Anda di halaman 1dari 11

FasiesBatugamping

terangkat ke permukaan. Iklim juga memegang peranan penting dalam proses


diagenesa. Pada iklim kering, sementasi di lingkungan air tawar kemungkinan akan
terbatas dari porositas primer akan terawetkan. Sebaliknya pada iklim lembab,
umumnya hanya sedikit sekali porositas primer yang terhindar dari proses sementasi,
tetapi porositas sekunder seperti moldic dan vug berkembang secara signifikan. Proses
diagenesa tidak hanya dapat mengubah mineral-mineral karbonat tersebut, tetapi juga
dapat mengubah tekstur pengendapan batuan karbonat (seperti butiran karbonat,
micrite, semen).

4.4.1 Proses dan Produk Diagenesa


Dalam diagenesa batuan karbonat terdapat enam proses utama yang meliputi:
pelarutan, sementasi, neomorfisme, dolomitisasi, mikritisasi mikrobial dan kompaksi.
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam hal ini adalah tekanan, temperatur, stabilitas
mineral, kondisi kesetimbangan, rate of water influx, waktu dan kontrol struktur
(Tucker & Wright, 1990 dalam Boggs, 1992).
Di antara proses-proses diagenesa tersebut terdapat tiga proses diagenesa
utama, yaitu pelarutan (dissolution) (foto IV.7), sementasi dan penggantian
(replacement). Masing-masing dicirikan oleh kenampakan yang berbeda-beda yang
menggambarkan kondisi pembentukan batuan karbonat.
Proses diagenesa yang teramati berdasarkan pengamatan dan analisa petrografi
pada sayatan tipis conto batuan meliputi :
Proses Mikritisasi Mikrobial
Proses ini terjadi di lingkungan marine, aktivitas pemboran (boring) dapat
dilakukan oleh organisme seperti endolithic fungi, bakteri dan ganggang hijau atau
mungkin ganggang merah. Butiran skeletal dibor di sekitar batas skeletal dan lubang
yang terbentuk diisi dengan sedimen berbutir halus atau semen. Pemboran (boring)
butiran karbonat ini paling intensif terjadi di laut dangkal daerah tropis.

51

FasiesBatugamping

Kegiatan organisme tersebut menghasilkan micrite envelope, yaitu mikrit yang


mengelilingi cangkang. Apabila kegiatan organisme tersebut sangat aktif, maka akan
menghasilkan cangkang yang sepenuhnya termikritisasi.
Proses mikritisasi butiran ditunjukan dengan adanya proses penggantian
sejumlah butiran kerangka oleh mikrit yang berwarna coklat keruh yang melapisi
butiran (Gambar 4.5). Mikritisasi merupakan proses yang penting dalam lingkungan
stagnant marine phreatic zone dan active marine phreatic zone (Longman, 1980
dalam Koesoemadinata, 1987).

Gambar 4.5 Proses mikritisasi mikrobial

52

FasiesBatugamping

Proses Pelarutan
Proses pelarutan memerlukan jumlah volume air yang kelewat jenuh dalam
jumlah banyak dan dipengaruhi oleh selektivitas terhadap matriks, bentuk butir,
ukuran butir serta sifat kerangka. Tingkatan mudahnya larut mineral-mineral karbonat
merupakan fungsi dari mineralogi dan kandungan ion Mg. Urut-urutan Mineral
karbonat yang paling mudah larut adalah Very high-Mg Calcite, aragonit, Mg Calcite,
Low Mg Calcite dan dolomit. Tingkat kelarutan (Solubilities) dari mineral-mineral
tersebut merupakan fungsi dari temperatur dan tekanan (water depth). Kelarutan
(Solubilities) menurun dengan meningkatnya temperatur, dan kelarutan meningkat
dengan meningkatnya tekanan air laut.
Proses pelarutan pada batuan karbonat dapat membentuk porositas sekunder
seperti porositas moldic dan vuggy (Gambar 4.6). Proses pelarutan dapat terjadi pada
lingkungan freshwater vadose maupun freshwater phreatic (Longman, 1980 dalam
Koesoemadinata, 1987).

