Anda di halaman 1dari 14

1

MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA


MENURUT KEARIFAN LOKAL*
PLEH: H.LL.SYAPRUDDIN**
*Makalah, disampaikan pada Pelatihan dan Pembekalan Pengurus (mediator)
Bale Sangkep Desa (BSD) Desa Sintung dan Desa Kekait, Fakultas Hukum
Universitas Muhammadiyah Mataram, 30 April 2014.
** Dosen Tetap Fakultas Hukum Universitas Mataram.

I
PENDAHULUAN

Sejarah telah menerangkan bahwa sebelum datangnya bangsabangsa asing (Portugis, Sepanyol, Inggris, Belanda) di kepulauan
Nusantara ini, jauh sebelumnya telah ada Negara Negara
berdaulat yang memerintah menurut tatanan hukum asli yang
dikenal dengan istilah hukum adat yang
masyarakat

sekarang

ini

dapat

dilihat

dalam kehidupan
pada

system

pemerintahan desa. Tatanan hukum adat disebut asli karena


bercorak dan berkarakter tersendiri yang merupakan hukum
tidak tertulis sebagai perwujudan dari cara pandang bangsa
Indonesia yang serba konkrit dan komunalistik, berbeda dengan
karakteristik hukum barat yang berbasis kontinental sistem
yaitu tertulis dan terkodifikasi. Sifat dan karakter hukum adat itu
berpengaruh dan atau memberikan ciri husus terhadap tata cara
penyelesaian sengketa yang tujuan utamanya adalah untuk
tercapainya pemulihan, dengan kata lain keadaan yang tidak
seimbang (disharmonis) harus diupayakan untuk diseimbangkan
(diharmoniskan) kembali. Harmonisasi berarti pengharmonisan,
upaya mencari keselarasan

Sedangkan istilah keselarasan

biasanya dikaitkan dengan istilah pengendalian diri


mengandung arti

yang

suatu keinginan dan kemampuan untuk

mencapai kehidupan yang selaras, serasi dan seimbang pada


hak dan kewajiban sebagai individu dalam kehidupan keluarga,
1

Indahduii.blgspot.com/2011/08/mulai memudarnya-arti-dari-sebuah.html?m=1

www.organisasi.org/1970/01/arti-definisi-pengertian-pengendalian-diri-selaras-serasi-seimbangpendidikan-kewarganegaraan.html?m=1

2
masyarakat, bangsa dan negara. Serasi berarti kesesuaian atau
kesamaan

untuk

menghasilkan

keterpaduan

yang

utuh.

Seimbang adalah jumlah yg sama besar antara hak dan


kewajiban sedangkan selaras adalah suatu hubungan baik yang
dapat

menciptakan

ketentraman

lahir

dan

bathin.

Setiap

perselisihan/sengketa, harus diselesaikan secara damai menurut


cara yang benar dan patut agar dapat tercipta hubungan yang
harmonis dalam tiga dimensi kehidupan, yaitu hubungan antara
manusia dengan Allah Tuhan YME, hubungan dengan sesama
manusia

dan

hubungan

manusia

dengan

alam

semesta

(hubungan yang harmonis antara micro dan macro cosmos ).


Selanjutnya sifat hukum adat yang dinamis menyebabkannya
sangat terbuka menerima pengaruh dari luar yang dirasakan sesuai
dengan prinsip-prinsip hukum adat dan kepribadian masyarakat hukum
adat yang bersangkutan. Keadaan demikian ahirnya menjadikan
hukum adat mendapat pengaruh sangat dominan dari hukum agama
yang dianut oleh masyarakat yang bersangkutan, bahkan masih
terdapat sisa-sisa dari pengaruh agama yang pernah dianut oleh nenek
moyang terdahulu. Banyaknya pengaruh dari unsur agama dan unsurunsu yang lainnya yang diterima oleh hukum adat, tidak mengurangi
bahkan tambah melengkapi berlakunya prinsip paling utama dalam
penyelesaian sengketa adat yaitu musyawarah mufakat.
II
PERMASALAHAN
Dalam setiap langkahnya, masyarakat hukum adat selalu
berusaha untuk menjalani kehidupannya dengan memadukan prinsif
keselamatan dan kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Cita-cita untuk
menggapai kebahagiaan hakiki dengan menjunjung tinggi prinsif hidup
yg harmoni, mendorong setiap individu dalam komunitas untuk
menjaga kehidupan yg harmonis itu dg tanggung jawab yg melekat.

