Anda di halaman 1dari 93

botani tumbuhan rendah

BAB I

PRINSIP-PRINSIP KLASIFIKASI
Objek studi taksonomi tumbuhan adalah semua jenis tumbuhan baik yang ada
sekarang maupun tumbuhan yang sudah punah. Tumbuhan di dunia ini sangat beragam, baik
dalam struktur, bentuk, ukuran, fungsi, maupun yang lainnya. Klasifikasi tumbuhan
diperlukan untuk penggolongan - penggolongan tumbuhan berdasarkan pada sifat dan ciri
yang ada pada keanekaragaman tumbuhan itu sendiri. Klasifikasi adalah proses pengaturan
tumbuhan dalam tingkat - tingkat kesatuan kelasnya yang sesuai secara ideal berdasarkan atas
persamaan dan perbedaannya. Klasifikasi bertujuan untuk mendapatkan kesamaan sifat dan
ciri pada keanekaragaman tumbuhan tersebut. Klasifikasi dicapai untuk menyatukan
golongan yang sama dan memisahkan golongan yang berbeda . semakin kecil tingkatan
takson, kesamaan yang diperoleh semakin banyak. Masing-masing takson menunjukkan
kedudukan atau tingkat dalam hierarki penataan takson tumbuhan, sebagai berikut :
1.

Unsur utama yang menjadi ruang lingkup Taksonomi Tumbuhan adalah pengenalan
(identifikasi), pemberian nama dan penggolongan atau klasifikasi.

2.

Peraturan tentang pemberian nama ilmiah perlu diciptakan agar ada kesamaan pemahaman di
antara ahli-ahli Botani di seluruh dunia tentang apa yang dimaksud.

3.

Nama ilmiah adalah nama-nama dalam bahasa Latin atau bahasa yang diperlakukan sebagai
bahasa Latin tanpa memperhatikan dari bahasa mana asalnya.

4. Setiap individu tumbuhan termasuk dalam sejumlah taksa yang jenjang tingkatnya berurutan.
5. Tingkat jenis (species) merupakan dasar dari seluruh takson yang ada.
6. Nama-nama takson di atas tingkat suku (familia) diambil dari ciri khas yang berlaku untuk semua
warga dengan akhiran yang berbeda menurut tingkatnya.
7.

Nama suku (familia) merupakan satu kata sifat yang diperlakukan sebagai kata benda
berbentuk

jamak. Nama tersebut diambil dari nama salah satu marga yang termasuk dalam

suku tadi ditambah dengan akhiran aceaae


8.

Nama marga merupakan kata benda berbentuk mufrad atau suatu kata yang diperlakukan
demikian. Kata ini dapat diambil dari sumber mana pun, dan dapat disusun dalam cara
sembarang.

9.

Nama ilmiah untuk jenis harus bersifat ganda, artinya terdiri atas dua suku kata yang berbentuk
mufrad yang diperlakukan sebagai bahasa Latin

10. Nama takson tingkat suku ke bawah diikuti nama orang yang memberikan nama ilmiah dalam
bentuk singkatan

1.1.

KRITERIA KLASIFIKASI TUMBUHAN


Dalam pengklasifikasian tumbuhan perlu diperhartikan beberapa kriteria sebagai berikut :

a.

Jumlah sel penyusun tubuh tumbuhan; ada tumbuhan bersel satu (uniseluler) dan ada yang
bersel banyak (multiseluler).

b.

Organ perkembangbiakannya.

c.

Habitus tumbuhan waktu hidupnya; tegak, menjalar, atau merambat.

d.

Struktur jaringan pengangkut (Xilem dan Floem).

e.

Tipe silinder pusat (stele), ada tiga tipe stele yaitu: Protostele, sifonostele, dan diktiostele.

f.

Bentuk dan ukuran daun ; dikenal dua macam bentuk dan ukuran daun yakni, makrofil dan
mikrofil.

g.

cara berkembang biak; seksual (generatif) dan aseksual (vegetatif). pada cara generatif akan
diperoleh hasil fertilisasi yang bersifat heterogamet atau isogamet.

h.

Biji, bunga dan buah; ada tidaknya biji dan bunga dapat dipakai untuk menetukan tingkat
keprimitifan suatu tumbuhan.

1.2. PERKEMBANGAN SISTEM KLASIFIKASI


1.2.1. Periode tertua
Periode ini berlangsung dari awal sejak ada kegiatan taksonomi sampai abad ke-4 SM.
Pada periode ini belum dikenal adanya sistem klasifikasi yang diakui secara formal. Orangorang pada saat itu mengklasifikasikan tumbuhan berdasarkan atas manfaatnya, sehingga
periode ini dinamakan dengan periode sistem manfaat.
1.2.2. Periode sistem habitus ( abad ke-4 SM sampai abad ke-17 SM)
Pada periode ini, pengklasifikasian didasarkan atas perawakan ( habitus), yang golongan
utamanya disebut dengan nama pohon, perdu, semak, tumbuhan memanjat, dan terna.
Theophrastes sebagai bapak Ilmu Tumbuhan juga mengelompokkan tumbuhan menurut umur
yaitu: tumbuhan berumah pendek (anual), tumbuhan berumur 2 tahun (biennial), serta
tumbuhan berumur panjang (perenial). Selain Theophrastes, adapula beberapa tokoh yang
berperan besar dalam perkembangan taksonomi, antara lain :
a. Dioscroides, menyatakan pentingnya pemberian deskripsi pada setiap tumbuhan disamping
pemberian namanya.
b. Linius, membedakan pohon pohonan, bangsa gandum, sayuran, tanaman obat, rerumputan,
dsb.

c. A . Magnus, berhasil membedakan tumbuhan monokotil dan dikotil atas dasar sifat-sifat
batangnya.
d. J. Ray, telah membedakan tumbuhan berkayu, tumbuhan berbatang basah, dan membedakan
antara tumbuhan biji tunggal dan tumbuhan biji yang berbelah.
1.2.3. Periode sistem Numerik (permulaan abad ke-18)
Pada periode ini, sistem klasifikasi tumbuhan ditandai dengan sifat sistem yang murni
artificial. Klasifikasi ini sengaja dirancang untuk membatu dalam identifikasi tumbuhan.
Klasifikasi didasarkan pada jumlah dari suatu organ atau bagian tumbuhan. Carolus Linnaeus
adalah tokoh yang paling terkenal pada periode ini. Linnaeus mengklasifikasikan tumbuhan
berdasarkan kesamaan jumlah alat-alat kelamin.
1.2.4. Periode sistem klasifikasi yang didasarkan atas kesamaan bentuk atau sistem alam (A bad ke18 sampai abad ke-19)
Sistem klasifikasi tumbuhan pada periode ini dinamakan sistem alam. Tokoh yang terkenal
pada

nasa

ini

adalah

J.B

de

Lamarck.

Lamarck

berhasil

membuat

kunci

untuk pengidentifikasian tumbuh-tumbuhan dan merupakan perintis lahirnya teori evolusi. De


Jussieu membagi tumbuhan berdasarkan ada tidaknya kotiledon menjadi Acotyledoneae,
Monocolyledoneae, dan Dicotyledoneae.
1.2.5. Periode sistem filogenetik
Periode ini berlangsung dari pertengahan abad ke-29 sampai sekarang. Tumbuhan
digolongkan berdasarkan

sejarah

perkembangan

filogenetiknya

sehingga

mampu

menunjukkan hubungan kekerabatan suatu golongan maupun.individu. Tokoh yang tekenal


pada saat periode ini antara lain :
a. August Wilhelm Eichler, mengklasifikasikan tumbuhan menjadi dua kelompok yaitu
Cryptogamae danP hanerogamae
b. Adolph Engler, membagi alam tumbuhan ke dalam sejumlah afdeling. Engler juga
berpendapat bahwa Monocotyledonae lebih primitif daripata Dycotyledonae, dan bangsa
anggrek jauh lebih maju daripada rumput.
1.2.6. Periode Sistem Kontemporer Lainnya
1.

A lfred Barton Rendle (1865-1934)


Sistem Rendle didasarkan pada sistem Engler danP rantl, ini merupakan salah satu

sistem filogenetik modern yang cukup baik dan berarti. Randle memperlskuksn
Dycotyledoneae lebih primitive dibandingkan dengan Monocotyledoneae.

2.

Karl Christian Mez ( 1866-1944)


Karya professor botani dari Jerman pada tahun 1926 menganalisa reaaksi protein

untuk melihat hubungan kekeraabatan tumbuhan secara genetik.


Untuk mengenali dan mempelajari makhluk hidup secara keseluruhan tidak mudah
sehingga dibuat klasifikasi (pengelompokan) makhluk hidup.Klasifikasi makhluk hidup
adalah suatu cara memilah dan mengelompokkan makhluk hidup menjadi golongan atau
unit tertentu. Urutan klasifikasi makhluk hidup dari tingkat tertinggi ke terendah (yang
sekarang digunakan) adalah Domain (Daerah), Kingdom (Kerajaan), Phylum atau
Filum (hewan)/Divisio,Classis (Kelas), Ordo (Bangsa), Famili (Suku), Genus (Marga), dan
Spesies (Jenis).
1.3.

TUJUAN KLASIFIKASI MAKHLUK HIDUP


Untuk mempermudah mengenali, membandingkan, dan mempelajari makhluk hidup.
Membandingkanberarti mencari persamaan dan perbedaan sifatatau ciri pada makhluk
hidup. Klasifikasi makhluk hidup didasarkan pada persamaan dan perbedaan ciri yang
dimiliki makhluk hidup, misalnya bentuktubuh atau fungsi alat tubuhnya. Makhluk hidup
yang

memliliki

ciri yang

sama

dikelompokkan

dalam

satu

golongan.

Contoh

klasifikasi makhluk hidup adalah :


1.

Berdasarkan ukuran tubuhnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan menjadi pohon, perdu,


dan semak.

2.

Berdasarkan lingkungan tempat hidupnya. Contoh: Tumbuhandikelompokkan menjadi


tumbuhan yang hidup di lingkungan kering(xerofit), tumbuhan yang hidup dilingkungan air
(hidrofit), dan tumbuhan yang hidup di lingkungan lembab (higrofit).

3.

Berdasarkan manfaatnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan menjadi tanaman obat-obatan,


tanaman sandang, tanaman hias, tanaman pangan dan sebagainya

4.

Berdasarkan jenis makanannya.


Sistem Klasifikasi dalam Sejarah Perkembangan Taksonomi Tumbuhan Sistem
klasifikasi yang ada dalam dunia taksonomi tumbuhan, antara lain: Sistem buatan (sistem
artifisial) Tujuan klasifikasi ini untuk mempermudah pengenalan, dasarnya hanya satu atau
dua ciri - ciri morfologi yang mudah dilihat. Sistem alami Klasifikasi ini mencerminkan
keadaan yang sebenarnya seperti terdapat di alam.

1.4.

SISTEM FILOGENETIK

Klasifikasi ini menekankan keeeratan hubungan kekerabatan nenek moyang


takson - takson satu sama lain.A da sifat sifat yang dianggap lebih primitif dan ada
sifat - sifat yang dianggap lebih.

1.5.

MANFAAT KLASIFIKASI
Selain memiliki tujuan, klasifikasi juga bermanfaat untuk kepentingan manusia. Adapun
manfaat klasifikasi antara lain sebagai berikut.

a.

Menyederhanakan objek studi.


Apabila kita akan mempelajari sesuatu tidak perlu semua makhluk hidup yang ada di muka
bumi diteliti satu persatu, tetapi cukup dengan sampel atau perwakilan dari objek tersebut yang
dianggap sudah mewakili semua. Misalnya untuk mempelajari serangga atau lebah dengan
karekteristik yang mewakili serangga tersebut.

b.

Diketahui hubungan kekerabatan.


Dengan melihat hubungan pengelompokan\klasifikasi tersebut dapat diketahui hubungan
kekerabatannya. Misalnya, ayam lebih dekat hubungan kekerabatannya dengan bebek daripada
dengan ular.

BAB II

TATA NAMA TUMBUHAN


Tata nama dalam biologi telah mengalami perubahan berkali-kali semenjak manusia
mencatat berbagai jenis organisme. Plinius dari masaKekaisaran Romawi telah menulis
sejumlah nama tumbuhan dan hewan dalamensiklopedia yang dibuatnya dalam bahasa Latin.
Sistem penamaan organisme selanjutnya selalu menggunakan bahasa Latin dalam tradisi
pencatatan Eropa. Hingga sekarang sukar dijumpai sistem penulisan nama organisme yang
dipakai dalam tradisi Arab atau Tiongkok. Kemungkinan dalam tradisi ini penulisan nama
menggunakan nama setempat (nama lokal). Keadaan berubah setelah cara penamaan yang

lebih sistematik diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus dalam kitab yang ditulisnya, Systema
Naturae ("Sistematika Alamiah").
2.1.

TATA NAMA BINOMIAL


Tata nama binomial (binomial berarti 'dua nama') merupakan aturan penamaan baku bagi

semua organisme (makhluk hidup) yang terdiri dari dua kata dari sistem taksonomi (biologi),
dengan mengambil nama genus dan nama spesies. Nama yang dipakai adalah nama baku yang
diberikan dalam bahasa Latin atau bahasa lain yang dilatinkan. Aturan ini pada awalnya
diterapkan untuk fungi, tumbuhan dan hewan oleh penyusunnya (Carolus Linnaeus), namun
kemudian segera diterapkan untuk bakteri pula. Sebutan yang disepakati untuk nama ini adalah
'nama ilmiah' (scientific name). Awam seringkali menyebutnya sebagai "nama latin" meskipun
istilah ini tidak tepat sepenuhnya, karena sebagian besar nama yang diberikan bukan istilah asli
dalam bahasa latin melainkan nama yang diberikan oleh orang yang pertama kali
memberi pertelaan atau deskripsi (disebut deskriptor) lalu dilatinkan.
Penamaan organisme pada saat ini diatur dalam Peraturan Internasional bagi Tata
Nama Botani (ICBN) bagi tumbuhan, beberapa alga, fungi, dan lumut kerak, serta fosil
tumbuhan; Peraturan Internasional bagi Tata Nama Zoologi (ICZN) bagi hewan dan fosil
hewan; danPeraturan Internasional bagi Tata Nama Prokariota (ICNP). Aturan penamaan
dalam biologi, khususnya tumbuhan, tidak perlu dikacaukan dengan aturan lain yang berlaku
bagi tanaman budidaya (Peraturan Internasional bagi Tata Nama Tanaman Budidaya,
ICNCP).

2.2.
a.

ATURAN PENULISAN

Aturan penulisan dalam tatanama binomial selalu menempatkan nama ("epitet" dari epithet)
genus di awal dan nama ("epitet") spesies mengikutinya.

b.

Nama genus SELALU diawali dengan huruf kapital (huruf besar,uppercase) dan nama
spesies SELALU diawali dengan huruf biasa (huruf kecil, lowercase).

c.

Penulisan nama ini tidak mengikuti tipografi yang menyertainya (artinya, suatu teks yang
semuanya menggunakan huruf kapital/balok, misalnya pada judul suatu naskah, tidak
menjadikan penulisan nama ilmiah menjadi huruf kapital semua) kecuali untuk hal berikut :

1. Pada teks dengan huruf tegak (huruf latin), nama ilmiah ditulis dengan huruf miring (huruf
italik), dan sebaliknya. Contoh: Glycine soja, Pavo muticus. Perlu diperhatikan bahwa
cara penulisan ini adalah konvensi yang berlaku saat ini sejak awal abad ke-20.
Sebelumnya, seperti yang dilakukan pula oleh Carolus Linnaeus, nama atau epitet spesies
diawali dengan huruf besar jika diambil dari nama orang atau tempat.
2.

Pada teks tulisan tangan, nama ilmiah diberi garis bawah yang terpisah untuk nama genus
dan nama spesies.

d.

Nama lengkap (untuk hewan) atau singkatan (untuk tumbuhan) darideskriptor boleh
diberikan di belakang nama spesies, dan ditulis dengan huruf tegak (latin) atau tanpa garis
bawah (jika tulisan tangan). Jika suatu spesies digolongkan dalam genus yang berbeda dari
yang berlaku sekarang, nama deskriptor ditulis dalam tanda kurung. Contoh: Glycine
max Merr., Passer domesticus (Linnaeus, 1978) yang terakhir semula dimasukkan dalam
genus Fringilla, sehingga diberi tanda kurung (parentesis).

e.

Pada penulisan teks yang menyertakan nama umum/trivial, nama ilmiah biasanya menyusul
dan diletakkan dalam tanda kurung. Contoh pada suatu judul: "PENGUJIAN DAYA TAHAN
KEDELAI (Glycine maxMerr.) TERHADAP BEBERAPA TINGKAT SALINITAS".
(Penjelasan: Merr. adalah singkatan dari deskriptor (dalam contoh ini E.D. Merrill) yang hasil
karyanya diakui untuk menggambarkanGlycine max. Nama Glycine max diberikan dalam
judul karena ada spesies lain, Glycine soja, yang juga disebut kedelai.).

f.

Nama ilmiah ditulis lengkap apabila disebutkan pertama kali. Penyebutan selanjutnya cukup
dengan mengambil huruf awal nama genus dan diberi titik lalu nama spesies secara lengkap.
Contoh:Tumbuhan dengan bunga terbesar dapat ditemukan di hutan-hutan Bengkulu, yang
dikenal sebagai padma raksasa (Rafflesia arnoldii). Di Pulau Jawa ditemukan pula
kerabatnya, yang dikenal sebagai R. patma, dengan ukuran bunga yang lebih
kecil. Sebutan E. coli atau T. rex berasal dari konvensi ini.

g.

Singkatan "sp." (zoologi) atau "spec." (botani) digunakan jika nama spesies tidak dapat atau
tidak perlu dijelaskan. Singkatan "spp." (zoologi dan botani) merupakan bentuk jamak.
Contoh: Canis sp., berarti satu jenis dari genus Canis; Adiantum spp., berarti jenisjenisAdiantum.

h.

Sering dikacaukan dengan singkatan sebelumnya adalah "ssp." (zoologi) atau "subsp."
(botani) yang menunjukkan subspesies yang belum diidentifikasi. Singkatan ini berarti
"subspesies", dan bentuk jamaknya "sspp." atau "subspp.

i.

Singkatan

"cf."

(dari confer)

dipakai

jika

identifikasi

nama

belum

pasti.

Contoh: Corvus cf. splendens berarti "sejenis burung mirip dengan gagak (Corvus splendens)
tapi belum dipastikan sama dengan spesies ini".
j.

Penamaan fungi mengikuti penamaan tumbuhan.

k.

Tatanama binomial dikenal pula sebagai "Sistem Klasifikasi Binomial"


Dewasa ini kita telah memiliki kode Internasional Tata Nama Tumbuhan (international
Code of Botanical Nomenclature) dan kode international Tata Nama Hewan (International Code
of Zoological Nomenclature).
1). Cara Menulis Nama Jenis

Ketentuan - ketentuan yang harus dipenuhi dalam menulis nama jenis dengan sistem tata
nama binomial adalah sebagai berikut :
a.

huruf pertama dari kata yang menyebutkan marga (genus) ditulis dengan huruf besar, edangkan
untuk kata penunjuk spesies ditulis dengan huruf kecil semua . Contoh: Zea mays; Zea = genus
mays = spesies

b.

Bila nama jenis ditulis dengan tangan atau ketik, harus diberi garis bawah pada kedua kata
nama tersebut. Namun bila dicetak harus memakai huruf miring (tanpa garis bawah). contoh:
Zea mays bila dicetak ; Zea mays bila diketik.

c.

Bila nama penunjuk jenis pada tumbuhan lebih dari dua kata , kedua kata tersebut harus
dirangkaikan dengan tanda penghubung. Contoh: Hibiscus rosa sinensis menjadi Hibiscus rosasinensis.
Jenis hewan yang terdiri dari tiga suku kata seperti :

a.

Felis maniculata domestica (kucing jinak) tidak dirangkai dengan tanda penghubung sedang
untuk varietas perhatikan contoh, Hibiscus sabdarifa varalba (rosela varietas putih).

b.

bila nama jenis itu diberikan untuk mengenang jasa orang yang menemukannya maka nama
penemu dapat dicantumkan dengan menambah huruf (i) di belakangnya. contohnya antara lain
tanaman pinus yang ditemukan oleh merkus , maka tanaman itu pinus merkusii.
2). Nama Marga / Genus
Nama marga / genus tumbuhan maupun hewan terdiri atas satu kata tunggal yang dapat
diambil dari kata apa saja, dapat dari nama hewan, tumbuhan, zat kandungan, dan sebagainya.
Huruf pertamanya ditulis dengan huruf besar. Contoh marga tumbuhan: Solanum
(terung - terungan), marga hewan: Canis (anjing), Felis (Kucing).
3). Nama Suku / Famili
Nama Famili diambil dari nama genus organisme yang bersangkutan ditambah akhiran
acceaebila itu tumbuhan dan idea bila mahluk itu hewan. Contoh nama famili pada tumbuhan:
famili Solanaceae dari solanum + aceae (terung - terungan). contoh nama famili hewan :
Familia Canidae dari Canis + idae
Famili Felidae dari Felis + idae .
4). Nama Kelas
Adalah nama genus + nae, contoh : Equisetum + nae, menjadi kelas Equisetinae.
5). Nama Ordo
Adalah nama genus + ales , contoh : Zingiber + ales, menjadi ordo Zingiberales.

2.3. TAKSONOMI TUMBUHAN


Identifikasi

1. Identifikasi tumbuhan adalah menentukan namanya yang benar dan tempatnya yang tepat dalam
sistem klasifikasi.
2.

Tumbuhan yang akan diidentifikasikan mungkin belum dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan
(belum ada nama ilmiahnya), atau mungkin sudah dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan.

3.

Penentuan nama baru dan penentuan tingkat-tingkat takson harus mengikuti aturan yang ada
dalam KITT.

4.

Prosedur identifikasi tumbuhan yang untuk pertama kali akan diperkenalkan ke dunia ilmiah
memerlukan bekal ilmu pengetahuan yang mendalam tentang isi KITT.

5.

Untuk identifikasi tumbuhan yang telah dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan, memerlukan
sarana antara lain bantuan orang, spesimen herbarium, buku-buku flora dan monografi, kunci
identifikasi dan lembar identifikasi jenis.

6.

Flora adalah suatu bentuk karya taksonomi tumbuhan yang memuat jenis-jenis tumbuhan yang
ditemukan dalam suatu wilayah tertentu.

7.

Monografi adalah suatu bentuk karya taksonomi tumbuhan yang memuat jenis-jenis tumbuhan
yang tergolong dalam kategori tertentu. baik yang terbatas pada suatu wilayah tertentu saja
maupun yang terdapat di seluruh dunia.

8. Kunci identifikasi merupakan serentetan pertanyaan-pertanyaan yang jawabnya harus ditemukan


pada spesimen yang akan diidentifikasi.
9.

Bila semua pertanyaan berturut-turut dalam kunci identifikasi ditemukan jawabnya, berarti
nama serta tempatnya dalam sistem klasifikasi tumbuhan yang akan diidentifikasi dapat
diketahui.

10. Lembar Identifikasi Jenis adalah sebuah gambar suatu jenis tumbuhan yang disertai dengan
nama klasifikasi jenis yang bersangkutan.
Klasifikasi makhluk hidup didasarkan pada persamaan dan perbedaan ciri yang dimiliki
makhluk hidup, misalnya bentuk tubuh atau fungsi alat tubuhnya. Makhluk hidup yang
memliliki ciri yang sama dikelompokkan dalam satu golongan. Contoh klasifikasi makhluk hidup
adalah :
1) Berdasarkan ukuran tubuhnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan menjadi pohon, perdu, dan
semak.
2) Berdasarkan lingkungan tempat hidupnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan menjadi
tumbuhan yang hidup di lingkungan kering (xerofit), tumbuhan yang hidup di lingkungan air
(hidrofit), dan tumbuhan yang hidup di lingkungan lembab (higrofit).
3)

Berdasarkan manfaatnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan menjadi tanaman obat-obatan,


tanaman sandang, tanaman hias, tanaman pangan dan sebagainya

4) Berdasarkan jenis makanannya. Contoh: Hewan dikelompokkan menjadi hewan pemakan


daging (karnivora), hewan pemakan tumbuhan (herbivora), dan hewan pemakan hewan serta
tumbuhan (omnivora).

BAB III

KLASIFIKASI TUMBUHAN RENDAH


Di dunia terdapat tidak kurang dari 500 juta macam organisme. Organisme tersebut
memilik ciri-ciri yang beraneka ragam. Beberapa ahli biologi mencoba menciptakan suatu
system untuk mempermudah mengenal dan mempelajari organisme melalui suatu cara
pengklasifikasian.
Copeland adalah seorang tokoh yang mengklasifikasikan makhluk hidup menjadi
empat Kingdom yaitu Monera, Protoctista, Metaphyta dan Metazoa.
1.

