Anda di halaman 1dari 79

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK

PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir


Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut pelaksanaan pendidikan
untuk dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan bangsa dan Negara. Potensi
mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa diharapkan dapat mampu berkembang dalam
kemajuan teknologi dalam dunia perindustrian.
Pendidikan Strata 1 diarahkan untuk menguasai kemampuan teoritis serta
mengembangkan kemampuan aplikatif khususnya di lapangan pekerjaan sehingga
terlengkapi kebutuhan yang seimbang sebagai bekal kebutuhan menghadapi dunia
perindustrian. Oleh karena itu mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Jurusan
Teknik Industri Universitas Brawijaya Malang diwajibkan untuk menempuh Kuliah Kerja
Nyata-Praktek sebagai instrumen pelengkap dalam penerapan teori yang di dapatkan di
bangku perkuliahan dengan penerapannya pada kondisi dunia perindustrian.
Dalam memenuhi harapan tersebut maka Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di
PT Perkebunan Nusantara X dengan wilayah kerja Pabrik Gula Tjoekir yang merupakan
perusahaan penghasil gula kristal dengan berbagai tahapan proses dan sistem produksi
serta perawatan aset dalam hal ini permesinan yang memiliki kaitan dengan materi
perkuliahan Teknik Industri. Pada kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman
serta memperdalam penerapan teori dalam berbagai aplikasi yang menjadi permasalahan
dan merancang solusi bagi perusahaan.
1.2 Lingkup Observasi
Lingkup observasi dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata-Praktek ini antara lain:
a. Gambaran Umum Perusahaan
b. Proses produksi
c. Topik Khusus Sesuai dengan yang dipilih
1.3 Manfaat Kuliah Kerja Nyata Praktek
Manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata-Praktek ini antara
lain:
a. Meningkatkan, memperluas, dan memantapkan keterampilan yang akan membentuk
kemampuan mahasiswa sebagai bekal untuk memasuki lapangan kerja yang sesuai
dengan bidangnya, sekaligus sebagai proses penyerapan informasi baru dari lapangan
kerja bagi mahasiswa.

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

b. Menumbuhkan dan memantapkan sikap profesional yang diperlukan bagi mahasiswa


untuk memasuki dunia kerja.
c. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memasyarakatkan diri pada suasana
dan iklim lingkungan kerja yang sebenarnya.
d. Dapat mengamati, mengembangkan, dan menggunakan ilmu yang telah didapat dari
bangku kuliah.

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

BAB II
TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN
2.1. Profil Perusahaan
2.1.1.
Sejarah Perusahaan
Pabrik gula TJOEKIR didirikan oleh NV. KODY EN COSTER VAN VOUR
HOUTSF TJOEKIR pada tahun 1884 dan terus berproduksi sampai dengan perang dunia
II. Pada tahun 1925 Pabrik Gula Tjoekir pernah mengalami rehabilitasi pabrik dalam
rangka

peningkatan kapasitas produksi, dengan mengganti beberapa instalasi pabrik.

Penyelenggaraan penanaman tebu di PG. TJOEKIR tersebut dilaksanakan oleh Badan


Penyelenggara Perusahaan Gula Negara (BPPGN) sampai penanaman tebu tahun 1948.
Baru setelah terjadinya aksi Irian Barat (TRIKORA) PG. TJOEKIR ini di ambil alih
oleh pemerintah di bawah suatu badan ialah Perusahaan Perkebunan Negara Baru. Untuk
koordinasi dari pabrik-pabrik atau perkebunan bekas milik Belanda di Jawa Timur dalam
tahun 1959/1960 dibagi dalam pra unit dimana PG TJOEKIR termasuk pra unit 4 (unit).
Dengan adanya Peraturan pemerintah No.166 tahun 1961, maka dari bentuk pra unit
dirubah menjadi dalam bentuk kesatuan-kesatuan dimana PG.TJOEKIR termasuk dalam
kesatuan Jawa Timur II. Kemudian terbentuklah BPUPPN gula, dan tiap-tiap pabrik gula
dijadikan badan hukum yang berdiri sendiri PP No.1 tahun 1963 dimana PG.TJOEKIR
berada di bawah pengawasan BPUPPN gula inspeksi daerah VI yang berkedudukan di
Jalan Jembatan Merah 3-6 Surabaya. Dengan dikeluarkannya PP. No.13 tahun 1968, maka
dibubarkanlah Badan Pimpinan Umum Perusahaan Negara Gula / Karung Goni, BPUPPN
aneka karet, BPUPPN aneka tanaman dan tumbuhan di

dalam rangka penertiban,

penyempurnaan dan penyederhanaan aparatur pemerintah pada umumnya dan Perusahaan


Gula pada khususnya.
Peraturan Pemerintah No.13 tahun 1968 tersebut di ikuti oleh keluarnya Peraturan
Pemerintah No.14 tahun 1968 tentang pendirian Perusahaan Negara Perkebunan yang
merupakan badan hukum dengan timbulnya PP. No.13 dan 14 tahun 1968 yang berarti PP.
No.1 tahun 168 menjadi tidak berlaku lagi, maka kedudukan sebagai badan hukum bagi
PG. TJOEKIR beralih kepada Perusahaan Negara Perkebunan. Dalam hal ini PG.
TJOEKIR masuk dalam Perusahaan Negara Perkebunan No. XXII yang memiliki badan
hukum dan berkedudukan di Jalan Jembatan Merah No. 3-6 Surabaya. Berdasarkan PP.
No.23/1973 terhitung mulai tanggal 1 Januari 1974 PNP XXII dengan bentuk Perseroan
Terbatas yaitu

PT. Perkebunan

XXI XXII (Persero) yang berkedudukan di jalan

Jembatan Merah 3-6 Surabaya. Pabrik Gula TJOEKIR sebagai salah satu unit
3

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

produksinya dan badan hukum berada pada direksi P.t.p. XXI XXII (Persero). Di tingkat
pusat dengan SK Menteri No.12B/Kpte/Org/II/1973 perwakilan BKU PNP wilayah
dirubah menjadi inspeksi FN / PT perkebunan BKU PNP wilayah dirubah menjadi
inspeksi PN/PT perkebunan BKU

PNP wilayah

I sampai dengan IV.Pabrik Gula

TJOEKIR dalam hal ini termasuk inspeksi Wilayah IV yaiu P.T Perkebunan XXI - XXII
( Persero ). Pada tahun 1994 berdasarkan SK Menteri Keuangan No. 168KMK 016?1994
tgl 2 Mei 1994, maka PTP. XXI XXII ( Persero ) menjadi group PTP Jawa Tengah
bersama sama dengan PTP. XV XVI PTP. XVII, PTP, XIX dan PTP XXVII. Kemudian
Peraturan Pemerintah RI Nomor 15 tahun 1996 tentang peleburan Perusahaan Perseroan
( PERSERO ) PTP XXI XXII, PTP XXVII dan PTP XIX, menjadi Perusahaan Perseroan
( PERSERO ) PT. PERKEBUNAN NUSANTARA X.
2.1.2.

Visi, Misi, Nilai dan Budaya Perusahaan


Berikut adalah visi, misi, nilai dan budaya PT Perkebunan Nusantara X :
a. Visi Perusahaan
Menjadi perusahaan agroindustry terkemuka yang berwawasan lingkungan
b. Misi Perusahaan
1) Berkomitmen menghasilkan produk berbasis bahan baku tebu dan tembakau
berdaya saing tinggi di pasar domestic dan internasional, yang berwawasan
lingkungan
2) Berkomitmen

menjaga

pertumbuhan

dan

kelangsungan

usaha

melalui

optimalisasi dan efisiensi di segala bidang


3) Mendedikasikan diri untuk selalu meningkatkan nilai-nilai perusahaan bagi
kepuasan pemabngku kepentingan melalui kepemimpinan, inovasi dan kerjasama
c.

tim serta organisasi yang professional


Nilai Perusahaan
Profesionalisme, visioner, sinergi, dan intergritas (Provisi)

d.

Budaya Perusahaan
Profesional, Produktif, dan Pembelajar (3P)

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

2.1.3.

Logo Perusahaan
Logo dari PT Perkebunan Nusantara X adalah:

Gambar 2.1 Logo Perusahaan


2.1.4.

Layout Perusahaan
Layout dari keseluruhan lingkungan PT Perkebunan Nusantara X dengan wilayah kerja

PG Tjoekir digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.2 Layout Perusahaan

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

2.2. Gambaran Proses Produksi

Gambar 2.3 Alur Proses Produksi

Gambar 2.1 menunjukan bagaimana alur pembuatan gula pada PG Tjoekir. Tebu
masuk ke stasiun gilingan untuk didapatkan Nira Mentah (NM). Stasiun gilingan akan
menghasilkan NM dan ampas tebu, dimana ampas tebu dibawa menuju stasiun ketel untuk
dilakukan pembakaran. Ampas tebu ini dimanfaatkan oleh pihak PG menjadi bahan bakar
untuk menggerakan turbin uap pembangkit listrik, turbin uap penggerak roll gilingan, dan
mesin uap untuk pompa vakum.
Nira Mentah dari hasil gilingan diteruskan menuju stasiun pemurnian untuk
didapatkan nira jernih, selain itu juga didapatkan nira kotor. Pemisahan nira jernih dengan
nira kotor dilakukan dengan mesin yang dinamakan Door Clarifier. Nira kotor
dikumpulkan dan akan kembali diolah namun sebelum diolah kembali disaring
menggunakan RVF (Rotary Vacuum Filter) dan menghasilkan blothong dan nira tapis. Nira
tapislah yang kemudian akan diolah kembali pada stasiun pemurnian.
Nira jernih atau nira encer stasiun pemurnian akan diteruskan menuju stasiun
penguapan yang berfungsi untuk menghilangkan 80% air yang terkandung dalam nira
jernih. Dari stasiun penguapan akan dihasilkan Nira Kental (NK). NK akan menuju stasiun
masakan dan puteran. Skema masakan dibagi menjadi 3 yaitu A-C-D. peralatan yang
6

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

digunakan untuk mengristalisasikan NK adalah Vacuum Pan dengan tekanan 64 cmHg.


Stasiun puteran berfungsi untuk memisahkan krsital-kristal gula terhadap stroopnya.
Terdapat 2 jenis puteran yaitu HGF (High Grade Fugal) dan LGF (Low Grade Fugal).
HGF digukanan untuk memutar masakan dengan kemurnian tinggi dan bekerja secara
diskontinyu, digunakan pada masakan A, sedangkan LGF digunakan untuk menghasilkan
masakan dengan kemurnian rendah dan bekerja secara kontinyu, digunakan pada masakan
C dan D. Stasiun puteran akan menghasilkan SHS, setelah itu akan dibawa menuju stasiun
penyelesaian yang terdiri dari pengeringan gula, pendinginan, dan pengemasan.
Pengeringan dan pendinginan dilakukan dalam suatu alat yang disebut Sugar Drier and
Cooler. Pengemasan dilakukan menggunakan karung plastik dan innerbag dengan netto 50
Kg.
2.3. Bidang Usaha Perusahaan
Proses bisnis usaha pada PT Perkebunan Nusantara X Pabrik Gula Tjoekir memiliki 3
bagian utama yaitu bagian tanaman, bagian pabrik, dan bagian Administrasi Keuangan dan
Umum (AK&U). Secara umum bagian tanaman menyediakan bahan baku gula berupa
tebu, bagian pabrik mengolah bahan baku menjadi gula, dan bagian AK&U menyediakan
semua pendanaan dan proses administrasi. Bagian pabrik dibagi menjadi bagian
pengolahan dan instalasi. Berikut adalah pembagian tugas unit usaha PT Perkebunan
Nusantara X Pabrik Gula Tjoekir :
1. Bagian tanaman memiliki peran penting dalam penyediaan bahan baku yang dapat
memenuhu target giling yang sudah direncanakan. Bagian ini terbagi menjadi 4 sub
bidang antara lain:
a. Sub Bagian Agronomi
Tugas dari sub bagian agronomi adalah membersiapkan pembibitan dengan
varietas unggul untuk menghasilkan tebu giling dengan rendemen yang
diharapkan
b. Sub Bagian Litbang
Sub bagian Litbang berfungsi untuk mengadakan penelitan dan pengembangan
jenis tebu, laboratorium hama, struktur dan obat-obatan pestisida.

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

c. Sub Bagian Tebang Angkut


Tugas dari Sub Bagian Tebang Angkut bertanggung jawab atas kelancaran tebang
dan angkut di dalam menyedikana bahan baku yang siap digiling sesuai dengan
kuantitas dan kualitas.
Masing-masing dari sub bagian tanaman dipimpin oleh SKK (Sinder Kepala Kebun).
2. Bagian AK & U (Administrasi dan Keuangan) mengatur proses bisnis perkebunan,
mngelola dan bertanggungjawab atas administrasi keuangan dan umum kepada direksi
maupun pihak-pihak yang terlibat dalam proses produksi tersebut. Bagian AK &
Uterbagi menjadi 4 sub bagian yaitu:
a. Sub Bagian PP (Perencanaan dan Pengawasan)
Sub bagian ini bertanggung jawab mengkoordinasi atas tugas perencanaan dan
pengawasan biaya
b. Sub Bagian Pembukuan
Sub bagian pembukuan mengkoordinasi atas tugas-tugas di bidang akutansi
c. Sub Bagian Sekretariat dan Umum
Sub bagian ini bertanggungjawab untuk pengiriman surat, penerimaan tamu, dan
penyimpanan arsip surat menyurat, dan pengadaan barang ataupun jasa.
d. Sub Bagian Hak dan Umum
Sub bagian hak dan umum mengkoordinir tugas-tugas di bidang hak dan umum
antara lain penerimaan tenaga kerja, dan segala sesuatu yang berhubungan
dengan karyawan.
Setiap sub bagian dipimpin oleh seorang Asisten Manager.
3. Bagian Pengolahan merupakan bagian yang bertanggung jawab atas

proses

pengolahan bahan baku sampai menjadi gula, menyiapkan timbangan gula,


melaksanakan pengepakan gulam dan bertanggung jawab dalam pengolahan limbah
padat maupun cair dengan pembagian pola kerja dalam 2 kegiatan:
a. Pola Kerja Luar Masa Giling
Pola kerja ini melakukan pekerjaaan berupa pengujian dan service sebelum
dilakukannya masa giling terharap beberapa alat dan bahan yang dibutuhkan
untuk pengolahan.
b. Pola Kerja Dalam Masa Giling
Secara umum pola kerja dalam masa giling meliputi penyusunan strategi hingga
pengolahan produksi gula.
4. Bagian Instalasi merupakan bagian yang bertanggung jawab atas permesinan yang
dipergunakan pada proses produksi gula. Berikut ini adalah pembagian struktur
organisasi dari bagian instalasi
2.4. Struktur Organisasi dan Job Description Bagian Instalasi
Bagian instalasi dipimpin oleh Manager Instalasi, dan dalam melaksanakan tugasnya
dibantu oleh Assisten Manager Instalasi. Manager Instalasi membawahi para Assisten
Manager stasiun. Dalam 1 tahun, PG. Tjoekir mempunyai 2 masa kerja yaitu Dalam
8

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Musim Giling (DMG), dimana saat itu PG. Tjoekir melakukan proses produksi antara
bulan Mei sampai November ( 6 bulan) dan Luar Musim Giling (LMG), dimana PG.
Tjoekir sedang melaksanakan maintenance

peralatan proses produksi antara bulan

Desember sampai awal musim giling. Oleh karena itu, struktur organisasi bagian instalasi
dibagi menjadi 2 struktur, yaitu Struktur Organisasi Dalam Masa Giling (DMG) dan
Struktur Organisasi Luar Masa Giling (LMG)
a). Struktur Organisasi Luar Masa Giling (LMG)

Gambar 2.4 Struktur Organisasi LMG Bagian Instalasi


Luar Masa Giling Stuktur Organisasi Bagian Instalasi terbagi berdasarkan stasiun
kerja yaitu yang pertama Stasiun Gilingan, Kendaraan dan Pemurnian, yang kedua Stasiun
Ketel, Penguapan dan Limbah, yang ketiga adalah Listrik/Instrumen, dan yang terakhir
Bangunan, Besali, Stasiun Pemasakan dan PMK. Setiap stasiun kerja memiliki pembagian
pokja masing-masing dalam menjalankan pembagian tugas.

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

b). Struktur Organisasi Dalam Masa Giling (DMG)

Ga
mbar 2.5 Struktur Organisasi DMG Bagian Instalasi
Dalam Masa Giling Asisten Manager pada masing-masing stasiun secara bergantian
bertugas sebagai asisten manager shift yang bertugas mengawasi kinerja mesin dengan
dibantu oleh supervisor dan mandor.
Berdasarkan sifat dan jenis hubungan kerja, karyawan di Pabrik Gula Tjoekir dibagi
menjadi beberapa kelompok antara lain:
1

Karyawan Tetap
Kartyawan tetap adalah karyawan yang bekerja secara terus menerus, baik dalam
musim giling maupun luar musim giling) sampai batas usia pension (55 tahun).
Karyawan tetap dibagi menjadi 2 jenis yaitu:
a

Karyawan Pimpinan
Karyawan yang mempunyai tugas manajerial selaku pimpinan di
perusahaan
Karyawan Pelaksana
Karyawan yang mempunyai tugas melaksanakan pekerjaan sesuai job desc

masing-masing stasiun
Karyawan Tidak Tetap
Karyawan tidak tetap adalah karyawan yang hubungan kerjanya diatur oleh
perjanjian kerja waktu tertentu untuk jangka waktu tertentu, yaitu hanya dalam
masa giling saja.

10

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Karyawan tidak tetap dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:


a Karyawan Kampanye
b Karyawan PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu)
c Outsourcing
1
1

Job Description Bagian Intstalasi


Tugas dan Tanggung Jawab Bagian Instalasi
Dalam musim giling, tugas dan tanggung jawab bagian instalasi adalah menjaga

kelancaran giling terkait dengan peralatan proses produksi. Untuk itu, dilakukan
penjadwalan tugas sehingga tugas Assisten Manager shift dibagi menjadi 3 shift yaitu,pagi,
siang dan malam masing masing 8 (delapan) jam kerja Dalam menjalankan tugasnya,
assisten manager dibantu oleh masing-masing kelompok kerja tiap stasiun dalam tiap shift
yang dikoordinasi oleh para mandor shift.
2

Manager Instalasi
Adapun beberapa tugas Manager Instalasi adalah sebagai berikut:

1
2

Melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh Administratur pada bagian instalasi


Bertanggung jawab kepada Administratur berkenaan dengan seluruh instalasi dan

3
4
5

peralatan yang digunakan untuk proses


Mengkoordinir dan mengumpulkan RAB dari masing-masing RC di bagian instalasi
Mengkoordinir kegiatan daam pelaksanaan kerja
Mengevaluasi dan mengawasi pelaksanaan rencana kerja dan anggaran belanja baik

6
7

teknis maupun administrasi


Membuat laporan-laporan kerja rutin maupun insidentil kepada Administratur
Mengadakan evaluasi kegiatan dari tahun yang sedang berjalan dan tahun lalu sebagai
pembanding untuk dijadikan pedoman dalam menyusun rencana kegiatan yang akan
datang

Assisten Manager Instalasi


Bertugas membantu Manager Instalasi mengkoordinir semua kegiatan dan

penjadwalan kerja termasuk dalam hal pengaturan SDM pada bagian instalasi. Dalam hal
pertanggungjawaban terhadap tugas dan kewenangannya, Assisten Manager Instalasi
dibantu oleh assisten manager stasiun yaitu penanggung jawab manajerial pada sub bagian
(stasiun) di bagian instalasi.

