Anda di halaman 1dari 16

Rencana Tindak Darurat (RTD)

KONSULTASI RTD BENDUNGAN SITU


PATOK
1. LATAR BELAKANG
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor : 37 Tahun
2010 tentang Bendungan, setiap Pemilik / Pengelola Bendungan
diwajibkan melakukan tindakan darurat pada keadaan yang diperkirakan
akan mempengaruhi keamanan bendungan guna melindungi jiwa
manusia dan harta benda apabila terjadi keruntuhan bendungan.
RTD Bendungan Situ Patok ini disusun dengan mengacu pada Pedoman
Penyiapan RTD yang dikeluarkan oleh Direktur Jendral Pengairan
Departemen Pekerjaan Umum melalui Surat Keputusan Nomor :
94/KPTS/A/1998 tanggal 30 Juli 1998.

2. MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud pembuatan Rencana Tindak Darurat adalah untuk menyiapkan
panduan / petunjuk bagi petugas Pengelola Bendungan dan Instansi
terkait dalam penanggulangan bencana dan penanganan pengungsian
untuk mengambil tindakan jika terjadi kondisi darurat bendungan.
Tujuan penyusunan Rencana Tindak Darurat adalah :
- Mengenali problem-problem yang mengancam keamanan bendungan,
- Mempercepat respon yang efektif untuk mencegah terjadinya
keruntuhan bendungan,
- Mempersiapkan upaya-upaya untuk memperkecil risiko jatuhnya
korban jiwa dan mengurangi kerusakan properti, bila terjadi
keruntuhan bendungan.

3. LOKASI PEKERJAAN
Bendungan Situ Patok terletak di Desa Setu Patok, Kecamatan Mundu,
Kabupaten Cirebon Jawa Barat atau berjarak 6 km dari Kota Cirebon ke
arah Kota Tegal Jawa Tengah.
Peta Lokasi Bendungan Situ Patok dapat dilihat pada Gambar 1
Bendungan Situ Patok

I-1

1
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

Gambar 1 Peta Lokasi Bendungan Situ Patok

4. ISI RENCANA TINDAK DARURAT (RTD)


Rencana Tindak Darurat (RTD) Bendungan Situ Patok ini terdiri dari:
1. Latar belakang, maksud tujuan disusunnya RTD, acuan normatif dan
pengertian.
2. Diskripsi bendungan mencakup lokasi, data teknis serta kondisi
bendungan saat ini , serta penjelasan mengenai daerah yang terkena
risiko keruntuhan bendungan.
3. Pengenalan
keadaan darurat bendungan, termasuk pengkajian
terhadap akibat yang mungkin bisa timbul dan uraian mengenai
kegiatan
pencegahannya
,
selain
itu
dijelaskan
pula
peristiwa/permasalahan yang pernah terjadi di bendungan.

Bendungan Situ Patok

I-2

2
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

4. Potensi bahaya genangan, yang menampilkan peta genangan di


bagian hilir bendungan akibat runtuhnya bendungan , zona bahaya,
potensi kerusakan dan kerugian, serta rencana pengungsian.
5. Organisasi Tim RTD, tugas rutin masing-masing, petunjuk komunikasi,
pemberitahuan keadaan darurat kepada pejabat / instansi terkait,
koordinasi berdasarkan tahapan kegiatan sesuai dengan tanggung
jawab organisasi yang bersangkutan.
6. Penjelasan mengenai kesediaan tenaga listrik atau sumber tenaga
lain, tersedianya transportasi, peralatan dan bahan material serta
dimana peralatan dan material tersebut bisa diperoleh.
7. Penjabaran kriteria pengakhiran keadaan darurat dan tindakan
selanjutnya.
8. Sosialisasi, Pelatihan dan Pemutakhiran RTD.
Buku Rencana Tindak Darurat ini harus ada di lokasi Bendungan,
Pengelola Bendungan dan Pemerintah Daerah / instansi terkait.
Hal ini diupayakan agar bisa mendapatkan kesatuan langkah apabila
benar-benar terjadi keadaan darurat, maka Rencana Tindak Darurat ini
sebaiknya disosialisasikan dan dilakukan pelatihan yang diikuti para
pejabat Pemerintah Daerah / Instansi serta Dinas yang terkait , serta
dilengkapi dengan SOP-RTD sesuai dengan aturan yang berlaku dalam
Pemerintah Daerah yang bersangkutan dalam hal ini Pemerintah
Kabupaten Cirebon. Hal ini berguna untuk mewujudkan hubungan yang
baik antara Pejabat Pemerintah Kabupaten terkait, Pejabat Dinas terkait,
dan personil Bendungan termasuk Tim Pengelola RTD Bendungan.

