Anda di halaman 1dari 6

PERATURAN DIREKTUR

RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH SRUWENG


Nomor : ....../PER/PKU.S/DIR/..../2015
TENTANG
PANDUAN PEMBERIAN INFORMASI
TERMASUK RENCANA PENGOBATAN
RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH SRUWENG

DIREKTUR RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH SRUWENG


Menimbang

a. Bahwa

berdasarkan

Lampiran

Permenkes

1691/2011

tentang Hak pasien, disebutkan bahwa pasien dan


keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi
tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan
terjadinya insiden.
b. Bahwa Dokter penanggung

jawab

pelayanan

wajib

memberikan penjelasan secara jelas dan benar kepada


pasien

dan keluarganya

tentang rencana dan

hasil

pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk


kemungkinan terjadinya insiden.
c. Bahwa sehubungan dengan hal tersebut pada pasal (a dan b)
di atas, perlu ditetapkan Panduan Pemberian Informasi
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Sruweng dengan
Peraturan Direktur Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
Sruweng;

Mengingat

1: . UU no 44/2009 tentang Rumah Sakit pasal 5


2. UU no 44/2009 tentang Rumah Sakit pasal 29

3. UU no 29/2004 tentang Praktik Kedokteran pasal 3


4. UU no 44/2009 tentang Rumah Sakit pasal 43
5. Permenkes 1691/2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah
Sakit.
6. Pasal 7 Permenkes 1691/2011
7. Permenkes 755/2011 tentang penyelenggaraan Komite Medik di
Rumah Sakit
8. Permenkes 1438/2010 tentang Standar Pelayanan Kedokteran
9. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor : 147/MENKES/PER/I/2010
Tentang Perijinan Rumah Sakit;
10.

Pedoman

Pimpinan

Pusat

Muhammadiyah

Nomor

01/PED/I.0/B/2011 tentang Amal Usaha Kesehatan Muhammadiyah;


11.

Surat Keputusan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sruweng

Nomor 01/SK/PCM.IX/2011 tanggal 01 September 2011 tentang


Pengangkatan Jabatan Pimpinan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
Sruweng;
12.

Surat Keputusan Majelis Pembina Kesehatan Umum

Pimpinan

Cabang

02/SK/PCM.IX/2011

Muhammadiyah
tanggal

26

Sruweng

September

Nomor
2011

tentang

Pembaharuan Struktur Organisasi Rumah Sakit Muhammadiyah


Sruweng;

M E M U T U S K AN
Menetapkan

: PERATURAN

DIREKTUR

MUHAMMADIYAH

RUMAH

SRUWENG

SAKIT

TENTANG

PKU

PANDUAN

PELAKSANAAN PERSETUJUAN TINDAKAN KEDOKTERAN


RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH SRUWENG.

BAB I
DEFINISI

Dalam UU 44/2009 pasal 5 huruf b, dinyatakan bahwa pelayanan kesehatan di


rumah sakit adalah pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai
kebutuhan medis.
Pada penjelasan pasal 5 huruf b, disebutkan : yang dimaksud dengan pelayanan
kesehatan paripurna tingkat kedua adalah upaya kesehatan perorangan tingkat lanjut
dengan mendayagunakan pengetahuan dan teknologi kesehatan spesialistik. Yang
dimaksud dengan pelayanan kesehatan paripurna tingkat ketiga adalah upaya kesehatan
perorangan tingkat lanjut dengan mendayagunakan pengetahuan dan teknologi kesehatan
sub spesialistik. Dengan demikian asuhan medis kepada pasien diberikan oleh dokter
spesialis.
1. DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pelayanan) : adalah seorang dokter, sesuai
dengan kewenangan klinisnya terkait penyakit pasien, memberikan asuhan medis
lengkap (paket) kepada satu pasien dengan satu patologi / penyakit, dari awal
sampai dengan akhir perawatan di rumah sakit, baik pada pelayanan rawat jalan dan
rawat inap. Asuhan medis lengkap artinya melakukan asesmen medis sampai
dengan implementasi rencana serta tindak lanjutnya sesuai kebutuhan pasien.
2. Pemberian informasi kepada pasien atau keluarganya tentang diagnosis, tata cara
tindakan medis (termasuk rencana pengobatan), tujuan tindakan medis, alternatif
tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis penyakit
terhadap tindakan yang dilakukan merupakan kewajiban dari Dokter penanggung
jawab pelayanan (DPJP)
3. Pasien dengan lebih dari satu penyakit dikelola oleh lebih dari satu DPJP sesuai
kewenangan klinisnya, dalam pola asuhan secara tim atau terintegrasi. Contoh :
pasien dengan Diabetes Mellitus, Katarak dan Stroke, dikelola oleh lebih dari satu
DPJP : Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dokter Spesialis Mata dan Dokter
Spesialis Saraf.
4. Dokter yang memberikan pelayanan interpretatif, misalnya memberikan uraian /
data tentang hasil

laboratorium atau radiologi, tidak dipakai istilah DPJP, karena

tidak memberikan asuhan medis yang lengkap.

BAB II
RUANG LINGKUP

Bagian yang terkait dengan pemberian informasi adalah:


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Rekam medik
Komite Medik/SMF
Bidang Keperawatan
Instalasi rawat Jalan
Instalasi Gawat darurat
Instalasi Rawat Inap
ICU
IBS.

BAB III
TATA LAKSANA

Dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) harus aktif dan intensif dalam
pemberian edukasi/informasi kepada pasien karena merupakan elemen yang penting dalam
konteks Pelayanan Fokus pada Pasien (Patient Centered Care), selain juga merupakan
kompetensi dokter dalam area kompetensi ke 3 (Standar Kompetensi Dokter Indonesia,
KKI 2012; Penyelenggaraan Praktik Kedokteran Yang Baik di Indonesia, KKI 2006)).
Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) pada waktu visite pertama kali
memberikan informasi kepada pasien atau keluarganya tentang hak dan kewajiban sebagai
pasien, antara lain tentang :
a. Berikan informasi secara jelas dan benar mengenai kondisi pasien dengan
bahasa yang mudah di mengerti pasien.
b. Informasi yang diberikan meliputi

Diagnosis,

Tata cara tindakan medis (termasuk rencana pengobatan),

Tujuan tindakan medis,

Alternatif tindakan,

Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi,

Prognosis penyakit terhadap tindakan yang dilakukan.

c. Berikan kesempatan kepada pasien untuk menanyakan hal-hal yang belum jelas
(lakukan kroscek)
d. Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) dalam memberikan Informasi
kepada pasien dilakukan secara lisan kemudian didokumentasikan secara
tertulis pada formulir pemberian informasi didalam rekam medis pasien yang
sudah disediakan.
e. Pastikan bahwa informasi yang diberikan telah dipahami oleh pasien maupun
keluarga pasien.
f. Setelah memahami informasi, pasien atau keluarganya di mintai tandatangan
bahwa telah menerima informasi dari DPJP.

BAB IV
DOKUMENTASI

Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) dalam memberikan Informasi kepada


pasien dilakukan secara lisan kemudian didokumentasikan secara tertulis pada formulir
pemberian

informasi

didalam

rekam

medis

pasien

yang

sudah

disediakan.

Pendokumentasian yang dilakukan oleh DPJP di rekam medis harus mencantumkan nama
dan paraf / tandatangan.

Ditetapkan di : Sruweng
Pada Tanggal :
Direktur,

dr. H. Chairon
NBM: 1122142