterisasi tersebut dapat memberikan suatu nilai
yang dapat membedakan antara membran yang memiliki sifat transpor lebih
baik (nilai lebih tinggi) dan kurang baik (nilai lebih rendah) (3-5). Namun,
dari nilai konduktivitas ini belum dapat dilihat dinamika transpor ion secara
langsung. Padahal, dengan dinamika transpor ion ini, dapat terlihat profil
suatu membran dalam menghantarkan ion (6-8). Dengan melihat proton
sebagai muatan memungkinkan kita untuk menggunakan pengukuran listrik
(9)
untuk merekam dinamika ion.

Gambar 1. Skema pengukuran listrik.

122 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Kronopotensiometri telah digunakan untuk mengkarakterisasi profil
potensial membran dengan tegangan konstan (10). Namun, pengukuran
dengan cara ini masih belum dapat memberikan informasi mengenai
dinamika muatan yang diperturbasi sehingga perlu dilakukan modifikasi.
Teknik sinyal berpulsa, seperti floresens, telah digunakan untuk mengetahui
lifetime dari suatu bahan, dari penurunan (peluruhan) intensitas luminesens
(11)
. Karena itu, kronopotensiometri menggunakan sinyal pulsa berpotensi
untuk diaplikasikan dalam mengukur lifetime dari dinamika konsentrasi ion
(dinamika muatan) dalam larutan elektrolit. Skema pengukuran dan
hasilnya dilaporkan pada laporan ini.
METODOLOGI PENELITIAN
Alat. Peluruhan sinyal potensial dikarakterisasi menggunakan
kronopotensiometri berpulsa dengan elektroda kerja stainless steel dan
elektroda pembanding Ag/AgCl. Sinyal potensial input dihasilkan dari
Gambar 1. Skema pengukuran listrik.
Tegam Signal Generator. Membran. Dilakukan blending PSF (polisulfon)
dan SPSF (sulfonated polysulfone) 1:1, lalu dengan TEOS (tetra orto silikat)
seperti penelitian sebelumnya (3).
Karakterisasi. Setiap membran yang direndam disimpan dalam shaker 150
rpm min. 12 jam.
Sifat fisikokimia (dari pengukuran sudut kontak, swelling test, dan KPI)
dilakukan dengan metode yang sama dengan penelitian sebelumnya (3).
Pengukuran konduktivitas. Larutan yang digunakan untuk merendam
membran adalah KCl 1M, lalu aqua dm, dan sisanya sama seperti penelitian
sebelumnya (3). Analisis gugus fungsi. Jenis gugus fungsi yang ada pada
membran diamati dari spektrum serapan IR dan spektrum hamburan Raman.
Morfologi membran. Morfologi permukaan membran dilihat dari citra
SEM.

Pengukuran listrik. Pada pengukuran ini, ada dua membran yang akan
dibandingkan, yaitu membran sintetik (PSF-SPSF-TEOS) dan komersial
(Nafion 117). Membran PSF-SPSF-TEOS berukuran 4 cm 4 cm direndam
dalam KCl 2 M, sedangkan membran Nafion berukuran 4 cm 4 cm
direbus dengan H2O2 5%, H2SO4 1 N, dan aqua dm berturut-turut masingmasing selama 1 jam. Kemudian, kedua membran tersebut direndam di
dalam larutan KCl yang akan diukur (110-2, 110-3, dan110-4 M (12)).
Kronopotensiometri berpulsa. Pada pengukuran ini, nilai edge yang

123 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
diberikan pada sinyal input pulsa adalah sebesar 0,01 s dan pulse width 20
s. EIS (Electrochemical Impedance Spectroscopy). Untuk pengukuran
impedansi, rentang frekuensi yang digunakan adalah 20 Hz 2MHz.
Tabel 1. Sifat fisikokimia dan konduktivitas membran

Membran

Sudut
kontak (0)

WU
(%)

KPI
(mEq/g)

PSF (4)
SPSF 8% (4)
PSF-SPSF-TEOS
Nafion 117 (4)

75
30
50
11

41
157
59
36

N/A
2,11
1,34
0,97

(10-4)
(S/cm)
0,53
7,69
54,04(3) **
90

"!
a

Gambar 2. Citra SEM pada permukaan membran (a)


PSF-SPSF-TEOS dan (b) Nafion 117.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Sifat fisikokimia. Ion dapat ditranspor jika membran memiliki kemampuan
untuk berinteraksi dengan mediumnya, dalam hal ini berupa air,
mengindikasikan bahwa interaksi yang lebih baik menunjukkan transport
ion yang lebih baik. Nilai sudut kontak, WU, dan KPI PSF-SPSF-TEOS
terletak di antara nilai sudut kontak dan WU PSF dan SPSF 8%. Hal ini
menunjukkan bahwa PSF-SPSF-TEOS memiliki kombinasi karakter PSF
dan SPSF 8%. Konduktivitas. Membran PSF-SPSF-TEOS memiliki nilai
konduktivitas proton ( ! =54,0410-4S/cm) lebih besar dibandingkan
konduktivitas ion kalium ("! = 11,3 10-4S/cm). Data ini menunjukkan
proton memiliki mobilitas lebih besar dibandingkan ion kalium. Hal ini
sesuai dengan teori bahwa pada larutan yang memiliki jumlah molekul air
yang dominan, mekanisme Grotthuss dapat mentranspor proton lebih cepat

