Anda di halaman 1dari 24

ANEMIA PADA KEHAMILAN

Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi, dan
merupakan jenis anemia yang pengobatanya relatifmudah, bahkan murah Anemia
pada kehamilanmerupakan rnasalah nasional karena mencerminkan nilai
kesejahteraan

sosia1

ekonomi

masyarkat

dan

pengaruhnya

sangat

besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Anemia kehamilan disebut


potential danger to mother and child (potensial membahayakan ibu dan
anak), karena itulah anemia memerlukan perhatian serius dan semua pihak yang
terkait dalam pelayanan kesehatan pada lini terdepan.
Menurut WHO, kejadian anemia kehamilan,berkisaran antara 20 dan 89%
dengan menetapkan Hb 11 g% (g/dl) sebagai dasarnya. Angka anemia kehamilan
di Indonesia menunjukkan nilai yang cukup tirigi. Hoo Swie Tjiong menemukan
angka anemia kehamilan 3,8% pada trimester I, 13,6% trimester II, dan 24,8%
pada trimester III. Akrib Sukarman menemukan sebesar 40,1% di Bogor. Bakta
menemukan anemia kehamilan sebesar 50,7% di Puskesmas kota Denpasar
sedangkan Sindhu menemukan sebesar 33,4% di Puskesmas Mengwi.
Simanjuntak mengemukakan bahwa sekitar 70% ibu hamil di Indonesia
mengalami anemia akibat kekurangan gizi. Pada pengamatan Iebih lanjut
menunjukkan bahwa kebanyakan anemia yang diderita masyarakat adalah karena
kekurangan zat besi yang dapat diatasi melalui pemberian zat besi secara teratur
dan peningkatan gizi. Selain itu di daerah pedesaan banyak dijumpai ibu hamil
dengan malnutrisi atau kekurangan gizi; kehamilan dan persalinan dengan jarak

yang berdekatan; dan ibu hamil dengan pendidikan dan tingkat sosial ekonomi
rendah.
Kebutuhan Zat Bes pada Wanita Harnil
Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dan laki-laki karena terjadi menst
ruasi dengan perdarahan sebanyak 50 sampai 80 cc setiap bulan dan kehilangan
zat besi sebesar 30 sampai 40 mg. Di samping itu, kehamilan memerlukan
tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk
sel darah merah janin dan plasenta. Makin sering seorang wanita mengalami
kehamilan dan melahirkan akan makin banyak kehilangan zat besi dan menjadi
makin anemis.
Sebagai gambaran berapa banyak kebutuhan zat besi pada setiap keh
amilan perhatikan bagan berikut.
Meningkatkan sel darah ibu

500 mg Fe

Terdapat dalam plasenta

300 mg Fe

Untuk darah janin

100 mg Fe
Jumlah

900 mg Fe

Jika persediaan cadangan Fe minimal, maka setiap kehamilan akan


menguras persediaan Fe tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan
berikutnya. Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena darah ibu hamil
mengalami hemodilusi (pengenceran) dengan peningkatan volume 30% sampai

40% yang puncaknya pada kehamilan 32 sampai 34 minggu. Jumlah peningkatan


sel darah 18 sampai 30%, dan hemoglobin sekitar 19%. Bila hemoglobin ibu
sebelum hamil sekitar 11 g%, dengan terjadinya hemoglobin akan mengakibatkan
anemia hamil fisiologis, dan Hb ibu akan menjadi 9,5 sampai 10 g%.
Setelah persalinan - dengan lahirnya plasenta dan pendarahan - ibu akan
kehilangan zat besi sekitar 900 mg. Saat laktasi, ibu masih memerlukan kesehatan
jasmani yang optimal sehingga dapat menyiapkan ASI untuk pertumbuhan dan
perkembangan bayi. Dalam keadaan anemia, laktasi tidak mungkin dapat
dilaksanakan dengan baik.

