Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
Parotitis merupakan penyakit infeksi pada anak-anak yang pada 30-40% kasusnya
merupakan infeksi asimptomatik. Infeksi ini disebabkan oleh virus. Infeksi terjadi pada
anak-anak kurang dari 15 tahum sebelum penyebaran imunisasi. Penyebaran virus terjadi
dengan kontak langsung, percikan ludah, bahan mentah mungkin dengan urin. Sekarang
penyakit ini sering terjadi pada orang dewasa muda sehingga menimbulkan epidemik
dianggap kurang menular jika dibanding dengan morbili atau varicela, karena banyak
infeksi parotitis epidemika cenderung tidak jelas secara klinis.
Dalam perjalanannya parotitis epidemika dapat menimbulkan komplikasi walaupun
jarang terjadi. Komplikasi yang terjadi dapat berupa meningoencepalitis, arthritis,
pancreatitis, miokarditis, ooporitis, orchitis, mastitis, dan ketulian. Insidensi parotitis
epidemika dengan ketulian adalah 1 : 15.000. Meningitis yang terjadi dapat berupa
meningitis aseptic. Insidensi dari parotitis meningoencephalitis sekitar 250/100.000 kasus.
Sekitar 10% dari kasus ini penderitanya berumur kurang dari 20 tahun. Angka rata-rata
kematian akibat parotitis meningoencephalitis adalah 2%. Kelainan pada mata akibat
komplikasi parotitis dapat berupa neuritis opticus, dacryoadenitis, uveokeratitis, skleritis
dan thrombosis vena central retina. Gangguan pendengaran akibat parotitis epidemika
biasanya unilateral, namun dapat pula bilateral. Gangguan ini seringkali bersifat permanen.

BAB II
LAPORAN KASUS
RUMAH SAKIT TNI AU Dr ESNAWAN ANTARIKSA
SMF TELINGA HIDUNG TENGGOROK
Jl. Merpati No 2, Halim Perdanakusuma Jakarta Timur 13610
Nama : Carlson
NIM

Tanda Tangan

: 11 2013 225

Dr. Pembimbing / Penguji

.............
: dr. Asnominanda, Sp. THT-KL

I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. MS

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 62 tahun

Agama

: Kristen

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Alamat

: Komp Manaputra A 1/31


Jati Bening, Bekasi.

Pendidikan

: SMA

II. ANAMNESIS
Diambil secara

: Autoanamnesis

Pada tanggal

: 23 Juli 2014

Keluhan utama

: pipi kiri bengkak sejak 3 hari yang lalu.

Keluhan tambahan

: demam tinggi .

Riwayat penyakit sekarang (RPS)

Jam

: 11.30 WIB

Pasien datang dengan keluhan pipi kiri bengkak dan nyeri semenjak 3 hari yang lalu.
Pipi tampak asimetris pada sebelah kiri serta lunak dan nyeri pada penekanan. Pasien juga
mengeluh sejak 3 hari yang lalu mengalami demam yang tinggi, pasien mencoba mengobati
2

dengan obat warung namun tidak ada perbaikan. Keluhan ini diawali pada daerah pipi sebelah
kirinya terasa membengkak dan mulai nyeri terutama jika disentuh dan ketika mau makan
Namun awalnya keluhan ini diabaikan oleh pasien karena dilihat tidak terlalu mengganggu.
Ibu pasien mengaku sering bersentuhan pipi dengan orang lain ketika bertemu. Adanya
riwayat alergi disangkal. Riwayat batuk pilek juga disangkal pasien. Riwayat trauma pada
daerah kepala disangkal.
Pasien mengaku tidak ada penurunan pendengaran maupun kesulitan berkomunikasi
dengan teman-temannya. Telinga juga tidak dirasa mendengung. Tidak ada riwayat kejang
maupun penurunan kesadaran. Adanya pusing yang berputar juga disangkal pasien. Pasien
tidak memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus
1 hari lalu pasien baru menyadari kalau pipi kiri nya terlihat semakin membesar,
sehingga memutuskan untuk datang ke rumah sakit keesokan harinya.
Riwayat penyakit dahulu (RPD) :
Pasien mengaku tidak memiliki riwayat alergi apapun. Tidak ada komplikasi yang terjadi
selama kehamilan maupun kelahiran pasien. Riwayat batuk pilek sering disangkal. Tidak ada
riwayat operasi maupun dirawat karena sakit berat di rumah sakit.
Riwayat penyakit keluarga (RPK) :
Tidak ada keluarga yang menderita keluhan yang sama dengan pasien.
Tidak ada riwayat alergi dalam keluarga dan riwayat hipertensi maupun diabetes dalam
keluarga.