(b)

(a)

Gambar 4.6 Proses Pelarutan dapat membentuk porositas vuggy (a) dan moldic (b)

53

FasiesBatugamping

Proses Sementasi
Proses sementasi dalam sedimen karbonat merupakan proses diagenesa utama
dan terjadi ketika pore-fluid supersaturated terhadap fase semen dan tidak ada faktor
kinetik yang menghalangi presipitasi semen. Proses ini memerlukan sirkulasi air
tawar ataupun air laut yang besar sekali. Dalam air yang stagnant hampir tidak/sedikit
sekali terjadi sementasi (Koesoemadinata, 1987). Mineralogi dan fabric semen yang
berbeda-beda tergantung pada komposisi pore-fluid, kecepatan supply karbonat dan
kecepatan presipitasi, yang dapat menunjukan lingkungan diagenesa yang berbeda
pula (gambar 4.7).

Gambar 4.7 Beberapa tipe semen pada batuan karbonat (dalam Boggs, 1992)

54

FasiesBatugamping

Berdasarkan analisa petrografi, tipe tipe semen yang teramati berupa granular/equant,
bladed dan fibrous cement (gambar 4.8).

Granular
Bladed

Fibrous

Gambar 4.8 Beberapa tipe semen karbonat yang teramati pada sayatan petrografi

Proses Neomorfisme
Proses Neomorfisme (Folk, 1965 dalam Boggs, 1992) terdiri dari inverse,
rekristalisasi dan coalescive neomorphism (aggrading/degrading neomorphism).
Inversi adalah perubahan satu mineral ke polymorph, misalnya polymorphic
transformation aragonite menjadi calcite, alterasi Mg calcite menjadi calcite.
Sedangkan rekristalisasi adalah perubahan dalam ukuran kristal tanpa perubahan
dalam mineraloginya, misalnya membesar/mengecilnya ukuran kristal kalsit atau
penggantian (replacement) kristal kalsit berukuran kecil oleh kristal kalsit berukuran
lebih besar.

55

FasiesBatugamping

Neomorfisme pada batuan karbonat umumnya adalah tipe aggrading


(agradasi) yaitu kumpulan proses yang menghasilkan butiran spar yang lebih besar.
Proses neomorfisme menyebabkan matrik (mikrit) telah terubah menjadi
mikrospar pada sebagian besar conto batuan. Proses ini dapat terjadi pada awal
pemendaman freshwater phreatic dan deep burial. Berdasarkan analisa petrografi,
neomorfisme yang terjadi di daerah penelitian adalah rekristalisasi yang terutama
terjadi pada awal pemendaman meteoric phreatic.

Proses Dolomitisasi
Dolomitisasi merupakan proses penggantian mineral kalsit menjadi dolomit
yang disebabkan oleh meningkatnya kadar Mg dalam batuan karbonat. Faktor-faktor
yang mempercepat presipitasi dolomit adalah besarnya rasio Mg/Ca pada mineral,
besarnya kandungan CO2, tingginya temperatur dan pH, rendahnya kandungan sulfat,
rendahnya kadar salinitas serta pengaruh material organik. Proses dolomitisasi bisa
berupa replacement melalui proses presipitasi atau berupa sementasi, yang dapat
terjadi pada lingkungan mixing zone dan deep burial.

Proses Kompaksi
Proses kompaksi terdiri dari kompaksi mekanik dan kimia, yang terjadi pada
lingkungan deep burial setelah batuan terendapkan. Kompaksi mekanik terjadi ketika
sedimen karbonat terkubur (buried) di bawah overburden yg meningkat sehingga
terjadi grain fracture dan penurunan porositas oleh closer packing, akhirnya butiran
mulai larut pada point contact menghasilkan kontak suture dan concave-convex.
Kompaksi kimia menghasilkan stylolite dan wispy seam. Kompaksi kimia mulai
terjadi setelah kompaksi mekanik membentuk stable grain framework, sehingga load
atau tectonic stress dapat diteruskan dari butiran ke butiran. Tektonik stress juga dapat
menghasilkan pressure dissolution, fracture ekstensional dan compressional.

