Anda di halaman 1dari 27

FILARIASIS

SARAH JIHAAN
1210211186

Hospes

Vektor

Filariasis

Klasifikasi
berdasarkan
etiologi

Daur hidup

HOSPES
Hospes definitive
Manusia

Hospes reservoar
Tipe B malayi yg dapat hidup
merupakan sumber infeksi utk
manusia

Vektor
Cx quinquefasciatus, Cx annulirestris

W.Bancrofti An farauti, An kolinensus, An punctulutus

Mansonia uniformis
Mansonia bonneae
B. Malayi Mansoni dives

B. Timori

An barbiroftris

Daur Hidup
Mikrofilaria yang terisap oleh nyamuk melepaskan sarung dalam
lambung dan bersarang di otot otot thorax (siklus dalam tubuh nyamuk
selama 2 minggu)

Stad I : Mula2 parasit memendek, bentuknya menyerupai sosis

Stad II: kurang lebih 1 minggu larva bertukar kulit, tumbuh


menjadi >> gemuk dan panjang

Stad III: Pada hari ke-10 larva bertukar kulit sekali lagi, tumbuh
semakin panjang dan lebih kurus

Larva stad III bermigrasi, mula mula ke rongga abdomen lalu ke kepala dan
alat tusuk nyamuk

Nyamuk mengigit manusia, larva tsb masuk ke dalam tubuh melalui tempat
tusukan dan bersarang di sal limfe setempat

Larva stad III berganti kulit sebanyak 2x dan tumbuh menjadi larva
stad IV (9-14 hari stlh infeksi)

Larva stad IV berkembang menjadi cacing dewasa (Stad V) dalam


kel limfe dan melakukan kopulasi (berkembang biak)

Menghasillka mikrofilaria dan dilepaskan ke dalam sirkulasi


perifer (6-12 bulan setelah infeksi)

Klasifikasi
Filariasis Wuchereria bancrofti

Filariasis Malayi

Filariasis Timori

Filariasis Wuchereria
bancrofti

DEFINISI
Infeksi yang disebabkan
oleh Wuchereria
bancrofti.

EPIDEMIOLOGI
banyak ditemukan
terutama di daerah
sekitar garis khatulistiwa
dan merupakan masalah
di dataran rendah
Di Indonesia filariasis
tersebar luas; daerah
endemic terdapat di
banyak pulau di seluruh
Nusantara, seperti
Sumatera dan sekitarnya,
Jawa, Kalimantan,
Sulawesi, NTT, Maluku,
dan Irin Jaya
Pedesaan>>kota

Klasifikasi

Kingdom: Animalia
Phylum : Nematoda
Class : Secernentea
Order : Spirurida
Subordi : Spirurina
Famili: Onchocercidae
Genus : Wuchereria

Morfologi
Cacing dewasa jantan dan betina hidup di sal dan
kel limfe
Bentuk: halus dan warna putih susu
Cacing betina berukuran 65-100 mm x 0,25 mm
dan ukuran yg jantan 40 mmx0,1 mm
Cacing betina mengelurkan mikrofilaria yang
bersarung dgn ukuran 250-300 mikron x 7-8
mikron

Gejala Klinis
a. Stadium Tanpa Gejala
- Pembesaran kel limfe terutama di inguinal
-. Px darah: ditemukan mikrofilaria dlm jumlah besar disertai
eosinofilia
b. Stadium Peradangan (Akut)
- Stad ini berlangsung beberapa hari hingga minggu
-. Limfangitis, infalamsi eosinofil akut, demam, menggigil, sakit
kepala, muntah, kelemahan tubuh
-. Menyerang sal limfe tungkai, ketiak, epitrochelar, dan alat kelamin
-. Pada laki2: dpt ditemukan funikulitis, epididimitis, orkitis, dan
pembengkakan skrotum
-. Terkadang dpt muncul hematuri dan proteinuria

c. Stadium Penyumbatan
- Dpt ditemukan hidorokel, limfadema, dan elefantiasis
- Limfadema tungkai dibagi dalam:
1. Tingkat 1: edema pitting tungkai, kembali normal
bila tungkai diangkat
2. Tingkat 2: edema pitting/non, tdk dpt kembali
normal bila tungkai diangkat
3. Tingkat 3: edema non pitting, tdk dpt kembali
normal bila tungkai diangkat, kulit tebal
4. Tingkat 4: edema non pitting dgn jar fibrosis dan
verukosa kulit (elefantiasis)

Lokasi: Ektstremitas atas & bawah (paling sering


bawah), alat kelamin (pria: epididimis, testis, korda
spermatikus; wanita: payudara) ->> ada keterlibatan
alat genital, KHAS.