Keadaan Umum
Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah

: 130/80 mmHg

Nadi

: 86x/menit

Suhu

: 38.0C

Pernapasan

: 16x/menit

Berat badan

: 59 kg
3

III. PEMERIKSAAN FISIK


1. Telinga
Kanan
Normotia
tidak ditemukan

Kiri
Normotia
tidak ditemukan

tidak ditemukan

tidak ditemukan

- retroaurikuler
Nyeri tekan tragus
Penarikan daun telinga
Liang Telinga

tidak ditemukan
(-)
(-)
CAE lapang, serumen (-),

tidak ditemukan
(-)
(-)
CAE lapang, serumen (-),

Membran timpani

Hiperemis (-)
Dalam
batas

Bentuk daun telinga


Kelainan congenital
Tumor/ tanda peradangan
- preaurikuler

retraksi

Tes Penala:
- Rinne
- Weber
- Swabach

(-),

Hiperemis (-)
normal, Dalam
batas

edema

(-), retraksi

(-),

normal,

edema

reflex cahaya (+) jam 5

refleks cahaya (+) jam 7

positif
tidak ada lateralisasi
sama dengan pemeriksa

positif
tidak ada lateralisasi
sama dengan pemeriksa

Kesimpulan:
Tidak ditemunya kelainan pada kedua liang telinga.
Kelainan pendengaran tidak ditemukan.
2. Hidung dan Sinus Paranasal

(-),

- Bentuk
- Tanda Peradangan
- Vestibulum

: Simetris
: Tidak ditemukan tanda peradangan dari luar
- Tampak bulu hidung bilateral +/+
- Hiperemis -/-, massa -/-, lapang +/+, polip -/-

Konka inferior kanan/kiri


Meatus nasi inferior kanan/kiri
Konka medius kanan/kiri
Meatus nasi medius kanan/kiri
Septum nasi
Daerah sinus frontalis dan

- Hipertrofi -/: Edema -/-, hipertrofi -/-, sekret -/: Sekret -/-, hiperemis -/: Hiperemis -/-, hipertrofi -/: Sekret -/-, hiperemis -/: Deviasi (-), sisa sekret (-/-)
: Tidak dilakukan pemeriksaan

sinus maksilaris
Nasopharynx (Tidak dilakukan pemeriksaan rhinoskopi posterior)
-

Koana

:-

Septum nasi posterior

:-

Muara tuba eustachius

:-

Torus tubarius

:-

Konka inferior dan media

:-

Dinding posterior

:-

Pemeriksaan Transiluminasi (Tidak dilakukan)


3. Tenggorok

PHARYNX

Dinding pharynx

: tidak hiperemis, permukaan rata

Arcus

: simetris kanan-kiri, tidak hiperemis

Tonsil

: T1-T1, hiperemis (-), kripta lebar(-), dentritus(-),

perlekatan (-)

Uvula

: simetris di tengah, hiperemis (-)

Gigi

: bekas pencabutan gigi (-), oral hygiene baik

Lain-lain

: radang ginggiva (-), mukosa pharynx tenang

LARYNX (Tidak dilakukan pemeriksaan laringoskopi)


o

Epiglotis

:-

Plica aryepiglotis

:-

Arytenoids

:-

Ventricular band

:-

Pita suara

:-

Rima glotidis

:-

Cincin trachea

:-

Sinus piriformis

:-

MAKSILLOFACIAL
Nervus Kranialis
o

Nervus 1 (olfaktorius)

: tidak dilakukan

Nevus 2 (optikus)

: tidak dilakukan

Nervus 3 (okulomotorius)

: gerakan kedua bola mata (atas-luar, atas-dalam,

bawah-luar, medial-horizontal) normal


o

Nervus 4 (trochlearis)

: gerakan kedua bola mata (bawah-medial)

normal.
o

Nervus 5 (trigeminus)

: membuka mulut, mengunyah, menggigit nomal

pada sisi kanan, sisi kiri terdapat nyeri pada mengunyah.


o

Nervus 6 (abdusen)

: gerakan kedua bola mata ke arah lateral normal

Nevus 7 (fascialis)

: mengerutkan dahi, menutup mata, menyeringai

nomal/memperlihatkan gigi, pada sisi kiri nyeri.


o

Nevus 8 (vestibularis)

: dapat dilihat pada pemeriksaan telinga

Nervus 9 (glossopharingeus) : tidak dilakukan

Nervus 10 (vagus)

: bicara dan menelan normal

Nervus 11 (aksesorius)

: mengangkat bahu dan memalingkan kepala

normal
o

Nervus 12 (hipoglossus)

: pergerakan lidah normal, tremor lidah (-),

artikulasi bicara baik.