Diagnosis Anemiti pada Kehamilan


Utuk menegakkan diagnosis anemi kehamilan dapat dilakukan dengan
anamnesa. Pada anamnesa akan didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing,
mata berkunang-kunang, dan keluhan mual-muntah lebih hebat pada hamil muda.
Pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat
Sahli. Hasil pemeriksaan Hb dengan Sahli dapat digolongkan sebagai berikut.
Hb 11 g%

tidak anemia

Hb 9-10 g%

anemia ringan

Hb 7-8 g%

anemia sedang

Hb <7 g%

anemia berat

Pemeriksaan darah dilakukan mimimal dua kali selama kehamilan, yaitu


pada trimester I dan trimester III. Dengan pertimbangan bahwa sebagian besar ibu
hamil mengalami anemia, maka dilakukan pemberian preparat Fe sebanyak 90
tablet pada ibu-ibu hamil di puskesmas.
Faktor-faktor yang memengaruhi pembentukan darah adalah sebagai
beriku.
a. Komponen (bahan) yang berasal dari makanan terdiri dari:

Protein, glukosa, dan lemak

Vitamin B12, B6, asam folat, dan vitamin C

Elemen dasar: Fe, ion Cu dan zink

b. Sumber pembentukan darah adalah sumsum tulang.


c. Kemampuan resorpsi usus halusterhadap bahan yang diperlukan.
d. Umur sel darah merah (eritrosit) terbatas sekitar 120 hari. Sel-sel darah merah
yang sudah tua dihancurkan kembali menjadi bahan baku untuk membentuk
sel darah yang baru.
e. Terjadinya

perdarahan

kronis

(gangguan

menstruasi,

penyakit

yang

menyebabkan perdarahan pada wanita seperti mioma uteri, polip serviks,


penyakit darah, parasit asam usus: askariasis, ankilostomiasis, taenia)

Penggolongan anemia
1. Anemia defisiensi besi (kekurangan zat besi)
2. Anemia megablastik (kekurangan vitamin B12)
3. Anemia hemolik (pemecahan sel-sel darah merah
lebih cepat dari pembentukan)

4. Anemia hipoplastik (gangguan pembentukan sel-sel


darah merah)

Pengaruh Anemia pada Kehamilan dan Janin


1. Pangaruh anemia terhadap kehamilan:
a. Bahaya selama kehamilan: Dapat terjadi abortus, persalinan prem aturitas,
hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim, mudah terjadi infeksi,
ancaman dekompensasi kordis (Hb <6 g%), mola hidatidosa, hiperemesis
gravidarum, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini (KPD).
b. Bahaya saat persalinan: Gangguan His (kekuatan mengejan), kala pertama
dapat berlangsung lama, dan tejadi partus terlantar, kala dua berlangsung
lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi
kebidanan, kala empat dapat diikuti retensio plasenta, dan perdarahan
pospartum karena atonia uteri, kala empat dapat terjadi perdarahan
pospartum sekunder dan atonia uteri.
c. Pada kala nifas: Terjadi subinvolusi uteri menimbulkan perdaraha n
pospartum,

memudahkan

infeksi

puerperiurn,

pengeluarkan

ASI

berkurang, terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan,


anemia kala nifas, mudah terjadi infeksi mamae.

2. Bahaya anemia tethadap janin. Sekalipun tampaknya janin mampu


menyerap berbagai kebutuhan dari ibunya, tetapi dengan anemia akan
mengurangi

kemampuan

metabolisme

tubuh

sehingga

mengganggu

pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Akibat anemia dapat


terjadi gangguan dalam bentuk: abortus, kematian intrauterin, persalinan
prematuritas tinggi, berat badan lahir rendah, kelahiran dengan anemia, dapat
terjadi cacat bawaan, bayi mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal,
dan inteligensia rendah.

Pengobatan Anemia dalam Kehamilan


Untuk menghindari terjadinya anemia sebaik ibu hamil melakukan
pemeriksaan sebelum hamil sehingga dapat diketahui data-data dasar kesehatan
umum calon ibu tersebut. Dalam pemeriksaan kesehatan disertai pemeriksaan
1aboratorurn, termasuk pemeriksaan feses sehingga diketahui adanya infeksi
parasit.
Pengobatan infeksi untuk cacing relatif mudah dan murah. Pemerintah
telah menyediakan preparat besi untuk dibagikan kepada masyarakat sampai ke
posyandu. Contoh preparat Fe diantaranya Barralat, Biosanbe, Iberet, Vitonal, dan
Hemaviton. Semua preparat tersebut dapat dibeli dengan bebas.
KEHAMILAN DENGAN RISIKO TINGGI

