Anda di halaman 1dari 14

BAB 1

PENDAHUL
NDAHULUAN
BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LOMBOK TENGAH 2012

1.1. LATAR BELAKANG


D
bidang

alam rangka mendukung Millenium Development Goals (MDGs) di


infrastruktur

pemerin

khususnya

sanitasi,

diharapkan

perhatian

tah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota meningkatkan

kualitas dan kuantitas sanitasi di daerah masing-masing. Pada kondisi saat ini realita yang
terlihat adalah belum optimalnya layanan dan buruknya kondisi sanitasi di daerah melingkupi
sampah rumah tangga, air limbah domestik, serta drainase lingkungan, telah menurunkan
kualitas lingkungan hidup, tercemarnya sumber air bersih yang igunakan oleh masyarakat
untuk

memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga jumlah penderita penyakit

terutama pada balita semakin meningkat. Menanggapi realita tersebut, Pemerintah telah
menetapkan program percepatan pembangunan sanitasi perkotaan (PPSP) menjadi salah
satu program prioritas pembangunan nasional yang akan dilakkan secara bertahap dimulai
pada tahun 2010 hingga tahun 2014.
Pembangunan sektor sanitasi di Indonesia merupakan usaha bersama terkoordinir
dari semua tingkatan
pemerintah, organisasi berbasis masyarakat, LSM dan sektor swasta dan didukung oleh
kegiatan donor. Sanitasi merupakan salah satu faktor terpenting dalam mewujudkan layanan
yang terkait dengan pengentasan kemiskinan, dalam pengembangan kebijakan, perencanaan
serta penganggaran. Bantuan teknis program disediakan untuk pemerintah propinsi dan kota
yang menunjukkan komitmen tinggi untuk pembangunan sektor sanitasi lokal dan penyediaan
layanan sanitasi yang semakin baik khususnya bagi warga miskin perkotaan di daerah
perkotaan.

Sanitasi sebagai salah satu aspek pembangunan memiliki fungsi penting dalam
menunjang tingkat kesejahteraan masyarakat, karena berkaitan dengan kesehatan, pola
hidup, kondisi lingkungan permukiman serta kenyamanan dalam kehidupan

sehari-hari.

Sanitasi seringkali dianggap sebagai urusan belakang, sehingga sering termarjinalkan dari
urusan-urusan yang lain, namun seiring dengan tuntutan peningkatan standart kualitas hidup
masyarakat, semakin tingginya tingkat pencemaran lingkungan dan keterbatasan daya dukung
lingkungan itu sendiri menjadikan sanitasi menjadi salah satu aspek pembangunan yang
harus diperhatikan.
Salah satu aspek dalam rangka peningkatan kualitas lingkungan yang sehat, perlu
diperhatikan masalah drainase, persampahan dan air limbah. Masih sering dijumpai bahwa
aspek-aspek pembangunan sanitasi, yaitu air limbah, persampahan dan drainase, serta
dilengkapi dengan penyediaan air bersih, masih berjalan sendiri- sendiri. Masing-masing
aspek tersebut ditangani secara terpisah, meskipun masuk dalam satu bidang pembangunan
yaitu sanitasi, sehingga masih terdapat tumpang tindih kegiatan pembangunan bidang
sanitasi oleh institusi yang berbeda-beda, yang kadang-kadang membingungkan masyarakat
sebagai subyek dan obyek pembangunan.
Apabila kualitas lingkungan terjaga dengan baik, derajat kesehatan manusia akan
meningkat pula. Oleh aktivitas manusia sehari-hari, sehingga permasalahan yang timbul
biasanya adalah masalah sosial kesehatan masyarakat itu sendiri.
Sanitasi di Indonesia memerlukan perhatian khusus, sehingga peningkatan kepedulian
dan penggalaka hidup bersih dan sehat untuk merubah kebiasaan buruk masyarakat dalam
bidang sanitasi tidak terlepas dari program ini. Kegiatan-kegiatan studi pasar untuk
mengetahui permintaan juga dilakukan. Monitoring dan evaluasi tidak bisa ditinggalkan dalam
implementasi program sehingga strategi monitoring dan evaluasi yang tepat perlu diolah
dengan matang. Manfaat pengalaman nasional dalam kerangka pemberdayaan nasional
adalah: memperdalam
kebijakan