124 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
dibandingkan mekanisme vehicle (transpor massa). Namun, ion kalium
hanya dapat ditranspor dengan mekanisme vehicle sehingga kecepatan
transpornya lebih kecil dan menghasilkan nilai konduktivitas yang lebih
kecil (8).
Spektrum Inframerah dan Raman. Pada spektrum IR SPSF, muncul
puncak pada 3500cm-1 yang menunjukkan OH stretching pada gugus
SO3H sehingga proses sulfonasi dianggap berhasil. Puncak yang sama
terlihat pada membran blend PSF-SPSF-TEOS. Intensitas puncak ini lebih
tinggi pada SPSF dibandingkan blend karena membran blend memiliki
komposisi SPSF yang lebih sedikit yang menyebabkan intensitas puncak
dari gugus SO3H lebih kecil. Selain itu, interaksi antar gugus -Si-O-Sidengan SO3H menyebabkan penurunan intensitas puncak OH.
Pada spektrum hamburan Raman, ketiga membran memiliki puncak pada
791 cm-1 yang menunjukkan regang C-S-C simetri, pada 1073 cm-1 (regang
O=S=O simetri), pada 1109 cm-1 (regang O=S=O asimetri), dan 1147,5 cm-1
(regang C-O-C simetri). Adanya struktur yang mirip pada PSF, SPSF, dan
membran blend ditunjukkan oleh kesamaan puncak-puncak yang dimiliki
ketiganya.
Citra SEM. Citra SEM pada Gambar 2 menginformasikan perbedaan
morfologi pada PSF-SPSF-TEOS dan Nafion. Citra PSF-SPSF-TEOS mirip
seperti penggambaran pada penelitian sebelumnya (3), yaitu adanya pori-pori
besar dan lapisan-lapisan di dalam membran. Pada nafion, pori-pori
tersebut tidak teramati pada skala mikro sehingga diperkirakan ukuran
porinya jauh lebih kecil dibandingkan PSF-SPSF-TEOS. Pengaruh
perbedaan morfologi ini terhadap sinyal peluruhan kronopotensiometri
selanjutnya dibahas pada bagian: profil sinyal sistem larutan | membran |
larutan.
Frekuensi dari data impedansi. Data impedansi dikonversi menjadi
polarisabilitas untuk melihat kemampuan sistem untuk dipolarisasi (13). Pada
profil kurva polarisabilitas terhadap waktu (Gambar 3), ketiga sistem
memiliki karakter hubungan logaritmik yang sama pada frekuensi rendah
(pada daerah A) sehingga disimpulkan transpor ion ada pada frekuensi
digunakan untuk pengukuran
rendah (13). Rentang frekuensi ini
kronopotensiometri berpulsa dengan mengambil satu nilai frekuensi, yaitu
100 Hz

125 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

(Cm2V-1)

10

-9

10

-10

10

-11

10

-12

10

-13

10

-14

10

-15

10

-16

10

-17

10

-18

10

-19

larutan kosong
PSF-SPSF-TEOS
Nafion

10

10

10

10

10

10

f (Hz)

Gambar 3. Grafik nilai polarisabilitas tiga sistem yang berbeda pada


larutan KCl 10-2 M.
0.6

KCl 10-2 M
KCl 10-3 M
KCl 10-4 M

Beda potensial (V)

0.5

0.4

0.3

0.2

0.1
0

t (s)

Gambar 3. Sinyal larutan kosong pada berbagai konsentrasi.


0.6

larutan kosong
PSF-SPSF-TEOS
nafion

0.5

Beda potensial (V)

0.5

0.4

0.3

0.4
0.2

0.3

0.2

0.4

0.6

0.8

0.2

126 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology


0.1

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Sinyal peluruhan kronopotensiometri berpulsa . Larutan kosong (larutan


-3
sistemsebagai
larutan KCl
110menunjukkan
M|
Gambar
4. Sinyal
KCl tanpa membran)
yang
fungsinya
blanko
kurva
-3
KCl 110
M
peluruhan yang makin curammembran
seiring |dengan
meningkatnya
konsentrasi
KCl
-2
(Gambar 3). Larutan dengan konsentrasi lebih pekat dapat menurunkan
potensial lebih cepat. Hal ini dimungkinkan oleh spesi ion (kation dan
anion) yang lebih pekat sehingga posisi antar ion menjadi lebih rapat dan
kemungkinan terjadinya pertemuan kation dan anion semakin besar.
Pada Gambar 4, waktu peluruhan () tiap sistem adalah PSF-SPSF-TEOS
< Nafion < larutan kosong yang menunjukkan ion pada larutan kosong
lebih tertahan (lembam) dibandingkan pada sistem membran. Hal ini
disebabkan membran juga berperan dalam menetralkan kation karena
adanya gugus ionik pada membran. Selain itu, sinyal peluruhan Nafion
memiliki kelembaman yang hampir sama dengan larutan kosong, namun
berbeda dengan PSF-SPSF-TEOS. Hal ini dapat dijelaskan dari sisi adanya
perbedaan distribusi gugus ionik pada kedua membran tersebut. Dari
penelitian sebelumnya, disimpulkan bahwa kerapatan gugus SO3- yang
lebih tinggi pada SPSF menghasilkan kecepatan transpor ion yang lebih
Gambar 4. Sinyal sistem larutan KCl 110-3 M |
membran | KCl 110-3 M
-2

1.8
1.6

PSF-SPSF-TEOS
Nafion
larutan kosong

1.4
1.2

(s)