Untuk menegakkan kehamilan risiko tinggi pada ibu dan janin adalah
dengan cara melakukan anamnesa yang intensif (baik), melakukan pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan penunjang seperti (pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan
rontogen, pemeriksaan ultrasonografi, pemeriksaan lain yang dianggap perlu).
Berdasarkan waktu, keadaan risiko tinggi ditetapkan pada menjelang kehamilan,
saat hamil muda, saat hamil pertengahan, saat in partu, dan setelah persalinan.
Melakukan pengawasan antenatal bertujuan untuk dapat menegakkan
secara dini dan menjawab pertanyaan:
1. Apakah kehamilan berjalan dengan baik.
2. Apakah terjadi kelainan bawaan pada janin.
3. Bagaimana fungsi plasenta untuk tumbuh kembang janin.
4. Apakah terjadi penyulit pada kehamilan.
5. Apakah terdapat penyakit ibu yang membahayakan janin.
6. Bila diperlukan terminasi kehamilan (apakah terminasi dilakukan untuk
menyelamatkan ibu, apakah janin dapat hidup di luar kandungan, bagairnana
teknik terminasi kehamilan sehingga tidak menambah penyulit ibu atau janin).
7. Bagaimana

kesanggupan

memberikan

pertolongan

persalinan

dengan

memperhitungkan tempat pertolongan itu dilakukan, persiapan alat yang


diperlukan untuk tindakan, kemampuan diri sendiri untuk melakukan
tindakan.

8. Menetapkan sikap yang akan diambil menghadapi kehamilan dengan


kehamilan dengan risiko rendah dapat ditolong setempat, kehamilan dengan
risiko meragukan perlu pengawasan yang intensif, kehamilan dengan risiko
tinggi dilakukan rujukan.
Keuntngan pengawasan antenatal adalah diketahuinya secara dini keadaan
risiko tinggi ibu dan janin, sehingga dapat melakukan pengawasan yang lebih
intensif, memberikan pengobatan sehingga risikonya dapat dikendalikan,
melakukan rujukan untuk mendapatkan tindakan yang adekuat, segera dilakukan
terminasi kehamilan.
Definisi kehamilan risiko tinggi dalam kaitan ini adalah keadaan yang dapat
mernengaruhi opfirnalisasj ibu maupun janin pada kehamilan yang dihadapi.
Berdasarkan definisi tersebut beberapa peneliti menetapkan kehamilan dengan
risiko tlnggi sebagai berikut.
1. Puji Rochyati. Primipara muda berusia kurang dan 16 tahun, primipara tua
berusia lebih dan 35 tahun, primipara sekunder dengan usia anak terkecjl
di atas 5 tahun, tinggi badan kurang dan 145 cm, riwayat kehamilan yang
buruk (pernah keguguran, pernah persalinan prematur, lahir mati, riwayat
persalinan dengan tindakan [ekstraksi vakum, ekstraksi forsep, operasi
sesar]), pre-eklamsia-eklamasia, gravida serotinus, kehamilan dengan
perdarahan antepartum, kehamilan dengan kelainan letak, kehamilan
dengan penyakit ibu yang memengaruhi kehamilan.

2. Ga telazo Ayala. Faktor antenatal, faktor intrapartum, faktor obstetri dan


neonatal, faktor umum serta pendidikan
3. Hebert Hutabarat. Membagi faktor kehamilan dengan risiko tingi
berdasarkan:
a. Komplikasi obstetri (usia kurang dan 19 tahun atau lebih dan 35
tahun), paritas (primigravida tua primer atau sekunder, grande
multipara), riwayat persalinan (abortus lebih dan 2 kali, partus
prematur 2 kali atau lebih, riwayat kematian janin dalam rahim,
pendarahan pasca-persalinan, riwayat pre-eklamsia-eklamsia, riwavat
kehamilan mola hidatidosa, riwayat persalinan dengan tindakan
operasi (ekstraksi vakum, ekstraksi forseps, ekstreksi versi, atau
plasenta manual), terdapat disproporsi sefalopelvik, perdarahan
antepartum, kehamilan ganda atau hidramnion, hamil dengan kelainan
letak, dugaan dismatunitas, serviks inkompeten, hamil disertai mioma
uteri atau kista ovarium).
b. Komplikasi medis, kehamilan yang diserai dengan anemia, hipertensi,
penyakit jantung, hamil dengan diabetes melitus, hamil dengan
obesitas, hamil dengan penyakit hati, hamil disertai penyakit paru,
hamil disertai penyakit lainnya.
4. J.S. Lesinski mengelompokkan faktor kehamilan dengan risiko tinggi
berdasarkan waktu kapan faktor tersebut dapat memengaruhi kehamilan
a. Faktor risiko tinggi menjelang kehamilan:

