Anda di halaman 1dari 6

Pengertian Beton Prategang

Pada beton prategang merupakan kombinasi antara beton dengan mutu yang tinggi dan baja
bermutu tinggi dikombinasikan dengan cara aktif, sedangan beton bertulang kombinasinya
secara pasif. Cara aktif ini dapat dicapai dengan cara menarik baja dengan menahannya
kebeton, sehingga beton dalam keadaan tertekan. Karena penampang beton sebelum beban
bekerja telah dalam kondisi tertekan, maka bila beban bekerja tegangan tarik yang terjadi
dapat dieliminir oleh tegangan tekan yang telah diberikan pada penampang sebelum beban
bekerja.
Material Beton Prategang Terdiri atas :
1. Beton
2. Kabel/Tendon Baja Prategang
3. Grouting
4. Anchor
Mutu beton minimum untuk :
- 40 MPa untuk batang pratarik
- 30 MPa untuk batang pasca tarik
Nilai regangan susut sisa total yang dianjurkan :
- 3,0 x 10-4 untuk batang pratarik
- (2,0 x 10-4)/(log t + 2) untuk batang pasca tarik, t adalah umur beton dalam hari
Nilai koefisien rangkak yang merupakan rasio regangan rangkak ultimate terhadap regangan
elastik adalah 2,2 pada pembebanan 7 hari, 1.6 pada 28 hari dan 1.1 bila umur pada
pembebanan 1 tahun
4700 f c,

Modulus Elastisitas Beton :


Tegangan izin beton untuk komponen struktur lentur sesuai SK-SNI-T-15-199103
Tegangan ijin beton, sesuai dengan kondisi gaya pratekan dan tegangan beton pada tahap
beban-kerja, tidak boleh melampaui nilai berikut :
1. Tegangan beton sesaat sesudah pemindahan gaya pratekan (sebelum kehilangan tegangan
yang merupakan fungsi waktu) tidak boleh melampau nilai
berikut :
1) Serat terluar mengalami tekan
0,60 fc
f c'
4
2)
f c'
2

Serat terluar mengalami tegangan tarik .

3) Serat terluar pada ujung komponen struktur yang


didukung sederhana mengalami tarik
2. Tegangan beton pada tingkat beban kerja (sesudah memperhitungkan semua kehilangan
pratekan yang mengkin terjadi) tidak boleh melampaui nilai berikut :
1. Serat terluar mengalami tegangan tekan

2.

0,45fc

f c'
2

Tegangan serat terluar dalam daerah tari yang pada awalnya mengalami
tekan

f c'

3.

Tegangan pada serat terluar dalam daerah tarik yang pada awalnya megnalami
tekan dari komponen (kecuali pada sistem pelat dua arah), dimaan analisis yang
didasarkan pada transformasi penampang retak dan hubungan bilinear dari momenlendut menunjukkan bahwa lendutan sesaat dan lendutan jangka panjang memenuhi
persyaratan Ayat 3.2.5 butir 4 dan dimana persyaratan penutup beton memenuhi Ayat
3.16.7 butir 3 sub butir (2)

Tegangan Ijin Tendon Pratekan


Tegangan tarik dalam tendon pratekan tidak boleh melampaui nilai berikut :
1. Akibat gaya penjangkaran tendon adalah 0,94 fpy.Tetapi tidak lebih besar dari 0,8
fpu. Atau nilai maksimum yang direkomendasikan oleh pabrik pembuat tendon
pratekan atau jangkar.
2. Sesaat setelah pemindahan gaya pratekan adalah 0,82 fpy.Tetapi tidak boleh lebih
besar dari 0,74 fpu c).
3. Tendon pasca tarik, pada daerah jangkar dan sambungan, sesaat setelah penjangkaran
tendon adalah 0,70 fpy
Metode Prategang
Pada dasarnya ada 2 macam methode pemberian gaya prategang pada beton, yaitu:
1. Pratarik ( Pre-Tension Method )
Methode ini baja prategang diberi gaya prategang dulu sebelum beton dicor, oleh karena itu
disebut pretension method.
Adapun prinsip dari Pratarik ini secara singkat adalah sebagai berikut :

Tahap 1 : Kabel ( Tendon ) prategang ditarik atau diberi gaya prategang kemudian
diangker pada suatu abutment tetap

Tahap 2 : Beton dicor pada cetakan ( formwork ) dan landasan yang sudah disediakan
sedemikian sehingga melingkupi tendon yang sudah diberi gaya prategang dan
dibiarkan mengering

Tahap 3 : Setelah beton mengering dan cukup umur kuat untuk menerima gaya
prategang, tendon dipotong dan dilepas, sehingga gaya prategang ditransfer ke beton

Setelah gaya prategang ditransfer kebeton, balok beton tsb. akan melengkung keatas sebelum
menerima beban kerja. Setelah beban kerja bekerja, maka balok beton tsb. akan rata.
.2. Pasca tarik ( Post-Tension Method )
Pada methode Pascatarik, beton dicor lebih dahulu, dimana sebelumnya telah disiapkan
saluran kabel atau tendon yang disebut duct.
Secara singkat methode ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

Tahap 1 : Dengan cetakan ( formwork ) yang telah disediakan lengkap dengan


saluran/selongsong kabel prategang ( tendon duct ) yang dipasang melengkung sesuai
bidang momen balok, beton dicor

Tahap 2 : Setelah beton cukup umur dan kuat memikul gaya prategang, tendon atau
kabel prategang dimasukkan dalam selongsong ( tendon duct ), kemudian ditarik
untuk mendapatkan gaya prategang. Methode pemberian gaya prategang ini, salah
satu ujung kabel diangker, kemudian ujung lainnya ditarik ( ditarik dari satu sisi ).
Ada pula yang ditarik dikedua sisinya dan diangker secara bersamaan. Setelah
diangkur, kemudian saluran di grouting melalui lubang yang telah disediakan.