1.0

1.7

0.8
0.9

0.6

a
1.6

0.3

0.4

0.8

0.2

0.2

0.0
1.5

0.7

2x10-3

4x10 -3

6x10 -3

8x10 -3

1x10 -2

0.1

[KCl] (M)
0.6

1.4
1x10-4

2x10-4

3x10-4

4x10-4

0.0
9.0x10-4

1.0x10-3

1.1x10-3

1.2x10-3

9.70x10-3

Gambar 5. Perbandingan nilai pada sistem larutan


kosong, PSF-SPSF-TEOS, dan Nafion.
127 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

9.80x10-3

9.90x10-3

1.00x10-2

1.01x10-2

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
tinggi (4) sehingga PSF-SPSF-TEOS memiliki karakter SPSF tersebut. Nilai
water uptake PSF-SPSF-TEOS yang lebih tinggi mengindikasikan adanya
pori-pori yang lebih besar dan nilai konduktivitas yang lebih kecil
dibandingkan menunjukkan PSF-SPSF-TEOS memiliki tahanan yang lebih
besar. Nilai water uptake dan tahanan ini dapat menjelaskan nilai PSFSPSF-TEOS < Nafion.
Saat potensial diberikan pada larutan, terjadi transpor ion melewati
membran dan ion dapat ditranspor lebih baik oleh Nafion sehingga ion
didifusikan lebih banyak dibandingkan pada PSF-SPSF-TEOS. Saat
potensial dihentikan, ion yang sudah berdifusi melewati Nafion akan
menempuh jarak lebih jauh dibandingkan ion-ion yang tertahan pada PSFSPSF-TEOS. Karena itu, kurva yang lebih curam pada PSF-SPSF-TEOS
menunjukkan tahanan membran yang lebih besar terhadap transpor ion yang
menyebabkan nilai konduktivitasnya menjadi lebih kecil. Namun, pada
konsentrasi yang lebih tinggi (110-2 M), yang ditunjukkan pada Gambar 5
inset c, nilai pada ketiga sistem sulit untuk dibedakan. Karena itu, pada
konsentrasi ini, karakteristik ketiga sistem tersebut menjadi hampir sama
sehingga tidak teramati perbedaannya.
Perbedaan antara PSF-SPSF-TEOS dan Nafion juga ditunjukkan oleh nilai
QX (muatan efektif) membran, dengan QX Nafion=29010-2 mol L-1 (14) dan
QX PSF-SPSF-TEOS = 3,46210-2 mol L-1 (3). Nilai QX Nafion yang lebih
tinggi menunjukkan jumlah muatan efektif pada Nafion lebih besar daripada
QX PSF-SPSF-TEOS. Konsentrasi KCl 110-2 M yang mendekati nilai QX
kedua membran tersebut menghasilkan nilai yang hampir sama. Karena
itu, pengukuran kronopotensiometri menggunakan konsentrasi larutan yang
mendekati nilai QX membran, tidak dapat menunjukkan perbedaan yang
berarti antara membran PSF-SPSF-TEOS dan Nafion. Namun, jika
konsentrasi larutan jauh di bawah nilai QX, karakteristik membran dapat
terlihat secara langsung dari nilai .

KESIMPULAN
Metode pengukuran baru, yaitu kronopotensiometri berpulsa, telah cukup
baik dalam mengkarakterisasi sifat dinamika ion. Kronopotensiometri
berpulsa dapat menunjukkan secara langsung dinamika ion bergantung
waktu. Perbedaan karakteristik PSF-SPSF-TEOS diamati pada
kronopotensiometri berpulsa pada frekuensi rendah (berdasarkan
pengukuran EIS). Urutan besarnya waktu relaksasi ion () pada membran :
PSF-SPSF-TEOS< Nafion. Nilai berbanding lurus dengan urutan nilai
QX dan konduktivitas (), namun berbanding terbalik dengan urutan nilai

128 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
WU: QX PSF-SPSF-TEOS < QX Nafion; PSF-SPSF-TEOS < Nafion;
WU PSF-SPSF-TEOS > WU Nafion. Untuk memperoleh profil dinamika
yang lebih jelas pada proses transpor ion melewati membran, perlu
dilakukan lebih banyak variasi pada jenis membran, konsentrasi elektrolit,
dan frekuensi.
DAFTAR PUSTAKA
[1]

[2]

[3]

[4]

[5]

[6]

[7]

[8]

[9]

Lufrano, F. Baglio, V. Staiti, P. Arico, AS. Antonucci, V. et.al.