dan

pengkajian sektor sanitasi, mengembangkan

stakeholders,

memperkuat

kebijakan

dan

kapasitas pembuat
kerangka

peraturan,

mengembangkan kerangka kelembagaan pada tingkat nasional, mengembangkan dan


menyebarluaskan strategi atau rencana tindak serta pedoman bagi pemerintah daerah.
Kabupaten Lombok Tengah merupakan Kabupaten dengan dinamika yang tinggi
dimana

kebijakan

pembangunan

yang

dilaksanakan

haruslah

merupakan

kebijakan

pembangunan yang berkelanjutan. Selain itu, Kabupaten Lombok Tengah merupakan


Kabupaten yang berkembang cukup pesat, sesuai dengan visinya yaitu Mewujudkan
Kabupaten Lombok tengah Sebagai Tujuan Investasi Yang Prospektif, Kondusif dan

Partisipatif. Selama kurun waktu 5 tahun terakhir, terjadi pertambahan penduduk dengan
rata-rata kenaikan .% per tahunnya.
Pengelolaan sanitasi saat ini harus menjadi prioritas karena permasalahan yang
ditimbulkan akibat dari pengelolaan yang kurang baik akan berdampak langsung kepada
derajad kesehatan masyarakat. Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten
Lombok tengah, namun masih belum sepenuhnya memenuhi harapan dalam mengatasi
persoalan pengelolaan sanitasi, Hal ini dapat terlihat dari bermunculnya kantung-kantung
permukiman kumuh di Kabupaten Lombok tengah. Dari data yang ada terkait permasalahan
sanitasi di Kabupaten Lombok tengah, diketahui masih kurangnya penanganan sanitasi yang
meliputi sektor Drainase, Persampahan dan Air Limbah, hal ini terlihat dari data makro
kondisi sanitasi Kabupaten Lombok tengah yang meliputi angka kesakitan akibat sanitasi
buruk sebesar . orang per penduduk, kepadatan penduduk sebesar .
jiwa per km2, prosentase penduduk miskin % dari orang, rasio PAD terhadap
APBD sebesar + .% dan SR air minum pada tahun 2012 sebanyak .. atau
,,,,,% dari jumlah KK. Oleh karena itu masih dibutuhkan peran serta aktif dari semua
elemen

masyarakat

dalam

pembangunan

sanitasi,

khususnya

Sektor

Swasta

dan

Lembaga Non Pemerintah yang lain seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan
Koperasi.
Dalam rangka mewujudkan target Millennium Development Goals (MDGs) khususnya
target ke-7 (menjamin lingkungan hidup yang berkelanjutan) dan ke-11 (mencapai perbaikan

yang berarti dalam kehidupan 100 juta penghuni permukiman kumuh, sampai tahun 2020),
serta untuk menciptakan Kabupaten Lombok tengah yang berkualitas, sebagai Kabupaten
yang menarik baik sebagai tempat usaha/kerja atau sebagai pusat kegiatan ekonomi maupun
tempat tinggal yang indah, bersih sehat dan nyaman, maka pada Rencana Pembangunan
Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Lombok tengah Tahun .., salah satu fokusnya
adalah percepatan pembangunan infrastuktur di Kabupaten Tengah termasuk sektor sanitasi.
Di sisi lain, masih terdapat pelaksanaan pembangunan sanitasi yang berjalan secara
parsial dan belum terintegrasi dalam suatu rencana besar yang sifatnya integratif dan
memiliki sasaran secara menyeluruh serta dan sesuai dengan kebutuhan riil masyarakat.
Tahapan-tahapan proses perencanaan harus dilaksanakan secara berurutan, bertahap dan
berkelanjutan, sehingga solusi yang ditawarkan juga akan tepat, sesuai dengan permasalahan
yang dihadapi.
Untuk maksud tersebut maka dibentuklah Kelompok Kerja (Pokja) sanitasi, yang
diharapkan