Faktor genetika. Penyakit keturunan yang sering terjadi pada


keluarga tertentu, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan sebelum
kehamilan. Bila terjadi kehamilan, perlu diiakukan pemeriksaan
kelahiran bawaan.

Faktor lingkungan. Diperhitungkan faktor pendidikan dan sosial


ekonomi. Kedua faktor ini menimbulkan gangguan pertumbuhan
dan perkembangan janin dalam rahim. Faktor lingkungan
memengaruhi cara pemilihan tempat dan penolong persalinan,
sehingga dapat menimbulkan risiko saat persalinan atau saat
hamil.

b. Faktor risiko tinggi yang bekerja selama hamil. Perkembangan dan


pertumbuhan janin dalam rahirn, hubungan aksis fetoplasental dan
sirkulasi retroplasenta merupakan satu kesatuan. Bila terjadi ganguan
atau kegagalan salah satu akan menimbulkan risiko terhadap
ibu maupun janin.

Faktor keadaan umum rnenjelang kehamilan.

Kebiasaan ibu (merokok, alkohol, kecanduan obat).

Faktor penyakit yang memengaruhi kehamilan (hipertensi,


gestosis-toksemia gravidarum).

c. Faktor risiko yang bekeqa saat persalinan.

Sebagai akibat mekanis dalam hubungan 3P (disproporsi


sefalopelvik, kelainan letak: sungsang atau lintang, malpresentasi,
ketuban pecah dini, distres janin, perdarahan antepartum,
grandemultipara)

Faktor nonmekanis (peitgaruh obat analgesik atau sedatif, penyakit


ibu yang menyertai kehamilan)

d. Faktor yang bekerja langsung pada neonatus.

Sindrom distres pernapasan (asfiksia heonatorum, aspirasi air


ketuban atau mekonium)

Faktor usia kehamilan yang mengganggu neonatus (prema uritas,


neonatus

dengan

termoregulator

prematur,

bayi

kecil

cukup bulan (berat badan lahir rendah, gangguan mengisap dan


menelan, hipofibrinogenemia, gangguin kongenital)

Penyakit ibu (hipertensi, diabetes melitus, jantung, paru-paru,


hepar)

Pertumbuhan intrauterin (perdarahan antepartun, infeksi inrauterin,


gangguan pertumbuhan jiwa atau neurologis, toksemia [gestosis],
kelainan

kongenital

kembar siam])

[hidrosefalus,

anensefalus,

5. Ida Bagus Gde Manuaba menyederhanakan faktor risiko yang perlu


diperhatikan sebagai berikut.
a. Berdasarkan anamnesjs.

Usia ibu (<19 tahun, >35 tahun, perkawinan Iebih dan 5 tahun)

Riwayat operasi (operasi plastik pada vagina-fistel atau tumor


vagina, operasi persalinan atau operasi pada rahim)

Riwayat kehamilan (keguguran berulang, kematiaj-t intrauterin,


sering mengalami perdarahan saat hamil, terjadi infeksi saat
hamil, anak terkecil berusia lebih dan 5 tahun tanpa KB, riwayat
mola hidatidosa atau korio karsinoma)

Riwayat persalinan (persalinan prematur, persalinan dengan


berat bayi lahir rendah, persalinan lahir mati, persalinan dengan
induksi, persalinan dengn plasenta manual, persalinan dengan
perdarahari pospartum, persalinan dengan tindakan [ekstraksi
forseps, ekstraksj akum, letak sungsang, ekstraksi versi, operasi
sesar]).

b. Hasil pemeriksaan fisik.