Development and characterization of sulfonated polysulfone
membranes for direct methanol fuel cells. Desalination Elsevier.
2006. 199. 283285.
Ahmad, H. Kamarudin, SK. Hasran, UA. Daud, WRW. Overview of
hybrid membranes for direct-methanol fuel-cell applications. Int. J. of
Hydrogen Energy. 2010. 35. 21602175.
Aprilia, N. Suendo, V. Synthesis and Ionic Transport Properties of
PSF/SPSF/TEOS Polyblend Membranes. The Fourth International
Conference on Mathematics and Natural Sciences. Bandung. 2012: 27.
Piluharto, B. Suendo, V. Ciptati, T. Radiman, C.L. Strong correlation
between membrane effective fixed charge and proton conductivity in
the sulfonated polysulfone cation-exchange membranes. Ionics. 2011.
17. 229238.
Coutanceau, C. Koffi, RK. Leger, JM. Marestin, K. Mercier, R.
Nayoze, C. Development of materials for mini DMFC working at
room temperature for portable applications. J. Power Src. 2006. 160.
3349.
Okada, T. Xie, G. Gorseth, O. Kjelstrup, S. Nakamura, Arimura, NT.
Ion and water transport characteristics of Nafion membranes as
electrolytes. Electrochimica Acta. 1998. 43 (24). 3741-3747.
Doeff, M. Edman, L. Sloop, S.E. Kerrb, J. De Jonghe, L.C. Transport
properties of binary salt polymer electrolytes. Journal of Power
Sources. 2000. 89. 227231.
Sistat, P. Thesis. Apports des techniques lectriques de relaxation la
comprhension des phnomnes de transport de matire dans un
systme membrane ionique-solution, Ph.D. University Montpellier 2.
Montpellier. 1997.
Pivovar, B.S. An overview of electro-osmosis in fuel cell polymer
electrolytes. Polymer. 2006. 47 (11), 41944202.

129 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
[10] Pismenskaia, N. Sistat, P. Huguet, P. Nikonenko, V. Pourcelly, G.
Chronopotentiometry applied to the study of ion transfer through
anion exchange membranes. J. Membrane Sci. 2004. 228. 6576.
[11] Delerue, C. Allan, G. Multiexponential photoluminescence decay in
indirect-gap semiconductor nanocrystals. Phys. Rev. B. 2006. 73.
235318.
[12] Ivan, K. Kirschner, N. Wittmann, M. Simon, P.L. Jakab, V.
Noszticzius, Z. Merkinb, J.H.Scott, S.K. Direct evidence for fixed
ionic groups in the hydrogel of an electrolyte diode. Phys. Chem.
Chem. Phys. 2002. 4. 13391347.
[13] Gomadam, PM. Weidner, JW. Analysis of electrochemical impedance
spectroscopy in proton exchange membrane fuel cells. Int. J. Energy
Res. 2005. 29. 11331151.
[14] Matsumoto, H. Tanioka, A. Murata, T. Higa, M. Horiuchi, K. Effect
of Proton on Potassium Ion in Counter transport across Fine Porous
Charged Membranes. J. Phys. Chem. B. 1998. 102 (25). 50115016.

130 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Sintesis dan Karakterisasi Tetra


(p-dimetilaminofenil) porfirin dengan Metode
Microwave-Assisted Organic Synthesis (MAOS)
Nisrina Rizkia1, Phutri Milana2, Veinardi Suendo1, dan Tati Ciptati2
1

Departemen Kimia Anorganik dan Fisik, Fakultas Matematika dan Ilmu


Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha No.10,
Bandung 40132, Indonesia
2
Departemen Kimia Organik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Institut Teknologi Bandung, Jl. Ganesha No.10, Bandung 40132,
Indonesia
Email: nisrina.rizkia@students.itb.ac.id, phutri.milana@students.itb.ac.id,
vsuendo@chem.itb.ac.id

ABSTRAK
Porfirin adalah senyawa organik yang memiliki fungsi sebagai molekul
penangkap cahaya. Molekul porfirin ini dapat digunakan untuk aplikasi
optoelektronik. Molekul porfirin didepositkan pada lapisan tipis
semikonduktor seperti TiO2 untuk aplikasi pada solar sel. Dalam penelitian
ini, disintesis senyawa tetra(p-dimetilaminofenil)porfirin yang berbahan
dasar p-dimetilaminobenzaldehida dan pirol dengan menggunakan metode
Microwave Assisted Organic Synthesis (MAOS). Molekul porfirin akan
berikatan dengan TiO2 yang memiliki struktur mesopori. Senyawa
tetrafenilporfirin telah berhasil disintesis dan dikarakterisasi menggunakan
spektrofotometri UV-vis dan menunjukkan puncak soret pada panjang
gelombang 418 nm. Bila dibandingkan dengan tetrafenilporfirin, spektrum
serapan senyawa tetra(p-dimetilaminofenil)porfirin mengalami pergeseran
ke panjang gelombang yang lebih besar yaitu memiliki puncak soret pada
422 nm. Adanya pergeseran batokromik disebabkan oleh adanya gugus

131 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
amino yang merupakan gugus pendorong elektron. Adanya pergeseran
batokromik ini menjadi sebuah keuntungan karena diperlukan energi yang
lebih kecil untuk mengeksitasi elektron bila dibandingkan dengan
tetrafenilporfirin. Tetra(p-dimetilaminofenil)porfirin yang dieksitasi pada
422 nm memiliki intensitas fluoresensi maksimum pada 665,03 nm hal
tersebut membuktikan bahwa senyawa tersebut memiliki fluoresensi merah.
Kata kunci : porfirin, optoelektronik, microwave, batokromik, fluoresensi.