5. GAMBARAN SINGKAT BENDUNGAN SITU PATOK


Bendungan ini dibangun dan beroperasi sejak tahun 1927 untuk mengairi
lahan irigasi seluas 1.934 ha, dengan volume 14,20 juta meter kubik.
Saat ini Bendungan Situ Patok berfungsi juga untuk pelayanan air baku dan
sebagai konservasi lingkungan.
DATA TEKNIS BENDUNGAN
1. Waduk
Luas DTA
: 8,70 km2
Hujan Tahunan Rata-rata : 2.790 mm
Muka Air Banjir PMF
: EL. 34,158 m
Muka Air Banjir Q1000 : EL. 33,144 m
Muka Air Normal
: EL. 32,75 m
Muka Air Operasi Minimum :
EL. 23,85 m
Vol. Waduk di El. 32,75m : 10,331 juta m3

Bendungan Situ Patok

I-3

3
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

2. Bendungan
Tipe
: Urugan Tanah Homogin
Tinggi Di Atas Dasar Sungai :
14,00 m
Panjang Puncak
: 870,00 m
EL. Puncak
: EL. 34,50 m
Lebar Puncak
: 3,00 m
Vol. Tubuh Bendungan : 216.500 m3
3. Pelimpah
Tipe
El. Mercu

: Ogee tanpa pintu


: EL. 32,75 m

Panjang mercu bersih : 24,00 m


Qin PMF
: 344,014 m3/det
Qout PMF
: 119,831 m3/det
Qin 1000 th
: 108,644 m3/det
Qout 1000 th
:
27,117 m3/det
4. Bangunan Pengeluaran Irigasi
Tipe
: Konduit
Konduit
: 1,40 mm, L = 87,70 m
Bentuk
: Lingkaran
Jumlah
: 2 buah
Tipe alat operasi
: Pintu Sorong
5. Instrumentasi
Pisometer
Alat ukur penurunan
Alat ukur rembesan
Patok geser

:
:
:
:

6. PENYEBAB KERUNTUHAN BENDUNGAN


Keadaan darurat dari Bendungan Situ Patok adalah terjadinya suatu
kondisi yang mengarah kepada keluarnya air dalam jumlah besar dan
tidak terkendali, akibat runtuhnya tumpuan maupun bobolnya bendungan
yang menyebabkan terjadinya banjir di daerah hilir.
Ancaman keamanan bendungan dapat disebabkan beberapa hal :
6.1

Faktor Konstruksi
Tahap Perencanaan :

Bendungan Situ Patok

I-4

4
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

- Terjadi kesalahan dalam perencanaan , misalkan kesalahan dalam


perencanaan banjir rencana, atau kesalahan dalam perencanaan
kekuatan konstruksi, kesalahan dalam penetapan kriteria perencanaan,
kesalahan dalam menganalisa hasil investigasi ataupun kesalahan dalam
melakukan investigasi.
Tahap Pelaksanaan :
- Kurangnya pengawasan mutu material yang dipakai
- Kurangnya pengawasan terhadap metode pelaksanaan yang benar,
misalkan cara pemadatan pada urugan tubuh bendungan, dsb.
- Kurangnya
pengawasan
terhadap
cara
ataupun
penempatan
instrumentasi.

Tahap Operasi dan Pemeliharaan


- Tidak
dilakukan
prosedur
pemeliharaan
bendungan
maupun
instrumentasi yang benar, atau tidak dilakukan pengamatan
instrumentasi.
- Petugas kurang memahami cara operasi dan pemeliharaan bendungan
dan bangunan fasilitasnya.
6.2

Faktor Alam
1.

Hujan badai :

2.