11

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Assisten Manager Stasiun


Adapun tugas Assisten Manager Stasiun adalah sebagai berikut:

1
2
3
4
5
6

Melaksanakan semua keputusan yang telah ditetapkan oleh Manager Instalasi


Menyusun Rencana Kerja dan RAB untuk diajukan kepada Manager Instalasi
Melaksanakan Rencana Kerja dan RAB yang telah disetujui oleh Manager Instalasi
Mengkoordinir semua kegiatan yang ada pada sub bagian instalasi
Mengawasi dan mengevaluasi semua kegiatan yang ada pada sub bagian instalasi
Mengadakan penelitian terhadap karyawan sebagai pertimbangan untuk kepegawaian
Dalam melaksanakan tugasnya, assisten manager stasiun bertanggung jawab atas
pelaksanaan semua kegiatan yang ada pada sub bagian instalasi, juga bertanggung
jawab atas ketepatan pelaksanaan dari kerja dan RAB yang disetujui oleh
Administratur

Supervisor/Mandor
Sebagai pelaksana pekerjaan, mandor bertugas

1
2

Melaksanakan semua instruksi kerja dari assisten manager stasiun


Membantu assisten manager stasiun masing-masing stasiun sesuai dengan rencana

kerja
1. Melaporkan daftar hadir karyawan kepada assisten manager stasiun
2.5. Pembagian Stasiun Kerja Bagian Instalasi
Pada bagian instalasi terdapat beberapa stasiun kerja antara lain:
1. Stasiun Ketel
Stasiun ketel berfungsi sebgai penghasil uap dari pembakaran ampas untuk
menggerakkan turbin uap pembangkit listrik, turbin uap penggerak roll gilingan, dan
mesin uap untuk pompa vakum. Pada stasiun ketel terdapat 4 ketel uap yaitu Ketel
Stork I, Ketel Stork II, Stork III dan Cheng Chen.
2. Stasiun Listrik
Stasiun listrik memiliki 3 peralatan pembangkit listrik, yaitu Diesel Alternator
Blackstone, Turbin Alternator Shinko, dan Turbin Alternator Triveni yang mempunyai
fungsi menyediakan listrik ke seluruh pabrik. Suplai listrik ke bagian produsksi
sebesar 80%.

12

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

3. Stasiun Gilingan
Pada stasiun gilingan terdapat alat-alat pencacah tebu dan pemerah nira antara lain
Cane

Handling

Lier, Hoist

Crane, Cane

Table, Cane

Carier, Cane Cutter,

Unigrator, Gearbox, Unit Roll, dan berbagai peralatan lain yang akan dijelaskan lebih
spesifik pada bagian selanjutnya.
4. Stasiun Pemurnian
Pada stasiun ini terdapat alat-alat yang berfungsi untuk memisahkan nira kotor dan
nira jernih yang nantinya akan diteruskan menuju stasiun masakan. Alat-alat yang
digunakan antara lain juice heater, RVF, dapur belerang, tangki sulphitasi, Dorr
Clarifier dan berbagai alat lainya.
5. Stasiun Penguapan
Pada stasiun ini berfungsi untuk menguapkan air sekitar 80% yang terkandung dalam
nira jernih dengan cara menguapkannya dan menghasilkan nira kental yang diteruskan
menuju stasiun masakan
6. Stasiun Masakan
Pada stasiun ini akan dibentuk kristal gula dari nira kental. Alat utama yang
digunakan untuk menghasilkan kristal adalah Vacuum Pan.
7. Stasiun Puteran dan penyelesaian
Pada stasiun puteran terdapat utama yaitu HGF (High Grade Fugal) dan LGF (Low
Grade Fugal) yang berfungsi memisahkan cuite (produk dari stasiun masakan)
menjadi kristal-kristal gula, stroop, klare dan tetes. Stasiun ini juga memiliki peralatan
utama, yaitu sugar dryer-cooler yang berfungsi untuk mengeringkan gula dari stasiun
puteranserta memisahkan gula produk dengan gula krikilan serta gula debu, kemudian
gula ditimbang dan dikemasi secara otomatis.
8. Stasiun Besali
Pada stasiun besali terdapat beberapa macam peralatan permesinan yang berfungsi
untuk melayani perbaikan ringan dan sedang pada spare part peralatan pabrik.

13

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata-Praktek
Pelaksanaan kegiatan Kuliah Kerja Nyata-Praktek ini dilaksanakan pada :
Perusahaan : PT Perkebunan Nusantara X dengan wilayah Pabrik Gula Tjoekir
Alamat
: Jalan Raya Cukir Jombang
Divisi
: Instalasi dan Gudang
Waktu
: 1 Februari-1 Maret 2013 pada hari Senin-Sabtu pukul 06.30-14.30
3.2. Jurnal Kegiatan Kuliah Kerja Nyata-Praktek
Berikut adalah jurnal kegiatan Kuliah Kerja Nyata-Praktek yang dilaksanakan di PT
Perkebunan Nusantara X Pabrik Gula Tjoekir
Tabel 3.1 Jurnal Kegiatan Kuliah Kerja Nyata - Praktek

No.

Tanggal

Uraian Kegiatan per Hari

1 Februari 2014

Perkenalan umum perusahaan

3-5 Februari 2014

Pengenalan bagian Instalasi

5-8 Februari 2014

Pengenalan stasiun gilingan

10-21 Februari 2014

Pengambilan data di stasiun gilingan,


gudang dan stasiun besali

21-25 Februari 2014

Pengolahan data

26-28 Februari 2014

Penyusunan laporan

28 Februari-1 Maret
2014

Pengecekan laporan

14

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

3.3. Metode Penelitian


Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan laporan Kuliah Kerja NyataPraktek ini antara lain:
3.3.1. Metode Penelitian Kepustakaan
Metode penelitian kepustakaan adalah metode yang digunakan dalam mendapatkan
data dengan membaca sumber-sumber data informasi yang berhubungan dengan
pembahasan sebagai teori mengenai permasalahan yang dibahas. Pada kegiatan ini Penulis
melakukan penelitian kepustakaan dengan membaca buku-buku yang berkaitan dengan
teori permasalahan, serta referensi yang diberikan oleh perusahaan.
3.3.2. Metode Penelitian Observasi
Observasi merupakan kegiatan dengan tujuan mengumpulkan data dari narasumber
sebagai dasar dari analisa-analisa yang akan dilakukan (Ulrich:1998). Observasi yang
dilakukan pada kegiatan ini adalah dengan mengamati proses perawatan luar masa giling,
non destructive test pada stasiun gilingan departemen instalasi, serta pengendalian dan
penyimpanan spare-part di gudang.
3.3.3. Metode Wawancara
Wawancara atau yang biasa disebut Interview adalah kegiatan yang dilakukan dengan
tujuan mendapatkan informasi lebih yang biasanya tidak tecatat (Ulrich:1998). Wawancara
yang dilakukan pada kegiatan ini melibatan Kepala Administrasi Departemen Instalasi,
Asisten Masinis Stasiun Listrik dan Instrument, Asisten Manajer Stasiun Gilingan, Kepala
Gudang serta pegawai di bagian Adminstrasi Keuangan dan Umum. Wawancara ini
dilakukan untuk mengetahui tentang gambaan umum perusahaan serta berbagai
permasalahan pada manajemen perawatan.
3.4. Jenis dan Sumber Data
Data yang dipergunakan sebagai pendukung pada kegiatan ini merupakan data
sekunder yang diperoleh dari narasumber serta referensi perusahaan.

15

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1. Latar Belakang Masalah
Pada evaluasi kerja tahun 2013 PT Perkebunan Nusantara X dengan wilayah kerja
Pabrik Gula Tjoekir sebagai perusahaan penghasil gula kristal mengalami jam henti selama
519,7 jam dalam masa giling (Evaluasi Giling Tahun 2013 : 23). . Jam henti yang cukup
tinggi dalam masa giling dapat mengakibatkan penurunan produktifitas serta
pembengkakan biaya perawatan. Ada beberapa faktor yang dapat mengakibatkan
terjadinya jam henti tersebut antara lain waktu tunggu BBT (Bahan Baku Tebu) dan
kerusakan pada permesinan.. Jam henti terbesar terbesar pada masa giling 2013 terjadi
pada stasiun gilingan sebesar 75,7 jam.
Untuk mencegah dan menangani munculnya jam henti yang tinggi tersebut diperlukan
adanya manajemen perawatan yang optimal. Manajemen perawatan adalah pengelolaan
pekerjaaan perawatan dengan melalui suatu proses perencanaan, pengorganisasian serta
pengendalian fasilitas industri (Sudrajat, 2011:10). Selain itu Menurut Dayrus A (2007)
tujuan dari pemeliharaan atau perawatan antara lain agar mesin-mesin industri, bangunan
dan peralatan lainnya selalu dalam keadaan siap pakai secara optimal dan untuk menjamin
kelangsungan produksi sehingga dapat membayar kembali modal yang telah ditanamkan
dan mendapatkan keuntungan yang besar.
Mengingat pentingnya hal tersebut maka Penulis berkeinginan untuk mempelajari
lebih lanjut mengenai manajemen perawatan aset dalam hal ini adalah permesinan dan
spare-part melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata-Praktek pada perusahaan Pabrik Gula
Tjoekir. Selain itu, Penulis juga memberikan analisis sebagai bahan pertimbangan dalam
pengembangan manajemen perawatan pada aset-aset yang dimiliki oleh Pabrik Gula
Tjoekir.
4.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari kegiatan penelitian ini adalah:
1. Bagaimana manajemen perawatan dalam stasiun gilingan bagian instalasi?
2. Bagaimana permasalahan yang timbul dalam kegiatan perawatan permesinan bagian
instalasi?
3. Bagaimana tindakan yang dilakukan oleh perusahaan dalam menyelesaikan
permasalahan perawatan tersebut?
4.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengetahui kegiatan perawatan permesinan yang telah dilakukan oleh bagian instalasi
2. Mengetahui standar perawatan yang telah dilakukan oleh perusahaan

16

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

3. Mengetahui dan menganalisa penyebab serta tindakan terhadap permasalahan pada


perawatan permesinan
4.4. Batasan Masalah
Batasan pada penelitian ini antara lain:
1. Penelitian dilaksanakan pada pada Bagian Instalasi dan menitikberatkan pada
permasalahan Stasiun Gilingan
4.5. Tinjauan Pustaka
4.5.1. Manajemen Perawatan
Perawatan merupakaan pekerjaan rutin, pekerjaan berulang-ulang untuk menjaga
fasilitas yang ada agar tetap dalam keadaan baik (optimal), dapat digunakan sesuai dengan
kapasitas dan efesiensi semula (Santoso, 2010).
Perawatan juga sering disebut dengan kata pemeliharaan. Pemeliharaan adalah suatu
kombinasi dari berbagai tindakan yang dilakukan untuk menjaga suatu barang dalam, atau
memperbaikinya sampai suatu kondisi yang bisa diterima. Pada umumnya sebuah produk
yang dihasilkan oleh manusia tidak ada yang tidak mungkin rusak, tetapi usia
penggunaannya dapat diperpanjang dengan melakukan perbaikan yang di kenal dengan
pemeliharaan. (Corder, Antony, K. Hadi, 1992).
Manajemen perawatan adalah pengelolaan pekerjaaan perawatan dengan melalui suatu
proses perencanaan, pengorganisasian serta pengendalian fasilitas industri (Sudrajat,
2011:10).
4.5.1.1.

Tujuan Manajemen Perawatan


Secara umum perawatan bertujuan untuk :
a. Menjamin ketersediaan, keandalan fasilitas (mesin dan peralatan) secara ekonomis
maupun teknis, sehingga dalam penggunaaannya dapat dilaksanakan seoptimal
mungkin
b. Memperpanjang usia kegunaan fasilitas
c. Menjamin kesiapan operasional seluruh fasilitas yang diperlukan dalam keadaan
darurat
d. Menjamin keselamatan kerja, keamanan, dan penggunaannya
Menurut Dayrus A, (2007) tujuan perawatan atau pemeliharaan juga dapat menjamin

kelangsungan produksi sehingga dapat membayar kembali modal yang telah ditanamkan
dan akhirnya akan mendapatkan keuntungan yang besar. Dilihat dari perkembangan
industri, perawatan lebih diarahkan untuk menjaga kontinuitas sistem sehingga sistem akan
meningkatkan produktivitasnya.
4.5.1.2.

Faktor-Faktor dalam Manajemen Perawatan

17

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Untuk mencapai sasaran proses perawatan yang maksimal maka diperlukan


beberapa faktor berikut agar proses produksi dapat berjalan dengan lancar secara efektif
dan efisien untuk menghasilkan kualitas yang diinginkan oleh perusahaan.
1. Tenaga kerja
Faktor manusia atau adanya tenaga kerja mencakup syarat yang meliputi kecakapan,
keterampilan dan tanggung jawab untuk menentukan proses perawatan sesuai dengan
petunjuk, aturan, jadwal dan waktu yang ditentukan.
2. Fasilitas
Fasilitas tersebut meliputi adanya bahan pembersih, alat-alat, berbagai macam
pelumas, dan komponen cadangan mesin atau perkakas. Semua itu diharapkan dapat
diperolej dengan mudah ketika diperlukan seuai dengan waktu jadwal perawatan.
3. Organisasi, Program dan Biaya
Proses perawatan dapat berlangsung dengan efektif dan efisien dapat dilakukan
koordinasi terlebih dahulu mengenai penjadwalan, pembagian tugas serta adanya
perencanaan biaya yang dibutuhkan.
(Santoso, 2010).
4.5.1.3. Bentuk Kebijakan Perawatan
Perawatan terbagi menjadi proses-proses berikut:
1. Perawatan pencegahan
Perawatan pencegahan merupakan langkah awal dalam proses perawatan dalam
mencegah terjadinya kerusakan yang meliputi pemeriksaan berkala terhadap setiap bagian
mesin, alat, gedung

18

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

2. Perawatan perbaikan
Perawatan perbaikan merupakan suatu proses dimana mempelajari dan menentukan
tindakan yang diperlukan untuk mengatasi dan mencegah kerusakan yang sama tidak
terulang lagi. Perawatan tersebut meliputi penemuan penyebab kerusakan, memperbaiki,
penggandaan komponen maupun substitusi serta perbaikan pada prosedur kerja produksi
(Santoso, 2010:15).
3. Perawatan Terjadwal (Scheduled Maintenance)
Perawatan terjadwal ini merupakan bagian dari perawatan pencegahan yang bertujuan
untuk mencegah terjadinya kerusakan dan perawatannya dilakukan secara periodic dalam
rentang waktu tertentu.
4. Perawatan Prediktif (Predictive Maintenance)
Perawatan prediktif ini juga merupakan bagian perawatan pencegahan dimana
pelaksanaannya didasarkan pada kondisi mesin itu sendiri. Jika terdapat tanda atau gejala
kerusakan segera diambil tindakan perbaikan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.
(Sudrajat, 2011:21)
4.5.1.4.

Prosedur Perawatan
Prosedur perawatan adalah urutan dari aktivitas-aktivitas yang perlu dilaksanakan

untuk pemeliharaan terencana maupun tidak terencana. Prosedur perencanaan dibuat


dengan acuan manual book dari fasilitas atau mesin yang dibuat oleh pabrik pembuat
fasilitas tersebut. (Sudrajat, 2011:25)
4.5.2. Failure Mode Effect Analysis
FMEA (Failure Mode Effect Analysis) merupakan salah satu alat dari Six Sigma
untuk mengidentifikasi sumber-sumber atau penyebab dari suatu masalah kualitas. Selain
itu FMEA juga digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik proses atau desain kritis
yang memerlukan pengendalian khusus untuk mencegah atau mendeteksi failure mode.
(Walulomoja, 2013:2)
4.5.2.1. Manfaat Failure Mode Effect Analysis
Manfaat dari Failure Mode Effect Analysis antara lain:
1. Meningkatkan kualitas, reliability, dan keamanan dari produk / service /
machinery dan proses
2. Meningkatkan company image dan competitiveness
3. Meningkatkan kepuasan konsumen ( customer satisfaction )
4. Mengurangi waktu dan biaya untuk pengembangan produk ( support integrated
product development )
4.5.2.2. Tipe Dasar Failure Mode Effect Analysis
FMEA memiliki 4 tipe dasar antara lain:
1. Sistem FMEA :
19

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Sistem FMEA dapat digunakan untuk menganalisis suatu sistem pada tingkatan /
level manapun, dari piece part level sampai system level.Pada tingkat / level
terendah, FMEA dapat dilakukan dengan cara memperhatikan setiap komponen di
dalam

sistem

untuk

menentukan bagaimana

kemungkinan

yang

dapat

menimbulkan kegagalan dan efeknya terhadap sistem.


2. Design FMEA :
Design FMEA dilakukan pada suatu produk atau jasa / service pada level design,
selama tahapan desain. Tujuannya adalah untuk menganalisis suatu sistem desain dan
menentukan bagaimana failure mode mempengaruhi pengoperasian sistem.
3. Proses FMEA :
Proses FMEA dilakukan pada proses manufaktur / pabrikasi.FMEA dapat digunakan
untuk mengidentifikasi failure modes yang mungkin terjadi di dalam proses
manufaktur,

peralatan,

tooling

gauges, pelatihan operator, atau sumber-sumber

kesalahan potensial lainnya.


4. Fungsional FMEA :
Fungsional FMEA dikenal juga dengan Black Box FMEA. FMEA tipe ini lebih berfokus
pada kegunaan atau fungsi yang diharapkan ( intended function ) dari suatu komponen atau
subsistem.
4.5.2.3. Langkah Penyusunan Failure Mode Effect Analysis
Terdapat langkah dasar dalam proses FMEA yang dilakukan oleh tim desain for six
sigma(DFSS) adalah :
1. Membangun batasan proses yang dibatasi oleh struktur proses.
2. Membangun proses pemetaan dari FMEA yang mendiskripsikan proses produksi
secara lengkap dan alat penghubung tingkat hirarki dalam struktur proses dan ruang
lingkup.
3. Melihat struktur proses pada seluruh tingkat hirarki dimana masing-masing parameter
rancangan didefinisikan.
4. Identifikasi kegagalan potensial pada masing-masing proses.
5. Mempelajari penyebab kegagalan dari pengaruhnya.
4.5.2.4.