dapat

berfungsi

sebagai

unit

koordinasi

perencanaan,

pengembangan,

pelaksanaan dan pengawasan serta monitoring pembangunan sanitasi dari berbagai aspek.
Tidak hanya yang melibatkan unsur pemerintah saja namun juga yang melibatkan
masyarakat serta swasta secara langsung, baik dalam pokja yang terstruktur maupun sebagai
mitra-mitra pendukungnya. Pokja inilah yang nantinya secara terintegrasi akan menyusun
dokumen Buku Putih Sanitasi Kabupaten Lombok tengah.
Dasar penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Lombok tengah adalah penyusunan
dokumen yang menggambarkan karakteristik dan kondisi sanitasi wilayah kota, dan
prioritas/arah pengembangan yang ditetapkan oleh pemerintah dan masyarakat Kabupaten
Lombok tengah. Sedangkan cakupan pembahasan dalam penyusunan buku putih sanitasi
adalah Profil sanitasi Kabupaten, sarana prasarana eksisting, cakupan dan tingkat pelayanan,
informasi kelembagaan dan keuangan, arah pengembangan sanitasi, kebutuhan, peluang,
dan analisa awal untuk penetapan area berdasarkan tingkat resiko dan zona sanitasi.
1.2. PENGERTIAN DASAR SANITASI
Sanitasi adalah segala upaya yang dilakukan untuk menjamin terwujudnya kondisi
yang memenuhi persyaratan kesehatan, juga berarti sistem pembuangan air limbah, yang
khususnya menyangkut pembuangan air kotor dari rumah tangga, kantor, hotel, pertokoan
(air buangan dari WC, air cucian, dan lain-lain); selain berasal dari rumah tangga, limbah
juga dapat berasal dari sisa-sisa proses industri, pertanian, peternakan, dan rumah sakit
(sektor kesehatan).
Pengertian dasar Pengelolaan Sanitasi di Kabupaten Lombok tengah adalah sebagai
berikut:
1. Air limbah (sewage) merupakan air dan cairan yang merupakan sisa dari kegiatan manusia
di rumah tangga/limbah domestik dan commercial buildy (kegiatan yang dilakukan untuk
mendapatkan keuntungan) atau industri. Pengolahan air limbah dibedakan berdasarkan
sumbernya, yaitu :
a. Black water adalah air limbah rumah tangga yang bersumber dari toilet atau kakus;
b.

Grey water adalah air limbah rumah tangga non kakus yang berupa buangan yang

berasal dari kamar mandi, dapur (sisa makanan) dan tempat cuci.
Sistem pengolahan air limbah domestic Kabupaten Lombok tengah dengan system :
a. Sistem sanitasi setempat (On Site Sanitation), adalah proses pengolahan air limbah
secara bersamaan di tempat yang biasanya menggunakan cubluk atau septic tank;
b.
Sistem sanitasi tidak setempat/terpusat (Off Site Sanitation), adalah proses
pengolahan / penyaluran air
melalui jaringan perpipaan menuju IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) untuk diolah

secara terpusat.
2. Pengolahan persampahan adalah pengolahan sisa kegiatan sehari-hari manusia
dan/atau proses alam yang berbentuk padat yang meliputi kegiatan yang sistematis,
menyeluruh, dan berkesinambungan yang berupa
pengurangan
pengolahan,

dan

penanganan

sampah (pemilahan,

pengumpulan, pengangkutan,

dan pemrosesan akhir) yang ditampung melalui TPS atau transfer depo ke

Tempat Pembuangan Akhir (TPA).