-

Bentuk
o

Deformitas os maxilla, os mandibula, dan os zygomaticum tidak ada

Hematoma (-)

LEHER
Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening leher baik submandibula maupun servikal

III.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Belum ada pemeriksaan penunjang yang dilakukan.

IV.

RESUME
Dari anamnesis, didapatkan keluhan :
Seorang ibu usia 58 tahun datang dengan keluhan utama bengkak pada pipi sebelah
kiri sejak 3 hari yang lalu. Pasien mengaku demam tinggi sejak 3 hari lalu. Pasien
mencoba mengobati diri sendiri dengan obat warung, tapi tidak mengalami
perbaikan. Pasien memiliki kebiasaan bersentuhan pipi kalau bertemu dengan
teman-temannya. 1 hari yang lalu pasien mulai menyadari kalau pipi sebelah kiri
terasa semakin membesar dan makin nyeri, sehingga memutuskan untuk ke dokter.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan :
Pada pipi sebelah kiri terdapat pembengkakan pada daerah temporomandibuler,
teraba lunak dan nyeri pada penekanan, terdapat pergeseran tonsil sebelah kiri ke
medial seakan membesar, namun tidak hiperemis.

V.

DIAGNOSIS BANDING

Bacterial Parotitis : Jika pada pemeriksaan fisik ada kecurigaan infeksi saluran ludah
karena bakteremia, atau ada gigi yang bolong, ato ada infeksi yang dapat menyebar
secara hematogen. Biasanya disertai dengan abses parotis.

Tumor Saluran Ludah : Jika pada pemeriksaan fisik didapatkan massa yang terfiksasi
dengan jaringan sekitarnya dan terdapat perbesaran KGB leher yang menandakan
metastasis, dan dapat juga menyebabkan paralilis wajah karena tumor nya menginvasi N.
VII.

VI.

DIAGNOSIS KERJA

Diagnosis Kerja : Parotitis Akut ec Viral


8

Dasar diagnosis :
- Parotitis adalah infeksi virus akut yang menyerang kelenjar ludah terutama kelenjar
parotis dan ditandai dengan adanya kelainan berupa pembengkakan sel epitel, pelebaran
dan penyumbatan saluran.
- Akut : Parotitis akut ditandai dengan rasa sakit yang mendadak, kemerahan dan
pembengkakan pada daerah parotis.
- Viral : Penyebabnya dicurigai virus, yang tersering adalah gol. Paramxyovirus.
VII.
-

USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Darah Rutin

VIII. PENATALAKSANAAN
Medika Mentosa
Antalgin (Metampiron) 500 mg 3x1.
Atau Parasetamol 500 mg 3x1.
Non Medika Mentosa
Diet lunak dan cair
Istirahat yang cukup
Banyak minum air.

IX.

ANJURAN
Menggunakan obat sesuai dengan anjuran dokter.
Kontrol kembali ke dokter jika gejala dirasakan tidak membaik atau bertambah
parah.

X.

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: bonam

Quo ad functionam

: bonam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. ANATOMI KELENJAR LIUR
Kelenjar parotis merupakan kelenjar liur utama yang terbesar dan menempati
ruangan di depan processus mastoid dan liang telinga luar. Di sebelah depan, kelenjar ini
terletak di lateral dari ramus asenden mandibula dan otot sternokleidomastoideus dan
10

menutupi bagian posterior abdomen otot digastricus. Kelenjar ini dipisahkan dari kelenjar
submandibula oleh ligamentum stilomandibularis. Bagian dalam dari kelenjar parotis
meluas ke posterior dan medial dari ramus asenden mandibula dan dikenal sebagai daerah
retromandibular. Bagian kelenjar inilah yang berdekatan dengan ruang parafaringeus.
Saraf fasialis meninggalkan tengkorak melalui foramen stilomastoideus dan
melewati bagian depan tepat di lateral dari prosesus stiloideus. Saraf ini kemudian masuk
ke substansi kelenjar parotis dan membagi menjadi

dua saluran utama, yaitu

servikofasialis dan temporofasialis. Bagian temporofasialis kemudian memisah menjadi


