Anda di halaman 1dari 98

Tangki timbun cpo adalah sebuah tangki yang ditimbun di dalam tanah sebagai media

penyimpanan cpo yang akan di proses oleh pabrik kelapa sawit


kebanyakan tangki timbun ini untuk cpo atau minyak kelapa sawit
Minyak kelapa sawit adalah lemak yang dapat dimakan, minyak sayur merah-kuning
yang diperoleh dari buah pohon kelapa sawit. Kelapa sawit adalah pohon palem tropis
berasal dari Afrika Barat. minyak kernel Palm terbuat dari biji digunakan sebagai
minyak goreng, untuk membuat margarin dan merupakan komponen dari beberapa
makanan olahan. Minyak kelapa sawit adalah tinggi dalam olefin, sebuah kelompok
kimia yang berpotensi berharga yang dapat diolah menjadi berbagai produk nonmakanan juga. Minyak sawit memiliki potongan terbesar dari pasar minyak nabati
dunia 28%, diikuti oleh minyak kedelai. 50% dari produksi kelapa sawit dunia
berasal dari Malaysia.

Minyak sawit diproses untuk menghasilkan lemak yang dapat dimakan (margarin),
sabun dan lilin dan digunakan dalam farmasi dan kosmetik dan sebagai bahan baku
penting dalam oleokimia (kimia lemak).
Lama penyimpanan minyak sawit: approx. 6 bulan pada suhu 30
Suhu
Loading:
40

Menguntungkan
membawa
suhu:
30-35

C,
tidak
<25

Memompa
suhu:
49-50

C,
tidak>
55

Suhu
pemadatan:
approx.
35

Minyak sawit memiliki pemadatan relatif tinggi titik / kisaran 41 31


Tingkat pemanasan harus tidak lebih besar dari 8 C / hari.

C
C
C
C
C
C.:

Nilai asam minyak dapat digunakan sebagai ukuran kualitas. Minyak inti sawit harus
memiliki nilai asam paling banyak 0,1 1,0%. Nilai asam minyak tidak boleh terlalu
tinggi, karena hal ini menunjukkan kandungan yang terlalu tinggi gratis Asam
Lemak , yang menyebabkan minyak untuk mengubah warna dan berubah asam.

Minyak dan lemak merusak dengan mudah menjadi tengik yang dipromosikan oleh
cahaya, oksigen atmosfer dan kelembaban dan menyebabkan perubahan bau dan rasa.
Untuk dapat memompa minyak dari tangki, itu harus pada suhu pemompaan yang
diperlukan. Ini hanya mungkin, namun, jika minyak telah disimpan cair selama
perjalanan (di atas suhu minimum). Memuat suhu, perjalanan dan pemompaan harus
tepat dipatuhi, karena setiap perubahan konsistensi yang terjadi selama transportasi
dapat membuktikan ireversibel. Jika minyak mengeras dalam tank, tidak dapat
dicairkan lagi bahkan dengan pemanasan paksa. Di sekitar kumparan pemanas,
minyak mencair, hangus, discolors dan menjadi tengik.
Memompa keluar mungkin sulit dalam cuaca dingin. Minyak dapat mendinginkan
terlalu cepat di garis-garis panjang dan bentuk deposito solid pada dinding luar, yang
tidak dapat dipompa keluar dan mencegah kargo masih cair dari mencapai katup
hisap. Masalah ini dapat diselesaikan dengan pemanasan atau isolasi dari garis yang
tepat.
Pemisahan dan perubahan terkait dalam konsistensi dari cair ke padat terjadi lebih
mudah pada pendinginan, semakin tinggi adalah titik pembekuan. Minyak inti sawit
memiliki pemadatan relatif tinggi titik / kisaran 24-19 C. Di negara-negara asli
memiliki konsistensi cair, tetapi di lintang beriklim itu adalah lemak dan harus
dipanaskan. Minyak inti sawit karena itu juga dikenal sebagai lemak inti sawit.
Minyak hanya harus dipanaskan oleh C beberapa per hari, jika risiko tengik dan
perubahan negatif lainnya muncul.
Palm Oil akan kehilangan warna merah bila terkena cahaya, tapi ini kehilangan warna
tidak mempengaruhi nilai untuk tujuan biasa. Panas yang berlebihan akan
menyebabkan pemutihan dan mempengaruhi warna.
tangki timbun cpo

Untuk rincian lebih lanjut tentang kerusakan, kontaminasi, oksidasi, transit dan
penanganan dll, kita bisa merujuk ke Minyak Massal dan Lemak dan Lemak dan
Minyak .

Bulking Station
Posted on Juni 9, 2014 by ivanemmoy
Pendahuluan

jetty bulking
Bulking Station adalah Fasilitas penimbunan CPO yang terdiri dari beberapa tangki timbun CPO
yang tempatnya berada di dekat pelabuhan. Bulking bertujuan untuk mempermudah proses
bongkar muat pengapalan CPO, mengefisiensikan waktu dengan memperpendek waktu sandar
kapal dan mengontrol kualitas mutu CPO sebelum di kapalkan menuju pabrik refinery.
Dalam satu group perusahaan sering kali memiliki dua atau lebih pabrik kelapa sawit yang jarak
antara Pabrik dengan pelabuhan memerlukan perjalanan kurang lebih 2 3 jam perjalanan.
kapasitas mobil tangki CPO adalah 6 8 kL sehingga diperlukan banyak armada truk dengan
beberapa kali rate untuk memenuhi kapasitas kapal 2000 5000 dwt. Dengan jarak tersebut, jika
tidak terdapat bulking maka waktu sandar kapal akan lama dan temperatur CPO akan turun.
Denah Lokasi

BULKING STATION LAYOUT


Keterangan
No.
1.

Description
Pos jaga

No. Description
8.
Boiler and demin plant

2.

Rumah Manager

9.

Engine Room

3.

Rumah Staff

10.

Pompa pengiriman CPO

4.

Jembatan timbang

11.

Water Treatment Plant

5.

Office and lab

12.

Tangki Solar

6.

Gudang kernel

13.

Penerimaan CPO (Drop Tank)

7.

Gudang shell / bahan bakar 14.

Storage Tank

Peralatan Utama
1. Stasiun Penerimaan Minyak
CPO yang diangkut dalam Truck harus melewati Jembatan timbang untuk di ukur beratnya
kemudian di tuang secara grafitisai dalam Tangki penampungan. Tangki ini terletak under
ground, terbuat dari concrete berukuran 16x3x2 dilengkapi dengan instalasi pipa, steam Coil dan
valve. CPO yang terkumpul dari beberapa truck tanki selanjutnya oleh Pompa transfer dengan
kapasitas 130 m3/hr, 22 kW di transfer ke Tangki Timbun CPO (Storage Tank). Tangki timbung
CPO kapasitas masing-masing 2000 Ton dilengkapi dengan instalasi pipa, steam Coil dan Mixer
yang di gerakkan motor 2.2 kW.

CPO Collecting Tank

Bulking Storage Tank


2. Stasiun Pengiriman CPO
Stasiun ini berfungsi untuk mengirimkan CPO dari Storage Tank menuju kapal tanker CPO yang
sandar di pelabuhan. Stasiun ini di lengkapi dengan Pompa pengiriman CPO kapasitas 250
m3/hr, 45 kW.

Shipping Pump
Selain Pompa juga di lengkapi dengan Air compressor c/w receiver berfungsi mendorong peluru
(bola busa/karet) dalam intalasi pipa untuk memebersihkan kotoran sisa pengelasan, kotoran
plastik atau sisa minyak dalam pipa. Peluru ini di masukkan melalui pig launcher kemudian
terdorong udara bertekanan sepanjang instalasi pipa menuju pig receiver.

Air Compressor
3. Stasiun Boiler
Stasiun Boiler adalah stasiun pembangkit tenaga uap yang di gunakan untuk pemanasan CPO
agar tetap pada temperatur yang di inginkan. Stasun ini dilengkapi dengan instalasi
Demineralization plant untuk memurnikan kualitas Air sesuai dengan baku mutu air yang di
rekomendasikan boiler. kelengkapan standart Demin Plant adalah :

Boiler feed water tank


Deaerator

Boiler chemical doosing pump

Steam condensate return system

Elevated water storage tank

Water transfer pump

Water Treatment Plant

Boiler yang di gunakan adalah Saturated Boiler dari INDOMARINE, Type HRC 60, Max.
Allowable working pressure 10 kg/cm2G, Steam temperature Saturated. Heat surface 182 m2,
Capacity 6000 kg/hr, Serial No. FS 620 IM, Year built 2012.

saturated boiler
4. Engine Room
Stasiun pembangkit tenaga listrik diperlukan untuk menyediakan energi listrik untuk Pompa dan
peralatan listrik yang ada, juga untuk kebutuhan penerangan bangunan penunjang yang di
kontrol dari Main Switchboard, Panel MCC dan SDP. Engine Room ini dilengkapi dengan :

Tangki timbun solar


Diesel fuel pump

Tangki solar harian

Diesel genset 250 kva

Diesel genset 45 kva

Engine Room
5. Water Treatment Plant
Berfungsi untuk penjernihan air yang di ambil dari air tanah melalui sumur bor. Air tanah di
pompa olehDeep Well Pump kemudian di tampung dan di endapkan di Water basin. Air
yang ada di proses menggunakan system Reverse Osmosis dengan kapasitas 5 m3/hr.

WTP PUMP HOUSE

REVERSE OSMOSIS KAP 5 M3 PERHOUR


Bangunan Penunjang

Bangunan Utama (Main Building) ukuran 42 x 12 m. di gunakan untuk gudang bahan


Bakar Boiler, Stasiun Boiler, Engine Room dan Stasiun Pengiriman CPO.

Main Building

Bangunan Gudang Kernel ukuran 12 x 12 m, tinggi 6 m.

Kernel Store

Bangunan Kantor Bulking ukuran 11 x 10 m, tinggi dinding 4 m. c/w Jembatan Timbang.

Office And Lab

Bangunan Pos Jaga ukuran 4 x 6 m, tinggi dinding 4 m.


Bangunan Rumah Tinggal Manager ukuran 14 x 10 m, tinggi dinding 4 m.

Bangunan Rumah Tinggal Staff ukuran 10 x 10 m, tinggi dinding 4 m.

Manager And Staff House

tangki timbun adalah sebuah tangki yang di timbun ke dalam


tanah yang bertujuan untuk mengisi minyak untuk keperluan
indrusti.

Memompa keluar mungkin sulit dalam cuaca dingin. Minyak


dapat mendinginkan terlalu cepat di garis-garis panjang dan
bentuk deposito solid pada dinding luar, yang tidak dapat
dipompa keluar dan mencegah kargo masih cair dari mencapai
katup hisap. Masalah ini dapat diselesaikan dengan pemanasan
atau isolasi dari garis yang tepat.
Nilai asam minyak dapat digunakan sebagai ukuran kualitas.
Minyak inti sawit harus memiliki nilai asam paling banyak 0,1
1,0%. Nilai asam minyak tidak boleh terlalu tinggi, karena hal
ini menunjukkan kandungan yang terlalu tinggi gratis Asam
Lemak , yang menyebabkan minyak untuk mengubah warna dan
berubah asam.
Tangki timbun kelapa sawit sangat susah dibuat dan dibutuhkan
skill tinggi untuk membuatnya.
Minyak dan lemak merusak dengan mudah menjadi tengik yang
dipromosikan oleh cahaya, oksigen atmosfer dan kelembaban
dan menyebabkan perubahan bau dan rasa.

Untuk dapat memompa minyak dari tangki, itu harus pada suhu
pemompaan yang diperlukan. Ini hanya mungkin, namun, jika
minyak telah disimpan cair selama perjalanan (di atas suhu
minimum). Memuat suhu, perjalanan dan pemompaan harus
tepat dipatuhi, karena setiap perubahan konsistensi yang terjadi
selama transportasi dapat membuktikan ireversibel. Jika minyak
mengeras dalam tank, tidak dapat dicairkan lagi bahkan dengan
pemanasan paksa. Di sekitar kumparan pemanas, minyak
mencair, hangus, discolors dan menjadi tengik.
Pemisahan dan perubahan terkait dalam konsistensi dari cair ke
padat terjadi lebih mudah pada pendinginan, semakin tinggi
adalah titik pembekuan. Minyak inti sawit memiliki pemadatan
relatif tinggi titik / kisaran 24-19 C. Di negara-negara asli
memiliki konsistensi cair, tetapi di lintang beriklim itu adalah
lemak dan harus dipanaskan. Minyak inti sawit karena itu juga
dikenal sebagai lemak inti sawit. Minyak hanya harus
dipanaskan oleh C beberapa per hari, jika risiko tengik dan
perubahan negatif lainnya muncul.
Palm Oil akan kehilangan warna merah bila terkena cahaya, tapi
ini kehilangan warna tidak mempengaruhi nilai untuk tujuan
biasa. Panas yang berlebihan akan menyebabkan pemutihan dan
mempengaruhi warna.
Untuk rincian lebih lanjut tentang kerusakan, kontaminasi,
oksidasi, transit dan penanganan dll, kita bisa merujuk ke
Minyak Massal dan Lemak dan Lemak dan Minyak .
Minyak kelapa sawit adalah lemak yang dapat dimakan, minyak
sayur merah-kuning yang diperoleh dari buah pohon kelapa
sawit. Kelapa sawit adalah pohon palem tropis berasal dari

Afrika Barat. minyak kernel Palm terbuat dari biji digunakan


sebagai minyak goreng, untuk membuat margarin dan
merupakan komponen dari beberapa makanan olahan. Minyak
kelapa sawit adalah tinggi dalam olefin, sebuah kelompok kimia
yang berpotensi berharga yang dapat diolah menjadi berbagai
produk non-makanan juga. Minyak sawit memiliki potongan
terbesar dari pasar minyak nabati dunia 28%, diikuti oleh
minyak kedelai. 50% dari produksi kelapa sawit dunia berasal
dari Malaysia dan Indonesia.
multi tehnik adalah perusahaan pembuat tangki timbun minyak
sawit

Penjelasan Umum TAKUMA Boiler


Posted on Juli 10, 2012 by ivanemmoy
Takuma
Boiler takuma ada beberapa type N & NS dengan bahan bakar sisa kayu, bagasse, kelapa sawit
dll. Ketel ini dirancang dengan sistim balanced draft dan sirkulasi natural. Ketel ini dalah type
dengan konstruksi dinding dapur ng sama sekali didinginkan dengan air yang dapat menyerap
panas radiasi secara effective dalm dapur pembakaran ( combustion camber), hingga mempunyai
efisiensi yang tinggi dan sangat fleksible terhadap fluktuasi beban.
Ketel dengan konstruksi sederhana, kokoh dan compact ini menjamin kemudahan dalam
pengoperasian dan pengamanannya, dengan factor keamanan yang tinggi, sehingga mempunyai
umur ekonomis yang relatif panjang. Perlengkapannya yang berkualitas tinggi menjamin
kemudahan dalam operasi, pemeliharaan dan inspeksinya.
Konstruksi dan perlengkapannya.
Badan ketel dan dapur pembakaran (boiler proper dan combustion chamber)
1. Susunan pipa pipa air.
Pipa-pipa air (water tube) diklasifikasikan kedalam pipa-pipa air boiler proper, pipa-pipa air
combustion chamber dan pipa pipa air yang tidak dipanasi (pipa down comer) pipa pipa tersebut
terhubung dari drum atas dan drum bawah dengan pembesaran (expanding)
Kedua ujung pipa pipa air boiler proper yang di susun tegak lurus antara drum atas dan drum
bawah itu di tekuk dan dihubung di kedua drum tersebut. Pipa pipa itu di susun sedemikian
untuk menambah perpindahan panas secara kontak langsung. Pipa pipa air combustion chamber
dibagi kedalam beberapa dinidng dinding pipa (tube walls).
Pipa pipa air tersebut adalah pada dinding atap , dinding bagian depan, dinding bagian samping ,
dinding bagian belakang dan dinding baffle (baffle wall) yang memisah combustion chamber
dengan boiler proper. Pipa pipa pada dinding samping, dinding belakang dan beberapa pipa di
dinding depan di susun dengan jarak (pitch) yang sesuai, membangun satu dinding air yang
sempurna sebagai satu penutupan / batasan dapur untuk menyerap secara efektif panas radiasi di
dalam combustion chamber dan menghindari kehilangan panas.
2. Boler supporting structure.
Drum atas dan drum bawah juga beberapa pipa pipa air di dukung oleh support lower drum yang
berbentuk setengah bulatan (cradle), dan beberapa pipa pipa air didukung oleh setiap header
dalam susatu design sehingga semuanya menjadi fleksibel terhadap pemuaian atau penyusutan
akibat perubahan panas.

3. Konstruksi combustion chamber.


Combustion chamber, seperti terlihat di gambar 2-1 terdiri dari dapur utama (primary furnace)
dan dapur kedua (secondary furnace) pada primary furnace dipasang dengan roster dan firegrate.
4. Alur gas pembakaran.
Gas pembakaran (combustion gases) masuk ke susunan pipa pipa air di boiler proper dari dapur
utama (primary furnace) dan langsung masuk ke dust collector (penangkap abu) lalu ke cerobong
asap.
5. Sirkulasi dari ketel.
Air pengisi masuk ke dalam drum atas melalui feed water inner tube (pipa air di dalam drum
atas), untuk air pengisian dan akan bersirkulasi menurut sistem sbb :
Air pengisi pertama di supplay untuk badan ketel (boiler proper) yang terpasang pada daerah
temperatur rendah, kemudian turun ke pipa air untuk badan ketel yang terpasang pada daerah
temperatur tinggi, lalu menyerap panas melalui permukaan pemanas. Kemudian naik kembali
sebagai campuran air dan uap, lalu turun melalui pipa down commer dan masuk ke pipa air yang
terpasang dalam dapur pembakaran, dimana akan menyerap panas radiasi secara effective dalam
perjalanannya yang naik kembali ke atas.
6. Pemisah air dan uap.
Dalam drum atas terpasang plat penyangga dari besi dan pemisah air/uap untuk meningkatkan
kekeringan dari uap.
7. Alarm level air tinggi/rendah : meer level & meter tekan.
Sistem alarm level air tinggi/rendah di pasang pada drum atas sekalian dengan meter level air
(gelas penduga). Dan meter tekanan (pressure gauge) di letakkan pada tempat yang tepat yang
dengan mudah dapat di lihat dari posisi mana ketel itu di operasikan.
8. Frame dan casing
Casing dari besi plat dipasang sebagai protektor untuk badan ketel dan dinding dapur
pembakaran, serta alat pelindung dari udara luar dan mencegah masuknya air hujan pada bagian
tertentu, structur frame di pakai untuk memperoleh kekuatan yang memadai.
9. Gang way dan operating plat form.
Gang way dan hand rail dipasang untuk mempermudah menuju ketempat mana, automatic
regulator air pengisi, meter level air, kerangan-kerangan pada drum atas.

Takuma Boiler

Automatic regular air pengisi


Automatic regular air pengisi terdiri control valve, control unit dan modulating control head
(level sensor) dan pemipaan yang terhubung dengandrum atas mengatur jumlah aliran air dengan
membuka dan menutup control valve sesuai dengan variasi level air dalam drum atas.
Mechanical soot blower (alat tiup abu mekanik)
Soot blower element (pipa) harus terpasang pada badan soot blower sebelum soot blower (peniup
abu) dilakukan. Soot blowing dioperasikan dengan semprotan uap dari soot blower yang
elemennya berada di susunan pipa pipa boiler. Soot blower type rotary (diputar) dapat
dioperasikandari lantai, soot blower dirancang dengan spesial design agar masukan udara yang
berlebihan dapat dihindari. Element soot blower yang dipakai untuk daerah temperatur tinggi di
buat dari baja special agar tahan terhadap temperature tinggi.
Forced draft fan dan 2nd FD Fan
Satu unit forced draft fan dan satu unit 2nd FD fan yang dibuat oleh PT SAS dengan merek
Chicago yang mendapat lisensi dari chicago amerika yang dipasangkan untuk mensupplay udara
untuk pembakaran bahan bakar, pendingin roster dan penyebaran bahan bakar.
Induced draft fan

Induced draft fan yang di buat oleh PT SAS dengan merek chicago dengan type V belt atau
direct coupling (dengan coupling) dipasangkan untuk menginduksi gas sisa dari bahan bakar
kedalam cerobong dan menjaga tekanan dapur berada pada tekanan semulanya / tekanan yang di
rencanakan.
Peralatan pembakaran
Dalam sistem pembakaran ini dapur primer dipasang dengan rooster yang di susun sedemikian
rupa untuk meningkatkan efisiensi pembakaran.
Bahan untuk dapur
Badan ketel dan ruang pembakaran di tutup dengan batu tahan api yang berbentuk khusus batu
tahan api biasa, batu insulasi serta lapisan insulasi lainnya dan di bangun sedemikian rupa untuk
menjamin insulasi panas yang sempurna. Kualitas bahan tahan panas, insulasi dan elasticicty
untuk pemuaian di pilih dan dipergunakan sesuai dengan kondisi tempat dimana bahan itu di
pasang guna menghindari retak dan kerusakan yang mungkin timbul karena panas.
Dust collector
Gas-gas asap yang membawa jumlah abu ke cerobong asap terdiri dari abu-abu halus yang akan
terbawa oleh gas asap dan akan menimbulkan polusi. Oleh sebab itu dipasang dust collector dan
dilengkapi dengan daun kupu-kupu yang dapat menangkap abu-abu halus tersebut sehingga gas
asap yang keluar kecerobong asap lebih bersih. Dust collector juga berfungsi untuk menambah
daya tahan dan umur teknis pada blower induced draft fan.