PENDAHULUAN
Perkembangan sains dan teknologi yang pesat merupakan salah satu pemicu
meningkatnya kebutuhan energi secara drastis. Untuk mengimbangi
peningkatan konsumsi energi maka perlu adanya pengembangan terhadap
sumber energi baru dan terbarukan. Di samping itu, terdapat keinginan
untuk mempertahankan kelestarian lingkungan. Sehingga pemanfaatan
teknologi sel surya menjadi salah satu solusi yang banyak diambil
mengingat prosesnya yang bersih dan ramah lingkungan. Salah satu
komponen sel surya yaitu dye-sensitizer, dapat berasal dari pigmen
fotosintesis tumbuhan atau molekul organik turunan porfirin. Ketersediaan
porfirin di alam sangatlah melimpah namun proses pemurniannya cukup
sulit sehingga dikembangkanlah sintesis senyawa turunan porfirin. Porfirin
sintetik memiliki keunggulan karena tidak bergantung pada bahan baku
alam dan proses isolasi. Jenis porfirin yang menarik dan mudah untuk
disintesis adalah tetrafenilporfirin (TPP).
Dalam penelitian ini akan disintesis turunan tetrafenilporfirin yaitu tetra(pdimetilaminofenil)porfirin (TDMAPP)yang mampu menyerap cahaya pada
panjang gelombang sinar tampak, di mana gugus samping yang bermuatan
positif menunjukkan pergeseran merah pada spektrum UV-Vis dan dapat
larut dalam air. Struktur senyawa tetra(p-dimetilaminofenil)porfirin dapat
dilihat pada Gambar 1. Mengingat sebagian besar tubuh manusia
mengandung air akan membuat TDMAPPlebih mudah larut dan bergerak di
dalam tubuh manusia menuju sel-sel yang tidak normal sehingga senyawa
ini juga dapat digunakan sebagai agen fotodinamik terapi untuk kanker [1].
Eksitasi elektron pada senyawa TDMAPP membutuhkan panjang
gelombang yang lebih besar dibandingkan dengan tetrafenilporfirin
sehingga energi yang dibutuhkan lebih rendah. Hal ini sangat
menguntungkan karena dapat digunakan sebagai agen fotodinamik terapi
dengan menggunakan energi yang rendah.

N
N
NH

HN
N

132 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology


tetra(p-dimethylaminophenyl)porphyrin

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Gambar 2. Struktur tetra(p-dimentilaminofenil) porfirin.

Pertama kali tetrafenilporfirin disintesis oleh Rothmund dengan cara


mereaksikan pirol dan benzaldehida dengan pemanasan 150C selama 24
jam, cara ini menghasilkan yield yang sangat rendah. Kemudian Adler dan
Longo pada tahun 1967 mengembangkan metode tersebut dengan merefluks
campuran benzaldehida, pirol dan asam propionat selama 30 menit. Metode
Lindsey menggunakan katalis BF3 atau asam trifluoroasetat, namun BF3
adalah reagen yang berbahaya selain itu yield yang dihasilkan cukup rendah
[2]. Metode-metode tersebut selalu membutuhkan pelarut dalam jumlah
banyak dan tidak ramah lingkungan. Oleh karena itu, dikembangkanlah
metode sintesis tanpa menggunakan pelarut dengan menggunakan
microwave sehingga tidak perlu dilakukan pemurnian produk terhadap
pelarut. Ketika menggunakan microwave sebagai sumber energi, temperatur
akan meningkat secara cepat karena seluruh sampel dipanaskan secara
bersamaan sehingga dapat mempercepat waktu sintesis dan meningkatkan
produk reaksi [3].
Senyawa tetrafenilporfirin memiliki serapan yang didominasi oleh pita
Soret yang sangat kuat pada daerah 416,5 nm 424,5 nm, tergantung pada
pelarut yang digunakan ketika dilakukan pengukuran. Dan pita lainnya
adalah pita Q yang terdiri dari empat puncak serapan yang menunjukkan
transisi basa bebas dari porfirin dan muncul pada daerah 513 nm 674
nm.Basa bebas dari porfirin memiliki empat puncak Q yang disebabkan
karena transisi elektron yang terlarang dan vibrasi elektronik [4].

METODOLOGI PENELITIAN
Sintesis Tetra(p-dimetilaminofenil)porfirin
Senyawa
porfirin
yang
akan
disintesis
adalah
tetra(pdimetilaminofenil)porfirin menggunakan p-dimetilaminobenzaldehida dan
pirol sebagai bahan dasar. Sintesis dilakukan dengan bantuan microwave
tanpa
menggunakan
pelarut.
Awalnya,
4,3
mmolpdimetilaminobenzaldehida, 4,3 mmol pirol dan 2 tetes asam asetat glasial
diaduk hingga homogen kemudian ditambahkan siliki gel dan diaduk
kembali. Kemudian direaksikan dalam microwave menggunakan daya

133 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
100% dengan total waktu 10 menit dan selang waktu satu menit. Setelah itu
campuran didinginkan pada suhu ruang.
Pemisahan Senyawa Hasil Sintesis
Hasil sintesis diekstraksi dengan menggunakan 20 mL etil asetat.Diuapkan
pelarut hasil ekstraksi menggunakan alat rotari evaporator. Hasil evaporasi
dilarutkan kembali dalam campuran pelarut n-heksana dan etil asetat (7/3).
Pemisahan senyawa tetra(p-dimetilaminofenil)porfirin dari larutan sampel
dilakukan menggunakan kromatografi kolom dengancampuran pelarut nheksana dan etil asetat (7/3). Diambil fraksipertama yang merupakan
senyawa porfirin yang diinginkan.

Kristalisasi dan Rekristralisasi


Fraksi pertama hasil pemisahan pada tahap sebelumnya didiamkan beberapa
lama dengan kondisi lingkungan jauh dari cahaya sampai terbentuk kristal
tetra(p-dimetilaminofenil)porfirin. Untuk mendapatkan kristal dengan
jumlah yang lebih banyak maka dapat dilakukan rekristalisasi dengan
melarutkan kembali dalam campuran pelarut n-heksana dan etil asetat
(7/3)dan didiamkan hingga terbentuk kristal.

