Anda di halaman 1dari 16

SPESIFIKASI TEKNIS

SPESIFIKASI TEKNIS DAN GAMBAR


Pasal I
PENJELASAN PEKERJAAN
1.1.

PENJELASAN PEKERJAAN
Pekerjaan yang dilaksanakan adalah :
Pembangunan Pagar TPA
Pasal 2
PEKERJAAN PERSIAPAN

2.1.

Rencana Kerja
1. Pemborong harus membuat rencana pelaksanaan pekerjaan dengan Network Planing / Barchat
selambat-lambatnya 1 (satu) minggu setelah SPK dan diajukan kepada Direksi untuk mendapat
persetujuan.
2. Pemborong berkewajiban melaksanakan pekerjaan menurut rencana ini hanya dengan
persetujuan Direksi diperkenankannya adanya perubahan-perubahan.
3. Setelah mendapat persetujuan Direksi, Rencana Kerja tersebut harus dipasang dikantor
lapangan dan menjadi rencana kerja yang resmi dan mengikat, dan 2 (dua) lembar rencana ini
(foto copy) harus diserahkan kepada Direksi.
4. Rencana Kerja ini akan dipakai oleh Direksi sebagai dasar untuk menentukan segala sesuatu
yang berhubungan dengan keterlambatan prestasi pekerjaan pemborong.
5. Pemborong harus membuat papan nama yang bentuk maupun ukurannya disesuaikan dengan
ketentuan daerah setempat.

2.2.

Gudang Bahan dan Perancah :


1. Pada pokoknya pemborong harus mengusahakan agar barang-barang berharga lainnya
terlindung dari cuaca dan keamanan.
2. Steger (perancah) untuk keperluan pelaksanaan harus cukup kuat dan aman untuk menghindari
kecelakaan.
3. Gudang bahan dibuat dari kayu dan dinding triplek, atap seng gelombang BJLS 30 sehingga
berfungsi dengan baik.

2.3.

Pengukuran / Penentuan Peil :


Pemborong harus melaksanakan pengukuran untuk menentukan batas bangunan dan penentuan
peil + 0,00. Peil + 0,00 adalah sama dengan peil bangunan yang telah berdiri.
Alat-alat ukur yang dapat dipakai adalah pesawat ukur (theodolite, waterpass) dilengkapi
dengan papan rambu ukur, pita ukur dan lain sebagainya.
Pada tempat tertentu harus dibuat tugu patokan dasar (peil 0,00) yang terbuat dari balok beton
ukuran penampang 20x20 cm2 dengan menancap kuat ke dalam tanah (agar tidak berubah
letak maupun ketinggiannya).
Bouwplank dari papan kayu kelas II (tebal minimun 2 cm) permukaan atas diserut rata, kering
dan lurus selama penggunaannya. Pada setiap jarak maksimum 1,5 m papan bouwplank
dipakukan pada balok kayu 5/7 atau kayu dolken yang ditancapkan kuat ke dalam tanah.
Selama
penggunaan bouwplank
harus
dijaga
kestabilannya
dari
pengaruh
perubahan/pergeseran letak (akibat tumpukan galian tanah dan sebagainya).

SPESIFIKASI TEKNIS

2.4.

Direksi Keet
- Pembuatan Direksi Keet dan barak kerja harus dibuat sesuai dan memenuhi syarat untuk
dijadikan tempat kerja.
Pasal 3
PEKERJAAN TANAH DAN GALIAN

3.1

Pekerjaan Tanah Halaman dan Struktur


3.1.1 Pekerjaan Tanah Halaman
1. Bahan
Tanah yang digunakan untuk urugan harus bersih dari humus, tidak expensive (lowcycle
content) bebas sampah, bebas dari bahan organis dan lain-lain sesuai petunjuk Konsultan
Pengawas.
2. Macam Pekerjaan
- Perataan tanah dimana akan didirikan bangunan, jalan, pengerasan, landscaping dan
struktur site lainnya.
- Melengkapi dan menyediakan tenaga kerja terlatih, equipment dan peralatan yang
diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan.
- Menyusun rencana kerja secara grafis yang disertai penjelasan-penjelasan tentang
jenis, kualitas dan kapasitas equipment yang akan digunakan, metode kerja, cara
pengangkatan dan distribusi tanah dari tempat-tempat penimbunan dan penyimpanan,
lokasi gedung-gedung, los kerja yang digolongkan dalam tingkatan keterampilan.
- Mengerjakan penyaluran (stripping) dan drainase sementara untuk menjaga erosi,
memperbaiki keadaan tanah bangunan (jika perlu), membentuk muka permukaan
tanah (grading) menurut garis-garis kedalaman, ketinggian dan kemiringan sesuai
dengan gambar rencana.
- Mengadakan koordinasi kerja sebaik-baiknya dengan pekerjaan lain yaitu
Pekerjaan tanah untuk struktur
Pekerjaan galian/urugan tanah untuk utilitas.
- Titik duga untuk rambu-rambu penunjuk tidak boleh dibongkar sebelum mendapatkan
ijin tertulis dari ahli, sedang rambu-rambu yang dapat dipakai harus dipelihara dan
disimpan ditempat-tempat yang disediakan kontraktor.
3. Syarat Pelaksanaan
1. Penggalian
- Tanah humus harus digali dan dipisahkan dari lapisan dan tanah dibawahnya,
pengupasan (stripping) dengan rat-rata 30 cm dan akan digunakan sebagai lapisan
penutup untuk urugan sekeliling bangunan atau tempat yang langsung berdekatan
yang ditunjukkan oleh Konsultan Pengawas.
- Jika tebal tanah humus lebih tebal dari 20-30 cm, seluruh tebal humus akan digali
dan digunakan sebagai urugan lapisan penutup, seperti uraian diatas sesuai dengan
instruksi konsultan pengawas dan biaya yang diakibatkan dianggap telah termasuk
dalam kontrak dan tidak akan diajukan sebagai tambahan biaya.
- Humus dinyatakan sebagai setiap lapisan tanah yang langsung berada diatas
permukaan tanah dapat berisi atau berubah warna oleh akar atau bahan organis
lainnya menurut pendapat konsultan pengawas akan mempengaruhi stabilitas dan
setiap bangunan yang akan dibangun diatas tanah sesudah pembersihan halaman,
lapisan atas, tanah liat, tumbuh-tumbuhan dan lumpur harus dihilangkan.
- Bilamana lapisan humus telah digali dan cocok untuk digunakan sebagai bahan
lapisan lereng-lereng, sisi-sisi, humus tersebut harus dikumpulkan dulu untuk
digunakan kembali. Sisa tanah humus harus diambil dan dibuang keluar halaman,
pembuangan dan pengangkutan adalah menjadi tanggung jawab kontraktor. Biaya
apapun untuk pembuangan dan pengangkutan dianggap sudah termasuk dalam
kontrak.

SPESIFIKASI TEKNIS

Semua penggalian harus dikerjakan sesuai dengan panjang kedalaman,


kemiringan dan lingkungan yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan atau
seperti diperlukan untuk pemindahan tanah macam apapun yang ada dan tidak
dibutuhkan serta galian tanah tersebut akan digunakan baik untuk urugan atau
dibuang tergantung instruksi konsultan pengawas.
Persetujuan terhadap pengambilan tanah. Semua tempat pengambilan tanah untuk
memenuhi kebutuhan tanah, pekerjaan pengurugan seluruhnya harus dari kualitas
yang sama hanya dipakai jika ada persetujuan dari konsultan pengawas terlebih
dahulu.
Kontraktor harus memberikan keterangan yang lengkap kepada konsultan
pengawas tentang jumlah, kualitas dan keragaman dari tempat penggalian yang
dimaksud, sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) hari sebelum mulai penggalian
ditempat dan harus menyerahkan kepad konsultan pengawas contoh-contoh tanah
yang diambil dari tempat tersebut menurut cara yang disetujui.
Biaya untuk pengambilan contoh-contoh tanah dari tempat galian termasuk kearah
lokasi seluruhnya menjadi beban kontraktor dan dianggap termasuk dalam biaya
kontrak.