Persiapan Pengoperasian Boiler Baru


Posted on Juli 10, 2012 by ivanemmoy
Semua perlengkapannya harus dioperasikan menurut prosedur yangx tercantum dalam buku
petunjuk. Dengan mentaati buku petunjuk ini adalah sangat penting untuk menghindari bahaya
dalam pengoperasiaan dan pemeliharaanya.
Baik untuk boiler baru, atau boiler yang telah lama tidak di jalankan, atau boiler yang terbuka
dibersihkan atau di reparasi, boiler harus di start dengan mengikuti isi buku petunjuk ini. Buku di
sini hanya untuk boiler yang sudah dilakukan pengeringan dengan perlahan-lahan dan di beri
tonic soda.
Pemeriksaan upper drum dan lower drum
Buka manhole dan periksa pemasangan packing-packing dan baut-baut internal upper drum,
apakah sudah terpasang secara sempurna.
Periksa apakah nozzle-nozzle pipa di dalam drum sudah terpasang dan dengan arah yang benar.
Periksa apakah masih ada orang , peralatan kain kotor dan barang asing lainnya yang tertinggal
di dalam, setelah yakin dalam drum telah bersih.
Pintu manhole di tutup.
Pemasangan internal upper drum sangat memegang peranan penting untuk menentukan
faktor kekeringan produksi uap pada boiler tersebut.
Pemeriksaan casing
Perhatikan pemasangan baut pada casing yang terletak di bawah upper drum lubang baut
berbentuk panjang (oval) dan pemasangan bautnya harus mempunyai spasi +- 20 mm. (lihat
gambar)

Lobang Oval Pada Fitting Casing


pemasangan baut casing dengan spasi lobang 20 mm adalah sangat penting untuk
memungkinkan upper drum berekspansi jika boiler tersebut beroprasi. Pemasangan baut
casing tanpa spasi obang yang cukup akan mengakibatkan baut pengikat putus bila terjadi
ekspansi.
Pemeriksaan kerangan dan flange
Periksa pemasangan kerangan secara cermat dan teliti terutama terhadap arah aliran masuk
dankeluar dan spesifikasi materialnya apakah telah sesuai untuk setiap jenis pemakaian. Periksa
apakah semua packing-packing dan baut-baut pada sambungan flange sudah terpasang secara
sempurna. Perhatian khusus sangat diperlukan dalam pemeriksaan kerangan dan flange untuk
menjaga terjadinya hal-hal yang tidak di inginkan pada saat pengoperasian boiler.
kelalaian pemasangan packing pada sambungan kerangan dan flange akan sangat
berbahaya bagi operator dan orang orang di sekitarnya pada saat boiler tersebut di
operasikan.
Pemeriksaan switch board dari instrument panel serta electro motor
Periksa apakah semua komponen listrik dan pasangan wiringnya sudah benar dan dapat
berfungsi dengan baik. Check apakah motor pada semua alat satu persatu. Perlu diperhatikan
untuk mengecek arah putaran electro motor, sebaiknya sambungan coupling dan belting di buka.
Hal ini untuk menghindari kemungkinan kemungkinan yang tidak diinginkan. Periksa instrument
panel apakah sistem control pada boiler tersebut semuanya sedah bekerja secara semourna,
terutama sekali sistem control pada tinggi rendah air dalam boiler.
sistem control tinggi/rendah air dalam boiler sangat perlu di perhatikan untuk mencegah
over heating maupun carry over.

Pemeriksaan draft control


TAKUMA BOILER dengan sistem balancing draft dilengkapi dengan suatu regulator tekanan
dapur yang memelihara tekanan dalam dapur agar lebih konstan. Kegagalan berfungsinya alat ini
akan dapat menyebabkan back fire di dalam ruang dapur sehingga membahayakan operator serta
orang-orang si sekitarnya. Oleh sebab itu perhatian khusus harus diberikan dan sangat perlu
sekali menjaga tekanan dapur ketel ini pada :
-5 s/d -10 mm H2O
Untuk memperoleh nilai tersebut di atas dapat kita stel melalui setting unit pada alat tersebut.
Unit pemasangan dan pengaturan

Setting Unit Draft Control


Alatini bekerja dengan sistem hydraulic, oleh sebab itu kondisi olie di dalam alat tersebut dijaga
agar tetap pada batas level yang di tentukan. Perlu diperhatikan dengan teliti perbandingan (ratio)
pembukaan dan penutupan damper dengan gerakan Arm (stang) pada alat tersebut.
jangan mengoperasikan boiler dengan menyetel setting unit ke skala positif. (lihat gambar
). hal ini sangat berbahaya, sebab akan menimbulkan tekanan balik (back fire) di dalam
ruang dapur).

Skema Peralatan Draft Control

Pemeriksaan blower (fan)


Takuma boiler dilengkapi dengan blower-blower (fan) yang effisiensi tinggi yang terdiri dari :
-

Induced draft fan

Forced draft fan

Secondary forced draft fan ( sec. FD Fan)

Sebelum blower siap untuk di operasikan bagian-bagian yang harus diperiksa dan diteliti adalah
sebagaiberikut :
Periksa dengan teliti bagian dalam blower dan pastikan bahwa tidak ada lagi barangbarang asing yang tertinggal di dalamnya.
Periksa angker-angker baut mur dan baut-baut sambungan flange sisi isap dan sisi tolak,
centering dari sambugan coupling serta protector untuk pengaman, apakah telah terpasang
dengan sempurna.
-

Periksa kondisi pelumasan.

Periksa kawat proteksi pada inlet udara, yang berfungsi mencegah bahan-bahan asing
terisap ke dalamnya.

Gerakkan bagian-bagian yang berputar dengan tangan untuk memeriksa apakah didapat
kondisi yang upnormal.
Sebelum blower dioperasikan secara terus menerus (kontinue) operasikan dahulu untuk selang
waktu yang pendek untuk memeriksa apakah ada kemungkinan terdapatnya bunyi atau vibrasi
(getaran) yang kurang normal
Operasikan fan tersebut dengan damper tertutup penuh (tanpa beban) sambil mengamati amper
meter. Yakinkanlah bahwa fan itu sudah mencapai kecepatan yang di tentukan dan ampere dalam
keadaan stabil.
Selama operasi perhatikan casing, ducting, bearing (lahar) dan komponen-komponen lainnya
akan kemungkinan terdapatnya bunyi, vibrasi atau kepanasan yan kurang normal
Pada waktu operasi dihentikan, periksa setia baut, bearing 9lahar) dan komponen lainnya akan
adanya kemungkinan menjadi longgar
Pergunakan minyak pelumas kwalitas baik dengan jumlah yang memadai
jangan start operasi fan dengan kondisi damper terbuka (beban penuh) untuk
menghindari start current ataupun over current yang tinggi sehingga dapat merusak
electro motor maupun component listrik lainnya.
Hydrostatic Test
Sebelum dioperasikan harus terlebih dahulu dilakukan hydrotest guna mengetahui apakah sistem
expander (pengerolan) pipa pipa water tube tersebut tidak terdapat kebocoran-kebocoran.
Ketentuan hydrotest adalah sebagai berikut :
Untuk boiler baru :

Tekanan kerja > 10 kg/cm2

Tekanan uji = tekanan kerja x 1


Untuk boiler yang sudah dipakai
Tekanan uji = tekanan kerja + maksimum 3 kg/cm2

Persiapan Pengapian
Posted on Juli 10, 2012 by ivanemmoy
Persiapan-persiapan oengapian ini harus dipenuhi setiap akan mengoperasikan boiler antara lain :
Pengisian ketel dengan air
Operasikan electric feed water pump untuk pengisian air boiler dengan mengikuti prosedurprosedur di bawah ini :
Periksa banyaknya air yang terkandung didalam tangki air, bukan hanyadi lihat melalui level
penunjuk air (level indicator) tetapi harus juga di lihat langsung ke dalam tangki.
Periksa semua kerangan, apakah kerangan yang seharusnya terbuka sedah benar terbuka dan
yang seharusnya tertutup sudah benar tertutup periksa semua handle operasinya apakah sudah
mudah di operasikan.
Perhatikan khusus pada kerangan-kerangan di sekitar pompa :

Electric Feed Water Pump

Lihat Gambar
-

Kerangan No. 3 (kerangan air balik) harus tetap terbuka.

Buka kerangan No. 1 (inlet); perhatikan compound gauge A untuk mengetahui ada
tidaknya air yang masuk ke pompa.
Jika jarum penunjuk pada compound gauge menunjuk ke nilai bawah nol (negative),
berati tidak ada air masuk ke dalam pompa, pompa tidak boleh di operasikan.

Jika jarum penunjuk pada compound gauge menunjuk ke angka positif.

Operasikan pompasetelah elctro motor beroperasi normal. Buka kerangan No. 2 perlahanlahn dan amati ampere meter di panel agar jangan melebihi 70% dari ampere maximum.
Pada saat itu pula periksa pompa tersebut terhadap bunyi-bunyi yang upnormal, periksa pipapipa air pengisi, periksa semua kerangan, periksa semua handhole serta manhole atas
kemungkinan terdapat kebocoran atau kesalahan fungsi, jika terdapat kebocoran harus segera di
perbaiki, sebelum boiler dioperasikan.
Operasikan electric feed water pump hingga air dalam gelas penduga mencapai high
water level dan alarm untuk HWL berbunyi serta lampu hijau pada panel menyala, dan
perhatikan apakah kondisi air dalam gelas penduga berada pada +100 mm diatas normal water
level.
Lakukan blow down secara perlahan-lahan sehingga air dalam gelas penduga turun
sampai +85 mm diatas normal water level, alarm HWL akan berhenti dan lampu hijau pada panel
mati.

Gelas Penduga High Water Level

Lakukan blow down kembali sehingga air dalam gelas penduga turun sampai 1st low water level,
air dalam gelas penduga harus berada pada -60 mm di bawah NWL dan alarm untuk 1st low
water level berbunyi dan bersamaan lampu kuning menyala.
Operasikan kembai feed water pump sehingga dalam gelas penduga naik sampai -50 mm di
bawah NWL dan alarm untuk 1st low water level berhenti dan lampu kuning mati.

Gelas Penduga 1st Low Water Level

Lakukan blow down sehingga air dalam gelas penduga turun sampai 1st low water level pada
saat alarm 1st low water level berbunyi, dan lampu kuning menyala, alarm 1st low water level di
reset. Lalu lakukan blow down sehingga air di dalam gelas penduga harus berada pada -120 mm
di bawah NWL dan alarm untuk 2nd LWL berbunyi dan bersamaan lampu merah menyala.
Operasikan kembali feed water pump, sehingga air dalam gelas penduga berada pada -105 mm di
bawah NWL, dan alarm untuk 2nd low water level berhenti dan lampu merah mati.
Setelah HWL, 1st LWL, 2nd LWL alarm serta lampu indikator bekerja dengan baik, operasikan
kembali feed water pump sehingga air dalam gelas penduga tepat pada normal water level.
jangan mengoperasikan feed water pump dlam keadaan kosong (tanpa air masuk ke
pompa). Hal ini akan mengakibatkan pompa menjadi panas dan rusak.
Jangan mulai mengoperasikan (start) pompa jika kerangan outlet dalam keadaan terbuka
lebar. Hal ini akan mengakibatkan ampere motor menjadi sangat tinggi sehingga dapat
mengakibatkan kerusakan pada elektro motor maupun komponen listrik yang lainnya.
Setiap akan mengoperasikan boiler, sistim kontrol untuk HWL dan LWL harus docoba
fungsinya sesuai dengan tata cara yang di uraikan di atas.
Pengaman untuk low water level
Takuma boiler dilengkapi dengan pengaman untuk kondisi low water level

Selector Switch Untuk Automatic / Manual


Manual : semua blower dan peralatan dapat beroperasi walaupun kondisi air dalam boiler berada
pada atau di bawah low water level dan cutoff sistem tidak berfungsi.
Automatic : semua blower dan peralatan akan cut off (mati) apabila kondisi air dalam boiler
berada pada atau di bawah low water level kecuali electric feed water pump.
Operasikan feed water pump hingga high water level. Operasikan semua blower dan peralatan
sesuai dengan prosedur pengoperasian. Lakukan blow down secara perlahan-lahan hingga air
dalam gelas penduga turun sampai -60mm di bawah NWL (pada kondisi 1st LWL), maka timer 1
bekerja dan dalam waktu +- 3 menit semua peralatan dan blower secara automatic akan mati
(Cut Off) kecuali electric feed water pump.
Operasikan kembali feed water pump sehingga air dalam gelas penduga naik kembali sampai
NWL ( lampu kuning mati). Operasikan kembali semua blower dan peralatan sesuai dengan
prosedur pengoperasian.
Lakukan blow down secara perlahan-lahan sehingga air dalam gelas penduga turun sampai -120
mm di bawah NWL (pada kondisi 2nd LWL), timer 2 bekerja dalam waktu +- 10 detik semua
peralatan dan blower secara automatic akan mati (cut off ) kecuali electric feed water pump.
setiap mengoperasikan boiler siste, automatic / cut off pada boiler tersebut harus terlebih
dahulu di uji coba kefungsiannya seperti cara yang di uraikan sebelumnya. Hal tersebut
sangat penting untuk menghindari kerusakan pada boiler yang di sebabkan oleh
kekurangan air.
Jangan mengoperasikan boiler pada posisi manual.
Key selector switch arus di simpan oleh orang yang berwenang (Mill manager).

Inspeksi dan persiapan pengapian


Yakinkanlah bahwa semua yang berputar dan bergerak / bergeser telah di beri minyak pelumas
secukupnya. Pemberian jenis bahan mutu minyak pelumas agar disesuaikan dengan standart
yang diperlukan.
Masuklah ke dalam ruang pembakaran dan periksa secara hati-hati kondisi roster, kondisi
dinding dapur dan nozzle-nozzle udara apakah kemungkinan tersumbat, pastikan tidak ada
orang tertinggal di dalam dapur maupun boiler proper dan gas duct.
Yakinkanlah bahwa alat kontrol tekanan ruang dapur telah berfungsi dengan sempurna.
Periksalah semua damper pengatur udara untuk dicoba dan di teliti, ratio (perbandingan)
pembukaan alat penyetel dengan posisi damper, buka penuh damper induced draft fan.
Periksa banyaknya bahan bakar apakah sudah cukup tersedia untuk pengoperasian awal
Periksa banyaknya air dalam feed water tank.
Periksa pemasangan kerangan kerangan dan apendages apakah sudah benar sesuai fungsinya.
Buka kerangan air vent pada drum 100% dan kerangan starting valve 100%.
Jika boiler di lengkapi dengan super heater, buka kerangan starting valve pada seperheater dan
flue gas (gas buang)
Operasikan peralatan pengisian bahan bakar dalam keadaan kosong untuk mengamati
operasinya, apabila telah operasi normal masukkan bahan bakar ke dalam ruang bakar hingga
merata diatas rangka bakar.
khusus untuk boiler yang di lengkapi dengan superheater, pada saat pemanasan awal
kerangan blow down pada seperheater header dan kerangan starting valve harus terbuka
penuh.
Supaya uap dapat mengalir melalui pipa superheatersehingga pipa tersebut tidak
terpanggang.
Kedua kerangan ini boleh di tutup penuh setelah main steam valve (kerangan utama) di
buka dan uap sudah mengalir secara teruys menerus (kontinu) dan dalam jumlah yang
cukup untuk menjaga agar pipa superheater tidak terpanggang.

Pengapian dan Pengoperasian Boiler


Posted on Juli 10, 2012 by ivanemmoy
Pengapian
Setelah persiapan pengapian telah terpenuhi,lakukan pengapaian untuk pemanasan awal dengan
tanpa mengoperasikan peralatan-peralatannya kecuali instrumen panel.
Setelah di dalam dapur panas telah relative merata, dan dari kerangan air vent keluar steam dan
memperoleh tekanan pada ketel min 1 kg/cm2 yang berarti tidak akan terjadi pemuaian mendasar
maka kita dapat melakukan pengapian dengan mengikuti prosedur-prosedur di bawah ini :
1. Periksa kondisi air dalam water level gauge (gelas penduga)
2. Apabila level air dalam gelas penduga tinggi,melebihi HWL, harus dilakukan Blow
Down sehingga level air berada pada posisi antara NWL dan HWL
3. Operasikan komponen-komponen seperti :

Double damper

Draft control

Pastikan tidak ada kesalahan fungsinya.


1. Operasikan ID Fan dengan damper di tutup sama sekali. Perlu di ketahui bahwa di dalam
boiler panel di lengkapi dengan sistem Inter Lock
Pastikan posisi selector switch harus tetap berada di posisi inter lock selama boiler beroperasi
(lihat gambar)

Selector Switch Untuk Realase Dan Interlock

INTERLOCK : FD. Fan tidak dapat dioperasikan sebelum mengoperasikan draft control & ID
Fan.
RELEASE : FD Fan dan ID Fan dapat dioperasikan sendiri-sendiri tanpa ada hubungannya satu
dengan yang lain.
Jangan mengoperasikan boiler full operasi sebelum dilakukan pemanasan awal hingga
diperoleh tekanan 1 kg/cm2. Hal tersebut dapat mengakibatkan over heating pada pipa
superheater.
Jangan mengoperasikan boiler pada posisi RELEASE. Hal ini sangat berbahaya sebab
apabila ID Fan mati, maka FD Fan tidak turut mati dapat mengakibatkan terjadinya back
fire.
1. Setelah ID Fan beroperasi normal, posisi handle draft control pada alat control
SEIRITSU ke posisi Auto.
2. Operasikan FD Fan dengan damper utama di tutup sama sekali, dalam damper udara di
bawah fire grate tetap buka +- 30 40 %.
3. Operasikan sec FD Fan (2nd FD Fan) dengan damper utama di buka 50 70 %, damper
ke ruang bakar dibuka +- 30% dan damper udara ke chute bahan bakar disesuaikan pada
kebutuhan (agar posisi jatuhnya bahan bakar di tengah-tengah ruang bakar). Biarkan
kondisi seperti ini selama +- 15 menit untuk menstabilkan sistim balancing draft di dalam
ruang dapur.
4. Perhatikan bila boiler yang menggunakan Seperheater. Pada saat start
pengoperasiannya kerangan Blow Down pada superheater dan starting valve harus
terbuka 100%, gunanya agar kandungan air yang tertinggal di dalam pipa superheater
dapat terbuang. Dan uap dapat mengalir melalui pipa seperheater dan keluar dari starting
valve. Kerangan Blow Down di superheater header dan starting valve dapat di tutup
setelah Main Steam Valve ( kerangan utama ) di buka.
5. Operasikan alat pensupply bahan bakar ( Rotary feeder).
6. Karena pembakaran di dalam ruang dapur belum besar, masukkan bahan bakar secara
perlahan lahan hingga tekanan furnance mencapai : -5 s/d -10 mm H2O
Prosedur ini harus di tempuh secepat mungkin setelah tekanan dapur menaik sebab kemungkinan
timbul tekanan balik (back fire). Jangan berdiri tepat di depan lobang control pengisian ( Feeding
Chute)
1. Tutup kerangan buangan udara ( Air Vent ) bila tekanan boiler mencapai 1 kg/cm2.
2. Untuk menaikkan tekanan dapat dilakukan dengan jalan membuka damper utama FD Fan
yang dapat di kontrol melalui instrument panel. Ikuti prosedur-prosedur menaikkan
tekanan di bawah ini :

Untuk tekanan < 15 kg/cm2 damper utamam FD Fan dapat membuka 60 70 %.

Untuk tekanan > 15 kg/cm2 damper utamam FD Fan membuka +- 20 50 %.