Karakterisasi
Karakterisasi senyawa hasil sintesis dilakukan untuk mengidentifikasi
terbentuknya cincin porfirin. Karakterisasi dilakukan dengan menggunakan
spektrofotometer UV-Vis dan fluoresensi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sintesis tetra(p-dimetilaminofenil)porfirin dengan menggunakan microwave
menghasilkan rendemen sebesar 15,34%. Kristal yang diperoleh kemudian
dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis untuk melihat kekhasan
serapan senyawa hasil sintesis dengan senyawa porfirin pada umumnya.

134 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

1,0

418

TPP
TDMAPP

422

Absorbansi

0,8

0,6

0,4

0,2

0,0
400

500

600

700

Panjang gelom bang (nm )

Gambar 2. Spektrum serapan tetra(p-dimetilaminofenil)porfirin.


Senyawa porfirin memiliki spektrum yang khas yaitu puncak soret dan
empat puncak Q. Umumnya senyawa porfirin memiliki puncak soret pada
416,5 nm 424,5 nm contohnya saja tetrafenilporfirin yang memiliki
puncak soret pada 418 nm. Dibandingkan terhadap tetrafenilporfirin,
spektrum senyawa tetra(p-dimetilaminofenil)porfirin akan mengalami
pergeseran ke arah panjang gelombang yang lebih besar (pergeseran
batokromik) hal tersebut dikarenakan adanya gugus pendorong elektron
yang menambah kerapatan elektron pada cincin porfirin. Hal tersebut
terlihat pada gambar 2 di mana puncak soret tetrafenilporfirin berada pada
panjang gelombang 418 nm sedangkan puncak soret tetra(pdimetilaminofenil)porfirin berada pada panjang gelombang 422 nm. Dengan
adanya pergeseran batokromik artinya energi yang dibutuhkan untuk
mengeksitasi elektron pada senyawa tetra(p-dimetilaminofenil)porfirin lebih
kecil dibandingkan dengan tetrafenilporfirin.
Puncak soret tetra(p-dimetilaminofenil)porfirin memiliki serapan yang lebih
lebar dibandingkan dengan tetrafenilporfirin. Hal tersebut dikarenakan
tetra(p-dimetilaminofenil)porfirin lebih polar dibandingkan dengan
tetrafenilporfirin dan mengakibatkan mudahnya interaksi dengan pelarut
sehingga dimungkinkan adanya pengaruh dari pelarut ketika pengukuran
spektrum UV-Vis.
Senyawa porfirin adalah senyawa yang dapat memancarkan fluoresensi
merah
sehingga
spektrum
emisi
dari
senyawa
tetra(pdimetilaminofenil)porfirin dapat digunakan untuk melihat terbentuknya
cincin porfirin. Spektrum emisi didapatkan dengan menggunakan panjang
gelombang pengeksitasi 420 nm.

135 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

650,89

1,0

TPP
TDMAPP

665,03

Intensitas

0,8

0,6

0,4

0,2

0,0
500

600

700

800

900

Panjang gelombang (nm)

Gambar 3. Spektrum emisi yang dinormalisasi dari senyawa tetra(pdimetilaminofenil) porfirin.


Dari gambar 3 terlihat bahwa pada panjang gelombang 665,03 memiliki
intensitas fluoresensi maksimum. Hal tersebut membuktikan bahwa
senyawa porfirin yang terbentuk memiliki fluoresensi merah.
Intensitas fluoresensi dari tetra(p-dimetilaminofenil)porfirin lebih kecil
dibandingkan dengan tetrafenilporfirin. Hal tersebut dikarenakan senyawa
tersebut lebih polar dibandingkan dengan tetrafenilporfirin sehingga ketika
akan berfluoresensi dimungkinkan adanya quenching dari pelarut. Spektrum
fluoresensi tetrafenilporfirin memiliki dua puncak yang terpisah sedangkan
tetra(p-dimetilaminofenil)porfirin memiliki dua puncak yang overlap. Hal
tersebut dikarenakan adanya pengaruh gugus samping porfirin yang
menyebabkan perubahan interaksi resonansi pada cincin porfirin.

KESIMPULAN
Pada penelitian kali ini, kami berhasil mensintesis tetra(pdimetilaminofenil)porfirin menggunakan metode Microwave-assisted
Organic Synthesis (MAOS) dengan rendemen sebesar 15,34%. Sintesis
dengan menggunakan microwave sangat menguntungkan karena waktu
reaksi yang cepat dan tanpa pelarut. Dari spektrum UV-Vis yang diperoleh,
senyawa hasil sintesis memiliki kemiripan dengan spektrum
tetrafenilporfirin. Sedangkan dari spektrum fluoresensi, senyawa tersebut