56

FasiesBatugamping

4.4.2 Lingkungan Diagenesa batuan Karbonat


Diagenesa dapat terjadi di :
Di bawah air laut (submarine)
Di bawah udara (subaerial/vadose atau air tanah dangkal)
Di bawah permukaan/tanah (subsurface).

Lingkungan diagenesa merupakan daerah dimana pola diagenesa yang sama


muncul, lingkungan diagenesa ini dapat saja tidak ada kaitannya dengan lingkungan
pengendapan dan dapat berubah sepanjang waktu. Mempelajari produk-produk
diagenesa yang hadir pada lingkungan tertentu merupakan kunci penting untuk
memprediksi kecenderungan porositas pada batuan karbonat. Dari segi lingkungan
airnya, Longman (1980) membagi menjadi empat lingkungan diagenesa, yakni :
Zona Marine Phreatic
Zona Mixing
Zona Freshwater Phreatic
Zona Vadose

Gambar 4.9 Model lingkungan diagenesa Longman (1981 dalam Koesoemadinata, 1987)
57

FasiesBatugamping

Zona Marine Phreatic


Sedimen berada pada lingkungan marine phreatic bila semua rongga porinya
terisi oleh air laut yang normal. Umumnya batuan karbonat diendapkan dan memulai
sejarah diagenesanya pada lingkungan marine phreatic. Lingkungan ini dapat dibagi
menjadi dua, yaitu: Lingkungan yang berhubungan dengan sirkulasi air sedikit,
dicirikan oleh kehadiran mikritisasi dan sementasi setempat. Lingkungan kedua
berupa lingkungan yang berhubungan dengan sirkulasi air yang baik dimana tingkat
sementasi intergranular dan mengisi rongga lebih intensif. Semen aragonit berserabut
dan Mg Kalsit merupakan ciri lain dari lingkungan ini
Keberadaan lingkungan ini didukung oleh terdapatnya proses mikritisasi
mikrobial dan semen mikrit yang jejaknya banyak dijumpai pada conto sayatan tipis
(Gambar 4.5).
Zona Mixing
Zona mixing merupakan percampuran lingkungan freshwater phreatic dan
freshwater vadose, jalur ini agak sempit, tidak permanen, adanya air payau dan
bersifat diam. Seluruh rongga yang semula terisi air laut akan mulai tergantikan oleh
air tawar. Dolomitisasi merupakan salah satu penciri lingkungan ini jika salinitas air
sekitarnya rendah. Jika salinitasnya tinggi akan terbentuk Mg kalsit yang menjarum.
Zona Freshwater Phreatic
Zona ini terletak di bawah zona vadose dan zona mixing. Semua ruang pori
batuan diisi air meteorik yang mengandung material karbonat hasil pelarutan dengan
kadar yang bervariasi. Lingkungan ini dicirikan oleh proses pencucian, neomorfisme
butir yang diikuti atau tanpa diikuti sementasi kalsit secara intensif. (Gambar 4.8).
Ukuran semen kristal kalsit pada zona ini cenderung lebih besar daripada zona
vodose. Tipe-tipe semen kalsit yang terjadi pada zona ini umumnya berupa semen
isopachous, blocky dan syntaxial overgrowth pada echinoderm. Proses neomorfisme
menyebabkan mikrit telah berubah menjadi mikrospar dan pseudospar pada seluruh
conto batuan. Proses neomorfisme juga menyebabkan aragonite dan Mg calcite

58

FasiesBatugamping

terubah menjadi kalsit (berubah dalam bentuk dan ukuran kristal). Zona ini dibagi ke
dalam :
9 Zona dibawah kejenuhan (Undersaturated Zone)
Pada zona ini terjadi pelarutan dan pembentukan porositas cetakan (moldic) dan
gerowong-gerowong (vuggy).
9 Zona Jenuh aktif (Active Saturated Zone)
Pada zona ini terjadi dua proses, yaitu: neomorfisme butir yaitu pelarutan aragonit dan
pengendapan kalsit. Tipe semen yang terbentuk adalah equant mosaic cement. Proses
kedua adalah sementasi antar butir yaitu pengisian rongga oleh sparry calcite.
9 Zona Air tawar diam (Stagnant Freshwater Phreatic Zone)
Pada zona ini, sangat sedikit terjadi perubahan diagenesa. Porositas primer terawetkan
Tekstur aragonit yang telah berubah menjadi kalsit juga terawetkan.
Zona Vadose
Zona Vadose terletak di bawah permukaan dan di atas muka air tanah yang
menyebabkan rongga pada batuan terisi oleh udara dan air meteorik. Proses utama
yang terjadi di lingkungan ini berupa pelarutan yang menghasilkan porositas sekunder
vuggy dan saturasi yang membentuk semen pendant dan meniskus akibat air yang
jenuh kalsit maupun penguapan CO2.
Pada pengamatan megaskopis ditunjukan oleh tingkat pengapuran (chalky
appearance) pada batuan inti. Kecenderungan tinggi rendahnya pengapuran
menunjukan tingkat resistensi batuan terhadap pelarutan.