Monera, adalah organisme yang belum memiliki membran inti dan membran organel
sel atau bersifat prokariotik. Yang terdiri atas :Bacteria (Schizomycetes) dan alga

2.
3.
4.

hijau-biru (Cyanophyta).
Protista, yang bersifat Eukariotik.
Metaphyta, adalah tumbuhan yang mengalami masa perkembangan embrio.
Metazoa, adalah kelompok hewan yang mengalami masa perkembangan embrio
dalam siklus hidupnya.

3.1.

DIVISI TUMBUHAN RENDAH


Dalam dunia botani tumbuhan rendah dikenal berbagai divisi yang termasuk kedalam
tumbuhan rendah antara lain : Schyzophyta (tumbuhan belah),Alga (protista mirip
tumbuhan), Fungi/jamur, Thallophyta (tumbuhan tahlus),

Bryophyta (tumbuhan lumut),

Pteridophyta (tumbuhan paku), Lichen (lumut kerak). Masing-masing tumbuhan tersebut

diuraikan dalam divisi dibawah ini.


3.1.1. Divisi Schizophyta (Tumbuhan belah)
Divisi schizophita, berkembang biak dengan cara membelah, tubuh hanya terdiri atas
satu sel saja, protoplas belum terdiferensiasi dengan jelas, sehinga ini belum tampak nyata,
demikian pula plastidanya.
a). Schizophita dibagi atas 2 kelas, yaitu :
1. Kelas Bacteria atau Schizomycetes (Bakteri)

Gambar 3.1 : Amoeba


2.

Kelas cyanophyceae (alga biru)

Gambar 3.2 : Alga biru


3.1.2. Alga
Alga merupakan kelompok organisme yang bervariasi baik bentuk, ukuran, maupun
komposisi senyawa kimianya. Alga ini ada berbentuk uniseluler (contoh : chlorococcus sp),
koloni (volvox sp), benang (filamen) (contoh :spyrogyra sp), serta bercabang atau pipih
(contoh : ulva sp, sargasum sp danEuchema sp).
a). Ciri-ciri alga, yaitu :
1. Tidak memiliki akar, batang dan daun sejati.
2. Tubuh seperti talus
3. Hidup di perairan
4. Reproduksi secara aseksual dan seksual
b). Alga dikelompokkan menjadi 4 divisi, yaitu :

1. Chlorophyta (alga hijau)

Gambar 3.3 : Chlorophyta (alga hijau)


2. Chrysophyta (alga keemasan)

Gambar 3.4 : Chrysophyta (alga keemasan)


3. Phaeophyta (alga coklat)

Gambar 3.5: Phaeophyta (alga coklat)


4. Rhodophyta (alga merah).

Gambar 3.6 : Rhodophyta (alga merah)


3.1.3. Divisi Thallophyta (tumbuhan talus)
Divisi ini meliputi tumbuh-tumbuhan yang memiliki sebagai ciri utama tubuh yang
berbentuk tallus

yakni

yamg

tidak dapat

dibedakan antara akar, batang,

dan

daun. Perkembangbiakan terjadi dengan cara vegetativ atau aseksual maupun secara
generativ atau seksual.
Berdasarkan ciri utama yang menyangkut cara hidupnya divisi thallophyta dibedakan
atas 3 anak divisi yaitu :ggang merupakan tumbuhan tallus hidup di air tawar maupun air laut,
selalu menempati habitat yang lembab atau basah, ada yang bergerak aktif seperti plankton
dan ada yang tidak bergerak aktif.

3.1.4. Divisi Bryophita (tumbuhan lumut)


Lumut merupakan tumbuhan darat sejati, walaupun masih menyukai tempat yang
lembab dan basah. Perkembangan lumut secara singkat yaitu spora yang kecil dan haploid,
berkecambah menjadi suatu protalium(protonema) kemudian ada yan menjadi besar, adapula
yang tetap kecil.
Lumut dibagi dalam beberapa kelas, yaitu :
1. Kelas Hepaticae (lumut hati)
2. Kelas Musci (Lumut daun)
3.1.5. Fungi atau Jamur
Jamur merupakan kelompok organisme eukariotik yang membentuk dunia jamur atau
Kingdom fungi.

Gambar 3.7 : Jamur (fungi)

Fungi hidup pada lingkungan yang beragam namun sebagian besar jamur hidup di
tempat yang lembab. Habitat fungi berada di darat (terestrial) dan di tempat lembab.
Meskipun demikian banyak pula fungi yang hidup pada organisme atau sisa-sisa organisme
di laut atau di air tawar.
a.

Ciri Ciri Umum Jamur ( Fungi )

1.

Fungi atau jamur termasuk organisme eukariotik yang tidak berkhlorofil, bersifat heterotrofik .

2.

Berdasarkan sumber makanannya Fungi ada yang bersifat parasitik dan ada yang bersifat
saprofitik.

3.

Fungi yang hidup parasitik mendapat makanannya dari bahan organik yang masih menjadi
bagian dari inang yang hidup.

4.

Fungi yang bersifat saprofitik mendapatkan makanannya dari bahan organik yang sudah mati .

5.

Beberapa fungi mampu bersimbiosis mutualisme dengan organisme lain yaitu hidup bersama
dengan organisme lain agar saling mendapatkan keuntungan, misalnya akar dari kebanyakan
tanaman mengembangkan hubungan yang saling menguntungkan untuk membentuk mikoriza.
Mikoriza mampu meningkatkan kapasitas penyerapan nutrient dari akar tanaman.

3.1.6. Divisi Pterodophyta (Tumbuhan paku)

Gambar 3.8 : Tumbuhan paku


Merupakan suatu divisi yang telah jelas mempunyai kormus, pada tumbuhan paku
menghasilkan biji, tumbuhan paku amat heterogen baik ditingaju dari segi habitus maupun
cara hidupnya.
Pterodophyta dibedakan dalam beberapa kelas, yaitu :
1. Kelas Psilotopsida
2. Kelas Equisetopsida
3. Kelas Marattiopsida
4. Kelas Polypodiopsida.
3.1.7

Lichenes (Lumut kerak)

Gambar 3.9 : Lichenes

Lumut kerak mampu hidup pada daerah bebatuan dan mampu merubah area tandus
berbatu menjadi tempat yang digunakan untuk tumbuh-tumbuhan lain.
a.

Peran lumut kerak bagi manusia adalah :

1. Sebagai tumbuhan perintis.


2. Membantu siklus nitrogen.
3. Sebagai indikator lingkungan.
4. Peranan lain dari lumut kerak.
b. Perkembangbiakan lumut kerak dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:

1. Vegetatif
Dilakukan dengan cara fragmentasi soredium. Jika Soredium terlepas, kemudian terbawa angin
atau air dan tumbuh di tempat lain.
2. Generatif.
Reproduksi generatif spora yang dihasilkan oleh askokarp atau basidiokarp, sesuai dengan jenis
jamurnya. Spora dapat tumbuh menjadi lumut kerak baru jika bertemu dengan jenis alga yang
sesuai.

BAB IV

FUNGI (JAMUR)
Fungi dulu dikelompokkan sebagai tumbuhan. Dalam perkembangannya, fungi
dipisahkan dari tumbuhan karena banyak hal yang berbeda. Fungi bukan autotrof seperti
tumbuhan melainkan heterotrof sehingga lebih dekat ke hewan. Usaha menyatukan fungi dengan
hewan pada golongan yang sama juga gagal karena fungi mencerna makanannya di luar tubuh
(eksternal), tidak seperti hewan yang mencerna secara internal. Selain itu, sel-sel fungi
berdinding sel yang tersusun dari kitin, tidak seperti sel hewan.
Fungi adalah heterotrof yang mendapatkan nutriennya melalui penyerapan (absorption).
Dalam cara memperoleh nutrisi ini, molekul-molekul mencerna makanan diluar tubuhnya
dengan cara mensekresikan enzim-enzim hidrolitik yang sangat ampuh kedalam makanan
tersebut. Enzim-enzim itu akan menguraikan molekul kompleks menjadi senyawa yang lebih
sederhana yang dapat diserap dan digunakan oleh fungi.
Cara mendapatkan nutrient yang absorptif ini menjadikan fungi terspesialisasi sebagai
pengurai (saprobe), parasit, atau simbion-simbion mutualistrik. Fungi saprobik meyerap zat-zat
makanan dari bahan organik yang sudah mati, seperti pohon yang sudah tumbang, bangkai

hewan, atau buangan organisme hidup. Di dalam proses saprobik ini, fungi menguraikan bahan
organik tersebut. Fungi parasitik menyerap zat-zat makanan dari sel-sel inang yang masih hidup.
Beberapa jenis fungi parasitik, misalnya seperti spesies tertentu yang menginfeksi paru-paru
manusia, bersifat patogenik. Fungi mutualistik juga menyerap zat makanan dari organisme
inang, akan tetapi fungi tersebut membelanya dengan fungi yang menguntungkan bagi
pasangannya dalam hal tertentu, misalnya membantu suatu tumbuhan didalam proses
pengambilan mineral dari tanah.
Fungi menempati lingkungan yang sangat beraneka ragam dan berasosiasi secara
simbiotik dengan banyak organisme. Meskipun paling sering ditemukan di habitat darat,
beberapa fungi hidup di lingkungan akuatik, dimana fungi tersebut berasosiasi dengan
organisme laut dan air tawar serta dengan bangkainya. Lichen, perpaduan simbiotik antara fungi
dan alga, banyak terdapat di mana-mana dan ditemukan di beberapa habitat yang sangat tidak
bersahabat dibumi ini: gurun yang dingin dan kering di antartika, tundra alpin dan artik. Fungi
simbiotik lainnya hidup didalam jaringan tumbuhan yang sehat, dan spesies lain membentuk
mutualisme-mutualisme pengkonsumsi-selulosa denga serangga, semut dan rayap.

4.1 CIRI-CIRI UMUM


Jamur dimasukkan dalam kelompok organisme eukaroita karena sel-selnya sudah
memiliki membran sel inti. Dinding sel jamur terbuat dari bahan kitin, yaitu polimer karbohidrat
yang juga terdapat pada eksoskeleton serangga, laba-laba dan artropoda lainnya. Itu berfungsi
memberi bentuk dan menyokong sel-sel jamur. Hal tersebut sangat berbeda dengan sel
tumbuhan yang terbuat dari bahan selulosa. Sebagian besar jamur merupakan organisme bersel
banyak (multi seluler), contohnya jamur merah, (volvariella volcaceae), tetapi ada juga yang
merupakan organisme bersel tunggal (uniseluler) contohnya yeast atau ragi (saccharomyces).
Tubuh jamur yang bersel banyak tersusun atas benang-benang yang disebut hifa. Hifa pada
jamur, yaitu hifa bersekat (bersepta) dan hifa tidak bersekat. Pada hifa yang bersekat, di tiap
sekat terdapat satu inti sel, sedangkan pada hifa yang tidak bersekat, inti sel tersebar didalam
sitoplasma (senositik). Sekumpulan hifa akan membentuk anyaman yang disebut miselium.
Bentuk jamur mirip dengan tumbuhan, tetapi jamur tidak memiliki daun dan akar sejati.
Selain itu, jamur tidak memiliki klorofil sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis seperti
tumbuhan. Dengan demikian, jamur merupakan organisme heterotrof dan memperoleh zat-zat
makanan (nutrisi) dengan cara menyerap serat-serat sederhana dari lingkungan substratnya.
Namun sebelum itu, makanan yang masih berupa senyawa kompleks akan diuraikan terlebih
dahulu diluar sel jamur dengan cara menghasilkan enzim-enzim hidrolitik ekstraseluler. Jamur
ada yang hidup sebagai parasit, ada yang hidup sebagai saprofit, dan ada pula yang hidup
simbiosis mutualisme dengan organisme lain. Sebagai parasit, jamur mengambil bahan makanan
langsung dari inangnya. Jamur parasit mamiliki Haustorium (jamak haustoria), yaitu hifa yang
khusus untuk menyerap makanan dari inangnya. Sebagai saprofit, jamur mengambil bahan

makanan dari sisa-sisa mahluk hidup yang telah mati. Pada jamur yang bersimbiosis dengan
organisme lain, jamur menyerap makanan dari inangnya, sedangkan inangnya memperoleh
mineral dari tanah melalui bantuan jamur. Umumnya, jamur dapat berkembang biak atau
berproduksi secara seksual dan aseksual. Meskipun begitu perkembangbiakan secara seksual
lebih berperan karena lebih sering dilakukan. Karena itulah, dalam siklus hidup jamur fase
haploid sangat dominan. Sedangkan fase diploidnya sangat singkat.
4.2 MORFOLOGI
Struktur dasar jamur adalah hifa. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang
disebut hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebutmiselium (Lihat Gambar 4.1). Miselium
menyusun jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah. Ketebalan hifa bervariasi antara 0,5 mm
100 mm. Hifa terdiri atas sel-sel sejenis. Sel-sel tersebut satu dan lainnya dipisahkan oleh
dinding sel atau sekat yang dinamakan Septum
(jamak: septa) dan dinamakan hifa bersepta

.
Gambar 4.1 Hifa yang membentuk miselium dan tubuh buah
4.3 STRUKTUR SEL
Dinding sel jamur berbeda dengan dinding sel tumbuhan. Dinding sel jamur bukan terdiri
atas selulosa, melainkan tersusun oleh zat Kitin. Sel-sel hifa bersepta ada yang berinti satu (uni
nukleat), berinti dua (binukleat atau dikariotik), atau berinti banyak atau senositik
(coenocytic). Struktur tubuh jamur tergantung pada jenisnya. Ada jamur yang satu sel,
misalnyoSacharomyces cerevisae, ada pula jamur yang multiseluler membentuk tubuh buah
besar yang ukurannya mencapai satu meter, contohnya jamur kayu. (Lihat gambar 4.2)

Gambar 4.2 Jamur multiselular dan Uniseluler

Pertumbuhan terjadi dari ujung apikal, vesikula apical mengandung bahan dan enzim
untuk pembentukan dinding hyphal baru. Hifa tua berkurang aktivitas biokoimianya dan
banyak mengandung vakuola. (Lihat gambar 4.3)

Gambar 4.3 Bentuk sel jamur


Hifa adalah struktur menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk
pipa. Hifa adalah benang-benang penyusun tubuh jamur. Ada tiga jenis hifa, yaitu stolon (hifa
yang menjalar dipermukaan substrat), rizoid (hifa yang menembus kedalam substrat dan
berfungsi sebagi akar), dan sporangiosfor (hifa yang menjulang ke atas dan membentuk
sporangium). Lihat gambar 4.4.
Gambar 4.4 Bentuk-bentuk hifa
Sporangium adalah struktur atau organ pembentuk spora, disebut juga kotak spora.
Didalam sporangium dihasilkan sporangiospora atau sering disebut spora saja. Dinding ini
menyelubungi membran plasma dan sitoplasma hifa. Sitoplasmanya mengandung organel
eukariotik. Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa mempunyai
pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria, dan kadangkala inti sel yang
mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi, ada pula hifa yang tidak bersepta atau hifa
senositik. Struktur hifa senositik dihasilkan oleh pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak
diikuti dengan pembelahan sitoplasma. Hifa pada jamur yang bersifat parasit biasanya
mengalami modifikasi menjadi haustoria yang merupakan organ penyerap makanan dari
substrat; haustoria dapat menembus jaringan substrat. (Lihat gambar 4.5)
Gambar 4.5 a. Hifa bersekat; b. Hifa tak bersekat; c. Haustoria
4.4 CARA MAKAN DAN HABITAT JAMUR
Semua jenis jamur bersifat heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur
tidak memangsa dan mencernakan makanan. Untuk memperoleh makanan, jamur menyerap zat
organik dari lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian menyimpannya dalam bentuk
glikogen. Oleh karena jamur merupakan konsumen maka jamur bergantung pada substrat yang
menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia lainnya. Semua zat itu diperoleh
dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit
fakultatif, atau saprofit.
1.

Parasit obligat merupakan sifat jamur yang hanya dapat hidup pada inangnya, sedangkan di luar
inangnya tidak dapat hidup. Misalnya, Pneumonia carinii (khamir yang menginfeksi paru-paru
penderita AIDS).

2. Parasit fakultatif adalah jamur yang bersifat parasit jika mendapatkan inang yang sesuai, tetapi
bersifat saprofit jika tidak mendapatkan inang yang cocok.

3. Saprofit merupakan

jamur

pelapuk

dan

pengubah

susunan

zat

organik

yang

mati. Jamur saprofit menyerap makanannya dari organisme yang telah mati seperti kayu
tumbang dan buah jatuh. Sebagian besar jamur saprofit mengeluar-kan enzim hidrolase pada
substrat makanan untuk mendekomposisi molekul kompleks menjadi molekul sederhana
sehingga mudah diserap oleh hifa. Selain itu, hifa dapat juga langsung menyerap bahan-bahan
organik dalam bentuk sederhana yang dikeluarkan oleh inangnya.
Cara hidup jamur lainnya adalah melakukan simbiosis mutualisme. Jamur yang hidup
bersimbiosis, selain menyerap makanan dari organisme lain juga menghasilkan zat tertentu yang
bermanfaat bagi simbionnya. Simbiosis mutualisme jamur dengan tanaman dapat dilihat
pada mikoriza,yaitu jamur yang hidup di akar tanaman kacang-kacangan atau pada
Lycan. Jamur berhabitat pada bermacam-macam lingkungan dan berasosiasi dengan banyak
organisme. Meskipun kebanyakan hidup di darat, beberapa jamur ada yang hidup di air dan
berasosiasi dengan organisme air. Jamur yang hidup di air biasanya bersifat parasit atau saprofit,
dan kebanyakan dari kelas Oomycetes.
4.5 REPRODUKSI
Reproduksi jamur dapat secara seksual (generatif) dan aseksual (vegetatif) (Lihat gambar
4.6). Secara aseksual, jamur menghasilkan spora. Spora jamur berbeda-beda bentuk dan
ukurannya dan biasanya uniseluler, tetapi adapula yang multiseluler. Apabila kondisi habitat
sesuai, jamur memperbanyak diri dengan memproduksi sejumlah besar spora aseksual. Spora
aseksual dapat terbawa air atau angin. Bila mendapatkan tempat yang cocok, maka spora akan
berkecambah dan tumbuh menjadi jamur dewasa.
Gambar 4.6 Siklus hidup umum fungi
Spora haploid dihasilkan secara aseksual dan seksual. Reproduksi secara seksual pada
jamur

melalui kontak

gametangium dan konjugasi.Kontak

gametangium

mengakibatkan

terjadinya singami, yaitu persatuan sel dari dua individu. Singami terjadi dalam dua tahap, tahap
pertama

adalah plasmogami (peleburan

sitoplasma)

dan

tahap

kedua

adalahkariogami (peleburan inti). Setelah plasmogami terjadi, inti sel dari masing-masing induk
bersatu tetapi tidak melebur dan membentukdikarion. Pasangan inti dalam sel dikarion atau
miselium akan membelah dalam waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun. Akhimya inti sel
melebur membentuk sel diploid yang segera melakukan pembelahan meiosis.
Secara alamiah, jamur dapat berkembang biak dengan dua cara, yaitu secara aseksual
dan seksual. Secara aseksual dilakukan dengan pembelahan, yaitu dengan cara sel membagi diri
untuk membentuk dua sel anak yang serupa, penguncupan, yaitu dengan cara sel anak yang
tumbuh dari penonjolan kecil pada sel inangnya atau pembentukan spora. Spora aseksual ini
berfungsi untuk menyebarkan speciesnya dalam jumlah yang besar dengan melalui perantara
angin atau air. Ada beberapa macam spora aseksual, di antaranya seperti berikut :

a.

Konidiospora , merupakan konidium yang terbentuk di ujung atau di sisi hifa. Ada yang
berukuran kecil, bersel satu yang disebut mikrokonidium , sebaliknya konidium yang berukuran
besar dan bersel banyak disebut makrokonidium .

b. Sporangiospora , merupakan spora bersel satu yang terbentuk dalam kantung yang disebut
sporangium, pada ujung hifa khusus. Ada dua macam sporangiospora yang tidak bergerak
(nonmotil) disebut aplanospora dan sporangiospora yang dapat bergerak karena mempunyai
flagela yang disebut zoospora .
c.

Oidium / artrospora , yaitu spora bersel tunggal yang terbentuk karena terputusnya sel-sel hifa.

d.

Klamidospora , merupakan spora bersel satu, berdinding tebal, dan sangat resisten terhadap
keadaan yang buruk. Spora ini terbentuk dari sel-sel hifa yang somatik.

e.

Blatospora merupakan tunas/kuncup pada sel-sel khamir.

Gambar 4.7 Macam-macam spora aseksual pada jamur


Perkembangbiakan jamur secara seksual dilakukan dengan peleburan inti sel/nucleus dari
dua sel induknya. Reproduksi secara seksual ini lebih jarang dilakukan dan jumlahnya lebih
sedikit dibandingkan secara aseksual. Perkembangbiakan ini terjadi apabila berada dalam
keadaan tertentu.
Seperti halnya spora aseksual jamur, jenis spora seksual jamur pun bermacam-macam, yaitu
sebagai berikut :
4.6 KLASIFIKASI
Jamur merupakan tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof,
tipe sel: sel eukarotik. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri dari
benang-benang yang disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang
disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara vegetatif ada pula dengan cara
generatif.
Jamur dibagi menjadi 6 divisi yaitu :
1.

Myxomycotina (Jamur lendir)


Myxomycotyna meliputi organisme yang tidak mengandung klorofil, yang filogenetik
tergolong ke dalam organisme yang sangat sederhana. Dalam keadaan vegetatif tubuhnya berupa
massa protoplasma telanjang yang bergerak sebagai amoeba yang disebut Plasmodium dengan
cara-cara hidup sebagai saprofit atau seperti hewan. Plasmodium terjadi karena satu perkawinan
(peristiwa seksual), dan kemudian akan membentuk suatusporangium yang berdinding.
Sporangium menghasilkan spora yang tidak memperlihatkan perbedaan jenis kelaminnya.