Automatic Damper Opening

Jangan membuka damper utama FD Fan melebihi ketentuan, apabila tekanan Boiler >
15 kg/cm2. Sebab jika terjadi kenaikan tekanan hingga tekanan maximum, akan sulit
untuk menurunkan tekanannya kembali, sehingga safety valve akan sering sering blow off.
Untuk mengurangi nyala api di dalam dapur, pengaturannya melalui damper FD fan dan
tidak di anjurkan mematikan (stop) blower FD Fan selama boiler operasi.
Prosedur Untuk Menaikka Tekanan Dan Temperatur
Untuk menaikkan tekanan harus ikut mempertimbangkan faktor thermal expansi (pemuaian
panas) dari badan, dinding dapur dan bagian bagian lain boiler agar tidak terjadi bahaya
lanjutan akibat pemuaian paksa. Menaikkan tekanan dengan tiba-tiba akan mengakibatkan
bahaya kebocoran atau retak pada pasangan batu api.
Pada boiler takuma, waktu standart untuk menaikkan tekanan boiler adalah seperti yang
tercantum pada grafik di baawah ini :

Grafik Tekanan

Pada saat tekanan boiler naik secara perlahan lahan, hal-hal ynag perlu dilakukan adalah
sebagai berikut :
1. Apabila uap mulai terjadi, setiap kerangan uap harus di operasikan untuk menjaga agar
handle dari masing-masing kerangan itu dapat bergerak bebas walaupun ada thermal
expansi.
2. Untuk boiler baru, apabila tekanan mencapai 2 10 kg/cm2 setiap sambungan dengan
mur pada tutup manhole, gelas penduga, kerangan pembuang, meter tekanan dan
peralatan-peralatan lainnya harus di kencangkan kembali dan periksa kefungsiannya.
3. Apabila telah mencapai tekanan kerja normal, kerangan pengaman (safety valve) harus
dicoba kefungsiannya dengan jalan mengangkat handlenya untuk meyakinkan bahwa
kerangan pengaman itu dapat bekerja dengan baik.
4. Lakukan pemanasan pada steam pump, agar steam pump dapat tetap stand by, untuk
menjaga apabila arus listrik putus pada saat boiler sedang full operation, steam pump
dapat langsung dioperasikan.
5. Periksa bagian luar dari dapur dan ducting atas kemungkinan rusak yang disebabkan oleh
thermal ekspansi.
6. Teliti apakah ada kondisi yang kemungkinan upnormal pda setiap bagian yang berputar
atau bergerak. Perhatian khusus diberikan pada kemungkinan terlalu panasnya pada
bearing induced draft fan.
7. Penyaluran uap pada waktu operasi normal dari ketel.
-

Setiap kerangan pembuangan (drain valve) pada pemipaan uap harus di buka.

Yakinlah bahwa tidak ada terjadi bahaya water hammering, atau bunyi abnormal serta
kebocoran setelah dibukanya keran utama.
Pembukaan total kerangan uap utama secara tiba-tiba harus dihindarkan. Yang
dikhawatirkan kemungkinan turunnya tekanan secara tiba-tiba dan kenaikan level air yang
menyebabkan carry over.
Saat Operasi Normal
Hal-hal yang harus diperhatikan pada saat boiler beroperasi normal sehingga timbulnya
kerusakan dapat dicegah.
1. Level air pada drum

Ketinggian air dalam gelas penduga harus diperhatikan dan di pertahankan pada normal water
level. Kondisi ini dapat dipertahankan dengan mengoperasikan feed Water Regulating Control
yang bekerja secara Automatic untuk menambah air ke dalam boiler sesuai dengan kebutuhan.
Level air terlalu tinggi akan menyebabkan carry over. Apabila level air terlalu rendah akan
menyebabkan over heating. Untuk itu agar level air tetap di jaga sesuai dengan yang telah di
tentukan.
1. Tekanan uap
Memperhatikan tekanan operasi normal untuk menghindarkan variasi yang ekstrim pada
tekanan. Pengurangan berlebihan atas tekanan uap akan menyebabkan besarnya volume uap
yang dapat menaikkan beban dalam ruang uap pada drum, yang menyebabkan separator uap
kurang berfungsi dan uap kemungkinan menjadi mengandung air (uap basah). Pengontrol
tekanan bergantung kepada jumalah pemberian bahan bakar.
1. Beban
Guna pencapaian efisiensi ketel yang tinggi serta pemeliharaannya, maka perlu di kontrol agar
beban boiler yang terjadi tidak melebihi kapasitas boiler seperti yang tercantum dalam spesifikasi
design, maka itu perlu memperhatikan dan mengontrol disribusi pemakaian uap tersebut ke tiap
peralatan atau mesin yang memakai uap.
1. Draft
Boiler dilengkapi dengan sistem balancing draft yaitu suatu alat regulator tekanan ruang dapur
yang dapat bekerja secara automatic untuk memelihara tekanan ruang dapur relatif constant pada
kisaran :
-5 s/d -10 mm H2O
1. Susunan gas asap
Masing masing campuran gas ketel berdasarkan warna api dan asap dan juga nilai meter gas.
Periksa apakah ada bahan bakar yang terbakar di bawah roster dan teliti apakah masih ada roster
yang tidak tertutup dengan bahan bakar. Keua kondisi dalam dapur ini harus absolute di
hilangkan, karena roster akan menjadi terlalu panas dan rusak pada kondisi demikian.
1. Temperatur pada masing-masing posisi.
Selama operasi normal, temperatur pada masing-masing posisi berbeda besar sekali berdasarkan
kondisi operasi dan temperatur atmosfer. (lihat gambar 5 4).
Temperatur masing-masing posisi dapat dilihat pada gambar 5 4. Temperatur yang terlalu
tinggi pada gas pembuangan (exhaust gas) menyebabkan berkurangnya efisiensi boiler, maka
pembersihan abu dengan semburan uap (soot blowing) harus dilakukan.

Apabila telah dilakukan soot blowing secara berulang-ulang, tetapi temperatur gas buang tetap
tinggi, maka kemungkinan telah terjadi deposit kerak pada bagian dalam pipa air, atau kerusakan
penyangga api dalam ruang pembakaran (short pass) sehingga perlu dilakukan pemeriksaan.
1. Limit dari air pengisi dan air ketel
Limit dari air pengisi dan air ketel untuk takuma harus berdasarkan nilai standart yang telah di
tentukan. Nilai standart air pengisi dan air ketel dapat dilihat pada tabel nilai limit standart.
Sampling test harus dilakukan satu kali dalam satu jam untuk menjaga agar air pengisi dan air
ketel tidak melebihi dari nilai limit (batas batasa).
jangan sekali-kali memakai air sebagai pengisi ketel uap sebelum melakukan proses yang
telah di tetapkan sesuai tabel.

Pengawasan Selama Boiler Beroperasi


Posted on Juli 10, 2012 by ivanemmoy
Pehatikan kondisi pembakaran di dalam ruang dapur, bahan bakar harus jatuh di tengah tengah
rangka bakar dan menyebar merata.
Pada saat safety valve blow off, harus di catat pada tekanan berapa safety valve blow off fan
pada tekanan berapa safety valve menutup.
Setiap 30 menit :
-

Mengoperasikan scrapper pembuang abu dari dust collector

Memeriksa bahan bakar di balance hopper

Memeriksa air compressor

Setiap 45 menit :
-

Membersihkan dan membuang abu dari box dust collector

Membersihkan dan membuang abu dari chute dust hopper. Setelah di bersihkan dust
hopper harus di tutup kembali. Bila penutup damper kurang rapat akan terjadi pembakaran di
dalam hopper yang akibatnya akan membakar secara langsung lower drum dan dapat
mengakibatkan kerusakan pada hopper.

Amati jangan sampai ada bahan bakar yang terbakar di bawah fire grate (roster)

Setiap 1 jam :
-

Mencatat temperatur steam

Memeriksa mutu air boiler

Mengoperasikan steam grate blow

Memeriksa air pada feed water tank dan deaerator

Mencatat ampere meter dan voltage pada panel

Setiap 1 s/d 4 jam :


-

Melaksanakan soot blowing ( pembersihan pipa pipa )

Membuang abu dari atas roster

Membuang abu dari bawah roster.

Memeriksa meteran meteran pengukur tekanan & temperatur.

Setiap penggantian shift


Lakukan (Spul) air pada water level kolom dan water level gelas penduga untuk memastikan alat
control level air bekerja dengan baik.
Setiap 24 jam :
Memeriksa bahagian bahagian yang berputar dan bergerak, dan berikan minyak pelumas sesuai
dengan spesifikasi minyak pelumas pada masing-masing kondisi tempat peralatan tersebut.

Nilai Limit Standart Untuk Air Pengisi Dan Ketel


Posted on Juli 13, 2012 by ivanemmoy
ARTIKEL
PENGISIAN
PHHardness CaCo3Fats

24 K & 29 K
8.0 9.50Nearly zero

Dissolved Oxygen O2

0.1 ppm or less

Iron

0.1 ppm

KETEL

Copper

Hydrazine

0.2 ppm or more

PH ( at 25oC )M-alkalinity
9.4 10.5100 ppm or
( CaCo3)P-alkalinity (CaCo3) less80 ppm or less
Total Solids

Electric Conductance

80 ms/m or less

Chlorine CL

100 ppm or less

Phosphate ion (Po4-3)

5 15 ppm

Sulphurous acid ion (SO4-2)

5 10 ppm

SiO2

50 ppm or less

These limits above must be maintained by feed water treatment, chemical dosing and blow
down, to protect the boiler drums, header and tube from corrosion.

Pemberhentian Mendadak Pada Boiler (Emergency Stop)


Posted on Juli 31, 2012 by ivanemmoy
Sumber : Manual Book Takuma Boiler
Mati Listrik

Alihkan secepatnya sistem pengisian air umpan dari electric pump ke steam pump.
Tutup penuh kerangan main steam (kerangan induk)

Buka semua pintu dapur dan pintu abu bagian depan

Buka damper ID Fan 100% secara normal, dengan jalan menarik Arm (tuas) pembuka
damper ID fan.

Alihkan pengisian air umpan dari system automatic water regulating control ke sistem by
pass.

Apabila level air terus menerus jatuh :

Pemeriksa semua kerangan buangan condesate dan blow down apakah ada yang terbuka,
terutama kerangan blow down dari header dan dari lower drum
Jaga agar temperatur air pengisi boiler tidak lebih dari 100oC. Temperatur air pengisi >
100oC, air sudah bercampur dengan uap, sehingga dapat menyebabkan kevacuman di
dalam pompa dan dapat mengakibatkan kerusakan pada pompa maupun turunnya
kapasitas pompa.

Periksa kondisi air dalam feed water tank dan peralatan pendukung pada feed water tank.

Periksa kondisi pompa pengisi air boiler yang di gunakan.

Akibat kekurangan airpada boiler.


Jika ternyata level air gelas penduga di bawah batas terendah, segera hentikan pemasukan bahan
bakar (matikan rotary feeder), matikan seluruh blower, tutup kerangan uap utama dan kerangan
supplay uap lainnya untuk memelihara jumlah air yang masih ada dalam boiler.
Cari sebab sebabnya dengan melakukan pemeriksaan pada bagian bagian peralatan seperti :
-

Indicator level air pada upper drum

Regulator level air pada drum

Meter air pengisi (water flow meter)

Tekanan pada inlet dan outlet pompa air pengisi boiler

Level air dalam feed water tank

Pompa air pengisi (feed water pump)

Pemipaan air pengisi

Dan lain lainnya yang mencurigakan.


Apabila telah di dapatkan penyebabnya, dasar level air harus didapat kembali. Apabila dasar
level air pada boiler dalam batas batas yang di izinkan, maka alihkan pengisian air dari
automatis water regulating control ke sistem by pass. Selanjutnya boiler dapat dioperasikan
kembali sesuai dengan petunjuk pengoperasian.
Apabila air dalam gelas penduga kondisi kosong sama sekali, sehingga tidak diketahui sampai
dimana titik terendah kondisi air didalam boiler, sementara boiler full operation maka boiler
tidak boleh langsung di isi secara tiba tiba. Sebab bila pipa dalam drum telah memperoleh panas
yang berlebihan, dan apabila di isi secara tiba tiba maka pipa pipa pada drum yang dipasang
dengan sistem expander (pengerolan) akan terjadi penyusutan yang dapat mengakibatkan

kebocoran pada expander dan pipa pipa boiler tersebut berubah bentuk serta drum akan
bergeser dari posisinya.
Hal hal yang harus kita lakukan pada kondisi sepeti ini :

Menutup semua kerangan supply uap untuk menjaga jumlah air yang ada di dalam boiler.
Hentikan supplay bahan bakar, matikan blower blower dan double damper dust
collector.

Tutup penuh semua damper pada ID Fan, FD Fan dan Secondary FD Fan.

Secepatnya pembakaran di dalam ruang dapur di matikan dan semua sisa pembakaran
dikeluarkan.

Seluruh pintu dapur di tutup dengan rapat agar jangan ada udara luar yang masuk ke
ruang dapur pembakaran yang dapat menurunkan temperatur boiler secara drastis dan
juga mengakibatkan penyusutan air di dalam boiler dengan cepat.

Perlakukan boiler dengan kondisi tersebut di atas selama +- 3 hari agar temperatur turun
secara alamiah

Setelah temperatur boiler benar benar dingin, air dalam boiler di kosongkan, handhole
dan manhole dibuka semua.

Periksa seluruh pengerolan (expanding) pada pipa (water tube), apakah terjadi perubahan
pengerolan (expanding) dari pipa atau water tube, dan laporkan ke depnaker setempat
untuk mendapat petunjuk.

Bila tidak terdapat perubahan pastikan dengan melakukan hydrostatic test sebesar
tekanan kerja +- 3 kg/cm2 (P + 3 kg/cm2), seijin depnaker.

Bila terjadi kebocoran maka laksanakan pengerolan (expanding) sesuai dengan prosedur
yang berlaku dan bila dilaksanakan hydrotest tidak terdapat kebocoran maka boiler dapat
di operasikan kembali dengan mengadakan pemanasan awal, seijin depnaker setempat.

Pabrik Minyak Kelapa Sawit (Palm Oil Mill)


Posted on Agustus 10, 2012 by ivanemmoy
Adalah pabrik yang mengolah tandan buah segar (Fresh Fruit Bunch) menjadi Minyak sawit
mentah (Crude Palm Oil).

Palm Oil Mill


Selain memproduksi CPO, pabrik ini juga menghasilkan biji kelapa berupa inti (Kernel) untuk di
proses menjadi minyak kernel (Palm Kernel Oil) pada pabrik pengolahan yang berbeda (Kernel
Crushing Plant). Produk jadi dari CPO adalah : Mentega, Minyak Goreng, Sabun, Industri
Farmasi (Vitamin A), Pelumas (pembuatan lembaran baja), Lilin, dan lain sebagainya.
Sedangkan Minyak inti sawit sebagai bahan baku, produk jadinya adalah : Sabun, Minyak
Goreng, Kosmetik, dll.
Untuk pabrik dengan kapasitas 30 ton FFB per hour diperlukan minimal 6000 ha kebun.
Tanaman kelapa sawit biasanya dipanen setelah berumur + 3 tahun, buah dengan umur pohon
dibawah 3 tahun unsur minyaknya sedikit dan biasanya disebut buah pasir. Pohon sawit
diremajakan (regenerasi) biasanya umur + 25 tahun.

Effluent Ponds
Pabrik kelapa sawit adalah primadona investasi di indonesia dan nilai eksportnya terbesar di
dunia menggeser malaysia. Disamping iklim katulistiwa yang mendukung, lahan yang tersedia
juga cukup luas. Teknologi pengolahannya tergolong cukup sederhana dan hampir tidak ada
limbah yang terbuang. Sisa hasil Threser berupa janjangan kosong dapat dimanfaatkan utnuk
pupuk kompos sebagai penyubur tanaman di perkebunan. sisa pengolahan Pressing dan Kernel
Station berupa Fiber dan Shell digunakan sebagai bahan bakar pembangkit tenaga uap pada
Boiler, sedangkan limbah cair dari perebusan dan clarifikasi juga bisa dimanfaatkan untuk land
Aplication.
Proses-prose utama pengolahan Pabrik Kelapa Sawit adalah :
1. Penerimaan Buah (Fruit Reception Station)
2. Perebusan dan Sterilisasi (Sterilizer Station)
3. Pemisahan dan Penebah (Thresher Station)
4. Pengadukan dan pemerasan (Pressing Station)
5. Pemurnian Minyak (Clarification Station)
6. Pemisahan inti (Kernel Station)
Sedangkan untuk proses pendukung jalannya Pabrik adalah :
1. Penyediaan dan penjernian air (Water Treatment Plant)
2. Pemurnian air (Demineralization Plant)
3. Pembangkit tenaga uap (Boiler Station)
4. Pembangkit tenaga listrik (Power Station)
5. Pengolahan air limbah (Effluent Treatment Plant)

AUTOMATIC FIRE HYDRANT CONTROL


Posted on Desember 6, 2013 by ivanemmoy

Fire Hydrant
Pendahuluan
Pencegahan bahaya kebakaran sangat penting untuk menghindari kejadian yang tidak di
inginkan. Namun demikian jika kebakaran itu sampai terjadi maka kita harus siap dalam
menghadapi dan memadamkan api tersebut secepat mungkin sebelum memakan lebih banyak
korban baik manusia, peralatan dan bangunan.
Pada lingkungan Pabrik Minyak kelapa Sawit terdapat banyak sumber dan potensi yang dapat
menyebakan timbulnya api. Lingkungan di sekitar ruang bakar boiler, kamar mesin, Threshing,
Pressing banyak terdapat Fiber dan Kernel yang sangat rentan terhadap kebakaran. Waspadai saat
terjadi perbaikan dan pengelasan pada area Fiber seperti Elevator, Thresher Drum dan CBC
harus segera di siram dengan air washer agar percikan las tidak membakar fiber yang tersisa.

Selain Pemasangan dan ketersediaan Fire Extinguser di setiap Station. Peralatan Fire Hydrant
dan instalasi pipa harus tersedia dan terjangkau di semua titik di dalam Pabrik. Unit pompa
electric dan Diesel pump juga peralatan utama dalam pencegahan kebakaran. Disarankan
pemasangan perangkat ini, ditempatkan diluar bangunan Pabrik, biasanya ditempatkan di area
Water Treatment Plant agar terhindar dari kebakaran.
Peraturan dan Referensi
Departemen Pekerjaan Umum, Skep Menteri Pekerjaan Umum No. 10/KPTS/2000 tentang
Ketentuan Teknis Pengamanan terhadap Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Gedung dan
Lingkungan.
National Fire Codes,
1.

NFPA-10, Standard for Portable Fire Extinguisher

2.

NFPA-13, Standard for The Installation of Sprinkler Systems

3.

NFPA-14, Standard for The Installation of Standpipe and Hose Systems

4.

NFPA-20, Standard for The Installation of Centrifugal Fire Pumps

5. SNI 03-1735-2000
6. SNI 03-1745-2000
b.

Mc. Guiness, Stein & Reynolds

Mechanical & Electrical for Buildings


Peralatan Utama

Fire Fighting System

1. Fire Hydrant Pump


No. Description
1 Diesel Pump
2 Electric Pump
3 Jockey Pump

Qty
Unit
1
1
1

Power Kapasitas Head


kW
m3/hr
18.5
80
45 m
18.5
80
45 m
3
40
5 bar

Fire Hydrant Panel


2. Fire Pump Control
Panel kontrol merupakan kelengkapan unit tiap-tiap fire Fighting pump yang dapat mengatur
kerja pompa secara automatic baik jockey pump sebagai pompa pembantu, pompa utama
penggerak electric maupun pompa penggerak engine masing-masingn mempunyai Fire Pump
Controller tersendiri. Khusus pompa penggerak engine akan bekerja secara automatic bila
saluran daya listrik terputus pada saat terjadi kebakaran. Fire Pump Controller harus standard
NFPA-20.

Fire Hydrant Panel


3. Fighting Fixtures

Hydrant Pillar
Fire Hydrant Box

Seamese Connection

4. Pipa, Fitting dan Valve

Cara Kerja Control Fire Hydrant Pump

fire hydrant system

Jockey pump gunanya untuk mempertahankan tekanan tertentu pada pipa besar A
umpama tekanan tersebut sebesar 8 kg/cm, jika ada kebocoran pada pipa besar A, maka
tekanan air akan turun, umpamanya pada 7 kg/cm tugas jockey pump untuk menaikkan
kembali menjadi 8 kg/cm, jadi titik kerja jockey pump pada 7-8 kg/cm.
Electric fire hydrant pump, akan bekerja pada tekanan air dibawah dari tekanan kerja
Jockey Pump. Untuk contoh diatas umpanya 6 kg/cm. Jadi jika terjadi kebakaran dan
kran B dibuka, maka tekanan air cepat turun mencapai 6 kg/cm, dengan demikian
Electric fire hydrant pump bekerja. Rangkaian control jockey pump dibuat sedemikian
rupa, sehingga jika Electric fire hydrant pump atau diesel pump bekerja, jockey pump
stop.

Diesel pump, bekerja sebagai cadangan jika Electric fire hydrant pump, karena sesuatu
hal tidak dapat bekerja. Umpama PLN padam atau dipadamkan. Titik kerja diesel pump
dibawah titik kerja Electric fire hydrant pump jika diesel pump bekerja, maka Electric
fire hydrant pump dan jockey pump stop.

Untuk lebih jelasnya bisa di lihat tabel di bawah ini.

AC
POWER
ON

JOCKEY
PUMP
DUTY
PUMP

AC

DIESEL
PUMP
JOCKEY

<5,5 6
ON ON

AUTO
6,5
ON

MANUAL
>7
OFF

OFF

OFF

OFF

OFF OFF

OFF

OFF

DEPEND
ON OFF
SWITCH
DEPEND
ON OFF
SWITCH
OFF

OFF OFF

OFF

OFF

OFF

ON

POWER
ON

PUMP
DUTY
PUMP
DIESEL
PUMP

OFF OFF

OFF

OFF

OFF

ON

OFF

OFF

DEPEND
ON OFF
SWITCH

OFF

Pemisahan dengan cara Biologis


Posted on Agustus 15, 2012 by ivanemmoy
Pemisahan secara biologis yang dimaksudkan disini adalah pemisahan (pengutipan minyak) yang
dilakukan pada fat pit (sludge oil recovery system).
Minyak yang di fat pit tersebut umumnya berasal dari :
-

Pembuangan (blow down) dari stasiun rebusan.