3
Apabila karena sesuatu hal terjadi benturan atau pergesekan dlm
kehidupan antar individu / kelompok, maka seluruh anggota komunitas
berkewajiban untuk mempertahankan dan atau mengembalikan
kehidupan yang harmonis secara arif dan bijaksana.
Permasalahannya adalah bagaimana mekanisme
penyelesaian sengketa menurut kearifan local masyarakat
suku bangsa sasak ?.
III
PEMBAHASAN
Menurut hukum adat, kehidupan manusia di dunia telah
ditakdirkan sebagai kesatuan yang terintegrasi, baik secara internal
yaitu dalam wujud kehidupan bersama (komunal) maupun secara
eksternal yaitu bersinergi dengan lingkungan (alam semesta) secara
harmonis. Hubungan harmonis ini adalah manifestasi dari corak hukum
adat yang religious-magic, yang bermakna suasana kehidupan lahir
batin setiap individu. Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, manusia
terkadang keluar dari uger-ugeran kehidupannya yang serba harmonis
itu

dan

mengukurnya

dengan

kepentingan

serba

materi

yang

bertumpu pada prinsip untung rugi dengan mengabaikan interaksi


tanpa pamrih. Dalam keadaan seperti ini sering kali tidak terelakkan
terjadinya

benturan

kepentingan

yang

berakibat

terganggunya

keseimbangan antara mikro dan makro kosmos (disharmonis). Tugas


suci setiap individu di dalam masyarakat menurut hukum adat adalah
mempertahankan tatanan kehidupan tersebut,

yang dikemukakan

olehAbbas sebagai berikut :


Tugas

utama

masyarakat

hukum

adat

adalah

membina

keselarasan, keseimbangan, keserasian dan kesinambungan


antara masyarakat sebagai makhluk hidup dengan isi alam
semesta, sebab harmoni itu akan membawa kebahagiaan bagi
kehidupan

bersama.

Setiap

perbuatan

yang

mungkin

4
menimbulkan disharmoni, harus dimintakan restu dari penghuni
gaib

Segala bentuk sengketa yang terjadi, selalu diupayakan


penyelesaiannya dengan musyawarah mufakat, yg dilaksanakan dalam
suatu upacara dengan ritual-ritual tertentu.
Adapun prinsip dan atau langkah langkah penting yang harus
diperhatikan dalam menyelesaikan sengketa dengan cara musyawarah
adalah sebagai berikut :
Bersikap tenang
Pilih pendekatan terbaik terhadap situasi tersebut
Tentukan waktu yang tepat dan lakukan permusyawarahan serta
putuskan siapa saja yang perlu dilibatkan
Cari orang lain yang bisa Anda ajak bekerja untuk menyelesaikan
konflik
Bersama-sama

mengenali

masalah

dan

kepentingan

yang

terdapat pada konflik tersebut


Gunakan

keterampilan

mendengar

aktif

untuk

membantu

komunikasi :
Amati komunikasi non verbal
Bantu dengan komunikasi verbal; dgn cara :
Menyatakan

kembali

gunakan

kata-kata

sendiri

menterjemahkan apa yg didengar dan diamati sendiri pada org


lain dan tanyakan kpd mereka apakah pernyataan itu benar.
Repleksi : beritahu mereka, apakah persepsi anda tentang
perasaan mereka sudah benar?.

Syahrizal Abbas, Mediasi Dlm Perspektif Hukum Syariah, Hukum Adat Dan Hukum
Nasional, 2009, hal 241.
3

5
Validasi : biarkan mereka kemukakan pendapatnya walaupun
sebetulnya

anda

tidak

setuju,

hormati

dan

berusahalah

memahami pendapat mereka.


Ringkasan : dengarkan apa yg mereka katakan walaupun
panjang lebar, kemukakan kpd mereka secara singkat dan jelas
kemudian tanyakan apakah sdh sesuai dgn pendapat mereka.
Untuk lebih memahami bagaimana nilai kearifan local itu diterapkan
dalam penyelesaian sengketa, dibawah ini dikemukakan tentang cara
penyelesaian sengketa menurut hukum adat dengan mengambil
pewarisan sebagai sebuah contoh kasus.
Penyelesaian Sengketa Pewarisan menurut Hukum