Gambar 4.8 Daur hidup jamur lendir


Spora myxomycotina berkecambah dalam air atau diatas suatu substrat basah menjadi
satu atau beberapa sel kembar yang di namakan miksoflagelata. Miksoflagelata ini pada bagian
muka mempunyai satu inti atau satu bulu cambuk, biasanya dua dan dan heterokon. Pada bagian
belakang terdapat vakuola berdenyut, tetapi kromatofora tidak ada. Hidupnya sebagai saprofit,
dapat mengambil zat makanan yang bersifat cair maupun padat. Setelah beberapa waktu, bulu
cambuknya lenyap dan miksoflagelata ini berubah menjadi miksoameba. Miksoflagellata dan
miksoameba dapat membiak vegetative dengan pembelahan. Pembiakan generatifpun terjadi.
Dua miksoameba atau dua miksoflagellata dapat mengadakan perkawinan menjadi amebozigot,
dan dalam amebozigot ini kedua intinya akhirnyapun akan bersatu. Badan yang diploid ini tidak
lalu membentuk dinding, melainkan tetap telanjang dan bersifat ameboid, dan dengan
sesamanya dapat bersatu menjadi plasmodium yang besar dan mempunyai banyak inti. Inti
dapat bertambah banyak karena adanya mitosis yang berulang-ulang.
Plasmodium ini tidak pernah membentuk sekat-sekat, jadi hanya merupakan kumpulan
protoplas yang menjadi satu. Organisme ini dapat dipelihara di atas agar-agar dan makannya
dapat berupa bakteri, miselium jamur, potongan agar-agar, bahkan dapat juga mengambil
miksoameba haploid sebagai makannya. Makanan ini dicernakan dalam vakuolanya. Dapat pula
organisme ini mengeluarkan enzim yang melarutkan substratnya dan mengambil makannya
dalam bentuk larutan. Dari yang bersifat saprofit dapat dibuat biakan murni. Yang hidup sebagai
parasit hanya hidup dengan tambahan makan yang berupa makhluk hidup. Zat makanan bukan
tepung, tetapi glikogen myxomycotina suka hidup di tanah-tanah hutan, diatas daun yang telah
runtuh, dalam kayu yang lapuk, dan dengan perubahan tubuhnya yang merayap kemana-mana.
Bagian depan terdiri atas plasma yang lebih pekat, kebelakang membentuk benang-benang.
Organisme Ini bergerak ketempat makan dibawa pengaruh gaya-gaya kemotaksis, hidrotaksis
dan fototaksis negatif. Plasmodium ini dapat mencapai ukuran garis tengah 0-30 cm, misalnya
pada fuligo varians = Aethalium septicum.
Pada plasmodium terbentuk sporangium yang disebut tubuh buah. Untuk keperluan ini
plasmodium lalu mempunyai sifat yang berlawanan dengan biasanya. Mereka lalu meninggalkan
tempat yang basah merayap menuju cahaya, dan dengan menurunkan kadar airnya kemudian
berubah menjadi beberapa tubuh buah, yang masing-masing diselubungi oleh selaput kaku
karena mengandung kapur, dan dinamakan peridium. Didalamnya terdapat banyak spora kecil
yang mempunyai membrane. Membran (dinding) spora itu, tidak seperti jamur umumnya,
terdiri atas kitin, tetapi tediri atas substansi menyerupai putih telur yang dinamakan keratin, dan
disamping itu juga terdapat selulosa. Spora terjadi karena pembelahan reduksi, dan oleh karena
itu bersifat haploid. Miksoflagellata dan miksoameba yang tidak mengadakan kopulasi juga
bersifat haploid. Badan buah dan plasmodium bersifat diploid.
Pada beberapa marga didalam badan buahnya dibentuk kapilitium yang terdiri dari bulubulu kecil yang bebas atau tersusun seperti jala atau terdiri atas serabut-serabut yang muncul

dari plasma yang terdapat diantara spora. Jika sporangium telah masak, teridium lalu pecah dan
spora akan terhembus keluar dari dalam jala kapilitium tadi. Pada beberapa jenis myxomicotina
kapilitium memperlihatkan gerakan-gerakan hidroskopik.
Bentuk dan susunan, sifat, dan warna sporangium merupakan dasar untuk membedakan
myxomicotina dalam takson lebih kecil. pada fuligo varians beberpa sporangium merupakan satu
badan buah yang berwarna pirang dan dapat mempunyai diameter sampai beberapa sentimeter.
Pada Dictyostelium mucoroides miksoameba yang terkumpul tidak menjadi zigot, tetapi
hanya merupakan suatu pseudoplasmodium dengan tubuh buah, yang tiap sporanya berasal dari
suatu miksoameba.
Myxomycotyna, yang secara filogenetik amat rendah tingkatnya itu, jika di tinjau dari
sudut

sel

kembar

dengan Flagellatae yang

dan

miksoameba

tidak

berwarna,

menunjukkan
atau

sangat

hubungan
boleh

jadi

kekerabatan
lebih

dekat

dengan Rhizopoda dari dunia hewan. pertimbangan-pertimbangan itu yang di jadikan alas an
untuk menyatakan bahwa Myxomycotyna adalah suatu mahkluk peliharaan ynag terletak antara
hewan dan tumbuhan.
Seperti Volvocales dan Euglenales (Flagellatae) yang oleh bahli-ahli zoology dianggap
pula sebagai hewan, demikian pula halnya denganMycomycotyna. Dalam dunia hewan
kelompok mahkluk hidup ini dikenal pula dengan nama Mycetozoa.
Selain posisi yang tidak pasti itu, klasifikasi Mycomycotyna sendiri belum mantap.
Contoh-contoh yang disebut diatas masing-masing mewakili kelompok Plasmodiumnya
merupakan suatu agregat saja dari sejumlah sel-sel telanjang (Dtyostelium mucoroidas).
Myxomycotina merupakan jamur yang paling sederhana. Mempunyai 2 fase hidup, yaitu:

Fase vegetatif (fase lendir) yang dapat bergerak seperti amoeba, disebut plasmodium.

Fase tubuh buah Reproduksi : secara vegetatif dengan spora, yaitu spora kembara yang disebut
myxoflagelata.
Contoh spesies : Dictyostelium discoideum (Lihat gambar 4.9)

Kingdom : Amoebozoa
Phylum

: Mycetozoa

Class

: Dictyostelia

Order

: Dictyosteliida

Family

: Dictyosteliidae

Genus

: Dictyostelium

Species

: D. discoideum

2. Oomycotina

Gambar 4.9 Dictyostelium discoideum

Hifa pada jamur ini bersifat senositik, yaitu tidak bersekat-sekat sehingga inti sel
banyak tersebar di dalam protoplasma. Dinding selnya tersusun atas selulosa, hal inilah yang
membedakan dengan golongan jamur lainnya. Pertumbuhan hifa jamur terjadi pada bagian
ujungnya yang menghasilkan beberapa percabangan. Pada akhir ujung percabangan itu
terbentuk gelembung sporangium yang dipisahkan oleh sekat. Hal ini merupakan awal
perkembangbiakan jamur secara tidak kawin (aseksual).
Dalam sporangium terdapat protoplasma yang banyak mengandung inti sel.
Protoplasma akan terbagi-bagi dan setiap bagian memperoleh satu inti sel yang berkembang
menjadi spora dengan dua flagel sebagai alat geraknya. Spora yang mempunyai flagel
disebut zoospora yang merupakan ciri khas Oomycotina. Selanjutnya, zoospora akan keluar
dari sporangium kemudian melepaskan flagelnya sambil membentuk dinding selulosa. Jika
zoospora ini sampai di tempat yang sesuai, maka akan menjadi tumbuh hifa baru.
Ciri-ciri jamur yang termasuk golongan Oomycotina adalah sebagai berikut.
a.

Tubuhnya terdiri atas benang/hifa tidak bersekat, bercabang-cabang dan mengandung banyak
inti.

b.
1)

Reproduksi:
Vegetatif : yang hidup di air dengan zoospora yang hidup di darat dengan sporangium dan
konidia.

2) Generatif : bersatunya gamet jantan dan betina membentuk oospora yang selanjutnya tumbuh
menjadi individu baru. Contoh spesies: Saprolegnia sp. yang hidup saprofit pada bangkai ikan,
serangga darat maupun serangga air dan Phytophora infestans yaitu penyebab penyakit busuk
pada kentang.
3)

Contoh spesies: Saproglenia lihat gambar 4.10.

Kingdom

: Protista

Filum

: Heterkonta

Kelas

: Oomycotea

Ordo

: Saprolegniales

Famili

: Saprolegniaceae

Genus

: Saprolegnia

Spesies

: S. parasitica

Gambar 4.10 Saproglenia

Jenis jamur lainnya yang termasuk Oomycotina adalah Phytophtora sp,dan Phytium
sp.
Saprolegnia sp

Jamur ini umumnya hidup saprofit. Miseliumnya berkembang di dalam substrat,


sedangkan yang terlihat di luar substrat berfungsi untuk perkembangbiakan. Jika Anda amati
jamur ini dengan mikroskop, di bagian ujung miseliumnya akan tampak sporangium yang
menghasilkan zoospora.
Saprolegnia sp yang hidup saprofit mudah dikembang-biakkan dengan meletakkan
serangga mati atau biji kacang tanah pada cawan berisi air kolam. Hifa yang baru tumbuh
akan menembus tubuh serangga atau biji kacang tanah untuk mendapatkan makanan.
Sebagian hifa lainnya akan tumbuh keluar membentuk sporangium penghasil zoospora,
sedangkan oogonium dan anteridiumnya berperan pada perkembangbiakan seksual.
Contoh jamur dari Oomycotina lainnya adalah Achlya sp yang hidup saprofit
seperti Saprolegnia sp.; Plasmopora sp hidup parasit pada tanaman anggur; serta Sclerospora
maydis penyebab penyakit bulai pada jagung seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar 4.11 Sclerospora maydis


Phytophtora sp
Contoh jamur dari golongan Oomycotina ini antara lain:Phytophtora infestans yang
hidup parasit pada tanaman kentang.
Pada jamur ini, ujung-ujung hifa tidak membentuk zoosporangium melainkan
membentuk konidium. Konidium adalah spora yang dibentuk secara aseksual dan terjadi
akibat diferensiasi dari ujung hifa. Ujung hifa menyembul di permukaan daun kentang
melalui stoma (mulut daun) yang terkena infeksi. Untuk lebih jelasnya dapat dipelajari pada
gambar 2 berikut ini.
Gambar 4.12 Ujung hifa Phytophtora infestans menembus stoma daun kentang.
Phytophtora sp tidak hanya menyebabkan penyakit pada tanaman kentang, melainkan
dapat pula menyebabkan penyakit pada buah cokelat, tanaman lada, kina, kelapa, cengkeh,
tembakau, dan jarak.
Pythium sp
Phytium sp hidup saprofit di tanah lembab, tetapi zoospora yang dihasilkannya
melalui perkembangbiakan aseksual sedangkan oospora melalui perkembangbiakan seksual.
Jamur ini dapat menginfeksi tanaman seperti pada persemaian tem-bakau yang dikenal

dengan penyakit patah rebah semai. Jamur ini juga dapat menyebabkan penyakit busuk pada
kecambah tembakau, kina, bayam, jahe, nenas, dan kemiri.
3.

Zygomycotina
Ciri jamur dari kelompok ini adalah hifanya tidak memiliki sekat (septa) sehingga disebut
hifa senositik. Kelompok jamur ini diberi nama Zygomycotina karena selama masa reproduksi
seksual membentuk spora seksual khusus, yang disebut zigospora. Contoh jamur yang termasuk
divisi Zygomycota adalah Rhizopus oligosporus, yaitu jamur yang digunakkan membuat tempe.
Jika Anda mengamati jamur R.Oligorpusdengan menggunakkan mikroskop, anda dapat melihat
struktur tubuhnya dengan jelas. Lihat gambar 4.13.
Hifa

adalah

benang-benang

penyusun

tubuh

jamur.

Sebagai

anggota

Zygomycota, Rhizopus oligosporus dapat berkembangbiak secara aseksual atau secara seksual.
Reproduksi aseksual terjadi dengan cara membentuk spora didalam sporangium yang terletak
diujung-diujung hifa. Sporangium ditunjang oleh sporangiofor.

Kerajaan

: Fungi

Divisi

: Zygomycota

Kelas

: Zygomycetes

Ordo

: Mucorales

Famili

: Mucoraceae

Genus

: Rhizopus

Spesies

: R. oligosporus

Gambar 4.13 Rhizopus oligosporus

Sporangium stonifer yang telah tua dan matang biasanya berwarna hitam. Jika telah
matang, sporangium akan akan pecah dan menghasilkan banyak spora. Selanjutnya,spora-spora
akan keluar dan menyebar dengan bantuan angin. Jika spora itu jatuh pada tempat yang cocok,ia
akan tumbuh membentuk hifa baru. Jamur Zygomycotina disebut juga Jamur kojungsi
dinamakan demikian karena perkembangbiakan secara seksual jamur ini dilakukan dengan cara
kojungsi. (Lihat gambar 4.14)

Gambar 4.14 Siklus hidup Rhizopus


Proses kojungasi terjadi diujung-ujung hifa yang berlainan jenis yaitu hifa (+) atau hifa
jantan atau hifa (-)atau hifa betina Hifa-hifa tersebut bersifat haploid (n). Kedua hifa tersebut
akan mengalami pembengkakan pemanjangan pada ujungnya. Hifa yang membengkak disebut

gametangium (jamak; gametangia), yaitu stuktur atau organ pembentuk gamet. Selanjutnya,
kedua gametangium bersatu dan membentuk zigospora yang yang bersifat diploid (2n).
Zigospora adalah spora berdinding tebal dan sedang fase istirahat. Karena berdinding tebal,
Zigospora tahan terhadap kondisi lingkungan yang buruk. Zigospora dapat dorman selama
beberapa bulan dan akan berkcambah serta tumbuh menjadi hifa-hifa baru jika kondisi
lingkungan membaik. Pada saat pertumbuhan hifa, terjadi peristiwa meiosis sehingga hifa
bersifat haploid. Selanjutnya ,hifa-hifa tersebut membentuk sporangifor. Diujung sporangiofor
terdapat sporangium yang berisi spora. Setelah dihasilkan spora ,akan terjadi proses reproduksi
Aseksual. Dari penjelasan diatas, diketahui bahwa pada siklus hidup R. stolonifer, fase haploid
lebih panjang daripada fase diploid.
Anggota Zygomycotina umumnya hidup sebagai saprofit, baik ditanah ataupun disisasisa oganisme, misalnya di kayu lapuk. Beberapa jenis Zygomycotina merupakan perasit pada
tumbuhan

dan

serangga.

Selain R.

oligosporus,

contoh

lain

dari

Zygomycota

adalah R.oryzae dan mucor. Jamur R.oryzae digunakan dalam fermentasi sake, yaitu minuman
khas jepang, sedangkan mucor adalah jamur yang sering tumbuh pada roti. Beberapa jenis
mucor merupakan jamur pathogen.
Adapun untuk ciri-ciri umumnya sebagai berikut:
a.

Tubuh multiseluler.

b. Habitat umumnya di darat sebagai saprofit.


c.

Hifa tidak bersekat.

d.

Reproduksi:

1.

Vegetatif : dengan spora.

2. Generatif : dengan konyugasi hifa (+) dengan hlifa (-) akan menghasilkan zigospora yang
nantinya akan tumbuh menjadi individu baru. Contoh spesies: Mucor mucedo biasa hidup di
kotoran ternak dan roti dan Rhizopus oligosporusatau jamur tempe.(Gambar 4.15)
Gambar 4.15 Rhizopus oligosporus atau jamur tempe.
4.

Ascomycotina
Ascomycota merupakan divisi terbesar dalam kingdom fungi. Jumlah anggota mencapai
dari 60.000 spesies. Ciri utama dari divisi ascomycota adalah membentuk spora seksual yang
disebut akospora. Akospora terbentuk kedalam kaksus, yaitu suatu tubuh buah khusus yang
bentuknya menyerupai mangkuk atau botol. Tidak seperti Zygomycota, Ascomycota memiliki
hifa bersekat. Anggota Ascomycota cukup beragam, ada yang bersel satu, misalnya yeast atau
ragi (S. cerevisae); ada pula yang bersel banyak, contohnya Penicillium dan ada pula yang
membentuk tubuh buah, seperti Netrica dan peziza. Pada umumnya anggota Ascomycotina
adalah jamur bersel banyak. Seperti halnya Zygomycota, Ascomycota bersel banyak, reproduksi
aseksual dilakukan dengan cara membentuk konidiospora atau sering disebut konidia (tunggal:
konidium) saja (Lihat gambar 4.16). Konidia terbentuk pada ujung hifa khusus yang tumbuh
tegak, yang disebut konidofor. Warna dari konidia bermacam-macam, ada yang hitam, merah,
biru, dan hijau, bergantung pada jenis jamurnya. Konidia yang telah masak, apabila jatuh pada

tempat yang cocok akan tumbuh menjadi hifa baru. Sementara itu, reproduksi aseksual pada
Ascomycota bersel satu dilakukan dengan cara membentuk tunas (budding). Tunas yang telah
masak akan terlepas dari sel induknya dan tumbuh menjadi individu baru. Reproduksi seksual
pada Ascomycota terjadi dengan cara membentuk askospora. Akospora dalah spora seksual yang
terbentuk di dalam aksus. Aksus terdapat didalam badan buah yang disebut askokarp.

Gambar 4.16 Konidiospora


Pada Ascomycota ada dua jenis hifa, yaitu hifa (+) dan hifa (-). Hifa (+) membentuk alat
kelamin jantan (anteredium) dan hifa(-) membentuk alat kelamin betina (askogonium). Kedua
jenis alat kelamin tersebut bertemu dan terjadi plasmogami (penyatuan sitoplasma) tanpa
disertai penyatuan inti. .Jadi,dalam peristiwa tersebut akan terbentuk sel dengan dua inti
Askogonium yang telah meiliki dua inti tersebut akan menghasilkan hifa-hifa askogonium yang
dikariotika (berinti dua). Hifa dikariotika itu bercabang-cabang membentuk tubuh buah yang
disebut askokarp. Semetara itu, ujung hifa dikariotika akan membentuk sel khusus yang akan
menjadi askus. Didalam aksus akan terjadi perleburan dua inti (diploid/2n). Selanjutnya, inti
askus membelah dua kali. Pembelahan pertama terjadi secara meiosis dan menghasilkan empat
sel. Pembelahan kedua terjadi secara mitosis sehingga akhirnya terbentuk delapan akspora
didalam aksus tersebut. Tubuh buah (askokarp) yang terbentuk memiliki bentuk bermacammacam dan merupakan dasar klasifikasi dari ascomycota.bentuk-bentuk badan buah
tersebut,antara lain kleistotesium,peritesium,apotesium,dan aksus telanjang.
a.

Kleistotesium : berbentuk bulat tertutup,merupakan ciri dari kelas Plectomycetes.

b. Peritesium : berbentuk botol ,merupakan ciri dari kelas Pyrenomycetes.


c.

Apotesium : berbentuk cawan,merupakan ciri dari kelas Discomycetes.

d.

Akus telanjang : tidak membentuk badan buah,merupakan cirri dari kelas Protoascomycetes.

Gambar 4.17 Siklus hidup Ascomycot

Salah satu contohnya adalah Sacharomyces cerevisae sehari-hari dikenal sebagai


ragi. Berguna untuk membuat bir, roti maupun alkohol. Mampu mengubah glukosa menjadi
alkohol dan CO2 dengan proses fermentasi.

Kingdom

: Fungi

Phylum

: Ascomycota

Class

: Saccharomycetes

Order

: Saccharomycetales

Family

: Saccharomycetaceae

Genus

: Saccharomyces

Species

: S.

cerevisiae
Gambar 4.18Sacharomyces cerevisae
Berikut ciri-ciri umum dari Ascomycota :
a.

Tubuh ada yang uniseluler dan ada yang multiseluler. Ascomycotina multiseluler, hifanya
bersekat dan berinti banyak.

b. Hidupnya: ada yang parasit, saprofit, ada yang bersimbiosis dengan ganggang membentuk
Lichenes (Lumut kerak).
c.

Reproduksi:

1.

Vegetatif : pada jamur uniseluler membentuk tunas-tunas, pada yang multiseluler membentuk
spora dari konidia.

2. Generatif: Membentuk askus yang menghasilkan askospora.


d.

Contoh spesies lainnya:

1.

Neurospora sitophila: jamur oncom.

2. Peniciliium noJaJum dan Penicillium chrysogenumpenghasil antibiotika penisilin.


3.

Penicillium camemberti dan Penicillium roqueforti berguna untuk mengharumkan keju.

4.

Aspergillus oryzae: untuk membuat sake dan kecap.

5. Aspergillus wentii: untuk membuat kecap


6.

Aspergillus flavus: menghasilkan racun aflatoksin hidup pada biji-bijian. flatoksin salah satu
penyebab kanker hati.

7. Claviceps purpurea: hidup sebagai parasit pada bakal buah Gramineae.


5. Basidiomycotina
Ciri utama dari jamur yang termasuk dalam divisi Basidiomycota adalah membentuk
spora seksual yang disebut basidiospora. Basidiospora terbentuk pada bagian yang disebut
basidium. Divisi ini memiliki angota lebuh dari 25.000 species. Basidiomyta merupakan

kelompok jamur yang perkembanganya paling tinggi diantara kelompok jamur lainnya. Ciri
lainnya adalah mampu membentuk tubuh buah yang makrokopis sehingga sangat mudah dilihat.
Jamur-jamur anggota Basidiomycota dapat dijumpai pada tanah, pohon yang lapuk atau jerami
di musim hujan. Bentuk dan warnanya juga bermacam-macam.
Beberapa jenis sudah dibudayakan sebagai bahan makanan dan obat-obatan.
Contohnya Volvariella volvacea atau jamur merang, dapat dimakan dan sudah dibudidayakan.

Kingdom

: Fungi

Division

: Basidiomycota

Class

: Agaricomycetes

Order

: Agaricales

Family

: Pluteaceae

Genus

: Volvariella

Species

: V. volvacea
Gambar 4.19 V. volvacea (Jamur merang)

Reproduksi jamur Basidiomycota umumnya berlangsung secara seksual dengan cara


kojungsi untuk membentuk basidiospora. Reproduksi secara aseksual sangat jarang terjadi. Jika
ada, umumnya dengan cara membentuk konidia. Proses pembentukan basisidiospora adalah
sebagai berikut. Basidiospora merupakan spora yang haploid. Spora ini tumbuh membentuk
hifa-hifa yang bersekat. Tiap sekat berinti satu. Hifa ini ada yang bersifat satu jantan(+) dan
betina (-). Jika ujung dua hifa yang bebeda bertemu,akan terjadi percampuran percampuran
plasma sel (plasmogami). Inti sel dari hifa (+) akan diberikan ke sel hifa (-) sehingga terbentuk
sel hifa dengan dua inti (hifa dikariotik). Sel hifa dengan dua inti ini akan berkembang
membentuk miselium yang dikariotik juga. Miselium yang berinti dua ini secara khas tubuh
menjadi buah (basidiokarp) yang bentuknya seperti payung, atau bentuk lainnya. Basidiokarp
menghasilkan basidium yang terdapat pada lapisan yang disebut himenium. Didalam mimenium
terjadi kariogami, yaitu persatuan dua inti menjadi satu. Inti ini,kemudian mengalami
pembelahan meiosis unutk membentuk empat spora haploid yang disebut basidiospora. Jadi,
basidiospora ini bersifat haploid dan terdapat di ujung basidium. Didalam setiap basidium
terdapat empat basidiospora.

Gambar 4.20 Siklus hidup Basidiomycota


Adapun ciri-ciri umum dari jamur ini antara lain:
a.

Ciri

khasnya

alat

repoduksi

generatifnya

berupa

basidium

badan penghasil spora.


b.

Kebanyakan anggota spesies berukuran makroskopik. Contoh spesies:

1.

Auricularia polytricha : jamur kuping, dapat dimakan dan sudah dibudidayakan.

sebagai

2. Exobasidium vexans : parasit pada pohon teh penyebab penyakit cacar daun teh atau blister
blight.
3.

Amanita muscaria dan Amanita phalloides: jamur beracun, habitat di daerah subtropics.

4.

Ustilago maydis : jamur api, parasit pada jagung.

5. Puccinia graminis : jamur karat, parasit pada gandum.


6. Deuteromycotina
Nama lainnya Fungi Imperfecti (jamur tidak sempurna) dinamakan demikian karena pada
jamur ini belum diketahui dengan pasti cara pembiakan secara generatif. Contoh Jamur Oncom
sebelum diketahui pembiakan generatifnya dinamakan Monilia sitophila tetapi setelah diketahui
pembiakan generatifnya yang berupa askus namanya diganti menjadi Neurospora sitophila
dimasukkan ke dalam Ascomycotina.
Banyak penyakit kulit karena jamur (dermatomikosis) disebabkan oleh jamur dari
golongan ini, misalnya: Epidermophyton fluocosumpenyebab penyakit kaki atlit, Microsporum
sp. Dan Trichophyton sp.penyebab penyakit kurap.

Gambar 4.20 Kurap disebabkan Trichophyton sp.


Ada sekitar 25.000 spesies jamur yang dimasukkan dalam divisi Deuteromycota. Jamur
Deuteromycota sering disebut juga fungi imperfecti Karena belum diketahui reproduksi
seksualnya sehingga reproduksi jamur ini dilakukan secara aseksual dengan membentuk konidia
seperti pada jamur Ascomycota.
Jika anggota jamur Deuteromycota sudah ditemukan secara reproduksi seksualnya, ia
dimasukkan kedalam divisi yang berbeda. Sebagai contoh adalah jamur oncom (monilia
sitophila). Dahulu, jamur tersebut termasuk dalam divisi Deuteromycota.Namun setelah
diketahui bahwa jamur ini dapat membentuk askospora, sekarang jamur tersebut termasuk
divisi Ascomycota, dengan nama Neurospora crassa. Contoh lainnya adalah Aspergillus dan
penicillium. Beberapa anggota aspergillus dan penicillium ada yang termasuk divisi
Deuteromycota, sementara anggota lainnya termasuk divisi Ascomycota. Ciri lain dari
Deuteromycota adalah hifanya bersekat. Sebagian besar anggota Deuteromycota bersifat
merugikan karena merupakan perasit yang dapat menimbulkan penyakit baik pada manusia,
hewan, ataupun tumbuhan. Contoh anggota Deuteromycota yang merugikan, antara lain
Chladosporium penyebab penyakit kulit, Trichophyton dan Epudermophyton penyebab penyakit
kulit dan kuku, serta Microsporium penyebab penyakit rambut dan kuku.