4. Pekerjaan Urugan
- Setelah lapisan tanah dikupas, daerah bangunan tersebut harus dipadatkan hingga
mencapai 40 % maksimum, kepadatan maksimum paling sedikit sedalam 15 cm
sebelum urugan dilaksanakan.
- Untuk daerah bukan bangunan, sebelum pelaksanaan harus dipadatkan/digiling
mencapai 80 % kepadatan maksimum sedalan 15 cm guna memanfaatkan kembali
kerusakan tanah akibat pengurugan.
- Untuk dapat menentukan kadar air optimum dan jumlah kepadatan/gilasan yang
dibutuhkan guna mencapai kepadatan harus dilakukan pemadatan percobaan
dengan bahan timbunan dan equipment yang akan digunakan.
5. Urugan dan Pemadatan
- Urugan harus dilakukan lapis demi lapis dengan ketebalan tidak lebih 20 cm
setiap lapis harus dipadatkan dengan stamper vibrator untuk jalan dan stamper
untuk bangunan dengan kapasitas sesuai dengan anjuran konsultan pengawas.
- Tanah urug yang terlalu kering harus dibasahi dengan air dan diikuti dengan
stamper dibelakangnya.
- Urugan pada lereng harus dilakukan dengan membuat bertangga pada lereng
tersebut untuk memberikan kaitan yang kokoh terhadap tanah urugan.
- Pemadatan subgrade khusus termasuk pasir kerikil, dan batu atau seluruhnya
dipadatkan hingga mencapai 90 % kepadatan maksimum, ini meliputi semua
daerah (bangunan dan bukan bangunan) untuk jalan pengerasan aspal dan
dibawah medan, didalam batas areal yang harus dilaksanakan.
6.

Pembukaan Muka Tanah (Finish grading)


- Muka tanah dimana bangunan akan berdiri diatasnya harus dibentuk dengan rata
dan baik sesuai dengan garis ketinggian atau kedalaman menurut gambar rencana.
- Daerah-daerah yang akan menerima slabs, basecourt atau pengerasan
pembentukan muka terakhir tidak boleh menyimpang dari 1,5 cm dari ketinggan
yang ditetapkan.
- Daerah yang akan ditanami atau dibiarkan terbuka, penyimpangannya tidak boleh
lebih dari 3 cm dari ketinggian yang ditentukan.
- Untuk mencegah longsor dan erosi harus dibuatkan parit sementara dan dibuat
dengan kemiringan 2 %.

SPESIFIKASI TEKNIS

7. Pengawasan Pekerjaan
- Selama pelaksanaan dan masa pemeliharaan harus diadakan tindakan pencegahan
baik terhadap genangan air sekitar area yang dapat menyebabkan terjadinya erosi,
pencegahan ini termasuk pembuatan tanggul-tanggul dan parit-parit sementara,
sumur-sumur penampung, pompa air dan tindakan lain yang dapat diterapkan
guna mencegah pekerjaan atau penundaan pekerjaan, termasuk pencegahan
masuknya air hujan atau air tanah dari daerah sekitarnya dan sebagainya.
- Kontraktor harus menjaga kerusakan semua sarana umum yang masih digunakan
seperti saluran air dan air minum, gas, listrik dan lain-lain yang dijumpai. Bila
sampai terjadi kerusakan kontraktor harus memperbaiki atau bila karena
terdapatnya sarana-sarana itu kelancaran pekerjaan akan terganggu, harus
memindahkannya tanpa adanya biaya tambahan.
3.2.

Pekerjaan Tanah Untuk Struktur


1. Bahan
Semua bahan pekerjaan tanah halaman.
2. Macam Pekerjaan
Menyediakan tenaga kerja, equipment dan bahan-bahan untuk pekerjaan galian urugan kembali
struktur sesuai dengan gambar rencana.
- Pekerjaan tanah halaman
- Pekerjaan galian tanah dan timbunan areal untuk sarana.
3. Syarat Pelaksanaan
1. Pengukuran dan Pengupasan
Sisa-sisa kayu bakar, batu-batuan dan unsur-unsur pengganggu lainnya harus disingkirkan
dan dikeluarkan sebelum dilakukan pengupasan tanah lapisan bagian teratas (top soil) daerah
yang akan dibangun hingga minimal 1 meter diluar garis rabat harus dikupas sedalam 20 cm
(kedalaman retak) untuk tanah dikupas ledeng sedang untuk hasil kupasan ini hanya boleh
untuk mengurug daerah-daerah rendah yang tidak akan didirikan bangunan diatasnya(fungsi
taman).
2. Bila kondisi tanah sangat jelek atau labil maka lapisan atas ini harus digali sampai
kedalaman tertentu dan diganti dengan tanah yang baik atau pasir dan batu yang dipadatkan
dengan menggunakan stamper.
3. Pembentukan Muka Tanah
- Muka tanah dimana akan didirikan bangunan diatasnya harus dibentuk dengan rata
menurut garis-garis dan ketinggian yang ditentukan didalam gambar rencana.
- Pada pembentukan tanah yang bertangga atau akibat dari perataan terjadi suatu talud
(tebing) maka harus diusahakan pengamanan pada tebing yang rawan untuk mencegah
terjadinya longsoran dan harus diusahaka pengamanan pula agar air hujan / air tanah tidak
melimpah kedaerah bangunan yang lebih rendah dengan kata lain daerah kerja harus selalu
bebas banjir.
4. Galian Tanah
- Galian tanah digunakan untuk semua pasangan struktur pondasi dan semua pasangan
lainnya dibawah tanah seperti rollag atau sloof pengalasan lantai, semua saluran-saluran,
septictank dan pembebasan penanaman pohon dan lain-lain yang nyata-nyata harus
dilakukan sesuai dengan rencana gambar.
- Galian tanah tidak boleh melebihi kedalaman yang ditentukan dan ini bila terjadi
pengurugan kembali harus dilakukan dengan pasangan atau beton tumbuk tanpa biaya
tambahan dari Pemberi Tugas.
- Semua unsur-unsur pengganggu yang terdapat didalam atau didekat tanah galian seperti
akar atau tunas pohon, sisa kayu, bekas bongkaran, batu-batuan dan sebagainya harus
segera dikeluarkan dan disingkirkan.

SPESIFIKASI TEKNIS

- Pada bagian-bagian yang dianggap mudah longsor pemborong harus mengadakan tindakan
pencegahan dengan memasang papan-papan penahan atau cara lainnya dan untuk tanah
yang berlumpur maka harus dipasang kayu racuk (perancah), kerusakan-kerusakan yang
terjadi akibat gugurnya tanah dengan alasan apapun menjadi tanggungan kontraktor.

5. Pengeringan Tempat Kerja


Untuk pelaksanaan, tempat kerja terutama galian pondasi dan pasangan dibawah tanah
lainnya harus dalam keadaan bebas air. Untuk itu pemborong harus menyediakan alat-alat
pengering dalam keadaan siap pakai dengan daya jumlah yang bisa menjamin kelancaran
pekerjaan.
6. Urugan Tanah
- Urugan pasir harus dilaksanakan dibawah semua pondasi, ubin, rabat, bata rebah setebal
10 cm dan dibawah minimal setebal 7 cm
- Sebelum pekerjaan lantai dipasang, lapisan harus dipadatkan dengan diberi air dan
diratakan.
- Pasir urugan dibersihkan dari akar-akar dan kotoran lainnya.
- Untuk semua pekerjaan urugan yang tidak memakai pasir urug, harus dipakai tanah yang
bersih dari tanaman-tanaman, akar-akaran, brangkal-brangkal, puing-puing dan segala
macam kotoran lainnya.