Hasil pemeriksaan fisik umum (tinggi badan kurang dari 145 cm,
deformitas pada tulang panggul, kehamilan disertai: anemia,
peyakit jantung, diabetes melitus, paru-paru, hati, atau ginjal)

Hasil

pemeriksaan

kehamilan

(kehamilan

trimester

satu:

hipeemesis gravidarum berat, perdarahan, infeksi intrauterin, nyeri


abdomen, serviks inkompeten, kista ovarium atau mioma uteri,
kehamilan trimester kedua dan ketiga: preeklamsia-eklamsia,
pendarahan, kehamilan kembar, hidramnion, dismaturitas atau
gangguan pertumbuhan, kehan-iilan dengan kelainan letak:
sungsang, lintang, kepala belum masuk PAP minggu ke-36
pada primi gravida, hamil dengan dugaan disproporsi sefalo elvik
kehamilan lewat waktu (di atas 42 minggu).
c. Saat in partu. Pada persalinan dengan risiko tinggi memerlukan
perhatian serius, karena pertolongan akan menentukan tinggi
rendahnya kematian ibu dan neonatus (perinatal):

Keadaan risiko tinggi dan sudut ibu (ketuban pecah dini, infeksi
intrauterin, persalinan lama melampaui batas waktu perhitungan
partograf WHO, persalinan terlantar, ruptur uteri iminens, ruptur
uteri, persalinan dengan kelainan letak janin: [sungsang, kelainan
posisi kepala, letak lintang), distosia karena tumor jalan lahir,
distosia bahu bayi, bayi yang besar, perdarahan antepart urn:
(plasenta previa, solusio plasenta, ruptur sinus marginalis, ruptur
vasa previa).

Keadaan risiko tinggi ditinjau dan sudut janin (pecah ketuban


disertai perdarahan [pecahnya vasa previa], air ketuban warna
hijau, atau prolapsus funikuli, dismaturitas, makrosomia, infeksj

intrauterin, distres janin, pembentukan kaput besar, retensio


plasenta.
d. Keadaan risiko tinggi pospartum (persalinan dengan retensio plasenta,
atonia uteri pospartum, persalinan dengan robekan perineum yang luas,
robekan serviks, vagina, dan ruptur uteri).
Pengelompokan risiko pada bayi karena dampak persalinan, sebagai
berikut.
1. Bayi kelompok risiko ,rendah. Semua bayi yang lahir spontan belakang kepala
dalam batas waktu yang telah ditetapkan digolongkan bayi dengan risiko
rendah. Bayi dengan risiko rendah segera dapat diberikan ASI sehingga
membantu pengeluaran ASI, dan mempercepat terjadinya involusi uterus.
2. Bayi tergolong risiko sedang. Bayi dengan golongan risiko sedang
memerlukan pengawasan yang lebih intensif. Pengawasan yang dilakukan
mencakup suhu tubuh dan suhu lingkungan, denyut jantung bayi dan frekuensi
napas, pertimbangan pemberian ASI dini, pertimbangan pemberian cairan
parenteral, pengawasan umum disertai pemeriksaan khusus (kimia darah dan
analisis gas darah, pemeriksaan darah perifer, radiologi).

Bayi tergolong risiko sedang


Nilai Apgar kurang dari 6 pada menit
pertama
Perlukan persalinan
Kelainan perilaku bayi
Gangguan pernapasan disertai
sianosis
Bayi dengan anemia-polisitemia
Bayi dengan cacat bawaan
Bayi terpengaruh obat ibu
Bayi lahir dengan tindakan operasi
Bayi lahir lewat waktu
Bay berat lahir rendah
Bayi makrosomia

3. Bayi tergolong risiko tinggi. Bayi dengan kemungkinan risiko tinggi dapat
diramalkan dalam jam pertama kehidupannya sehingga memerlukan
perawatan di unit perawatan intensif.
Bayi tergolong risiko tinggi
Nilai Apgar kurang dari 6 menit petama berlangsung
dalam waktu lebih dari setengah jam
Bayi dengan gangguan pernapasan karena opnea,
aspirasi air ketban, aspira mekoneum
Cacat bawaan yang memerlukan tindakan segera
Bayi dengan kejang
Bayi dengan berat kurang dari 1500 gram
Bayi dengan kelainan jantung bawaan

Dipandang dan keadaan in partu, irtdeks kehamilan risiko tinggi adalah


sebagai berikut.