Gambar 4.21 Struktur Trichophyton sp

Mikorhiza
Mikorhiza adalah simbiosis antara jamur dengan tumbuhan tingkat tinggi, jamur yang
dari Divisio Zygomycotina, Ascomycotina dan Basidiomycotina.
Lichenes / Likenes
Likenes adalah simbiosis antara ganggang dengan jamur, ganggangnya berasal dari
ganggang hijau atau ganggang biru, jamurnya berasal dari Ascomycotina atau Basidiomycotina.
Likenes tergolong tumbuhan pionir/vegetasi perintis karena mampu hidup di tempat-tempat
yang ekstrim.
Contoh :

Usnea dasypoga

Parmelia acetabularis
4.7.MACAM-MACAM JAMUR YANG BISA DI MAKAN DAN TIDAK BISA DI MAKAN
Jamur biasanya hidup di alam bebas terutama muncul pada waktu musim penghujan atau
tempat lembab lainnya.
Walaupun banyak diantaranya yang sudah dikenal sebagai jenis jamur yang tidak berbahaya
dan dapat dimakan atau digunakan sebagai bahan ramuan obat, tetapi pada umumnya masih
tetap merupakan jenis jamur liar.
Kalau sesekali sobat berjalan-jalan di alam bebas dan menemukan jamur, maka amatilah
bentuk dan sifat timbulnya. Bentuk tubuh buah jamur pada umumnya tersusun oleh bagianbagian yang dinamakan tudung (pileus), bilah (lamellae), cincin (annulus), batang/tangkai
(stipe), cawan (volva), dan akar semu (rhizoids).
Sampai saat ini masih belum diketahui, berapa jenis jamur yang dapat dimakan serta
berapa jenis yang dapat dimakan tapi tidak membahayakan.
Jamur dibedakan menjadi 2 golongan yaitu :

Jamur Yang Tidak Berbahaya


1. Suung bulan, Supa barat jamur bulan (Gymnopus sp)

Habitatnya :

Merupakan jamur yang belum dibudidayakan, hidup pada musim penghujan terutama

angin berhembus dari barat terutama hidup pada tegalan, kebun atau di pinggir rumah.

Banyak ditemukan tumbuh di atas sarang rayap atau pada tanah yang kandungan organic

tanahnya sangat baik.

Ciri-ciri :

tudung berwarna putih kekuning-kuningan atau kecoklat-coklatan dengan batang putih

bersih.

2.Supa kelapa, jamur bulat (Calvatia)

Habitatnya :

belum dibudidayakan, banyak ditemukan di lapangan terutama di bawah pohon kelapa.

Ciri-ciri :

kalau masih muda tubuh buah berwarna putih kadang-kadang putih kekuning-kuningan.

kalau sudah tua bagian dalamnya akan berubah menjadi serbuk yang dapat menghembus
keluar kalau dipijit.

2. Jamur karang (Clavaria)

Habitatnya :

Belum dibudidayakan, banyak tumbuh di tanah yang berhumus, pada batang kayu yang
sudah lapuk.

Ciri-ciri :

berbentuk seperti karang, berwama putih, putih kekuning

kuningan atau putih kebiruan.

3. Klitos (Clitocybe)

Habitatnya :

merupakan jamur liar di dalam hutan, kebun, hutan tepi pantai.

Ciri-ciri :

tubuh buah seperti Suung bulan dengan tudung membuka keluar atau berbentuk

payung, berwarna putih kekuning-kuningan atau coklat muda.

Jenis jamur ini berguna pada bidang farmasi maupun kedokteran karena mengandung

halusigen (dapat menyebabkan halusinasi pada mereka yang memakannya).


4. Jamur payung (Collybia)

Habitatnya :

Merupakan jenis jamur liar yang banyak menempel pada batang kayu yang telah lapuk atau
mati.

Ciri-ciri :

Berbentuk seperti payung, berwarna kekuning-kuningan atau kecoklat- coklatan.

5. Hidnum (Hydnum)

Habitatnya :

Merupakan jenis jamur liar yang tumbuh pada tegalan atau tanah yang berhumus dan
biasanya ditemukan menempel pada ranting kayu yang sudah lapuk.

Ciri-ciri :

Mempunyai bentuk seperti payung terbuka keluar dan bertangkai tebal, warna tubuh
kekuning - kuningan, putih sera putih kecoklat-coklatan.

6. Higroporus (Hygrophorus)

Habitatnya / Ciri-ciri :

Merupakan jenis jamur liar yang mempunyai bentuk dan sifat tumbuh yang sama seperti
hidnum.

7. Marasmius

Habitatnya :

Merupakan jenis jamur liar mempunyai bentuk dan sifat seperti jamur payung lainnya.

Ciri-ciri :

Tangkai tubuh panjang berwarna putih kecoklat-coklatan atau putih kekuning-kuningan.

Jamur Yang Berbahaya

Amanita, Fly agaric, Supa upas terutama yang termasuk ke dalam jenis A. muscaria,
A. umbrina, A. spissa

Habitatnya :

Tumbuh liar di hutan, tegalan dan pekarangan, ditemukan di antara jatuhan daun atau pada
tanah humus

Ciri- ciri :

Tubuh buah seperti payung, dengan tudung berwarna merah, coklat tua, coklat muda sampai
kuning dengan bintik-bintik putih.

Racun yang terkandung digunakan untuk meracuni ujung tombak atau senjata tajam lainnya.

1. Supa kakabu, bolet (Boltus)

Habitatnya :

Tumbuh liar di hutan di antara jatuhan daun atau tanah berhumus, di pinggir kebun dan
pekarangan rumah.

Ciri-ciri :

Tubuh buah menyerupai payung, tudung tebal dan bulat.

Batang berwarna kecoklat-coklatan atau kehitam-hitaman serta tudung berwarna coklat tua,
kuning, atau coklat kekuning-kuningan.

2. Supa rampak (Coprinus)

Habitatnya :

Tumbuh liar di tempat penggilingan padi dan di bawah pohon pisang.

Ciri-ciri :

Apabila masih muda tudung berwarna putih atau putih kekuning-kuningan, putih kebirubiruan atau putih gelap dan apabila sudah tua tudungnya cepat hancur dan mengeluarkan
cairan yang berwarna biru atau violet.
3.Kortinarius (Cortinarius)

Habitatnya :

Tumbuh liar, banyak ditemukan di tumpukan daun dan tanah yang berhumus.

Ciri-ciri:

Tubuh buah berbentuk payung dengan batang berwarna putih kekuning-kuningan, putih
kebiru-biruan atau putih gelap.

Tudung berwarna putih kecoklatan, violet, biru atau kuning.

4.Laktarius (Lactarius)

Habitatnya :

Tumbuh liar di hutan, kebun dan di pekarangan rumah.

Ciri-ciri :

Tubuh buah berbentuk payung terbuka ke atas dan berbatang tebal berwarna coklat
muda,kekuning-kuningan, coklat putih serta biru muda dengan bintik hitam atau garis-garis
memanjang.

Tudung berwarna seperti batang, kadang-kadang disertai garis melingkar di atasnya.


4.8. PERANAN
Peranan jamur dalam kehidupan manusia sangat banyak, baik peran yang merugikan
maupun yang menguntungkan. Jamur yang menguntungkan meliputi berbagai jenis antara lain
sebagai berikut.

a.

Volvariella

volvacea (jamur

merang)

berguna

sebagai

bahan

pangan

berprotein tinggi.
b. Rhizopus dan Mucor berguna

dalam

industri

bahan

makanan,

yaitu

dalam pembuatan tempe dan oncom.


c.

Khamir Saccharomyces berguna

sebagai

fermentor

keju, roti, dan bir.


d.

Penicillium notatum berguna sebagai penghasil antibiotik.

e.

Higroporus dan Lycoperdon perlatum berguna sebagai dekomposer.

dalam

industri

Di samping peranan yang menguntungkan, beberapa jamur juga mempunyai peranan


yang merugikan, antara lain sebagai berikut.
a.

Phytium sebagai

hama

bibit

tanaman

yang

menyebabkan

penyakit

rebah semai.
b. Phythophthora

inf'estan menyebabkan

penyakit

pada

daun

tanaman

kentang.
c.

Saprolegnia sebagai parasit pada tubuh organisme air.

d.

Albugo merupakan parasit pada tanaman pertanian.

e.

Pneumonia

carinii menyebabkan

penyakit

pneumonia

pada

paru-paru

manusia.
f.

Candida sp. penyebab keputihan dan sariawan pada manusia.

BAB V

ALGA (GANGGANG)

Alga merupakan tumbuhan talus yaitu tumbuhan yang belum mempunyai akar, batang
dan daun. Alga adalah organisme berkloroplas yang dapat menghasilkan oksigen melalui
proses fotosintesis. Ukuran alga beragam dan beberapa micrometer sarnpai beberapa meter
panjangnya. Semua Alga mengandung klorofil oleh sebab itu dapat berfotosintesis.
Disamping itu mengandung pigmen lain yang berbeda-beda tergantung divisi. Pigmenpigmen ini tergkandung dalam plastida. Alga dalam istilah Indonesia sering disebut sebagai

ganggang yang merupakan tumbuhan talus karena belum memiliki akar, batang dan daun
sejati. (Lihat gambar 5.1).

Alga ada yang bersel tunggal dan juga ada yang bersel banyak dengan bentuk serupa
benang atau lembaran. Tubuh ganggang terdapat zat warna (pigmen) yaitu Fikosianin
(warna biru), Klorofil (warna hijau), Fikosantin (warna pirang/ coklat), Fikoeritrin (warna
merah), Karoten (warna keemasan), Xantofil (warna kuning).
5.1 CIRI-CIRI UMUM ALGA
Secara umum Alga mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, umumnya hidup ditempattempat yang berair baik air tawar maupun air laut, salain itu juga Alga hidup ditempat-tempat
yang lembab lain seperti pohon dan lain sebagainya. Alga juga dapat dapat ditemukan pada
tempat-tempat yang memiliki suhu-suhu ekstrem tinggi atau ekstrem rendah. Struktur tubuh
sel, individu-individu uniseluler yang dapat bergerak (motil) dengan bantuan bulu
cambuk(flagel) dan individu-individu yang multiseluler mempunyai beberapa bentuk antara
lain: koloni senobium, koloni agregat, filamen, sifoneus, parenkimateus. Susunan sel, Alga
memiliki dua tipe sel yang bersifat prokariaotik maupun eukariotik. Tipe plastida yang
dijumpai pada Alga adalah kloroplas dengan bermacam-macam pigmen yang diperlukan
untuk fotosintesis. Pigmen pada Alga memperlihatkan variasi warna yang cukup nyata seiring
dengan perubahan-perubahan pada kondisi linkungan yang berbeda.

5.2 HABITAT ALGA


Alga bisa hidup dipermukaan, selain dipermukaan Alga juga dapat hidup dalam perairan
(aquatik) maupun daratan (terestrial) yang terkena sinar matahari, namun kebanyakan hidup di
perairan. Alga sangat berperan penting di dalam siklus unsur-unsur di bumi, mengingat jumlah
massanya yang sangat banyak yang kemungkinan lebih besar dari jumlah tumbuhan di daratan.

Beberapa Alga laut bersel satu bersimbiosis dengan hewan invertebrata tertentu yang hidup di
laut, misalnya spon, koral, cacing laut. Alga terestrial dapat hidup di permukaan tanah, batang
kayu, dan lain-lain.
5.3 MORFOLOGI ALGA
Alga mempunyai bentuk yang bervariasi. Susunan kerangka Alga tidak dapat dibedakan
antara akar, batang dan daun, sehingga keseluruhan tubuhnya dikenal dengan nama thallus.
Beberapa tumbuhan mempunyai bentuk kerangka tubuh menyerupai tumbuhan berakar,
berbatang dan berdaun atau berbuah, tetapi semua bentuk tubuh tumbuhan tersebut sebetulnya
hanyalah thlallus. Thallus Alga memiliki struktur yang sangat bervariasi kadang-kadang
menyerupai kormus tumbuhan tinggkat tinggi. Bentuk thallus Alga makroskopis bermacammacam antara lain bulat, pipih, gepeng bulat seperti kantong dan seperti rambut.
Percabangan thallus ada yang dichotomus (bercabang dua terus menerus), pectinate
(sederet searah pada satu sisi thallus utama), pinnate (bercabang dua-dua pada sepanjang thallus
utama secara berseling), ferticinate (cabangnya berpusat melingkari aksis atau sumbu utama),
dan ada juga yang sederhana tidak bercabang.
5.4 REPRODUKSI ALGA
a

Secara vegetative
Gambar 5.2 : Perkembangbiakan secara Vegetatif
Secara vegetatif perkembangbiakan dilakukan dengan cara fragmentasi tubuhnya dan
pembelahan sel, serta pembentukan sporik. (Lihat gambar 5.2). Perkembangan vegetative yaitu
dengan membentuk :

a.

Aplanospora, yaitu spora yang tidak dapat bergerak.

b. Planospora, yaitu spora yang dapat bergerak.


c.

Autospora yang berasal dari aplanospora.

d.

Autokoloni yang berasal dari aplanospora, contoh: scenedesmus, pediastrum, dan crucigenia.

Secara aseksual
Secara aseksual: yaitu dengan pembentukan zoospora, aplanospora, hipnospora,
autospora, dan konjugasi. Konjugasi, yaitu sel protoplas tumbuhan I ke tumbuhan II. Contoh:
Spyrogira. Prosesnya, filament saling mendekat kemudian sama-sama membentuk tonjolan
kecil, selanjutnya membentuk papilla, kemudian ke dua dinding papilla melebur hingga
membentuk saluran, dilanjutkan dengan gamet jantan masuk ke sel betina melalui saluran itu.
(Lihat gambar 5.3 dan gambar 5.4).
Gambar 5.3 : Spyrogira sp dengan konjugasi
Gambar 5.4 : Langkah konjugasi Spyrogira sp
Konjugasi terbagi atas 3 bentuk yaitu :

1.

Konjugasi bentuk tangga (skalariform), yaitu pertemuan 2 protoplas di saluran konjugasi.

2. Konjugasi bentuk lateral, yaitu perkawinan antara 2 protoplas yang saling berlekatan yang
berasal dari satu filament.
3.

Konjugasi silang yaitu perkawinan antara 2 protoplas yang tanpa saluran konjugasi.

Secara seksual
Secara seksual yaitu dengan cara sebagai berikut :

a.

Isogami yaitu: gamet yang bentuk dan ukurannya sama (belum dapat dibedakan mana jantan
dan betina).

b.

Anisogami : gamet yang bentuk dan ukurannya tidak sama (gamet yang bentuk dan ukurannya
tidak sama).

c.

Oogami yaitu jenis anisogami dengan gamet jantan yang aktif (gametangium oogonium, dan
gametangium spermatid).

5.5 BENTUK TUBUH ALGA


Algae mempunyai bermacam-macam bentuk tubuh:
a.

Bentuk uniseluler : Bentuk uniseluler yang berflagela dan yang tidak berflagela.

b. Bentuk multiseluler.
a
1.

Berkoloni :
Koloni yang motil

2. Koloni yang kokoid


b

Agregasi: bentuk palmeloid, dendroid, dan rizopoidal.

Bentuk filamentik : filamen sederhana, filamen bercabang, filamen heterotrikh, filamen


pseudoparenkhimatik yang uniaksial dan multiaksial.

Bentuk sifon/pipa.

Pseudoparenkhimatik.

5.6 KLASIFIKASI
Alga dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1.

Divisi Chlorophyta (Alga hijau).

2. Divisi Pyrrophyta.
3. Divisi Chrysophyta (Alga keemasan).
4. Divisi Phaeophyta (Alga coklat).
5. Divisi Rhodophyta (Alga merah).
6. Divisi Cyanophyta (Alga biru).
Untuk lebih jelas maka akan dibahas masing-masing kelas dari alga, pembahasannya
adalah sebagai berikut :
1. Divisi Chlorophyta (Alga hijau)

Gambar 5.5 : Beberapa jenis Chlorophyta (Alga hijau)


Chlorophyta merupakan kelompok besar (lebih dari 7000 spesies) yang anggotanya
terdiri dari alga hijau yang hidup sebagai plankton di air tawar dan sebagian kecil di air laut.
berbentuk filamen nonmotil atau thaloid, dan mempunyai flagella. Sel-selnya dikelilingi oleh
dinding selulosa yang sama dengan tanaman hijau multiseluler seperti halnya kloroplasnya.
Hal ini mendukung argumentasi bahwa Chlorophyta termasuk dalam kingdom tumbuhan.
Diduga

ancestornya

merupakan

autotrof

fotosintetik

yang

merupakan

penyatuan

endosimbiotik antara eukariotik heterotrofik dan cyanobacteria.


A. Ciri-ciri umum Chlorophyta (Alga hijau)
1. Berwarna hijau terang.
2. Kosmopolitan (air tawar, payau, asin. Dari oligotrof sampai eutrof.
3. Memiliki anggota terbanyak.
4. Eukariot.
5. Ada yang unisel, koloni dan filament.
6. Pigmen yang dimiliki: klorofil a,b, karote(,,) dan beberapa xantofil.
7. Dinding sel terbuat dari selulosa atau polimer xylosa atau mannosa atau hemiselulosa.
B. Struktur tubuh Chlorophyta (Alga hijau)
Struktur tubuh bervariasi baik dalam ukuran, bentuk maupun susunanya. Untuk
mencakup sejumlah besar variasi tersebut, maka alga hijau dapat dikelompkkan sebagai
berikut :
1. Sel tunggal (uniseluler) dan motil.
2. Sel senobium (koloni yang mempunyai jumlah sel tertentu sehingga mempunyai bentuk yang
relatif tetap).
3. Koloni tak baraturan, filamen (ada yang bercabang dan tidak bercabang).
4. Heterotrikus (filamen barcabang bentuknya terbagi menjadi prostate dan erect).
5. Foliaceus atau parenkimatis (filamen yang pembelahan sel vegetatif terjadi lebih dari satu
bidang).
6. Tubular (talus yang memiliki banyak inti tanpa sekat melintang).
C. Struktur Sel Chlorophyta (Alga hijau)

1. Dinding sel.
Dinding sel tersusunan atas dua lapisan dalam yang tersusun atas selulosa dan lapisan luar
tersusun atas pektin. Tetapi beberapa alga bangsa volvocales dindingnya tidak mengandung
selulosa. Melainkan tersusun atas glikoprotein. Dinding sel Chlorophyta mengandung xylan
datau mannan.
2. Kloroplas atau tempat pembentukan klorofil.
Gambar 5.6 : Kloroplas
Kloroplas terbungkus oleh sistem membran rangkap. Pigmen yang terdapat dalam
kloroplas yaitu klorofil a dan klorofil b, beta karoten serta berbagai macam xantifil (lutein,
violaxanthin, zeaxanthin) kloroplas dalam sel letaknya mengikuti bentuk dinding sel
parietal,ex: ulotrix atau ditengah lumen sel (axial,ex:muogotia). Pada umumnya satu
kloroplas setiap sel tetapi pada siponoles zygnemales terdapat lebih dari satu kloroplas setiap
sel. (Lihat gambar 5.6). Bentuk kloroplas sangat berfariasi. Fariasi bentuk kloroplas adalah
sebagai berikut :
1.

Bentuk mangkuk

2.

Bentuk sabuk

3.

Bentuk cakram

4.

Bentuk anyaman

5.

Bentuk spiral

6.

Bentuk bintang
Amilum dari Chlorophyta seperti pada tumbuhan tingkat tinggi, tersusun sebagai

rantai glukosa tak bercabang yaitu amilose dan rantai yang bercabang amilopektin. Sering
kali amilum tersebut terbentuk dalam granula bersama dengan badan protein dalam plastida
disebut pirenoid. Tetapi beberapa jenis tidak mempinyai pirenoid merupaka golongan
chlorophyceae yang tinggi tingkatannya. Jumblah pirenoid umumnya dalam tiap sel tertentu
dapat digunakan sebagai bukti taksonomi.
D. Klasifikasi Chlorophyta (Alga hijau)
Regnum

: Protista

Divisi

: Chlorophyta

Kelas

: Chlorophyceae

Ordo

: Zygnematales

Genus

: Spirogirra

Spesies

: Spyrogira sp

(Lihat gambar 5.7).

Gambar 5.7 : Spyrogira sp

E. Perkembangbiakan Chlorophyta (Alga hijau)


Gambar 5.8 : Perkembangbiakan Chlorophyta
1. Secara vegetatif , dilakukan dengan fragmentasi tubuhnya dan pembelahan sel.
2. Secara aseksual, dilakukan dengan cara membentuk sel khusus yang mampu berkembang
menjadi individu baru tanpa terjadinya peleburan sel kelamin. Pada umumnya terjadi dengan
perantara spora, oleh karena itu sering disebut perkembangbiakan secara sporik. zoopora
dibentuk oleh sel vegetative, tetapi beberapa tumbuhan terbentuk dalam sel khusus disebut
sporangia. Zoopora setelah periode berenang beberapa waktu berhenti pada subtract yang
sesuai, umumnya dengan ujung anterior. Flagella dilepaskan dan terbentuk dinding , selama
proses ini alga mensekresikan lendir yang berperan untuk mempertahankan diri. Selain
dengan zoopora, perkembangbiakan secara aseksual dilakukan dengan pembentukan:
Aplanospora, hipnospora, autospora. (Lihat gambar 5.8).
3. Secara seksual, dengan anisogami. Gamet jantan menyerupai zoospora dan selalu bergerak
bebas. Gamet betina kadang-kadang tidak bergerak, jadi merupakan suatu oogonium.
Perkawinan terjadi karena adanya daya tarik yang bersifat kemotaksis. Zigot biasanya berupa
suatu sel yang berdinding tebal, bulat, dan kadang-kadang berwarna merah karena
mengandung hematokrom. Pada kebanyakan Chlorophyta pembelahan reduksi terjadi pada
perkecambahan

zigot,

jadi

ganggang

hijau

adalah

organisme

haploid.

Alat-alat

perkembangbiakan seksual dan aseksual (gamet dasn spora) terdapat pada satu individu,
tetapi tiap-tiap individu tidak menghasilkan kedua macam alat perkembangbiakan itu.
Biasanya terdapat suatu deretan tumbuhan yang selalu berkembangbiak secara vegetatif dan
baru kemudian muncul individu yang berkembangbiak secara generatif. Jadi, meskipun
kedua-duanya haploid, ada yang bersifat vegetatif dan ada yang bersifat generatif. Dengan
pemindahan tempat terjadinya pembelahan reduksi dari zigot ke sporangium pada fase
aseksual, terjadilah pergiliran keturunan antara sporofit yang diploid dengan gametofit yang
haploid. Pada pembelahan reduksi terjadi penentuan jenis kelamin.

F. Habitat Chlorophyta (Alga hijau)


Cholorophyta umumnya hidup di air tawar (90%) yang merupakan suatu penyusun
plankton atau sebagai bentos bersel besar ada yang hidup di air laut(10%), terutama
dekatpantai. Ada jenis chlorophyceae yang hidup pada tanah-tanah yang basah. Bahkan

diantaranya ada yang tahan akan kekeringan. Sebagian lainnya hidup bersimbiosis dengan
lichenes, dan ada yang intraseluler pada binatang rendah. Jenis yang hidup di air tawar
bersifat kosmopolit, terutama hidup ditempat yang cahayanya cukup seperti : kolam, danau,
genangan air hujan, pada air mengalir (sungai atau selokan). Alga hijau ditemukan pula pada
lingkungan semi akatik yaitu pada batu-batuan, tanah lembab dan kulit batang pohon yang
lembab (protococus dan trentepolia). Beberapa anggotanya hidup dii air mengapung atau
melayang, sebagian hisup sebagai plankton. Beberapa jenis ada yang hidup melekat pada
tumbuhan ataupun hewan.
G. Peranan Chlorophyta (Alga hijau)
Alga berperan sebagai produsen dalam ekosistem. Berbagai jenis alga yang hidup
bebas di air terutama yang tubuhnya bersel satu dan dapat bergerak aktif merupakan
penyusun pitoplankton. Sebagian fitolankton adalah alga hijau, pigmen klorofil yang
dimilikinya aktif melakukan fotosintesis sehingga alga hijau merupakan produsen utama
dalam ekosistem perairan.
Peranannya bagi kehidupan manusia antara lain, digunakan dalam penyelidikan
metabolisme di laboratorium. Juga dimanfaatkan sebagai bahan untuk obat-obatan, bahan
kosmetik dan bahan makanan. Serbuk Chlorella dalam industri obat-obatan dimasukkan
dalam kapsul dan dijual sebagai suplemen makanan dikenal dengan Sun Chlorella.
Pengembangannya saat ini di kolam-kolam (contohnya di Pasuruan).
2. Divisi Pyrrophyta

Gambar 5.9 : Beberapa jenis Phyrrophyta


Pyrrophyta adalah alga uniselular (bersel satu) dengan dua flagel yang berlainan,
berbentuk pita, keluar dari sisi perut dalam suatu saluran. Mengandung pigmen (klorofil A,C2
dan piridinin,sementara yang lain memiliki klorofil A,C1,C2 dan fucosantin) yang dapat
berfotosintesis. Hanya dinoflagellata yang memiliki kemampuan untuk berfotosintesis.
Berwarna kuning coklat.

