Anda di halaman 1dari 14

STATUS PSIKIATRI

I. IDENTITAS
Nama
Jenis Kelamin
Umur
Tempat, Tanggal Lahir
Agama
Suku bangsa /warga Negara
Status Pernikahan
Pendidikan Terakhir
Pekerjaan
Alamat

: Tn. D
: Laki-laki
: 25 tahun
: 17 Mei 1990, Medan
: Islam
: Sunda/ Indonesia
: Belum menikah
: SMA
: Tidak bekerja
: Kp. Pulo RT 036/10,

keluharan

Sukadamai,Tanah Sareal
Tanggal Masuk RS.MM

: IGD 26 Agustus 2015


Ruang Kresna 26 Agustus 2015

II. RIWAYAT PSIKIATRI


Anamnesis diperoleh dari autoanamnesis dan alloanamnesis kepada Ibu. S (Ibu
pasien) di IGD Psikiatri Rumah Sakit Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi pada tanggal
26 Agustus 2015, pukul 18.00 WIB.
A. Keluhan Utama
Pasien dibawa secara sukarela ke IGD RSMM oleh Ibu dan Pak RT karena
marah-marah dan memukul ibunya sekitar 3 jam SMRS.

B. Riwayat Gangguan Sekarang


Pasien datang di bawa secara sukarela ke RSMM oleh Ibu dan Pak RT karena
marah-marah dan memukul ibunya. Menurut ibu pasien sudah 2 minggu ini
pasien selalu marah-marah membanting piring dan mengeluarkan kata-kata
cacian kepada ibu nya bahkan sudah 5 hari kadang memukul ibunya karena
kesal. Ibu pasien bercerita bahwa anak nya mudah tersinggung jika ada yang
mengejeknya, suka seperti orang ngomel-ngomel dan dulu pernah mengalami
depresi berat karena tidak lulus UN hingga akhirnya sampai sekarang selalu
tidak percaya diri dan minder.
1

Pada Autoanamnesis pasien bercerita memang dia dibawa meurut


keinginan nya, agar lebih mudah untuk berobat jiwa dan sinusitisnya. Pasien
mengakui akhir-akhir ini sering marah-marah sampai melempar barang tapi tidak
memukul ibunya dikarenakan pasien kesal kepada ibunya karena keinginan pasien
ingin dioperasi sinusitisnya tidak di turuti dan kesal sebelumnya 2 minggu ini di
karenakan pasien di ejek oleh temannya ketika berkumpul meminta pekerjaan.
Pasien menceritakan tentang masa lalu nya ketika kecil pasien memiliki
banyak teman, sering bermain dan tidak pernah sendiri. Pasien mengakui pernah
depresi berat ketika tidak lulus UN walaupun pasien mengikuti Paket C sampai
pasien mempunyai pikiran untuk mengakhiri hidupnya ketika 2008, hingga
akhirnya pasien dibawa berobat ke bagian psikiatri dan selain pengobatan medis
pasien juga mengatakan di bawa ke pesantren-pesantren untuk diobati secara
agama. Pasien patuh minum obat selama dua tahun awal hingga akhirnya tidak
depresinya hilang, ketika depresi pasien tidak bias tidur selalu murung hingga
mengurung diri di kamar juga kadang menangis hebat dan selalu timbul ide-ide
bunuh diri. Pada tahun 2010 pasien mengalami sakit tinggorokan, di periksa THT
ternyata amandel akhirnya pasien menginginkan operasi dan dilaksanakan.
Beberpa bulan kemudian pasien mengeluhkan seperti ada yang tersumbat di
daerah hidung dan sekitar mata hingga akhirnya pasien berobat ke THT kembali
dan dokter menyarankan operasi sinusitis di RS fatmawati. Tetapi ibu pasien tidak
mengikuti keinginan pasien yang selalu ingin di operasi sinusitis nya, karena
menurut ibu pasien dari saran dokter pun tidak harus di operasi hanya
menyarankan. Pasien mengatakan sering dengar bisikan-bisikan perempuan yang
menurut pasien suara hatinya yang isinya seperti mengoreksi apa yang di katakana
pasien dan jawaban-jawaban pasien seperti kamu salah menjawab itu,
seharusnya enjawab ini , tapi pasien tidak mengikutinya. Pasien menyangkal
bahwa bisikan-bisikan itu menyuruh pasien untuk marah-marah dan melakukan
bunuh diri. Pasien menyangkal bahwa sering ketawa-ketawa sendiri, melihat
sesuatu yang tidak ada seperti orang lain atau melihat benda menjadi berubah
bentuk dan menyangkal melihat orang-orang yang sudah mati juga menyangkal
pernah mempelajari ilmu-ilmu kebal dan sebagainya hingga sekarang.

