Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

PROSES PEMBUATAN SABUN DAN DETERGENT


DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang .

2.

Rumusan Masalah .

3.

Tujuan 4

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Sejarah pembuatan sabun dan detergen ..

2.2. Kegunaan dan Ekonomi Sabun dan Detergen

2.3.Detergent ..

2.3.1. pengertian .

2.3.2. Raw Material .

2.3.3. Proses Pembuatan Detergent ..

12

2.4.Sabun.

16

2.4.1. Pengertian ..

16

2.4.2. Raw Material ..

16

2.4.3. Proses Pembuatan Sabun

17

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan ..

22

LAMPIRAN . .

23

DAFTAR PUSTAKA .

25

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Produksi dan Penjualan sabun dan detergent .. 7

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Proses alfol 10
Gambar 2. Hidrogenolisis metil ester untuk mendapatkan fatty alcohol
dan gliserin . 11
Gambar 3. Proses pembuatan detergen 13
Gambar 4. Pembuatan surfaktan .. 15
Gambar 5. Cara pembuatan sabun, produksi asam lemak dan gliserin
(proses kontinyu) . 18
Gambar 6. Flowsheet pembuatan gliserin dari hidrolisis sweet water.. 19

BAB I
PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang

Indonesia merupakan negara heterogen dari segi aktifitas perindustriannya, meskipun


bukan termasuk negara perindustrian di Dunia. Perindustrian di Indonesia mulai dari industri
rumah tangga, industri dengan beraggotakan komunitasnya saja, hingga industri global dengan
berbagai kerjasama dan cabang-cabang dari negara lain.
Adapun kota-kota besar di Indonesia yang merupakan kota industri terbesar adalah
Surabaya, Sidoarjo dan Bekasi. Beberapa perusahaan di kota tersebut merupakan cabang/
kerjasama dari negara lain misalnya PT. Kao Indonesia, yang salah satu hasil produksinya adalah
Sabun dan Detergent. Tidak hanya perusahaan tersebut yang memproduksi sabun di Indonesia,
namun juga PT. Wings Indonesia, PT. Unilever dan lain sebagainya.
Proses pembuatan Sabun dan Detergent pada skala industri rumah tangga atau
konvensional memang tidak terlalu rumit, namun apabila produksi ini dilakukan pada skala
besar/ sekitar beberapa ton perhari tentulah membutuhkan ilmu khusus untuk melakukannya.
Hal yang harus dilakukan pada proses pembuatan Sabun dan Detergent adalah persiapan
raw material (bahan baku), pengendalian proses, pengendalian alat, dan treatment hasil produksi.
Semua hal tersebut akan dibahas pada makalah yang berjudul Proses Pembuatan Sabun dan
Detergent ini.
1.2. Rumusan Masalah
1.

Bagaimana sejarah pembuatan Sabun dan Detergent?

2.

Bagaimana kegunaan dan Ekonomi Sabun dan Detergent?

3.

Bagaimana Proses Pembuatan Detergent?

4.

Bagaimana Proses Pembuatan Sabun?

1.3. Tujuan
1.

Mengetahui sejarah pembuatan Sabun dan Detergent.

2.

Mengetahui kegunaan dan Ekonomi Sabun dan Detergent.

3.

Mengetahui Proses Pembuatan Detergent.

4.

Mengetahui Proses Pembuatan Sabun.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Sejarah Pembuatan Sabun dan Detergen.
Sabun sendiri sebenarnya tidak pernah ditemukan, tetapi terus dikembangkan dari
campuran mentah basa dan lemak. Pada abad pertama, Pliny, sang pencetus menjelaskan proses
pembuatan sabun, hingga pada abad ke-13, sabun diproduksi secara industri. Sampai awal abad
ke-18, sabun diyakini campuran lemak dan basa secara mekanis; hingga Chevruel, ahli kimia
Perancis, menunjukkan bahwa pembuatan sabun sepenuhnya melibatkan reaksi kimia.
Domeier menemukan bahwa gliserin dapat diperoleh dari proses saponifikasi. Leblanc
juga menemukan bahwa natrium karbonat dapat diproduksi dengan harga yang murah dari
natrium klorida. Bahan mentah yang semakin menipis pada PD I menyebabkan Jerman
mengembangkan sabun sintetik atau detergen yang terbuat dari rantai pendek alkil naphtalene
sulfonates sebagai wetting agent yang baik. Pada tahun 1920-an dan 1930-an, rantai pendek
penyusun detergen dikembangkan menjadi rantai panjang alkohol sulfat dan pada tahun 1950-an
dikembangkan