Diagnosis
ANAMNESIS
Riw bepergian ke daerah endemis
GK sesuai
PX FISIK
Pembengkakan unilateral pada kaki, lengan
skrotum, vulva dan payudara
Hidrokel,
Mengi dan ronkhi (pada tropical pulmonary
esonifilia)

PX PENUNJANG
Px darah perifer: leukositosis, eosinofilia
Ditemukan mikrofilia dlm darah tepi, cairan
hidrokel. Pengambilan spesimen disesuaikan dgn
puncak aktifnya.
Biopsi kelenjar atau jar limfe: ditemukan cacing
dewasa
ELISA dan ICT: utk deteksi antigen
Pencitraan limfoskintigrafi dgn radionuklir, USG
doppler

Tata Laksana
1. Perawatan Umum
. Istirahat dan bila dipindahkan di daerah dingin dpt
mengurangi derajat serangan akut
. Antibiotik utk infeksi sekunder dan abses
. Pengikatan di daerah bendungan utk mengurangi
edema
2. Medikamentosa
. Dietilcarbamazine (DEC) 6 mg/kgBB/hari selama 12
hari -> pengobatan dapat diulang 1-6 bulan atau
selama 2 hari/bln dgn dosis 6-8 mg/kgBB/hari

3. Pembedahan
Aspirasi hidorkel, limfangioplasti, prosedur
jembatan limfe, transportasi flab omentum, eksisi
radikal dan graft kulit, anastomosis pemb limfe ke
dalam, dan bedah mikrolimfatik.

Filariasis Malayi dan


Filariasis Timori

Epidemiologi
a. B,Malayi
Hanya terdapat di Asia, dari India sampai ke
Jepang
b. B Timori
Di Indonesia

Klasifikasi
Brugia Timori
Kingdom: Animalia
Phylum : Nematoda
Class : Secernentea
Order : Spirurida
Subordi : Spirurina
Famili: Onchocercidae
Genus : Brugia
Spesies : Brugia
Timori

Brugia Malayi
Kingdom: Animalia
Phylum : Nematoda
Class : Secernentea
Order : Spirurida
Subordi : Spirurina
Famili: Onchocercidae
Genus : Brugia
Spesies : Brugia
Malayi

Morfologi
Perbedaan

B. malayi

B. timori

Makrofilaria

Panjang : 2,2-2,3 cm

Panjang : 2,1-3,3 cm

Lebar

Lebar

Mikrofilaria

: 0,09 mm

: 0,1 cm

Ruang kepala : panjang = 2

Ruang kepala : panjang = 3

kali lebar

kali lebar

Lekuk badan : kaku

Lekuk badan : agak kaku

B. Malayi

B. Timori

Gejala Klinis
a. Stad Akut
. Demam (5-15 hari), limfadenitis, (hilang timbul,
biasanya unilateral, limfangitis retrograd, sering
terjadi pada orang/ petani yang bekerja di
ladang/sawah
b. Stad Kronik
. Limfedema dan elephantiasis yang terutama
terjadi di ekstremitas bawah
Lokasi: Paling sering kelenjar inguinal, lokasi
lain: aksilla (Tidak pernah mengenai alat
genital)

Tata Laksana
DEC
Ivermektin ->> D: 400 mg/kg BB diberikan sekali
setahun
Albendizol ->> D: 400 mg dosis tunggal setiap
hari untuk 2-3 minggu

Pencegahan
Pencegahan Massal
Pemutusan rantai penularan dengan pengobatan masal pada
penduduk di kecamatan endemis dengan menggunakan
DEC 6 mg/kgBB dan Albendazole 400 mg setahun sekali
selama 5 tahun.

Pencegahan Individu
Menghentikan penyebaran infeksi (dengan kombinasi dua
obat antara albendazole, ivermektin dan DEC)
Meringankan beban penderita (dalam hal ini edukasi untuk
meningkatkan kewaspadaan pasien terhadap infeksi).