Pada tahun 2012 pasien mengaku pernah bekerja 3x di perusahaan yang


berbeda yang akhirnya selalu pasien yang menundurkan diri karena tidak merasa
nyaman dan tidak bergairah. Menurut alloanamnesis ibu pasien, ibu pasien pernah
memasukan pasien untuk bekerja di 3 perusahaan dan pasien selalu
mengundurkan diri hingga yang terakhir cerita di pabrik rokok pasien memang tak
kerasan hingga pernah melihat rokok yang dimasukan hilang menurut pasien.
Semenjak penyakit sinusitis pasien berpikiran bahwa penyakit ini yang
menyebabkan pikiran pasien tidak terbuka dan menyebabkan pasien mendengar
bisikan-bisikan. Pasien meyakini jika sudah di operasi sinusitis pikirannya
terbuka, perasaan tertutup hingga bisikan-bisikan tidak akan muncul. Pasien juga
mengatakan bahwa seluruh keluarganya punya riwayat sakit tht.
Kegiatan pasien dirumah hanya menonton tv, makan mandi dan sering
bermain keluar dengan anak kecil, kadang pasien sulit untuk tidur. Pasien
mengaku merasa kurang percaya diri dan sering minder dengan keadaannya yang
seperti ini seperti tidak berguna, kurang ganteng, kurang tinggi sehingga ketika
nanti sembuh hanya ingin menjadi tukang atau pekerja kasar tidak ingin menjadi
bos atau tentara seperti cita-citanya dulu.
Menurut alloanamnesa ibu pasien, setiap malam pasien selalu mengamuk
dan ingin mencari golok untuk bunuh diri hingga sekarang.
C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Riwayat Psikiatri Sebelumnya
Pasien pernah mengalami penyakit depresi berat pada tahun 2008 dan
seperti kambuh kembali seperti setiap 2 tahun dan pernah di rawat.
2.

Riwayat Medis Lainnya


Riwayat sakit berat disangkal(Trauma kepala, epilepsi), pernah menderita
sakit amandel hingga dioperasi amandel. Sakit sinusitis hingga sekarang

3.

Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif dan Alkohol


Pasien tidak merokok. Pasien mengatakan tidak pernah mengkonsumsi zat
psikoaktif seperti heroin, ekstasi, dan ganja. Pasien juga mengaku tidak
pernah meminum minuman beralkohol.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Riwayat prenatal dan perinatal