menjadi

senyawa

rantai

bercabang.

Selama

tahun

1960-an,

syarat

biodegradability menjadi penting untuk diperhatikan sehingga senyawa penyusun detergen


kembali ke rantai panjang tidak bercabang karena rantai tidak bercabang dapat dengan mudah
diuraikan.

2.2. Kegunaan dan Ekonomi


Digunakan dalam produk laundry, sabun toilet, sampo, sabun cuci piring, dan produk
pembersih pada rumah tangga. Kegunaan pada industri yaitu bahan pembersih, surfaktan khusus
untuk anti kuman di rumah sakit, pengemulsi pada kosmestik, flowing dan wetting agent untuk
bahan kimia pertanian, dan digunakan pada proses pengolahan karet. Secara umum, sabun dan
detergen digunakan untuk menghilangkan minyak.
Tabel 1. Produksi dan Penjualan Sabun dan Detergen
Sabun

Surfaktan

Total

106$

kt

106$

kt

106$

Kt

1940

313

1455

13

320

1468

1945

527

1717

35

68

562

1785

1950

540

1308

294

655

834

1963

1960

376

558

953

1789

1329

2347

1970

427

567

1379

2565

1806

3132

1980

1030

545

8430

2663

9460

3208

sumber: Austin, 1984


2.3. Detergen
2.3.1. Pengertian
Detergen
dengan

berbeda

sabun

dalam

kerjanya pada air sadah.


Sabun

membentuk

senyawa tidak larut dengan ion air sadah (Ca dan Mg) yang menyebabkan endapan dan
mengurangi busa dan cleaning actionnya. Detergen bereaksi dengan ion air sadah yang hasil
produknya

larut

atau

terdispersi

secara

koloid

dalam

air.

Detergen dibagi dalam 4 kelompok utama, yaitu anionik, kationik, nonionik dan
amfoterik. Kelompok terbesarnya adalah anionik yang biasanya adalah garam natrium dari
sulfonat (organik sulfat).
Pengotor dapat dihilangkan melalui proses pembasahan, pengemulsian, pendispersian dan
atau pelarutan noda oleh cleaning agent. Molekul detergen yang berkelompok dalam air
dinamakan micelles. Bagian hidrokarbon dari molekul detergen berkelompok dengan micelles
dinamakan hidrofobik (tidak suka air) sedangkan bagian polar berada di luar micelles dinamakan
hidrofilik (suka air). Senyawa yang tidak dapat larut dalam air kemudian terlarut ke dalam
bagian tengah micelles yang ditarik oleh grup hidrokarbon. Proses ini dinamakan solubilisasi.

Dewasa ini, komposisi detergen diubah ke komposisi yang lebih ramah lingkungan. Hal
ini dikarenakan detergen memiliki fosfat yang menyebabkan eutrofikasi dalam air alam.
2.3.2. Raw Material (Bahan Mentah)
Bahan aktif detergen adalah surfaktan. Kebanyakan menggunakan bahan inorganik,
seperti oleum, caustic soda, natrium fosfat dan additives yang 3% dari detergen.
2.3.2.1. Surfaktan
Surfaktan adalah bahan yang dapat meningkatkan sifat rambatan suatu cairan pada suatu
objek. Sifat zat seperti ini dimanfaatkan untuk menurunkan tegangan permukaan suatu cairan
atau pada larutan dimana antara dua larutan memiliki efek interfacial tension.
Proses pencucian meliputi :
1.