Walaupun hujan badai sendiri tidak mengancam bendungan secara


langsung, tetapi hujan badai yang besar dapat menambah parah
problem yang sudah ada dan mengganggu pada kegiatan perbaikan
yang sedang dilakukan. Hujan badai juga dapat menimbulkan
keluaran air banjir yang tak terkendali dan meningkatkan debit
banjir. Sehabis terjadinya hujan badai, perlu dilakukan pemeriksaan
luar biasa untuk mengetahui tanda-tanda kerusakan yang terjadi.
Gempa bumi :
Walaupun suatu gempa bumi tidak nampak secara visual
mengakibatkan kerusakan bendungan, tetapi pemilik tetap harus
melakukan pemeriksaan luar biasa sehabis terjadinya gempa bumi,
untuk mengetahui tanda-tanda kerusakan atau penyimpangan yang
terjadi.

3.

Puting beliung :
Angin puting beliung yang bertiup di bendungan dapat menimbulkan
kerusakan pada
bendungan, bahkan mungkin dapat memicu
terjadinya keruntuhan bendungan. Sehabis terjadinya puting

Bendungan Situ Patok

I-5

5
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

beliung, perlu dilakukan pemeriksaan luar biasa untuk mengetahui


tanda-tanda kerusakan yang terjadi.
6.3

Akibat Gangguan Ulah Manusia / Sabotase / Perang


Adanya perusakan bendungan oleh manusia yang dilakukan dengan
sengaja atau tidak disengaja seperti : klaim lahan, penanaman pohon
pada tubuh bendungan, membuat kolam-kolam di kaki bendungan,
sabotase atau akibat perang antar etnis, kerusuhan sosial atau huru-hara.
Bila terjadi ancaman perusakan pada bendungan telah terjadi, segera
lakukan tindakan untuk melindungi bendungan.

7. UNIT PENGELOLA BENDUNGAN (UPB)


Dalam penanganan Keadaan Darurat Bendungan Situ Patok ada 2 (Dua)
unsur yang terlibat langsung yaitu :
1) Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung selaku Pengelola
Bendungan.
2) Pemerintah Kabupaten Cirebon beserta dinas terkait sebagai pelaksana
penanganan bencana dan pengungsian.
PENGAMANAN
BENDUNGAN
PENGAMANAN
MASYARAKAT
EVAKUASI
Struktur Organisasi yang menangani Rencana
Tindak Darurat
Bendungan
PENANGGUNG
JAWAB
UPB
Situ Patok
tersebut

dapat dilihat pada Gambar 2 .

Ka. BBWS Cimanuk

BUPATI

CIREBON

Drs H Sunjaya Purwadi


Sastra MM Msi

Cisanggarung
Ir. Trisasongko Widianto, Dipl.

SATLAK PBB KAB. CIREBON

HE
KEPALA UPB
Kabid OP BBWS Cim Cis
Kasno, ST.,M.Si

KEPALA SUB UPB


Bendungan Situ
Patok
Uki, S.Sos.,ST.,M.Si

KOORD. OPERASI
Iman Agus Sutopo, SST

KOORD. PEMELIHARAAN
Agus Anjatmoko, ST

Pelaksana Situ Patok


Bendungan
Dana Suryana, ST
Saripudin
Mustopa

Pelaksana
Pardianto, A.Md
Suherman
Herman Sucipto

I-6

KOORD. PEMANTAUAN, PENGAMATAN &


EVALUASI
Moch. Cucu Sudian, ST
Pelaksana
Dodo Wardoyo, ST
Nuryaman
Jaenal Mutakin

6
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

Catatan :
: Garis Komando
: Garis koordinasi
Gambar 2
Struktur Organiasasi Tim RTD Bendungan Situ Patok

Tugas Rutin Anggota Unit Pengelola Bendungan (UPB) :


7.1.

Kepala UPB / Kabid OP BBWS Cimanuk Cisanggarung


a. Mengevaluasi data hasil monitoring, inspeksi visual, operasi waduk
dan pemeliharaan bendungan.
b. Melakukan koordinasi dengan Unit Pengelolaan Bendungan Pusat serta
Unit Pengelola Bendungan dari Dinas PSDA/Pengairan Propinsi.
c. Melakukan inspeksi visual secara rutin maupun berkala serta inspeksi
besar (adanya gempa, hujan lebat, dll).
d. Melakukan pelaporan hasil monitoring bendungan kepada instansi
terkait (Dirjen SDA Tembusan Dir. Bina OP, Subdit Op Bendungan dan
UPB Pusat, bila terindikasi adanya keanehan /anomaly pada
bendungan, tembusan kepada Kepala Balai Bendungan).
e. Melakukan pemberdayaan masyarakat di sekitar waduk maupun hulu
waduk.
f. Menyusun keperluan biaya pengelolaan bendungan pertahunan
anggaran.
g. Melakukan sosialisasi rencana tindak darurat bersama Tim UPB Pusat.
h. Bertanggung jawab Kepada Ka BBWS Cimanuk Cisanggarung.