Menurut ibu pasien, tidak ada keluhan

pada masa kehamilan dan

mengkonsumsi obat-obatan ataupun minuman tertentu. Riwayat persalinan


saecar karena persalinan tidak maju.
2. Riwayat masa kanak awal (0-3 tahun)
Pasien diasuh sendiri oleh ibu pasien, untuk pemberian makanan selalu
mematuhi anjuran dokter seperti asi eklusif 6 bulan lalu di beri makanan
tambahan setelah enam bulan dan bertahap hingga 3 tahun. Riwayat
tumbuh kembang pasien dinilai nomal seperti anak seusianya. Menurut ibu
pasien, pasien anak yang pintar dan penurut.
3. Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
Pada umur tujuh tahun pasien mulai masuk sekolah pertama. Pasien adalah
salah satu anak pintar yang selalu mendapat rangking di setiap kelasnya
dan pasien memiliki banyak teman.
4. Riwayat masa kanak akhir (pubertas) dan remaja
a. Hubungan sosial
Pasien memiliki beberapa teman dekat dari lingkungan sekolah
maupun sekitar. Pasien tidak memiliki masalah dengan keluarga,
teman maupun tetangga sampai dengan tidak lulus UN baru pasien
minder dan kadang di ejek teman juga tetangganya
b. Riwayat pendidikan
Pasien sekolah hingga lulus SMA, dari SD sampai SMA kelas 2
pasien selalu mendapat rangking karena anak pintar, tetapi ketika
UN pasien tidak lulus hingga ikut paket ujian C dan lulus.
c. Perkembangan kognitif dan motorik
Pasien bisa membaca, menulis, dan menghitung dengan cukup baik
dan tidak terdapat gangguan perkembangan spesifik.
d. Problem emosi atau fisik khusus remaja
Menurut pasien, pasien tidak mempunyai masalah selama sd
hingga SMA. Pasien kadang bercerita kepada ibunya jika ada yang
mengejek dan kadang marah-marah kepada ibunya jika ada yang
mengejek.
e. Riwayat psikoseksual
Pasien belum menikah tetapi mengatakan ingin mempunyai pacar
namun pasien tidak percaya diri.
f. Latar belakang agama

Pasien beragama islam rajin sholat 5 waktu.


5. Riwayat masa dewasa
a. Riwayat pekerjaan
Pasien pernah bekerja di 3 tempat yang berbeda hingga akhirnya
selalu mengundurkan diri karena tidak nyaman dan tidak bergairah
b. Aktivitas social
Menurut pasien baik
c. Kehidupan seksual masa dewasa
Pasien belum menikah dan tidak mempunyai kekasih.
E. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak terakhir dari 4 bersaudara, tidak ada yang
mengalami seperti pasien. Ke tiga kakaknya sudah mempunyai keluarga
sendiri dan masih hidup.
Genogram

Keterangan :
: Pria

: Wanita
: Pasien

: 1 rumah
F. Riwayat Sosial Ekonomi.
Pasien tinggal di rumah bertiga bersama orang tuanya..
G. Persepsi pasien tentang diri dan kehidupannya
1. Impian
Pasien ingin bekerja dan menikah.
2.

Fantasi
Tidak terdapat fantasi pada pasien.

3.

Sistem nilai
Pasien masih mampu mengurus sendiri dirinya seperti mandi dan makan.
Dorongan kehendak
Pasien ingin cepat di operasi sinusitisnya agar dirinya cepat sembuh

4.

5.

Hal yang menjadi sumber kejengkelan atau frustasi dan yang membuat
bahagia atau senang
Hal yang membuat pasien bahagia adalah mengobati sinusitisnya dan
seperti orang lain sempurna dan hal yang membuat pasien jengkel adalah
ketika apa yang ia minta tidak diberikan dan diejek orang sekitar.

