Anda di halaman 1dari 4

CUT RAFYQA FADHILAH

MAPRO 157029014
REVIEW JURNAL KUALITATIF
The Use of Expressive Arts Therapy in Understanding Psychological Issues of Juvenile
Delinquency (2014)
Asian Social Science (Vol. 10, Hal 144-161)
Sh Marzety Adibah Al Sayed Mohamad1 & Zakaria Mohamad
Latar Belakang
Penelitian ini menggunakan studi kualitatif dengan pendekatan fenomenologis.
Dilatarbelakangi kenakalan remaja yang meningkat di Malaysia, penelitian ini menerapkan
terapi seni ekspresif dalam memahami masalah psikologis kenakalan remaja. Banyak remaja
di Malaysia terlibat dalam perilaku nakal seperti misbehaviors di sekolah, penyalahgunaan
narkoba, ilegal street racing, pencurian, bullying, seks bebas, perjudian, concealed carry,
serta pembunuhan. Fauziah (2005) menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan masalah
sosial yang serius. Menurutnya kenakalan di kalangan remaja dianggap sebagai masalah
sosial dan telah menyebar secara luas di komunitas Malaysia. Fenomena ini berdampak bagi
individu, keluarga, dan juga bangsa baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Pengalaman remaja dan bagaimana mereka memandang masalah ini perlu dieksplorasi secara
mendalam. Persepsi, perilaku, dan perasaan mereka harus dipahami dan digali segala sesuatu
yang ada pada mereka. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa mereka tidak dapat
mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka secara langsung (Graham & Sontag, 2001).
Peneliti mencoba memanfaatkan terapi seni ekspresif sebagai media untuk memahami
fenomena kenakalan remaja.
Terapi seni ekspresif merupakan suatu cara dalam memberikan kenyamanan bagi
anak-anak dan remaja untuk berkomunikasi dengan orang dewasa mengenai dunia internal
dan eksternal. Seni dapat digunakan untuk memahami pengalaman individu, terutama remaja,
dalam upaya untuk mengatasi kebingungan, kesedihan dan konflik batin. Rubin (2001)
menjelaskan bahwa ide-ide dan hal-hal yang sentimen yang lebih baik diekspresikan
menggunakan seni kata. Seni dan kreativitas memberikan kesempatan unik untuk melihat
pengalaman dan merasakan semua kesulitan internal untuk setiap krisis yang dialami oleh
seseorang yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Selain membantu remaja dalam
proses identifikasi, pemahaman dan interpretasi pengalaman mereka, seni juga dapat
memberikan ruang dan menciptakan sebuah jalan yang kreatif dalam menempatkan makna

disetiap peristiwa dalam hidup mereka. Melalui karya seni, kebanyakan remaja mampu
menunjukkan perasaan dan pikiran dengan mengekspresikan perasaan mereka dalam fitur
simbolis tertentu (Bennink, Gussak & Skowan, 2003; Howard, 2001). Gambar-gambar
melalui seni ekspresif bisa memberikan ruang bagi remaja untuk mengekspresikan gambar
tersebut secara alami dalam langkah-langkah kreatif mereka sendiri (Graham & Sontag,
2001). Penelitian ini dilakukan untuk memahami unsur-unsur pengalaman remaja dalam sesi
konseling kelompok dengan terapi seni ekspresif.
Teori yang digunakan: Arts Therapy (Terpi Seni)
Seni kreatif atau seni ekspresi merupakan sebuah cara dimana memberikan
kenyamanan bagi anak-anak dan remaja untuk berkomunikasi dengan orang dewasa tentang
dunia internal dan eksternal. Seni sering digunakan untuk memahami pengalaman individu,
terutama remaja, dalam upaya untuk mengatasi kebingungan, kesedihan dan konflik batin.
Proses kreatif ini dapat menghilangkan konflik emosional, mengembangkan kesadaran diri
dan penyembuhan (Deaver, 2002). Penggunaan terapi seni dapat menjadi sarana bagi remaja
untuk berkomunikasi dengan nyaman, dan memiliki potensi sebagai sarana pemulihan (Finn,
2003). Terapi seni ekspresi dapat membantu klien untuk menemukan dan memberi makna
nyata dalam hidup mereka melalui pengalaman hubungan kreatif. Makna yang dicari dan
diperoleh akan memotivasi individu untuk mendapatkan tingkat tinggi kegembiraan dan
keyakinan dalam menjalani kehidupan. Penggunaan seni adalah cara yang baik untuk
membantu klien untuk menemukan tujuan dan makna hidup (Lantz dan Gyamerah, 2002).
Karya seni yang dihasilkan oleh klien dapat membantu terapis untuk mengidentifikasi unsurunsur dari refleksi serta membantu klien untuk mengenali, menyadari dan menghargai potensi
yang lebih berarti dalam hidup mereka melalui hubungan kreatif dalam sesi konseling
kelompok (Lantz & Gyamerah 2002). Stimulasi kreatif mendorong para subjek untuk
merefleksikan masalah yang dihadapi dengan orang-orang di masa lalu subjek. Seni ekspresi
merupakan sebuah metode indah untuk mengekspresikan diri melalui simbol-simbol dan
metafora; secara tidak langsung dapat menunjukan emosi seorang klien terhadap orang lain
apakah ia menyukai sesuatu atau tidak. Hal ini dapat menjadi sebuah cara dalam mengetahui
perasaan negatif seseorang tanpa menyakiti siapapun.
Metode
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis.
Fenomenologi merupakan metode yang digunakan saat peneliti ingin memahami makna dan