7.2.

Kepala Sub UPB Situ Patok


a. Mengevaluasi data hasil monitoring, inspeksi visual bendungan.
b. Melakukan koordinasi dengan Kapala Unit Pengelola Bendungan.

Bendungan Situ Patok

I-7

7
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

c. Melakukan inspeksi visual secara rutin maupun berkala serta inspeksi


besar ( adanya gempa, hujan lebat dll ).
d. Melakukan pelaporan hasil monitoring bendungan kepada Kepala Unit
Pengelola Bendungan.
e. Melakukan Pemberdayaan masyarakat bersama Kepala UPB di sekitar
waduk maupun hulu waduk.
f. Menyusun keperluan biaya pengelolaan bendungan bersama kepala
UPB pertahun anggaran.
g. Melakukan sosialisasi rencana tindak darurat bersama Kepala UPB.
h. Bertanggung jawab Kepada Kepala UPB.
7.3.

Koordinator Pemantauan, Pengamatan dan Evaluasi


a. Mengevaluasi data unit pemantauan, pengamatan dan evaluasi
bendungan.
b. Melakukan koordinasi dengan Kepala Sub Unit Pengelola Bendungan.
c. Melakukan inspeksi visual secara rutin maupun berkala.
d. Melakukan pelaporan hasil monitoring bendungan kepada Kepala Sub
Unit Pengelola Bendungan.
e. Melakukan pemberdayaan masyarakat bersama Kepala Sub Unit
Pengelola Bendungan.
f. Menyusun keperluan biaya pengelolaan bendungan bersama Kepala
Sub Unit Pengelola Bendungan.
g. Melakukan sosialisasi rencana tindak darurat bersama Kepala Sub Unit
Pengelola Bendungan.
h. Bertanggung jawab kepada Kepala Sub Unit Pengelola Bendungan.

7.4.

Koordinator Operasi Bendungan


a. Mengevaluasi data hasil operasi waduk dan operasi pintu air.
b. Melakukan koordinasi dengan kepala Sub Unit Pengelola Bendungan.
c. Melakukan inspeksi visual secara rutin maupun berkala bersama
Kepala Sub Unit Pengelola Bendungan.
d. Melakukan pelaporan hasil operasi waduk, operasi air kepada Kepala
Sub Unit Pengelola Bendungan.
e. Melakukan Pemberdayaan masyarakat bersama Kepala Sub Unit
Pengelola Bendungan.
f. Menyusun keperluan biaya pengelolaan bendugan bersama Kepala
Sub Unit Pengelola Bendungan.
g. Melakukan sosialisasi rencana tindak darurat bersama Kepala Sub Unit
Pengelola Bendungan.
h. Bertanggung Jawab kepada Kepala Sub Ubit Pengelola Bendungan.

7.5.

Koordinator Pemeliharaan Bendungan


a. Mengevaluasi data hasil pemeliharaan genangan, pemeliharaan green
belt dan pemeliharaan kebersihan lingkungan.
b. Melakukan koordinasi dengan Kepala Sub Unit Pengelola Bendungan.

Bendungan Situ Patok

I-8

8
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

c. Melakukan inspeksi visual secara rutin maupun berkala bersama


Kepala Sub Unit Pengelola Bendungan.
d. Melakukan pelaporan hasil pemeliharaan genangan, pemeliharaan
green belt dan pemeliharaan kebersihan lingkungan kepada Kepala
Sub Unit Pengelola Bendungan.
e. Melakukan pemberdayaan masyarakat bersama Kepala Sub Unit
pengelola Bendungan.
f. Menyusun keperluan biaya pengelolaan bendungan bersama Kepala
Sub Unit Pengelola Bendungan.
g. Melakukan sosialisasi rencana tindak darurat bersama Kepala Sub Unit
Pengelola Bendungan .
h. Bertanggung jawab kepada Kepala Sub Unit Pengelola Bendungan.
7.6.