Alga yang termasuk Pyrrophyta ini disebut Dino Flagellata, tubuh tersusun atas satu
sel memiliki dinding sel dan dapat bergerak aktif. Ciri yang utama bahwa di sebelah luar
terdapat celah dan alur, masing-masing mengandung satu flagel. (Lihat gambar 5.9).
A. Ciri-ciri umum Pyrrophyta
1. Memiliki variasi nutrisi yang besar dari autototropik ke bentuk heterotropik yang mana
terdapat vertebrata parasit dan ikan atau alga phagocytiza yang lain.
2. Memiliki peranan sebagai plankton baik di air tawar dan di air laut
3. Bentuk sel tunggal.
4. Mempunyai bintik mata (stigma), berupa kumpulan butir lipid yang mengandung pigmen
karetinoid.
5. Tubuh primitif pada umumnya berbentuk ovoid tapi asimetri.
6. mempunyai dua flagella, satu terletak di lekukan longitudinal dekat tubuh bagian tengah
yang disebut sulcus dan memanjang ke bagian posterior. Sedangkan flagella yang lain ke arah
transversal dan ditempatkan dalam suatu lekukan (cingulum) yang melingkari tubuh atau
bentuk spiral pada beberapa belokan.
7. Sel terbagai secara transversal oleh cingulum menjadi epiteka dan hipoteka.
8. Dinding sel pada umumnya mengandung selulose.
9. Semua tipe mempunyai membran plasma yang berkesinambungan dengan membran flagel
pada bagian luar.
10. Cadangan makanan berupa amilum yang terdapat dalam sitoplasma.
B. Struktur tubuh Pyrrophyta
Organisme ini memiliki peranan sebagai plankton baik di air tawar dan di air laut.
Meskipun lebih berfariasi bentuk yang ditemukan di air laut. Klas dinophyceae motil tersusun
oleh epiko dan hipokon yang terbagi secara melintang oleh girdre (sabuk/ sigulum) Epikon
dan hipokon paa umumnya dibagi menjadi sejumlah lempengan (teka) dan jumlah serta
susunan karakterisrik pada tingkat marga sulcus letaknya membujur.
C. Struktur sel Pyrrophyta
Pembagian Pyrrophyta dalam 2 golongan berdasarkan pada ada tidaknyanya penutup
sel (ampiesma) yaitu yang telanjang (unarmored) dan mempunyai penutup sel (theca). Pada
theca terdapat pelat-pelat seperti baja dengan komponen utama sellulosa. Jumlah dan letak
pelat digunakan sebagai dasar dalam pemberian nama Peridinium. Mempunyai bintik mata
(stigma), berupa kumpulan butir lipid yang mengandung pigmen karetinoid. Tubuh
dinoflagellata primitif pada umumnya berbentuk ovoid tapi asimetri, mempunyai dua flagella,

satu terletak di lekukan longitudinal dekat tubuh bagian tengah yang disebut sulcus dan
memanjang ke bagian posterior. Sedangkan flagella yang lain ke arah transversal dan
ditempatkan dalam suatu lekukan (cingulum) yang melingkari tubuh atau bentuk spiral pada
beberapa belokan. Lekukan tranversal disebut girdle, merupakan cincin yang simpel dan jika
berbentuk spiral disebut annulus. Flagellum transversal menyebabkan pergerakan rotasi dan
pergerakan kedepan, sedangkan flagellum longitudinal mengendalikan air ke arah posterior.
Sel Dinoflagellata terbagai secara transversal oleh cingulum menjadi epiteka dan hipoteka.
Pada Peridinium, epiteka tersusun atas 2 seri: apical dan precingular. Pada beberpara genus
terdapat seri pelat yang tidak sempurna pada permukaan dorsal dengan 1-3 pelat interkalar
anterior (a). Hipoteka tersusun atas 2 seri transversal: cingular dan antapikal juga sering
terdapat seri yang tidak sempurna yaitu interkalar posterior.
Dinding sel pada umumnya mengandung selulose, hal ini akan memberikan struktur
karakteristik dari teka amfisema adalah nama yang digunakan untuk lapisan terluar khusus
dari sel Dinophyceae. Semua tipe mempunyai membran plasa yang berkesinambungan
dengan membran flagel pada bagian luar. Pada umumnya terdapat sejumlah pori dalam
amfisema dengan trikosit dalam tipe pori.

D. Klasifikasi Pyrrophyta
Regnum

Plantae

Divisi

Dinophyta

Kelas

Dinoflagellata

Ordo

Gonyaulacales

Spesies : Gonyaulax balechii


(Lihat gambar 5.10).
Gambar 5.10 : Gonyaulax balechii
E. Perkembangbiakan Pyrrophyta
Cara Perkembangbiakan Pyrrophyta memiliki 2 cara perkembangbiakan, yaitu secara:
a. Vegetatif, yaitu dengan pembelahan sel yang bergerak, jika sel memiliki panser, maka
selubung akan pecah. Dapat juga dengan cara protoplas membelah membujur, lalu keluarlah
dua sel telanjang yang dapat mengembara yang kemudian masing masing membuat panser
lagi. Setelah mengalami waktu istirahat zigot yang mempunyai dinding mengadakan
pembelahan reduksi, mengeluarkan sel kembar yang telanjang.

b. Sexual, dalam sel terbentuk 4 isogamet yang masing-masing dapat mengadakan perkawinan
dengan isogamet dari individu lain.
c. Sporik, yaitu dengan zoospora .
F. Habitat Pyrrophyta
Mayoritas dari Pyrrophyta berasal dari lautan, tetapi ada beberapa spesies yang lain
yang hidup dia sungai sungai. Pyrrophyta adalah kompenin yang penting dari plankton,
khususnya pada kondisi hangat. Sebagai penambahan, beberap spesies adalah benthic atau
terjadi dalam peristiwa simbiotik. Dinoflagellata memiliki variasi nutrisi yang besar, dari
range nututropik ke bentuk heterotropik, yang mana terdapat juga invertebrata parasit dan
ikan atau alga phagocytiza yang lain. Dinoflagellata yang memiliki sistem fotosintesis dan
membutuhkan vitamindissebut autotropi dan yang membutuhkan energi disebut heterotrop.
G. Peranan Pyrrophyta
Pertumbuhan yang cepat dari plankton dinoflagelata mungkin akan menghasilkan
warna coklat atau merah perubahan wama air disebut red tides. Red tides biasanya terjadi
pada air pesisir pantai dan muara. Beberapa dinoflagelata menghasilkan red tides adalah
luminescent Spesics lain mungkin mengandung racun yang dapat dilepaskan kedalam air atau
terakumulasi dalam rantai makanan. Dalam beberapa kasus, racun dapat menyebabkan
kematian ikan atau menyeliabkan keracunan manusia yang makan makanan yang
terkontaminasi oleh moluska atau ikan.
3. Divisi Chrysophyta (Alga keemasan)
Gambar 5.11 : Beberapa jenis Chrysophyta (Ganggang keemasan)
Nama Chrysophyta berasal dari bahasa yunani yaitu Chryos yang berarti emas.
Chrysophyta adalah satu kelas dari ganggang berdasarkan zat warna atau pigmentasinya.
Chrysophyta memiliki klorofil A dan C dan klorofil tersebut tersimpan didalam kloroplas
yang berbentuk cakram atau lembaran. (Lihat gambar 5.11).
A. Ciri-ciri umum Chrysophyta (Alga keemasan)
1. Berwarna keemasan karena mengandung pigmen karoten dan xantofil.
2. Cadangan makanan pada Chrysophyta berupa tepung krisolaminarin.
3. Digolongkan ke dalam 3 kelas, yaitu Kelas alga Hijau-Kuning (Xanthophyceae), Kelas alga
keemasan (Chrysophyceae), Kelas Diatom (Bacillariophyceae).
B. Struktur tubuh Chrysophyta (Alga keemasan)
Bentuk tubuh Chrysophyta kebanyakan bersel satu (uniseluler) dan bersel banyak
(multiseluler) dan ubuhnya biasanya berbentuk seperti benang. Susunan Tubuh Chrysophyta :

a). Xantophyceae ada 3 bentuk


1. Berbentuk sel tunggal.
2. Berbentuk filament.
3. Berbentuk tubular/tidak terbatas.
b). Chrysophyceae ada 2 bentuk
a Berbentuk sel tungggal.
b Berbentuk koloni.
c). Bacillariophyceae
1. Berbentuk sel tunggal berbentuk koloni dengan bentuk tubuh simetri bilateral (pennales) dan
simetri radial (centrales).
C. Struktur sel Chrysophyta (Alga keemasan)
Chrysophyta umumnya tidak berdinding sel. Bila ada dinding selnya maka terdiri dari lorika
(ex.Dinobryon dan kephryon). Atau tersusun dari lempengan silicon (ex. Sinura dan
mallomonas) atau tersusun dari cakram kalsium karbonat (ex. Syracospoera). Struktur selnya
tidak mempunyai dinding selulosa dan membrannya menunjukkan kewujudan silica.
1. Isi Sel
a Xantophyceae, Terdapat inti sel: berentuk tunggal dan berbentuk banyak inti. Terdapat plastid
berbentuk cakram tanpa pienoid Pigmen : klorofil a dan b, karoten, xantofilchrysophyceae
Berinti tunggal Plastida, terdiri dari 1 atau 2 Pigmen, berupa klorofil a, b, c karotin,
xantofil, berupa lutein, diadinoxantin, fukoxantin dan dinoxantin.
b Berinti tunggal dan berinti diploid Pigmen, berupa klorofil a dan c karotin, xantofil.
2. Kloroplas
Kloroplas pada Chrysophyta berwarna coklat keemasan. Chrysophyta menunjukkan
perbedaan struktur kloroplas dan sering kali terdapat tiga thylakoids disekitar periphery
kloroplas (girdle lamina). Kloroplas terdiri dari dua membrane (CER), jarak periplastida
antara dua kloroplas dan retikulumendoplasma sempit dan kurang adanya perbedaan struktur.
3. Ribosom
Ribosom pada Chrysophyta terdapat pada permukaan luar CER. Alat gerak
Chrysophyta memiliki alat gerak yang terdiri dari flagel dan jumlahnya tidak sama tiap marga
(struktur dasar flagel pada alga mirip dengan flagel pada mahluk hidup lain. Susunan benang
flagel menunjukkan pola 9+2 dengan tipe akronematik (whiplash) dan pantonematik (tinsei).
4. Vakuola Kontraktil
Terdapat satu atau dua fakuola kontraktil dalam sel (tergantung pada spesies) yang
terletak dekat dasar dari flagel. Masing-masing fakuola kontrakil terdiri atas vesikel kecil

yang berdenyut dengan interfal yang teratur, mengeluarkan isinya dari sel. Fakuola kontraktil
yang terdapat pada alga yang berflagel fungsi utamanya adalah osmoregulator.
5. Badan Golgi
Badan golgi terletak di antara inti dan kontraltil fakuola. Badan golgi adalah organela
yang terdapat pada sel eukariotik, baik hewan maupun tumbuhan yang strukturnya terdiri dari
tumpukan fesikel bentuk cakram atau kantung.
6. Nukleus
Nukleus dan kloroplas dihubungkan oleh membran kloroplas ER yang mana berhubungan
dengan pembungkus inti.

D. Klasifikasi Chrysophyta (Alga keemasan)


Domain

Regnum

Divisi

Chloromaiveolata
:

Kelas

Eukaryota
Heterokontophyta

: Chrysophyta

(Lihat gambar 5.12).


Gambar 5.12 : Chrysophyta
E. Perkembangbiakan Chrysophyta (Alga keemasan)
Secara umum perkembangbiakan pada Chrysophyta terjadi secara generatif dan
vegetatif. Dengan membelah secara longitudinal dan fragmentasi terjadi menjadi 2 macam
yaitu: 1). Koloni memisah menjadi 2 atau lebih (sel tunggal melepaskan diri dari koloni
kemudian membentuk koloni yang baru). 2). Sporik dengan membentuk 2 oospora (untuk sel
yang tidak berflogel) dan statospora (tipe spora yang unik yang ditemukan pada Chrysophyta,
dengan bentuk speris dan bulat, dinding spora bersilla, tersusun atas 2 bagian yang saling
tumpang tindih, mempunyai lubang atau pori ditutupi oleh sumbat yang mengandung
gelatin).
Perkembangbiakan Chrysophyceae yang dilakukan scara vegetative dengan
membelah secara longitudinal dan fragmentasi ada dua macam yaitu:
a. Koloni memisah menjadi 2 bagian atau lebih. Sel tunggal melepaskan diri dari koloni
kemudian membentuk koloni yang baru.
b. Sporik, dengan membentuk zoospore (untuk sel-sel yang tidak berflagel) dan statospora.
Statospora yaitu tipe spora paling unik yang diketemukan pada crysophyta, khususnya pada

kelas chrysophyceae dengan membentuk speris dan bulat. Dinding spora bersilia tersusun
atas 2 bagian yang saling tumpang tindih, mempunyai lubang atau poredan ditutupi oleh
sumbat yang mengandung gelatin.
F. Habitat Chrysophyta (Alga keemasan)
Habitat Chrysophyta biasanya terdapat ditempat-tempat yang basah, air laut, air tawar
dan ditanah yang lembab. Untuk xantophyceae hidup di air tawar, air laut dan tanah dan
chrysophyceae hidupnya di air laut dan air tawar sedangkan bacillariopphyceae di air laut, di
air tawar ataupun pada tanah- tanah yang lembab.
G. Peranan Chrysophyta (Alga keemasan)
Chrysophyta merupakan bagian yang terdiri dari fitoplankton. Navicula merupakan
fitoplankton dilaut sehingga dikenal sebagai grass of the sea. Beberapa hewan laut kecil
seperti udang-udangan dan larva ikan memperoleh karbohidrat, lemak, dan protein dari
diatomae. Sisa diaromae yang telah mati berbentuk deposit yang disebut tanah diatoni. Tanah
diaromae sering dimanfaatkan sebagai penyerap trinitrogliserin (TNT) pada bahan peledak,
campuran semen, sebagai bahan penggosok, bahan penyaring, solasi penyuling gasoline dan
glukosa serta digunakan sebagai bahan untuk pembuat jalan.
Disamping itu alga ini berguna sebagai bahan penggosok, bahan pembuat isolasi, penyekat
dinamit, membuat saringan, bahan alat penyadap suara, bahan pembuat cat, pernis, dan
piringan hitam. Chrysophyta merupakan bagian yang terdiri dari fitoplankton.
4. Divisi Phaeophyta (Alga coklat)

Gambar 5.13 : Beberapa jenis Phaeophyta (Ganggang coklat)


Phaeophyta atau ganggang coklat adalah salah satu kelas dari dari ganggang
berdasarkan zat warna atau pigmentasinya. Pigmen yang lebih dominan adalah pigmen
xantofil yang menyebabkan ganggang berwarna coklat. Pigmen lain yang terdapat dalam
Phaeophyceae adalah klorofil A dan C serta karoten. (Lihat gambar 5.13).
A. Ciri-ciri umum Phaeophyta (Alga coklat)
1. Sebagian besar Phaeophyta terdapat dilaut.

2. Phaeophyta banyak terdapat didaerah yang beriklim dingin.


3. Alga ini banyak mendominasi bagian lateral daerah artik dan antartik.
4. Ada jenis-jenis lainnya yang hidup didaerah tropic dan subtropik.
5. Sebagian besar dari phaeophyta hidup melekat pada subtract karang dan lainnya.
6. Beberapa diantaranya hidup sebagai epifit.
7. Semua berbentuk benang atau lembaran, bahkan ada yang menyerupai tumbuhan tingkat
tinggi denganbagian-bagian serupa akar, batang, dan daun.
8. Umumnya bersifat makroskopis, dan dapat mencapai ukuran lebih dari30 meter, dan
mempunyai gelembung-gelembung udara yang berfungsi sebagai pelampung.
9. Mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia di antaranya: Sebagai bahan makanan,
pengasil alginate di laboratorium,dalam industri sebagai bahan kosmetik, farmasi, dan
penyusun fosil.

B. Struktur tubuh Phaeophyta (Alga coklat)


Tubuh selalu berupa talus yang multi seluler yang berbentuk filament atau lembaran
atau menyerupai semak atau pohon yang dapat mencapai beberapa puluh meter, terutama
jenis-jenis yang hidup di lautan daerah iklim, dingin. Panjang tubuh maximum mencapai
100m.
C. Struktur sel Phaeophyta (Alga coklat)
Sel mengandung khloroplas berbentuk bulat, bulat panjang, seperti pita,mengandung
khorofil a dan klorofil c serta beberapa xantofil misalnya fukosatin. Cadangan makanan
berupa laminarin dan manitol. Dinding sel menandung selulose dan asam alginate. Umumnya
dapat ditemukan adanya dinding sel, yang tersusun dari tiga macam polimer, yaitu : selulosa,
asam aginat, fukan dan fukoidin. Dimana algin dan fukoidin lebih kompleks dari selulosa dan
gabungan dari keduanya membentuk fikokoloid. Kadang-kadang dinding selnya juga
mengalami pengapuran. Inti selnya berinti tunggal, bagian pangkal berinti banyak. Kloroplas
dengan berbagai macam bentuk, ukuran dan jumlah.

D. Klasifikasi Phaeophyta (Alga coklat)


Regnum
Divisi

: Protista
: Phaeophyta

Kelas

: Phaeophyceae

Ordo

: Fucales

Famili

: Sargassaceae

Genus

: Sargassum

Spesies

: Sargassum sp Gambar 5.14 : Sargassum sp

E. Perkembang biakan Phaeophyta (Alga coklat)


Perkembang biakan dengan frakmentasi dan membentuk spora (aplanospora dan
zoospora). Zoospora yang dihasilkan memiliki 2 flagel yang tidak sama panjang dan terletak
di bagian lateral. Reproduksi generatif dengan membentuk alat kelamin yang disebut
konseptakel jantan dan konseptakel betina. Didalam konseptakel jantan terdapat anteridium
dan di dalam konseptakel betina terdapat oogonium yang menghasilkan ovum. Spermatozoid
membuahi ovum yang menghasilkan zigot.
perkembang biakan pada bangsa ganggang coklat ini terjadi secara vegetatif, sporik
dan gametik. Perkembang biakan secara vegetatif dilakukan dengan cperantara cabangcabang kecil yang dibentuk di bagian basal dari thalussnya atau dapat pula dilakukan secara
fragmentasi thalussnya. Perkembangbiakan seksual dilakukan secara oogamis ganggang ini
bersifat monoeisis atau diesis.
F. Habitat Phaeophyta (Alga coklat)
Phaeophyta sebagian besar hidup di air laut hanya beberapa saja yang hidup di air
tawar. Dan ada yang terdampar di pinggir pantai, melekat pada batu-batuan dengan alat
pelekat semacam akar (hold fast). Phaeophyta ini juga hidup di tempat yang bersuhu dinggin
dan sedang.
Phaeophyta ditemukan di seluruh dunia. Hampir semua adalah organisme laut dan
lebih dingin, air aktif, meskipun beberapa lebih suka iklim tropis dan subtropis. Phaeophytes
yang lebih sejuk karena iklim sejuk air itu mampu bertahan lebih tinggi konsentrasi karbon
dioksida, yang digunakan dalam fotosintesis. Mereka ditemukan di lepas pantai hampir setiap
negara. Mereka adalah bagian penting dari flora laut, karena menyediakan makanan, tempat
berlindung, pemijahan daerah, dan substrat untuk berbagai hewan laut.
G. Peranan Phaeophyta (Alga coklat)
Sebagian besar paeophyta di gunakan oleh masyarakat sebagai bahan makanan ada
pula yang menggunakan sebagai bahan lab, dan ada juga yang memanfaatkan sebagai bahan
obat dan pelekat fosil. Para ilmuwan memanfaatkan phaeophyta untuk melawan timbulnya
kaker kulit yang di sebabkan oleh terpaparnya sinar matahari.

5. Divisi Rhodophyta (Alga merah)


Gambar 5.15 : Rhodophyta (Alga merah)
Rhodophyta sering disebut juga sebagai alga merah, karena pigmen fotosintetik
didominasi oleh fikoeritrin. Pigmen lain terdiri atas klorofil a, dan pada beberapa jenis
mempunyai klorofil d, fikosianin, karoten, dan beberapa xantofil. (Lihat gambar 5.15).
A. Ciri-ciri umum Rhodophyta (Alga merah)
1. Berwarna merah.
2. Bahan cadangan makanan di dalam selnya berupa pati floridean, yaitu polisakarida yang
mirip amilopektin.
3. Mempunyai dinding sel berupa selulosa, xylan, dan galaktan.
4. Alat gerak yang berupa flagela tidak ada.
5. Umumnya hidup di lautan, terutama di daerah tropis, beberapa spesies hidup di daerah
dingin.
6. Dapat tumbuh sampai kedalaman lebih dari 175 meter di perairan.
7. Kebanyakan tumbuh menempel pada bebatuan dan substrat lain atau lagae lain, tetapi ada
juga yang hidup mengapung dengan bebas.
B. Struktur sel Rhodophyta (Alga merah)
Dinding selnya terdiri dua lapis, lapisan bagian dalam kasar (rigid) dan menyerupai
mikrofibril, sedangkan bagian luar berbentuk lapisan mucilaginous. pada dinding selnya
terdapat berbagai macam bahan selain selulosa, yaitu polisakarida sulfat, agar dan karagenin.
Pada alga pembentuk koral, dapat mengumpulkan CaCO3 di dalam dinding selnya. Oleh
karena hal tersebut jenis alga ini berperan penting dalam proses pembentukan karang.
C. Struktur tubuh Rhodophyta (Alga merah)
Umumnya tubuh berwarna merah karena adanya protein fikobilin,terutama fikoeritrin,
tetapi warnanya bervariasi mulai dari merah ke coklat atau kadang-kadang hijau karena
jumlahnya pada setiap pigmen. Dinding sel terdiri dari sellulosa dan gabungan pektik, seperti
agar-agar, karaginan dan fursellarin. Hasil makanan cadangannya adalah karbohidrat yang
kemerah-merahan. Ada perkapuran di beberapa tempat pada beberapa jenis. Jenis dari divisi
ini umumnya makroskopis, filamen, sipon, atau bentuk thallus, beberapa dari mereka
bentuknya seperti lumut.
Tubuh ganggang ini juga berwarna merah sampai ungu, tetapi ada juga yang
lembayung atau pirang atau kemerah merahan, chromatofora berbentuk cakram atau

lemabaran dan mengandung klorofil a, klorofil b dan karoteboid. Akan tetapi, warna lain
tertutup oleh warna merah fikoiretrin sebagai pigmen utama yang mengadakan fluoresensi.
D. Reproduksi Rhodophyta (Alga merah)
Roduksi ganggang ini secara seksual dengan pembentukan dua ateridium pada ujung
ujung cabang talus. Arteridium menghasilakn gamet jantang yang berupa spermatium dan
betinanya karpogamium terdapat pada ujung cabang lainnya.
Selaian reproduksi seksusal ganggang ini juga bereproduksi sevcara aseksual terjadi
dengan pembentukan tetraspora kemudian menjadi gametania jantan dan gametania betina,
akan membentuk satu karkospofrafit. Karkosporafit akan menghasil tentranspora. Contoh
anggota ganggang merah antara lain: porallina, parmalia, bateracospermum moniniformi,
gelidium, gracilaria,eucheuma, dan skinaia furkellata.
E. Klasifikasi Rhodophyta (Alga merah)
Regnum

: Protista

Divisi
Kelas

Rhodophycophyta

Rhodophyceae

Ordo

Famili

Genus
Spesies

Gigartinales
Gracilariaceae

Gracilaria

: Gracilaria sp

(Lihat gambar 5.16)

Gambar 5.16 : Gracilaria sp

F. Habitat Rhodophyta (Alga merah)


Ganggang ini kebanyakan hidup di laut dan beberapa jenis di air tawar, ada juga yang hidup
didaerah dingin.
G. Peranan Rhodophyta (Alga merah)
Peranan ganggang ini antara lain sebagai bahan makanan dan kosmetik, misalnya eucheuma
spinosum , selain itu juga dipakai untuk mengeraskan atau memadatkan media pertumbuhan
bakteri.

6. Divisi Cyanophyta (Alga Biru)


Gambar 5.17 : Salah satu jenis Cyanophyta (Alga Biru)
Merupakan alga bersel tunggal atau merupakan koloni berbentuk benang yang
mempunyai spora. Benang benang itu dapat putus putus merupakan hormogonium yang

dapat merayap dan merupakan koloni baru. Spora terbentuk dari isi sel ( endospora ) setelah
keluar dari sel induknya spora dapat menjadi tumbuhan baru. (Lihat gambar 5.17).
A. Ciri-ciri umum Cyanophyta (Alga Biru)
1. Bersel tunggal ( Uniseluler ), ada pula yang berkoloni.
2. Memiliki klorofil, karotenoid serta pigmen fikobilin yang terdiri dari fikosianin dan
fikoeritrin.
3. Dinding sel mengandung peptida, hemiselulosa dan selulose, kadang kadang
berlendir.
4. Inti sel tidak memiliki membran ( prokariotik)
B. Reproduksi Cyanophyta (Alga Biru)

1. Pembelahan sel
Sel membelah menjadi 2 yang saling terpisah sehingga membentuk sel sel tunggal,
pada beberapa generasi sel sel membelah searah dan tidak saling terpisah sehingga
membentuk filamen yang terdiri atas deretan mata rantai sel yang disebut trikom. Tempat
tempat tertentu dari filamen baru setelah mengalami dormansi ( istirahat yang
panjang ). Heterokist dapat mengikat nitrogen bebas di udara contoh pada Gleocapsa.
Heterokist adalah sel yang pucat, kandungan selnya terlihat homogen (terlihat dengan
mikroskop cahaya) dan memiliki dinding yang transparan. Heterokist terbentuk oleh
penebalan dinding sel vegetatif. Sedangkan akinet terbentuk dari penebalan sel vegetatif
sehingga menjadi besar dan penuh dengan cadangan makanan (granula cyanophycin) dan
penebalan-penabalan eksternal oleh tambahan zat yang kompleks.