Dengan membasahi kotoran dan permukaan kotoran yang ingin dicuci dengan larutan
detergen

2.

Memindah kotoran dari permukaan

3.

Memelihara kotoran pada larutan stabil


Dalam air cucian, detergen mempunyai wetting agent yang dapat mempermudah menembus

ke serat pakaian dan mengangkat kotoran. Setiap molekul larutan pencuci dapat dianggap
sebagai rantai panjang. Ujung rantainya adalah hidrofobik dan ujung yang lainnya adalah
hidrofilik. Bagian hidrofobik bekerja menyelubungi dan mengikat noda. Pada waktu yang
bersamaan, bagian hidrofilik dari detergen berikatan dengan air sehingga noda dapat terangkat
dari serat pakaian mengikuti aliran air.

Klasifikasi surfaktan :
1.

hydrofobik merupakan hidrokarbon dengan jumlah 8 hingga 18 atom karbon yang


berbentuk lurus ataupun bercabang. Ada juga benzene yang mengganti ikatan atom
karbon tersebut, contohnya C12H25-, C9H19.C6H4-.

2.

hydrofilik dapat berupa anionik, contohnya OSO 4- atau SO32-; kationik, contohnya
N(CH3)3+ atau C5H5N+; atau nonionik (OCH2CH2)nOH. Pada senyawa anionik, senyawa

yang paling banyak dipakai adalah linear alkylbenzene sulfonate (LAS) dari minyak
bumi dan alkyl sulfates dari lemak hewan dan tumbuhan. Anionik dan kationik tidak
cocok untuk sabun. Kondensasi etilen oksida dari fatty alkohol adalah contoh non-ionik
surfaktan. Non-ionik lebih efektif dari anionik dalam mengangkat kotoran pada
temperatur yang lebih rendah untuk serat kain.
Rantai Lurus Alkil Benzen
n-Alkana dipisahkan dari kerosin dengan mengadsropsinya menggunakan saringan
molekular. Alkana bercabang dan siklik mempunyai diameter cross-sectional yang lebih besar
dari rantai lurus sehingga memungkinkan pemisahan menggunakan saringan. Metode pemisahan
senyawa parafin dari rantai alkana bercabang dan rantai siklik yang bereaksi dengan urea atau
thiourea. Urea akan bereaksi dengan rantai lurus hidrokarbon (7 atom karbon) untuk
memberikan crystalline adduct yang dipisahkan dengan filtrasi. Pengadukan dapat diperoleh
dengan memanaskan air pada 80 sampai 900C. Sebaliknya, thiourea akan bereaksi dengan rantai
hidrokarbon bercabang tetapi tidak akan membentuk adduct dengan rantai lurus atau aromatik.
Parafin yang terpisah diubah menjadi benzene alkylates atau diretakkan untuk menghasilkan olefin.
Olefin rantai lurus dihasilkan dari dehidrogenasi parafin, polimerisasi etilen ke -olefin
menggunakan katalis aluminum trietil (katalis pada proses perombakan lemak Ziegler),
meretakkan lilin parafin atau dengan dehidrohalogenasi alkil halida. -Olefin atau alkana halida
dapat digunakan untuk alkylate benzena melalui reaksi Friedel-Crafts dengan memperkerjakan
asam hidrofluorik atau aluminum florida sebagai katalis.
2.3.2.2. Fatty Alcohol
Pembuatan fatty alkohol : Prosedur katalis Ziegler untuk mengubah -olefin menjadi
fatty alkohol dan proses hidrogenasi metil ester adalah metode penting untuk menyiapkan fatty
alkohol.