cabang temporal dan zigomaticus, sedang servikofasialis memberikan cabang servikalis,
bagian tepi mandibula, dan bagian bukal yang melewati bagian depan tepat dibawah
duktus parotis. Jalan saraf fasialis melalui subtansi kelenjar parotis akan membagi
kelenjar, untuk keperluan klinis menjadi lobus superfisialis dan yang berjalan menjadi
medial dari saraf fasialis dikenal sebagai lobus profunda. Lobus profunda yang terletak
berdekatan dengan saraf cranial kesembilan, kesepuluh dan kesebelas, dan bagian arteri
karotis eksterna menjadi arteri temporalis superficial dan arteri maksilaris interna.
Duktus parotis kurang lebih panjangnya 6 cm dan muncul dari bagian anterior
kelenjar. Duktus ini melintasi otot maseter dan membelok tajam di atas batas anterior otot
maseter kemudian menembus otot businator. Duktus ini kemudian melanjut ke jaringan
submukosa mulut dan memasuki rongga mulut melalui papilla kecil berhadapan dengan
mahkota gigi molar kedua rahang atas.
Kelenjar submandibula terletah dibawah ramus mandibula horizontal dan dibungkus
oleh lapisan jaringan penyambung yang tipis. Kelenjar ini seluruhnya terletak di dalam
trigonum digastrikus yang dibentuk oleh bagian abdomen dari otot digastrikus anterior dan
posterior. Di bagian tengah kelenjar ini dibatasi oleh otot stiloglosus dan higlosus , dan
dibagian depan dibatasi oleh otot miohioid. Sebagian besar bagian medial kelenjar
berhubungan erat dengan dasar mulut. Duktus submandibula atau ductus Wharton juga
memiliki panjang 6 cm. Ductus ini lewat antara otot milohioid dan hioglosus tepat
ditengah kelenjar sublingualis dan memasuki mulut tepat ditepi frenulum lidah.
Pasangannya kelenjar subliangualis terletak tepat dibawah dasar mulut bagian depan.
Salica disekresi masuk ke dasar mulut melalui beberapa duktus yang pendek.
Kelenjar sublingualis dan submandibularis merupakan kelenjar campuran, keduanya
terdiri dari bagian kelenjar serosa dan mukosa. Kelenjar parotis hampir seluruhnya terdiri
11

dari elemen serosa. Dalam keadaan istirahat kelenjar submandibula menghasilkan kurang
lebih 2/3 jumlah liur, dan kelenjar parotis memberikan kurang lebih 1/3 jumlah liur.

Gambar 1. Anatomi Kelenjar Parotis


Respon air liur terhadap rangsangan tergantung pada reflex saraf yang dibawa oleh
sistem parasimpatis. Saraf parasimpatis kelenjar parotis mulai pada nucleus salivatorius
inferior. Serta-sertanya meninggalkan otak melalui saraf glossofaringeal dan melalui
telinga tengah, melintasi promontorium pada saraF jacobsons. Pada pleksus timpanikus,
saraf ini memasuki saraf petrosus minor, oleh karena mecapai ganglion otikus. Serat postganglion dari ganglion otikus mencapai kelenjar parotis memlalui bagian temporal
aurikularis saraf kelima. Saraf parasimpatis kelenjar submandibula berasal dari nucleus
salivatorius superior. Serat-seratnya memasuki saraf intermedius (saraf dari wrisberg) dan
mengikuti saraf fasialis memsuki bagian vertical mastoid. Serat-serat ini kemudian
meninggalkan serat ketujuh pada korda timpani melalui telinga tengah, dan bergabung
dengan saraf lingualis. Serat-serat ini mengikuti saraf lingualis ke ganglion kecil yang
berhubungan erat dengan kelenjar submandibula. Serat-serat post-ganglion meninggalkan
ganglion submandibula melalui substansi kelenjar. Karena pemotongan dari saraf korda
timpani dan saraf jacobsons tidak selalu menngurangi sekresi air liur, pasti ada jalur saraf
parasimpatis lain yang menyokong kelenjar. Diduga bahwa jalur-kalur ini melibatkan saraf
hipoglosus dan glossofaringeus. Saraf simpatis yang menyokong kelenjar liur mayor
dilaporkan menyebabkan aliran yang meningkat diikuti penurunan aliran sebagai
kompensasi. Karena tidak adanya elemen otot dalam kelenjar-kelenjar itu sendiri, maka