Pasal 4
PEKERJAAN BETON BERTULANG DAN TAK BERTULANG
4.1

LINGKUP PEKERJAAN
1. Pekerjaan meliputi menyediakan dan pendayagunaan semua tenaga kerja, bahan-bahan instalasi
konstruksi dan perlengkapan-perlengkapan untuk semua perbuatan dan mendirikan semua baja
tulangan, bersama dengan semua pertukangan / keahlian dan yang ada hubungan dengan itu,
lengkap sebagaimana diperlihatkan dalam spesifikasi atau sebagaimana yang diperlukan.
2. Kontraktor harus mengadakan penyediaan-penyediaan dan persiapan-persiapan serta melakukan
semua pekerjaan yang perlu untuk menerima atau ikut serta dengan pekerjaan lain.
3. Kontraktor harus bertanggung jawab atas instalasi semua alat yang akan terpasang, selubungselubung dan sebagainya yang tertanam dalam beton. Syarat-syarat umum pada pekerjaan ini
berlaku penuh SNI 1991
4. Ukuran-ukuran dimensi dari bagian-bagian beton bertulang yang tidak termasuk pada gambargambar rencana pelaksanaan arsitektur adalah ukuran-ukuran dalam garis besar. Ukuran-ukuran
yang tepat, begitu pula besi penulangannya ditetapkan dalam gambar-gambar struktur konstruksi
beton bertulang. Jika terdapat selisih data ukuran-ukuran antara kedua macam gambar itu, maka
ukuran yang berlaku harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan perencana atau direksi guna
mendapatkan ukuran yang sesungguhnya yang disetujui oleh Perencana. Jika karena keadaaan
pasaran besi penulangan perlu diganti guna berlangsung pelaksanaan maka jumlah luas
penampang tidak boleh kurang dengan luas sebelumnya dengan memperlihatkan syarat-syarat
lainnya yang termuat di dalam ketentuan yang berlaku. ( SK SNI 1991, dll)
Dalam hal ini direksi Proyek / Pengawas harus diberitahu terlebih dahulu.

4.2

BAHAN

4.2.1 Spesifikasi Beton

SPESIFIKASI TEKNIS

Campuran / adukan beton harus berdasarkan Mix Design / Trial Mix untuk umur 7, 14 dan 28 hari yang
didasarkan pada minimum hasil pengujian untuk 10 sampel yang diambil secara acak berdasarkan mix
design yang telah disetujui oleh direksi Proyek / Konsultan Pengawas.
Campuran / adukan beton baik yang dikerjakan di lokasi proyek ataupun beton berupa ready mix harus
menggunakan standar dan perlakuan yang sama dengan/untuk mutu beton fc' = 25 Mpa untuk struktur
beton dibuat untuk Pondasi, Pondasi plat tapak, sloof, Balok ,Plat lantai dak, kolom-kolom struktur dan
tempat-tempat lain yang mempergunakan beton bertulang sesuai dengan gambar rencana.
4.2.2 Semen
Semen merupakan material yang bersifat pozzolanik yang mampu mengikat bahan lain. Bahan pengikat
atau matrik dalam beton biasa disebut pasta sedangkan dalam ferosemen lebih dikenal sebagai mortar, yang
merupakan campuran semen portland dan pasir. Beberapa macam semen telah dikembangkan untuk
mendapatkan ketahanan beton dan mortar yang lebih baik pada kondisi sekeliling yang berbeda-beda.
Semen yang digunakan untuk penelitian ini adalah semen PC tipe I. Tipe ini merupakan semen untuk
kegunaan secara umum tanpa persyaratan khusus dan tidak ditujukan untuk konstruksi yang lebih banyak
mendapat serangan senyawa sulfat dalam tanah, air tanah, air laut dan konstruksi yang menerima kenaikan
temperatur yang tinggi pada hidrasi. Semen tipe I lebih sesuai untuk keadaan sekeliling yang mengandung
kadar sulfat rendah dan lebih sering digunakan pada iklim yang panas karena panas yang ditimbulkan
selama hidrasi tidak sebanyak yang ditimbulkan tipe lain.
1. Digunakan Portland Cement Type I menurut NI-8 tahun 1972 dan memenuhi S-400 menurut Standar
Cement Portland yang digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972).
2. Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak semen, tidak diperkenankan
untuk digunakan sebagai bahan campuran.
3. Penyimpanan harus sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang lembab maka alas semen
harus ditinggikan 30 cm dan tumpukan semen paling tinggi 2 m.
4. Setiap semen baru yang masuk harus dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen
dapat dilakukan menurut urutan pengiriman.

4.2.3 Pasir Beton


Pasir beton harus berupa butir-butir tajam keras, bebas dari bahan-bahan organik, lumpur dan kotoran
(sampah) serta memenuhi komposisi butir serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang tercantum
dalam standar ASTM C-33, PBI - 1971 dan SK-SNI 1991 telah diuji di laboraturium bahan.
Pasir merupakan pasir dengan gradasi seimbang dengan nilai modulus kehalusan (FM = Finness Modulity)
= 2 s/d 3 dan tidak mengandung lumpur ataupun bahan organik lain lebih dari 5 %. Direkomendasikan
menggunakan pasir cor dari Gunung Sugih.

Persentase Lolos Saringan (%)

Grafik Distribusi Gradasi Saringan Pasir (di rekomendasikan)


100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
Pan

0,15

0,30

0,60

1,18

2,36

4,75

9,50

Diameter Saringan (mm)


ASTM

Sampel

ASTM

Gambar 1. Grafik gradasi pasir yang direkomendasikan


4.2.4 Kerikil
Kerikil yang digunakan harus bersih dan bermutu baik, serta mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai yang
disyaratkan dalam SNI 1991dan telah diuji di laboratorium bahan. Pemilihan gradasi spli harus diperhatikan
agar masuk ke dalam sepasi tulangan dan di sarankan menggunakan kerikil 1 : 3

SPESIFIKASI TEKNIS

Penimbunan kerikil dengan pasir harus dipisahkan agar kedua jenis material tersebut tidak tercampur untuk
menjamin adukan beton dengan komposisi material yang tepat.
Direkomendsikan kerikil yang mempunyai tektur terpecah (kerikil dari batu gunung) pada semua bidang
yang ada.