Gambar 1. Proses alfol


Sumber: Austin, 1984
Fatty alkohol dibuat dari golongan organometallic yang memiliki panjang rantai karbon
berkisar antara 6 sampai 20 karbon. Proses alfol digunakan oleh Conoco dimulai dengan
mereaksikan logam aluminium, hidrogen, dan etilen pada tekanan tinggi untuk memproduksi
aluminium trietil. Senyawa ini kemudian dipolimerisasikan dengan etilen ke bentuk alumunium
alkil. Kemudian dioksidasi dengan udara untuk membentuk alumunium alkoxides. Saat
pemurnian, alkoxides dihidrolisis dengan 23-26% asam sulfat untuk memproduksi bahan mentah
dan utama, alkohol rantai lurus. Kemudian dinetralisasikan dengan NaOH, dicuci dengan air dan
dipisahkan dengan fraksinasi. Setiap grup etil dari aluminium trietil dapat ditambahkan etilena
untuk membentuk aluminium trialkil dari 4 hingga 16 atom karbon per grup alkil.

Gambar 2. Hidrogenolisis metil ester untuk mendapatkan fatty alkohol dan gliserin.
Sumber: Austin, 1984

2.3.2.3. Suds Regulator


Adalah zat tambahan untuk membuat kerja surfaktan efektif pada mesin pencuci
pakaian.

2.3.2.4. Builders
Kompleks fosfat, seperti natrium tripolifosfat banyak digunakan karena dapat mencegah
menempelnya kembali noda dari air cucian ke serat kain. Polifosfat mempunyai aksi sinergis
dengan surfaktan sehingga meningkatkan efektifitas dalam proses pembersihan dan mengurangi
biaya keseluruhan. Peningkatan cepat produksi detergen dikarenakan penggunaan polifosfat.
Selama tahun 1960-an, pertumbuhan alga dan eutrofikasi di danau berhubungan dengan adanya
fosfat di detergen sehingga banyak negara menganjurkan zat pengganti fosfat. Senyawa yang
pertama kali disarankan untuk mengganti fosfat adalah nitrilotriacetic acid (NTA), tetapi
senyawa tersebut dinyatakan karsinogen pada tahun 1970. Builders

lainnya

aalah

sitrat,

karbonat, dan silikat. Pengganti fosfat terbaru yang menjanjikan adalah zeolit. Di tahun 1982,
136 kt/tahun zeolit digunakan sebagai builders detergen. Di tahun 1980, builder mengandung
50% fosfat, 12% zeolit, 13% silikat, 12% karbonat, serta NTA dan sitrat masing-masing 2%.
2.3.2.5. Aditif
Penghambat korosi, seperti natrium silikat melindungi logam dan alat pencuci dari kerja
detergen dan air. Karboksimetil selulosa digunakan sebagai antiredeposition. Penghilang noda,
contohnya benzotriazole bekerja bersama penghambar korosi untuk melindungi logam seperti
stainless steel. Zat untuk membuat serat kain lebih bercahaya adalah pewarna fluorescent karena
memiliki kemampuan untuk mengubah sinar ultraviolet ke cahaya tampak. Bluings
meningkatkan putihnya kain dengan menangkal kencenderungan kain untuk menjadi kuning
secara alami. Agen antimikroba meliputi carbanilides, salicylanilides, dan kationik. Type
pemutih peroxygen (sejenis enzym) digunakan untuk menguraikan kotoran dan membuat partikel
kotoran tersebut lebih mudah untuk terangkat dari serat pakaian.

2.3.3. Proses pembuatan detergent

1.

Sulfonasi Alkylbenzene

1.

Reaksi utama

+ H2SO4.SO3

Alkylbenzene

2.

oleum

SO3H + H2SO4

alkylbenzene sulfonat

Reaksi ke dua

asam sulfat

SO3
H

SO3H + H2SO4.SO3 R

Alkylbenzen sulfinat

H = -420 kj/kg

oleum

SO3H + R1

SO3H + H2SO4
disulfonat

asam sulfat

SO2

R1 + H2O

Alkylbenzene
sulfonat

Alkyl benzene

sulfone 1%

Proses pembuatan detergen dapat dijelaskan melalui gambar berikut ini.

water

Gambar 3. Proses pembuatan detergen


Sumber: Austin, 1984
Fatty Alcohol Sulfonation
1.