1. Kedudukan kepala:
Verteks = 0
Posisi lain = 1

2. Larna persalinan: <18 jam = 0


>18 jam = 1
3. Perkiraan usia kehamilan:
20-27 minggu = 5
28-35 minggu = 4
36-39 minggu = 1
40-42 minggu = 0
>43 minggu = 1
Faktor-faktor risiko yang sangat sederhara yang juga perlu mendapatkan perhatian
yang tercantum di kartu menuju sehat (KMS) adalab sebagai berikut:
1. Anemia berat (Hb <8 g%).
2. Tekanan darah diastol >90 mm Hg.

3. Perdarahan selama kehamilan.


4. Kelainan pada persalinan terdahulu.
5. Jarak kehamilan terakhir kurang dari 2 tahun.

TABEL 7-1 Indek Kehamilan Risiko Tinggi* menurut Fartney A dan E.W.
Whitenhorne.
Kriteria indeks
Umur ibu
<16 tahun

Nilai indeks

16-17 tahun

18-29 tahun

30-34 tahun

>35 tahun
Paritas
Nulipara

Multipara 1-3

Multipara 4-6

Grandemulti 7

Graviditas
Primigravida
Gravida 1-3

1
0

Gravida 4-6

Gravida >7
2
Riwayat kehamilan dan persalinan yang buruk (abortus, prematuritas,
lahir mati, bekas sesar dan operasi vaginal)
Tidak ada

1 kali

>2 kali
Keadaan antenatal
Keadaan baik

Kurang baik
Perawatan antenatal**
1-2 kali

3-5 kali

>6 kali

*Makin kecil angka indeks risiko, makin kecil pula kernungkinan risiko kehamilan dan persalinan

** Di Indonesia pengawasan antenatal 4 kali dinilai 0.

6. Tinggi badan kurang dan 140 cm.


7.

Umur ibu kurang dari 20 tahun atau Iebih dan 35 tahun.

8.

Pernah sakit kronik.


Jika diiakukan penilaian kombinasi antara hasil pengamatan atau gagasan

dan Ida Bagus Gde Manuaba, indeks risiko tinggi dan Fortney A dan E.W.
Whitenhoriie, faktor risiko yang tercanturn dalam kartu menuju sehat (KMS), dan
evaluasi persalinan menurut partoraf WHO, diharapkan kehamilan dan persalinan
dengan risiko tinggi ditapis sejak dini sehingga dapat dilakukan tindakan pesiapan
melakukan observasi ketat, dan segera melakukan rujukan dapat menurunkan
kejadian persalinan lama atau persalinan kasep.

PERDARAHAN ANTEPARTUM
Pendrahan antepartum adalah pendarahan pervaginam pada kehamilan di atas 28
minggu atau lebih. Karena pendarahan antepartum terjadi pada usia kehamilan
lebih dan 28 minggu maka sering disebut atau digolongkan perdarahan pada
trimester ketiga.
Pengelompokan pendarahan anterpartum
1. Pendarahan yang ada hubunganya dengan kehamilan.
Plasenta preveia
Solusio plasenta
Pendarhan pada plasenta letak rendah
Pecahnya sinus marginalis
Pecahnya vasa previa
2. Pendarahan yang tidak ada hubunganya dengan kehamilan
Pecahnya variases vagina
Pendarahan polypus sevikalis
Pendaahan perlukaan serviks
Pendarahan karena keganasan servik

Frekuensi perdarahan antepartum sekitar 3 sampai 4% dan semua


persalinan sedangkan kejadian perdarahan antepartum di rumah sakit lebih tinggi
karena menerima rujukan. Penanganan perdarahan antepartum memerlukan
perhatian karena dapat saling mermngaruhi dan merugikan janin dan ibunya.
Setiap perdarahan antepartum yang dijumpai oleh bidan, sebaiknya dirujuk ke
rumah sakit atau ke tempat dengan fasilitas yang memadai, karena memerlukan
tatalaksana khusus.

KETUBAN PECAH DINI


Ketuban pecah dini (KPD) merupakan penyebab terbesar persalinan prematur
dengan berbagai akibatnya. Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum
terdapat tanda persalinan, dan setelah ditunggu satu jam belum dimulainya tanda
persalinan. Waktu sejak pecah ketuban sampai teriadi konstraksi rahim disebut
kejadian ketuban pecah dini (periode laten).
Kejadian ketuban pecah dini mendekati 10% dan semua persalinan. Pada
umur kehamilan kurang dari 34 minggu, kejadiannya sekitar 4%. Sebagian dan
ketuban pecah dini mempunyai periode laten lebih dan satu minggu. Early
rupture of membran adalah ketuban pecah pada fase laten persalinan.
Selain itu ketuban pecah dini yang disertai kelainan letak akan
mempersuilt pertolongan persalinan yang dilakukan di tempat dengan fasilitas
belum memadai.