Penentukan Severity, Occurrence,Detection dan RPN


Untuk menentukan prioritas dari suatu bentuk kegagalan atau permasalahan maka tim

FMEA harus mendefinisikan terlebih dahulu tentang Severity, Occurrence, Detection, serta
hasil akhirnya yang berupa Risk Priority Number (RPN)
a. Severity
Severity adalah langkah pertama untuk menganalisa resiko yaitu menghitung seberapa
besar dampak/intensitas kejadian mempengaruhi outputproses. Dampak tersebut diberi
ranking mulai skala 1 sampai 10. Berikut adalah tabel penilaian severity:
Tabel 4.1 Severity
Ranking

Effect

Criteria Severity of Effect

20

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
10

Hazardous

9
8
7
6
5
4
3
2

Serious
Extreme
Major
Significant
Moderate
Minor
Slight
Very Slight

None

Hazardous effect without warning. Safety related. Regulatory


non
Compliant
Potential hazardous effect. Able to stop without mishap.
Regulatory compliance in jeopardy
Item inoperable but safe. Customer very dissatisfied
Performance severely affected but functional and safe. Customer
Dissatisfied
Performance degraded but operable and safe. Non-vital part
Very slight effect on performance. Non-vital fault may be
noticed.
Customer is not annoyed

b. Occurance
Occurrence adalah kemungkinan bahwa penyebab tersebut akan terjadi dan
menghasilkan bentuk kegagalan selama masa penggunaan produk. Berikut adalah tabel
penilaian occurance:
Ranking
10
9
8

Tabel 4.2 Occurance


Posible Failure Rates
Potential of Failure
1 in 2
Almost certain
1 in 3
Very high
1 in 8
High

Ranking
7
6
5
4
3
2
1

Tabel 4.2 Occurance


Posible Failure Rates
Potential of Failure
1 in 20
Moderately high
1 in 80
Medium
1 in 400
Low
1 in 2.000
Slight
1 in 15.000
Very Slight
1 in 150.000
Remote
1 in 1.500.000
Almost impossible

c. Detection
Detection adalah pengukuran terhadap kemampuan mengendalikan atau mengontrol
kegagalan yang dapat terjadi. Pengukuran tersebut dapat diketahui pada tabel di bawah ini:
Rankin

Detection

Tabel 4.3 Detection


Criteria : Likelihood of Detection by Design Control

g
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1

Absolute
Uncertainty
Very Remote
Remote
Very low
Low
Moderate
Moderately high
High
Very High
Almost Certain

No design control or design control will not detect potential cause


Very remote chance design control will detect potential cause
Remote chance design control will detect potential cause
Very low chance design control will detect potential cause
Low chance design control will detect potential cause
Moderate chance design control will detect potential cause
Moderately high chance design control will detect potential cause
High chance design control will detect potential cause
Very high chance design control will detect potential cause
Almost certain that the design control will detect potential cause
21

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Selanjutnya dapat dilakukan perhitungan RPN ( Risk Priority Number ) dengan rumus:
RPN = SEV * OCC * DET
Nilai RPN digunakan untuk menentukan prioritas perbaikan dari permasalahan.

22

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6. Pengolahan Data


4.6.1. Pengumpulan Data
4.6.1.1. Profil dan Struktur Organisasi Stasiun Gilingan Bagian Instalasi
Stasiun gilingan merupakan stasiun yang bekerja pada proses pencacah tebu dan
pemerah nira sebagai proses awal dari produksi gula di Bagian Instalasi Pabrik Gula
Tjoekir. Secara umum stasiun gilingan memiliki 3 Sub Unit antara lain Sub Unit
Transportasi, Sub Unit Prime Mover, dan Sub Unit Battery Gilingan. Berikut adalah
struktur organisasi dari Stasiun Gilingan:

Gambar 4.1 Struktur Organisasi Stasiun Gilingan

Berdasarkan struktur organisasi tersebut berikut adalah pembagian sub unit stasiun
gilingan :
a. Sub unit transportasi
Merupakan sub unit yang bergerak dalam penghantaran tebu dengan penggunaan
cane unloading dijatuhkan menuju ke meja tebu menggunakan cane carrier hingga
pencacahan tebu dengan cane cutter sampai dengan unigrator.
b. Sub Unit Battery Gilingan
Sub unit battery gilingan menjalankan proses penggilingan dengan menggunakan roll
dan pemisahan air nira dengan ampas.
c. Sub Unit Prime Mover
Pada sub unit prime over dilakukan terdapat proses pengaliran energi dari turbin uap
yang ditransimsikan dengan penggunaan gearbox HSR

23

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6.1.2.

Daftar Peralatan dan Permesinan Stasiun Gilingan


Berikut merupakan daftar peralatan dan permesinan di stasiun gilingan:
Tabel 4.4 Peralatan dan Permesinan Stasiun Gilingan

NO
1

STASIUN / NAMA ALAT


Cane Handling Lier

Hoist Crane
u / Cane unloading

TYPE /
MERK
-

Demag

D AT A

TEKNIS

Quantity

Motor Power

HP

KAPASITAS

Buah

15

HP

KW

11

KW

Rpm

960

Rpm

Volt

380

Volt

Drum

350 x 850

mm

Kapasitas

Quantity

Buah

A . Function

For vertikal

Kapasitas

10

Ton

HP

19

HP

KW

14

KW

Rpm

975

Rpm

Volt

380 / 220

Volt

For Horisontal

Motor Power

B . Funtity
Motor Power

24

HP

HP

KW

0.6

KW

Rpm

2680

Rpm

KET .

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Tabel 4.4 Peralatan dan Permesinan Stasiun Gilingan
NO

STASIUN / NAMA ALAT

TYPE /
MERK

D AT A

Hoist Crane
u / Cane unloading

Volt
Demag

TEKNIS
:

380 / 220

KAPASITAS
Volt

Quantity

1 Buah

A . Function

Vertikal

Kapasitas

10

Ton

KW

15.5

Kw

Rpm

1370

Rpm

Volt

Motor Power

Speed linier

16

m/menit

Tinggi angkat

28

Staaldraad

B . Funtion

Horisontal

Motor Power

Cane Table

3/4 "

KW

5.5

KW

Rpm

1440

Rpm

Volt

Volt

Length

Wide

5.7

Luas

45.6

m2

Sudut miring

12

Rantai Penggerak

HP

15

KW

11

KW

Rpm

1445

Rpm

Motor penggerak

25

Buah

3024 TCD

KET .

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Tabel 4.4 Peralatan dan Permesinan Stasiun Gilingan
NO

STASIUN / NAMA ALAT

TYPE /
MERK

D AT A
Volt

TEKNIS
:

380

SKK Type

MFC

Output Rpm

20

Ratio

1 : 70

KAPASITAS

KET .

Volt

Gearbox penggerak

Cane Carier I

Rut Carier I

Reduser Box Ratio

62

Total Ratio

1 / 225

Rpm

23.7

Slat Carier

Motor Power

Cane Carier II

72 " ( 1,805 mm )

HP

40

KW
Rp
m

32.5

KW

1470

Rpm

Volt

Length

380
27 mt ( 1.3 - 12.5 m/menit
linier )

Rantai Gaston

6 " x 720 mata

Rut Carier II

Gear Box Ratio

1 / 60

KW
Rp
m

18.5

KW

970

Rpm

Volt

380 / 220

Volt

Motor Power

Slat Carier

Kecep . linier

26

Volt

72 ' x 13 m
11.3

m/menit

Variable Speed

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Tabel 4.4 Peralatan dan Permesinan Stasiun Gilingan
NO
6

STASIUN / NAMA ALAT

TYPE /
MERK

Cane Cutter I

Coppus

D ATA

HSR

Unigrator

MERGER

Mark IV

Ebara

KAPASITAS

Rantai Gaston

Diameter

1540

mm

Length

1762

mm

Jumlah pisau

60

buah

Rpm

650

Turbine power

600

HP

KW

447

KW

3400

Rpm

N Steam inlet

17

Kg/Cm2

Exhous max

1.2

Kg/Cm2

Max Continous Rpm

3780

Max Continous Rpm

3780

Min Continous Rpm

900

Type

Ratio

1 : 5,667

Diameter

1725

mm

Length

1900

mm

Rpm

750

rpm

Jumlah Hummer

44

Buah

Turbine Power

Trip speed

27

3668 TCD

Ex GK

Norpa 250 1

HP

1200

HP

KW

895

KW

4465

Rpm

4910

Rpm

Rpm

KET .

6 " x 180 mata

HP
Rpm

TEKNIS

4932 TCD

EX . PSB

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Tabel 4.4 Peralatan dan Permesinan Stasiun Gilingan
NO

STASIUN / NAMA
ALAT

TYPE /
MERK

D AT A

TEKNIS

KAPASITAS

First critical

8510

N . Steam inlet

16,9 - 20

Kg/Cm2

Exhouse max

1.2

Kg/Cm2

Model

NM 1600 C

Ratio

5,771 : 1

Unit rating

2292

Aplication Factor

1.91

Aplication Power

1200

Capacity oil

30

KET .

Rpm

Gerabox

HP
HP
Gals.

AGMA Lubricant number


Use = 1
Or
9

Cooling tower I

Liang Chi

=2

Pompa

15o to 60 oF
o

50 to 125 F

Ambient

Buah
Ltr/Meni
t

Kapasitas
LBC 80

1040

Motor Power

:
HP

7.5

HP

KW

5.5

KW

1450

Rpm

Pompa

Buah

Kapasitas

50

m3/jam

Total Head
Motor
Power

52

HP

Rpm
Torishima

Ambient

28

HP

u / turbin

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Tabel 44 Peralatan dan Permesinan Stasiun Gilingan
NO

10

STASIUN / NAMA ALAT

Cooling tower II

TYPE /
MERK

Liang Chi

LBC 125

Torishima

D AT A

TEKNIS

KW

30

KW

Rpm

1465

Rpm

Amps

59

Pompa

Kapasitas

1625

Total Head
Motor
Power

KW

18.5

KW

Rpm

1465

Rpm

Amps

36

Pompa

Buah

Kapasitas

50

m3/jam

Total Head
Motor
Power

52

KW

30

KW

Rpm

1465

Rpm

Amps

59

11

Rol Mill I

Size

36" x 78"

12

Rol Mill II

Size

36" x 72"

13

Rol Mill III

Size

36" x 72"

14

Rol Mill IV

Size

36" x 72"

15

Turbine uap penggerak

560

1 s/d 4

Ebara

KAPASITAS

Buah
Ltr/Meni
t

KET .

u / metal
gilingan

Turbine
Power
N . Speed

29

3459

KW
Rpm

Ex . GK I / II
/ III

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Tabel 4.4 Peralatan dan Permesinan Stasiun Gilingan
NO

16

STASIUN / NAMA
ALAT

Motor penggerak / palang


Gilingan I

1&

Penggerak pompa olie

19

pelumas HSR gilingan I

TYPE /
MERK

Siemens /
Sinamic

OWGE

D ATA

TEKNIS

KAPASITAS

Trip Speed

3810

Rpm

Fisth kritical

8510

N . Steam Inlet

17

Exhouse max
Power
rating
Voltage
range

1.2

Rpm
Kg/Cm
2
Kg/Cm
2

630

Kw

380-480

Lins current

1120

Chain
spradet

ANS 1160-1

Chain

ANS 1160-1

Hitachi

Pompa
20

Duored Helical Gearbox

Siemens

Power rating

603 HP. 450 Kw

Spesific output tounge

2350

KNm
-1

Input speed

650 min 1200 min

Actual ratio

275

Service Factor

2.0 (AGMA 2001)

30

-1

KET .
Ex . PSB
IV

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Tabel 4.4 Peralatan dan Permesinan Stasiun Gilingan
NO

21

STASIUN / NAMA ALAT

TYPE /
MERK

D AT A

TEKNIS

KAPASITAS

output speed

3.84

Rpm

Gear Ratio

26 : 1

Rpm

Service Factor

2,00

Tahun

2008

Weight

28.000

Kg
HP

Penggerak pompa olie

Power

pelumas LSR gilingan I

output

Volt

220 / 380

Ampere

8,91 / 5,16

Rpm

1445

S.F

1,0

EFF.

86.5

output

2.2

Volt

220 / 380

Ampere

8,91 / 5,16

Rpm

1730

S.F

1,0

EFF.

86.5

Trans Heat area

0.8

Max Operation Shell

10

Pressure Tube

Power

22

23

Oil Cooler LSR Gilingan I

Motor penggerak / palang

Electric MFG

Power

31

Kw

m2
Kgf /
Cm2
Kgf /
Cm2

KET .

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Tabel 4.4 Peralatan dan Permesinan Stasiun Gilingan
NO

STASIUN / NAMA ALAT

TYPE /
MERK

Gilingan II

24

25

HSR gilingan II

Penggerak pompa olie

J & E Hofman

Mitsubishi

pelumas HSR gilingan I

D AT A

TEKNIS

KAPASITAS

Kw

22.5

4009 TCD

Rpm

1460

Volt

380

Ampere

43

Type

Ratio

41,2 : 1

Power

560

Kw

Input Rpm

5000

Rpm

Lubrication

ISO 68

Rpm

Tahun

42 PKDC 1080 S

05 - 04 2005

Power
Kw

1.5

Rpm

1420

Volt

380

Ampere

3.6

Pressure test

15

Year Built

Pompa

26

LSR gilingan II

Shang HO
Gear
Machinery
Co.

Kg/Cm2

08 - 05 1975

Type & Spec

Transmitted Horse Power

560

Kw

Input speed

100

Rpm

output speed

3.84

Rpm

Gear Ratio

26,02 : 1

Rpm

32

B 1380 SFW

KET .

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Tabel 4.4 Peralatan dan Permesinan Stasiun Gilingan
NO

27

STASIUN / NAMA ALAT

TYPE /
MERK

D ATA

TEKNIS

KAPASITAS

Service Factor

2,00

Tahun

2005

Weight

28.000

Kg
HP

Penggerak pompa olie

Power

pelumas LSR gilingan I

Output

Volt

220 / 380

Ampere

8,91 / 5,16

Rpm

1445

S.F

1,0

EFF.

86.5

Output

2.2

Volt

220 / 380

Ampere

8,91 / 5,16

Rpm

1730

S.F

1,0

EFF.

86.5

Trans Heat area

0.8

Max Operation Shell

10

Pressure Tube

Power

28

29

Oil Cooler LSR Gilingan I

Motor penggerak / palang


Gilingan III

Electric MFG

Kw

m2
Kgf /
Cm2
Kgf /
Cm2

Power
Kw

30

Rpm

1460

33

5064 TCD

KET .

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Tabel 4.4 Peralatan dan Permesinan Stasiun Gilingan
NO

30

31

STASIUN / NAMA ALAT

HSR gilingan III

Penggerak pompa olie

TYPE /
MERK

Shimadzu

Mitsubishi

pelumas HSR gilingan III

D AT A

TEKNIS

KAPASITAS

Volt

380

Ampere

55

Type

Ratio

41,18 : 1

Power

560

Kw

Input Rpm

5000

Rpm

Lubrication

ISO 68

Rpm

Tahun

1975

Kw

1.5

Rpm

1420

Volt

380

Ampere

3.6

42 PKDC 1080 S

Power

Pompa

32

LSR gilingan III

Strong Gear
Technology
Ltd.

Kg/Cm2

Pressure test

Year Built

08 - 05 1975

Type & Spec

B 1380 SFW

Transmitted Horse Power

1080

Input speed

100

Rpm

output speed

3.84

Rpm

Gear Ratio

26 : 1

Rpm

Service Factor

2,00

Tahun

2007

34

15

HP

KET .

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Tabel 4.4 Peralatan dan Permesinan Stasiun Gilingan
NO

STASIUN / NAMA ALAT

TYPE /
MERK

D AT A
Weight

33

TEKNIS

KAPASITAS

28.000

Kg
HP

Penggerak pompa olie

Power

pelumas LSR gilingan III

output

Volt

220 / 380

Ampere

8,91 / 5,16

Rpm

1445

S.F

1,0

EFF.

86.5

output

2.2

Volt

220 / 380

Ampere

8,91 / 5,16

Rpm

1730

S.F

1,0

EFF.

86.5

Trans Heat area

0.8

Max Operation Shell

10

Pressure Tube

Power

34

35

Oil Cooler LSR Gil. III

Motor penggerak / palang


Gilingan IV

Electric MFG

Kw

m2
Kgf /
Cm2
Kgf /
Cm2

Power
Kw

22.5

Rpm

1460

Volt

380

Ampere

43

35

5345 TCD

KET .

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Tabel 4.4 Peralatan dan Permesinan Stasiun Gilingan
NO
35

36

STASIUN / NAMA ALAT


HSR gilingan IV

Penggerak pompa olie

TYPE /
MERK
Shimadzu

Mitsubishi

pelumas HSR gilingan IV

D ATA

TEKNIS

KAPASITAS

Type

42 PKDC 1080 S

Ratio

41,2 : 1

Power

560

Kw

Input Rpm

5000

Rpm

Lubrication

ISO 68

Rpm

Tahun

05 - 04 2005

Power
Kw

1.5

Rpm

1420

Volt

380

Ampere

3.6

Pressure test

15

Year Built

08 - 05 1975

Type & Spec

B 1380 SFW

Transmitted Horse Power

560

Kw

Input speed

100

Rpm

output speed

3.84

Rpm

Gear Ratio

26,02 : 1

Rpm

Service Factor

2,00

Tahun

2005

Weight

28.000

Kg

Power output

HP

Pompa

37

38

LSR gilingan IV

Penggerak pompa olie

Shang HO
Gear
Machinery
Co.

36

Kg/Cm2

KET .

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Tabel 4.4 Peralatan dan Permesinan Stasiun Gilingan
NO

STASIUN / NAMA ALAT

TYPE /
MERK

pelumas LSR gilingan IV

D ATA

TEKNIS

KAPASITAS

Volt

220 / 380

Ampere

8,91 / 5,16

Rpm

1445

S.F

1,0

EFF.

86.5

Output

2.2

Volt

220 / 380

Ampere

8,91 / 5,16

Rpm

1730

S.F

1,0

EFF.

86.5

Trans Heat area

0.8

Max Operation Shell

10

Pressure Tube

Jumlah

Unit

Head

20

mtr

200

m3/jam

Power

39

40

Oil Cooler LSR Gil. IV

Pompa Nira Mentah

Take SPI
Pump

Kapasitas
Motor
Power

37

Kw

m2
Kgf /
Cm2
Kgf /
Cm2

HP

HP

KW

15

KW

Rpm

1450

Rpm

Volt

380

4032 TCD

KET .