12

hal ini diyakini bahwa peningkatan aliran ini mungkin oleh karena kontraksi mioepitel,
atau sel-sel basket yang berhubungan dengan duktus striata.1
B. FISIOLOGI KELENJAR LIUR
Setiap hari diproduksi 1 sampai 2 liter air liur dan hampir semuanya ditelan dan
direabsorbsi. Proses sekresi dibawah kendali saraf otonom. Makanan dalam mulut
merangsang serabut saraf yang berakhir pada nucleus pada traktus solitaries dan pada
akhirnya merangsang nukleus saliva pada otak tengah. Pengeluaran air liur juga
dirangsang oleh penglihatan, penciuman melalui impuls dari kerja korteks pada nukleus
saliva batang otak. Aktivitas simpatis yang terus menerus menghambat produksi air liur
seperti pada kecemasan yang menyebabkan mulut kering. Obat-obatan yang menghambat
aktivitas parasimpatis juga menghambat produksi air liur seperti obat antidepresan,
transquillizers, dan obat analgesic opiate dapat menyebabkan mulut kering (xerostomia).
Air liur terdiri atas air dan mucin, membentuk seperti lapisan gel pada mukosa oral
dan membasahi makanan (lubrikasi). Lubrikasi penting untuk mengunyah dan
pembentukan bolus makanan sehingga memudahkan untuk ditelan. Air liur juga
mengandung amilase, yang berperan dalam pencernaan karbohidrat. Air liur mengandung
enzim antibakteri seperti lisozim dan immunoglobulin yang membantu mencegah infeksi
serius dan mengatur flora bakteri yang menetap di mulut. Saluran air liur relative
impermeabel terhadap air dan mensekresi kalium, bikarbonat, kalsium, magnesium, ion
fosfat dan air. Jadi produk akhir dari kelenjar air liur adalah hipotonik, cairan yang bersifat
basa yang kaya akan kalsium dan fosfat . Komposisi ini penting untuk mencegah
demineralisasi enamel gigi.
C. DEFINISI
Parotitis epidemika ialah penyakit virus akut yang biasanya menyerang kelenjar
ludah terutama kelenjar parotis. Gejala khasnya yaitu terjadi pembesaran kelenjar ludah
terutama kelenjar parotis 2
Parotitis epidemika (gondongan) adalah suatu infeksi virus menular yang
menyebabkan pembengkakan unilateral (satu sisi) atau bilateral (kedua sisi) pada kelenjar

13

liur disertai nyeri. Pada saluran kelenjar ludah terjadi kelainan berupa pembengkakan sel
epitel, pelebaran dan penyumbatan saluran.3
D. EPIDEMIOLOGI
Sebelum ditemukan vaksin parotitis pada tahun 1967, parotitis epidemika merupakan
penyakit yang sangat sering ditemukan pada anak. Insidens pada umur < 15 tahun adalah
85% dengan puncak insidens kelompok umur 5-9 tahun. Setelah ditemukan vaksin
parotitis, kejadian parotitis epidemika menjadi sangat jarang. Di negara barat seperti
Amerika dan Inggris, rata-rata didapat kurang dari 1.000 kasus per tahun. Demikian pula
insidens parotitis bergeser pada anak besar dan dewasa muda serta menyebabkan kejadian
luar biasa ditempat kuliah atau tempat kerja. Di Indonesia, tidak didapatkan adanya data
mengenai insidens terjadinya parotitis epidemika.3
Jika dibandingkan dengan campak atau cacar air, gondongan tidak terlalu menular.
Penyakit gondongan tersebar di seluruh dunia dan dapat timbul secara endemik atau
epidemik. Parotitis epidemika merupakan penyakit infeksi pada anak yang mana pada
kasusnya

terjadi

sekitar

30-40%

yang

kasusnya

merupakan

penyakit

asimptomatik. Epidemi terjadi pada semua musim tetapi sedikit lebih sering pada musim
dingin akhir dan musim semi. Sumber infeksi mungkin sukar dilacak karena 30-40%
infeksi adalah subklinis. Kebanyakan penyakit ini menyerang anak-anak yang berumur 215 tahun, namun pada orang dewasa justru lebih berat. Jarang ditemukan pada anak yang
berumur kurang dari 2 tahun.4
Jika seseorang pernah menderita gondongan, maka dia akan memiliki kekebalan
seumur hidupnya. Yang terkena biasanya adalah kelenjar parotis, yaitu kelenjar ludah yang
terletak diantara telinga dan rahang. Pada orang dewasa, infeksi ini bisa menyerang testis
(buah zakar), sistem saraf pusat, pankreas, prostat, payudara dan organ lainnya. Adapun
mereka yang beresiko besar untuk menderita atau tertular penyakit ini adalah mereka yang
menggunakan atau mengkonsumsi obat-obatan tertentu untuk menekan hormon kelenjar
tiroid dan mereka yang kekurangan zat Iodium dalam tubuh.4
E. ETIOLOGI