- Lumpur/air buangan stasiun clarificatis yaitu antara lain berasal dari Decanter, Nozzle
Separator dan Sand Tank.
-

Minyak-minyak yang terikut ke pembuangan pada saat pencucian, dll.

Minyak-minyak yang diperoleh di fat pit sebahagian adalah karena proses pengendapan dan
sebahagian lagi adalah karena proses biologis, yaitu terjadinya pemecahan molekul-molekul
minyak sebagai akibat fermentasi.
Minyak yang diperoleh dari fat pit tersebut selanjutnya dipompakan kembali ke crude oil tank
untuk diproses ulang sedangkan sisa lumpur (sludge) dan air dialirkan ke kolam limbah (effluent
treatment plant).

Walaupun telah dilakukan upaya pengutipan minyak semaksimal mungkin, namun pada
lumpur/air buangan fat pit masih saja ada minyak yang terikut dan ini selanjutnya dihitung
sebagai kerugian.
Batasan kerugian yang dapat ditolerir untuk ini adalah maksimum 1% terhadap kadar basah (on
wet basis).

Pemisahan Minyak Dengan Decanter dan Separator


Posted on Mei 13, 2013 by ivanemmoy
1. Introduction
D3 PRO adalah suatu system pengolahan minyak tanpa menambahkan air pengencer setelah
Minyak kotor keluar dari screw press (sedangkan steam dan hot water di proses sebelumnya
tidak di ubah, tidak ada perubahan di dalam extraction efficiency).
UNDILUTED CRUDE hasil screw press setelah melalui desander cyclone akan langsung di
dimasukkan ke decanter yg mempunyai gaya centrifugal ~3000 G force, dimana apapun jenis
dan- merk decanter nya , crude oil ini akan terpisah-kan dan membentuk lapisan berdasarkan
perbedaan berat jenis menjadi:
a. Oil (light phase)
b. Emulsion if any + water with nos (heavy Phase)
c. Solid

decanter 3 phase
2. Process Flow

Stasiun Pemurnian Minyak


Crude oil dari press masuk ke sand trap tank. Overflow dari sand trap tank mengalir ke COT
pertama yang berkapasitas 7 m3. dengan terlebih dahulu melalui Vibrating screen double deck
dengan mesh 20 untuk ke dua deck.
Dari COT 1 di pompakan ke COT 2 yang mempunyai kapasitas sama dengan COT 1 melalui
Sand Cyclone Singgle Stage (SSC). Dari COT 2 crude oil dipompakan ke Decanter buffer tank
yang berkapasitas 3-6 M3 dengan terlebih dahulu melalui sand cyclone double stage. Dari
Decanter feed tank crude oil di proses oleh decanter, dimana out put dari decanter terdiri dari 3
phase :
1. Solid (biasanya di tampung di hopper seberum diaplikasi ke lapangan).

Solid Hooper
1. Light phase dengan kandungan kotoran di bawah 0.05 persen akan di tampung di light
phase tank untuk di simpan ke skimming tank dengan kapasitas 30 ton. Setelah itu
minyak murni tersebut akan di proses oleh vacuum drier untuk di kurangi kandungan
moistnya menjadi di bawah 0.2 persen. Hasil dari Vacuum drier akan di kirim ke oil
storage tank untuk selanjutnya dijual ke customer
2. Heavy phase dengan kandungan minyak di bawah 8 persen akan di tampung di heavy
phase tank, untuk selanjutnya di tampung di sludge tank dengan kapasitas 30 ton, untuk
selanjutnya di pompakan ke sludge buffer tank dengan kapasitas 3-5 M3 sebagai umpan
dari slude separator. Light phase dari sludge separator akan di kirim kembali ke process
yang sebelumnya akan di koleksi di reclaimed tank, sedangkan heavy phase separator
dengan kandungan minyak di bawah 1 persen to O/WM akan dikirimkan ke final
effluent, untuk selanjutnya di kirim ke kolam limbah.
Untuk condensate dari sterilizer akan di kutip di fat-pit untuk di ambil minyaknya dan di
kumpulkan di reclaimed tank, untuk selanjutnya di olah kembali ke process bersamaan dengan
light phase separator.

Sludge Separator

3. D3 PRO Unit

Heavy Phase Pump


Standart unit yang dipakai untuk system D3 PRO adalah :
1. Sand trap tank dengan kapasitas 10 M3 (by kontraktor)
2. Vibrating screen double deck dengan mesh 20 (by kontraktor)
3. Crude oil tank 1 kapasitas 7 M3 (by kontraktor)
4. Sand cyclone singgle stage/SSC c/w pompa (by AIfa Laval)
5. Crude oil tank 2 kapasitas 7 M3 (by Kontraktor)
6. Sand cyclone second stage/STC c/w pompa (by Alfa Laval)
7. Decanter feed tank kapasitas 5 M3 (by kontraktor)
8. Decanter (by Alfa Laval)
9. Light phase tank kap 3 M3 (by kontraktor)
10. Pompa dari light phase tank ke pure oil tank (by kontraktor)
11. Pure oil tank kapasitas 30 M3 (by kontraktor)
12. Pompa pure oil tank ke skimmed tank (by kontraktor)
13. Skimmed oil tank kapasitas 30 M3 + stand by pump (by kontraktor)
14. Vacuum drier c/w vacuum pump & drier oil pump (alfa laval)
15. Heavy phase tank kap 3 M3 (by kontraktor)
16. Pompa dari heavy phase tank ke sludge tank (by kontraktor)

17. Sludge tank kap 30 M3 (by kontraktor)


18. Hot water tank kapasitas 3 M3 (by kontraktor)
19. Sludge separator PASX 710 (by Alfa laval)
20. Solid conveyor (by kontraktor)
21. Reclaimed oil tank kapasitas 3 M3 (by Kontraktor)

4. Lay Out Dimention

D3 PRO LAYOUT
1. Luas bangunan stasiun klarifikasi : 21 x28 M2
2. Ketinggian dari lantai ke ujung buffer tank : 13 M
3. Luas platform decanter & vacuum Drier 5 x 10 M2 dengan ketinggian 3.5 M dari lantai
4. Luas plat form untuk decanter feed tank : 5 x 6 M2 dengan ketinggian dari lantai 11 M
5. Referensi
Alfa Laval D3 Pro System Project
Filed under: Clarification Station, Dasar Proses Pabrik, Tutorial | Ditandai: Clarification Station,
D3 PRO ALVA LAFAL, Decanter 3 Phase, Heavy Phase, Light Phase, Palm oil mill, Sludge
Separator, Solid, stasiun pemurnian minyak | 2 Comments

Clarification Station
Posted on Oktober 4, 2012 by ivanemmoy

Tujuan dari Clarifier adalah untuk memproses atau memurnikan jumlah maksimum Crude Palm
Oil (CPO) dari CPO dan Non Oily Solids (NOS) yang tidak larut sehingga menghasilkan CPO
yang baik bersih dan kering. produk akhir CPO harus memiliki kandungan kotoran (dirt) tidak
lebih dari 0,02% dan kadar air (moisture) tidak lebih dari 0,01%. CPO hasil pressing ini direbus
dengan air panas (steam) kemudian di diamkan agar terjadi proses pengendapan, dimana minyak
akan mengambang dan sludge akan mengendap untuk memperoleh proses pemurnian
selanjutnya. Setelah menetap itu dialirkan ke bagian bawah kompartemen menetap luar. Dari sini
itu diperbolehkan meluap ke Heat Exchanger / pengering sebelum mentransfer melalui Tank
dikalibrasi dengan metode pilihan penyimpanan atau kemasan.

Palm Oil Mill Clarification Process


Di Pabrik Minyak Sawit, Minyak kasar yang diperoleh dari pengempaan, dibersihkan dari
kotoran yang terutama berasal dari daging buah berupa bahan padat dan air. Maksud dari pada
pembersihan/pemurnian Minyak kasar adalah untuk memurnikan Minyak tersebut agar diperoleh
mutu sebaik mungkin dan dapat dipasarkan dengan harga yang layak.
Flow Proses
Crude Oil dari Screw Press masuk ke Sand Trap tank melalui sebuah talang (Gutter). Overflow

dari Sand Trap Tank mengalir ke Crude


(COT) melalui Vibrating Screen double deck dengan mesh 20.

Oil Tank

Dari COT Crude Oil dipompakan melewati Crude Oil Buffer Tank menuju Vertical Continuous
Settling Tank (CST) kapasitas 120 m3. minyak mentah ditahan untuk pengendapan dalam CST
untuk memisahkan minyak bagus dan sludge.

Minyak bagus akan mengambang dalam CST dan overflow melalui skimmer menuju
Pure Oil Tank kapasitas 25 m3 kemudian dimurnikan oleh Oil Purifier. dan di turunkan
kadar airnya (moisture) melalui Vaccum Oil Dryer. CPO siap di kirim ke Palm Oil
Storage Tanks oleh Oil Transfer Pump melalui Production Oil Flow Meter. CPO yang
siap di jual dari Palm Oil Storage Tanks akan di pompakan oleh Despatch Oil Pump
menuju Despatch Sheed untuk di kirim Mobile Tank CPO
Sludge hasil pengendapan CST di tampung dalam Sludge Oil Tank kapasitas 30 m3
melalui Sludge Vibrating Screen single deck. Sludge kemudian dikirim oleh Sludge
Oil Pump melalui Sand Cyclone Precleaner menuju Sludge Buffer Tank kapasitas 3 m3
sebagai umpan Sludge Centrifuge.
Hasil dari Sludge Centrifuge akan di proses kembali dari awal yang sebelumnya di kutip
minyaknya oleh Sludge Drain Tank dan di pompakan Sludge Drain Pump menuju CST.
Sludge dengan kandungan minyak di bawah 1 persen akan di kirim ke Final
Effluent Pumpyang sebelumnya di tampung oleh Sludge Pit untuk dilakukan pengutipan.

Kebutuhan air panas untuk proses klarifikasi dan pressing di suplay dari Hot Water Tank
kapasitas 6 m3 dengan over flow menuju Hot Well Tank yang akan dipompakan kembali oleh
Hot Well Pumps menuju Hot Well Tank.
Filed under: Clarification Station, Dasar Proses Pabrik, Palm Oil Mill | Ditandai: 30 ton FFB per
hour, Clarification, Clarification Station, Palm oil mill | Leave a comment

Pemisahan Biji Dan Sabut


Posted on Agustus 16, 2012 by ivanemmoy
Pendahuluan
Proses pemisahan serabut dari biji pada ampas hasil pengempaan bertujuan terutama untuk
memperoleh biji sebersih mungkin yang kemudian akan menghasilkan Inti Sawit secara rationil,
yaitu kerugian yang sekecil-kecilnya dengan hasil dan mutu Inti Sawit yang setinggi mungkin.
Meskipun proses itu sendiri tidak mempunyai segi-segi teknologis yang berarti namun tujuan
untuk memperoleh biji yang sebersih mungkin dari dalam gumpalan sampah/ampas pengempaan
sangat dipengaruhi oleh segi teknologis dari proses yang mendahuluinya.
Untuk itu perlu dimengerti/dipahami tujuan dari proses perebusan dan syarat-syarat yang harus
dipenuhi pada proses pengadukan agar tujuan dari proses pemisahan serabut dari biji dapat
dicapai sebaik mungkin.
Hal-hal yang akan timbul pada pemisahan Biji dan Serabut

Jika proses pemisahan serabut dari biji tidak menghasilkan biji yang bersih, maka sebab-sebab
utama dari padanya adalah :
a. Kegagalan dalam mencapai syarat tersebut dari proses perebusan.
b. Tidak terpenuhinya syarat tersebut dari proses pengadukan.
c. Pengempaan yang tidak dapat menghaaasilkan ampas pengempaan cukup kering (Ampas Press
basah karena masih banyak mengandung minyak).
Perhatian : Dalam urutan tersebut diatas terdapat hubungan sebab dan akibat yang erat sekali
meskipun tidak terdapat pada proses pemisahan itu sendiri, tetapi merupakan sebab-sebab utama
yang akan mengganggu proses pemisahan antara serabut dengan biji.
d. Pemuatan/pengisian alat pemisah yang melebihi kemampuannya (Over capacity). Hal ini
harus dihindari dengan jalan :

Pemuatan/pengisian yang teratur dan yang disesuaikan dengan daya muat alat itu.
Memasang alat pemisah dengan kapasitas yang sesuai dengan banyaknya ampas
pengempaan yang harus diproses.

e. Jumlah pusingan Trommol alat pemisah yang tidak sesuai.


f. Jumlah pusingan kipas (Ventilator) yang tidak cukup.
g. Kemungkinan adanya kebocoran pada saluran hisap (Ducting)
Akibat-akibat yang akan timbul sehubungan dengan hal tersebut diatas adalah :
Gesekan antar biji & gesekan antara biji dengn dinding Trommol (Polishing Drum) tidak cukup
besar untuk mengkompensir/ mengimbangi/menghilangkan/mentiadakan akibat-akibat dari
kegagalan dalam proses perebusan, pengadukan dan pengempaan sehingga pemisahan tidak
menghasilkan biji yang bersih.
Biji kotor terdiri dari biji yang masih banyak mengandung serabut dan ini menyebabkan
terjadinya hal-hal sebagai berikut :

Penurunan kadar air dari biji pada saat dikeringkan menjadi terhalang. Penurunan kadar
air biji diperlukan sebelum biji-biji tersebut dipecahkan didalam alat-alat pemecah biji
(Nut Cracker)
Serabut yang masih melekat pada biji akan merupakan pelindung biji terhadap
benturan/gesekan yang menjadi dasar dari proses pemecahan biji dan berarti menurunkan
effek pemecahan biji dengan akibat selanjutnya.
Biji yang tidak pecah (biji Balen) pada bagian pemecahan biji akan meningkat &
menurunkan kapasitas pada unit pemecah biji karena biji tersebut harus dipecah kembali.

Kerugian karena biji setengah pecah dan inti pecah akan meningkat.

Serabut/sampah akan mengotori dan menggangu bekerjanya alat pemecah dan alat
pemisahan.

Kadar kotoran pada produksi Inti akan meningkat & menyebabkan terjadinya penurunan
mutu kernel.

Artikel Terkait :
Pemurnian (Clarification)

Filed under: Dasar Proses Pabrik, Tutorial | Ditandai: Palm oil mill, Pemisahan Biji dan Sabut,
Stasiun Kernel | Leave a comment

Pemisahan dengan cara Biologis


Posted on Agustus 15, 2012 by ivanemmoy
Pemisahan secara biologis yang dimaksudkan disini adalah pemisahan (pengutipan minyak) yang
dilakukan pada fat pit (sludge oil recovery system).
Minyak yang di fat pit tersebut umumnya berasal dari :
-

Pembuangan (blow down) dari stasiun rebusan.

- Lumpur/air buangan stasiun clarificatis yaitu antara lain berasal dari Decanter, Nozzle
Separator dan Sand Tank.
-

Minyak-minyak yang terikut ke pembuangan pada saat pencucian, dll.

Minyak-minyak yang diperoleh di fat pit sebahagian adalah karena proses pengendapan dan
sebahagian lagi adalah karena proses biologis, yaitu terjadinya pemecahan molekul-molekul
minyak sebagai akibat fermentasi.
Minyak yang diperoleh dari fat pit tersebut selanjutnya dipompakan kembali ke crude oil tank
untuk diproses ulang sedangkan sisa lumpur (sludge) dan air dialirkan ke kolam limbah (effluent
treatment plant).
Walaupun telah dilakukan upaya pengutipan minyak semaksimal mungkin, namun pada
lumpur/air buangan fat pit masih saja ada minyak yang terikut dan ini selanjutnya dihitung
sebagai kerugian.

Batasan kerugian yang dapat ditolerir untuk ini adalah maksimum 1% terhadap kadar basah (on
wet basis).
Artikel Terkait :
Pemurnian (Clarification)
Pemisahan Minyak dengan cara Pengendapan (Settling)
Pemisahan dengan cara Centrifuge

Filed under: Dasar Proses Pabrik, Tutorial | Ditandai: Dasar Dasar Proses, Pabrik Minyak Kelapa
Sawit, Pemisahan Biologios, Pemurnian, Proses Pemurnian Minyak | 1 Comment

Process Flow Diagram Of Palm Oil Mill


Posted on Agustus 15, 2012 by ivanemmoy

A process flow diagram (PFD) is a diagram commonly used in


engineering to indicate the general flow of plant processes and equipment. The PFD displays the
relationship between major equipment of a plant facility and does not show minor details such as
piping details and designations.
The process of extracting Palm Oil from Oil Palm Fresh Fruit Bunches (FFBs) is long
established. It is done using broadly the same technique but with one of three different
technologies. A process flow diagram (PFD) of palm oil milling process is shown as figure
below.

Process Flow Diagram


The Process Flow Chart provides a visual representation of the steps in a process. Flow charts
are also referred to as Process Mapping or Flow Diagrams. Constructing a flow chart is often one
of the first activities of a process improvement effort, because of the following benefits:

Gives everyone a clear understanding of the process


Helps to identify non-value-added operations

Facilitates teamwork and communication

Keeps everyone on the same page

A flow chart diagram of palm oil milling process is shown as figure below.

Flow Chart Diagram Of Palm Oil Mill


Related Post :

Pabrik Minyak Kelapa Sawit (Palm Oil Mill)


Kelistrikan Pabrik Kelapa Sawit (Palm Oil Mill)
Proses Penerimaan Buah
Filed under: Dasar Proses Pabrik, Palm Oil Mill | Ditandai: Flow Chart Diagram, Palm oil mill,
Process Flow Diagram | 9 Comments

Pemisahan dengan cara Centrifuge


Posted on Agustus 9, 2012 by ivanemmoy
Pendahuluan

Minyak dan Sludge yang diperoleh dari hasil pemisahan dengan cara pengendapan
kemudian dialirkan kedalam masing-masing tanki untuk diproses lebih lanjut.

Sludge Centrifuge

Seperti yang telah dijelaskan terdahulu bahwa didalam minyak hasil pemisahan ini masih
mengandung unsur-unsur :

1. Air
2. Zat padat

: 0,75%
: 0,25%

Minyak dengan kandungan tersebut diatas masih belum memenuhi standard mutu jual,
sehingga harus diproses lebih lanjut untuk menurunkan kadar air dan zat padat yang
terkandung didalamnya (proses penjernihan).

Proses lanjutan (penjernihan) ini sebenarnya masih dapat dilakukan dengan cara
pemanasan dan pengendapan tetapi akan memakan waktu yang lebih lama dan dengan
segala resikonya antara lain :

1. Perlu adanya penambahan tanki-tanki.


2. Sebagai akibat pemansan yang berlebihan untuk waktu yang lama, maka bilangan
peroxida didalam minyak akan meningkat akibat oxidasi. Hal ini sangat tidak diinginkan
karena akan menurunkan harga jual minyak sawit.

Dengan penjelasan tersebut diatas dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa penggunaan
Centrifuge adalah lebih sesuai, karena waktu pemisahan yang lebih cepat/singkat dan
dengan tingkat oxidasi yang jauh lebih kecil.

Tujuan Penggunaan Centrifuge


Centrifuge adalah mesin berputaran sangat tinggi yang digunakan untuk memisahkan cairancairan yang tidak saling bersenyawa (tidak saling melarutkan), mempunyai BJ yang berbeda dan
sekaligus juga benda padat yang terkandung didalamnya. Dengan kata lain Centrifuge dapat
digunakan dalam berbagai proses untuk pemisahan cairan-cairan atau antara cairan dengan bahan
padat yang terkandung didalam.
Dengan bantuan gaya Centrifugal, komponen-komponen yang akan dipisahkan dipengaruhi oleh
kekuatan yang ribuan kali lebih besar dari gaya gravitasi bumi, sehingga pemisahan minyak, air
dan zat padat yang terkandung akan jauh lebih cepat didalam sebuah Bowl yang berputar.
Apa yang dikehendaki dari suatu Centrifuge dalam applikasinya di pabrik kelapa sawit adalah
untuk melakukan tugas-tugas sebagai berikut :
1. Untuk membersihkan minyak (top oil) yang dihasilkan dari proses pemisahan pada clarifier
tank sebelum diproses (dikeringkan) di Vacuum dryer. Jenis centrifuge yang digunakan untuk
aplikasi ini adalah Oil Purifier, yaitu yang bertugas untuk memisahkan minyak dari air dan
kotoran-kotoran ringan yang masih terkandung didalamnya.
2. Untuk mengambil kembali minyak yang masih terikut dengan sludge (lumpur) yang berasal
dari clarifier tank.
Jenis centrifuge yang digunakan untuk aplikasi ini adalah Nozzle Separator atau Decanter atau
kombinasi dari kedua nya.
Perbedaan jenis centrifuge tersebut diatas adalah disebabkan adanya perbedaan komposisi dari
masing-masing produk yang akan diolah yaitu sebagai berikut :

Minyak dari Top Oil Tank terdiri dari :

1. Air
2. Minyak
3. Zat Padat

: 0,75%
: 99%
: 0,25%

Sludge (lumpur) Clarifier Tank terdiri dari :

1. Air
2. Minyak
3. Zat Padat

: 75%
: 15%
: 10%

Dari contoh diatas dapat dilihat bahwa komposisi masing-masing produk sangatlah berbeda
walaupun produk-produk tersebut terdiri dari komponen yang sama, yaitu : minyak, air dan zat
padat yang terkandung didalamnya, namun pengolahan dari ketiga produk tersebut haruslah
menggunakan jenis Centrifuge yang berbeda agar dapat diperoleh hasil yang optimal.
Gaya Centrifugal
Dengan bantuan gaya centrifugal, komponen-komponen yang akan dipisahkan dipengaruhi oleh
kekuatan yang ribuan kali lebih besar dari gaya gravitasi bumi, sehingga pemisahan minyak, air
dan zat padat yang terkandung didalamnya akan jauh lebih cepat didalam sebuah bowl yang
berputar.
Untuk jelasnya, dibawah ini diberikan suatu dasar perhitungan untuk mendapatkan gambaran
dari perbedaan pemisahan dengan gaya gravitasi (alamiah) dan pemisahan dengan bantuan gaya
centrifugal yang terjadi didalam suatu bowl yang berputar yaitu sebagai berikut :
Apabila Percepatan Radial (a) dalam Separator adalah :
=V2/R.