3. Pengolahan drainase adalah optimalisasi prasarana drainase yang berfungsi
untuk mengalirkan air
permukaan ke badan air yaitu sumber air permukaan tanah yang berupa sungai, danau,
laut dan dibawah permukaan tanah berupa air tanah di dalam tanah atau bangunan.
4. Penyediaan air bersih adalah adalah upaya pemerintah Kabupaten Lombok tengah untuk
menyediakan air bersih bagi masyarakat baik melalui jaringan PDAM maupun non PDAM
yang bersumber dari air permukaan maupun sumur dalam.
1.3. MAKSUD DAN TUJUAN
Buku putih sanitasi Kabupaten Lombok tengah yang disusun oleh berbagai
komponen dinas atau kelembagaan lain yang terkait dengan sanitasi dalam wadah pokja
sanitasi yang merupakan dasar dan acuan dimulainya pekerjaan sanitasi yang lebih
terintegrasi dan strategis berupa penyusunan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) dan monev
sanitasi. Dalam penyusunan buku ini, pokja melakukan pemetaan kondisi sanitasi Kabupaten
Lombok tengah berdasarkan data sekunder yang terkonsolidasi dan data primer hasil survey
serta hasil studi Environmental Health Risk Assessment (EHRA). Untuk pengumpulan data
dan informasi yang tersedia, baik data yang sudah tersedia maupun informasi yang digali dari
diskusi dengan Pokja Sanitasi Kabupaten ataupun pihak terkait lainnya (misalnya pihak
swasta yang terlibat dalam layanan sanitasi, atau bidang komunikasi). Pada tahap
selanjutnya, kegiatan diarahkan dengan maksud untuk mendefinisikan kondisi sanitasi lokal.
Semua data dan informasi dievaluasi, kesenjangan diidentifikasi, kesimpulan diperoleh
melalui konsultasi dengan seluruh pemangku kepentingan, dan karakteristik sanitasi serta
prioritas yang diidentifikasi untuk tingkat kelurahan. Maksud akhir dari penyusunan buku
putih ini adalah adanya penetapan kelurahan beresiko sanitasi berdasarkan ketentuan 4
kategori risiko (tinggi, sedang, kecil, sangat kecil/tidak berisiko) dan penyebab utama
masalah sanitasi permukiman Kabupaten Lombok Tengah. Oleh karena itu, buku ini
menyediakan data dasar yang essensial mengenai Aspek teknis, kelembagaan, keuangan,
komunikasi, partisipasi masyarakat, jender & kemiskinan (PMJK), partisipasi sektor swasta &

lembaga non pemerintah serta akses masyarakat terhadap sarana sanitasi & PHBS.
Dengan adanya pemetaan sanitasi pada buku putih ini, maka didapatkan gambaran
awal secara menyeluruh berupa zona-zona dan sistem layanan sanitasi serta isu-isu
strategis dalam pengelolaan sanitasi pada tingkat Kabupaten. Berdasarkan data zona
sanitasi dan isu strategis ini, maka nantinya akan dapat ditentukan kebijakan dan prioritas
penanganan sanitasi yang sesuai dalam rangka pengembangan Strategi Sanitasi Kabupaten
Lombok tengah yang berisi Program dan Kegiatan Jangka Menengah dan Tahunan yang
terkait dengan peranan dari pihak-pihak terkait, kebutuhan pendanaan, strategi sanitasi, dan
rencana tindak guna perbaikan maupun peningkatan sanitasi Kabupaten Lombok tengah.
Selain itu juga pada penyusunan buku putih ini juga dimaksudkan untuk dilakukannya
penetapan area kelurahan berisiko dari sisi sanitasi, yang memfokuskan prioritas kegiatan
pembangunan sanitasi sebagai antisipasi terhadap terbatasnya sumber daya, terutama dana
yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah. Adanya ketetapan area kelurahan
berisiko akan memberikan arahan kepada SKPD yang penyusunan Buku Putih ini
dimaksudkan untuk mengarus utamakan pembangunan sanitasi dalam pembangunan di
Kabupaten Lombok tengah, sehingga sanitasi dapat menjadi salah satu prioritas
pembangunan di Kabupaten Lombok tengah.
Adapun tujuan dari penyusunan buku putih sanitasi Kabupaten Lombok tengah ini antara lain :
1. Adanya pembagian tugas, tanggung jawab dan kesepahaman di antara anggota
pokja sanitasi Kabupaten Lombok Tengah
2. Teridentifikasi dan terkumpulnya data sanitasi Kabupaten Lombok Tengah dari aspek :
Kebijakan Daerah dan kelembagaan; Keuangan; Umum; Teknis; Peran serta swasta
dalam layanan sanitasi; Pemberdayaan masyarakat dan jender dan Komunikasi serta
data Layanan sanitasi oleh sektor swasta dan masyarakat serta Komunikasi (Media)
3. Teridentifikasinya sistem yang diterapkan untuk masing-masing sub sektor sanitasi,
termasuk lokasi dan informasi lainnya serta permasalahan mendasar untuk setiap
subsektor
4. Tersedianya Dokumen Penilaian Pemetaan Cepat Situasi Sanitasi Kabupaten Lombok
tengah (Rapid Sanitation Assessment)
5. Tersedianya Deskripsi kondisi sanitasi berdasarkan studi Environmental Health Risk
Assessment (EHRA) yang berupa data primer kondisi sanitasi rumah tangga yang memiliki
konsekuensi pada risiko kesehatan lingkungan
6. Disepakatinya 4 kategori area (kelurahan) berisiko berdasarkan data sekunder dan studi
EHRA serta penyebab utama timbulnya risiko