esensi dari pengalaman dan bagaimana para subjek dapat memahaminya. Pendekatan
penelitian ini melibatkan proses ekpslorasi yang dalam mengenai pengalaman pribadi subjek
guna memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai fenomena yang sedang
dipelajari (Gbirch, 2007). Pengambilan data dilakukan dengan wawancara yang mendalam,
observasi, dan analisis dokumen. Penelitian ini dilakukan kepada tujuh remaja perempuan
berusia enam belas sampai delapan belas tahun yang terlibat dalam kenakalan remaja.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa masalah psikologis yang muncul. Subjek
penelitian mengungkapkan perasaan mereka dalam beberapa tema (masalah psikologis) yang
telah diidentifikasikan dalam penelitian ini: kebencian; kemarahan dan balas dendam;
frustrasi dan kesedihan; memberontak; memohon kasih sayang, mencari kebahagiaan dan
kenikmatan hidup; rendah diri; traumatis dan gangguan emosional.
Tema
Kebencian, Kemarahan dan Balas Dendam
Frustrasi dan Kesedihan
Memberontak
Mencari Kebahagiaan dan Kenikmatan

Subjek
S01

Hidup
Memohon Kasih Sayang
Rendah Diri
Traumatis dan Gangguan Emosional

S02

S03

S04

S05

S07

S06

Diskusi dan Saran Penelitian Selanjutnya


Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan terapi seni ekspresif adalah intervensi
yang dapat diambil untuk membantu konselor dalam mengatasi masalah yang terkait dengan
fenomena kenakalan remaja dan isu-isu lain yang mempengaruhi remaja. Hasil efektivitas
dari sesi konseling dapat dilihat ketika para subjek dapat mengekspresikan apa mereka alami
dalam kehidupan tanpa hambatan. Hal ini menunjukkan bahwa subjek lebih nyaman dengan
lingkungan dan cara komunikasi yang dilakukan oleh konselor psikologis. Subjek juga dapat
menceritakan sebuah cerita dan menemukan perasaan yang sebenarnya setelah dieksplorasi
oleh konselor dalam konseling ini. Pendekatan Terapi seni ekspresif telah digunakan dalam
berbagai isu dan masalah, terutama dalam konseling kelompok (Testa & McCarthy, 2004).
Temuan masalah psikologis ini menunjukkan bahwa masih banyak lagi celah dan kekurangan
yang ada di masyarakat dalam berkontribusi terhadap gejala kenakalan. Meskipun banyak
penelitian telah dilakukan sebelumnya, (Wadeson & Writz, 2005; Hanes, 2000; Robertson,

2001), namun penelitian terapi seni ekspresif banyak dilakukan dalam komunitas Barat. Ada
beberapa isu yang berkaitan dengan perkembangan psikologis yang telah mengganggu
kestabilan emosi para remaja dalam penelitian ini. Studi ini menemukan bahwa pengalaman
mereka ternyata berhuhungan dengan disfungsionalnya fungsi keluarga. Pengalaman mereka
kekerasan fisik, pelecehan emosional, seksual dan lainnya meninggalkan kesan yang
mendalam pada mereka. Serangkaian pengalaman naas tersebut terjadi di fase awal
kehidupan mereka, dan akhirnya mereka memiliki masalah psikologis seperti kebencian,
kemarahan, dendam, frustrasi dan kesedihan. Para remaja harus mengemis untuk cinta dan
kasih sayang dari teman atau pacar mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan penyebab
utama untuk remaja yang terlibat dengan kenakalan adalah keinginan untuk memiliki cinta
dan kasih sayang dari orang-orang terdekat terutama orang tua dan keluarga mereka. Jika
tidak mendapatkannya, mereka akan mencari orang yang dapat memenuhi kebutuhan
tersebut. Selama masa-masa labil, mereka akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak
bertanggung jawab. Karena itu, mereka menyerahkan segala sesuatu yang mereka miliki
sampai mereka terjebak oleh penipuan dan janji-janji palsu pacar mereka. Keterlibatan
mereka dalam perilaku nakal juga cara lain bagi mereka untuk menemukan kebahagiaan dan
kenikmatan hidup yang mereka tidak pernah mereka dapatkan dalam keluarga. Berbagai
peristiwa pahit yang telah dialami dalam hidup mereka membuat mereka merasa bahwa
mereka tidak lagi berharga dan berguna. Beberapa dari mereka menganggap bahwa mereka
merupakan sampah masyarakat. Pengalaman hidup mereka sebelumnya mempengaruhi
stabilitas emosional mereka. Tekanan dan tuntutan hidup yang dihadapi oleh mereka juga
akan menyebabkan mereka untuk tidak berpikir bijak. Ketika masalah ini tidak ditangani dan
dianggap serius oleh orang tua, remaja akan merasa mereka tidak mendapatkan pengakuan
dan perhatian yang mereka butuhkan dan akhirnya mereka akan kehilangan makna hidup.
Isu-isu ini akhirnya dapat dikaitkan dengan gangguan emosional yang menyebabkan remaja
menjadi nakal. Kegagalan pemerintah untuk memberikan perhatian pada unsur-unsur
gangguan dalam hal psikologi remaja juga dapat menyebabkan mereka menderita gangguan
mental. Adapun saran dari penelitian ini diharapkan untuk menggunakan terapi seni dalam
memahami fenomena kenakalan remaja di Asia dan menggali permasalahan remaja sedalamdalamnya guna mencari solusinya.