Penataaksanaan Ketuban Pecah Dini


Ketuban pecah dini merupakan sumber perslinan prematuritas, infeksi
dalam rahim terhadap ibu maupun janin yang cukup besar dan potensial, Oleh
karena itu, tatalaksana ketuban pecah dini memerlukan tindakan yang rinci
sehingga dapat menurunkan kejadian persalinan prematuritas dan infeksi dalam
rahim.

Memberikan profilaksis antibiotika dan membatasi pemeriksaan dalam


merupakan tindakan yang perlu diperhatikan. Di samping itu, makin kecil usia
kehamilan, makin besar peluang terjadi di infeksi dalam rahim yang dapat
memacu terjadinya persalinan prematuritas bahkan berat janin kurang dan 1 kg.
Sebagai gambaran umum untuk tatalaksana ketuban pecah dini dapat
dijabarkan sebagai berikut :
1. Mempertahankan kehamilan sampai cukup matur khususnya kematangan
paru sehingga mengurangi kejadian kegagalan perkembangan paru yang
sehat.
2. Terjadi infeksi dalam rahim, yaitu korioamnionitis yang menjadi pemicu
sepsis, meningitis janin, dan persalinan prematuritas. Dengan perkiraan
janin sudah cukup besar dan persalinan diharapkan berlangsung dalam
waktu 72 jam dapat diberikan kortikosteroid, sehingga kematangan paru
janin dapat terjamin.
3. Pada usia kehamilan 24 sampai 32 minggu saat berat janin cukup, perlu
dipertimbangkan

untuk

melakukan

induksi

persalinan,

dengan

kemungkinan janin tidak dapat diselamatkan.


4. Menghadapi ketuban pecah dini, diperlukan KIM terhadap ibu dan
keluarga sehingga terdapat pengertian bahwa tindakan mendadak mungkin
dilakukan dengan pertimbangan untuk menyelamatkan ibu dan mungkin
harus mengorbankan janinnya.

5. Pemeriksaan yang pentng dilakukan adalah USC untuk mengukur dist


ansia biparietal dan perlu melakukan aspirasi air ketuban untuk melakukan
pemeriksaan kematangan paru melalui perbandingan L/S.
6. Waktu terminasi pada hamil aterm dapat dianjurkan pada selang waktu 6
jam sampai 24 jam, bila tidak terjadi His spontan.
Bidan sebagai tenaga medis terlatih yang ditempatkan di tengah
masyarakat seyogianya bertindak konservatif artinya tidak terlalu banyak
melakukan intervensi. Dengan akibat tingginya angka kesakitan dan kematian
ibu/bayi-janin, sikap yang paling penting adalah melakukn rujukan, sehingga
penanganan ketuban pecah dini mendapat tindakan yang tepat. Setelah
mendapatkan penanganan sebagaiman mestinya, bidan dapat melakukan
pengawasan setelah tindakan dan disertai beberapa petunjuk khusus.

KETUBAN PECAH DINI

Bidan merujuk ke RS/puskesmas

Masuk rumah sakit

Antibiotika
Balai pemeriksaan dalam
Pemeriksaan air ketuban
Observasi tanda infeksi dan disters janin

Hamil premature
Observasi (suhu rectal, distress
janin)
Kortiksteroid

Seksio

Kelainan obstetric
Disters janin
Letak sungsang
Letak lintang
Disproporsi sefalopelvik
Riwayat obstetric buruk
Grandemultipara
Gagal
Primigravida usia lanjut
Reaksi
uterus tidak ada
Infertilitas
Kelainan
dan aktif
Persalinanletak
obstruktif
memanjang
Disetres janin
Rupture uter imminens

Kehamilan aterm

Letak kepala

Indikasi induksi
(infeksi, waktu)

Berhasil (persalinan
vagina)

GAMBAR 7-20 Penatalaksaan ketuban pecah dini