Tahap 3 : Setelah diangkur, balok beton menjadi tertekan, jadi gaya prategang telah
ditransfer kebeton. Karena tendon dipasang melengkung, maka akibat gaya prategang
tendon memberikan beban merata kebalok yang arahnya keatas, akibatnya balok
melengkung keatas

Karena alasan transportasi dari pabrik beton kesite, maka biasanya beton prategang dengan
sistem post-tension ini dilaksanakan secara segmental ( balok dibagibagi, misalnya dengan
panjang 1 1,5 m ), kemudian pemberian gaya prategang dilaksanakan disite, setelah balok
segmental tsb. dirangkai.

Ada 2 (Dua) Metode Perencanaan Beton Prategang, yaitu :


1. Workiing sttress metthod ( metode beban kerja )
Prinsip perencanaan disini ialah dengan menghitung tegangan yang terjadi akibat
pembebanan ( tanpa dikalikan dengan faktor beban ) dan membandingkan dengan
tegangan yang di-ijinkan.
2. Liimiitt sttatte metthod ( metode beban batas )
Prinsip perencanaan disini didasarkan pada batas-batas tertentu yang dapat dilampaui oleh
suatu sistim struktur. Batas-batas ini ditetapkan terutama terhadap kekuatan, kemampuan

layan, keawetan, ketahanan terhadap beban, api , kelelahan dan persyaratan- persyaratan
khusus yang berhubungan dengan penggunaan struktur tersebut. Dalam menghitung beban
rencana maka beban harus dikalikan dengan suatu faktor beban ( load factor ), sedangkan
kapasitas bahan dikalikan dengan suatu faktor reduksi kekuatan ( reduction factor ). Tahap
batas ( limit state ) adalah suatu batas tidak di-inginkan yang berhubungan dengan
kemungkinan kegagalan struktur.
Kombinasi pembebanan untuk Tahap Batas Kekuatan ( Strength Limit State ) adalah:
Berdasarkan SNI 03-2874-2002
1. U = 1,4 D
2. U = 1,2 D + 1,6 L + 0,5 ( A atau R )
3. U = 1,2 D + 1,0 L 1,6 W + 0,5 ( A atau R )
4. U = 0,9 D 1,6 L
5. U = 1,2 D + 1,0 L 1,0 E
6. U = 0,9 D E
Dimana :
U = Kuat perlu
D = Dead Load ( Beban Mati )
L = Live Load ( Beban Hidup )
A = Beban Atap
R = Beban Air Hujan
W = Beban Angin
E = Beban Gempa

ISTILAH DALAM BETON PRATEGANG

Beton prategang
beton bertulang yang telah diberikan tegangan tekan dalam untuk mengurangi tegangan tarik potensial dalam
beton akibat beban kerja
friksi kelengkungan
friksi yang diakibatkan oleh bengkokan atau lengkungan di dalam profil tendon prategang yang disyaratkan
friksi wobble
friksi yang disebabkan oleh adanya penyimpangan yang tidak disengaja pada penempatan selongsong
prategang dari kedudukan yang seharusnya
gaya jacking
gaya sementara yang ditimbulkan oleh alat yang mengakibatkan terjadinya tarik pada tendon dalam beton
prategang
pasca tarik
cara pemberian tarikan, dalam sistem prategang dimana tendon ditarik sesudah beton mengeras
perangkat angkur
perangkat yang digunakan pada sistem prategang pasca tarik untuk menyalurkan gaya pasca tarik dari tendon
ke beton
pratarik
pemberian gaya prategang dengan menarik tendon sebelum beton dicor
prategang efektif
tegangan yang masih bekerja pada tendon setelah semua kehilangan tegangan terjadi, di luar pengaruh beban
mati dan beban tambahan
tendon
elemen baja misalnya kawat baja, kabel batang, kawat untai atau suatu bundel dari elemenelemen tersebut,
yang digunakan untuk memberi gaya prategang pada beton
tendon dengan lekatan
tendon prategang yang direkatkan pada beton baik secara langsung ataupun dengan cara grouting
transfer
proses penyaluran tegangan dalam tendon prategang dari jack atau perangkat angkur pasca tarik kepada
komponen struktur beton
tulangan
batang baja berbentuk polos atau berbentuk ulir atau berbentuk pipa yang berfungsi untuk menahan gaya tarik
pada komponen struktur beton, tidak termasuk tendon prategang, kecuali bila secara khusus diikut sertakan
zona angkur
bagian komponen struktur prategang pasca tarik dimana gaya prategang terpusat disalurkan ke beton dan
disebarkan secara lebih merata ke seluruh bagian penampang. Panjang daerah zona angkur ini adalah sama
dengan dimensi terbesar penampang. Untuk perangkat angkur tengah, zona angkur mencakup daerah
terganggu di depan dan di belakang perangkat angkur tersebut

Tugas Summary

BETON PRATEGANG

ANDRI PRAWIRA ISMAIL D11109301

JURUSAN SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN