Anda di halaman 1dari 4

Nilai normal hasil pemeriksaan laboratorium by Aprisal Darwis | 10/03/2013 Pemeriksaan

Laboratorium merupakan pemeriksaan yang dilakukan dengan mengambil dan memeriksa


sampel ; darah, sputum, cairan tubuh ataupun organ tubuh untuk diteliti melalui reaksi kimia
maupun alat mikroskopik dengan tujuan untuk menunjang diagnosis penyakit, mendukung atau
menyingkirkan diagnosis lainnya. Adapun nilai normal hasil pemeriksaan laboratorium sebagai
berikut : Darah Ukuran Satuan Nilai Rujukan Eritrosit (sel darah merah) juta/l 4,0 5,0 (P) 4,5
5,5 (L) Hemoglobin (Hb) g/dL 12,0 14,0 (P) 14,0 18,0 (L) 10,0 16,0 (A) 12,0 24,0 (B)
Hematokrit % 40 50 (P) 45 55 (L) Hitung Jenis Basofil % 0,0 1,0 Eosinofil % 1,0 3,0
Batang1 % 2,0 6,0 Segmen1 % 50,0 70,0 Limfosit % 20,0 40,0 Monosit % 2,0 8,0 Laju
endap darah (LED) mm/jam < 15 (P) < 10 (L) Leukosit (sel darah putih) 103/l 5,0 10,0 (D)
9,0 12,0 (A) 9,0 30,0 (B) MCH/HER pg 27 31 MCHC/KHER g/dL 32 36 MCV/VER fl
80 96 Trombosit 103/l 150 400 Fungsi Hati (LFT) Ukuran Satuan Nilai Rujukan ALT
(SGPT) U/L < 23 (P) < 30 (L) AST (SGOT) U/L < 21 (P) < 25 (L) Alkalin fosfatase U/L 15 69
GGT (Gamma GT) U/L 5 38 Bilirubin total mg/dL 0,25 1,0 Bilirubin langsung mg/dL 0,0
0,25 Protein total g/L 61 82 Albumin g/L 37 52 Fungsi Ginjal Ukuran Satuan Nilai Rujukan
Kreatinin U/L 60 150 (P) 70 160 (L) Ureum mg/dL 8 25 Natrium mmol/L 135 145 Klorid
mmol/L 94 111 Kalium mmol/L 3,5 5,0 Profil Lipid Ukuran Satuan Nilai Rujukan Kolesterol
total mg/dL 150 200 HDL mg/dL 45 65 (P) 35 55 (L) Trigliserid mg/dL 120 190 Lainnya
Ukuran Satuan Nilai Rujukan Glukosa (darah, puasa) mg/dL 70 100 Amilase U/L 30 130
Asam Urat mg/dL 2,4 5,7 (P) 3,4 7,0 (W) Keterangan : P = Perempuan Dewasa L = Laki-laki
Dewasa A = Anak-anak B = Bayi baru lahir Referensi :
http://infolaboratoriumkesehatan.wordpress.com http://spiritia.or.id
Copyright 2013-2014 ABC Medika | availabel at:http://www.abcmedika.com/2013/10/nilainormal-hasil-pemeriksaan.html
Thanks for Your visit

Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan
2. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri, alat imobilisasi dan keterbatasan menahan
beban berat badan.
3. Resiko terhadap penyebaran infeksi berhubungan dengan pembentukan abses tulang, kerusakan
kulit
4. Gangguan

intergritas

kulit

berhubungan

dengan

efek

pembedahan

imobilisasi

C. Intervensi
Diagnosa Keperawatan 1 : Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan
- Tujuan :
Mendemonstrasikan bebas dari nyeri dan peningkatan rasa kenyamanan.
- Kriteria Hasil :
Tidak terjadi nyeri, nafsu makan menjadi normal, ekspresi wajah rileks dan suhu tubuh normal.

Intervensi Keperawatan
Mandiri

Kaji karakteristik nyeri: lokasi, durasi, intensitas nyeri.


Atur posisi imobilisasi pada daerah nyeri sendi atau nyeri di tulang yang mengalami infeksi.
Ajarkan relaksasi : teknik mengurangi ketegangan otot rangka yang dapat mengurangi

intensitas nyeri dan meningkatan relaksasi masase.