Reaksi utama

R-CH2OH + SO3.H2O
2.

ROSO3H + H2O

H = -325 sampai -350 kj/kg

Reaksi sekunder

R-CH2OH + R-CH2-OSO3H R-CH2-O-CH2-O-CH2-R +H2SO4


R-CH2-CH2OH + SO3 R-CH=CH2 + H2SO4
R-CH2OH + SO3 RCHO + H2O + SO2
R-CH2OH + 2SO3 RCOOH + H2O + 2SO2

Susunan proses pembuatan detergen adalah sebagai berikut:


1.

Sulfonation-sulfation

Alkilbenzen yang dimasukkan ke dalam sulfonator dengan penambahan sejumlah oleum,


menggunakan dominant bath principle (yang ditunjukanpada gambar 29.8) untuk mengontrol
panas pada proses sulfonasi dan menjaga temperature tetap pada 550C. di dalam campuran
sulfonasidimasukkan fatty tallow alcohol dan oleum. Semuanya dipompa menuju sulfater,
beroperasi juga dalam dominant bath principle untuk menjaga suhu agar tetap pada kisaran 500
hingga 550C, pembuatan ini campuran dari surfactant.
2.

Netralization
Produk hasil dari sulfonasi-sulfasi dinetralisasi dengan larutan NaOH dibawah
temperature yang terkontrol untuk menjaga fluiditas bubur surfaktan. Surfaktan
dimasukkan dalam penyimpanan.
Berikut ini merupakan diagram alir pembuatan surfaktan:

Gambar 4. Pembuatan surfaktan


Sumber: Austin, 1984\
Bubur surfaktan, sodium tripolipospat , dan bermacam-macam bahan aditif masuk ke
dalam crutcher. Sejumlah air dipindahkan, dan pasta campuran ini menebal oleh
tripolipospat yang terhidrasi.

Na5P3O10

Sodium tripolipospat

6H2O

Na5P3O10.6H2O
sodium tripolipospat hexahydrate

Campuran ini dipompa ke upper story, dimana campuran ini disemprotkan dibawah tekanan
tinggi ke dalam high spray tower setinggi 24m, melawan udara panas dari tungku api. Butiran
kering ini adalah bentuk yang dapat diterima, ukuran dan densitas yang sesuai dapat dibentuk.
Butiran yang sudah dikeringkan di alirkan ke upper story lagi melalui lift yang dapat
mendinginkan mereka dari 1150C dan menstabilkan butiran. Butiran ini dipisahkan dalam
goncangan, dilapisi, diharumkan dan menuju pengemasan.
2.4 . Sabun
2.4.1. Pengertian
Sabun merupakan zat yang jika bereaksi dengan air sadah akan membentuk endapan.
Sabun terbentuk dari garam sodium atau potassium dari asam karboksilat panjang (seperti asam
stearat, asam oleat atau palmitat dan asam myristat) sebagai hasil hidrolisis terhadap minyak atau
lemak oleh basa (NaOH atau KOH). Sabun berfungsi sebagai emulgator terhadap kotoran,
minyak dan oli sehingga kotoran-kotoran ini mudah terlepas dan terbawa melalui pembilasan
dengan air. Sifat sabun ini menjadi kurang berfungsi apabila air untuk pencuci atau pembilasnya
bersifat sadah.
2.4.2. Raw Material (bahan baku pembuatan sabun)
Bahan dasar sabun adalah minyak/ lemak dan NaOH (soda kaustik) dan KOH dengan
bahan tambahan berupa pengharum, pewarna, bahan pengisi dan lain-lain. Lemak merupakan
komponen utama dalam pembuatan sabun. Lemak ini mengandung campuran gliserida yang
didapat dari lemak padat yang diberi pemanasan. Lemak padat dirombak dengan dipanaskan,
yang setelah itu membentuk lapisan diatas permukaan air sehingga dapat diambil dengan mudah.
Lemak ini biasanya dicampur dengan minyak kelapa di ketel sabun atau penghidrolisis untuk
meningkatkan kelarutan sabun tersebut. Dalam pembuatan sabun, fatty grases ( 20%) adalah
bahan baku yang paling penting setelah lemak. Lemak greases dapat didapatkan dari babi dan
hewan domestik dimana bahan ini penting sebagai sumber gliserin dari asam karboksilat.