Adat

Sasak.
Jika

terjadinya

benturan

kepentingan

berkaitan

dengan

pelaksanaan hak dan kewajiban antar sesama ahli waris, maka yang
terjadi adalah sengketa pewarisan.
Menerima

pemberian

yang

berupa

benda

yang

bernilai

ekonomis ataupun pemberian yang sifatnya non ekonomis (bernilai


magis / supra natural), di kalangan masyarakat suku bangsa sasak
tetap disebut sebagai warisan. Pemberian dari orang tua, atau kakek
nenek atau siapapun leluhur dari garis bapak atau ibu semasa
hidupnya tetap dipandang sebagai penerimaan warisan yang dikenal
dengan istilah tetemuan, sedangkan cara perolehannya itu disebut
n e m u. Tetemuan tersebut dapat diperoleh secara langsung semasa
si pemberi masih hidup dan atau setelah meninggal dunia, yang
selanjutnya dipertahankan oleh si penerima bukan hanya sebagai
pemberian biasa, tetapi sebagai amanah yang harus dipelihara yang
selanjutnya akan diwariskan turun temurun. Sebagai contoh, jika
seseorang mewarisi (nemu) sesuatu ilmu kebatinan (mantera untuk
pengobatan) berikut jenis benda-benda tertentu yang dapat diracik
menjadi bahan obat-obatan, biasanya disertai dengan pesan amanah

6
tertentu misalnya harus sanggup menolong orang lain tanpa pamrih,
maka akan dijalankannya dengan istiqomah (konsisten) sebab jika
pesan itu dilanggar diyakini akan menerima ganjaran /balaq yang
disebut penulah. Demikian juga halnya dengan pemberian atau
pewarisan yang berupa benda tidak bergerak maupun benda bergerak,
si penerima tetemuan atau warisan akan tetap merasa berkewajiban
untuk memelihara/merawat/mengelola dengan sebaik-baiknya dan
harus berupaya sedemikian rupa untuk tidak mengalihkan pemilikan
maupun penguasaannya. Memperoleh melalui pewarisan (nemu), atas
benda benda tersebut, terutama benda tidak bergerak (sawah,
kebon, rumah dll) atau benda-benda bergerak yang diyakini bernilai
magis (keris, tombak dll) dipandang sebagai tali pengikat abadi yang
diungkapkan dengan simbul tolang daeng papuq baloq yang artinya
ibarat tulang rusuk nenek moyang dan berfungsi sebagai media
pemersatu keluarga yang oleh karena itu tidak pantas untuk dialihkan
4

Prinsip-prinsip yang terkandung dalam pewarisan (adat sasak :


n e m u) tersebut berlaku sebagai nilai-nilai kearifan yang harus
dijunjung tinggi oleh setiap ahli waris. Di dalam pembagian warisan
ataupun upaya penyelesaian jika terjadi sengketa antara ahli waris,
lima prinsip hukum adat sebagaimana pendapat Hadikusuma berlaku
bagi setiap masyarakat hukum adat termasuk suku bangsa sasak. Asas
asas

tersebut

dikemukakan

dibawah

ini

dan

dibandingkan

(padanannya) dengan prinsip-prinsip menurut Hukum Adat Sasak


adalah sebagai berikut :
a. Asas Ketuhanan dan pengendalian diri (adat sasak : betegel
leq reden Neneq) ;

Syapruddin, Kedudukan Wanita Menurut Hukum Keluarga Dan Hukum Waris Adat
Sasak Setelah Berlaku Kompilasi Hukum Islam (Tesis Program Pascasarjana - USU ),
Medan, 1998. hal 149.
4