Persentase Lolos Saringan (%)

Grafik Distribusi Gradasi Hasil Penyaringan Kerikil


100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
Pan

2,36

4,75

9,50

14,00

19,00

26,50

30,00

Dia Saringan (mm)


ASTM

Sampel

ASTM

Gambar 2. Grafik gradasi kerikil yang direkomendasikan


4.2.5 Air
Air yang digunakan harus air tawar, tidak mengandung minyak, asam alkali, garam, bahan-bahan lain yang
dapat merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum.
4.2.6 Cetakan dan Acuan
Kontraktor harus terlatih terlebih dahulu mengajukan perhitungan-perhitungan gambar-gambar rancangan
cetakan dan acuan untuk mendapatkan persetujuan Direksi sebelum pekerjaan tersebut dilaksanakan. Dalam
gambar-gambar tersebut harus secara jelas terlihat konstruksi cetakan/acuan, sambungan-sambungan serta
kedudukan serta sistem rangkanya.
1. Cetakan dan acuan untuk pekerjaan beton harus memenuhi persyaratan dalam SNI 1991 SNI 1991/PBI
1971 NI-2.
2. Acuan yang harus direncanakan untuk dapat memikul beban-beban konstruksi dan getaran-getaran
yang ditimbulkan oleh peralatan penggetar. Lendutan maksimum dari cetakan dan acuan antara
tumpuannya harus lebih kecil dari 1/400 bentang antara tumpuan tersebut.
3. Pembongkaran cetakan dan acuan harus dilaksanakan sedemikian agar keamanan konstruksi tetap
terjamin dan disesuaikan dengan persyaratan SNI 1991/PBI 1971 NI-2.
4. Cetakan untuk pekerjaan kolom dan lain-lain pekerjaan beton harus menggunakan plywood ketebalan
minimum 15 mm tipe 1 (WBT) atau plat baja ketebalan minimum 1 mm, balok 5/7, 6/10 dolken 8-12
cm atau bahan-bahan lainnya yang disetujui oleh Direksi.
5. Kontraktor harus menyerahkan perencanaan dan data-data teknis untuk penggunaan slip form 3 hari
sebelum pelaksanaan kepada Direksi untuk mendapat persetujuan; pengusulan sub kontraktor spesialis /
nominted harus disertai supporting data dari perusahaan yang bersangkutan / referensi untuk pekerjaanpekerjaan yang sejenis.
4.2.7 Besi Beton
Besi beton yang digunakan terdiri besi untuk tulangan struktur utama balok, kolom, pondasi dan penyusun
rangka ferrosement dan sengkang terbuat dari besi polos bercap karakteristik fy = 4000 kg/cm atau U-400
Krakatau Steel. Apabila ada kejanggalan dalam gambar mengenai pemakaian besi akibat dengan
pelambangan yang berbeda harus dikonfirmasikan dengan konsultan pengawas. Kontraktor tidak
diperkenankan mengganti ukuran besi atau menurunkan diameter pemakian besi. Besi beton yang telah
tertutup dengan adukan kering atau bahan lain untuk pelaksanaan pengecoran lanjutan harus dibersihkan
dulu dan dipastikan bahwa adukan tersebut dapat menempel pada besi.
Daya lekat baja tulangan harus dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan bahan lainnya.
Besi beton harus disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak boleh disimpan di udara terbuka dalam
jangka waktu panjang yang dapat menyebabkan perlemahan bahan.

SPESIFIKASI TEKNIS

Membengkok dan meluruskan tulangan harus dilakukan dalam keadaan batang dingin. Tulangan harus
dipotong dan dibengkokkan sesuai gambar dan harus diminta persetujuan direksi terlebih dahulu.
Jika pemborong tidak berhasil memperoleh diameter besi sesuai dengan yang ditetapkan dalam gambar,
maka dapat dilakukan penukaran dengan diameter yang terdekat dengan catatan:
1. Harus ada persetujuan direksi
2. Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak boleh kurang dari yang tertera
dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksud adalah jumlah luas). Biaya tambahan yang diakibatkan
oleh penukaran diameter besi menjadi tanggung jawab pemborong.
4.2.8 Pekerjaan Perancah
1. Definisi
Perancah adalah konstruksi yang mendukung acuan Dan beton yang belum mengeras. Kontraktor harus
mengajukan perancangan perhitungan dan gambar perancah tersebut untuk disetujui oleh Direksi.
Segala biaya yang perlu sehubungan dengan perancangan perancah dan pekerjaannya harus sudah
tercakup dalam perhitungan biaya untuk harga satuan perancah.
2. Pelaksanaan
Perancah harus merupakan suatu konstruksi yang kuat, kokoh dan terhindar dari bahaya pengerusan
dan penurunan, sedangkan konstruksinya sendiri harus juga kokoh terhadap pembebanan yang akan
mungkin ada. Kontraktor harus memperhitungkan dalam membuat langkah-langkah persiapan yang
perlu sehubungan dengan lendutan perancah akibat gaya-gaya yang bekerja padanya sedemikian rupa
hingga pada akhir-akhir pekerjaan beton, permukaan dan pentuk konstruksi beton sesuai dengan
kedudukan (peil) dan bentuk yang seharusnya. Perancah harus dibuat dari baja atau kayu yang bermutu
baik dan tidak mudah lapuk. Pemakaian bambu untuk hal itu tidak diperbolehkan. Bila perancah itu
sebelum atau selama pekerjaan pengecoran beton berlangsung menunjukkan tanda-tanda penurunan
yang berlebihan sehingga menurut Direksi hal itu menyebabkan kedudukan (peil) akhir sesuai dengan
gambar rancangan tidak akan dapat dicapai atau dapat membiayakan dari segi konstruksi, maka
pengawas proyek yang ditunjuk oleh Pemberi Tugas dapat memerintahkan untuk membeongkar
pekerjaan beton yang sudah dilaksanakan dan mengharuskan kontraktor untuk memperkuat perancah
tersebut dianggap cukup kuat. Biaya rancangan dan sistem pondasinya atau sistem lainnya secara
detail, termasuk perhitungannya, harus diserahkan kepada pengawas yang ditunjuk oleh Direksi untuk
disetujui dan dikerjakan pengecoran beton tidak boleh dilakukan sebelum gambar rancangan tersebut
disetujui.
3. Pembongkaran
Sehubungan dengan beban pelaksanaan maka beban pelaksanaan harus didukung oleh struktur-struktur
penunjangannya dan untuk itu kontraktor harus melampirkan perhitungan yang berkaitan dengan
rancangan pembongkaran perancah.
4. Perancangan Perancah
Beban untuk didesain perancah didasarkan pada ACI 347

4.2.9 Bahan Aditif


1. Kontraktor harus menjelaskan penggunaan bahan aditif tersebut dan memberikan penjelasan / brosur
yang berkaitan dengan bahan yang dipakai kepada Direksi Proyek dan Pengawas
2. Kontraktor dapat menggunakan bahan-bahan aditif sebagai tambahan untuk pada saat pengecoran
dengan sepengetahuan dan se ijin dari Direksi Proyek / Pengawas
3. Akibat dengan penggunaan bahan tersebut kontraktor tidak mendapatkan tambahan biaya
4. Apabila terjadi kegagalan akibat kesalahan dalam penggunaan bhan aditif tersebut yang diakibatkan
karena saat pelaksanaan maka kontraktor wajib membongkar dan mengganti pekerjaan tersebut sesuai
dengan spekfifikasi semula.