II. STATUS MENTAL


Dilakukan pada tanggal 26 Agustus 2015 pukul 18.30 WIB di Ruang Kresna
RS. Dr. Marzoeki Mahdi Bogor.
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan Umum
Pasien seorang laki-laki berusia 25 tahun, berpenampilan fisik tampak sesuai
dengan usianya. Penampilan rapi, sikap sopan, kurang aktif, rambut berwarna
hitam, kebersihan cukup, kulit sawo matang, dan perawakan normal. Kontak
mata adekuat, Ramah, tidakk tegang.
2. Kesadaran
- Neurologis/biologis : compos mentis
- Psikologis
: terganggu
- Sosial
: baik
3. Perilaku dan aktivitas motorik
Sebelum wawancara: pasien sedang tidur-tiduran di tempat tidur IGD
Selama wawancara: pasien duduk dengan ekspresi yang tenang agak murung,
sikap kooperatif, tidak ada gerakan yang aneh/gerakan involunter tidak ada,
jawaban relevan, hipoaktif(monoton dan lambat), bersahabat.
Setelah wawancara: pasien kembali tiduran di tempat tiduran.
4. Pembicaraan
Pasien menjawab pertanyaan yang diajukan dengan volume suara normal, dan
spontan, kuantitas cukup, tidak ada hendaya berbahasa, ide cerita tidak banyak.
5. Sikap terhadap pemeriksa : kooperatif dan bersahabat.
B. Alam Perasaan
1. Afek

2. Mood

: a. Kestabilan
: labil
b. pengendalian
: kurang
c. Kesungguhan
: echt
d. empati
: dapat diraba rasakan
e. skala deferensiasi : sempit
f. keserasian
: serasi
: murung/sedih
6

C. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi
- Halusinasi Auditorik : Ada (pasien mendengar bisikan-bisikan di telinga
sebagai suara seorang manita yang tidak di kenal, suara tersebut seperti selalu
mengoreksi apa yang di katakana pasien )
Halusinasi Visual
: Tidak ada
Halusinasi Olfaktorik
: Tidak ada
Halusinasi Taktil
: Tidak ada
Hlusinasi Gustatorik
: Tidak ada
2. Ilusi
: Tidak ada
3. Depersonalisasi
: Tidak ada
4. Derealisasi
: Tidak ada
D.Fungsi Intelektual
1. Taraf pendidikan, pengetahuan dan kecerdasan
Taraf Pendidikan
: Sesuai taraf pendidikan
Pengeahuan Umum
: Baik
Kecedasan
: Baik, taraf rata-rata 90
2. Daya Konsentrasi
: Baik
3. Orientasi
Waktu
: Baik(pasien dapat menyebutkan sekarang
Tempat

siang atau malam).


: Baik (Pasien dapat mengetahui dimana ia

Personal

berada saat diwawancara).


: Baik (Pasien dapat mengenali diri sendiri,
ayah, ibu dan kakak)

4. Daya Ingat
Jangka panjang
Jangka pendek
Sesaat
5. Kemampuan Visuospatial
6. Pikiran Abstrak
7. Kemamuan menolong Diri

: baik (dapat mengingat tempat lahir)


: Baik (pasien ingat hari kegiatan tadi pagi
yang dilakukan)
: Baik (pasien mampu mengingat kejadian
waktu di bawa ke RS)
: tidak dilakukan
: tidak diperiksa
: Baik (pasien mau mandi secara teratur dan
makan)

E. Proses Pikir
1.Arus Pikir
Produktivitas

: lambat, pasien menjawab apa yang di Tanya oleh


pemeriksa.
7

Kontiuitas
Hendaya Berbahasa

: Koheren
: Tidak ada
Pasien menggunakan bahasa yang lazim sesuai
dengan tata bahasa.

2. Isi Pikir
Preokupasi
Waham
- Waham

: Ada (pasien selalu berbicara kembali ke masalah


penyakit sinusitisnya)
:
Somatic/hipocondria : pasien percaya

penyakit

sinusitis

menyebabkan pikirannya tidak terbuka dan menutup perasaan hingga ada


bisikan-bisikan.
F. Pengendalian Impuls
: Tidak terganggu
G. Daya Nilai
1. Daya nilai social
Baik (ketika di beri pertanyaan apakah mencuri itu baik atau tidak, pasien
menjawab tidak baik) .
2. Uji daya nilai
Baik (Pasien jika menemukan dompet di tengah jalan, maka akan
menyerahkan ke kantor polisi).
3. Penilaian realita
Terganggu (di temukan adanya waham)
H. Tilikan
Tilikan derajat 3 (menyalahkan factor lain sebagai penyebab penyakitnya)
Taraf Dapat Dipercaya
: Dapat dipercaya
III. STATUS FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal 26 Agustus pukul 19.00 WIB di
Ruang IGD RSMM Bogor
A. Status Internus
Keadaan umum
Kesadaran
Tekanan darah
Frekuensi napas
Frekuensi nadi
Suhu
Status gizi
Kulit
Kepala
Rambut
Mata