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Tabel 4.4 Peralatan dan Permesinan Stasiun Gilingan
NO

STASIUN / NAMA ALAT

TYPE /
MERK

D AT A
Amps

TEKNIS

30.5

Jumlah

Unit

Head

40

mtr

175

m3/jam

Kapasitas
Motor Power

41

42

IMC I s / d IV

Pompa Olie

KAPASITAS

:
HP

HP

KW

37

KW

Rpm

1475

Rpm

Volt

380

Amps

66.4

Motor Power

Parval

3744 TCD
HP

43

HP

KW

22

KW

Rpm

1460

Rpm

Gearbox / Ratio

1 / 40

Kecp . Linier

28

Rantai Gaston

6"

Motor

Flender
m/Menit

HP

KW

7.5

KW

Rpm

1440

Rpm

Gearbox Ratio

909 : 1

PUmp model

Dj . 4.5

Cap.

20

Ltr / menit

Press.

10

Kg/ Cm2

PFS - 1205 ss

38

HP

KET .

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Tabel 4.4 Peralatan dan Permesinan Stasiun Gilingan
NO
43

STASIUN / NAMA ALAT


Matering pump

TYPE /
MERK
Alaska Pan
Word Dozing

44

Hoist Crane untuk


Maintenance

Kulli

D AT A
Stock Speed

Kapasitas

TEKNIS
48

SPM

ltr/menit

Tanki

250

liter

Jumlah

Buah

Kapasitas

10

Ton

Power

:
HP

HP

KW

15.5

KW

1370

Rpm

Span

25

mtr

Left

mtr/menit

Elmo Power

5.5

KW

Volt

380

volt

Rpm

1440

Elmo Power

0.4

KW

Volt

380

volt

Rpm

1410

Gearmotor Ratio

1 : 30

Tinggi

800

mm

Diameter

550

mm

Kapasitas

0.19

m3

Jumlah

bh

Elmo Power

0.4

KW

Volt

380

volt

Rpm

45

Pengaduk surfactan

Tangki pengencer surfactan

46

Pengaduk Asam Phosphat

KAPASITAS

39

KET .

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Tabel 4.4 Peralatan dan Permesinan Stasiun Gilingan
NO

STASIUN / NAMA ALAT

TYPE /
MERK

D AT A

TEKNIS

KAPASITAS

Rpm

1410

Gearmotor Ratio

1 : 30

Tinggi

820 /1200

mm

Diameter

550 / 920

mm

Kapasitas

0,196 / 0,797

m3

Jumlah

Bh

40

KET .

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6.1.3.
Kegiatan Operasional dan Perawatan Pada Stasiun Gilingan
Berikut ini adalah kegiatan operasional dan perawatan pada stasiun gilingan
4.6.1.3.1.
Kegiatan Operasional
Kegiatan operasional dari stasiun gilingan mengikuti Standar Operational Procedure
Stasiun Gilingan. Standar Operational Procedure pada stasiun gilingan secara garis besar
terbagi dalam beberapa tahapan berikut:
1. Persiapan I
Kegiatan persiapan terdiri atas beberapa tahapan yaitu:
1) Pemeriksaan Mesin Penggerak meliputi:
a. Pemeriksaaan tegangan listrik dari sentral listrik sudah masuk CS/panel local
b. Pemeriksaaan Cane unloading crane
c. Pemeriksaaan Meja tebu
d. Pemeriksaaan Tippler unit
e. Pemeriksaaan Turbin-turbin cane cutter, HDHS/Unigator dan gearbox
f. Pemeriksaaan Rotor cane cutter, HDHS/Unigator
g. Pemeriksaaan Evelvtor dan IMC
h. Pemeriksaaan Unit Gilingan
i. Pemeriksaaan Turbin penggerak gilingan dan gearbox
j. Pemeriksaaan DSM Screen/Rotary cush-cush
k. Pemeriksaaan Pompa-2 nira/air
l. Pemeriksaaan Pompa-2 oli/pelumas
m. Pemeriksaaan Pompa air pendingin
n. Pemeriksaaan pengaliran talang 2 nira
o. Pemeriksaaan engaliran nira imbibisi/air imbibisi
2) Pemeriksaan alat-alat bantu meliputi :

Pemeriksaan level minyak pelumas normal

Pemeriksaan System lubrication

Pemeriksaan System emergency

Pemeriksaan Panel-panel listrik

Pemeriksaan Penggerak-penggerak tenaga-2


2. Pemanasan Mesin
1) Pemanasan mesin terdiri atas beberapa tahapan berikut:
a. Buka semua drain uap baru/bekas pas mesin-mesin/pipa-pipa uap
b. Buka uap baru dari boiler/steam header
c. Lakukan pemanasan
d. Buka unjektur mesin bila ada
e. Putar poros turbin 900 pada waktu pemanasan
f. Pengaturan Temperatur uap mesin untuk turbin 250-2750C
g. Pengaturan Temperatur uap mesin uap 1800 C
2) Pengoperasian
Pengoperasian dimulai dengan pengaturan komponen berikut:
Pompa-pompa olie
Pompa-pompa pendingin

41

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Tekanan olie sesuai kebutuhan


3) Pemasukan bahan baku
Pemasukan bahan baku dimulai pada peralatan-peralatan berikut:
Cane unloading
Meja tebu
3. Start Tanpa Beban
Bila semua persyaratan mesin sudah siap
Jalankan mesin turbin dan mesin uap pelan-pelan sesuai prosedur sampai rpm normal
4. Operasional dengan beban
Performance gilingan yang digunakan sebagai parameter operasional adalah:
a. Veeding harus rata
b. RPM turbin/mesin uap sesuai perhitungan
c. Steam chest 70% tekanan uap normal
d. Hydroulics masing-masing gilingan sesuai perhitungan/bertahap
e. Imbibisi nira/air harus rata
f. Kebersihan gilingan
Setelah parameter-parameter operasional telah dipenuhi maka dapat mulai menjalankan cane
elevator dan intermediate carrier, kemudian jalankan cane carrier dan meja tebu seusai
kebutuhan feeding/beban awal. Jalankan semua peralatan bantu sesuai kapasitas. Mulai
komunikasi dengan boiler start.
5. Normal Operasional
Parameter yang harus dipenuhi untuk normal operasional antara lain:
a. PI= 84 sd 90
b. HPB I > 62
c. HPB total > 90
d. PSHK > 97
e. Efisensi gilingan > 88
f. Kap gilingan Incl. RKAP
g. Zat kering ampas gilingan akhir > 49
h. Putaran roll tercatat slegen teller
i. Komunikasi dengan boiler perihal suhu dan tekanan uap
Inspeksi yang perlu dilakukan dalam normal operasional meliputi:
a. Temperatur : metal, bearing, bushing, dll
b. Tekanan : oli pada mesin, air pendingin, uap baru/bekas
c. Getaran
d. Suara

42

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6.1.3.2.
Pengukuran Effisiensi Stasiun Gilingan
4.6.1.3.3.Effisiensi dari kinerja stasiun gilingan dapat diketahui salah satunya dari nilai brix yang merupakan kandungan
gula yang berhasil diperah dari tebu yang dapat diketahui pada inspeksi quality control hasil perahan gilingan I. Berikut ini
merupakan perhitungan nilai brix:
4.6.1.3.5. Uraian
4.6.1.3.8.
4.6.1.3.9.
4.6.1.3.12.
1 4.6.1.3.13.
Imbibi
si % tebu
4.6.1.3.16.
4.6.1.3.17.
Kadar
sabut tebu
4.6.1.3.21.
IF
4.6.1.3.20. ( Lamda :
I/F )
4.6.1.3.24.
2 4.6.1.3.25.
Brix
Nyata :
4.6.1.3.28.
4.6.1.3.29.
Brix
npp
4.6.1.3.32.
4.6.1.3.33.
Brix
npl
4.6.1.3.36.
4.6.1.3.37.
Brix
nira gil III
4.6.1.3.40.
4.6.1.3.41.
Brix
nira gil IV
4.6.1.3.44.
3 4.6.1.3.45.
Brix
Teoritis :
4.6.1.3.48.
4.6.1.3.49.
bn 1
4.6.1.3.52.
4.6.1.3.53.
bn 2

4.6.1.3.4. Tabel 4.5 Perhitungan nilai brix


4.6.1.3.6.
Data
4.6.1.3.7. Notasi
4.6.1.3.10.
4.6.1.3.11.
4.6.1.3.14.
32.91
4.6.1.3.18.
17.14
4.6.1.3.22.
1.9203

4.6.1.3.23.

4.6.1.3.15.

Data

4.6.1.3.19.

Data

imbibisi % tebu / kadar sabut tebu

4.6.1.3.26.
4.6.1.3.27.
4.6.1.3.30.
15.65
4.6.1.3.34.
7.22
4.6.1.3.38.
4.15
4.6.1.3.42.
2.14

4.6.1.3.31.

Data

4.6.1.3.35.

Data

4.6.1.3.39.

Data

4.6.1.3.43.

Data

4.6.1.3.46.
4.6.1.3.47.
4.6.1.3.50.4.6.1.3.51.
( kadar sabut tebu4-1 ) / ( kadar sabut tebu4-1 )
15.65
x brix npp
4.6.1.3.54.
7.55
4.6.1.3.55.
( lamda3-1 ) / ( lamda4-1 ) x brix npp
43

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
4.6.1.3.56.
4.6.1.3.57.
bn 3
4.6.1.3.60.
4.6.1.3.61.
bn 4
4.6.1.3.64.
4 4.6.1.3.65.
Penila
ian
4.6.1.3.68.
4.6.1.3.69.
Gilingan I
4.6.1.3.72.
4.6.1.3.73.
Gilingan II
4.6.1.3.76.
4.6.1.3.77.
Gilingan III
4.6.1.3.80.
4.6.1.3.81.
Gilingan IV

4.6.1.3.58.
3.34
4.6.1.3.62.
1.14

4.6.1.3.59.

( lamda2-1 ) / ( lamda4-1 ) x brix npp

4.6.1.3.63.

( lamda -1 ) / ( lamda4-1 ) x brix npp

4.6.1.3.66.
4.6.1.3.67.
4.6.1.3.70.
1.00
4.6.1.3.71.
4.6.1.3.74.
0.96
4.6.1.3.75.
4.6.1.3.78.4.6.1.3.79.
1.24
4.6.1.3.82.4.6.1.3.83.
1.87

4.6.1.3.84.
4.6.1.3.85.

44

Lubang kerja/setelan gilingan terlalu lebar


Pencampuran Imbibisi dan nira dlm ampas
kurang merata
Pencampuran Imbibisi dan nira dlm ampas
kurang merata

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6.1.3.86.

Dari perhitungan tersebut dapat dilakukan penyusunan kurva brix sebagai berikut:
4.6.1.3.87.

KURVE BRIX GILINGAN


18.00
16.00

15.65
15.65

14.00
12.00
10.00

% Brix

Brix Teoritis

8.00

Brix Nyata

7.55
7.22

6.00
4.15
3.34

4.00

2.14
1.14

2.00
0.00
Gilingan 1

Gilingan 2

Gilingan 3

Gilingan 4

4.6.1.3.88.
4.6.1.3.89.

4.6.1.3.90.
4.6.1.3.91.

Gambar 4.2 Kurva Brix Gilingan

Pada kurva tersebut terdapat rentangan nilai antara brix teoritis dengan brix nyata yang cukup signifikan pada gilingan

ke III dan gilingan ke IV maka dapat disimpulkan bahwa effisensi gilingan III dan gilingan IV menurun.
4.6.1.3.92.

45

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6.1.3.93. Kegiatan Perawatan di Stasiun Gilingan


4.6.1.3.94.
Kegiatan perawatan di stasiun gilingan mengikuti Standar Maintenance
Procedure Stasiun Gilingan yang terbagi menjadi beberapa tahapan yaitu:
1) Persiapan
4.6.1.3.95. Kegiatan yang dilakukan pada persiapan antara lain:
a. Pembuatan perhitungan Mandays
b. Pembuatan time schedule
c. Evaluasi gilingan dan rencana kerja
2) Pembongkaran dan pembersihan
4.6.1.3.96. Pembongkaran adalah melepas komponen peralatan yang seusuai dengan
baku teknik, sarana peralatan, urutan pekerjaan, tenaga kerja sesuai keahliannya.
4.6.1.3.97. Pembersihan adalah membersihkan peralatan yang telah dibongkar mengacu
pada baku teknik dan sarana yang sesuai dengan masing-masing alat. Macam-macam
peralatan yang dibongkar dan dibersihkan yaitu:
a. Alat angkat dan bongkar tebu (cane unloading) yang terdiri atas:
Crane
Tipler
b. Alat angkut pemindah tebu yang terdiri atas:
Penarik lori tebu
Meja tebu
Pencakar tebu
Cane carrier
Penggaru ampas
c. Alat pengerjaan pendahuluan yang terdiri atas:
Pisau tebu (cane cutter)
Unigrator
Shredder
Carding drum
d. Gilingan yang terdiri atas:
Roll gilingan
Roll pengumpan
Metal gilingan
Scrapper, ampas plat dan ampas balk
Corong ampas
Molen roundsel, kopel mof dan kopel as
Baut pondasi gilingan, side cup dan top cup
Standart gilingan
Base olate
Piston hidrolik gilingan
e. Mesin penggerak dan gearbox yang terdiri atas:
Mesin uap
46

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Turbin uap
Gearbox (HSR, LSR, Overbringing, gearbox lainnya)
f. Pompa-pompa yang terdiri atas:
Pompa nira
Pompa imbibisi
Pompa hidrolik
Pompa pelumas
Pompa air pendingin
g. Lain-lain yang meliputi:
Bak carrier
Bak intermediate carrier
Perpipaan
Saring nira
3) Pemeriksaan
4.6.1.3.98. Pemeriksaaan secara visual maupun pengujian Non Destructive Test (NDT)
bertujuan untuk mengetahui tingkat penyimpangan atau kondisi alat sehingga dapat
ditentukan apakah peralatan tersbut masih layak dipakai atau tidak.
4) Perbaikan atau Penggantian
4.6.1.3.99. Perbaikan dapat dilakukan di besali ataupun diberikan kepada pihak ke III
5) Pemasangan atau Penyetelan
4.6.1.3.100. Pemasangan dilakukan dengan urutan pemasangan sebagai berikut:
a. Pemasangan alat pengerjaan pendahuluan
b. Pemasangan gilingan
4.6.1.3.101. Pemasangan dilakukan dengan memperhatikan parameter-parameter berikut:
Mutu tebu rata-rata 3 tahun (brix, pol, sabut)
Kapasitas giling
Putaran roll gilingan
Ratio bukaan kerja muka belakang
Tekanan hydraulic
HPB Total
HPG
Pol Ampas Akhir
Zat kering ampas akhir
Sistem Imbibisi
4.6.1.3.102. Penyetelan dengan rumusan penyetelan gilingan PTPN 10 th 1997
dipadukan dengan neraca bahan
6) Uji Coba
4.6.1.3.103. Uji coba digunakan untuk mengetahui kualitas hasil perbaikan dan
penyetalan masing-masing alat. Uji coba terbagi menjadi 2 tahapan yaitu uji coba individu
dan uji coba menyeluruh.

47

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

a. Uji coba individu


4.6.1.3.104. Uji coba individu dilakukan bersama sama oleh kelompok mekanik, listrik dan
instrument serta bagian pengolahan untuk mengetahui kesiapan masing-masing alat
dalam keadaan tanpa beban
b. Uji coba menyeluruh
4.6.1.3.105. Uji coba menyeluruh terdiri atas tahapan persiapan dan pelaksanaan steam test.
a) Persiapan
Periksa semua peralatan yang akan dicoba dan pastikan mesin akan aman saat
dioperasikan
Pemanasaan pipa uap dilanjutkan dengan flushing untuk membersihkan
kotoran pipa
Periksa dan jalankan semua sistem pendinginan termasuk cooling tower
Periksa dan jalankan semua sistem pelumasan
Periksa ulang dan pastikan sistem pelumasan dan pendinginan sudah berjalan
normal
b) Pelaksanaan Steam test
Jalankan semua mesin sesuai dengan urutan SOP
Lakukan pengamatan atau monitoring terhadap semua peralatan mesin dan
dicatat sebagai bahan evaluasi
7) Finishing
4.6.1.3.106. Finishing dilakukan terhadaap seluruh alat penunjang dan lingkungan kerja
sehingga dapat memberikan dukungan terhadap lingkungan kerja yang rajin, rapi
bersih, aman dan sehat dan menyenangkan sesuai persyaratan ergonomi dan tata
graha.
4.6.1.3.107.
4.6.1.3.108. Penjadwalan Perawatan
4.6.1.3.109.Kegiatan perawatan di Pabrik Gula Tjoekir terbagi atas dua pola sebagai
berikut:
a) Pemeliharaan LMG (Luar Masa Giling)
4.6.1.3.110. Pemeliharaan LMG bersifat menyeluruh yaitu mengembalikan kemampuan
permesinan dalam kondisi semula. Perencanaan dan anggaran untuk pekerjaan pemeliharaan
LMG disusun berdasarkan data-data yang ada pada dokumen Dalam Masa Giling sebelumnya,
sehingga dapat ditentukan mesin atau peralatan manakah yang harus diperbaiki saat LMG.
b) Pemeliharaan DMG (Dalam Masa Giling)
4.6.1.3.111. Pemeliharaan Dalam Masa Giling terdiri dari 3 macam pemeliharaan, yaitu :
Preventive Maintenance Program A (PMP A)

48

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6.1.3.112. PMP A merupakan pemeliharan yang bersifat pencegahan sebelum


terjadi kerusakan mesin/peralatan. Kegiatan yang dilakukan antara lain pembersihan,
inspeksi, pelumasan, penyetelan, pengujian, pencatatan, dan troubleshooting.

49

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Preventive Maintenance Program B (PMP B)


4.6.1.3.113. PMP B dilaksanakan dengan membuat perencanaan terlebuh dahulu
tanpa harus terjadi jam henti karena perusakan mesin/peralatan. Hal-hal yang harus

diperhatikan dalam melaksanakan PMP B yaitu:


Membuat daftar mesin/peralatan yang diperbaiki
Mengalokasikan SDM sesuai keahlian, urgensi dan jumlah diperlukan
Menyiapkan suku cadang, bahan, dan peralatan kerja dengan kualitas sesuai

dengan kebutuhan
Menetapkan waktu yang tepat dan beberapa lama waktu normal dan waktu

maksimum yang diperlukan


Pelaksanaan kegiatan terkendali agar tidak melebihi waktu yang telah ditetapkan
Evaluasi hasilnya setelah mesin/peralatan digunakan untuk giling guna
mengetahui mutu hasil pemeliharaan.

4.6.1.3.114.
4.6.1.3.115.

Gambar 4.3 Kegiatan Perawatan Luar Masa Giling


4.6.1.3.116.