(1)

dan Kecepatan Radial (V)


V = (n/60) x 2 R (2)
dimana :
n = jumlah putaran permenit (RPM)
R = Jari-jari (Radial distance)
maka subsitusi persamaan (2) ke (1) merupakan percepatan radial adalah :

= (n2 x 4 2 R2)/(3600 x R)
= (n2 x 2 R)/900 (3)
Percepatan Gravitasi adalah :
= 981 cm/sec2 .(4)
Maka apabila persamaan dibagi dengan persamaan 4 akan didapat berapa kali percepatan
pemisahan Centrifugal terhadap percepatan gravitasi, atau menurut rumus :
= (n2 x 2 R)/(900 x 981) (5)
Contoh :
Suatu Separator dengan jari-jari Bowl (R) = 40 cm, pada putaran (n) = 3000 RPM, maka
percepatan memisah bila di bandingkan dengan percepatan gravitasi (menurut persamaan 5)
adalah sebesar :
= (n2 x 2 R)/(900 x 981)
= ((3000)2 x (3,14)2 x 40)/(900 x 981)
= 4020 kali 4000 kali percepatan gravitasi
Pada pemakaian Separator dapat disimpulkan bahwa partikel minyak yang berputar dalam mesin
centrifugal, dengan jari-jari Bowl 40 cm dari sumbu putar pada 3000 RPM (n) gaya
pemisahannya 4000 kali lebih besar dari pemisahan dengan cara gravitasi, misalnya pada Static
Clarifier.
Untuk mengetahui hubungan berapa kali percepatan gravitasi terhadap jari-jari Bowl (R) dan
putaran Sludge Separator (n) dapat dilihat pada tabel-1

N = RPM
800

Jari jari (R) dalam Cm


10
20
30
71
142
213

40

50
284

355

1.000

111

222

333

444

555

1.200

160

320

480

640

800

1.400

218

436

654

872

1.090

1.600

285

570

755

1.140

1.425

1.800

360

720

1.080

1.440

1.800

2.000

444

888

1.332

1.776

2.220

2.500

694

1.388

2.082

2.776

3.470

3.000

1.000

2.000

3.000

4.000

5.000

Tabel-1 : Hubungan percepatan gravitasi terhadap jari-jari Bowl dengan putaran sludge Separator
(n)
Sebelum diolah oleh mesin Nozzle Separator hal yang perlu diperhatikan :

Sludge harus bertemperatur tinggi (minimal 95) agar viskositas minyak rendah dan
mudah untuk dipisahkan.

Sludge tersebut harus melalui Ritary Brush Strainer dan Sand Cyclone. Tujuan digunakan
Rotary Brush Strainer untuk menyaring fibre beserta kotoran, hal ini akan memperkecil
viskositas, sedangkan Sand Cyclone untuk membebaskan pasir agar Nozzle tidak cepat
aus dan tidak cepat sumbat.

Maka untuk memperoleh gambaran penggunaan Brush Strainer dalam memperkecil viscositas
dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel-2 : Viskositas sebelum dan sesudah Brush Strainer pada temperatur yang konstan (80).
Nomor
Sample
1

Apparent viscositas centipoise


Sludge sebelum Brush Sludge setelah Brush
Strainer
Strainer
142,0
76,8

89,6

50,5

73,4

42,3

48,1

30,0

39,4

25,3

26,6

17,6

22,1

14,7

15,2

10,5

12,9

9,2

10

10,4

7,6

Filed under: Dasar Proses Pabrik | Ditandai: Dasar Dasar Proses, Pabrik Minyak Kelapa Sawit,
Pemisahan Minyak Dengan Centrifuge, Pemurnian, Proses Pemurnian Minyak | Leave a
comment

Pemisahan Minyak dengan cara Pengendapan (Settling)


Posted on Agustus 6, 2012 by ivanemmoy
Proses pemurnian minyak dilakukan dengan tiga cara yaitu :
-

Cara dengan pengendapan (Settling)

Cara dengan pemusingan (Centrifuge)

Cara dengan pengaruh biologis.

Penjelasan dibawah ini akan memberikan gambaran mengenai penggabungan dimaksud serta
keterkaitan antara satu proses dengan proses yang menyusul berikutnya.

Continuous Settling Tank

Proses pendahuluan

Minyak kasar yang diperoleh dari hasil pengempaan (Press) dialirkan ke Saringan Getar
(Vibrating Screen) untuk disaring, agar kotoran kasar berupa serabut-serabut dan cangkang yang
lolos dari Saringan Press (Press Cage) dapat dipisahkan. Minyak kasar yang telah disaring
selanjutnya dimasukkan kedalam suatu bak penampung (Crude Oil Tank), sedangkan kotoran
yang berupa Serabut dan Cangkang dikembalikan ke Fruit Elevator untuk di proses ulang (ReCycle ke Digester/Press).
Minyak kasar atau Crude Oil yang telah terkumpul didalam Crude Oil Tank kemudian dinaikkan
temperaturnya hingga mencapai 95 s/d 100C untuk selanjutnya dipompakan ke Tanki
Pengendap (Static Clarifier Tank).
Menaikkan temperatur Minyak kasar adalah sangat penting artinya ; yaitu untuk memperbesar
perbedaan berat jenis (BJ) antara Minyak, air dan Heavy Sludge yang terkandung didalam
minyak kasar tersebut agar pada proses pengendapan minyak yang berat jenisnya lebih ringan
akan mudah memisahkan diri dan naik kepermukaan.
Jika Minyak kasar dari pengempaan dibiarkan sementara waktu, maka akan terbentuk lapisan
minyak dipermukaan yang semakin lama semakin tebal.
Untuk mendapatkan pengertian yang lebih jauh terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi
proses pengendapan, maka akan diteliti apakah yang akan terjadi seandaninya cairan yang
diendapkan terdiri hanya dari dua unsur yang tidak dapat bercampur (dalam hal ini Air dan
Minyak) karena berat jenis yang berbeda-beda sedangkan zat yang terdispersi (Minyak) didalam
zat dispersis (Air) berbentuk butir-butir kecil dari berbagai garis menengah.
Diumpamakan bahwa butiran-butiran minyak berbentuk bola. Butiran tersebut apabila dialirkan
dalam suatu Tabung berisi media dengan berat jenis yang lebih besar akan mendapat gaya
dorong keatas.
Butiran-butiran minyak yang dianggap berbentuk bola mempunyai volume sebagai berikut :
(4/3) x phi. R3

Volume

Dimana

: R = jari-jari bola minyak

= 1/6 . phi. d3

d = diameter bola minyak


phi = 3.14
Apabila : Berat jenis (BJ) dari zat yang terdispersi (Minyak) = Y1
- Berat jenis (BJ) dari zat dispersie (Air) .

= Y2

- Garis tengah butir (Minyak) . = d


Maka butir-butir zat yang terdispersi akan bergerak kearah permukaan oleh gaya sebesar :

1/6 p d3 (Y2 Y1) .. (I)


Pada awalnya gerak ini adalah gerak yang dipercepat yang kemudian menjadi gerak yang
beraturan. Pengaruh geseran yang dialami butir-butir minyak dalam geraknya didalam zat
dispersie (Air) adalah m,engikuti hukum STOKES.
Menurut hukum STOKES daya gerak butir minyak (P) adalah :
3 phi n d.v .

(II)

Dimana :
n (etha) =
V =

Viscositas Dynamis

kecepatan beraturan dari geraknya butir.

Dari persamaan (I) dan (II) apabila gerak dari butiran Minyak untuk mencapai kecepatan
beraturan adalah sama, maka :
1/6 p d3 (Y2 Y1) = 3 p h d.v
Kecepatan beraturan (v) adalah :
= ((1/6 . phi . d3)/(3 . phi . n . d)) x (Y2 Y1)
= ((d2)/(18n)) x (Y2 Y1)

(III)

Jalan pemikiran tersebut diatas tidak seluruhnya tepat, meskipun cukup cermat untuk keperluan
kita, karena jarak yang telah ditempuh oleh butir minyak sebelum gerak yang dipercepat berobah
menjadi gerak yang beraturan, dapat diabaikan saja karena sangat kecilnya.
Contoh

Suatu butir minyak (BJ = 0,9) dengan diameter = 0,04 mm, akan bergerak kepermukaan didalam
lingkungan air bersuhu 20C yang mempunyai viscositas dynamis 0,01 deci-poise dengan
kecepatan,
v = (d2 (Y2 Y1)) / 18
v = ((0.04mm x 103)2 x (1 0.9))/ (18 x 0,01 deci-poise)
v = ((0.04)2 x 106 x 0.1)/(18 x 0,01)
v = 900 micron/dt
v = 900 x 10-4 cm/dt

v = 9 x 10-2 cm/dt
Jika pada suatu pengendapan, dengan tinggi apisan cairan (h) = 4 meter, sedangkan dikehendaki
tak ada lagi butir-butir minyak 0,04 mm yang masih belum terpisahkan, maka diperlukan
jangka waktu pengendapan :
h/v = (4 x 102 detik)/ 9.10-2 = (4 x 104)/9 = 4.444,44 detik = 1,23 jam
Sehingga waktu yang diperlukan untuk pemisahan campuran dari 2 unsur (Air dan minyak)
dengan pengendapan adalah tergantung dari :
h = Tinggi lapisan campuran dalam cm
d = Des-integrasi dari minyak (diameter minyak)
(Y2-Y1)= Selisih berat jenis
(etha) = Viscositas dari air
Tingginya Lapisan Campuran
Dari h/v = waktu pengendapan, nyatalah bahwa semakin besar (h) = semakin tinggi lapisan
cairan, semakin panjang pula jangka waktu yang diperlukan untuk pengendapan.
Karena diutamakan waktu pengendapan yang sependek mungkin maka harus diusahakan lapisan
yang setipis mungkin.
Didalam praktek perpendekan ini dapat dicapai dengan pemisahan sehingga cairan terbagi dalam
beberpa lapisan-lapisan dan ini didapat misalnya, pada pengendapan Static Clarifier.
Des-integrasi Dari Minyak
Des-integrasi minyak diartikan bahwa halusnya butir-butir minyak atau semakin halus (kecil)
akan semakin panjang jangka waktu pengendapan. Oleh karena itu harus tetap diusahakan
supaya butir-butir minyak yang keluar dari pengempaan tidak terpecah dalam butir yang halus.
Didalam prakteknya hal yang demikian tergantung dari cara pengempaan dan tak selalu dapat
dicapai.
Hal ini disebabkan :
-

Pengadukan yang berlebihan

Pengacauan (didalam talang minyak kasar)

Pengempaan pada tekanan tinggi dan lain sebagainya.

Selisih berat jenis dari kedua zat yang akan dipisahkan sesamanya, dapat dikatakan tetap karena
juga pada umumnya suhu kedua zat adalah sama.
Agar supaya memperoleh gambaran mengenai jalannya proses pengendapan dari minyak kasar
yang dihasilkan oleh pengempaan dan yang mengandung banyak zat padat bukan lemak, kita
umpamakan tangki terisi oleh minyak kasar.
Jika minyak kasar kita biarkan maka isi tanki akan mengendap dan akan terbentuklah lapisan
sebagai berikut :
a. Lapisan pertama :

Yang terutama terdiri dari minyak.

b. Lapisan kedua
: Terdiri dari Air dan minyak yang mungkin masih dikandungnya dan
berada dalam bentuk yang terhomogenisir atau jika berbentuk emulsie maka minyak ini dengan
air merupakan emulsie yang masih hidup.
c. Lapisan ketiga
: Pada umumnya terdiri dari emulsieminyak/air yang tak terpecahkan;
yang menjadi stabilisator dari emulsie yang tak hidup ini terutama adalah zat-zat padat yang
dikandung oleh minyak kasar.
Lapisan Pertama
Minyak dari lapisan ini masih mengandung bintik-bintik air dan zaat pengotor lainnya. Untuk
memperoleh minyak murni maka kadar air diturunkan dari 0,75% sampai seminimal mungkin
(atau berkisar 0,10%).
Lapisan Kedua
Jika dinilai dari sifat-sifat emulsi yang dikandungnya kecuali dengan oengendapan, minyak
didalam lapisan ini dapat dibebaskan dengan proses kimia, umpamanya dengan pembubuhan
Electrolyte yang dapat memecahkan emulsie.
Dengan percobaan kearah ini, ternyata hasil yang dicapai tidak memberikan harapan untuk
dilakukan secara besar-besaran karena dari percobaan itu didapat kesan bahwa perobahan yang
terjadi karena pembubuhan Electrolyte, disamping memecahkan beberapa emulsie yang telah
ada, juga menimbulkan emulsie yang baru.
Oleh sebab itu maka pembebasan minyak dari emulsie lapisan kedua dengan jalan pemanasan
atau dengan jalan pemusingan (Centrifuge) adalah tetap lebih sederhana.
Lapisan Ketiga
Lapisan ini mengandung emulsie yang tidak hidup dan zat organik yang padat.
Terbentuknya emulsie sangat dipengaruhi oleh tingkat hubungan secara kimiawi maupun physic
antara zat padat itu terhadap zat yang meng-emulgeer (air).

Maka dalam hal ini perhatian yang khusus untuk lapisan ketiga tersebut sangat diperlukan, agar
supaya kerugian minyak dapat dibatasi serendah mungkin.
Minyak kasar hasil pengempaan yang akan diendapkan mempunyai komposisi sebagai berikut :

Minyak : 50%
Air : 42%

Zat Padat : 8 %

Proses pengendapan (Settling) dilakukan didalam suatu tanki vertikal yang mempunyai daya
tampung berkisar 70 M3.
Tanki ini disebut Static Clarifier (Clarification Tank) yang bekerja secara kontinu, artinya ninyak
kasar dari Crude Oil Tank dipompakan ke tanki pengendap ini secara terus menerus dan
pengeluaran dari tanki ini juga akan berlangsung secara terus-menerus yaitu berupa :
1. Minyak (Top Oil)
Minyak yang diperoleh dari hasil pengendapan ini mempunyai komposisi sebagai berikut :

Minyak
Air

Zat Padat

: 99%
: 0,75%
: 0,25%

Selanjutnya minyak ini dialirkan kedalam tangki penampung minyak (Oil Tank) untuk kemudian
akan diproses lebih lanjut dengan menggunakan oil Purifier dan Vacum Dryer.
Pemisahan yang terjadi adalah didasari Hukum Bejana Berhubungan dimana akan terjadi
selisih ketinggian permukaan antara media ringan (minyak) dan media berat (air dan Sludge).
Karena pemisahan yang akan dilakukan adalah secara kontinue, maka selisih ketinggian dari
kedua media tadi harus diatur posisinya agar tujuan/hasil pemisahan yang diperoleh enar-benar
sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Untuk mengatur selisih permukaan tersebut diatas, maka rumus sederhana yang biasa digunakan
adalah sebagai berikut :
-> Po g x + Ps g y = Ps g z
g

Po =

Percepatan gravitasi ( 9,81 m/dt2)


Berat jenis minyak ( 0,9 gm/cc)

Ps = Berat jenis sludge ( 1,0 gm/cc)

Maka persamaan menjadi :


-> Po x + Ps y = Ps z . (1)
Sehingga persamaan (1) menjadi :
-> 0,9x + y = z . (2)
Menurut gambar diatas, terlihat : SH + z = x + y dimana :
SH = Selisih permukaan minyak dan sludge
x

= Tinggi lapisan minyak

= Tinggi lapisan Sludge

= Tinggi lapisan miniyak dan sludge

-> SH =

x + y - z.. (3)

SH = Ketinggian Sludge Skimmer dibandingkan Oil Skimmer.


Substitusi rumus (2) ke (3)
-> SH = x + y - (0,9x + y)
= x + y - 0,9x - y
= x - 0,9x
= 0,1x
Jadi :
-> x = 10 SH
Dari hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa selisih ketinggian antara permukan
minyak dengan saluran keluar sludge atau tinggi SH adalah 1/10x.
2. Lumpur (Sludge)
Sludge yang diperoleh dari hasil pengendapan ini mempunyai komposisi sebagai berikut :
Minyak : 15%
air

: 75%

Zat padat : 10%


Sludge ini kemudian dialirkan ke tanki Sludge untuk kemudian akan diproses lebih lanjut dengan
Nozzle Separator atau Decanter.
Hal-hal yang perlu mendapat perhatian pada proses pemisahan dengan cara pengendapan ini
antara lain adalah sebagai berikut :
a. Untuk mendapatkan suatu hasil pemisahan yang baik, maka tangki Clarifier ini harus diisi
secara kontinu dengan volume yang teratur dan dengan temperatur crude oil berkisar 95 s/d
100C.
Hindari cara pengisian yang berfluktuasi karena hal ini dapat menimbulkan Turbulensi dan
mengacaukan lapisan-lapisan yang sudah terbentuk didalam tanki Clarifier.
b. Tanki Clarifier dilengkapi dengan pipa pemanas (Heating Coil) yang berfungsi untuk
memanaskan Crude Oil sisa pengolahan yang lalu dan hanya perlu dioperasikan paling lama 30
menit sebelum dimulainya pengolahan.
Selam proses berlangsung, pipa pemanas (Heating Coil) yang ada didalam tanki Clarifier tidak
boleh dibuka/dioperasikan disebabkan hal-hal sebagai berikut :
1. Pemanasan oleh Heating Coil akan menyebabkan air yang terkandung ada didalam
Heavy Phase dan berada disekitar Heating Coil menjadi mendidih.
2. Pada air yang mendidih akan timbul gelembung-gelembung udara yang bergerak keatas
untuk kemudian menimbulkan arus (Turbulensi) yang akan mengacaukan proses
pemisahan serta pengendapan yang sudah mulai terbentuk.
3. Setiap pagi sebelum pengolahan dimulai dan sebelum dilakukan pemanasan pendahuluan,
maka sebahagian kecil dari isi tanki ( 3 m3) perlu dikeluarkan dan dimasukkan kedalam
bak penampung (sludge Drain Tank).
Maksud pengeluaran ini adalah agar kotoran dan pasir yang telah mengendap pada saat tangki
dalam keadaan diam (Statis) dapat dikeluarkan.
Pada Sludge Drain Tank ini pasir dan kotoran akan dipisahkan dari minyak yang masih terikut
bersamanya ; untuk kemudian minyak yang telah bebas dari pasir dan kotoran tersebut
dikembalikan ke Clarifier Tank atau ke Crude Oil Tank.
Filed under: Clarification Station, Dasar Proses Pabrik | Ditandai: Dasar Dasar Proses, Pabrik
Minyak Kelapa Sawit, Pemurnian, Proses Pemurnian Minyak | 3 Comments

Pemurnian (Clarification)
Posted on Agustus 3, 2012 by ivanemmoy

Tujuan Utama
Di Pabrik Minyak Sawit, Minyak kasar yang diperoleh dari pengempaan, dibersihkan dari
kotoran yang terutama berasal dari daging buah berupa bahan padat dan air.
Maksud dari pada pembersihan/pemurnian Minyak kasar adalah untuk memurnikan Minyak
tersebut agar diperoleh mutu sebaik mungkin dan dapat dipasarkan dengan harga yang layak.
Untuk dapat memahami dengan baik tujuan dan hakekat dari pada pemurnian Minyak kasar,
maka perlu dipelajari sifat-sifat fisika-kimiawi dari Minyak kasar tersebut.
Minyak kasar sebagai hasil pengempaan dapat diperinci sebagai berikut :
a.

Campuran Minyak dan Air

Campuran yang unsurnya (Air dan Minyak) terbagi tidak terlalu halus sehingga dengan cepat
dan mudah kedua unsur itu dapat dipisah-pisahkan sesamanya.
Minyak yang sedemikian berasal dari :

Bejana pengaduk yang dipanaskan (Digester) yaitu minyak yang keluar sebelum proses
pengempaan (Press).
Minyak yang keluar dari hasil pengempaan tahap awal dimana tekanan masih rendah.