7
b. Asas Kesamaan Hak dan kebersamaan hak (adat sasak: doe
sopoq, bareng ngepe) ;
c. Asas Kerukunan dan kekeluargaan (adat sasak : awak sopoq
,saling peririq, saling angkat,saling ajinin, saling sedok) ;
d. Asas Musyawarah dan mufakat (adat sasak: S o l o h );
e. Asas Keadilan dan Parimirma (adat sasak : endeq naraq bine
kire, tarik nyacap);5.
Dalam penyelesaian sengketa (termasuk pewarisan), pada
masyarakat suku bangsa sasak dikenal keberadaan dan peran institusi
lokal yang disebut pekraman. Menurut Arzaki, lembaga Krama ini
bertugas menjaga kelestarian adat budaya dan menegakkan berlakunya
tatanan norma, yang berlaku dilingkungan masyarakat suku bangsa sasak .
Pekraman bertugas (berwenang) mengadili sengketa berdasarkan hukum
adat yang berlaku secara bertingkat dan menerapkan sanksi-sanksi adat.
Krama adat di Lombok terdiri dari : krama waris, krama banjar, krama gubuk
dan krama desa.
Krama waris adalah satuan komunitas yg anggotanya didasarkan
pertalian darah. fungsinya sering kali sebagai penengah dalam penyelesaian
sengketa dikalangan internal keluarga yg dipimpin oleh orang tertua atau
orang yang dituakan dari kalangan keluarga. Krama banjar ; berkedudukan
ditingkat dusun dan merupakan perkumpulan (paguyuban) yang didasarkan
kepentingan tertentu atau direkat oleh kesamaan keturunan atau profesi
tertentu. misalnya : banjar kematian, kerajinan, perkawinan, lingkungan dll.
dipimpin oleh penoaq gubuk yg ditetapkan sec. musyawarah. Krama gubuk;
sebuah krama yg beranggotakan seluruh warga masyarakat gubuk dgn tdk
membedakan ras, agama, profesi , yg dipimpin oleh penoaq-penoaq
gubuk(dusun) : keliang, juru arah, kiyai-penghulu, mangku gubuk, lang-lang
gubuk dan merbot. tugasnya adalah menjaga kehidupan harmonis bagi
segenap warga komunitas.
5

Krama

Hilman Hadikusuma, 2003, Op. Cit, hal 21.

desa ;

dipimpin oleh tokoh-tokoh

8
terkemuka selingkungan desa yg ditetapkan dalam musyawarah mufakat
yang disebut sangkep/gemben desa yang terdiri dari para tokoh formal dan
informal desa (para pengelingsir) yg sec. berurutan sbb: pemusungan (kepala
desa), juru tulis desa, penghulu-penghulu desa, juru arah, lang-lang desa,
pekemit sebagai pelayan desa.
Para

fungsionaris

pekraman

tersebut,

dalam

melaksanakan

kewajibannya menyelesaikan sengketa sengketa adat, tidak menjatuhkan


putusan kalah dan menang, tetapi berupaya nyata untuk meningkatkan
kwalitas pemahaman dan ketaatan terhadap berlakunya hukum dan tata nilai
kearifan lokal untuk tercapainya kehidupan bersama yang harmonis yang
berlandaskan rukun, patut dan laras 6.

Penggunaan

Lembaga

Adat

sebagai

pilihan

dalam

penyelesaian sengketa.
Penyelesaian sengketa dalam perkara perdata dapat dilakukan
melalui jalur litigasi (istilah yang dipergunakan untuk mereka yang
menggunakan lembaga peradilan), dan jalur non litigasi (istilah yang
dipergunakan untuk mereka yang menggunakan lembaga diluar
pengadilan), dapat dilaksanakan apaila para pihak yang berperkara
bersepakat untuk memilih salah satu lembaga tersebut. Jadi pilihan
tersebut bukanlah suatu tindakan kebetulan tetapi sebagai prilaku
manusia yang berkaitan dengan hukum. Sebagaimana dikatakan oleh
A. De Wild, bahwa hukum merupakan bentuk prilaku manusia yang
bisa diamati7.

Djalaludin Arzaki, dkk, Nilai-nilai Agama dan Kearifan Budaya Lokal Suku Bangsa
Sasak Dalam Pluralisme Kehidupan Bermasyarakat, CV. Bina Mandiri, 2001. hal 1720.
Mochamad Munir, Penggunaan Pengadilan Negeri Sebagai Lembaga Untuk
Menyelesaikan Sengketa Dalam Masyarakat (Disertasi), Universitas Airlangga
Program Pascasarjana, Surabaya 1997, hal : 62
7

9
Menurut Von Benda Beckman sebagaimana dikutip I Nyoman
Nurjaya menyatakan bahwa penyelesaian sengketa atau konflik pada
kondisi

masyarakat

yang

masih

sederhana,

dimana

hubungan

kekerabatan dan kelompok masih kuat, maka pilihan institusi untuk


menyelesaian sengketa atau konflik yang terjadi diarahkan kepada
institusi yang bersifat kerakyatan (folk institutions), karena institusi
penyelesaian sengketa atau konflik yang bersifat tradisional bermakna
sebagai institusi penjaga keteraturan dan pengembalian keseimbangan
magis dalam masyarakat8.
Konsep Lembaga Adat
Lembaga Adat merupakan satu dari sekian banyak lembaga
lokal yang terdapat dalam suatu masyarakat. Lembaga Adat ini
terbentuk atas keinginan masyarakat berdasarkan atas nilai-nilai
budaya / adat. Pada masa sebelum lahirnya