4.6.1.3.117. Pada kegiatan perawatan Luar Masa Giling (LMG) juga dilaksanakan
pemeriksaan dengan menggunakan Non Destructive Test (NDT) . NDT dilakukan oleh
tim khusus dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) untuk mengetahui apakah
terdapat keretakan pada beberapa komponen terutama poros, roda gigi dan bearing
dengan tahapan berikut:
1) Pengolesan solar terhadap komponen yang akan diperiksa kemudian dibersihkan
2) Penyemprotan cat warna merah melapisi seluruh bagian komponen secara merata,
tunggu beberapa saat untuk dibersihkan kembali
3) Penyemprotan cat warna putih melapisi seluruh bagian komponen secara merata
4) Penyinaran permukaan komponen untuk mengetahui apakah masih ada cat merah
yang meresap pada permukaan komponen sebagai indikasi terdapat retakan pada
kompoenen tersebut.

50

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6.1.3.118. Apabila tampak terjadi keretakan yang muncul maka perlu dilakukan
pertimbangkan apakah perlu perbaikan atau penggantian terhadap komponen tersebut.

4.6.1.3.119.

4.6.1.3.120. Gambar 4.4 Non Destructive Test


4.6.1.3.121.

Break Down Maintenance (BDM)


4.6.1.3.122. BDM dilaksanakan jika terdapat kerusakan yang tidak diperkirakan
sebelumnya pada mesin/peralatan.
4.6.1.3.123. Pemeliharaan ini sedapat mungkin harus dihindari karena
ketersediaan suku cadang pengganti dan jumlah pekerja yang belum tentu dapat
memenuhi kebutuhan ketika terjadi kerusakan peralatan/mesin.
4.6.1.3.124.

51

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6.1.3.124.1. Penjadwalaan Pemeliharaan Luar Masa Giling


4.6.1.3.125.Aktivitas pemeliharaan luar masa giling terbagi menjadi empat tahapan yaitu pembersihan, pembongkaran, revisi
dan pemasangan. Penjadwalan kegiatan pemeliharaan luar masa giling diperhitungkan berdasarkan Man Days (jumlah kebutuhan
pekerja per-hari) pada setiap aktivitas pemeliharaan. Berikut ini adalah perhitungan mandays luar masa giling tahun 2013/204 pada
stasiun gilingan:
4.6.1.3.126. Tabel 4.6 Perhitungan Mandays
4.6.1.3.130.
4.6.1.3.127.4.6.1.3.128.

Uraian

Waktu yang

dibutuhkan (D)
4.6.1.3.129.
4.6.1.3.141.
Ma 4.6.1.3.139. 4.6.1.3.140.

4.6.1.3.132.

4.6.1.3.135.

Waktu
4.6.1.3.131.
4.6.1.3.133.

Mandays

Unit battery

4.6.1.3.149.
4.6.1.3.150. 4.6.1.3.151.
4.6.1.3.152.

4.6.1.3.145.
Tersedia 4.6.1.3.144.
Dibutuhka
4.6.1.3.134. Tersedia
n
(D)
4.6.1.3.153.
4.6.1.3.155. 4.6.1.3.156.

1
gilingan & kelengkapannya
4.6.1.3.158.
4.6.1.3.159.
Unit

7
61
77
82
4.6.1.3.160.
4.6.1.3.161. 4.6.1.3.162.
4.6.1.3.163.

220
770
1540
4.6.1.3.164.
4.6.1.3.154. 4.6.1.3.166. 4.6.1.3.167.

770
4.6.1.3.168.

2
Transportasi
4.6.1.3.169.
4.6.1.3.170.

9
42
62
70
4.6.1.3.171.
4.6.1.3.172. 4.6.1.3.173.
4.6.1.3.174.

174
110
4.6.1.3.175.

990
1566
4.6.1.3.177. 4.6.1.3.178.

576
4.6.1.3.179.

5
33
74
70
4.6.1.3.182.
4.6.1.3.183. 4.6.1.3.184.
4.6.1.3.185.

177
550
885
4.6.1.3.186.
4.6.1.3.187. 4.6.1.3.188. 4.6.1.3.189.

335
4.6.1.3.190.

No

Pekerjaan

4.6.1.3.147.
4.6.1.3.148.

Prime Mover

3
4.6.1.3.180.
4.6.1.3.181.

JUMLAH

21

Bongka

Revis

Pemasangan

136

213

222

Total

571

110

2310

4.6.1.3.191. Keterangan :
Waktu yang dibutuhkan ditentukan oleh asisten manager untuk masing-masing uraian pekerjaan.
Waktu tersedia merupakan total hari kerja pada luar masa giling
Mandays yang dibutuhkan diperoleh dari total waktu yang dibutuhkan dikali 7 pekerja
4.6.1.3.192.
*missal mandays unit battery gilingan & kelengkapannya = 220 x 7 =1540 orang
4.6.1.3.193. Kekurangan mandays dipenuhi dari :
Borongan Pembersihan
= 8 man x 5 days
= 40
Borongan Pembongkaran
= 12 man x 6 days
= 72
Tenaga harian
= 13 man x 74 days
= 962
Lembur
= 2,5 Hours x 50 Days/7 = 607
52

3991

4.6.1.3.146.
Kurang
4.6.1.3.157.

1681

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6.1.3.194. Borongan merupakan proyek yang dikerjakan oleh Pihak ke III


4.6.1.3.195. Maka total pemenuhan kekurangan sebesar 1681 mandays
4.6.1.3.196. Berikut adalah penjadwalan pemeliharaan luar masa giling stasiun gilingan:
4.6.1.3.197.
4.6.1.3.198.
4.6.1.3.199.
4.6.1.3.210.
4.6.1.3.209.
No.

4.6.1.3.200.
4.6.1.3.201.

Sco
pe
Pekerjaa
n

4.6.1.3.211.
MD
4.6.1.3.228.

Tabel 4.4 Penjadwalan Pemeliharaan Luar Masa Giling Stasiun Gilingan


4.6.1.3.202. 4.6.1.3.203.
Bobot
Des

4.6.1.3.204.
Jan

4.6.1.3.205.
Februari

4.6.1.3.206.
Maret

4.6.1.3.207.
A 4.6.1.3.208.
pril
Mei

4.6.1.3.213.
4.6.1.3.214.
4.6.1.3.215.
4.6.1.3.216.
4.6.1.3.217.
4.6.1.3.218.
4.6.1.3.219.
4.6.1.3.220.
4.6.1.3.221.
4.6.1.3.222.4.6.1.3.223.
4.6.1.3.224.
4.6.1.3.212. I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X
XI XII
%

4.6.1.3.232.
4.6.1.3.233.
4.6.1.3.234.
4.6.1.3.235.
4.6.1.3.236.
4.6.1.3.237.
4.6.1.3.238.
4.6.1.3.239.
4.6.1.3.240.
4.6.1.3.241.4.6.1.3.242.
4
8
11
13
13
11
13
12
4
8
110

4.6.1.3.231.
4.6.1.3.259.

Steam Test 01

Awal giling 16

4.6.1.3.247.

4.6.1.3.258.

4.6.1.3.229.
4.6.1.3.225.
4.6.1.3.227.
4.6.1.3.226.
4.6.1.3.230.
4.6.1.3.243.
4.6.1.3.245.
4.6.1.3.246.
4.6.1.3.244.
4.6.1.3.261.
Batt
4.6.1.3.260.
ery
4.6.1.3.262.
1.
gilingan
1,540
4.6.1.3.276.
4.6.1.3.278.
4.6.1.3.279.
4.6.1.3.277.
4.6.1.3.293.
4.6.1.3.295.
4.6.1.3.296.
4.6.1.3.294.
4.6.1.3.310.
4.6.1.3.311.
Tran 4.6.1.3.312.
2.
sportasi
1,566

4.6.1.3.263. 4.6.1.3.248.
4.6.1.3.249.
4.6.1.3.250.
4.6.1.3.251.
4.6.1.3.252.
4.6.1.3.253.
4.6.1.3.254.
4.6.1.3.255.
4.6.1.3.256.
4.6.1.3.257.
38.59 1,40
2,81
3,86
4,65
4,56
3,86
4,56
4,21
4,65
4,21
4.6.1.3.280. 4.6.1.3.281.
4.6.1.3.282.
4.6.1.3.283.
4.6.1.3.284.
4.6.1.3.285.
4.6.1.3.286.
4.6.1.3.287.
4.6.1.3.288.
4.6.1.3.289.
4.6.1.3.290.
4.6.1.3.297. 4.6.1.3.298.
4.6.1.3.299.
4.6.1.3.300.
4.6.1.3.301.
4.6.1.3.302.
4.6.1.3.303.
4.6.1.3.304.
4.6.1.3.305.
4.6.1.3.306.
4.6.1.3.307.
1,43
2,85
3,92
4,64
4,64
3,92
4,64
4,28
4,264
4,28
4.6.1.3.313.
39.24

53

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
4.6.1.3.326.
4.6.1.3.328.
4.6.1.3.329.
4.6.1.3.327.
4.6.1.3.343.
4.6.1.3.345.
4.6.1.3.346.
4.6.1.3.344.
4.6.1.3.360.
4.6.1.3.362.
4.6.1.3.363.
4.6.1.3.361.
4.6.1.3.377.
4.6.1.3.378.
Pri
4.6.1.3.379.
3.
me mover
885
4.6.1.3.393.
4.6.1.3.395.
4.6.1.3.396.
4.6.1.3.394.
4.6.1.3.410.
4.6.1.3.412.
4.6.1.3.413.
4.6.1.3.411.
4.6.1.3.428.
J
4.6.1.3.427.
UML 4.6.1.3.429.
4.6.1.3.430.
AH
3,991
4.6.1.3.445.
JU
4.6.1.3.444.
MLAH
4.6.1.3.446.
TOTAL

4.6.1.3.330.
4.6.1.3.347. 4.6.1.3.331.
4.6.1.3.332.
4.6.1.3.333.
4.6.1.3.334.
4.6.1.3.335.
4.6.1.3.336.
4.6.1.3.337.
4.6.1.3.338.
4.6.1.3.339.
4.6.1.3.340.
4.6.1.3.364.
4.6.1.3.380. 4.6.1.3.365.
4.6.1.3.366.
4.6.1.3.367.
4.6.1.3.368.
4.6.1.3.369.
4.6.1.3.370.
4.6.1.3.371.
4.6.1.3.372.
4.6.1.3.373.
4.6.1.3.374.
22.17 0,81
1,61
2,22
2,62
2,62
2,22
2,62
2,42
2,62
2,42
4.6.1.3.397.
4.6.1.3.414. 4.6.1.3.398.
4.6.1.3.399.
4.6.1.3.400.
4.6.1.3.401.
4.6.1.3.402.
4.6.1.3.403.
4.6.1.3.404.
4.6.1.3.405.
4.6.1.3.406.
4.6.1.3.407.

4.6.1.3.431. 4.6.1.3.432.
4.6.1.3.433.
4.6.1.3.434.
4.6.1.3.435.
4.6.1.3.436.
4.6.1.3.437.
4.6.1.3.438.
4.6.1.3.439.
4.6.1.3.440.
4.6.1.3.441.
100.00 3,64
7,27
10,00
11,82 11,82
10,00 11,82
10,91 11,82
10,91
4.6.1.3.447. 4.6.1.3.448.
4.6.1.3.449.
4.6.1.3.450.
4.6.1.3.451.
4.6.1.3.452.
4.6.1.3.453.
4.6.1.3.454.
4.6.1.3.455.
4.6.1.3.456.
4.6.1.3.457.4.6.1.3.458.
4.6.1.3.459.
3,64
10,91 20,91
32,73 44,55
54,55 63,36
77,27 89,09
100,00

4.6.1.3.460.
4.6.1.3.461. Keterangan :
Penjelasan pembagian kegiatan :
4.6.1.3.462.

4.6.1.3.464.

Pembersihan

4.6.1.3.463.
4.6.1.3.467.

4.6.1.3.465.

Pembongkaran

4.6.1.3.466.
4.6.1.3.470.

4.6.1.3.468.

Revisi

4.6.1.3.469.
4.6.1.3.473.

4.6.1.3.471.

Pemasangan

4.6.1.3.472.

4.6.1.3.474.
4.6.1.3.475.
Perhitungan bobot
4.6.1.3.476. Bobot = (Mandays per scope pekerjaan : Jumlah Mandays X 100 %)
Perhitungan persentase tiap periode
4.6.1.3.477. Persentase tiap periode = bobot : waktu tersedia LMG x jumlah hari aktif per periode
54

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6.1.3.478.

*contoh : periode I bulan desember pekerjaan battey gilingan = 38,59 : 110 x 4 =1,40

4.6.1.3.479.

55

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6.1.3.480. Pencatatan Pemeliharaan


4.6.1.3.481. Kegiatan pemeliharaan tercatat pada masing-masing permesinan melalui
kartu pemeliharaan. Kartu pemeliharaan memiliki konsep yang sama dengan kartu riwayat
mesin, namun pada kartu pemeliharaan tidak dikelompokkan secara spesifik perawatan yang
dilakukan meliputi pembersihan, perbaikan atau penggantian. Namun yang terdapat dalam
kartu pemeliharaan tidak mencatat mengenai pengecekan berkala terhadap kondisi komponen
ataupun peralatan. Sehingga sebaiknya diperlukan pelengkap kartu pemeliharaan yaitu kartu
pemeriksaan. Berikut adalah tampilan kartu pemeliharaan.

4.6.1.4.

4.6.1.3.482.
Gambar 4.5 Kartu Pemeliharaan
4.6.1.3.483.
Pengadaan, Penyimpanan dan Perbaikan Ringan Permesinan dan Suku

Cadang
4.6.1.4.1.

Berikut ini adalah langkah kegiatan pengadaan dan penyimpanan

permesinan dan suku cadang.


4.6.1.4.2.
4.6.1.4.3.
Pengadaan Permesinan
4.6.1.4.4. Secara garis besar berikut pembagian sistem pengadaan barang:
a. Proses permintaan barang dan jasa secara lokal
4.6.1.4.5. Proses permintaan barang dan jasa secara local atas dasar RKAP kemudian
dibreakdown setiap bulannya melalui PMK (Peremintaan Modal Kerja) atau surat
pengajuan tersendiri (ijin prinsip) masing-masing stasisun di bagian instalasi, kemudian

56

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

diserahkan ke bagian AK& U Sub Bagian Perencanaan dan Pengawasan yang


selanjutnya dikirm ke direksi.
4.6.1.4.6. Setelah PMK disetujui oleh direksi dan masing-masing bagian
mendapatkan tindasan, selanjutnya dibuat MKB (Memo Kebutuhan Barang) yang
ditandatangani oleh Asisten Manager sub bagian dan disetujuik Kepala Bagian Instalasi.
Kemudian direncanakan ke bagian Perencanaan dan Pengawasan untuk disetujui oleh
Kepala Bagian AK&U untuk diberi dana. Setelah itu diserahkan ke bagian sekretaris
umum untuk

direalisasi pembeliaannya

secara langsung/lokal

sesuai

dengan

barang/bahan yang diminta/dipesan.


b. Proses permintaan barang dan jasa melalui SP
4.6.1.4.7. Proses permintaan barang / bagan dan jasa melalui SP Direksi atas dasar
RKAP kemudian dibreakdown setiap bulannya melalui PMK atas pengajuan tersendiri
(ijin prinsip) masing-masing stasiun di Bagian Instalasi. Kemudian diserahkan ke bagian
AK&U yang selanjutnya dikirim ke direksi bidang PPAB (Perencanaan dan
Pengendalian Anggaran Belanja).
4.6.1.4.8. Setelah PMK disetujui oleh direksi dan masing-masing bagian
mendapatkan tindasan, selanjutnya barang/bahan dan jasa yang diminta dikirim oleh
direksi sesuai dengan jumlah permintaan, mutu/kualitas, waktu dan tempat. Kemudian
untuk realisasi pengadaaan barang/ bahan dan jasa langsung ditangani oleh direksi
melalui SP Direksi.
c. Alur Kerja Pengadaan Barang
1) User berserta tim membuat HPS (Harga perkiraan Sendiri) untuk disetujui oleh
administrator
2) User membuat MKB disesuaikan dengan RKAP dan PMK
3) MKB beserta HPS yang dibuat kemudian diserahkan kabag untuk dikoreksi dan
diparaf
4) MKB yang telah diparaf oleh kabag user kemudian dicek ketersediaan barangnya di
bagian gudang, kemudian diparaf oleh kabag gudang
5) Setelah dicek di bagian gudang, MKB tersebut diperiksa ketersediaan dananya di
bagian Perencanaan dan Pengawasan kemudan diparaf oleh Asisten Manager
Perencanaan dan Pengawasan
6) Diperiksa kembali oleh Kabag AK&U kemudian minta persetujuan dari administrator
7) Setelah disetujui adminstratur, form MKB beserta HPS tersebut diberikan ke bagian
sekum untuk pembelian barang.

57

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6.1.4.9.

Alur pengadaan barang pada Pabrik Gula Tjoekir seringkali menimbulkan

waktu tunggu kedatangan yang cukup lama untuk dapat memenuhi kebutuhan penggantian
ataupun perbaikan mesin. Berdasarkan alur tersebut kedatangan barang belum tentu sesuai
dengan spesifikasi yang dibutukan oleh bagian instalasi dikarenakan pembelanjaan dilakukan
oleh pihak sekum di bagian AK&U.
4.6.1.4.10. Berberapa kebijakan ditempuh oleh bagian instalasi dalam sistem pengadaan
barang khususnya permesinan dan spare-part yang dibutuhkan oleh bagian instalasi terbagi
atas beberapa kebijakan yaitu:
Kebijakan rawat ganti
4.6.1.4.11. Kebijakan rawat ganti diberlakukan pada permesinan yang kinerjanya sudah
menurun dikarenakan terjadi beberapa kerusakan seperti keretakan, pecah dan beberapa
kerusakan lain yang menuntut penggantian baru. Namun permesinan yang kondisinya sudah
menurun dan tidak dipakai lagi masuk ke dalam gudang untuk disimpan sebagai cadangan
apabila mesin pengganti rusak di saat tidak terduga atau diberikan kepada pabrik gula di
wilayah lain yang membutuhkan.
Kebijakan rawat sendiri
4.6.1.4.12. Kebijakan ini melakukan perawatan ringan bagi beberapa permesinan
sehingga perlu disediakan beberapa cadangan spare-part. Misalnya seperti penyediaan poros,
baut, dan mur.
Kebijakan pembuatan sendiri
4.6.1.4.13. Beberapa permesinan memiliki komponen yang mudah aus sehingga
memerlukan penggantian komponen tersebut secara rutin, missal poros dan roda gigi. Hal
tersebut menimbulkan kebijakan untuk pembuatan sendiri komponen permesinan pada stasiun
besali dengan bahan-bahan yang dipesankan secara khusus oleh user yang bersangkutan atau
yang sudah tersedia di gudang.
4.6.1.4.14.
4.6.1.4.15. Penyimpanan Permesinan dan Spare Part
4.6.1.4.16. Pada Pabrik Gula Tjoekir, penyimpanan di gudang terbagi menjadi
penyimpanan spare part dan permesinan. Tahapan penyimpanan di gudang mengikuti alur
pengadaan barang, dalam hal ini gudang hanya menerima, merekap keluar dan masuknya
spare part berdasarkan kebutuhan user.
4.6.1.4.17. Sistem penyimpanan spare part diklasifikasikan berdasarkan jenis pada
masing-masing rak dengan penandaan kode rak dan setiap kumpulan spare-part ditandai
dengan label seperti gambar di bawah ini.

