Anda di halaman 1dari 3

BAB IV

PEMBAHSAN
Pada halusinasi pendengaran ditemukan adanya gangguan dalam perasaan dan tingkah
laku dengan gejala psikotik yang dialami. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh gejala dari satu
tipe uamg muncul dari dalam dari klien dann sebagian terhadap halusinasi yang menimbulkan
sikap yang masa bodoh dan sering trjadai pada saat serangan pertama.
Dalam memberikan Asuhan Keperawatan kepada klien dengan perubahan persepsi
sensori Halusinasi pendengaran selalu penulis ingin mengetahui gejala yang sesuai dengan
gangguan tersebut perawat juga mengetahui kebutuhan klien yang meliputi : fisik, mental, social
tanpa menghiraukan deagnosa medic.
A.

Tahap pengkajian
Selama tahap pengkajian penulis tidak meneukan masalah dalam berkomunikasi tetapi ada juga
kesulitan yang ditemukan oleh penulis dimanan klien terkadang tidak mau mengungkapkan
perasaannya secara terbuka sebagian upaya pemecahan penulis tetap melakukan pendekatan
sehinga klien mengungkapkan perasaanya dan saling percaya

B.

Tahap diagnose
Dalam tinjauan teoritis penulis menjumpai ada diagnose yaitu
a.

Perubahan persepsi halusinasi pendengaran

b. Isolasi social menarik diri b/d harga diri rendah


c.

Deficit perawatan diri

d. Gangguan intoleransi social menarik diri


e.

Intoleransi aktivitas

f.

Resti perilaku kekerasan

Dalam tinjauan kasus penulis menjumpai ada 5 diagnosa yaitu :


1. Resiko tinggi kekerasan b/d perubahan persepsi sensori halusinasi pendengaran
2. Perubahan sensori persepsi halusinasi pendengaran b/d menarik diri
3. Isolassi social menarik diri b/d harga diri rendah
4. Deficit perawatan diri b/d intoleransi aktlivitas
5.

Regiment teraupetik inefektif b/d koping keluarga inefektif atau harga diri rendah b/d koping
keluarga inefektif
Dalam tahap ini penulis menemukan perbedaan perumusan diagnose keperawatan antara
landasan teoritis dengan kasus yaitu :

1. Regiment teraupetik inefektif


Diagnose ini tidak ditemukan landasan teoritis tetapi ditemukan dalam tinjauan kasus karena
kurangnya pengetahuan keluarga tentang penyakit klien sehingga klien tidak terkontrol dank lien
dibawa ke Rumah Sakit Jiwa untuk diadakan rawatan intensif dan perbedaan ini bisa juga
dibedakan karena keluarga kurang dekat dengan klien.
C.

Tahap perencanaan
Dalam pembuatan perencanaan penulis berusaha menyusun secara efektif dan efesien
implementasi. Dalam untuk memperlancar tindakan yang dilaukukan pada Implementasi. Dalam
hal ini penulis tidak menemukan kesenjangan antara diagnose keperawatan yang ada dalam toeri
dengan kasus yang dijumpai dilapangan. Jadi penulis dalam hal ini menyimpulkan teori kasus
yang ditemukan sama/berkesinambung.
D. Iplementasi
Dalam melaksanakan imlpementasi terhadap klien, penulis berusaha semaksimal mungkin untuk
membantu klien dalam mengatasi msasalh yang dihadapinya. Penulis juga membantu keluarga
dalam menghadapi klien. Selain ini sarana di RSJ Medan juga sangat mendukung kesembuhan
pasien.
E. Evaluasi

Evaluasi yaitu tahap akhir dari proses keperawatan evaluasi yang sesuai dengan target yang telah
ditetapkan dalam tinjdauan untuk menilai perubahan serta kemajuan yag dicapai klien halusinasi
pendengaran