Anda di halaman 1dari 3

Mereka Masih Dapat Bicara

Nurjannah

Anak yang mengalami gangguan pendengaran atau biasa disebut tunarungu seringkali
mendapatkan masalah yang jauh lebih besar dari hambatan pendengarannya sendiri.
kebanyakan dari mereka tidak dapat mengembangkan potensi bicara yang mereka miliki.
Mereka umumnya dididik sejak dini untuk menggunakan bahasa lain selain bahasa verbal
karena dianggap tidak dapat mendengar, mustahil dapat bicara.
Yah, anak dengan gangguan pendengaran umunya dikaitkan pula dengan ganggguan bicara.
Memang, dalam proses perkembangan bahasa, proses mendengar merupakan suatu yang tak
dapat dipisahkan dengan perkembangan bahasa anak, namun bukan berarti anak yang
memiliki gangguan pada pendengarannya lantas sama sekali tidak memiliki potensi untuk
berbicara.
Hal yang sangat disayangkan karena sebagian orang tua yang mengetahui bahwa anaknya
memiliki gangguan dalam pendengarannya terlalu frustasi. Mereka seolah menyerah ketika
akhirnya lebih memilih menggunakan alternaif berbahasa dengan gerakan tubuh atau bahasa
isyarat dan secara otomatis memasifkan organ bicara mereka. Anak lantas dibiasakan untuk
hanya berbahasa isyarat, jelas akhirnya mereka tidak mampu mengucapkan bahasa verbal.
Lanjut ke masa sekolah, barulah kesulitan ini mulai dirasakan kebanyakan orang tua. Di
sekolah khusus, mereka diajarkan atau lebih tepatnya mendapat pelatihan khusus untuk
bicara. Kebanyakan usia anak saat itu kisarran 8 tahun, bukan mustahil namun dirasa lebih
sulit karena nyatanya belajar bicara bukan merupakan proses yang mudah untuk dibiasakan
bagi anak yang tadinya bahkan tidak mengenal apa itu bicara.
Hal ini akan berbeda ketika sejak kecil mereka dibiasakan untuk dapat menggunakan
kemampuan bicara yang mereka miliki. Orang tua tetap dapat menggunakan bahasa verbal
dengan lisan sekaligus bahasa isyarat untuk memudahkan. Hal ini untuk mengajari mereka
secara tidak langsung bagaimana membaca bibir juga mengucapkan kata sehingga diharapkan
organ bicara mereka tidak pasif.
Pada nyatanya, sedikit sekali anak dengan gangguan pendengaran yang sama sekali tidak
dapat mendengar. Bukannya mendengar bunyi dengan jelas, mereka mungkin hanya dapat
mendengar bunyi tertentu, bunyi yang didengar bercampur aduk, atau mungkin lingkungan
terasa lebih tenang dari pada aslinya. Seseorang dengan gangguan pendengaran mungkin

mendengar bunyi dengan cara seperti itu, mereka mungkin dapat mendengar sesuatu, namun
tidak cukup baik untuk dapat mengidentifikasi bunyi apa itu.
Secara umum, terdapat empat tingkat kehilangan pendengaran: ringan, sedang, dan parah.
Besarnya pendengaran yang masih dimiliki seseorang disebut sisa pendengaran. Besarnya
tingkat gangguan pendengaran yang dimiliki seseorang tergantung pada sisa pendengaran
yang masih mereka miliki.
Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan anak yang
mengalami gangguan pendengaran. Di antara metode-metode tersebut, terdapat banyak
pertentangan antar para ahli mengenai metode mana yang paling tepat digunakan.
Bagaimanapun semua metode jalas memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Beberapa metode yang berusaha mengembangkan potensi bicara anak di antaranya:
pendekatan audiotori-verbal, pendekatan audiotori-oral, dan tutur isyarat.
Pendekatan audiotori-verbal adalah bentuk komunikasi tanpa isyarat yang digunakan bagi
anak dengan sisa pendengaran. Pada metode ini, anak benar-benar diajak menggunakan lisan
mereka dengan dibantu alat pendengaran. Banyak anak yang berhasil dapat berkomunikasi
nyaris persis seperti orang pada umunya dengan menggunakan alat bantu pendengaran,
namun banyak anak yang justru gagal. Hal ini disebabkan setiap anak memiliki gangguan
atau kerusakan yang berbeda-beda pada pendengarannya sehingga tidak setiap anak mampu
menggunakan alat bantu dengar dengan baik. Kebanyakan alat bantu dengar pun tidak
membuat anak lantas mampu mendengar bunyi seperti orang normal pendengaran
mendengar, salah satu kelemahan alat bantu dengra ini adalah tidak mampu membedakan
bunyi, alat tersebut hanya memperkeras bunyi.
Pendekatan audioteri-oral pun menggunakan sisa pendengaran sebagai modal utamanya. Pada
pendekatan ini, anak selain dikembangkan potensi mendengarnya, juga potensi bicaranya.
Beberapa terapi wicara dilakukan agar anak kemudian mampu berkomunikasi dengan
lingkungannya. Anak diajarkan untuk dapat bicara seperti anak lainnya. Potensi bicara anak
dioptimalkan sebisanya.
Selain itu, baru baru ini istilah komunikasi total atau biasa disebut komtal, dianggap sebagai
yang paling tepat diterapkan bagi anak dengan gangguan pendengaran. Komunikasi total
bukan merupakan metode, melainkan suatu falsafah komunikasi pada anak dengan gangguan
pendengaran yang menggabungkan semua jenis komunikasi. Komunikiasi total adalah

falsafah yang mencakup cara komunikasi aural, manual, dan oral sehingga terjadi komunikasi
yang efektif dan dengan di antara kaum tunarungu. (Konferensi SLB-B di Rochester, New
York). Komtal bertujuan untuk untuk mencapai sasaran komunikasi dalam arti yang paling
hakiki yaitu terjadinya saling mengerti antara penerima dan pengirim pesan hingga terbebas
dari kesalah-pahaman dan ketegangan.
Anak dengan gangguan pendengaran kebanyakan akan mengalami gangguan bicara juga.
Padahal, nyatanya kebanyakan dari mereka sebenarnya masih memiliki potemsi bicara yang
cukup baik. Kesulitan mereka mendengar membuat lingkungan dan dirinya membiasakan diri
untuk hanya mengandalkan visualisasi dalam berkomunikasi. Ini sangat disayangkan,
mengingat bukan hal yang mustahil bagi mereka dapat berbicara. Karenanya peran seluruh
anggota keluarga sangat penting untuk dapat mendukung mereka mengoptimalkan potensi
bicara tersebut agar nantinya mereka mampu beradaptsi dengan lingkungannya.