1.4. PENDEKATAN DAN METODOLOGI


Dalam penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Lombok tengah, pendekatan dan
metodologi penyusunan yang dilakukan dapat dipahami dari diagram alir / kerangka pikir
penyusunan

seperti

pada

Gambar

1.1,

dimana

dalam

penyusunanannya

dapat

dikelompokkan 3 tahapan pendekatan, yaitu :


a.

Bagian/kolom pertama (BA): Penyusunan Penilaian Pemetaan Awal Situasi Sanitasi


KabupatenKota dalam bagian ini dilakukan pengumpulan data dan informasi yang
tersedia, baik data yang sudah tersedia maupun informasi yang digali dari diskusi dengan
Pokja Sanitasi Kabupaten Lombok Tengah ataupun pihak terkait lainnya (misalnya pihak
swasta yang terlibat dalam layanan sanitasi, atau bidang komunikasi). Salah satu bagian
pendekatan yang memerlukan diskusi intensif bersama seluruh anggota Pokja Sanitasi
Kota ialah Pemetaan Manajemen dan Operasi Sistem Sanitasi yang akan memetakan
seluruh model layanan sanitasi yang ada di Kabupaten Lombok Tengah tersebut serta
mencari akar permasalahannya.

b. Bagian/kolom kedua (BB): Rapat Konsultasi. Hasil yang diperoleh dari bagian/kolom
sebelumnya perlu untuk dikonsultasikan dengan Tim Pengarah Pokja Sanitasi Kabupaten
Lombok Tengah. Konsultasi dimaksudkan untuk:
Memberikan laporan kemajuan kerja (Tim Teknis) Pokja Sanitasi Kabupaten Lombok
Tengah
Menyampaikan hasil Penilaian dan Pemetaan Awal Situasi Sanitasi Kabupaten
Lombok Tengah
Melaporkan dan meminta arahan untuk rencana kerja selanjutnya, terutama
terkait dengan studi
Environmental

Health

Risk

Assessment

(EHRA).

Data

EHRA

akan

di

interpretasi yang akan


memberikan informasi mengenai risikorisiko sanitasi pada tingkat kelurahan.
Informasi dari studi EHRA juga digunakan untuk menetapkan area berisiko (final),
melengkapi draf area berisiko yang sebelumnya hanya disiapkan berdasarkan data
sekunder yang tersedia. Guna menetapkan area berisiko (final), disarankan untuk
menambah sumber informasi lain yaitu persepsi SKPD. Alasannya selain

karena

setiap SKPD mempunyai persepsi sendiri mengenai area berisiko berdasarkan


pengalaman seharihari dalam pekerjaannya, juga persepsi SKPD ini menjadi alat
cek silang (triangulation) terhadap data dan informasi yang sudah terkumpul
sebelumnya (data sekunder dan studi EHRA).
c.

Bagian/kolom ketiga (BC): Finalisasi Buku Putih. Draft Buku Putih Sanitasi selanjutnya

didiskusikan dengan pemangku kepentingan di tingkat Kabupaten Lombok Tengah.


Masukan yang diperoleh digunakan untuk perbaikan dan menghasilkan Buku Putih
Sanitasi Kabupaten Lombok Tengah. Buku Putih Sanitasi Kabupaten Lombok Tengah ini
memberikan masukan untuk tahap selanjutnya yakni Tahap Penyusunan Strategi Sanitasi
Kota (SSK).