58

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
4.6.1.4.18.

4.6.1.4.19. Gambar 4.6 Kode Rak dan Label Gudang

4.6.1.4.20.
4.6.1.4.21. Pada label gudang terdapat nomor / kode barang, nama barang, satuan,
persedian minimum, nomer gudang, ukuran serta arsip tanggal keluar masuk dan stok
barang di gudang. Sedangkan pada permesinan tidak ditata secara spesifik berdasarkan
jenis dan kegunaannya. Dalam penyimpanan spare-part maupun permesinan di gudang
tidak dilakukan perawatan juga secara intensif. Hal ini terjadi dikarenakan operator di
gudang hanya 3.
4.6.1.4.22. Sejauh ini tidak terdapat permasalahan yang serius dialami oleh pihak
stasiun gilingan maupun pergudangan, namun akan lebih baik apabila dilakukan
perawatan terhadap spare-part maupun permesinan yang terdapat di gudang secara rutin
sehingga ketika dibutuhkan dapat memiliki performansi yang optimal.
4.6.1.4.23.
4.6.1.4.24. Perbaikan Ringan Permesinan dan Spare-Part
4.6.1.4.25. Kegiatan perbaikan ringan yang dilakukan di Stasiun Besali meliputi
pembubutan, pengeboran, milling dan pemotongan. Komponen permesinan yang rusak
dibawa menuju ke Stasiun Besali dengan disertai blangko yang berisi spesifikasi perbaikan
yang diharapkan.
4.6.1.4.26.

59

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6.1.4.27.
4.6.1.4.28. Gambar 4.7 Blangko Besali dan Kegiatan Perbaikan di Besali
4.6.1.4.29.
4.6.1.4.30. Kegiatan perbaikan ringan di Besali masih menggunakan mesin-mesin
konvensional dengan tenaga operator hanya 9 orang tetap dan 6 harian.
4.6.1.4.31.
4.6.1.4.32.

60

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6.1.5.
Permasalahan pada Stasiun Gilingan
4.6.1.5.1.
Berikut adalah rekapan jam henti yang terjadi pada stasiun gilingan periode giling 2013
4.6.1.5.2. Tabel 4.8 Jam Henti Stasiun Gilingan
4.6.1.5.5. P
e
r
i
o
d
e
4.6.1.5.3.
No
4.6.1.5.4. Permasalahan
4.6.1.5.17.
1 4.6.1.5.18.
Gilingan III trip
4.6.1.5.31.
2 4.6.1.5.32.
Gilingan IV trip
4.6.1.5.45.
3 4.6.1.5.46.
Pembersihan rotary screen
4.6.1.5.59.
4.6.1.5.60.
Pembersihan saringan rotari
4
cus cus
4.6.1.5.73.
5 4.6.1.5.74.
Hammer Unigrator Macet
4.6.1.5.87.
4.6.1.5.88.
Hammer Unigrator putus 1
6
biji
4.6.1.5.101.
7 4.6.1.5.102.
IMC I Keluar jalur
4.6.1.5.115.
8 4.6.1.5.116.
IMC I Getar
4.6.1.5.129.
9 4.6.1.5.130.
IMC I Trip
4.6.1.5.143.
10 4.6.1.5.144.
IMC III Putus
4.6.1.5.157.
11 4.6.1.5.158.
IMC III Trip
4.6.1.5.171.
12 4.6.1.5.172.
IMC IV Getar

4.6.1.5.6. 4.6.1.5.7. 4.6.1.5.8. 4.6.1.5.9. 4.6.1.5.10. 4.6.1.5.11. 4.6.1.5.12.


0 Periode Periode Periode Periode Period Periode Periode
1
4.6.1.5.19. 4.6.1.5.20. 4.6.1.5.21. 4.6.1.5.22. 4.6.1.5.23. 4.6.1.5.24. 4.6.1.5.25. 4.6.1.5.26.
0.17
4.6.1.5.33. 4.6.1.5.34. 4.6.1.5.35. 4.6.1.5.36. 4.6.1.5.37. 4.6.1.5.38. 4.6.1.5.39. 4.6.1.5.40.
0.08
4.6.1.5.47. 4.6.1.5.48. 4.6.1.5.49. 4.6.1.5.50. 4.6.1.5.51. 4.6.1.5.52. 4.6.1.5.53. 4.6.1.5.54.
4.6.1.5.61.
4.6.1.5.75.
0.67
4.6.1.5.89.
4.6.1.5.103.
0.33
4.6.1.5.117.
4.6.1.5.131.
0.17
4.6.1.5.145.
4.6.1.5.159.
4.6.1.5.173.

61

4.6.1.5.13. 4.6.1.5.14. 4.6.1.5.15. 4.6.1.5.16.


Period Periode Periode Grand

4.6.1.5.27. 4.6.1.5.28. 4.6.1.5.29. 4.6.1.5.30.


0.17
4.6.1.5.41. 4.6.1.5.42. 4.6.1.5.43. 4.6.1.5.44.
0.08
4.6.1.5.55. 4.6.1.5.56. 4.6.1.5.57. 4.6.1.5.58.
0.17
0.17
4.6.1.5.62. 4.6.1.5.63. 4.6.1.5.64. 4.6.1.5.65. 4.6.1.5.66. 4.6.1.5.67. 4.6.1.5.68. 4.6.1.5.69. 4.6.1.5.70. 4.6.1.5.71. 4.6.1.5.72.
0.08
0.08
4.6.1.5.76. 4.6.1.5.77. 4.6.1.5.78. 4.6.1.5.79. 4.6.1.5.80. 4.6.1.5.81. 4.6.1.5.82. 4.6.1.5.83. 4.6.1.5.84. 4.6.1.5.85. 4.6.1.5.86.
0.67
4.6.1.5.90. 4.6.1.5.91. 4.6.1.5.92. 4.6.1.5.93. 4.6.1.5.94. 4.6.1.5.95. 4.6.1.5.96. 4.6.1.5.97. 4.6.1.5.98. 4.6.1.5.99. 4.6.1.5.100.
1.08
1.08
4.6.1.5.104.4.6.1.5.105.4.6.1.5.106.4.6.1.5.107.4.6.1.5.108.4.6.1.5.109.4.6.1.5.110.4.6.1.5.111.4.6.1.5.112.4.6.1.5.113.4.6.1.5.114.
0.92
1.00
1.58
3.83
4.6.1.5.118.4.6.1.5.119.4.6.1.5.120.4.6.1.5.121.4.6.1.5.122.4.6.1.5.123.4.6.1.5.124.4.6.1.5.125.4.6.1.5.126.4.6.1.5.127.4.6.1.5.128.
0.17
1.00
1.17
4.6.1.5.132.4.6.1.5.133.4.6.1.5.134.4.6.1.5.135.4.6.1.5.136.4.6.1.5.137.4.6.1.5.138.4.6.1.5.139.4.6.1.5.140.4.6.1.5.141.4.6.1.5.142.
0.17
0.17
0.50
4.6.1.5.146.4.6.1.5.147.4.6.1.5.148.4.6.1.5.149.4.6.1.5.150.4.6.1.5.151.4.6.1.5.152.4.6.1.5.153.4.6.1.5.154.4.6.1.5.155.4.6.1.5.156.
0.33
0.33
4.6.1.5.160.4.6.1.5.161.4.6.1.5.162.4.6.1.5.163.4.6.1.5.164.4.6.1.5.165.4.6.1.5.166.4.6.1.5.167.4.6.1.5.168.4.6.1.5.169.4.6.1.5.170.
0.50
0.83
0.33
1.67
4.6.1.5.174.4.6.1.5.175.4.6.1.5.176.4.6.1.5.177.4.6.1.5.178.4.6.1.5.179.4.6.1.5.180.4.6.1.5.181.4.6.1.5.182.4.6.1.5.183.4.6.1.5.184.
0.17
0.17

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
4.6.1.5.185.
13 4.6.1.5.186.
IMC no 1 Slip
4.6.1.5.199.
14 4.6.1.5.200.
IMC NO 2 Trip
4.6.1.5.213.
4.6.1.5.214.
Kipas Motor Penggerak
15
Gilingan I Trip
4.6.1.5.227.
16 4.6.1.5.228.
Kontrol Pisau Cane Cutter 1
4.6.1.5.241.
4.6.1.5.242.
Kopel Move Gilingan I
17
Pecah
4.6.1.5.255.
4.6.1.5.256.
Kopel transmisi crane
18
modot
4.6.1.5.269.
4.6.1.5.270.
Motor Penggerak Gilingan I
19
Trip
4.6.1.5.283.
4.6.1.5.284.
Motor Penggerak Gilingan I
20
Troubel
4.6.1.5.297.
4.6.1.5.298.
Motor Screw Rotari Trip +
21
Ngelas As Screw
4.6.1.5.311.
22 4.6.1.5.312.
Motor CC II Trouble
4.6.1.5.325.
4.6.1.5.326.
Pengait baut Blok Sproket
23
CC II
4.6.1.5.339.
24 4.6.1.5.340.
Pengait baut gilingan I

4.6.1.5.187. 4.6.1.5.188.4.6.1.5.189.4.6.1.5.190.4.6.1.5.191.4.6.1.5.192.4.6.1.5.193.4.6.1.5.194.4.6.1.5.195.4.6.1.5.196.4.6.1.5.197.4.6.1.5.198.
0.42
0.42
4.6.1.5.201. 4.6.1.5.202.4.6.1.5.203.4.6.1.5.204.4.6.1.5.205.4.6.1.5.206.4.6.1.5.207.4.6.1.5.208.4.6.1.5.209.4.6.1.5.210.4.6.1.5.211.4.6.1.5.212.
0.08
0.08
4.6.1.5.215. 4.6.1.5.216.4.6.1.5.217.4.6.1.5.218.4.6.1.5.219.4.6.1.5.220.4.6.1.5.221.4.6.1.5.222.4.6.1.5.223.4.6.1.5.224.4.6.1.5.225.4.6.1.5.226.
0.50
0.50
4.6.1.5.229. 4.6.1.5.230.4.6.1.5.231.4.6.1.5.232.4.6.1.5.233.4.6.1.5.234.4.6.1.5.235.4.6.1.5.236.4.6.1.5.237.4.6.1.5.238.4.6.1.5.239.4.6.1.5.240.
0.25
0.25
4.6.1.5.243. 4.6.1.5.244.4.6.1.5.245.4.6.1.5.246.4.6.1.5.247.4.6.1.5.248.4.6.1.5.249.4.6.1.5.250.4.6.1.5.251.4.6.1.5.252.4.6.1.5.253.4.6.1.5.254.
2.00
2.00
4.6.1.5.257. 4.6.1.5.258.4.6.1.5.259.4.6.1.5.260.4.6.1.5.261.4.6.1.5.262.4.6.1.5.263.4.6.1.5.264.4.6.1.5.265.4.6.1.5.266.4.6.1.5.267.4.6.1.5.268.
0.33
0.33
4.6.1.5.271. 4.6.1.5.272.4.6.1.5.273.4.6.1.5.274.4.6.1.5.275.4.6.1.5.276.4.6.1.5.277.4.6.1.5.278.4.6.1.5.279.4.6.1.5.280.4.6.1.5.281.4.6.1.5.282.
1.92
0.50
4.02
0.25
6.68
4.6.1.5.285. 4.6.1.5.286.4.6.1.5.287.4.6.1.5.288.4.6.1.5.289.4.6.1.5.290.4.6.1.5.291.4.6.1.5.292.4.6.1.5.293.4.6.1.5.294.4.6.1.5.295.4.6.1.5.296.
0.42
0.42
4.6.1.5.299. 4.6.1.5.300.4.6.1.5.301.4.6.1.5.302.4.6.1.5.303.4.6.1.5.304.4.6.1.5.305.4.6.1.5.306.4.6.1.5.307.4.6.1.5.308.4.6.1.5.309.4.6.1.5.310.
1.25
1.25
4.6.1.5.313. 4.6.1.5.314.4.6.1.5.315.4.6.1.5.316.4.6.1.5.317.4.6.1.5.318.4.6.1.5.319.4.6.1.5.320.4.6.1.5.321.4.6.1.5.322.4.6.1.5.323.4.6.1.5.324.
0.17
0.17
4.6.1.5.327. 4.6.1.5.328.4.6.1.5.329.4.6.1.5.330.4.6.1.5.331.4.6.1.5.332.4.6.1.5.333.4.6.1.5.334.4.6.1.5.335.4.6.1.5.336.4.6.1.5.337.4.6.1.5.338.
0.08
0.08
4.6.1.5.341. 4.6.1.5.342.4.6.1.5.343.4.6.1.5.344.4.6.1.5.345.4.6.1.5.346.4.6.1.5.347.4.6.1.5.348.4.6.1.5.349.4.6.1.5.350.4.6.1.5.351.4.6.1.5.352.
0.08
0.08

4.6.1.5.353.
4.6.1.5.354.
No

4.6.1.5.355.

Permasalahan

4.6.1.5.368.
4.6.1.5.369.
Pengait pengaman as
25
penghubung gllingan 1
4.6.1.5.382.
4.6.1.5.383.
Pengelasan blok pondasi
26
Carrier I
4.6.1.5.396.
27 4.6.1.5.397.
Pengelasan Rotari Cus-Cus
4.6.1.5.410.
4.6.1.5.411.
Pasang lampu alarm motor
28
gilingan1
4.6.1.5.424.
4.6.1.5.425.
Pasang sensor Gilingan I

Tabel 4.8 Jam Henti Stasiun Gilingan

4.6.1.5.356.
4.6.1.5.357.4.6.1.5.358.4.6.1.5.359.4.6.1.5.360.4.6.1.5.361.4.6.1.5.362.4.6.1.5.363.4.6.1.5.364.4.6.1.5.365.4.6.1.5.366.4.6.1.5.367.
Periode
Periode Periode Periode Periode Period Periode Periode Period Periode Periode Grand
0
1
4.6.1.5.370. 4.6.1.5.371.4.6.1.5.372.4.6.1.5.373.4.6.1.5.374.4.6.1.5.375.4.6.1.5.376.4.6.1.5.377.4.6.1.5.378.4.6.1.5.379.4.6.1.5.380.4.6.1.5.381.
0.17
0.17
4.6.1.5.384. 4.6.1.5.385.4.6.1.5.386.4.6.1.5.387.4.6.1.5.388.4.6.1.5.389.4.6.1.5.390.4.6.1.5.391.4.6.1.5.392.4.6.1.5.393.4.6.1.5.394.4.6.1.5.395.
0.08
0.08
4.6.1.5.398. 4.6.1.5.399.4.6.1.5.400.4.6.1.5.401.4.6.1.5.402.4.6.1.5.403.4.6.1.5.404.4.6.1.5.405.4.6.1.5.406.4.6.1.5.407.4.6.1.5.408.4.6.1.5.409.
0.25
0.25
4.6.1.5.412. 4.6.1.5.413.4.6.1.5.414.4.6.1.5.415.4.6.1.5.416.4.6.1.5.417.4.6.1.5.418.4.6.1.5.419.4.6.1.5.420.4.6.1.5.421.4.6.1.5.422.4.6.1.5.423.
0.33
0.33
4.6.1.5.426. 4.6.1.5.427.4.6.1.5.428.4.6.1.5.429.4.6.1.5.430.4.6.1.5.431.4.6.1.5.432.4.6.1.5.433.4.6.1.5.434.4.6.1.5.435.4.6.1.5.436.4.6.1.5.437.

62

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
29
4.6.1.5.438.
30 4.6.1.5.439.
Pasang spre rotari screen
4.6.1.5.452.
31 4.6.1.5.453.
Pembenahan CC I
4.6.1.5.466.
4.6.1.5.467.
Perbaikan oli turbin
32
gilingan. IV
4.6.1.5.480.
33 4.6.1.5.481.
Perbaikan Rotary Cus-cus
4.6.1.5.494.
4.6.1.5.495.
Perbaikan Scraper Gilingan
34
2
4.6.1.5.508.
35 4.6.1.5.509.
Perbaikan Suri Gilingan III
4.6.1.5.522.
4.6.1.5.523.
Perbaikan talang rotari chas36
chas
4.6.1.5.536.
4.6.1.5.537.
Pipa Penyangga Rotari Cus37
Cus Putus
4.6.1.5.550.
38 4.6.1.5.551.
Pisau Cane cutter putus
4.6.1.5.564.
39 4.6.1.5.565.
Pisau Cane Cutter I Putus
4.6.1.5.578.
4.6.1.5.579.
Ranfisisi pasak Gilingan 2
40
modot
4.6.1.5.592.
41 4.6.1.5.593.
Rantai IMC III Putus
4.6.1.5.606.
42 4.6.1.5.607.
rantai meja tebu los
4.6.1.5.620.
43 4.6.1.5.621.
Rantai meja tebu putus
4.6.1.5.634.
44 4.6.1.5.635.
Roxsel Gilingan I modot
4.6.1.5.648.
45 4.6.1.5.649.
Scraper Gilingan 2 gabol
4.6.1.5.662.
46 4.6.1.5.663.
Skep Gigi Guvenor Trouble
4.6.1.5.676.
47 4.6.1.5.677.
Suri Gilingan 1 Gabol