Minyak dalam campuran ini disebut Minyak bebas karena boleh dikatakan tak mempunyai
affinitas apapun dengan air yang mengelilinginya dan yang tercampur dengannya.
Minyak jenis ini bila dibiarkan akan segera memisah ditas lapisan air yang mengendap.
b. Campuran homogen antara Butir Air dan Minyak
Campuran homogen antara Butir air dan minyak yang terbagi sangat halus. Dalam hal demikian
kedua unsur merupakan emulsie yang sangat stabil.
Campuran semacam ini terutama berasal dari tahap terakhir pengempaan yaitu sisa-sisa zat cair
dalam ampas yang ditekan dan dipaksakan mencari jalan keluar melalui celah-celah kecil dari
dalam ampas pengempaan, sehingga terpecah/terurai menjadi butir-butir molekul dan minyak
seakan-akan terhomogenisir didalam lingkungan air.
c. Emulsi Air/Minyak
Emulsi semacam ini boleh dikatakan tidak berarti didalam pemurnian minyak di Pabrik Minyak
Sawit asalkan dapat dijamin viscositas yang layak (pada suhu 80C 100C).
d.

Emulsie Minyak/Air

Jika de-integrasi minyak didalam air sedemikian jauhnya sehingga terjadi homogenisasi maka
diperoleh suatu emulsi yang stabil, walaupun diketahui juga bahwa tanpa de-integrasi minyak
dalam air yang intensif, akan dapat juga terbentuk emulsie yang stabil berkat adanya emulgator
yang aktif.
Asam lemak, zat lendir dan serat halus serta sisa-sisa sel merupakan emulgator ataupun
stabilisator sehingga dapat terjadi emulsie yang hidup dan yang tak hidup.
Minyak kasar yang berasal dari pengempaan terdiri dari butir-butir minyak berbagai ukuran
didalam lingkungan air. Air yang dimaksud bukan air murni dalam arti physis, tetapi Phase
Disperse dari emulsie.

Butir-butir minyak itu menunjukkan gerak kepermukaan. Apabila medium pemisah


antara butir-butir itu hilang, maka akan terjadi penggabungan butir kecil menjadi butirbutir yang lebih besar dan dengan demikian gerak kepermukaanpun menjadi dipercepat.
Gerak keatas dan penggabungan butir menjadi butir-butir besar adalah gerak kearah
keseimbangan sehingga akhirnya terjadi lapisan minyak disebelah atas dan lapisan air
bawahnya.

Mula-mula pemisahan kedua lapisan itu tidak jelas (kabur) ; butir-butir kecil air didalam
lapisan minyak dan butir-butir kecil minyak dalam lingkungan air. Butir-butir air akan
dapat mengendap masuk kedalam lingkungan air jika lapisan minyak cukup encer (BJ Air
> BJ Minyak).

Butir-butir halus minyak lambat sekali bergerak keatas dan sebagian akan tetap berbentuk
butir-butir yang halus sekali dan melayang didalam ligkungan air.

Emulgator-emulgator dengan muatan listriknya mencegah ataupun memperlambat


penggabungan butir-butir halus minyak itu.

Butir-butir halus yang bermuatan listrik itu adalah merupakan emulsie yang hidup.

Emulsie yang tak hidup diakibatkan oleh gejala absorbsi yang timbul disebabkan adanya
zat-zat organik seperti misalnya : sisa sel dan serat-serat halus yang berasal dari daging
buah.

Dengan pengolahan pendahuluan (Sterilisasi) yang baik maka pengaruh zat-zat lendir dan
lilin dari dalam daging buah dapat diperkecil.

Namun demikian tidak boleh diabaikan pengaruhnya sebagai emulgator dan terutama sebagai
stabilisator jika zat-zat itu terdapat dalam fat pit meskipun dalam persentase yang rendah, karena
mempersukar pemisahan minyak dari dalam fat pit.
Cara-cara untuk memperoleh & memisahkan minyak dari minyak kasar
Ada berbagai cara yang lazim dilakukan dalam pemurnian minyak kasar di pabrik minyak kelapa
sawit yaitu :

Cara dengan pengendapan


(Settling)
Pemisahan minyak dari minyak kasar terjadi/berlangsung
karena pengendapan bagian yang berat (sludge + air) dan minyak yang terpisah berada
dilapisan atas.
Cara dengan pemusingan
(Centrifugal)
Dengan cara ini waktu pemisahan yang diperlukan menjadi
lebih singkat karena bantuan tenaga centrifugal.
Cara dengan pengaruh
biologis
Cara ini adalah merupakan kelanjutan dari kedua
cara tersebut diatas dan dilakukan pada proses pemisahan di fat pit atau Sludge Oil
Recovery System.

Pada umumnya cara-cara tersebut diatas dilakukan secara tergabung ; baik gabungan dari
ketiganya maupun dua dari ketiga cara.

Artikel Terkait :

Filed under: Dasar Proses Pabrik | Ditandai: Dasar Dasar Proses, Pabrik Minyak Kelapa Sawit,
Pemurnian, Tujuan Pemurnian | Leave a comment

Pengempaan (Pressing)
Posted on Agustus 3, 2012 by ivanemmoy
Tujuan Utama
Tujuan utama dari proses pengempaan (Pressing) adalah mengeluarkan Minyak dari bubur buah
yang telah diaduk. Secara umum pengambilan minyak nabati dari sumbunya disebut ekstraksi
minyak atau lemak.
Pekerjaan ekstraksi minyak dapat dilakukan dengan cara :
1. Ekstraksi Minyak (lemak) secara mekanis.
2. Ekstraksi Minyak (lemak) secara Fisis.
3. Ekstraksi Minyak (lemak) secara Mekanis dan fisis.
4. Ekstraksi Minyak (lemak) secara Biologis.

Pada umumnya ekstraksi Minyak Kelapa Sawit dilakukan secara Mekanis yaitu dengan
pengepressan atau pengempaan.
Dengan pengepressan atau pengempaan minyak yang ada pada bubur Buah Kelapa Sawit akan
dibebaskan dari bubur buah dan terpisah dari serat dan biji Sawit.
Jenis alat kempa yang dikenal, yaitu :
1. Kempa Hydraulik (Hydraulic Press)
2. Kempa Ulir (Screw Press).
Kempa Ulir (Screw Press) dalam penggunaannya lebih menguntungkan dibandingkan dengan
kempa Hydraulik (Hydraulic Press).
Keuntungan-keuntungan yang diperoleh antara lain :
1. Bekerja secara kontinyu.
2. Kapasitas Olahnya tinggi.
3. Efisiensi pengempaan lebih tinggi (kehilangan Minyak kecil).
4. Pemakaian tenaga (Operator) yang sedikit.
Kelemahan Screw Press terutama adalah karena tingginya persentase biji yang pecah & kadangkadang sulit untuk dimonitor secara visual.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Pengempaan (Pressing) :
1. Suhu air panas harus mencapai 90C.
2. Tekanan Press harus diatur sedemiian rupa agar kerugian minyak didalam ampas cukup
rendah sedangkan sebaliknya biji-biji yang pecah atau hancur harus juga rendah.
3.

Setiap Press harus distop dari pemakaian untuk direkondisi (Rebuilt) Screwnya setelah
berjalan 500 jam.

Screw yang sudah aus melebihi 5 s/d 6 mm akan menyebabkan tingginya percentage biji pecah
dan disamping itu akan juga mempercepat kerusakan Saringan Press (Press Cage).
Artikel Terkait :
Pemurnian (Clarification)
Process Flow Diagram Of Palm Oil Mill

Filed under: Dasar Proses Pabrik | Ditandai: Dasar Dasar Proses, Pabrik Minyak Kelapa Sawit,
Pengempaan, Screw Press | 2 Comments

Hal-hal yang Perlu Diketahui Selama Proses Pengadukan


Posted on Agustus 2, 2012 by ivanemmoy
Untuk pengertian praktis dibutuhkan pengetahuan mengenai hal-hal yang terjadi selama
pengadukan yaitu :

Perusakan dari sel minyak


Pengeluaran minyak dari dalam ketel pengaduk

Pendidihan isi dari Ketel Pengaduk

Pengisian Ketel Pengaduk & pengaruhnya terhadap effek pengadukan

1. Perusakan sel-sel minyak


Karena gesekan yang timbul pada waktu pengadukan maka dinding sel (daging buah) yang
mengandung minyak akan terkoyak/terusak sehingga minyak (bintik-bintik minyak) akan keluar
dengan sendirinya atau sekurang-kurangnya dapat dengan mudah sekali dikeluarkan dari dalam
sel pada proses pengempaan (Press).
Jika diambil ampas pengempaan dan diteliti sel-sel minyaknya dibawah Mikroskop, maka akan
dapat dilihat bahwa sel minyak itu sebahagian besar hilang dan hanya pada beberapa bahagian
saja masih kelihatan sedikit sisa minyak berbentuk bintik-bintik.
Apabila selama proses pengadukan minyak yang telah membebaskan diri dari selnya tersebut
tidak segera dialirkan keluar dari dalam Ketel Pengaduk, maka masa yang sedang diaduk
menjadi licin serta akan berakibat menurunnya effek pengadukan dan dengan demikian tidak
dapat memenuhi apa yang diinginkan.
2. Pengeluaran minyak dari dalam pengaduk
Kecuali menurunkan effek pengadukan, seperti dijelaskan diatas maka minyak bebas yang
tidak dikeluarkan dari dalam Ketel Pengaduk (Digester) akan membentuk emulsi dengan unsur
lain yang terkandung dalam minyak kasar itu.
Minyak kasar ini terbentuk dari unsur-unsur :
1. Non-fat (bahan bukan lemak) : terdiri dari serat-serat, sisa-sisa sel & bahan lain yang
dapat larut.
2. Cairan bukan minyak.
3. Emulsi cairan bukan minyak dengan minyak.

4. Emulsi minyak dengan cairan bukan minyak.


5. Minyak.
Terutama emulsi tersebut (3) dan (4) adalah cairan yang tinggi sekali Viskositasnya yang
dihasilkan oleh pengempaan pada tekanan tinggi.
Untuk menurunkan Viskositas dapt ditempuh beberapa cara, antara lain :

Menambah air panas kedalam Ketel Pengaduk tetapi hasilnya tidak memuaskan, malahan
merugikan karena : effek pengadukan akan sangat menurun. Daging akan tercuci
sehingga sel-sel tidak terpecah dan kandungan minyak didalamnya akan ikut terbawa
bersama lumpur dan meningkatkan kerugian minyak didalam lumpur (Sludge).
Penambahan air panas pada minyak kasar hanya dilakukan pada proses pengempaan
(Press).

Pengenceran Minyak kasar tersebut diperlukan terutama pada proses penyaringan dan
pemisahan awal antara minyak dengan lumpur (Sludge) pada System Continous Settling
Tank (Clarifier) di Station Clarification (Station Pemurnian Minyak).

Untuk memperoleh pengenceran yang dikehendaki diperlukan penambahan air panas


yang tidak sedikit yaitu berkisar anatara 15% s/d 20% per ton TBS. Hal ini menyebabkan
timbulnya pekerjaan extra pada Station Pemurnian Minyak.

3. Pemanasan Isi Ketel Pengaduk


Meskipun Minyak bebas didalm pengadukan telah dialirkan keluar dari dalam Ketel Pengaduk
tetapi tetap masih akan terdapat sisa-sisa cairan yang karena pendidihan membentuk gelembung
yang timbul bergerak kearah atas sambil membawa sisa cairan yang mengendap dibagian bawah
dari Ketel Pengaduk, sehingga msa yang sudah menjadi lebih kesat akan encer kembali dan
merugikan effek pengadukan.
Kecuali hal yang tersebut diatas itu maka gelembung pendidihan yang selaput tipisnya
mengandung minyak, jika kemudian pecah, akan menyebabkan minyak yang semula sudah
berhimpun akan terpencar kembali dalam bintik minyak yang sangat halus (terjadi emulsi).
Ketentuan dibawah ini adalah mutlak dan harus menjadi perhatian yaitu :

Jika Ketel Pengaduk terisi penuh maka tekanan yang ditimbulkan oleh beban berat isian
itu sendiri mempertinggi gaya gesekan yang diperlukan untuk memperoleh hasil
pengadukan yang optimal.
Jangka waktu pengadukan yang harus dialami oleh isi Ketel Pengaduk sebelum di Press
juga merupakan faktor yang cukup penting untuk dapat memenuhi syarat-syarat
pengadukan yang baik.

Semakin banyak isian suatu Ketel Pengaduk maka semakin lama buah akan teraduk
sebelum dikempa, jadi gabungan dari kedua faktor : isian Ketel Pengaduk dan jangka
waktu pengadukan harus diusahakan sedapat mungkin untuk dipenuhi secara simultan.

Filed under: Dasar Proses Pabrik | Ditandai: Dasar Dasar Proses, Digester, Hal Yang Harus
Diketahui Selama Proses Pengadukan, Pabrik Minyak Kelapa Sawit, Pengadukan | Leave a
comment

PENEBAH (THRESHING)
Posted on Juli 25, 2012 by ivanemmoy
1. Pendahuluan
Sebagaimana telah diterangkan didalam bab proses perebusan, maka perebusan yang
dilaksanakan menurut syarat-syarat optimal harus menghasilkan, antara lain :

Buah harus melepas atau sekurang-kurangnya mudah melepas dari tandannya.


Daging bush telah menjadi cukup lunak/lembek.

Pemipilan adalah proses yang segera menyusul setelah proses perebusan dan bertujuan
melepaskan/mengeluarkan/memisahkan semua buah dari tandannya. Dalam proses pemipilan,
walaupun telah dilakukan seefisien mungkin tetapi beberapa kerugian kadang-kadang masih juga
dialami antara lain :
a. Didalam tandan yang dipipil kadang-kadang masih terdapat beberapa butir buah yang tidak
dapat keluar, meskipun sudah terlepas dari tandannya.
b. Benturan-benturan yang terjadi terhadap tandan didalam alat Pemipil mengharuskan agar
semua buah terlepas dan keluar dari tandannya, tetapi hal ini ternyata juga mengakibatkan
kerusakan terhadap daging yang telah menjadi lembek karena perebusan.
Dengan menggunakan alat Pemipil yang tepat disertai cara penggunaannya yang baik, maka
harus diusahakan agar tujuan pemipilan dapat terpenuhi semaksimal mungkin, yang berarti
pemipilan dengan tingkat kerugian yang serendah mungkin dapat dicapai.
2.

Kerugian didalam proses pemipilan

Kerugian yang dimaksud dapat terjadi disebabkan :

Langsung oleh pemipilan


Tidak langsung oleh Pemipil (diluar pemipilan).

Hal ini dapat dibedakan sebagai berikut :


A. Kerugian minyak terserap oleh tandan kosong.

B. Kerugian Minyak didalam buah yang tidak terlepas/terpisah atau buah yang masih tertinggal
didalam tandan.
Factor yang berpengaruh terhadap taraf kerugian ini adalah terutama :

Kriteria panen dan mutu buah yang diterima.


Metode/cara perebusan yang dilakukan

Model/jenis alat pemipil yang dipergunakan

Kerugian Kategori A
- Didalam Bab Proses Perebusan telah diterangkan bahwa semakin tinggi taraf kematangan
buah dan semakin lama waktu perebusan maka akan semakin besar kemungkinan bahwa minyak
akan meleleh keluar dari daging buah selama perebusan karena daging telah menjadi terlalu
lunak atau karena daging buah memang telah tidak utuh lagi sebelum perebusan ; umpamanya
pada buah busuk atau pada tandan buah yang mengalami bantingan-bantingan berat yang
menyebabkan buah dipermukaan tandan hancur/lumat dll.
Mudah dimengerti bahwa akibat dari gejala tersebut diatas maka Minyak meleleh terutama dari
buah-buah yang hancur/lumat tadi dan terbawa keluar bersama air Kondensate Rebusan pada
saat dilakukan pengurasan (Blow Down).
Sebagian dari Minyak ini akan terbuang bersama Kondensat, tetapi masih dapat diperoleh
kembali sebagai minyak yang bermutu rendah pada proses pengutipan di Fat Pit, sedangkan
sebahagian lagi akan terserap pada tandan dan ikut terbuang bersama tandan-tandan kosong pada
proses pemipilan.
Kerugian tersebut diatas pada hakekatnya terjadi diluar pemipilan sehingga kurang tepat jika
dipergunakan untuk menilai pekerjaan pemipilan tetapi sangat berpengaruh, sehingga harus
mendapat perhatian cukup dalam penilaian kerugian minyak yang terserap oleh tandan kosong.
- Kerusakan daging buah yang disebabkan oleh benturan-benturan selama pemipilan seperti
diterangkan terdahulu, dapat berakibat penyerapan Minyak oleh tandan.
Kemungkinan ini tidak dapat dihindarkan akibatnya tetapi masih mugkin dikurangi yaitu dengan
melakukan pengisian alat Pemipil (Stripper) secara teratur dan tidak berlebihan (Over Capacity)
agar benturan antara tandan dengan buah-buah lepas yang rusak dagingnya tersebut menjadi
lebih singkat waktunya.
Kerugian Kategori B
- Pemuatan yang berlebihan pada alat Pemipil akan mengakibatkan menigkatnya kergian
karena menurunnya effect bantingan/benturan terhadap tandan.

Bantingan yang cukup harus berakibat buah melepas dan keluar dari tandannya untuk kemudian
keluar melalui kisi-kisi dari alat Pemipil.
- Pemipilan yang kurang sempurna juga menyebabkan peningkatan kerugian karena buah
tidak cukup terlepas dari tandannya sebagai akibat dari proses kimiawi physica yang
tidak/kurang sempurna didalam perebusan.
Gejala ini akan lebih banyak dijumpai pada tandan yang berada pada taraf kematangan rendah
(buah mentah,dll) dari pada buah yang cukup matang.
Untuk menghindari kerugian yang berkebihan maka tandan yang tidak cukup terpipil dimaksud
diatas harus direbus kembal.
Pengulangan perebusan dan pemipilan berari penurunan Output dari instalasi (penurunan
effisiensi dalam pekerjaan) juga memperbesar kerugian tersebut dalam kategori A.
Dengan perebusan yang cukup dan pemipilan yang baikpun kadang-kadang masih dijumpai
tandan dengan gejala tersebut dalam (b) yaitu bahwa buah tidak dapat terlepas dari tandannya
dan biasanya buah jenis ini disebut buah abnormal.
Perebusan dan pemipilan kembali buah abnormal tidak akan memberikan hasil, malahan
sebaliknya memperbesar kerugian tersebut dalam kategori A dan menurunkan Output Instalasi
(Penurunan efisiensi dalam pekerjaan).
Buah abnormal ini walaupun telah mengalami perebusan ulangan, ternyata masih saja sulit untuk
melepas buah dari tandannya.
Kelainan dari buah tersebut adalah penyakit dan tidak dapat diatasi didalam Pabrik.
3.

Penelitian terhadap Proses Perebusan dan Proses Pemipilan

Untuk dapat mengetahui apakah proses perebusan dan pemipilan telah terlaksana dengan baik,
maka tandan-tandan kosong yang keluar dari alat pemipil harus diteliti dan dianalisa.
Seorang petugas mengmati tandan kosong yang keluar dari alat Pemipil. Tandan yang kelihatan
tidak cukup terpipil, dikeluarkan dari Conveyor tandan kosong dan dikumpulkan untuk
kemudian direbus kembali (perebusan ulang).
Dengan mengambil ciontoh tandan kosong yang keluar dari Pemipilan maka dapat diteliti hal-hal
sebagai berikut :

Banyaknya tandan kosong yang harus direbus ulang dalam satu hari. Hal ini dipakai
dalam menghitung berkurangnya kapasitas PKS karena pekerjaan uklangan dan bila perlu
mengadakan penyesuaian dan perobahan terhadap lamanya proses perebusan.

Jumlah buah yang masih terdapat didalam tandan kosong dianalisa secara teratur untuk
dihitung besarnya kerugian yang timbul karena hal ini berhubungan dengan
efisiensi/rendement PKS.

Pada selang waktu tertentu tandan kosong harus diambil untuk dianalisa Minyak yang
terikut (terserap) didalam janjang kosong tersebut karena hal ini juga merupakan
kerugian yang berhubungan dengan rendement Minyak yang dihasilkan.