Gambar 1. 1 Diagram Alir Tahapan Penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten


Lombok tengah

Dalam

tahapan

pertama

penyusunan

buku

putih,

terdapat

tahapan

pengumpulan data dan informasi jenis data yang dikumpulkan terdiri atas data yang
bersifat primer dan data yang bersifat sekunder. Data yang bersifat primer yaitu data
dan informasi yang langsung diperoleh dari lapangan yang merupakan obyek
perencanaan, dan data sekuder merupakan yang diperoleh dari intstansi/SKPD yang
terkait dengan penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Lombok tengah. Data yang
dikumpulkan dalam tahap ini sebagian besar berasal dari berbagai Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) baik berupa data umum maupun data khusus yang
menyangkut teknis, keuangan, kebijakan daerah dan kelembagaan, peran serta swasta
dalam layanan sanitasi, dan media.
Kegiatan

pengumpulan

data

sekunder

meliputi

aspek

umum,

teknis,

kebijakan

daerah

dan kelembagaan, keuangan, keterlibatan sektor swasta dalam layanan

sanitasi dan aspek komunikasi. Data ini umumnya tersebar di beberapa SKPD, tetapi tidak
tertutup kemungkinan ada data terkait yang dimiliki oleh universitas setempat (biasanya
berbentuk hasil penelitian), atau dimiliki oleh instansi di Provinsi ataupun di Pemerintah Pusat.
Oleh karenanya setelah dilakukan identifikasi kebutuhan data, anggota Pokja perlu melakukan
identifikasi sumber datanya. Khususnya untuk aspek kebijakan daerah dan kelembagaan serta
aspek keuangan, perlu dilakukan diskusi intensif tersendiri khusus untuk kedua aspek
tersebut terkait dengan sanitasi. Hal ini disebabkan umumnya belum terdapat keseragaman
pemahaman dari pada kedua aspek tersebut terkait dengan sanitasi. Untuk mendukung data
sekunder tersebut juga dilakukan beberapa survey terkait dengan pengelolaan sanitasi seperti:

Enviromental Health Risk Assesment (EHRA), Survey peran media dalam perencanaan sanitasi,
survey kelembagaan, survey keterlibatan pihak swasta dalam pengelolaan sanitasi, survay
keuangan, survay priority setting area beresiko serta survay peran serta masyarakat dan
gender.
Selain pengumpulan data sekunder, juga dilakukan pengumpulan data primer yang
berupa wawancara dengan informan kunci, pihak SKPD, kelompok masyarakat (masyarakat
miskin perkotaan, responden yang dipilih adalah masyarakat dengan ekonomi menengah ke
bawah yang tinggal di kawasan perkotaan, Pengusaha Penampung (Pengepul) atau Pengusaha
Produksi Barang Bekas Daur Ulang, pengelola TPA, Pengusaha Penanganan Limbah Cair
Domestik (Sedot Tangki Septik), LSM atau Kelompok Masyarakat yang telah menjalankan
aktivitas Daur Ulang Sampah, Sektor Swasta Pemasang Iklan).
1.5. POSISI BUKU PUTIH
Buku putih sanitasi Kabupaten Lombok tengah pada hakekatnya merupakan gambaran
karakteristik dan kondisi sanitasi, serta prioritas atau arah pengembangan yang ditetapkan
oleh pemerintah

dan masyarakat saat ini yang menyediakan data dasar yang esensial

mengenai struktur, situasi dan kebutuhan sanitasi. Buku ini nantinya akan menjadi baseline
data tentang kondisi sanitasi Kabupaten Lombok tengah saat ini bagi penyusunan Strategi
Sanitasi Kabupate (SSK) dan monev sanitasi sebagai acuan perencanaan strategis sanitasi
tingkat Kabupaten. Dalam tahapan monitoring dan evaluasi hasil implementasi rencana kerja
sanitasi, disusun adanya

Laporan Sanitasi Tahunan yang merupakan gabungan antara

laporan Tahunan SKPD dan status proyek sanitasi. Laporan Sanitasi Tahunan ini nantinya
akan menjadi Lampiran Buku Putih Sanitasi dan setelah 3 tahun, semua informasi tersebut
akan dijadikan bahan masukan untuk Revisi Buku Putih Sanitasi.
1.6. SUMBER DATA

Sumber data dalam penyusunan buku putih sanitasi Kabupaten Lombok tengah
meliputi :
a.