0.08
0.08
4.6.1.5.440. 4.6.1.5.441.4.6.1.5.442.4.6.1.5.443.4.6.1.5.444.4.6.1.5.445.4.6.1.5.446.4.6.1.5.447.4.6.1.5.448.4.6.1.5.449.4.6.1.5.450.4.6.1.5.451.
0.17
0.17
4.6.1.5.454. 4.6.1.5.455.4.6.1.5.456.4.6.1.5.457.4.6.1.5.458.4.6.1.5.459.4.6.1.5.460.4.6.1.5.461.4.6.1.5.462.4.6.1.5.463.4.6.1.5.464.4.6.1.5.465.
0.25
0.25
4.6.1.5.468. 4.6.1.5.469.4.6.1.5.470.4.6.1.5.471.4.6.1.5.472.4.6.1.5.473.4.6.1.5.474.4.6.1.5.475.4.6.1.5.476.4.6.1.5.477.4.6.1.5.478.4.6.1.5.479.
0.33
0.33
4.6.1.5.482. 4.6.1.5.483.4.6.1.5.484.4.6.1.5.485.4.6.1.5.486.4.6.1.5.487.4.6.1.5.488.4.6.1.5.489.4.6.1.5.490.4.6.1.5.491.4.6.1.5.492.4.6.1.5.493.
0.17
0.17
4.6.1.5.496. 4.6.1.5.497.4.6.1.5.498.4.6.1.5.499.4.6.1.5.500.4.6.1.5.501.4.6.1.5.502.4.6.1.5.503.4.6.1.5.504.4.6.1.5.505.4.6.1.5.506.4.6.1.5.507.
3.00
3.00
4.6.1.5.510. 4.6.1.5.511.4.6.1.5.512.4.6.1.5.513.4.6.1.5.514.4.6.1.5.515.4.6.1.5.516.4.6.1.5.517.4.6.1.5.518.4.6.1.5.519.4.6.1.5.520.4.6.1.5.521.
0.42
0.42
4.6.1.5.524. 4.6.1.5.525.4.6.1.5.526.4.6.1.5.527.4.6.1.5.528.4.6.1.5.529.4.6.1.5.530.4.6.1.5.531.4.6.1.5.532.4.6.1.5.533.4.6.1.5.534.4.6.1.5.535.
0.83
0.83
4.6.1.5.538. 4.6.1.5.539.4.6.1.5.540.4.6.1.5.541.4.6.1.5.542.4.6.1.5.543.4.6.1.5.544.4.6.1.5.545.4.6.1.5.546.4.6.1.5.547.4.6.1.5.548.4.6.1.5.549.
0.33
0.33
4.6.1.5.552. 4.6.1.5.553.4.6.1.5.554.4.6.1.5.555.4.6.1.5.556.4.6.1.5.557.4.6.1.5.558.4.6.1.5.559.4.6.1.5.560.4.6.1.5.561.4.6.1.5.562.4.6.1.5.563.
0.33
0.33
4.6.1.5.566. 4.6.1.5.567.4.6.1.5.568.4.6.1.5.569.4.6.1.5.570.4.6.1.5.571.4.6.1.5.572.4.6.1.5.573.4.6.1.5.574.4.6.1.5.575.4.6.1.5.576.4.6.1.5.577.
0.83
2.25
0.17
0.25
2.17
1.50
2.25
9.42
4.6.1.5.580. 4.6.1.5.581.4.6.1.5.582.4.6.1.5.583.4.6.1.5.584.4.6.1.5.585.4.6.1.5.586.4.6.1.5.587.4.6.1.5.588.4.6.1.5.589.4.6.1.5.590.4.6.1.5.591.
0.33
0.33
4.6.1.5.594. 4.6.1.5.595.4.6.1.5.596.4.6.1.5.597.4.6.1.5.598.4.6.1.5.599.4.6.1.5.600.4.6.1.5.601.4.6.1.5.602.4.6.1.5.603.4.6.1.5.604.4.6.1.5.605.
1.42
1.42
4.6.1.5.608. 4.6.1.5.609.4.6.1.5.610.4.6.1.5.611.4.6.1.5.612.4.6.1.5.613.4.6.1.5.614.4.6.1.5.615.4.6.1.5.616.4.6.1.5.617.4.6.1.5.618.4.6.1.5.619.
0.50
0.50
4.6.1.5.622. 4.6.1.5.623.4.6.1.5.624.4.6.1.5.625.4.6.1.5.626.4.6.1.5.627.4.6.1.5.628.4.6.1.5.629.4.6.1.5.630.4.6.1.5.631.4.6.1.5.632.4.6.1.5.633.
0.08
0.08
4.6.1.5.636. 4.6.1.5.637.4.6.1.5.638.4.6.1.5.639.4.6.1.5.640.4.6.1.5.641.4.6.1.5.642.4.6.1.5.643.4.6.1.5.644.4.6.1.5.645.4.6.1.5.646.4.6.1.5.647.
0.42
0.42
4.6.1.5.650. 4.6.1.5.651.4.6.1.5.652.4.6.1.5.653.4.6.1.5.654.4.6.1.5.655.4.6.1.5.656.4.6.1.5.657.4.6.1.5.658.4.6.1.5.659.4.6.1.5.660.4.6.1.5.661.
2.50
2.50
4.6.1.5.664. 4.6.1.5.665.4.6.1.5.666.4.6.1.5.667.4.6.1.5.668.4.6.1.5.669.4.6.1.5.670.4.6.1.5.671.4.6.1.5.672.4.6.1.5.673.4.6.1.5.674.4.6.1.5.675.
0.58
0.58
4.6.1.5.678. 4.6.1.5.679.4.6.1.5.680.4.6.1.5.681.4.6.1.5.682.4.6.1.5.683.4.6.1.5.684.4.6.1.5.685.4.6.1.5.686.4.6.1.5.687.4.6.1.5.688.4.6.1.5.689.
1.17
1.17

63

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
4.6.1.5.690.
4.6.1.5.691.
Tangkai Pisau Cane Cutter I
48
Putus
4.6.1.5.704.
49 4.6.1.5.705.
Turbin CC macet
4.6.1.5.718.
50 4.6.1.5.719.
Turbin CC I overload

4.6.1.5.692. 4.6.1.5.693.4.6.1.5.694.4.6.1.5.695.4.6.1.5.696.4.6.1.5.697.4.6.1.5.698.4.6.1.5.699.4.6.1.5.700.4.6.1.5.701.4.6.1.5.702.4.6.1.5.703.
0.67
0.67
4.6.1.5.706. 4.6.1.5.707.4.6.1.5.708.4.6.1.5.709.4.6.1.5.710.4.6.1.5.711.4.6.1.5.712.4.6.1.5.713.4.6.1.5.714.4.6.1.5.715.4.6.1.5.716.4.6.1.5.717.
0.75
0.75
4.6.1.5.720. 4.6.1.5.721.4.6.1.5.722.4.6.1.5.723.4.6.1.5.724.4.6.1.5.725.4.6.1.5.726.4.6.1.5.727.4.6.1.5.728.4.6.1.5.729.4.6.1.5.730.4.6.1.5.731.
0.58
0.58

4.6.1.5.732.
4.6.1.5.733. Dari tabel rekapan jam henti diketahui bahwa total jam henti dari stasiun gilingan sebesar 48.52 jam selama sepuluh periode giling
2013. Selanjutnya dapat disusun tabel Failure Mode Effect Analysis dari permasalahan yang belum teratasi pada masa giling 2013 berikut:
4.6.1.5.734.
4.6.1.5.735.

Tabel 4.9 Failure Mode Effect Analysis

4.6.1.5.736.
Pr
occes
Functio
n
Require
ments

4.6.1.5.737.
P
otential
Failure
Mode

4.6.1.5.738.
Pote
ntial Effect
of Failure

4.6.1.5.739.
4.6.1.5.740.
Potential
S
Cause of
Mechanism Failure

4.6.1.5.747.
Cr
ane
Unloadi
ng :
4.6.1.5.748.
un

4.6.1.5.749.
C
rane
unloadi
ng, roda
aus dan

4.6.1.5.750.
Mem
unculkan
waktu jam
henti

4.6.1.5.751.
4.6.1.5.752.
2

64

Usia teknis

4.6.1.5.741.
4.6.1.5.742.
O
Current
P
r
o
c
e
s
s
C
o
n
t
r
o
l
s
4.6.1.5.753.
4.6.1.5.754.
2
Inspeksi

4.6.1.5.743.
4.6.1.5.744.
4.6.1.5.745.
Reco
D RP
mmended
Action

4.6.1.5.746.
Pelaksana

4.6.1.5.755.
4.6.1.5.756.
4.6.1.5.757.
Penga
5 20
daan baru

4.6.1.5.758.
Pihak ke
I
I
I

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
tuk
melepas
atau
mengan
gkat
tebu dari
truk
menuju
cane
table
dan
menuju
ke cane
carrier
4.6.1.5.759.
C
ane
carrier I
4.6.1.5.760.
Pe
nghantar
an tebu
dari
meja
tebu
menuju
ke cane
cutter
kemudia
n
menuju
ke
unigrato
r
4.6.1.5.785.
C
ane

bearing
rusak

4.6.1.5.761.
Sl
at
Carrier
&
Rantai
Gaston
Cane
Carrier
1 Aus
4.6.1.5.774.
Sl
at
Carrier
&
Rantai
Gaston
Cane
Carrier
2 Aus
4.6.1.5.787.
Pi
sau

4.6.1.5.762.
Mem
unculkan
waktu jam
henti

4.6.1.5.763.
4.6.1.5.764.
2 4.6.1.5.765.

Usia Teknis

4.6.1.5.766.
4.6.1.5.767. 4.6.1.5.768.
4.6.1.5.769.
4.6.1.5.770.
Ganti
2
Inspeksi
5 20
baru
4.6.1.5.771.
( Panj
ang total
cane carrier
I 8-9cm)

4.6.1.5.772.
Pihak ke
I
I
I

4.6.1.5.775.
Meng
akibatkan
waktu jam
henti

4.6.1.5.776.
4.6.1.5.777.
2 4.6.1.5.778.

Usia Teknis

4.6.1.5.779.
4.6.1.5.780. 4.6.1.5.781.
4.6.1.5.782.
4.6.1.5.783.
Ganti
2
Inspeksi
5 20
baru model
rake carrier

4.6.1.5.784.
Internal

4.6.1.5.788.
Meng
akibatkan

4.6.1.5.791.
4.6.1.5.792.
Kualitas bahan
8
dan
kualitas

4.6.1.5.793.
4.6.1.5.794. 4.6.1.5.795.
4.6.1.5.796.
4.6.1.5.797.
Pengu
10 Inspeksi
7 560
rangan

4.6.1.5.799.
Internal

65

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Cutter I
(CCI) :
4.6.1.5.786.
U
ntuk
memoto
ng tebu

cane
cutter
putus

4.6.1.5.801.
St
eng/rum
ah
governo
r CC 1
valve
clear
longgar
4.6.1.5.814.
Ol
i Seal
Pinion
Gear
box
CC1
bocor
4.6.1.5.815.
4.6.1.5.816.

waktu jam
henti
4.6.1.5.789.
Meng
urangi
effiensi
pemotonga
n tebu
4.6.1.5.790.
4.6.1.5.802.
Meng
urangi
efisiensi
turbin
4.6.1.5.803.

4.6.1.5.817. Meng
urangi efisiensi
lubrikasi gearbox
4.6.1.5.818. Dapat
menimbulkan
downtime apabila
temperature oli
melebihi set point

66

pengelasan
baik

4.6.1.5.804.
4.6.1.5.805.
2 4.6.1.5.806.

kurang

Usia teknis

4.6.1.5.819.
4.6.1.5.820.
Beban kejut
5
yang tidak seimbang
4.6.1.5.821.
Posisi terlalu
dekat dengan turbin
uap penggerak
sehingga temperatur
lingkungan sekitar
menjadi panas

panjang
pisau
4.6.1.5.798.
Pemb
uatan baru
dengan
pembelian
bahan
sendiri
4.6.1.5.807.
4.6.1.5.808. 4.6.1.5.809.
4.6.1.5.810.
4.6.1.5.811.
Rekon
2
Inspeksi
5 20
disi

4.6.1.5.822.
4.6.1.5.823. 4.6.1.5.825.
4.6.1.5.826.
4.6.1.5.827.
Ganti
2
Monitor
1 10
baru
c
4.6.1.5.828.
Perbai
o
kan deksel
n
oil cooler
t
dan cassing
r
karbon ring
o
4.6.1.5.829.
Cleani
ll
ng
e
perpipaan
r
p
e
n
g
g
e
r

4.6.1.5.812.
Pihak ke
I
I
I

4.6.1.5.830.
Internal

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
a
k
:
4.6.1.5.824.
Temperatu
r
c
o
n
t
r
o
ll
e
r

4.6.1.5.831.
4.6.1.5.832.
Pr
occes
Functio
n
Require
ments
4.6.1.5.843.
C
ane
Cutter I
(CCI) :
4.6.1.5.844.
Un
tuk
memoto
ng tebu

Tabel 4.9 Failure Mode Effect Analysis

4.6.1.5.833.
P
otential
Failure
Mode

4.6.1.5.834.
Pote
ntial Effect
of Failure

4.6.1.5.835.
4.6.1.5.836.
Pote
S
ntial
Cause of
Mechanis
m Failure

4.6.1.5.837.
4.6.1.5.838.
Curr
O
ent Process
Controls

4.6.1.5.839.
4.6.1.5.840.
4.6.1.5.841.
Reco
D RP
mmended
Action

4.6.1.5.842.
Pelaksana

4.6.1.5.845.
G
overnor
Turbin
Uap CC
I
4.6.1.5.846.
Po
mpa Oli
kurang
maksim
al

4.6.1.5.847.
Meng
urangi
efisiensi
lubrikasi
turbin uap
4.6.1.5.848.
Dapat
menimbulk
an jam
henti
apabila
temperature
oli melebihi

4.6.1.5.850.
4.6.1.5.851.
Usia
5
teknis
4.6.1.5.852.

4.6.1.5.853.
4.6.1.5.854.
Monit
2
or
controller
gilingan :
4.6.1.5.855.
Temp
erature
controller

4.6.1.5.856.
4.6.1.5.857.
4.6.1.5.858.
Rekon
1 10
disi/ganti
baru

4.6.1.5.859.
Pihak ke
I
I
I

67

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
set point
4.6.1.5.849.
4.6.1.5.860.
Un
igrator:
4.6.1.5.861.
Un
tuk
memeca
h tebu
yang
sudah
terpoton
g-potong
menjadi
serabut
sehingga
sel-sel
tebu
terbuka
dan
mudah
diperas

4.6.1.5.862.
R
otor
turbin
pengger
ak
unigrato
r blade
rusak,
bearing
axial
pecah
4.6.1.5.875.
B
aut
pengikat
hammer
holder
putus
4.6.1.5.876.
4.6.1.5.887.
M
etal/Bea
ring
linner
Ebara
Unigrat
or
longgar
4.6.1.5.898.
K
arbon
ring
Ebara

4.6.1.5.863.
Meni
mbulkan
jam henti

4.6.1.5.864.
4.6.1.5.865.
Axia
5
l terlalu
tinggi,
rotor
terbentur
dengan
sudut tetap
yang
dianjurkan
sudut 200

4.6.1.5.877.

4.6.1.5.879.
Beb
M 4.6.1.5.878.
an
enimbulkan 5
operasiona
jam henti
l

4.6.1.5.866.
4.6.1.5.867.
Monit
1
or
controller
gilingan
4.6.1.5.868.
Overs
peed trip
unit
assembly
4.6.1.5.869.
Vibrat
ion trip unit
assembly
4.6.1.5.880.
4.6.1.5.881.
Inspe
1
ksi

4.6.1.5.870.
4.6.1.5.871.
4.6.1.5.872.
Rekon
1 5
disi

4.6.1.5.873.
Pihak ke
I
I
I

4.6.1.5.882.
4.6.1.5.883.
4.6.1.5.884.
Ganti
5 25
baru

4.6.1.5.885.
Internal

4.6.1.5.888.
Dapat
menimbulk
an jam
henti

4.6.1.5.889.
4.6.1.5.890.
Usia
4
Teknis

4.6.1.5.891.
4.6.1.5.892.
2
ksi

Inspe

4.6.1.5.893.
4.6.1.5.894.
4.6.1.5.895.
Penga
5 20
daan Baru

4.6.1.5.896.
Pihak ke
I
I
I

4.6.1.5.899.
Dapat
menimbulk
an jam
henti

4.6.1.5.900.
4.6.1.5.901.
Kual
4
itas bahan

4.6.1.5.902.
4.6.1.5.903.
1
ksi

Inspe

4.6.1.5.904.
4.6.1.5.905.
4.6.1.5.906.
Penga
5 20
daan baru

4.6.1.5.907.
Internal

68

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
4.6.1.5.908.
Gi
lingan I

rusak
4.6.1.5.909.
Po
mpa oli
gearbox
LSR
bocor

4.6.1.5.910.
Meng
urangi
efisiensi
lubrikasi
dan kinerja
gearbox
4.6.1.5.911.

4.6.1.5.912.
4.6.1.5.913.
Kek
4
erasan seal
yang
mengakiba
tkan
kebocoran

4.6.1.5.914.
4.6.1.5.915.
Monit
2
or
controller
gilingan :
4.6.1.5.916.
Temp
erature
controller

4.6.1.5.917.
4.6.1.5.918.
4.6.1.5.919.
Pengg
1 8
antian seal

4.6.1.5.920.
Garansi
p
i
h
a
k
k
e

4.6.1.5.922.
M
etal
gilingan
I bagian
bawah
aus
4.6.1.5.937.
Fe
ed roll
gilingan
I poros
aus
4.6.1.5.949.
R
oundsel
gilingan
I aus

4.6.1.5.923.
Meng
urangi
efisiensi
kinerja
gilingan
4.6.1.5.924.
4.6.1.5.938.
Meng
urangi
efisiensi
kinerja
gilingan
4.6.1.5.939.
4.6.1.5.950.
Meng
urangi
efisiensi
kinerja
gilingan

4.6.1.5.925.
4.6.1.5.926.
Usia
4
teknis

4.6.1.5.927.
4.6.1.5.928.
2
ks
4.6.1.5.929.
4.6.1.5.930.
4.6.1.5.931.

Inspe

4.6.1.5.940.
4.6.1.5.941.
Usia
4
teknis

4.6.1.5.942.
4.6.1.5.943.
2
ksi

Inspe

4.6.1.5.944.
4.6.1.5.945.
4.6.1.5.946.
Pengg
5 40
antian baru

4.6.1.5.947.
Pihak ke
I
I
I

4.6.1.5.951.
4.6.1.5.952.
Usia
4
teknis

4.6.1.5.953.
4.6.1.5.954.
2
ksi

Inspe

4.6.1.5.955.
4.6.1.5.956.
4.6.1.5.957.
Pengg
5 40
antian baru

4.6.1.5.958.
Pihak ke
I
I
I

Curr

4.6.1.5.967.
4.6.1.5.968.
4.6.1.5.969.

4.6.1.5.970.

4.6.1.5.959.
4.6.1.5.960.

Pr

4.6.1.5.961.

4.6.1.5.962.

Pote

69

4.6.1.5.932.
4.6.1.5.933.
4.6.1.5.934.
Penga
5 40
daan baru

I
I
I
4.6.1.5.935.
Pihak ke
I
I
I

Tabel 4.9 Failure Mode Effect Analysis

4.6.1.5.963.
4.6.1.5.964.

Pote

4.6.1.5.965.
4.6.1.5.966.

