Anda di halaman 1dari 5

3.

5 Pemeriksaan Radiologi dan Klinis


a.Anamnesis dilakukan untuk menggali riwayat mekanisme cedera (posisi kejadian) dan
kejadian-kejadian yang berhubungan dengan cedera tersebut.
b. Pemeriksaan Fisik
- Inspeksi / Look Deformitas : angulasi, rotasi, pemendekan, pemanjangan,
bengak. Pada fraktur terbuka klasifikasi Gustilo
- Palpasi / Feel : Lakukan palpasi pada daerah ekstremitas tempat fraktur tersebut,
meliputi persendian diatas dan dibawah cedera, daerah yang mengalami nyeri,
efusi, dan krepitasi.
- Gerakan / Moving
- Pemeriksaan trauma di tempat lain : kepala, toraks, abdomen, pelvis. Sedangkan pada
pasien dengan politrauma, pemeriksaan awal dilakukan menurut protokol ATLS. Langkah
pertama adalah menilai airway, breathing, dan circulation.

c. Pemeriksaan Penunjang :
1. Pemeriksaan radiologis (rontgen), pada daerah yang dicurigai fraktur, harus mengikuti
aturan role of two, yang terdiri dari :

Mencakup dua gambaran yaitu anteroposterior (AP) dan lateral.


Memuat dua sendi antara fraktur yaitu bagian proximal dan distal.
Memuat dua extremitas (terutama pada anak-anak) baik yang cidera maupun yang
tidak terkena cedera (untuk membandingkan dengan yang normal)
Dilakukan dua kali, yaitu sebelum tindakan dan sesudah tindakan.

Foto Rontgen
Pada proyeksi AP kadang tidak jelas ditemukan adanya fraktur pada kasus yang
impacted, untuk ini diperlukan pemerikasaan tambahan proyeksi axial. Pergeseran dinilai
melalui bentuk bayangan tulang yang abnormal dan tingkat ketidakcocokan garis trabekular
pada kaput femoris dan ujung leher femur. Penilaian ini penting karena fraktur yang
terimpaksi atau tidak bergeser (stadium I dan II Garden ) dapat membaik setelah fiksasi
internal, sementara fraktur yang bergeser sering mengalami non union dan nekrosis avaskular.
Radiografi foto polos secara tradisional telah digunakan sebagai langkah pertama
dalam pemeriksaan pada fraktur tulang pinggul. Tujuan utama dari film x-ray untuk
menyingkirkan setiap patah tulang yang jelas dan untuk menentukan lokasi dan luasnya
fraktur. Adanya pembentukan tulang periosteal, sclerosis, kalus, atau garis fraktur dapat
menunjukkan tegangan fraktur.Radiografi mungkin menunjukkan garis fraktur pada bagian
leher femur, yang merupakan lokasi untuk jenis fraktur.Fraktur harus dibedakan dari patah
tulang kompresi, yang menurut Devas dan Fullerton dan Snowdy, biasanya terletak pada
bagian inferior leher femoralis. Jika tidak terlihat di film x-ray standar, bone scan atau
Magnetic Resonance Imaging (MRI) harus dilakukan.

Bone Scanning
Bone scanning dapat membantu menentukan adanya fraktur, tumor, atau infeksi.Bone
scan adalah indikator yang paling sensitif dari trauma tulang, tetapi mereka memiliki
kekhususan yang sedikit. Shin dkk. melaporkan bahwa bone scanning memiliki prediksi nilai
positif 68%.
Bone scanning dibatasi oleh resolusi spasial relatif dari anatomi pinggul. Di masa lalu,
bone scanning dianggap dapat diandalkan sebelum 48-72 jam setelah patah tulang, tetapi
sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hold dkk menemukan sensitivitas 93%, terlepas dari
saat
cedera.
Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI telah terbukti akurat dalam penilaian fraktur dan andal dilakukan dalam waktu
24 jam dari cedera, namun pemeriksaan ini mahal. Dengan MRI, fraktur biasanya muncul
sebagai garis fraktur di korteks dikelilingi oleh zona edema intens dalam rongga meduler.
Dalam sebuah studi oleh Quinn dan McCarthy, temuan pada MRI 100% sensitif pada pasien
dengan hasil foto rontgen yang kurang terlihat.MRI dapat menunjukkan hasil yang 100%
sensitif, spesifik dan akurat dalam mengidentifikasi fraktur collum femur.
2. Pemeriksaan laboratorium, meliputi:

Darah rutin,
Faktor pembekuan darah,
Golongan darah (terutama jika akan dilakukan tindakan operasi),
Urinalisa,
Kreatinin (trauma otot dapat meningkatkan beban kreatinin untuk kliren ginjal).

3. Pemeriksaan arteriografi
Dilakukan jika dicurigai telah terjadi kerusakan vaskuler akibat fraktur tersebut.
Klasifikasi radiologis
Berdasar Lokalisasi

Diafisial
Metafisial
Intraartikuler
Fraktur dengan dislokasi

Berdasar Konfigurasi
-

Fraktur transversal
Fraktur oblik
Fraktur spiral
Fraktur segmental
Fraktur komunitif
Fraktur impaksi
Fraktur epifisis
Fraktur depresi

Berdasar ekstensi
-

Fraktur total
Fraktur tidak total
Fraktur buckle atau torus
Fraktur line hair
Fraktur greenstick

Berdasar hubungan fragmen


-

Tidak bergeser
bergeser

Bergeser :
-

Bersampingan
Angulasi
Rotasi
Distraksi

overriding

Faiz, O. (2004). At A Glance Series Anatomy. Jakarta: Erlangga.


Long, C. Barbara. 1996. Perawatan Medikal Bedah.
Mithcell, R. N. (2008). Buku Saku Dasar Patologis Penyakit. Jakarta: EGC.
Patel, P. R. (2006). Lecture Notes Radiologi. Jakarta: EMS.
Rasjad C. 1992. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi, Bintang Lamumpatue, Ujung
Pandang.

Rasjad, Chairuddin. 2009. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: Yarsif


Watampone.
Sjamsuhidajat R dan de Jong, Wim (Editor).2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3.
Jakarta: EGC
Syamsir, HM. 2011. Kinesiologi Gerak Tubuh Manusia. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Yarsi Bagian Anatomi.
Tambayong, J. (2000). Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.
http://www.histology-world.com/
http://www.instantanatomy.net/
http://www.medicastore.com/

http://www.nursingbegin.com/
http://www.e-radiography.net/radpath/f/femur%20fracture/neck_of_femur.htm
Moore KL, dkk. 2013. Anatomi Berorientasi Klinis Ed.5 jilid 2. Jakarta : Erlangga
Syamsir, HM. (2013). Kinesiologi Gerak Tubuh Manusia. FKUY