Data primer yaitu data yang bersumber dari survay atau observasi lapangan yang
dilakukan pokja, data primer dapat berupa rekaman hasil wawancara maupun potret (foto)
kondisi eksisting dilapangan. Jenis data primer yang dipakai dalam penyusunan buku putih
ini adalah (1) Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan/ Environmental Health Risk
Assessment, (2) Penilaian Sanitasi Berbasis Masyarakat/Community-based Sanitation
Assessment, (3) Penilaian Penyedia Sarana Sanitasi oleh Sektor Swasta/Sanitation Supply
Assessment, dan (4) Penilaian Peran Media/Media Assessment. Untuk wawancara,
responden yang dijadikan sumber data antara lain : SKPD, masyarakat dengan ekonomi
menengah ke bawah yang tinggal di kawasan
pengelola TPA, Pengusaha Penanganan Limbah Cair Domestik (Sedot Tangki Septik), LSM
atau Kelompok
Masyarakat yang telah menjalankan aktivitas Daur Ulang Sampah, Sektor Swasta
Pemasang Iklan.

b. Data sekunder yang diperoleh dari dokumen yang dimiliki tiap dinas/ SKPD yang terlibat
ISSDP, buku-buku umum mengenai wajah dan karakter Kabupaten Lombok tengah secara
umum. Data sekunder yang dibutuhkan dalam penyusunan buku putih sanitasi ini antara
lain (1) demografi, (2) kepadatan penduduk, (3) data keluarga miskin, (4) kesehatan
masyarakat, (5) arah dan kebijakan pembangunan Kabupaten/kota, (6) data kelembagaan
dan keuangan, dan sebagainya. Sumber data yang digunakan dalam penyusunan
buku putih sanitasi Kabupaten Lombok tengah seperti :
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Lombok tengah,
Tahun Anggaran 2008, 2009 dan 2010
Masterplan Drainase Kabupaten Lombok tengah Tahun 2008 2028
Penataan Kawasan TPA Kabupaten Lombok tengah Tahun 2002
Profil Sanitasi Kabupaten Lombok tengah Tahun 2009
Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Kabupaten Lombok tengah
Tahun 2008 2014
RPIJM Kabupaten Lombok tengah Tahun 2010 2014
RPJMD Kabupaten Lombok tengah Tahun 2010 2014
RTRW Kabupaten Lombok tengah Tahun 2009 2028
Kabupaten Lombok tengah dalam Angka Tahun 2005 - 2009
1.7. PERATURAN PERUNDANGAN
Didalam penyusunan Buku Putih Sanitasi Kabupaten Lombok tengah berdasar pada

beberapa peraturan perundang-undangan yang berlaku di tingkat nasional atau pusat, propinsi
maupun daerah. Kegiatan program Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP)
atau Program Pengembangan Sanitasi Indonesia di Kabupaten Lombok tengah didasarkan
pada aturan-aturan dan produk hukum yang meliputi :
1.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1966 Tentang Hygiene.

2.

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman.

3.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan .

4.

Undang-undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

5.

Undang-undang Nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.

6.

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

7.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah.

8.
Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat
dan Daerah.
9.

Undang-undang Nomor 38 tahun 2004 tentang Jalan.

10. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 Tentang Rencana


Panjang Nasional

Pembangunan Jangka

11.

Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

12.

Undang-undang Nomor 38 Tahun 2007 tentang Kewenangan Kabupaten/Kota.

13.

Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

14. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1982 Tentang Pengaturan
Air.
15. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1990 Tentang Pengendalian
Pencemaran Air
16.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1991 Tentang Sungai.

17. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis
Mengenai Dampak
Lingkungan.
18. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air.
19.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan.

20. Peraturan Pemerintah


Pemerintahan antara

Nomor

38

Tahun

2007

tentang

Pembagian

Urusan

Pemerintah, Pemerintah Daerah Propinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.