Tanggung Jawab Kepala UPB, Kepala Sub UPB


Pemerintah Kabupaten Cirebon

Situ Patok dan

Wewenang, kewajiban dan tanggung jawab untuk setiap tahapan


perkembangan kondisi darurat dari Tim RTD adalah sebagai berikut :

A. KONDISI WASPADA
1. Kepala Sub UPB Situ Patok bertanggung jawab untuk :
a. Melaporkan perkembangan kondisi bendungan kepada Kepala UPB.
b. Mengadakan perbaikan yang bisa menghambat / mencegah
terjadinya keruntuhan bendungan.
c. Memonitor terus-menerus perkembangan kondisi.
2. Kepala UPB
BBWS Cimanuk
tanggung jawab untuk :

Cisanggarung

mempunyai

a. Melaporkan perkembangan kondisi bendungan kepada Kepala


BBWS Cimanuk Cisanggarung , Balai Bendungan di Jakarta.
b. Memonitor terus-menerus perkembangan kondisi.
c. Berkoordinasi dengan Stasiun Klimatologi dan Badan Meteorologi
dan Geofisika

B. KONDISI SIAGA
1. Kepala Sub UPB Situ Patok bertanggung jawab atas :
Kegiatan untuk mengamankan bendungan dari keruntuhan.

2. Kepala UPB BBWS Cimanuk Cisanggarung bertanggung jawab


atas :
a. Koordinasi di lapangan untuk terus berusaha mengamankan
bendungan dari keruntuhan.
Bendungan Situ Patok

I-9

9
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

b. Melaporkan
kondisi
bendungan
kepada
BBWS
Cimanuk
Cisanggarung , dan selanjutnya Ka Balai BBWS Cimanuk
Cisanggarung memberikan informasi kepada Bupati Cirebon selaku
Kepala Daerah untuk siaga penuh dan evakuasi penduduk di zona
bahaya 1 .
c. Koordinasi dengan Satlak PBP Kabupaten Cirebon.
d. Berkoordinasi dengan Stasiun Badan Meteorologi , Klimatologi dan
Geofisika.
e. Berkoordinasi dengan Bupati Cirebon cq Dinas PSDA &
Pertambangan Kabupaten Cirebon. Dan selanjutnya Bupati Cirebon
memerintahkan Satlak PBP untuk evakuasi penduduk yang berada
di wilayah zona bahaya 1.

3. Bupati Cirebon, bertanggung jawab atas :


- Koordinasi dengan Satlak PBP serta instansi terkait di wilayahnya yang
meliputi :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Distrik Militer dan Polisi Resort


Unit Pelaksana Teknik Pemadam Kebakaran
Rumah Sakit
Tim Reaksi Cepat / TRC
Organisasi Angkutan Daerah
Pelayanan Helikopter
Stasiun Badan Meteorologi , Klimatologi dan Geofisika
Dishubkominfo
Penyiapan lokasi evakuasi
Penyiapan angkutan darat ke lokasi evakuasi

- Bupati Cirebon memerintahkan Satlak PBP untuk evakuasi penduduk


yang berada di wilayah zona bahaya 1.
C. KONDISI AWAS
1. Kepala Sub UPB Situ Patok melaporkan kondisi AWAS kepada
Kepala UPB BBWS Cimanuk Cisanggarung.
2. Kepala UPB melaporkan pada Ka BBWS Cimanuk Cisanggarung dan
memberitahukan
kondisi
AWAS
kepada
BBWS
Cimanuk
Cisanggarung
3. Kepala Balai BWS Cimanuk Cisanggarung memberitahu Bupati
Cirebon untuk evakuasi penduduk di zona bahaya 2.
4. Bupati Cirebon, memerintahkan Satlak PBP (mengacu SK Satlak
PBP daerah) untuk mengevakuasi warga yang berada di zona
bahaya 2 ke tempat yang aman.

Bendungan Situ Patok

I-10

10
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

Matriks wewenang & tanggung jawab untuk tingkat kondisi bahaya dapat
dilihat pada Tabel 1. Sedangkan bagan Alir Kegiatan Penanganan
Keadaan Darurat dapat dilihat pada Gambar 3 .
Tabel 1

N
o.