SPESIFIKASI TEKNIS

4.3 PENGUJIAN / PEMERIKSAAN MUTU BETON


Pengujian mutu beton ditentukan melalui pengujian sejumlah benda uji kubus 15 x 15 x 15 cm atau silinder
yang mempunyai ukuran tinggi 2x ukuran diameter silinder benda uji. sesuai SNI 1991/PBI 1971
Kekentalan adukan beton diperiksa dengan pengujian slump test dimana nilai slump harus dalam batasbatas yang disyaratkan dalam SNI 1991/PBI 1971 kecuali ditentukan oleh Direksi
Benda uji dari satu adukan dipilih acak yang mewakili satu volume rata-rata tidak boleh lebih dari 5 m^3
atau 10 adukan truk drum (diambilkan volumenya terkecil) disamping itu sejumlah maksimum dari beton
yang terkena penolakan akibat setiap keputusan yaitu 30 m , kecuali ditentukan Direksi
Hasil uji untuk setiap pengujian dilakukan masing-masing untuk umur 7, 14, dan 28 hari
Hasil pengujian beton harus diserahkan sebelum pelaksanaan dilaksanakan,. Yaitu khusus dengan pekerjaan
yang berhubungan dengan pelepasan perancah . Sedangkan pengujuan beton diluar ketentuan tersebut harus
diserahkan kepada direksi dalam jangka waktu tidak lebih dari 3 hari setelah pengujian dilakukan.
Pembuatan benda uji harus mengikuti ketentuan SNI 1991/PBI 1971 dilakukan dilokasi pengecoran dan
harus disaksikan oleh direksi. Apabila digunakan metode pengecoran yang harus disaksikan oleh direksi
mengunakan pompa (Concrete Pump) maka pangambilan contoh segala macam jenis pengujian di lapangan
haris dilakukan dari hasil adukan yang diperoleh dari ujung pipa pada lokasi yang akan dilaksanakan.
4.4 PEDOMAN PELAKSANAAN:
4.4.1 Ketentuan Umum
1. Kecuali ditentukan lain dalam rencana kerja dan syarat-syarat ini, maka sebagai pedoman tetap
dipakai PBI 1971 dan SK-SNI 1991, ACI, British Standard
2. Pemborong wajib melaporkan secara tertulis pada direksi apabila ada perbedaan yang didapat di
dalam gambar konstruksi dan gambar arsitektur.
3. Pembesian
- Tulangan harus bebas dari kotoran, lemak dan karat serta bahan-bahan lain yang mengurangi
daya lekat.
- Untuk pembuatan tulangan untuk batang-batang yang lurus atau dibengkokkan, sambungan
kait-kait dan pembuatan sengkang disesuaikan dengan persyaratan yang tercantum pada PBI
1971. Kecuali ada petunjuk yang lain dari perencana.
- Pemasangan tulangan harus sedemikian rupa sehingga posisi dari tulangan sesuai dengan
rencana dan tidak mengalami perubahan untuk dan tempat pengecoran berlangsung.
- Toleransi pembuatan dan pemasngan tulangan disesuaikan dengan persyaratan PBI 1971.
- Batang-batang baja yang lunak harus mempunyai keluluhan bawah tekan minimum = 4000
kg/cm2 dan 4000/cm2 untuk batang-batang baja yang diprofilkan seperti yang disarankan
dalam gambar-gambar struktur.
- Sambungan tulangan dan perjangkaran harus dilaksanakan sesuai persyaratan untuk itu yang
tercantum dalam PBI 1971.
- Untuk mendapatkan jaminan atas kualitas atas mutu baja tulangan, maka pada saat pemesanan
baja tulangan kontraktor harus menyerahkan sertifikat resmi dari laboratorium khusus
ditujukan pada keperluan proyek ini.
- Setiap jumlah pengiriman 20 ton baja tulangan harus diadakan pengujian periodik minimal 4
contoh yang terdiri dari 3 benda uji untuk uji tarik, dan 1 benda uji untuk uji lengkung untuk
setiap diameter batang baja tulangan. Pengambilan contoh baja tulangan akan ditentukan oleh
Direksi.
- Semua pengujian tersebut diatas meliputi uji tarik dan lengkung, harus dilakukan di
laboraorium Lembaga Uji Konstruksi BPPT (LUK BPPT) Serpong atau laboratorium lainnya
yang direkomendasikan oleh Direksi dan minimal sesuai dengan SII-031-84 salah satu standart
uji yang dapat dipakai adalah ASTMA-615.
- Semua standart bar (stek-stek tulangan) dari kolom dan dinding harus diperpanjang sampai
dengan 40 D diatas taraf (peil) dari yang ditentukan dalam gambar, kecuali ditentukan lain oleh
Direksi.
4. Adukan beton / pengangkutan
Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ke tempat pengecoran harus dilakukan
dengan cara yang disetujui oleh direksi yaitu:
- Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan.
- Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang sudah dicor dan
yang akan dicor, nilai slump untuk berbagai pekerjaan beton memenuhi tabel 4.4.1 PBI 1971.

SPESIFIKASI TEKNIS

5. Pengecoran
Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis direksi. Selama pengecoran
berlangsung pekerja dilarang berdiri dan berjalan-jalan di atas penulangan. Untuk dapat sampai
ketempat-tempat yang sulit dicapai harus digunakan papan-papan berkaki-kaki yang tidak dibebani
tulangan. Kaki-kaki tersebut harus sudah dapat dicabut pada saat beton dicor.
Apabila pengecoran beton harus dihentikan, maka tempat penghentiannya harus disetujui oleh
direksi. Untuk melanjutkan bagian pekerjaan yang diputus tersebut, bagian permukaan yang
mengeras harus dibersihkan dan dibuat kasar kemudian diberi Styrobond ( Perekat sambungan
adukan beton) atau bila dibutuhkan perlu waktu percepatan atau perlambatan pengerasan maka
dapat dicampur bahan additive dengan mengikuti petunjuk pemakaian. Pada pengecoran kolom,
adukan tidak boleh dicurahkan dari ketinggian yang lebih tinggi dari 1,5 m.
6. Perawatan beton
- secara umum harus memenuhi persyaratan PBI 71 Bab. 6.6
- Beton setelah dicor harus dilindungi terhadap proses pengeringan yang belum saatnya dengan
cara mempertahankan dimana kondisi kehilangan kelembaban minimal adalah minimal suhu
yang konstan dalam jangka waktu yang diperlukan dalam waktu proses hidrasi semen serta
pengerasan beton.
- Perawatan beton dimulai segera pengecoran beton selesai dilaksanakan dan harus berlangsung
terus menerus paling sedikit dua minggu jika tidak ditentukan lain. Suhu
- beton pada awal pengecoran harus dipertahankan tidak melebihi 30 ocelsius selanjutnya untuk
daerah-daaerah dimana terdiri dari beton yang bersangkutan untuk setiap 10 m3 . Pengukuran
harus terus dilakukan 3 kali sehari setiap hari setelah sampai pembukaan cetakan, pembukaan
baru dapat dilakukan setelah temperatur beton terhadap cuaca di sekeliling tidak lebih dari 30
o
C . Demikian perawatan beton tetap dilakukan terus menerus dan dapat dihentikan bila ada
temperatur beton terhadap cuaca disekeliling tidak lebihd dari 30 oC.
- Dalam jangka waktu tersebut cetakan dan adukan beton harus tetap dalam keadaan basah,
apabila cetakan dan acuan beton dibuka selama sisa waktu tersebut pelaksanaan perawatan
beton tetap dilakukan dengan membasahi beton terus menerus dengan menutupi dengan karung
karung bawah atau yang disetujui direksi.
4.4.4 Cacat pada Beton
Meskipun hasil pengujian benda-benda uji memuaskan Direksi mempunyai wewenang untuk menolak
konstruksi beton yang cacat seperti berikut :
1. Konstruksi beton yang keropos.
2. Konstruksi beton yang tidak tegak lurus atau rata seperti direncanakan atau posisinya tidak sesuai
gambar.
3. Konstruksi beton yang tidak tegak lurus atau rata seperti yang direncanakan.
4. Konstruksi beton yang berisikan kayu atau benda lain.
5. Semua pekerjaan yang dianggap cacat tersebut pada dasarnya harus dibongkar dan diganti dengan yang
baru, kecuali Direksi dan konsultan menyetujui untuk diadakan perbaikan atau perkuatan dari cacat
yang ditimbulkan tersebut. Untuk itu kontraktor harus mengajukan usulan-usulan perbaikan yang
kemudian akan diteliti / diperiksa dan disetujui bila perbaikan tersebut dianggap memungkinkan.