Penambahan minyak kelapa pada pembuatan sabun sangatlah penting. Sabun dengan
bahan dasar minyak kelapa bertekstur kuat dan terlihat lebih mengkilat. Minyak kelapa sebagian
besar mengandung gliserida dari asam laurtat dan asam myristat.
Bahan baku pembuatan sabun sangat banyak konsumennya, terutama soda kausatik,
garam, soda ash, dan kausatik potassium, begitu pula sodium silikat, sodium bikarbonat, dan
trisodium pospat.
Bahan anorganik yang ditambahkan pada pembuatan sabun disebut Builders. Tetrasodium
piropospat dan sodium Tripolipospat merupakan bahan tambahan pada sabun yang dinamakan
Builders.
2.4.3. Proses produksi sabun
Teknologi pembuatan sabun semakin berkembang. Computer mengontrol otomatisasi
pabrik dalam saponifikasi continuous oleh NaOH dan lemak, untuk berproduksi dalam waktu 2
jam sama dengan pembuatan sabun secara keseluruhan (lebih dari 300 t/ day) debuat dengan 2-5
hari dengan metode traditional batch.
Prosedur ini melibatkan proses perombakan secara kontinyu, atau hidrolisis yang dapat
ditunjukkan pada tabel berikut ini.
Tallow + Hydrolysis (splitting fats) tallow fatty acid
Tallow fatty acid + NaOH sodium salt
Tallow of fatty acid + Builders, etc soap
Setelah terjadi pemisahan gliserin, asam karboksilat dinetralisasikan menjadi sabun.
Proses kimia dasar dalam pembuatan sabun disebut saponifikasi, dengan reaksi sebagai berikut:
3NaOH + (C17H35COOH)3C3H5 3C17H35COONa + C3H5(OH)3
Caustic soda

gliseril stearat

sodium stearat

gliserin

Prosedur ini untuk merombak atau menghidrolisis lemak dan kemudian setelah terpisah
dari gliserin, asam lemak dinetralisasikan dengan larutan soda kaustik:

(C17H35COO)3C3H5 + 3H2O 3C17H35COOH +C3H5(OH)3


C17H35COOH + NaOH C17H35COONa + H2O
Biasanya lemak dan minyak dijual tidak terkomposisi gliserin dari asam lemak satu pun, tetapi
dalam bentuk campuran. Namun demikian, beberapa asam lemak dengan kemurnian 90% atau
lebih dapat ditempuh dengan proses yang khusus.
Selanjutnya, perombakan secara countercurrent lemak ini dikondisikan dalam keadaan
vacuum untuk mencegah terjadinya oksidasi selama proses. Ini terisi dari bawah dari menara
hidrolisis yang berbentuk seperti palung dengan kecepatan yang terkontrol yang akan memecah
lemak menjadi tetesan tetesan. Menara mempunyai ukuran dengan tinggi 20 meter dan
berdiameter 60 cm, dirancang dengan bahan stailess steel tipe 316. Lihat gambar dibawah ini.