14

Parotitis epidemika biasanya disebabkan oleh anggota dari grup paramyxovirus,


yang juga termasuk di dalamnya virus parainfluenza, measles, dan virus Newcastle
disease.2
Virus tersering yang menyebabkan parotitis epidemika adalah virus parotitis. Virus
ini merupakan virus ribonucleic acid (RNA) rantai tunggal yang termasuk dalam genus
paramyxovirus, dan merupakan salah satu virus parainfluenza dengan manusia sebagai
satu-satunya inang (host). Ukuran dari partikel paramyxovirus sebesar 90 300 m. Virus
ini mudah menular melalui droplet, kontak langsung, muntahan, dan urin. Infeksi parotitis
epidemika ditandai dengan gejala prodromal berupa demam, nyeri kepala, nafsu makan
menurun selama 3-4 hari, yang diikuti peradangan kelenjar parotis (parotitis) dalam waktu
48 jam dan dapat berlangsung selama 7-10 hari. Penularan terjadi 24 jam sebelum sampai
3 hari setelah terlihatnya pembengkakan kelenjar parotis. Satu minggu setelah terjadi
pembengkakan kelenjar parotis pasien dianggap sudah tidak menular.3
F. KLASIFIKASI
Klasifikasi dari parotitis epidemika berupa:4
- Parotitis Rekuren
Sudah pernah terinfeksi sebelumnya kemudian kambuh. Anak-anak mudah
terkena parotitis kambuhan yang timbul pada usia antara 1 bulan hingga akhir masa
kanak-kanak. Kambuhan berarti sebelumnya anak telah terinfeksi virus kemudian
kambuh lagi

- Parotitis Akut
Parotitis akut ditandai dengan rasa sakit yang mendadak, kemerahan dan
pembengkakan pada daerah parotis. Dapat timbul sebagai akibat pasca-bedah yang
dilakukan pada penderita terbelakang mental dan penderita usia lanjut, khususnya
apabila penggunaan anestesi umum lama dan adanya gangguan dehidrasi.

G. GEJALA KLINIK
Masa inkubasi berkisar dari 14-24 hari dengan puncak pada hari ke-17 dan 18. Pada
anak, manifestasi prodormal jarang terjadi tetapi mungkin tampak bersama dengan demam,
15

nyeri otot (terutama pada leher), nyeri kepala, dan malaise. Awalnya ditandai dengan nyeri dan
pembengkakan parotis yang khas, mula-mula mengisi rongga antara tepi posterior mandibula
dan mastoid kemudian meluas dalam deretan yang melengkung ke bawah dan ke depan, di atas
dibatasi oleh zigoma. Edema kulit dan jaringan lunak biasanya meluas lebih lanjut dan
mengaburkan batas pembengkakan kelenjar, sehingga pembengkakan lebih mudah disadari
dengan pandangan daripada dengan palpasi.2
Pembengkakan terjadi dengan cepat dalam waktu beberapa jam dengan puncak pada
1-3 hari. Pembengkakan jaringan mendorong lobus telinga ke atas dan ke luar, dan sudut
mandibula tidak lagi dapat dilihat. Pembengkakan perlahan-lahan menghilang dalam 3-7
hari. Satu kelenjar parotis biasanya membengkak sehari atau dua hari sebelum yang lain,
tetapi lazim pembengkakan terbatas pada satu kelenjar. Daerah pembengkakan terasa lunak
dan nyeri. Edema faring dan palatum mole homolateral menyertai pembengkakan parotis
dan memindahkan tonsil ke medial. Pembengkakan parotis biasanya disertai dengan
demam sedang hingga 40C.2
H. PATOGENESIS
Virus mumps masuk tubuh melalui hidung atau mulut yang berasal dari percikan
ludah, kontak langsung dengan penderita parotitis lain, muntahan, dan urin. Infeksi akut
oleh virus mumps pada kelenjar parotis dibuktikan dengan adanya kenaikan titer IgM dan
IgG secara bermakna dari serum akut dan serum konvalesens. Masa inkubasi 15 sampai 21
hari kemudian virus bereplikasi di dalam traktus respiratorius atas. Semakin banyak
penumpukan virus di dalam tubuh sehingga terjadi proliferasi di parotis / epitel traktus
respiratorius kemudian terjadi viremia (ikutnya virus ke dalam aliran darah) dan
selanjutnya virus berdiam di jaringan kelenjar / saraf yang kemudian akan menginfeksi
glandula parotis. Keadaan ini disebut parotitis.4
Bila testis terkena infeksi maka terdapat perdarahan kecil dan nekrosis sel epitel
tubuli seminiferus. Pada pankreas kadang-kadang terdapat degenerasi dan nekrosis
jaringan.5
I. PATOFISIOLOGI
Pada umumnya penyebaran paramyxovirus sebagai agen penyebab parotitis melalui
kontak langsung dengan penderita, droplet, urin dan muntahan penderita. Dari berbagai
16