Ajarkan metode distraksi selama nyeri akut
Amati perubahan suhu setiap 4 jam.
Kompres air hangat
Kolaborasi :

Pemberian obat-obatan analgetik


Diagnosa Keperawatan 2 : Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri, alat

imobilisasi dan keterbatasan menahan beban berat badan


Tujuan :
Gangguan mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan.
- Kriteria Hasil :

Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin

Mempertahankan posisi fungsional

Meningkatkan / fungsi yang sakit

Menunjukkan teknik mampu melakukan aktivitas


- Intervensi Keperawatan
Mandiri

Pertahankan tirah baring dalam posisi yang di programkan

Tinggikan ekstremitas yang sakit, instruksikan klien / bantu dalam latihan rentang gerak pada
-

ekstremitas yang sakit dan tak sakit.


Beri penyanggah pada ekstremitas yang sakit pada saat bergerak.
Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas
Ubah posisi secara periodic
Kolaborasi :
Fisioterapi

Diagnosa Keperawatan 3 : Resiko terhadap penyebaran infeksi berhubungan dengan


-

pembentukan abses tulang, kerusakan kulit


Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, maka diharapkan penyembuhan luka
sesuai waktu yang dicatat dan tidak terjadinya infeksi yang berkelanjutan.
Kriteria hasil :

Penyembuhan luka sesuai waktu yang dicatat, bebas drainase purulen dan demam dan juga tidak
-

terjadinya infeksi yang berkepanjangan.


Intervensi Keperawatan :
Inspeksi kulit atau adanya iritasi atau adanya kontinuitas
Kaji sisi kulit perhatikan keluhan peningkatan nyeri atau rasa terbakar atau adanya edema atau

eritema atau drainase atau bau tidak sedap


Berikan perawatan luka
Observasi luka untuk pembentukan bula, perubahan warna kulit kecoklatan bau drainase yang

tidak enak atau asam.


Kaji tonus otot, reflek tendon.
Selidiki nyeri tiba-tiba atau keterbatasan gerakan dengan edema lokal atau enterna ekstermitas

cedera
Kolaborasi :
Lakukan pemeriksaan lab sesuai indikasi dokter
Berikan obat atau antibiotik sesuai indikasi
Diagnosa Keperawatan 4 : Gangguan integritas kulit berhubungan dengan efek pembedahan ;

imobilisasi
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam diharapkan masalah gangguan infeksi kulit

teratasi dan kembali dalam batas normal.


Kriteria hasil :
Klien tampak rileks dank lien menunjukan perilaku atau tekhnik untuk mencegah kerusakan

kulit, memudahkan penyembuhan sesuai indikasi.


- Intervensi Keperawatan :

Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing kemudian perdarahan dan perubahan warna kulit.

Pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan.

Tempatkan bantalan air atau bantalan lain dibawah siku atau tumit sesuai indikasi.

Perawatan, bersihkan kulit dengan sabun air, gosok perlahan dengan alcohol atau bedak dengan

jumlah sedikit berat.


Gunakan telapak tangan untuk memasang, mempertahankan atau lepaskan gips, dan dukung

bantal setelah pemasangan.


Observasi untuk potensial area yang tertekan, khususnya pada akhir dan bawah beban atau gips.

Pendidikan Pasien dan Pertimbangan Perawatan di Rumah : Penanganan osteomielitis,


termasuk perawatan luka dan terapi antibiotika intravena, dapat dilakukan di rumah. Pasien harus

dalam keadaan stabil secara medis dan telah termotivasi serta keluarga mendukung. Lingkungan
rumah harus bersifat kondusif terhadap promosi kesehatan dan sesuai dengan program
pengobatan terapeutik.
Pasien dan keluarganya harus memahami benar protokol antibiotika. Selain itu, penggantian

balutan secara steril dan teknik kompres hangat harus diajarkan. Pendidikan pasien sebelum
pemulangan dari rumah sakit dan supervise serta dukungan yang memadai dari perawatan di
rumah sangat penting dalam keberhasilan penatalaksanaan osteomielitis di rumah.
Pasein tersebut harus dipantau dengan cermat mengenai bertambahnya daerah nyeri atau
peningkatan suhu yang mendadak. Pasien diminta untuk melakukan obsevasi dan melaporkan
bila terjadi peningkatan suhu, keluar pus, bau, dan bertambahnya inflamasi.