Pasal 5
PEKERJAAN PASANGAN BATU
5.1 LINGKUP PEKERJAAN
1. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang
dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk mendapatkan hasil yang baik.
2. Pekerjaan pasangan batu ini meliputi seluruh detail yang disebutkan / ditunjukan dalam gambar
kecuali telah ditentukan dalam bab ini meliputi :
- Pasangan batu yang terbenam pada tanah urug
- Pasangan batu belah dengan adukan 1 PC : 4 PS berada diatas tanah keras

10

SPESIFIKASI TEKNIS

Ketebalan pasangan batu untuk semua type sesuai dengan gambar rencana.

5.2 PERSYARATAN BAHAN


1. Batu harus memenuhi NI-10
2. Semen Portland harus memenuhi NI-8
3. Pasir harus memenuhi NI-3 pasal 14 ayat 2
4. Air harus memenuhi PVBI-1982 pasal 9
5.3 SYARAT SYARAT PELAKSANAAN
Pemasangan batu belah ukuran sisi minimum 30 cm. Semua batu belah sebelum dipasang harus bersih
dari segala kotoran, cara pemasangannya harus benar dan semua campuran bagian dalam harus diisi
(mortal) sesuai dengan campuran yang digunakan, yang tebal harus diisi batu pengisi/krikil. Sisi
samping pondasi apabila tidak tertanam harus dibuat plesteran kasar sesuai dengan adukan
pondasinya.Proses pengeringan pondasi harus selalu dibasahi atau disiram dengan air, selama pondasi
belum selesai lobang bekas tidak boleh diurug.
1. Pasangan batu, dengan menggunakan adukan campuran 1 PC : 4 Pasir pasang untuk semua
pasangan kecuali dijelaskan pada pasal ini
2. Batu Belah yang digunakan batu gunung dengan jenis batu belah hitam kualitas batu porselen.
3. Sebelum digunakan batu harus disiram air / dibasahi hingga jenuh.
4. Pemasangan batu harus diisi penuh antar pasangan batu belah.
5. Pasangan batu yang berhubungan dengan setiap bagian pekerjaan beton (kolom) harus diberi
penguat stek-stek besi beton diameter 8 mm, yang ditanam dengan baik pada pasangan sekurangkurangnya 30 cm kecuali ditentukan lain.
6. Pengakhiran sambungan pada satu hari kerja harus dibuat bertangga menurun dan tidak tegak
bergigi untuk menghindari retak dikemudian hari. Pada tempat-tempat tertentu sesuai gambar
diberi kolom-kolom praktis yang ukurannya disesuaikan dengan tebal dinding.
7. Dalam mendirikan dinding yang kena udara terbuka, selama waktu hujan lebat harus diberi
perlindungan dengan menutup bagian atas dari tembok dengan sesuatu penutup yang sesuai
(plastik). Dinding yang telah terpasang harus diberi perawatan dengan cara membasahinya secara
terus menerus paling sedikit 7 hari setelah pemasangannya, ditentukan dalam gambar detail.

Pasal 6
PEKERJAAN PASANGAN BATU BATA

6.1 LINGKUP PEKERJAAN


1. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu yang
dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk mendapatkan hasil yang baik.
2. Pekerjaan pasangan batu bata ini meliputi seluruh detail yang disebutkan/ ditunjukan dalam gambar
kecuali telah ditentukan dalam bab ini meliputi.
3. Pasangan kedap air (1 PC : 2 PS)
- Semua pasangan bata dimulai di atas sloof dan diatas lantai.
- Pasangan dinding saluran keliling bangunan.
- Pasangan dinding septicktank.
- Pasangan bak kontrol.
- Pasangan bata yang terbenam pada tanah urug
- Pasangan bata seperti gambar dengan mengikuti notasi yang ada.
4. Pasangan bata dengan adukan 1 PC : 4 PS berada diatas pasangan kedap
5. Ketebalan pasangan bata untuk semua type adukan menggunakan ketebalan bt (setengah bata)
bt (tiga perempat bata), 1 bt (satu bata) dan 11/2 bata (satu setengah bata) dijelaskan pada gambar.
6.2 PERSYARATAN BAHAN

11

SPESIFIKASI TEKNIS

1.
2.
3.
4.

Batu bata harus memenuhi NI-10


Semen Portland harus memenuhi NI-8
Pasir harus memenuhi NI-3 pasal 14 ayat 2
Air harus memenuhi PVBI-1982 pasal 9

6.3 SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN


1. Pasangan batu bata /bata merah, dengan menggunakan adukan campuran 1 PC : 4 Pasir pasang
untuk semua pasangan kecuali dijelaskan pada pasal ini
2. Untuk semua dinding KM/WC, semua dinding lantai dasar mulai dari permukaan sloof sampai
ketinggian 30 cm diatas permukaan lantai dasar, dinding di daerah basah setinggi 180 cm dari
permukaan lantai, serta semua dinding yang pada gambar menggunakan simbol aduk
traasram/kedap air digunakan aduk rapat air dengan campuran 1 PC : 2 pasir pasang
3. Batu bata merah yang digunakan batu bata merah ex-lokal dengan kualitas terbaik yang disetujui
Direksi Pekerjaan/Konsultan Pengawas, siku dan sama.
4. Sebelum digunakan baru bata harus direndam air dalam bak atau drum hingga jenuh.
5. Pemasangan batu bata harus sedemikian hingga siar-siar tegak tidak segaris
6. Setelah bata terpasang dengan adukan, nad/siar siar harus dikerok sedalam 6 cm dan dibersihkan
dengan sapu lidi dan kemudian disiram air.
7. Pasangan dinding batu bata sebelum diplester harus dibasahi dengan air terlebih dahulu dan siar
siar telah dikerok dan dibersihkan.
8. Pemasangan dinding batu bata dilakukan bertahap , setiap tahap maksimum 24 lapis setiap harinya,
diikuti dengan cor kolom praktis
9. Bidang dinding setengah batu yang luasnya lebih besar dari 12 m ditambahkan kolom dan balok
penguat (kolom praktis) dengan ukuran 12 x 12 cm, dengan tulangan pokok 4 diameter 12 mm,
beugel diameter 8 mm jarak 20 cm.
10. Pembuatan lubang pada pasangan untuk perancah/steiger sama sekali tidak diperkenankan.
11. Pembuatan lubang pada pasangan bata yang berhubungan dengan setiap bagian pekerjaan beton
(kolom) harus diberi penguat stek-stek besi beton diameter 6 mm jarak 75 cm, yang terlebih dahulu
ditanam dengan baik pada bagian pekerjaan beton dan bagian yang ditanam dalam pasangan bata
sekurang-kurangnya 30 cm kecuali ditentukan lain.
12. Tidak diperkenankan memasang bata merah yang patah dua melebihi 5% bata yang patah lebih dari
dua tidak boleh digunakan.
13. Pasangan batu bata untuk dinding setengah bata harus menghasilkan dinding satu bata, finish
setebal 13 cm dan untuk dinding satu bata, finish adalah 23 cm. Pelaksanaan pasangan harus
cermat,rapi, dan benar-benar tegak lurus.
14. Pengakhiran sambungan pada satu hari kerja harus dibuat bertangga menurun dan tidak tegak
bergigi untuk menghindari retak dikemudian hari. Pada tempat-tempat tertentu sesuai gambar
diberi kolom-kolom praktis yang ukurannya disesuaikan dengan tebal dinding.
15. Lubang untuk alat-alat listrik dan pipa yangb ditanam didalam dinding, harus dibuat pahatan
secukupnya pada pasangan bata (sebelum diplaster).
16. Pahatan tersebut setelah dipasang pipa/alat, harus ditutup dengan adukan plasteran yang
dilaksanakan secara sempurna, dikerjakan bersama sama dengan plasteran seluruh bidang
tembok.
17. Dalam mendirikan dinding yang kena udara terbuka, selama waktu hujan lebat harus diberi
perlindungan dengan menutup bagian atas dari tembok dengan sesuatu penutup yang sesuai
(plastik). Dinding yang telah terpasang harus diberi perawatan dengan cara membasahinya secara
terus menerus paling sedikit 7 hari setelah pemasangannya, ditentukan dalam gambar detail.