21.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 Tentang Rencana
Pembangunan Jangka
Panang Menengah Nasional (RPJM) Tahun 2004-2009.
22.
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 Tentang Badan
Pengendalian Dampak

Lingkungan.
23.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2002 Tentang Perubahan


atas Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun 2001 Tentang Tim
Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air

24. Keputusan Menteri


Persyaratan Kesehatan

Kesehatan

Nomor

829/Menkes/SK/VII/1999

tentang

Kesehatan

Nomor

876/Menkes/SK/VIII/2001

tentang

Perumahan;
25.
Keputusan Menteri
Pedoman Teknis Analisis

Dampak Kesehatan Lingkungan;


26.

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 288/Menkes/SKl/III/2003 tentang Pedoman


Penyehatan Sarana dan Bangunan Umum;

27.
Keputusan
Menteri
Kesehatan
1205/Menkes/Per/X/2004 tentang Pedoman

Republik

Indonesia

Nomor

Persyaratan Kesehatan Pelayanan Sehat Pakai Air (SPA).


28.
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi
Nasional Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat;
29. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 35/MENLH/7/1995
tentang Program Kali
Bersih.
30. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor Kep-03/MENLH/1/1998 tentang
Baku Mutu Limbah
Cair Bagi Kawasan Industri.
31.

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2001


tentang Jenis Usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi degan AMDAL.

32. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2003
tentang Baku Mutu air
33. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 142 Tahun 2003 tentang
Pedoman Mengenai
Syarat dan Tata Cara Perizinan serta Pedoman Kajian Pembuangan Air Limbah ke Air
atau Sumber Air.
34. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 12 Tahun 2007 tentang Dokumen
Pemantauan dan
Pengelolaan Lingkungan;
35.
Keputusan Menteri Kimpraswil Nomor: 327/KPTS/M/2002 tentang Pedoman
penyusunan Rencana Tata
Ruang Kawasan Perkotaan.
36.
Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 4 Tahun 2000 tentang Pedoman
Pembentukan Kecamatan.

37.
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 63 Tahun 1993 tentang Garis
Sempadan Sungai, Daerah
Manfaat Sungai, Daerah Penguasaan Sungai dan Bekas Sungai;
38.
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 1 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang Terbuka Hijau
Kawasan Perkota
41.
Peraturan Daerah Kabupaten Lombok tengah Nomor 17 Tahun 2002 tentang
Kebersihan.
42.
Peraturan Daerah Kabupaten Lombok tengah Nomor 19 Tahun 2002 tentang
Penetapan Kawasan Lindung;
43.
Peraturan Daerah Kabupaten Lombok tengah Nomor 20 Tahun 2002 tentang
Pengendalian Pencemaran Air;
44.

Peraturan Daerah Kabupaten Lombok tengah Nomor 21 Tahun 2002 tentang AMDAL;

45. Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Tengah Nomor 20 Tahun 2006 tentang
Penataan dan Pengembangan
Kelembagaan Kecamatan.
46. Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Tengah Nomor : 2 Tahun 2006 tentang Visi dan
Misi Kabupaten Lombok tengah Tahun
2006-2025;
47.
Peraturan Daerah Kabupaten Lombok tengah Nomor: 10 Tahun 2006 tentang
Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Lombok tengah Tahun 2006-2025;
48.
Peraturan Daerah Kabupaten Lombok tengah Nomor 11 Tahun 2006 tentang
Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJM) Kabupaten Lombok tengah 2006-2009.
49.

Peraturan

Daerah

Kabupaten Lombok Tengah Nomor 20 Tahun 2006

tentang

Penataan dan Pengembangan Kelembagaan Kecamatan;


50.

Peraturan Daerah Kabupaten Lombok tengah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Retribusi

Cetak Peta.
51. Peraturan Daerah Kabupaten Lombok tengah Nomor 4 Tahun 2008 tentang Bangunan
Gedung;
52. Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Tengah Nomor 9 Tahun 2009 tentang Tata
Cara Permohonan Izin Pembuangan Limbah Cair ke Sumber-Sumber Air di Kabupaten
Lombok tengah.
53. Peraturan Daerah Kabupaten Lombok tengah Nomor 2 Tahun 2010 tentang Rencana
Tata Ruang Kabupaten Lombok tengah Tahun 2009 2028