Siaga
Bendung
an

WASPADA

SIAGA

AWAS

Matriks Wewenang & Tanggung Jawab untuk Tingkat


Kondisi Siaga Bendungan

Kesiagaan
UPB di lapangan

Satlak
PBP
melakukan
evakuasi
penduduk
di
zona bahaya 1

Satlak
PBP
melakukan
evakuasi
penduduk
di
zona bahaya 2 dan
penduduk di zona bahaya
1 yang belum sempat
mengungsi

Pengendali

Pelaksanaa
n Evakuasi

Kepala Sub
UPB Situ
Patok

Di
bendungan :
Kepala UPB
Situ Patok

8.

Dihilir
bendungan:
Bupati

Evakuasi
zona 1

Bupati

Evakuasi
zona 2
Dan zona 1
yang belum
sempat
mengungsi

ALUR PEMBERITAHUAN
Tim RTD bertanggung jawab untuk menyampaikan laporan dan
pemberitahuan awal mengenai keadaan bendungan. Bila kondisi /
waktunya memungkinkan sebaiknya Tim RTD meminta bantuan Tenaga
Ahli untuk memberikan saran teknik. Namun pada situasi yang
berkembang
cepat,
mungkin
diperlukan
segera
laporan
dan
pemberitahuan kepada Dirjen SDA, Balai Bendungan, Bupati Cirebon,
Kepolisian dan pihak-pihak terkait lain sesuai dengan bagan alir dalam
RTD untuk memperoleh respon dan tindakan yang cepat.
Prosedur pemberitahuan keadaan darurat dapat dilihat pada skema Alur
Pemberitahuan Keadaan Darurat seperti pada Gambar 3 .
Pemberitahuan bisa dilakukan melalui :
a. Radio Komunikasi

Bendungan Situ Patok

: dari lokasi waduk


Bendungan Situ Patok)
I-11

(petugas

11
1

di

Rencana Tindak Darurat (RTD)

b. Telepon

: -

Dari lokasi waduk


Dari Kantor BBWS Cimanuk Cisanggarung.
Dari Kantor Satlak PBP Kabupaten Cirebon.
Dari Kantor Pemerintah Kabupaten Cirebon,
serta Instansi terkait penanggulangan bencana
dan pengungsian.

c. Kentongan

: dari Kantor Kecamatan / Kantor Desa ke


warga setempat
e. RKPD, RRI & Radio Swasta
: dari Pemda kepada masyarakat
f. PLC
: Komunikasi internal PLN melalui jaring-jaring
tegangan tinggi
Pemberitahuan kepada Penduduk terkena Risiko untuk tiap tingkat kondisi
darurat mengacu pada Pedoman Siaga Banjir yang berlaku di BBWS
Cimanuk Cisanggarung dan Kabupaten Cirebon .
Penyebarluasan informasi terjadinya bencana kepada masyarakat luas
dapat dilakukan melalui media cetak seperti koran, majalah dan media
elektronik seperti radio, televisi ataupun internet.
Instansi terkait segera melakukan tindakan sesuai tugasnya masingmasing, dengan selalu mengadakan koordinasi dengan Pemerintah
Kabupaten Cirebon.
Alur pemberitahuan keadaan darurat dapat dilihat pada Gambar 4
menggambarkan alur pemberitahuan kepada pejabat / personil yang
terkait pada keadaan darurat, Lampiran 2 menampilkan nama, nomor
telepon kantor, nomor telepon rumah, nomor telepon seluler sebagai
sarana komunikasi untuk pemberitahuan kepada yang bersangkutan
pada keadaan darurat.

9. KOMUNIKASI
Sistem Komunikasi dipusatkan di Kantor Bendungan Situ Patok (Dam
Office) meliputi telepon.
Komunikasi antara kantor O & P lapangan Bendungan Situ Patok dengan
kantor pengelola bendungan di BBWS Cimanuk Cisanggarung, serta
dengan Kantor Bupati Cirebon serta dengan instansi terkait dilakukan
dengan telepon atau dengan handphone.
Akses masuk Bendungan Situ Patok bisa dilakukan dengan kendaraan
roda 4 sampai ke lokasi .

10.

EVAKUASI

Bendungan Situ Patok

I-12

12
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

Evakuasi dilakukan ole BPBD ke tempat yang aman, dengan koordinasi


sampai dengan Unit Pelaksaan Tingkat Kelurahan dan Kecamatan dengan
menggunakan Prosedur Tetap (Protab) dari Kabupaten Cirebon.
Diperkirakan jumlah penduduk yang terkena Banjir Situ Patok adalah
sebanyak 53.168 jiwa (10.638 KK). Jumlah penduduk yang harus
diungsikan untuk masing masing desa dapat dilihat pada Tabel 2
Tabel 2 Daerah Terkena Risiko, Penris, dan Tujuan Pengungsian

11.