cara tadi virus masuk melalui saluran pernapasan baik hidung maupun mulut. Virus
mengalami masa inkubasi 12 sampai 25 hari kemudian virus bereplikasi dan mengalami
masa viremia awal selama 3-5 hari. Setelah replikasi awal, virus bereplikasi di kelenjar
parotis, menyebabkan terjadinya reaksi inflamasi.6
Reaksi inflamasi merangsang keluarnya bradikinin yang akan merangsang saraf
sensorik dan mengakibatkan nyeri. Selain bradikinin, reaksi inflamasi tadi merangsang
pengeluaran histamin yang berakibat pada peningkatan permeabilitas pembuluh darah
sehingga terjadi edema pada pipi. Edema pada pipi dapat menekan saraf aurikula temporal
sehingga terjadi nyeri pada telinga. Selain itu reaksi imun yang terjadi saat masa viremia
awal mengakibatkan keluarnya IL-1, kemudian IL-1 menghasilkan pirogen endogen yang
akan diteruskan menuju hipotalamus sebagai pusat regulasi suhu tubuh untuk merangsang
prostaglandin dan akan menimbulkan demam.6
J. PENEGAKKAN DIAGNOSIS
Penegakkan diagnosis dari parotitis epidemika yaitu :2
- Anamnesis
o Gejala yang pertama terlihat adalah nyeri ketika mengunyah atau menelan, terutama
jika menelan cairan asam misalnya jeruk.
o Demam, biasanya suhu mencapai 38,9-40o Celcius
o Pembengkakan kelenjar terjadi setelah demam
o Nafsu makan berkurang
o Menggigil
o Sakit kepala

17

Gambar 2. Pembesaran kelenjar parotis


- Pemeriksaan Fisik
o Suhu meningkat mencapai 38,9-40o Celcius
o Pembengkakan di daerah temporomandibuler (antara telinga dan rahang)
o Nyeri tekan pada kelenjar yang membengkak

Gambar 3. Palpasi di daerah sekitar kelenjar parotis

18

- Pemeriksaan Penunjang
Dalam prakteknya pemeriksaan penunjang tidak banyak dilakukan, sebab dari
anamnesis dan pemeriksaan fisik sudah terdiagnosis. Namun jika gejala tidak jelas
diagnosis didasarkan pada :
a.

Pemeriksaan laboratorium menunjukan jumlah leukosit normal

b.

Uji serologi untuk membuktikan spesifik mumps antibodi.2


- Tes Neutralization antibodies (NT)
- Kenaikan titer yang bermakna dari Complement Fixing antibody (CF)

K. PENATALAKSANAAN
Parotitis merupakan penyakit yang bersifat self-limited (sembuh / hilang sendiri)
yang berlangsung kurang lebih dalam satu minggu. Tidak ada terapi spesifik bagi infeksi
virus mumps oleh karena itu pengobatan parotitis seluruhnya simptomatis dan suportif .7

Penderita rawat jalan


Penderita baru dapat dirawat jalan bila tidak ada komplikasi, keadaan umum
cukup baik.
Istirahat yang cukup
Pemberian diet lunak dan cairan yang cukup
Medikamentosa (simtomatik) :
Antalgin (Metampiron) adalah derivat metansulfonat dan amidopirina yang
bekerja terhadap susunan saraf pusat yaitu mengurangi sensitivitas reseptor rasa
nyeri dan mempengaruhi pusat pengatur suhu tubuh. Tiga efek utama adalah
sebagai analgesik, antipiretik dan anti-inflamasi. Antalgin mudah larut dalam air
dan mudah diabsorpsi ke dalam jaringan tubuh.
Dosis antalgin yang digunakan :
Dewasa : 500-1000 mg diberikan 3-4 kali sehari (maksimum 3 gram sehari).
Anak-anak : 250-500 mg diberikan 3-4 kali sehari (maksimum 1 gram untuk <
6 tahun dan 2 gram untuk 6 - 12 tahun).
1. Parasetamol : 7,5 10 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis

19

Penderita rawat inap


Penderita dengan demam tinggi, keadaan umum lemah, nyeri kepala hebat, gejala saraf
perlu rawat inap di ruang isolasi.
Diet lunak, cair dan TKTP
Analgetik-antipiretik

Penanganan komplikasi tergantung jenis komplikasinya.7

L. KOMPLIKASI
Komplikasi dari infeksi mumps lazimnya adalah keterlibatan sistem saraf pusat
(meningitis), tetapi tidak sering. Meningitis terjadi pada 15% dari pasien yang terinfeksi
mumps, tetapi tanpa adanya kerusakan permanen. Hingga 50% dari laki-laki yang sudah
mengalami pubertas terkena orchitis (pembengkakan testis) sebagai komplikasi mumps.
Kira-kira setengah dari pasien orchitis memiliki resiko terjadinya atropi testis, tetapi jarang
hingga menimbulkan kemandulan.8
Oophoritis (pembengkakan ovarium) dan mastitis dapat terjadi pada wanita yang
telah mengalami pubertas. Peningkatan jumlah kejadian abortus spontan telah ditemukan
pada wanita hamil trimester 1 kehamilannya yang sedang mengalami infeksi mumps,
namun belum ditemukan adanya bukti bahwa mumps dapat menyebabkan cacat bawaan.
Deafness (tuli) pada satu telinga atau kedua telinga dapat terjadi pada 1/20.000 kasus yang
telah dilaporkan.8