Fatty acid

stea
m

Flash
tank

Causti
c soda
condenso
r

stea
m

Hot
wate
r

Heat
excanger

Coolin
g
water

High
vacuu
m still

Heat
excanger

Hydrolizer
250OC, 4
MPa

Fats
and
catalys

High
pressure
pump

Mixer
neutrali
zer

Soap
blender

Distillat
e
receiver

steam

Flash
tank

air

Bottoms
to storage
and
recovery

Blen
d
tank

stea

Convention
al soap
finishing:
bar, flake
or power

Fatty acid

evaporat
or

freeze
r
Cutter,
pack
of

Aerated
bar soap

Crude
glyceri
n

Gambar 5. Cara pembuatan sabun, produksi asam lemak dan gliserin (proses kontinyu).
Sumber: Austin, 1984
Minyak dimasukkan melalui bagian bawah tanki menara, karena densitasnya relative
kecil (lebih kecil dari densitas air), maka lemak akan terangkat keatas dan sebagian kecil bahan
lemak akan terlarut menjadi cairan gliserin. Pada waktu yang sama, H2O murni dimasukkan ke
dalam menara melalui bagian atas, sehingga inilah yang disebut dengan proses hidrolisis lemak
secara countercurret dimana proses ini akan mengekstrak gliserin yang terlarut dalam lemak.
Kedua aliran ini bereaksi dalam keadaan tekanan dan suhu tinggi.
Setelah perombakan selesai, asam lemak keluar dari bagian atas menara, sedangkan
larutan gliserin keluar dari bawah menara yang otomatis akan terkontrol pada settling tank. Lihat
gambar berikut ini (gliserin proses).

Flash
tank

Sweet
water from
hydrolyzer
12 glycerol

To
ejecto
r

Crude glycerin
settling tank
ST

DR

For

To ejector
condense
rs

Glyceri
n still

Crude
glycerin
(78%
glycerol)

HP
stea

causti
c

Still feed
tank

stea
m
Distilatio
n roots

Heat
exchanger

Product

Activated
charcoal
CP
glicer
ol

HG
glycer
in

TD
glycer
in

filter
Refined
glycerin (9599% glycerol)

Bleachin
g tank

Gambar 6. Flowsheet pembuatan gliserin dari hidrolisis sweet water.


Sumber: Austin, 1984
Meskipun campuran asam lemak yang dihasilkan dari metode di atas digunakan sebagai
bahan pembuatan sabun, asam lemak dapat diproduksi sebagai produk keluaran, dan dapat
dipisahkan lagi menjadi komponen yang berguna. Komposisi asam lemak dari perombakan
tergantung pada lemak atau minyak yang dimasukkan. Pada umumnya yang digunakan untuk

produksi asam lemak meliputi lemak hewani, minyak kelapa, palm, biji kapas dan minyak
kedelai. Proses lama yang banyak digunakan adalah panning dan pressing. Proses kristalisasi
fraksional ini terbatas pada campuran asam lemak dimana yang siap untuk dipadatkan seperti
Tallow Fatty Acid. Lelehan asam lemak mengalir ke panic, didinginkan, dibungkus dengan kain
goni, dan ditekan. Pengekstrakan ini dapat direalisasikan pada penghasilan minyak merah
(umumnya oleic acid ) dari padatan asam stearat. Total angka penekanan dapat mengindikasikan
kemurnian produk. Untuk memisahkan asam lemak dari rantai panjang yang berbeda dapat
ditempuh dengan cara distilasi, vacuum distillation adalah yang umum digunakan.
Dibawah ini merupakan susunan prinsip pembuatan sabun padat:
1.

Pengangkutan lemak dan minyak.

2.

Pengangkutan dan pembuatan soda kaustik.

3.

Pencanpuran katalis, ZnO, dengan leburan lemak dan pemanasan pada tanki pencampur.

4.

Lemak panas dan katalis masuk ke dalam menara hidrolisis melalui bagian bawah.

5.

Perombakan lemak terjadi secara countercurrent di dalam hydrolyzer pada suhu 2500C
dan tekana 4,1 MPa. butiran lemak akan naik ke atas berlawanan dengan fase cairnya.

6.

Fasa cairnya (H2O) akan melarutkan rombakan gliserin (12%), jatuh ke bawah dan
terpisah.

7.

Kemudian fasa gliserin-air di uapkan dan dimurnikan. Didapatkan gliserin.

8.