2. Fragmentasi
Fragmentasi adalah cara memutuskan bagian tubuh tumbuhan yang kemudian
membentuk individu baru. Fragmentasi terutama terjadi pada Oscillatoria. Pada filamen yang
panjang bila salah satu selnya mati maka sel mati itu membagi filament menjadi 2 bagian
atau lebih. Masing masing bagian disebut hormogonium. Fragmentasi juga dapat terjadi
dari pemisahan dinding yang berdekatan pada trikom atau karena sel yang mati yang mngkin
menjadi potongan bikonkaf yang terpisah atau necridia. Susunan hormogonium mungkin
meliputi kerusakan transeluler.

3. Spora

Pada keadaan yang kurang menguntungkan Cyanobacteria akan membentuk spora


yang merupakan sel vegetatif. Spora membesar dan tebal karena penimbunan zat makanan.
C. Struktur tubuh Cyanophyta (Alga Biru)
Berbentuk bulat memanjang dan dikelilingi oleh membran dengan beberapa generasi
sel yang terdapat di dalamnya. Membran kadangkadang ada yang berpigmen.
D. Struktur sel Cyanophyta (Alga Biru)
Sel tersusun atas matriks di dalam sebuah lapisan tunggal yang tipis dan berliku yang
dipelihara dan tumbuh dari pembelahan sel dalam 2 arah. Spesies ini mungkin berentuk
plenkton atau epipelic dan terdapat dalam air yang tenang. Dinding sel mengandung pektin,
hemiselulosa, dan selulosa yang kadang-kadang berupa lendir, oleh sebab itu ganggang ini
dinamakan juga ganggang lendir. Rupanya sebagian dinding lendir ini berlekatan dengan
plasma, meskipun tidak selalu demikian, dan ini terbukti dari percobaan-percobaan
plasmlisis. Ditengah-tengah sel terdapat bagian yang tidak berwarna yang mengandung
asam deoksi-ribonukleat.
E. Klasifikasi Cyanophyta (Alga Biru)
Regnum

: Vegetale

Subregnum : Cryptogamae
Divisi

: Cyanophyta

Kelas

: Cyanophyceae

Ordo

: Oscillatoriales

Famili

: Rivulariaceae

Genus

: Rivularia

Spesies

: Rivularia sp.

Gambar : Rivularia sp.

F. Habitat Cyanophyta (Alga Biru)


Cyanophyta biasanya terdapat dan dapat ditemuka pada bebatuan yang lembab atau
pada air.
G. Peranan Cyanophyta (Alga Biru)
Beberapa spesies alga biru dapat dimanfaatkan sebagai sumber makanan alternative.
Selain itu beberapa alga biru yang bersimbiosis dapat menambat (fiksasi) nitrogen bebas ,
sehingga menambah kesuburan tanah.
5.7 PERANAN ALGA

Salah satu peranan dari alga adalah Chrysophyta yang merupakan bagian yang terdiri dari
fitoplankton. Navicula merupakan fitoplankton dilaut sehingga dikenal sebagai grass of the sea.
Beberapa hewan laut kecil seperti udang-udangan dan larva ikan memperoleh karbohidrat,
lemak, dan protein dari diatomae. Sisa diaromae yang telah mati berbentuk deposit yang disebut
tanah diatoni. Tanah diaromae sering dimanfaatkan sebagai penyerap trinitrogliserin (TNT)
pada bahan peledak, campuran semen, sebagai bahan penggosok, bahan penyaring, solasi
penyuling gasoline dan glukosa serta digunakan sebagai bahan untuk pembuat jalan.
Selain itu juga peranan alga juga antara lain sebagai bahan makanan dan kosmetik,
misalnya eucheuma spinosum , selain itu juga dipakai untuk mengeraskan atau memadatkan
media pertumbuhan bakteri.Alga pun memiliki manfaat bagi kehidupan :
1. Sebagai bahan makanan untuk bahan pembuat agar-agar (dari kelompok alga merah),
mengandung gizi yang tinggi (misal chlorella). Kelompok alga merah yang dijadikan bahan
pembuat agar-agar adalah Euchema, Rhodymenia, Gracilaria, dan Gelidium
2. Sebagai bahan industri seperti Laminaria dimanfaatkan untuk bahan pembuat cat, obat-obatan,
kosmetik bahan untuk pasta gigi, bahan peledak, campuran semen dimanfaatkan dari tanah
Diatomae (dari kelompok alga keemasan) yang telah mati
3. Sebagai produsen, karena mampu melakukan pembentukan makanan sendiri melalui peristiwa
fotosintesis
4. Bisa berperan sebagai vegetasi perintis, karena mampu hidup pada suatu lahan yang organisme
lain tidak mampu, sehingga membuka ekosistem baru yang selanjutnya memungkinkan
organisme lainnya
5. Bisa dimanfaatkan dalam pembuatan antibiotik (yaitu scenedesmus)

BAB VI

LICHENES
Lumut kerak merupakan simbiosis antara jamur dan ganggang. Lumut kerak
hidup sebagai epifit pada pepohonan. Lumut ini juga tumbuh di atas tanah, terutama daerah
tundra di sekitar Kutub Utara. Selain itu, lumut kerak dapat hidup di segala ketinggian di atas
batu cadas, di tepi pantai, sampai di gunung-gunung yang tinggi. Lumut kerak dapat berperan
dalam pembentukan tanah dan menghancurkan batu-batuan yang cadas, sehingga lumut jenis
ini disebut juga sebagai tumbuhan perintis. Contoh Lichenes dapat dilihat pada gambar 6.1.

Gambar 6.1 : Lichenes (Lumut kerak)


6.1 CIRI-CIRI UMUM LICHENES
Lichenes memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut :
1. Tidak memiliki akar.
2. Tumbuh sebagai epifit pada tanaman lain.
3. Kebanyakan tumbuh di permukaan batu atau kulit pohon tua, ada juga yang lain tumbuh di
tanah dan pasir.
4. Pertumbuhan memperlihatkan beberapa macam bentuk morfologi yang berbeda.
5. Perkembangbiakan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu seksual, aseksual dan vegetatif.
6.2 HABITAT LICHENES
Lichenes tersebut memulai pembentukan tanah dengan melapukkan pohon dan batubatuan serta dalam proses terjadinya tanah. Lichenes sangat tahan terhadap kekeringan. Jenisjenis Lichenes yang hidup pada bebatuan pada musim kering berkerut sampai terlepas alasnya
tetapi organisme tersebut tidak mati dan hanya berada dalam hidup laten/ dormansi. Jika
segera mendapat air maka tubuh tumbuhan yang telah kering tersebut mulai menunjukkan
aktivitasnya kembali. Pertumbuhan talusnya sangat lambat. Ukuran tubuhnya dalam satu
tahun

tidak

mencapai

cm.

Badan

buah

yang

baru

akan

tumbuh

setelah Lichenes mengadakan pertumbuhan vegetatif selama bertahun-tahun.


6.3 MORFOLOGI TUBUH LICHENES
Tubuh Lichenes dinamakan thallus yang secara vegetatif mempunyai kemiripan
dengan alga dan jamur. Thallus ini berwarna abu-abu atau abu-abu kehijauan. Beberapa
spesies ada yang berwarna kuning, oranye, coklat atau merah dengan habitat yang bervariasi.
Bagian tubuh yang memanjang secara selluler dinamakan hifa. Hifa merupakan organ
vegetatif dari thallus atau miselium yang biasanya tidak dikenal pada jamur yang
bukan Lichenes. Alga
Berdasarkan

selalu

berada pada

bentuknya, Lichenes dibedakan

bagian

permukaan

atas

empat

dari thallus.
bentuk

a. Crustose
Lichenes yang memiliki thallus yang berukuran kecil, datar, tipis dan selalu melekat
ke permukaan batu, kulit pohon atau di tanah. Jenis ini susah untuk mencabutnya tanpa
merusak

substratnya.

Contoh

: Haematomma

puniceum, Acarospora atau Pleopsidium dan Graphis scipta (lihat gambar 6.2).

Gambar 6.2: Graphis scipta


Lichenes Crustose yang tumbuh terbenam di dalam batu hanya bagian tubuh
buahnya yang berada di permukaan disebut endolitik dan yang tumbuh terbenam pada
jaringan

tumbuhan

disebut

endoploidik

atau

endoploidal. Lichenes yang longgar dan bertepung yang tidak memiliki struktur berlapis
disebut

leprose.

b. Foliose
Lichenes foliose memiliki struktur seperti daun yang tersusun oleh lobuslobus. Lichenes ini relatif lebih longgar melekat pada substratnya. Thallusnya datar, lebar,
banyak lekukan seperti daun yang mengkerut berputar. Bagian permukaan atas dan bawah
berbeda. Lichenes ini melekat pada batu, ranting dengan rhizines. Rhizines ini juga berfungsi
sebagai alat untuk mengabsorbsi makanan.

Gambar 6.3: Xantoria parietina


b.Fruticose
Thallusnya berupa semak dan memiliki banyak cabang dengan bentuk seperti
pita.

Thallus

daun-daunan
permukaan

atau
atas

tumbuh

tegak

cabang
dan

pohon.
bawah.

6.4),Ramalina dan Cladonia.

Gambar 6.4: Usnea australis

atau
Tidak

menggantung
terdapat

Contoh: Usnea

pada

batu,

perbedaan

antara

australis (lihat

gambar

c.

Squamulose
Lichenes ini memiliki lobus-lobus seperti sisik, lobus ini disebut squamulus yang
biasanya

berukuran

kecil

dan

saling

bertindih

dan

sering memiliki struktur tubuh buah yang disebut podetia. Contohnya Cladonia
corneola (lihat gambar 6.5).

Gambar 6.5: Cladonia carneola


6.4 ANATOMI TUBUH LICHENES
Anatomi Lumut Kerak dapat dilihat apabila kita sayat tipis tubuh lumut kerak,
kemudian diamati di bawah mikroskop. Maka akan terlihat adanya jalinan hifa/misellium
jamur yang teratur dan dilapisan permukaan terdapat kelompok alga bersel satu, yang
terdapat disela-sela jalinan hifa. Secara garis besar susunan tubuh lumut kerak dapat
dibedakan menjadi 3 lapisan. ( Lihat gambar 6.6).
Gambar 6.6: Anatomi lumut kerak (Lichenes)
Bagian-bagian anatomi tubuh Lichenes tersebut adalah sebagai berikut :
1.

Lapisan

Luar

(korteks)

Lapisan ini tersusun atas sel-sel jamur yang rapat dan kuat. Lapisan ini berfungsi
menjaga agar lumut kerak tetap dapat tumbuh.
2.

Lapisan

Gonidium

Lapisan ini merupakan lapisan yang mengandung ganggang yang berfungsi


menghasilkan

makanan

3.

dengan

cara

Lapisan

berfotosintesis.
Empulur

Lapisan ini tersusun atas sel-sel jamur yang tidak rapat. Berfungsi untuk
menyimpan persediaan air dan tempat terjadinya perkembangbiakan. Pada kelompok lumut
kerak berdaun (feliose) dan perdu (fruticose) memiliki korteks bawah yang susunannya sama
dengan korteks atas, tetapi menghasilkan sel-sel tertentu untuk menempel pada substrat atau
dikenal sebagai rizoid.
6.5 REPRODUKSI DAN PERTUMBUHAN LICHENES
Perkembangbiakan lumut kerak dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu
sebagai berikut :
1. Secara Aseksual

Metode reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan spora yang


sepenuhnya bergantung kepada pasangan jamurnya. Spora yang aseksual disebut
pycnidiospores. Pycnidiospores itu ukurannya kecil, spora yang tidak motil, yang diproduksi
dalam jumlah yang besar disebut pygnidia. Pygnidia ditemukan pada permukaan atas dari
thallus yang mempunyai suatu celah kecil yang terbuka yang disebut Ostiole. Dinding dari
pycnidium terdiri dari hifa yang subur dimana jamur pygnidiospore berada pada ujungnya.
Tiap pycnidiospore menghasilkan satu hifa jamur. Jika bertemu dengan alga yang sesuai
terjadi perkembangan menjadi Lichenes yang baru.

2. Secara Seksual
Perkembangan seksual pada Lichenes hanya terbatas pada pembiakan
jamurnya saja. Jadi yang mengalami perkembangan secara seksual adalah kelompok jamur
yang membangun tubuh Lichenes. Perkembangbiakan secara seksual umumnya terjadi pada
Basidiolichen. Perkembangbiakan ini melalui spora yang dihasilkan oleh hifa-hifa. Fungi
yang kemudian bertemu dengan partner alga yang cocok, maka akan terjadi sexual fusion dan
pembelahan mitosis.
3. Secara Vegetatif
Lichenes yang berkembang biak dengan cara vegetatif yaitu sebagai berikut :
1.

Sebagian talus memisahkan diri yang kemudian akan berkembang menjadi individu

baru.
2.

Perkembangbiakan melalui soredia. Soredia adalah kelompok sel-sel ganggang yang

sedang membelah diselubungi oleh hifa-hifa fungi. Soredia ini sering terbentuk dalam bagian
khusus dari talus yang mempunyai batas-batas yang jelas yaitu sorala.
3.

Perkembangbiakan dengan spora fungi yang hanya menghasilkanLichenes baru jika

fungi tersebut dapat menemukan partner alga yang cocok.

6.6 KLASIFIKASI LICHENES


Lumut kerak diberi nama berdasarkan komponen jamur yang memainkan peran utama
dalam menentukan bentuk lumut kerak tersebut. Jamur ini biasanya terdiri dari mayoritas
masal lumut, meskipun dalam lumut berserabut dan agar-agar hal ini tidak selalu terjadi.

Jamur lumut biasanya anggota Ascomycotajarang anggota Basidiomycota, dan kemudian


disebut Basidiolichens untuk membedakan mereka dari Ascolichens lebih umum.
Sebelumnya beberapa ahli taksonomi, Lichenes ditempatkan pada divisi sendiri
yaitu Mycophycophyta. Tetapi praktik ini tidak lagi diterima karena komponen milik untuk
memisahkan garis

keturunan.

Baik

Ascolichens

maupun

bentuk

garis

keturunan

Basidiolichens monofiletik di masing-masing filum jamur mereka, tetapi mereka beberapa


bentuk utama semata-mata atau terutama-membentuk kelompok lumut dalam masing-masing
filum.
Bahkan lebih luar biasa dari Basidiolichenes adalah jamur Geosiphon pyriforme,
anggota Glomeromycota yang

unik

dalam

hal

ini

membungkus

sebuah

simbion

cyanobacterial di dalam sel tersebut. Geosiphon biasanya tidak dianggap lumut, dan
simbiosis aneh yang tidak diakui selama bertahun-tahun.Genus ini lebih dekat bersekutu
dengan endomycorrhizal genera. Lichenesdibedakan

menurut

jenis

cendawan

yang

menyusunnya yaitu :
1. Ascolichenes
2. Basidiolichenes
a. Ascholichen
Jika cendawan yang menyusunnya tergolong dalam Phyrenomycetales, maka tubuh
buah yang dihasilkan berupa peritesium. Misalnya dan Verrucaria. Jika cendawan
penyusunnya tergolong dalam Discomycetales Lichenesmembentuk tubuh buah yang berupa
apotesium. Berlainan denganDiscomycetales yang hidup bebas yang apotesiumnya hanya
berumur pendek. Apotesium pada Lichenes ini berumur panjang, bersifat seperti tulang rawan
dan mempunyai askus yang berdinding tebal. Dalam golongan ini termasuk Usnea(rasuk
angin) yang berbentuk semak kecil dan banyak terdapat pada pohon-pohonan di hutan apalagi
di daerah pegunungan.
Gambar 6.7 : Dermatocarpon

Gambar 6.8 : Usnea barbata

Contoh Ascholichenes adalah Usnea barbata dan Dermatocarponyang dianggap


mempunyai khasiat obat untuk ramuan pembuatan jamu tradisional (lihat gambar 6.7 dan
6.8). Usnea menghasilkan suatu antibiotik asam usnin yang berguna untuk melawan
Tuberculosis.
Rocella tinctoria untuk pembuatan lakmus. Cladonia rangiferaadalah makanan
utama rusa kutub. Cetraria islandica terdapat didaerah pegunungan di Eropa mempunyai

khasiat obat. Lobaria pulmonaria berupa lembaran-lembaran seperti kulit yang hidup pada
pohon-pohon dan batu-batu.
Dalam kelas Ascolichenes ini dibangun juga komponen alga dari family
Mycophycea dan Chlorophyceae yang bentuknya berupa gelatin. Genus dari Mycophyceae
adalah: Scytonema, Nostoc, Rivularia, Gleocapsa.

Dari

Cholorophyceae

adalah: Protococcus, Trentopohlia dan Cladophora.


b. Basidiodichenes (Hymenolichenes)
Berasal dari jamur Basidiomycetes dan alga Mycophyceae.Basidiomycetes yaitu
dari famili : Thelephoraceae, dengan genus: Cora, Corelladan Dyctionema. Mycophyceae
berupa filament yaitu: Scytonema dan tidak berbentuk filament yaitu Chrococcus.
Basidiodichenes kebanyakan mempunyai thallus yang berbentuk lembaranlembaran. Pada tubuh buah terbentuk lapisan himenium yang mengandung basidium yang
sangat menyerupai tubuh buah Hymenomycetales. Contoh Cora pavonia (lihat gambar 6.9)
yang digunakan sebagai bahan pembuat obat-obatan.

Gambar 6.9 : Cora pavonia


6.7 PERANAN LICHENES
Lichenes memiliki peranan yang penting dalam perekonomian yaitu sebagai bahan
makanan yang dapat diolah oleh daerah-daerah tertentu, dapat digunakan sebagai primitive
antibiotics, maupun sebagai ekstrak pewarna ungu dan merah.
Lumut kerak mampu hidup pada daerah bebatuan dan mampu merubah area tandus
berbatu menjadi tempat yang digunakan untuk tumbuh-tumbuhan lain.
Peran

lumut

1.

Sebagai

2.

Membantu

3.

Sebagai

kerak

bagi

tumbuhan
siklus
indikator

manusia:
perintis
nitrogen

lingkungan

Peranan lain dari lumut kerak adalah sebagai berikut :


a

Jenis Usnea dayspoga karena mengandung antikanker dan Usnea miseminensis dapat

dijadikan obat.

b Jenis Rocella tinctoria digunakan sebagai bahan dasar lakmus.


c

Selain peran menguntungkan, ternyata lumut kerak juga dapat merugikan karena mampu

merusak batuan pada peninggalan sejarah seperti candi Borobudur dan candi-candi
lainnya.
Walaupun lumut kerak mampu hidup pada lingkungan ekstrim, tetapi lumut kerak
sangat peka terhadap polusi. Oleh sebab itu lumut kerak dapat dijadikan indikator
pencemaran udara, darat, hujan asam, logam berat, kebocoran radioaktif dan radiasi sinar.
Ultraviolet sebagai akibat penurunan ozon. Lumut kerak sangat peka terhadap pencemaran
paling rendah sekalipun. Jika pada suatu daerah tidak terdapat lumut kerak, memberikan
petunjuk bahwa daerah itu telah terkena pencemaran.
Beberapa lumut kerak yang mengandung ganggang Cyanophyta(Cynobacterium)
yang tumbuh tersebar di hutan tropika mampu hidup pada intensitas cahaya yang rendah dan
yang lebih penting mereka dapat menggunakan nitrogen bebas (gas nitrogen) menjadi
nitrogen organik (asam amino dan protein). Jadi lumut kerak Cynobacterium dalam
ekosistem membantu daur nitrogen yang berperan dalam persediaan pupuk alami pada
ekosistem dasar hutan hujan.
Banyak lumut menghasilkan senyawa sekunder, termasuk pigmen yang mengurangi
jumlah berbahaya dari sinar matahari dan racun kuat yang mengurangi herbivora membunuh
bakteri. Senyawa ini sangat berguna untuk identifikasi Lichenes, dan memiliki kepentingan
ekonomi sebagai pewarnaseperti cudbear atau primitif antibiotik.
Ekstrak dari banyak Usnea spesies digunakan untuk mengobati luka di Rusia pada
pertengahan abad kedua puluh. Substansi olivetol ini ditemukan secara alami hadir dalam
spesies tertentu lumut. Ini adalah properti itu saham dengan ganja tanaman, yang internal
menghasilkan

substansi

terkait olivetolicasam

(sebelum

biosynthesise tetrahydrocannabinol(THC).

BAB VII

BRYOPHYTHA

menggunakannya

untuk

Tumbuhan

lumut merupakan

sekumpulan

tumbuhan

kecil

yang

termasuk

dalam divisio Bryophyta (dari bahasa Yunani bryum, "lumut"). Bryon= lumut + phyton=
ialah tumbuhan lumut yang sering dijumpai di tempet-tempat yang lembab atau basah.
Bentuknya merupakan tumbuhan peralihan dari thallus ke bentuk kormus.Tumbuhan ini
sudah

menunjukkan

diferensiasi

tegas

antara

organ

penyerap

hara

dan

organ fotosintetik namun belum memiliki akardan daun sejati. Kelompok tumbuhan ini juga
belum

memiliki

pembuluh

sejati.

Alih-alih

akar,

organ

penyerap

haranya

adalah rizoid (harafiah: "serupa akar"). Daun tumbuhan lumut dapat berfotosintesis.
Tumbuhan lumut merupakan tumbuhan pelopor, yang tumbuh di suatu tempat sebelum
tumbuhan lain mampu tumbuh. Ini terjadi karena tumbuhan lumut berukuran kecil tetapi
membentuk koloni yang dapat menjangkau area yang luas. Jaringan tumbuhan yang mati
menjadi sumber hara bagi tumbuhan lumut lain dan tumbuhan yang lainnya.
Dalam bahasa sehari-hari, istilah "lumut" dapat merujuk pada beberapa divisio.
Klasifikasi lama pun menggabungkan pula lumut hati dan lumut tandukke dalam Bryophyta,
sehingga di dalam Bryophyta terangkum lumut tanduk, lumut hati, dan lumut sejati (Musci).
Namun, perkembangan dalam taksonomi tumbuhan menunjukkan bahwa penggabungan
ini parafiletik, sehingga diputuskan untuk memisahkan lumut hati dan lumut tanduk ke luar
dariBryophyta. Di dunia terdapat sekitar 4.000 spesies tumbuhan lumut (termasuk lumut
hati), 3.000 di antaranya tumbuh di Indonesia[1]. Kebun Raya Cibodas diJawa Barat memiliki
"taman lumut" yang mengoleksi berbagai tumbuhan lumut dan lumut hati dari berbagai
wilayah di Indonesia dan dunia.
Bryophyta merupakan jenis tumbuhan rendah yang pertama beradaptasi dengan
lingkungan darat, tidak seperti halnya jamur yang mesti kehilangan khlorofil. Para ahli
tertarik dalam mempelajari Bryophyta karena anggotanya memperlihatkan tanda-tanda adaya
peralihan dari bentuk thallus ke bentuk kormus.
7.1 CIRI-CIRI BRYOPHYTHA
Gambar 7.1 Bryophytha

Lumut memiliki ciri-cir umum yaitu :


1.

Merupakan tumbuhan peralihan antara Thallophyta dan Kormophyta

2.

Akar berupa Rhizoid

3.

Batang, ada pada lumut daun

4.

Daun masih sederhana, tipis, hanya setebal satu lapis sel

5.

Tidak memiliki jaringan pengangkut ( xylem dan floem )

6.

Habitat di tempat lembab

7.

Sel sel penyusun tubuhnya telah memiliki dinding sel yang terdiri dari selulosa.
Pada semua tumbuhan yang tergolong dalam lumut terdapat persaman bentuk susunan
gemetangiumnya (anteridium maupun arkegonium) terutama susunan arkegoniumnya
mempunyai susunan yang khas yang sering kita jumpai pada tumbuhan paku (pteridophyta).
Batang dan daun pada tumbuhan lumut yang tegak memiliki susunan yang berbeda-beda jika
batangnya di lihat secara melintang tampak bagian-bagian sebagai berikut:

a) Selapis sel kulit, beberapa sel di antaranya memanjang membentuk rizoid-rizoid epidermis.
b)

Lapisan kulit dalam yang tersusun atas beberapa lapisan sel dinamakan korteks.

c) Silindris pusat terdiri dari sel-sel parenkimatik yang memanjang dan berguna untuk
mengangkutair dan garam-garam mineral (makanan). Jadi pada tumbuhan lumut belum
terdapat floem maupun xylem.
8.