: Baik
: Compos mentis
: 120/80 mmHg
: 20x/menit
: 90x/menit
: dalam batas normal
: Kesan gizi cukup
BB 180 cm, BB = 85 kg
: sawo matang
: Tidak ada deformitas, normocephali
: Hitam, lebat, tidak mudah tercabut
: Konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik

Telinga
Gigi dan mulut
Leher
Jantung
Paru

: Normotia, sekret (-)


: Dalam batas normal, T0-T0
: Pembesaran KGB (-)
: Bunyi jantung I-II normal, murmur (-), gallop (-)
: Pergerakan dinding dada simetris, suara napas

Abdomen

vesikuler, Ronkhi -/-, wheezing -/: Datar, supel, bising usus normal, tidak ditemukan

Ekstremitas

pembesaran hepar dan lien.


: Akral hangat (+), edema (-)

B. Status Neurologis
GCS
Kaku kuduk
Pupil
Kesan parase nervus kranialis
Motorik

: 15 (E4,V5,M6)
: (-)
: Bulat, isokor
: (-)
: Kekuatan (5), tonus baik, rigiditas (-),
spasme (-), hipotoni (-), eutrofi, tidak ada

Sensorik
Reflex fisiologis
Reflex patologis
Gejala ekstrapiramidal
Stabilitas postur tubuh
Tremor di kedua tangan

gangguan keseimbangan dan koordinasi


:Tidak ada gangguan sensibilitas
: Normal
: (-)
: (-)
: Normal
: (-)

Labaratorium 26/08/2015
NO
1
2
3
4
1
2
3
4
5

Hematologi
Hemoglobin
Leukosit
Trombosit
Hematrokit
Kimia darah
SGOT
SGPT
Ureum
Creatinin
GDS

Hasil
12,2g/dl
8.340/mm3
282.000 mm3

Nilai Normal
13-18g/dl
4000-10.000 mm3
150.000-400.000

30%

mm3
40-54%

28 U/l
22 U/l
20,7 mg/dl
0,81 mg/dl
137 mg/dl

<42 U/l
<47 U/l
10-50mg/dl
0,67-1,36 mg/dl
<140 mg/dl

IV. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Pasien adalah seorang laki-laki berusia 25 tahun datang dengan keluhan
marah-marah dan memukul ibunya. pasien mengaku kesal karena tidak di ikuti
9

kemauan untuk melakukan operasinya dan kesal di ejek teman-teman dan


tetangga sekitar rumahnya. Pasien mendegar ada bisikan-bisikan yang mengoreksi
setiap perkataan dan jawabannya, pasien kadang suka merasa sedih dan tidak
percaya diri juga minder atas dirinya tidak seperti orang lain. Pasien pernah
mengalami depresi berat sebelumnya dan kadang hingga sekarang selalu ada ide
untuk bunuh diri. Pasien masih bisa mandi sendiri dan makan tapi untuk bekerja
seperti kehilangan gairah atau minat dan pasien kadang sullit untuk tidur. Pasien
merasa penyakitnya sinusitis ini membuat pikirannya tidak terbuka dan perasaan
tertuttup hingga mendengar bisikan-bisikan hingga pasien tidak percaya diri. Yang
diduga menjadi stessor pasien yaitu keinginannya untuk operasi sinusitis tidak
laksanakan.
Kesadaran Compos Mentis, alam pikiran, perasaan dan perbuatan
terganggu, pasien berpenampilan fisik tampak sesuai dengan usianya, Penampilan
rapi, sikap sopan, kurang aktif, rambut berwarna hitam, kebersihan cukup, kulit
sawo matang, dan perawakan normal. Kontak mata adekuat, Ramah, tidakk
tegang. Perilaku dan aktivitas motoriknya Pasien duduk dengan ekspresi tenang
agak murung, sikap kooperatif dan tidak ada gerakan involunter, hipoaktif
(monoton dan lambat). Pembicaraan kuantitas