Fasa asam lemak yang keluar dari bagian atas hydrolizer dikeringkan dalam flash tank
menggunakan cahaya kilasan dan dipanaskan dengan cepat.

9.

Di dalam high-vacuum still, asam lemak didistilasi dari bawah.

10.

Sabun di bentuk dengan melanjutkan penetralisasian menggunakan 50% soda kaustik


dalam mixer-neutralizer dengan kecepatan tinggi.

11.

Sabun murni ini dibebaskan pada suhu 93oC kedalam tanki pencampuran dengan
digoncangkan secara perlahan untuk keluar dari penetralisasian. Pada saat ini sabun
murni dapat dianalisis: 0.002 hingga 0.10 % NaOH, 0.3 hingga 0.6% NaCl, dan 30%
H2O. sabun murni ini dapat diolah, dipotong atau dikeringkan, tergantung pada
permintaan produk. Diagram alir pada gambir 29.3 menggambarkan proses finishing
sabun padat.

12.

Proses finishing ini dapat di detailakan: tekanan yang dilakukan pada sabun murni
mencapai 3.5 MPa, dan sabun dipanaskan pada suhu 200 oC dalam steam exchanger
dengan tekan tinggi. Sabun panas ini, dilepaskan pada tanki yang bertekanan atmosfer,
dimana dikeringkan (hingga mencapai 20 %) karena larutan sabun dapat terbentuk diatas
titik didihnya pada tekanan atmosfer. Pada hubungan ini, pasta sabun dicampur dengan
udara dalam mesin, dimana sabun juga didinginkan oleh sirkulasi air laut, yang kemudian
keluar dari 105oC menjadi 65oC. Pada temperatur ini, sabun dilanjutkan dengan
pemotongan dengan ukuran sabun padat. Lalu segera didinginkan, dicap, dan dibungkus
dengan operasi mesin. Proses ini berlangsung selama 6 jam.

BAB III
PENUTUP
1.

Kesimpulan

1.

Pembuatan detergen dan sabun pada skala industri merupakan gabungan dari ilmu-ilmu
exact sebegitu rupa, dan memerlukan alat-alat yang perlu pengendalian khusus dan
mempunyai spesifikasi tertentu.

2.

Pada proses pembuatan detergen, yang pertma kali dilakukan adalah dengan pembuatan
surfaktan. Lalu hasil surfaktan ini, untuk membuat detergent dicampur dengan phospat,
silikat dan dry scrap. Adapun komposisi surfaktan adalah alkyl benzene sulfonat, fatty
alcohol, oleum dan larutan NaOH. Proses pembuatan detergen melalui alat crutcer yang
dilanjutkan ke drop tank setelah itu dipompa ke spray tower untuk pembentukan serbuk.
Serbuk ini di angkat dengan lift udara dan diberi aroma (parfum) kemudian menuju
packing.

Pada proses pembuatan sabun, raw material (bahan baku) yang digunakan adalah lemak, basa
kausatik (NaOH atau KOH), dan katalis. Pertama-tama lemak dan katalis dimasukkan sebagai
feed awal menuju ke blend tank, setelah itu menuju Hidrolizer. Pada hidrolizer lemak dihidrolisis
yang dapat membentuk asam lemak (gas) dan gliserin. Setelah itu asam lemak menuju heat
exchanger, lalu ke high vacuum still yang dilanjutkan ke kondensor dan distillate receiver. Pada
distillate receiver muncul hasil samping berupa asam lemak. Kemudian dari distillate receiver
dilanjutkan ke mixer neutralizer dimana ditambahkannya soda kausatik yang setelah itu menuju
soap blender dan menghasilkan sabun padat. Untuk produksi sabun cair, maka proses tidak
cukup sampai disini, dilanjutkan menuju high pressure pump lalu heat exchanger, flash tank dan
packing. Selain sabun yang diproduksi pada proses ini, gliserin dan asam lemak merupakan hasil
samping yang cukup besar pemroduksiannya.