136 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
memiliki fluoresensi merah yang merupakan ciri khas dari senyawa porfirin
pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Radu Socoteanu, Rica Boscencu, Veronica Nacea, Anabela Sousa
Oliveira, Luis Filipe Vieira Ferreira. Microwave-assisted Synthesis of
Unsymetrical Tetrapyrrolic Compounds. Rev. Chim (Bucureti).2008;
59: 969-972.
[2] Sakthitharan Shanmugathasan, Christine Edwards and Ross W. Boyle.
Advances in Modern Synthetic Porphyrin Chemistry. Tetrahedron.
2000; 56: 1025-1046.
[3] Sauer, D. R., Kalvin, D., Phelan, K. M. Microwave-Assisted Synthesis
Utilizing
Supported
Reagents:
A
Rapid
and
Efficient
AcylationProcedure.Organic Letter.2003; 5: 4721-4724.
[4] Abedien Zabardasti (2012). Molecular Interactions of Some Free Base
Porphyrins with - and -AcceptorMolecules, Molecular Interactions,
Prof. Aurelia Meghea (Ed.), ISBN: 978-953-51-0079-9, InTech
(http://www.intechopen.com/books/molecular-interactions/molecularinteractions-of-some-free-basesporphyrins-with-sigma-and-pi-acceptormolecules)

Studi Teori Fungsional Kerapatan : Interaksi LithiumMontmorillonite dengan Poly (Ethylene Oxide) Sebagai
Investigasi Awal Konduktivitas Litium Polimer
Muhammad Naufal Lintangpradipto, Mohammad Kemal
Agusta, Hermawan K Dipojono
Laboratorium Desain Material Komputasional, Prodi Teknik Fisika,
Institut Teknologi Bandung
Email : naufal.lintang@gmail.com

ABSTRAK

137 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Pada penelitian ini interaksi antara poly(ethylene oxide) (PEO)


dengan lithium-montmorillonite (LiMMT) telah diinvestigasi dengan
menggunakan teori fungsional kerapatan. Hasil dari kalkulasi
menunjukan proses adsorpsi yang terjadi antara PEO dengan LiMMT
merupakan physisorption dengan nilai energi adsorpsi sebesar -0.32
eV. Physisorption juga ditemukan pada perhitungan PES (Potential
Energy Surface) dan PEC (Potential Energy Curve) serta hasil
eksperimen penelitian terkait. Ditemukan juga terbentuknya ruang/
jarak antara PEO dengan LiMMT sebesar 3.4 4.3 yang menemui
kesepakatan yang baik dengan eksperimen. Kemungkinan jalur
reaksi minimum juga diinvestigasi dengan perhitungan PES yang
menemui kecocokan dengan hasil simulasi MD (Molecular
Dynamics) penelitian terkait.
Kata Kunci: Poly(ethylene oxide), Lithium-Montmorillonite, Density
Functional Theory, Physisorption

PENDAHULUAN
Penelitian yang sedang berkembang saat ini untuk baterai mobil
listrik adalah baterai litium-ion. Penelitian mengenai litium-ion
berkembang menjadi litium polimer dengan diubahnya jenis
elektrolit pada baterai tersebut dari organic solvent menjadi solid
polymer. Penelitian litium polimer ini menjadi penting karena litium
polimer memiliki bentuk yang dapat divariasikan serta biaya
produksinya jauh lebih murah dibandingkan litium-ion. Namun
permasalahan keamanan lah yang menjadi pokok perpindahan
penelitian pada litium polimer karena mudahnya terjadi ledakan pada
baterai litium-ion ketika terjadi over-pressure yang melebihi
kapasitasnya [1].
Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya terkait baterai litium
polimer adalah pada penelitian elektrolit baterai [2-5]. Elektrolit
yang sering dipergunakan pada elemen litium polimer adalah
poly(ethylene oxide) (PEO). Para peneliti berlomba-lomba untuk
menemukan varian dari PEO ini agar mendapatkan parameter
densitas energi, power yang semakin tinggi.

138 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303

Pada penelitian terkait yang telah dilakukan sebelumnya oleh Kim et


al [6] secara eksperimental, didapatkan bahwa dengan menambahkan
filler LiMMT pada elektrolit PEO terjadi kenaikan pada
konduktivitas ion sistem tersebut. Hasil ini diperkuat dengan
penelitian terkait oleh Wungu et al [5] secara simulasi bahwa
LiMMT memiliki sifat yang cocok untuk dipergunakan sebagai
elektrolit karena bersifat insulator dan memiliki kemampuan
mobilitas litium. Dari penelitian tersebut dapat dilakukan penelitian
lanjutan untuk mengetahui fenomena interaksi antara LiMMT
dengan PEO secara simulasi.
METODOLOGI PENELITIAN
Pemodelan sistem ini terdiri dari dua struktur molekul yang berbeda yaitu
struktur LiMMT dan struktur PEO. LiMMT memiliki formula kimia yaitu,
LiSi8(Al3Mg)O20(OH)4 yang berjumlah total 41 atom sesuai dengan
referensi Wungu et al [5]. PEO memiliki formula kimia, (CH3CH2O)2CH3
untuk 2 rantai monomer berjumlah 19 atom berdasarkan hasil eksperimental
pada Takahashi et al [7]. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan
program Quantum Espresso [8] versi 4.2 yang berbasiskan teori fungsional
kerapatan (Density Functional Theory). Pseudopotential yang dipergunakan
pada simulasi komputasi ini adalah Projector Augmented Wave (PAW)
dengan basis set plane wave dan fungsional exchange correlation berupa
Generalized Gradient Approximation of Perdew-Burke-Ernzerhof (GGAPBE) [9]. Berdasarkan hasil optimasi parameter didapatkan parameterparameter konvergen yaitu energi cut off wavefunction sebesar 50 Ry, nilai
sampling k-point adalah 5 x 5 x 1 dengan tipe Monkhorst pack grid [10] dan
panjang sumbu z unit sel sebesar 26.36 .