cukup, volume normal dan

spontan, tidak ada hendaya berbahasa, ide cerita tidak banyak. Sikap terhadap
pemeriksa kooperatif dan bersahabat. Mood cenderung murung/sedih. Afek serasi,
labil, dapat diraba rasakan, echt, sempit, kurang. Halusinasi auditorik first order.
Orientasi dan daya ingat baik. Proses piker koheren dengan waham somatic. Daya
nilai realita terganggu. Merupakan tilikan 3 dan taraf dapat di percaya.
Pemeriksaaan fisik internus dan neorologis dalam batas normal.
VI. FORMULASI DIAGNOSTIK
Pada pasien terdapat pola perilaku atau psikologis yang secara bermakna dan
khas berkaitan dengan suatu gejala yang menimbulkan hendaya (disfungsi)
dalam berbagai fungsi psikososial. Terdapat pula penderitaan (disstres) yang
dialami oleh pasien. Dengan demikian dapat disimpulkan pasien mengalami
gangguan jiwa.

10

Diagnosis Aksis I :
Berdasarkan Ikhtisar penemuan bermakna, maka kasus ini dapat
digolongkan kedalam :
1. Gangguan jiwa ini sebagai gangguan mental non organik, karena :
- Berdasarkan anamnesis pasien tidak memiliki riwayat cedera kepala,
kejang walaupun memiliki riwayat medik lainnya seperti operasi tonsilitis
dan riwayat sinusitis tetapi berdasarkan pemeriksaan fisifk tidak
mempengaruhi kesadaran neurologik dan tidak dapat mempengaruhi
fungsi otak.
- Tidak ada gangguan kognitif seperti orientasi dan memori.
2. Gangguan jiwa ini tidak disebabkan pengaruh zat psikoaktif
- Tidak ada gangguan akibat penyalahgunaan obat dan zat psikoaktif yang
berefek pada episode saat ini (menurut pasien dan keluarga, pasien tidak
pernah mengkonsumsi alkohol dan NAPZA)
3. Gangguan psikotik, karena adanya hendaya dalam menilai ralita yang
-

dibuktikan dengan adaya :


Waham
: waham somatik
Halusinasi
: Halusinasi auditorik first order
Menurut PPDGJ III, gangguan psikotik pada pasien ini disertai dengan

gangguan afek/suasana perasaan yang sangat menonjol dengan afek serasi,


waham tidak bizar dan muncul lebih dulu dari gejala psikotikna sehingga
termasuk gangguan suasanaa perasaan/gangguan mood/ganggan afek dengan
gejala psikotik.
Pasien saat ini memenuhi kriteria depresi berulang episode kini berat
dengan gejala psikotik berdasarkan PPDGJ III yaitu : Afek depresi,
Kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi yang menuju cepat
lelah dan menurun aktivitas.
Pada pasien berdasarkan anamnesis dan observasi termasuk dalam F33.3
Gangguan Depresif berulang, Episode Kini berat dengan gejala psikotik.
Yaitu kriterian untuk depresif berulang harusdipenuhi, dan episode sekarang
harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat dengan gejala psikotik
dan sekurang-kurang nya telah berlangsung minimal 2 minggu dengan sela
waktu beberapa bulan tanpa gangguan afektif bermakna.
Diagnosis aksis II