Pasal 7
PEKERJAAN PELAPIS DINDING

7.1 PEKERJAAN PLESTERAN DINDING


1. LINGKUP PEKERJAAN

12

SPESIFIKASI TEKNIS

- Termasuk dalam pekerjaan plesteran dinding ini adalah penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan,
peralatan, termasuk alat-alat bantu dan alat angkut yang diperlukan untuk melaksanakan
pekerjaan yang bermutu baik.
- Pekerjaan plesteran dinding dikerjakan pada permukaan dinding bagian dalam dan luar serta
seluruh detail yang disebutkan/ditunjukkan dalam gambar.
2. PERSYARATAN BAHAN
- Adukan 1 PC : 2 Pasir dipakai untuk plesteran rapat air.
- Adukan 1 PC : 4 Pasir dipakai untuk seluruh plesteran dinding lainnya.
- Seluruh permukaan plesteran difinish acia dari bahan PC.
Semen Portland harus sesuai NI-8 (dipilih dari satu produk untuk seluruh pekerjaan).
Pasir harus memenuhi NI-3 pasal 14 ayat 2.
Air harus sesuai NI-3 pasal 10.
Penggunaan adukan plesteran ;
3. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN
- Plesteran dilaksanakan sesuai standar spesifikasi dari bahan yang digunakan sesuai petunjuk
dan persetujuan Direksi Pekerjaan / Konsultan Pengawas, dan persyaratan tertulis dalam
uraian dan syarat pekerjaan.
- Pekerjaan plesteran dapat dilaksanakan bilamana pekerjaan bidang beton atau pasangan
dinding batu bata telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan / Konsultan Pengawas sesuai Uraian
dan Syarat Pekerjaan yang tertulis dalam buku ini.
- Dalam melaksanakan pekerjaan ini, harus mengikuti semua petunjuk dalam gambar terutama
pada gambar detail dan pada gambar potongan mengenai ukuran tebal, tinggi, peil, dan bentuk
profilnya.
- Campuran aduk perekat yang dimaksud adalah campuran dalam volume, cara pembuatannya
menggunakan mixer selama 3 menit dan memenuhi persyaratan sebagai berikut :
Untuk bidang kedap air, beton pasangan dinding batu bata yang berhubungan dengan
udara luar, dan semua pasangan batu bata dibawah permukaan tanah sampai ketinggian 30
cm dari permukaan lantai untuk kamar mandi, WC, toilet dan daerah basah lainnya dipakai
aduk plesteran 1 PC : 2 Pasir.
Untuk aduk kedap air, harus ditambah dengan Daily Bond, dengan perbandingan 1 bagian
PC : 1 bagian Daily Bond.
Untuk bidang lainnya diperlukan plesteran campuran 1 PC : 5 pasir.
Plesteran halus acian dipakai campuran PC dan air sampai mendapatkan campuran yang
homogen, acian dapat dikerjakan sesudah plesteran berumur 8 hari (kering benar), untuk
adukan plesteran finishing harus ditambah dengan additive plamix dengan dosis 200-250
gram plamix untuk setiap 40 kg semen.
Semua jenis adukan perekat tersebut diatas harus disiapkan sedemikian rupa sehingga
selalu dalam keadaan baik dan belum mengering Diusahakan agar jarak waktu
pencampuran aduk perekat tersebut dengan pemasangannya tidak melebihi 30 menit
terutama untuk adukan kedap air.
- Untuk beton sebelum diplester permukaannya harus dibersihkan dari sisa-sisa bekisting dan
kemudian diketrek (scratch) terlebih dahulu dan semua lubang-lubang bekas pengikat bekisting
harus ditutup aduk plester.
- Untuk bidang pasangan dinding batu bata dan beton bertulang yang akan difinish dengan cat
dan dipakai plesteran halus (acian diatas permukaan plesterannya).
- Untuk dinding tertanam didalam tanah harus diberapen dengan memakai spesi kedap air.
- Semua bidang yang akan menerima bahan (finishing) pada permukaannya diberi alur-alur garis
horizontal atau diketrek (scratch) untuk memberi ikatan yang lebih baik terhadap bahan
finishingnya, kecuali untuk yang menerima cat.
- Pasangan kepala plesteran dibuat pada jarak 1 m dipasang tegak dan menggunakan kepingkeping plywood setebal 9 mm untuk patokan kerataan bidang.
- Ketebalan plesteran harus mencapai ketebalan permukaan dinding / kolom yang dinyatakan
dalam gambar atau sesuai peil-peil yang diminta gambar.

13

SPESIFIKASI TEKNIS

Tebal plesteran minimum 1,5 cm, jika ketebalan plesteran melebihi 2,5 cm harus diberi kawat
ayam untuk membantu dan memperkuat daya lekat dari plesterannya pada bagian pekerjaan
yang diijinkan Direksi Pekerjaan Konsultan pengawas.
Untuk setiap permukaan bahan yang berbeda jenisnya bertemu dalam satu bidang datar, harus
diberi naat (tali air) dengan ukuran lebar 0,7 cm dalamnya 0,5 cm kecuali bila ada petunjuk
lain dalam gambar.
Untuk permukaan yang datar, harus mempunyai toleransi lengkung atau cembung bidang tidak
melebihi 5 mm untuk setiap jarak 2 m. Jika melebihi, kontraktor berkewajiban
memperbaikinya dengan biaya atas tanggungan kontraktor.
Kelembaban plesteran harus dijaga sehingga pengeringan berlangsung wajar tidak terlalu tibatiba, dengan membasahi permukaan plesteran setiap kali terlihat kering dan melindungi dari
panas matahari langsung dengan bahan penutup yang bisa mencegah penguapan air secara
cepat.
Jika terjadi keretakan sebagai akibat pengeringan yang tidak baik, plesteran harus dibongkar
kembali dan diperbaiki sampai dinyatakan dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan / Konsultan
Pengawas dengan biaya atas tanggungan Kontraktor.
Selama tujuh hari setelah pengacian selesai Kontraktor harus selalu menyiram dengan air
sampai jenuh sekurang-kurangnya 2 kali setiap hari.
Selama pemasangan dinding atau batu bata / beton bertulang belum difinish, Kontraktor wajib
memelihara dan menjaganya terhadap kerusakan-kerusakan dan pengotoran bahan lain.
Setiap kerusakan yang terjadi menjadi tanggung jawab Kontraktor dan wajib diperbaiki.
Tidak dibenarkan pekerjaan finishing permukaan dilakukan sebelum plesteran berumur lebih
dari 2 (dua minggu).
Pasal 8
PEKERJAAN PANEL BETON PAGAR

1.

LINGKUP PEKERJAAN
a. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pengadaan dan pemasangan diding panel dan tiang
kolom panel beton
b. Pekerjaan panel diding beton dikerjakan pada keliling lokasi TPA serta seluruh bagian yang
disebutkan/ditunjukkan dalam gambar.