SARANA TRANSPORTASI
Pada Tabel 3 ditampilkan ketersediaan alat angkut untuk masing
masing daerah.
Tabel 3 Ketersediaan Transportasi di Daerah Terkena Risiko

PEMERHATI MELAPORKAN
TERJADI MASALAH

PEMANTAUAN RUTIN

PETUGAS MENELITI LAPORAN, CATATAN RINCI UNTUK DILAPORKAN KE ATASANNYA


(PETUGAS BENDUNGAN
KEPALA SUB UPB SITU PATOK
KEPALA SUB UPB SITU PATOK
KEPALA UPB BBWS CIMANUK CISANGGARUNG

KEPALA SUB UPB SITU PATOK


MENGKAJI SITUASI DAN MEMANTAU UNTUK MEMBUAT KEPUTUSAN

Bendungan Situ Patok

I-13

TDK

13
BUPATI
1 CIREBON cq
KA. DINAS PU
CIREBON

Rencana Tindak Darurat (RTD)

APAKAH TERJADI POTENSI


BENCANA?

YA
KEPALA SUB UPB SITU PATOK MELAKUKAN PENINGKATAN PEMANTAUAN
KEPALA SUB UPB SITU PATOK MELAPOR KE KABID OP DAN
KA BBWS CIMANUK CISANGGARUNG

TDK
APAKAH TERJADI POTENSI
BENCANA?

YA
TIM RTD MENETAPKAN KONDISI DARURAT DAN MENINGKATKAN
PEMANTAUAN DAN MELAKSANAKAN PENGUNGSIAN UNTUK ZONA
BAHAYA 1

TDK
APAKAH AKAN TERJADI
POTENSI KERUNTUHAN
BENDUNGAN?

YA
TIM RTD MEMUTUSKAN UNTUK MELAKSANAKAN
PENGUNGSIAN ZONA BAHAYA 2

Gambar 3
Bagan Alir Kegiatan Penanganan Keadaan Darurat

Bendungan Situ Patok

I-14

14
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

JABATAN
Kepala UPB / Kabid OP BBWS Cimanuk Cisanggarung
Kepala Sub UPB Situ Patok

NAMA
Kasno, ST.,M.Si
Uki, S.Sos.,ST.,M.Si

TELP. KANTOR
0231205876
0231205876

HANDPHONE
087899200900
081322673442

ABNORMAL
WASPADA
SIAGA
AHLI BENDUNGAN
TIM PEMANTAUAN
BENDUNGAN PUSAT

PEMILIK BENDUNGAN
Dit Bina OP Ditjen SDA
TIM PEMANTAUAN
BENDUNGAN PUSAT
BBWS CIMANUK
CISANGGARUNG

AWAS
PEMILIK BENDUNGAN
Dit Bina OP Ditjen SDA
TIM PEMANTAUAN
BENDUNGAN PUSAT
BBWS CIMANUK
CISANGGARUNG

DINAS PSDAP
KAB. CIREBON

BMKG

BUPATI CIREBON

RUMAH SAKIT

SATLAK PBP KAB.CIREBON

DISHUBKOMINFO

SAR/
PEMADAM KEBAKARAN

RRI CIREBON
KEPOLISIAN
APARAT DESA TERKAIT
(lihat peta banjir & lampiran)

Alur informasi hanya pemberitahuan, kondisi Abnormal


Alur informasi kondisi bendungan waspada
Alur informasi kondisi bendungan Siaga dan mulai pengungsian Zona Bahaya 1
Alur informasi kondisi bendungan Awas dan mulai pengungsian Zona Bahaya 2

JABATAN / INSTANSI
Dirjen SDA
Tim Pemantauan Bendungan Pusat :
1. Ketua Pengarah : Direktur Bina OP Ditjen SDA
2. Sekertaris Pengarah : Ka. Subdit OP Bendungan Dit Bina OP
3. Anggota Pengarah : Ka. Balai Bendungan
1. Ketua Tim Pelaksana : Kasi Wil I Subdit OP Bendungan
2. Sekertaris Tim Pelaksana
3. Anggota Tim Pelaksana
4. Anggota Tim Pelaksana
Ka. BBWS Cimanuk Cisanggarung
Bupati Cirebon
Ka. Dinas PSDAP
SAR Kab. Cirebon
Pemadam Kebakaran
Ka. Polres
BMKG Ciputat
Dir. RUSD Waled
Ka. Dinas Kominfo
Radio Ranggajati