11

Tidak ditemukan adanya ciri kepribadian ataupun gangguan kepribadian pada


pasien.
Diagnosis aksis III
Sinusitis
Diagnosis aksis IV
Berdasarkan autoanamnesis, didapatkan adanya masalah psikososial dan
lingkungan sebelum timbulnya gejala.
Diagnosis aksis V
Skala GAF :
GAF HLPY : setahun sebelum masuk rumah sakit, pasien masih dapat
berinteraksi social dan melakukan bekerja dan kegiatan sehari-hari. Oleh karena
itu GAF tertinggi pasien setahun terakhir 80-71( gejala sementara dan dapat
diatasi, disabilitas ringan dalam social, pekerjaan, sekolah, dll).
Saat masuk rumah saki melalui UGD pasien merusak barang-barang di
rumah, memukul orang rumah dan mudah tersinggung. Oleh karena itu GAF pada
saat masuk 40-31 (beberapa disabillitas dalam hubungan dengan realita dan
komunikasi , disabilitas berat dalam beberapa fungsi).
VII. EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I

: Gangguan Depresif berulang, Episode Kini berat dengan

gejala psikotik
Aksis II
:
Aksis III
:
Aksis IV
:
Aksis V
:

(DSM IV dan PPDGJ III)


Tidak ada diagnosis
Sinusitis
Masalah psikososial dan lingkungan
GAF HPYL : 80-71
GAF saat masuk : 40-31

VIII. DAFTAR PROBLEM


Organobiologi : Tidak ada faktor herediter
Psikologis
: Terdapat waham somatik, halusinasi auditorik 1 order
Sosiobudaya
: Hendaya dalam fungsi sosial
IX. DIAGNOSIS BANDING
Gangguan Depresif berulang, episode kini sedang
Gangguan bipolar episode kini manik dengan gejala psikotik
Skizoafektif
Skizoafektif tipe depresif
X. PROGNOSIS
Ad vitam
: ad bonam
12

Ad fungsionam : dubia ad bonam


Ad sanasionam : dubia ad malam
A. Faktor yang memperingan :
- Adanya dukungan dari keluarga
- Gejala muncul didahului oleh stressor (pencetus)
- Tidak adak factor herediter
B. Faktor yang memperberat :
- Tidak adanya pekerjaan di luar rumah
- Dengan gejala psikotik
- Teman dan tetangga yang menurutnya suka mengejek
X. PENATALAKSANAAN

Psikofarmaka :
1. Antipsikotik di berikan Haloperidol 3x5 mg
2. Untuk anti depresi amitriptyline 1x75mg
3. Mood stabilizer lithium caaarbonat 1x200mg, di pastikan dengan tidak
ada gangguan ginjal atau cek fungsi ginjal
4. Cegah efek ekstrapiramidal beri triheksifenidil 3x 2mg

Psikoterapi
Psikoterapi suportif dengan memberikan pasien kesempatan untuk
menceritakan masalahnya dan meyakinkan pasien bahawa ia
sanggup menghadapi masalah yang ada.
Memotivasi pasien untuk rajin minum obat secara teratur dan
memberikan

dukungan kepada pasien bahawa ia dapat kembali

pulang ke rumah apabila menurut dokter yang merawat keadaan


dirinya sudah membaik.
Memberikan pengetahuan tentang kehidupan beragama, berkeluarga,
dan sosial yang baik.
Memberikan motivasi kepada pasien agar meningkatkan kepercayaan
dirinya timbul.

Sosioterapi
13

Memberi nasehat kepada keluarga pasien agar mengerti keadaan


pasien dan selalu memberi dukungan kepada pasien.
Mengikutsertakan pasien dalam kegiatan RSMM agar dapat
berinteraksi dengan baik dan pendalaman agama sesuai dengan
kepercayaannya.
Mengingatkan keluarga pasien untuk rajin kontrol ke Poli Psikiatri
dan mengambil obat secara teratur setelah selesai rawat inap dalam
program rawat jalan.
Mengajarkan keterampilan yang sesuai dengan kemampuan dan
pendidikannya.

14