2. PERSYARATAN BAHAN
a. Bahan panel beton dan tiang kolom panel beton, adalah dari pabrikan yang telah terpercaya,
diakui dan memiliki perizinan untuk pembuatan beton panel dan tiang beton panel.
b. Beton yang digunakan adalah beton dengan mutu minimal K225 dan sesuai dengan SNI dan
atau standar produk beton yang berlaku.
c. Beton panel dan Tiang kolom panel harus menggunakan tulangan beton yang sesuai dengan
yang dipersyaratkan oleh peraturan yang berlaku.
d. Beton panel dan tiang kolom beton yang akan dipasang harus baik, kuat, tidak cacat, dan harus
rapih
e. Ukuran panel beton yang digunakan adalah 240 x 50 x 5 cm, sedangkan tiang panel beton yang
digunakan menyesuaikan dengan kondisi lokasi pemasangan
4. SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN
a. Sebelum pemasangan dinding panel beton dan tiang kolom panel beton, harus dilakukan
pengukuran, dan harus benar-benar waterpas serta menggunakan benang-benang untuk
meratakan dalam pemasangan.
b. Pemasangan dinding panel beton harus rapih, rapat, rata dan tidak miring.
c. Tiang-tiang panel beton yang dipasang harus tegak lurus, rata antara satu bagian panel beton
dan tidak miring.
d. Tiang-tiang panel beton ditanam di dalam pondasi batu belah sedemikian rupa sehingga kokoh
dan kuat, dengan minimum kedalaman 50 cm tertanam, atau atas petunjuk direksi.

14

SPESIFIKASI TEKNIS

e.
f.
g.
h.

i.

Sebelum pemasangan dinding panel beton, tiang-tiang panel beton harus benar-benar telah
tertanam dengan baik dan kuat.
Pemasangan tiang panel beton dan dinding panel beton yang miring/cacat harus segera
dibongkar dan dipasang ulang.
Bila diperlukan pemasangan dinding panel beton dapat dipasang ngetrap pada beberapa bagian
segmen panel, atas petunjuk direksi.
Sambungan pada sudut-sudut pagar panel harus rapat, rapih dan dikerjakan dengan penuh
keahlian. Bagian-bagian sambungan pada sudut pagar harus di plester sedemikian rupa hingga
tampak rapih dan tertutup.
Pebaikan panel beton yang telah terpasang dengan menggunakan acian, adalah sangat tidak
diperbolehkkan.
Pasal 9
PEKERJAAN BESI

9.1
9.2

9.3

9.4

9.5

9.6

9.7

Pekerjaan besi adalah pekerjaan pembuatan dan pemasangan Pintu Pagar dari besi dengan
ukuran seperti dalam gambar dan RAB.
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, pengecatan dan peralatan
termasuk alat-alat bantu lainnya, serta pengangkutan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
semua pekerjaan besi berikut pembersihannya sesuai dengan yang tercantum dalam gambar
rencana, baik pekerja struktur serta pekerjaan yang berhubungan dengan baja, seperti angkur,
struktur penguat, pengikat serta komponen lainnya yang dianggap perlu untuk menyelesaikan
pekerjaan ini sehingga dapat diterima sesuai dengan spesifikasi ini.
Kecuali ditentukan lain dalam persyaratan selanjutnya, maka sebagai dasar pelaksanaan
digunakan peraturan/spesifikasi sebagai berikut:
Standard Industri Indonesia, SII 01360-80, SII 318-80, SII 0136-84.
Peraturan Perencanaan Banguan Baja Indonesia 1983
Peraturan dan spesifikasi yang dipakai dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah peraturan yang
berlaku di Indonesia, apabila tidak ada peraturan/apesifikasi di Indonesia untuk pekerjaan
khusus maka kontraktor dapat memakai peraturan/spesifikasi yang berlaku di luar Indonesia
dengan persetujuan dari tim direksi teknis. Peraturan/spesifikasi yang diperlukan tersebut
diatas harus disediakan kontraktor di lokasi pekerjaan sehingga memudahkan apabila hendak
digunakan.
Kontraktor harus bertanggung jawab terhadap seluruh kualitas pekerjaan konstruksi baja sesuai
dengan ketentuan-ketentuan yang disyaratkan antara lain mutu, dan pengamannya selama
pelaksanaan serta pelaksanaan sambungan baja. Semua pekerjaan baja harus dilakukan oleh
tenaga ahli dan tukang yang cukup berpengalaman.
Metode kerja yang disetujui oleh tim direksi teknis tidak membebaskan kontraktor dari
tanggung jawab sepenuhnya atas hasil pekerjaannya. Jika dipandang perlu, maka tim direksi
teknis berhak untuk menujuk tenaga ahli di luar yang ditunjuk kontraktor untuk membantu
mengevaluasi semua usulan kontraktor, dan semua biaya yang timbul menjadi beban
kontraktor.
Persyaratan Bahan Dan Kualitas Baja

Konstruksi Pintu Pagar besi menggunakan bahan besi Hollow 40x40x2 mm dan
17x37x2mm,sesuai yang tertera dalam gambar dan RAB.

Baja yang digunakan harus baru, bebas dari kotoran-kotoran, lapisan minyak/karat dan
tidak cacat (retak-retak, mengelupas, luka dsb.)

Mempunyai penampang yang rata dan seragam, dan memenuhi toleransi yang
disyaratkan.

Merupakan produksi pabrik yang disetujui oleh direksi teknis.

Untuk mengantipasi pengaratan pada besi, pada rangka besi harus dilakukan pengecatan
dengan cat antikarat untuk memastikan keawetan besi.
Syarat-Syarat Pelaksanaan
a. Persetujuan dari Tim Direksi teknis
Sebelum semua tahap pelaksanaan berikut dilaksanakan kontraktor harus mendapatkan
persetujuan tertulis dari tim direksi teknis. Laporan harus diberikan kepada tim direksi

15

SPESIFIKASI TEKNIS

b.

c.

teknis beberapa hari (sesuai kesepakatan dalam rapat koordinasi) sebelum pelaksanaan
berikut dilaksanakan. Syarat-syarat pelaksanaan berikut harus disepakati bersama sebelum
pelaksanaan dimulai. Hal-hal khusus akan didiskusikan secara lebih detail antara semua
pihak yang berkepentingan.
Penyambungan Baja
Penyambungan besi menggunakan teknik pengelasan, menggunakan las listrik.
Pengelasan harus benar-benar matang dan memiliki kekuatan yang sama dengan bahan
yang disambung.
Asesoris Pintu Pagar
Termasuk dalam pekerjaan ini adalah, pemasangan rel pintu pagar, roda-roda, kait
pengunci, besi-besi penyangga, dan pasangan lainnya yang diperlukan agar pintu pagar ini
berfunsi dengan baik.

Pasal 10
KERJAAN LAIN-LAIN/PELENGKAP

10.1. Guna mendapatkan hasil pekerjaan yang baik bagi kesempurnaan pekerjaan walaupun tidak disebut
dalam bagian-bagian pekerjaan, maka pelaksana wajib melaksanakannya atau sesuai dengan petunjuk
direksi.
10.2. Apabila ternyata terdapat ketidaksesuaian antara gambar dan RKS maka diambil gambar detail
sebagai pedoman dan bila juga tidak sesuai atau kurang jelas, maka berlaku apa yang tercantum
dalam RKS atau diminta petunjuk direksi.
10.3. Pada waktu penyerahan pekerjaan, ruang-ruang harus selesai dan dalam keadaan bersih serta lantai
sudah di polish. Halaman luar bangunan sudah selesai dibersihkan dari segala macam kotoran dan
sisa bahan bangunan.
10.4. Meskipun telah ada Konsultan Pengawas dan unsur-unsur yang lainya, semua penyimpangan dari
ketentuan bestek dan gambar tetap menjadi tanggung jawab pemborong, kecuali ada perintah
tertulis/perintah penyimpangan dari Pemberi Tugas.
10.5. Setelah Penyerahan Kedua, semua barang serta peralatan menjadi milik pemborong harus segera
disingkirkan.

.......................,.........20....
Pejabat Pelaksana Kegiatan

16