M. PROGNOSIS
Prognosis dari parotitis epidemika umumnya baik, tetapi pada kondisi tertentu dapat
terjadi komplikasi.9
N. PENCEGAHAN
Pencegahan terhadap parotitis epidemika dapat dilakukan secara imunisasi pasif dan
imunisasi aktif. Cara ini merupakan pendekatan terbaik untuk menurunkan angka
morbiditas dan mortalitas akibat gondongan.10
A. Pasif : antibodi yang didapatkan dari ibu melalui plasenta dapat melindungi bayi dari
parotitis epidemika. Maka dari itu, jarang ditemukan gondong pada bayi kurang dari 6
20

bulan. Selain itu, Gamma globulin parotitis hiperimun tidak efektif dalam mencegah
parotitis atau mengurangi komplikasi.10
B. Aktif : dilakukan dengan memberikan vaksinasi dengan virus parotitis hidup yang
dilemahkan (Mumpsvax-merck, sharp and dohme). Vaksin ini tidak menyebabkan panas
atau reaksi lain serta tidak mengekskresi virus dan tidak menular terhadap kelompok
yang rentan. Jarang ditemukan parotis yang dapat berkembang selama 7-10 hari
sesudah vaksinasi.10

21

BAB IV
PENUTUP
Parotitis adalah infeksi virus akut yang menyerang kelenjar ludah terutama kelenjar
parotis dan ditandai dengan adanya kelainan berupa pembengkakan sel epitel, pelebaran dan
penyumbatan saluran. Virus yang sering menyebabkan parotitis adalah virus mumps, yang
merupakan bagian dari genus paramyxovirus, dan selain itu dapat pula disebabkan oleh virus
parainfluenza, measles, dan virus Newcastle disease.
Manifestasi klinis parotitis antara lain demam, nyeri otot (terutama pada leher), nyeri
kepala, malaise, pembengkakan parotis, edema faring dan palatum mole homolateral. Virus
mumps masuk tubuh melalui hidung atau mulut yang berasal dari percikan ludah, kontak
langsung dengan penderita parotitis lain, muntahan, dan urin. Kemudian mengalami masa
inkubasi, replikasi dan viremia, yang mana merangsang mediator inflamasi sehingga muncul
nyeri, edema dan demam.
Tidak ada terapi spesifik bagi infeksi virus mumps oleh karena itu pengobatan parotitis
seluruhnya simptomatis dan suportif, berupa istirahat cukup, diet nutrisi, serta pemberian
analgetik-antipiretik. Komplikasi yang mungkin terjadi berupa meningitis, orkitis, oophoritis,
mastitis, abortus spontan, dan tuli. Prognosis umumnya baik. Pencegahan parotitis yaitu
pemberian imunisasi baik secara aktif atau pasif.

22

DAFTAR PUSTAKA
1. Adams GL, Boles LR, Higler PH. Buku ajar penyakit THT. Ed 6. Jakarta : EGC; 1997.
h. 305-7
2. Behrman, Richard E., Robert M. Kliegman, Ann M. Arvin. Ilmu Kesehatan Anak
Nelson. Jakarta : EGC; 2000.
3. Pudjiadi, Marissa TS, Hadinegoro SRS. Orkitis pada Infeksi Parotitis Epidemika :
laporan kasus. Sari Pediatri. 2009. h. 47-51.
4. Maharani, Laillyza A, Soenartyo H. Mumps Unilateral Pada Pasien Remaja. Oral
Medicine Dental Journal. 2009. h. 1-5.
5. Yvonne M. Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Penerbit EGC; 2000.
6. Ray CG. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Harrison. Jakarta : EGC; 2008.
7. Soedarmo SSP, Garna H, Hadinegoro SRS, Satari HI. Buku Ajar Infeksi dan Pediatrik
Tropis. Jakarta : Penerbit IDAI. 2008
8. Wielders CC, Binnendijk RS, Snijders BE, Tipples GA, et al . Surveillance and
outbreak reports : mumps epidemic in orthodox religious low-vaccination communities
in the netherlands and canada, 2007 to 2009. Eurosurveillance. 2011.h . 1-9.
9. Turek, PJ. Smiths General Urology. Singapore : Lange Mc. Graw Hill. 2004
10. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Buku Kuliah : Ilmu Kesehatan Anak 2.
Jakarta : Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007.

23