Daun limut umumnya setebal satu lapis lapisan sel, kecuali ibu tulang daun, lebih dari satu
lapis sel. Sel-sel daun kecil, smpit panjang dan mengandung kloroplas yang tersusun seperti
jala.

9.

Pada tumbuhan lumut hanya terdapat pertumbuhan memanjang dan tidak ada pertumbuhan
membesar.

10.

Rizoid tampak seperti rambut / benang-banang, yang berfungsi sebagai akar untuk melekat
pada tempat tumbuhannya dan menyerap air serta garam-garam mineral (makanan).

11.

Struktur sapropit (sporongonium) tubuh lumut terdiri atas :

a) Vaginula, kaki yang terselubungi sisa dinding arkegenium, 2 seta atau tangkai.
b) Apofisisis, yaitu ujung seta yang agak melebar yang merupakan peralihan antara seta dan
kotak spora.
c) Kaliptra dan tundung, berasak dari dinding arkegenium sebelah atas manjdi tudung kotak
spora.
d) Kolumela, jaringan yang tidak ikut mengambil bagian dalam pembentukan spora.
Lumut merupakan tumbuhan darat sejati, walaupun masih menyukai tempat yang
lembab dan basah. Lumut yang hidup di air jarang kita jumpai, kecuali lumut gambut
(sphagnum sp.). Lumut tumbuh di berbagai tempat, yang hidup pada daun-daun disebut
sebagai epifil. Jika pada hutan banyak pohon dijumpai epifil maka hutan demikian disebut
hutan lumut. Pada lumut, akar yang sebenarnya tidak ada, tumbuhan ini melekata dengan

perantaraan Rhizoid (akar semu), olehkaren aitu tumbuhan lumut merupakan bentuk
peralihan antara tumbuhan ber-Talus (Talofita) dengan tumbuhan ber-Kormus (Kormofita).
Akar dan batang pada lumut tidak mempunyai pembuluh angkut (xilem dan floem).Lumut
adalah tumbuhan yang sudah terbentuk embrio, berspora tapi belum mempunyai akar, batang
dan daun. Lumut mengalami metagenesis yaitu terjadinya pergiliran keturunan antara
gametofit dan sporofit. Gametofit merupakan tumbuhan lumut itu sendiri dan generasi yang
menghasilkan sperma atau ovum, sedang sporofit merupakan generasi yang menghasilkan
spora.
Lumut mempunyai anteridium (sel kelamin jantan) berbentuk seperti gada yang
menghasilkan spermsa dan arkhegonium (sel kelamin betina) berbentuk seperti botol yang
menghasilkan ovum. Selain pembiakan generatif lumut juga berkembangbiak secara vegetatif
yaitu dengan kuncup dan daya regenerasi yang tinggi.
Menurut letak gametangia, lumut dibedakan menjadi :
1. Lumut berumah satu : bila anteridium dan arkegonium terdapat dalam satu individu.
2. Lumut berumah dua : bila dalam satu individu terdapat anteridium dan arkegonium saja.
7.2

MORFOLOGI
Lumut merupakan tumbuhan darat sejati walaupun masih menyukai tempat yang
lembab dan basah. Lumut yang hidup di air jarang kita jumpai, kecuali lumut
gambut angkut Pada lumut, akar yang sebenarnya tidak ada, tumbuhan ini melekat dengan
perantaraan Rhizoid (akar semu), oleh karena itu tumbuhan lumut merupakan bentuk
peralihan antara tumbuhan ber-Talus (Talofita) dengan tumbuhan ber-Kormus (kormofita).
Lumut mempunyai klorofil sehingga sifatnya autotrof.
Lumut tumbuh di berbagai tempat, yang hidup pada daun-daun disebut sebagai
epifil. Jika pada hutan banyak pohon dijumpai epifil maka hutan demikian disebut hutan
lumut. Struktur lumut dapat dilihat pada gambar 7.2
Gambar 7.2 struktur lumut
Akar dan batang pada lumut tidak mempunyai pembuluh angkut (xilem dan floem).
Pada tumbuhan lumut terdapat Gametangia (alat-alat kelamin) yaitu: Alat kelamin jantan
disebut Anteridium yang menghasilkan Spermtozoid, alat kelamin betina disebut Arkegonium
yang menghasilkan Ovum. Jika kedua gametangia terdapat dalam satu individu disebut
berumah satu (Monoesius). Jika terpisah pada dua individu disebut berumah dua (Dioesius).
Gerakan spermatozoid ke arah ovum berupa gerak kemotaksis, karena adanya rangsangan zat
kimia berupa lendir yang dihasilkna oleh sel telur. Sporogonium adalah badan penghasil
spora, dengan bagian bagian : Vaginula (kaki), seta (tangkai), apofisis (ujung seta yang

melebar). Kotak Spora : kaliptra (tudung) dan kolumela (jaringan dalam kotak spora yang
tidak ikut membentuk spora). Spora lumut bersifat haploid.
7.3 STRUKTUR SEL
Bryophytha memiliki berbagai struktur sel antara lain yaitu :
Protonema.
Spora berkecambah dan menghasilkan sebuah protonema. Ini biasanya berserat dan
bercabang, tapi dalam beberapa kelompok itu tallose atau besar. Pada beberapa tempat di
protonema, sel-sel apikal membedakan dan menghasilkan tunas foliose.
Gametophore
Sel apikal menghasilkan batang dan daun spiral diatur. Batang menghasilkan cabang
di beberapa kombinasi arsitektur monopodial dan pucuk. Daun yang tetap, unlobed, dan
sering dengan pelepah mengental. pelengkap lain untuk membendung adalah rhizoids
multiseluler, rambut ketiak, paraphyllia, pseudoparaphyllia, dan berbagai jenis propagul
aseksual. Pola jaringan sel daun dan papila sel daun menyediakan banyak karakter untuk
pengaturan sistematis genus dan spesies.
Gametangia.
Archegonia dan antheridia diproduksi dalam kelompok, dengan Parafisa antara
mereka, dan dikelilingi oleh daun perichaetial atau perigonial. dan kondisi seksual dioicous
ditemukan di banyak taksa
Seta
Sporophyte terdiri dari kaki, seta dan sebuah sporangium apikal Kaki tertanam dalam
puncak batang atau cabang. rincian ultra zona transfer memberikan kesamaan penting dengan
tanaman lahan lainnya. seta ini pendek atau memanjang. Ini memiliki sistem konduktif
internal yang menghubungkan kaki dan kapsul di kedua ekstrem.
Sporangium.
Sebuah sporangium tunggal atau kapsul berkembang distal darisporophyte tidak
bercabang. Sporangium akan terbuka oleh pori apikal, longitudinal terbelah atau paling sering
oleh sebuah operkulum Lapisan sel eksternal (exothecium) sering memiliki stomata, terutama
di leher. Kedua lapisan konsentris merupakan amphithecium Secara internal, endothecium
terdiri dari sebuah silinder jaringan sporogenous, mengelilingi sebuah columnella sel steril.
spora Moss adalah uniseluler, kadang-kadang mempertahankan tanda tetrad.
Peristome.

Disebagian besar lumut, puncak dari kapsul (operkulum) jatuh pada saat jatuh tempo
dan mengungkapkan struktur yang disebut peristome . Ini adalah sebuah cincin dari segmen
segitiga sempit sekitar mulut kapsul. Perubahan kondisi kelembaban menyebabkan gerakan
peristome dan memfasilitasi penyebaran spora dalam kondisi kering menguntungkan. Dua
jenis

dasar

peristomes

ditemukan

dalam

lumut

(Lihat

gambar

7.3) : Arthrodontous danNematodontous Dalam peristomes arthrodontous, pada tingkat


mulut kapsul dan di atas, tiga cincin terdalam sel dari amphithecium yang terlibat dalam
pembentukan gigi di taksa paling. Ketiga baris konsentris yang dikenal sebagai "luar",
"primer" dan "batin" lapisan peristomial (OPL, PPL, IPL) lumut peristomate Sebagian besar
jenis arthrodontous, di mana setiap gigi terdiri dari periclinal (tangensial) sisa-sisa dinding sel
antara dua dari tiga lapisan sel konsentris peristomial Jika gigi dibentuk oleh dinding
tangensial antara OPL dan PPL, deretan gigi secara kolektif dikenal sebagai exostome
tersebut. Dalam kasus kedua, sisa-sisa dinding sel yang berada di antara cincin sel dari PPL
dan IPL, sehingga baris segmen dikenal sebagai endostome Jenis mendasar kedua peristome
adalah nematodontous, terstruktur oleh kolom sempit sisa-sisa seluruh dinding sel. Masingmasing gigi terdiri dari silinder diaglomerasi dibentuk oleh dinding periclinal dan Anticlinal
sel

menebal

seperti

di

peristomesArthrodontous,

sel-sel

peristomial

berasal

dari Amphithecium terdalam, tetapi beberapa lapisan peristomial konsentris berkontribusi


dalam pembentukan gigi nematodontous.
Gambar7.3 pembentukan poristom
7.4 REPRODUKSI
Sepertihalnya tumbuhan lumut reproduksi secara seksual (generative)melalui
pembentukan sel kelamin jantan dan betina oleh alat alat kelamin(gametogonium).
Gametogonium jantan (anteredium) menghasilkan spermatozoid dan gametogonium betina
menghasilkan sel telur (ovum).Tumbuhan lumut juga mengalami pergiliran keturunan dalam
daur hidupnya. Apa yang dikenal orang sebagai tumbuhan lumut merupakan tahap gametofit
(tumbuhan penghasil gamet) yang haploid (x = n). Dengan demikian, terdapat tumbuhan
lumut jantan dan betina karena satu tumbuhan tidak dapat menghasilkan dua sel kelamin
sekaligus. Sel-sel kelamin jantan (sel sperma) dihasilkan dari anteridium dan sel-sel kelamin
betina (sel telur atau ovum) terletak di dalam arkegonium. Kedua organ penghasil sel kelamin
ini terletak di bagian puncak dari tumbuhan. Anteridium yang masak akan melepas sel-sel
sperma. Sel-sel sperma berenang (pembuahan terjadi apabila kondisi lingkungan basah)
menuju arkegonium untuk membuahi ovum.

Ovum yang terbuahi akan tumbuh menjadi sporofit yang tidak mandiri karena
hidupnya disokong oleh gametofit. Sporofit ini diploid (x = 2n) dan berusia pendek (3-6
bulan untuk mencapai tahap kemasakan). Sporofit akan membentuk kapsula yang disebut
sporogonium pada bagian ujung. Sporogonium berisi spora haploid yang dibentuk melalui
meiosis. Sporogonium masak akan melepaskan spora. Spora tumbuh menjadi suatu berkasberkas yang disebut protonema. Berkas-berkas ini tumbuh meluas dan pada tahap tertentu
akan menumbuhkan gametofit baru. (Lihat gambar 7.4).
Gambar7.4 pergiliran keturunan tumbuhan lumut
Reproduksi lumut bergantian antara seksual dengan aseksualnya, reproduksi
aseksualnya dengan spora haploid yang dibentuk dalam sporofit, sedangkan reproduksi
seksualnya dengan membentuk gamet gamet, baik gamet jantan maupun gamet betina yang
dibentuk dalam gametofit. Ada 2 macam gametangium , yaitu sebagai berikut :
a) Arkegonium adalah gametangium betina yang bentuknya seperti botol dengan bagian lebar
yang disebut perut, bagian yang sempit disebut leher.
b) Anteredium adalah gametangium jantan yang berbentuk bulat seperti gada. Dinding
anteredium terdiri dari selapis sel sel yang mandul dan didalamnya terdapat sejumlah sel
induk spermatozoid.
Cara lumut bereproduksi
a) Mengalami metagenesis atau pergiliran keturunan antara fase sporofit dan fase gametofit
b) Fase gametofit adalah tumbuhan lumut, menghasilkan gamet, lebih dominan dan hidupnya
lebih lama.
c) Tumbuhan lumut sel-selnya haploid, sebab tumbuh langsung dari spora. (Lihat gambar 7.5)
Gambar 7.5 reproduksi lumut yg diploid dan haploid

a) Fase sporofit adalah sporogonium, menghsilkan spora, hidupnya tridak lama.


b) Sporogonium sel-selnya diploid, tumbuh dari zigot
Gambar7.6 Struktur Metagenesis Lumut
Berdasarkan skema daur hidupnya, tampak jelas dalam daur hidup lumut
menunjukkan adanya pergiliran keturunan/metagenesis yang jelas.(lihat pada gambar 7.6)
Perhatikan mulai dari spora tumbuh protonema dan seterusnya sampai menghasilkan
anteridium dan arkegonium. Fase ini merupakan fase perkembangan yang haploid.
Protonema dan lumutnya sendiri adalah gametofit sehingga disebut sebagai fase gametofit.
Dari sel telur yang telah dibuahi tumbuh sporogonium dan merupakan fase perkembangan
dioloid. Sporogoniumini tidak hidup sendiri, tetapi mendapatkan makanannya dari
gametofitnyaSporogonium akan mengalami pembelahan secara reduksi menghasilkan spora,

sehingga fase ini disebut sebagai fase sporofit. Demikian seterusnya kedua fase ini akan
terjadi secara bergantian.
7.5 KLASIFIKASI
Klasifikasi tumbuhan lumut Dalam tata nama utamanaya penamaan berdasarkan
binomial nomenklatur bryophyta dapat dituliskan sebagai berikut :
Kingdom :Plantae
Division :Bryophyte
Class

:Bryopsida

Ordo

:Dicranles

Family

:Leucobryaceae

Genus

:Leucobryum

Species

:Leucobryum glaucumv

Gambar7.7 Leucobryum glaucum

Divisio Bryophyta yakni yang disebut tumbuhan lumut. Lumut artinya tumbuhan
yang pendek (dekat dengan dasar mediumnya). Bryophyta adalah tumbuhan yang belum
memiliki pembuluh angkut. Lawannya yakni Tracheophyta (tumbuhan berpembuluh angkut).
1. Klas Hepatocopsida / Hepaticae (Lumut Hati)
Regnum

: Plantae

Division

: Hepaticophyta

Kelas

: Hepaticosida

Ordo

: Hepaticoceales

Family

: Hepaticoceae

Genus

: Hepaticopsida

Spesies

: Hepaticopsid

Gambar7.8 Hepaticopsida

Lumut hati banyak ditemukan menempel di bebatuan, tanah, atau dinding tua yang
lembab. Bentuk tubuhnya berupa lembaran mirip bentuk hati dan banyak lekukan. Tubuhnya
memiliki struktur yang menyerupai akar, batang, dan daun. Hal ini menyebabkan banyak
yang

menganggap

kelompok

lumut

hati

merupakan

kelompok

peralihan

dari

tumbuhan Thallophyta menujuCormophyta. Terdapat rizoid berfungsi untuk menempel dan


menyerap zat-zat makanan. Tidak memiliki batang dan daun. Reproduksi secara vegetatif
dengan membentuk gemma (kuncup), secara generatif dengan membentuk gamet jantan dan
betina. Tubuhnya terbagi menjadi dua lobus sehingga tampak seperti lobus pada hati. Siklus

hidup lumut ini mirip dengan lumut daun. Didalam spongaria terdapat sel yang berbentuk
gulungan disebut alatera. Elatera akan terlepas saat kapsul terbuka, sehingga membantu
memencarkan spora. Lumut ini juga dapat melakukan reproduksi dengan cara aseksual
dengan sel yang disebut gemma, yang merupakan struktur seperti mangkok dipermukaan
gametofit. Tubuhnya masih berupa talus dan mempunyai rhizoid gametofitnya membentuk
anteredium dan arkegonium yg berbentuk seperti payung. Sporofit perumbuhannnya terbatas
krn tdk mempunyai jaringan meristematik. Berkembang biak secara generatif dengan oogami,
dan secara vegetatif dengan fragmentasi, tunas, dan kuncup eram, habitatnya ditempat
lembab. Pada tempat-tempat yang basah, untuk struktur tubuh yang himogrof. Pada tempattempat yang kering, untuk struktur tubuh yang xeromorf (alat penyimpan air). Sebagai epifit
umumnya menempel pada daun-daun pepohonan dalam rimba di daerah tropika. Berdasarkan
bentuk talusnya, lumut hati dibagi menjadi 2 kelompok yaitu lumut hati bertalus dan lumut
hati berdaun menyerupai talus (dorsiventral), bagian atas dorsal berbeda dengan bagian
bawah ventral.
Alat kelamin terletak pada bagian dorsal talus pada /pada jenis terletak pada bagian
terminal, sporogonium sederhana tersusun atas bagian kaki dan kapsul atau kaki tangkai dan
kapsul. Mekanisme merakahnya kapsul tidak menentu dan tidak teratur. Seperti pita
bercabang menggarpu dan menyerupai rusuk ditengah mempunyai rizoid. Pada rusuk tengah,
terdapat badan seperti piala dengan tepi yang bergigi, yang disebut piala eram atau keranjang
eram kepala atau mangkok. Kemudian puncup-puncup eram atau tunas yang disebut gema
mudah terlepas oleh air hujan protonema lumut hati umumnya hanya berkembang menjadi
suatu bulu yang pendek. Sebagian besar lumut hati mempunyai sel-sel yang mengandung
minyak, minyak itu terdapat dalam bentuk yang spesifik kumpulan tetes-tetes minyak aksiri
dalam bentuk demikian. Minyak tadi tidak pernah ditemukan pada tumbuhan lain. Tubuh
lumut ini tipis, serupa kulit, memipihr ata di atas medium penunjangnya (air tenang atau
tanah basah). Lumut banyak terdapat di permukaan dan dasar kolam.Tubuhnya terbagi
menjadi dua lobus sehingga tampak seperti lobus pada hati. Siklus hidup lumut ini mirip
dengan lumut daun. Didalam spongaria terdapat sel yang berbentuk gulungan disebut
alatera. Elatera akan terlepas saat kapsul terbuka , sehingga membantu memencarkan spora.
Lumut ini juga dapat melakukan reproduksi dengan cara aseksual dengan sel yang disebut
gemma, yang merupakan struktur seperti mangkok dipermukaan gametofit.
Peranan Hepatocopsida/Hepaticae (Lumut Hati)
a). Fungsi

Sebagai penyedia tanah bagi tumbuhan yang lebih besar yang tumbuh dipohon karena
akar-akar lumut dapat menyimpan tanah.
Sebagai penyedia makanan bagi hean-hewan kecil dan tanaman lain yang semuanya
tersimpan diakar lumut.
Sebagai sarang hewan-hewan kecil Karen biasanya terdapat celah-celah pada
tumbuhan tersebut segingga hewan bias masuk kedalamnya.
Sebagai penyimpanan air dalam jumlah yang cukup besar. Lumut menjaga
kelembaban udara dan porositas tanah.
b). Manfaat
Lumut dari marga Polythrichum adalah salah satu contoh yang dapat digunakan
sebagai penutup media tanam tanaman hias atau taman dan bahan kasur. Manfaat lainnya, ada
lumut yang dipercaya bisa digunakan sebagai bahan obat, meski masih diperlukan penelitian
lebih lanjut, termasuk uji klinis. Secara tradisional lumut dari marga Marchantia (lumut hati)
yang bentuknya mirip hati, digunakan untuk mengobati penyakit hepatitis. Sementara, lumut
spagnum dikenal sebagai obat penyakit kulit dan mata.
2. Kelas Anthocerotopsida / Anthocerotae (Lumut Tanduk)
Kingdom : Plantae
Division

: Antheceroptophyta

Class

:Antheceroptopsida

Ordo

:Antheceroptoceales

Family

:Antheceroptoceae

Genus

: Antheceroptopsida

Species

: Antheceroptopsida.sp

Gambar7.9 Antheceroptopsida.sp

Bentuk tubuhnya seperti lumut hati yaitu berupa talus, tetapi sporofitnya berupa
kapsul memanjang. Sel lumut tanduk hanya mempunyai satu kloroplas. Hidup di tepi sungai,
danau, atau sepanjang selokan. Reproduksi seperti lumut hati. Mempunyai gametofit lumut
hati. Perbedaannya adalah terletak pada sporofit lumut ini mempunyai kapsul memanjang
yang tumbuh seperti tanduk dari gametofit, masing masing mempunyai kloroplas tunggal
yang berukuran besar, lebih besar dari kebanyakan tumbuhan lumut. Contoh lumut tanduk
adalahanthoceros laevis.
Lumut tanduk sering dijumpai hidup di tepi danau, sungai atau di sepanjang selokan.
Lumut ini juga mengalami pergiliran keturunan antara generasi sporofit dan generasi
gametofit. Generasi sporofitnya membentuk kapsul memanjang yang tumbuh seperti tanduk.

Tubuh utama berupa gametofit yang mempunyai talus berbentuk cakram dengan tepi
bertoreh, biasanya melekat pada tanah dengan perantara-perantara rizoid-rizoid susunan talus
masih sederhana, sel-selnya hanya mempunyai suatu kloroplas dengan satu pirunoid besar.
Pada sisi bawah talus terdapat stoma dengan dua sel penutup berbentuk ginjal.
Sporofit umumnya berupa kapsul yang berbentuk silender dengan panjang antara 5-6
cm. pangkal sporofitnya dibungkus dengan selubung dari jaringan gametofit.
Perkembangbiakan secara seksual, dengan membentuk anteridium dan arkhegonium.
Anteridium terkumpul pada suatu lekukan sisi atas talus arkegonium juga terkumpul pada
suatu lekukan pada sisi atas talus. Zigot mula-mula membelah menjadi dua sel dengan suatu
dinding pisah melintang. Sel diatas terus membelah yang merupakan sporogenium diikuti
oleh sel bagian bawah yang membelah terus-menerus membentuk kaki yang berfungsi
sebagai alat penghisap, bila sporogenium masak maka akan pecah seperti buah plongan,
menghasilakan jaringan yang terdiri dari beberapa deretan sel-sel mandul yang dinamakan
kolum lainin diselubungi oleh sel jaringan yang kemudian menghasilkan spora, yang disebut
arkespora.
3. Kelas Bryosida (Lumut Daun)
Regnum : Plantae
Division

: Bryophyta

Kelas

: Bryopsidas

Ordo

: Bryopceales

Family

: Bryopcea

Genus

: Bryopsida

Spesies

: Bryopsida sp

Gambar 7.10 : Bryopsida sp

Lumut daun juga disebut lumut sejati. Bentuk tubuhnya berupa tumbuhan kecil
dengan bagian seperti akar (rizoid), batang dan daun. Reproduksi vegetatif dengan
membentuk kuncup pada cabang-cabang batang. Kuncup akan membentuk lumut baru.
Lumut daun banyak terdapat ditempat tempat yang lembab, mempunyai struktur
seperti akar yang disebut rizoid dan struktur seperti daun.
Bryopsida adalah kelas yang terbesar di antara anggota Bryophyta lainnya dan paling
tinggi tingkat perkembangannya karena baik gametofit maupun sporofitnya sudah
mempunyai bagian-bagian yang lebih kompleks. Gametofit dari lumut daun umumnya
dibedakan dalam 2 tingkatan yaitu protonema yang terdiri dari benang bercabang-cabang, dan
gametafora yang berbatang dan berdaun.Sporogonium dari lumut daun terdiri atas bagian
kaki, seta dan kapsul. Selanjutnya bagian kapsul mempunyai bagian-bagian yang dinamakan

apofise, kotak spora atau teka, dan tutup atau operculum. Kebanyakan ahli bryologi membagi
Bryopsida menjadi 3 anak kelas yaitu Sphagnidae, Andreaeidae, dan Bryidae. Perbedaan dari
ketiga anak kelas tersebut terutama terletak pada struktur anatomi sporogoniumnya. Anak
kelas Sphagnidae mempunyai ciri-ciri antara lain: protonema berbentuk daun kecil yang
terdiri dari satu lapis sel, gametafora pada ujungnya membentuk cabang-cabang sebagai roset
yang menyerupai jambul dan tidak mempunyai rizoid.
Sporofit didukung oleh perpanjangan ujung batang yang namanya pseudopodium.
Andreaeidae mempunyai persamaan dengan Sphagnidae dalam hal sporofitnya yang
didukung oleh pseudopodium, tetapi berbeda dalam hal cara membukanya kapsul spora yaitu
dengan membentuk 4 katup. Anggota Bryidae yang tergolong Stegocarpi mempunyai
peristoma pada kapsul sporanya, didasarkan atas sifat dari peristomanya Bryidae dibedakan
menjadi 2 golongan yaitu Nematodonteae dan Arthrodonteae. Peristoma adalah gigi-gigi atau
rambut-rambut yang mengelilingi stoma pada kapsul spora-spora yang dapat mengadakan
gerakan higroskopis, yaitu apabila spora-spora sudah masak peristoma bergerak membuka ke
arah luar hingga spora dapat keluar. Dalam klasifikasi lumut daun, bentuk kapsul, jumlah gigi
peristom, bentuk operkulum maupun kaliptra dapat dijadikan dasar penggolongan yang
penting. Protonema sekunder ialah protonema yang tidak berasal dari perkecambahan spora,
biasanya berupa benang-benang hijau seperti ganggang. Melalui tunas-tunas yang timbul dari
prononema sekunder dapat terbentuk individu yang lebih banyak.
Tumbuhan sudah menunjukkan diferensiasi tegas antara organ penyerap hara dan
organ fotosintetik namun belum memiliki akar dan daun sejati. Kelompok tumbuhan ini juga
belum memiliki pembuluh sejati. Alih-alih akar, organ penyerap haranya adalah rizoid
(harafiah: "serupa akar"). Daun tumbuhan lumut dapat berfotosintesis.Secara lengkap ciri-ciri
yang dimilik lumut daun yaitu: fase dominannya adalah fase gametofit akarnya belum berupa
akar, masih berupa rhizoid.
Reproduksi

vegetatif

dengan

spora,

generatif

dengan

arkegonium

yang menghasilkan ovum dan anteridium yang menghasilkan sperma. Mempunyai

struktur

seperti akar (rizoid) dan struktur seperti daun.