Dari beberapa data tersebut maka akan diperoleh angka kerugian :


1. Minyak didalam buah tertinggal
2. Minyak didalam janjang kosong
Angka ini bersama dengan angka kerugian dibagian pengolahan yang lain akan memberikan
gambaran mengenai rendement dari pengolahan dalam keseluruhan dan sangat penting untuk
mengadakan perbaikan didalam pengolahan baik mengenai cara bekerja maupun mengenai
peralatan pengolahan.
4. Alat-alat Pemipil (Thresher)
Hingga kini hanya ada 2 type alat Pemipil yang lazim digunakan didalam Pabrik Minyak Kelapa
Sawit, karena kedua type ini sajalah yang memberikan hasil pemipilan yang memuaskan
(rational).
Kedua alat Pemipil itu ialah :

Pemipil dengan lengan pemukul (Beater Arm type)


Trommol Pemipil (Rotary Drum Type)

1. Pemipil dengan lengan pemukul (Beater Arm Type)


- Alat type ini lazimnya digunakan pada Pabrik dengan kapasitas pengolahan yang terbatas = 4
5 ton TBS per jam.
- Pemipilan dengan type ini pada dasarnya karena pemukulan tandan oleh lengan-lengan yang
diikat pada sumbu (bersama) yang terpasang dibawah palung pemipilan sedemikian rupa
sehingga ujung-ujung lengan itu yang menyelip diantara celah-celah palung pemipilan
membentuk bangun spiral yang melingkari sumbu.
2. Trommol Pemipil (Rotary Drum Type)
- Daya pemipilan dari type ini dapat mencapai 25 s/d 35 ton TBS/Jam. Trommol Pemipil
berbentuk silinder yang dibangun dari batang-batang besi memanjang sepanjang Trommol yang
terpasang endatar dan berpusing pada sumbu mendatar atau pada empat buah titik tumpu (Shaft
Less).

- Batang-batang besi yang berbentuk huruf T terpasang berantara sehingga buah dapat lolos
diantara celah-celah keluar dari dalam Trommol selama pemipilan.
- Garis tengah dari lingkaran silinder berkisar antara 2 meter dengan panjang Trommol
berkisar 4 s/d 5 meter. Jika ruangan didalam Pabrik mengizinkan dianjurkan untuk memilih
Trommol berukuran panjang.
- Dasar dari pada pemipilan dengan Trommol Pemipil ini adalah sentakan yang ditimbulkan
oleh bantingan yang dialami oleh tandan yang sedang dipipil.
Kedalam Trommol Pemipil yang sedang berpusing akan melekat pada dinding Trommol dan
ikut berpusing/terangkat karena pengaruh gaya sentrifugal. Tandan ini kemudian terlepas dan
jatuh membentur dinding Trommol karena pengaruh gaya gravitasi.
Demikian berulang kali selama pemipilan tandan terangkat dan jatuh.
Sentakan pada jatuhan itu menyebabkan buah rontok lepas/keluar dari tandannya untuk
kemudian melalui celah diantara batang besi keluar dari Trommol pemipilan dan masuk kedalam
Conveyor pengantar menuju Elevator.
- Untuk memudahkan/memperlancar tandan bergerak keluar dari Trommol Pemipil dengan
effect pemipilan yang optimal, dipasan Plate pada dinding sebelah dalam dari Trommol
sedemikian rupa sehingga membentuk alur spiral.
Pemasangan plate dengan tepat penting artinya terutama jika tidak dapat dijamin sepenuhnya
bahwa Trommol Pemipil dimuati secara teratur, untuk menghindarkan pencampuran tandan yang
masih penuh dengan tandan yang sudah habis/hampir habis terpipil yang akan menjadi penyebab
meningkatnya kerugian Minyak terserap dalam tandan kosong.
- Kecepatan berpusing dari Trommol Pemipil harus ditentukan secara tepat untuk mencapai
effect pemipilan yang optimal.
Tandan yang sedang dipipil tidak bileh hanya berguling saja pada bagian bawah dari dinding
tetapi juga tidak boleh tetap ikut melekat pada dinding silinder yang berpusing.
Kecepatan berpusing harus sedemikian rupa sehingga praktis semua tandan yang sedang dipipil
berulang kali terangkat setinggi mungkin pada dinding silinder, untuk kemudian jatuh: sebab
dengan demikian baru akan diperoleh pemipilan yang dikehendaki.
Filed under: Dasar Proses Pabrik | Ditandai: Dasar Dasar Proses, Pabrik Minyak Kelapa Sawit,
Penebah, Threshing Station | Leave a comment

Perawatan Rebusan
Posted on Juli 23, 2012 by ivanemmoy

Dalam Perawatan, semua peralatan memerlukan perhatian.


Setiap Rebusan harus dibersihkan bahagian dalamnya minimal setiap 2 minggu untuk dilakukan
pemeriksaan, perawatan dan perbaikan yang diperlukan.
Selain hal tersebut diatas, maka Perawatan routine yang harus dilakukan antara lain sebagai
berikut :
- Periksa kebocoran Pipa-pipa uap dan Pipa Kondensat secara rutin. Jika ada kebocoran agar
segera dilas/ganti, sebab jika hal ini dibiarkan akan mengganggu proses Perebusan Buah
(pemborosan uap) dan akan mengotori sekitar Stasiun Rebusan.
Setiap kebocoran agar segera dilas pada keesokan harinya pada saat Rebusan Dingin. Kawat las
yang digunakan adalah : Philips PH 36 S atau Equivalent.
Untuk mengetahui apakah perbaikan sudah baik dan tidak ada lagi bahagian lain yang masih
bocor, maka perlu diadakan pemadatan dengan air dingin bertekanan Max. 2 Kg/Cm2. Apabila
masih terdapat kebocoran segera lakukan pengelasan ulang.
- Safety Valve (katup pengaman) yang terdapat pada Rebusan agar diperiksa setiap bulan
apakah bekerjanya masih akurat.
Bila diperlukan (kalau ada kebocoran) maka katup dan tempat kedudukannya harus dibersihkan
dan di-Skur, untuk kemudian dilakukan penyetelan ulang terhadap kepegasan dari per (spring)
yang menekan katup tersebut.
Penyetelan-penyetelan semacam ini tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang, melainkan oleh
seorang tukang yang cukup berpengalaman dan dibawah pengawasan salah seorang Staff.
Selanjutnya pada safety Valve dipasang Segel atau Seal kembali dan siapapun dilarang membuka
Segel atau Seal tersebut tanpa izin dari Mill Manager.

Filed under: Dasar Proses Pabrik, Tutorial | Ditandai: Dasar Dasar Proses, Pabrik Kelapa Sawit,
Perawatan Rebusan, Perebusan | Leave a comment

Pemeriksaan Sebelum Rebusan Dioperasikan


Posted on Juli 23, 2012 by ivanemmoy
Rebusan adalah merupakan suatu bejana uap bertekanan yang bekerja dengan tingkat resiko yang
tinggi.
Oleh karena itu maka rebusan dan unit pendukungnya harus diperiksa sebelum dioperasikan.

Hal-hal yang perlu diperiksa antara lain :


-

Packing Pintu

Kerusakan pada Packing Pintu biasanga timbul pada bahagian bawah, hal ini disebabkan adanya
genangan Air Kondensat.
Untuk itu kebocoran Packing Pintu terutama pada bahagian bawah harus benar-benar diperiksa.
Jika hal ini terjadi segera lakukan penggantian.
-

Manometer (Alat Pengukur Tekanan)

Manometer yang terdapat pada bahagian atas pintu muka/belakang harus diperiksa apakah masih
berfungsi atau tidak, sebab Manometer ini adalah sebagai alat Indikator bagi Operator untuk
menentukan apakah tekanan dalam Rebusan masih ada atau tidak.
Seluruh Valve, seperti Valve pemasukan/pengeluaran, Valve Kondensat harus diperiksa apakah
berfungsi atau tidak. Untuk yang menggunakan Valve Automatic pemeriksaan dilakukan dengan
mengoperasikan Compressor, sedangkan untuk yang menggunakan sistem manual pemeriksaan
dilakukan dengan cara memutar Valve dengan tangan.
-

Plate Penyaring Kondensat

Penyaring Kondensat yang terdapat pada lantai dalam Rebusan harus diperiksa apakah ada
Brondolan yang sangkut, sebab jika hal ini diabaikan dapat menghambat pengeluaran Air
Kondensat pada saat pengoperasian.
Genangan Air Kondensat ini akan mempercepat rusaknya Packing Pintu.
-

Katup Pengaman

Periksa Mekanisme dari katup pengaman (Safety Valve) apakah sudah berfungsi baik.
-

Cantilever (Jembatan untuk keluar/masuk lorry rebusan)

Periksa apakah cantilever dalam keadaan baik dan tidak Baling (Twisted). Hal ini harus benarbenar diperhatikan agar lorry yang masuk/keluar dari Rebusan tidak terganggu (jatuh).
-

Condensat Pit Pump (Pompa air kondensat)

Periksa apakah pompa dapat beroperasi dengan baik dan normal.


Catatan :
Kepada para operator Rebusan perlu dijelaskan dan ditekankan bahwa :

DILARANG KERAS membuka pintu Rebusan sebelum tekanan pada Manometer


menunjukkan angka Nol Kg/Cm2, karena hal ini dapat berakibat fatal dan mencelakakan
Operator itu sendiri disamping merusak Packing dan pintu Rebusan.
Filed under: Dasar Proses Pabrik | Ditandai: Dasar Dasar Proses, Pabrik Kelapa Sawit,
Pemeriksaan Sebelum Perebusan Dioperasikan, Perebusan | Leave a comment

Cara Perebusan
Posted on Juli 20, 2012 by ivanemmoy
Dalam menetapkan waktu untuk satu siklus perebusan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
yaitu :
-

Tekanan uap Rebusan (maksimum setiap puncak).

Menguras atau mengeluarkan udara dari dalam Rebusan.

Waktu merebus (memperoleh suhu yang baik dalam tandan).

Kebutuhan Uap.

Kapasitas Rebusan.

1. Tekanan Uap Rebusan


Dalam pengalamam bahwa untuk merebus dengan tekanan uap 3 bars (3,060 kg/cm2) selama 25
menit akan memberikan hasil perebusan yang sama jika tandan buah direbus dengan tekanan uap
1,5 bars selama 55 menit.
Tujuan dari pada pemakaian tekanan uap tinggi ialah untuk menghemat waktu, meskipun
diketahui ada batasnya.
Tekanan uap tinggi dengan sendirinya memberikan suhu yang tinggi dan suhu yang tinggi dapat
merusak kwalitas dari Minyak Sawit dan Inti Sawit. Pada Minyak Sawit harus diperhatikan
tingkat pemucatannya, sedang untuk Inti Sawit harus dihasilkan warna Inti dalam yang putih.
Setelah diadakan beberapa kali percobaan perebusan buah, maka hasil perebusan dengan tekanan
uap 2,8 kg/cm2 dengan total waktu 80 s/d 90 menit dinilai cukup memuaskan.
2. Menguras
Sebelum dapat mengeluarkan udara dari sela-sela tandan buah, perlu sekali untuk terlebih dahulu
menguras udara yang berada disekitar tandan dan yang mengisi ruang kosong Ketel Rebusan.

Pengurasan udara pertama adalah saat bermulanya perebusan tandan buah. Uap dimasukkan
melalui kran pemasukan (Inlet Valve) sementara kran pengeluaran tetap terbuka. Uap yang
masuk telah memungkinkan mendorong udara keluar dan tekanan dalam Ketel Rebusan dibuat
serendah mungkin kira-kira hanya sekitar 0,1 0,2 kg/cm2.
Untuk memberikan hasil kerja yang lebih memuaskan, pipa pemasukan uap dibagian atas Ketel
Rebusan, dilengkapi dengan pelat pembagi uap (Steam Distribution Plate) dan pipa pengeluaran
(Blow Down Pipe) dilengkapi dengan Plate berlobang (saringan) untuk penahan buah dan
kotoran agar tidak mengganggu bekerjanya kran-kran pembuangan.
3. Waktu Merebus
Untuk menguras udara keluar dari sela-sela tandan buah dipergunakan dua puncak pengurasan
yang dengan cepat dapat menurunkan tekanan didalam Bejana dari 2,3 2,5 kg/cm2 menjadi nol
kg/cm2.
Setelah tahap kedua pengurasan selesai, uap dimasukkan lagi untuk puncak ketiga sampai
tekanan dalam Rebusan mencapai 2,8 kg/cm2. Selanjutnya buah yang berada didalam Rebusan
dibiarkan berada dibawah pengaruh tekanan uap selama beberapa waktu sesuai kebutuhan.
Lamanya buah dibawah tekanan uap ini berkisar antara 35 s/d 43 menit tergantung dari kwalitas
dan kondisi buah.
Untuk jelasnya dibawah ini digambarkan Kurva Tekanan Uap pada Bejana Rebusan tersebut
sebagai berikut :

kurva perebusan
Tata cara yang harus dilakukan untuk memperoleh perebusan normal yang dilakukan secara
manual adalah sebagai berikut :
- 13 menit pemasukan uap pertama dari 0 2,3 kg/cm2 sudah
menit.
-2

menit pembuangan uap pertama sampai nol.

- 12 menit pemasukan uap kedua kali sampai 2,5 kg/cm2.

termasuk menguras udara 2

-2

menit pembuangan uap kedua kali sampai nol.

- 13 enit pemasukan uap ketiga kali sampai tekanan 2,8 kg/cm2.


- 43 menit uap ditahan setelah mencapai tekanan 2,8 kg/cm2.
-5
menit pembuangan akhir uap/air yang masih tinggal sampai tekanan menjadi nol
kg/cm2.
4. Kebutuhan Uap
Kebutuhan pemakaian uap selama perebusan dan pengolahan dapat dinyatakan sebagai berikut :
rata-rata kebutuhan uap untuk pengolahan dan perebusan ialah 450 kg per ton TBS, yang dapat
diperinci 270 kg uap untuk perebusan dan 180 kg uap untuk proses pengolahan lainnya.
Kebutuhan uap untuk mencapai puncak setiap cyclus perebusan membutuhkan uap yang
berlainan sekali, meskipun rata-rata untuk perebusan 270 kg uap per ton TBS. Dari hasil
percobaan ternyata bahwa untuk mencapai puncak dibutuhkan 800 kg uap per ton TBS.
Penggunaan uap yang besar ini, relatif singkat berkisar 3-4 menit, tetapi pada saat tertentu bisa
juga mencapai 6-10 menit tergantung dari tekanan uap yang tersedia.
5. Kapasitas Rebusan
Perebusan adalah langkah awal suatu proses pengolahan Kelapa Sawit, dan untuk itu perlu
dihitung secara pasti berapa unit Bejana Rebusan yang dibutuhkan untuk suatu Pabrik sesuai
kapasitas yang diinginkan.
Sebagai contoh akan dihitung kebutuhan Rebusan untuk suatu Pabrik dengan kapasitas 45 ton
FFB/jam, sebagai berikut :
Ditentukan bahwan Rebusan yang akan digunakan adalah dengan diameter 2100 mm x 30.000
mm panjang dengan isi lori 10 buah @ 2.750 kg/lori, atau 27,5 ton sekali isi.
Apabila :
Cyclus perebusan adalah 100 menit (termasuk buka dan tutup pintu Rebusan) maka kebutuhan
unit Rebusan untuk PKS kapasitas 45 ton FFB/jam adalah :
Kebutuhan Rebusan = (Kap. PKS x Cyclus perebusan dalam menit)/(Isi Rebusan x 60 menit)
Atau (45 x 100)/(27.5 x 60) = 2,73 unit rebusan
Dibulatkan menjadi 3 unit rebusan

Filed under: Dasar Proses Pabrik | Ditandai: Cara Perebusan, Dasar Dasar Proses, Pabrik Kelapa
Sawit, Perebusan | Leave a comment

PEREBUSAN (STERILISASI)
Posted on Juli 19, 2012 by ivanemmoy
1.

Pendahuluan

Tahap pertama setelah melalui Loading Ramp, yang harus dijalani oleh Buah Kelapa Sawit
dalam rangka pengolahan untuk memperoleh Minyak dan Inti Sawit adalah proses perebusan
atau lazim disebut proses sterilisasi.
Didalam proses perebusan Buah Kelapa Sawit dibiarkan selama 80 sampai 90 menit berada
dibawah pengaruh panas dari uap air (Steam) dengan tekanan sampai 2.8 kg/cm2.
Setiap Pabrik Kelapa Sawit tentunya menginginkan hasil minyak dengan tingkat keasaman yang
rendah, Minyak dengan kwalitas baik, juga menginginkan Minyak yang mudah dipucatkan
(Bleaching).
Buah yang terlalu matang (Over Ripe) dari kebun, pengurasan udara yang kurang baik dari Ketel
Rebusan, waktu perebusan terlalu lama dan suhu perebusan terlalu tinggi mengakibatkan Minyak
yang diperoleh akan lebih sulit dipucatkan.
2.

Maksud Sterilisasi

Maksud dari Sterilisasi antara lain adalah sebagai berikut :


a. Menghentikan Perkembangan ALB (FFA)
Pada awalnya perebusan dimaksudkan adalah untuk menghentikan kenaikan kadar Asam Lemak
Bebas (ALB) atau Free Fatty Acid yang berasal dari buah, dengan cara menghentikan kegiatan
enzym penyebab Hidrolisa Minyak.
Telah dibuktikan bahwa untuk menghentikan enzym sudah cukup dengan merebus sampai suhu
50C selamma beberapa menit saja.
Ditinjau dari sudut lain perebusan mempunyai sangkut paut dengan langkah pengolahan
selanjutnya jika diinginkan hasil yang lebih baik. Maksud perebusan tidak dapat ditinjau dari
segi menghentikan kegiatan enzym saja, sehingga perebusan yang baik harus dilakukan dengan
suhu tinggi dan lebih dari beberapa menit.
b. Memudahkan Pemipilan (Stripping/Threshing)
Untuk melepaskan brondolan (Spikelets Fruits) dari tandan secara manual sebenarnya sudah
cukup merebus dalam air mendidih.

Akan tetapi untuk melepaskan buah dari tandan dengan Stripper, perebusan cara diatas tidak
memadai dan disini diperlukan uap jenuh bertekanan rendah agar diperoleh suhu yang
semestinya dibagian dalam tandan buah.
Kenaikan suhu di dalam tandan buah dapat dihambat oleh adanya udara sekeliling tandan, jadi
udara ini harus dikeluarkan terlebih dahulu sebelum dimulai perebusan yang sebenarnya.
Untuk ini uap masuk dikeluarkan lagi sampai dua kali sebelum dimulai perebusan.
Selama pengeluaran uap dua kali ini, sekeliling tandan sudah bebas udara dan pada pemasukan
uap yang terakhir diharapkan suhu dalam tandan dapat bertambah.
Cara kerja perebusan yang telah disempurnakan, disebut perebusan tiga puncak (Triple Peak
Sterilization), dimana dua puncak pertama uap masuk dan keluar dipergunakan untuk
membebaskan udara sekeliling tandan dan puncak terakhir khusus untuk merebus dan menaikkan
suhu tandan.
c. Penyempurnaan dalam Pengolahan
Selama perebusan tiga puncak kadar air dalam buah menjadi berkurang atau dengan kata lain
kadar air itu sebagian telah diuapkan dari dalam buah. Dengan berkurangnya air, susunan daging
buah (Pericarp) menjadi berobah satu sama lain sehingga pengambilan Minyak dari serat selama
proses pengempaan dan memisahkan dari zat bukan lemak (Non Oil Solid) pada proses
pemurnian akan lebih mudah dikerjakan.
Pada waktu bersamaan sel-sel Minyak akan pecah dan berada dalam keadaan bebas saat
pengeluaran uap perebusan (puncak ketiga).
Senyawa Protein dalam hal ini merupakan cairan Emulsi yang berbeda sehingga lapisan Minyak
lebih mudah dipisahkan sewaktu proses pemurnian.
Untuk keseluruhannya dengan perebusan tiga puncak, akibat dari penguapan sebagian air dalam
daging buah, maka kemungkinan kehilangan Minyak didalam serat maupun dalam lumpur
buangan pada proses pemurnian akan menjadi lebih kecil.
d. Penyempurnaan dalam Pengolahan Inti Sawit
Yang utama dihadapi pada proses pengolahan Inti Sawit adalah sifat lekat dari Inti Sawit
terhadap cangkang, dimana Inti terikat kuat pada cangkangnya. Dengan proses perebusan maka
kadar air dalam biji sebagian dikurangi sehingga daya lekat Inti Sawit terhadap cangkangnya
menjadi berkurang.
Pada proses perebusan tiga puncak pengurangan kadar air dalam biji juga relatif lebih besar
hingga proses pengolahan biji tidak akan mengalami kesulitan lagi.
Artikel Terkait :

Cara Perebusan
Pemeriksaan Sebelum Rebusan Dioperasikan
Perawatan Rebusan
Filed under: Dasar Proses Pabrik | Ditandai: Dasar Dasar Proses, Pabrik Kelapa Sawit,
Perebusan, Sterilisasi | Leave a comment

Pengoperasian Loading Ramp


Posted on Juli 18, 2012 by ivanemmoy
Periksa terlebih dahulu seluruh bahagian unit Loading Ramp sebelum Ramp diisi dengan TBS.
Hal yang perlu diperiksa antara lain sebagai berikut :
Periksa apakah lantai Loading Ramp tidak ada yang rusak/renggang yang memungkinkan
brondolan dapat jatuh kebawah Loading Ramp.
-

Periksa Level olie Hydrolic pada unit Hydrolic Pump.

Periksa apakah pintu-pintu Ramp dapat dibuka dan ditutup seperti biasanya, dll.