Negara

Republik

Indonesia, hukum yang berlaku ditengah-tengah masyarakat pada


umumnya adalah hukum adat yang tunduk kepada norma-norma dan
peraturan-peraturan

yang

tidak

tertulis,

tetapi

sangat

ketat

penerapannya di dalam kehidupan masyarakat tradisional pada waktu


itu. Sehubungan dengan keberlakuan hukum adat tersebut, Keebed
Von Benda-Beckmann mengatakan sebagai berikut :
The Governement shall refrain from all interfrence with the domestic
affairs of the natives, and all problems concerning debts, torts,
marriage, divorce and inheritance must be decided by the adat
fungtionaries according to adat9. Jadi kewenangan lembaga adat di
zaman Hindia belanda sangat dipertahankan dan dihormati oleh
pemerintah Belanda, semua permasalahan yang terkait dengan urusan
hutang piutang, perbuatan melanggar hukum, perkawinan, perceraian
Sahnan, Pilihan Hukum Penyelesaian Sengketa Di Luar Pengadilan (Disertasi),
Program Studi Doktor Ilmu Hukum F. Hukum Universitas Brawijaya, Malang 2010,hal:
119.
9
Keebed Von Benda-Beckmann, The Broken Stairways to Consensus (Village Justice
and State Courts in Minangkabau), Foris Publications, Holland, 1984, hal : 4
8

10
dan kewarisan harus diputus oleh penghulu-penghulu adat dan
menurut hukum adat.
Tentang pengertian lembaga adat ditegaskan pada Peraturan
Mentri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 2007 Tentang Penataan Lemaga
Kemasyarakatan, pada ketentuan umum angka 15 sebagai berikut :
Lembaga Adat adalah lembaga kemasyarakatan baik yang sengaja
dibentuk maupun yang secara wajar telah tumbuh dan berkembang di
dalam sejarah masyarakat atau dalam suatu masyarakat hukum adat
tertentu dengan wilayah hukum dan hak atas harta kekayaan di dalam
hukum adat tersebut, serta berhak dan berwenang untuk mengatur,
mengurus dan menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan yang
berkaitan dengan dan mengacu pada adat istiadat dan hukum adat
yang berlaku.
Teori Alternative Dispute Resolution (A D R)
Sebagai penyelesaian yang bersifat alternatif, ADR lebih umum
dikenal sebagai penyelesaian sengketa di luar pengadilan yang bagi
masyarakat nusantara sebenarnya bukan suatu hal yang baru tetapi
sudah dikenal sejak zaman dahulu kala yang oleh masyarakat kita
lebih dikenal dengan penyelesaian sengketa secara musyawarah
mufakat dan oleh masyarakat suku bangsa sasak di pulau Lombok
dikenal juga dengan istilah soloh. Penyelesaian sengketa di luar
pengadilan lebih menguntungkan dari pada penyelesaian sengketa
melalui jalur pengadilan karena kesepakatan yang dicapai dengan
musyawarah mufakat tersebut bersifat final sehingga mempersingkat
waktu, biaya murah dan prosedur yang sederhana. Selain itu dengan
tercapainya mufakat antara kedu belah pihak, maka hubungan
silaturrahim antara kedua belah pihak tetap terjalin atau tidak terputus
akibat sengketa itu.
Phillip D. Bostwick menyebut ADR sebagai sebuah perangkat
pengalaman dan tehnik hukum yang bertujuan :

11
a. Menyelesaikan

sengketa

hukum

di

luar

pengadilan

demi

keuntungan para pihak;


b. Mengurangi biaya litigasi konvensional dan pengunduran waktu
yang biasanya terjadi;
c. Mencegah terjadinya sengketa hukum yang biasanya diajukan ke
Pengadilan10.
Undang-undang Republik Indonesia No.48 Tahun 2009 tentang
Kekuasaan

Kehakiman,

pada

Pasal

48

dinyatakan

upaya

penyelesaian sengketa perdata dapat dilakukan di luar pengadilan


negara melalui arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa.
Selanjutnya pada Pasal 60 diatur sebagai berikut :

Ayat (1) : Alternatif penyelesaian sengketa merupakan lembaga


penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur
yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian diluar pengadilan
dengan cara konsultasi , negosiasi, mediasi, konsiliasi, atau
penilaian ahli.