NAMA
Ir. Mudjiadi, M.Sc

TELP. KANTOR
021 - 7222804

HANDPHONE
0811811273

Ir. Hari Suprayogi


Ir.Joko Mulyono, ME.
Ir. Tri Bayu Adji
Doni Saputra , ST
Agus Jatiwiryono, M.E
Ir. Sudarto
Ir. M. Alfa Kardinal T, MT
Ir. Trisasongko Widianto, Dipl. HE
Drs H Sunjaya Purwadi Sastra MM Msi
Ir. H. Suroso, MM.

021 - 7395500
021- 7395500
021 - 75908364
021- 7395500
021- 7395500
021- 7395500
021- 7395500
0231-205876
0231-3321197

081288278118
08161194044
0816940329
081399256969
081318803337
081332414458
081339911099

AKBP. Irman Sugema


Joko Siswanto, S.sos
dr H Agus Sulaeman MKM
Drs. H. Hartono, MM
R. Mitra Sutary, SE

0231-8356347
0231.8356347
0231 - 321644
021-7426485
0231-661126
0231 234305

Gambar 4. Alur Pemberitahuan Keadaan Darurat


12.

PENGAKHIRAN KEADAAN DARURAT


Penentuan pengakhiran keadaan darurat, perlu memperhatikan dua hal
yaitu :

12.1. Pengakhiran Keadaan Darurat Pada Bendungan


Bendungan Situ Patok

I-15

15
1

Rencana Tindak Darurat (RTD)

Kondisi keadaan darurat di bendungan merupakan tanggung jawab


Pengelola Bendungan, oleh karena itu Pengakhiran Keadaan Darurat bagi
Bendungan Situ Patok juga harus dinyatakan oleh Pengelola Bendungan
dalam hal ini oleh BBWS Cimanuk Cisanggarung.
Dalam kasus keadaan darurat yang disebabkan oleh banjir, Kepala UPB
harus menghubungi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
untuk mendapat keterangan mengenai perkiraan keadaan cuaca.
Keadaan darurat pada bendungan dinyatakan berakhir, jika bendungan dan
bangunan penunjangnya sudah dilakukan perbaikan seperlunya, tidak ada
lagi gejala bahwa air waduk akan berusaha keluar dalam jumlah yang cukup
membahayakan, dan keadaan keseluruhan bendungan telah dinyatakan
cukup aman oleh Pengelola Bendungan setelah dilakukan konsultasi dengan
Balai Bendungan.
Apabila bendungan sudah dinyatakan aman, maka Pengelola Bendungan
dalam hal ini BBWS Cimanuk Cisanggarung harus memberitahu ke Bupati
Cirebon, bahwa keadaan darurat bendungan sudah berakhir.
12.2. Pengakhiran Keadaan Darurat Di Bagian Hilir
Pengakhiran keadaan darurat di daerah hilir bendungan dinyatakan oleh
Bupati Cirebon.
Keadaan di hilir sudah cukup layak untuk ditempati kembali , jika :
1. Air Waduk sudah tidak lagi mengeluarkan air dalam jumlah yang cukup
besar / membahayakan, dimana hal ini telah dinyatakan aman oleh
Balai Bendungan melalui BBWS Cimanuk Cisanggarung sebagai pihak
Pengelola Bendungan.
2. Air yang menggenang didaerah tersebut telah surut dengan kedalaman
dibawah 0,20 m, dan telah dilakukan perbaikan / pembersihan sehingga
sudah tidak membahayakan lagi untuk dihuni.
Pengakhiran Keadaan Darurat ini harus disepakati oleh Pihak BBWS Cimanuk
Cisanggarung selaku Pengelola Bendungan Situ Patok, Bupati Cirebon, serta
melibatkan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten
Cirebon. Berita ini harus disiarkan secara resmi kepada masyarakat melalui
media massa seperti Radio, Televisi ataupun Media Cetak.

Bendungan Situ Patok

I-16

16
1