Pengisian Loading Ramp harus secara berurutan dan dimulai dari kompartemen pertama hingga
kompartemen terakhir.
Demikian juga halnya dengan pengisian buah dari Loading Ramp kedalam Lorry Rebusan; yaitu
buah yang lebih awal masuk ke Loading Ramp harus lebih dahulu diisikan kedalam Lorry (First
in First out).
Hal ini adalah untuk menghindari kemungkinan naiknya FFA yang disebabkan lamanya buah
tertahan diatas Loading Ramp.
Setiap penuangan buah dari Truck ke Loading Ramp agar selalu diperhatikan apakah ada benda
asing yang terikut masuk antara lain : potongan besi, batu, pelepah sawit, goni-goni plastik ex
pupuk, dll.
Benda-benda asing tersebut agar secepatnya disingkirkan untuk tidak sampai terikut ke instalasi
lainnya di pabrik, karena hal ini sangat berbahaya dan dapat merusak instalasi tersebut.
Pengisian buah kedalam Lorry agar diatur secara merata dan semaksimal mungkin.

Isi lorry yang tidak merata (berat sebelah) akan menyulitkan Hoist Crane pada saat mengangkat
(miring) dan tidak jarang lorry ini terlepas kemudian jatuh dan membahayakan pekerja lain.
Isi lorry yang kurang penuh akan menurunkan effisiensi pemakaian uap (boros), dan disamping
itu akan menjadi penyebab turunnya kapasitas rebusan.
Setiap ada kesempatan agar Loading Ramp dibersihkan dari sampah-sampah yang melekat pada
lantai Ramp (kisi-kisi). Sampah yang dibiarkan melekat pada kisi lantai Ramp akan menghalangi
pemisahan pasir dan kotoran dari tandan buah/brondolan.
Semua jatuhan (pasir dan kotoran) yang ada pada bahagian bawah Ramp harus dibersihkn
minimal seminggu sekali.
Filed under: Dasar Proses Pabrik | Ditandai: Dasar Dasar Proses, Pabrik Kelapa Sawit,
Penerimaan Buah, Pengoperasian Loading Ramp | Leave a comment

Pengoperasian Jembatan Timbang


Posted on Juli 18, 2012 by ivanemmoy
Pemeriksaan Timbangan oleh Bidang Metrologi
Adalah menjadi ketentuan bahwa suatu peralatan timbang (Timbangan), apakah itu Timbangan
Jembatan (Weighbridge) atau Timbangan Analitis maupun Timbangan Elektronik harus
dikalibrasi dan ditera ulang oleh petugas dari Bidang Metrologi setelah dipergunakan selam satu
tahun.
Walapun demikian, apabila terjadi gangguan dan kerusakan kerusakan sebelum jatuh tempo
maka Mill Manager wajib untuk melaporkan kepada Bidang Metrologi agar dapat dilakukan
perbaikan dan kalibrasi.

Pengoperasian Jembatan Timbang.


1. Sebelum jembatan timbang dioperasikan agar terlebih dahulu diperiksa apakah semua
peralatan dapat berfungsi dengan baik.
Sebagai indikasi : Jarum, Numeric Printer harus menunjukkan angka nol (0) pada beban kosong.
Bandingkan terlebih dahulu angka yang ditunjukkan oleh Timbangan Mekanik dengan angka
penunjukkan Timbangan Elektronik terhadap berat beban yang sama, jika ternyata ada selisih
segera diperiksa untuk dapat diketahui apa penyebabnya.

Tingkat perbaikan yang dapat dilakukan adalah sejauh hal tersebut tidak bertentangan dengan
ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Bidang Metrologi, antara lain : tidak membuka
Seal (Segel) yang telah dipasang oleh petugas Bidang Metrologi.
2. Truck yang masuk/keluar timbangan harus secara perlahan-lahan sebab perangkat Elektronik
yang terpasang ditimbangan sangat peka (sensitif) terhadap beban yang mengejut.
Truck yang ditimbang harus berada dibahagian tengah lantai timbangan agar beban yang dipikul
oleh timbangan terbagi rata.
Harus diperhatikan bahwa kapasitas maximum Timbangan adalah 30/40 Ton. Bila secaraVisual
beban yang akan ditimbang melebihi kapasitas maximum jangan dicoba untuk ditimbang sebab
hal ini akan merusak peralatan timbangan.
3. Kondisi ruang Timbangan tetap dipertahankan 20C walaupun Timbangan tidak beroperasi
sebab temperatur kamar tetap berpengaruh terhadap sensitifitas dari perangkat electronic
timbangan. Bersihkan seluruh unit dari debu dan kotoran yang melekat.
Filed under: Dasar Proses Pabrik | Ditandai: Dasar Dasar Proses, Pabrik Kelapa Sawit,
Penerimaan Buah, Pengoperasian Jembatan Timbang | Leave a comment

Proses Penerimaan Buah


Posted on Juli 18, 2012 by ivanemmoy
1.

Penerimaan Buah (Bunch Reception)

Setiap truck yang membawa Buah Kelapa Sawit terlebih dahulu harus ditimbang pada jembatan
timbang (Weighbridge), untuk kemudian menuangkan (Unloading) buah tersebut ke Loading
Ramp. Truck kosong yang kembali dari Loading Ramp sebelum keluar dari lokasi Pabrik harus
ditimbang kembali sehingga berapa jumlah Buah Kelapa Sawit yang masuk ke Pabrik dapat
diketahui beratnya.
Disamping hal diatas jembatan timbang juga berfungsi untuk menimbang Minyak Kelapa Sawit
dan Inti Sawit yang akan dipasarkan.
Unit-unit pendukung Station Bunch Reception (penerimaan buah) antara lain adalah :
-

Weighbridge (Jembatan Timbang)

Loading Ramp

Dirt Conveyor/Dirt Vibrating Screen

2.

Jembatan Timbang (Weighbridge)

Weighbridge (Jembatan Timbang) berfungsi untuk menimbang berapa banyak Buah Kelapa
Sawit yang masuk kedalam Pabrik dan juga berfungsi untuk menimbang produksi yang diangkut
keluar dari Pabrik untuk diserahkan kepada pembeli.
Unit jembatan timbang terdiri dari :

Timbangan Mekanis

- Timbangan Elektronik
- Lantai Jembatan Timbang
Saat ini jembatan timbang yang ada di Minamas Plantation adalah berkapasitas 30 ton s/d 40 ton
sekali timbang.
3.

Loading Ramp

Truck berisi buah yang sudah ditimbang dituang ke Loading Ramp.


Lantai Loading Ramp dilengkapi dengan kisi-kisi yang mempunyai celah ( 10 mm) yang
berguna untuk memisahkan pasir/sampah dari buah agar kotoran-kotoran tersebut tidak sampai
terikut dan merusak instalasi pengolahan.
Pengisian buah kedalam lori agar diatur semaksimal mungkin karena hal ini berhubungan dengan
effisiensi penggunaan uap di Rebusan dan berhubungan juga dengan kapasitas olah Pabrik.
Pada Loading Ramp, hal penting yang perlu mendapat pengawasan dan perhatian adalah
terutama pada saat Loading Ramp tersebut penuh dan sebahagian buah berada di atas lantai
beton.
Pada saat itu, truck-truck yang akan membongkar buah harus diawasi untuk tidak menggilas
(menggiling) buah yang berada diatas lantai beton, karena buah-buah/brondolan yang
hancur/lumat tersebut akan menjadi penyebab tingginya kerugian minyak pada Kondensat
Rebusan. Walaupun minyak-minyak tersebut masih dapat dikutip pada Fat Pit, tetapi tentunya
FFA akan meningkat dan sebaiknya hal ini dicegah.
4.

Dirt Conveyor/Dirt Vibrating Screen

Dirt Conveyor berfungsi untuk menghantar sampah ke tempat pembuangan melalui Dirt
Vibrating Screen.
Brondolan yang tersaring dikumpul dan dimasukkan kembali kedalam lori sehingga kehilangan
minyak dapat dihindarkan.
Filed under: Dasar Proses Pabrik, Tutorial | Ditandai: Dasar Dasar Proses, Pabrik Kelapa Sawit,
Penerimaan Buah | Leave a comment

PENERIMAAN BUAH

Posted on Juli 16, 2012 by ivanemmoy


1. Bahan Mentah (TBS)
Didalam Pabrik Kelapa Sawit, yang disebut bahan mentah adalah Buah Kelapa Sawit atau lazim
disebut Tandan Buah Segar (TBS).

Tandan Buah Segar


Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guinensis jacq) adalah jenis tanaman Palma yang berasal dari
Benua Afrika dan cocok ditanam di daerah tropis serta sudah dikembangkan secara meluas di
daerah Asia Tenggara dan Amerika Selatan.
Buah Kelapa sawit (TBS) adalah tandan berat berkisar 3 kg sampai 40 kg setiap tandan dan
terdiri dari susunan brondolan dengan berat 10 20 gram/brondolan, gagang buah (Stalk), dan
janjang kosong. Pada saat tanaman baru menghasilkan, berat tandan rata-rata relatif rendah dan
akan meningkat sesuai dengan bertambahnya umur tanaman.
Brondolan dari buah Kelapa Sawit terdiri dari unsur-unsur Pericarp, Sabut (Fibre), Endocarp atau
Shell dan inti (Kernel). Selanjutnya Pericarp terdiri dari kulit buah (Exocarp) dan daging buah
atau Pulp (Mesocarp).
2.

Varitas Buah

Buah Kelapa Sawit mempunyai jenis atau varitas yang disebut Dura (D), Deli Dura (DD), Tenera
(T) dan Pisifera (P). Semua tanaman Kelapa Sawit komersil yang diusahakan sekarang ini adalah
dari jenis Tenera, yang merupakan hasil persilangan antara Dura dan Pisifera (=DxP). Keempat
jenis ini paling mudah dibedakan dengan melihat potongan memanjang/melintang dari buahnya.
Setiap varitas buah mempunyai perbedaan sbb :
a. Dura
: Cangkang tebal berukuran 2-8 mm, Mesocarp tipis dan persentase
Mesocarp terhadap buah (M/B) adalah 35%-50%. Extraksi Minyak rendah yaitu 17% 18%, Inti
besar dan bijinya tidak dikelilingi sabut. Jenis Dura tidak lagi ditanam secara komersil sejak awal
tahun enam puluhan.

b. Deli Dura
: Cangkang tebal, persentase mesocarp terhadap buah (M/B) adalah lebih
tinggi dari Dura, bisa mencapai 65 %, dan memiliki inti yang besar. Deli Dura adalah jenis dura
yang dipakai oleh pusat-pusat penelitian untuk produksi Tenera.
c. Tenera
: Cangkang tipis berukuran 0,5 4 mm, persentase Mesocarp terhadap Buah
(M/B) adalah 60%-96%, mempunyai cincin serat disekeliling biji, extraksi Minyak tinggi 22%24%.
d. Pisifera
: Tidak mempunyai Cangkang, mempunyai cincin serat yang tebal
mengelilingi Kernel yang berukuran kecil. Varitas Pisifera tidak dikembangkan untuk tanaman
komersil.
Perbandingan antara Daging buah, Serat, Cangkang serta inti dari keempat Varitas Buah Kelapa
Sawit seperti gambar yang diperlihatkan dibawah ini :

Jenis Buah
3.

Pemeriksaan Buah

Pemeriksaan mutu buah harus dilakukan setiap hari oleh Asisten Pabrik dan disaksikan Asisten
Kebun / Staf QA.
Metode pengambilan contoh yang akan diperiksa mutunya dilakuakan secara acak (random
Sample) terhadap buah yang dipanen pada hari tersebut dengan jumlah minimum sebanyak 15
truck per hari.
Buah yang ada didalam truck diturunkan ke lantai Loading Ramp kemudian buah diambil
sebanyak 100 Janjang secara Random untuk selanjutnya diseleksi menurut kiteria masing-masing
(klasifikasi mutu buah).
4.

Klasifikasi Mutu TBS ( FFB Grading)

Dasar penentuan klasifikasi mutu buah yang dipakai adalah menurut kriteria panen bagi tanaman
sebagai berikut :

Buah mentah adalah buah yang kurang dari 2 brondolan lepas per Kg berat tandannya.

5.

Buah masak normal adalah buah yang lebih dari 2 brondolan lepas per Kg berat
tandannya sampai kurang dari 90% buah yang memberondol terhadap tandannya.

Buah busuk/janjang kosong adalah lebih dari 90% brondolan yang lepas dari tandannya.

Gagang panjang adalah panjang gagang lebih dari 3 cm dari dasar janjang.

Tandan digigit tikus adalah kerusakan tandan yang disebabkan oleh gigitan tikus.
Kategori tandan digigit tikus yaitu apabila brondolan pada tandan telah rusak akibat
gigitan tikus sebanyak 5 brondolan atau lebih. Pada bekas gigitan tersebut akan terlihat
Kernel yang ada didalam brondolan.

Brondolan lepas adalah brondolan yang masuk ke Pabrik dan dihitung persentasenya
terhadap jumlah berat tandan setiap analisa.

Sampah/kotoran adalah kotoran yang ikut masuk bersama buah ke Pabrik, antara lain
adalah : daun sawit, pasir, batu, gagang buah (bonggol), kelopak buah (Calyx) dll.

Buah abnormal (buah batu dan buah sakit) adalah buah yang kelihatan masak tetapi tidak
ada brondolan yang lepas dari tandannya dan pada ujung brondolan timbul retak-retak.

Sedangkan buah sakit ditandai dengan adanya jamur pada permukaan brondolan.
Petugas Dan Peralatan

Pelaksana dalam pemeriksaan mutu buah di pabrik dilakukan oleh petugas pemeriksa
buah/Laboratorium dan disaksikan oleh Staff dari Pabrik dan Lapangan.
Dalam hal menentukan jumlah berat brondolan agar ditakar dengan suatu wadah yang telah
diketahui berat dan isinya. Alat kerja lainnya yang dibutuhkan adalah patil atau gancu model
tangkai pendek.
6.

Data dan Informasi

Contoh buah yang diperiksa agar dikumpulkan pada tempat tertentu untuk setiap Divisi.
Bukti dari buah tersebut dapat dipergunakan oleh Manager Pabrik untuk bahan diskusi dari
tingkat staf sampai ke Mandor dan Petugas potong buah.
Data dari hasil pemeriksaan mutu buah yang telah diperiksa kebenarannya oleh Manager Pabrik
setelah diberi komentar diserahkan kepada Manager Kebun setiap hari dengan membuat
tembusan kepada GM Estate & GM Mill setempat.
Kesimpulan
Pemeriksaan mutu buah harus dilakukan di Pabrik, untuk mendapat gambaran dari mutu TBS
yang akan diolah setiap harinya.

Mutu TBS dengan angka kematangan dan jumlah brondolan semaksikmal mungkin didukung
oleh gagang buah yang tidak panjang sangat diharapkan, untuk membantu kelancaran dalam
proses pengolahan, disamping juga effisiensi dan mutu dari produksi juga akan meningkat.
Data-data dari hasil pemeriksaan mutu buah di Pabrik dapat digunakan sebagai informasi untuk
memonitor mutu pekerjaan dari tukang potong buah dilapangan.

Proses Penerimaan Buah


Posted on Juli 18, 2012 by ivanemmoy
1.

Penerimaan Buah (Bunch Reception)

Setiap truck yang membawa Buah Kelapa Sawit terlebih dahulu harus ditimbang pada jembatan
timbang (Weighbridge), untuk kemudian menuangkan (Unloading) buah tersebut ke Loading
Ramp. Truck kosong yang kembali dari Loading Ramp sebelum keluar dari lokasi Pabrik harus
ditimbang kembali sehingga berapa jumlah Buah Kelapa Sawit yang masuk ke Pabrik dapat
diketahui beratnya.
Disamping hal diatas jembatan timbang juga berfungsi untuk menimbang Minyak Kelapa Sawit
dan Inti Sawit yang akan dipasarkan.
Unit-unit pendukung Station Bunch Reception (penerimaan buah) antara lain adalah :
-

Weighbridge (Jembatan Timbang)

Loading Ramp

Dirt Conveyor/Dirt Vibrating Screen

2.

Jembatan Timbang (Weighbridge)

Weighbridge (Jembatan Timbang) berfungsi untuk menimbang berapa banyak Buah Kelapa
Sawit yang masuk kedalam Pabrik dan juga berfungsi untuk menimbang produksi yang diangkut
keluar dari Pabrik untuk diserahkan kepada pembeli.
Unit jembatan timbang terdiri dari :

Timbangan Mekanis

- Timbangan Elektronik
- Lantai Jembatan Timbang
Saat ini jembatan timbang yang ada di Minamas Plantation adalah berkapasitas 30 ton s/d 40 ton
sekali timbang.
3.

Loading Ramp

Truck berisi buah yang sudah ditimbang dituang ke Loading Ramp.


Lantai Loading Ramp dilengkapi dengan kisi-kisi yang mempunyai celah ( 10 mm) yang
berguna untuk memisahkan pasir/sampah dari buah agar kotoran-kotoran tersebut tidak sampai
terikut dan merusak instalasi pengolahan.
Pengisian buah kedalam lori agar diatur semaksimal mungkin karena hal ini berhubungan dengan
effisiensi penggunaan uap di Rebusan dan berhubungan juga dengan kapasitas olah Pabrik.
Pada Loading Ramp, hal penting yang perlu mendapat pengawasan dan perhatian adalah
terutama pada saat Loading Ramp tersebut penuh dan sebahagian buah berada di atas lantai
beton.
Pada saat itu, truck-truck yang akan membongkar buah harus diawasi untuk tidak menggilas
(menggiling) buah yang berada diatas lantai beton, karena buah-buah/brondolan yang
hancur/lumat tersebut akan menjadi penyebab tingginya kerugian minyak pada Kondensat
Rebusan. Walaupun minyak-minyak tersebut masih dapat dikutip pada Fat Pit, tetapi tentunya
FFA akan meningkat dan sebaiknya hal ini dicegah.
4.

Dirt Conveyor/Dirt Vibrating Screen

Dirt Conveyor berfungsi untuk menghantar sampah ke tempat pembuangan melalui Dirt
Vibrating Screen.
Brondolan yang tersaring dikumpul dan dimasukkan kembali kedalam lori sehingga kehilangan
minyak dapat dihindarkan.

Proses Penerimaan Buah


Posted on Juli 18, 2012 by ivanemmoy
1.

Penerimaan Buah (Bunch Reception)

Setiap truck yang membawa Buah Kelapa Sawit terlebih dahulu harus ditimbang pada jembatan
timbang (Weighbridge), untuk kemudian menuangkan (Unloading) buah tersebut ke Loading
Ramp. Truck kosong yang kembali dari Loading Ramp sebelum keluar dari lokasi Pabrik harus
ditimbang kembali sehingga berapa jumlah Buah Kelapa Sawit yang masuk ke Pabrik dapat
diketahui beratnya.
Disamping hal diatas jembatan timbang juga berfungsi untuk menimbang Minyak Kelapa Sawit
dan Inti Sawit yang akan dipasarkan.
Unit-unit pendukung Station Bunch Reception (penerimaan buah) antara lain adalah :
-

Weighbridge (Jembatan Timbang)

Loading Ramp

Dirt Conveyor/Dirt Vibrating Screen

2.

Jembatan Timbang (Weighbridge)

Weighbridge (Jembatan Timbang) berfungsi untuk menimbang berapa banyak Buah Kelapa
Sawit yang masuk kedalam Pabrik dan juga berfungsi untuk menimbang produksi yang diangkut
keluar dari Pabrik untuk diserahkan kepada pembeli.
Unit jembatan timbang terdiri dari :

Timbangan Mekanis

- Timbangan Elektronik
- Lantai Jembatan Timbang
Saat ini jembatan timbang yang ada di Minamas Plantation adalah berkapasitas 30 ton s/d 40 ton
sekali timbang.
3.

Loading Ramp

Truck berisi buah yang sudah ditimbang dituang ke Loading Ramp.

Lantai Loading Ramp dilengkapi dengan kisi-kisi yang mempunyai celah ( 10 mm) yang
berguna untuk memisahkan pasir/sampah dari buah agar kotoran-kotoran tersebut tidak sampai
terikut dan merusak instalasi pengolahan.
Pengisian buah kedalam lori agar diatur semaksimal mungkin karena hal ini berhubungan dengan
effisiensi penggunaan uap di Rebusan dan berhubungan juga dengan kapasitas olah Pabrik.
Pada Loading Ramp, hal penting yang perlu mendapat pengawasan dan perhatian adalah
terutama pada saat Loading Ramp tersebut penuh dan sebahagian buah berada di atas lantai
beton.
Pada saat itu, truck-truck yang akan membongkar buah harus diawasi untuk tidak menggilas
(menggiling) buah yang berada diatas lantai beton, karena buah-buah/brondolan yang
hancur/lumat tersebut akan menjadi penyebab tingginya kerugian minyak pada Kondensat
Rebusan. Walaupun minyak-minyak tersebut masih dapat dikutip pada Fat Pit, tetapi tentunya
FFA akan meningkat dan sebaiknya hal ini dicegah.
4.

Dirt Conveyor/Dirt Vibrating Screen

Dirt Conveyor berfungsi untuk menghantar sampah ke tempat pembuangan melalui Dirt
Vibrating Screen.
Brondolan yang tersaring dikumpul dan dimasukkan kembali kedalam lori sehingga kehilangan
minyak dapat dihindarkan.