4.4.3 Resume Proses Diagenesa


Berdasarkan analisa petrografi dan dihubungkan dengan lingkungan
diagenesa, maka dapat disarikan urutan proses diagenesa yang telah berlangsung pada
batuan karbonat daerah penelitian, yaitu sebagai berikut:
Diagenesis pertama terjadi dalam lingkungan marine phreatic, yang ditandai oleh
proses mikritisasi mikrobial dengan terbentuknya semen kalsit bertipe micritic dan
fibrous.

59

FasiesBatugamping

Diagenesis kedua terjadi dalam lingkungan zona vadose, yang ditandai oleh
pelarutan yang luas pada aragonite, Mg calcite dan calcite yang membentuk
porositas vug, moldic, dan tingkat pengapuran (chalky appearance).
Diagenesis ketiga terjadi dalam lingkungan fresh water phreatic, yang ditandai
oleh pelarutan butiran, matriks dan semen yang membentuk porositas vuggy dan
moldic; pelarutan pada cangkang fosil dan koral yang kemudian diisi oleh sparry
calcite; proses sementasi yang membentuk semen kalsit bertipe isopachous, blocky
dan syntaxial overgrowth pada echinoderm; proses neomorfisme mikrit menjadi
microspar; dan proses dedolomitisasi yang dapat dikenali dari kenampakan bentuk
kristal dolomit rombohedral yang ditempati oleh kalsit (pseudomorf) atau kristal
kalsit dengan replacement fabric berisi inklusi relic dolomite .

4.5 Perkembangan Porositas


Porositas batuan karbonat secara umum dapat dibagi menjadi dua yaitu
porositas primer dan sekunder. Porositas primer dapat terbentuk pada saat sedimentasi
berlangsung (syn-sedimentary), sedangkan porositas sekunder terbentuk setelah
batuan karbonat terbentuk (post-sedimentary) yang diakibatkan oleh proses diagenesa
maupun proses tektonik.
Choquette & Pray (1970) membagi porositas batuan karbonat ke dalam tiga
tipe porositas (Gambar 4.9) yaitu fabric selective (jika terdapat hubungan antara
porositas dengan dengan komponen fabric yang meliputi komponen butiran primer
seperti ooid, bioclast, dan komponen diagenesa seperti semen kalsit, dolomit), not
fabric selective (jika tidak terdapat hubungan antara porositas dengan dengan
komponen fabric) dan fabric selective or not (tidak termasuk fabric selective dan not
fabric selective).

60

FasiesBatugamping

Gambar 4.10 Tipe-tipe porositas batuan karbonat (Choquette & Pray, 1970)

Berdasarkan hasil analisa petrografi, porositas batuan karbonat Formasi Tendeh Hantu
pada daerah penelitian dapat dibagi menjadi 2 tipe porositas sebagai berikut :

Fabric selective, umumnya porositas interparticle (0-10%) dan moldic (0-4%)

Not fabric selective, umumnya porositas vug (0-13%) dan channel (0-2%)

Pada umumnya, porositas batuan karbonat Formasi Tendeh Hantu yang teramati
berupa porositas sekunder yang terutama dikontrol oleh proses diagenesa, sedangkan
porositas primer umumnya sudah tidak teramati karena sudah diubah/dirusak oleh
proses diagenesa seperti sementasi, kompaksi, dolomitisasi dan pelarutan.

61