Reco

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
occes
Functio
n
Require
ments
4.6.1.5.971.
Gi
lingan I

otential
Failure
Mode

ntial Effect
of Failure

4.6.1.5.972.
Pe
merahan
kurang
maksim
al

4.6.1.5.973.
Kehil
angan zat
gula dalam
ampas
tinggi
4.6.1.5.974.
Zat
kering
ampas
rendah
4.6.1.5.985.
Meng
urangi
efisiensi
kinerja
gilingan
4.6.1.5.986.
4.6.1.5.999.
Meng
akibatkan
jam henti

4.6.1.5.975.
4.6.1.5.976.
Roll
6
sering
terjadi slip

4.6.1.5.977.
4.6.1.5.978.
Inspe
6
ksi quality
control

4.6.1.5.979.
4.6.1.5.980.
4.6.1.5.981.
Pengo
3 108
perasian
sesuai
perhitungan
setelan

4.6.1.5.982.
Internal

4.6.1.5.987.
4.6.1.5.988.
Usia
2
teknis

4.6.1.5.989.
4.6.1.5.990.
3
ksi

Inspe

4.6.1.5.991.
4.6.1.5.992.
4.6.1.5.993.
Penga
5 30
saran
permukaan

4.6.1.5.994.
Internal

4.6.1.5.1000.
4.6.1.5.1001. Posi
6
si
cor
pondasi
keropos

4.6.1.5.1002.
4.6.1.5.1003.
2
ksi

Inspe

4.6.1.5.1004.
4.6.1.5.1005.
4.6.1.5.1006. Pengg
5 60
antian Baru

4.6.1.5.1007.
Pihak ke
I
I
I

4.6.1.5.1011.

4.6.1.5.1014.
4.6.1.5.1015.

4.6.1.5.1016.
4.6.1.5.1017.

Inspe

4.6.1.5.1018.
4.6.1.5.1019.
4.6.1.5.1020.

4.6.1.5.1021.

4.6.1.5.984.
Ki
ng bolt
gilingan
I aus

4.6.1.5.995.
Int
er
Mediate
Carrier :
4.6.1.5.996.
U
ntuk
mengha
ntarkan
tebu
antar
gilingan

4.6.1.5.1008.

Ro

4.6.1.5.997.
I
MC IIV
getar,
putus
dan
keropos
4.6.1.5.998.
St
ang dan
cakar
banyak
yang
putus
4.6.1.5.1010. Sa

Meng

70

ntial
Cause of
Mechanis
m Failure

Pen

ent Process
Controls

RP

mmended
Action

Pemb

Pelaksana

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
tary
Cus-cus:
4.6.1.5.1009. Sa
ringan
pemisah
an tebu
dan air
nira dari
gilingan
I

ringan
sering
buntu

4.6.1.5.1023. P
oros
screw
rotary
putus

4.6.1.5.1035. Gi
lingan II

4.6.1.5.1036. G
earbox
LSR
gigi low
dan
midel
retak
4.6.1.5.1048. Pe
rpipaan
drain
value
turbin
uap

urangi
efisiensi
penyaringa
n air nira
4.6.1.5.1012. Dapa
t
mengakibat
kan
jam
henti
4.6.1.5.1013.
4.6.1.5.1024. Meng
urangi
efisiensi
penyaringa
n air nira
4.6.1.5.1025. Dapa
t
mengakibat
kan
jam
henti
4.6.1.5.1026.
4.6.1.5.1037. Meng
urangi
effisensi
gilingan
4.6.1.5.1038.

4.6.1.5.1049. Meng
urangi
effisensi
gilingan
4.6.1.5.1050.

71

ggantian
saringan
tidak
seusai
dengan
spesifikasi

ksi

300

uatan spray
nozzle

Road Map

4.6.1.5.1027.
4.6.1.5.1028. Jara
4
k
poros
terlalu
panjang

4.6.1.5.1029.
4.6.1.5.1030.
2
ksi

Inspe

4.6.1.5.1031.
4.6.1.5.1032.
4.6.1.5.1033. Ganti
5 30
poros

4.6.1.5.1034.
Internal

4.6.1.5.1039.
4.6.1.5.1040. Terj
4
adi crack
interpart

4.6.1.5.1041.
4.6.1.5.1042.
2
ksi

Inspe

4.6.1.5.1043.
4.6.1.5.1044.
4.6.1.5.1045. Rekon
5 40
disi

4.6.1.5.1046.
Pihak ke
I
I
I

4.6.1.5.1051.
4.6.1.5.1052. Usia
5
teknis

4.6.1.5.1053.
4.6.1.5.1054. Moni
1
tor
controller
penggerak

4.6.1.5.1055.
4.6.1.5.1056.
4.6.1.5.1057. Pipa
1 20
ganti baru

4.6.1.5.1058.
Internal

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
keropos
4.6.1.5.1060. Sc
rapper
atas
putus

4.6.1.5.1061. Meng
urangi
effisensi
gilingan
4.6.1.5.1062.

4.6.1.5.1071.

72

4.6.1.5.1063.
4.6.1.5.1064. Posi
4
si
stang
tidak
presisi

4.6.1.5.1065.
4.6.1.5.1066.
1
ksi

Inspe

4.6.1.5.1067.
4.6.1.5.1068.
4.6.1.5.1069. Perbai
5 20
kan/ganti
stang baru

4.6.1.5.1070.
Internal

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
4.6.1.5.1072. Tabel 4.9 Failure Mode Effect Analysis
4.6.1.5.1073. Pr
occes
Functio
n
Require
ments
4.6.1.5.1084. Gi
lingan
II:

4.6.1.5.1074. Pote
ntial
Failure
Mode

4.6.1.5.1075. Pot
ential
Effect of
Failure

4.6.1.5.1076.
4.6.1.5.1077. Pote
S
ntial
Cause of
Mechanis
m Failure

4.6.1.5.1078.
4.6.1.5.1079. Curr
O
ent Process
Controls

4.6.1.5.1080.
4.6.1.5.1081.
4.6.1.5.1082. Reco
D RPN
mmended
Action

4.6.1.5.1083.
Pelaksana

4.6.1.5.1085. Am
plas plat
aus

4.6.1.5.1086. Me
ngurangi
efisiensi
penahana
n ampas
yang
keluar
dari roll
4.6.1.5.1087.
4.6.1.5.1100. Me
ngurangi
effisiensi
penggilin
gan tebu
4.6.1.5.1101.
4.6.1.5.1112. Me
nggurang
i
effisiensi
gilingan
4.6.1.5.1113.
4.6.1.5.1125. Me
mpengar
uhi
penyimpa
ngan brix
nyata dari

4.6.1.5.1088.
4.6.1.5.1089. Beb
5
an
operasiona
l

4.6.1.5.1090.
4.6.1.5.1091.
2
ksi

Inspe

4.6.1.5.1092.
4.6.1.5.1093.
4.6.1.5.1094. Peng
5
25
adaan baru
4.6.1.5.1095.
4.6.1.5.1096.

4.6.1.5.1097.

4.6.1.5.1102.
4.6.1.5.1103. Usia
4
teknis

4.6.1.5.1104.
4.6.1.5.1105.
1
ksi

Inspe

4.6.1.5.1106.
4.6.1.5.1107.
4.6.1.5.1108. Pemb
5
20
ubutan di
besali

4.6.1.5.1109.

4.6.1.5.1114.
4.6.1.5.1115. Usia
4
teknis

4.6.1.5.1116.
4.6.1.5.1117. Moni
1
tor
penggerak
gilingan

4.6.1.5.1118.
4.6.1.5.1119.
4.6.1.5.1120. Peng
1
4
gantian
baru

4.6.1.5.1121.
Internal

4.6.1.5.1126.
4.6.1.5.1127. Usia
6
teknis

4.6.1.5.1128.
4.6.1.5.1129. Inspe
1
ksi quality
control

4.6.1.5.1130.
4.6.1.5.1131.
4.6.1.5.1132. Peng
1
6
adaan baru

4.6.1.5.1133.
Pihak ke
I
I
I

4.6.1.5.1099. Roll
gilingan
diameter
berkurang
signifikan
4.6.1.5.1111. Bear
ing house
aus

4.6.1.5.1122. Pi
pa
Imbibisi:
4.6.1.5.1123. Un
tuk
melarutk

4.6.1.5.1124. Pipa
imbibisi
keropos

73

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
an gula
yang
ikut
terbawa
ampas
semaksi
mal
mungkin
4.6.1.5.1134. Gi
lingan
III

4.6.1.5.1156. Gi
lingan
IV

brix
teoritis

4.6.1.5.1135. Gea
rbox LSR
gigi low
dan midel
retak
4.6.1.5.1146. Scra
pper atas
putus
4.6.1.5.1157. Am
plas plat
aus

4.6.1.5.1169. Roll
gilingan
diameter
berkurang
signifikan
4.6.1.5.1180. Gili
ngan
bagian

4.6.1.5.1136. Me
ngakibatk
an
jam
henti

4.6.1.5.1137.
4.6.1.5.1138. Terj
4
adi crack
interpart

4.6.1.5.1139.
4.6.1.5.1140. Moni
3
tor
controller
gilingan

4.6.1.5.1141.
4.6.1.5.1142.
4.6.1.5.1143. Reko
1
12
ndisi

4.6.1.5.1147. Me
ngakibatk
an
jam
henti
4.6.1.5.1158. Me
ngurangi
efisiensi
penahana
n ampas
yang
keluar
dari roll
4.6.1.5.1159.
4.6.1.5.1170. Me
ngurangi
efisiensi
gilingan

4.6.1.5.1148.
4.6.1.5.1149. Posi
4
si
stang
tidak
presisi
4.6.1.5.1160.
4.6.1.5.1161. Beb
5
an
operasiona
l

4.6.1.5.1150.
4.6.1.5.1151.
2
ksi

Inspe

4.6.1.5.1152.
4.6.1.5.1153.
4.6.1.5.1154. Perba
5
40
ikan/ganti
stang baru

4.6.1.5.1162.
4.6.1.5.1163.
2
ksi

Inspe

4.6.1.5.1164.
4.6.1.5.1165.
4.6.1.5.1166. Peng
5
50
adaan baru

4.6.1.5.1167.

4.6.1.5.1171.
4.6.1.5.1172. Usia
6
teknis

4.6.1.5.1173.
4.6.1.5.1174.
1
ksi

Inspe

4.6.1.5.1175.
4.6.1.5.1176.
4.6.1.5.1177. Pemb
5
30
ubutan di
besali

4.6.1.5.1178.
Internal

4.6.1.5.1181. Me
ngurangi
efisiensi

4.6.1.5.1182.
4.6.1.5.1183. Usia
4
teknis

4.6.1.5.1184.
4.6.1.5.1185.
1
ksi

Inspe

4.6.1.5.1186.
4.6.1.5.1187.
4.6.1.5.1188. Peng
5
20
adaan baru

4.6.1.5.1189.

74

4.6.1.5.1144.
Pihak ke
I
I
I
4.6.1.5.1155.
Internal

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
bawah aus
4.6.1.5.1191. Gea
rbox HSR
metal

gilingan
4.6.1.5.1192. Me
ngurangi
efisiensi
gilingan
4.6.1.5.1193.

4.6.1.5.1204. Pot
ential
Failure
Mode

4.6.1.5.1205. Pot
ential
Effect of
Failure

4.6.1.5.1206.
4.6.1.5.1207. Pote
S
ntial
Cause of
Mechanis
m Failure

4.6.1.5.1215. Por
os rotor
turbin uap
aus

4.6.1.5.1216. Me
ngurangi
efisensi
turbin
uap

4.6.1.5.1217.
4.6.1.5.1218. Usia
4
teknis

4.6.1.5.1227. Bea
ring house
aus

4.6.1.5.1228. Me
ngurangi
efisensi
gilingan
4.6.1.5.1239. Me
ngurangi
efisensi
gilingan

4.6.1.5.1229.
4.6.1.5.1230. Usia
4
teknis

4.6.1.5.1194.
4.6.1.5.1195. Usia
4
teknis

4.6.1.5.1196.
4.6.1.5.1197.
1
ksi

Inspe

4.6.1.5.1198.
4.6.1.5.1199.
4.6.1.5.1200. Meng
5
20
gunakan
cadangan
lama

4.6.1.5.1201.

4.6.1.5.1208.
4.6.1.5.1209. Curr
O
ent
Process
Controls

4.6.1.5.1210.
4.6.1.5.1211.
4.6.1.5.1212. Reco
D RP
mmended
Action

4.6.1.5.1213.
Pelaksana

4.6.1.5.1219.
4.6.1.5.1220. Moni
1
tor
controller
penggerak
gilingan
4.6.1.5.1221. Temp
erature
controller
4.6.1.5.1231.
4.6.1.5.1232. Inspe
1
ksi

4.6.1.5.1222.
4.6.1.5.1223.
4.6.1.5.1224. Rebab
1 4
it
metal
HSR

4.6.1.5.1225.
Pihak ke
I
I
I

4.6.1.5.1233.
4.6.1.5.1234.
4.6.1.5.1235. Pengg
5 20
antian baru

4.6.1.5.1236.
Internal

4.6.1.5.1242.
4.6.1.5.1243.
2
ksi

4.6.1.5.1244.
4.6.1.5.1245.
4.6.1.5.1246. Perbai
5 20
kan/penggan
tian
4.6.1.5.1247. Lunga
n
baut
dikurangi

4.6.1.5.1248.
Jam henti

4.6.1.5.1202. Tabel 4.9 Failure Mode Effect Analysis


4.6.1.5.1203. Pr
occes
Functio
n
Require
ments
4.6.1.5.1214. Gi
lingan
IV

4.6.1.5.1238. Mur
stang stut
scrapper
aus

4.6.1.5.1249.
4.6.1.5.1250.Keterangan :
75

4.6.1.5.1240.
4.6.1.5.1241. Shaf
4
t
flange
masuk ke
ampas plat
dan
roll
atas

Inspe

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6.1.5.1251.Tindak lanjut penggantian baru merupakan penggantian hanya pada komponen yang bermasalah dalam permesinan tersebut,
sedangkan untuk pengadaan baru merupakan penggantian keseluruhan terhadap permesinan tersebut.
4.6.1.5.1252.

76

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6.1.6.
Rekomendasi Urutan Perbaikan dari Permasalahan Stasiun Gilingan
4.6.1.7.Berdasarkan perhitungan RPN dapat dilakukan rekomendasi urutan perbaikan
dari permasalahan pada stasiun gilingan.

angking
4.6.1.12. 1

4.6.1.8. Tabel 4.10 Urutan Perbaikan


4.6.1.10. R
4.6.1.11. Permasalahan
PN
4.6.1.13. 56 4.6.1.14. Pisau Cane Cutter Putus

4.6.1.15. 2

0
4.6.1.16. 30

4.6.1.17. Saringan rotary cus-cus sering buntu

4.6.1.18. 3

0
4.6.1.19. 10

4.6.1.20. Pemerahan kurang maksimal gilingan I

4.6.1.21. 4

8
4.6.1.22. 60

4.6.1.25. 5

4.6.1.26. 50

4.6.1.9. R

4.6.1.23.
IMC I-IV getar, putus dan keropos
4.6.1.24. Stang dan cakar banyak yang putus
4.6.1.27. Amplas plat gilingan II dan gilingan IV aus

4.6.1.28.
4.6.1.29.Dari 5 peringkat tertinggi RPN dapat diketahui bahwa permasalahan yang perlu
segera diatasi adalah perbaikan pisau cane cutter, penggantian saringan rotary cus-cus,
pemaksimalan pemerahan gilingan I, perbaikan IMC I-IV, dan perbaikan amplas plat
gilingan II dan gilingan IV
4.6.1.30.

77

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6.1.31. BAB V
4.6.1.32. PENUTUP
4.6.1.33.
5.1 Kesimpulan
4.6.1.34.Kesimpulan yang dapat diambil dari penulisan laporan ini adalah:
1. Stasiun gilingan di PT Perkebunan Nusantara X- Pabrik Gula Tjoekir yang memiliki jam
henti terbesar pada masa giling tahun 2013 menjalankan kegiatan pemeliharaan atas dua
pola yaitu pola Luar Masa Giling (LMG) dan Dalam Masa Giling (DMG) dengan
penjadwalan

berdasarkan

mandays

,dijalankan

dengan

Maintenance Procedure, pembiayaan yang telah ditetapkan,

menerapkan

Standar

kegiatan pengadaan

dilakukan dengan prosedur yang ditangani oleh pihak direksi, penyimpanan dilakukan di
gudang tanpa perawatan khusus, kegiatan pemeliharaan dicatat pada kartu pemeliharaan
dan perbaikan ringan dilakukan di besali dengan menggunakan permesinan konvensional
serta berdasarkan
2. Tindakan yang dilakukan oleh stasiun gilingan dalam penangannan permasalahan
tersebut dengan melakukan evaluasi dan merencanakan rekondisi, penggantian baru
maupun pengadaan baru bagi komponen maupun keseluruhan bagian permesinan yang
rusak.
3. Dari 5 peringkat tertinggi perhitungan RPN dapat diketahui bahwa permasalahan yang
perlu segera diatasi adalah perbaikan pisau cane cutter, penggantian saringan rotary cuscus, pemaksimalan pemerahan gilingan I, perbaikan IMC I-IV, dan perbaikan amplas plat
gilingan II dan gilingan IV
4.6.1.35.
5.2 Saran
4.6.1.36.Saran dapat diambil dari laporan ini adalah:
1. Dalam kegiatan perawatan pada stasiun gilingan PT Perkebunan Nusantara X- Pabrik
Gula Tjoekir diharapkan dapat dilengkapi dengan kartu pemeriksaan untuk memprediksi
dan mencegah terjadinya kerusakan pada permesinan
2. Pada penyimpanan permesinan maupun spare-part di gudang sebaiknya juga dilakukan
pemeliharaan agar permesinan maupun spare-part dapat dipergunakan secara optimal
ketika dibutuhkan, selain itu Penulis juga menyarankan penambahan operator gudang
untuk mengoptimalkan pemeliharaan tersebut.
3. Kegiatan perbaikan ringan di besali sebaiknya dimulai dengan pemodernisasian
permesinan yang dipergunakan sehingga dapat meningkatkan hasil perbaikan dengan
optimal.
4. Tindakan dari hasil evaluasi permasalahan yang telah dilakukan pada stasiun gilingan
dapat dilakukan berdasarkan peringkat RPN

78

LAPORAN KULIAH KERJA NYATA PRAKTIK


PT. Perkebunan Nusantara X-Pabrik Gula Tjoekir
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

4.6.1.37.

DAFTAR PUSTAKA

4.6.1.38.
4.6.1.39.Asyri. Dayrus. 2007. Diktat Kuliah Manajemen Pemeliharaan. Jurusan Teknik
Mesin Universitas Darma Persada, Jakarta
4.6.1.40.M. Sayuti, Muhamad dan Muhammad Sidiq Rifai, September 2013, Evaluasi
Manajemen Perawatan Mesin dengan Menggunakan Metode Reliability Centered
Maintenance pada PT.Z. Malikuasasaleh Industrial Engineering Journal V.
4.6.1.41.Santoso, Gempur. 2010. Manajemen Perawatan Pabrik dengan Pendekatan
Ergonomis.Prestasi Pustaka, Jakarta
4.6.1.42.

79