Ayat (2) : Penyelesaian sengketa melalui Alternatif Penyelesaian


Sengketa

sebagaimana

dimaksud

pada

ayat

(1),

hasilnya

dituangkan dalam kesepakatan tertulis .

Ayat (3) : Kesepakatan secara tertulis sebagaimana dimaksud


pada ayat (2) bersifat final dan mengikat para pihak untuk
dilaksanakan dengan etikat baik.

Keberlakuan penyelesaian sengketa alternatif ( a d r ) dalam sistem


peradilan negara RI
Uu ri no. 48 th 2009 ttg kekuasaan kehakiman :
Pasal 10 (1 dan 2) : pengadilan tidak boleh menolak utk
mengadili suatu perkara

dgn alasan hukum tidak ada

Priyatna Abdurrasyid, Arbitrase & Alternatif Penyelesaian Sengketa, PT. Fikahati


Aneska, Jakarta, 2002, hal: 45.
10

12
atau kurang jelas (ayat 1). Ketentuan tersebut tdk menutup
usaha penyelesaian perkara secara damai (ayat 2).
Pasal 5 (1) : hakim dan hakim konstitusi, wajib menggali ,
mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan
yang hidup dalam masyarakat.
Pasal 50 (1) : putusan pengadilan selain harus memuat alasan
dan dasar putusan , juga memuat pasal tertentu dari peraturan
perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum
tidak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili.
Pasal

58

upaya

penyelesaian

sengketa

perdata

dapat

dilakukan diluar pengadilan negara melalui arbitrase atau


alternatif penyelesaian sengketa.
Pasal 60 : alternatif penyelesaian sengketa merupkan lembaga
penyelesaian sengketa atau beda pendapat melalui prosedur
yang

disepakati

para

pihak,

yakni

penyelesaian

di

luar

pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi,


atau penilaian ahli (ayat 1).
penyelesaian sengketa melalui alteratif penyelesaian sengketa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hasilnya dituangkan dalam
kesepakatan terrulis (ayat 2).
kesepakatan secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) bersifat final dan mengikat para pihak untuk dilaksanaakan
dengan itikad baik (ayat 3).

SUMBER ACUAN

Indahduii.blgspot.com/2011/08/mulai memudarnya-arti-dari-sebuah.html?m=1

www.organisasi.org/1970/01/arti-definisi-pengertian-pengendalian-diri-selarasserasi-seimbang-pendidikan-kewarganegaraan.html?m=1

13

Abbas, Syahrizal, Mediasi Dalam Perspektif Hukum Syariah,


Hukum Adat, dan Hukum Nasional, Kencana Prenada Media
Group, Jakarta, 2009.

Arzaki, Djalaludin, dkk, Nilai-nilai Agama dan Kearifan Budaya


Lokal

Suku

Bangsa

Sasak

Dalam

Pluralisme

Kehidupan

Bermasyarakat, CV. Bina Mandiri, 2001.

Abdurrasyid,

Priyatna,

Arbitrase

&

Alternatif

Penyelesaian

Sengketa, PT. Fikahati Aneska, Jakarta, 2002.

Beckmann,

Keebed

Von

Benda,

The

Broken

Stairways

to

Consensus (Village Justice and State Courts in Minangkabau),


Foris Publications, Holland, 1984.

Hadikusuma, Hilman, Hukum Waris Adat, PT. Citra Aditya Bakti,


2003.

Munir,

Mochamad, Penggunaan

Pengadilan

Negeri

Sebagai

Lembaga Untuk Menyelesaikan Sengketa Dalam Masyarakat


(Disertasi),

Universitas

Airlangga

Program

Pascasarjana,

Surabaya 1997.

Syapruddin, Lalu, Kedudukan Wanita Menurut Hukum Keluarga


Dan Hukum Waris Adat Sasak Setelah Berlaku Kompilasi Hukum
Islam (Tesis Program Pascasarjana USU ), Medan, 1998

Sahnan,

Pilihan

Hukum

Penyelesaian

Sengketa

Di

Luar

Pengadilan (Disertasi), Program Studi Doktor Ilmu Hukum F.


Hukum Universitas Brawijaya, Malang 2010.

Widnyana, I Made, Alternatif Penyelesaian Sengketa (ADR), PT


Pikahati Aneska, Jakarta, 2009.

14