Anda di halaman 1dari 3

Diagnosa dan Intervensi Keperawatan

Risiko tinggi terhadap cedera yang berhubungan dengan disfungsi


sensori atau neuromuskular sekunder terhadap hipomagnesemia.
Hasil yang diharapkan : Pasien tidak menunjukkan bukti cedera yang
disebabkan oleh komplikasi hipomagnesemia berat. Kadar magnesium serum
dalam batas normal (1,5-2,5 mEq/L).
1. Pantau kadar magnesium serum pada pasien beresiko terhadap
terjadinya hipomagnesemia, sebagai contoh orang pecandu alkohol
(alkoholik) atau menerima obat yang meningkatkan ekskresi melalui
urine. Waspadakan dokter terhadap nilai abnormal.
Catatan : Hipomagnesemia simptomatik mungkin secara salah
diatribusikan terhadap delirium tremens dari alkoholisme kronis.
Waspada khusus terhadap indikator kekurangan magnesium pada
pasien ini.
2. Berikan MgSO4 IV dengan kewaspadaan. Rujuk pada pedoman pabrik.
Pemberian terlalu cepat dapat menimbulkan hipermagnesemia
berbahaya dengan henti jantung atau pernafasan. Pasien yang
menerima magnesium IV harus dipantau terhadap penurunan TD,
nafas payah, dan penurunan refleks patela. Tak adanya refleks patela
adalah tanda hiporefleksia karena hipermagnesemia berbahaya. Bila
tanda perubahan ini terjadi, hentikan penginfusan dan beri tahu dokter
stat (lihat Hipermagnesemia, hal.136). Pertahankan kalsium glukonat
pada sisi tempat tidur pada peristiwa hipokalsemia tetani atau
hipermagnesemia tiba-tiba.
3. Untuk pasien dengan hipomagnesemia kronis, berikan suplemen
magnesium oral sesuai program. Semua suplemen magnesium harus
diberikan dengan kewaspadaan pada pasien dengan penurunan fungsi
ginjal karena peningkatan risiko terjadinya hipermagnesemia. Diare
adalah efek samping umum dari suplemen magnesium oral.
Waspadakan dokter bila terjadi diare.
4. Anjurkan masukan makanan tinggi magnesium pada pasien yang tepat
(lihat table 11-1). Catatan : untuk kebanyakan pasien, diet regular
biasanya adekuat.
5. Pertahankan pasien simptomatik pada kewaspadaan kejang. Turunkan
rasang lingkungan (misalnya, pertahankan ruangan tenang, gunakan
penerangan remang-remang).
6. Untuk pasien yang dicurigai hipokalsemia, waspadai terhadap
hiperventilasi. Alkalosis respiratori dapat mencetuskan tetani, karena
peningkatan ikatan kalsium.

7. Disfagia dapat terjadi pada hipomagnesemia. Tes kemampuan pasien


terhadap penelanan air sebelum memberikan makanan atau obat.
8. Kaji dan dokumentasi tingkat kesadaran, orientasi dan status
neurologis pada setiap pemeriksaan tanda vital. Orientasikan ulang
pasien sesuai kebutuhan. Waspadakan dokter terhadap perubahan
bermakna. Informasikan pasien dan orang terdekat bahwa perubahan
alam perasaan dan sensorium adalah sementara dan akan membaik
dengan perngobatan.
9. Waspadakan dokter pada pasien yang menerima larutan bebas
magnesium (mis., nutrisi parenteral total) untuk periode panjang.
10.
Lihat Hipokalemia,: hal 92-101 dan Hipokalsemia, hal. 103112, untuk asuhan keperawatan gangguan ini. Catatan: Karena
magnesium perlu untuk penggerakan kalium ke dalam sel, kekurangan
kalium intraseluler tidak dapat diperbaiki sampai hipomagnesemia
telah diatasi secara efektif.
Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan perubahan listrik
berkenaan dengan takiaritmia atau toksisitas digitalis sekunder terhadap
hipomagnesemia.
Hasil yang diharapkan: Elektrokariogram (EKG) menunjukkan konfigurasi
normal dan frekuensi jantung dalam batasan normal untuk pasien.
1. Pantau frekuensi dan keteraturan jantung pada setiap pemeriksaan TV.
Waspadakan dokter terhadap perubahan.
2. Kaji EKG pada pasien dengan pemantauan EKG kontinu.
3. Karena hipomagnesemia (dan hipokalemia) memperkuat efek digitalis
jantung, pantau pasien yang menggunakan digitalis terhadap disritmia
karena digitalis. Perubahan EKG dapat meliputi KVP bigeminal atau
multifokal, takikardia atrium paroksismal dengan berbagai blok AV, dan
blok jantung Wenckebach (AV Tipe I). Pantau terhadap perubahan nadi
pada situasi pemantauan non-EKG.
Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh terhadap magnesium
yang berhubungan dengan riwayat masukan buruk atau anoreksia, mual,
dan muntah sekunder terhadap hipomagnesemia.
Hasil yang diharapkan: Pasien mengungkapkan pengetahuan tentang
makanan tinggi kandungan magnesium dan menunjukkan konsumsi
makanan ini selama makan.
1. Anjurkan masukan sedikit dan sering.

2. Ajarkan pasien tentang makanan tinggi kandungan magnesium (lihat


Tabel 11-1) dan anjurkan masukan makanan ini.
3. Obati dengan antiemetik sesuai program.
4. Libatkan pasien, orang terdekat, dan ahli diet pada perencanaan
makan yang sesuai.
5. Berikan higiene oral sebelum makan untuk meningkatkan napsu
makan.
Pedoman Penyuluhan Pasien-Keluarga
Beri pasien dan orang terdekat instruksi verbal dan tertulis mengenai hal
berikut:
1. Obat-obatan, termasuk nama obat, tujuan, dosis, frekuensi,
kewaspadaan, dan potensial efek samping.
2. Indikator hipo- dan hipermagnesemia dan hipokalsemia. Tekankan
gejala yang memerlukan perhatian medis segera: kebas dan
kesemutan jari dan region sirkumoral, kram otot, perubahan
sensorium, dan nadi cepat tak teratur.
3. Makanan yang tinggi magnesium (lihat Tabel 11-1). Tinjau ulang diet
yang diprogramkan dengan pasien.
4. Rujukan ke Alcoholic Anonymous, Al-anom, dan al-ateen yang sesuai
untuk pasien alkoholik dan orang terdekatnya.