HASIL DAN PEMBAHASAN


Perhitungan dilakukan dengan menentukan 6 konfigurasi PEO di atas
permukaan LiMMT. Dari setiap konfigurasi ini dilakukan perhitungan
optimasi ketinggian untuk mencari tahu posisi stabil PEO di permukaan
LiMMT. Didapatkan hasil berupa setiap tipe konfigurasi PEO/LiMMT
terjadi penolakan PEO terhadap permukaan LiMMT berkisar pada 1
2.5 terhadap posisi awal sehingga terbentuk suatu ruang/jarak antara PEO
oligomer dengan permukaan LiMMT yang terdapat pada Tabel 1.

139 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
Tabel 1. Jarak yang terbentuk antara PEO dan LiMMT serta energi
adsorpsinya
Konfigurasi
PEO/LiMMT

Jarak yang terbentuk


()

Energi Adsorpsi (eV)

Energi relatif (eV)

type A
type B
type C
type D
type E
type F

4
3.7
3.8
4.2
3.5
3.4

-0.022
-0.047
-0.063
-0.012
-0.039
-0.053

0.041
0.016
0
0.051
0.024
0.01

Tabel 1 ini menunjukan bahwa jarak yang terbentuk antar material PEO
dan permukaan LiMMT berkisar pada 3.4 4.2 . Hal ini menemui
kesepakatan yang baik terhadap hasil eksperimental oleh Manoratne et al
[11] yang menjelaskan pembentukan lapisan litium atau natrium diantara
material MMT dan PEO pada sistem larutan MMT/PEO. Ruang yang
terbentuk ini memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan ukuran
diameter dari litium yaitu 2.8 3.3 sehingga memungkinkan mobilitas
yang baik bagi litium di dalam sistem PEO/LiMMT. Pada Tabel 1
didapatkan juga bahwa konfigurasi paling stabil adalah konfigurasi tipe C
dengan energi adsorpsi 0.063 ) sehingga tergolong physisorption.
Pada perhitungan PEC dan PES dibandingkan hasil perhitungan pada sistem
PEO/LiMMT dengan sistem LiMMT saja. Didapatkan hasil yang
menunjukan bahwa tidak terdapat perubahan pada kontur energi permukaan
LiMMT sebelum ataupun sesudah mengadsorpsi PEO. Hal ini menujukan
bahwa PEO tidak memberikan pengaruh kepada potensial energi permukaan
LiMMT. Namun jika kita berkaca pada perhitungan PEC didapatkan bahwa
PEO tidak memberikan pengaruh pada posisi dekat 0 1 dari permukaan
LiMMT tapi memberikan pengaruh untuk posisi jarak jauh 3 3.5 dari
permukaan LiMMT yang ditandai dengan penurunan energi kurva sebesar
1.57) . Hal ini menunjukan bahwa proses yang terjadi benar adalah
physisorption dan bahwa litium memiliki kecenderungan untuk stabil pada
posisi dekat dengan PEO berdasarkan pengurangan energi kurva tersebut.
Namun litium lebih cenderung untuk mengisi ruang kosong dittigonal pada
permukaan LiMMT dibandingkan posisi dekat PEO tersebut.

KESIMPULAN
Beberapa kesimpulan pada penelitian ini :
1. Konfigurasi PEO oligomer yang paling stabil pada permukaan LiMMT
adalah konfigurasi tipe C dengan energi adsorpsi -0.062 eV

140 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology

Proceedings Workshop Nanotechnology, Des 2013


Vol. 1, No.1, ISSN : 2356 - 3303
2. Proses physisorption ini diperkuat dengan tidak terjadinya perubahan
kontur PES dan grafik PEC yang menunjukan kecenderungan litium
terhadap PEO
3. Terbentuknya jarak antara PEO dan permukaan LiMMT sebesar
3.4 4.2 yang memungkinkan mobilitas yang baik bagi litium
dengan diameter 2.8 3.3

DAFTAR PUSTAKA
I.1.1.1
[1]http://batteryuniversity.com/learn/article/lithium_ion_safety_c
oncerns (di ambil, 9/5/13)
[2] T. D. K. Wungu, F. Rusydi, et al, Solid State Communications, Volume
152, Issue 19, October 2012, Pages 1862-1866
[3] Wungu, T. D. K., et al, Journal of Nanoscience and Nanotechnology
11.4 (2011): 2793-2801.
[4] Wungu, T. D. K., et al, Japanese Journal of Applied Physics 50.5
(2011): 5701.
[5] Wungu, T. D. K., et al., Journal of Physics: Condensed Matter 24.47
(2012): 475506.
[6] S. Kim, S. Park, Solid State Ionics, Vol 178, Issues 1314, 31 May
2007, Pages 973-979,
[7] Y. Takahashi, H. Tadokoro, Macromolecules 1973 6 (5), 672-675
[8] Giannozzi, Paolo, et al., Journal of Physics: Condensed Matter 21.39
(2009): 395502.
[9] Perdew, John P., Kieron Burke, and M. Ernzerhof, Physical review
letters 77.18 (1996): 3865.
[10] Monkhorst, Hendrik J., and James D. Pack., Physical Review B 13.12
(1976): 5188-5192.
[11] Manoratne, C. H., R. M. G. Rajapakse, et al, Int J Electrochem Sci 1
(2006): 32-46.

141 | NRCN - National Research Center for Nanotechnology