Sporofit pada umumnya lebih kecil, berumur pendek, dan hidup tergantung pada
gametofit. Tubuhnya mempunyai struktur yg mirip batang, daun, dan akar, ttpi tdk
mempunyai sel/jaringan dan fungsi seperti pada tumbuhan tingkat tinggi. Gametofit
dibedakan dengan 2 tingkatan, yaitu protonema yang berbebtuk benang dan gametofora yang
berupa tumbuhan lumut sporofitnya terdiri dari bagian seta, apofiksis, kapsul, gigi peristom,
dan kaliptra. Spora terdiri 2 lapisan, yaitu endospora dan eksospora, habitatnya pada tempat

lembab. Lumut daun dapat tumbuh diatas tanah-tanah gundul yang periodic mengalami masa
kekeringan, bahkan diatas pasir yang bergerakpun dapat tumbuh. Selanjutnya lumut-lumut ini
dapat juga kita jumpai diantara rumput-rumput, diatas batu-batu cadas, pada batang pohon
dan cabang-cabang pohon, dirawa-rawa, tetapi jarang didalam air.Tumbuhan tersusun dari
sumbu (batang), daun, dan rizoid multiseluler. Daun tersusun dalam 3 sampai 8 baris. Daun
mempunyai rusuk (simetri radial). Sumbu batang pada lumut daun biasanya menunjukkan
diferensiasi menjadi epidermis korteks, dan silinder pusat.
Alat kelamin tubuh pada bagian ujung batang, sporogonium terdiri dari kaki, tangkai
dan kapsul. Gigi peristoma terdapat satu atau dua deret melingkari lubang diujung kapsul.
Alat-alat kelamin terkumpul pada ujung batang atau pada ujung cabang-cabangnya, dan
dikelilingi oleh daun-daun yang letaknya paling atas. Daun-daun tersebut kadang-kadang
mempunyai bentuk dan susunan yang khusus seperti pada jungermaniales juga dinamakan
periantum. Alat-alat kelamin itu dikatakn bersifat banci atau berumah satu, jika dalam
kelompok itu terdapat baik arkogenium dan dinamakn berumah dua jika kumpulan
arkegonium dan anteredium terpisah tempatnya. Diantara alat-alat kelamin dalam kelompok
itu biasanya terdapat sejumlah rambut-rambut yang terdiri dari banyak sel dan dapat
mengeluarkan suatu cairan. Seperti pada tubuh buah fungi rambut-rambut steril itu
dinamakan parafisis.
Peranan Bryosida (Lumut Daun)
a) Fungsi
Memiliki peran dalam ekosistem sebagai penyedia oksigen, penyimpan air (karena
sifat selnya yang menyerupai spons). Digunakan sebagai ornament tata ruang, spagnum
sebagai pembalut atau pengganti kapass, jika spagnum ditambahkan ke tanah dapat menyerap
air dan menjaga kelembaban tanah.
b) Manfatat
Lumut ini bisa digunakan sebagai bahan obat, meski masih diperlukan penelitian lebih
lanjut, termasuk uji klinis. Secara tradisional lumut dari marga Usnea dipakai untuk obat
diare

atau

sakit

perut

cara direbus. Sementara dari marga lumut sphagnum dikenal sebag


obat penyakit kulit dan mata.

dengan

7.6 PERANAN TUMBUHAN LUMUT SECARA UMUM


a) Fungsi
Tumbuhan lumut memiliki peran dalam ekosistem yaitu :
Sebagai penyedia oksigen, penyimpan air (karena sifat selnya yang menyerupai
spons), dan sebagai penyerap polutan, sebagai penyedia tanah bagi tumbuhan yang lebih
besar yang tumbuh dipohon karena akar-akar lumut dapat menyimpan tanah, sebagai
penyedia makanan bagi hean-hewan kecil dan tanaman lain yang semuanya tersimpan diakar
lumut, sebagai sarang hewan-hewan kecil karena biasanya terdapat celah-celah pada
tumbuhan tersebut sehingga hewan bisa masuk kedalamnya, sebagai penyimpanan air dalam
jumlah yang cukup besar, lumut menjaga kelembaban udara dan porositas tanah.
b) Manfaat
Lumut dari marga Polythrichum adalah salah satu contoh yang dapat digunakan
sebagai penutup media tanam tanaman hias atau taman dan bahan kasur. Manfaat lainnya, ada
lumut yang dipercaya bisa digunakan sebagai bahan obat, meski masih diperlukan penelitian
lebih lanjut, termasuk uji klinis. Secara tradisional lumut dari marga Marchantia (lumut hati)
yang bentuknya mirip hati, digunakan untuk mengobati penyakit.
BAB VIII

PTERIDOPHYTA
Merupakan golongan tumbuhan yang telah berkosmus (mempunyai akar , batang dan
daun).
8.1. CIRI CIRI TUMBUHAN PAKU
Memiliki 4 struktur penting,yaitu lapisan pelindung sel (jaket steril)yang terdapat
disekeliling organ reproduksi, embrio multiseluler yang terdapat dalam arkegonium, kutikula
pada bagian luar , dan yang paling penting adalah sistem transport internal yang mengangkut
air dan zat makanan dari dalam tanah. Sistem transport ini sama baiknya seperti
pengorganisasian transport air dan zat makanan pada tumbuhan tingkat tinggi.
8.2. STRUKTUR TUBUH
1) Akar
Bersifat seperti akar serabut, ujungnya dilindungi kaliptra yang terdiri atas sel sel
yang dapat dibedakan dengan sel sel akarnya sendiri.

2) Batang
Pada sebagian jenis tumbuhan paku tidak tampak karena terdapat di dalam tanah
berupa rimbang , mungkin menjalar atau sedikit tegak. Jika muncul di atas permukaan tanah,
batangnya sangat pendek sekitar 0,5 m. akan tetapi ada batang beberapa jenis tumbuhan paku
seperti paku pohon /paku tiang yang panjangnya mencapai 5 m dan kadang kadang
bercabang misalnya: Alsophilladan Cyathea.
3) Daun
Daun selalu melingkar dan menggulung pada usia muda . berdasarkan bentuk ukuran
dan susunanya, daun paku dibedakan antara epidermis, daging daun, dan tulang daun.
a) Mikrofil

Daun ini berbentuk kecil kecil seperti rambut atau sisik, tidak bertangkai dan tidak
bertulang daun, belum memperlihatkan diferensiasi sel, dan tidak dapat dibedakan antara
epidermis, daging daun dan tulang daun.
b) Mikrofil
Merupakan daun yang bentuknya besar, bertangkai dan bertulang daun, serta
bercabangcabang. Sel sel penyusunnya telah memperlihatkan diferensiasi, yaitu dapat
dibedakan antara jaringan tiang, jaringan bunga karang, tulang daun, serta stomata (mulut
daun)

Gambar 8.1: Susunan Sporangium dan Bagian-bagian Tumbuhan Paku


Daun paku tumbuh dari percabangan tulang daun yang disebut frond, dan keseluruhan
daun dalam satu tangkai daun disebut pinna. Jika diperhatikan pada permukaan bagian daun
(frond) terdapat bentuk berupa titik-titik hitam yang disebut sorus, dalam sorus terdapat
kumpulan sporangia yang merupakan tempat atau wadah dari spora. Gambar dibawah ini
menunjukkan sporangia yang tergabung dalam struktur sorus (jamak sori).

Gambar 8.2 : Bentuk daun paku


Tidak

semua

daun

paku

memiliki sorus

(sori),

daun

paku

yang

memilikisorus merupakan daun fertil yang disebut daun sporofil, daun paku yang tidak
memiliki sorus disebut

daun

steril.

Daun

ini

banyak

mengandung

klorofil

dan

banyak dimanfaatkan untuk proses fotosintesis. Daun ini disebut daun tropofil.
Ditinjau dari fungsinya , daun tumbuhan paku dibedakan atas:
1. Tropofil
Merupakan daun yang khusus untuk fotosintesis.
2. Sporofil
Daun ini berfungsi untuk menghasilkan spora. Tetapi daun ini juga dapat melakukan
fotosintesis, sehingga disebut pula sebagai troposporofil.

Gambar 8.3 : kumpulan spora di dalam sporagium

Adapun struktur sorus adalah bagian luar dari sorus berbentuk selaput tipis yang
disebut indusium. Bagian dalam sorus terdapat kumpulan sporangium yang di dalamnya
berisi ribuan spora. Jika daun sporofil (daun fertil) diletakkan di atas permukaan kertas polos,
maka bentuk spora akan terlihat seperti serbuk bedak berwarna hitam, coklat, kemerahan,
kuning atau hijau tergantung jenis tumbuhan pakunya. Masingmasing spora akan tumbuh
menjadi paku dewasa melalui proses yang kompleks.

8.3.REPRODUKSI
Reproduksi tumbuhan ini dapat secara aseksual (vegetative), yakni dengan stolon
yang menghasilkan gemma (tunas). Gemma adalah anakan pada tulang daun atau kaki daun
yang mengandung spora.

Reproduksi secara seksual (generative) melalui pembentukan sel kelamin jantan dan
betina

oleh

alat

alat

kelamin

(gametogonium).

Gametogonium

jantan (anteredium) menghasilkan spermatozoid dan gametogonium betina menghasilkan sel


telur

(ovum).seperti

halnya

tumbuhan

lumut

tumbuhan

paku

mengalami metagenesis (pergiliran keturunan).

Gambar 8.4 : Siklus hidup Paku Sejati

Ditinjau dari macam spora yang dihasilkan , tumbuhan paku dapat di bedakan
menjadi tiga golongan seperti berikut ini.
1) Paku Homospora (isospora)
Menghasilkan satu jenis spora , misalnya Lycopodium (paku kawat). Spora dari paku
ini dikenal sebagai 'lycopodium powder' yang dapat meledak di udara apabila terkumpul
dalam jumlah cukup banyak dan pada jaman dulu digunakan sebagai lampu kilat untuk
pemotretan.
2) Paku Heterospora
Menghasilkan dua jenis spora yanhg berlainan; yaitu mikrospora berkelamin jantan
dan

makrospora

(mega

spora)

berkelamin

betina,

misalnya :Marsilea (semanggi), Selaginella (paku rane).


3) Paku Peralian
Paku ini merupakan peralihan antara homospora dengan heterospora, yaitu paku yang
menghasilkan spora yang bentuk dan ukurannya sama tetapi berbeda jenis kelaminnya, satu
berjenis kelamin jantan dan lainnya berjenis kelamin betina, misalnya Equisetum debile (paku
ekor kuda).

PAKU HOMOSPORA
Spora
Protalium
Anteridium

Arkegonium
Spermatozoid
Ovum
Zigot
Tumbuhan paku
Sporofil

Sporangum

PAKU HETEROSPORA
PAKU PERALIHAN

Mikrosporofil

Makrosporofil

Makrosporangium

Mikrospora

Tumpuhan paku

Makrospora

Makroprotalium

Mikrosporangium

Mikroprotalium

Arkegonium

Anteridium

Avum

Spermatozoid

Zigot

Protalium

Spora

Sporafil

Tumbuhan paku

Spora

Zigot

Ovum

Spermatozoid

Protalium

Arkegonium

Anteridium

Sporagium

8.4.HABITAT TUMBUHAN PAKU


Habitatnya di darat, terutama pada lapisan bawah tanah didataran rendah , tepi pantai ,
lereng gunung , 350 meter diatas permukaan laut terutama di daerah lembab, dan ada juga
yang bersifat epifit (menempel) pada tumbuhan lain. Adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan paku :
kadar air dalam tanah
kadar air dalam udara
Kandungan hara mineral dalam tanah
kadar cahaya untuk fotosintesis
Suhu yang optimal
Perlindungan dari angin

perlindungan dari cahaya yang terlalu kuat.


Tidak semua faktor tersebut berpengaruh, tapi tergantung pada jenis tumbuhan
pakunya. Survive tidaknya suatu tumbuhan paku di suatu areal tergantung dari ketahanan
gametofitnya, apakah akan berkembang secara alami di lingkungannya atau tidak.
Seperti tanaman tingkat tinggi, tumbuhan paku tumbuh lingkungannya masingmasing (biasanya tempat lembab). beberapa paku dapat bertahan hidup di daerah yang
ekstrim seperti lingkungan kering dan panas. Beberapa jenis paku dapat tumbuh di daerah
gurun.
Tumbuhan paku meletakkan dirinya tepat sesuai dengan nitchenya, tanah yang
lembab, udara yang lembab, intensitas cahaya dan sebagainya. Jarang tumbuhan paku hidup
diluar nitchenya. Jika anda ingin menumbuhkembangkan paku, maka anda harus
menciptakan lingkungan yang sesuai sehingga tumbuhan paku tumbuh dan berkembang
dengan optimal.
8.5. PERANAN
Dibawah ini adalah beberapa tumbuhan paku yang bermanfaat bagi manusia
diantaranya adalah;
1. Penghasil obat obatan misalnya: Aspidium sp, Dryopteris filix mas, danLycopodium
clavatum.
2. Sebagai sayuran , misalnya semanggi (marsilea crenata) dan pteridium aqualium
3. Sebagai bahan pupuk hijau , misalnya Azolla piata,
4. Dipelihara sebagai tanaman hias, misalnya paku tanduk rusa (Platycerium bifurcatum), paku
sarang burung (Asplenium sp), suplir (Adiantum sp) dan paku rane (Selaginella sp)
5. Sebagai salah satu bahan dalam pembuatan karangan bunga, misalnyaLycopodium cernuum.

Gambar 8.5 : Selaginella sp, Azolla piata, Platycerium bifurcatum


8.6.KLASIFIKASI TUMBUHAN PAKU
Dibagi menjadi 4 subdivisi, yaitu Psilopsida, Lycophyta, Sphenophyta dan
Pterophyta.
1). Paku Purba (Psilopsida)

Tumbuhan paku purba yang masih hidup saat ini diperkirakan hanya tinggal 10
spesies sampai 13 spesies dari dua genus. Paku purba hidup di daerah tropis dan subtropis.
Sporofit paku purba ada yang tidak memiliki akar sejati dan tidak memiliki daun sejati.
Paku purba yang memilki daun pada umumnya berukuran kecil (mikrofil) dan
berbentuk sisik. Batang paku purba bercabang dikotomi dengan tinggi mencapai 30 cm
hingga 1 m. Paku purba juga tidak memiliki pembuluh pengangkut. Batang paku purba
mengandung klorofil sehingga dapat melakukan fotosintesis. Cabang batang mengandung
mikrofil dan sekumpulan sporangium yang terdapat di sepanjang cabang batang. Sporofil
paku purba menghasilkan satu jenis spora (homospora). Gametofitnya tidak memiliki klorofil
dan mengandung anteridium dan arkegonium. Gametofit paku purba bersimbiosis dengan
jamur untuk memperoleh nutrisi. Contoh tumbuhan paku purba yaitu paku purba tidak
berdaun (Rhynia) dan paku purba berdaun kecil (Psilotum).
2). Paku Kawat (Lycopsida)
Paku

kawat

mencakup

1.000

spesies

tumbuhan

paku,

terutama

dari

genusLycopodium dan Selaginella. Paku kawat banyak tumbuh di hutan-hutan daerah tropis
dan subtropis. Paku kawat menempel di pohon atau hidup bebas di tanah. Anggota paku
kawat memiliki akar, batang, dan daun sejati. Daun tumbuhan paku kawat berukuran kecil
dan tersusun rapat. Sporangium terdapat pada sporofil yang tersusun membentuk strobilus
pada ujung batang. Strobilus berbentuk kerucut seperti konus pada pinus. Oleh karena itu
paku kawat disebut juga pinus tanah. Pada paku rane (Selaginella) sporangium terdiri dari
dua jenis, yaitu mikrosporangium dan megasporangium. Mikrosporangium terdapat pada
mikrosporofil (daun yang mengandung mikrosporangium). Mikrosporangium menghasilkan
mikrospora yang akan tumbuh menjadi gametofit jantan. Megasporangium terdapat pada
megasporofil (daun yang mengandung megasporangium). Megasporangium menghasilkan
megaspora yang akan tumbuh menjadi gametofit betina.
Gametofit paku kawat berukuran kecil dan tidak berklorofil. Gametofit memperoleh
makanan dari jamur yang bersimbiosis dengannnya. Gemetofit paku kawat ada yang
uniseksual, yaitu mengandung anteridium saja atau arkegonium saja. Gametofit paku kawat
juga ada yang biseksual, yaitu mengandung anteridium dan arkegonium. Gametofit
uniseksual terdapat padaSelaginella. Selaginella merupakan tumbuhan paku heterospora
sedangkan gametofit biseksual terdapat pada Lycopodium.

Gambar 8.6 : Lycopodium sp, Psilotum nudum, , Polytricum juniperinum.

3). Paku Ekor Kuda (Sphenopsida)


Paku ekor kuda saat ini hanya tinggal sekitar 25 spesies dari satu genus,
yaitu Equisetum. Equisetum terutama

hidup

subtropis. Equisetum yang

hanya

tertinggi

pada

habitat

mencapai

4,5

lembab
m

di

daerah

sedangkan

rata-rata

tinggi Equisetum kurang dari 1 m. Equisetum memiliki akar, batang, dan daun sejati.
Batangnya

beruas

dan

pada

setiap

ruasnya

dikelilingi

daun

kecil

seperti

sisik. Equisetum disebut paku ekor kuda karena bentuk batangnya seperti ekor kuda.
Batangnya yang keras disebabkan dinding selnya mengandung silika. Sporangium terdapat
pada strobilus. Sporangium menghasilkan satu jenis spora, sehingga Equisetum digolongkan
pada tumbuhan paku peralihan. GametofitEquisetum hanya berukuran beberapa milimeter
tetapi dapat melakukan fotosintesis. Gametofitnya mengandung anteridium dan arkegonium
sehingga merupakan gametofit biseksual.

Gambar 8.7. Equisetum debile dan Dryopteris filx mas.


4). Paku Sejati (Pteropsida)
Paku sejati mencakup jenis tumbuhan paku yang paling sering kita lihat. Tempat
tumbuh paku sejati sebagian besar di darat pada daerah tropis dan subtropis. Paku sejati
diperkirakan berjumlah 12.000 jenis dari kelas Filicinae. Filicinae memiliki akar, batang, dan
daun sejati. Batang dapat berupa batang dalam (rizom) atau batang di atas permukaan tanah.
Daun Filicinae umumnya berukuran besar dan memiliki tulang daun bercabang. Daun
mudanya memiliki ciri khas yaitu tumbuh menggulung (circinnatus). Jenis paku yang
termasuk paku sejati yaitu Semanggi (Marsilea crenata), Paku tanduk rusa (Platycerium
bifurcatum), paku sarang burung (Asplenium nidus), suplir (Adiantumcuneatum), Paku sawah
(Azolla pinnata), dan Dicksonia antarctica.
.

Gambar 8.8 : Marsilea crenata dan Asplenium nidus

Berikut adalah klasifikasi lengkap menurut Smith et al. (2006):


Kelas Psilotopsida
Bangsa Ophioglossales
Suku Ophioglossaceae (termasuk Botrychiaceae, Helminthostachyaceae)
Bangsa Psilotales
Suku Psilotaceae (termasuk Tmesipteridaceae)
Kelas Equisetopsida [=Sphenopsida]
Bangsa Equisetales
Suku Equisetaceae
Kelas Marattiopsida
Bangsa Marattiales
Suku Marattiaceae (termasuk Angiopteridaceae, Christenseniaceae, Danaeaceae, Kaulfussia
ceae)
Kelas Polypodiopsida [=Filicopsida, Pteridopsida]
Bangsa Osmundales
Suku Osmundaceae
Bangsa Hymenophyllales
Suku Hymenophyllaceae (termasuk Trichomanaceae)
Bangsa Gleicheniales
Suku Gleicheniaceae (termasuk Dicranopteridaceae, Stromatopteridaceae)
Suku Dipteridaceae (termasuk Cheiropleuriaceae)
Suku Matoniaceae
Bangsa Schizaeales
Suku Lygodiaceae
Suku Anemiaceae (termasuk Mohriaceae)
Suku Schizaeaceae
Bangsa Salviniales
Suku Marsileaceae (termasuk Pilulariaceae)
Suku Salviniaceae (termasuk Azollaceae)
Bangsa Cyatheales

Suku Thyrsopteridaceae
Suku Loxomataceae
Suku Culcitaceae
Suku Plagiogyriaceae
Suku Cibotiaceae
Suku Cyatheaceae (termasuk Alsophilaceae, Hymenophyllopsidaceae)
Suku Dicksoniaceae (termasuk Lophosoriaceae)
Suku Metaxyaceae
Bangsa Polypodiales
Suku Lindsaeaceae (termasuk Cystodiaceae, Lonchitidaceae)
Suku Saccolomataceae
Suku Dennstaedtiaceae (termasuk Hypolepidaceae, Monachosoraceae, Pteridiaceae)
Suku Pteridaceae (termasuk Acrostichaceae, Actiniopteridaceae, Adiantaceae Anopteraceae,
Antrophyaceae, Ceratopteridaceae, Cheilanthaceae, Cryptogrammaceae,Hemionitidaceae,
Negripteridaceae,

Parkeriaceae,

Platyzomataceae,

Sinopteridaceae,

Taenitidaceae,

Vittariaceae)
Suku Aspleniaceae
Suku Thelypteridaceae
Suku Woodsiaceae (termasuk Athyriaceae, Cystopteridaceae)
Suku Blechnaceae (termasuk Stenochlaenaceae)
Suku Onocleaceae
Suku Dryopteridaceae (termasuk Aspidiaceae,

Bolbitidaceae,

Elaphoglossacea,

Hypodematia ceae, Peranemataceae)


Suku Lomariopsidaceae (termasuk Nephrolepidaceae)
Suku Oleandraceae
Suku Davalliaceae
Suku Polypodiaceae (termasuk Drynariaceae,

Grammitidaceae,

Loxogrammaceae, Platyceriaceae, Pleurisoriopsidaceae).

Gymnogrammitidaceae,

Setelah mempelajari tumbuhan lumut dan paku, perhatikan perbedaan antara keduanya
sebagai berikut :
N
o
1

Ciri-ciri
Ukuran

Bryophyta

Pteridophtya
Biasanya mencapai

Sangat kecil, biasanya tidak 1 m,beberapa dapat


lebih dari 15 cm.

mencapai 12 cm.
Memiliki akar,

Memiliki rizoid, berdaun

batang dan daun

sisik, dan tidak memiliki batang.

sejati
Ada yaitu

2
Struktur tubuh
13
4
5
6
7

Jaringan pembuluh
Fase dominan
Fase Sporofit
Fase Gametofit
tumbuhan dewasa

Tidak ada
Fase gametofit
Sporogonium
Tumbuhan Lumut
Berupa gametofit

xilem

dan floem
Fase sporofit
Tumbuhan Paku
Protalium
Berupa sporofit

Gametofit dewasa

Talus sederhana hidup

Protalus,

tidak

bebas dan dapat

menarik, hidup

berfotosintesis, memiliki

bebas dan dapat

rizoid dan struktur seperti

berfotosintesis

daun.
9

Sporofit dewasa

Bentuk yang
menonjol. Memiliki
akar,
Tergantung

pada

gametofit, batang dan daun

mempunyai kapsul, seta dan kaki

sejati

Anda mungkin juga menyukai